Anda di halaman 1dari 24

REGULASI DAN PEMBIAYAAN

KPH

Disampaikan pada Semiloka NKB 12 K/L KPK


Jakarta , 12 November 2014

Direktur Wilayah Pengelolaan dan Penyiapan Areal Pemanfaatan Kawasan Hutan


Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan Kemen LHK

Materi:
Pendahuluan
Operasionalisasi KPH
Regulasi dan Pembiayaan KPH

PENDAHULUAN

Mandat Peraturan Perundang-Undangan

Pembangunan KPH 2010 - 2014

Pembangunan KPH dalam Rencana Aksi NKB 12 K/L


Tentang Percepatan Pengukuhan Kawasan Hutan
Rencana Aksi
A.1.4.
Percepatan
Pembangunan
120 KPH.

Kriteria
Keberhasilan

Indikator Output

Terbentuknya
KPH yang
berfungsi secara
optimal, pada
kawasan hutan
yang telah
ditetapkan.

Target 1.
Pengoperasian 120 KPH
dalam berbagai tipologi
kawasan hutan yang
simultan dengan
pengukuhan kawasan
hutan.

B24: Laporan Pemantauan


Pembangunan 120 KPH Model
(Kepmenhut tentang
Penetapan Wilayah KPH,
Perda/Pergub/Perbup tentang
kelembagaan KPH, SDM, dan
kelengkapan Sarpras)
B24: SK Penetapan kawasan hutan
di wilayah pengelolaan 90
KPH.
B27: SK Penetapan kawasan hutan
di wilayah pengelolaan 120
KPH

Target 2.
Memastikan regulasi KPH
yang lengkap dan
disepakati semua pihak.

B21: Regulasi mengenai KPH


diterbitkan

Ukuran Keberhasilan

Progres Pembangunan dan Operasionalisasi 120 KPH Model


Sampai dengan Oktober 2014
Kriteria
Wilayah

Indikator/Sub Indikator

Keluaran

Hasil

Keterangan
40 KPHL: 3.550.855 Ha
80 KPHP: 12.888.863 Ha
Jumlah : 16.439.718 Ha
1 Unit dalam proses (KPHL Lintas
Sumut)

Penetapan Wilayah

SK Menhut KPH Model

120 SK

Organisasi

Perda /Pergub/ Perbup/


Perwakot

15 SKPD
104 UPTD

Kantor

Bangunan

73 Bangunan

Kendaraan
Roda 4

Mobil setiap KPH

95 mobil

Kendaraan
Roda 2

Beberapa Motor (Unit KPH)

235 Unit KPH

86 unit Th 2014, tidak danggarkan :


KPHL Maria

Alat Kantor/
Survey

Peralatan (Unit KPH)

90 Unit KPH

30 unit dilaksanakan tahun 2014

a.

Diklat Calon KKPH

b.
c.
d.

Diklat Perencanaan KPH


Lokalatih Tata Hutan
SMKK

4 Angkatan (107
orang)
1 Angkatan

e.

Basarhut

- 100 KPH dilantik KKPH


- SMK Kehutanan Periode Juli-Des
2013=215, mengundurkan diri 19,
diterima CPNS 39 sehingga periode
Jan-Des 2014=157 orang, ditambah
periode Juli-Des 2014=143 orang
(dibiayai Planologi)
- Basarhut ditempatkan pada 52 KPH
(dibiayai BP2SDM)

Sarana dan
Prasarana
Kelembagaan

SDM

2 kali
157+143 orang
118 orang

39 Unit dibangun tahun 2014, 7 unit


oleh Pemda, 1 unit dibatalkan yaitu
KPHP Sungai Beram Hitam
24 mobil thn 2014 dan 1 unit KPHP
Tambora Utara tidak dianggarkan

Tata Hutan

Buku dan Peta

87 Draf

33 dilaksanakan th 2014

Rencana Pengelolaan

Buku dan Peta

82 Draf

38 dilaksanakan th 2014, 30 sudah


disahkan

Rencana

Komposisi Kelembagaan 120 KPH Model


Provinsi (KPH)

Kabupaten/Kota (KPH)

