Anda di halaman 1dari 26

Tanda Alergi Pada Anak

Alergi pada anak pada beberapa kasus memang seringkali terjadi. Untuk itulah manusia tua
harus mengetahui sejak dini bagaimana mengenali gejala alergi yg terjadi pada anak & buah hati
kita. Oleh dgn mengetahui secepat mungkin mau gejala alergi maka kita bisa mengurangkan
resiko akibat dari alergi anak / bayi kita yg bisa berakibat buruk terhadap kondisi kesehatan sang
buah hati.
Yg dimaksud alergi ialah merupakan suatu reaksi tubuh yg berlebihan terhadap benda asing di
sekelilingnya, yg dijuluki dgn alergen. Reaksi tubuh yg dijuluki dgn alergi ini terjadi ketika
tubuh salah mengartikan zat yg masuk sebagai zat yg berbahaya bagi tubuh yg bersangkutan.
Demikian tadi yg dimaksud dgn pengertian alergi tersebut.
Alergi termasuk gangguan yg menjadi permasalahan kesehatan penting pada usia anak & balita.
Gangguan semacam ini ternyata bisa menyerang semua organ tiada terkecuali. Di mulai dari
ujung rambut hingga ujung kaki dgn aneka bahaya & komplikasi yg mungkin bisa terjadi.
Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yg cukup berbahaya, oleh alergi
bisa mengganggu semua organ / sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Alergi pada
anak bisa berupa alergi kulit, alergi makanan & lainnya.

Gangguan dlm fungsi otak semacam inilah yg bisa menimbulkan aneka gangguan perkembangan
& perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara,
gangguan konsentrasi hingga dlm taraf yg berat hingga dgn mau memperberat gejala-gejala
penderita Autism & ADHD / anak dgn hiperaktif. Untuk itulah diperlukan langkah-langkah
pencegahan alergi anak ini.
Penyebab alergi anak ini memang banyak faktor yg mempengaruhinya. Ada tiga faktor yg
mempengaruhi mau alergi bayi / anak ini, yaitu dari faktor genetik (keturunan), ketidakmatangan
saluran cerna, & paparan yg menyebabkan alergi 1tu terjadi. Seseorang yg memiliki bakat alergi,
mau terus menderita alergi hingga ia dewasa. Meski demikian manifestasi gejala alergi saat
dewasa dgn saat masih anak-anak mau berbeda. Demikian yg diungkapkan oleh Dr. Widodo
Judarwanto, SpA, dari Allergy Behaviour Clinic.

Susu sapi dianggap sebagai penyebab alergi makanan pada bayi yg paling sering. Beberapa
penelitian di beberapa negara di dunia prevalensi alergi susu sapi pada anak dlm tahun pertama
kehidupan sekitar 2%. Alergi susu sapi ialah suatu kumpulan gejala-gejala yg mengenai banyak
organ & system tubuh yg ditimbulkan oleh alergi terhadap susu sapi. Reaksi hipersensitif
terhadap protein susu sapi dgn keterlibatan mekanisme sistem imun.
Saluran cerna ialah target awal & utama proses terjadinya alergi makanan. Ketidakmatangan
saluran cerna menyebabkan alergi paling sering diketemukan pada anak usia di bawah 2 tahun &
semakin berkurang pada usia 5 / 7 tahun. Efek yg sering muncul dari alergi di saluran cerna ialah
nyeri perut / kolik pada bayi & anak. Anak menjadi sering rewel di malam hari & bisa menjadi
penyebab bayi menangis dgn tangisan yg sangat keras. Menurut Dr. Widodo pada usia 2-7 tahun,
keluhan nyeri perut bisa terungkap oleh anak sudah bisa bicara.
Alergi yg menyerang & terjadi pada anak ini bermacam-macam. Mulai dari asma, yaitu
penyempitan saluran nafas bawah, rinitis,urtikaria, & jg dermatitis atopik / yg biasa dikenal dgn
nama eksim. Gejala-gejala alergi anak pertama kali selain bisa terlihat dari kulit maka saluran
pencernaan ialah organ yg terkena jg.
Hal ini oleh kontak pertama kali dgn makanan alergen ialah pada saluran pencernaan. Misalnya
ialah bengkak & gatal di bagian bibir, lidah, saluran pernapasan, kejang perut, muntah, jg diare
berat dgn tinja berdarah. & inilah bagian dari gejala-gejala alergi pada anak. Untuk 1tu pula
diperlukan cara menangani alergi pada anak dgn tepat & sehat pula.
Gejala-gejala alergi jg bisa terlihat & dikenali oleh para manusia tua ialah pada bagian tubuh
lain sang bayi / anak, contoh mudahnya mau terlihat kulit yg bentol memerah, hidung, mata,
saluran pernapasan, susunan saraf pusat, & bahkan gejala-gejala sistemik yg berakibat fatal
seperti syok anafilaksis yg bisa menyebabkan bayi meninggal
.

Bayi Anak Alergi Susu


Alergi ialah merupakan suatu kumpulan gejala-gejala sebagai reaksi imunologi tubuh terhadap
suatu zat, baik 1tu berupa makanan / pun sesuatu dari lingkungan. Zat yg bisa memicu alergi ini
dijuluki dgn alergen. 1tu ialah minus lebih dari pengertian alergi sahabat.
Alergi bisa dipengaruhi oleh faktor genetik. Bila kedua manusia tua, / salah satu manusia tua
menderita alergi, maka sang anak pun beresiko untuk mengalami hal yg serupa. Dgn kita
mengenal gejala-gejala alergi pada bayi maka diharapka kita bisa mengantisipasi jika bayi alergi
susu sapi yg dikonsumsinya.
Alergi susu dlm hal ini bayi alergi susu formula bisa terjadi dikarenakan ketika sistem kekebalan
tubuh pada bayi / anak melakukan penilaian yg salah kepada zat-zat yg terkandung dlm susu sapi
sehingga menyangka bahwa susu sapi tersebut bisa membahayakan tubuh maka sistem
kekebalan tubuh mau melakukan serangkaian aksi dlm melawannya & biasanya gejala yg kita

dapatkan ialah reaksi alergi & diekspresikan bayi anak mau sering rewel, & jg gelisah diikuti
gejala-gejala umum alergi lainnya. Bila bayi alergi susu sapi gejala di atas mau terlihat.

