Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan memiliki
kurang lebih 1300 pulau (KP3K, 2010) dengan panjang pantai ke 3 di dunia yaitu
mencapai 95.181 Km2 (world resources institute,1998) serta luas wilayah laut 5,4
juta Km2 dari total luas teritorial Indonesia sebesar 7,1 juta Km 2 membuat
Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati termasuk didalamnya potensi besar
dalam sumber daya kelautan dan perikanan. Keberlimpahan kekayaan terserbut
tercermin dari adanya peningkatan produksi perikanan dari hasil pemanfaatan
sumber daya kelautan dan perikanan.
Wilayah pesisir merupakan wilayah peralihan daratan dan lautan yang
sangat kompleks, dimana terjadi pertemuan antara dua ekosistem yang saling
mempengaruhi yakni darat dan laut. Soegiarto dalam Dahuri (1996)
mendefinisikan wilayah pesisir sebagai kawasan peralihan (interface area) antara
ekosistem laut dan darat baik kering maupun terendam yang masih mendapat
pengaruh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, perembesan air laut
dengan ciri vegetasi yang khas. Kemudian kearah laut mencakup batas terluar dari
daerah paparan benua (continental shelf) dengan ciri perairan yang masih
dipengaruhi dengan proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi,
penggundulan hutan, dan pencemaran.
Wilayah pesisir dan lautan memiliki arti strategis karena merupakan
wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut, serta memiliki potensi sumber
daya alam dan jasa-jasa lingkungan yang sangat kaya. Namun,karakteristik laut
tersebut belum sepenuhnya dipahami dan diintegrasikan secara terpadu. Kebijakan
pemerintah yang sektoral dan bias daratan, akhirnya menjadikan lautan sebagai
kolam sampah raksasa. Dari sisi social ekonomi, pemanfaatan kekayaan laut
masih terbatas pada kelompok pengusaha besar dan pengusaha asing. Nelayan
sebagai jumlah terbesar merupakan kelompok profesi paling miskin di Indonesia.
Kekayaan sumber daya laut tersebut menimbulkan daya tarik dari berbagai pihak
untuk memanfaatkan sumberdayanya dan berbagai instansi untuk meregulasi
pemanfaatannya.

2
Sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia dengan garis
pantai sepanjang 81.000 km (terpanjang kedua setelah Kanada), Indonesia,
sebagian besar wilayahnya merupakan wilayah pesisir (Coastal Zone). Namun
sayang, adanya wilayah pesisir tersebut terdapat banyak masyarakat miskin yang
sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Masyarakat pesisir sendiri bukan hanya
nelayan, melainkan juga pembudidaya ikan, pengolah ikan, bahkan pedagang
ikan. Namun secara empiris di kalangan masyarakat pesisir itu sendiri, pelaku
ekonomi di subsistem produksi primer-nelayan dan pembudidaya ikan seringkali
menemui sejumlah masalah, misalnya ketidak adilan harga, keterbatasan
teknologi dan modal, terbatasnya SDM, terbatasnya akses sumberdaya, dan
lemahnya organisasi.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Adapun tujuan dan kegunaan dari praktik lapang di Desa Bunati yakni,
mahasiswa mampu melakukan perumusan strategi pengembangan desa pesisir
dengan analisis SWOT.
1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup praktek lapang di perairan Pantai Bunati adalah sebagai
berikut :
1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup praktek lapang kali ini adalah mencakup lokasi perairan
pesisir dan laut Desa Bunati Kecamatan Angsana Kabupaten Tanah Bumbu
dimana di sekitar tempat tersebut merupakan wilayah Pelabuhan khusus.
1.3.2. Ruang Lingkup Materi
Ruang lingkup praktik lapang kali ini adalah mencakup masyarakat dan
lokasi pesisir Desa Bunati Kecamatan Angsana Kabupaten Tanah Bumbu. Dimana
menitik beratkan pada materi mengidentifikasi faktor eksternal
dan internal dalam rangka perumusan strategi pengembangan
desa pesisir dengan analisis SWOT.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Ketahanan Masyarakat
Shatte dan Reivich (2002) mneyebutkan bahwa resilience adalah
kemampuan untuk berespon secara sehat dan produktif ketika menghadapi
rintangan atau trauma. Menurut Papalia,olds dan Feldman (2003) resilience
adalah sikap ulet dan tahan banting yang dimiliki seseorang ketika dihadapkan
dengan keadaan yang sulit.
Menurut Grotberg (1999) resilience adalah kemampuan manusia untuk
menghadapi, mengatasi, menjadi kuat ketika menghadapi rintangan dan hambatan.
Resilience bukan merupakan suatu keajaiban, tidak hanya ditemukan pada
sebagian manusia dan bukan merupakan sesuatu yang berasal dari sumber yang
tidak jelas. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk menjadi resilience dan
setiap orang mampu untuk belajar bagaimana menghadapi rintangan dan
hambatan dalam hidupnya.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa
resilience adalah kemampuan manusia untuk menghadapi dan mengatasi
rintangan, hambatan dan kesulitan dalam hidup sehingga individu tersebut
menjadi lebih kuat.
Menurut Dodman (2009:153) definisi ketahanan akan lebih tepat yaitu
suatu proses yang memungkinkan masyarakat tidak hanya mampu menghadapi
gangguan

tetapi

juga

mampu

menghadapi tantangan

yang

dapat

memperburuk kehidupan dan memfasilitasi lebih banyak tindakan untuk


meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Hal ini berarti masyarakat diharapkan memiliki kemampuan untuk
menghadapi gangguan ataupun tekanan dengan melakukan adaptasi untuk
meningkatkan ketahanan sosial ekonomi. Dari pengertian ketahanan diatas, maka
ketahanan memiliki empat komponen penting yaitu adaptasi, respon, organisir
diri dan pembelajaran yang dapat diambil (Sapirstein, 2007:5).

