Anda di halaman 1dari 15

BORANG PORTOFOLIO

Nama Peserta : dr. Riyan Rochaniawan


Nama Wahana : RSUD Simo, Boyolali
Topik : Psikiatri F.45.2.30 Gangguan Hipokondrik Jantung dan sistem kardiovaskular
Tanggal (kasus) : 13 April 2016
Nama pasien : Ny. R (38 tahun)
No. RM : 1604100992
Tanggal Presentasi : 1 Juni 2016
Nama Pendamping : dr. Yopie Ibrahim
Tempat Presentasi : RSUD Simo, Boyolali
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Neonatus
Deskripsi :

Manajemen
Bayi

Anak

Masalah
Remaja

Istimewa
Dewasa

Lansia

Bumil

Anamnesis dengan pasien dilakukan pada tanggal 13 April 2016 pukul 16.30 WIB di
Instalasi Gawat Darurat RSUD Simo, Boyolali.

Pasien datang dengan keluhan dada berdebar-debar, keluhan ini selalu dirasakan bila
memikirkan anaknya yang terlambat pulang sekolah dan telah berlangsung semenjak 7
bulan yang lalu setelah pasien mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien merasa bahwa
setelah kecelakaan tersebut, jantungnya tidak berdetak seperti sebelumnya, sering
berdebar-debar dan suara detak jantung terasa sangat keras. Pasien menduga bahwa
mungkin saja ia menderita darah tinggi atau penyakit jantung. Meskipun secara medis
dikatakan oleh beberapa dokter pasien tidak memiliki penyakit tertentu sebagai penyebab
langsung dari gejala saat ini, tetapi pasien masih bersikeras bahwa mungkin ada faktor
lain yang membuatnya merasakan keluhan-keluhannya saat ini. Pasien mengatakan
bahwa suasana hatinya sangat miris, sering merasa sedih dan tidak bersemangat.
Beberapa kali saat ke dokter pasien merasa bahwa ia takut mati karena penyakitnya ini.
Pasien merasakan sewaktu ia memikirkan anaknya detak jantungnya berdetak
terlampau cepat, keluar keringat dingin, tangan bergetar, dan tengkuk lehernya sakit.
Saat itulah pasien ketakutan jika ia terkena serangan jantung atau stroke dan pasien
semakin yakin bahwa ia menderita suatu penyakit jantung.

Pasien adalah seorang Ibu berusia 38 tahun dengan 2 orang anak, tinggal bersama anak
perempuan yang berusia 14 tahun, saat ini SMP kelas 3. Pasien bekerja sebagai pedagang

di toko kelontong miliknya. Suami pasien sudah meninggal sejak 1 tahun yang lalu
karena sakit jantung. Masalah yang sering pasien pikirkan adalah tentang anaknya. Pasien
bercerita bahwa anak laki-laki sulungnya sedang merantau ke Jakarta sejak 6 bulan yang
lalu, hingga saat ini belum mendapat pekerjaan tetap dan belum pulang kampung.
Sedangkan anak perempuan bungsu sebentar lagi akan menyelesaikan SMP, pasien masih
mencemaskan mengenai biaya sekolah lanjutan. Hal inilah yang sering dipikirkan pasien
hingga dada terasa berdebar-debar. Selain itu, setelah kecelakaan lalu lintas yang
dialaminya, pasien merasa khawatir kalau ia tidak dapat berusia panjang sehingga tidak
bisa menyekolahkan anak bungsunya. Hubungannya dengan keluarga dan masyarakat
baik. Pasien makan dan minum teratur, mandi dan ganti baju teratur.
Tujuan :
o Menegakkan diagnosis gangguan hipokondriasis
o Penatalaksanaan dan edukasi pada pasien serta keluarga pasien mengenai gangguan
hipokondriasis
Bahan Bahasan :
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Cara Membahas :
Diskusi
Presentasi dan diskusi
Email
Data pasien:
Nama:Ny. R (Perempuan/38 No.Registrasi:1604100992
tahun) Simo
Nama klinik: RSUD