Susu sapi tercatat sebagai protein yg menjadi salah satu pemicu alergi pada anak. Seperti kita
ketahui, protein di dlm susu< sebenarnya ada dua yaitu kasein & whey. Kasein yg jumlahnya
mencapai 76 86% merupakan penyebab alergi susu terbanyak pada susu formula. Termasuk jg
pada apa yg dialami pada bayi & anak yg mengalami alergi susu sapi. Pada anak yg hipersensitif,
protein tersebut bisa memicu terbentuknya zat antibodi yg dijuluki immunoglobulin E (IgE).
Antibodi inilah yg menyebabkan pelepasan histamin, / yg menimbulkan aneka reaksi alergi dlm
tubuh. Saat anak mengkonsumsi susu sapi, tubuhnya mau terbentuk antibodi. Semakin lama ia
mengkonsumsi, semakin cukup tinggi antibodinya. Ketika sudah melewati ambang batas
antibodi, maka muncullah alergi.
Gejala-gejala gejala alergi susu sapi sangat beragam. Diantaranya ialah kulit menjadi
kemerahan, gatal, bengkak, & eksim. Alergi jg bisa mengganggu saluran pencernaan yg hal ini
mau mengakibatkan mual, muntah, diare, & jg sakit perut. Sebentar pada saluran pernafasan,
raksi alergi dimanifestasikan berupa gejala batuk pilek berulang, sesak nafas & jg asma.
Demikian beberapa gejala bayi anak yg alergi susu fomula / susu sapi.
Ada beberapa hal yg meningkatkan resiko alergi susu. Faktor resiko anak alergi susu sapi / susu
formula berbahan susu sapi diantaranya ialah :
1. Riwayat Keluarga. Bila ada keluarga yg menderita alergi terhadap makanan tertentu,
maka anak resikonya lebih besar mau terkena alergi susu daripada pada anak yg tidak
mempunyai alergi makanan tertentu.
2. Riwayat Mempunyai Alergi Lainnya. Bila anak mempunyai alergi terhadap susu sapi,
biasanya anak mau lebih mudah terkena alergi terhadap lainnya.
3. Faktor Umur. Alergi susu sapi ini biasanya seringkali menimpa bayi / anak. Dgn
bertambah umurnya maka pencernaan sang anak bertambah baik & mau semakin kebal
dgn hal alergi susu sapi ini.

Namun kita sebagai manusia tua bila anak kita mempunyai alergi susu sapi ini janganlah terlalu
khawatir. Meski bayi anak alergi susu, bukan berarti anak tak bisa hidup sehat & jg tumbuh serta
berkembang secara optimal.
Salah satu penanganan dasar serta pengobatan alergi pada anak & efektif dlm hal menangani
alergi susu sapi ini ialah dgn menghindarinya. Jadi penggantinya bisa mencari susu yg berbahan
dasar isolat kedelai bisa dijadikan alternatif bagi para anak yg mengalami alergi susu formula /
pun susu sapi. Untuk masa sekarang ini sudah lumayan banyak susu untuk anak yg berbahan
dasar isolat kedelai ini / yg lebih dikenal dgn susu kedelai.

Alergi Makanan pada Anak Alergi makanan merupakan suatu reaksi klinis yang tidak
diinginkan terhadap makanan secara imunologis. Berbagai jenis manifestasi klinik
reaksi hipersensitivitas tipe I menurut Gell dan Coomb diantaranya adalah
disebabkan reaksi alergi terhadap makanan. Alergi makanan merupakan salah satu
masalah alergi yang penting pada anak karena makanan merupakan suatu zat yang
mutlak diperlukan pada tumbuh kembang anak. Bila anak mempunyai alergi
terhadap bahan makanan utama yang sangat diperlukan pada proses tumbuh
kembangnya, maka keadaan ini akan merugikan tumbuh kembangnya di kemudian
hari Sekitar 20% anak usia 1 tahun pertama pernah mengalami reaksi terhadap
makanan yang diberikan (adverse reactions), termasuk yang disebabkan oleh reaksi
alergi. Sebetulnya semua makanan dapat menimbulkan reaksi alergi, akan tetapi
antara satu makanan dengan makanan lain, mempunyai derajat alergenitas yang
berbeda. Saat ini dikembangkan cara moderen dalam mengatasi penyakit alergi
yaitu dengan cara pendekatan nutrisi yang dapat mencegah atau menekan reaksi
inflamasi. Seperti misalnya, pemberian fraksi peptida dari protein spesifik yang
ditoleransi usus, serta pengunaan komponen spesifik makanan sehari-hari seperti
asam lemak dan antioksidan. Probiotik merupakan contoh komponen
imunomodulator yang diberikan pada pasien alergi. Angka Kejadian Angka kejadian
alergi makanan ini, banyak diteliti dan dilaporkan dengan hasil yang bervariasi.
Departemen Pertanian Amerika Serikat melaporkan sekitar 15% populasi
mempunyai alergi terhadap makanan atau ingredient makanan tertentu. Di
Poliklinik Alergi Imunologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, dari hasil uji kulit
terhadap 69 penderita asma alergik didapatkan 45.31% positif terhadap kepiting,
37.53% terhadap udang kecil, dan 26.56% terhadap cokelat sedangkan dari seluruh
penderita alergi anak sekitar 2.4% adalah alergi terhadap susu sapi. Prevalensi
alergi makanan dalam dekade terakhir ini tampaknya meningkat. Spektrum alergi
makanan dalam dekade terakhir relatif tidak berubah. Susu sapi, telur, kacang
tanah, kedelai, gandum, kacang polong, ikan dan kerang masih merupakan alergen
utama pada masa anak. Definisi Tidak semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap
makanan melalui mekanisme alergi yang murni (reaksi hipersensitivitas tipe I). Akan
tetapi banyak pasien maupun dokter menggunakan istilah "Alergi Makanan" untuk
semua reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan, baik yang imunologik
maupun non imunologik. Karena itu oleh The American Academy of Allergy and
Immunology dan The National Institute of Allergy and Infections Disease dibuat
batasan yaitu: 1. Adverse food reactions Suatu istilah umum untuk suatu reaksi
yang tidak diinginkan terhadap makanan yang ditelan. Reaksi ini dapat merupakan
reaksi sekunder terhadap food allergy (hipersensitivitas) atau food intolerance
(Intoleransi makanan). 2. Food Allergy Istilah untuk suatu hasil reaksi imunologik
yang menyimpang. Sebagian besar reaksi ini melalui reaksi hipersensitifitas tipe I
(Gell & Coombs) yang diperani oleh IgE. 3. Food intolerance Istilah umum untuk
semua respons fisiologis yang abnormal terhadap makanan/aditif makanan yang
ditelan. Reaksi ini merupakan reaksi non imunologik dan merupakan sebagian besar
penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan. Reaksi ini mungkin
disebabkan oleh zat yang terkandung dalam makanan seperti kontaminasi toksik

