Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terlepas dari masyarakat, kelompokkelompok sosial, maupun lembaga-lembaga sosial yang berkembang dalam
kehidupan masyarakat itu sendiri. Masyarakat merupakan suatu kelompok
individu-individu yang terorganisasi serta berpikir tentang diri mereka sendiri
sebagai suatu kelompok yang berbeda.
Di dalam masyarakat terdapat pula kelompok-kelompok sosial yang
menyatukan masyarakat. Kelompok sosial merupakan himpunan atau kesatuan
manusia yang hidup bersama. Dikatakan kelompok sosial karena pelakunya lebih
dari satu, sehingga ada aksi dan reaksi. Tindakan tersebut dapat terjadi antara
individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan
kelompok. Kegiatan interaksi yang sedemikian itu akan terus berlangsung setiap
harinya untuk menunjang kehidupan manusia sebagai individu maupun sebagai
bagian dari kehidupan bermasyarakat.
Kemudian, untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan kehidupan
kelompok sosial agar terus berjalan teratur dan seimbang, maka dalam suatu
negara, bahkan dalam masyarakat itu sendiri tentunya memiliki lembaga-lembaga
sosial. Lembaga-lembaga sosial tersebut diantaranya yaitu lembaga keluarga,
lembaga pendidikan, lembaga ekonomi, lembaga aama, dan lembaga politik.
Masing-masing lembaga sosial tersebut memiliki karakteristik, fungsi, tujuan, dan
simbol yang khas. Sehingga, suatu negara maupun masyarakat yang tidak memiliki
lembaga sosial, akan mengalami kehancuran. Oleh sebab itu, lembaga sosial
berperan penting dalam suatu masyarakat dan negara.
Dari uraian-uraian di atas, sudah jelas bahwa masyarakat, kelompok sosial
dan lembaga sosial merupakan satu-kesatuan yang saling terkait dan berpengaruh.
Sehingga untuk mewujudkan keteraturan maupun kesejahteraan dalam kehidupan
setiap individu, maka perlu menjaga keteraturan yang terkait dengan masyarakat,
kelompok sosial, dan lembaga sosial. Jika salah satu saja dari ketiga aspek tersebut
mengalami masalah ataupun kendala, maka akan terganggu pula kehidupan
individu-individu yang berada di dalamnya.

2
3

Rumusan Masalah
Tujuan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Individu, Kelompok Sosial dan Masyarakat
a. Manusia Sebagai Individu
Dalam ilmu sosial, individu merupakan bagian terkecil dari kelompok
masyarakat yang tidak dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil.
Umpama keluarga sebagai kelompok sosial yang terkecil terdiri dari ayah, ibu,
dan anak. Ayah merupakan individu yang sudah tidak dapat dibagi lagi,
demikian pula Ibu. Anak masih dapat dibagi sebab dalam suatu keluarga
jumlah anak dapat lebih dari satu.
Individu berhubungan dengan orang perorangan atau pribadi, berarti
individu bertindak sebagai subjek yang melakukan sesuatu hal, subjek yang
memiliki pikiran, subjek yang memiliki keinginan, subjek yang memiliki
kebebasan, subjek yang memberi arti (meaning) pada sesuatu, subjek yang
mampu menilai tindakan sendiri dan tindakan orang lain. Dengan demikian,
tidak ada dua orang manusia yang sama. Hal tersebut mencitrakan bahwa
betapa beragamnya sosok tubuh dan latar belakang kejiwaan manusia.
Seseorang dilahirkan sebagai suatu sistem yang tidak dapat dipisahpisahkan (individe) antara subsistem jasmani dan subsistem rohani. Dia lahir
sebagai individu yang memiliki kelengkapan fisik-biologis dan potensipotensi psikologis yang berkembang dan dapat dikembangkan.
Individu yang tumbuh berkembang menjadi pribadi, merupakan suatu
keutuhan mulai dari masa sebelum lahir, menjadi bayi yang selanjutnya
berinteraksi dengan lingkungannya. Secara pribadi, ia memiliki otonomi untuk
menentukan jalan hidupnya. Namun, sebagai makhluk sosial budaya, ia
dipengaruhi oleh lingkungannya. Karena itu, menurut Nursid Sumaatmadja
(1998) Kepribadian

merupakan

keseluruhan perilaku

individu

yang

merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi bio-psiko-fisikal yang terbawa


sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan yang terungkap pada tindakan
dan perbuatan serta reaksi mental-psikologisnya, jika mendapat rangsangan
dari lingkungan.

Untuk mendapat gambaran bagaimana proses pembentukan kepribadian


dan individu menjadi seseorang yang memiliki kepribadian, dapat diikuti bagan
berikut:
Potensi
Fisik-biologis

Lingkungan
Sosial-budaya

INDIVIDU

Pembentukan
Kepribadian

Potensi
Mental-psikologis

Lingkungan
Alam/Fisikal

PRIBADI

Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk individu yang tidak dapat


melepaskan diri dari hubungan dengan sesama manusia lain di dalam menjalani
kehidupannya. Berbeda dengan makhluk lainnya (misalnya hewan), tanpa
manusia lainnya maka manusia akan mati. Sejak dilahirkan, manusia
merupakan individu yang membutuhkan individu lain untuk dapat bertahan dan
melangsungkan kehidupan. Seorang bayi yang baru dilahirkan, membutuhkan
seorang ibu yang dapat memberinya makan, melatih berjalan, bermain, dan
sebagainya. Selain itu, berbeda dengan hewan yang mempunyai kelengkapan
fisik untuk dapat bertahan sendiri, sedangkan manusia tidak. Fredman
(1962:112) menyatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak
dilahirkan dengan kecakapan untuk immediate adaptation to environment atau
kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan segera terhadap lingkungannya.
Namun, lebih dari itu manusia diberi alat yang melebihi kekuatan fisik, yaitu
akal, pikiran, dan perasaan yang tidak dimiliki makhluk lain. Melalui pikiran
dan akal manusia dapat menciptakan kreasi untuk memenuhi kebutuhannya,
baik berupa alat-alat materiil maupun non-materiil.
Dapat dikatakan bahwa apabila manusia hidup sendirian akan
mengalami gangguan kejiwaan. Sehingga dengan bergaul bersama manusia
lainnya, ia akan merasakan kepuasan dalam jiwanya. Naluri manusia untuk
4

selalu berhubungan dengan sesamanya ini dilandasi oleh alasan-alasan sebagai


berikut:
1. Keinginan manusia untuk menjadi satu dengan manusia lain di
sekelilingnya (masyarakat).
2. Keinginan untuk menjadi satu dengan alam sekelilingnya.
Keinginan-keinginan tersebut mendorong manusia untuk berinteraksi,
beradaptasi dengan lingkungannya dengan menggunakan pikiran, akal, dan
perasaannya sehingga ia bertahan dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Naluri manusia untuk selalu hidup dengan yang lainnya disebut sebagai
gregariousness. Karena itu, manusia juga disebut sebagai social animal, yaitu
hewan sosial yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama.
Dalam mengembangkan keinginannya, manusia akan saling
berinteraksi secara komplementer dan timabl balik. Sebagai akibat dari
hubungan-hubungan yang terjadi di antara individu-individu (manusia) ini
maka lahirlah kelompok-kelompok sosial (social groups) yang dilandasi oleh
kesamaan-kesamaan kepentingan bersama, dimulai dari kelompok sosial
terkecil, yaitu keluarga, masyarakat hingga suatu bangsa.
b. Kelompok Sosial
Kebutuhan manusia untuk saling berhubungan akan melahirkan
kelompok-kelompok sosial dalam kehidupan. Namun demikian, tidak semua
himpunan manusia dapat dikatakan sebagai kelompok sosial. Untuk dikatakan
sebagai kelompok sosial, terdapat persyaratan-persyaratan tertentu seperti yang
dikemukakan oleh Soekanto (1982:111), sebagai berikut:
1. Adanya kesadaran dari anggota kelompok tersebut bahwa ia merupakan
bagian dari kelompok yang bersangkutan.
2. Adanya hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan lainnya
dalam kelompok itu.
3. Adanya suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok yang
bersangkutan yang merupakan unsur pengikat atau pemersatu. Faktor
tersebut dapat berupa nasib yang sama, kepentingan bersama, tujuan yang
sama, ataupun ideologi yang sama.
4. Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku.
Dengan demikian, kelompok terbentuk melalui proses interaksi dan
proses sosial, dimana manusia berhimpun dan bersatu dalam kehidupan
bersama berdasarkan hubungan yang timbal balik, saling mempengaruhi dan

