Anda di halaman 1dari 2

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Bali merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia, Bali memiliki karakteristik seni
dan budaya yang menarik. Oleh sebab itu Bali tetap menarik bagi wisatawan untuk dikunjungi dan
melihat kepaduan estetika budaya yang diilhami oleh sebuah frame (bingkai) Hinduisme. Tetapi
mulai tahun 2008 Bali mengalami permasalahan tentang Zona Merah Rabies. Dimana Zona Merah
Rabies merupakan ancaman tersendiri bagi Pulau yang di juluki sebagai Pulau Seribu Pura tersebut.
Bahkan terdapat Kawasan Pariwisata sekaligus Kesenian yang masih rawan Rabies.
Pulau Bali memiliki beberapa daerah pariwisata sekaligus kesenian salah satunya berada di
Kabupaten Klungkung. Kabupaten klungkung merupakan kabupaten terkecil di Pulau Bali. Kasus
rabies pun sudah sampai pada Kabupaten ini dan tepatnya menyerang kawasan desa pariwisata
sekaligus kesenian. Desa kamasan yang terkenal dengan seni lukisan tradisional wayang kulit Bali ini
sudah dalam katagori Zona Merah Rabies. Pada tahun 2015 sudah terjadi kasus dimana tiga orang
warga yang tergigit anjing positif rabies dan korban tersebut langsung diberikan penanganan berupa
suntikan vaksin VAR. Sampai saat ini masih ada anjing dan kucing liar yang berkeliaran d lingkungan
perumahan warga. Penyebab terjadinya kasus rabies d kawasan Desa Kamasan ini adalah tidak
adanya perhatian dari masyarakat setempat terhadap lingkungan disekitarnya dan kurangnya
pemahaman mengenai penyakit rabies. Jika ini terus dibiarkan akan menjadi dampak negatif untuk
pariwisata di Desa Kamasan.
Muncul wacana untuk membuat aturan agar anjing tidak boleh berkeliaran. Pendekatan yang
digunakan melalui program edukasi kepada masyarakat mengingat Rabies bukanlah masalah anjing
semata, tetapi berkaitan erat dengan prilaku manusia. Tentunya keberhasilan pemberantasan Rabies di
kawasan pariwisata sekaligus kesenian ini akan sangat bergantung kepada tingkat kesadaran
masyarakat. Diperlukan adanya perubahan prilaku yang membuat masyarakat dapat menerima dan
mematuhi berbagai kewajiban sesuai aturan yang berlaku seperti mengandangkan anjingnya, menjaga
kesehatannya serta memberikan vaksinasi secara rutin. Namun hasilnya akan terasa dalam jangka
panjang. Mengubah perilaku masyarakat agar menjadi pemilik anjing yang bertanggung jawab
bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan sosialisasi secara rutin dan kontinu untuk membangun
kesadaran masyarakat.
Selain vaksinasi dan edukasi, tindakan pemusnahan anjing (eliminasi) masih dapat diterima
dengan mempertimbangkn bahwa penyelamatan jiwa manusia adalah prioritas utama. Meskipun
demikian, eliminasi anjing liar harus tetap mengikuti kaidah kesejahteraan hewan (animal welfare)
sehingga tidak menimbulkan rasa sakit atau penderitaan pada hewan. Organisasi Kesehatan Hewan
Dunia (OIE) telah memberikan rambu-rambu bahwa eliminasi anjing harus dilaksanakan dengan
cara-cara yang paling praktis, cepat dan manusiawi serta memastikan keselamatan operatornya.
Metode yang dapat dipilih diantaranya melalui pengendalian reproduksi anjing atau kucing dengan
cara sterilisasi atau kastrasi, penangkapan anjing liar, bahkan euthanasia.
Dalam dunia kedokteran hewan pun sudah di tanamkan mengenai semboyan yang berbunyi
manusya Mriga Satwa Sewaka yang artinya Kesejahteraan Manusia Melalui Keseshatan Hewan.
Peran dokter hewan sendiri sangatlah membantu dalam mengatasi penyakit zoonosis yang sudah
tersebar. Kasus rabies ini juga merupakan penyakit zoonosis karena pengertian dari zoonosis sendiri
adalah infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan manusia atau sebaliknya.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.2.1 Kurangnya perhatian masyarakat tentang pentingnya kawasan Pariwisata sekaligus Kesenian
yang terhindar dari Rabies.
1.2.2 Kawasan Desa Pariwisata sekaligus Kesenian yang harus mendapatkan rasa nyaman dan
terhidar dari rasa takut akan penyebaran kasus Rabies.
1.2.3 Mengenalkan cara dan upaya pencegahan penyebaran Rabies kepada masyarakat di Desa
Pariwisata sekaligus Kesenian mulai dari anak-anak hingga orang tua.
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
1.3.1 Untuk meningkatkan kepedulian generasi sekarang akan kondisi di lingkungan tempat tinggal
mereka.
1.3.2 Untuk meningkatkan kepedulian generasi sekarang mengenai kawasan Desa Pariwisata dan
Kesenian yang bebas dari rasa takut karena Rabies.
1.3.3 Untuk memerikan bekal pengetahuan tentan bahayanya Rabies dan cara mencegah terjadinya
rabies di Kawasan Pariwisata sekaligus Kesenian.
1.4 Luaran Yang Diharapkan
Adapun luaran yang diharapkan dari penulisan ini adalah sebuah hasil dimana masyarakat mampu
mencegah terjadinya kasus Rabies di kawasan pariwisata dan kesenian sekaligus mereka mampu
memberikan rasa nyaman kepada para wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut. Hal ini dapat
kita lihat dari seberapa mampunya masyarakat di Desa Kamasan memahai pengertian rabies, dampak
yang ditimbulkan dari kasus rabies, dan cara menanggulangi kasus rabies agar tidak sampai masuk ke
kawasan pariwisata dan kesenian tersebut. Sehingga selain masyarakat di Desa tersebut mendapat
ilmu mereka juga dapat tetap melestarikan kesenian yang sudah turun temurun.
1.5 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
1.5.1 Bagi Masyarakat Sasaran
Diharapkan dapat menggugah kesadaran masyarakat di Bali khususnya di Desa Kamasan,
Kabupaten Klungkung akan pentingnya kawasan pariwisata dan kesenian yang terbebas dari
kasus Rabies sehingga wisatawan yang akan berkunjung kesana tidak merasa takut akan isu kasus
Rabies.
1.5.2 Bagi Pelaksana
Dapat memberikan ilmu pengetahuan mengenai pejelasan rabies, dampak yang terjadi dari kasus
rabies, dan cara menanggulangi atau mengatasi kasus rabies.
1.5.3 Bagi Pemerintah
Dapat membantu Desa Kamasan, Kabupaten Klungkung agar terhindar dari kasus Rabies.