Anda di halaman 1dari 23

AKUNTANSI MANAJEMEN

PERTEMUAN 14

BIAYA KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS


& MANAJEMEN BIAYA LINGKUNGAN

Oleh :
KRLOMPOK 7
TIARA KUSUMA DEWI

(1591662006)

I GUSTI AYU SHINTA MEITASARI

(1591662008)

IDA AYU KAYIKA APSARI

(1591662009)

LUH GEDE DIAH ARY PRADNYASWARI

(1591662014)

PUTU RIESTY MASDIANTINI

(1591662020)

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PACASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016
0

BIAYA KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS

1. Pengukuran Biaya Kualitas


Peningkatan kualitas dapat meningkatkan profitabilitas melalui 2 cara, antara lain : Dengan
meningkatkan pelanggan dan Dengan mengurangi biaya Dalam pasar persaingan yang ketat
peningkatan permintaan dan penghematan biaya dapat menjadi penentu apakah suatu usaha
dapat berkembang atau sekedar bertahan hidup. Biaya kualitas adakalanya cukup besar dan dapat
merupakan sumber penghematan yang cukup signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa biaya
kualitas bagi perusahaan-perusahaan AS biasanya berkisar anatar 20-30% dari penjualan.
Namun, beberapa pakar kualitas berpendapat bahwa tingkat kualitas optimal seharusnya berkisar
antara 2-4% dari penjualan. Peningkatan kualitas dapat menghasilkan peningkatan yang berarti
dalam profitabilitas dan efisiensi perusahaan secara keseluruhan. Kualitas telah menjadi dimensi
kompetitif yang penting bagi perusahaan manufaktur maupun jasa, juga bagi usaha kecil dan
usaha besar.
1.1 Definisi Kualitas
Kamus mendefinisikan kualitas sebagai untuk kualitas adalah derajat atau tingkat
kesempurnaan, dalam hal ini, kualitas adalah ukuran relative dari kebaikan (goodness).
Mendefinisikan kualitas sebagai kebaikan merupakan makna sangat umum yang tidak memiliki
makna operasional. Sebuah produk atau jasa yang berkualitas adalah produk atau jasa yang
mampu memenuhi atau bahkan melebihi harapan pelanggan. Kualitas didefinisikan ke dalam
delapan dimensi:
Kinerja: seberapa konsisten dan seberapa baik produk tersebut dapat berfungsi.
Estetika: berhubungan dengan wujud fisik dari produk, misalnya: gaya.
Service: kemudahan dalam pemeliharan dan atau perbaikan produk.
Fitur (kualitas desain): karakteristik produk yang membedakannya dengan produk
lain yang sejenis.
Keandalan: kemungkinan bahwa produk atau jasa akan berfungsi sesuai yang
diharapkan selama jangka waktu tertentu.
Tahan lama: jangka waktu berfungsinya produk.
Kualitas kesesuaian: seberapa baik produk memenuhi spesifikasi yang diinginkan.
1

Kesesuaian penggunaan: kesinambungan produk dalam melakukan fungsi yang


diharapkan.
1.2 Biaya Kualitas
Biaya kualitas adalah biaya yang muncul karena kualitas yang buruk mungkin akan atau
telah terjadi. Biaya kualitas ini berhubungan dengan dua jenis aktivitas:
Aktivitas pengendalian (control activities)
yaitu aktivitas yang dilakukan untuk mencegah atau mendeteksi kualitas yang buruk
(karena kualitas yang buruk mungkin muncul). Aktivitas pengendalian terdiri dari
aktivitas pencegahan dan aktivitas penilaian. Biaya pengendalian adalah biaya yang
digunakan untuk melakukan aktivitas pengendalian
Aktivitas kegagalan (failure activities)
yaitu aktivitas yang dilakukan oleh organisasi atau pelanggannya dalam menanggapi
kualitas yang buruk (kualitas yang buruk sudah terjadi). Aktivitas kegagalan terdiri dari
aktivitas kegagalan internal dan aktivitas kegagalan eksternal. Biaya kegagalan adalah
biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan akibat terjadinya aktivitas kegagalan.
Pembahasan tentang aktivitas yang terkait dengan kualitas menyebabkan munculnya empat
kelompok biaya kualitas, yaitu:
Biaya Pencegahan (prevention cost)
Biaya pencegahan adalah biaya yang terjadi untuk mencegah timbulnya kualitas yang
buruk dalam barang atau jasa yang yang dihasilkan. Dengan meningkatnya biaya
pencegahan diharapkan biaya kegagalan akan semakin kecil. Contoh: perekayasaan
kualitas, program pelatihan kualitas, perencanaan kualitas, pelaporan kualitas, pemilihan
dan evaluasi pemasok, audit kualitas, dll.
Biaya Penilaian (appraisal cost)
Biaya penilaian adalah biaya yang terjadi untuk menentukan apakah produk dan jasa
sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan atau sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Tujuan utama penilaian ini adalah untuk mencegah produk yang tidak sesuai spesifikasi
dikirimkan ke pelanggan. Contoh: inspeksi dan pengujian bahan, inspeksi pengemasan,
supervise terhadap aktivitas penilaian, penerimaan produk, penerimaan proses, inspeksi
dan pengujian peralatan, dll.
Biaya Kegagalan Internal (internal failure cost)

