Anda di halaman 1dari 20

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA


Jl.Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk - Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU KEBIDANAN DAN GINEKOLOGI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CENGKARENG JAKARTA
Periode 11 Juli 2016 s/d 17 September 2016

Nama

: Grace Irene L. Toruan

NIM

: 11-2014-215

Dr pembimbing / penguji

: dr. Johanes Benarto, SpOG

tanda tangan

IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : Ny. S
Jenis kelamin : Perempuan
Tempat Tanggal lahir : Pandeglang, 05 Suku bangsa : Jawa
November 1980
Status perkawinan : Kawin
Pekerjaan : Buruh cuci baju
Alamat : Kedoya Selatan RT 015/001

Agama : Islam
Pendidikan : SD
G3P2A0

A. ANAMNESIS
Masuk RSUD Cengkareng pada tanggal : 19 Juli 2016, pukul 09.00 WIB
Diambil dari : autoanamnesis , Tanggal: 19 Juli 2016 ; jam: 16.00 WIB
Keluhan utama :
Keluar air per vaginam
Keluhan tambahan :
Mulas-mulas
Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien mengeluh keluar air dari kemaluan 7 jam SMRS. Air dirasakan mengalir cukup
banyak sehingga pasien terbangun dari tidur, jernih, tidak ada darah, tidak ada lendir,
tidak berbau. Pasien juga merasakan adanya mulas-mulas secara tiba-tiba, dan hilang
timbul sejak 3 jam lalu namun hanya sebentar kurang dari 5 menit. Gerak anak

dirasakan ada. Riwayat demam disangkal. Pasien mengaku memiliki sakit gigi yaitu
dari 3 gigi berlubang sejak 5 bulan terakhir dan sering merasakan meriang hilang
timbul sehingga mengkonsumsi obat anti nyeri. Pasien juga mengaku gatal di
selangakangan sejak 1 bulan ini terutama saat berkeringat. Riwayat keputihan
disangkal. Sehari sebelumnya pasien melakukan hubungan seksual. Pasien tidak
pernah mengalami trauma pada perutnya dan tidak pernah mengalami hal ini

sebelumnya.
Riwayat menstruasi

Menstruasi umur 14 tahun, siklus teratur setiap bulan, lamanya 3-4 hari tiap kali menstruasi.
Hari pertama haid terakhir: 17 Desember 2015
Taksiran persalinan: 24 September 2016

Riwayat perkawinan

Pasien menikah satu kali dengan suami sekarang selama 18 tahun

Riwayat kehamilan
No

Tahun

Tempat

Umur

Jenis

Jenis

BB

1.

persalinan
17 tahun

persalinan
Rumah

hamil
aterm

persalinan
spontan

kelamin
Laki-laki

3400

2.

7 tahun

sakit
Rumah

aterm

SC

Perempuan

3500

sakit

Kontrasepsi

(-) pil KB

(+) suntikan (7 tahun)

(-) IUD

(+) susuk KB (10 tahun)

(-) malaria
(-) disentri
(-) hepatitis
(-) wasir
(-) sifilis
(-) gonore
(-) penyakit pembuluh
(-) pendarahan otak
(-) psikosis
(-) tuberkulosis
(-) operasi sinusitis

(-) batu ginjal/saluran kemih


(-) burut ( hernia )
(-) batuk rejan
(+) campak
(-) alergi
(-) tumor
(-) demam rematik akut
(-) pneumonia
(-) gastritis
(-) batu empedu
(-) kecelakaan

(-) lain-lain
Penyakit Dahulu
(-) cacar
(-) cacar air
(-) difteri
(-) tifus abdominalis
(-) diabetes
(-) tonsilitis
(-) hipertensi
(-) ulkus ventrikuli
(-) ulkus duodeni
(-) neurosis
Lain-lain :

Riwayat keluarga
Umur ( tahun )

Kakek ( ayah )

Laki-laki

Kakek ( ibu )

Laki-laki

Sudah meninggal
Sudah meninggal

Nenek ( ayah )

Perempuan

Sudah meninggal

Nenek ( ibu )

Perempuan

Sudah meninggal

Ayah

Laki-laki

Sehat

Perempuan
-

Sehat
-

Ibu
Saudara
Anak-anak

Jenis kelamin

Keadaan kesehatan

Penyebab

Hubungan

meninggal
-

Ada kerabat yang menderita :


Penyakit
Alergi
Asma
Tuberkulosis
HIV
Hepatitis B
Hepatitis C
Hipertensi
Cacat bawaan
Ca vertebra
Lain-lain

ya

Tidak

Hubungan

Riwayat sosial:
Os merupakan kelompok masyarakat menengah ke bawah, dengan status pendidikan sedang.
Os tidak merokok, tidak menggunakan obat-obatan terlarang, tidak minum minuman keras.
ANAMNESIS SISTEM
Kulit
(-) bisul

