Anda di halaman 1dari 106

Tugas

Otomasi Sistem Kelistrikan

Oleh :
Rifan Kusuma Hadhi

(1431120001)

Kelas : D3 TL 3C

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK
POLITEKNIK NEGERI MALANG
September 2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Perguruan tinggi sebagai tempat terlahirnya sumber daya manusia


(SDM) yang memiliki kemampuan intelektual yang baik, mempunyai
kewajiban untuk meningkatkan mutu lulusannya sebagai upaya untuk
mengimbangi perkembangan industri yang sangat pesat. Untuk itu sektor
pendidikan dan industri harus bekerja sama agar dapat menghasilkan
sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dibidang industri.
Politeknik Negeri Malang (POLINEMA) merupakan salah satu
perguruan tinggi di Indonesia yang berupaya mengembangkan sumber
daya manusianya untuk pembangunan industri. Program studi Teknik
Listrik POLINEMA sebagai salah satu jurusan yang memiliki peranan
penting sebagai pembelajaran mengenai perkembangan sumber dan alat
kelistrikan memiliki berbagai program untuk meningkatkan mutu
lulusannya seperti kerja praktek, magang, on the job training dan joint
research.
PT. Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati merupakan
salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pembangkitan tenaga listrik
kami pilih sebagai tempat penerapan ilmu yang kami peroleh di bangku
perkuliahan dan sebagai tempat untuk memperoleh wawasan tentang dunia
industri. Dengan kondisi perindustrian yang terus berkembang maka
penting untuk melakukan kerja sama antara lembaga pendidikan dengan
perusahaan agar sumber dan kelistrikan yang dimiliki oleh PT. Indonesia
Power Unit Pembangkitan Perak Grati dapat digunakan sebaik mungkin
dan sesuai tujuan.
Melihat uraian diatas, maka kami selaku mahasiswa Teknik Listrik
POLINEMA melaksanakan praktek di PT. Indonesia Power Unit
Pembangkitan Perak Grati.
1.2

Rumusan Masalah

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Berdasarkan latar belakang di atas maka perumusan masalah dalam laporan


praktek kerja lapangan di PT.Indonesia Power UP Perak-Grati adalah :
1. Apa nama perusahaan tempat anda PKL? Milik siapa perusahaan
tersebut?
2. Apa yang dijual oleh perusahaan tersebut?
3. Siapa atau PLN yang mana yang membeli bisnis itu? Tolong pastikan
yang menjadi konsumen perusahaan.
4. Sebutkan sarana penjualannya, jumlahnya dan letaknya pada SLD!
5. Jelaskan spesifikasi generator di tempat anda PKL!
6. Bagaimana proses pembangkitannya dan proses penjualan bisnis
perusahaan tersebut?
7. Carilah kontrak penjualan bisnis tersebut!
8. Carilah Struktur Organisasi PLN yang terbaru & berikan penjelasannya!
9. Selain permintaan pokok, yang diperhatikan juga kualitasnya harus
bagus. Bagaimana cara pembangkit atau perusahaan tersebut menjaga
kestabilan kualitas frekuensi dan tegangannya?
10. Carilah struktur organisasi perusahaan tempat anda PKL dari yang
terbawah sampai yang teratas beserta tugas dan wewenangnya!
11. Berikan SOP tempat anda PKL!
1.3
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisa diantaranya :
1. Untuk mengetahui perusahaan tempat PKL
2. Untuk mengetahui apa yang dijual oleh perusahaan tersebut
3. Untuk mengetahui konsumen perusahaan
4. Untuk mengetahui sarana penjualan
5. Untuk mengetahui spesifikasi generator
6. Untuk mengetahui proses pembangkitan
7. Untuk mengetahui kontrak penjualan
8. Untuk mengetahui Sturuktur Organisasi PLN
9. Untuk mengetahui cara menjaga kestabilan frekuensi
10. Untuk mengetahui Struktur Organisasi PT.Indonesia Power
11. Untuk mengetahui SOP pada tempat PK

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

BAB II
SEJARAH DAN GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
2.1 Sejarah Singkat PT Indonesia Power
Pada awal 1990-an pemerintah

Indonesia mempertimbangkan

perlunya deregulasi pada sektor ketenagalistrikan. Langkah ke arah


deregulasi tersebut diawali dengan berdirinya Paiton

Swasta 1, yang

dipertegas dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden nomor. 37 tahun


1992 tentang pemanfaatan sumber daya swasta melalui pembangkitpembangkit

listrik

swasta.

Kemudian

pada

akhir

1993,

Menteri

Pertambangan dan Energi (MPE) menerbitkan kerangka dasar kebajikan


(Sasaran dan Kebijakan Pengembangan sub Sektor Ketenagalistrikan) yang
merupakan pedoman jangka panjang restrukturasi sektor ketenagalistrikan.
Sebagai penerapan tahap awal, pada 1994 PLN diubah statusnya dari
PERUM menjadi PERSERO. Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 3
Oktober 1995, PT PLN (PERSERO) membentuk dua anak perusahaan, yang
tujuannya untuk memisahkan misi sosial dan misi komersial yang diemban
oleh BUMN tersebut. Salah satu dari anak perusahaan tersebut adalah PT
Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-Bali I, atau dikenal dengan PLN PJB I.

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

anak perusahaan ini ditujukan untuk menjalankan usaha komersial pada


bidang pembangkitan tenaga listrik dan usaha-usaha lain yang terkait.
Pada 3 oktober 2000, tepatnya pada ulang tahunnya yang ke-5,
manajemen perusahaan secara resmi mengumumkan perubahan nama PLN
PJB1 menjadi PT INDONESIA POWER. Perubahan nama ini merupakan
upaya untuk menyikapi persaingan yang semakin ketat dalam bisnis
ketenagalistrikan dan sebagai persiapan untuk privatisasi Perusahaan yang
akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
Walaupun sebagai perusahaan komersial di bidang pembangkitan
baru didirikan pada pertengahan 1990-an, INDONESIA POWER mewarisi
berbagai

sejumlah

aset

berupa

pembangkit

dan

fasilitas-fasilitas

pendukungnya. Dengan menggunakan beragam energi primer seperti air,


batu bara, panas bumi, dan sebagainya. namun demikian dari pembangkitpembangkit tersebut, terdapat pula beberapa pembangkit paling tua di
Indonesia seperti PLTA Plengan, PLTA Ubruk, PLTA Ketenger, dan
sejumlah PLTA lainnya yang dibangun pada tahun 1920-an dan sampai
sekarang masih beroperasi. Dari sini, dapat dipandang bahwa secara
kesejarahan pada dasarnya usia PT INDONESIA POWER sama dengan
keberadaan listrik di Indonesia.
Pembangkit-pembangkit yang dimiliki oleh Indonesia Power dikelola
dan dioperasikan oleh 8 (delapan) Unit Bisnis Pembangkit : Suralaya,
Saguling, Priok, Mrica, Semarang, Kamojang, Perak & Grati dan UBPOH,
serta 1 Unit Jasa Pemeliharaan. Secara keseluruhan, Indonesia Power
memiliki daya mampu terbesar yang dimiliki oleh sebuah perusahaan
pembangkitan di Indonesia. PT INDONESIA POWER juga sebagai
penyedia jasa Operasi dan Pemeliharaan dari PT PLN (persero) yang disebut
dengan UBOH.
2.2

VISI, MISI, MOTTO, Tujuan dan Paradigma PT INDONESIA


POWER

2.2.1 VISI

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Visi PT Indonesia Power adalah menjadi perusahaan publik denagan


kinerja kelas dunia dan bersahabat dengan lingkungan. Penjabaran Visi :
1. Maju, berarti perusahaan bertumbuh dan berkembang sehingga
menjadi perusahaan yang memiliki kinerja setara dengan perusahaan
sejenis di dunia.
2. Tangguh, memiliki sumber daya yang mampu beradaptasi dengan
perubahan lingkungan dan sulit disaingi. Sumber daya PT Indonesia
Power berupa manusia, mesin keuangan maupun sistem kerja berada
dalam kondisi prima dan antisipatif terhadap sistem perubahan.
3. Andal, sebagai perusahaan yang memiliki kinerja memuaskan stake
holder.
4. Bersahabat dengan lingkungan, memiliki tanggung jawab sosial
dalam keberadaannya bermanfaat bagi lingkungan.

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

2.2.2 MISI
Misi PT Indonesia Power adalah melakukan usaha dalam bidang
ketengalistrikan dan mengembangkan usaha-usaha lainnya yang berkaitan
berdasarkan kaidah industri dan niaga yang sehat, guna menjamin
keberadaan dan pengembangan perusahaan dalam jangka panjang.
2.2.3 MOTTO
Motto PT Indonesia Power adalah Trust Us for Power excellent!
2.2.4 TUJUAN
Tujuan PT Indonesia Power adalah:
1. Menciptakan mekanisme peningkakan efisiensi yang terus-menerus
dalam penggunaan sumber daya perusahaan.
2. Meningkatkan pertumbuhan perusahaan secara berkesinambungan
dengan bertumpu pada usaha tenaga listrik dan sarana penunjang
yang

berorientasi

pada

permintaan

pasar

yang

bewawasan

lingkungan.
3. Menciptakan kemampuan dan peluang untuk memperoleh pendanaan
dari berbagai sumber yang saling menguntungkan.
4. Mengoperasikan pembangkit tenaga listrik secara kompetitif serta
mencapai standart kelas dunia dalam hal keamanan, keandalan,
efisiensi maupun kelestarian lingkungan.
5. Mengembangkan budaya perusahaan yang sehat diatas saling
menghargai antar karyawan dan mitra kerja, serta mendorong terus
kekokohan integritas pribadi dan profesionalisme.
2.2.5

PARADIGMA
Paradigma adalah suatu kerangka berfikir yang melandasi cara

seseorang menilai sesuatu. Paradigma dari PT Indonesia Power adalah Hari


ini lebih baik dari hari kemarin, hari esok lebih baik dari hari ini.

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

2.3 Budaya Perusahaan, Lima Filosofi Perusahaan, dan 12 Dimensi


Perilaku
2.3.1 Budaya Perusahaan
Salah satu aspek dari pengembangan sumber daya manusia
perusahaan adalah pembentukan budaya perusahaan.

Unsur-unsur

budaya perusahaan :
1. Perilaku akan ditunjukkan seseorang akibat adanya suatu keyakinan
akan nilai-nilai atau filosofi.
2. Nilai adalah bagian daripada budaya perusahaan yang dirumuskan
untuk membantu upaya mewujudkan budaya perusahaan tersebut. Di
PT Indonesia Power, nilai ini disebut dengan Filosofi Perusahaan.
3. Paradigma adalah suatu kerangka berfikir yang melandasi cara
seseorang menilai sesuatu.
Budaya perusahaan diarahkan untuk membentuk sikap dan
perilaku yang didasarkan pada lima filosofi dasar dan lebih lanjut
filosofi dasar ini diwujudkan dalam dua belas dimensi perilaku.
2.3.2 Lima Filosofi Perusahaan
a. Mengutamakan pasar dan pelanggan.
Berorientasi kepada pasar serta memberikan layanan yang terbaik
dan nilai tambah kepada pelanggan.
b. Menciptakan keunggulan untuk memenangkan persaingan.
Menciptakan keunggulan melalui sumber daya manusia, teknologi
finansial dan proses bisnis yang handal.
c. Melapori pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi
Terdepan dalam memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi secara optimal.
d. Menjunjung tinggi etika bisnis
Menerapkan etika bisnis sesuai standar etika bisnis internasional
e. Memberi

penghargaan

atas

perusahaan yang maksimal

prestasi

untuk

mencapai

kinerja

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Filosofi perusahaan dibuat karena :


1. Memberikan

acuan

bagi

seluruh

anggota

organisasi

tentang

bagaimana cara merealisasikan budaya perusahaan.


2. Merumuskan apa yang dianggap penting

tentang bagaimana

keberhasilan dalam berbisnis.


3. Memberikan

motivasi,

memacu

prestasi

dan

produktivitas

perusahaan. Memberi gambaran lebih jelas mengenai identitas dan


citra perusahaan.
2.3.3 Dua Belas Dimensi Perilaku
1. Integritas, berfikir benar, bersikap jujur, dapat dipercaya dan
bertindak profesional .
2. Sikap melayani, berupaya memenuhi komitmen terhadap kualitas
pelayanan yang terbaik pada pelanggan.
3. Komunikasi, melakukan komunikasi yang terbuka, efektif dan
bertanggung jawab serta mengikuti etika yang berlaku.
4. Kerjasama, melakukan kerjasama yang harmonis dan efektif untuk
mencapai tujuan bersama dengan mengutamakan kepentingan
perusahaan.
5. Tanggung jawab, bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas dan
kewajiban hingga tuntas, tepat waktu, untuk mencapai hasil yang
terbaik bagi perusahaan.
6. Kepemimpinan, memberikan arahan yang jelas, mau menerima
umpan balik dan menjadi contoh bagi lingkungan kerjanya .
7. Pengambilan resiko, melaksanakan pengambilan keputusan dengan
resiko

yang

sudah

diperhitungkan

dan

dapat

dipertanggungjawabkan .
8. Pemberdayaan, memberdayakan pengambilan potensi SDM dengan
memberikan kepercayaan dan kewenangan yang memadai

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

9. Peduli biaya dan kualitas, melaksanakan setiap kegiatan usaha


dengan mengutamakan efektifas biaya untuk mencapai kualitas yang
terbaik .
10. Adaptif , menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan,
penyumbang gagasan dan menjadi agen perusahaan.
11. Keselarasan tujuan, menyelaraskan tujuan SDM dengan tujuan
perusahaan melalui pemahaman visi dan misi.
12. Keseimbangan antara tugas dan hubungan sosial, menyeimbangkan
usaha mencapai hasil kerja yang optimal.
2.3.4 Empat Nilai Perusahaan IP-AKSI
Empat nilai perusahaan yang kemudian disingkat menjadi IP
AKSI adalah sebagai berikut :
1.

Integritas
Insan Indonesia Power senantiasa bertindak sesuai etika
perusahaan serta memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Kata
kunci: Demi Perusahaan.

2. Profesional
Insan Indonesia Power senantiasa menguasai pengetahuan,
keterampilan dan kode etik bidang pekerjaan serta melaksanakannya
secara akurat dan konsisten. Kata Kunci: Tahu, Mampu dan Mau,
serta Menyenangi Pekerjaan.
3. Proaktif
Insan Indonesia Power senantiasa peduli dan cepat tanggap
melakukan peningkatan kinerja untuk mendapatkan kepercayaan
stakeholder. Kata Kunci: Cepat Tanggap, Peningkatan Kinerja.
4. Sinergi
Insan Indonesia Power senantiasa membangun hubungan kerja
sama yang produktif untuk menghasilkan karya unggul. Kata Kunci:
Kerja Sama, Karya Unggul.

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

2.3.5 INDONESIA POWER WAY


2.3.5.1

THE WAY WE ACT:

1.

Proaktif

&

pantang

menyerah
2.

Saling percaya & bekerja


sama

3.

Fokus

pada

perbaikan

proses & hasil


4.

Fokus pada pelanggan

5.

Mengutamakan safety &


green

2.3.5.2 WAY WE DO BUSINESS:


1.

Leadership Excellence

2.

Business Process Excellence

3.

People Excellence

4.

Learning Organization

5.

Customer & Supplier Relationship

6.

Stakeholder Social Responsibility

2.3.6 Sasaran dan Program Kerja Industri


Sasaran dalam bidang ini adalah mendukung pemenuhan rencana
penjualan dengan biaya yang optimal dan kompetitif serta meningkatkan
pelayanan pasokan kepada konsumen. Untuk mencapai sasaran tersebut
strateginya adalah sebagai berikut :
1. Melakukan optimalisasi kemampuan produksi terutama pembangkit
beban dasar dengan biaya murah.
2. Meningkatkan efisiensi operasi pembangkit baik biaya bahan maupun
biaya pemeliharaan.
3. Meningkatkan optimalisasi pada operasi pembangkit.
4. Meningkatkan keandalan pola pembangkitan.

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

5. Meningkatkan keandalan dengan cara meningkatkan availability


menekan gangguan dan memperpendek waktu pemeliharaan.
Adapun program kerja di bidang produksi adalah saebagai berikut:
1. Mengoptimalkan kemampuan produksi.
2. Meningkatkan efisiensi operasi dan pemeliharaan pembangkit
(efisiensi thermal, efisiensi pemeliharaan dan pengawasan volume
serta mutu bahan bakar).
3. Melaksukan optimalisasi biaya bahan bakar.
4. Meningkatkan keandalan kinerja pembangkit.
5. Meningkatkan waktu operasi pemeliharaan.
2.3.7
2.3.7.1

Makna Bentuk dan Warna Logo


LOGO

Logo PT Indonesia Power adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1 Logo PT. Indonesia Power


Makna bentuk dan warna logo PT Indonesia Power merupakan
cerminan identitas dan lingkup usaha yang dimilikinya.
2.3.7.2

BENTUK

Adapun makna bentuk logo diatas adalah :


1.

Nama yang kuat, kata INDONESIA dan POWER ditampilkan


dengan menggunakan jenis huruf yang tegas dan kuat ( futura
book regular dan futura bold ).

2.

Aplikasi bentuk kilatan petir pada huruf O melambangkan


Tenaga Listrik yang merupakan lingkup usaha utama.

3.

Red dot ( bulatan merah ) di ujung ilatan petir merupakan simbol


perusahaan yang telah digunakan saat bernama PT PLN PJB .

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Titik ini merupakan simbol yang digunakan di sebagian besar


materi komunikasi perusahaan. Dengan simbol yang kecil ini ,
diharapkan identitas perusahaan dapat langsung terwakili.
2.3.7.3

WARNA

Makna warna logo diatas :


1.

Merah
Diaplikasikan pada kata INDONESIA, menunjukkan identitas
yang kuat dan kokoh sebagai pemilik sumber daya untuk memproduksi
teaga listrik, guna dimanfaatkan di Indonesia dan juga di luar negeri.

2.

Biru
Diaplikasikan pada kata POWER, pada dasarnya warna biru
menggambarkan sifat pintar dan bijaksana, dengan aplikasi pada kata
POWER, makna warna ini menunjukkan produk tenaga listrik yang
dihasilkan perusahaan memiliki ciri-ciri berteknologi tinggi, efisien,
aman dan ramah lingkungan.

Gambar 2.2. UP Perak Grati

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

2.4

Gambaran Umum Unit Pembangkitan Perak Grati


Asal mula Unit Pembangkitan Perak Grati adalah PLN sektor Perak,

karena semua pembangkitan berada di PLTU Perak Surabaya yang terdiri


dari PLN eksploitasi X, PLN wilayah XII di Jawa Timur, PLN Distribusi,
dan pembangkitan I Jawa Tengah, serta PLN Pembangkitan dan penyaluran
Jawa bagian Timur dan Bali (KJT).
Sejak tanggal 3 Oktober 1995, unit pembangkitan ini mulai masuk
dalam jajaran PT Indonesia Power dengan kantor induk di Jakarta. Tahun
1996, PLTG Perak Surabaya direlokasikan ke Cilacap, Jawa Tengah dan
menjadi bagian jajaran UBP semarang. Unit Pembangkitan Perak Grati
menggunkan bahan bakar berbeda yaitu PLTGU Grati menggunkan Gas dan
HSD, sedangkan PLTU Perak menggunakan bahan bakar MFO (Marine Fuel
Oil).
PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati merupakan salah
satu Unit Pembangkitan yang dimiliki PT Indonesia Power. UP ini dulunya
berkantor di dalam area pelabuhan tanjung perak, di jalan Nilam Barat 2-4
Surabaya. Alasan pemilihan lokasi tersebut sebagai tempat Pembangkit
Listrik Tenaga Uap ( PLTU ) Perak dan kantor adalah :
1. Dekat dengan pusat pemakaian listrik.
2. Kebutuhan air pendingin ( air laut ) mencukupi.
3. Pengadaan sparepart dan material pendukung mudah.
4. Tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk.
Pada tanggal 20 Mei 2000, kantor Unit pembangkitan Perak Grati
menempati lokasi barunya di area unit PLTGU Grati yang beralamat di Jalan
Raya Surabaya-Probolinggo Km 73 Desa Wates Kecamatan Lekok,
Kabupaten Pasuruan, menempati lahan seluas 70 hektar terdiri dari 35
hektar lahan pantai dan 35 hektar lahan reklamasi. Alasan pemilihan lokasi
ini adalah :
1. Penanganan langsung pembangkit yang berkapasitas lebih besar.
2. Lokasi milik sendiri.

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

3. Lokasi yang di perak berstatus sewa dan biaya sewanya mahal, jadi
sebagian dikembalikan lagi ke PT PELINDO sebagian tetap disewa
sebagai unit PLTU
Unit Pembangkitan Perak Grati secara operasional berpusat di desa
Wates, Kec Lekok Grati Kabupaten Pasuruan yang terdiri dari Sub Unit
PLTU Perak di Surabaya dan PLTGU di Pasuruan.
PLTU Perak menempati lahan seluas 6 hektar di wilayah bisnis dan
industri Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Untuk memenuhi permintaan
tenaga listrik di Surabaya dan wilayah Jawa Timur lainnya PLTU Unit 1 dan
Unit 2 mulai beroperasi sejak tahun 1964 dan PLTU Unit 3 dan Unit 4 pada
tahun

1978.

Seiring

dengan

pertumbuhan

beban

dan

dimulainya

pembangunan pembangkit-pembangkit lainnya dengan kapasitas yang lebih


besar dan lebih efisien maka terhitung tahun 1995 PLTU. Unit 1 dan Unit 2
tidak dioperasikan kembali sedangkan PLTU Unit 3 dan Unit 4 yang
berbahan bakar MFO masih merupakan unit operasional tetapi mulai tahun
2012 unit 3 & 4 menjadi (RSH) Reverse Shut Down yang artinya
pembangkit standby dan pada saat dibutuhkan harus siap ke jaringan.
PLTGU Grati terdiri dari satu unit pembangkit combined cycle (blok
1) serta 3 unit turbin gas open cycle (blok 2), yang saat ini menjadi PLTG
Grati, menempati lahan seluas 70 hektar terdiri dari 35 hektar lahan
reklamasi. Turbin gas dirancang menggunakan dua bahan bakar primer
yakni Gas dan HSD. Bahan bakar HSD dikirim dari fasilitas lepas pantai
kapal tanker (sekitar 4 km dari lokasi) ke tangki PLTGU.
Dengan adanya
menunjang

keandalan

Unit Pembangkitan Perak Grati ini akan dapat


sistem

kelistrikan

Jawa-Bali

dalam

meningkatkan kebutuhan tenaga listrik dan perkembangan

rangka

teknologi di

Indonesia terutama sejak adanya sistem interkoneksi se Jawa-Bali.