Telp: -

Boyolali
Data utama untuk bahan diskusi:

Terdaftar sejak: -

Audit
Pos

1. Gambaran Klinis :

Pasien datang dengan keluhan dada berdebar-debar, keluhan ini selalu dirasakan bila
memikirkan anaknya yang terlambat pulang sekolah dan telah berlangsung semenjak 7
bulan yang lalu setelah pasien mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien merasa bahwa
setelah kecelakaan tersebut, jantungnya tidak berdetak seperti sebelumnya, sering
berdebar-debar dan suara detak jantung terasa sangat keras. Pasien menduga bahwa
mungkin saja ia menderita darah tinggi atau penyakit jantung. Meskipun secara medis
dikatakan oleh beberapa dokter pasien tidak memiliki penyakit tertentu sebagai penyebab
langsung dari gejala saat ini, tetapi pasien masih bersikeras bahwa mungkin ada faktor
lain yang membuatnya merasakan keluhan-keluhannya saat ini. Pasien mengatakan
bahwa suasana hatinya sangat miris, sering merasa sedih dan tidak bersemangat.
Beberapa kali saat ke dokter pasien merasa bahwa ia takut mati karena penyakitnya ini.
Pasien merasakan sewaktu ia memikirkan anaknya detak jantungnya berdetak terlampau
cepat, keluar keringat dingin, tangan bergetar, dan tengkuk lehernya sakit. Saat itulah
pasien ketakutan jika ia terkena serangan jantung atau stroke dan pasien semakin yakin
bahwa ia menderita suatu penyakit jantung.

2. Riwayat Pengobatan :
Pasien sudah beberapa kali memeriksakan penyakitnya ke dokter keluarga maupun
puskesmas, tidak ditemukan kelainan tetapi pasien terus mengeluhkan hal yang sama
sejak 7 bulan yang lalu. Salah seorang dokter keluarga menyarankan agar pasien periksa
rekam jantung ke rumah sakit untuk memastikan penyakit yang dialaminya.
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit :
Riwayat darah tinggi dan riwayat penyakit jantung di akui pasien, tetapi hasil
pemeriksaan beberapa dokter tidak ditemukan kelainan.
4. Riwayat Keluarga :
Suami pasien menderita penyakit jantung dan meninggal 1 tahun yang lalu.
Riwayat darah tinggi (+) pada ibu pasien, riwayat kencing manis dan penyakit
jantung disangkal.

5. Riwayat pekerjaan :
Pasien bekerja sebagai pedagang di toko kelontong miliknya. Penghasilan per bulan tidak
menentu.
6. Kondisi lingkungan sosial dan fisik :
Pasien tinggal bersama anak perempuan bungsunya. Pasien memiliki 2 orang anak,
anak laki-laki sulungnya sedang merantau ke Jakarta sejak 6 bulan yang lalu, hingga saat
ini belum mendapat pekerjaan tetap dan belum pulang kampong, anak perempuan bungsu
kelas 3 SMP. Biaya pengobatan ditanggung BPJS.
7. Lain-lain:
(diberi contoh : PEMERIKSAAN