memiliki kesamaan untuk tolong-menolong, sebagaimana dikemukakan oleh


Mac Iver (1961:213).
Berdasarkan pengalaman dalam kelompok, manusia mempunyai sistem
tingkah laku (behavior-system) yang dipengaruhi oleh watak pribadinya.
Sistem perilaku ini akan menentukan dan membentuk sikap (attitude) terhadap
sesuatu. Selanjutnya, akan dibahas tentang macam-macam kelompok sosial.
1. Klasifikasi tipe-tipe kelompok social
Mac Iver dan Page (1957:124) menggolongkan kelompok sosial
dalam beberapa sudut pandang dengan berdasarkan pada berbagai kriteria
(ukuran). Sementara Simmel dalam Systematic society mendasarkan
pengelompokannya pada besar kecilnya jumlah anggota, cara individu
mempengaruhi kelompoknya, serta interaksi sosial dalam kelompok
tersebut. Simmel memulainya dengan bentuk terkecil yang terdiri dari satu
orang individu sebagai fokus hubungan sosial yang dinamakan monad,
lalu dua atau tiga orang, yaitu dyad dan triad. Sebagai perbandingan
ditelaah pula kelompok-kelompok yang lebih besar. Ukuran lain dalam
klasifikasi kelompok sosial adalah berdasarkan derajat interaksi sosial
pada kelompok yang bersangkutan. Dalam pendekatan ini, para sosiolog
mendasarkan pengelompokkannya pada derajat saling kenal mengenal
pada anggota-anggotanya (face to face groupings). Contohnya keluarga,
rukun tetangga, desa, kota, koperasi, dan negara.
Ukuran kepentingan dan wilayah merupakan salah satu
pengelompokan di samping besar kecilnya jumlah anggota dan derajat
interaksi sosial. Pengelompokan ini berdasarkan pada kepentingan dan
wilayah yang tidak mempunyai kepentingan khusus atau tertentu.
Contohnya adalah suatu komunitas (community) masyarakat setempat.
Selain itu, berlangsungnya kepentingan merupakan suatu ukuran lain
bagi klasifikasi tipe-tipe kelompok sosial. Contohnya adalah suatu
kerumunan yang terbentuk oleh kepentingan yang tidak berlangsung lama.
Hal ini berbeda dengan komunitas yang kepentingannya relatif bersifat
tetap (permanent).
Klasifikasi selanjutnya adalah berdasarkan ukuran derajat organisasi.
Dalam klasifikasi ini kelompok-kelompok sosial terdiri dari kelompok

yang terorganisasi dengan baik sekali seperti negara sampai pada


kelompok yang hampir tak terorganisasi seperti kerumunan.
Dengan demikian, dasar yang dapat diambil sebagai alternatif untuk
mengadakan klasifikasi tipe-tipe kelompok sosial tersebut adalah ukuran
jumlah, derajat interaksi sosial atau kepentingan kelompok serta derajat
organisasi maupun kombinasi dari ukuran-ukuran tersebut. Sistematika
dari Mac Iver dan Page (1957:215) di bawah ini menggambarkan tipe-tipe
terpenting dari kelompok-kelompok sosial di atas sebagai salah satu
alternatif khusunya yang berdasarkan pada kepentingan dan derajat
organisasi.
2. Kelompok sosial dipandang dari sudut pandang individu
Pembagian kelompok sosial dipandang dari sudut individu dapat
dilihat dari keterlibatan individu dengan kelompok sosial dimana ia
tinggal, apakah dalam masyarakat yang masih sederhana atau dalam
struktur masyarakat yang sudah kompleks. Kenyataan bahwa individu
biasanya lebih tertarik pada kelompok-kelompok sosial yang dekat dengan
kehidupan keluarga, rukun tetangga, kekerabatan, daripada dengan
perusahaan besar atau negara, merupakan indikator yang menunjukkan
gejala kolektivitas dalam konsep dan sikap individu terhadap kelompok
sosial.
Keanggotaan individu dalam kelompok sosial tidak selalu bersifat
sukarela baik dalam struktur masyarakat sederhana maupun yang sudah
kompleks. Dalam susunan masyarakat sederhana, seorang individu sebagai
anggota masyarakat secara relatif merupakan anggota pula dari kelompokkelompok kecil secara terbatas. Kelompok-kelompok sosial tersebut
biasanya didasari oleh kekerabatan, usia, sex, dan pekerjaan atau
kedudukan yang akan menempatkan individu pada prestige tertentu sesuai
adat dan kebiasaan masyarakat di sekitarnya.
Sementara dalam susunan masyarakat yang sudah kompleks,
individu menjadi anggota beberapa kelompok sosial sekaligus. Kelompokkelompok tersebut biasanya berdasarkan pada sex, ras. Pada hal-hal lain,
keanggotaannya bersifat sukarela, seperti misalnya pada bidang pekerjaan,
rekreasi, dan lain-lain. Hal-hal di atas memperlihatkan bahwa ada derajat
dan arti tertentu bagi individu-individu sehubungan dengan

keanggotaannya dalam kelompok sosial. Sehubungan dengan itu maka


akan timbul dorongan-dorongan atau motif bagi individu sebagai anggota
kelompok sosial.
3. In Group dan Out Group
Konsep in group dan out group merupakan pencerminan dari adanya
kecenderungan sikap etnocentrisme dari individu-individu dalam proses
sosialisasi sehubungan dengan keanggotaannya pada kelompok-kelompok
sosial, yaitu suatu sikap dalam menilai kebudayaan lain dengan
menggunakan ukuran-ukuran sendiri (Polak, 1966:166). Sikap ini sering
disamakan dengan sikap mempercayai sesuatu (beliefs) yang diajarkan
kepada anggota-anggota kelompok melalui proses sosialisasi, baik secara
sadar maupun tidak sadar seiring dengan nilai-nilai kebudayaan sehingga
sering kali sukar untuk diubah. Sikap-sikap tersebut cenderung membuat
perbedaan yang dibuat oleh individu dalam mewujudkan kelompokkelompok sosial.
Sikap in group biasanya didasari oleh perasaan simpati. Sementara
out group didasarkan suatu kelainan dengan wujud antagonisme atau
antipati. Dalam in group sering kali dipergunakan stereotypen (Soekanto,
1984:120)., yakni gambaran-gambaran atau anggapan-anggapan yang
bersifat mengejek terhadap suatu objek tertentu. Keadaan tersebut sering
terdapat pada suatu ethnic group terhadap ethnic group lainnya. Misalnya,
golongan kulit putih terhadap kulit hitam (negro) di Amerika Serikat.
In Group dan Out Group dapat ditemui pada seluruh masyarakat,
baik yang susunannya sederhana maupun yang kompleks. Meskipun
demikian, pada masyarakat sederhana jumlahnya tidak terlampau banyak
jika dibandingkan dengan masyarakat yang kompleks.
4. Primary Group dan Secondary Group
a. Primary Group
Charles Horton Cooley dalam Social Organization yang dikutip
oleh Soekanto (1984: 120) menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang
luas dan fundamental dalam klasifikasi kelompok-kelompok sosial bila
menyangkut perbedaan antara kelompok-kelompok kecil dengan
kelompok-kelompok yang lebih besar. Perbedaan tersebut ditandai
dengan hubungan diantara anggotanya. Berkenaan dengan hal tersebut,
Cooley menyatakan bahwa, Primary Groups adalah kelompok8