Penetapan Organisasi

Tahun

SDM

Penetapan Organisasi

Jumlah

SDM

Jumlah
SKPD

UPTD

Belum

> 10
< 10
orang orang

SKPD UPTD

Belum

< 10
> 10
orang orang

2012

15

14

15

45

10

35

18

27

2013

23

21

15

2014

23

22

18

JML

29

26

13

16

91

13

78

51

40

Catatan:
KPH Pemerintah Provinsi : 29 Unit KPH terdiri atas 2 SKPD, 26 UPTD, 1 proses pembentukan
KPH Pemerintah Kabupaten/Kota : 91 Unit KPH terdir atas 13 SKPD dan 78 UPTD
KPH Kabupaten/Kota dengan jumlah SDM kurang dari 10 orang : 51 Unit KPH
KPH Kabupaten/Kota dengan jumlah SDM lebih dari 10 orang : 40 Unit KPH

OPERASIONALISASI KPH

Gambaran Penataan Hutan KPH


HP-Blok
Pemberdayaan

HP-Blok Pemanfaatan
HHK-HT

Calon HKM
HKM

HP-Blok Khusus
HTI

HP-Blok Perlindungan
Calon HTI
IUPHHK-HA

HTR

Ijin Jasling
HP-Blok Perlindungan
HL-Blok Inti
HP-Blok Pemanfaatan
HHK-HA

HL-Blok Pemanfaatan

HL-Blok Khusus

Calon Ijin Jasling


Ijin Jasling

Pemanfaatan Hutan
(PP No. 6 Tahun 2007 jo PP No. 3 tahun 2008)
Skema Perijinan (Pasal 15, ayat 2)
Dalam Wilayah KPH yang telah memiliki rencana pengelolaan hutan jangka panjang dapat dilakukan kegiatan pemanfaatan
hutan dengan izin pemanfaatan hutan
Skema Penugasan (Pasal 21)
(1) Untuk wilayah tertentu, Menteri dapat menugaskan kepala KPH untuk menyelenggarakan pemanfaatan hutan,
termasuk melakukan penjualan tegakan.
(2) Penyelenggaraan pemanfaatan hutan, termasuk melakukan penjualan tegakan dalam wilayah tertentu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada pedoman, kriteria, dan standar pemanfaatan hutan wilayah tertentu.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman, kriteria, dan standar pemanfaatan hutan wilayah tertentu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan Menteri
(Penjelasan)
Yang dimaksud dengan "wilayah tertentu", antara lain, adalah wilayah hutan yang situasi dan kondisinya belum menarik
bagi pihak ketiga untuk mengembangkan usaha pemanfaatannya, sehingga Pemerintah perlu menugaskan kepala KPH
untuk memanfaatkannya.
Skema Pemberdayaan (Pasal 83)
Pasal 83
(1) Untuk mendapatkan manfaat sumber daya hutan secara optimal dan adil, dilakukan pemberdayaan masyarakat
setempat, melalui pengembangan kapasitas dan pemberian akses dalam rangka peningkatan kesejahteraannya.
(2) Pemberdayaan masyarakat setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Pemerintah, provinsi,
kab/kota yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab kepala KPH.
Pasal 84
Pemberdayaan masyarakat setempat sebagaimana dimaksud Pasal 83 ayat (1) dapat dilakukan melalui :
a. hutan desa;
b. hutan kemasyarakatan; atau
c. kemitraan.

Pemanfaatan Hutan dalam KPH

Pengolahan Madu Sumbawa


KPHP Batulanteh Sumbawa, NTB
Produk
Madu
Kemasan

AGENDA KEDEPAN:
Kemasan Beepollen /
Beebread

Madu Sumbawa telah berhasil membangun


pemasaran yang terpadu, tahun 2013 sebanyak 10
ton;
Beebread belum dimanfaatkan secara optimal, KPH
akan menjadi leading industrialisasi madu Sumbawa
Beeread /beepollen memiliki khasiat untuk
kesehatan, antioksidan, untuk energi, vitalitas,
stamina, dll

Pemanfaatan Hutan dengan Retribusi Daerah


KPHP Yogyakarta, DIY
Retribusi Daerah adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu
yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemda untuk kepentingan orang pribadi atau Badan (UU
28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Ps 1 ayat 64).
Objek retribusi meliputi (Ps 108):
Retribusi Jasa Umum, 14 jenis (Ps 110)
Retribusi Jasa Usaha, 13 jenis, salah satunya Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah (Ps
127)
Retribusi Perizinan Tertentu, 5 jenis (Ps 141)
Retribusi Jasa Usaha adalah jasa yang disediakan oleh Pemda dengan menganut prinsip-prinsip
komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta
Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah adalah penjualan hasil produksi usaha Pemda
Dipungut atas setiap penjualan produksi usaha daerah yang diselenggarakan oleh Pemda
Perda DIY No. 12 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha
Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah adalah retribusi atas setiap penjualan produksi usaha
daerah yang diselenggarakan oleh Pemda DIY
Objek Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah meliputi:
penjualan produksi di Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan;
penjualan produksi di Balai Pengembangan Perbenihan dan Percontohan Kehutanan dan
Perkebunan; dan
penjualan hasil hutan dan kebun
Fokus pada penjualan produksi minyak kayu putih