UP Perak Grati sampai saat ini mempunyai pembangkit dengan
kapasitas terpasang total 960 MW (namun pada pengoperasiannya tidak
mencapai nilai tersebut) dengan rincian :

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

1. PLTU Perak
PLTU Perak memiliki 4 unit PLTU dengan total kapasitas daya
terpasang sebesar 150 MW yang terdiri dari:
-

Unit 1: 25 MW buatan Westing House, USA, beroperasi sejak 1964

Unit 2: 25 MW buatan Westing House, USA, beroperasi sejak 1964

Unit 3: 30 MW buatan Mitsubisi, Japan, beroperasi sejak 1978. Sub


Unit Pembangkitan Perak ini juga dilangkapi dengan fasilitas
berikut :
Desalination Plant untuk memproduksi air tawar dari air laut
untuk pengisisan Boiler sekarang diganti dengan RO (Reverse
Osmosis).
Water Treatment Plant untuk pengolah air pengisi ketel.
Neutralizing Pit guna mengolah air limbah sebelum dibuang ke
laut.

Unit 4: 50 MW buatan Mitsubisi, Japan, beroperasi sejak 1978


Sejak awal beroperasi PLTU Perak telah mengalami beberapa kali

proses perbaikan untuk mengoreksi defisiensi yang terjadi terhadap


rancangan dari pabrik. Dalam kondisinya sekarang, sebagai akibat dari
deteroisasi, unit 3 mengalami penurunan kapasitas menjadi 38 MW,
sedangkan unit 4 mengalami penurunan kapasitas menjadi 39 MW. Unit
PLTU Perak berada di atas tanah seluas 6 ha di kawasan industri bisnis
dekat pelabuhan tanjung perak di bagian utara Surabaya, Jawa timur.
2.

PLTGU Grati
PLTGU Grati berada diatas lahan seluas 73 ha di Desa Wates Kec

Lekok, Grati-Pasuruan, Jawa Timur, 73 KM dari Surabaya. Pembangkitan


ini terdiri dari blok 1 (combined cycle) dengan daya terpasang 450 MW,
blok 2 (Open cycle) dengan total daya terpasang 300 MW, mulai dibangun
tahun 1995 dan selesai bulan April 1997.

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Unit Pembangkitan Perak dan Grati ini menggunakan 2 macam bahan


bakar yaitu HSD dan Gas alam, untuk gas alam diambil dari lepas pantai
yang kemudian dikelola oleh PT. SANTOS sebagai supply ke unit, selain itu
Unit Pembangkitan Grati dilengkapi dengan CNG (Compres Natural Gas)
berfungsi untuk penyimpanan gas sisa dari PT. SANTOS yang dimampatkan
dengan tekanan tertentu dan digunakan pada peak load Block II saat malam
hari (17.00 - 22.00).
Daya yang dihasilkan kemudian disalurkan ke jaringan interkoneksi
Jawa-Bali melalui SUTT 150 kV (dari blok 2) dan SUTET 500 kV (dari
blok 1). Saat ini PLTGU Grati memainkan peran yag penting sebagai
pembangkit yang dibutuhkan untuk sistem kelistrikan Jawa-Bali.
PLTGU Grati memiliki dua konfigurasi blok dengan total daya
terpasang 750 MW sebagai berikut :

Blok I (Combined Cycle) : - 3 unit x 100 MW Gas Turbin


- 3 unit HRSG
- 1unit x 150 MW Turbin Uap

Blok II (open cycled) : - 3unit x 100 MW Gas Turbin

Blok I beroperasi secara komersial sejak 1997. PLTGU Grati


dibangun oleh 3 kontraktor, antara lain :
Turbin Gas dan Turbin Uap oleh Mitsubishi Heavy Industries,
Jepang..
Heat Recovery

Steam

Generator

(HRSG) oleh

Cockeril

Mechanical Industries (CMI) Belgia.


Generator dan perlengkapan listrik oleh Siemens, Jerman.
PLTU dan PLTG mempunyai beberapa perbedaan yang mengarah pada
keuntungan dan kerugian masing-masing. Perbandingan antara PLTU dan
PLTG ditunjukkan pada tabel di bawah ini :

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Tabel 1. Perbandingan antara PLTU dan PLTGU


NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

URAIAN
Biaya pembangunan
Waktu pembangunan
Lokasi
Kapasitas
Biaya operasi
Kebutuhan air pendingin
Sistem pembebanan
Waktu start sampai beban
penuh
Temperatur kerja
Jumlah operator

PLTU
Tinggi
Lama
Luas
Besar
Sedang
Banyak
Tetap

PLTG
Rendah
Cepat
Sempit
Sedang
Tinggi
Tidak ada
Bervariasi

Lama

Cepat

Sedang
Banyak

Tinggi
Sedikit

2.4.1 Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


PT Indonesia Power UP Perak Grati mempunyai 4 komitmen K3, yaitu :
1. Mematuhi peraturan serta persyaratan K3 dan lingkungan yang
terkait.
2. Mencegah terjadinya

pencemaran

atau

kerusakan lingkungan,

penyakit akibat kerja serta bahaya kecelakaan kerja.


3. Melakukan perbaikan berkelanjutan dalam rangka mencapai unjuk
kerja K3 dan lingkungan tertinggi.
4. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan dalam rangka program
kepedulian K3 & lingkungan.

3.1. Pengertian PLTGU Secara Umum

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

PLTGU adalah gabungan antara PLTG dengan PLTU, dimana panas


dari gas buang dari PLTG digunakan untuk menghasilkan uap yang
digunakan sebagai fluida kerja di PLTU. Dan bagian yangdigunakan untuk
menghasilkan

uap

tersebut

adalah

HRSG

(Heat

Recovery

Steam

Generator).PLTGU merupakan suatu instalasi peralatan yang berfungsi


untuk mengubah energi panas (hasil pembakaran bahan bakar dan udara)
menjadi energi listrik yang bermanfaat. Pada dasarnya, sistem PLTGU ini
merupakan penggabungan antara PLTG dan PLTU. PLTU memanfaatkan
energi panasdan uap dari gas buang hasil pembakaran di PLTG untuk
memanaskan air di HRSG (Heat RecoverySteam Genarator), sehingga
menjadi

uap

jenuh

kering.

Uap

jenuh

kering

inilah

yang

akan

digunakanuntuk memutar sudu (baling-baling) Gas yang dihasilkan dalam


ruang bakar pada Pusat Listrik TenagaGas (PLTG) akan menggerakkan
turbin dan kemudian generator, yang akan mengubahnya menjadienergi
listrik. Sama halnya dengan PLTU, bahan bakar PLTG bisa berwujud cair
(BBM) maupun gas(gas alam). Penggunaan bahan bakar menentukan tingkat
efisiensi pembakaran dan prosesnya. Prinsipkerja PLTG adalah sebagai
berikut, mula-mula udara dimasukkan dalm kompresor dengan melalui air
filter / penyaring udara agar partikel debu tidak ikut masuk ke dalam
kompresor tersebut.
Padakompresor tekanan udara dinaikkan lalu dialirkan ke ruang bakar
untuk dibakar bersama bahan bakar. Disini, penggunaan bahan bakar
menentukan apakah bisa langsung dibakar dengan udara atau tidak.turbin
uap. Jika menggunakan BBG, gas bisa langsung dicampur dengan udara
untuk dibakar. Tapi jikamenggunakan BBM harus dilakukan proses
pengabutan

dahulu

pada

burner

baru

dicampur

udara

dandibakar.

Pembakaran bahan bakar dan udara ini akan menghasilkan gas bersuhu dan
bertekanan tinggiyang berenergi (enthalpy). Gas ini lalu disemprotkan ke
turbin, hingga enthalpy gas diubah oleh turbinmenjadi energi gerak yang
memutar generator untuk menghasilkan listrik. Setelah melalui turbin
sisagas panas tersebut dibuang melalui cerobong/stack. Karena gas yang

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

disemprotkan ke turbin bersuhutinggi, maka pada saat yang sama dilakukan


pendinginan turbin dengan udara pendingin dari lubangudara pada
turbin.Untuk mencegah korosi akibat gas bersuhu tinggi ini, maka bahan
bakar yang digunakan tidak boleh mengandung logam Potasium, Vanadium,
dan Sodium.
3.2. Prinsip Kerja PLTGU
Secara umum sistem produksi tenaga listrik pada PLTGU dibagi
menjadi dua siklus, yaitu sebagai berikut.
3.2.1 Siklus Terbuka (Open Cycle)
Siklus Terbuka merupakan proses produksi listrik pada PLTG dimana gas
buangan dari turbin gas langsung dibuang ke udara melalui cerobong
saluran keluaran. Suhu gas buangan di cerobong saluran keluaran ini
mencapai 550C. Proses seperti ini pada PLTG dapat disebut sebagai proses
pembangkitan listrik turbin gas yaitu suatu proses pembangkitan listrik yang
dihasilkan oleh putaran turbin gas. Proses produksi listrik pada PLTG
ditunjukkan pada gambar 4.

Gambar 3.1 Siklus Terbuka (PLTG)


Ketrerangan Gambar :
1. Barge/Kapal, alat pengangkut bahan bakar minyak (BBM)
2. Pumping house
3. Fuel Pump
4. Electric/diesel motor

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

5. Air filter, penyaring udara agar partikel debu tidak masuk ke dalam
compressor
6. Compressor, menaikkan tekanan udara untuk dibakar bersama
bahan bakar
7. Combustion system, Membakar bahan bakar dan udara serta
menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan dan energi tinggi.
8. Gas turbine, mengubah energi gas menjadi energi gerak yang
memutar generator
9. Stack/Cerobong asap, membuang sisa gas panas dari turbine
10. Generator, menghasilkan energi listrik
11. Main transformer
3.2.2 Siklus Kombinasi (Combined Cycle)
Di bidang industri saat ini, dilakukan usaha untuk meningkatkan
efisiensi turbin gas yaitu dengan cara menggabungan siklus turbin gas
dengan siklus proses sehingga diperoleh siklus gabungan yang biasa disebut
dengan istilah Cogeneration. Sedangkan untuk meningkatkan efisiensi
termal turbin gas yang digunakan sebagai unit pembangkit listrik (PLTG),
siklus PLTG digabung dengan siklus PLTU sehingga terbentuk siklus
gabungan yang disebut Combined Cycle atau Pembangkit Listrik Tenaga
Gas Uap (PLTGU).
Siklus PLTGU terdiri dari gabungan siklus PLTG dan siklus PLTU.
Siklus PLTG menerapkan siklus Brayton, sedangkan siklus PLTU
menerapkan siklus ideal Rankine seperti gambar 5 dan 6:

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Gambar 3.2 siklus PLTU menerapkan siklus ideal Rankine

Gambar 3.3 Gambar Siklus Kombinasi


Penggabungan siklus turbin gas dengan siklus turbin uap dilakukan
melalui peralatan pemindah panas berupa boiler atau umum disebut Heat
Recovery

Steam Generator (HRSG).

Siklus kombinasi

ini selain

meningkatkan efisiensi termal juga akan mengurangi pencemaran udara.


Dengan

menggabungkan

siklus

tunggal

PLTG

menjadi

unit

pembangkit siklus kombinasi (PLTGU) maka dapat diperoleh beberapa


keuntungan, diantaranya adalah :
1.

Efisiensi termalnya tinggi, sehingga biayaoperasi (Rp/kWh)


lebih rendah dibandingkan dengan pembangkit thermal lainnya.

2.

Biaya pemakaian bahan bakar (konsumsi energi) lebih rendah.

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

3.

Pembangunannya relatif cepat.

4.

Kapasitas dayanya bervariasi dari kecil hingga besar

5.

Menggunakan bahan bakar gas yang bersih dan ramah lingkungan

6.

Fleksibilitasnya tinggi

7.

Tempat

yang

diperlukan tidak

terlalu

luas,

sehingga

biaya investasi lahan lebih sedikit.


8.

Pengoperasian

PLTGU

yangmenggunakan

komputerisasi

memudahkan pengoperasian.
9.

Waktu

yang

dibutuhkan:

untuk

membangkitkan

beban

maksimum 1 blok PLTGU relatif singkat yaitu 150 menit.


10. Prosedur pemeiliharaan lebih mudah dilaksanakan dengan
adanya fasilitas sistem diagnosa.
Skema siklus PLTGU dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 3.4 Combined Cycle Power Plant (PLTGU).


ATURAN TRANSAKSI PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA- MADURA - BALI (Jamali

I.

PENDAHULUAN

1.1. Umum
Aturan Transaksi Pembangkitan Tenaga Listrik Sistem Jamali merupakan aturan
pelaksanaan jual beli tenaga listrik antara PT PLN (Persero) Kantor Pusat (Komite Pembeli
Tunggal/Single Buyer) dengan Unit Pembangkit PT PLN (Persero), Anak Perusahaan
Pembangkit PT PLN (Persero) dan IPP di Jamali yang meliputi :
Ketentuan transaksi pembangkitan Jamali
(1) Persyaratan berpartisipasi dalam transaksi pembangkitan tenaga listrik sistem Jamali

(2) Penyelenggaraan transaksi pembangkitan tenaga listrik sistem Jamali


(3) Proses deklarasi dan dispatch
(4) Penetapan harga transaksi
(5) Ketentuan dan kewajiban penyediaan informasi
(6) Proses setelmen
2.1. Tujuan
Aturan Transaksi Pembangkitan Tenaga Listrik Sistem Jamali ini bertujuan untuk mendorong
peningkatan efisiensi dan keandalan penyediaan Tenaga Listrik Sistem Jamali melalui
sistem transaksi yang akuntabel.
3.1. Prinsip
Prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam Aturan Transaksi Pembangkitan ini adalah :
(a) Berusaha menciptakan derajat tranparansi untuk mencapai efisiensi sistem tenaga

listrik.
(b) Menghindari perlakuan khusus kepada peserta transaksi terkait dengan perbedaan

teknologi yang digunakan.


(c) Konsistensi antara dispatch dengan deklarasi kesiapan daya dan harga bahan bakar.
(d) Perlakuan adil dan terbuka bagi peserta yang sudah ada maupun bagi calon peserta.

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

4.1. Mekanisme Transaksi Pembangkitan Tenaga Listrik Sistem Jamali


Sejalan dengan program peningkatan efisiensi dan keandalan penyediaan Tenaga Listrik
Sistem Jamali, PT PLN (Persero) menganggap perlu menyempurnakan transaksi
pembangkitan tenaga listrik sistem Jamali dengan penjadwalan operasi pembangkit
berdasarkan heat rate, nilai kalor dan harga bahan bakar.
Pihak terkait pada transaksi ini adalah:
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

Komite Pembeli Tunggal PT PLN (Persero)


Anak Perusahaan Pembangkit PT PLN (Persero) di Jamali
PT PLN (Persero) Pembangkitan di Jamali
Pembangkit listrik swasta di Jamali
PT PLN (Persero) P3B Jawa-Bali sebagai pengelola sistem, pengelola pasar dan
penyedia jasa transmisi.

AP KIT PLN

PLN KIT

IPPs

Deklarasi Kesiapan Daya

Perjanjian Jual

dan Harga Bahan Bakar

Beli/Kesepakatan
Transfer (PPA)

PLN KANTOR PUSAT

P3B
JAWA BALI

5.1. Komite Operasi


(a) Komite Operasi terdiri atas perwakilan dari P3B JB, Komite Pembeli Tunggal, Anak
Perusahaan Pembangkitan PT PLN (Persero) dan PT PLN (Persero) Pembangkitan.
Ketua Komite Operasi adalah Perwakilan Komite Pembeli Tunggal dengan anggota
sebagai berikut:
- Dua orang anggota mewakili PT PLN (Persero) P3B JB;
- Dua orang anggota mewakili PT PLN (Persero) Pembangkitan
- Dua orang anggota mewakili Anak Perusahaan Pembangkitan PT PLN (Persero)
(b) Keanggotaan Komite Operasi
Anggota Komite Operasi ditunjuk secara resmi oleh masing-masing pelaku dan diganti
sesuai kepentingan yang diwakili dengan pemberitahuan resmi.
(c) Tugas Komite Operasi adalah:
(1) Melakukan kajian atas pelaksanaan transaksi;
(2) Menangani permasalahan yang disampaikan peserta kepada Komite Operasi;
(3) Mengumpulkan dan menyebarkan informasi yang diperlukan untuk mengupayakan
transaksi berlangsung secara efisien.

II. PELAKSANAAN TRANSAKSI PEMBANGKITAN JAMALI


2.1.

Pengelolaan Transaksi Pembangkitan

(a) PT PLN (Persero) P3B JB wajib mengelola transaksi pembangkitan sesuai Aturan
Transaksi Pembangkitan Tenaga Listrik Sistem Jamali.
(b) PT PLN (Persero) P3B JB berkewajiban melaksanakan administrasi transaksi
pembangkitan yang meliputi pengelolaan proses transaksi sehingga menghasilkan
perhitungan kewajiban finansial terhadap pembangkitan Jamali.
(c) PT PLN (Persero) P3B JB mempublikasikan informasi mengenai pelaksanaan transaksi
pembangkitan kepada pihak-pihak terkait.
(d) Dalam mengelola transaksi pembangkitan, PT PLN (Persero) P3B JB mengacu pada
Aturan Transaksi Pembangkitan Tenaga Listrik Sistem Jamali.

2.2.

Operasi Sistem Tenaga Listrik

(a) PT PLN (Persero) P3B JB bertanggung jawab dalam pengelolaan operasi sistem tenaga

listrik dengan memperhatikan sekuriti, keandalan, mutu serta keekonomian sistem


tenaga listrik.
(b) Secara periodik PT PLN (Persero) P3B JB melaksanakan kajian terhadap proyeksi
keamanan dan kecukupan sistem tenaga listrik (projected assessment of system
adequacy) untuk tujuan power system security jangka menengah dan jangka pendek,
meliputi pengumpulan data, analisis dan mengumumkan hasil kajian kepada
perusahaan pembangkit.
(c) PT PLN (Persero) P3B JB mengelola penjadwalan dan dispatch unit pembangkit dan
koordinasi pemeliharaan unit pembangkit.
2.3.

Penetapan Layanan Tambahan (Ancillary Services)

(a) PT PLN (Persero) P3B JB menginformasikan kebutuhan layanan tambahan (ancillary


services) untuk mendukung operasi sistem tenaga listrik.
(b) PT PLN (Persero) P3B JB mengelola layanan tambahan yang tersedia dengan
memperhatikan batasan teknik operasi unit pembangkit.
2.4.

Penetapan Cadangan (Reserves) Sistem

(a) PT PLN (Persero) P3B JB mengalokasikan kebutuhan cadangan sistem (system


reserves) untuk mendukung operasi sistem tenaga listrik.
(b) PT PLN (Persero) P3B JB mengelola cadangan sistem yang tersedia.
(c) Ketentuan mengenai cadangan sistem mengacu kepada Aturan Jaringan Sistem Tenaga
Listrik Jamali (Grid Code).
2.5.

Setelmen

PT PLN (Persero) P3B JB melaksanakan proses menyeluruh dari pembacaan meter hingga
perhitungan kewajiban finansial masing-masing pihak sebagai akibat adanya pelaksanaan
mekanisme transaksi pembangkitan Jamali.
2.6.

Penyediaan Informasi

PT PLN (Persero) P3B JB menyediakan informasi kepada semua peserta transaksi


mengenai:
(a) Prakiraan beban;
(b) Kendala jaringan;
(c) Kendala penyediaan ancillary services;
(e) Penetapan jadwal pelaksanaan pemeliharaan unit pembangkit;
(f) Perkiraan neraca daya sistem;
(g) Proses dan algoritma penjadwalan unit pembangkit serta parameter yang digunakan
dalam algoritma tersebut;
(h) Penjadwalan unit pembangkit;
(i) Informasi hasil transaksi;

(j) Data realisasi operasi sistem;


(k) Jadwal operasi unit pembangkit baru; dan
(l) Perhitungan setiap transaksi jual beli tenaga listrik
III. KETENTUAN TRANSAKSI PEMBANGKITAN JAMALI
3.1.

Aturan Transaksi Pembangkitan Jamali

Peserta Transaksi wajib mengikuti aturan-aturan operasional sistem tenaga listrik dan aturan
hubungan komersial, seperti Aturan Jaringan Sistem Tenaga Listrik Jamali (Grid Code),
Aturan Transaksi Pembangkitan Tenaga Listrik Sistem Jamali dan aturan-aturan lainnya
yang terkait.
3.2.

Kriteria Peserta

3.2.1.

Perusahaan Pembangkitan

(a) Perusahaan pembangkitan yang ikut berpartisipasi di dalam transaksi pembangkitan


adalah anak perusahaan pembangkitan PT PLN (Persero).
(b) Perusahaan tersebut harus memenuhi persyaratan sesuai peraturan perundangundangan di bidang ketenagalistrikan di Indonesia.
(c) Unit pembangkit yang dapat menjual tenaga listriknya melalui jaringan PT PLN (Persero)
P3B JB adalah unit pembangkit yang dimiliki oleh perusahaan pembangkit sesuai
ketentuan butir 3.2.1 huruf (b).
3.2.2.

Unit Pembangkitan

(a) Unit Pembangkitan yang ikut berpartisipasi di dalam transaksi pembangkitan adalah PT
PLN (Persero) Pembangkitan.
(b) Unit Pembangkitan tersebut harus memenuhi persyaratan sesuai peraturan perundangundangan di bidang ketenagalistrikan di Indonesia.

3.3.