FISIK,

PEMERIKSAAN

LABORATORIUM dan TAMBAHAN YANG ADA, sesuai dengan FASILITAS


WAHANA)
PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Autoanamnesa dilakukan pada tanggal 13 April 2016 di IGD RSUD Simo Boyolali
A. GAMBARAN UMUM
1. Penampilan : Perempuan, kulit sawo matang, tampak sesuai umurnya, kebersihan dan
kerapihan cukup
2. Perilaku dan aktivitas psikomotor :
Hiperaktif
( )
Berkoordinasi
( )
Hipoaktif
( )
Tak berkoordinasi ( )
Normoaktif
()
Stereotipi
( )
Stupor
( )
Maniceren
( )
Gelisah
( )
Grimaceren
( )
Agresif
( )
Ambivalensi
( )
Befehls automatism ( )
Gerakan autochton ( )
Perseverasi
( )
Gerakan impulsif
( )
Verbigerasi
( )
Gerakan kompulsif ( )
Echolalia
( )
Gerakan automatism ( )
Echopraxia
( )
Pyromania
( )
Kleptomania
( )
3. Sikap:
Indifferent
( )
Curiga
( )
Apatis
( )
Berubah-ubah
( )
Kooperatif
()
Tegang
( )
Negativisme pasif
( )
Pasif
( )
Dependent
( )
Aktif
( )
Infantil
( )
Katalepsi
( )
Rigid
( )
Bermusuhan
(-)
4. Kontak psikis: cukup, wajar, dan dapat dipertahankan
B. MOOD DAN AFEK
1. Mood

Disforik
( )
Euthymi
( )
Hiperthymi
( )
Hipothymi
( )
Eksaltase
( )
Iritabel
( )
Ambivalensi
( )
2. Afek
Sesuai
()
Tidak sesuai
( )
Terbatas
( )
C. BICARA
Kualitas : cukup
Kuantitas : cukup
D. GANGGUAN PERSEPSI
1. Halusinasi
Halusinasi visual
( )
Halusinasi akustik ( )
Halusinasi olfaktorik ( )
Halusinasi kinestetik ( )
2. Ilusi
Ilusi visual
( )
Ilusi akustik
( )
Ilusi olfaktorik
( )
Ilusi gustatorik
( )
Ilusi taktil
( )
E. GANGGUAN PROSES PIKIR
1. Bentuk pikir : realistik
2. Arus pikir :
Flight of idea ( )
Inkoherensi ( )
Sirkumstansial ( )
Blocking
( )
Asosiasi longgar ( )
Verbigerasi
( )
Asosisasi bunyi ( )
3. Isi pikiran :
Waham kebesaran
Waham berdosa
Waham kejar
Waham curiga
Waham cemburu
Waham somatis
Waham nihilistik
Waham hipokondri

Poikilothymi
Parathymi
Tension
Cemas
Panik
Euphoria
Depersonalisasi

( )
( )
( )
()
( )
( )
(-)

Datar
Tumpul
Labil

( )
( )
( )

Halusinasi gustatorik( )
Halusinasi taktil
( )
Halusinasi haptik ( )
Halusinasiautoskopi (-)

Tangensial ( )
Neologisme ( )
Retardasi
( )
Preserverasi ( )
Lancar
()
Asosiaso pengertian ( )

(
(
(
(
(
(
(
(

)
)
)
)
)
)
)
)

Gagasan bunuh diri


( )
Gagasan menyangkut diri sendiri
pengaruh
( )
Kemiskinan isi pikir
( )
Thought of echo
( )
Thought of insertion
( )
Thought of withdrawal
( )
Thought of broadcasting ( )

dan

Waham magic mistic


( )
Delusion of control
( )
Waham sistematis
( )
Delusion of influence
( )
Fobia
( )
Delusion of passivity
( )
Preokupasi
()
Delusion of perception
( )
Obsesif kompulsif
( )
Over valued idea
()
F. SENSORIUM DAN KOGNITIF
1. Kesadaran : jernih
2. Orientasi
a. Tempat : baik
b. Waktu : baik
c. Personal : baik
d. Situasional : baik
3. Daya ingat
a. Segera : cukup
b. Jangka pendek : cukup
c. Jangka panjang : cukup
4. Konsentrasi : cukup
5. Perhatian : normovigil
6. Kemampuan baca tulis : baik
7. Kemampuan visuospasial : cukup
8. Pikiran abstrak : baik
G. TILIKAN
Menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan tetapi tidak memahami penyebab sakitnya.
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 13 April 2016
A.

Keadaan Umum

Baik, tampak sakit ringan (VAS = 2), kesadaran compos mentis

B.

