Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN, KINERJA DAN KEPATUHAN ATAS ENTITAS

KOMERSIAL, NIRLABA, DAN ETAP

Disusun Oleh:
Listya Nindita

2015271115

Dicky Andriyanto

2015271117

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN, KINERJA DAN KEPATUHAN ATAS
ENTITAS KOMERSIAL

Pengertian Analisa Laporan Keuangan


Analisa laporan keuangan adalah kegiatan menganalisa laporan keuangan. Yang lahir
dari suatu konsep dan sistem akutansi keuangan. Dengan memahami sifat dan konsep
akutansi keuangan maka akan lebih mengenal sifat dan konsep laporan keuangan sehingga
dapat menjaga kemungkinan salah tafsir terhadap informasi yang diberikan melalui laporan
keuangan sehingga kesimpulan yang didapat akan lebih akurat.
Menurut Myer (2004:5) definisi analisa laporan keuangan adalah Analisa laporan
keuangan adalah analisa mengenai dua daftar yang disusun oleh akuntan pada akhir periode
untuk suatu perusahaan.
Menurut Dwi Prastowo (2008:56) definisi analisis laporan keuangan adalah: Analisa
laporan keuangan adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan
bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan
pemahaman arti keseluruhan.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa analisa laporan keuangan (financial
statement analysis) adalah proses penganalisaan atau penyidikan terhadap laporan keuangan
yang terdiri dari neraca dan laporan laba rugi beserta lampiran-lampirannya untuk
mengetahui posisi keuangan dan tingkat kesehatan perusahaan yang tersusun secara
sistematis dengan menggunakan teknik-teknik tertentu.
Tujuan Analisa Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan alat yang penting untuk memperoleh informasi
sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan.
Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang cukup penting untuk
mengambil keputusan yang bersifat ekonomi. Analisa laporan keuangan mencakup
pengaplikasian berbagai alat dan teknik analisa pada laporan keuangan dan data keuangan
dalam rangka untuk memperoleh ukuran-ukuran dan hubungan yang berarti dan berguna
dalam proses pengambilan keputusan. Analisa laporan keuangan dilakukan untuk mencapai
tujuan:
1. Untuk mengetahui perubahan posisi keuangan perusahaan pada satu periode tertentu
baik aktiva, kewajiban, dan harta maupun hasil usaha yang telah dicapai.
2. Untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan apa saja yang dimiliki oleh perusahaan.
3. Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu dilakukan kedepan
yang berkaitan dengan posisi keuangan saat ini.

4. Untuk melakukan penilaian atau evaluasi kinerja manajemen kedepan,apakah perlu


penyegaran atau tidak karena sudah dianggap berhasil atau belum.
Komponen Laporan Keuangan
Menurut PSAK 1 dan IAS 1 paragraf 10 :
1. Laporan posisi keuangan (neraca) pada akhir periode
2. Laporan laba rugi komprehensif selama periode
3. Laporan perubahan ekuitas selama periode
4. Laporan arus kas selama periode
5. Catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi
penjelasan lain
6. Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas
menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali
pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan
keuangannya.
Teknik Analisa Laporan Keuangan
1. Metode Komparatif.
Metode ini digunakan dengan memanfaatkan angka-angka laporan keuangan dan
membandingkan dengan angka-angka laporan keuangan lainnya. Misalnya perbandingan
dalam beberapa tahun contohnya, laporan keuangan tahun 2014 dibandingkan dengan laporan
keuangan tahun 2015, atau perbandingan dengan budget (anggaran perusahaan).
2. Metode Analisis.
Analisis ini harus menggunakan teknik perbandingan laporan keuangan beberapa tahun dan
dari sini digambarkan trendnya. Trend analysis ini biasanya dibuat melalui grafik dan untuk
itu perlu dibantu oleh pengetahuan statistik misalnya menggunakan linear programming ,
rumus chi square, rumus y = a + bx.