(+) rambut

(-) keringat malam

(+) kuku

(-) kuning / ikterus

(-) sianosis
(-) lain lain

Saluran kemih / alat kelamin


(-) disuria

(-) kencing nanah

(-) stranguri

(-) kolik

(-) poliuria

(-) oliguria

(-) polakisuria

(-) anuria

(-) hematuria

(-) retensi urin

(-) kencing batu

(-) kencing menetes

(-) ngompol ( tidak disadari)


Ekstremitas
(-) bengkak pada kedua kaki

(-) deformitas

(-) nyeri

Berat badan
Berat badan rata-rata ( Kg) : 55 kg
Berat tertinggi kapan ( Kg) : 63 kg
Berat badan sekarang (Kg) : 60 kg
Tetap

(-)

Naik (+)

Turun

(-)

Pendidikan
(-) SD

(+) SLTP

(-) SLTA

(-) Sekolah Kejuruan

(-) Akademi

(-) Universitas

(-) Kursus

(-) Tidak Sekolah

Kesulitan
Keuangan

: tidak ada

Pekerjaan

: tidak ada

Keluarga

: tidak ada

B. PEMERIKSAAN JASMANI
Pemeriksaan umum
Tinggi badan

: 150 cm

Berat badan

: 60 kg

Tekanan darah

: 120/80

Nadi

: 88 x/menit

Suhu

: 37,0 Celcius

Pernapasan (frekuensi dan tipe) : 18 x/menit, thorako abdominal


Keadaan gizi

: baik

Kesadaran

: compos mentis

Sianosis

: tidak ada

Edema umum

: ada

Habitus

: piknitus

Cara berjalan

: baik, tidak pincang, tidak menyeret

Mobilisasi (aktif/pasif)

: aktif

Aspek kejiwaan
Tingkah laku

: wajar/gelisah/tenang/hipoaktif/hioeraktif

Alam perasaan

: biasa/sedih/gembira/camas/takut/marah

Proses pikir

: wajar/cepat/gangguan waham/fobia/obesesi

Kulit
Warna : sawo matang
Efloresensi: hiperpigmentasi dengan skuama halus dan tepi aktif + pada bagian cruris

Jaringan parut: tidak ada


Pigmentasi: + pada bagian perut
Pertumbuhan rambut: baik dan merata

Pembuluh darah: normal

Suhu raba: normal (37 Celcius)

Lembab/kering: lembab

Keringat: Umum

Turgor: baik
Ikterus: tidak ada

Lapisan lemak: merata, normal

Edema: tidak ada

Kepala
Mata : CA -/THT

: dalam batas normal

Mulut : Gangren radiks molar 2 kanan atas, molar 2 kiri atas dan molar kiri 2 kiri
bawah
Kelenjar getah bening
Submandibula: tidak membesar

Leher: tidak membesar

Supraklavikula: tidak membesar

Ketiak: tidak membesar

Lipat paha: tidak membesar


Dada
Bentuk: normal, tidak pectus excavatum, tidak pectus carinatum
Pembuluh darah: tidak ada
5

Buah dada: bersih, puting susu menonjol


Paru-paru
Inspeksi

Kiri

Depan
Belakang
bentuk dada normal, simetris saat bentuk dada normal, simetris saat statis
statis dan dinamis, sela iga tidak dan dinamis, sela iga tidak membesar,
membesar,

jenis

pernapasan jenis pernapasan torakoabdominal.

torakoabdominal.
Kanan

bentuk dada normal, simetris saat bentuk dada normal, simetris saat statis
statis dan dinamis, sela iga tidak dan dinamis, sela iga tidak membesar,
membesar,

jenis

pernapasan jenis pernapasan torakoabdominal.

torakoabdominal.
Palpasi

Kiri

Kanan

Perkusi
Auskultasi

sela

iga

tidak

fremitus

normal,

simetris
sela iga

tidak

fremitus

normal,

melebar,
gerakan
melebar,
gerakan

taktil sela iga tidak melebar, taktil fremitus


dada normal, gerakan dada simetris
taktil sela iga tidak melebar, taktil fremitus
dada normal, gerakan dada simetris

Kiri
Kanan
Kiri

simetris
sonor di seluruh lapang paru
sonor di seluruh lapang paru
bunyi
paru
vesikuler,