kelompok yang ditandai ciri-ciri kenal-mengenal antara anggotaanggotanya serta kerja sama erat yang bersifat pribadi.
Hasil dari hubungan timbal balik antara anggota-anggota
kelompok tersebut secara psikologis berupa peleburan individu dengan
kelompok sehingga tujuan individu menjadi tujuan kelompoknya.
Pendapat dari Selo Soemarjan dan Soemardidalam Setangkai
Bunga Sosiologi (1964: 401) menyatakan bahwa primary group
merupakan kelompok-kelompok kecil yang permanen berdasarkan
saling mengenal secara pribadi diantara anggotanya. Perlu
digarisbawahi bahwa kehidupan dalam keharmonisan awal kehidupan
kelompok kecil tidaklah mutlak sifatnya. Namun, meski terjadi
pertentangan-pertentangan semuanya bertujuan bagi kepentingan
kelompok. dengan demikian, dapat dikatakan bahwa primary group
merupakan kelompok-kelompok kecil yang agak langgeng (permanen)
dan berlandaskan sifat saling kenal-mengenal secara pribadi antara
anggota-anggotanya.
Konsep Davis (1960: 290) tentang primary group lebih
memperjelas pendapat Cooley dengan menggarisbawahi ciri-ciri utama
sebagai berikut:
1) Kondisi-kondisi fisik
Sifat kenal-mengenal dan kedekatan secara fisik memberi
kemungkinan bagi terbentuknya primary group akan tetapi tidak
terlepas dari keberdayaan yang ada pada masyarakat bersangkutan.
Adanya norma-norma di lingkungan masyarakat yang mengatur
hubungan fisik antar anggota masyarakat dapat menjadi penghalang,
seperti kasta-kasta yang berbeda derajatnya, contoh di India dengan
sistem pelapisan sosialnya yang tertutup.
Akan halnya kelompok harus kecil, sebagai salah satu syarat
primary group disebabkan ketidakmungkinan bagi seorang individu
untuk berhubungan sekaligus dengan banyak orang. Dalam suatu
kelompok yang kecil, dimungkinkan individu berperan bagi
pengambilan atau penentuan keputusan-keputusan kelompoknya.
Demikian pula dengan keakraban yang memungkinkan bagi
kelancaran hubungan merupakan faktor yang utama untuk
pembentukan primary group. Keakraban tersebut tergantung dari
9

seringnya serta mendalamnya hubungan yang terjadi. Semakin lama


mereka berhubungan maka akan semakin akrab pula hubungannya.
Hal ini semakin lama akan mengarah pada kelangsungan. Sebagai
contoh, misalnya hubungan antara suami dan istri yang telah lama
berumah tangga. Meskipun mereka sering bertengkar akan sulit bagi
mereka untuk hidup berpisah.
2) Sifat hubungan primer
Salah satu sifat utama dari hubungan-hubungan primer adalah
adanya kesamaan tujuan dari individu-individu yang bersangkutan.
Salah satu dari tujuan tersebut, yaitu hubungan antar individuindividu yang bersifat pribadi, spontan sentimental dan inklusif.
Hubungan-hubungan yang terjadi bukan merupakan alat untuk
mencapai tujuan tetapi merupakan tujuan utama. Secara ideal
hubungan primer dianggap sebagai suatu nilai sosial yang harus
dicapai.
Bahwa hubungan primer bersifat pribadi, mengandung arti hubungan
tersebut melekat secara intern pada kepribadian seseorang yang tak
mungkin digantikan oleh orang lain (Soekanto: 1982: 124).
Sifat inklusif berarti bahwa hubungan primer menyangkut segala
sesuatu tentang perasaan, kepribadian, temperamen, dan lainnya.
Karenanya, hubungan tersebut didasarkan atas kesukarelaan dari
pihak-pihak yang mengadakan hubungan tersebut. Dengan demikian,
faktor kelanggengan hubungan merupakan faktor yang tidak dapat
diabaikan.
3) Kelompok-kelompok yang konkret dan hubungan primer
Persyaratan-persyaratan dalam bahasan sebelumnya merupakan
ukuran-ukuran ekstrem yang dijadikan pegangan. Dalam kenyataan
tidak ada primary group yang memenuhinya secara sempurna. Hal
tersebut dapat terlihat dalam setiap masyarakat terdapat normanorma dan nilai sosial yang bersifat memaksa yang akan
mempengaruhi hubungan-hubungan primer. Akibatnya, pada
kelompok kecil tidak selalu mewujudkan keharmonisan bahkan
sering ditandai pula oleh konflik dan saling membenci
Hubungan primer yang masih murni terdapat pada masyarakatmasyarakat yang masih sederhana organisasinya, misalnya di desa10

desa. Contoh lainnya adalah suatu perkumpulan mahasiswa yang


menunjukkan bahwa dalam primary group terdapat masalah
kepentingan yang bersifat ekstern. Perhimpunan mahasiswa yang
terbentuk memungkinkan untuk meraih beberapa keuntungan bagi
mahasiswa yang menjadi anggotanya. Keputusan-keputusan yang
diambil akan lebih matang dan menguntungkan baik bagi
kepentingan pribadi maupun kelompok secara kolektif. Kelompok
dapat mempengaruhi kepentingan pribadi anggota serta cita-cita
untuk mencapainya. Selain itu unsur kolektivitas yang ada dalam
sifat kelompok dapat merubah kualitas kelompok tersebut.
b. Secondary group
Cooley belum pernah secara tegas menggunakan istilah
secondary group. Istilah tersebut dalam sosiologi biasanya digunakan
untuk menggambarkan buah pikiran Cooley, apa yang menjadi
kebalikan dari primary group berlaku bagi secondary group. Roucek
dan Warren dalam Sosiology an Introduction (1962: 46) membatasi
pengertian secondary group sebagai kelompok-kelompok besar yang
terdiri banyak orang antara siapa hubungannya tak perlu berdasarkan
kenal-mengenal secara pribadi dan sifatnya tidak begitu langgeng.
Batasan tersebut kurang memuaskan sebab bagaimanapun suatu
kelompok sosial pasti mempunyai suatu tujuan bersama yang ingin
dicapainya, seperti halnya primary group. Begitupula dengan
kelanggengan mesti dalam batas-batas tertentu. Sebagai contoh
misalnya suatu bangsa yang merupakan gambaran konkret secondary
group, dalam kenyataannya memiliki ciri primary group, yaitu tujuan
yang sama dan faktor derajat kelanggengan tertentu.
Dengan memperlihatkan uraian tersebut, kiranya lebih tepat untuk
membedakan antara primary group dan secondary group jika
menekankan perbedaannya dari sudut hubungan-hubungan atau
interaksi-interaksi sosial yang membentuk struktur kelompok sosial
yang bersangkutan. Bangsa sebagai contoh dari bentuk konkret
secondary group menunjukkan struktur hubungan yang kurang akrab
diantara anggotanya. Namun demikian, terdapat pula hubungan yang
akrab dalam unsur-unsur bangsa yang bersangkutan, misalnya pada
11

keluarga-keluarga batih, rukun tetangga, dan lain-lain. Akan tetapi,


dalam hubungan antara pimpinan bangsa dengan rakyatnya tidak
mungkin terjadi hubungan yang bersifat pribadi. Contoh dari hubungan
sekunder yang lebih riil adalah suatu kontrak misalnya dalam jual beli.
Pihak-pihak yang bersangkutan berhubungan dengan dilandasi tujuan
tertentu yang tidak bersifat pribadi. Hal-hal yang menyangkut
pelaksanaan kontrak mengatur hubungan hak dan kewajiban masingmasing pihak. Jika terjadi suatu perselisihan maka norma hukum
merupakan unsur pemaksa agar terlaksananya syarat yang diajukan
dalam kontrak itu. Tujuan utama hubungan adalah terlaksananya
kontrak.
Dalam hubungan antarmanusia tidak mungkin semata-mata
didasarkan pada kontrak semacam itu. Akan selalu ada rasa pengabdian
dan kesetiaan terhadap kelompok tersebut yang merupakan hasil dari
hubungan antar manusia yang akrab. Dengan demikian, adanya primary
group merupakan syarat pula bagi terbentuknya secondary group.
Syarat dari primary group dan secondary group saling isi mengisi dan
tidak dapat dipisah-pisah secara mutlak.
5. Gemeinschaft dan Gesselschaft
Menurut Tonnies & Loomis, dalam Reading Ni Sociology (1960 :
82) Gemeinschaft adalah bentuk kehidupan bersama di mana anggotanya
diikat oleh hubungan batin yang bersifat alamiah dan dasar dari hubungan
tersebut adalah rasa cinta dan kesatuan batin yang telah dikodratkan.
Bentuk utamanya dapat dijumpai dalam keluarga, kekerabatan, dan lainlain.
Gesselschaft adalah berupa ikatan pokok untuk jangka waktu yang
pendek, bersifat imajiner dan strukturnya bersifat mekanis. Gesselschaft
berbentuk hubungan perjanjian berdasarkan ikatan timbal balik, seperti
ikatan perdagangan, organisasi dalam suatu pabrik atau industri.
Ciri Gemeinschaft menurut Tonnies :
Intimate
Private

: yaitu hubungan menyeluruh yang mesra.


