Anda di halaman 1dari 2

Kelompok 4

Sintha Nur Fitriani 260110160081


Fajra dinda crendhuty 260110160056
Judul
Sistem hukum Indonesia merupakan perpaduan beberapa sistem hukum.
Sistem hukum Indonesia merupakan perpaduan dari hukum agama, hukum adat,
dan hukum negara eropa terutama Belanda sebagai Bangsa yang pernah menjajah
Indonesia. Belanda berada di Indonesia sekitar 3,5 abad lamanya. Maka tidak
heran apabila banyak peradaban mereka yang diwariskan termasuk sistem hukum.
Bangsa Indonesia sebelumnya juga merupakan bangsa yang telah memiliki
budaya atau adat yang sangat kaya. Indonesia merupakan negara dengan
penduduk muslim terbesar maka tidak heran apabila bangsa Indonesia juga
menggunakan hukum agama terutama Islam sebagai pedoman dalam kehidupan
dan juga menjadi sumber hukum Indonesia.
Jika penegakan hukum di Indonesia tetap berlangsung seperti saat ini
kedepan, maka sama saja Negara Indonesia tidak memiliki hukum. Ditambah lagi
penegakan hukum di Indonesia cenderung berat sebelah. Orang biasa yang
ketahuan melakukan tindak pencurian kecil langsung ditangkap dan dijebloskan
ke penjara. Sedangkan seorang pejabat negara yang melakukan korupsi uang
milyaran milik negara dapat berkeliaran dengan bebasnya. Darisana kita bisa lihat
bahwa yang menang yang mempunyai kekuasaan, yang mempunyai uang banyak
pasti aman dari gangguan hukum walau aturan negara dilanggar.
Sebagai contoh misalnya kasus korupsi mantan Gubernur Banten Ratu
Atut Chosiyah yang hanya dijatuhi hukuman 4 tahun penjara dan denda 200 Juta
rupiah. Ratu Atut telah melakukan suap kepada mantan Ketua Mahkamah
Konstitusi (MK) Akil Mochtar sebesar 1 Milyar Rupiah untuk memenangkan
gugatan yang diajukan pasangan Amir Hamzah dan Kasmin. Bandingkan dengan
kasus seorang nenek yang mencuri singkong karena kelaparan dan dijatuhi
hukuman 2,5 tahun penjara. Rasanya sangat tidak adil melihat kedua kasus ini.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan hukum di Indonesia masih


dikatakan tidak adil yaitu: Adanya transaksi dalam penegakkan hukum di
Indonesia, Moral penegak hukum yang jelek, Adanya intervensi dari
penguasa/petinggi, Rakyat Indonesia yang masih kurang sadar akan hukum
padahal mereka sudah mengetahui hukum di Indonesia dan Ketimpangan pasal
yang satu dengan yang lain.
Penyimpangan dan ketidakadilan yang terjadi, dapat dikatakan sangat fatal
bagi proses penegakan hukum kita sekarang ini, oleh karena penyimpangan dan
ketidakadilan tersebut telah mengakibatkan kehancuran pada sistem hukum dan
menurunkan kepercayaan masyarakat pada hukum.
Penurunan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga
penegak hukum di Indonesia dinilai menjadi bentuk kejenuhan masyarakat yang
mengakibatkan situasi pemberantasan korupsi semakin menurun. Tindakan
pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan keterlibatan anggota
parlemen dalam beberapa kasus korupsi yang akhir-akhir ini terjadi menjadi
beberapa contoh yang menggambarkan dasar kejenuhan masyarakat.
Maka dari itu untuk menyelesaikan sekelumit permasalahan hukum yang
terjadi di Negara kita, mulai dari korupsi, tindak kriminalitas, penyakit
masyarakat, dan sebagainya, bisa dimulai dengan mengadakan pendidikan hukum
sejak dini. Disela-sela pendidikan formal, sekolah perlu mengadakan kegaitan
pemberian materi tentang hukum. Kegiatan ini diadakan dengan harapan agar
meminimalisir pelanggaran-pelanggaran hukum yang terjadi di kemudian hari.
Dan jika sedari dini masyarakat sudah dipupuk dengan pendidikan hukum, bukan
tidak mungkin masyarakat Indonesia ke depan akan menjadi masyarakat yang taat
hukum. Selain itu, dengan diadakannya pendidikan hukum secara sistematis dan
konsisten, setidaknya akan membantu kerja-kerja penegak hukum untuk
mengawal hukum di Negara hukum Indonesia. Selain itu, keadilan hukum harus
ditegakkan seadil-adilnya, hukum yang tidak memihak (tanpa pandang bulu).
Lembaga hukum harus menjunjung tinggi hukum, dengan mengambil suatu
tindakan atau keputusan dengan seadil-adilnya tanpa adanya kecurangan atau
keberpihakkan kepada salah satu pihak yang akan menguntungkan bagi dirinya.