Biaya kegagalan internal adalah biaya yang terjadi jika produk dan jasa tidak sesuai
dengan spesifikasi atau kebutuhan pelanggan dan hal ini diketahui sebelum produk
dikirimkan kepada pihak di luar perusahaan. Biaya ini tidak akan muncul jika tidak ada
kerusakan/cacat pada produk. Contoh: bahan sisa, pengerjaan ulang, inspeksi ulang,
pengujian ulang, dan perubahan desain.
Biaya Kegagalan Eksternal (external failure cost)
Biaya yang terjadi jika barang dan jasa gagal atau tidak sesuai dengan spesifikasi atau
memuaskan pelanggan setelah produk dan jasa tersebut sampai di tangan pelanggan.
Contoh: biaya penarikan produk, kerugian penjualan, return, garansi, ketidakpuasan
pelanggan, hilangnya pangsa pasar, dll.
1.3 Mengukur Biaya Kualitas
Biaya kualitas dapat dilihat dari data yang tersedia dalam catatan akuntansi perusahaan
(observable costs), namun ada biaya-biaya kesempatan yang muncul sebagai akibat adanya
kualitas yang buruk dan tidak terdapat dalam catatan akuntansi (hidden costs). Ada tiga metode
yang dapat digunakan untuk mengestimasi biaya kualitas yang tersembunyi, yaitu:
Metode Multiplier (Multiplier Method)
Metode yang mengasumsikan bahwa biaya kegagalan total merupakan perkalian dari
beberapa biaya kegagalan.
Biaya kegagalan eksternal total = k (biaya kegagalan total yang terukur)
dimana k = efek pengganda.
Metode Penelitian Pasar (Market Research Method)
Metode ini menggunakan metode penelitian pasar yang formal untuk menilai
pengaruh kualitas yang rendah terhadap penjualan dan pangsa pasar. Misal: melalui
survey pelanggan dan wawancara dengan tenaga penjualan perusahaan.
Fungsi Kerugian Kualitas Taguchi (Taguchi Loss Function Function)
Metode ini mengasumsikan bahwa variasi dari suatu nilai target dalam suatu
karakteristik kualitas dapat menyebabkan biaya kualitas tersembunyi.
L(y) = k(y T)2
Dimana: k = konstanta terkait dengan struktur biaya kegagalan eksternal
y = nilai aktual dari karakteristik kualitas
T = nilai target dari karakteristik kualitas
L = kerugian atas kualitas

1.4

Pelaporan Informasi Biaya Kualitas


Pelaporan biaya kualitas dapat dilakukan dengan menilai biaya kualitas aktual dalam

periode yang bersangkutan. Informasi ini dapat dilihat dengan mudah melalui persentase biaya
kualitas terhadap penjualan aktual. Pencatatan secara rinci biaya kualitas berdasarkan
kategorinya dapat menunjukkan dua hal penting:
Besarnya biaya kualitas dalam setiap kategori memungkinkan manajer menilai dampak
keuangannya.
Distribusi biaya kualitas menurut kategori memungkinkan manajer menilai kepentingan
relatif dari masing-maisng kategori.
2. Pelaporan Biaya Kualitas
2.1 Laporan Biaya Kualitas
Pentingnya biaya kualitas terhadap segi keuangan perusahaan dapat dinilai lebih mudah
dengan menampilkan biaya biaya kualitas sebagai persentase dari penjualan aktual. Mengacu
pada prinsip yang berlaku umum, biaya kualita sebaiknya kuran dari 2,5 persen sehingga
memiliki kesempatan yang baik untuk meningkatkan laba dengan mengurangi biaya kualitas.
Akan tetapi, pengurangan biaya ini seharusnya melalui perbaikan kualitas. Pengurangan biaya
kualitas tanpa upaya peningkatan kualitas. Para manajer memiliki tanggung jawab dalam menilai
tingkat kualitas optimal dan menetapkan jumlah relatif yang seharusnya dikeluarkan untuk setiap
kategori. Ada dua pandangan mengenai biaya kualitas optimal, yaitu pandangan tradisional yang
mengacu pada pencapaian tingkat kualitas yang dapat diterima dan pandangan kotemporer yang
dikenal sebagai pengendalian kualitas total. Setiap pandangan menawarkan kepada para manajer
masukan pandangan tentang bagaimana biaya kualitas sebaiknya dikelola.

Berikut tampilan

laporan biaya kualitas.

2.2 Fungsi Biaya Kualitas : Pandangan Kualitas yang Dapat Diterima


Pandangan kualitas yang dapat diterima mengansumsikan terdapat perbandingan terbalik
antara biaya pengenda1ian dan biaya kegagalan. Ketika biaya pengenda1ian meningkat, biaya
kegagalan seharusnya menurun. Selama penurunan biaya kegagalan lebih besar daripada
kenaikan biaya pengendalian, perusahaan harus terus meningkatkan usahanya untuk mencegah
atau mendeteksi unit-unit yang tidak sesuai. Pada akhirnya, akan dicapai suatu titik di mana
kenaikan tambahan biaya dalam upaya tersebut menimbulkan biaya yang lebih besar daripada
penurunan biaya kegagalan. Titik ini mewakili tingkat minimum dan total biaya kualitas. Hal ini
merupakan perbandingan optimal antara biaya pengendalian dan biaya kegagalan, serta
mendefinisikan apa yang dikenal sebagai tingkat kualitas yang dapat diterima (acceptable
quality levelAQL). Diilustrasikan pada tampilan berikut :

Tampilan tersebut mengasumsikan dua fungsi biaya: satu untuk biaya pengendalian dan
satu untuk biaya kegagalan. Tampilan tersebut juga mengasumsikan persentase unit cacat
meningkat ketika biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan-kegiatan pencegahan dan penilaian
menurun. Di lain pihak, biaya kegagalan meningkat ketika jumlah unit cacat meningkat. Dari
fungsi total biaya kualitas, kita mengetahui total biaya kualitas turun ketika kualitas ditingkatkan
sampai titik tertentu. Setelah itu, tidak ada peningkatan lebih lanjut yang mungkin dilakukan.
Tingkat optimal unit cacat telah diidentifikasi dan perusahaan berupaya mencapainya. Tingkat
yang mengizinkan adanya unit cacat ini disebut tingkat kualitas yang dapat diterima (AQL).