: yaitu hubungan yang bersifat pribadi khusus untuk

beberapa orang saja.

12

Exclusive

: yaitu bahwa hubungan yang terjadi hanya untuk kita

saja dan tidak untuk orang-orang di luar kita. (Soekanto, 1982:130)


3 Tipe Gemeinschaft menurut Tonnies :
1) Gemeinschaft by blood

: Ikatan yang berdasarkan pada keturunan

darah, contoh keluarga.


2) Gemeinschaft of place : Ikatan yang berdasarkan kedekatan tempat
tinggal, contoh tetangga.
3) Gemeinschaft of Mind

: Ikatan yang mendasarkan diri pada jiwa

dan pikiran yang sama berdasarkan persamaan ideologi.


Menurut Soekanto (1982 : 129) Gemeinschaft dan Gesselschaft
adalah penyesuaian dari dua bentuk kemauan asasi manusia yang
dinamakan

wessenwile dan kurwile. Wessenwile merupakan

bentuk

kemauan yang dikodratkan dengan dasar perasaan dan akal yang


merupakan kesatuan dan terikat pada kesatuan hidup yang alamiah dan
organis. Sedangkan kurwile adalah bentuk kemauan yang ditujukan pada
tujuan-tujuan tertentu yang sifatnya rasional, dimana unsur lainnya bersifat
sebagai alat.
Menurut Max Weber, Gemeinschaft dan Gesselschaft dinyatakan
sebagai Ideal Typus yang dalam kehidupan kesehariannya masyarakat
menunjukkannya

dalam

bentuk

campuran

antara

Gemeinschaft dan Gesselschaft.


6. Formal Group & Informal Group
Formal Group merupakan kelompok-kelompok yang mempunyai
peraturan-peraturan tegas yang sengaja diciptakan untuk mengatur
hubungan

diantara

anggotanya. Formal

Group bisa

dikatakan

sebagai association dimana anggotanya mempunyai kedudukan yang


disertai dengan pembagian tugas & wewenang. Contohnya adalah
himpunan mahasiswa, himpunan wanita dll.
Informal grup adalah suatu kelompok yang terjadi karena kesamaan
yang sifatnya tidak mengikat anggotanya serta tidak memiliki struktur dan
organisasi yang pasti. Informal Group terbentuk biasanya oleh intensitas
pertemuan yang sering antara orang-orang yang mempertahankan
kepentingan dan pengalaman bersama. Contoh Klik (clique).
7. Kelompok-Kelompok Sosial yang Tidak Teratur.

13

Kelompok sosial yang tidak teratur dapat digolongkan ke dalam 2


golongan besar yaitu kerumunan dan publik.
a. Kerumunan
Kerumunan adalah suatu kelompok manusia yang bersifat sementara,
tidak terorganisir dan tidak mempunyai seorang pimpinan serta tidak
mempunyai sistem pembagian kerja.
Ciri-ciri kerumunan:
a) Interaksinya bersifat spontan.
b) Orang-orang yang berkumpul mempunyai kedudukan yang sama.
Contohnya adalah kerumunan orang di stasiun, pasar dan lain-lain.
Ada beberapa macam kerumunan:
i.

Kerumunan formal yaitu kerumunan yang memiliki pusat


perhatian dan tujuan, biasanya bersifat pasif. Contohnya yang
menonton film di bioskop, orang yang menghadiri pengajian dan

ii.

lain-lain.
Kerumunan ekspresif contohnya kerumunan orang yang

iii.

menghadiri pesta.
Kerumunan sementara,

bersifat

kurang

menyenangkan

contohnya pengantre karcis, bagi mereka orang yang ada di


iv.
v.
vi.

depan dianggap sebagai penghalang.


Kerumunan orang panik (panic crowds).
Kerumunan penonton (spectator crowds).
Kerumunan yang berlawanan dengan hukum (lawless crowds).
Acting mobs, kumpulan orang yang bertindak emosional

dalam demonstrasi atau unjuk rasa.


Immoral mobs, kumpulan orang yang mabuk-mabukan.

b. Publik
Publik adalah merupakan kelompok yang tidak merupakan
kesatuan. Interaksi yang terjadi berlangsung melalui alat-alat
komunikasi

pendukung,

seperti

pembicaraan

berantai

secara

individual, media massa maupun kelompok. Setiap aksi publik


dipengaruhi oleh keinginan individu, jadi tingkah laku pribadi dari
publik pun didasari oleh tingkah laku individu atau prilaku individu.
8. Masyarakat Pedesaan (Rural Community) dan Masyarakat Perkotaan
(Urban Community).
a. Masyarakat Setempat (Community, komunitas)

14

Istilah community dapat diterjemahkan sebagai masyarakat


setempat yang menunjuk pada warga sebuah desa, kota, suku, atau
bangsa.

Ciri

utama

masayarakatsetempat

adalah

adanya

Social

relationship antara anggota-anggotanya.dengan demikian, tempat tinggal


suatu wilayah geografis dengan faktor utama interaksi di antara
anggotanya menunjukkan kekhasan suatu Community. Batasan dari Selo
Soemarjan (1962) menyatakan bahwa masyarakat setempat adalah suatu
wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial
yang tertentu (Soekanto, 1982:142).
Unsur-unsur Community sentimen menurut Mac Iver dan Page
1961: 293) antara lain, seperasaan, sepenanggungan dan saling
memerlukan.
Adapun tipe-tipe dari masyarakat menurut Davis (1960: 313),
diantaranya dapat digolongkan dengan menggunakan empat kriteria
sebagai berikut:
i.

Jumlah penduduk

ii.

Luas, kekayaan dan kepadatan penduduk daerah pedalaman

iii.

Fungsifungsi khusus masyarakat setempat terhadap seluruh


masyarakat

iv.

Organisasi masyarakat setempat yang bersangkutan


Kriteria tersebut di atas dapat digunakan untuk membedakan antara

bermacammacam jenis masyarakat setempat yang sederhana dan modern,


serta antara masyarakat pedesaan dan perkotaan.
b. Masyarakat Pedesaan
Dalam masyarakat pedesaan hubungan yang terjadi antara anggota
masyarakat terjalin dengan erat, mendalam dengan sistem kehidupan
berkelompok. Pekerjaan inti masyarakat pedesaan terkonsentrasi pada satu
sektor yaitu pertanian. Masyarakat pedesaan dan Masyarakat perkotaan.
Ciri-ciri masyarakat pedesaan dan perkotaan menurut Soekanto
(1982:149).
Hubungan yang erat diantara masyarakatnya.
Biasanya kehidupannya masih sederhana dan memiliki pekerjaan yang
sama.
c. Masyarakat Perkotaan.

15

Masyarakat perkotaan pekerjaannya beraneka macam dan tidak


terkonsentrasi kepada satu aspek pekerjaan. Pada masyarakat perkotaan
sifat-sifat dan ciri-ciri kehidupan yang berbeda dengan masyarakat
pedesaan, antara lain perbedaan dalam menilai keperluan hidup.
Soerjono Soekanto (1982:149) mengemukakan beberapa ciri lain
yang membedakan antara masyarakat Pedesaan dan Perkotaan, yaitu :
1) Kehidupan keagamaan.
Masyarakat pedesaan mengarah kepada kehidupan yang agamis,
sedangkan masyarakat perkotaan mengarah kepada kehidupan duniawi.
Hal ini dilandasi oleh cara berfikir yang berbeda.
2) Kemandirian
Hal terpenting bagi masyarakat perkotaan adalah individu sebagai
perseorangan yang memiliki peran serta status dalam masyarakatnya.
Pada masyarakat pedesaan individu tidak berani menunjukkan
eksistensinya dan kurang berani untuk menghadapi orang lain dengan
latar belakang yang berbeda.
3) Pembagian kerja
Pada masyarakat perkotaan pembagian kerja lebih tegas dan jelas,
sehingga mempunyai batas-batas yang nyata. Pada masyarakat pedesan
adalah kebalikannya.
4) Peluang memperoleh pekerjaan
Dengan adanya sistem pembagian kerja yang tegas maka
kemungkinan untuk memperoleh pekerjaan lebih banyak pada
masyarakat perkotaan dibandingkan dengan masyarakat pedesaan. Hal
ini juga dilihat dari faktor tingkat pendidikan.
5) Jalan pikiran
Pola pikir rasional pada masyarakat perkotaan memungkinkan
terjadinya interaksi berlandaskan kepentingan bukan faktor pribadi.
6) Jalan Kehidupan
Jalan kehidupan yang cepat (roda kehidupan yang cepat) bagi warga
kota menempatkan dihargainya/pentingnya faktor waktu dalam
mengejar kehidupan individu.
7) Perubahan Sosial
Pada masyarakat kota kemungkinan perubahan sosial lebih berguna
dibanding warga desa karena mereka lebih terbuka bagi adanya
perubahan.