Kanan

terdengar ronkhi dan wheezing


ronkhi dan wheezing
bunyi
paru
vesikuler, tidak bunyi paru vesikuler, tidak terdengar

sonor di seluruh lapang paru


sonor di seluruh lapang paru
tidak bunyi paru vesikuler, tidak terdengar

terdengar ronkhi dan wheezing

ronkhi dan wheezing

Jantung
Palpasi
Ictus cordis: tidak teraba, simetris, bentuk dada normal
Perkusi

Batas atas: intercostal 2 parasternalis kiri

Auskultasi

Katup Mitral: intercostal 5 midclavicula kanan


Katup Pulmonal : intercostal 2 parasternalis kiri
Katup aorta : intercostal 2 parasternalis kanan
Katup trikuspid : intercostal 4 parasternalis kanan

Perut
Inspeksi

: buncit, striae gravidarum +

Palpasi

TFU pusat - proc. Xiphoideus (24 cm)


Leopold 1: Dibagian fundus teraba lunak dan tidak bulat
Leopold 2: Pada bagian kiri teraba bagian memanjang keras seperti papan, dan

pada bagian kanan teraba bagian bulat-bulat kecil


Leopold 3: Bagian terbawah janin teraba keras, dan bulat
Leopold 4: Konvergen
His : 2 x 10 menit selama 35 detik, sedang.
DJJ : 156 x/menit.

Taksiran berat janin (TBJ) = (24-12) x 155 = 1860 gram


Genitalia
Inspeksi

: bersih, berwarna livide

Colok Vagina :
Pembukaan 1 cm, portio tebal lunak, ketuban (-), kepala Hodge I.
Tungkai dan Kaki
Luka: tidak ada
Varises: tidak ada
Edema: tidak ada

LABORATORIUM RUTIN
Tanggal 19 Juli 2016 (pk 11.00)
Hematologi
Hemoglobin (Hb)

: 9,1 g/dL

Lekosit

: 10.400 ribu/uL

Hematrokit

: 29%

Trombosit

: 281.000 /uL

Masa perdarahan

: 130

Masa pembekuan

: 11

GDS

: 59 mg/dL

Urinalisa
Leukosit esterase

: +1
7

RINGKASAN (RESUME)
Anammnesis
Perempuan usia 36 tahun datang dengan keluhan keluar air mengalir dari vagina 7
jam SMRS. Keluarnya air tidak bisa ditahan dari kemaluan, berwarna jernih dan dan tidak
berbau. Pasien juga merasa mulas-mulas yang dirasakan secara tiba-tiba, hilang timbul, dan
frekuensi tidak teratur. Tidak ada demam. Saat ini adalah kehamilan ketiga pasien. Pasien
tidak pernah memiliki riwayat jatuh maupun trauma pada perutnya. Pasien mengaku memiliki
3 gigi berlubang dan sering merasakan meriang yang hilang timbul sejak 5 bulan lalu.

Pemeriksaan Fisik
Status generalis
Keadaan umum: sehat

Suhu: 37C

Tekanan darah: 120/80 mmHg

Abdomen: linea nigra +, striae gravidarum +

Nadi: 80x/menit
RR: 18x/menit
Status obstreticus
Inspeksi

: buncit, striae gravidarum +

Palpasi

TFU pusat - proc. xiphoideus


Leopold 1: Dibagian fundus teraba lunak
Leopold 2: Pada bagian kiri teraba bagian memanjang keras seperti papan, dan

pada bagian kanan teraba bagian bulat-bulat kecil


Leopold 3: Bagian terbawah janin teraba keras dan bulat
Leopold 4: Konvergen

His : 2 x 10 menit selama 35 detik, sedang.


DJJ : 156 x/menit.
Colok Vagina : Pembukaan 1 cm, portio tipis lunak, ketuban (-), kepala Hodge I.
Diagnosis kerja : G3P2A0 hamil preterm, janin tunggal, hidup, presentasi kepala, disertai
dengan ketuban pecah dini
Pemeriksaan yang dianjurkan :
1. Observasi
a. Tanda-tanda vital
8

b. CTG
c. Kemajuan persalinan
d. Cairan amnion yang keluar
Rencana pengelolaan :
1. Tirah baring
2. Antibiotik profilaksis :
Ampisillin 21 gr IV
Dexametason 4 x 6 mg IV
3. Jika diperlukan SC, siapkan kondisi ibu untuk sectio caesaria
Edukasi pasien
1. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien bahwa pasien harus di rawat inap agar
dapat diobservasi.
2. Pasien diharuskan tirah baring.
3. Menjelaskan kemungkinan untuk melahirkan secara sectio caesaria dikarenakan
ketuban pecah dini yang bisa mengancam keselamatan janin.
Prognosis
Ibu:

Ad vitamdubia ad bonam
Ad functionamdubia ad bonam
Ad sanationamdubia ad bonam

Follow up
Tanggal 20 Mei 2016 pk 21.00
S: Mulas-mulas sudah berkurang namun masih keluar cairan air jernih. Demam (-)
O:

TTV: 120/80, Nadi: 88 x/menit, Nafas: 20 x/menit, Suhu: 36,5 oC.