2.3Fungsi Biaya Kualitas : Pandangan Cacat-Nol


Sudut pandang AQL didasarkan pada definisi produk cacat tradisional. Dalam pengertian
klasik, sebuah produk dikatakan cacat bila kualitasnva berada di luar batas toleransi suatu
karakteristik kualitas. Intinya, model cacat nol menyatakan keunggulan biaya akan diperoleh
dengan mengurangi unit cacat hingga nol. Perusahaan-perusahaan yang menghasilkan semakin
sedikit produk cacat akan menjadi lebih kompetitif relatif terhadap perusahaan yang meneruskan
penggunaan model AQL tradisional. Menurut pandangan kokoh, kerugian terjadi karena
diproduksinya produk yang menyimpang dari nilai target; semakin jauh penyimpangannya,
semakin besar pula nilai kerugiannya. Jadi, model kualitas kokoh memperketat definisi dari unit
cacat, menyempurnakan pandangan kita terhadap biaya kualitas, dan mengintensifkan upaya
perbaikan kualitas.
6

Bagi perusahaan yang beroperasi dalam lingkungan yang sangat kompetitif, kualitas
dapat memberikan keunggulan kompetitif yang penting. Jika pandangan kualitas kokoh benar,
maka perusahaan dapat mengapitalisasinya dengan menurunkan jumlah unit cacat (yang sesuai
dengan definisi secara kokoh) sambil menekan total biaya kualitas secara simultan.

2.4Sifat Dinamis Biaya Kualitas


Ketika perusahaan menambah biaya pencegahan dan penilaian serta menurunkan biaya
kegagalan, mereka selanjutnya dapat mengurangi biaya pencegahan dan penilaiannya. Sesuatu
yang pada awalnya tampak berbanding terbalik berubah menjadi pengurangan biaya permanen di
semua kategori biaya kualitas. Tampilan grafik biaya kualitas kontemporer berikut
memperlihatkan perubahan dalam hubungan biaya dan kualitas. Meskipun tampilan tersebut
menunjukkan fungsi total biaya kualitas konsisten dengan hubungan biaya kualitas yang
diuraikan, ada beberapa perbedaan utama. Pertama, biaya pengendalian tidak meningkat tanpa
batas ketika mendekati kondisi tanpa cacat. Kedua, biaya pengendalian dapat naik, kemudian
turun ketika mendekati kondisi tanpa cacat. Ketiga, biaya kegagalan dapat ditekan menjadi nol.

Strategi untuk menekan biaya kualitas cukup sederhana, yaitu :


1. Lakukan serangan langsung terhadap biaya kegagalan untuk memaksanya menuju
titik nol
2. Lakukan investasi pada kegiatan pencegahan yang tepat untuk menghasilkan
perbaikan
3. Kurangi biaya penilaian sesuai dengan hasil yang dicapai
4. Lakukan evaluasi secara berkelanjutan dan arahkan kembali upaya pencegahan untuk
mendapatkan perbaikan lebih lanjut.
Strategi ini didasarkan pada premis berikut:
7

1. Setiap kegagalan selalu ada akar penyebabnya


2. Penyebab dapat dicegah
3. Pencegahan selalu lebih murah

2.5Manajemen Berbasis Kegiatan dan Biaya Kualitas Optimal


Manajemen berbasis kegiatan (activity based management-ABM) mengklasifikasikan
berbagai kegiatan sebagai bernilai tambah dan tak bernilai tambah, serta hanya mempertahankan
kegiatan-kegiatan yang memberikan nilai tambah. Prinsip ini dapat diaplikasikan pada kegiatankegiatan yang berkaitan dengan kualitas. Kegiatan-kegiatan kegagalan, penilaian, dan biayabiaya terkait tidak menghasilkan nilai tambah maka harus dihilangkan. Kegiatan pencegahan
yang dilakukan secara efisien dapat diklasifiksikan sebagai kegiatan bernilai tambah dan perlu
dipertahankan.
Manajemen berbasis kegiatan (ABM) mendukung pandangan cacat nol robust mengenai
biaya kualitas. Tidak ada perbandingan terbalik optimal antara biaya pengendalian dan biaya
kegagalan; biaya kegagalan adalah biaya yang tidak menghasilkan nilai tambah sehingga harus
dikurangi sampai nol. Beberapa kegiatan pengendalian tidak menawarkan niali tambah sehingga
harus dihilangkan. Kegiatan pengendalian lainnya menghasilkan nilai tambah, tetapi mungkin
dijalankan dengan tidak efisien. Biaya yang disebabkan oleh kegiatan yang tidak efisien adalah
tak bernilai tambah. Jadi, biaya untuk kategori-kategori tersebut juga dapat dikurangi ke tingkat
yang lebih rendah.