16

c. Masyarakat
Masyarakat adalah Sekumpulan individu yang mengadakan
kesepakatan

bersama

mengelola kehidupan, Selo


Stanley

&

Shores adalah

untuk
Soemardjan.
suatu

secara

bersama-sama

Masyarakat menurut Smith,

kelompok

individu-individu

yang

terorganisasi serta berpikir tentang diri mereka sendiri sebagai suatu


kelompok

yang

berbeda.

Pengertian

ini

mengandung

hal,

yaitu masyarakat itu kelompok yang terorganisasi dan masyarakat itu


kelompok yang berpikir tentang dirinya sendiri. Znaniecki (1950:145),
masyarakat adalah suatu sistem yang meliputi unit biofisik para individu
yang bertempat tinggal pada suatu daerah geografis tertetu, selama periode
tertentu dari suatu generasi.
Znaniecki memunculkan unsur baru dari dalam pengertian
masyarakat, yaitumasyarakat itu kelompok yang telah bertempat tinggal
pada suatu daerah tertentu dalam lingkungan geografis tertentu dan
kelompok itu merupakan suatu sistem biofisik. Talcott Parson, masyarakat
adalah suatu sistem sosial, dimana semua funsi prasyarat yang bersumber
dan dalam dirinya sendiri bertemu secara tetap. Sistem sosial yang
dimaksud adalah terdiri dari pluralitas prilaku-prilaku perseorangan yang
berinteraksi satu sama lain dalam suatu lingkungan fisik.
Paul B. Horton, masyarakat adalah Sekumpulan manusia yang secara
relatif mandiri, yang hidup bersama-sama cukup lama, yang mendiami suatu
wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian
besar kegiatan dalam kelompok itu.
Ciri-ciri pokok dari masyarakat :
Manusia yang hidup bersama sekurang-kurangnya terdiri atas 2 orang.
Bercampur atau bergaul bergaul dalam waktu yang cukup lama.
Berkumpulnya manusia akan menimbulkan manusia-manusia baru
sebagai akibat hidup bersama itu, timbul sistem komunikasi dan
peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antar manusia.
Sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan.
Merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama
menimbulkan kebudayaan karena mereka merasa dirinya terkait satu
dengan yang lainnya.
Melakukan sosialisasi terhadap generasi berikutnya.
Unsur-unsur terbentuknya suatu masyarakat
17

Terdapat sekumpulan orang.


Berdiam atau bermukim disuatu wilayah dalam waktu yang relatif sama

atau waktu yang lebih lama.


Perekrutan seluruh atau sebagian anggotanya melalui reproduksi atau

kelahiran.
Kesetiaan pada suatu sistem tindakan utama secara bersama-sama.
Adanya sistem tindakan utama yang bersifat swasembada.
Akibat hidup bersama dalam jangka waktu yang lama menghasilkan
kebudayaan

berupa

sistem

nilai,sistem

ilmu

pengetahuan

dan

kebudayaan.
Suatu masyarakat dapat dikatakan sebagai comunnity apabila memiliki
syarat-syarat sebagai berikut :
Adanya beberapa rumah atau rumah tangga yang terkonsentrasi disuatu
wilayah geografis tertentu.
Warganya mempunyai taraf interaksi sosial yang terintegrasikan.
Adanya rasa kebersamaan, yang tidak perlu didasarkan pada adanya
hubungan kekerabatan.

Unsur-unsur dalam sistem sosial sebagai berikut :

Kepercayaan dan pengetahuan.


Perasaan.
Tujuan.
Kedudukan (status) & Peran (role).
Kaidah atau norma.
Tingkat/pangkat.
Kekuasaan.
Sanksi.
Fasilitas (sarana).

Masyarakat secara garis besar menyangkut 3 aspek, yaitu :


1) Struktur Sosial.
2) Proses Sosial.
3) Perubahan Sosial.
Masyarakat terbentuk karena adanya individu-individu, demikian pula dengan
individu dapat mengaktualisasikan & bersosialisasi sebagai makhluk sosial.
3 pandangan mengenai masyarakat & individu :

18

1) Masyarakat menentukan individu.


2) Individu yang menentukan masyarakat.
3) Individu & masyarakat saling menentukan.
Hubungan

individu

&

masyarakat

dilihat

dari

konsep

organisme

menurut Herbert Spencer (1985 : 70).


1) Masyarakat

maupun

organisme

hidup

sama-sama

mengalami

pertumbuhan.
2) Pertambahan dalam ukuran ini akan mengubah struktur tubuh (social
body) maupun tubuh organisme hidup (living body) yang mengalami
pertumbuhan juga.
3) Tiap bagian yang tumbuh dalam tubuh organisme biologis maupun
organisme sosial memiliki fungsi & tujuan tertentu.
4) Baik dalam sistem organisme maupun sistem sosial, perubahan pada
suatu bagian akan mengakibatkan perubahan pada bagian lain & pada
akhirnya di dalam sistem secara keseluruhan.
5) Bagian-bagian tersebut walau saling berkaitan, merupakan suatu struktur
mikro yang dapat dipelajari secara terpisah.
Menurut paham individualistis, hubungan individu & masyarakat
menyatakan bahwa dalam kehidupan seorang individu, kepentingan &
kebutuhan individu lebih penting dari pada kebutuhan & kepentingan
masyarakat. Individu yang menentukan corak masyarakat yang diinginkan.
Paham individualistis juga disebut atomisme. Atomisme berpendapat bahwa
hubungan antara individu itu seperti hubungan atom-atom yang membentuk
molekul.
J.J. Rousseau (1712-1778), dalam bukunya yang berjudul Kontrak
Sosialmenjelaskan paham liberalisme & individualisme dalam suatu kalimat
yang terkenal : Manusia itu dilahirkan merdeka, tetapi dimana-mana
dibelenggu.
Paham yang memandang hubungan antara individu & masyarakat dari
segi interaksi disebut juga dengan totalisme. Paham totalisme berpijak pada
masyarakat, sebaliknya paham individualisme mengedepankan kepentingan
individu. Totalisme mengabaikan peranan individu dalam masyarakat,
sebaliknya paham individualisme mengabaikan peranan masyarakat dalam
kehidupan individu. Hubungan individu dalam masyarakat, yaitu bahwa