Perjanjian Jual Beli / Kesepakatan Transfer Tenaga Listrik

Perjanjian Jual Beli/Kesepakatan Transfer tenaga listrik merupakan perjanjian/ kesepakatan


bilateral untuk masing-masing entitas pusat pembangkit antara PT PLN (Persero) dan Anak
Perusahaan Pembangkitan/ PT PLN (Persero) Pembangkitan mengenai kesediaan Anak
Perusahaan Pembangkitan/ PT PLN (Persero) Pembangkitan untuk menjual/mentransfer tenaga
listriknya kepada PT PLN (Persero) dan sebaliknya kesediaan PT PLN (Persero) untuk
membeli/menerima tenaga listrik dari Anak Perusahaan Pembangkitan/ PT PLN (Persero)
Pembangkitan dalam kurun waktu tertentu dengan ketentuan yang telah disepakati.

Semua pembangkit milik Anak Perusahaan Pembangkitan dan PT PLN (Persero) Pembangkitan,
akan diikat dalam suatu perjanjian jual beli/kesepakatan transfer tenaga listrik.
Ketentuan Perjanjian Jual Beli / Kesepakatan Transfer Tenaga Listrik adalah sebagai berikut :

(a) Perjanjian jual beli tenaga listrik melibatkan Komite Pembeli Tunggal dengan seluruh
unit pembangkit milik Anak Perusahaan Pembangkitan PT PLN (Persero) tersambung
ke Grid.
(b) Kesepakatan transfer tenaga listrik melibatkan Komite Pembeli Tunggal dengan seluruh
unit pembangkit yang dikelola oleh PT PLN (Persero) Pembangkitan.
(c) Jangka waktu perjanjian jual beli dan kesepakatan transfer tenaga listrik adalah sesuai
kesepakatan kedua belah pihak.
(d) Dalam perjanjian jual beli dan kesepakatan transfer tenaga listrik secara umum
dinyatakan adanya komponen-komponen: kapasitas dikontrak, harga kapasitas (fixed
charge), dan harga energi (variable charge), serta harga layanan tambahan (ancillary
services) yang dikontrak.
(e) Perjanjian jual beli/kesepakatan transfer tenaga listrik diharapkan mampu mendorong
usaha peningkatan kesiapan (availability) unit pembangkit karena pembayaran/biaya
kapasitas didasarkan pada kesiapan aktual unit pembangkit setiap jam.
(f) Perjanjian jual beli / kesepakatan transfer tenaga listrik untuk berbagai jenis pembangkit
dapat mengandung unsur sebagai berikut :
1. PLTU Batubara, PLTU Minyak, PLTG Minyak, PLTD Minyak :
-

Daya mampu netto yang harus tersedia selama jangka waktu perjanjian.

Pembayaran/biaya

daya

(kapasitas)

terdiri

atas

komponen

untuk

pengembalian biaya investasi serta biaya tetap operasi dan pemeliharaan


sesuai kesiapan unit pembangkit.

Pembayaran/biaya Start Up.

Pembayaran/biaya

layanan

tambahan

(ancillary

services)

yang

diperjanjikan/disepakati.
2.

Biaya lainnya yang disepakati.

PLTG, PLTGU dan PLTU gas bumi :


-

Daya mampu netto yang harus tersedia selama jangka waktu perjanjian.

Pembelian jumlah energi listrik minimum tahunan setara dengan besar


TOP pada perjanjian jual beli gas bumi dengan angka konversi yang
disepakati kedua belah pihak.

Pembayaran/biaya

daya

(kapasitas)

terdiri

atas

komponen

untuk

pengembalian biaya investasi serta biaya tetap operasi dan pemeliharaan


sesuai dengan kesiapan unit pembangkit.
-

Pembayaran/biaya energi terdiri atas komponen untuk pengembalian


biaya bahan bakar serta biaya variabel operasi dan pemeliharaan.

Pembayaran Start Up.

Pembayaran layanan tambahan (ancillary services) yang diperjanjikan/


disepakati.

3.

Biaya tambahan lainnya yang disepakati.


PLTP :

Daya mampu netto yang harus tersedia selama jangka waktu perjanjian.

Pembelian jumlah energi listrik minimum tahunan setara dengan besar


TOP pada perjanjian jual beli panas bumi.

Pembayaran/biaya

daya

(kapasitas)

terdiri

atas

komponen

untuk

pengembalian biaya investasi serta biaya tetap operasi dan pemeliharaan


sesuai dengan kesiapan unit pembangkit.
-

Pembayaran/biaya energi terdiri atas komponen untuk pengembalian


biaya energi primer serta biaya variabel operasi dan pemeliharaan.

Pembayaran Start Up.

Pembayaran layanan tambahan (ancillary services) yang diperjanjikan/


disepakati.

4.
-

Biaya lainnya yang disepakati.


PLTA :
Daya mampu netto yang harus tersedia selama jangka waktu perjanjian.
Pembayaran/biaya

daya

(kapasitas)

terdiri

atas

komponen

untuk

pengembalian biaya investasi serta biaya tetap operasi dan pemeliharaan

sesuai dengan kesiapan unit pembangkit.


- Pembayaran/biaya energi terdiri atas komponen untuk pengembalian biaya
energi primer serta biaya variabel operasi dan pemeliharaan.
- Pembayaran layanan tambahan (ancillary services) yang diperjanjikan/
disepakati.
- Biaya lainnya yang disepakati.
- Energi listrik yang dapat diproduksi PLTA seluruhnya dibeli oleh PT PLN
(Persero) melalui PT PLN (Persero) P3B JB.
3.4.

Ketentuan Harga Pembelian / Transfer Tenaga Listrik

(a) Untuk pembelian tenaga listrik yang tidak melalui proses transaksi, harga pembelian /
transfer didasarkan atas harga/biaya tenaga listrik yang ditetapkan dalam perjanjian jual
beli/kesepakatan transfer tenaga listrik.
(b) Untuk pembelian tenaga listrik melalui proses transaksi, harga transaksi setiap unit
pembangkit sesuai ketentuan butir 13.3.

IV. KENDALA JARINGAN


(a) PT PLN (Persero) P3B JB menginformasikan adanya kendala jaringan yang
mempengaruhi dispatch pembangkit dan beban.
(b) Kendala jaringan diperhitungkan dalam proses dispatch pembangkit.

V.

5.1.

PROYEKSI KONDISI DAN KECUKUPAN SISTEM (PROJECTED ASSESSMENT


OF SYSTEM ADEQUACY, PASA)
Pengelolaan PASA

(a) PT PLN (Persero) P3B JB melakukan analisis proyeksi kondisi dan kecukupan sistem
tenaga listrik bersifat jangka pendek dan jangka menengah (short term and medium
term PASA).
(b) Analisis proyeksi kondisi dan kecukupan sistem mencakup pengumpulan informasi,
analisis dan publikasi hasil analisis periode jangka pendek dan jangka menengah
berkaitan dengan sekuriti dan mutu sistem tenaga listrik, sehingga peserta transaksi
pembangkitan mendapatkan informasi yang benar sebagai dasar keputusan tentang
rencana produksi, rencana beban dan perkiraan gangguan jaringan untuk jangka waktu
1 tahun ke depan.
(c) Dalam periode mingguan, PT PLN (Persero) P3B JB melaksanakan pengumpulan dan
analisis informasi pembangkitan, jaringan dan beban sistem mencakup :
(1) jadwal pemeliharaan unit pembangkit dan jaringan;
(2) kesiapan unit pembangkit;

(3) kendala-kendala sumber energi primer;


(4) kondisi pembangkitan yang berpengaruh terhadap sekuriti dan mutu sistem tenaga
listrik;
(5) perubahan beban yang signifikan yang akan mempengaruhi prakiraan beban (load
forecast).

5.2.

Proyeksi Sistem Jangka Pendek

(a) Analisis proyeksi Sistem Tenaga Listrik jangka pendek periode harian dipublikasikan
oleh PT PLN (Persero) P3B JB sekurang-kurangnya seminggu sekali sesuai jangka
waktu yang ditetapkan.
(b) Analisis proyeksi sistem jangka pendek antara lain mencakup publikasi jadwal predispatch yang dicacah per jam.
(c) Perencanaan beban sistem tenaga listrik (load forecasting) dan kebutuhan cadangan
sistem (reserve margin) jangka pendek dibuat berdasarkan data beban historikal (past
trend) dengan mempertimbangkan pola beban (load profile) hari ke hari yang dicacah
per jam.

5.3.

Proyeksi Sistem Jangka Menengah

(a) Analisis proyeksi Sistem Tenaga Listrik jangka menengah dalam periode satu tahunan
dipublikasikan oleh PT PLN (Persero) P3B JB sekurang-kurangnya setahun sekali
sesuai jangka waktu yang ditetapkan.
(b) Analisis proyeksi Sistem Tenaga Listrik jangka menengah yang dipublikasikan oleh PT
PLN (Persero) P3B JB antara lain meliputi perencanaan beban sistem tenaga listrik
(load forecasting) dan kebutuhan cadangan sistem (reserve margin) jangka menengah
didasarkan atas sekuriti dan mutu sistem tenaga listrik yang ditetapkan.

5.4.

Proyeksi Sistem Jangka Panjang

(a) Analisis proyeksi Sistem Tenaga Listrik jangka panjang dalam periode dua tahunan
dipublikasikan oleh PT PLN (Persero) P3B JB sekurang-kurangnya setahun sekali
sesuai jangka waktu yang ditetapkan.
(b) Analisis proyeksi Sistem Tenaga Listrik jangka panjang yang dipublikasikan oleh PT PLN
(Persero) P3B JB antara lain meliputi perencanaan beban sistem tenaga listrik (load
forecasting) dan kebutuhan cadangan sistem (reserve margin) jangka panjang
didasarkan atas sekuriti dan mutu sistem tenaga listrik yang ditetapkan.

VI.
6.1.

PENGOPERASIAN SISTEM TENAGA LISTRIK


Tujuan

Tujuan operasi sistem tenaga listrik adalah untuk memenuhi keseimbangan antara
pembangkitan dan beban yang memenuhi kriteria sekuriti, mutu dan keandalan serta biaya
pembangkitan serendah mungkin. Usaha ini memerlukan pemantauan dan pengendalian
secara terpadu untuk memenuhi berbagai kendala operasi serta antisipasi adanya
ketidakpastian dalam sistem tenaga listrik.

6.2.

Kriteria Operasi Sistem Tenaga Listrik

(a) Pengendalian operasi sistem Jamali harus memenuhi 3 kriteria, yaitu: sekuriti (security),
mutu (quality) dan ekonomi (economy).
(b) Kriteria sekuriti menghendaki agar sistem mampu bertahan bila terjadi gangguan secara
tiba-tiba baik berupa gangguan hubung singkat maupun gangguan transmisi atau
pembangkit trip.
(c) Kriteria mutu berarti pengoperasian sistem diharapkan dapat memenuhi batasan
operasional untuk tegangan dan frekuensi.
(d) Kriteria ekonomi menghendaki agar biaya operasi dapat seminimal mungkin dalam
memenuhi kebutuhan beban.
Ketentuan batasan sekuriti dan mutu untuk keempat butir di atas adalah sebagaimana diatur
dalam Aturan Jaringan Sistem Tenaga Listrik Jamali (Grid Code).

6.3.

Tanggung Jawab Pemakai Grid

(a) Sistem Jamali yang terdiri atas komponen pembangkitan dan penyaluran memerlukan
koordinasi dan tanggung jawab dari semua pemakai jaringan (grid users) atas
kontinyuitas penyaluran.
(b) Peserta Transaksi selaku penyedia tenaga listrik bertanggung jawab untuk menjaga
kesiapan dan kemampuan unit pembangkit sesuai dengan perjanjian/kesepakatan.
(c) Peserta Transaksi juga berkewajiban untuk sepenuhnya membantu usaha pemulihan
apabila terjadi gangguan sistem.
(d) PT PLN (Persero) P3B JB bertanggung jawab untuk menyalurkan tenaga listrik yang
dihasilkan oleh unit pembangkit sesuai dengan kriteria sekuriti, mutu dan ekonomi.
(e) Setiap kendala sistem yang ada harus diinformasikan kepada semua pemakai jaringan
dan diusahakan untuk dipenuhi melalui pengaturan sistem sesuai dengan kaidah-kaidah
yang berlaku.
(g) Koordinasi operasi unit pembangkit dilakukan sesuai dengan aturan atau tata cara
operasi yang disepakati pihak-pihak terkait.
(h) Dalam pelaksanaan operasi Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB berhak
menentukan besar pembebanan unit pembangkit lebih kecil dari Daya Mampu Netto
(DMN) dikontrak/disepakati sesuai dengan kebutuhan operasi sistem dan batasan teknis
unit pembangkit.
(i) Dalam memenuhi permintaan operator sistem untuk menaikkan atau menurunkan
beban, operator unit pembangkit mempunyai kewenangan melakukan optimasi
konfigurasi pembebanan pusat pembangkit sepanjang tidak melanggar sekuriti sistem
yang ditentukan oleh operator sistem.

6.4.

Koordinasi Pada Kondisi Darurat

Kondisi operasi sistem Jamali bersifat dinamis karena sangat tergantung pada konfigurasi
jaringan, karakteristik dinamik unit pembangkit yang sedang beroperasi, serta karakteristik
beban yang sedang dilayani. Untuk itu diperlukan koordinasi pada kondisi darurat sebagai
berikut :
(a) Pemakai jaringan harus selalu siap menghadapi berbagai kondisi operasi yang berbeda
dari waktu ke waktu, yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi: kondisi normal,
kondisi siaga, kondisi darurat dan kondisi pemulihan.
(b) Pada kondisi darurat (emergency) terdapat kendala operasi dan kriteria sekuriti yang
tidak dapat dipenuhi. Dalam kondisi ini diperlukan koordinasi antara PT PLN (Persero)
P3B JB dan Peserta Transaksi untuk melakukan pengendalian darurat sehingga dapat
memperbaiki sistem menuju kondisi normal sesuai dengan prosedur pemulihan dan

kaidah-kaidah yang berlaku.


(c) Semua tindakan dalam kondisi darurat dikoordinasikan oleh PT PLN (Persero) P3B JB
dan diarahkan untuk mencegah pemadaman total. Ada kemungkinan kondisi tersebut
menyebabkan terputusnya sebagian penyaluran daya ke pusat beban, atau keluarnya
beberapa komponen sistem sehingga terjadi perubahan konfigurasi jaringan. Untuk itu
Peserta Transaksi harus membantu sepenuhnya dengan mengoperasikan unit
pembangkit sesuai prosedur pemulihan yang dikoordinasikan oleh PT PLN (Persero)
P3B JB.

6.5.

Koordinasi Pemeliharaan Unit Pembangkit

Dalam menjaga kontinyuitas pelayanan tenaga listrik di sistem Jamali, diperlukan jaminan
jumlah kemampuan pembangkitan yang harus selalu lebih besar dari beban yang harus
dilayani. Peserta Transaksi harus menyampaikan rencana jadwal pemeliharaan seluruh unit
pembangkitnya untuk dijadwalkan oleh PT PLN (Persero) P3B JB, sehingga kebutuhan
sistem yang ada (neraca daya dengan jumlah cadangan merata sepanjang tahun) dapat
terpenuhi.
6.6.

Aturan Jaringan Sistem Tenaga Listrik Jamali (Grid Code)

Segala ketentuan tentang aturan-aturan praktis di dalam operasi sistem, penjadwalan,


dispatch, komunikasi data dan sebagainya dituangkan dalam Aturan Jaringan Sistem
Tenaga Listrik Jamali (Grid Code) atau Standing Operation Procedure (SOP) yang berlaku
harus dipatuhi oleh pemakai jaringan.

VII.
7.1.

PROSES TRANSAKSI PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK


Tahapan Transaksi Pembangkitan

(a) PT PLN (Persero) P3B JB melaksanakan perencanaan beban (demand forecasting)


berdasarkan data historikal (past trend), dan diinformasikan kepada semua peserta
transaksi pembangkitan.
(b) Setiap Peserta Transaksi pembangkitan harus mendeklarasikan kesiapan daya
(kapasitas) setiap unit pembangkit yang dicacah per jam dan harga bahan bakar
kepada PT PLN (Persero) P3B JB. Bila Peserta Transaksi tidak menyampaikan
deklarasinya maka untuk keperluan proses transaksi pembangkitan digunakan deklarasi
terakhir.
(c) Peserta Transaksi dapat melakukan revisi kesiapan daya sesuai dengan kondisi
mutakhir pengusahaan unit pembangkit yang diusulkan untuk jangka waktu 1 minggu

atau 1 hari ke depan.


(d) Pembayaran atas kapasitas unit pembangkit ditetapkan berdasarkan atas daya
(kapasitas) yang mampu disediakan unit pembangkit sesuai ketentuan perjanjian (PPA).
(e) Harga bahan bakar dan kurs dalam periode transaksi akan menjadi dasar perhitungan
pembayaran energi.
(f) Rencana Operasi Bulanan bersifat tidak mengikat dan akan dimutakhirkan pada
Rencana Operasi Mingguan dan Rencana Operasi Harian. Kesiapan unit pembangkit
sebagaimana tercantum pada Rencana Operasi Mingguan selanjutnya akan bersifat
mengikat.

7.2.

Deklarasi Kesiapan Kapasitas Pembangkit

(a) Deklarasi kesiapan unit pembangkit merupakan deklarasi dari Peserta Transaksi
mengenai kesiapan unit pembangkit untuk dibebani atau dioperasikan sesuai dengan
batasan operasi masing-masing unit.
(b) Deklarasi kesiapan unit harus diberikan setiap minggu oleh Peserta Transaksi kepada
PT PLN (Persero) P3B JB. Selanjutnya PT PLN (Persero) P3B JB menggunakan
informasi tersebut untuk perencanaan mingguan (Rencana Operasi Mingguan).
(c) Informasi yang disampaikan dalam deklarasi kesiapan unit pembangkit adalah :
(1) Kesiapan daya yang dirinci setiap selang waktu jam.
(2) Keterangan mengenai batasan operasi unit pembangkit di luar hal yang sudah
dinyatakan dalam deklarasi bulanan.
(d) Jadwal Pelaksanaan Rencana Operasi Mingguan dilakukan sebagai berikut :
(1) Peserta Transaksi menyampaikan deklarasi kesiapan unit dan pola pembebanan
PLTA skala kecil selambat-lambatnya pukul 14:00 hari Selasa minggu sebelumnya
(sesuai Form. M-01 ; M-02 ; M-03 ; M-04 dan M-05 pada lampiran). Pola operasi
waduk berskala kecil ditangani oleh Perusahaan Pembangkit, sedangkan pola
operasi waduk berskala besar ditangani oleh Bidang Operasi Sistem PT PLN
(Persero) P3B JB.
(2) Peserta Transaksi dapat menyampaikan revisi atas deklarasi kesiapan mingguan
selambat-lambatnya pada pukul 16:00 WIB hari Rabu minggu sebelumnya.
(3) PT PLN (Persero) P3B JB menyampaikan Rencana Operasi Mingguan yang
selanjutnya bersifat mengikat pada pukul 16:00 hari Kamis minggu sebelumnya.
(4) Periode Rencana Operasi Mingguan yang dimulai dari Jumat pukul 00:00 sampai
dengan Kamis pukul 23:30 merupakan rencana operasi yang digunakan untuk
pembebanan unit pembangkit minggu dimaksud.

Minggu ke-n
1

Hari

Selasa

Rabu

Kamis Jumat

Kamis

Pukul

14:00

16:00

16:00 00:00

23:30

Gambar - 2. Jadwal Pelaksanaan Perencanan Mingguan

7.3.

Proses Transaksi

(a) Peserta Transaksi harus menyampaikan perkiraan kesiapan daya (kapasitas), rencana
pola pembebanan PLTA skala kecil dan jadwal pemeliharaan unit pembangkitnya
kepada PT PLN (Persero) P3B JB setiap bulan (sesuai Form. : B-01 ; B-02 ; B-03 ; dan
B-04 pada lampiran).
(b) PT PLN (Persero) P3B JB mengumumkan kepada Peserta Transaksi :
(1) perkiraan beban untuk bulan yang akan datang, dirinci untuk setiap selang waktu
jam untuk setiap Area;
(2) kebutuhan cadangan putar dan cadangan dingin;
(3) perkiraan kondisi hidrologi waduk tahunan;
(4) persetujuan jadwal pemeliharaan; dan
(5) kendala sistem penyaluran.
(c) Peserta Transaksi memberikan deklarasi kesiapan daya dan deklarasi harga bahan
bakar yang berlaku untuk 1 (satu) bulan serta posisi TOP energi primer.
Untuk pembangkit jenis PLTGU, deklarasi diberikan untuk mode operasi open cycle, 1
GT combined cycle, 2 GT combined cycle, dan 3 GT combined cycle.
Contoh tabel deklarasi adalah seperti Form. B-05 dan B-06 pada lampiran.
(d) Selain deklarasi kesiapan daya dan harga bahan bakar, Peserta Transaksi juga harus
menyampaikan informasi tentang karakteristik teknis setiap unit pembangkitnya, misalnya
minimum up-time, minimum down-time, lama start-up dan data teknis pembangkit lainnya
sesuai kontrak /kesepakatan jual beli. Bila ada perubahan terhadap karakteristik teknis
tersebut, Peserta Transaksi harus memberitahukan kepada PT PLN (Persero) P3B JB.

7.4.

Jadwal Pelaksanaan Deklarasi

(a) Selambat-lambatnya pukul 16:00 WIB tanggal 5 bulan sebelumnya, Peserta Transaksi
harus menyampaikan perkiraan kesiapan daya dan jadwal pemeliharaan unit

pembangkit bulanan kepada Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB.
(b) Selambat-lambatnya pukul 16:00 WIB tanggal 10 bulan sebelumnya, Bidang Operasi
Sistem PT PLN (Persero) P3B JB harus telah menyampaikan perkiraan beban, kondisi
hidrologi, kondisi sistem penyaluran, jadwal pemeliharaan yang telah disetujui dan
perkiraan kebutuhan cadangan yang akan digunakan Peserta Transaksi sebagai bahan
pertimbangan dalam melakukan deklarasi.
(c) Peserta Transaksi harus menyampaikan deklarasi bulanannya ke Bidang Operasi
Sistem PT PLN (Persero) P3B JB selambat-lambatnya pukul 16:00 WIB tanggal 15
bulan sebelumnya.
(d) Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB menetapkan alokasi pembebanan
dan harga energi Peserta Transaksi yang dinyatakan dalam aturan transaksi. Publikasi
hasil transaksi pembangkitan selambat-lambatnya pukul 16:00 WIB tanggal 20 sampai
tanggal 23 bulan sebelumnya.
(e) Bila hari-hari yang ditentukan di atas jatuh pada hari libur, maka jadwal dimajukan ke
hari kerja sebelumnya.
Kesiapan unit &
jadwal pemeliharaan
dari Unit Pembangkit

Informasi sistem
dari PT PLN
(Persero) P3BJB

Rapat
Alokasi Energi

10

15

Deklarasi Harga
Bahan Bakar

20 - 23

Pelaksanaan
Operasional

31

30

Proses
schedulling

Gambar 3. Jadwal Kegiatan Proses Deklarasi

7.5.