(misalnya, histamin pada keracunan ikan, toksin yang disekresi oleh salmonella,
shigela, dan campylobacter), zat farmakologik yang terkandung dalam makanan
(misalnya, kafein pada kopi, tiramin pada keju) atau karena kelainan pada pejamu
sendiri, seperti gangguan metabolisme (misalnya, defisiensi laktase) maupun suatu
respons idiosinkrasi pada pejamu. Mekanisme pertahanan saluran cerna dalam
reaksi alergi Fungsi utama saluran cerna ialah memproses makanan yang dicerna
menjadi bentuk yang dapat di serap dan digunakan untuk energi dan pertumbuhan
sel. Selama proses ini, mekanisme imunologik dan non imunologik berperan dalam
pencegahan masuknya antigen asing (bakteri, virus, parasit, protein makanan)
kedalam tubuh melalui saluran gastro intestinal. 1. Mekanisme Imunologik
Pencegahan penetrasi antigen yang ditelan : IgA sekretorik spesifik dalam
lumen usus Eliminasi antigen yang lolos masuk kedalam tubuh melalui saluran
gastro intestinal IgA dan IgG spesifik serum Sistim retikulo endotelial 2. Mekanisme
non Imunologik/fisiologik Pemecahan antigen yang ditelan Asam lambung dan
pepsin Enzim intestinal Aktifitas lisosom sel epitel usus Pencegahan penetrasi
antigen yang ditelan : Lapisan mukus intestinal Komposisi membran mikrovilus
intestinal Peristaltik usus Imaturitas mekanisme pertahanan saluran cerna dapat
menerangkan mengapa alergi makanan mudah terjadi pada pemberian makanan
dengan alergenitas yang tinggi pada bayi usia dini. Beberapa jenis makanan yang
dapat menimbulkan alergi makanan pada anak Beberapa jenis makanan yang dapat
menimbulkan alergi pada anak dapat digolongkan menurut kekerapannya sebagai
berikut: 1. Golongan makanan yang paling sering menimbulkan alergi. Makanan
yang termasuk golongan ini antara lain susu sapi/kambing, telur, kacang-kacangan,
ikan laut, kedelai serta gandum. Protein susu sapi merupakan protein asing yang
pertama kali dikenal oleh bayi. Susu sapi mengandung sedikitnya 20 komponen
protein yang dapat merangsang pembentukan antibodi pada manusia. Fraksi
protein susu sapi terdiri dari protein casein dan whey. Beberapa protein whey dapat
di denaturasi dengan pemanasan yang ekstensif. Akan tetapi pada tindakan
pasteurisasi rutin, tidak cukup untuk menimbulkan denaturasi protein ini dan
bahkan dapat sifat alergenitas beberapa jenis protein susu sapi seperti beta lacto
globulin. Gejala awal yang timbul biasanya gejala pada saluran cerna seperti diare
dan muntah. Protein susu sapi dapat menimbulkan alergi baik dalam bentuk susu
murni atau bentuk lain seperti es krim, keju dan kue . Anak yang mempunya alergi
terhadap susu sapi tidak selalu alergi terhadap daging sapi atau bulu sapi. Telur
ayam juga merupakan alergen yang penting pada anak terutama anak yang
menderita dermatitis atopik. Kuning telur dianggap kurang alergenik dari pada putih
telur. Putih telur mengandung sekitar 23 glikoprotein dan yang merupakan alergen
utama adalah ovalbumin, ovomucoid, dan ovotransferrin. Anak yang mempunyai
alergi terhadap telur ini belum tentu mempunyai alergi terhadap daging ayam
maupun bulu ayam, akan tetapi dapat timbul reaksi alergi bila diberikan vaksin
yang ditanam pada kuning telur seperti misalnya vaksin campak. Antibodi IgE
spesifik terhadap putih telur ayam dibuktikan juga mempunyai reaksi silang dengan
protein telur jenis unggas yang lain. Kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang

mede dan sejenisnya dapat menyebabkan reaksi akan tetapi biasanya bersifat
ringan. Gejalanya biasanya berupa gatal gatal ditenggorokan. Walaupun demikian,
di Amerika Serikat alergi terhadap kacang dilaporkan sebagai penyebab kematian
tersering karena reaksi anafilaksis. Protein kacang kacangan terdiri dari albumin
(yang larut dalam air) dan globulin (yang tidak larut dalam air) yang terdiri dari
fraksi arachin dan conarachin. Ikan merupakan alergen yang kuat terutama ikan
laut. Bentuk reaksi alergi yang sering berupa urtikaria, atau asma. Pada anak yang
sangat sensitif, dengan hanya mencium bau ikan yang sedang dimasak dapat juga
menimbulkan sesak nafas atau bersin. Jenis hidangan laut lain (sea food) yang
sering menimbulkan alergi adalah udang kecil, udang besar (lobster) serta kepiting,
gejala yang sering timbul adalah urtikaria serta angioedema. Alergi terhadap ikan
laut. Dengan proses pemasakan (pemanasan) sebagian besar dapat
menghancurkan alergen utama yang ada dalam hidangan laut ini. Kacang kedele
dilaporkan banyak menimbulkan reaksi hipersensitivitas pada bayi dan anak,
walaupun belum banyak ditemukan di Indonesia. Karena harganya murah, kacang
kedele ini banyak dikonsumsi. Kurang lebih 10% protein yang terkandung adalah
albumin yang larut dalam air, dan sisanya adalah globulin yang larut dalam garam.
Sifat alergenitas kacang kedele akan berkurang pada pemanasan. Kacang kedele ini
banyak digunakan sebagai bahan pengganti susu sapi pada penderita alergi susu
sapi. Gandum biasanya dapat menimbulkan reaksi alergi dalam bentuk tepung bila
dihirup (bakers asthma). Bila dimakan, tidak selalu menimbulkan alergi karena
gandum dicernakan oleh enzim pencernaan di lambung. 2. Golongan Makanan Yang
Relatif Jarang Menimbulkan Alergi. Makanan yang termasuk golongan ini antara lain
daging ayam, daging babi, daging sapi, kentang, coklat, jagung (nasi), jeruk serta
bahan bahan aditif makanan. Reaksi terhadap buah buahan seperti jeruk, tomat,
apel relatif sering dilaporkan, tetapi sebagian besar melalui timbul pada usia 15
bulan, dengan gejala yang berlangsung agak lama. Gejala alergi terhadap buah
buahan ini umumnya berupa gatal gatal di mulut. Jeruk sering dapat menyebabkan
gatal serta kemerahan pada kulit bayi. Sifat alergenitas buah dan sayur dapat
berkurang bila disimpan dalam freezer selama 2 minggu atau dimasak selama 2
menit. Sampai sekarang belum ada data yang menunjukkan bahwa reaksi terhadap
buah buahan ini murni karena alergi yang diperani oleh IgE. 3. Bahan aditif pada
makanan Selain golongan makanan yang telah disebutkan di atas, beberapa jenis
bahan yang ditambahkan pada makanan juga dapat menimbulkan reaksi alergi
sehingga sering salah duga dengan bahan makanan aslinya sebagai penyebab
alergi. Bahan aditif dapat berupa bahan alami seperti bumbu atau dapat juga
berupa bahan sintetis misalnya bahan pengawet, pewarna serta penyedap
makanan misalnya vetsin. Biasanya bahan aditif alami lebih aman dibandingkan
dengan bahan sintetis. Menurut fungsinya, bahan aditif ini dapat dibagi beberapa
kelompok yaitu bahan pewarna, bahan pengawet, bahan penambah rasa serta
bahan emulsi dan stabilisator makanan. Bahan pewarna yang sering menimbulkan
reaksi alergi adalah tartrazine, bahan pengawet asam benzoat sedangkan bahan
penambah rasa yang sering menimbulkan reaksi alergi adalah monosodium
glutamat yang terkenal dengan gejala Chinese Restaurant syndrome. Gejala klinis