Penanganan Konflik
KPHP Unit V Boalemo, Gorontalo
Menentukan areal konflik dan latar belakang terjadinya konflik
Terjadinya okupasi kawasan
Adanya perubahan fungsi kawasan
Adanya perkebunan kelapa sawit
Adanya pembukaan akses jalan
Membuat tipologi penangangan konflik
Upaya tindak lanjut penyelesaian konflik
Mengundang semua aktor yang berkonflik termasuk tokoh penggerak di lapangan
Peninjauan lapangan dan berdialog dengan masyarakat perambah
Alternatif Penanganan Konflik
Mencari lahan pengganti dengan memasukkan pada Program Transmigrasi Lokal.
Menawarkan PHBM : HTR, HKm, atau Hutan Desa.
Pola Kemitraan Masyarakat dengan KPH untuk Pengembangan HHBK (Masohi, Karet,
dan Jernang)

Pelaksanaan RHL
KPHP Dampelas Tinombo, Sulawesi Tengah
Seluas 150 Ha di Desa Ogoamas 2 (Dusun Bingkoli) dengan penanaman
tanaman Palapi, Nyatoh, dan Karet;
Seluas 150 Ha (dana APBD) di Desa Lembah Mukti dengan penamanan
tanaman Karet,
Seluas 120 Ha dalam LMU terseleksi (dana APBD) di Desa Tonggolobibi
melalui penanaman tanaman kayu-kayuan, MPTS, dan tanaman palawija
dalam pola agroforestry;
Seluas 100 Ha (dana APBN) di Desa Siweli, Siboalong, dan Sibayu dalam
kawasan Hutan Lindung dengan penanaman tanaman Eboni, Palapi, dan Pala

REGULASI DAN PEMBIAYAAN KPH

Regulasi yang Sudah Dibuat:


No.

PERATURAN

TENTANG

PP No. 6 Tahun 2007 jo PP No 3 Tahun 2008

Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta


Pemanfaatan Hutan

Permenhut No. P.6/Menhut-II/2009

Pembentukan Wilayah KPH

Permenhut No. P.6/Menhut-II/2010

NSPK Pengelolaan Hutan pada KPHL dan KPHP

Permendagri No. 61 tahun 2010

Pedoman Organisasi dan Tata Kerja KPHL dan KPHP

Permenhut No. P.41/Menhut-II/2011 jo


Permenhut No. P.54/2011

Standar Fasilitasi Sarana dan Prasarana pada KPHL dan KPHP


Model

Permenhut No. P.42/Menhut-II/2011

Kompetensi Teknis Bidang Kehutanan Pada KPHL dan KPHP

Permenhut No. P.39/Menhut-II/2013

Pemberdayaan Masyarakat setempat Melalui Kemitraan


Kehutanan

Permenhut No. P.46/Menhut-II/2013

Tata Cara Pengesahan Rencana Pengelolaan Hutan Jangka


Panjang KPHL dan KPHP

Permenhut No. P.47/Menhut-II/2013

Pedoman, Kriteria, dan Standar Pemanfaatan Hutan di Wilayah


Tertentu pada KPHL dan KPHP

10

Perdirjen Planologi Kehutanan No. P.5/VIIWP3H/2012

Petunjuk Teknis Tata Hutan dan Penyusunan Rencana


Pengelolaan Hutan pada KPHL dan KPHP

Undang-Undang 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah


SUB
URUSAN
Pengelolaan
Hutan

PEMERINTAH PUSAT
a. Penyelenggaraan tata hutan.
b. Penyelenggaraan rencana
pengelolaan hutan.
c. Penyelenggaraan pemanfaatan
hutan dan penggunaan
kawasan hutan.
d. Penyelenggaraan rehabilitasi
dan reklamasi hutan.
e. Penyelenggaraan perlindungan
hutan.
f. Penyelenggaraan pengolahan
dan penatausahaan hasil
hutan.
g. Penyelenggaraan pengelolaan
kawasan hutan dengan tujuan
khusus (KHDTK).