Validasi Deklarasi

(a) Deklarasi dari pembangkit harus mengikuti jadwal kegiatan proses deklarasi seperti
pada butir 7.4. Selanjutnya Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB akan
melakukan validasi deklarasi sebagai data masukan proses penjadwalan pembangkit
(dispatch process).
(b) Jika deklarasi kesiapan pembangkit tidak mengikuti jadwal kegiatan proses deklarasi
ataupun bila data pada deklarasi tidak konsisten dengan data pada perjanjian jual beli
(PPA) maka deklarasi dapat dianggap cacat dan untuk keperluan proses transaksi
digunakan deklarasi terakhir unit pembangkit.
(c) Unit pembangkit akan mendeklarasi harga batu bara berdasarkan rata-rata tertimbang
dari rencana komposisi dan harga kontrak pembelian batu bara. Jika deklarasi harga
batu bara dianggap cacat atau tidak valid maka untuk keperluan perencanaan operasi,
harga yang digunakan adalah harga rata-rata tertimbang bulan yang lalu dengan

eskalasi.
7.6.

Revisi Deklarasi

(a) Revisi deklarasi harga bahan bakar pembangkit dapat dilakukan dalam interval waktu
pelaksanaan deklarasi yaitu dari tanggal 10 sampai dengan tanggal 15 setiap bulan
sesuai jadwal kegiatan proses deklarasi pada butir 7.4. Revisi deklarasi tidak dapat
disetujui bila dilakukan diluar jadwal tersebut.
(b) Hasil validasi deklarasi diinformasikan kepada pembangkit sebagai dasar perencanaan
operasi
(c) Revisi deklarasi kesiapan pembangkit periode mingguan dapat dilakukan sesuai Jadwal
Pelaksanaan Perencanaan Mingguan pada butir 7.2.

VIII.

8.1.

PENJADWALAN PEMBEBANAN PEMBANGKIT

Kriteria Penjadwalan Pembebanan Pembangkit

(a) Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB melaksanakan penjadwalan terhadap
pembangkit yang akan didispatch disesuaikan dengan rencana beban untuk tujuan
tercapainya keseimbangan antara suplai dan permintaan dengan tingkat sekuriti dan
mutu sistem tenaga listrik yang ditetapkan.
(b) Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB akan menentukan penjadwalan
pembebanan unit pembangkit sesuai dengan merit order berdasarkan deklarasi harga
bahan bakar dan heat rate serta mempertimbangkan kendala untuk memperoleh tingkat
keandalan sistem sebagaimana diatur dalam butir 6.2 dan disampaikan sebelum
periode deklarasi.
(c) Proses penjadwalan pembebanan pembangkit, disamping berdasarkan atas merit order,
juga harus mempertimbangkan :
(1) Take or pay (TOP) energi primer
(2) kendala kesiapan dan komitmen pembangkit;
(3) kebutuhan beban yang tidak direncanakan;
(4) kendala kebutuhan cadangan sistem tenaga listrik;
(5) kendala jaringan dan rugi-rugi jaringan;
(6) kendala layanan tambahan (ancillary services).
(d) Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB berkewajiban mengembangkan dan
menyampaikan proses dan program algoritma penjadwalan pembebanan pembangkit
serta parameter yang digunakan dalam program tersebut pada saat Rapat Alokasi
Energi.
(a) berikutnya.

8.4.

Jadwal Pemeliharaan Unit Pembangkit

(a) Jadwal pemeliharaan unit pembangkit untuk periode bulanan merupakan perbaikan
terhadap jadwal pemeliharaan unit pembangkit periode tahunan yang disesuaikan
dengan kondisi mutakhir kesiapan unit pembangkit.
(b) Peserta Transaksi harus menyampaikan data kesiapan dan jadwal pemeliharaan unit
pembangkit selambat-lambatnya tanggal 5 bulan sebelumnya untuk kemudian diatur
oleh Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB.
(c) Selambat-lambatnya tanggal 10 pada bulan sebelumnya, Bidang Operasi Sistem PT
PLN (Persero) P3B JB menyampaikan revisi jadwal pemeliharaan bulanan kepada
Peserta Transaksi sebagai dasar untuk melakukan dispatch bulanan.
(d) Berdasarkan jadwal pemeliharaan unit pembangkit yang disampaikan oleh Peserta
Transaksi serta informasi mengenai unit pembangkit yang tidak siap operasi karena
gangguan dan unit yang mengalami penurunan kemampuan (derating), PT PLN
(Persero) P3B JB menyusun neraca daya sistem secara total dengan memperhatikan :
(1) kemampuan pembangkitan tiap sub sistem;
(2) kendala penyaluran yang mempengaruhi kebutuhan kesiapan pembangkit;
(3) kebutuhan sekuriti karena adanya peristiwa penting; dan
(4) prakiraan beban sistem.
(e) Apabila dalam neraca daya tersebut ternyata total kemampuan pembangkitan lebih kecil
dari kebutuhan daya sistem, maka :
(1) Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB berhak untuk menggeser jadwal
pemeliharaan unit-unit pembangkit yang disampaikan oleh Peserta Transaksi untuk
alasan kecukupan daya sistem; dan
(2) Peserta Transaksi dapat mengusulkan unit pembangkit yang akan digeser jadwal
pemeliharaannya dengan memperhatikan jumlah jam operasi, jumlah start/stop unit,
dan pertimbangan lain yang harus dijelaskan kepada Bidang Operasi Sistem PT
PLN (Persero) P3B JB.
(3) Peserta Transaksi yang tidak menyetujui pengunduran jadwal pemeliharaan oleh
Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB karena alasan keamanan,
keselamatan dan alasan-alasan teknis operasional dapat mengajukan keberatan
kepada Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB untuk dibahas bersama
dengan pihak terkait.
(f) Jadwal pemeliharaan unit pembangkit yang telah disepakati bersama akan dijadikan
acuan untuk proses perhitungan alokasi daya dan energi untuk setiap unit pembangkit
selama periode 1 (satu) bulan mendatang, sehingga menghasilkan penjadwalan operasi
unit pembangkit untuk setiap selang waktu 1/2 jam-an selama 1 (satu) bulan.
8.5.

Penjadwalan Operasi Harian (Pre-Dispatch)

Penjadwalan operasi (loading) unit pembangkit disusun melalui proses penjadwalan unit
pembangkit sebagaimana diuraikan sebelumnya. Hasil perhitungan penjadwalan operasi ini
sangat ditentukan oleh data masukan sebagai berikut :
a) Data masukan PT PLN (Persero) P3B JB :
-

Prakiraan beban sistem;

Kendala sistem penyaluran;

Kebutuhan sekuriti karena adanya peristiwa penting.

b) Data masukan Peserta Transaksi :


-

Kesiapan energi primer serta posisi TOP

Jadwal pemeliharaan unit pembangkit;

Kesiapan unit pembangkit;

Kesiapan daya dan harga bahan bakar unit pembangkit;

Proses perencanaan harian dilakukan sebagai berikut :


(1) Pemutakhiran atas data masukan Peserta Transaksi harus diterima Bidang Operasi
Sistem PT PLN (Persero) P3B JB selambat-lambatnya pukul 10:00 pada 1 (satu) sehari
sebelumnya.
Apabila diperlukan, Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB dan / atau
Peserta Transaksi harus dapat menjelaskan data masukan tersebut di atas, termasuk
kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.
(2) Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB akan melakukan perhitungan sesuai
algoritma seperti diuraikan sebelumnya, dan menyampaikan hasilnya kepada Peserta
Transaksi. Hasil ini akan disampaikan oleh Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero)
P3B JB kepada Peserta Transaksi pada pukul 15:00 sehari sebelumnya.
(3) Rencana operasi harian berupa rincian penjadwalan operasi (loading) setiap jam
periode 1 (satu) hari mendatang digunakan sebagai dasar untuk pengaturan
pembebanan real-time.
(4) Rencana operasi harian harus mencakup schedule pembebanan pembangkit, ancillary
services dan kendala jaringan.

3
Hari ke- (n-1)

10 :00

15.00

Hari ke-n

00:00

00:30

01:00

23:30

Gambar - 4. Jadwal Pelaksanaan Perencanaan Harian

8.6.

Pengaturan Pembebanan Pembangkit Real-Time

(a) Hasil penjadwalan operasi harian unit pembangkit merupakan pedoman bersama PT
PLN (Persero) P3B JB dan Peserta Transaksi dalam operasi real-time.
(b) Apabila terdapat deviasi terhadap prakiraan beban, terjadi gangguan unit pembangkit
atau gangguan sistem, PT PLN (Persero) P3B JB berhak melakukan pengaturan
kembali pembebanan unit pembangkit sesuai dengan kaidah operasi sistem.
(c) Apabila cadangan daya dari unit pembangkit yang sudah direncanakan untuk
dioperasikan tidak mencukupi untuk memasok beban sistem, baik karena deviasi
prakiraan beban, perubahan kesiapan unit pembangkit, kegagalan kesiapan unit
pembangkit maupun akibat gangguan jaringan, maka dilakukan pengalihan pembelian
tenaga listrik dari pembangkit lainnya berdasarkan merit order dan kendala sistem
dengan harga energi sesuai yang dinyatakan dalam deklarasi bulanan unit pengganti.
(d) Instruksi dispatch ke unit pembangkit dilaksanakan melalui telepon, facsimile, email atau
melalui penggunaan electronic data logger bila memungkinkan. Semua instruksi
dispatch dicatat oleh PT PLN (Persero) P3B JB.
(e) Bila PT PLN (Persero) P3B JB mendispatch pembangkit di luar ketentuan algoritma
penjadwalan unit pembangkit untuk tujuan sekuriti sistem, maka PT PLN (Persero) P3B
JB bekewajiban mencatat secara detail mengenai kejadian dan alasan tindakan tersebut
dan disampaikan kepada Peserta Transaksi.
(f) Bila unit pembangkit di-dispatch untuk tujuan ancillary services maka pembayaran
kepada pembangkit tersebut didasarkan atas perlakuan pembangkit sebagai penyedia
ancillary services sesuai ketentuan pada Butir X.
8.7.

Kendala Sistem Tenaga Listrik

(a) Berkaitan dengan tanggung jawab PT PLN (Persero) P3B JB dalam menjaga mutu dan
sekuriti sistem tenaga listrik, Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB
berkewajiban

mengidentifikasi

berbagai

kendala

dalam

proses

dispatch

yang

diakibatkan oleh pekerjaan jaringan yang direncanakan (planned network outages).


(b) Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB berkewajiban mengidentifikasi dan
menentukan kuantitas dan jenis ancillary services yang harus disediakan berkaitan
dengan proses dispatch untuk tujuan mutu dan sekuriti sistem tenaga listrik, yang
mungkin menyebabkan kendala di dalam proses dispatch.
(c) Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB berkewajiban melakukan usahausaha untuk menjamin bahwa proses dispatch telah mengakomodasi kebutuhan
reserve sistem dan kendala-kendalanya.
(d) Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB berkewajiban mempublikasikan

parameter-parameter yang digunakan dalam proses dispatch meliputi gambaran tentang


kendala jaringan, kendala kemampuan regulasi sistem tenaga listrik, kendala reserve
sistem, dan kendala ancillary services.
8.8.

Kegagalan Pembangkit Mengikuti Instruksi Dispatch

(a) Jika unit pembangkit yang telah dijadwalkan (scheduled generating unit) gagal / lalai
mengikuti instruksi dispatch, maka konsekuensi terhadap pembangkit diatur lebih lanjut
pada Perjanjian Jual Beli/Kesepakatan Transfer Tenaga Listrik.
(b) Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B JB berkewajiban mencatat setiap
kegagalan / kelalaian unit pembangkit dalam mengikuti instruksi dispatch sebagai bahan
evaluasi pelaksanaan transaksi pembangkitan Jamali.
8.9.

TOP PPA Tidak Terpenuhi Akibat Sistem

Bila realisasi energi yang disalurkan unit pembangkit tidak memenuhi jumlah pemakaian
minimum tahunan (TOP) sesuai perjanjian jual beli/kesepakatan transfer tenaga listrik akibat
kondisi sistem selain kesalahan unit pembangkit, maka pengaturan pembayaran kepada unit
pembangkit dilaksanakan sesuai ketentuan Perjanjian Jual Beli/Kespakatan Transfer Tenaga
Listrik.

IX.

PENENTUAN HARGA DISPATCH

Harga dispatch bulanan ditetapkan pada titik penyambungan (connection point) dengan
ketentuan sebagai berikut :
(a) Harga dispatch untuk energi ditetapkan oleh PT PLN (Persero) P3B JB berdasarkan
algoritma penjadwalan pembangkit yang besarnya sama dengan harga energi yang
dihitung dari deklarasi bulanan dimulai dari unit pembangkit termurah. Harga dispatch
bulanan bersifat mengikat. Ketentuan mengenai proses dispatch (penjadwalan) unit
pembangkit adalah sesuai dengan butir VIII.
(b) Besar harga/biaya kapasitas ditetapkan sama dengan ketentuan harga/biaya kapasitas
yang dinyatakan dalam perjanjian jual beli/kesepakatan transfer tenaga listrik, dan
didasarkan pada kesiapan unit pembangkit.
12.2.9. Audit Pelaksanaan Proses Transaksi
(a) PT PLN (Persero) P3B JB berkewajiban menyelenggarakan audit tahunan yang
dilaksanakan oleh pihak (auditor). Hal-hal yang diaudit meliputi dan tidak terbatas pada :
(1) auditing perhitungan dan unjuk kerja sistem metering dan sistem setelmen;
(2) auditing sistem billing dan sistem informasi;
(3) auditing proses penjadwalan (scheduling) dan dispatch;
(4) auditing proses pengelolaan software;
(5) auditing prosedur-prosedur yang terkait dengan aturan-aturan (code) dan peraturanperaturan di bidang ketenagalistrikan.

(b) Bila diperlukan, PT PLN (Persero) P3B JB menyediakan laporan hasil audit kepada
Peserta Transaksi.

XIII.

SETELMEN

13.1. Gambaran Umum


(a) Proses setelmen dilakukan oleh PT PLN (Persero) P3B JB setelah pengoperasian
sistem tenaga listrik.
(b) Perhitungan setelmen dilakukan setiap jam.
(c) Hasil akhir dari proses setelmen akan digunakan sebagai dasar untuk pembayaran/
pengembalian biaya kepada Peserta Transaksi.

Deklarasi
bulanan
dari Kit
Database
Kontrak

Penyelesaian
Klaim Ketersediaan
& Kemampuan Unit

Klaim Terhadap
JTS dari PJB

Klaim
Ketersediaan

Database
Ketersediaan
& Kemampuan

& Kemampuan

Unit Aktual
Proses Setelmen

Pernyataan
Ketersediaan
Unit

Pengukuran
Produksi Unit
Pembangkit

Database
Metering

Database
Operation
Planing
( a.l. rencana
pembebanan
mingguan )

JTS

Perhitungan
JTF

JTF

13.2. Pembacaan Meter


(a) Untuk mengetahui informasi mengenai pembebanan unit pembangkit setiap selang
waktu jam, digunakan meter elektronik.
(b) Pelaksanaan mekanisme jual beli, informasi yang direkam oleh semua meter elektronik
dari masing-masing unit pembangkit akan diambil dengan menggunakan automatic
meter reading (AMR) atau remote reading atau menggunakan komputer portable oleh
petugas pembangkit dan disaksikan oleh petugas dari PT PLN (Persero) P3B JB (dalam
hal ini diwakili oleh staf Region terkait).
(c) Pembacaan atau pengambilan data dari meter dilakukan pada tanggal 1 (satu) setiap
bulan dengan mencatat atau mengambil rekaman produksi energi unit pembangkit
setiap selang waktu jam selama 1 (satu) bulan periode penagihan dimulai pukul 10:00
tanggal 1 bulan periode penagihan hingga pukul 10:00 tanggal 1 bulan berikutnya.
(d) Data metering dikirim melalui sistem pengiriman data dengan menggunakan sarana
elektronik dari Peserta Transaksi kepada Bidang Operasi Sistem PT PLN (Persero) P3B
JB dan disimpan di pangkalan data metering di PT PLN (Persero) P3B JB.
(e) Untuk tahap berikutnya, proses pengambilan dan pengiriman data produksi energi unit
pembangkit akan dilakukan melalui akuisisi data menggunakan sarana telekomunikasi
yang ada (automatic remote reading) dan disimpan di pangkalan data metering PT PLN
(Persero) P3B JB. Konfigurasi sistem metering seperti diuraikan di atas dapat dilihat
pada Lampiran-3.
13.3. Pembayaran / Pengembalian Biaya
Pembayaran / pengembalian biaya atas pembelian / transfer tenaga listrik dan ancillary
services adalah sebagai berikut :
(a) Pembayaran/pengembalian biaya kapasitas sesuai kesiapan daya unit pembangkit
aktual, mengikuti ketentuan dalam Perjanjian jual beli /Kesepakatan transfer tenaga
listrik dan Prosedur Tetap Harian Deklarasi Kesiapan Pembangkit (HDKP);
(b) Pembayaran/pengembalian biaya energi sesuai dengan jumlah produksi netto unit
pembangkit;
(c) Harga/biaya

energi

yang

digunakan

sebagai

dasar

perhitungan

pembayaran/

pengembalian biaya energi untuk unit pembangkit yang tidak ikut deklarasi harga bahan
baker adalah harga/biaya energi sesuai Perjanjian Jual Beli /Kesepakatan Transfer
Tenaga Listrik.

Pembayaran/Biaya Energi = Total kWhm x Harga/Biaya Energi


(d) Harga/biaya

energi

yang

digunakan

sebagai

dasar

perhitungan

pembayaran/

pengembalian biaya energi untuk unit pembangkit yang ikut deklarasi harga bahan baker
adalah harga/biaya energi yang sesuai dengan harga bahan bakar yang dideklarasikan
untuk 1 (satu) periode penagihan terkait.
Pembayaran/Pengembalian Biaya Energi

= Total kWhm x SHRw/HHV x Harga Bahan Bakar aktual tertimbang


(e) Pembayaran/pengembalian biaya ancillary services sesuai dengan ketentuan perjanjian
mengenai Ancillary Services.

13.4. Penagihan
Perhitungan pembayaran/pengembalian biaya dilakukan dalam 2 (dua) tahap :
(a) Tahap pertama dilakukan dengan mengeluarkan perkiraan pembayaran/pengembalian
biaya berupa Jumlah Tagihan Sementara (JTS) atau Preliminary Statements setelah
penerimaan Berita Acara Pembacaan Meter, sesuai Tata Cara Komunikasi Proses
Metering dan Setelmen pada Lampiran-6.
(b) Tahap kedua diterbitkan Jumlah Tagihan Final (JTF) atau Final Statements yang akan
dijadikan dasar pembayaran/pengembalian biaya kepada Perusahaan Pembangkit sesuai
Tata Cara Komunikasi Proses Metering dan Setelmen pada Lampiran-6. Harga BBM dan
kurs pada JTF adalah harga BBM pada bulan penagihan dan kurs transaksi jual Bank
Indonesia pada awal bulan setelah bulan penagihan.
Penagihan dilakukan oleh Peserta Transaksi kepada Komite Pembeli Tunggal dan Tagihan
berdasarkan JTF yang telah ditandatangani oleh PT PLN (Persero) P3B JB dan Peserta
Transaksi yang disertai dengan:
1) Surat Permintaan Pembayaran dengan mencantumkan Nama/No.Rekening Bank
Peserta Transaksi;
2) Kwitansi bermeterai secukupnya;
3) Berita Acara Pembacaan dan Pencatatan Meter;
4) Berita Acara Pengiriman Tenaga Listrik; dan
5) Berita Acara JTF;
6) Berita Acara Penyediaan Ancillary Services khusus untuk Pembayaran Ancillary
Services.
Tagihan beserta lampirannya dibuat dalam 5 (lima) rangkap dan disampaikan selambatlambatnya 2 (dua) hari setelah menerima JTF dari PT PLN (Persero) P3B JB.

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

13.5. Pelaksanaan Pembayaran


Pembayaran/pengembalian biaya dilakukan selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah
diterimanya Tagihan dari Peserta Transaksi melalui transfer ke rekening Bank milik Peserta
Transaksi. Besarnya pembayaran akan disesuaikan dengan JTF dan perhitungan lainnya.
Periode Penagihan
2 hari

30 1
Baca
Meter

1 hari 2 hari

Kirim
Data
Validasi
Meter

2 hari

JTS

1 hari 1 hari

15 hari

ttd. JTF
Pembayaran
JTF
Tagihan

Gambar 6. Proses Penagihan dan Pembayaran


Bila hari penyampaian JTS atau JTF seharusnya jatuh pada hari libur, maka penyampaian
JTS atau JTF dilaksanakan ke hari kerja berikutnya.

13.6. Perselisihan (Dispute)


Bila terjadi perselisihan (dispute) antara Komite Pembeli Tunggal dengan Peserta Transaksi
mengenai tagihan ataupun mengenai data-data pendukungnya, maka kedua belah pihak
harus menyelesaikan perselisihan tersebut dalam tempo 30 hari setelah berakhirnya bulan
periode penagihan berdasarkan prosedur penyelesaian perselisihan yang ditetapkan.

XIV.