Tanda Vital

C.
D.
E.

Kulit
Kepala
Mata

(E4M6V5=15)
Tensi :120/80 mmHg
Nadi : 84 x/ menit, irama reguler, isi dan tegangan cukup
Frekuensi Respirasi : 22 x/menit, irama teratur
Suhu : 36,5 0C (aksiler)
Turgor cukup, pucat (-), petechie (-), ikterik (-)
Bentuk mesocephal, rambut warna hitam
Cekung (-/-), konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-) , pupil

Telinga
Hidung
Mulut
Leher

isokor dengan diameter (3 mm/3 mm), reflek cahaya (+/+)


Sekret (-), nyeri tekan mastoid (-), nyeri tekan tragus (-)
Napas cuping hidung (-/-), sekret (-), epistaksis (-)
Bibir sianosis (-), gusi berdarah (-), bibir kering (+)
JVP R-2 cm, trakea di tengah, simetris, pembesaran kelenjar

Thorax

tiroid (-), pembesaran limfonodi cervical (-)


Bentuk normochest, simetris, pengembangan dada kanan = kiri,

F.
G.
H.
I.
J.

retraksi (-), pernapasan torakoabdominal, sela iga melebar (-),

pembesaran KGB axilla (-/-)


Jantung :
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

Iktus kordis tidak tampak


Iktus kordis tidak kuat angkat, teraba di di SIC V 2 cm medial
LMCS
Batas jantung kanan atas : SIC II linea sternalis dextra
Batas jantung kanan bawah : SIC V linea parasternalis dekstra
Batas jantung kiri atas : SIC II linea parasternalis sinistra

Auskultasi

Batas jantung kiri bawah : SIC V 2 cm medial LMCS


HR : 84x/menit, reguler, bunyi jantung I-II murni, intensitas
normal, bising (-), gallop (-).
Bunyi jantung I > Bunyi jantung II, di SIC V 2 cm medial linea
medioklavikula sinistra dan SIC IV linea parasternal sinistra.
Bunyi jantung II > Bunyi jantung I di SIC II linea parasternal
dextra et sinistra.

Pulmo (depan):
Inspeksi

Normochest, simetris saat statis dan dinamis, pengembangan dada

Palpasi

kanan = kiri, retraksi (-)


Pergerakan dada kanan = kiri, stem fremitus kanan = kiri,
peranjakan dada kanan = kiri
Sonor / Sonor
Suara dasar vesikuler, suara tambahan (-/-)

K.

Perkusi
Auskultasi
Abdomen :

L.

Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi
Ekstremitas

Dinding perut sejajar dari dinding thorak, venektasi (-)


Bising usus (+) normal
Timpani, pekak alih (-), area traube timpani
Supel, nyeri tekan (-), hepar/lien tak teraba
Superior
Inferior

Sianosis

-/-

-/-

Akral dingin

-/-

-/-

Edema

-/-

-/-

PEMERIKSAAN PENUNJANG
EKG : Irama normosinus, HR 86 kali/ menit
DAFTAR PROBLEM
Axis I : F45.2.30 Gangguan Hipokondrik Jantung dan sistem kardiovaskular

Axis II: Axis III: Axis IV: Problem dengan keluarga (anak) dan ekonomi
Axis V : GAF : 70 (beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi,
secara umum masih baik
INITIAL PLAN
F45.2.30 Gangguan Hipokondrik Jantung dan sistem kardiovaskular
Rujuk Psikiater Terapi Pikiran-Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy)
Medikamentosa untuk relaksasi otot progresif:
Diazepam 1 x 2 mg (malam)
Eperison HCl 2 x 1 tab (kalau perlu)