Sebagian besar gejala alergi makanan mengenai saluran cerna karena saluran
cerna merupakan organ yang pertama kali kontak dengan makanan. Gejala dapat
berupa bengkak dan gatal di bibir sampai lidah serta orofarings. Kontak selanjutnya
antara makanan/alergen dengan esofagus, lambung serta usus dapat menyebabkan
gejala nyeri dan kejang perut, serta muntah sampai diare berat dengan tinja
berdarah. Alergen makanan dapat melewati seluran cerna masuk ke dalam sirkulasi,
selanjutnya dapat mencetuskan reaksi pada sistim organ yang lain. Manifestasi kulit
seperti urtikaria akut dan angioedema sering terlihat pada alergi makanan.
Hipersensitif terhadap makanan ini diperkirakan merupakan penyebab sekitar
sepertiga penderita dermatitis atopik. Asma dan rinitis juga dapat disebabkan oleh
reaksi alergi terhadap makanan, terutama pada masa bayi dan anak usia muda.
Reaksi anafilaksis sistemik terhadap makanan yang umumnya melalui reaksi
hipersensitifitas tipe 1 kadang kadang dapat membahayakan jiwa. Biasanya gejala
timbul satu jam setelah makan alergen, dimulai dengan gejala flushing, urtikaria
dan angioedema kemudian dilanjutkan dengan gejala nyeri perut, diare,
bronkospasm, hipotensi dan syok. Diagnosis Seperti juga pada sebagian besar
penyakit lain, diagnosis alergi makanan dimulai dengan riwayat penyakit dan
pemeriksaan fisik yang teliti kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan
laboratorium seperti yang tertera di bawah ini. Riwayat penyakit Catatan harian diet
Uji eliminasi dan provokasi Uji kulit IgE spesifik dengan RAST (Radio Allergy Sorbent
Test) Basofil Histamin Release Assay (BHR) Intestinal Mast Cell Histamine Release
(IMCHR) Provokasi intra gastral melalui endoskopi Double Blind-Blood Placebo
Controlled Food Challenge (DBPCFE) Biopsi usus setelah eliminasi alergen dan
pemberian makanan Yang paling sering dikerjakan adalah pemeriksaan no. 1
sampai 5. Uji eliminasi dan provokasi dilakukan terhadap makanan tersangka yang
didapat dari anamnesis, catatan harian diet penderita, uji kulit serta pemeriksaan
IgE spesifik dengan RAST positif pemeriksaan ini ialah: Seperti uji kulit , penderita
harus bebas obat anti alergi/anti histamin minimal 3 hari Semua makanan
tersangka dihindari selama 2 minggu. Dilakukan pencatatan pasien apakah gejala
menghilang atau berkurang. Bila gejala menghilang atau berkurang dilanjutkan
dengan memberikan makanan tersangka satu persatu dengan jumlah paling sedikit
7 hari atau 2 jenis makanan yang berbeda dan dicatat gejala yang timbul. Beberapa
keadaan dapat menyulitkan diagnosis alergi makanan, misalnya adanya reaktivitas
silang antara satu makanan dengan makanan yang lain. Walaupun tiap jenis
makanan mempunyai protein yang berbeda, kadang kadang mempunyai epitop
yang sama sehingga timbul reaktivitas silang, misalnya kacang tanah dengan
kacang kedele. Kadang kadang timbulnya reaksi alergi bukan terhadap bahan
makanan yang bersangkutan, akan tetapi reaksi terhadap zat aditif atau zat lain
yang terkandung dalam makanan tersebut. Misalnya seorang anak yang timbul
gejala alergi setelah minum susu sapi, setelah diteliti ternyata susu tersebut
mengandung penisilin (trace) yang diberikan pada sapi yang bersangkutan. Bila
diagnosis alergi makanan ini meragukan, uji provokasi makanan dapat diulang.
Pengobatan dan pencegahan alergi makanan Pengobatan yang paling penting pada
alergi makanan ialah eliminasi terhadap makanan yang bersifat alergen. Terapi

eliminasi ini seperti umumnya pengobatan lain mempunyai efek samping. Eliminasi
yang ketat pada sejumlah besar jenis makanan, dalam jangka waktu yang lama
dapat menyebabkan malnutrisi atau kesulitan makan pada anak. Umumnya alergi
makanan akan menghilang dalam jangka waktu tertentu kecuali alergi terhadap
kacang tanah dan sejenisnya serta hidangan laut. Dilaporkan bahwa anak yang
menderita alergi makanan akan mengalami perbaikan dengan kehilangan
reaktivitas terhadap makanan sekitar 25%, sedangkan pada usia dewasa akan
mengalami perbaikan dengan kehilangan reaktivitas terhadap makanan selamanya.
Dengan terapi diet yang ketat terhadap makanan alergen dalam beberapa tahun,
alergi makanan dapat saja menghilang, akan tetapi bukan tidak mungkin akan
timbul masalah malnutrisi atau gangguan makan yang lain. Oleh karena itu di
upayakan untuk memberi makanan pengganti yang tepat. Beberapa terhadap
makanan seperti antihistamin, H1 dan H2, ketotifen, kortikosteroid serta inhibitor
sistetase prostaglandin. Secara keseluruhan, pemberian obat obat ini dapat
mengendalikan gejala, akan tetapi umumnya mempunyai efisiensi yang rendah.
Penggunaan natrium kromoglikat peroral banyak diteliti, tetapi hasilnya masih
bertentangan. Pemberian imunoterapi pada alergi makanan belum jelas hasilnya.
Sampai sekarang belum ada studi yang memadai untuk membuktikan hasil
imunoterapi pada alergi makanan. Secara umum, ada 3 tahap pencegahan
terjadinya penyakit alergi yaitu pencegahan primer (sebelum terjadi sensitisasi),
pencegahan sekunder (sudah terjadi sensitisasi tetapi belum terjadi penyakit alergi)
serta pencegahan tersier (sudah terjadi penyakit alergi misalnya dermatitis, tetapi
belum terjadi penyakit alergi lain misalnya asma). Pencegahan primer dilakukan
dengan diet penghindaran makanan hiperalergenik sejak trimester kehamilan.
Sayangnya pada pencegahan primer ini belum ada cara yang tepat untuk menilai
keberhasilannya. Pencegahan sekunder dilakukan dengan penentuan dan
penghindaran jenis makanan yang menyebabkan penyakit alergi. Pencegahan
tersier biasanya ditambah dengan penggunaan obat seperti misalnya pemberian
setirizin pada dermatitis atopik untuk mencegah terjadinya asma di kemudian hari.
Pemberian ASI ekslusif dilaporkan, dapat mencegah penyakit atopik serta alergi
makanan. Akan tetapi para ahli alergi masih memperdebatkan efektifitasnya.
Walaupun demikian sebagian besar peneliti berpendapat bahwa dengan melakukan
penghindaran makanan alergen pada ibu hamil dan menyusui serta pada bayi usia
dini dengan resiko tinggi terjadinya penyakit atopik, ternyata dapat bermanfaat
mencegah terjadinya alergi makanan/penyakit atopik dikemudian hari. Pendekatan
moderen secara nutrisi misalnya dengan pemberian fraksi peptida dari protein
spesifik yang ditoleransi usus misalnya pemberian formula susu hipoalergenik atau
penggunaan komponen spesifik makanan sehari-hari seperti asam lemak dan
antioksidan untuk mencegah terjadinya sensitisasi pada anak yang mempunyai
risiko alergi. Pemberian probiotik dapat diberikan sebagai imunomodulator untuk
merangsang sel limfosit Th1 pada anak yang mempunyai bakat alergi. Kesimpulan
Alergi makanan merupakan penyebab tersering penyakit alergi pada anak usia dini.
Alergi makanan mempunyai aspek yang penting pada tumbuh kembang anak
terutama dalam penatalaksanaan diet penghindaran makanan alergen yang