4
2.2 Ketahanan Sosial dan Ekonomi Masyarakat
Ketahanan masyarakat tidak hanya mengenai bagaimana cara untuk
menghadapi terjadinya

suatu

bencana

dan

mengatasi kerentanan

agar

masyarakat tetap dapat bertahan di lingkungan yang terkena bencana dalam


jangka pendek. Ketahanan memiliki beberapa komponen seperti perencanaan,
pencegahan,

penghindaran,

tindakan

mitigasi serta

reaksi

menghadapi

ancaman yang terjadi.


Ketahanan

masyarakat

pesisir

dalam menghadapi

bencana

dipengaruhi oleh perubahan sosial ekonomi masyarakat serta kualitas hidup


masyarakat.

Kondisi perekonomian

akan

mempengaruhi kemampuan

masyarakat dalam melakukan adaptasi terhadap bencana. Masyarakat dan


ekonomi menjadi unsur penting dari ketahanan karena berhubungan dengan
aktivitas

ekonomi

Ketahanan

dan

kehidupan

social merupakan

sosial (USAID

kemampuan

yang

ASIA,

dimiliki

2007:6-10).

oleh kelompok

masyarakat untuk menghadapi tekanan yang diakibakan oleh kondisi eksternal


serta gangguan yang terjadi karena adanya perubahan kondisi sosial, politik
dan lingkungan.

Ketahanan

sosial

didefinisikan pada

tingkat

komunitas

masyarakat dari pada tingkat individu. Sedangkan ketahanan ekonomi adalah


kemampuan

ekonomi

untuk kembali akibat adanya kesulitan ekonomi dan

kemampuan ekonomi untuk bertahan dari tekanan (Adger, 2000:349).


Menurut USSAID ASIA (2007:6-12) bahwa faktor sosial dan ekonomi
yang mempengaruhi ketahanan sosial ekonomi adalah jumlah pendapatan
yang dimiliki masyarakat, jenis usaha yang dimiliki di masa yang akan datang,
jumlah tabungan yang dimiliki oleh masyarakat untuk menghadapi bencana,
bantuan

pinjaman

kepada

lembaga keuangan

mikro

untuk

membantu

perekonomian masyarakat yang tidak mampu, adanya organisasi sosial yang


peduli terhadap lingkungan sehingga sering mengadakan kerja bakti dan lain-lain,
akses terhadap pendidikan dan kesehatan untuk membantu tingkat pendidikan
dan kesehatan masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi dan adanya
kebijakan pemerintah untuk membantu masyarakat mengurangi dampak dari
bencana yang terjadi.

5
2.3 Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah suatu bentuk analisis situasi dengan mengidentifikasi
berbagai faktor secara sistematis terhadap kekuatan-kekuatan (Strengths) dan
kelemahan-kelemahan (Weaknesses) suatu organisasi dan kesempatan-kesempatan
(Opportunities) serta ancaman-ancaman (Threats) dari lingkungan sekitar untuk
merumuskan strategi yang tepat bagi organisasi. Hal ini melibatkan penentuan
tujuan organisasi dan mengidentifikasi faktor-faktor internal serta eksternal yang
baik dan menguntungkan untuk mencapai tujuan itu. Metode SWOT ini dibuat
oleh Albert Humphrey, yang pada waktu itu (dasawarsa 1960-an dan 1970-an)
sedang memimpin proyek riset pada Universitas Stanford dengan menggunakan
data dari berbagai perusahaan. Analisis SWOT dibuat berdasarkan logika yang
dapat memaksimalkan peluang namun secara bersamaan dapat meminimalkan
kekurangan dan ancaman. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal
dan faktor internal organisasi.
a. Strengths (Kekuatan)
adalah segala hal yang dibutuhkan pada kondisi yang sifatnya internal organisasi
agar supaya kegiatan-kegiatan organisasi berjalan maksimal. Misalnya : kekuatan
keuangan, motivasi anggota yang kuat, nama baik organisasi terkenal, memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang lebih, anggota yang pekerja keras, memiliki
jaringan organisasi yang luas, dan lainnya.
b. Weaknesses (Kelemahan)
adalah terdapatnya kekurangan pada kondisi internal organisasi, akibatnya
kegiatan-kegiatan organisasi belum maksimal terlaksana. Misalnya ; kekurangan
dana, memiliki orang-orang baru yang belum terampil, belum memiliki
pengetahuan yang cukup mengenai organisasi, anggota kurang kreatif dan malas,
tidak adanya teknologi dan sebagainya.
c.