PENGAWASAN TRANSAKSI PEMBANGKITAN

PLN (Persero) P3B JB wajib melaporkan hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan transaksi
pembangkitan kepada Komite Operasi.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Berikut ini akan dijelaskan mengenai informasi apa saja yang


terdapat didalam nameplate sebuah generator.
1. Baris Pertama
M127695 memiliki arti Nomor Serial Manufaktur Stator serta
1995 menandakan tahun berapa generator tersebut dirakit
2. Baris Kedua
THRI 100/42 merupakan type generator yang memiliki arti:
T = Three phase
Generator menggunakan sistem 3 fasa
Beberapa referensi yang lain menjelaskan arti alfabet T adalah
generator memiliki jenis Turbogenerator yang mengindikasikan
generator memiliki kapasitas yang besar, ukuran dan massa yang
besar, serta kecepatan putar yang tinggi
H = Hidrogen
Generator memiliki sistem pendingin rotor yaitu Hidrogen.
R = Radial
Tipe konstruksi pendingin rotor Radial
I = Isolasi Stator dan Rotor bertipe I ( Indirect Cooling)

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Angka 100/42 merupakan informasi tentang ukuran rongga stator


yaitu memiliki diameter sebesar 100 cm dan panjang inti rotor
yang memiliki ukuran panjang sebesar 42 dm (4.2 meter)
50 s merupakan kecepatan ideal generator tersebut diputar yaitu
50 putaran per sekon atau sekitar 3000 rpm sedangkan kata
RIGHT pada baris kedua menunjukkan arah putaran rotor
generator dilihat dari sisi muka Generator (sisi turbin)
3. Baris Ketiga
Lambang 3~ menunjukkan Generator menggunakan sistem 3
fasa
Lambang YY menunjukkan pada stator generator menggunakan
hubungan Double Wye
Lambang U1V1W1 menunjukkan output generator memiliki 1
output pada tiap fasanya
4. Baris Keempat
15750 V 5%, 9128 A pada baris ke empat memberikan
keterangan bahwa Generator memiliki tegangan rating sebesar 21
kV, dan arus rating sebesar 9128 A diukur dari No Load Test dan
Short Circuit Test
Plus minus 5% menunjukkan bahwa tegangan rating yang
dihasilkan idelanya akan memiliki range naik turunnya tegangan
sebesar 5% dari 21 kV (+1,05 kV dan -1,05kV)

5. Baris Kelima
249000 kVA merupakan apparent power atau daya tampak dari
Generator (S) yang sebesar 249 MVA
0.8 merupakan power factor generator ketika dioperasikan pada
kondisi ideal digunakan (Arus eksitasi, dan tegangan terminal
generator dalam rattingnya, MVAR yang dihasilkan dalam
rattingnya, dan Daya yan dikeluarkan juga dalam rattingnya)
6.

Baris Keenam

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

EXTERNAL EXCITATION memiliki arti bahwa generator


menggunakan sistem penguatan secara terpisah, atau kumparan
medan pada generator mendapatkan suplai arus dari luar sistem
generator (menggunakan exciter)
333 V, 2543 A merupakan data mengenai besar tegangan dan arus
yang bisa diinputkan sebagai eksitasi generator yaitu tidak lebih
dari 333 V dan 2543 A
7. Baris Ketujuh
CLASS. OF INSUL. MAT.:, adalah singkatan dari Class of
Insulation Denominator yang merupakan kode yang menjelaskan
tentang isolasi yang digunakan pada Generator yang antaralain:
F memiliki arti isolasi yang digunakan pada rotor dan stator
memiliki ketahanan temperatur maksimal 155 C
IM1105 merupakan type berdasarkan standar internasional
tentang konstruksi generator
IP54 atau Index Protection 54 merupakan Indeks proteksi pada
generator terhadap debu dan air. Angka 5 menandakan generator
memiliki proteksi terhadap debu (namun dalam jumlah yang
terbatas), dan 4 menandakan generator memiliki ketahanan
terhadap semburan air dari beberapa arah, (namun dalam jumlah
yang terbatas)
8. Baris Kedelapan
H2 COOLING; 8 bar, merupakan

data mengenai sistem

pendingin

pada

yang

idealnya

digunakan

generator

yaitu

Hidrogen dengan tekanan 8 bar


COLD GAS TEMP.:MAX 43 C, merupakan singkatan dari
COLD GAS TEMPERATURE yang berarti temperatur gas
pendingin yang memiliki temperatur maksimal sebesar 43 C
9. Baris Kesembilan dan Kesepuluh
Stator Transport Weight: 185 Mg, merupakan data mengenai berat
stator yang mencapai 185 Mega gram
Rotor Transport Weight: 37 Mg, merupakan data mengenai berat
rotor yang mencapai 37 Mega gram

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

IEC, merupakan standar yang dipakai dalam generator yang


berarti standar Internation Electrotechnical Commision
1.

SISTEM OPERASI PLTGU


a. Operasi Open Cycle
Operasi open cycle dapat dikatakan sebagai operasi PLTG, karena
pada operasi ini hanya unit PLTG-nya saja yang beroperasi karena
gas bekas dari PLTG langsung dibuang ke udara dan tidak
dimanfaatkan oleh HRSG.
Cara kerja dari operasi open cycle ini adalah sebagai berikut:
Udara luar dimasukkan ke kompressor untuk dikompresi sehingga
tekanannya akan meningkat, udara yang telah dikompresi ini
kemudian dimasukkan ke combustion chamber ( ruang bakar),
didalam ruang bakar terdapat prinsip segitiga api, dimana akan ada
pros
Waktu start yang dibutuhkan untuk operasi open cycle ini adalah
sekitar 30 menit.
b. Operasi Combined Cycle
Operasi combined cycle merupakan jenis operasi PLTGU, dimana
uap bekas dari sebuah PLTG dimanfaatkan kembali untuk
menguapkan air pada HRSG. Proses operasi combined cycle dapat
dilihat pada gambar dibawah ini:

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Gb.8. Flow diagram operasi combined cycle

Keterangan:
Gas buang dari sebuah operasi PLTG yang masih mempunyai temperature
tinggi dimanfaatkan kembali untuk menguapkan air pada HRSG (heat
recovery steam generator). Air kondensat dari condenser dialirkan ke pre
heater sebagai proses pemanasan awal. Dari pre heater air akan dialirkan
ke dalam deaerator, fungsi dari deaerator ini adalah untuk menghilangkan
kandungan O2 dalam air dengan cara diinjeksi dengan hidrazin (N2H4). Air
yang keluar dari deaerator dibagi menjadi dua aliran yaitu untuk aliran low
pressure (LP) dan high pressure (HP). Untuk LP, air dari deaerator
dimasukkan ke dalam LP economizer untuk dipanaskan lebih lanjut,
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

kemudian air akan dialirkan ke LP drum untuk memisahkan antara air dan
uap yang telah terbentuk. Dari LP drum air akan dimasukkan ke dalam LP
evaporator untuk proses penguapan air. Air yang keluar dari evaporator
telah menguap, uap LP ini kemudian dialirkan ke LP steam turbin.
Sedangkan untuk HP, air dari deaerator akan dialirkan kedalam HP
economizer 1 dan HP economizer 2, dari HP economizer 2 air kemudian
dialirkan ke HP drum. Dari HP drum air diuapkan di dalam HP evaporator.
Uap yang telah terbentuk di dalam evaporator kemudian dialirkan ke HP
Superheater 1 dan 2, fungsinya adalah memanaskan kembali uap yang
telah terbentuk menjadi uap superheated (uap kering). Uap superheated ini
kemudian dialirkan ke HP steam turbine,untuk memutar sudu-sudu turbin.
Uap bekas dari HP steam turbine kemudian dialirkan ke LP steam turbin
dan bersama-sama dengan LP Steam akan memutar LP Steam Turbin.
Seperti pada GT, turbin pada ST juga dikopel dengan generator sehingga
ketika turbin berputar maka secara otomatis generator juga akan berputar
dan akan merubah energi mekanik dari turbin menjadi energi listrik. Uap
bekas dari LP steam turbin kemudian dialirkan ke condenser untuk
dikondensasikan menjadi air dan akan dimasukkan kembali ke HRSG.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

PT INDONESIA POWER UNIT BISNIS PEMBANGKITAN PERAK GRATI


Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

STANDART OPERATION PROSEDURE


Gas Turbine (COMBINE CYCLE)
No : -

Rev : 01

Tgl : 04 Januari
2013

Hal : 56 of 106

PE N G E S AH AN
Nama Penyusun

Tanda
Tangan

Jabatan Dinas

1. Hono

SPS Operasi A

2. Robert Sunarijanto

SPS Operasi B

3. Hadi Widodo

SPS Operasi C

4. M. Subekhi

SPS Operasi D

Disetujui oleh :
Yudi Hidayat

Manajer Operasi

Ditetapkan di

: Pasuruan

Tanggal

: 07 Januari 2013
MANAGEMENT REPRESENTATIVE

BUYUNG ARIANTO
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

PT INDONESIA POWER UNIT BISNIS PEMBANGKITAN PERAK GRATI

STANDART OPERATION PROSEDURE


Gas Turbine (COMBINE CYCLE)
No : -

Rev : 01

Tgl : 04 Januari
2013

Hal : 57 of 106

RIWAYAT PERUBAHAN DOKUMEN


Nomor
Revisi
Hlm.
01

Alasan perubahan dokumen

Direvisi oleh
Jabatan
Paraf

Tanggal

Disetujui
Jabatan

Perubahan Fungsi Jabatan

PT INDONESIA POWER UNIT BISNIS PEMBANGKITAN PERAK GRATI


Politeknik Negeri Malang 2016

Paraf

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

STANDART OPERATION PROSEDURE


Gas Turbine (COMBINE CYCLE)
No : -

Rev : 01

Tgl : 04 Januari
2013

Hal : 58 of 106

BLOCK START UP

I. KONDISI AWAL
1. SEMUA UNIT KONDISI STOP
II. PENGOPERASIAN
1. START 3 TURBIN GAS DAN 3 HRSG
2. START TURBIN UAP.
III. KONDISI AKHIR
1. COMBINED CYCLE OPERATION 3.3.1
IV. LAMA WAKTU BLOCK START UP
1. DARI START SAMPAI DENGAN APS COMPLETED
ADALAH : 270 MENIT
V. KONDISI HRSG :
1.

HRSG Cold

: HP Drum Press < 5 kg/cm2.

2.

HRSG Warm

: HP Drum Press 5 15 kg/cm2.

3.

HRSG Hot

: HP Drum Press > 15 kg/cm2.

Lama waktu exhaust damper membuka 45 % (T1) dan 80% (T2) masing
masing:
1.

HRSG Cold

: 30 menit.

2.

HRSG Warm

: 20 menit.

3.

HRSG Hot

: 15 menit

VI. KONDISI STEAM TURBIN


1.

ST Cold

Politeknik Negeri Malang 2016

: Chest Metal Temperatur < 200 C

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

2.

ST Warm

: Chest Metal Temperatur > 200 C < 400 C

3.

ST Hot

: Chest Metal Temperatur > 400 C

I. PEMERIKSAAN STATUS BREAK POINT(BP) SEBELUM BLOCK


START UP
1.

ST TURNING MOTOR In Service ( Rotor putar 3 rpm)

2.

ST. AOP In service

3.

HP - AUX. STEAM Press. Normal sesuai Pressure Auxiliary Biler ( 7


kg/cm2)

4.

LP- AUX. STEAM Press. Normal ( 3,5 kg/cm2)

5.

Satu atau lebih CWP in Service.

6.

Satu atau lebih CEP In Service (A/B)

7.

Satu atau lebih SWBP In Service (A/B)

8.

Satu atau lebih CCWP In Service (A/B)

9.

EXHAUST DAMPER kondisi menutup penuh.

10.

HP-BFP Select [ A MAIN ] nyala.

11.

All HP-BFP DISCHARGE VALVE menutup penuh.

12.

All HP-BFP STOP.

13.

LP-BFP Select [ A MAIN ] nyala.

14.

All LP-BFP DISCHARGE VALVE menutup penuh.

15.

All LP-BFP STOP.

16.

STC APS MODE [ APS ON ] nyala

17.

GT. 1, 2 dan 3 TURNING MOTOR In service ( Rotor putar 3 rpm).

18.

GT. 1, 2 dan 3 IGV Kondisi menutup penuh.

19.

GT. 1, 2 dan 3 LUBE OIL PRESS. Normal (> 1 kg/cm2).

20.

GT. 1, 2 dan 3 MAIN FUEL PRESS REGULATING VALVE menutup


penuh.

21.

GT. 1, 2 dan 3 MAIN FUEL FLOW CONTROL VALVE menutup


penuh.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

22.

GT. 1, 2 dan 3 SUB FUEL PRESS. REGULATING VALVE menutup


penuh.

23.

GT. 1, 2 dan 3 SUB FUEL FLOW CONTROL VALVE menutup penuh.

24.

GT. 1, 2 dan 3 [ READY START ] nyala.


[ NORMAL ] nyala.

25.

GT. 1, 2 dan 3 FUEL GAS PRESS. Normal [ 21 kg/cm2 ].

II. PERSIAPAN AWAL.


Persiapan awal HRSG adalah pengisian HRSG 1, 2 dan 3 sampai Level Drum
HP/LP kurang lebih 300 mm sampai dengan 100 mm, sehingga pada saat
HP/LP BCP beroperasi diperkirakan level HP Drum konstan pada level 600
mm dan level LP Drum konstan pada level 550 mm (Persyaratan untuk
START HRSG).
Untuk memudahkan pengaturan level Drum HP/LP- BFP dan HP/LP-BCP
dapat dijalankan pada saat persiapan awal sehingga saat SG PREPARATION
PB ON Drum Level tetap dalam kondisi Konstant.
III. PEMILIHAN APS MODE BLOCK START UP
1. APS MODE pada ST OPERATE [APS] PB ON
2. BLOCK APS MODE [APS ON] PB ON
[APS ON] nyala
[APS OFF] mati
ST START MODE

CALCULATION [COLD], [WARM] atau [HOT]

pastikan nyala.
3. START MODE [BLOCK START] PB ON
[BLOCK START] nyala.
4. FUEL MODE [GAS / OIL] PB ON (Jika pilih OIL)
[ OIL] nyala
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

[GAS] mati.
5. COORDINATE MODE [GT 1, 2, 3 dan ST COORD] PB ON
[GT 1, 2, 3 dan ST COORD] nyala
[GT 1, 2, 3 dan ST SINGLE] mati.
6. COORDINATE MODE [GT HRSG 1, 2, 3 dan ST COORD] PB ON
[GT HRSG 1, 2, 3 dan ST COORD] nyala
[GT - HRSG 1, 2, 3 dan ST SINGLE] mati
7. CONTROL MODE [FULL / SEMI ] PB ON (Jika pilih SEMI)
[SEMI] nyala
[FULL] mati
8. APS MODE [ST APS ON] PB ON
[ST APS ON] nyala
9. ST RUB CHECK MODE [IN / OUT] PB ON (Jika pilih IN )
[ IN ] nyala.
[OUT] mati
IV. PERSIAPAN START TURBIN VACUUM UP
1.

ST OPERATION [PREPARE] nyala

2.

STARTING AIR EJECTOR HP STEAM LINE WARMING VALVE buka


penuh.

3.

GLAND STEAM CONDENSOR EXHAUST FAN A / B Start.

4.

GLAND STEAM PRESS. di atas 0,1 kg/cm2

5.

VACUUM PUMP A dan B Start

6.

VACUUM BREAK VALVE tutup penuh.

7.

Jika Vacuum di atas 680 mmHg, salah satu VACUUM PUMP A/ B akan
Stop.

8.

ST OPERATION [PREPARE READY] mati


[PREPARE] mati

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

V. PERSIAPAN START HRSG 1, 2, 3.


Jika GT-SG 1, 2, 3 OPERATION [SG 1, 2, 3 PREP READY] nyala
Pilih salah satu [SG PREP] PB ON
Kemudian lakuan pemeriksaan berikut ini :
1. ST OPERATION [PREPARE] nyala
2. Jila HRSG dalam Kondisi Dingin
HP-TBV ISO VALVE 1, 2, 3 menutup Penuh.
LP-TBV ISO VALVE 1, 2, 3 menutup penuh.
3. HP-BCP 1, 2, 3 A / B Start.
4. LP-BCP 1, 2, 3 A / B Start.
5. HP-BFP A Start, satu menit B Start dan satu menit kemudian C Start.
6. LP-BFP A Start, satu menit B Start dan satu menit kemudian C Start.
7. GT-SG OPERATION 1, 2, 3 (SG PREP) [READY] nyala
(SG PREP) mati
Berikut valve-valve yang membuka mulai dari kondisi Unit mati.
1.

SH-DRAIN VALVE

1, 2, 3

menutup penuh jika HP STEAN

PRESS 10 kg/cm2
2.

HP-ECO RECIRCULATION MOTOR VALVE dan CONTROL


VALVE buka penuh.

3.

HP-ECO START UP VENT VALVE membuka, dan menutup jika


water flow HP-BFP 70 t/jam.

4.

HP / LP DRUM VENT VALVE membuka penuh dan menutup jika


STEAM PRESS. > 2 kg/cm2 .

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

VI. START TURBIN GAS.


1. Jika GT-SG OPERATION 1 / 2 / 3

[GT START]

(RAEDY} nyala,

kemudian tombol
[GT START] PB ON
2.

IGV 1 / 2 / 3 akan membuka 27%, selanjutnya mengikuti sequence Start.

3. GT-PONY MOTOR 1 / 2 / 3 Start


4. GT-STARTING MOTOR 1 / 2 / 3 Start.
5. Pada putaran GT 1 / 2 / 3 300 rpm, pastikan GT TURNING MOTOR
Stop.
6. Pada putaran GT 1 / 2 / 3 500 rpm, [IGNITION SPEED]
7. Pada putaran GT 1 / 2 / 3 500 rpm, sebelum [IGNITION SPEED] nyala
pastikan EXHAUST DAMPER membuka penuh untuk Purging HRSG
(Pembilasan HRSG }

dan 2 menit kemudian EXHAUST DAMPER

kembali menutup penuh).


Dan selanjutnya IGNITION SEED nyala.
8. Pada putaran GT 1 / 2 / 3 500 rpm, pastikan berikut ini :
GT 1 / 2 / 3 [IGNITION] nyala
GT 1 / 2 / 3 [FUEL ON] nyala ( Untuk Oil 60 detik , Gas
10 Detik)
GT 1 / 2 / 3 [FLAME # 2 ] nyala
GT 1 / 2 / 3 [FLAME # 3 ] nyala
GT 1 / 2 / 3 [IGNITION ON] mati
9.

Pastikan putaran GT. 1 / 2 / 3 mulai naik .

10. Pada putaran 1000 rpm, pastikan [JACKING OIL PUMP] stop.
11. Pada putaran 2010 rpm, pastikan berikut ini :
GT 1 / 2 / 3 [PONY MOTOR ] Stop
GT 1 / 2 / 3 [STARTING MOTOR ] Stop
12. Pada putaran 2730 rpm pastikan IGV menutup penuh.
13. Putaran 2775 rpm pastikan :
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

GT 1 / 2 / 3 [ HP BLEED VALVE ] menutup penuh


GT 1 / 2 / 3 [ P BLEED VALVE ] menutup penuh.
14. Pada putaran 2940 rpm pastikan :
GT 1 / 2 / 3 [ GEN EXC. ON ] nyala
GT 1 / 2 / 3 [ RATED SPEED ] nyala.
GT 1 / 2 / 3 [ ACOP STOP ] nyala
GT 1 / 2 / 3 [ ALOP STOP ] nyala.
VII. GT SYNCHRONE
Apabila GT 1 / 2 / 3 GT Operation (GT SYNCHRONE) [ READY ] nyala, pada
BLCP : Synchronizing [ IN OPERATE ] nyala, tegangan dan frekuensi running
incoming hampir sama. Selanjutnya GT 1 / 2 / 3 [IN SYNCHRONE ] PB
ON.
Kemudian periksa bagian bagian berikut :
1. GT 1 / 2 / 3 Operation [ GT SYNCHRONE ] nyala. GT 1 / 2 / 3 Generator
pastikan telah sinkron (masuk jaring- jaring).
2. GT 1 / 2 / 3 Mode select [ ALR ON ] nyala
[ ALR OFF ] mati.
3. Beban GT 1 / 2 / 3 mulai naik menuju set 25% dari Daya terpasang GT.
4. GT 1 / 2 / 3 Operation (GT SYNCHRONE) [ READY ] mati.
[ GT SYNCHRONE ] mati.

VIII. HRSG START


Apabila GT 1 / 2 / 3 Operation (SG START) [ READY ] nyala, salah satu [ SG
START ] PB ON, HRSG 1 / 2 / 3 akan start bersama sama. Kemudian
periksa bagian bagian berikut :

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

A. START HRSG PERTAMA


1.

No. 1 GT SG Operation [ SG START ] nyala.

2.

Bila kondisi HRSG WARM / HOT maka GT 1 / 2 / 3 LOAD SET akan


naik menuju 45 % dari Daya terpasang GT

3.

Bila kondisi semua HRSG COLD maka:


No. 1 HP TBV ISO VALVE membuka penuh.
No. 1 LP TBV ISO VALVE membuka penuh.

4.

No. 1 Exhaust damper membuka 45% dengan waktu tunda (time delay):
T1 30 menit untuk kondisi SG COLD
T1 20 menit untuk kondisi SG WARM
T1 15 menit untuk kondisi SG HOT

5.

No. 1 HP DRUM CONTINOUS BLOW VALVE membuka penuh.


No. 1 HP dan LP DRUM VENT VALVE buka penuh dari awal sebelum
start dan akan menutup pada tekanan > 2 kg/cm2.

6.

No. 1 SH DRAIN VALVE membuka penuh dan akan menutup pada


tekanan 10 kg/cm2.

7.

No. 1 STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan


menutup pada tekanan 19 kg/cm2.

8.

No. 1 HP STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan


menutup pada tekanan 29 kg/cm2.

9.

No. 1 HP TURBINE LINE INLET DRAIN VALVE membuka penuh


dan akan menutup setelah ST Syhcrone.

10. No. 1 LP DRUM CONTINOUS BLOW VALVE membuka penuh.


11. No.1 LP DRUM OUTLET BLOW VALVE membuka penuh ( 10 menit
dari exhaust damper open akan menutup penuh ).
12. No. 1 LP STEAM BLOW VALVE membuka penuh dan menutup
setelah tekanan > 2.5 kg/cm2.
13.

No. 1 LP TURBINE INLET LINE DRAIN VALVE membuka penuh


dan menutup setelah ST SYNCHRONE.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

14.

Setelah time delay T1 maka exhaust damper akan menuju 80% dari
kondisi awal 45%.