19

hidup bermasyarakat adalah ciptaan & usaha manusia sendiri. Manusia


berkeluarga, lalu berkelompok.
2.2 Kelembagaan (Social Institution)
a. Pengertian dan Fungsi
Para ahli/sarjana sosiologi belum menyepakati satu istilah yang pasti
tentang terjemahan social institution. Sebagian ahli mengartikannya sebagai
pranata social, lembaga kemasyarakatan, sebagian lagi menggunakan istilah
bangunan social. Soekanto (1982:191) memberi definisi bahwa lembaga
kemasyarakatan adalah sesuatu bentuk sekaligus mengandung pengertianpengertian yang abstrak perihal norma-norma dan peraturan-peraturan tertentu
yang menjadi ciri dari lembaga tersebut.
Koentjaraningrat (1984:115) memberikan istilah pranata social dengan
asumsi bahwa Social institution menunjuk pada adanya unsur-unsur yang
mengatur perilaku masyarakat. Pranata social diberi arti sebagai system tata
kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi
kompleks-kompleks

kebutuhan

khusus

dalam

kehidupan

masyarakat

(Soerjono, 1982:191). Membandingkan pendapat di atas, istilah lembaga


kemasyarakatan kiranya lebih luas, artinya karena tidak hanya membahas
tentang unsur-unsur yang mengatur perilaku namun lebih luas lagi pada bentuk
dan norma yang menjadi ciri lembaga tersebut. Lembaga kemasyarakatan
terdapat dalam setiap masyarakat, pada berbagai taraf budaya, baik sederhana
maupun modern. Hal ini dikarenakan setiap masyarakat mempunyai
kebutuhan-kebutuhan pokok yang jika dikelompokkan akan terhimpun menjadi
lembaga kemasyarakatan. Dalam kaitan dengan uraian tersebut, Soekanto
(1982:192) memberi batasan lembaga kemasyarakatan merupakan himpunan
daripada norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu
kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat. Sebagai wujud nyatanya
adalah sebuah association (asosiasi).
Lebih lanjut Soekanto menyatakan bahwa lembaga kemasyarakatan
mempunyai fungsi-fungsi tertentu, yaitu:
1. Memberikan pedoman kepada anggota masyarakat tentang bagaimana
bersikap dan bertingkah laku dalam menghadapi masalah-masalah dalam

20

masyarakat, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan yang


bersangkutan;
2. Menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan;
3. Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem
pengendalian sosial (social control), yaitu system pengawasan dari
masyarakat terhadap tingkah laku anggotanya.
Dengan demikian, dalam telaah kebudayaan dan masyarakat tidak dapat
mengesampingkan arti dari lembaga-lembaga sosial yang ada pada masyarakat
yang bersangkutan.
b. Bagaimana Lembaga Kemasyarakatan Terbentuk
Lembaga-lembaga kemasyarakatan terbentuk melalui suatu proses yang
disebut sebagai institusionalisasi atau kelembagaan nilai-nilai yang dibentuk
untuk membantu hubungan antarmanusia di dalam masyarakat. Nilai-nilai yang
mengatur tersebut dikenal dengan istilah norma yang mempunyai kekuatan
mengikat dengan kekuatan yang berbeda-beda. Dengan adanya norma dalam
masyarakat diharapkan tingkah laku manusia akan berjalan sesuai dengan
petunjuk hidup dalam masyarakat yang bersangkutan. Kekuatan meningkat
dari norma, apakah lemah ataupun kuat dipengaruhi oleh kekuatan manusia
yang ada dalam upaya menaati norma itu sendiri. Secara sosiologis, kekuatan
mengikat dari norma dapat dibedakan atas berikut ini.
1. Cara (Usage)
Menunjuk pada suatu bentuk perbuatan dalam hubungan
antarindividu. Kekuatannya termasuk lemah sehingga penyimpangan dari
cara tidak akan mengakibatkan sanksi berat.
2. Kebiasaan (folkways)
Kekuatan mengikatnya lebih besar daripada cara (usage) kebiasaan
merupakan perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama. Mc.
Iver dan Page (1967:19) menyatakan bahwa kebiasaan merupakan
perikelakuan yang diakui dan diterima oleh masyarakat.
3. Tata Kelakuan (Mores)
Jika kebiasaan tidak hanya dianggap berbagai cara berperilaku maka
disebut tata kelakuan atau mores. Tata kelakuan merupakan suatu alat yang
mengatur perbuatan anggota-anggota masyarakat agar sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Pentingnya tata kelakuan bagi masyarakat
disebabkan oleh hal-hal berikut.
a. Tata kelakuan memberikan batas-batas pada kelakuan individu;
b. Tata kelakuan mengidentifikasikan individu dengan kelompoknya;
21

c. Tata kelakuan menjaga solidaritas antara anggota-anggota masyarakat.


4. Adat Istiadat (Custom)
Suatu tata kelakuan yang kekal dan kuat integrasinya dengan pola
kelakuan masyarakat dapat meningkatkan kekuatannya menjadi custom atau
adat istiadat, custom mempunyai sanksi yang keras bagi anggota masyarakat
jika melanggarnya. Contoh yang bias kita dapatkan pada kehidupan
masyarakat di Indonesia adalah yang berlaku pada seluruh etnik budaya
dengan beragam cara serta sanksinya, misalnya:
a. Adat yang melarang perceraian antara suami-istri di kampong;
b. Adat istiadat dalam menjalani tahap-tahap kehidupan tertentu;
perkawinan, tujuh bulanan dan lain-lain.
Proses institusinalisasi adalah tahapan dimana norma
kemasyarakatan itu dikenal, diakui dan dihargai. Norma-norma tersebut
selesai melalui proses institusionalisasi atau pelembagaan mengembang
untuk seterusnya ditaati sebagai pegangan hisup sehari-hari bagi anggota
masyarakat. Proses pengembangan suatu norma tidak hanya selesai pada
tahap institusionalisasi, tetapi akan berkembang terus sehingga menjadi
internalized atau mendarah daging dalam masyarakat.
c. Ciri-ciri Lembaga Kemasyarakatan
Suatu lembaga kemasyarakatn, (social institution) memiliki ciri-ciri:
1. Mempunyai tujuan tertentu;
2. Untuk mencapai tujuan di atas memiliki alat perlengkapan;
3. Memiliki lambing-lambang tertentu dalam bentuk tulisan atau slogan
misalnya pada kesatuan-kesatuan angkatan bersenjata;
4. Memiliki tradisi lisan atau tertulis yang diwujudkan dalam bentuk adat
istiadat, norma, tata tertib peraturan atau hokum.
Lembaga sosial juga memiliki sifat-sifat umum, menurut Harsojo
(1986:139) sebagai berikut.
1. Sebagai satu unit dalam system kebudayaan yang merupakan satu kesatuan
bulat.
2. Mempunyai berbagai tujuan yang jelas
3. Biasanya bersifat kokoh.
4. Dalam melakukan fungsinya sering mempergunakan hasil kebudayaan
material.
5. Sifat karakteristik yang ada pada lembaga sosial adalah lambing.
6. Mempunyai tradisi tertulis atau lisan yang jelas

22

Menurut Suhandi (1987:66-67) dalam suatu sistem sosial terdapat


lembaga apabila memiliki beberapa syarat sebagai berikut.
1. Harus memiliki aturan atau norma yang hidup dalam ingatan atau yang
tertulis.
2. Aktivitas-aktivitas bersama itu harus memiliki suatu sistem hubungan yang
didasarkan atas norma-norma tertentu.
3. Aktivitas-aktivitas bersama itu harus memiliki tujuan untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan tertentu yang didasari dan dipahami oleh kelompok
masyarakat bersangkutan.
4. Harus memiliki peralatan dan perlengkapan.
d. Tipe-tipe Lembaga Kemasyarakatan
Menurut Gillin and Gillin, ada beberapa tipe lembaga kemasyarakatan,
berikut ini.
1. Berdasarkan Perkembangannya
a. Crescive institutions, yaitu lembaga yang paling primer yang tumbuh
secara tak sengaja di dalam masyarakat, miaslnya hak milik, system
perkawinan, dan lain-lain.
b. Enacted institution, yaitu lembaga yang dibentuk untuk tujuan tertentu
seperti lembaga perdagangan, lembaga pendidikan, lembaga
perbankan, koperasi, dan lain-lain
2. Bersdasarkan Sistem Nilai
a. Basic institutions, yaitu lembaga yang didirikan untuk memelihara dan
mempertahankan tata tertib dalam masyarakat, misalnya keuarga,
sekolah dan lain-lain
b. Subsidiary instution, yaitu lembaga yang dianggap kurang penting
seperti lembaga rekreasi, lembaga hiburan.
3. Berdasarkan Penerimaan Masyarakat
a. Social sanctioned institutions, yaitu lembaga yang diakui dan diterima
masyarakat, seperti lembaga keagamaan dan lembaga pendidikan.
b. Unsanctioned institution, yaitu lembaga yang berupa kelompok yang
tidak diterima masyarakat, misalnya kelompok penjahat, pemeras.
4. Berdasarkan Persebarannya
a. General institution, yaitu lembaga yang dikenal secara luas
penyebarannya dan berlaku dimana-mana, misalnya agama Islam,
agama Hindu, agama Kristen, dan agama Budha.
b. Restricted institutions, yaitu lembaga yang hanya dikenal oleh
masyarakat khusus dan berlaku di daerah tertentu, misalnya, sekte