Pemeriksaan dalam : pembukaan 2 cm, ketuban utuh

A: G3P2A0 kehamilan 30 minggu, Ketuban Pecah Dini


P:

Rencana diagnostik:
Rencana edukasi: tetap tirah baring
Rencana terapi:
Clindamycin tab 2 x 300 mg
Asam mefenamat tab 3 x 500 mg
Dexametason IV 4 X 6 mg

Tanggal 21 Juli 2016 pkl 16.00

S: Mulas-mulas muncul kembali dan keluar cairan agak keruh. Demam (-), menggigil (-)
O:

TTV: 120/80, Nadi: 102 x/menit, Nafas: 20 x/menit, Suhu: 37,8oC.


CTG
:
Baseline
: 170-180
Akseleresasi : (+)

A: G3P2A0 kehamilan 30 minggu, Ketuban Pecah Dini


P:

Rencana diagnostik: Rencana edukasi: edukasi pasien bahwa akan dilakukan section cesarean
Rencana terapi: dilakukan section cesarean

Tanggal 22 Juli 2016 pk. 15.00


S: Nyeri luka operasi, demam (-), ASI +, cairan nifas + warna merah, jalan-jalan O:

TTV: 110/80, Nadi: 80 x/menit, Nafas: 20 x/menit, Suhu: 37 oC.


TFU: setinggi pusat, nyeri tekan +
Luka tertutup verband, rembes ,

A: Nifas hari pertama P3A0 post SC


P:

Rencana edukasi: motivasi ASI, diet TKTP, mobilisasi


Rencana terapi:
terapi lanjut
Cefotaxime Inj. 2 x 1
Deaxametasone IV 4 x 12 mg

Tanggal 23 Juli 2016 pk 07.00


S: Nyeri luka operasi, demam (-), ASI +, cairan nifas + warna merah, jalan-jalan +
O:

TTV: 120/80, Nadi: 80 x/menit, Nafas: 18 x/menit, Suhu: 36,5 oC.


TFU: setinggi pusat, nyeri tekan +
Luka tertutup verband, rembes
Lab: 10,5 g/dL, 30%, 11.000/mm3, 225.000/mm3

A: Nifas hari kedua P3A0 post SC


P:

Rencana diagnostik:-

10

Rencana edukasi: motivasi ASI, diet TKTP, mobilisasi, diizinkan pulang


Rencana terapi: terapi lanjut

Tanggal 24 Juli 2016 pk 07.00


S: Nyeri di bekas operasi masih terasa. Demam (-), ASI +, cairan nifas + warna merah, jalanjalan +, BAB dan BAK lancar
O:

TTV: 120/80, Nadi: 80 x/menit, Nafas: 18 x/menit, Suhu: 36,5 oC.


TFU: setinggi pusat, nyeri tekan +
Luka tertutup verband, rembes

A: Nifas hari ketiga P3A0 post SC


P:

Rencana diagnostik:Rencana edukasi: motivasi ASI, diet TKTP, mobilisasi, diizinkan pulang
Rencana terapi: terapi lanjut.

Tinjauan Pustaka
1. Definisi
Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya selaput korioamnion dalam kehamilan dan sebelum
onset persalinan berlangsung. Ketuban pecah dini jika terjadi pada kehamilan >37
minggu disebut PROM dan bila terjadi pada kehamilan < 37 minggu maka peristiwa
tersebut disebut KPD Preterm (PPROM = preterm premature rupture of the membranepreterm amniorrhexis.
Selaput ketuban yang membatasi rongga amnion terdiri atas amnion dan korion yang
sangat erat ikatannya. Lapisan ini terdiri atas beberapa sel seperti sel epitel, sel mesenkim,
dan sel trofoblas yang terikat erat dalam

matriks kolagen. Selaput ketuban berfungsi

menghasilkan air ketuban dan melindungi janin terhadap infeksi.