mungkin diperlukan untuk tumbuh kembangnya. Pada dasarnya semua makanan


mempunyai potensi untuk menimbulkan alergi tetapi mempunyai derajat
alergenitas yang berbeda. Umumnya sebagian besar penderita alergi makanan
akan kehilangan reaktivitas terhadap beberapa jenis makanan sejalan
bertambahnya usia. Berbagai cara diusahakan untuk mencegah serta mengobatai
alergi makanan, diantaranya adalah dengan penghindaran makanan hiperalergenik
sejak trimester kehamilan, pendekatan nutrisi misalnya dengan pemberian fraksi
peptida yang dapat ditoleransi usus atau dengan pemberian probiotik untuk
mencegah atau menekan reaksi inflamasi. ALERGI MAKANAN DAN AUTISME Dr
Widodo Judarwanto SpA Children Allergy Center, Rumah Sakit Bunda Jakarta 1.
Pendahuluan Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri
menunjukkan bahwa angka kejadian alergi terus meningkat tajam beberapa tahun
terahkir. Tampaknya alergi merupakan kasus yang cukup mendominasi kunjungan
penderita di klinik rawat jalan Pelayanan Kesehatan Anak. Alergi pada anak dapat
menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai ujung
kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Terakhir
terungkap bahwa alergi ternyata bisa mengganggu fungsi otak, sehingga sangat
mengganggu perkembangan anak Belakangan terungkap bahwa alergi
menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu
semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan
fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak
seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan
konsentrasi hingga autism. Autism dan berbagai spektrum gejalannya adalah
gangguan perilaku anak yang paling banyak diperhatikan dan kasusnya ada
kecenderungan meningkat dalam waktu terakhir ini. Autism diyakini beberapa
peneliti sebagai kelainan anatomis pada otak secara genetik. Terdapat beberapa hal
yang dapat memicu timbulnya autism tersebut, termasuk pengaruh makanan atau
alergi makanan. 2.ALERGI MAKANAN Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala
yang mengenai banyak organ dan system tubuh yang ditimbulkan oleh alergi
terhadap makanan. Dalam beberapa kepustakaan alergi makanan dipakai untuk
menyatakan suatu reaksi terhadap makanan yang dasarnya adalah reaksi
hipersensitifitas tipe I dan hipersensitifitas terhadap makanan yang dasaranya
adalah reaksi hipersensitifitas tipe III dan IV. Tidak semua reaksi yang tidak
diinginkan terhadap makanan merupakan reaksi alergi murni, tetapi banyak dokter
atau masyarakat awam menggunakan istilah alergi makanan untuk semua reaksi
yang tidak diinginkan dari makanan, baik yang imunologik atau non imunologik.
Batasan lebih jelas dibuat oleh American Academy of Allergy and immunology,The
National Institute of Allergy and infections Reaksi simpang makanan (Adverse food
reactions) disease yaitu Istilah umum untuk reaksi yang tidak diinginkan terhadap
makanan yang ditelan. Reaksi ini dapat merupakan reaksi sekunder terhadap alergi
Allergy makanan (hipersensitifitas) atau intoleransi makanan. makanan (Food
Allergy) Alergi makanan adalah reaksi imunologik yang menyimpang. Sebagian
besar Intoleransi reaksi ini melalui reaksi hipersensitifitas tipe 1. Makanan (Food

intolerance) Intoleransi makanan adalah reaksi makanan nonimunologik dan


merupakan sebagian besar penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap
makanan. Reaksi ini dapat disebabkan oleh zat yang terkandung dalam makanan
karena kontaminasi toksik (misalnya toksin yang disekresi oleh Salmonella,
Campylobacter dan Shigella, histamine pada keracunan ikan), zat farmakologik
yang terkandung dalam makanan misalnya tiramin pada keju, kafein pada kopi atau
kelainan pada pejamu sendiri seperti defisiensi lactase, maltase atau respon
idiosinkrasi pada pejamu Tanda dan gejala alergi makanan Keluhan alergi sering
sangat misterius, sering berulang, berubah-ubah datang dan pergi tidak menentu.
Kadang minggu ini sakit tenggorokan, minggu berikutnya sakit kepala, pekan
depannya diare selanjutrnya sulit makan hingga berminggu-minggu. Bagaimana
keluhan yang berubah-ubah dan misterius itu terjadi. Ahli alergi modern
berpendapat serangan alergi atas dasar target organ (organ sasaran). Reaksi alergi
merupakan manifestasi klinis yang disebabkan karena proses alergi pada seseorang
anak yang dapat menggganggu semua sistem tubuh dan organ tubuh anak.. Organ
tubuh atau sistem tubuh tertentu mengalami gangguan atau serangan lebih banyak
dari organ yang lain. Mengapa berbeda, hingga saat ini masih belum banyak
terungkap. Gejala tergantung dari organ atau sistem tubuh , bisa terpengaruh bisa
melemah. Jika organ sasarannya paru bisa menimbulkan batuk atau sesak, bila
pada kulit terjadi dermatitis atopik. Tak terkecuali otakpun dapat terganggu oleh
reaksi alergi. Apalagi organ terpeka pada manusia adalah otak. Sehingga dapat
dibayangkan banyaknya gangguan yang bisa terjadi. Tabel 1. MANIFESTASI ALERGI
PADA BAYI BARU LAHIR HINGGA 1 TAHUN ORGAN/SISTEM TUBUH 1 2 Sistem
Pernapasan Sistem Pencernaan GEJALA DAN TANDA Bayi lahir dengan sesak
(Transient Tachipneu Of The newborn), cold-like respiratory congestion (napas
berbunyi/grok-grok). sering rewel/colic malam hari, hiccups (cegukan), sering
ngeden, sering mulet, meteorismus, muntah, sering flatus, berak berwarna hitam
atau hijau, berak timbul warna darah. Lidah sering berwarna putih. Hernia
umbilikalis, scrotalis atau inguinalis. Sering bersin, Hidung berbunyi, kotoran hidung
berlebihan. Cairan telinga berlebihan. Tangan sering menggaruk atau memegang
telinga. tekanan darah rendah Erthema toksikum. Dermatitis atopik, diapers
dermatitis. urticaria, insect bite, berkeringat berlebihan. 3 3 4 5 Telinga Hidung
Tenggorok Sistem Pembuluh dan jantung Kulit Sistem Saluran Kemih Darah Palpitasi,
flushing (muka ke merahan), nyeri dada, colaps, pingsan, Sering kencing, nyeri
kencing, bed wetting (ngompol) Frequent, urgent or painful urination; inability to
control bladder; bedwetting; vaginal discharge; itching, swelling, redness or pain in
genitals; painful intercourse. bahkan hingga kejang. 6 7 Sistem Pusat Mata Susunan
Saraf Sensitif, sering kaget dengan rangsangan suara/cahaya, gemetar, Mata berair,
mata gatal, kotoran mata berlebihan, bintil pada mata, conjungtivitis vernalis. Tabel
2. MANIFESTASI ALERGI PADA ANAK USIA LEBIH 1 TAHUN ORGAN/SISTEM TUBUH 1 2
Sistem Pernapasan Sistem Pencernaan GEJALA DAN TANDA Batuk, pilek, bersin,
mimisan, hidung buntu, sesak(astma), sering menggerak-gerakkan /mengusap-usap
hidung Nyeri perut, sering buang air besar (>3 kali/perhari), gangguan buang air
besar (kotoran keras, berak, tidak setiap hari, berak di celana, berak berwarna