23

agama tertentu atau kepercayaan yang dianut oleh masyarakat


terpencil.
5. Berdasarkan Fungsinya
a. Operative institutions, yaitu lembaga yang menghimpun pola atau
cara untuk mencapai tujuan misalnya, lembaga industrialisasi atau
lembaga perdagangan.
b. Regulative institutions, yaitu lembaga yang bertujuan mengawasi adat
istidat atau tata kelakuan yang tidak menjadi bagian mutlak dari
lembaga itu sendiri, misalnya lembaga hokum yang terdiri atas
lembaga kepolisian, lembaga kejaksaan, dan lembaga pengadilan.
e. Sistem Pengendalian Sosial (Social Control)
Untuk dapat menghindari atau mencegah perilaku atau tindakan
anggota masyarakat yang melanggar norma sosial maka diperlukan adanya
kontrol sosial. Adanya norma-norma sosial dan control sosial merupakan dua
aspek yang sangat penting bagi proses pertumbuhan lembaga kemasyarakatan.
Sistem pengendalian sosial yang dimaksud dalam bahasan ini adalah
suatu tindakan pengendalian dalam arti yang luas, yaitu seluruh system
maupun proses sosial yang dijalankan oleh masyarakat lingkungan berpedoman
pada kesesuaian terhadap nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku dalam
masyarakat.
Social control yang dilakukan bertujuan untuk mencapai keserasian
anata stabilitas dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Berdasarkan
sifatnya, social control dapat preventif atau represif. Preventif merupakan
upaya pencegahan terhadap gangguan yang mungkin terjadi pada keserasian
antara kepastian dan keadilan upaya yang dilakukan berupa cara-cara persuasif
(pendekatan tanpa kekerasan) hingga pada cara yang memaksa (coersive).
Sementara pengendalian sosial yang bersifat represi merupakan usaha
yang bertujuan untuk mengembalikan keserasian dan kepastian yang pernah
mengalami gangguan. Cara yang dapat ditempuh adalah melalui penjatuhan
sanksi terhadap warga masyarakat yang melanggarnya.
Di samping cara-cara tersebut, terdapat teknik-teknik lain, yaitu
compulsion dan pervasion melalui penciptaan situasi yang sedemikian rupa

24

hingga seorang terpaksa patuh dalam menyampaikan sehingga kaidah dan


norma-norma masuk daam aspek bawah sadar seseorang.
Alat-alat yang dapat digunakan untuk mengendalikan ssosial sangat
beraneka ragam. Efektivitas dari penggunaan alat pengendalian sosial akan
sangat tergantung pada kebutuhan masyarakatnya. Jadi, suatu alat tertentu
mungkin efektif bagi masyarakat yang strukturalnya sederhana namun
manakala dipergunakan pada masyarakat yang kompleks, alat tersebut tidak
lagi efektif. Sebagai contoh daai aat-alat dimaksud dapat dilihat pada uraian
berikut.
1. Sopan santun: berupa pembatasan-pembatasan pergaulan.
2. Penyebaran rasa rindu: efektif untuk pengendalian diri individu.
3. Pendidikan: alat yang melembaga pada masyarakat sederhana maupun
kompleks.
4. Hukum: dianggap sebagai alat yang paling ampuh bagi pengendalaian
sosial.
Perwujudan dari pengendalian sosial dapat berupa pemindahan,
kompensasi, terapi maupun konsiliasi yang masing-masing mungkin tidak
berdiri sendiri-sendiri dalam pelaksanaannya. Alternative kombinasi dari
beberapa bentuk tersebut merupakan kemungkinan yang akan digunakan dalam
penggunaannya, (Soekanto, 1982:202).
f. Perubahan Lembaga Sosial
Keberadaan lembaga dalam kehidupan masyarakat, bukanlah
merupakan sesuatu yang bersifat statis. Karena fungsinya untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan manusia yang beraneka ragam dan selalu berubah-ubah
maka pranata sosial pun dapat mengalami perubahan sesuai dengan fungsinya
tersebut. Perubahan pada lembaga sosial dapat terjadi, apabila sudah tidak
memenuhi kebutuhan hidup masyarakat secara keseluruhan maka lembaga
sosial tersebut harus diubah. Proses perubahannya itu berlangsung dalam
interaksi di dalam masyarakat. Perubahan pranata sosial tidak dapat diakuakan
oleh seseorang, sekalipun orang tersebut memiliki kekuasaan. Karena itu,
walaupun lembaga sosial bias berubah, tetapi dalam kenyataannya sulit
dilakukan. Hal ini sangat tergantung pada beberapa hal seperti:

25

1. Proses internalisasi lembaga sosial yang dialami sejak lahir sampai


meninggal, merupakan proses waktu yang relatif lama.
2. Karena danya control sosial, yang pada dasarnya merupakan suatu
mekanisme dalam kehidupan masyarakat yang dijalankan untuk menjamin
agar individu mematuhi norma-norma yang berlaku.
Dalam hal ini, antara internalisasi dan control sosial mempunyai
kaitan yang sangat erat dimana keduanya berlangsung dalam suatu proses
interaksi sosial. Sedangkan perbedaannya internalisasi menghasilkan
kepatuhan pada individu, baik melalui paksaan atau rayuan berbagai pihak
dalam masyarakat.
Keberadaan lembaga sosial sangat penting dalam rangka memenuhi
kebutuhan manusia dan menciptakan kehidupan yang teratur dari hubunganhubungan antarmanusia dalam masyarakat. Untuk itu, sebagai anggota
masyarakat yang baik sangat penting untuk mempelajari dan menelitinya.
Dalam meneliti lembaga sosial, banyak ahli memberikan beberapa
pendekatan yang bias digunakan terhadap masalah tersebut sebagai berikut.
1. Analisis secara historis, bertujuan meneliti sejarah timbul dan
perkembangan suatu lembaga kemasyarakatan atau pranata sosial
tertentu. Misalnya, diselidiki asal mula serta perkembanagn lembaga
demokrasi, perkawinan yang monogam, keluarga batih dan lainnya.
2. Analisis komparatif, bertujuan menelaah suatu lembaga kemasyarakatan
tertentu dalam berbagai masyarakat berlainan atau berbagai lapisan sosial
masyarakatnya. Misalnya, bentuk-bentuk milik, praktek-praktek
pendidikan kanak-kanak, dan lain-lain.
3. Analisis fungsional, yaitu dengan jalan menganalisis hubungan antara
lembaga-lembaga di dalam suatu masyarakat tertentu. Pendekatan ini
lebih menekankan hubungan fungsionalnys, sering kali menggunakan
analisis historis dan komparatif. Karena sesungguhnya suatu lembaga
kemasyarakatan tidak mungkin hidup sendiri terlepas dari lembaga
kemasyarakatan lainnya. Misalnya penelitian tentang lembaga
perkawinan, mau tidak mau akan menyangkut pula penelitian terhadap
lembaga pergaulan muda-mudi, lembaga keluarga, lembaga harta
perkawinan, lembaga kewarisan, dan lain-lain.