2. Etiologi
Penyebab KPD dapat bermacam-macam, diantaranya:
1. Serviks inkompeten
Serviks inkompeten menyebabkan dinding ketuban yang paling bawah mendapatkan
tekanan yang semakin tinggi. Serviks inkompeten adalah istilah untuk menyebut kelainan

11

pada otot-otot leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit
membuka ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang
semakin besar. Jika serviks memiliki suatu kelainan anatomi, atau ada laserasi sebelumnya
melalui ostium uteri atau merupakan suatu kelainan kongenital pada serviks sehingga
memungkinkan terjadinya dilatasi berlebihan tanpa perasaan nyeri dan mules dalam masa
kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti dengan penonjolan dan
robekan selaput janin serta keluarnya hasil konsepsi.2

Gambar 1. Inkompeten serviks pada saat persalinan2


2. Peninggian tekanan intra uterin
Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat menyebabkan
terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya :
a. Trauma : hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis
b. Gemelli
Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada kehamilan
gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya
ketegangan rahim secara berlebihan. Hal ini terjadikarena jumlahnya berlebih, isi
rahim yang lebih besar dan kantung (selaput ketuban ) relative kecil sedangkan
dibagian bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban
tipis dan mudah pecah.3
3. Makrosomia
Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan makrosomia
menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi dan menyebabkan
tekanan pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput ketuban, manyebabkan
12

selaput ketuban menjadi teregang, tipis, dan kekuatan membrane menjadi berkurang,
menimbulkan selaput ketuban mudah pecah.4
4. Hidramnion
Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >2000 mL. uterus dapat
mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramnion kronis adalah
peningaktan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur. Hidramnion akut,
volume tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami distensi nyata dalam
waktu beberapa hari saja.3,4
5. Kelainan letak
Kelainan letak misalnya lintang, sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu
atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah.4
6. Penyakit infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun ascenden dari vagina
atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD. Penelitian
menunjukkan infeksi sebagai penyebab utama ketuban pecah dini. Membrana
khorioamniotik terdiri dari jaringan viskoelastik. Apabila jaringan ini dipacu oleh
persalinan atau infeksi maka jaringan akan menipis dan sangat rentan untuk pecah
disebabkan adanya aktivitas enzim kolagenolitik. Infeksi merupakan faktor yang cukup
berperan pada persalinan preterm dengan ketuban pecah dini. Grup B streptococcus
mikroorganisme yang sering menyebabkan amnionitis.3,4
3. Epidemiologi
PROM terjadi pada sekitar 8 % sampai 10 % dari kehamilan, dan PPROM terjadi
pada 2 % sampai 4 % dari semua kehamilan tunggal dan 7 % sampai 20 % dari kehamilan
multipel. PPROM menjadi penyebab kelahiran.4

4. Patofisiologi
Secara umum disebabkan oleh kontraksi uterus dan peregangan berulang. Selaput ketuban
pecah karena pada daerah tertentu terjadi perubahan biokimia yang menyebabkan selaput
ketuban inferior rapuh, bukan karena seluruh selaput ketuban rapuh. Terdapat
keseimbangan antara sintesis dan degradasi ekstraselular matriks. Perubahan struktur,
jumlah sel, dan katabolisme kolagen menyebabkan aktivitas kolagen berubah dan
menyebabkan selaput ketuban pecah.
Faktor resiko ketuban pecah dini adalah:
-

Berkurangnya asam askorbik sebagai komponen kolagen

13

Kekurangan tembaga dan asam askorbik yang berakibat pertumbuhan struktur


abnormal karena antara lain merokok

Degradasi kolagen dimediasi oleh matriks metaloproteinase (MMP) yang dihambat oleh
inhibitor jaringan spesifik dan inhibitor protease. Mendekati waktu persalinan, keseimbangan
antara MMP dan TIMP-1 mengarah pada degradasi proteolitik dari matriks ekstraseluler dan
membran janin. Aktivitas degradasi proteolitik ini meningkat menjelang persalinan. Pada
penyakit periodintitis di mana terdapat peningkatan MMP, cenderung terjadi ketuban pecah
dini.
Selaput ketuban sangat kuat pada kehamilan muda. Pada trimester ketiga selaput ketuban
udah pecah. Melemahnya kekuatan selaput ketuban ada hubungannya dengan pembesaran
uterus, kontraksi rahim, dan gerakan janin. Pada trimester terakhir terjadi perubahan biokimia
pada selaput ketuban. Pecahnya ketuban pada kehamilan aterm merupakan hal fisiologis.
Ketuban pecah dini pada kehamilan prematur disebabkan oleh adanya faktor-faktor eksternal,
misalnya infeksi yang menjalar dari vagina. Ketuban pecah dini prematur sering terjadi pada
polihidramnion, inkompeten serviks, solusio plasenta.