3. Common Size Financial Statement (Laporan bentuk awam).

Metode ini merupakan metode analisis yang menjadikan laporan keuangan dalam bentuk
presentase. Presentase itu biasanya dikaitkan dengan suatu jumlah yang dinilai penting,
misalnya asset untuk neraca, penjualan untuk laba rugi.
4. Metode Index Time Series.
Metode ini dihitung dengan indeks dan digunakan untuk mengkonversikan angka-angka
laporan keuangan. Biasanya ditetapkan tahun dasar yang diberi indeks 100. Untuk
menghitung indeks maka digunakan rumus sebagai berikut :
Indeks 2001 = Angka Laporan Keuangan 2001 X 100%
Angka Dasar
Rasio Laporan Keuangan
Rasio laporan keuangan adalah perbandingan antara pos-pos tertentu dengan pos lain
yang memiliki hubungan signifikan (berarti). Rasio keuangan ini hanya menyederhanakan
hubungan antara pos tertentu dengan pos lainnya. Adapun rasio keuangan yang popular
adalah :
1. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam
menyelesaikan semua kebutuhan jangka pendek. Adapun yang termasuk dalam rasio
likuiditas adalah :
1. Rasio Lancar (Current Ratio) adalah kemampuan untuk membayar kewajiban yang
segera harus dipenuhi denganaktiva lancar. Apabila rasio lancar ini 1 : 1 atau 100 %,
berarti aktiva lancar dapat menutupi semua hutang lancar.

2. Rasio Cepat (Quick ratio), Rasio ini menunjukan kemampuan aktiva lancar yang
paling likuid mampu menutupi hutang lancar. Semakin besar rasio ini maka semakin
baik, rasio ini disebut juga dengan acid test ratio. Angka rasio ini tidak harus 100 %
atau 1 : 1.

3. Rasio Kas (Cash Ratio) atas Aktiva Lancar, Rasio ini menunjukan porsi jumlah kas
dibandingkan dengan total aktiva lancar.
Rasio Kas atas aktiva lancar = Kas
Aktiva Lancar
4. Rasio Kas atas Hutang Lancar, Rasio ini menunjukan porsi jumlah kas yang dapat
menutupi hutang lancar.

5. Rasio Aktiva Lancar dan Total Aktiva, Rasio ini menunjukan porsi aktiva lancar
atas total aktiva.
Rasio Aktiva Lancar dan Total Aktiva = Aktiva Lancar
Total Aktiva
6. Aktiva Lancar dan Total Hutang, Rasio ini menunjukan porsi aktiva lancar atas
total kewajiban perusahaan.
Aktiva Lancar dan Total Hutang = Aktiva Lancar
Utang Jangka Panjang
2. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar
kewajiban jangka panjang atau kewajiban-kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi.
Rasio solvabilitas antara lain :

Rasio Hutang atas Ekuitas (Debt to Equity Ratio)


Rasio ini menggambarkan sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi

hutang-hutang kepada pihak luar. Semakin kecil rasio ini semakin baik.

Debt Service Ratio


Rasio ini menggambarkan sejauh mana laba setelah dikurangi bunga dan

penyusutan serta biaya non kas dapat menutupi kewajiban bunga dan pinjaman. Semakin
besar rasio ini semakin besar perusahaan dapat menutupi semua hutang-hutangnya.
Debt Service Ratio = Laba Bersih + bunga + penyusutan + beban non kas
Pembayaran bungan dan pinjaman

Rasio Hutang atas Aktiva (Debt to Assets Ratio)


Rasio ini menunjukan sejauh mana hutang dapat ditutupi oleh aktiva, lebih besar

rasionya maka lebih aman, supaya aman porsi hutang terhadap aktiva harus lebih kecil.

3. Rasio Profitabilitas.
Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba melalui
semua

kemampuan

dan

sumber

yang

ada,

seperti

kegiatan

penjualan,

kas,

modal, jumlah karyawan dan sebagainya. Rasio yang menggambarkan kemampuan


perusahaan menghasilkan laba disebut juga operating ratio. Rasio profitabilitas antara lain :
1. Profit Margin
Angka ini menunjukan berapa besar presentase pendapatan bersih yang diperoleh dari
setiap penjualan. Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap kemampuan
perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi.
Profit Margin = Pendapatan Bersih
Penjualan
2. Return On Total Assets
Rasio ini menunjukan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari
nilai aktiva.
ROA = Laba Bersih
Rata-rata total Aset

3. Return On Investment
Rasio ini menunjukan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal
pemilik. Semakin besar maka akan semakin baik.
ROI = Laba Bersih
Rata-rata Total Modal (equity)
4. Operating Ratio
Menunjukan biaya operasi per rupiah penjualan, semakin besar rasio ini berarti
semakin buruk.
Operating Ratio = (HPP + biaya admin&umum)
Penjualan Bersih
4. Rasio Aktivitas.
Rasio ini menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan
operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya. Rasio ini
menunjukan bagaimana sumber daya telah dimanfaatkan secara optimal, kemudian dengan
cara membandingkan rasio aktivitas dengan standar industri, maka dapat diketahui tingkat
efisiensi perusahaan dalam industri. Yang termasuk dalam rasio ini adalah :

Receivable Turn Over


Rasio ini menunjukan berapa cepat penagihan piutang. Semakin besar semakin

baik karena penagihan piutang dilakukan dengan cepat.