hitam atau hijau, berak ngeden), kembung, muntah, sulit berak, sering flatus,
sariawan, mulut berbau. 3 Telinga Hidung Tenggorok Hidung : Hidung buntu, bersin,
hidung gatal, pilek, post nasal drip, epitaksis, salam alergi, rabbit nose, nasal
creases Tenggorok : tenggorokan nyeri/kering/gatal, palatum gatal, suara
parau/serak, batuk pendek (berdehem), Telinga : telinga terasa penuh/
bergemuruh/berdenging, telinga bagian dalam gatal, nyeri telinga dengan gendang
telinga kemerahan atau normal, gangguan pendengaran hilang timbul, terdengar
suara lebih keras, akumulasi cairan di telinga tengah, pusing, gangguan
keseimbangan. 3 4 5 Sistem Pembuluh Darah dan jantung Kulit Palpitasi, flushing
(muka ke merahan), nyeri dada, colaps, pingsan, tekanan darah rendah, Sering
gatal, dermatitis, urticaria, bengkak di bibir, lebam biru kehitaman, bekas hitam
seperti digigit nyamuk, berkeringat berlebihan. Sistem Saluran Kemih dan Nyeri,
urgent atau sering kencing, nyeri kencing, bed wetting (ngompol); tidak mampu
mengintrol kandung kemih; mengeluarkan kelamin Sistem Susunan Saraf Pusat
cairan di vagina; gatal, bengkak atau nyeri pada alat kelamin. Sering timbul infeksi
saluran kencing 6 NEUROANATOMIS :Sering sakit kepala, migrain, kejang gangguan
tidur. NEUROANATOMIS FISIOLOGIS: Gangguan perilaku : emosi berlebihan, agresif,
impulsive, overaktif, gangguan belajar, gangguan konsentrasi, gangguan koordinasi,
hiperaktif hingga autisme. 6 7 Jaringan otot dan tulang Mata Nyeri tulang, nyeri
otot, bengkak di leher Mata berair, mata gatal, sering belekan, bintil pada mata.
Allergic shiner (kulit di bawah mata tampak ke hitaman). 3. HUBUNGAN AUTISME
DAN ALERGI Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang
ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif,
bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autism hingga saat ini masih
belum jelas penyebabnya. Dari berbagai penelitian klinis hingga saat ini masih
belum terungkap dengan pasti penyebab autisme. Secara ilmiah telah dibuktikan
bahwa Autisme adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh muktifaktorial dengan
banyak ditemukan kelainan pada tubuh penderita. Beberapa ahli menyebutkan
autisme disebabkan karena terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat
bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Terdapat juga pendapat
seorang ahli bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah
atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan
kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan
fisik termasuk autisme. Tetapi beberapa penelitian menunjukkan keluhan autism
dipengaruhi dan diperberat oleh banyak hal, salah satunya karena manifestasi
alergi. Renzoni A dkk tahun 1995 melaporkan autism berkaitan erat dengan alergi.
Menage P tahun 1992 mengemukakan bahwa didapatkan kaitan IgE dengan
penderita Autism. Obanion dkk 1987 melaporkan setelah melakukan eliminasi
makanan beberapa gfejala autisme tampak membaik secara bermakna. Hal ini
dapat juga dibuktikan dalam beberapa penelitian yang menunjukkan adanya
perbaikan gejala pada anak autism yang menderita alergi, setelah dilakukan
penanganan elimnasi diet alergi. Beberapa laporan lain mengatakan bahwa gejala
autism semakin buruk bila manifestasi alergi itu timbul. 4. PROSES TERJADINYA
PENGARUH ALERGI TERHADAP AUTISME Hubungan alergi makanan dan Autisme

dapat dijelaskan karena adanya pengaruh alergi makanan terhadap fungsi otak.
Patofisiologi dan patogenesis( proses terjadinya penyakit) alergi mengganggu
sistem susunan saraf pusat khususnya fungsi otak masih belum banyak terungkap.
Namun ada beberapa kemungkinan mekanisme yang bisa dijelaskan, diantaranya
adalah : ALERGI MENGGANGGU ORGAN SASARAN Alergi adalah suatu proses
inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan
proses inflamasi kronis yang kompleks dipengaruhi faktor genetik, lingkungan dan
pengontrol internal. Berbagai sel mast, basofil, eosinofil, limfosit dan molekul
seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan komponen yang berperanan
inflamasi. Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa
mediator tersebut dapat mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran.
Organ sasaran tersebut misalnya paru-paru maka manifestasi klinisnya adalah
batuk atau asma bronchial, bila sasarannya kulit akan terlihat sebagai urtikaria, bila
organ sasarannya saluran pencernaan maka gejalanya adalah diare dan
sebagainya. Sistem Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ
sasaran, apalagi otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah.
Sistem susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan fungsi
luhur. Maka bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak kemungkinan
manifestasi klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku pada anak. Apalagi
pada alergi sering terjadi proses inflamasi kronis yang kompleks. TEORI ABDOMINAL
BRAIN DAN ENTERIC NERVOUS SYSTEM Pada alergi dapat menimbulkan gangguan
pencernaan baik karena kerusakan dinding saluran pencernan atau karena disfungsi
sistem imun itu sendiri. Sedangkan gangguan pencernaan itu sendiri ternyata dapat
mempengaruhi system susunan saraf pusat termasuk fungsi otak. Teori gangguan
pencernaan berkaitan dengan Sistem susunan saraf pusat saat ini sedang menjadi
perhatian utama kaum klinisi. Penelitian secara neuropatologis dan
imunoneurofisiologis banyak dilaporkan. Teori inilah juga yang menjelaskan tentang
salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku seperti autism melalui
Intestinal Hypermeability atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome. Golan dan
Strauss tahun 1986 melaporkan adanya Abdominal epilepsy, yaitu adanya
gangguan pencernaan yang dapat mengakibatkan epilepsi. KETERKAITAN
HORMONAL DENGAN ALERGI Keterkaitan hormon dengan peristiwa alergi dilaporkan
oleh banyak penelitian. Sedangatan perubahan hormonal itu sendiri tentunya dapat
mengakibatkan manifestasi klinik tersendiri. Lynch JS tahun 2001 mengemukakan
bahwa pengaruh hormonal juga terjadi pada penderita rhinitis alergika pada
kehamilan. Sedangkan Landstra dkk tahun 2001 melaporkan terjadi perubahan
penurunan secara bermakna hormone cortisol pada penderita asma bronchial saat
malam hari. Penemuan bermakna dilaporkan Kretszh dan konitzky 1998, bahwa
hormon alergi mempengarugi beberapa manifestasi klinis sepereti endometriosis
dan premenstrual syndrome. Beberapa laporan lainnya menunjukkan keterkaitan
alergi dengan perubahan hormonal diantaranya adalah cortisol, metabolic,
progesterone dan adrenalin. Pada penderita alergi didapatkan penurunan hormon
kortisol, esterogen dan metabolik. Penurunan hormone cortisol dapat menyebabkan
allergy fatigue stresse, sedangkan penurunan hormone metabolic dapat