5. Penegakan diagnosis
Penilaian awal dari ibu hamil yang datang dengan keluhan KPD aterm harus meliputi 3 hal,
yaitu konfirmasi diagnosis, konfirmasi usia gestasi dan presentasi janin, dan penilaian
kesejahteraan maternal dan fetal. Tidak semua pemeriksaan penunjang terbukti signifikan
sebagai penanda yang baik dan dapat memperbaiki luaran. Oleh karena itu, akan dibahas
mana pemeriksaan yang perlu dilakukan dan mana yang tidak cukup bukti untuk perlu
dilakukan.

Anamnesis dan pemeriksaan fisik (termasuk pemeriksaan spekulum)

KPD aterm didiagnosis secara klinis pada anamnesis pasien dan visualisasi adanya cairan
amnion pada pemeriksaan fisik. Dari anamnesis perlu diketahui waktu dan kuantitas dari
cairan yang keluar, usia gestasi dan taksiran persalinan, riwayat KPD aterm sebelumnya, dan
faktor risikonya. Pemeriksaan digital vagina yang terlalu sering dan tanpa indikasi sebaiknya
dihindari karena hal ini akan meningkatkan risiko infeksi neonatus. Spekulum yang
digunakan dilubrikasi terlebih dahulu dengan lubrikan yang dilarutkan dengan cairan steril
dan sebaiknya tidak menyentuh serviks. Pemeriksaan spekulum steril digunakan untuk

14

menilai adanya servisitis, prolaps tali pusat, atau prolaps bagian terbawah janin (pada
presentasi bukan kepala); menilai dilatasi dan pendataran serviks, mendapatkan sampel dan
mendiagnosis KPD aterm secara visual.
Dilatasi serviks dan ada atau tidaknya prolaps tali pusat harus diperhatikan dengan baik. Jika
terdapat kecurigaan adanya sepsis, ambil dua swab dari serviks (satu sediaan dikeringkan
untuk diwarnai dengan pewarnaan gram, bahan lainnya diletakkan di medium transport untuk
dikultur.
Jika cairan amnion jelas terlihat mengalir dari serviks, tidak diperlukan lagi pemeriksaan
lainnya untuk mengkonfirmasi diagnosis. Jika diagnosis tidak dapat dikonfirmasi, lakukan tes
pH dari forniks posterior vagina (pH cairan amnion biasanya ~ 7.1-7.3 sedangkan sekret
vagina ~ 4.5 - 6) dan cari arborization of fluid dari forniks posterior vagina. Jika tidak terlihat
adanya aliran cairan amnion, pasien tersebut dapat dipulangkan dari rumah sakit, kecuali jika
terdapat kecurigaan yang kuat ketuban pecah dini. Semua presentasi bukan kepala yang
datang dengan KPD aterm harus dilakukan pemeriksaan digital vagina untuk menyingkirkan
kemungkinaan adanya prolaps tali pusat.

Ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan USG dapat berguna untuk melengkapi diagnosis untuk menilai indeks cairan
amnion. Jika didapatkan volume cairan amnion atau indeks cairan amnion yang berkurang
tanpa adanya abnormalitas ginjal janin dan tidak adanya pertumbuhan janin terhambat (PJT)
maka kecurigaan akan ketuban pecah sangatlah besar, walaupun normalnya volume cairan
ketuban tidak menyingkirkan diagnosis. Selain itu USG dapat digunakan untuk menilai
taksiran berat janin, usia gestasi dan presentasi janin, dan kelainan kongenital janin.

Pemeriksaan laboratorium

Pada beberapa kasus, diperlukan tes laboratorium untuk menyingkirkan kemungkinan lain
keluarnya cairan/ duh dari vagina/ perineum. Jika diagnosis KPD aterm masih belum jelas
setelah menjalani pemeriksaan fisik, tes nitrazin dan tes fern, dapat dipertimbangkan.
Pemeriksaan seperti insulin-like growth factor binding protein 1 (IGFBP-1) sebagai penanda
dari persalinan preterm, kebocoran cairan amnion, atau infeksi vagina terbukti memiliki
sensitivitas yang rendah. Penanda tersebut juga dapat dipengaruhi dengan konsumsi alkohol.
Selain itu, pemeriksaan lain seperti pemeriksaan darah ibu dan CRP pada cairan vagina tidak
memprediksi infeksi neonatus pada KPD preterm.