2.6Analisis Tren
Laporan biaya kualitas menunjukkan jumlah dan distribusi biaya kualitas diantara keempat
kategori sehingga menunjukkan peluang untuk perbaikan kualitas. Setelah ukuran-ukuran
peningkatan kualitas ditentukan, hal penting yang harus dilakukan perusahaan adalah
menentukan apakah biaya kualitas telah berkurang sebagaimana yang direncanakan. Berikut
laporan tren kualitas multiperiode berupa grafik yang menggambarkan biaya kualitas sebagai
persentase dari penjualan, keseluruhan tren program kualitas dapat dinilai. Tahun pertama yang
digambarkan adalah tahun sebelum implementasi program perbaikan kualitas. Anggaplah
perusahaan telah mengalami hal-hal berikut.

Misalkan, pada tahun 2004 sebagai tahun 0, tahun 2005 sebagai tahun 1, dst. Grafik
trennya sebagai berikut :

Grafik menunjukkan terdapat tren yang tetap menurun pada biaya kualitas yang dinyatakan
sebagai persentase dari penjualan. Grafik tersebut juga menunjukkan bahwa perbaikan masih
sangat mungkin untuk dilakukan dalam jangka panjang. Pengetahuan tambahan bisa diperoleh
dengan membuat tren untuk setiap kategori kualitas. Anggaplah setiap kategori dinyatakan
sebagai persentase dari penjualan untuk periode waktu yang sama.

Grafik yang menunjukkan tren untuk setiap kategori diperlihatkan oleh grafik berikut. Kita
dapat melihat bahwa perusahaan berhasil mengurangi biaya kegagalan eksternal dan internal.
Uang yang digunakan untuk pencegahan lebih banyak (jumlahnya meningkat dua kali lipat).
Biaya penilaian meningkat, kemudian menurun. Perhatikan juga bahwa distribusi relatif dari
biaya telah berubah. Pada tahun 2004, biaya kegagalan adalah 80% dari total biaya kualitas
9

(0,16/0,20). Pada tahun 2008, biaya turun menjadi 35% dari biaya total (0,035/0,10). Potensi
untuk mengurangi biaya kualitas juga memengaruhi cara pengambilan keputusan. Manfaat
informasi biaya kualitas dalam pengambilan keputusan dan perencanaan tidak boleh dipandang
remeh.

3. Menggunakan Informasi Biaya Kualitas


Tujuan utama dari pelaporan biaya kualitas adalah untuk meningkatkan dan membantu
perencanaan manajerial, pengendalian dan pembuatan keputusan. Informasi biaya kualitas dapat
digunakan antara lain untuk:
Penentuan harga stratejik. Penggunaan informasi biaya kualitas dan pengimplementasian
total quality management membantu meningkatkan kualitas produk, pengurangan harga dan
membantu kelangsungan lini produk dalam jangka panjang.
10

Melakukan analisis produk baru. Dengan mengidentifikasi dan menganalisa perilaku biaya
kualitas secara terpisah, kita dapat membuat keputusan yang tepat terkait dengan pengurangan
biaya kualitas, siklus/perencanaan laba, dan pengambilan keputusan penting lainnya.
4. Produktivitas
Produktivitas berhubungan dengan memproduksi output secara efisien, secara khusus
berkaitan dengan output dan input yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Efisiensi
produksi total terjadi pada titik dimana satu dua kondisi terpenuhi:
Paduan input yang akan menghasilkan output tertentu; tidak ada satupun input yang
digunakan lebih dari yang diperlukan untuk menghasilkan output tersebut (efisiensi teknis).
Peningkatan efisiensi teknis terjadi jika digunakan input yang lebih sedikit untuk
menghasilkan output tertentu atau dengan menggunakan input yang sama dihasilkan output
yang lebih banyak.
Dari paduan yang memenuhi kondisi pertama, paduan yang memiliki biaya yang paling
rendahlah yang dipilih (efisiensi trade off input). Harga input menentukan proporsi relatif
masing-masing input yang harus digunakan sehingga pemilihan kombinasi input menjadi
penting.
4.1

Pengukuran Produktivitas

a) Pengukuran produktivitas parsial


Produktivitas parsial mengukur produktivitas untuk satu input pada suatu waktu.
Rasio produktivitas = output/input

Ukuran produktivitas operasional: ouput dan input diukur dalam kuantitas fisik.

Ukuran produktivitas keuangan: ouput dan input diukur dalam satuan uang.

b) Pengukuran produktivitas total


Produktivitas total mengukur produktivitas semua input pada suatu waktu.

Pengukuran produktivitas dengan menggunakan profil input (profil measurement).


Ukuran operasional seperti bahan baku dan tenaga kerja disajikan secara terpisah dan
dapat dibandingkan dari waktu ke waktu untuk menunjukkan perubahan produktivitas.

Pengukuran produktivitas yang berkaitan dengan laba (profit linked productivity


measurement). Perubahan laba dari waktu ke waktu dipengaruhi oleh perubahan
11

produktivitas. Untuk menghubungkan perubahan produktifitas dengan perubahan laba:


hitung biaya input yang seharusnya digunakan jika tidak ada perubahan produktivitas;
bandingkan biaya tersebut dengan biaya input actual; dan perbedaan biaya yang muncul
merupakan perubahan laba sebagai akibat dari perubahan produktivitas.
4.2

Komponen Pemulihan Harga


Selisih antara perubahan laba total dan perubahan produktivitas terkait dengan laba disebut

komponen pemulihan harga (price-recovery component). Komponen ini adalah perubahan


pendapatan dikurangi perubahan biaya input dengan asumsi tidak ada perubahan produktivitas.
Komponen pemulihan harga mengukur kemampuan perubahan pendapatan untuk menutupi
perubahan biaya input dengan asumsi tidak ada perubahan produktivitas.
4.3