mengakibatkan perubahan berat badan yang bermakna. Hormona lain uang


menurun adalah hormone esterogen. Alergi juga dikaitkan dengan peningkatan
hormone adrenalin dan progesterone. Peningkatan hormon adrenalin menimbulkan
manifestasi klinis mood swing, dan kecemasan. Sedangkan penongkatan hormone
progesterone mengakibatkan gangguan kulit, Pre menstrual Syndrome, Fatigue dan
kerontokan rambut. Gambar 1 . Beberapa Hormon yang berkaitan dengan alergi
dan gejalanya 5. PENATALAKSANAAN Penanganan alergi pada anak haruslah
dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus
menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan alergi, tetapi yang paling ideal
adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
Diagnosis pasti alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya dengan tes alergi baik
tes kulit, RAST, atau pemeriksaan alergi lainnya. Pemeriksaan tersebut mempunyai
keterbatasan dalam sensitifitas dan spesifitas, sehingga validitasnya tidak terlalu
baik. Jadi tidak boleh menghindari makanan penyebab alergi atas dasar tes alergi
tersebut. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan
Provokasi makanan secara buta (Double blind placebo control food chalenge =
DBPCFC) Makanan penderita dieliminasi selama 2-3 minggu dalam diet sehari-hari.
Setelah 3 minggu bila keluhannya menghilang maka dilanjutkan dengan provokasi
makanan yang dicurigai. Setelah itu dilakukan diet provokasi 1 bahan makanan
dalam 1 minggu bila timbul gejala dicatat. Disebut sebagai penyebab alergi bila
dalam 3 kali provokasi menimbulkan gejala Diagnosis pasti alergi makanan tidak
dapat ditehakkan dengan tes alergi baik tes kulit, RAST, atau pemeriksaan alergi
lainnya. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan
Provokasi makanan secara buta (Double blind placebo control food chalenge =
DBPCFC) Makanan penderita dieliminasi selama 2-3 minggu dalam diet sehari-hari.
Setelah 3 minggu bila keluhannya menghilang maka dilanjutkan dengan provokasi
makanan yang dicurigai. Setelah itu dilakukan diet provokasi 1 bahan makanan
dalam 1 minggu bila timbul gejala dicatat. Disebut sebagai penyebab alergi bila
dalam 3 kali provokasi menimbulkan gejala Penanganan khusus alergi pada anak
dengan gangguan Spektrum Autisme harus melibatkan beberapa disiplin ilmu
lainnya. Bila perlu dikonsultasikan pada bidang alergi anak, Neurology anak,
psikiater anak, tumbuh kembang, endokrinologi anak dan gastroenterologi anak.
Namun bila pendapat dari beberapa ahli tersebut bertentangan dan manifestasi
alergi lainnya jelas pada anak tersebut, maka tidak ada salahnya kita lakukan
penatalaksanaan alergi makanan dengan eliminasi terbuka. Eliminasi makanan
tersebut dievaluasi setelah 3 minggu dengan memakai catatan harian. Bila
gangguan perkembangan dan perilaku tersebut terdapat perbaikkan maka dapat
dipastikan bahwa gangguan tersebut penyebab atau pencetusnya adalah alergi
makanan. 6. PROGNOSIS Alergi makanan biasanya akan membaik pada usia
tertentu. Setelah usia 2 tahun biasanya imaturitas saluran cerna akan membaik.
Sehingga setelah usia tersebut gangguan saluran cerna karena alergi makanan juga
akan ikut berkurang. Bila gangguan saluran cerna akan membaik maka biasanya
gangguan perilaku yang terjadipun akan berkurang. Selanjutnya pada usia di atas 5
atau 7 tahun alergi makananpun akan berkurang secara bertahap. Perbaikan gejala

alergi makanan dengan bertambahnya usia inilah yang menggambarkan bahwa


gejala Autismepun biasanya akan tampak mulai membaik sejak periode usia
tersebut. Meskipun alergi makanan tertentu biasanya akan menetap sampai
dewasa, seperti udang, kepiting atau kacang tanah. 7. PENUTUP Permasalahan
alergi pada anak tampaknya tidak sesederhana seperti yang diketahui. Sering
berulangnya penyakit, demikian luasnya sistem tubuh yang terganggu dan bahaya
komplikasi yang terjadi termasuk pengaruh ke otak. Pengaruh alergi makanan ke
otak tersebut adalah sebagai salah satu faktor pemicu penyakit Autisme. Eliminasi
makanan tertentu dapat mengurangi gangguan perilaku pada penderita Autisme.
Diagnosis pasti alergi makanan hanya dipastikan dengan cara eliminasi provokasi
makanan. Penghindaran makanan penyebab alergi tidak dapat dilakukan hanya
atas dasar hasil tes kulit alergi atau tes alergi lainnya, karena keterbatasan
pemeriksaan tersebut. Dengan melakukan deteksi dini gejala alergi dan gejala
gangguan perkembangan dan perilaku maka pengaruh alergi terhadap otak dapat
diminimalkan. http://puterakembara.org/rm/Alergi3.shtml ALERGI MAKANAN
DEFINISI : Adalah gejala klinis yang timbul setelah makan sesuatu makanan karena
reaksi badan yang abnormal terhadap makanan atau terhadap bahan tambahan
dari makanan tersebut. PATOFISIOLOGI : Ada 4 faktor yang berperan : 1. Faktor
mukosa saluran cerna belum dewasa, penyerapan alergen bertambah, hal ini dapat
disebabkan karena : Kekurangan IgA sekretorik Barier mukosa tidak efisien,
misalnya akibat infeksi, inflamasi, perubahan pH dari lumen. 2. Faktor imunologik
pembentukan IgE spesifik terhadap alergen makanan. Timbul reaksi tipe segera.
Terbentuk pula IgG, IgM spesifik, dapat terjadi reaksi tipe III atau dapat terjadi reaksi
tipe lambat bila sel limfosit sensitif. 3. Faktor non imunologik reaksi terhadap zat
toksin yang terdapat dalam makanan, reaksi terhadap bahan warna. 4. Faktor
genetik seseorang dengan HLA B8, DW3, cenderung mendapat alergi makanan. 5.
Faktor lain : makanan padat terlalu awal pada bayi Pemberian susu buatan.
ETIOLOGI : Contoh makanan yang dapat memberikan reaksi alergi menurut
prevalensinya Ikan 15,4 % Telur 12,7 % Susu 12,2 % Kacang 5,3 % Gandum 4,7 %
Apel 4,7 % Kentang 2,6 % Coklat 2,1 % Babi 1,5 % Sapi 3,1 % Hampir semua jenis
makanan dan zat tambahan pada makanan dapat menimbulkan reaksi alergi.
GEJALA KLINIS : Pada umumnya menifestasi klinis alergi makanan terdapat di : 1.
Oropharynx dan gastrointestinal yaitu : edema dan gatal, di bibir dan mukosa
mulut, mual, muntah, kejang perut dan diare. 2. Kulit : urtikaria akut, angioedema,
pruritus, eritema, karena peningkatan histamin plasma. 3. Saluran napas : asma
bronkial, rinitis biasanya menunjukkan alergi terhadap aeroalergen/inhalan tetapi
hasil penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan alegi makanan dengan
asma bronkial, rinitis dan lain-lain, terutama pada anak. Seperti : susu, telor, coklat,
kacang, ikan, udang. 4. Manifestasi vaskuler : pusing, migren dapat disebabkan oleh
: keju, anggur, kerang, tomat, kopi kacang, susu, coklat, kenari, natrium sitrat atau
makanan yang mengandung pressoramin yang lain. 5. Manifestasi muskuloskeletal :
adanya hubungan erat antara alergi makanan dan penyakit rematik yaitu : kenari,
tembakau, kacang, ekstrak makanan, natrium sitrat, bahan petrokimia, susu,