2,3

15

6. Penatalaksanaan
Prinsip utama penatalaksanaan KPD adalah untuk mencegah mortalitas dan morbiditas
perinatal pada ibu dan bayi yang dapat meningkat karena infeksi atau akibat kelahiran
preterm pada kehamilan dibawah 37 minggu. Prinsipnya penatalaksanaan ini diawali dengan
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan beberapa pemeriksaan penunjang yang mencurigai tandatanda KPD. Setelah mendapatkan diagnosis pasti, dokter kemudian menatalaksana
berdasarkan usia gestasi. Hal ini berkaitan dengan proses kematangan organ janin, dan
bagaimana morbiditas dan mortalitas apabila dilakukan persalinan maupun tokolisis.
Terdapat dua manajemen dalam penatalaksanaan KPD, yaitu manajemen aktif dan
ekspektatif. Manajemen ekspektatif adalah penanganan dengan pendekatan tanpa intervensi,
sementara manajemen aktif melibatkan klinisi untuk lebih aktif mengintervensi persalinan.
Berikut ini adalah tatalaksana yang dilakukan pada KPD berdasarkan masing-masing
kelompok usia kehamilan.
A. Ketuban Pecah Dini usia kehamilan <24 minggu
Pada usia kehamilan kurang dari 24 minggu dengan KPD preterm didapatkan bahwa
morbiditas minor neonates seperti hiperbilirubinemia dan takipnea transien lebih besar
apabila ibu melahirkan pada usia tersebut dibanding pada kelompok usia lahir 36 minggu.
Morbiditas mayor seperti sindroma distress pernapasan dan perdarahan intraventrikular tidak
secara signifikan berbeda (level of evidence III). Pada saat ini, penelitian menunjukkan bahwa
mempertahankan kehamilan adalah pilihan yang lebih baik. (Lieman JM 2005)Ketuban
Pecah Dini usia kehamilan 24 - 34 minggu
Pada usia kehamilan antara 30-34 minggu, persalinan lebih baik daripada mempertahankan
kehamilan dalam menurunkan insiden korioamnionitis secara signifikan (p<0.05, level of
evidence Ib). Tetapi tidak ada perbedaan signifikan berdasarkan morbiditas neonatus. Pada
saat ini, penelitian menunjukkan bahwa persalinan lebih baik dibanding mempertahankan
kehamilan.
B. Ketuban Pecah Dini usia kehamilan 34-38 minggu
Pada usia kehamilan lebih dari 34 minggu, mempertahankan kehamilan akan meningkatkan
resiko korioamnionitis dan sepsis (level of evidence Ib). Tidak ada perbedaan signifikan

16

terhadap kejadian respiratory distress syndrome. Pada saat ini, penelitian menunjukkan
bahwa mempertahankan kehamilan lebih buruk dibanding melakukan persalinan.
KPD memanjang
Antibiotik profilaksis disarankan pada kejadian KPD preterm. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa administrasi antibiotic mengurangi morbiditas maternal dan neonatal dengan menunda
kelahiran yang akan memberi cukup waktu untuk profilaksis dengan kortikosteroid prenatal
memberikan efek. Pemberian co-amoxiclav pada prenatal dapat menyebabkan neonatal
necrotizing enterocolitis sehingga antibiotic ini tidak disarankan. Pemberian eritromisin atau
penisilin adalah pilihan terbaik. Pemberian antibiotik dapat dipertimbangkan digunakan bila
KPD memanjang (> 24 jam).
Medika mentosa

Frekuensi

Benzilpenisilin

1.2 gram

IV

Setiap 4 jam

Klindamisin (jika

600 mg

IV

Setiap 8 jam

sensitif penisilin)

Tabel 1.
Antibiotik
yang digunakan pada KPD > 24 jam

Magnesium
Untuk efek neuroproteksi pada PPROM
< 31 minggu bila persalinan diperkirakan
dalam waktu 24 jam
Kortikosteroid
Untuk menurunkan
distress pernapasan

risiko

Antibiotik
Untuk memperlama masa laten

MAGNESIUM SULFAT IV:


Bolus 6 gram selama 40 menit dilanjutkan infus 2 gram/
jam untuk dosis pemeliharaan sampai persalinan atau
sampai 12 jam terapi.

BETAMETHASONE:
12 mg IM setiap 24 jam dikali 2 dosis. Jika
sindrom betamethasone
tidak
tersedia,dapat
digunakan
deksamethason 6 mg IM setiap 12 jam dikali 4 dosis
AMPICILLIN 2 gram IV setiap 6 jam dan
ERYTHROMYCIN 250 mg IV setiap 6 jam selama 48
jam, diikuti dengan
AMOXICILLIN 250 mg PO setiap 8 jam selama 5 hari