Kualitas dan Produktivitas


Meningkatkan kualitas akan meningkatkan produktivitas, begitu pula sebaliknya. Karena

sebagian besar peningkatan kualitas mengurangi jumlah sumber daya yang digunakan untuk
memproduksi dan menjual output perusahaan, maka produktivitas akan meningkat. Peningkatan
kualitas biasanya akan tercermin dalam ukuran produktivitas. Namun, dimungkinkan suatu
kondisi perusahaan menghasilkan produk yang hanya memiliki sedikit kerusakan atau tidak ada
cacat sama sekali tetapi memiliki proses yang tidak efisien. Untuk meningkatkan efisiensi, proses
manufaktur hendaknya didesain ulang. Dengan proses yang efisien, akan dihasilkan lebih banyak
output dengan input yang lebih sedikit.
Untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas, saat ini banyak perusahaan yang
menawarkan gain sharing, yaitu insentif berupa kas yang diberikan kepada para manajer dan
karyawan jika target kualitas dan produktivitas terpenuhi.
5.

MENGUKUR BIAYA LINGKUNGAN


Organisasi bisnis saat ini memiliki minat tinggi untuk pengelolaan biaya lingkungan yang

memadai bahkan menjadikannya prioritas utama. Adapun alasan yang peningkatan minat
mengelola biaya lingkungan yaitu :
Di banyak negara, peraturan lingkungan meningkat dan semakin ketat. Hukuman untuk
pelanggaran tersebut biasanya berupa denda yang sangat besar. Namun biaya untuk
mematuhi peraturan tentang lingkungan juga cukup besar maka perlu dipilih metode yang
paling murah dalam memenuhinya.
12

Keberhasilan penyelesaian masalah lingkungan menjadi isu yang semakin kompetitif.


Penyelesaian masalah lingkungan tidak dapat dipisahkan dengan tujuan bisnis
perusahaan.
5.1

Manfaat Ekonefisiensi
Untuk memahami manajemen biaya lingkungan, kita perlu memahami konsep ekoefisiensi.

Pada intinya, ekoefisiensi menyatakan bahwa organisasi dapat menghasilkan barang dan jasa
yang lebih bermanfaat sambil secara bersamaan mengurangi dampak lingkungan yang negatif,
konsumsi sumber daya, dan biaya. Adapun tiga pesan penting yang terkadung dalam ekoefisiensi
antara lain perbaikan kinerja ekologi dan ekonomi dapat dan sudah seharusnya saling
melengkapi; perbaikan kinerja lingkungan seharusnya tidak lagi dipandang sebagai amal,
melainkan sebagai kebersaingan; serta ekoefisiensi adalah suatu pelengkap dan pendukung
pengembangan yang berkesinambungan. Contohnya Guilford Interface dari divisi Maine
membuat bahan yang digunakan untuk pembatas ruangan. Guilford bekerjasama dengan pabrik
daur ulang botol soda untuk membeli serat polister daur ulang yang secara kimia identik dengan
bahan yang asli.
Ekoefisiensi mengimplikasikan bahwa peningkatan efisiensi ekonomi berasal dari
perbaikan kinerja lingkungan. Beberapa penyebab dan insentif untuk ekoefisiensi diringkas pada
Gambar berikut.

Permintaan Pelanggan akan Produk yang Lebih Bersih

engurangan Biaya dan Keunggulan Bersaing

Pegawai yang Lebih Baik dan Produktivitas yang Leb


EKOEFISIENSI

Inovasi dan Peluang Baru

Biaya Modal yang Lebih Rendah dan Asuransi yang Leb

Keuntungan Sosial yang Signifikan sehingga Citra Perusahaan Menjadi Lebih Baik

Biaya lingkungan dapat merupakan persentase yang signifikan dari biaya operasional total.
Melalui manajemen yang efektif, banyak dari biaya-biaya ini yang dapat dikurangi atau
dihapuskan. Untuk melakukannya, diperlukan informasi biaya lingkungan yang menuntut
manajemen untuk mendefinisikan, mengukur, mengklasifikasikan, dan membebankan biaya
13

lingkungan kepada proses, produk dan objek biaya lainnya. Biaya lingkungan dilaporkan sebagai
sebuah kelompok terpisah agar manajer dapat melihat pengaruhnya terhadap profotabilitas
perusahaan.
5.2

Model Biaya Kualitas Lingkungan


Sebelum informasi biaya lingkungan dapat disediakan bagi manajemen, biaya-biaya

lingkungan harus didefinisikan. Ada banyak kemungkinan namun pendekatan yang menarik
adalah dengan mengadopsi definisi yang konsisten dengan model kualitas lingkungan total.
Kerusakan dianggap sebagai degradasi langsung dari lingkungan (misalnya polusi air dan udara)
atau degradasi tidak langsung (misal penggunaan bahan baku dan energi yang tidak perlu).
Biaya lingkungan juga dapat disebut biaya kualitas lingkungan. Biaya lingkungan adalah biaya
yang terjadi karena adanya kualitas lingkungan yang buruk atau karena kualitas lingkungan yang
buruk mungkin terjadi. Oleh karenanya biaya lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi empat
kategori:
Biaya pencegahan lingkungan (environmental prevention cost), yaitu biaya-biaya
untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah diproduksinya limbah dan/atau sampah
yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Contoh: biaya seleksi pemasok, seleksi
alat pengendali polusi, desain proses dan produk untuk mengurangi dan menghapus
limbah, training karyawan,
Biaya deteksi lingkungan (environmental detection cost), yaitu biaya-biaya untuk
aktivitas yang dilakukan untuk menentukan apakah produk, proses, dan aktivitas lainnya
telah memenuhi standar lingkungan yang berlaku atau tidak. Contoh: biaya audit aktivitas
lingkungan, pemeriksaan produk dan proses, pelaksanaan pengujian pencemaran,
pengukuran tingkat pencemaran.
Biaya kegagalan internal lingkungan (environmental internal failure cost), yaitu
biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan karena diproduksinya limbah, tetapi tidak
dibuang ke lingkungan luar. Jadi biaya kegagalan internal terjadi untuk menghilangkan
dan mengolah limbah dan sampah ketika dilakukannya produksi. Contoh: biaya
operasional peralatan pengurang/penghilang polusi, pengolahan dan pembuangan limbah
beracun, pemeliharaan peralatan, daur ulang sisa bahan.