Opportunities (Peluang)

adalah faktor-faktor lingkungan luar yang positif,yang dapat dan mampu


mengarahkan kegiatan organisasi kearahnya. Misalnya ; Kebutuhan lingkungan
sesuai dengan tujuan organisasi, masyarakat lagi membutuhkan perubahan,
tingkat kepercayaan masyarakat terhadap organisasi yang bagus, belum adanya

6
organisasi lain yang melihat peluang tersebut, banyak pemberi dana yang
berkaitan dengan isu yang dibawa oleh organisasi dan lainnya.
d. Threats (Ancaman)
adalah faktor-faktor lingkungan luar yang mampu menghambat

pergerakan

organisasi. Misalnya : masyarakat sedang dalam kondisi apatis dan pesimis


terhadap organisasi tersebut, kegiatan organisasi seperti itu lagi banyak dilakukan
oleh organisasi lainnya sehingga ada banyak competitor atau pesaing, isu yang
dibawa oleh organisasi sudah basi dan lainnya (Surya , 2016).
Dapat disimpulkan bahwa analisis SWOT adalah perkembangan hubungan atau
interaksi antar unsur-unsur internal, yaitu kekuatan dan kelemahan terhadap
unsur-unsur eksternal yaitu peluang dan ancaman. Didalam penelitian analisis
SWOT kita ingin memproleh hasil berupa kesimpulan-kesimpulan berdasarkan
ke-4 faktor dimuka yang sebelumnya telah dianalisa :
a. Strategi Kekuatan-Kesempatan (S dan O atau Maxi-maxi)
Strategi yang dihasilkan pada kombinasi ini adalah memanfaatkan kekuatan atas
peluang yang telah diidentifikasi. Misalnya bila kekuatan perusahaan adalah pada
keunggulan teknologinya, maka keunggulan ini dapat dimanfaatkan untuk
mengisi segmen pasar yang membutuhkan tingkat teknologi dan kualitas yang
lebih maju, yang keberadaanya dan kebutuhannya telah diidentifikasi pada
analisis kesempatan.
b. Strategi Kelemahan-Kesempatan (W dan O atau Mini-maxi)
Kesempatan yang dapat diidentifikasi tidak mungkin dimanfaatkan karena
kelemahan perusahaan. Misalnya jaringan distribusi ke pasar tersebut tidak
dipunyai oleh perusahaan. Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah
bekerjasama dengan perusahaan yang mempunyai kemampuan menggarap pasar
tersebut. Pilihan strategi lain adalah mengatasi kelemahan agar dapat
memanfaatkan kesempatan.
c. Strategi Kekuatan-Ancaman (S atau T atau Maxi-min)
Dalam analisa ancaman ditemukan kebutuhan untuk mengatasinya. Strategi ini
mencoba mencari kekuatan yang dimiliki perusahaan yang dapat mengurangi atau
menangkal ancaman tersebut. Misalnya ancaman perang harga.
d. Strategi Kelemahan-Ancaman (W dan T atau Mini-mini)

7
Dalam situasi menghadapi ancaman dan sekaligus kelemahan intern, strategi
yang umumnya dilakukan adalah keluar dari situasi yang terjepit tersebut.
Keputusan yang diambil adalah mencairkan sumber daya yang terikat pada
situasi yang mengancam tersebut, dan mengalihkannya pada usaha lain yang lebih
cerah. Siasat lainnya adalah mengadakan kerjasama dengan satu perusahaan yang
lebih kuat, dengan harapan ancaman di suatu saat akan hilang. Dengan
mengetahui situasi yang akan dihadapi, anak perusahaan dapat mengambil
langkah-langkah yang perlu dan bertindak dengan mengambil kebijakankebijakan yang terarah dan mantap, dengan kata lain perusahaan dapat
menerapkan strategi yang tepat.

8
BAB III
METODE PRAKTIK
3.1 Waktu dan Tempat
Praktik lapang dilaksanakan pada hari Kamis Tanggal 28 April s.d 01
Mei 2016. Tempat Praktek Ketahanan Masyarakat Pesisir berlokasi di Desa
Bunati, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Adapun peta
lokasi dalam melakukan praktek dapat dilihat pada Gambar 3.1

Gambar 3.1

Peta lokasi praktek lapang di Desa Bunati

3.2 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktik lapang Ketahanan
Masyarakat Pesisir di Desa Bunati antara lain:
No
1.
2.
3.

Nama
Alat tulis
Kuisioner
Laptop

Fungsi
Mencatat hasil pengamatan
Mengumpulkan informasi sebagai bahan dasar
Mengolah data SWOT

9
3.3 Prosedur Kerja
Lokasi pengambilan data ketahanan masyarakat pesisir berada di Desa
Bunati dengan melakukan analisis SWOT menggunakan kuisioner. Adapun
langkah-langkah analisis data dilakukan sebagai berikut:
Melakukan pengklasifikasian data, faktor apa saja yang menjadi kekuatan
dan kelemahan sebagai faktor internal organisasi, peluang dan ancaman sebagai
faktor eksternal organisasi. Pengklasifikasian ini akan menghasilkan tabel
informasi SWOT.
1. Melakukan pengklasifikasian data, faktor apa saja yang menjadi kekuatan
dan kelemahan sebagai faktor internal organisasi, peluang dan ancaman
sebagai

faktor

eksternal

organisasi.

Pengklasifikasian

ini

akan

menghasilkan tabel informasi SWOT.


2. Melakukan analisis SWOT yaitu membandingkan antara faktor eksternal
Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threats) dengan faktor internal
organisasi Kekuatan (Strengths) dan Kelemahan (Weakness).
3. Dari hasil analisis kemudian diinterpretasikan dan dikembangkan menjadi
keputusan pemilihan strategi yang memungkinkan untuk dilaksanakan.
Strategi yang dipilih biasanya hasil yang paling memungkinkan (paling
positif) dengan resiko dan ancaman yang paling kecil.