Inventory Turn Over


Rasio ini menunjukkan seberapa cepat perputaran persediaan dalam siklus

produksi normal. Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap bahwa kegiatan
penjualan berjalan cepat.

Fixed Asset Turn Over


Rasio ini menunjukkan berapa kali nilai aktiva berputar jika diukur dari nilai

penjualan. Semakin tinggi rasio ini semakin baik artinya kemamapuan aktiva tetap
menciptakan penjualan tinggi.

Total Asset Turn Over


Rasio ini menunjukkan perputaran total aktiva diukur dari volume penjualan

dengan kata lain seberapa jauh kemampuan semua aktiva menciptakan penjualan.
Semakin tinggi rasio ini semakin baik.

Periode Penagihan Piutang


Angka ini menunjukkan berapa lama perusahaan melakukan penagihan piutang.

Semakin pendek periodenya semakin baik. Rasio ini sejalan dengan informasi yang
digambarkan receivable turn over.
Periode Penagihan Piutang = Piutang(rata-rata)
Penjualan perhari
Dasar Pembanding atau Unsur Pembanding
Dalam analisa perbandingan laporan keuangan, diperlukan adanya dasar pembanding,
dasar pembanding dapat diambil berdasarkan kebutuhan penganalisa.
Adapun dasar pembanding yang biasanya dipakai adalah:
1. Periode atau tahun awal.
Misalnya tahun 2012, 2013, 2014 dan 2015, karena tahun 2012 koperasi dianggap
mulai menjalankan operasi usaha dengan lancar dan stabil maka tahun 2012 digunakan
sebagai tahun dasar (starting point) untuk dasar analisa tahun-tahun selanjutnya.
2. Periode atau tahun sebelumnya.
Dengan membandingkan tahun sebelumnya, penganalisa ingin melihat perkembangan
dua tahun terakhir. Misalnya tahun 2012, 2013, 2014, dan 2015 maka analisa perbandingan

akan membandingkan antara tahun 2012 dengan 2013 atau 2013 dengan 2014 dan 2014
dengan 2015.
3. Tahun yang dianggap normal.
Dari tahun-tahun yang telah berjalan, akan diambil tahun yang dianggap koperasi
berjalan dengan sangat stabil, dan paling berprestasi sehingga tahun-tahun yang lain akan
diukur atau dibandingkan dengan tahun tersebut.

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN, KINERJA DAN KEPATUHAN ATAS


ENTITAS NIRLABA
Pengertian Organisasi Nirlaba
Organisasi nirlaba adalah organisai yang lebih memperhatikan jumlah kas dan saldo investasi mereka
tetapi bukan laba. Tidak terdapat kebutuhan bagi mereka untuk mencetak laba (Willey, 2003 dalam Yanita,
2010). Sedangkan definisi nirlaba adalah bersifat tidak mengutamakan pemerolehan keuntungan (Pusat
Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002).
Organisasi nirlaba atau bisnis nonlaba bertujuan melayani beberapa kelompok stakeholders, yang
anggotanya lebih luas dari pada stockholders. Stakeholders meliputi board of trustees, manajer, pegawai atau
karyawan, kreditur, supplier, konsumen dan masyarakat sekitar (Sartono 2000).
Organisasi nirlaba dapat terus bertahan hidup demikian lama karena mereka memiliki sumber daya
kas yang memadai untuk program-program organisasi, jadi lembaga keuangan organisasi nirlaba seringkali
menekankan sumber daya finansial yang likuid dalam organisasi. Organisasi komersial juga memperhatikan
kas, tapi jika mereka dapat mencetak laba mereka mungkin akan mampu membiayai kebutuhan mereka
melalui pinjaman atau dari investasi. Perhatian utama mereka adalah profitabilitas ini berarti akuntansi
komersial menekankan keseimbangan antara penapatan dan biaya (Willey, 2003 dalam Yanita, 2010).
Sifat operasi kebanyakan organisasi nirlaba adalah bahwa organisasi nirlaba mendapat sebagian besar
pendapatan organisasi dari kontribusi (bukan dari penerimaan biaya atas jasa) (Willey, 2003 dalam Yanita,
2010). Bisnis nirlaba memperoleh modal sendiri atau fund capital dengan cara memperbesar laba yang
diperoleh, menerima sumbangan atau bantuan dan donasi dari individu atau kelompok masyarakat. Bisnis
non laba tidak memiliki pilihan seperti hal nya organisasi mencari laba, sehingga penentuan opportunity cost
of fund capital menjadi sangat sulit (Sartono 2000)
Tujuan Laporan Keuangan Organisasi Nirlaba
Tujuan utama bisnis nirlaba adalah menyediakan jasa kepada masyarakat sekitarnya dan bukan
memaksimumkan kemakmuran pemegang saham. Dalam kondisi demikian maka capital budgeting harus
memperhatikan beberapa faktor selain profitabilitas proyek yang dibiayai (Sartono 2000).
Tujuan Laporan Keuangan: Tujuan utama laporan keuangan organisasi nirlaba pada
dasarnya memiliki kesamaan dengan tujuan laporan keuangan organisasi komersial, yaitu
menyajikan informasi yang relevan atas kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh organisasi
tersebut. Namun, dikarenakan adanya perbedaan tujuan organisasi, menyebabkan adanya
perbedaan pada kalangan pemakai laporan keuangan dan isi dari laporan keuangan tersebut.