14

Biaya kegagalan eksternal lingkungan (environmental external failure cost), yaitu


biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan setelah melepas limbah/sampah ke dalam
lingkungan.

Biaya kegagalan eksternal yang direalisasi (realized external failure cost),


yaitu biaya yang dialami dan dibayar oleh perusahaan. Contoh: biaya
membersihkan danau/tanah yang tercemar, penggunaan bahan baku dan energi
secara tidak efisien, hilangnya penjualan karena reputasi lingkungan yang buruk,
dan pembaruan tanah ke keadaan yang alami.

Biaya kegagalan ekternal yang tidak direalisasikan/biaya sosial (unrealized


external failure cost/social cost), yaitu biaya sosial yang disebabkan oleh
perusahaan tetapi dialami dan dibayar oleh pihak-pihak di luar perusahaan.
Contoh: hilangnya kegunaan danau sebagai tempat rekreasi karena pencemaran,
rusaknya ekosistem karena pembuangan sampah padat.

5.3

Laporan Biaya Lingkungan


Pelaporan biaya lingkungan menjadi penting jika perusahaan serius untuk memperbaiki

kinerja lingkungannya dan mengendalikan biaya lingkungannya. Pelaporan biaya lingkungan


menurut kategori memberikan dua hasil yang penting, yaitu:
Dampak biaya lingkungan terhadap profitabilitas.
Jumlah relatif yang dihabiskan untuk setiap kategori.
Dari sudut pandang praktis, biaya lingkungan akan menerima perhatian manajemen hanya
jika jumlahnya signifikan. Dalam kenyataannya, biaya lingkungan dapat secara signifikan
mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Laporan biaya juga menyediakan informasi yang
berhubungan dengan distribusi relatif dari biaya lingkungan.
5.4

Mengurangi Biaya Lingkungan


Biaya kegagalan lingkungan dapat dikurangi dengan berinvestasi lebih banyak pada

aktivitas-aktivitas pencegahan dan deteksi. Contohnya, Ford Motor Company telah membuat
komitmen untuk memperbaiki kinerja lingkungannya. Sebagai bagian dari keseluruhan
komitmen tersebut, Ford telah berusaha memperoleh sertifikat ISO 14001 bagi semua pabriknya
diseluruh dunia. Pabriknya di Jerman dan Inggris telah menerima sertifikat ini. Di pabrik yang

15

telah bersertifikat, Ford membuktikan dapat menghemat ratusan ribu dolar untuk biaya
lingkungan.
Dimungkinkan bahwa model pengurangan biaya lingkungan akan berperilaku serupa
dengan model biaya kualitas total, yaitu bahwa biaya lingkungan yang terendah diperoleh pada
titik kerusakan nol, sama seperti titik cacat nol pada model biaya kualitas total. Sudut pandang
ini tentunya sejalan dengan pemahaman ekoefisiensi. Ide yang mendasari pandangan kerusakan
nol adalah bahwa mencegah lebih murah daripada mengobati.
6.

MEMBEBANKAN BIAYA LINGKUNGAN


Produk dan proses merupakan sumber biaya lingkungan. Proses produksi dapat

menciptakan residu/limbah padat, cair dan gas yang selanjutnya dilepas ke lingkungan dan
berpotensi merusak lingkungan. Pengemasan juga merupakan sumber biaya lingkungan.
Misalnya di Amerika Serikat 30% dari semua limbah padat perkotaan merupakan bahan
kemasan. Setelah produk dijual, penggunaan dan pembuangannya oleh pelanggan juga dapat
mengakibatkan kerusakan lingkungan. Biaya lingkungan pasca pembelian (environmental
postpurchase cost) semacam ini sering kali ditanggung oleh masyarakat, dan bukan oleh
perusahaan, sehingga merupakan biaya sosial.
6.1

Biaya Produk Lingkungan


Biaya lingkungan dari proses yang memproduksi, memasarkan, dan mengirimkan produk

serta biaya lingkungan pascapembelian yang disebabkan oleh penggunaan dan pembuangan
produk merupakan contoh dari biaya produk lingkungan. Ada dua perhitungan yaitu :

Perhitungan biaya lingkungan penuh (full environmental cost) adalah pembebanan


semua biaya lingkungan, baik yang bersifat privat maupun sosial, ke produk. Perhitungan
biaya ini memerlukan pengumpulan data yang dihasilkan di luar perusahaan yaitu dari
pihak ketiga.

Perhitungan biaya privat penuh (full private costing) adalah pembebanan biaya privat
ke produk individual. Biaya lingkungan yang disebabkan oleh proses internal perusahaan
dibebankan ke produk. Biaya privat menggunakan data yang dihasilkan di dalam
perusahaan.