10

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi
Desa Bunati merupakan desa nelayan yang memanjang dari timur ke barat,
sebelah utara berbatasan dengan Desa Karang Indah, sebelah barat berbatasan
dengan Desa Angsana, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan sebelah
timur dengan Muara Sebamban. Sebelah timur sungai desa merupakan
perkampungan nelayan. Mayoritas penduduk Desa Bunati berasal dari suku
Bugis, Banjar dan Jawa.
4.2 Identifikasi Faktor-Faktor Ekternal dan Internal
Faktor internal adalah faktor positif ataupun negatif yang dimiliki oleh
desa kluster yang berperan/berdampak dalam pengembangan dan pengelolaan
wilayahnya yang bersumber dari dalam desa itu sendiri.
Identifikasi Faktor Internal
Berdasarkan faktor internal terbagi atas dua yakni kekuatan yang
berpengaruh positif dan kelemahan yang berpengaruh negatif. Faktor kekuatan
yang menonjol dari hasil diskusi dan wawancara dengan masyarakat Desa Bunati
diantaranya adalah :
1. Adanya ekosistem pesisir yakni terumbu karang untuk komoditi pariwisata.
Berkembangnya aspek pariwisata dapat memberikan multiplayer effect
terhadap perekonomian kawasan tersebut. Sektor pariwisata juga berperan
sebagai sarana promosi dan publikasi daerah ke ruang yang lebih luas yang
akan membangkitkan minat investasi.
2. Potensi pengembangan budidaya ikan bandeng yang memiliki peran strategis
dalam meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi masyarakat desa Bunati.
Budidaya ikan bandeng cukup memiliki keunggulan karena lokasinya sesuai
dengan sebagian besar preferensi hidupnya seperti lingkungan fisik dan

11
biologi perairannya. Keunggulan lainnya adalah teknik pengerjaannya relatif,
biaya investasi rendah, masa panen yang singkat dan harga yang bersaing di
tingkat lokal dan regional.
Sedangkan faktor kelemahan yang menonjol dari keseluruhan yang tertera
di atas adalah :
1. Kondisi jalan yang rusak dan jumlahnya minim. Faktor ini merupakan aspek
yang vital dalam interaksi dan aktifitas masyarakat terutama berkaitan dengan
aspek sosial dan ekonomi. Tidak terpenuhinya sarana atau fasilitas ini secara
optimal dapat berdampak pada menurunkan kinerja dan kualitas hidup
masyarakat.
2. Tenaga medis di desa Bunati yang jumlahnya minim.
Kondisi ini merupakan suatu keterbatasan keadaan yang mengkhawatirkan.
Bagaimana tidak, kesehatan dan pendidikan merupakan hak paling esensial
bagi masyarakat. Pelayanan kesehatan yang buruk memberikan tekanan
psikologis kepada masyarakat akan harapan hidup yang rendah. Masyarakat
selalu dihantui oleh perasaan bagaimana menghadapi kondisi kesehatan yang
mengkhawatirkan. Belum lagi dengan aspek tingkat keselamatan dan
kesehatan ibu dan anak, karena penanganan terhadap golongan masyarakat ini
termasuk pelayanan darurat. Adapun keterbatasan pada sektor pendidikan akan
membawa pada semakin terbelakangnya kondisi sosial masyarakat tersebut.
Biasanya masyarakat terbelakang akan sulit menerima perubahan dari luar,
mudah dipermainkan atau terkena hasutan pihak lain serta efek negatif
sejenisnya yang berkaitan dengan rendahnya kesadaran dan pemahaman
mereka.
Identifikasi Faktor Eksternal
Faktor esksternal adalah faktor yang memberikan pengaruh dalam
pengembangan masyarakat yang sumbernya berasal dari luar masyarakat
itu.Faktor eksternal terbagi dua yakni peluang dan ancaman.
Diantara faktor peluang yang paling mengemuka dalam diskusi dan
wawancara dengan masyarakat adalah sebagai berikut :

12
1. Kegiatan hasil industri rumah tangga pengolahan hasil laut memiliki prospek
pengembangan yang baik.
Desa Bunati memiliki hasil industri rumah tangga pengolahan perikanan yang
cukup baik, dimana masyarakatnya mampu mengembangkan hasil olahannya
tersebut hingga dapat dipasarkan hingga keluar daerah. Keadaan tersebut
dapat meningkatkan aspek sosial dan ekonomi masyarakat Desa Bunati,
terlebih lagi dengan adanya alat pengelohanan hasil perikanan yang modern.
2. Potensi wilayah wisata
Sosialisasi atau publikasi kawasan pariwisata yang sudah mulai dikenal
merupakan modal penting dalam pengembangannya. Hal yang perlu
diciptakan adalah terus membangun image agar sektor pariwisata yang
dimiliki terus dijaga kondisinya serta menyiapkan fasilitas pendukung dalam
menunjang aktiifitas di dalamnya seperti infrastruktur, jasa layanan,
akomodasi dan sebagainya. Keberadaan obyek wisata dapat mendorong
berkembangnya sektor usaha perdagangan barang dan jasa.
Selanjutnya faktor ancaman yang mencuat pada desa klaster berhubugan
dengan kondisi lingkungan yang mulai mengalami gangguan terutama yang
berkaitan dengan komoditi unggulan daerah. Di antara faktor ancaman tersebut
adalah :
1. Kerusakan terumbu karang oleh debu dan tumpahan batu bara dari kawasan
pelabuhan khusus
Terumbu karang pada lokasi kluster merupakan asset penting untuk
kepentingan ekologis dan terutama untuk pariwisata. Rusaknya ekosistem ini
akan menghilangkan kemampuan daerah untuk mengembangkan sector
pariwisata sebagai komodoitas unggulan daerah. Di samping itu rusaknya
terumbu karang dapat menurunkan kapasitas perikanan tangkap dan kegiatan
bududaya seperti rumput laut, teripang dan kerapu karena pada kawasan
tersebut merupakan daerah yang subur.
2. Kurangnya hasil penangkapan
Hasil penangkapan ikan di kawasan laut Desa Bunati mengalami penurunan
setiap tahunnya, hal tersebut diduga terjadi karena adanya pengaruh dari
pelabuhan khusus (pertambangan batubara). Pengaruh tersebut berdampak