PSAK Nomor 45 memberikan pengertian tujuan laporan keuangan organisasi nirlaba adalah
untuk menyediakan informasi yang relevan untuk memenuhi kepentingan para penyumbang,
anggota organisasi, kreditur, dan pihak lain yang menyediakan sumber daya bagi organisasi
nirlaba.
Komponen Laporan Keuangan Organisasi Nirlaba
Pada dasarnya, praktek akuntansi untuk organisasi nirlaba tidak jauh berbeda dengan
bisnis. Hal ini terlihat jelas bahwa aturan akuntansi organisasi nirlaba diatur sebagai bagian
dari Standar Akuntansi Keuangan (SAK) tepatnya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) No. 45 : Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba. Jadi, lebih tepatnya yang diatur
adalah pelaporannya, teknis akuntasinya diatur secara mandiri diserahkan kepada entitas
masing-masing. Dengan bentuk pelaporannya yang sudah diatur dalam PSAK 45, secara
tidak langsung pencatatan transaksi akan dibuat oleh entitas mengikuti format laporan yang
telah ada.
Prinsipnya, pencatatan transaksi organisasi nirlaba dari penerimaan kas, pengeluaran
kas, pembelian, penjualan produk jasa, penyusutan, dan transaksi reguler lainnya tidak ada
perbedaan dengan organisasi bisnis, namun yang membuat berbeda adalah organisasi nirlaba
tidak ada pihak yang menjadi pemilik, sehingga tidak ada transaksi yang berhubungan
dengan penjualan atau perubahan kepemilikan, atau tidak adanya alokasi dana atau sumber
daya hasil likuidasi (pembubaran organisasi) kepada orang-orang tertentu.
Informasi keuangan dari suatu organisasi nirlaba kepada pihak eksternal terdiri dari
(PSAK No.45) :
1. Laporan Posisi Keuangan
Tujuan posisi keuangan adalah untuk menyediakan informasi mengenai asset,
kewajiban serta asset bersih dan informasi mengenai hubungan diantara unsur-unsur
tersebut pada waktu tertentu. Informasi dalam laporan posisi keuangan yang
digunakan bersama pengungkapan, dan informasi dalam laporan keuangan lainnya
dapat membantu para penyumbang, anggota organisasi, kreditor dan pihak-pihak lain
untuk menilai :
a. Kemampuan organisasi untuk memberikan jasa secara berkelanjutan
b. Likuiditas, fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk memenuhi kewajibannya
dan kebutuhan pendanaan eksternal.
2. Laporan Aktivitas
Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan informasi mengenai :

a. Pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat asset
bersih,
b. Bagaimana penggunaan sumber daya dalam pelaksanaan berbagai program atau
jasa, informasi dalam laporan aktivitas, yang digunakan bersama dengan
pengungkapan informasi dalam laporan keuangan lainnya, dapat membantu para
penyumbang, anggota organisasi, kreditor dan pihak-pihak lain untuk a)
mengevaluasi kinerja dalam suatu periode, b) menilai upaya, kemampuan dan
kesinambungan organisasi dan memberikan jasa serta c) menilai pelaksanaan
tanggung jawab dan kinerja manajer.
3. Laporan Arus Kas
Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi mengenai penerimaan
dan pengeluaran kas dalam satu periode. Laporan arus kas disajikan sesuai
PSAK No. 2 tentang laporan arus kas dengan tambahan berikut ini: a) aktivitas
pendanaan, b) pengungkapan informasi mengenai aktivitas investasi dan pendanaan
non kas, sumbangan berupa bangunan atau asset investasi.
4. Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan ini merupakan bagian yang tidak terpisah dari laporan-laporan di atas yang
bertujuan memberikan informasi tambahan tentang perkiraan-perkiraan yang
dinyatakan dalam laporan keuangan.
Kinerja Keuangan
Menurut Mulyadi (2007), kinerja keuangan adalah penentuan ukuran-ukuran tertentu
yang dapat mengukur keberhasilan suatu organisasi dalam menghasilkan laba. Kinerja
organisasi dapat diukur berdasarkan berbagai cara, baik dari segi financial maupun dari segi
non financial. Sebagai contoh, pengukuran-pengukuran kinerja organisasi tersebut dapat
berupa kapasitas produksi, perluasan jangkauan pelayanan, produktivitas karyawan, aduan
masyarakat, keputusan konsumen, pendapatan, beban dan banyak ukuran atau rasio yang
dapat dipakai untuk mengakuinya.
Dari segi finansial, kinerja organisasi dapat diukur berdasarkan tingkat pendapatan
yang merupakan komponen penting yang ingin dicapai dalam tujuan organisasi. Pendapatan
bagi suatu organisasi merupakan hal yang sangat penting, karena dengan pendapatan, operasi
organisasi dapat berjalan serta diharapkan akan memperoleh laba untuk kelangsungan hidup
serta pengembangan organisasi.
Pengukuran kinerja yang efektif pada Organisasi Nirlaba dirancang untuk
menunjukkan pemimpin nirlaba bagaimana menggunakan pengukuran kinerja organisasi
untuk peningkatan kemampuan organisasi untuk memenuhi misinya. Untuk secara efektif
mengatasi berbagai tantangan yang baru dihadapi eksekutif, isi dan orientasi dari program ini

dibangun di sekitar kesadaran bahwa berbagai jenis masalah kinerja memerlukan pendekatan
yang berdeda (Altman, 1968).
Rasio Keuangan Organisasi Nirlaba
Rasio keuangan yang merupakan indikator keuangan pada organisasi nirlaba
digunakan oleh Prabowo (2007), dimana rasio tersebut merupakan modifikasi dari Ritchie
dan Kolodinsky (2003) dan Core et al (2006) untuk mengidentifikasi rasio keuangan
organisasi nirlaba (yayasan universitas) Amerika. Analisis rasio digunakan untuk menguji
apakah rasio-rasio tersebut relevan untuk digunakan dalam konteks Indonesia dan organisasi
nirlaba yang bergerak di luar bidang pendidikan.
1. Rasio-rasio Kinerja Fiskal
Rasio kinerja fiskal merupakan suatu rasio untuk mengukur kinerja fiskal suatu
organisasi nirlaba. Berikut ini adalah beberapa perhitungan dalam rasio kinerja fiskal
yang relevan untuk konteks Indonesia dan organisasi nirlaba yang bergerak diluar
sektor pendidikan:
a. Total pendapatan dibagi total aset
b. Total pendapatan dibagi total biaya
c. (Total pendapatan kurang total biaya) dibagi dengan total pendapatan
d. (Total pendapatan kurang total biaya) dibagi dengan total aset
e. Aset bersih dibagi dengan total aset
2. Rasio efisiensi aktifitas non program
Pada organisasi-organisasi nirlaba yang berada di Indonesia tidak ada yang
memasukkan biaya-biaya pencarian dana dapat disebut juga dengan biaya non
program karena setiap rupiah yang dikeluarkan untuk mencari dana itu akan
mendatangkan pendapatan bagi organisasi. Biaya non program adalah biaya-biaya
yang digunakan untuk membiaya aktifitas non program (misalnya beban gaji ukuran
tetap, beban sewa rumah, beban penyusutan, dan seterusnya) dari organisasi nirlaba
yang mendukung visi, misi dan tujuan organisasi. Rasio efisiensi ini semakin baik.
Rasio efisiensi aktifitas non program merupakan perbandingan antara total
pendapatan dengan biaya non program. Komponen dari rasio efisiensi aktivitas non
program adalah:
Total pendapatan dibagi dengan biaya non program. Modifikasi dari rasio total
pendapatan dibagi dengan biaya penerimaan dana.
3. Rasio dukungan publik
Rasio dukungan publik adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
organisasi untuk mengumpulkan pendapatan (dana) dari publik atau dengan kata lain
merupakan indeks dari dukungan publik terhadap suatu organisasi. Komponen dari
rasio dukungan publik ini adalah :