16

Pembebanan biaya lingkungan secara tepat dapat digunakan untuk mengetahui


profitabilitas suatu produk dan memungkinkan peluang perbaikan dalam desain produk, efisiensi
ekonomi, dan kinerja lingkungan.
6.2

Pembebanan Biaya Lingkungan Berbasis Fungsi


Penghitungan biaya berbasis fungsi membentuk suatu kelompok biaya lingkungan dan

menghitung tingkat/tarifnya dengan menggunakan penggerak tingkat unit seperti jumlah jam
tenaga kerja atau jam mesin. Biaya lingkungan dibebankan ke setiap produk berdasarkan
pemakaian jam tenaga kerja atau jam mesin. Pendekatan ini cukup memadai untuk produk yang
relatif homogen, namun untuk banyak produk yang bervariasi, pendekatan berbasis fungsi ini
dapat mengakibatkan distrorsi biaya, misalnya jika ternyata dari sekian banyak produk, hanya
satu jenis produk yang menghasilkan emisi maka biaya lingkungan seharusnya hanya
dibebankan pada produk yang bersangkutan.

6.3

Pembebanan Biaya Lingkungan Berbasis Aktivitas


Penghitungan berbasis aktivitas membebankan biaya ke aktivitas lingkungan dan kemudian

menghitung tingkat/tarif aktivitas. Tingkat ini digunakan untuk membebankan biaya lingkungan
ke produk yang menyebabkan biaya tersebut muncul atau berdasarkan penggunaan aktivitas.
Untuk perusahaan yang menghasilkan beragam produk, pendekatan berbasis aktivitas lebih tepat
digunakan.

7.

Penilaian Biaya Siklus Hidup


Biaya produk lingkungan dapat menunjukkan kebutuhan untuk meningkatkan pembenahan

produk perusahaan. Pembenahan produk meliputi praktik mendesain, membuat, mengolah, dan
mendaur ulang produk untuk meminimalkan dampak buruknya terhadap lingkungan. Untuk
meningkatkan pembenahan produk dilakukan penilaian siklus hidup (life cycle assessment), yaitu
pengidentifikasian pengaruh lingkungan dari suatu produk selama siklus hidupnya dan kemudian
mencari peluang untuk memperoleh perbaikan lingkungan. Penilaian biaya siklus hidup (life
cycle cost assessment), membebankan biaya dan keuntungan pada pengaruh lingkungan dan
perbaikan.
7.1

Siklus Hidup Produk


17

EPA mengidentiikasikan empat tahap dalam siklus hidup suatu produk meliputi:

ekstraksi sumber daya,


pembuatan produk,
penggunaan produk, serta
daur ulang dan pembuangan.

Sudut pandang siklus hidup semacam ini menggabungkan sudut pandang pemasok,
produsen dan pelanggan. Penilaian biaya siklus hidup merupakan bagian mendasar dari penilaian
siklus hidup. Penilaian biaya siklus hidup membebankan biaya ke dampak lingkungan dari
beberapa desain produk. Biaya ini adalah fungsi dari penggunaan bahan baku, energi yang
dikonsumsi, dan pelepasan ke lingkungan yang berasal dari manufaktur produk. Siklus hidup
produk diilustrasikan pada tampilan di bawah ini.

7.2

Tahapan Penilaian
Penilaian siklus hidup didefinisikan oleh tiga tahapan formal:
Analisis persediaan (inventory analysis): memberikan perincian bahan baku dan energi
yang dibutuhkan serta pelepasan ke lingkungan dalam bentu padat, cair, dan gas.

18

Analisis dampak (impact analysis): menilai pengaruh lingkungan dari beberapa desain
bersaing dan memberikan peringkat relatif/penilaian biaya dari pengaruh-pengaruh
tersebut.
Analisis perbaikan (improvement analysis): bertujuan untuk mengurangi dampak
lingkungan yang ditunjukkan oleh tahap persediaan dan dampak.
Penilaian biaya siklus hidup membebankan biaya ke dampak lingkungan dari beberapa
desain produk. Biaya ini adalah fungsi dari penggunaan bahan baku, energi yang dikonsumsi,
dan pelepasan ke lingkungan yang berasal dari manufaktur produk. Sebelum menilai
pembebanan produk ini, pertama-tama perrlu dilakukan analisis persediaan yang memberikan
perrincian bahan baku, energi, dan pelepasan ke lingkungan. Analisis ini dilakukan di sepanjang
siklus hidup produk. Setelah selesai, dampak keuangan dan operasional dapat dinilai dan
langkah-langkah dapat diambil untuk memperbaiki kinerja lingkungan. Langkah terakhir ini juga
disebut dengan analisis lingkungan.
8.

Akuntansi Pertanggungjawaban Lingkungan Berbasis Strategi


Sistem akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan strategi, menerjemahkan misi dan

strategi organisasi ke dalam tujuan operasional dan mengukur empat perspektif yang berbeda :
perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses, dan perspektif pembelajaran dan
pertumbuhan. Balanced scorecard adalah sistem manajemen strategis yang mendefinisikan
sistem akuntansi pertanggung jawaban berdasarkan strategi. Balanced scorecard menerjemahkan
misi dan strategi organisasi ke dalam tujuan operasional dan ukuran kinerja dalam empat
perspektif yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, dan
perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.
Perspektif keuangan menjelaskan konsekuensi ekonomi tindakan yang diambil dalam tiga
perspektif lain. Perspektif pelanggan mendefinisikan segmen pasar dan pelanggan dimana unit
bisnis akan bersaing. Perspektif proses bisnis internal menjelaskan proses internal yang
diperlukan untuk memberikan nilai pada pelanggan dan pemilik. Perspektif pembelajaran dan
pertumbuhan mendefinisikan kemampuan yang diperlukan oleh organisasi untuk memperoleh
pertumbuhan jangka panjang dan perbaikan.
Tujuan keseluruhan dari perbaikan kinerja lingkungan mengusulkan bahwa kinerja
perbaikan berkelanjutan untuk pengendalian lingkungan adalah yang paling sesuai. Dalam
kenyataanya, sebuah perspektif lingkungan kemungkinan adalah perspektif kelima dari kerangka
19