13
pada

sektor

perikanan

sehingga

berkurangnya

kelimpahan

akibat

terganggunya habitat hidupnya.dan menurunnya kualitas perairan.


4.3 Analisis Aspek-Aspek Perencanaan
Berdasarkan identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang telah
dilakukan, selanjutnya dilakukan evaluasi dari faktor tersebut menggunakan
matriks evaluasi internal (IFE) dan matriks evaluasi eksternal (EFE). Dalam
pelaksanaan evaluasi, dilakukan pembobotan dan penentuan peringkat (rating)
dari masing-masing faktor yang telah teridentifikasi.
Bobot faktor kritis internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor kritis
eksternal (peluang dan ancaman) diberikan oleh pakar menggunakan metode
perbandingan berpasangan Analitical Hierarchy Process. Demikian pula pakar
memberikan penilaian dalam penentuan peringkat setiap faktor internal dan
eksternal.
4.3.1 Evaluasi Faktor Internal
Matriks evaluasi faktor internal digunakan sebagai alat analisis terhadap
kekuatan dan kelemahan yang dimiliki sehubungan dengan pengembangan desa
klaster. Kepentingan relatif setiap faktor dalam menunjang keberhasilan
pengembangan ditunjukkan oleh bobot setiap faktor. Hasil pembobotan, peringkat
dan skor setiap faktor internal (kekuatan dan kelemahan) diperlihatkan pada Tabel
4.1 berikut.
Tabel 4.1. Matriks Evaluasi Faktor Internal (IFE) Pengembangan Desa Bunati
No
.
1
2
3
4
5
6

Faktor-Faktor Internal
Kekuatan
Tingginya kemauan untuk berusaha
Potensi pengembangan budidaya ikan
bandeng
Ekosistem pesisir dan laut untuk komoditi
pariwisata
Penduduk dominan usia produktif
Bantuan dana dari pihak swasta
Tingginya tingkat perhatian terhadap
kerusakan lingkungan

Bobot

Rating Skor

0,174

0,6957

0,022

0,0217

0,065

0,1957

0,109
0,152

3
2

0,3261
0,3043

0,022

0,0435

Sub total kekuatan

1,587

14

1
2
3
4
5
6

Kelemahan
Keterbatasan modal usaha
Kurangnya minat generasi muda menjadi
nelayan
Metode tidak modern (tradisional)
Harga ikan yang sangat murah
kondisi jaringan jalan yang rusak
tenaga medis di desa jumlahnya minim

0,152

0,1522

0,130

0,1304

0,065
0,043
0,043
0,022
Sub total
kelemahan

2
3
3
4

0,1304
0,1304
0,1304
0,0870
0,7609

Kekuatan faktor internal yang paling berpengaruh dalam menunjang


pengembangan Desa Bunati adalah faktor keunggulan tingginya kemauan untuk
berusaha. Faktor berikutnya yang juga berpengaruh adalah

factor penduduk

dominan usia produktif dan ekosistem pesisir dan laut untuk komoditi pariwisata.
Adanya ketiga faktor ini dapat berperan dalam mendorong pengembangan klaster
desa pesisir menjadi desa yang unggul pada masa yang akan datang.
Kelemahan terbesar dipengaruhi oleh dua faktor yakni keterbatasan modal
usaha dan kurangnya minat generasi muda menjadi nelayan. Kondisi di atas dapat
menghambat aktifitas masyarakat termasuk di dalamnya kegiatan ekonomi.
4.3.2 Evaluasi Faktor Eksternal
Matriks evaluasi faktor eksternal digunakan untuk mengetahui sejauh mana
kita dapat memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman yang ada pada
lingkungan eksternal. Pembobotan, peringkat dan skor setiap faktor eksternal
dipaparkan dalam matriks evaluasi faktor eksternal pengembangan desa klaster
sebagaimana tertera pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Matriks evaluasi faktor eksternal (EFE) pengembangan desa Bunati
No
.
Faktor-faktor Eksternal
Bobot
Rating Skor
Peluang
1 kurangnya persaingan antar nelayan
0,059
3 0,1765
Ketersediaan pasar untuk mendistribusikan
2 hasil produk
0,098
2 0,1961
3 Potensi wisata pantai
0,059
2 0,1176
Kegiatan hasil industri rumah tangga
pengolahan hasil laut memiliki prospek
4 pengembangan yang baik
0,118
3 0,3529
5 Ketersediaan lahan tambak untuk budidaya
0,059
2 0,1176