a. Total kontribusi dibagi dengan total biaya


b. Total kontribusi dibagi dengan total aset
c. Total kontribusi dibagi dengan total pendapatan
4. Rasio kinerja investasi
Rasio kinerja investasi merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa
efektif investasi yang dilakukan oleh organisasi nirlaba. Rasio kinerja inevestasi
merupakan perbandingan antara kas dan setara kas dengan total aset. Semakin
meningkat rasio ini semakin efektif. Komponen dari rasio kinerja investasi adalah:
Kas dan setara kas dibagi dengan total aset
5. Rasio efisiensi program
Rasio efisiensi program adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa
efisiensi penggunaan dana yang dicairkan untuk membiayai pelaksanaan program
(misalnya kampanye, program pemberdayaan, program bantuan kemanusiaan, dsb).
Rasio efisiensi program merupakan perbandingan antara biaya program dengan total
biaya. Biaya program adalah biaya-biaya yang digunakan untuk membiayai aktifitas
program utama dari organisasi nirlaba yang mendukung visi, misi, dan tujuan
organisasi tersebut. Semakin meningkat rasio ini semakin baik.
Komponen dari efisiensi program ini adalah : biaya program dibagi dengan total biaya

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN, KINERJA DAN KEPATUHAN ATAS


ENTITAS ETAP
Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Batas Akuntabilitas Publik (SAK
ETAP) dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa
akuntabilitas publik adalah entitas yang:
a. tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan
b. menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement)
bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat
langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.
Entitas memiliki akuntabilitas publik signifikan jika:

a. entitas telah pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran,
pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal;
atau
b. Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar
masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang adan atau pedagang efek, dana pensiun,
reksa dana dan bank investasi.
Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan SAK ETAP
jika otoritas berwenang membuat regulasi mengizinkan penggunaan SAK ETAP. Berikut
beberapa alasan penggunaan dari SAK menjadi ETAP:
a. PSAK IFRS based sulit diterapkan bagi perusahaan menengah kecil mengingat
penentuan fair value memerlukan biaya yang tidak murah.
b. PSAK IFRS perlu dokumentasi dan IT yang kuat
SAK ETAP sebagai solusi untuk SME (Small Medium Enterprises) (ETAP) seperti
perusahaan menengah ke atas, termasuk entitas anak dari perusahaan terbuka.
c. Laporan keuangan sesuai SAK ETAP menyajikan informasi mengenai posisi keuangan,
kinerja, dan arus kas entitas yang berguna bagi pengguna luas.
Entitas signifikan
Entitas memiliki akuntabilitas publik signifikan jika:
a. Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan
pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan
penerbitan efek di pasar modal; atau
b. Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar
masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana pensiun,
reksa dana dan bank investasi.
c. Dapat menggunakan SAK ETAP jika ada regulasi yang mengijinkan penggunaan SAK
ETAP.
Konsep dan Prinsip Pervasif SAK ETAP
1. Tujuan laporan keuangan,
2. Karakteristik kualitatif informasi dalam laporan keuanga (dapat dipahami, relevan,
materialitas, keandalan, substansi mengungguli bentuk, pertimbangan sehat, kelengkapan,
dapat dibandingkan, tepat waktu, dan keseimbangan antara biaya dan manfaat).
3. Posisi keuangan: asset, kewajiban, ekuitas,
4. Kinerja keuangan: pendapatan dan beban,
5. Pengakuan dan pengukuan unsur-unsur laporan keuangan,