15. No. 1 HP STEAM OUTLET VALVE membuka penuh.


16. No. 1 LP STEAM OUTLET VALVE membuka penuh.
17. HP AUX. STEAM HEADER INLET VALVE membuka penuh.
18. LP AUX. STEAM HEADER INLET VALVE membuka penuh.
19. DEAERATOR STEAM INLET VALVE membuka penuh.
20. Apabila HP Steam press > 34 ata, GT LOAD SET akan menuju 45 %.
21. No. 1 GT SG Operation (SG START) [ READY ] mati.
[ SG START ] mati.
B. START HRSG KEDUA
1.

No. 2 GT SG Operation [ SG START ] nyala.

2.

Bila kondisi HRSG WARM / HOT maka GT 1 / 2 / 3 LOAD SET akan


naik menuju 45 % dari Daya terpasang GT

3.

Bila kondisi semua HRSG COLD maka:


No. 2 HP TBV ISO VALVE membuka penuh.
No. 2 LP TBV ISO VALVE membuka penuh.

4.

No. 2 Exhaust damper membuka 45% dengan waktu tunda (time delay):
T1 30 menit untuk kondisi SG COLD
T1 20 menit untuk kondisi SG WARM
T1 15 menit untuk kondisi SG HOT

5.

No. 2 HP DRUM CONTINOUS BLOW VALVE membuka penuh.


No. 2 HP dan LP DRUM VENT VALVE buka penuh dari awal sebelum
start dan akan menutup pada tekanan > 2 kg/cm2.

6.

No. 2 SH DRAIN VALVE membuka penuh dan akan menutup pada


tekanan 10 kg/cm2.

7.

No. 2 STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan


menutup pada tekanan 19 kg/cm2.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

8.

No. 2 HP STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan


menutup pada tekanan 29 kg/cm2.

9.

No. 2 HP TURBINE LINE INLET DRAIN VALVE membuka penuh


dan akan menutup setelah ST Syhcrone.

10. No. 2 LP DRUM CONTINOUS BLOW VALVE membuka penuh.


11. No.2 LP DRUM OUTLET BLOW VALVE membuka penuh ( 10 menit
dari exhaust damper open akan menutup penuh ).
12. No. 2 LP STEAM BLOW VALVE membuka penuh dan menutup
setelah tekanan > 2.5 kg/cm2.
13.

No. 2 LP TURBINE INLET LINE DRAIN VALVE membuka penuh


dan menutup setelah ST SYNCHRONE.

14.

Setelah time delay T1 maka exhaust damper akan menuju 80% dari
kondisi awal 45%.

15. Apabila HP Steam press > 34 ata, GT LOAD SET akan menuju 45 %.
16. No. 2 GT SG Operation (SG START) [ READY ] mati.
[ SG START ] mati.
C. START HRSG KETIGA
1.

No. 3 GT SG Operation [ SG START ] nyala.

2.

Bila kondisi HRSG WARM / HOT maka GT 1 / 2 / 3 LOAD SET akan


naik menuju 45 % dari Daya terpasang GT

3.

Bila kondisi semua HRSG COLD maka:


No. 3 HP TBV ISO VALVE membuka penuh.
No. 3 LP TBV ISO VALVE membuka penuh.

4.

No. 3 Exhaust damper membuka 45% dengan waktu tunda (time delay):
T1 30 menit untuk kondisi SG COLD
T1 20 menit untuk kondisi SG WARM
T1 15 menit untuk kondisi SG HOT

5.

No. 3 HP DRUM CONTINOUS BLOW VALVE membuka penuh.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

No. 3 HP dan LP DRUM VENT VALVE buka penuh dari awal sebelum
start dan akan menutup pada tekanan > 2 kg/cm2.
6.

No. 3 SH DRAIN VALVE membuka penuh dan akan menutup pada


tekanan 10 kg/cm2.

7.

No. 3 STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan


menutup pada tekanan 19 kg/cm2.

8.

No. 3 HP STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan


menutup pada tekanan 29 kg/cm2.

9.

No. 3 HP TURBINE LINE INLET DRAIN VALVE membuka penuh


dan akan menutup setelah ST Syhcrone.

10. No. 3 LP DRUM CONTINOUS BLOW VALVE membuka penuh.


11. No.3 LP DRUM OUTLET BLOW VALVE membuka penuh ( 10 menit
dari exhaust damper open akan menutup penuh ).
12. No. 3 LP STEAM BLOW VALVE membuka penuh dan menutup
setelah tekanan > 2.5 kg/cm2.
13. No. 3 LP TURBINE INLET LINE DRAIN VALVE membuka penuh
dan menutup setelah ST SYNCHRONE.
14. Setelah time delay T1 maka exhaust damper akan menuju 80% dari
kondisi awal 45%.
15. Apabila HP Steam press > 34 ata, GT LOAD SET akan menuju 45 %.
16. No. 3 GT SG Operation (SG START) [ READY ] mati.
[ SG START ] mati.
IX. START TURBIN UAP
Apabila ST Operation [ START READY ] nyala selanjutnya lakukan [ START ]
PB ON. Kemudian periksa bagian bagian berikut :
1.

ST Operation [ START ] nyala.

2.

Apabila ST telah RESET dan vacuum > 690 mmHg, salah satu vacuum
pump akan stop.

3.

TURBIN STATUS [ RESET ] nyala.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

HPSV membuka penuh


LPSV membuka penuh
SEEP RATE [ 300 rpm / m ] nyala
PROGRAM MODE [ GO ] nyala dan [ HOLD ] mati.

4.

Putaran turbin akan mulai naik. Bila ST MODE [ RUB CHECK IN ] nyala
HPSV menutup penuh
LPSV menutup penuh
SEEP RATE [ 300 rpm / m ] mati
PROGRAM MODE [ HOLD ] nyala dan [ GO ] mati.
SPEED ditahan pada putaran 450 rpm.
Kemudian periksa vibrasi dan suara suara aneh yang mungkin timbul.

5.

Pada putaran turbin uap diatas 100 rpm ST Operation [ START READY ]
mati
[ START ] mati

X. STEAM TURBINE SPEED UP


Apabila ST Operation [ SPEED UP ] nyala, selanjutnya lakukan [ SPEED UP ]
PB ON dan kemudian periksa bagian bagian berikut :
1.

ST Operation [ SPEED UP ] nyala.

2.

CONTROL MODE [ CLOSE VALVE ] nyala.

3.

SPEED TARGET [ 2200 rpm ] nyala.

4.

SPEED RATE [ 300 rpm ] nyala.

5.

Program mode [ GO ] nyala


[ HOLD ] mati.

6.

Putaran turbin uap akan mulai naik, pada putaran 2200 rpm program mode [
HOLD ] nyala
[ GO ] mati.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Putaran ditahan konstan selama heat soak periode. Setelah heat soak
selesai selanjutnya:
1. SPEED TARGET [ 3000 rpm ] nyala, [ 2200 rpm ] mati.
2. PROGRAM MODE [ GO ] nyala, [ HOLD ] mati.
3. Bila putaran mencapai RATED SPEED dan ST AOP stop maka program
[ HOLD ] nyala, [ GO ] mati.
4. Apabila ST telah mencapai rated speed, AOP stop dan No. 1 GT LOAD
< 48% dan No. 1 Exhaust damper membuka 100 %.
5. 5 menit kemudian :
ST OPERATION (SPEED UP) [ READY ] mati
[ SPEED UP ] mati
XI. SYNCHRONIZING STEAM TURBINE GENERATOR
Apabila ST OPERATION (SYNCHRO) [ READY ] nyala, pada BLCP :
SYNCHRONIZING ST [ IN OPERATE ] nyala, tegangan dan frekuensi running
incoming hampir sama. Selanjutnya [ SYNCHRO ] PB ON. Kemudian
periksa bagian bagian berikut ini:
1.

ST OPERATION (SYNCHRO) [ READY ] nyala.


ST GENERATOR telah parallel dan bertahan pada initial load.

2.

HP PRESS SET CONTROL [ ON ] nyala dan [ OFF ] mati. Diset pada 34


kg/cm2.

3.

No. 1 HP TUBINE BY PASS CONTROL VALVE program menutup penuh.

4.

No. 1 HP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT


[ BACK UP ] nyala.
[ SINGLE ] mati.

5.

LP PRESS SET CONTROL VALVE [ ON ] nyala dan [ OFF ] mati. Diset


pada 5,2 kg/cm2

6.

No. 1 LP TUBINE BY PASS CONTROL VALVE program menutup penuh.

7.

No. 1 LP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT


[ BACK UP ] nyala.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

[ SINGLE ] mati.
8.

STC HPCV PRESS SET pada 55 ata ( kenaikan 2,5 kg/cm2 per menit ).

9.

No. 2 HP TBV PRESS set pada 54 ata ( kenaikan 2 kg/cm2 per menit ).

10. No. 3 HP TBV PRESS set pada 54 ata ( kenaikan 2 kg/cm2 per menit ).
11. Apabila selisih ST INLET TEMP NO. 2 SG OUTLET TEMP < 55 C dan
selisih

ST INLET PRESS No. 2 SG OUTLET PRESS < 1 kg/cm 2

maka:

No. 2 HP STEAM BOV program membuka penuh.

No. 2 HP TURBINE BY PASS VALVE program menutup penuh.

No. 2 HP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT


[ BACK UP ] nyala.
[ SINGLE ] mati.

No. 2 LP STEAM BOV program membuka penuh.

No. 2 LP TUBINE BY PASS CONTROL VALVE program menutup


penuh.

No. 2 LP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT


[ BACK UP ] nyala.
[ SINGLE ] mati.

12.

Apabila selisih ST INLET TEMP NO. 3 SG OUTLET TEMP < 55 C


dan selisih

ST INLET PRESS No. 3 SG OUTLET PRESS < 1 kg/cm 2

maka:

No. 3 HP STEAM BOV program membuka penuh.

No. 3 HP TURBINE BY PASS VALVE program menutup penuh.

No. 3 HP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT


[ BACK UP ] nyala.
[ SINGLE ] mati.

No. 3 LP STEAM BOV program membuka penuh.

No. 3 LP TUBINE BY PASS CONTROL VALVE program menutup


penuh.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

No. 3 LP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT


[ BACK UP ] nyala.
[ SINGLE ] mati.

13. STC HPCV PRESS SET menuju set 35 ata ( penurunan 2,5 kg/cm 2 per
menit ).
14. 5 menit setelah No. 3 LP TBV CONTROL MODE SELECT [ BACK UP ]
nyala, No. 2 Exhaust damper membuka 100 %.
15. 5 menit kemudian No. 3 Exhaust damper membuka 100 %.
16. ST OPERATION [ SYNCHRONE READY ] mati.
[ SYNCHRO ] mati.
XII. APS COMPLETE
1. COORDINATE MODE [ GT 1 / 2 / 3 COORD ] PB ON
COORDINATE MODE [ GT 1 / 2 / 3 COORD ] nyala.
[ GT 1 / 2 / 3 SINGLE ] mati.
2. APR MODE [ APR ] PB ON
[ APR ] nyala
[ MW HOLD ] mati.
3. Pengoperasian LOAD DEMAND dengan menggunakan PB
SV (Setting Value) dari load demand setelah diset.
PV (Proses Value / total beban) akan mencapai SV.
1.1.1.1.1.1.1.1.1ADDITIONAL START MODE
I. KONDISI AWAL
1.
2.

SATU (1) GT OPERASI COMBINE CYCLE


TURBIN UAP OPERASI NORMAL

II. PENGOPERASIAN
1. START 1 TURBIN GAS DAN 1 HRSG

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

III. KONDISI AKHIR


COMBINE CYCLE DENGAN 2 TURBIN GAS DAN 2 HRSG DAN 1
TURBIN UAP
IV. LAMA WAKTU ADDITIONAL START MODE
DARI START SAMPAI DENGAN APS COMPLETED
ADALAH : 60 MENIT
V. KONDISI HRSG :
1. HRSG Cold

: HP Drum Press < 5 kg/cm2.

2. HRSG Warm

: HP Drum Press 5 15 kg/cm2.

3. HRSG Hot

: HP Drum Press > 15 kg/cm2.

Lama waktu exhaust damper membuka 45 % (T1) dan 80% (T2) masing
masing:
1. HRSG Cold

: 30 menit.

2. HRSG Warm

: 20 menit.

3. HRSG Hot

: 15 menit

I. PENGECEKAN STATUS PLANT SEBELUM ADDITIONAL START.


1.

HP BCP Select ( A Main ) nyala.

2.

HP BCP A & B Stop.

3.

HP TURBINE BY PASS ISOLATE VALVE menutup penuh.

4.

LP TURBINE BY PASS ISOLATE VALVE menutup penuh.

5.

HP STEAM BOILER OUTLET VALVE menutup penuh.

6.

LP STEAM BOILER OUTLET VALVE menutup penuh.

7.

HP TURBINE BY PASS CONTROL MODE SELECT ( SINGLE ) nyala.

8.

LP TURBINE BY PASS CONTROL MODE SELECT ( SINGLE ) nyala.

9.

HP BFP SELECT ( A Main ) nyala.

10. HP BFP DISCHARGE VALVE membuka penuh.


11. Dua atau tiga HP BFP stop.
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

12. LP BFP SELECT ( A Main ) nyala.


13. LP BFP DISCHARGE VALVE membuka penuh.
14. Dua atau tiga LP BFP stop.
15. GT Turning Motor in service minimal 12 jam.
16. GT IGV menutup penuh.
17. GT Lube Oil Press normal [ diatas 1 kg/cm2 ].
18. GT Exhaust damper menutup penuh.
19. Kondisi beban steam turbine normal.
20. HP Press Set Control [ ON ].
21. LP Press Set Control [ ON ].
22. HP Press Set Control pada 34 kg/cm2.
23. LP Press Set Control pada 5,2 kg/cm2.
24. GT Main Flow Control Valve menutup.
25. GT Sub Fuel Press Regulating Valve menutup.
26. GT Sub Fuel Flow Control Valve menutup.
27. GT [ READY START ] nyala.
[ NORMAL ] nyala.
28. Fuel Gas Press normal [ diatas 21 kg/cm2 ].
II. PERSIAPAN AWAL
Persiapan awal HRSG adalah pengisian HRSG Level Drum HP/LP kurang lebih
300 mm sampai

dengan 100 mm, sehingga pada saat HP/LP BCP

beroperasi diperkirakan level HP pada level 600 mm dan level LP Drum pada
level 550 mm (Persyaratan untuk START HRSG).
Untuk memudahkan pengaturan level Drum HP/LP- BFP dan HP/LP-BCP
dapat dijalankan pada saat persiapan awal sehingga saat SG PREPARATION
PB ON Drum Level tetap dalam kondisi Konstant.

III. PEMILIHAN APS MODE UNTUK ADDITIONAL GT START


Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

1.

Bila BLOCK APR MODE [ APR ] nyala maka periksa :


[ MW HOLD ] PB ON
[ APR ] mati
[ MW HOLD ] nyala.

2.

APS MODE pada ST OPERATE [ APS ON ] PB ON Periksa :


[ APS ON ] nyala.
[ APS OFF ] mati.

3.

BLOCK APS [ APS ON ] PB ON Periksa :


[ APS ON ] nyala.
[ APS OFF ] mati.
[ SEMI AUTO ] nyala.

4.

COORDINATE MODE [ GT 1 COORD ] PB ON.


[ GT 1 COORD ] nyala.
[ GT 1 SINGLE ] mati.

5.

COORDINATE MODE [ GT 2, 3 SINGLE ] PB ON


[ GT 2, 3 SINGLE ] nyala
[ GT 1 SINGLE ] mati.

6.

COORDINATE MODE [ ST 1 COORD ] PB ON


[ ST 1 COORD ] nyala.
[ ST 1 SINGLE ] mati.

7.

APS MODE [ NO. 1 GT SG APS ON ] PB ON


[ NO. 1 GT SG APS ON ] nyala.

8.

APS MODE [ ST APS ON ] PB ON


[ ST APS ON ] nyala.

9.

START MODE [ ADD GT START ] PB ON


[ ADD GT START ] nyala.

IV. PERSIAPAN START HRSG

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Bila GT SG Operation (SG PREP) [READY] nyala selanjutnya [SG PREP] PB


ON. Kemudian periksa bagian bagian berikut:
1.

GT SG Operation [ SG PREP ] nyala.

2.

A HP BCP Start.

3.

A LP BCP Start.

4.

HP BFP yang kedua atau yang ketiga start.

5.

LP BFP yang kedua atau yang ketiga start.

6.

HP TBV ISO VALVE membuka penuh.

7.

LP TBV ISO VALVE membuka penuh.

8.

HP BOV menutup penuh.

9.

LP BOV menutup penuh.

10.

HP TBV CONTROL MODE SELECT [ SINGLE ] nyala.

11.

LP TBV CONTROL MODE SELECT [ SINGLE ] nyala.

12.

GT SG Operation ( SG PREP ) [ READY ] mati.


[ SG PREP ] mati.
Berikut valve-valve yang membuka mulai dari kondisi Unit mati.
1.

SH-DRAIN VALVE

menutup penuh jika HP STEAN PRESS 10

kg/cm2
2.

HP-ECO RECIRCULATION MOTOR VALVE dan CONTROL VALVE


buka penuh.

3.

HP-ECO START UP VENT VALVE membuka, dan menutup jika water


flow HP-BFP 70 t/jam.

4.

HP / LP DRUM VENT VALVE membuka, penuh dan menutup jika


STEAM PRESS. > 2 kg/cm2 .

V. START TURBIN GAS


1. Jika GT-SG OPERATION [GT START] (RAEDY} nyala, kemudian tombol
[GT START] PB ON
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

2. HP CV Press Set menuju 55 ata ( jika add start dari 1 GT ke 2 GT ).


HP CV Press Set menuju 75 ata ( jika add start dari 2 GT ke 3 GT ).
Dengan laju kenaikan press 2,5 kg/cm2 per menit.
3. IGV akan membuka 27%, selanjutnya mengikuti sequence Start.
4. GT-PONY MOTOR Start
5. GT-STARTING MOTOR Start.
6. Pada putaran GT 300 rpm, pastikan GT TURNING MOTOR Stop.
7. Pada putaran GT 500 rpm, [IGNITION SPEED]
8. Pada putaran GT 500 rpm, sebelum [IGNITION SPEED] nyala pastikan
EXHAUST DAMPER

membuka penuh

untuk Purging

HRSG

(Pembilasan HRSG }

dan 2 menit kemudian EXHAUST DAMPER

kembali menutup penuh).


Dan selanjutnya IGNITION SEED nyala.
9. Pada putaran GT 500 rpm, pastikan berikut ini :
GT [IGNITION] nyala
GT [FUEL ON] nyala ( Untuk Oil 60 detik , Gas 10 Detik)
GT [FLAME # 2 ] nyala
GT [FLAME # 3 ] nyala
GT [IGNITION ON] mati
10.

Pastikan putaran GT mulai naik .

11.

Pada putaran 1000 rpm, pastikan [JACKING OIL PUMP] stop.

12.

Pada putaran 2010 rpm, pastikan berikut ini :


GT [PONY MOTOR ] Stop
GT [STARTING MOTOR ] Stop

13.

Pada putaran 2730 rpm pastikan IGV menutup penuh.

14.

Putaran 2775 rpm pastikan :


GT [ HP BLEED VALVE ] menutup penuh
GT [ P BLEED VALVE ] menutup penuh.

15. Pada putaran 2940 rpm pastikan :


GT [ GEN EXC. ON ] nyala
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

GT [ RATED SPEED ] nyala.


GT [ ACOP STOP ] nyala
GT [ ALOP STOP ] nyala.
VI. GT SYNCHRONIZE ( MASUK SISTEM )
Apabila GT Operation (GT SYNCHRONE) [ READY ] nyala, pada BLCP :
Synchronizing

[IN OPERATE] nyala, tegangan dan frekuensi running

incoming hampir sama. Selanjutnya GT [IN SYNCHRONE ] PB ON.


Kemudian periksa bagian bagian berikut :
1.

GT Operation [ GT SYNCHRONE ] nyala. GT Generator pastikan telah


sinkron (masuk jaring- jaring).

2.

GT Mode select [ ALR ON ] nyala, [ ALR OFF ] mati.

3. Beban GT mulai naik menuju set 25%.


4. GT Operation (GT SYNCHRONE) [ READY ] mati., [ GT SYNCHRONE ]
mati.
VII. START HRSG
Apabila SG Operation ( SG START ) [ READY ] nyala dan beban GT yang
telah beroperasi combine cycle > 45 % selanjutnya [ SG START ] PB ON.
Kemudian periksa bagian bagian berikut :
1.

GT SG Operation [ SG START ] nyala.

2.

HP TBV Press Set pada actual press atau pada press 34 ata.

3.

Bila kondisi HRSG WARM / HOT maka GT LOAD SET akan naik
menuju 45 % sedangkan untuk kondisi COLD maka load set ke 25%.

4.

Exhaust damper membuka 45% dengan waktu tunda (time delay)


T1 30 menit untuk kondisi SG COLD
T1 20 menit untuk kondisi SG WARM
T1 15 menit untuk kondisi SG HOT

5. HP DRUM CONTINOUS BLOW VALVE membuka penuh.


Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

HP dan LP DRUM VENT VALVE buka penuh dari awal sebelum start dan
akan menutup pada tekanan > 2 kg/cm2.
6. SH DRAIN VALVE membuka penuh dan akan menutup pada tekanan 10
kg/cm2.
7. STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan menutup pada
tekanan

19 kg/cm2.

8. HP STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan menutup pada
tekanan

29 kg/cm2.

9. HP TURBINE LINE INLET DRAIN VALVE membuka penuh dan akan


menutup setelah ST Syhcrone.
10. Exhaust damper membuka 80 % dengan waktu tunda sebagai berikut:
T2 30 menit untuk kondisi SG COLD
T2 20 menit untuk kondisi SG WARM
T2 15 menit untuk kondisi SG HOT
11. HP TBV Press Set naik menuju 54 ata untuk start dari 1 GT menjadi 2 GT, 74
ata untuk 1 GT ke 2 GT apabila kondisi HRSG HOT atau dari 2 GT menjadi 3
GT. Dengan laju kenaikan press 2 kg/cm2 per menit.
12. Exhaust damper membuka 100 %
13. HP Drum Level Set ( SV ) dari -600 mm menuju 100 mm.
LP Drum Level Set ( SV ) dari -600 mm menuju 100 mm.
14. GT LOAD SET 45 %.
15. Apabila selisih ST INLET TEMP NO. 1 SG OUTLET TEMP < 55 kg/cm 2
dan selisih ST INLET PRESS No. 1SG OUTLET PRESS < 1 kg/cm2 maka:

HP STEAM BOV program membuka penuh.