kerja Balanced Scorecard. Jika paradigma ekoefisiensi diterima, maka perspektif lingkungan
dapat diterima sebagai perspektif tambahan dalam Balanced Scorecard karena perbaikan kinerja
lingkungan dapat menjadi sumber dari keunggulan bersaing. Sistem manajemen lingkungan
berbasis strategi (strategic-based environmental management system) menyediakan kerangka
kerja operasional untuk memperbaiki kinerja lingkungan. Jadi, kerangka kerja balanced
scorecard menyediakan tujuan dan ukuran terpadu untuk mencapai keseluruhan tujuan dari
perbaikan kinerja lingkungan. Sementara itu Akuntansi Manajemen Lingkungan (Environmental
Management Accounting) menjelaskan mengenai persoalan pengukuran dari dampak-dampak
bisnis perusahaan ke dalam sejumlah unit moneter. Akuntansi Manajemen Lingkungan juga
dapat digunakan sebagai suatu tolak ukur dalam kinerja lingkungan
8.1

Perspektif Lingkungan
Perspektif lingkungan memiliki lima tujuan utama, yaitu:
(1) meminimalkan penggunaan bahan baku atau bahan yang masih asli;
(2) meminimalkan penggunaan bahan berbahaya;
(3) meminimalkan kebutuhan energi untuk produksi dan penggunaan produk;
(4) meminimalkan pelepasan limbah padat, cair, dan gas; dan
(5) memaksimalkan peluang untuk daur ulang.
Ada dua tema lingkungan yang terkait dengan bahan baku dan energi (tiga tujuan inti

pertama). Pertama, energi dan bahan baku yang digunakan tidak melebihi energi atau bahan baku
yang dibutuhkan. Kedua, harus dicari sarana untuk menghilangkan penggunaan bahan baku atau
energi yang merusak lingkungan. Ukuran kinerja harus mencerminkan kedua tema ini.
Tujuan inti keempat dapat direalisasikan dalam salah satu dari dua cara berikut :
Mengunakan teknologi dan metode untuk mencegah pelepasan residu, ketika diproduksi.
Menghindari produksi residu dengan mengidentifikasi penyebab dasar dan mendesain
ulang produk dan proses untuk menghilangkan penyebab-penyebabnya.
Dari kedua metode tersebut, metode yang kedua lebih disukai. Metode pertama mirip
dengan pemerolehan kualitas produk melalui pemeriksaan dan pengerjaan ulang (memeriksa
kualitas). Tujuan kelima menekankan konservasi sumber daya yang tdak dapat diperbarui
melalui penggunaan kembali. Daur ulang mengurangi permintaan untuk ekstraksi tambahan
bahan baku. Daur ulang juga mengurangi degradasi lingkungan dengan mengurangi pembuangan
sampah oleh pemakai akhir.
20

8.2

Peran Manajemen Aktivitas


Manajemen berbasis aktivitas menyediakan sistem operasional yang menghasilkan

perbaikan lingkungan. Aktivitas lingkungan diklasifikasikan sebagai aktivitas bernilai tambah


(value added) dan tidak bernilai tambah (nonvalue added). Kunci dari pendekatan lingkungan ini
adalah mengidentifikasi akar penyebab aktivitas tak bernilai tambah kemudian mendesain ulang
produk serta proses untuk meminimalkan dan akhirnya menghilangkan aktivitas tak bernilai
tambah tersebut.
8.3

Desain Lingkungan
Pendekatan desain khusus ini disebut desain untuk lingkungan (design for the

environment). Desain ini menyentuh produk, proses, bahan baku, energi, dan daur ulang. Dengan
kata lain, keseluruhan daur hidup produk dan pengaruhnya terhadap lingkungan harus
dipertimbangkan.
8.4

Ukuran Keuangan
Perbaikan keuntungan harus menghasilkan keuntungan keuangan yang signifikan. Hal ini

berarti bahwa perusahaan telah mencapai trade off yang menguntungkan antara aktivitas
kegagalan dan aktivitas pencegahan. Jika keputusan ekoefisien yang dibuat, maka total biaya
lingkungan harus terhapus bersamaan dengan perbaikan kinerja lingkungan. Hal ini bisa diukur
dengan menggunakan tren biaya lingkungan tak bernilai tambah dan tren total biaya lingkungan,
yaitu dengan:
mempersiapkan laporan biaya lingkungan yang tak bernilai tambah dari periode berjalan
dan membandingkannya dengan periode sebelumnya, atau
menghitung biaya lingkungan total sebagai persentase penjualan dan menelusuri nilai
ini selama beberapa periode.

REFERENSI :
Guan, Liming., Hansen, Don R., Mowen, Maryanne M. 2009. Cost Management: 6th Edition.
South-Western: Cengage Learning.

21

Hansen, Don R, and Mowen, Maryanne M. 2009. Managerial Accounting (Akuntansi


Manajerial). Jakarta : Salemba Empat

22