6. Dasar akrual,
7. Saling hapus tidak diperkenankan.
Prinsip Pengakuan
Aset diakui sebagai manfaat ekonomi dikemudian hari yang mengalir ke entitas dan
nilainya dapat diukur secara andal. Kewajiban diakui jika entitas menstransfer sumberdaya
dikemudian hari akibat peristiwa masa alu dan nilainya dapat diukur dengan
andal. Pengakuan penghasilan dan beban sebagai akibat langsung pengakuan asset dan
kewajiban. Kebijakan akuntansi adalah prinsip, dasar, konvensi, aturan, dan praktik tertentu
yang diterapkan oleh suatu entitas dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangannya.
Menurut SAK ETAP 2009 nomor 2 paragraf 24, pengakuan unsur laporan keuangan
merupakan proses pembentukan suatu pos dalam neraca atau laporan laba rugi yang
memenuhi definisi suatu unsur dan kriteria
1. Pengakuan Aset
Aset diakui dalam neraca jika kemungkinan manfaat ekonominya di masa depan akan
mengalir ke entitas dan aset tersebut mempunyai nilai yang dapat diukur.
2. Pengakuan Kewajiban
Kewajiban diakui dalam neraca jika kemungkinan pengeluaran sumber daya yang
mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban masa
kini.
3. Pengakuan Penghasilan
Pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari pengakuan aset dan kewajiban.
Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi jika terdapat kenaikan manfaat ekonomi di
masa depan.
4. Pengukuran Beban
Beban diakui dalam laporan laba rugi jika penurunan manfaat ekonomi masa depan
yang berkaitan dengan penurunan aset.
Pengukuran Unsur Laporan Keuangan
Pada SAK ETAP 2009 nomor 2 paragraf 30 menjelaskan bahwa pengukuran adalah
proses penetapan jumlah uang yang digunakan entitas untuk mengukur aset, kewajiban,
penghasilan, dan beban dalam laporan keuangan dasar pengukuran yang umum adalah biaya
historis dan nilai wajar.

Penyajian Laporan Keuangan


dalam SAK ETAP 2009 nomor 3 paragraf 9 menyatakan bahwa informasi harus
diungkap secara komparatif dengan periode sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh SAK
ETAP (termasuk informasi dalam laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan).
Entitas harus mengidentifikasi secara jelas setiap komponen laporan keuangan termasuk
catatan atas laporan arus kas. Jika laporan keuangan termasuk komponen dari laporan lain,
maka laporan keuangan harus dibedakan dari informasi lain dalam laporan tersebut
Laporan keuangan yang lengkap berdasarkan SAK ETAP (SAK ETAP paragraf 3):
1.
2.
3.
4.
5.

Neraca
Laporan Laba Rugi
Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Arus Kas
Catatan Atas Laporan Keuangan

Perbedaan Pokok SAK ETAP dengan SAK IFRS


1. PSAK ETAP tidak mengatur pajak tangguhan,
2. PSAK ETAP hanya menggunkan metoda tidak langusng untuk laporan arus kas,
3. PSAK ETAP menggunakan model biaya untuk investasi asosiasi dan menggunakan metoda
ekuitas untuk anak perusahaan,
4. PSAK ETAP tidak secara penuh menggunakan PSAK 50/55,
5. PSAK ETAP hanya menggunakan model biaya untuk asset tetap, asset tidak berwujud, dan
property investasi dan tidak boleh menggunakan model revaluasi.
Diharapkan dengan adanya SAK ETAP, perusahaan kecil dan menengah dapat
menyusun laporan keuangannya sendiri dan dapat diausit untuk mendapatkan opini
audit. Informasi keuangan yang sederhana tetapi memberikan informasi yang andal. SAK
ETAP disusun dengan mengadopsi IFRS for SME dengan modifikasi sesuai dengan kondisi
Indonesia. SAK ETAP adalah bentuk mini dari SAK IFRS dengan ketentuan:
(1) terdapat pengurangan opsi dan pengungkapan;
(2) tidak terdapat pengakuan dan pengukuran yang berbeda;
(3) targetnya adalah perusahaan menengah ke atas, termasuk anak dari perusahaan
terbuka. IFRS for SMEs, merupakan bentuk mini dari Full IFRS.Pada SAK ETAP terdapat
pengurangan opsi dan pengungkapan. Tidak terdapat pengakuan dan pengukuran
yang berbeda dengan Full IFRS, kecuali borrowing cost dibebankan langsung dan tidak
dikapitalisasi, dan terdapat pengaturan mengenai ekuitas. Target dari IFRS for SMEs adalah
perusahaan menengah ke atas, termasuk entitas anak dari perusahaan terbuka.