HP TURBINE BY PASS VALVE program menutup penuh.

HP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT


[ BACK UP ] nyala., [ SINGLE ] mati.

LP STEAM BOV program membuka penuh.

LP TUBINE BY PASS CONTROL VALVE program menutup penuh.

LP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

[ BACK UP ] nyala, [ SINGLE ] mati.


16. Setelah 5 menit kemudian GT LOAD SET naik B %. Yaitu apabila beban GT
yang lain pada B% ( B% > 45 % GT LOAD).
17. STC HP CV PRESS SET menuju 35 ata. Dengan laju penurunan press 2,5
kg/cm2 per menit.
18. Apabila STC HPCV Press Set sampai 35 ata: SG Operation (SG START)
[ READY ] mati.
[ SG START ] mati.
VIII. APS COMPLETE
Setelah proses selesai periksa sebagai berikut:
1.

BLOCK APS [ APS OFF ] nyala, [ APS ON ] mati.

2.

BLOCK APS [ SEMI AUTO ] mati.

3.

APS MODE [ No. 1,2,3 GT SG APS ON ] mati.

4.

APS MODE [ ST APS ON ] mati, [ ST APS OFF ] mati.

5.

START MODE [ ADD GT START ] mati.

IX. APR OPERATION


1.

COORDINATE MODE [ GT 1,2,3 COOD ] PB ON


COORDINATE MODE [ GT 1,2,3 COORD ] nyala.
[ GT 1,2,3 SINGLE ] mati.

2.

APR MODE [ APR ] PB ON


APR MODE [ APR ] nyala.
[MW HOLD ] mati.

3.

Pengoperasian LOAD DEMAND dengan menggunakan atau


(Setting Value) dari load demand setelah diset.
PB PV (Proses value/total beban) akan mencapai SV.

Politeknik Negeri Malang 2016

PB SV

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

1.1.1.1.1.1.1.1.2OPEN TO COMBINE CYCLE START MODE

I. KONDISI AWAL
IV.TIGA (3) GT OPERASI OPEN CYCLE
V.TURBIN UAP STOP
II. PENGOPERASIAN
VII. START 3 HRSG
2.

START TURBIN UAP

III. KONDISI AKHIR


COMBINE CYCLE OPERATION
IV. LAMA WAKTU OPEN TO COMBINE CYCLE MODE
DARI START SAMPAI DENGAN APS COMPLETED
ADALAH :

MENIT

V. KONDISI HRSG :
1.

HRSG Cold

: HP Drum Press < 5 kg/cm2.

2.

HRSG Warm

: HP Drum Press 5 15 kg/cm2.

3.

HRSG Hot

: HP Drum Press > 15 kg/cm2.

Lama waktu exhaust damper membuka 45 % (T1) dan 80% (T2) masing
masing:
1.

HRSG Cold

: 30 menit.

2.

HRSG Warm

: 20 menit.

3.

HRSG Hot

: 15 menit

VI. KONDISI STEAM TURBIN


1.

ST Cold

: Chest Metal Temperatur < 200 C

2.

ST Warm

: Chest Metal Temperatur > 200 C < 400 C

3.

ST Hot

: Chest Metal Temperatur > 400 C

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

V.

PENGECEKAN STATUS PLANT SEBELUM OPEN TO COMBINE


CYCLE START.
1.

ST TURNING MOTOR In Service ( Rotor putar 3 rpm)

2.

ST. AOP In service

3.

HP - AUX. STEAM Press. Normal sesuai Pressure Auxiliary Biler ( 7


kg/cm2)

4.

LP- AUX. STEAM Press. Normal ( 3,5 kg/cm2)

5.

Satu atau lebih CWP in Service.

6.

Satu atau lebih CEP In Service (A/B)

7.

Satu atau lebih SWBP In Service (A/B)

8.

Satu atau lebih CCWP In Service (A/B)

9.

EXHAUST DAMPER kondisi menutup penuh.

10. HP-BFP Select [ A MAIN ] nyala.


11. All HP-BFP DISCHARGE VALVE menutup penuh.
12. All HP-BFP STOP.
13. LP-BFP Select [ A MAIN ] nyala.
14. All LP-BFP DISCHARGE VALVE menutup penuh.
15. All LP-BFP STOP.
16. STC APS MODE [ APS ON ] nyala
17. GT 1,2,3 kondisi normal operasi
18. ST OPERATION [ ST TRIP ] nyala, [ ST RESET ] mati.
A-Main harus dipilih bila peralatan tersebut dilengkapi dengan Main Standby
select switch. AUTO harus dipilih bila peralatan tersebut dilengkapi dengan
AUTO/MANUAL select switch.

Jika kondisinya berbeda dengan tersebut

diatas diposisikan pada MANUAL.


II. PERSIAPAN AWAL
Persiapan awal HRSG adalah pengisian HRSG Level Drum HP/LP kurang lebih
300 mm sampai

dengan 100 mm, sehingga pada saat HP/LP BCP

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

beroperasi diperkirakan level HP pada level 600 mm dan level LP Drum pada
level 550 mm (Persyaratan untuk START HRSG).
Untuk memudahkan pengaturan level Drum HP/LP- BFP dan HP/LP-BCP
dapat dijalankan pada saat persiapan awal sehingga saat SG PREPARATION
PB ON Drum Level tetap dalam kondisi Konstant.
III. PEMILIHAN APS MODE UNTUK OPEN TO COMBINE CYCLE START
1. APS MODE pada ST OPERATE [APS] PB ON
2. BLOCK APS MODE [APS ON] PB ON
[APS ON] nyala
[APS OFF] mati
[SEMI AUTO ] mati
ST START MODE

CALCULATION [COLD], [WARM] atau [HOT]

pastikan nyala.
3. START MODE [ OPEN TO C/C ] PB ON
[ OPEN TO C/C ] nyala.
4. COORDINATE MODE [GT 1, 2, 3 dan ST COORD] PB ON
[GT 1, 2, 3 dan ST COORD] nyala
[GT 1, 2, 3 dan ST SINGLE] mati.
5. COORDINATE MODE [GT HRSG 1, 2, 3 dan ST COORD] PB ON
[GT HRSG 1, 2, 3 dan ST COORD] nyala
[GT - HRSG 1, 2, 3 dan ST SINGLE] mati
6. CONTROL MODE [FULL / SEMI ] PB ON (Jika pilih SEMI)
[SEMI] nyala
[FULL] mati
7. APS MODE [ST APS ON] PB ON
[ST APS ON] nyala
IV. PERSIAPAN START TURBIN VACUUM UP

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

Bila ST OPERATION ( PREPARATION ) [ READY ] nyala. Selanjutnya


[ PREPARE ] PB ON. Kemudian periksa bagian bagian berikut ini :
1.

ST OPERATION [PREPARE] nyala

2.

STARTING AIR EJECTOR HP STEAM LINE WARMING VALVE buka


penuh.

3.

GLAND STEAM CONDENSOR EXHAUST FAN A / B Start.

4.

GLAND STEAM PRESS. di atas 0,1 kg/cm2

5.

VACUUM PUMP A / B Start

6.

VACUUM BREAK VALVE tutup penuh.

7.

Jika Vacuum di atas 680 mmHg, salah satu VACUUM PUMP A/ B akan
Stop.

8.

ST OPERATION [PREPARE READY] mati


[PREPARE] mati

V. PERSIAPAN START HRSG


Jika GT-SG 1, 2, 3 OPERATION [SG 1, 2, 3 PREP READY] nyala
Pilih salah satu [SG PREP] PB ON
Kemudian lakuan pemeriksaan berikut ini :
1. ST OPERATION [PREPARE] nyala
2. Jila HRSG dalam Kondisi Dingin
HP-TBV ISO VALVE 1, 2, 3 menutup Penuh.
LP-TBV ISO VALVE 1, 2, 3 menutup penuh.
3. HP-BCP 1, 2, 3 A / B Start.
4. LP-BCP 1, 2, 3 A / B Start.
5. HP-BFP A Start, satu menit B Start dan satu menit kemudian C Start.
6. LP-BFP A Start, satu menit B Start dan satu menit kemudian C Start.
7. GT-SG OPERATION 1, 2, 3 (SG PREP) [READY] nyala
(SG PREP) mati
Berikut valve-valve yang membuka mulai dari kondisi Unit mati :

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

IV.

SH-DRAIN VALVE 1, 2, 3 menutup penuh jika HP STEAN PRESS


10 kg/cm2

V.

HP-ECO RECIRCULATION MOTOR VALVE dan CONTROL


VALVE buka penuh.

VI.

HP-ECO START UP VENT VALVE

membuka, dan menutup jika

water flow HP-BFP 70 t/jam.


VII.

d. HP / LP DRUM VENT VALVE membuka, penuh dan menutup jika


STEAM PRESS. > 2 kg/cm2 .

VI. START HRSG


Apabila GT 1 / 2 / 3 Operation (SG START) [ READY ] nyala, salah satu [ SG
START ] PB ON, HRSG 1 / 2 / 3 akan start bersama sama. Kemudian periksa
bagian bagian berikut :
START HRSG PERTAMA
1. No. 1 GT SG Operation [ SG START ] nyala.
2. Bila kondisi HRSG WARM / HOT maka GT 1 / 2 / 3 LOAD SET akan naik
menuju 45 %.
3. Bila kondisi semua HRSG COLD maka:
No. 1 HP TBV ISO VALVE membuka penuh.
No. 1 LP TBV ISO VALVE membuka penuh.
4. No. 1 Exhaust damper membuka 45% dengan waktu tunda (time delay)
T1 30 menit untuk kondisi SG COLD
T1 20 menit untuk kondisi SG WARM
T1 15 menit untuk kondisi SG HOT
5. No. 1 HP DRUM CONTINOUS BLOW VALVE membuka penuh.
No. 1 HP dan LP DRUM VENT VALVE buka penuh dari awal sebelum start
dan akan menutup pada tekanan > 1.8 kg/cm2.
6. No. 1 SH DRAIN VALVE membuka penuh dan akan menutup pada tekanan
10 kg/cm2.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

7. No. 1 STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan menutup
pada tekanan 19 kg/cm2.
8. No. 1 HP STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan
menutup pada tekanan 29 kg/cm2.
9. No. 1 HP TURBINE LINE INLET DRAIN VALVE membuka penuh dan akan
menutup setelah ST Syhcrone.
10. No. 1 LP DRUM CONTINOUS BLOW VALVE membuka penuh.
11. No.1 LP DRUM OUTLET BLOW VALVE membuka penuh ( 10 menit dari
exhaust damper open akan menutup penuh ).
12. No. 1 LP STEAM BLOW VALVE membuka penuh dan menutup setelah
tekanan > 2.5 kg/cm2.
13. No. 1 LP TURBINE INLET LINE DRAIN VALVE membuka penuh dan
menutup setelah ST SYNCHRONE.
14. Setelah time delay T1 maka exhaust damper akan menuju 80 % dari kondisi
awal 45 %.
15. No. 1 HP STEAM OUTLET VALVE membuka penuh.
16. No. 1 LP STEAM OUTLET VALVE membuka penuh.
17. HP AUX. STEAM HEADER INLET VALVE membuka penuh.
18. LP AUX. STEAM HEADER INLET VALVE membuka penuh.
19. DEAERATOR STEAM INLET VALVE membuka penuh.
20. Apabila HP Steam press > 34 ata, GT LOAD SET akan menuju 45 %.
21. No. 1 GT SG Operation (SG START) [ READY ] mati.
[ SG START ] mati.
START HRSG KEDUA
1. No. 2 GT SG Operation [ SG START ] nyala.
2. Bila kondisi HRSG WARM / HOT maka GT 1 / 2 / 3 LOAD SET akan naik
menuju 45 %.
3. Bila kondisi semua HRSG COLD maka:
No. 1 HP TBV ISO VALVE membuka penuh.
No. 1 LP TBV ISO VALVE membuka penuh.
4. No. 2 Exhaust damper membuka 45% dengan waktu tunda (time delay)
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

T1 30 menit untuk kondisi SG COLD


T1 20 menit untuk kondisi SG WARM
T1 15 menit untuk kondisi SG HOT
5. No. 2 HP DRUM CONTINOUS BLOW VALVE membuka penuh.
No. 2 HP dan LP DRUM VENT VALVE buka penuh dari awal sebelum start
dan akan menutup pada tekanan > 1.8 kg/cm2.
6. No. 2 SH DRAIN VALVE membuka penuh dan akan menutup pada tekanan
10 kg/cm2.
7. No. 2 STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan menutup
pada tekanan 19 kg/cm2.
8. No. 2 HP STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan
menutup pada tekanan 29 kg/cm2.
9. No. 2 HP TURBINE LINE INLET DRAIN VALVE membuka penuh dan akan
menutup setelah ST Syhcrone.
10. No. 2 LP DRUM CONTINOUS BLOW VALVE membuka penuh.
11. No.2 LP DRUM OUTLET BLOW VALVE membuka penuh ( 10 menit dari
exhaust damper open akan menutup penuh ).
12. No. 2 LP STEAM BLOW VALVE membuka penuh dan menutup setelah
tekanan > 2.5 kg/cm2.
13. No. 2 LP TURBINE INLET LINE DRAIN VALVE membuka penuh dan
menutup setelah ST SYNCHRONE.
14. Setelah time delay T1 maka exhaust damper akan menuju 80 % dari kondisi
awal 45 %.
15. Apabila HP Steam press > 34 ata, GT LOAD SET akan menuju 45 %.
16. No. 2 GT SG Operation (SG START) [ READY ] mati.
[ SG START ] mati.

START HRSG KETIGA


1. No. 3 GT SG Operation [ SG START ] nyala.
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

2. Bila kondisi HRSG WARM / HOT maka GT 1 / 2 / 3 LOAD SET akan naik
menuju 45 %.
3. Bila kondisi semua HRSG COLD maka:
No. 1 HP TBV ISO VALVE membuka penuh.
No. 1 LP TBV ISO VALVE membuka penuh.
4. No. 3 Exhaust damper membuka 45% dengan waktu tunda (time delay)
T1 30 menit untuk kondisi SG COLD
T1 20 menit untuk kondisi SG WARM
T1 15 menit untuk kondisi SG HOT
5. No. 3 HP DRUM CONTINOUS BLOW VALVE membuka penuh.
No. 3 HP dan LP DRUM VENT VALVE buka penuh dari awal sebelum start
dan akan menutup pada tekanan > 1.8 kg/cm2.
6. No. 3 SH DRAIN VALVE membuka penuh dan akan menutup pada tekanan
10 kg/cm2.
7. No. 3 STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan menutup
pada tekanan 19 kg/cm2.
8. No. 3 HP STEAM BLOW DOWN VALVE membuka penuh dan akan
menutup pada tekanan 29 kg/cm2.
9. No. 3 HP TURBINE LINE INLET DRAIN VALVE membuka penuh dan akan
menutup setelah ST Syhcrone.
10. No. 3 LP DRUM CONTINOUS BLOW VALVE membuka penuh.
11. No.3 LP DRUM OUTLET BLOW VALVE membuka penuh ( 10 menit dari
exhaust damper open akan menutup penuh ).
12. No. 3 LP STEAM BLOW VALVE membuka penuh dan menutup setelah
tekanan > 2.5 kg/cm2.
13. No. 3 LP TURBINE INLET LINE DRAIN VALVE membuka penuh dan
menutup setelah ST SYNCHRONE.
14. Setelah time delay T1 maka exhaust damper akan menuju 80 % dari kondisi
awal 45 %.
15. Apabila HP Steam press > 34 ata, GT LOAD SET akan menuju 45 %.
16. No. 3 GT SG Operation (SG START) [ READY ] mati.
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

[ SG START ] mati.
IV. START TURBIN UAP
Apabila ST Operation [ START READY ] nyala selanjutnya lakukan [ START ]
PB ON. Kemudian periksa bagian bagian berikut :
1. ST Operation [ START ] nyala.
2. Apabila ST telah RESET dan vacuum > 690 mmHg, salah satu vacuum pump
akan stop.
3. TURBIN STATUS [ RESET ] nyala.
HPSV membuka penuh
LPSV membuka penuh
SEEP RATE [ 300 rpm / m ] nyala
PROGRAM MODE [ GO ] nyala dan [ HOLD ] mati.
4. Putaran turbin akan mulai naik. Bila ST MODE [ RUB CHECK IN ] nyala
HPSV menutup penuh
LPSV menutup penuh
SEEP RATE [ 300 rpm / m ] mati
PROGRAM MODE [ HOLD ] nyala dan [ GO ] mati.
Kemudian periksa vibrasi dan suara suara aneh yang mungkin timbul.
5. Pada putaran turbin uap diatas 100 rpm ST Operation [ START READY ] mati
[ START ] mati
V. STEAM TURBINE SPEED UP
Apabila ST Operation [ SPEED UP ] nyala, selanjutnya lakukan [ SPEED UP ]
PB ON dan kemudian periksa bagian bagian berikut :
1. ST Operation [ SPEED UP ] nyala.
2. CONTROL MODE [ CLOSE VALVE ] nyala.
3. SPEED TARGET [ 2200 rpm ] nyala.
4. SPEED RATE [ 300 rpm ] nyala.
5. Program mode [ GO ] nyala
[ HOLD ] mati.
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

6. Putaran turbin uap akan mulai naik, pada putaran 2200 rpm program mode
[ HOLD ] nyala
[ GO ] mati.
Putaran ditahan konstran selama heat soak periode. Setelah heat soak selesai
selanjutnya:
7. SPEED TARGET [ 3000 rpm ] nyala.
[ 2200 rpm ] mati.
8. PROGRAM MODE [ GO ] nyala.
[ HOLD ] mati.
9. Bila putaran mencapai RATED SPEED dan ST AOP stop maka program
[ HOLD ] nyala
[ GO ] mati.
10. Apabila ST telah mencapai rated speed, AOP stop dan No. 1 GT LOAD < 48%
dan No. 1 Exhaust damper membuka 100 %.
11. 5 menit kemudian :
ST OPERATION (SPEED UP) [ READY ] mati
[ SPEED UP ] mati
VI. SYNCHRONIZING STEAM TURBINE GENERATOR
Apabila ST OPERATION (SYNCHRO) [ READY ] nyala, pada BLCP :
SYNCHRONIZING ST [ IN OPERATE ] nyala, tegangan dan frekuensi running
incoming hamper sama. Selanjutnya [ SYNCHRO ] PB ON. Kemudian periksa
bagian bagian berikut ini:
1. ST OPERATION (SYNCHRO) [ READY ] nyala.
ST GENERATOR telah parallel dan bertahan pada initial load.
2.

HP PRESS SET CONTROL [ ON ] nyala dan [ OFF ] mati. Diset pada 34


kg/cm2.

3.

No. 1 HP TUBINE BY PASS CONTROL VALVE program menutup penuh.

4.

No. 1 HP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT


[ BACK UP ] nyala.
[ SINGLE ] mati.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

5.

LP PRESS SET CONTROL VALVE [ ON ] nyala dan [ OFF ] mati. Diset pada
5,2 kg/cm2

6.

No. 1 LP TUBINE BY PASS CONTROL VALVE program menutup penuh.

7.

No. 1 LP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT


[ BACK UP ] nyala.
[ SINGLE ] mati.

8.

STC HPCV PRESS SET pada 55 ata ( kenaikan 2,5 kg/cm2 per menit ).

9.

No. 2 HP TBV PRESS set pada 54 ata ( kenaikan 2 kg/cm2 per menit ).

10.

No. 3 HP TBV PRESS set pada 54 ata ( kenaikan 2 kg/cm2 per menit ).

11.

Apabila selisih ST INLET TEMP NO. 2 SG OUTLET TEMP < 55 kg/cm 2


dan selisih ST INLET PRESS No. 2 SG OUTLET PRESS < 1 kg/cm 2
maka:

No. 2 HP STEAM BOV program membuka penuh.

No. 2 HP TURBINE BY PASS VALVE program menutup penuh.

No. 2 HP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT


[ BACK UP ] nyala.
[ SINGLE ] mati.

No. 2 LP STEAM BOV program membuka penuh.

No. 2 LP TUBINE BY PASS CONTROL VALVE program menutup


penuh.

No. 2 LP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT


[ BACK UP ] nyala.
[ SINGLE ] mati.

12.

Apabila selisih ST INLET TEMP NO. 3 SG OUTLET TEMP < 55 kg/cm 2


dan selisih ST INLET PRESS No. 3 SG OUTLET PRESS < 1 kg/cm 2
maka:

No. 3 HP STEAM BOV program membuka penuh.

No. 3 HP TURBINE BY PASS VALVE program menutup penuh.

No. 3 HP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT


[ BACK UP ] nyala.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

[ SINGLE ] mati.

No. 3 LP STEAM BOV program membuka penuh.

No. 3 LP TUBINE BY PASS CONTROL VALVE program menutup


penuh.

No. 3 LP TURBINE BY PASS VALVE CONTROL MODE SELECT


[ BACK UP ] nyala.
[ SINGLE ] mati.

13.STC HPCV PRESS SET menuju set 35 ata ( penurunan 2,5 kg/cm2 per menit ).
14. 5 menit setelah No. 3 LP TBV CONTROL MODE SELECT [ BACK UP ]
nyala, No. 2 Exhaust damper membuka 100 %.
15. 5 menit kemudian No. 3 Exhaust damper membuka 100 %.
16. ST OPERATION [ SYNCHRONE READY ] mati.
[ SYNCHRO ] mati.
VII. APS COMPLETE
Setelah proses selesai periksa sebagai berikut:
1. BLOCK APS [ APS OFF ] nyala.
[ APS ON ] mati.
2. BLOCK APS [ SEMI AUTO ] mati.
3. APS MODE [ No. 1,2,3 GT SG APS ON ] mati.
4. APS MODE [ ST APS ON ] mati.
[ ST APS OFF ] mati.
5. START MODE [ OPEN TO C/C ] mati.
6. START MODE ST [ COLD ] , [ WARM ], [ HOT ] mati.
7. ST MODE [ RUB CHECK IN ] mati.
[ RUB CHECK OUT ] nyala.
VIII. APR OPERATION
1. COORDINATE MODE [ GT 1,2,3 COOD ] PB ON
COORDINATE MODE [ GT 1,2,3 COORD ] nyala.
[ GT 1,2,3 SINGLE ] mati.
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

2. APR MODE [ APR ] PB ON


APR MODE [ APR ] nyala.
[MW HOLD ] mati.
4. Pengoperasian LOAD DEMAND dengan menggunakan

atau

PB SV (Setting Value) dari load demand setelah diset. PB PV (Proses


value/total beban) akan mencapai SV.