DAERAH PROVINSI

DAERAH
KAB/KOTA

a. Pelaksanaan tata hutan kesatuan pengelolaan hutan kecuali pada kesatuan pengelolaan hutan konservasi
(KPHK).
b. Pelaksanaan rencana pengelolaan kesatuan
pengelolaan hutan kecuali pada kesatuan
pengelolaan hutan konservasi (KPHK).
c. Pelaksanaan pemanfaatan hutan di kawasan hutan
produksi dan hutan lindung, meliputi:
1) Pemanfaatan kawasan hutan;
2) Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu;
3) Pemungutan hasil hutan;
4) Pemanfaatan jasa lingkungan kecuali pemanfaatan
penyimpanan dan/atau penyerapan karbon.
d. Pelaksanaan rehabilitasi di luar kawasan hutan
negara.
e. Pelaksanaan perlindungan hutan di hutan lindung,
dan hutan produksi.
f. Pelaksanaan pengolahan hasil hutan bukan kayu.
g. Pelaksanaan pengolahan hasil hutan kayu dengan
kapasitasproduksi < 6000 m/tahun.
h. Pelaksanaan pengelolaan KHDTK untuk kepentingan
religi.

Implikasi Perubahan UU 31 Tahun 2004


Menjadi UU 23 Tahun 2014 Terhadap KPH
1. UU 32 Tahun 2004 (PP 38/2007, PP 41/2007, Permendagri 61/2010)
a. Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Bidang Kehutanan sebagai Urusan
Konkuren: berada di Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota,
b. KPHK di Pusat; Tahura, KPHL, dan KPHP ada di Provinsi atau Kab/Kota sesuai
dengan Wilayah Kelola
c. Organisasi KPHL dan KPHP sesuai dengan Wilayah Kelola (Provinsi atau
Kab/Kota)
2. UU 23 Tahun 2014
a. Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Bidang Kehutanan sebagai Urusan
Konkuren: berada di Pusat dan Provinsi.
b. KPHK di Pusat; Tahura Lintas Kab/Kota, KPHL, dan KPHP ada di Provinsi; dan
Tahura dalam satu Kab/Kota ada di Kab/Kota.
3. Kondisi Kelembagaan KPH saat ini
a. Telah ada 91 Unit KPH Kab/Kota,
b. 29 Unit KPH di Provinsi
c. Banyak Kab/Kota yang sudah inisiasi membentuk Kelembagaan KPH
4. Diberlakukannya UU 23 Tahun 2014 berimplikasi pada keberlanjutan kelembagaan
KPH Kabupaten/Kota

Regulasi yang Perlu Direvisi/Dibuat:


No.

JENIS

TENTANG

Peraturan Pemerintah (Revisi)

Perencanaan Kehutanan

Peraturan Pemerintah (Revisi)

Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta


Pemanfaatan Hutan

Peraturan Pemerintah (Revisi)

Organisasi Perangkat Daerah

Permendagri (Revisi)

Pedoman Organisasi dan Tata Kerja KPHL dan KPHP (Koordinasi


Kemendagri, KemenPan RB, dan Kemen LHK)

Permenhut

Pengarusutamaan KPH, NSPK, dll

Pembiayaan :
1. Pembiayaan Pembangunan KPH dari APBN, APBD, dan dana lain yang tidak
mengikat sesuai Peraturan Perundang-Undangan
2. Pembiayaan Operasionalisasi KPH dari APBN, APBD, Dana lain yang tidak mengikat,
dan optimalisasi pemanfaatan hutan pada wilayah KPH oleh KPH.
3. Diberlakukannya UU 23 Tahun 2014 berdampak terhadap alokasi pendanaan (DAK,
APBD Prov/Kab/Kota)
PEMERINTAH
APBN/APBD

MITRA

KPH
BUMN/D/S, KOP,
UMKM,
MASYARAKAT

SWADANA
KPH

KPH Mandiri
(Kondisi aktual organisasi di tingkat tapak, yang diindikasikan oleh suatu kemampuan
menyerap tenaga kerja, investasi, memproduksi barang dan jasa kehutanan yang
melembaga dalam sistem pengelolaan hutan secara efisien dan lestari)

KPH Mandiri

PPK-BLUD

SKPD

UPTD
Unit Pelaksana
Teknis Dinas

Satuan Kerja
Perangkat
Daerah

Penerapan Pola
Keuangan- Badan
Layanan Umum
Daerah

KPH yang bisa


mencukupi biaya
operasional sendiri
(self financing)
secara
berkelanjutan dan
berputar mandiri
(self revolving).

TERIMA KASIH