15

1
2
3
4
5

Ancaman
Kurangnya hasil penangkapan
Kualitas air yang mulai tercemar
konversi mata pencaharian dari nelayan
menjadi pegawai pabrik
kurangnya perhatian dari pemerintahan
kerusakan terumbu karang akibat kegiatan
pertambangan

Sub total
peluang

0,9608

0,137
0,137

1 0,1373
3 0,4118

0,157
0,118

2 0,3137
2 0,2353

0,059
Sub total
ancaman

3 0,1765
1,2745

Pada faktor eksternal, peluang terbaik yang harus dimanfaatkan sebagai


pemacu dalam menunjang pengembangan desa Bunati adalah faktor Kurangnya
persaingan antar nelayan dan kegiatan hasil industri rumah tangga pengolahan
hasil laut memiliki prospek pengembangan yang baik. Pemanfaatan peluang ini
dengan sebaik-baiknya akan sangat berperan besar dalam menggerakkan aktifitas
perekonomian di masyarakat sekaligus mendorong faktor-faktor posistif lainnya
untuk tumbuh bersama-sama.
Dari segi faktor ancaman, yang paling sulit dihadapi adalah faktor-faktor
yang berkaitan dengan kurangnya hasil penangkapan. Hal ini karena rusaknya
lingkungan dan kualitas perairan yang akan mematikan potensi desa yang
diharapkan dapat memperbaiki kualitas hidup masyarakat baik dari aspek sosial
maupun ekonominya.
4.3.3. Formulasi Strategi Pengembangan Desa Kluster
Pada formulasi strategi digunakan matriks SWOT untuk merumuskan
alternatif strategi pengembangan komoditas patin. Alternatif strategi diperoleh
dengan memadukan faktor-faktor internal dan eksternal. Dengan menggunakan
matriks SWOT akan diperoleh empat macam alternatif strategi yaitu :
1. Strategi S-O. Strategi S-O adalah strategi yang menggunakan kekuatan untuk
memanfaatkan peluang.
2. Strategi W-O . Strategi W-O adalah strategi yang meminimalkan kelemahan
untuk memanfaatkan peluang.
3. Strategi S-T. Strategi S-T adalah strategi yang menggunakan kekuatan untuk
mengatasi ancaman.

16
4. Strategi W-T. Strategi W-T adalah strategi yang meminimalkan kelemahan
untuk menghindari ancaman.
Penjabaran dari formulasi strategi pengembangan desa kluster ditunjukkan
pada Tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3. Matriks SWOT Analisis Strategi Pengembangan Desa Bunati
Faktor-faktor internal
1
2
3
4
5

Kekuatan (S)
Tingginya kemauan
untuk berusaha
Potensi pengembangan
budidaya ikan bandeng
Ekosistem pesisir dan
laut untuk komoditi
pariwisata
Penduduk dominan usia
produktif
Bantuan dana dari pihak
swasta

6 Tingginya tingkat
perhatian terhadap
kerusakan lingkungan

Kelemahan (W)
1 Keterbatasan modal usaha
2 Kurangnya minat generasi
muda menjadi nelayan
3 Metode tidak modern
(tradisional)
4 Harga ikan yang sangat
murah
5 Kondisi sarana dan
prasarana yang kurang
mendukung
6 Tenaga medis di desa
jumlahnya minim

Faktor- faktor eksternal


Peluang (O)
1 Kurangnya akses
ketersediaan
sumberdaya

Strategi (S-O)
1 Pemberian bantuan
berupa alat tangkap dan
alat pengolahan hasil
perikanan untuk
masyarakat
(S1,S4,O1,O4)
2 Ketersediaan pasar
2 Mengoptimalkan potensi
untuk mendistribusikan
pariwisata yang ada di
hasil produk
daerah pantai Bunati
(S3,O3)
3 Potensi wisata pantai
3 Meningkatkan fungsi
lahan tambak untuk
pengembangan budidaya
ikan (S2,O2,O4)
4 Kegiatan hasil industri
rumah tangga
pengolahan hasil laut
memiliki prospek

Strategi (W-O)
4 Mengembangkan metode
pengolahan perikanan yang
lebih modern (W3,O4)

5 Perbaikan sarana dan


prasarana untuk menunjang
kegiatan perekonomian di
desa Bunati (W5,O1,O3)

17
pengembangan yang
baik
5 Ketersediaan lahan
tambak untuk budidaya
Ancaman (T)
1 Kurangnya hasil
penangkapan

2 Kualitas air yang mulai


tercemar

Strategi (S-T)
Strategi (W-T)
6 Meningkatkan kesadaran 7 Meningkatkan perhatian
masyarakat untuk
pemerintah guna membantu
penanggulangan
modal usaha masyarakat
pencemaran perairan
(W1,T4)
(S3,S6,T2,T5)
8 Memperbaiki ekosistem
laut untuk meningkatkan
hasil penangkapan
(W2,T1,T5)