DAFTAR PUSTAKA
1. Maslim R. Buku saku : diagnosis gangguan jiwa PPDGJ-III. Jakarta: PT Nuh Jaya; 2003.
2. Setyonegoro KR. Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di indonesia.
Edisi ke-2 (revisi). Jakarta : Direktorat Kesehatan Jiwa; 1985.
3. Maslim R. Panduan praktis : penggunaan klinis obat psikotropik. Edisi ke-3. Jakarta: PT
Nuh Jaya; 2007.
4. Anonim. Simtomatologi psikiatri. Semarang : Universitas Diponegoro.
5. Kaplan dan Sadock. Sinopsis psikiatri : ilmu pengetahuan perilaku psikiatri klinis. Jakarta
: Binarupa Aksara; 2008.
6. Abramowitz, J. & Braddock, A.E. (2006). Hypochondriasis: Conceptualization,treatment,
and relationship to obsessive-compulsive disorder. Psychiatric Clinic North America, 29,
503519.
7. Arsky, A.J., & Klerman. GL. (1983). Hypochondriasis, bodily complaints, and somatic
styles. American Journal Psychiatry 1983;140:27383.
8. Davidson, G.C., 2010. Psikologi Abnormal Edisi Ke-9. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
HASIL PEMBELAJARAN
A. Pendahuluan
B. Epidemiologi
C. Etiologi

E. Diagnosis
F. Diferensial Diagnosis
G. Penatalaksanaan

D. Gambaran Klinis

H. Prognosis

RINGKASAN HASIL PEMBELAJARAN


A.

Pendahuluan
Hipokondriasis merupakan salah satu dari enam gangguan somatoform yang
dikategorikan dalam DSM-IV. Hipokondriasis dibedakan dari kelainan delusi somatik
lainnya oleh karena gangguan ini dihubungkan dengan pengalaman gejala fisik yang
dirasakan oleh penderitanya, dimana gangguan somatoform lainnya tidak menunjukkan
gejala fisik di dalam dirinya. Gejala yang timbul bisa saja merupakan pernyataan gejala fisik
yang dilebih-lebihkan, yang justru akan memperberat gejala fisik yang disebabkan oleh
keyakinan bahwa pasien tersebut sedang sakit dan keadaannya lebih buruk dari keadaan yang
sebenarnya.
Gangguan somatoform diperkenalkan pada DSM-III sebagai kategori diagnosis bagi gejala
somatic yang tidak dapat dijelaskan oleh kondisi medis umum.

B.

Epidemologi
Suatu penelitian yang terbaru menyatakan bahwa prevalensi hipokondriasis dalam
enam bulan mencapai 4 sampai 6 persen dari keseluruhan populasi medis umum, namun
demikian angka presentase ini dapat mencapai 15 persen. Laki-laki dan wanita mempunyai
perbandingan yang sama untuk menderita hipokondriasis. Walaupun onset penyakit dapat
terjadi pada keseluruhan tingkatan umur, hipokondriasis paling sering terjadi pada umur 20
sampai 30 tahun. Hipokondriasis juga didapatkan pada 3 persen mahasiswa kedokteran
terutama pada dua tahun pertamanya, namun keadaan ini hanyalah hipokondriasis yang
bersifat sementara.

C.

Etiologi
Pada kriteria diagnosis untuk hipokondriasis, DSM-IV-TR mengindikasikan bahwa
gejala yang timbul menunjukkan misinterpretasi pada gejala fisik yang dirasakan. Banyak
data menunjukkan bahwa orang dengan hipokondriasis memperkuat dan memperberat
sensasi somatik yang mereka rasakan sendiri. Pasien ini mempunyai batasan toleransi yang
rendah terhadap ketidaknyamanan fisik. Sebagai contoh, pada orang normal merasakan itu
sebagai tekanan pada perut, pasien hipokondriasis menganggapnya sebagai nyeri pada perut.
Mereka menfokuskan diri pada sensasi pada tubuh, salah menginterpretasikannya, dan
menjadi selalu teringat oleh sensasi tersebut karena kesalahan skema kognitifnya. Teori yang

lain mengemukakan bahwa hipokondriasis dapat merupakan suatu sifat yang dipelajari, yang
dimulai dari masa kanak-kanak, dimana pada anggota keluarganya sering terpapar oleh suatu
penyakit. Etiologi lain yang diajukan adalah bahwa hipokondriasis adalah bagian dari
gangguan depresi atau obsesif-kompulsif dengan fokus gejala pada keluhan fisik.
D.