tartrazine, debu rumah, dan lain-lain. 6. Manifestasi psikologik : reaksi ansietas dan
skizofrenia ada hubungannya dengan susu cereal, kacang-kacangan, penyebabnya
belum jelas. DIAGNOSA : Anamnesa : Dasar diagnosa yang terpenting adalah
anamnesa yang cermat meliputi jenis makanan yang dimakan, selang waktu
timbulnya gejala, jumlah makanan yang dimakan, riwayat penyakit atopi / riwayat
keluarga dengan penyakitnya. Macam makanan, pada umumnya makanan yang
dimasak, kurang alergenitas dibanding dengan yang mentah, dan sering terjadi
reaksi silang antara makanan sejenis. Dicari apakah ada bahan pengawet yang
dipakai dalam makanan tersebut. Gejala dapat timbul - 48 jam sesudah makan.
Pemeriksaan Fisik : Mencari tanda-tanda alergi, adanya urtikaria, asma, tanda-tanda
shock anafilaktik dan gejala gastrointestinal, vsakuler, muskuloskeletal dan lain-lain.
Pemeriksaan Laboratorium : Adanya peningkatan kadar eosinofil dan IgE
spesifik dalam darah menunjukkan adanya alergi. Tes kulit : tes gores untuk mencari
alergen penyebab. Ada korelasi yang baik antara tes kulit dengan alergen makanan
seperti : susu, telor, coklat, ikan, kacang, udang, dan lainlain apabila diameter
bintul +/- 3 mm. Tes intradermal nilainya terbatas, berbahaya. Tes hemaglutinin dan
antibodi presipitat tidak sensitif. Biopsi usus : sekunder dan sesudah dirangsang
dengan makanan food chalenge didapatkan inflamasi / atrofi mukosa usus,
peningkatan limfosit intraepitelial dan IgM. IgE ( dengan mikroskop
imunofluoresen ). Pemeriksaan/ tes D Xylose, proktosigmoidoskopi dan biopsi usus.
Diit coba buta ganda ( Double blind food chalenge ) untuk diagnosa pasti.
DIAGNOSA BANDING : Gastrointestinal refluks, ulkus peptikum, sindrom
malabsorbsi, gangguan psikologik, pankreatitis, keracunan obat ( teofilin ).
Intoleransi makanan : reaksi non imunologik yang abnormal, namun masih
merupakan reaksi fisiologik. Idiosinkrasi makanan : reaksi terhadap makanan tidak
berlandaskan reaksi imunologik. Biasanya terhadap bahan pengawet atau bahan
warna yang terkandung dalam makanan. Keracunan makanan : reaksi timbul dan
mengenai semua yang makan makanan tersebut, karena makanan mengandung
bahan toksik atau terkontaminasi oleh bakteri yang membuat toksin.
PENATALAKSANAAN : Diit Eliminasi Berdasarkan riwayat penyakit dan tes buta
ganda, harus dievaluasi sesudah beberapa lama, kalau perlu konsultasi dengan ahli
diit. Setelah diit selama 6 bulan dapat dirangsang dengan makanan diit coba
( chalenge ) lagi. Makanan yang boleh dimakan : nasi, pepaya, kambing, ayam,
daging sapi, wortel, sayur, ubi, singkong, jagung, minyak, garam, gula, madu, dan
cuka. Makanan yang tidak boleh dimakan : semua makanan yang dicurigai dapat
menyebabkan reaksi alergi : merica, bumbu-bumbu dapur, kopi, teh, permen,
udang, ikan laut, telor, coklat, dan sebagainya. Obat-obatan Antihistamin dapat
dipakai Chlortrimetan 2 4 mg/ hari atau antihistamin lain, obat-obatan golongan
adrenergik/ epinephrin 1/1000 0,3 cc/subkutan : bila timbul reaksi anafilaktik. Dapat
diberi Kortikosteroid, Prednison 5 mg 3 x 1 2 tablet/hari, kemudian dosis
diturunkan.
Recommended

Alergi Makanan Pada Anak

TUGAS TERSTRUKTUR IMUNOLOGI ALERGI MAKANAN DAN HUBUNGANNYA


DENGAN KEJADIAN AUTISME PADA ANAK-ANAK Disusun Oleh : Hoirul Mustakim
( G1F007062 ) www.hoirulblog.co.cc UNIVERSITAS

Alergi Makanan Pada Anak

med

Alergi Pada Anak

disease

Mengenal gejala alergi pada anak

Alergi Susu Sapi Pada Anak

KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmatNya referat
ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada dr.

Rinitis Alergi Pada Anak Translate

jkhiuhojk;ppl[

Alergi susu sapi pada anak

alergi susu sapi pada anak

jurnal rinitis alergi pada anak

jurnal rinitis alergi pada anak

Keracunan Makanan Pada Anak

BAB I. PENDAHULUAN Keracunan adalah masuknya zat racun ke dalam tubuh melalui
saluran pencernaan, inhalasi atau kontak langsung yang menimbulkan tanda dan gejala klinis
khas.

ALERGI MAKANAN

Oleh Dr.dr. Suyanto Sidik, SpPD. 1 ALERGI MAKANAN BATASAN: Gej klinik timbul ssdh
makan sesuatu makanan/bahan tambahan dari makanan PATOFISIOLOGI: 1. Faktor mucosa sel
cerna

alergi makanan

tinjauan pustaka mengenai alergi makanan, patogenesis, penyebab, penatalaksanaan

Alergi Makanan

BAB I PENDAHULUAN Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak
organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan. Diagnosis alergi

alergi makanan

Alergi makanan bisa menyerang siapa saja dengan kadar yang berbeda beda. Pada saat seseorang
menyantap makanan kemudian timbul perasaan tidak enak pada tubuhnya maka mereka

ALERGI MAKANAN

tugas farmakologi

Alergi makanan

alergi

Alergi makanan

Manifestasi Alergi Makanan

Manifestasi Alergi Makanan pada Telinga, Hidung, dan Tenggorok Pendahuluan Alergi makanan
adalah penyakit alergi yang disebabkan oleh alergen yang terdapat dalam makanan.

Alergi Makanan Dan Kulit

ALERGI MAKANAN DAN KULIT M. Cholis Bag.I.P. Kulit dan Kelamin FK Alergi
makanan : ReaksiUnibraw/ RSUD Dr. Saiful Anwar Malang imunologik terhadap makanan
dan pelengkap

Alergi Makanan Berbuntut Autisme

Alergi Makanan Berbuntut Autisme By Leonardo Poedjirahardjo in Indonesia Peduli Autis &
ADHD (Attention deficit hyperactivity disorder) Edit Doc Alergi Makanan Berbuntut

Kuliah alergi makanan

1. Alergi MakananProf DR Dr Ariyanto Harsosno SpA(K) 2. Alergi makanan&#xF076;Difinisi:


kumpulan gejala yang mengenai banyak organyang ditimbulkan oleh alergi terhadap

View more
Subscribe to our Newsletter for latest news.