3 Konversi mata
pencaharian dari
nelayan menjadi
pegawai pabrik
4 Kurangnya perhatian
dari pemerintahan
5 Kerusakan terumbu
karang akibat kegiatan
pertambangan
4.4 Pengambilan Keputusan Strategi Kebijakan Prioritas
Dari beberapa alternatif strategi yang terbentuk (Tabel 3.3), diinput untuk
menentukan nilai daya tarik setiap set alternatif strategi. Setiap pakar memberikan
nilai daya tarik strategi dengan mempertimbangkan faktor kritis eksternal dan
internal. Menurut David (2001), nilai daya tarik ditetapkan dengan memeriksa
setiap faktor eksternal dan internal. Apabila faktor tersebut mempengaruhi
alternatif strategi yang akan ditetapkan, maka nilai daya tarik harus diberikan pada
setiap strategi untuk menunjukkan daya tarik relatif dari satu strategi atas strategi
yang lain, dengan mempertimbangkan faktor kritis tertentu.
Pengambilan keputusan dalam penentuan prioritas dari masing-masing
alternatif strategi yang telah terbentuk, dianalisis dengan menggunakan Matriks
Perencanaan Strategi Kuantitatif atau Quantitative Strategies Planning Matrix
(QSPM). Hasil penilaian untuk menentukan prioritas strategi pengembangan desa
Bunati Kabupaten tanah Bumbu, ditentukan dari nilai tertinggi berdasarkan

18
strategi yang paling menarik di antara alternatif strategi yang lain dengan nilai
total daya tarik tertinggi,sebagaimana disajikan pada Tabel 4.4 berikut.

19

Tabel 4.4. Matriks perencanaan strategi kuantitatif (QSPM) Strategi


Pengembangan Desa Bunati
Faktor
(Bobot x nilai daya tarik) Strategi ke-n (TAS)
Bobo
Internal/Eksterna
t
1
2
3
4
5
6
7
8
l
KEKUATAN (STRENGTHS)
Tingginya kemauan
0,69 0,52 0,52
0,34 0,34 0,52
untuk berusaha
0,174
6
2
2 0,696
8
8
2 0,348
Potensi
pengembangan
budidaya ikan
0,02 0,02 0,08
0,06 0,06 0,04
bandeng
0,022
2
2
7 0,065
5
5
3 0,043
Ekosistem pesisir
dan laut untuk
komoditi
0,13 0,26 0,06
0,26 0,19 0,13
pariwisata
0,065
0
1
5 0,065
1
6
0 0,130
Penduduk dominan
0,32 0,21 0,21
0,21 0,10 0,32
usia produktif
0,109
6
7
7 0,217
7
9
6 0,217
Bantuan dana dari
0,45 0,30 0,15
0,60 0,15 0,30
pihak swasta
0,152
7
4
2 0,457
9
2
4 0,304
Tingginya tingkat
perhatian terhadap
kerusakan
0,04 0,06 0,04
0,04 0,08 0,02
lingkungan
0,022
3
5
3 0,022
3
7
2 0,065
KELEMAHAN (WEAKNESSES)
Keterbatasan
0,30 0,60 0,60
0,60 0,45 0,30
modal usaha
0,152
4
9
9 0,609
9
7
4 0,457
Kurangnya minat
generasi muda
0,52 0,52 0,39
0,52 0,52 0,26
menjadi nelayan
0,130
2
2
1 0,522
2
2
1 0,391
Metode tidak
modern
0,06 0,26 0,19
0,13 0,26 0,13
(tradisional)
0,065
5
1
6 0,065
0
1
0 0,196
Harga ikan yang
0,17 0,17 0,17
0,08 0,13 0,08
sangat murah
0,043
4
4
4 0,087
7
0
7 0,130
Kondisi sarana dan
prasarana yang
0,17 0,08 0,08
0,04 0,08 0,17
kurang mendukung 0,043
4
7
7 0,130
3
7
4 0,130
Tenaga medis di
desa jumlahnya
0,08 0,06 0,08
0,04 0,06 0,06
minim
0,022
7
5
7 0,087
3
5
5 0,087
PELUANG (OPPORTUNITIES)
Kurangnya
persaingan antar
0,17 0,05 0,17
nelayan
0,059 0,118 0,118 0,118 0,176
6
9
6 0,059
Ketersediaan pasar
0,098 0,19 0,09 0,29 0,294 0,29 0,09 0,29 0,196
untuk
6
8
4
4
8
4

20

mendistribusikan
hasil produk
Potensi wisata
pantai
Kegiatan hasil
industri rumah
tangga pengolahan
hasil laut memiliki
prospek
pengembangan
yang baik
Ketersediaan lahan
tambak untuk
budidaya
Kurangnya hasil
penangkapan
Kualitas air yang
mulai tercemar
Konversi mata
pencaharian dari
nelayan menjadi
pegawai pabrik
Kurangnya
perhatian dari
pemerintahan
Kerusakan terumbu
karang akibat
kegiatan
pertambangan
Total Nilai Daya
Tarik (TAS)
Keterangan :

0,059

0,05
9

0,23
5

0,05
9 0,118

0,17
6

0,17
6

0,17
6 0,118

0,118

0,47
1 0,118

0,35
3 0,471

0,35
3

0,23
5

0,47
1 0,353

0,05 0,23
0,059 0,118
9
5 0,176
ANCAMAN (THREATS)
0,54 0,41 0,13
0,137
9
2
7 0,412
0,54 0,54 0,41
0,137
9
9
2 0,549

0,17
6

0,17
6

0,17
6 0,118

0,41
2
0,41
2

0,13
7
0,13
7

0,27
5 0,137
0,41
2 0,275

0,157

0,47
1

0,31
4

0,31
4 0,471

0,31
4

0,47
1

0,31
4 0,471

0,118

0,35
3

0,47
1

0,47
1 0,471

0,47
1

0,47
1

0,23
5 0,471

0,059

0,23
5

0,17
6
5,65
8

0,23
5 0,235 0,118
5,25
5,88
8 6,394
0

0,05
9
4,49
8

0,23
5 0,059
5,13
4 4,755

6,118

AS = Nilai daya tarik (attractive score)


TAS = Total nilai daya tarik (Total attractive score)
1, 2, 3, 8 adalah alternatif strategi sesuai urutan pada Tabel 3.3.