17

dan
ERYTHROMYCIN 333 mg PO setiap 8 jam selama 5
hari
Jika alergi ringan dengan penisilin, dapat digunakan:
CEFAZOLIN 1 gram IV setiap 8 jam selama 48 jam dan
ERYTHROMYCIN 250 mg IV setiap 6 jam selama 48
jam diikuti dengan :
CEPHALEXIN 500 mg PO setiap 6 jam selama 5 hari
dan
ERYTHROMYCIN 333 mg PO setiap 8 jam selama hari
Jika alergi berat penisilin, dapat diberikan :
VANCOMYCIN 1 gram IV setiap 12 jam selama 48 jam
dan ERYTHROMYCIN 250 mg IV setiap 6 jam selama
48 jam diikuti dengan CLINDAMYCIN 300 mg PO
setiap 8 jam selama 5 hari
Tabel 2. Medikamentosa yang digunakan pada KPD

7. Komplikasi

Persalinan Prematur
Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten

tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah ketuban
pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu persalinan dalam 24 jam.Pada kehamilan kurang
dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.2-4

Infeksi
Resiko infeksi ibu dan anak meningkat pada ketuban pecah dini. Pada ibu terjadi

korioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis. Umumnya terjadi
korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada PPROM, infeksi lebih sering daripada aterm.
Secara umum insiden infeksi sekunder pada Ketuban Pecah Dini meningkat sebanding
dengan lamanya periode laten.7

Hipoksia dan Asfiksia


Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga

terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan
oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.1

Sindrom Deformitas Janin

18

Ketuban Pecah Dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat, kelainan disebabkan oleh kompresi muka dan anggota badan janin serta hipoplasi
pulmonary.7

Gambar 3. Deformitas Janin7

8. Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

Mencegah terjadinya infeksi pada traktus genatalia atau jika ada infeksi pada traktus
genitalia maka harus segera diobati.

Perhatikan keseimbangan nutrisi terutama suplement dan vitamin C.

Hindari peningkatan tekanan rongga abdomen yang tiba-tiba. Istirahat yang cukup.3

9. Prognosis
Diagnosis dan tindakan yang tepat dengan segera: prognosis baik. Diagnosis dan
tindakan yang lambat: prognosis buruk, mortalitas tinggi. Adapun pengaruh ketuban pecah
dini terhadap ibu dan janin adalah :
Prognosis ibu. Dapat terjadi infeksi intrapartum/dalam persalinan. Jika terjadi infeksi
dan kontraksi ketuban pecah maka bisa menyebabkan sepsis yang selanjutnya dapat
mengakibatkan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas. Selain itu dapat terjadi
infeksi puerperalis/ masa nifas,

dry labour/partus lama, perdarahan post partum,

meningkatkan tindakan operatif obstetri (khususnya SC).

Prognosis janin. Masalah yang dapat terjadi pada persalinan prematur diantaranya
adalahrespiratory distress sindrome, hypothermia, neonatal feeding problem, retinopathy
of premturity, intraventricular hemorrhage, necrotizing enterocolitis, brain disorder
(andrisk of cerebral palsy), hiperbilirubinemia, anemia, sepsis, prolaps funiculli/
penurunan tali pusat, hipoksia dan asfiksia sekunder (kekurangan oksigen pada bayi)
mengakibatkan kompresi tali pusat, prolaps uteri, dry labour/pertus lama, apgar score

19

rendah, ensefalopaty, cerebral palsy, perdarahan intrakranial,renal failure, respiratory


distress, sindrom deformitas janin. Dapat terjadi akibat oligohidramnion. Diantaranya
terjadi hipoplasia paru, deformitas ekstremitas dan pertumbuhan janin terhambat (PJT),
morbiditas dan mortalitas perinatal.

10. Penutup
Ketuban pecah dini (KPD) adalah situasi dimana membran ketuban pecah sebelum
adanya kontraksi persalinan yang terjadi karena tegangan yang diberikan ke membran
melebihi

resistensi

membran.

KPD

didiagnosis

dengan

pemeriksaan

inspekulo.

Penatalaksanaannya adalah dengan menginduksi persalinan, persalinan dapat dilakukan


pervaginam maupun dengan cara sectio caesar. Komplikasi yang paling sering terjadi pada
KPD adalah infeksi ibu dan janin, komplikasi dapat dicegah dengan cara pemberian
antibiotik dan melahirkan bayi dalam waktu 24 jam. Prognosis KPD pada kehamilan yang
aterm adalah ad bonam.

Daftar pustaka
1. Prawirohardjo S. Ilmu kebidanan. Edisi keempat. Jakarta:Bina Pustaka Sarwono
Prawiharohardjo;2008.h.677-81
2. Panduan Ketuban Pecah Dini. POGI. 2014
3. Preterm labour and birth. NICE guideline. Published: 20 November 2015.
nice.org.uk/guidance/ng25
4. Greentop Guideline No. 44. November 2006 I Minor amendment October 2010.
Royal College of Obstetricians and Gynaecologists

20