Gejala Klinis
Gejala dan Tanda
Pasien dengan gangguan hipokondriasis secara khas datang dengan ketakutan dan
perhatian terhadap penyakitnya, dibandingkan dengan gejala yang dirasakannya. Pasien
dengan hipokondriasis percaya bahwa mereka sedang menderita suatu penyakit yang serius
yang belum pernah dideteksi, dan tidak dapat menerima penjelasan akan gangguan yang
dideritanya. Mereka terus menyimpan keyakinan bahwa mereka memiliki penyakit yang
serius. Hipokondriasis biasanya disertai dengan gejala depresi dan anxietas dan biasanya
terjadi bersamaan dengan gangguan depresi dan anxietas.Walaupun pada DSM-IV
membatasi bahwa gejala yang timbul telah berlangsung paling kurang 6 bulan, keadaan
hipokondriasis yang sementara dapat muncul setelah stress yang berat, paling sering adalah
akibat kematian atau penyakit yang sangat serius dari seseorang yang sangat penting bagi
pasien, ataupun penyakit serius yang yang pernah diderita oleh pasien namun telah sembuh,
yang dapat meninggalkan keadaan hipokondriasis sementara pada kehidupan pasien.
Keadaan diatas dimana perlangsungannya kurang dari enam bulan, maka di diagnosis
sebagai gangguan somatoform yang tak tergolongkan.
Pemeriksaan fisis
Tidak adanya kelainan pada pemeriksaan fisis, pada pemeriksaan serial, mendukung
diagnosis hipokondriasis. Namun demikian, pasien tetap harus menerima pemeriksaan fisis
untuk meyakinkan tidak ada kelainan organic. Pada pemeriksaan fisis, pada pasien
hipokondriasis bisa didapatkan :

Penampakan umum, kelakuan dan pembicaraan

Penampilan biasa, rapi

Kooperatif dengan pemeriksa, namun gelisah dan tidak mudah untuk ditenangkan

Dapat menunjukkan gejala anxietas berupa, tangan yang berkeringat, dahi


berkeringat, suara yang tegang atau gemetar, dan tatapan mata yang tajam

Status psikomotor

Tidak dapat beristrahat dengan tenang

Selalu bergerak merubah posisi

Agitasi

Pergerakan lambat, apabila pasien kurang tidur

Mood dan afek

Bersemangat,atau cemas, depresi

Afek terbatas, dangkal, ketakutan, atau afek yang bersemangat.

Proses berpikir

Berbicara spontan dengan kadang-kadang secara tiba-tiba merubah topic yang


sedang dibicarakan

Berespon terhadap pertanyaan tetapi dapat mengalihkan kecemasannya pada hal


lain

Tidak ada blocking

Isi pikiran

Preokupasi bahwa ia sedang sakit

Berbicara tentang apa yang dipikirkan bahwa dalam tubuhnya telah terjadi
kesalahan, kenapa bisa terjadi seperti demukian, dan bagaimana ia merasakannya

Dapat merasa putus asa dan tidak ada lagi harapan tentang penyakitnya, walaupun
keadaan ini biasa juga tidak terjadi

Tidak terdapat keinginan untuk bunuh diri, walaupun secara bersamaan terdapat
depresi

Fungsi kognitif

Penuh perhatian

Orientasi waktu, tempat dan orang ;baik

Jarang mengalami kesulitan dalam konsentrasi, memori.

Insight

Dapat mengenali sensasi yang muncul pada tubuhnya

Daya nilai

Sering tidak terganggu

Dapat terganggu bila bersamaan dengan depresi

Laboratorium

Tidak ada pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi hipokondriasis. Pemeriksaan


laboratoriun hanya digunakan untuk menyingkirkan adanya penyebab organik pada pasien.
Tes Psikologi
Tes psikologi (contohnya MMPI) pada umumnya menunjukkan adanya preokupasi
akan gejala somatic dan dapat disertai dengan depresi dan anxietas.
E.