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 4.4 di atas, maka dapat
ditetapkan prioritas strategi pengembangan desa pesisir Bunati sesuai dengan nilai
TAS tertinggi. Dengan demikian strategi pengembangan kluster desa pesisir
mengacu pada skala prioritasnya sebagaimana yang ditunjukkan pada Tabel 4.5.

21

Tabel 4.5. Prioritas Allternatif Strategi Pengembangan Desa Bunati


Priorita
s
1
2
3
4
5
6
7
8

Alternatif Strategi

Nilai

Mengembangkan metode pengolahan perikanan


yang lebih modern
Pemberian bantuan berupa alat tangkap dan alat
pengolahan hasil perikanan untuk masyarakat
Perbaikan sarana dan prasarana untuk
menunjang kegiatan perekonomian di desa
Bunati
Mengoptimalkan potensi pariwisata yang ada di
daerah pantai Bunati
Meningkatkan fungsi lahan tambak untuk
pengembangan budidaya ikan
Meningkatkan perhatian pemerintah guna
membantu modal usaha masyarakat
Memperbaiki ekosistem laut untuk
meningkatkan hasil penangkapan
Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk
penanggulangan pencemaran perairan

6,394
6,118
5,880
5,658
5,258
5,134
4,755
4,498

4.5 Analisa Kawasan Prioritas Pengembangan


Kawasan prioritas pengembangan yang dimaksud adalah suatu kawasan
tertentu dalam klaster desa pesisir yang akan di jadikan sebagai sasaran prioritas
kegiatan pengembangan. Penentuan kawasan prioritas ini di dasarkan pada 3 (tiga)
pertimbangan utama yakni (1) kawasan tersebut memiliki modal dasar yang dapat
dijadikan titik tumbuh untuk dapat mendorong perkembangan ekonomi wilayah
klaster secara keseluruhan; (2) Wilayahnya cukup berkembang yang diindikasikan
dari ketersediaan sarana prasarana umum, khususnya sarana ekonomi, sarana
social dan sarana lingkungan, (3) Wilayahnya berprospek manjadi pusat
pertumbuhan, Indikatornya dilihat dari fungsi wilayah dalam pelayanan pada
skala lokal, atau merupakan kawasan strategis, Pengertian kawasan strategisi
disini dapat sebagai kawasan strategis dilihat dari posisinya yang strategis
(misalnya merupakan daerah simpul dalam system transportasi) atau strategis
berdasarkan arahan kebijakan daerah untuk dijadikan kawasan strategis tertentu.
Kriteria-kriteria tersebut selanjutnya di beri bobot dan skor. Total skor terbesar
merupakan

wilayah

yang

akan

dijadikan

sebagai

kawasan

perioritas

22

pengembangan. Adapun skor dan bobot masing-masing wilayah di Kalster desa


pesiir Kotabaru terlihat pada Tabel 4.5 berikut.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan analisis data SWOT antara faktor eksternal Peluang dan
Ancaman dengan faktor internal organisasi Kekuatan dan Kelemahan
didapatkan delapan alternatife strategi yang dapat diterapkan di Desa Bunati
yakni :
(1) Mengembangkan metode pengolahan perikanan yang lebih modern
(2) Pemberian bantuan berupa alat tangkap dan alat pengolahan hasil
perikanan untuk masyarakat
(3) Perbaikan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan perekonomian
di desa Bunati
(4) Mengoptimalkan potensi pariwisata yang ada di daerah pantai Bunati
(5) Meningkatkan fungsi lahan tambak untuk pengembangan budidaya ikan
(6) Meningkatkan perhatian pemerintah guna membantu modal usaha
masyarakat
(7) Memperbaiki ekosistem laut untuk meningkatkan hasil penangkapan
(8) Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk penanggulangan pencemaran
perairan.
2. Diantara delapan alternatife strategi yang paling memungkinkan untuk
diterapkan di Desa Bunati adalah alternatife strategi yang pertama tentang
pengembangan metode pengolahan perikanan yang lebih modern, strategi ini
dipilih karena memiliki nilai peluang yang besar dan ancaman yang kecil
diantara strategi yang lain.
5.2 Saran
Laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu dibutuhkan kritik
dan saran sebagai masukan untuk penulis guna memperbaiki segala kekurangan
yang ada pada penulisan ini. Dalam praktek berikutnya agar lebih terlaksana
dengan baik sehingga data yang diperoleh lebih baik pula. Sehingga diperlukan
kerjasama dalam menganalisis data dan kejelasan pembagian tugas antar
praktikan.

23

24

PERUMUSAN STRATEGI PENGEMBANGAN DESA PESISIR


BUNATI KABUPATEN TANAH BUMBU MENGGUNAKAN
ANALISIS SWOT

LAPORAN KETAHANAN MASYARAKAT PESISIR

RIESKA PARAMITA N.P


G1F113024

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2016