1.1.1.1.1.1.1.1.3
I.

BLOCK STOP MODE

KONDISI AWAL
1. TIGA (3) GT OPERASI OPEN CYCLE DAN ST NORMAL
OPERASI
2. OPERASI COMBINE CYCLE.

II.

PENGOPERASIAN
3. STOP TURBIN UAP
4. STOP 3 TURBIN UAP DAN 3 HRSG

III.

KONDISI AKHIR
SEMUA UNIT STOP

IV.

LAMA WAKTU BLOCK STOP MODE


DARI START SAMPAI DENGAN APS COMPLETED
ADALAH :

MENIT

I. PENGECEKAN STATUS PLANT SEBELUM BLOCK STOP


1. Kondisi akhir 3 GT

pada C/C operation mode. Dimana exhaust damper

membuka penuh.
2. GT 1,2,3 Mode select [ ALR ON ] nyala.

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

GT 1,2,3 Mode select [ LOAD LIMIT ] nyala.


3. GT 1,2,3 GT LOAD OPERATION MODE [ COORD ] nyala.
4. No. 1,2,3 HP TBV CONTROL [ BACK UP ] nyala.
5. No. 1,2,3 LP TBV CONTROL [ BACK UP ] nyala.
6. HP Press Set Control [ ON ] nyala.
7. LP Press Set Control [ ON ] nyala.
8. HP Common Press Set Control [ OFF ] nyala.
9. LP Common Press Set Control [ OFF ] nyala.
10. HP BFP in service [ 3 pompa ].
11. LP BFP in service [ 3 pompa ].
Peralatan berikut ini harus posisi stand by:
1.

GT 1,2,3 Aux Lube Oil Pump atau Emergency Lube Oil Pump

2.

GT 1,2,3 Aux Control Lube Oil Pump.

3.

GT 1,2,3 Jacking Oil Pump A/B

4.

GT 1,2,3 AC Turning atau GT DC Turning.

5.

ST Turning Motor dan Turning Gear.

6.

ST Aux Oil Pump.

7.

ST Jacking Oil Pump.

Kondisi Plant harus stabil


A- Main harus dipilih bila peralatan tersebut dilengkapi dengan Main Standby
selector switch. Posisi AUTO harus dipilih bila peralatan tersebut dilengkapi
dengan AUTO MANUAL selector switch. Bila kondisi ini berbeda dengan
tersebut diatas harus di manual.
II. PEMILIHAN MODE APS
1. BLOCK APR MODE jika APR nyala [ MW HOLD ] PB ON
[ APR ] mati
[ MW HOLD ] nyala
2. APS MODE pada ST OPERATE [ APS ON ] PB ON
[ APS ON ] nyala
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

[ APS OFF ] mati.


3. BLOCK APS [ APS ON ] PB ON
[ APS ON ] nyala
[ APS OFF ] mati
[ SEMI AUTO ] nyala
4. COORDINATE MODE [ GT 1,2,3 COORD ] PB ON
[ GT 1,2,3 COORD ] nyala
[ GT 1,2,3 SINGLE ] mati
5. COORDINATE MODE ST [ ST COORD ] PB ON
[ ST COORD ] nyala
[ ST SINGLE ] mati
6. APS MODE [ GT 1,2,3 SG APS ON ] PB ON
[ GT 1,2,3 SG APS ON ] nyala
7. APS MODE [ ST APS ON ] PB ON
[ ST APS ON ] nyala
8. STOP MODE [ BLOCK STOP ] PB ON
[ BLOCK STOP ] nyala
9. STOP MODE (VAC) [ VAC BREAK ] PB ON
[ VAC HOLD ] PB ON (Mana yang dikehendaki).
III. GT LOAD DOWN
GT 1,2,3 SG Operation [ GT LOAD DOWN READY ] nyala, selanjutnya salah
satu [ GT LOAD DOWN ] PB ON. Kemudian periksa bagian bagian berikut :
1. GT 1,2,3 Operation [ GT LOAD DOWN ] nyala.
2. HP Press Set Control Set Value (SV) menuju 60 ata. Dengan laju kenaikan
press 2,5 kg/cm2 per menit.
3. Apabila beban GT 1,2,3 diatas 60%, beban GT turun sampai 60% (62
MW).
4. LP Common Press Set Control [ ON ] nyala, Setting akan menuju pada
aktual pressure.
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

5. LP Press Set Control [ OFF ] nyala.


[ ON ] mati.
6. No. 1,2,3 LP Turbine By pass Control Mode Select [ COMMON ] nyala.
[ BACK UP ] mati
7. LP CV mulai menutup (program close) dan setelah itu kemudian menutup.
8. HP Conmmon Press Set Control [ ON ] nyala, setting menuju actual
pressure.
9. HP Press Set Control [ OFF ] nyala.
[ ON ] mati.
10. No. 1,2,3 HP Turbine By pass Control Mode Select [ COMMON ] nyala.
[ BACK UP ] mati
11. HP CV mulai menutup (program close) sampai beban ST mencapai 10 %.
Pada saat beban turbin uap dibawah 20%
12. HP Stop Valve Drain Valve membuka penuh.
13. HP Turbine Inlet Pipe Drain Valve membuka penuh.
14. LP Stop valve Drain Valve membuka penuh.
15. LP Turbine Inlet Pipe Drain Valve membuka penuh.
16. HP Balance Pipe Drain Valve membuka penuh.
17. LP Balance Pipe Drain Valve membuka penuh.
18. HP Turbine Casing Drain Valve membuka penuh.
19. HP Turbine Casing Drain Valve (Exhaust) membuka penuh.
20. Pindah Unit Aux Transformer ke SST 1 ( pada aux control panel ).
Pada saat beban turbin uap dibawah 10%
1. LP Turbine Exhaust Spray Valve membuka penuh.
2. GT 1,2,3 SG Operation [ GT LOAD DOWN READY ] mati.
IV. ST SHUT DOWN
Bila ST Operation (ST SHUT DOWN) [ READY ] nyala. Selanjutnya [ ST
SHUT DOWN ] PB ON Kemudian periksa bagian bagian berikut ini :
1. [ ST SHUT DOWN ] nyala.
2. Excitasi OFF ( pada BLCP ).
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

3. No. 1,2,3 HP STOP VALVE menutup penuh.


4. No. 1,2,3 LP STOP VALVE menutup penuh.
5. No. 1,2,3 HP CONTROL VALVE menutup penuh.
6. No. 1,2,3 LP CONTROL VALVE menutup penuh.
7. Aux Oil Pump jalan.
8. Jacking Oil Pump jalan.
9. Setelah putaran ST mencapai 0 rpm
ST Turning Motor jalan.
ST Turning Gear [ ENGAGE ].
10. ST Operation [ ST SHUT DOWN READY ] mati.
V. GT SHUT DOWN
Bila GT 1,2,3 SG operation [ GT SHUT DOWN READY ] nyala, selanjutnya
salah satu [ GT SHUT DOWN ] PB ON. Kemudian periksa bagian bagian
berikut:
1. No. 1,2,3 GT SG Operation [ GT SHUT DOWN ] nyala,
2. Setelah [ GT SHUT DOWN ] PB ON secara langsung:
No. 1,2,3 GT Exhaust Damper menutup penuh.
Set HP Drum Level HRSG 1,2,3 dari 100 mm menuju 675 mm.
Set LP Drum Level HRSG 1,2,3 dari 100 mm menuju 675 mm.
3. Pindah UAT ke SST 1 (pada aux control panel)
4. GT 1,2,3 turun beban sampai mendekati 7% (load set 7 MW).
5. No. 1,2,3 HP Drum Continous Blow Valve menutup penuh.
6. No. 1,2,3 LP Drum Continous Blow Valve menutup penuh.
7. No. 1,2,3 GT [ 52G OFF ] pada beban 7 MW.
8. Bersamaan dengan GT 52G OFF, Generator Excitasi OFF.
Pembilasan selama 3 menit setelah itu GT Fuel OFF.
9. No. 1,2,3 GT SG Operation [ GT SHUT DOWN READY ] mati
[ GT SHUT DOWN ] mati.
Setelah GT 1,2,3 FUEL OFF, diamati bagian bagian berikut ini :
a. Pada putaran 3000 rpm ( saat putaran mulai turun )
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

GT 1,2,3 Aux Lube Oil Pump jalan.


GT 1,2,3 Aux Control Oil Pump jalan.
b. Pada putaran 2775 rpm :
GT 1,2,3 HP dan LP Bleed Valve membuka,
c. Pada putaran 1000 rpm :
GT 1,2,3 Jacking Oil Pump jalan,
d. Pada putaran 300 rpm :
GT 1,2,3, Aux Control Oil Pump jalan.
GT 1,2,3, Turning Motor jalan.
e. 24 menit kemudian setelah GT 1,2,3 GT Turning Motor jalan,
GT 1,2,3, GT READY TO START nyala.
VI. SG SHUT DOWN
No. 1,2,3 GT SG Operation ( SG S.D.) [ READY ] nyala, selanjutnya salah satu
[ SG S.D } PB ON. Kemudian 10 menit [ SG S.D ] PB ON
1. Semua HP BFP Stop.
2. Semua LP BFP Stop.
3. No. 1,2,3 LP BOV menutup penuh.
Interlock oleh sinyal A11 HP BFP atau BFP Stop.
4. No. 1,2,3 HRSG HP BCP Stop.
5. No. 1,2,3 HRSG LP BCP Stop.
6. No. 1,2,3 HP TBV menutup penuh.
7. No. 1,2,3 LP TBV menutup penuh.
8. Deaerator Steam Inlet Valve menutup penuh.
9. Bila mode pada Vac Break, putaran turbin uap dibawah 300 rpm.
Vacuum break valve membuka penuh.
A-Vacuum Pump Stop.
Pada vacuum dibawah 30 mmHg:
Gland Steam Press CV ( HP Aux ) menutup penuh.
Gland Steam Press CV ( LP Aux ) menutup penuh.
Gland Steam Condenser Exhaust Fan Stop.
Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

10. No. 1,2,3 HP Steam BOV menutup penuh.


11. No. 1,2,3 HP TBV mode select [ SINGLE ] nyala.
12. No. 1,2,3 GT SG Operation ( SG S.D ) [ READY ] mati.
13. No. 1,2,3 GT SG operation ( SG S.D ) [ READY ] mati
[ SG S.D ] mati.
VII. APS COMPLETE
1. BLOCK APS [ APS OFF ] nyala.
[ APS ON ] mati.
[ SEMI AUTO ] mati.
[ FULL AUTO ] mati.
2. APS MODE [ GT 1,2,3 SG APS ON ] mati.
3. APS MODE [ ST APS ON ] mati.
4. STOP MODE [ BLOCK GT STOP ] mati.
5. APS MODE pada ST Operation [ APS ON ] mati.
[ APS OFF ] mati.

1.1.1.1.1.1.1.1.4INDIVIDUAL STOP MODE

V.

KONDISI AWAL
1. TIGA (3) GT OPERASI DAN ST NORMAL OPERASI
2. OPERASI COMBINE CYCLE.

VI.

PENGOPERASIAN
STOP 1 GT DAN HRSG

VII.

KONDISI AKHIR
OPERASI COMBINE CYCLE DENGAN DUA GT, DUA HRSG DAN
SATU ST

VIII. LAMA WAKTU INDIVIDUAL STOP MODE


DARI START SAMPAI DENGAN APS COMPLETED
ADALAH :

65 MENIT

Politeknik Negeri Malang 2016

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

I. PENGECEKAN PLANT SEBELUM INDIVIDUAL STOP MODE


1. Kondisi akhir 3 GT

pada C/C operation mode. Dimana exhaust damper

membuka penuh.
2. GT 1,2,3 Mode select [ ALR ON ] nyala.
GT 1,2,3 Mode select [ LOAD LIMIT ] nyala.
3. GT 1,2,3 GT LOAD OPERATION MODE [ COORD ] nyala.
4. No. 1,2,3 HP TBV CONTROL [ BACK UP ] nyala.
5. No. 1,2,3 LP TBV CONTROL [ BACK UP ] nyala.
6. HP Press Set Control [ ON ] nyala.
7. LP Press Set Control [ ON ] nyala.
8. HP Common Press Set Control [ OFF ] nyala.
9. LP Common Press Set Control [ OFF ] nyala.
10. HP BFP in service [ 3 pompa ].
11. LP BFP in service [ 3 pompa ].
12. Kondisi Plant harus stabil
13. A- Main harus dipilih bila peralatan tersebut dilengkapi dengan Main
Standby selector switch. Posisi AUTO harus dipilih bila peralatan tersebut
dilengkapi dengan AUTO MANUAL selector switch.

Bila kondisi ini

berbeda dengan tersebut diatas harus di manual.


II. PEMILIHAN MODE APS
1. BLOCK APR MODE jika APR nyala [ MW HOLD ] PB ON
[ APR ] mati
[ MW HOLD ] nyala
GT 1 COORDINATE MODE [ COORD ] nyala
GT 2 & 3 COORDINATE MODE [ SINGLE ] PB ON
[ SINGLE ] nyala
[ COORD ] mati
2. APS MODE pada ST OPERATE [ APS ON ] PB ON
[ APS ON ] nyala
Politeknik Negeri Malang 2016

100

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

[ APS OFF ] mati.


3. BLOCK APS [ APS ON ] PB ON
[ APS ON ] nyala
[ APS OFF ] mati
[ SEMI AUTO ] nyala
4. COORDINATE MODE [ GT 1 ] PB ON
[ GT 1 COORD ] nyala
[ GT 1 SINGLE ] mati
5. COORDINATE MODE [ GT 2,3 SINGLE ] PB ON
[ GT 2,3 COORD ] mati
[ GT 2,3 SINGLE ] nyala
6. COORDINATE MODE ST [ ST COORD ] PB ON
[ ST COORD ] nyala
[ ST SINGLE ] mati
7. APS MODE [ GT 1 SG APS ON ] PB ON
[ GT 1 SG APS ON ] nyala
8. APS MODE [ ST APS ON ] PB ON
[ ST APS ON ] nyala
9. STOP MODE [ INDIVIDUAL STOP ] PB ON
[ INDIVIDUAL STOP ] nyala
III. GT LOAD DOWN
No. 1 GT SG Operation [ GT L.D. READY ] nyala, selanjutnya [ GT L.D ] PB
ON. Kemudian periksa bagian bagian berikut ini:
1. No. 1 GT Operation [ GT L.D ] nyala.
2. HP Press Set Control Set Value menuju 60 ata.
3. Beban No. 1 GT Turun sampai 60 % ( 62 MW ).
4. No. 1 LP TBV program membuka.
5. Apabila No.LP SG outlet press turun sampai 0,5 kg/cm2 dibawah LP ST inlet
press selanjutnya:
6. No. 1 LP TBV Control mode select [ SINGLE ] nyala dan [ BACK UP ] mati.
Politeknik Negeri Malang 2016

101

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

LP TBV Press Set menuju 5,4 kg/cm 2.


7. No. 1 LP Steam BOV menutup penuh.
8. No. 1 HP TBV mulai program membuka.
9. Apabila No.HP SG outlet press turun sampai 1 kg/cm2 dibawah LP ST inlet
press selanjutnya:
10. No. 1 HP TBV Control mode select [ SINGLE ] nyala dan [ BACK UP ] mati.
HP TBV Press Set menuju actual press No. 1 HP SG.
11. No. 1 HP Steam BOV menutup penuh.
12. HP press set control set kembali ke 34 kg/cm2.
13. No. 1 GT SG Operation [ GT L.D READY ] mati
[ GT L.D ] mati.
14. Apabila yang dikehendaki hanya shut down HRSG, APS langsung di OFF.
15. No. 1 exhaust damper ditutup manual. Sambil diamati HP/LP DRUM LEVEL.
IV. GT SHUT DOWN
Bila GT 1 SG operation [ GT SHUT DOWN READY ] nyala, selanjutnya [ GT
SHUT DOWN ] PB ON. Kemudian periksa bagian bagian berikut:
1. No. 1GT SG Operation [ GT SHUT DOWN ] nyala,
2. Pindah UAT ke SST 1 pada aux control panel.
3. Pada beban 20 MW:
No. 1 GT Exhaust Damper menutup penuh.
Set HP Drum Level HRSG 1 dari 100 mm menuju 675 mm.
Set LP Drum Level HRSG 1 dari 100 mm menuju 675 mm.
4. No. 1 HP Drum Continous Blow Valve menutup penuh.
5. No. 1 LP Drum Continous Blow Valve menutup penuh.
6. No. 1 GT [ 52G OFF ] pada beban 7 MW.
7. Bersamaan dengan GT 52G OFF, Generator Excitasi OFF.
Pembilasan selama 3 menit setelah itu GT Fuel OFF.
8. No. 1 GT SG Operation [ GT SHUT DOWN READY ] mati
[ GT SHUT DOWN ] mati.
Setelah GT 1 FUEL OFF, diamati bagian bagian berikut ini :
Politeknik Negeri Malang 2016

102

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

a. Pada putaran 3000 rpm ( saat putaran mulai turun )


GT 1 Aux Lube Oil Pump jalan.
GT 1 Aux Control Oil Pump jalan.
b. Pada putaran 2775 rpm :
GT 1 HP dan LP Bleed Valve membuka,
c. Pada putaran 1000 rpm :
GT 1 Jacking Oil Pump jalan,
d. Pada putaran 300 rpm :
GT 1 Aux Control Oil Pump jalan.
GT 1 Turning Motor jalan.
e. 24 menit kemudian setelah GT 1 GT Turning Motor jalan,
GT 1 GT READY TO START nyala.
IV. SG SHUT DOWN
No. 1GT SG Operation ( SG S.D.) [ READY ] nyala, selanjutnya [ SG S.D } PB
ON. Kemudian 10 menit [ SG S.D ] PB ON
1. Semua HP BFP Stop.
2. Semua LP BFP Stop.
Setelah 20 menit HP & LP BFP stop:
3. No. 1 HRSG HP BCP Stop.
4. No. 1 HRSG LP BCP Stop.
5. No. 1 HP TBV menutup penuh.
6. No. 1 LP TBV menutup penuh.
7. No. 1 GT SG operation ( SG S.D ) [ READY ] mati
[ SG S.D ] mati.
VI. APS COMPLETE
1. BLOCK APS [ APS OFF ] nyala.
[ APS ON ] mati.
[ SEMI AUTO ] mati.
Politeknik Negeri Malang 2016

103

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

[ FULL AUTO ] mati.


2. APS MODE [ GT 1 SG APS ON ] mati.
3. APS MODE [ ST APS ON ] mati.
4. STOP MODE [ BLOCK GT STOP ] mati.
5. APS MODE pada ST Operation [ APS ON ] mati.
[ APS OFF ] mati
VII. APR OPERATION
1. COORDINATE MODE [ GT 2 COORD ] PB ON
[ GT 2 COORD ] nyala
[ GT 2 SINGLE ] mati.
2. COORDINATE MODE [ GT 3 COORD ] PB ON
[ GT 3 COORD ] nyala
[ GT 3 SINGLE ] mati.
3. APR MODE [ APR ] PB ON
[ APR ] nyala
[ MW HOLD ] mati

BAB VI
PENUTUP
6.1 KESIMPULAN
Berdasarkan kegiatan Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) yang telah
dilaksanakan oleh penulis di PT. INDONESIA POWER UP PERAK
GRATI pada departemen pemeliharaan listrik PLTGU Grati mulai
tanggal 01 Juli hingga 31 Agustus 2014 dapat diambil kesimpulan
bahwa : .
Politeknik Negeri Malang 2016

104

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

1. PLTGU mempunyai 7 unit pembangkit listrik turbin generator yang


terbagi menjadi dua blok, dimana blok 1 yaitu GT1.1, GT1.2, GT1.3,
dan ST sedangkan blok 2 GT2.1, GT2.2, GT2.3. Setiap gas turbine
mempunyai

kapasitas

terpasang 100MW, dan

steam turbine

mempunyai kapasitas terpasang 150MW. Total kapasitas terpasang


di PLTGU Grati adalah 750MW.
2. Konsumen PT. INDONESIA POWER UP PERAK GRATI adalah
Persahaan Listrik Negara ( PLN ). Sehingga besarnya proses
produksi sesuai dengan permintaan PLN. PLN akan mengeluarkan
load schedule secara mingguan dan harian.
3. PT. INDONESIA POWER UP PERAK GRATI Sudah ter Combined
Cycle pada Block 1 dan Block 2 Open Cycle.

6.2 SARAN
6.2.1 Bagi Instansi
1. Memberikan Jadwal Dan target pencapaian pembelajaran Kepada
Mahasiswa Praktek Kerja Lapangan.
2. Diharapkan kerjasama antara PT. INDONESIA POWER UP
PERAK

GRATI

dengan

Politeknik

Negeri

Malang

dapat

dipertahankan dan ditingkatkan. Semoga praktek kerja lapangan


selanjutnya lebih baik dan efisien serta dapat memberikan nilai
tambah

dan

manfaat

bagi

mahasiswa

dan

lembaga

yang

ada

sehingga

bias

bersangkutan.
6.2.2 Bagi Politeknik Negeri Malang
1. Dapat

menyesuaikan

kurikulum

yang

menciptakan sumber daya manusia berpotensi yang banyak

Politeknik Negeri Malang 2016

105

Laporan Praktek Kerja Lapangan


di PT.Indonesia Power Unit Pembangkitan Perak Grati
Mahasiswa Politeknik Negeri Malang

dibutuhkan di dunia kerja. Meningkatkan kualitas bukan hanya


peserta didik akan tetapi juga tenaga pendidik.

DAFTAR PUSTAKA
SIEMENS - Grati Exitation System
https://images.google.com
Juklak PKL Polinema.

Politeknik Negeri Malang 2016

106