Diagnosis
Diagnosis hipokondriasis berdasarkan PPDGJ-III adalah :
Keyakinan yang menetap akan adanya sekurang-kurangnya satu penyakit fisik yang

1.

serius yang melandasi keluhan-keluhannya, meskipun pemeriksaan yang berulang-ulang


tidak menunjang adanya alas an fisik yang memadai, ataupun adanya preokupasi yang
menetap kemungkinan deformitas atau perubahan bentuk penampakan fisiknya (tidak
sampai waham)
Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak

2.

ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhan-keluhannya.


F.

Diferensial diagnosis
Kelainan fisik pertama-tama harus segera disingkirkan, yaitu kelainan dalam bidang
neurogik, endokrinilogi dan penyakit sistemik lainnya. Diferensian diagnosis pada psikiatri
untuk hipokondriasis adalah gangguan somatoform lainnya, gangguan mood, kecemasan, dan
gangguan psikotik

Gangguan somatisasi
Kelainan ini ditandai dengan onset yang dini (<30 hari), dapat kambuh, mencakup
keluhan fisik yang multiple. Pada kelainan somatisasi, yang terjadi adalah preokupasi
tentang beberapa gejala yang timbul, bukan tentang penyakit yang mendasarinya Gejala
yang timbul haruslah memenuhi pola yang spesifik untuk dapat diklasifikasikan sebagia
gangguan somatisasi yaitu perasaan nyeri yang terjadi pada 4 tempat yang berbeda, 2
gejala gastrointestinal yang berbeda, 1 gejala seksual, dan 1 gejala neurologi. Gangguan
somatisasi dibedakan dengan penyakit sistemik dari banyaknya keluhan pada beberapa
organ tanpa adanya keterkaitan dan hubungan dengan kelainan somatik yang ada. Onset
gangguan somatisasi lebih dini dari hipokondriasis (<15 hari pada 50% kasus). Wanita
lebih sering terkena, rasio wanita : laki-laki; 10:1. Perbedaan yang lai juga adalah pada
gangguan somatisasi, pasien lebih terfokus pada gejala dibandingkan dengan penyakit

yang mendasarinya.
Gangguan nyeri

Pasien dengan gangguan nyeri lebih terfokus pada nyeri yang muncul dibandingkan
penyakit yang mendasarinya.
G.

Penatalaksanaan
Farmako terapi digunakan sebagai pelengkap dari psikoterapi dan terapi edukasi yang
dilakukan. Tujuan dari pemberian farmako terapi adalah untuk mengurangi gejala dan
gangguan yang menyertai (contohnya depresi), untuk mencegah komplikasi, dan untuk
mengurangi gejala hipokondrik. Hipokondriasis hampir selalu disertai dengan gangguan
depresi, anxietas, obsesif-kompulsif. Apabila salahsatu dari gangguan diatas ada,
penatalaksanaan yang sesuai haruslah dilakukan. Biasanya terapi farmakologi diberikan
dengan memulai dengan dosis rendah, kemudian dinaikkan sampai pada dosis terapi. Hal ini
untuk mencegah efek samping dimana pasien dengan gangguan hipokondriasis sangat
sensitif terhadap efek samping obat.

H.

Prognosis
Pasien dengan riwayat psikologi premorbid yang baik yang biasanya hanya mengalami
hipokondriasis sementara pada penyakit yang akut atau stress mempunyai prognosis yang
baik dan dapat mengalami kesembuhan yang sempurna.

SOAP
SUBJEKTIF.
Pasien datang dengan keluhan dada berdebar-debar, keluhan ini selalu dirasakan bila
memikirkan anaknya yang terlambat pulang sekolah dan telah berlangsung semenjak 7
bulan yang lalu setelah pasien mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien merasa bahwa
setelah kecelakaan tersebut, jantungnya tidak berdetak seperti sebelumnya, sering berdebardebar dan suara detak jantung terasa sangat keras. Pasien menduga bahwa mungkin saja ia
menderita darah tinggi atau penyakit jantung. Meskipun secara medis dikatakan oleh
beberapa dokter pasien tidak memiliki penyakit tertentu sebagai penyebab langsung dari
gejala saat ini, tetapi pasien masih bersikeras bahwa mungkin ada faktor lain yang
membuatnya merasakan keluhan-keluhannya saat ini. Pasien mengatakan bahwa suasana
hatinya sangat miris, sering merasa sedih dan tidak bersemangat. Beberapa kali saat ke

dokter pasien merasa bahwa ia takut mati karena penyakitnya ini.