26

Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dalam mempelajari


lembaga sosial, di antaranya:
1. Dapat mengerti dan memahami lembaga sosial yang ada;
2. Memperoleh pengetahuan tentang keserasian antar norma dan berbagai
bidang sehari-hari;
3. Dapat mengetahui hubungan antarlembaga sosial;
4. Dapat mengetahui tatanan lembaga sosial secara keseluruhan.
g. Lembaga Sosial dalam Kehidupan Masyarakat
Terdapat beberapa lembaga sosial pokok yang tumbuh dan berkembang
dalam kehidupan masyarakat, yaitu:
1. Lembaga Keluarga
Pengertian luas dari keluarga disebut kekerabatan yang dibentuk atas
dasar perkawinan dan hubungan darah. Suatu keluarga dapat terjadi karena
alasan berikut:
a) Kelompok yang memiliki nenek moyang yang sama sehingga
perkawinan dapat terjadi di antara mereka yang memiliki satu
keturunan, disebut endogami
b) Kelompok kekerabatan disatukan oleh darah atau perkawinan yang
disebut eksogami
c) Pasangan perkawinan dengan atau tanpa anak
d) Pasangan tanpa nikah yang mempunyai anak (samen leven)
e) Satu orang dapat hidup dengan beberapa orang anak
Di dalam kehidupan keluarga, dikenal juga istilah keluarga luas dan
keluarga inti.keluarga luas yaitu ikatan keluarga dalam satu keturunan
yang terdiri dari kakek, nenek, ipar, paman, anak, cucu, dan sebagainya.
Sedangkan keluarga inti yaitu keluarga yang terdiri dari oramg tua (ayah
dan ibu) dan anak-anaknya yang belum menikah.
Secara umum, penyimpangan-penyimpangan

yang

terjadi si

masyarakat dan tidak dibenarkan untuk dilakukan adalah sebagai berikut:


a) Hidup bersama atas dasar suka sama suka yang tidak diikat oleh
perkawinan
b) Melahirkan anak di luar nikah
c) Melakukan hubungan suami istri dengan orang lain yang bukan istri
atau suami yang sah, dll
Selain hal-hal di atas, adapun tugas atau fungsi keluarga yaitu:
1) Fungsi melanjutkan keturunan/reproduksi

27

2) Fungsi afeksi, yaitu dapat berupa tatapan mata, ucapan mesra,


sentuhan halus, yang semuanya akan merangsang anak dalam
membentuk kepribadian
3) Fungsi sosialisasi, yaitu sebagai tempat awal bagi terbinanya
sosialisasi bagi seseorang. Ada 3 proses yang mendasari hubungan
antar manusia dengan dunia kehidupannya sebagai lingkungan sosial
(walaupun tidak selalu berurutan)
a. Eksternalisasi adalah proses pembentukan pengetahuan latar
belakang yang tersedia untuk dirinya serta untuk orang lain
b. Objektivasi adalah proses meneruskan pengetahuan latar belakang
itu kepada generasi berikutnya sebagai obyektif
c. Internalisasi adalah proses dimana kenyataan sosial yang sudah
menjadi kenyataan objektif itu ditanamkan ke dalam kesadaran,
terutama pada anggota masyarakat baru, dalam konteks proses
sosialisasi
2. Lembaga Ekonomi
Lembaga ekonomi adalah lembaga-lembaga berkisar pada lapangan
produksi, distribusi, konsumsi (pemakaian) barang-barang dan jasa yang
diperlukan bagi kelangsungan hidup bermasyarakat. Lembaga ekonomi
erat kaitannya juga dengan masalah sosial ekonomi. Masalah sosial
ekonomi mencakup berikut ini:
a) Pola relasi antara manusia

sebagai

subjek

dengan

sumber

kemakmuran ekonomi, seperti alat produksi, fasilitas dari negara, dll.


Sedangkan masalah struktural adalm ekonomi akan berkisar pada bagi
hasil, sewa-menyewa, keuntungan, dll.
b) Pola relasi antara manusia sebagai subjek dengan hasil produksi, yaitu
meliputi masalah distribusi hasil, masalah penghasilan yang di dapat
dengan prestasi yang dicapai, dll
c) Pola reaksi antar subjek sebagai komponen sosial-ekonomi sehingga
merupakan mata rantai dalam sistem produksi
Dengan demikian, dalam proses produksi, distribusi maupun
pemakaian barang dan jasa, akan selalu melibatkan subjek atau pihak lain
sehingga dalam lembaga ekonomi tidak dapat dilepaskan dari aspek-aspek
pendukungnya, yaitu manusia yang terlibat di dalamnya.
3. Lembaga Politik

28

Politik merupakan suatu aspek kehidupan sosial yang tidak dapat


dihindarkan oleh setiap orang di dalam suatu negara. Sedangkan pranata
politik yaitu suatu olah tingkah laku manusia yang sudah mapan, yang
terdiri dari interaksi sosial yang tersusun di dalam suatu kerangka nilai
yang relevan.
Pranata politik memiliki fungsi untuk memelihara ketertiban di
dalam, menjaga keamanan di luar, mengusahakan kesejahteraan umum,
dan mengatur proses politik. Sehingga untuk menjalankannya diperlukan
kekuasaan dari pemerintah yang dapat melindungi kepentingan rakyat dan
kesejahteraan umum, dari berbagai tekanan dan rongrongan pihak yang
ingin mengacaukan. Selain itu perlu juga adanya kesadaran politik dari
setiap warga negara. Kesadaran politik adalah apabila seluruh warga
negara menyadari kepentingan negara di atas kepentingan pribadi atau
golongan. Dengan demikian, pranata politik akan berkaitan dengan
masalah-masalah bentuk negara, bentuk pemerintahan, dan bentuk
kekuasaan.
4. Lembaga Pendidikan
Berbicara mengenai pendidikan, ada berbagai macam lembaga pendidikan
yang kita temui di masyarakat, diantaranya yaitu:
a. Pendidikan Keluarga, yaitu sebagai pendidikan awal atau sosialisasi
awal bagi seseorang dalam mengenal lingkungan sosialnya. Pendidikan
ini biasanya dilakukan oleh orang tua kepada anaknya.
b. Pendidikan Sekolah, dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu pendidikan
sekolah dan pendidikan di luar sekolah. Pendidikan sebenarnya hampir
sama dengan proses sosialisasi terhadap anak, tetapi pendidikan
sekolah juga mentransfer pengetahuan dasar dari setiap bidang
ilmuatau mensosialisasikan kebudayaan kepada warga masyarakat,
terutama generasi muda, dengan tujuan mencerdaskan kehidupan
bangsa. Hubungannya dengan perkembangan masyarakat, maka
perkembangan pendidikan mengalami perubahan yang melalui empat
tahapan perkembangan pendidikan, yaitu:
1) Pendidikan masyarakat tanpa aksara
2) Pendidikan di luar pendidikan keluarga
3) Pendidikan terhadap masyarakat yang semakin kompleks
4) Hubungan pendidikan dengan masyarakat yang semakin maju

29

Pada masyarakat modern, memandang pendidikan sekolah


sebagai pendidikan pokok untuk mendidik generasi penerusnya. Maka
fungsi sekolah dalam masyarakat modern, yaitu:
a. Pengawasan (custodial care)
b. Penyeleksi peran sosial (social role selection)
c. Indoktrinasi (indroctination)
d. Pendidikan (education)
Pendidikan sekolah bagi industri akan menghasilkan:
a) Ilmu pengetahuan (knowledge)
b) Keterampilan (skills)
c) Jasa pengawasan (culstodial care)
d) Sertifikasi (sertification)
e) Kegiatan komunitas (community activity)

30

BAB III
PENUTUP
1

Kesimpulan
Individu merupakan bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak
dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Individu berhubungan dengan
orang perorangan atau pribadi, berarti individu bertindak sebagai subjek yang
melakukan sesuatu hal, subjek yang memiliki pikiran, subjek yang memiliki
keinginan, subjek yang memiliki kebebasan, subjek yang memberi arti (meaning)
pada sesuatu, subjek yang mampu menilai tindakan sendiri dan tindakan orang lain.
Kebutuhan manusia untuk saling berhubungan akan melahirkan kelompokkelompok sosial dalam kehidupan. Namun demikian, tidak semua himpunan
manusia dapat dikatakan sebagai kelompok sosial. Pada dasarnya individu-individu
yang berada dalam suatu kelompok sosial yaitu individu-individu yang memiliki
kepentingan yang sama. Selain kelompok sosial, adapla sebutan masyarakat yang
sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat adalah Sekumpulan
individu yang mengadakan kesepakatan bersama untuk secara bersama-sama
mengelola kehidupan.
Lembaga kemasyarakatan adalah sesuatu bentuk sekaligus mengandung
pengertian-pengertian yang abstrak perihal norma-norma dan peraturan-peraturan
tertentu yang menjadi ciri dari lembaga tersebut. Lembaga kemasyarakatan
terdapat dalam setiap masyarakat, pada berbagai taraf budaya, baik sederhana
maupun modern. Hal ini dikarenakan setiap masyarakat mempunyai kebutuhankebutuhan pokok yang jika dikelompokkan akan terhimpun menjadi lembaga
kemasyarakatan.

Saran

31

DAFTAR RUJUKAN

32

Anda mungkin juga menyukai