Pasien merasakan sewaktu ia memikirkan anaknya detak jantungnya berdetak terlampau
cepat, keluar keringat dingin, tangan bergetar, dan tengkuk lehernya sakit. Saat itulah pasien
ketakutan jika ia terkena serangan jantung atau stroke dan pasien semakin yakin bahwa ia
menderita suatu penyakit jantung.
Pasien adalah seorang Ibu berusia 38 Tahun dengan 2 orang anak, tinggal bersama anak
perempuan bungsu yang berusia 14 tahun, saat ini SMP kelas 3. Pasien bekerja sebagai
pedagang di toko kelontong miliknya. Suami pasien sudah meninggal sejak 1 tahun yang
lalu karena sakit jantung. Masalah yang sering pasien pikirkan adalah tentang anaknya.
Pasien bercerita bahwa anak laki-laki sulungnya sedang merantau ke Jakarta sejak 6 bulan
yang lalu, hingga saat ini belum mendapat pekerjaan tetap dan belum pulang kampung.
Sedangkan anak perempuan bungsu sebentar lagi akan menyelesaikan SMP, pasien masih
mencemaskan mengenai biaya sekolah lanjutan. Hal inilah yang sering dipikirkan pasien
hingga dada terasaberdebar-debar. Selain itu, setelah kecelakaan lalu lintas yang dialaminya,
pasien merasa khawatir kalau ia tidak dapat berusia panjang sehingga tidak bisa
menyekolahkan anak bungsunya. Hubungannya dengan keluarga dan masyarakat baik.
Pasien makan dan minum teratur, mandi dan ganti baju teratur
OBJEKTIF
Pemeriksaan fisik : dalam batas normal
Pemeriksaan penunjang : NSR, 86 kali/ menit
ASSESSMENT
Pasien didiagnosis mengalami F45.2.30 Gangguan Hipokondrik Jantung dan sistem
kardiovaskular karena memernuhi kriteria PPDGJ-III, yaitu terus mengeluh dada berdebardebar yang dirasakan sejak 7 bulan yang lalu, terutama bila memikirkan tentang anakanaknya dan masalah ekonomi keluarga. Pasien juga mayakini bahwa ia menderita penyakit
darah tinggi dan jantung meskipun hasil pemeriksaan beberapa dokter menunjukkan tidak
ada kelainan.
Penatalaksanaan berupa intervensi yang berfokus dalam perubahan diri ini menggunakan
Terapi Pikiran-Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy) dan Relaksasi Otot Progresif untuk
mengendalikan perasaan cemas serta tegang yang dirasakan pasien pada waktu-waktu
tertentu. CBT cukup banyak digunakan untuk hipokondriasis dengan pandangan bahwa

gejala yang dirasakan merupakan akibat dari distorsi kognitif yang menimbulkan respon
cemas dan symptom fisik
PLANNING
1. Diagnosis :
Axis I : F45.2.30 Gangguan Hipokondrik Jantung dan sistem kardiovaskular
Axis II: Axis III: Axis IV: Problem dengan keluarga (anak) dan ekonomi
Axis V : GAF : 70 (beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam
fungsi, secara umum masih baik
2. Penatalaksanaan :
Rujuk Psikiater Terapi Pikiran-Perilaku (Cognitive Behavioral Therapy)
Medikamentosa untuk relaksasi otot progresif:
Diazepam 1 x 2 mg (malam)
BORANG PORTOFOLIO
Eperison HCl 2 x 1 tab (kalau perlu)