Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
BTLS didirikan dengan latar belakang masih tingginya tingkat
kematian dan kecacatan akibat kegawatdaruratan (Emergency Case)
pada kejadian kecelakaan transportasi, industri, rumah tangga, gejolak
sosial (terorisme, konflik masyarakat, kejahatan dan kekerasan) dan
bencana yang tidak henti-hentinya melanda negeri ini. Selain itu
kegawatdaruratan medis seperti penyakit kardiovaskular, jantung,
hipertensi dan stroke masih menduduki peringkat lima besar penyebab
kematian di Indonesia.
Penyebab tingginya angka kematian dan kecacatan akibat
kegawatdaruratan medis tersebut adalah tingkat keparahan, kurang
memadainya peralatan, sistem yang belum memadai dan pengetahuan
penanganan penderita gawat darurat yang kurang mumpuni.
Pengetahuan penanggulangan penderita gawat darurat memegang porsi
besar dalam menentukan keberhasilan pertolongan. Pada banyak kejadian
banyak penderita gawat darurat yang justru meninggal dunia atau
mengalami kecacatan yang diakibatkan oleh kesalahan dalam melakukan
pertolongan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian BTLS?
2. Apa Pengertian Trauma?
3. Apa Saja Pengkajian Awal dan Penatalaksanaan BTLS?
4. Apa Saja Pengkajian dan Penatalaksanaan Trauma yang Terjadi?
5. Apa Saja Pengkajian dan Penatalaksanaan Trauma Lanjutan?
6. Apa Saja pada Trauma Multiple?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Pengertian BTLS
2. Untuk Mengetahui Pengertian Trauma
3. Untuk Mengetahui Pengkajian Awal dan Penatalaksanaan BTLS
4. Untuk Mengetahui Pengkajian dan Penatalaksanaan Trauma yang
Terjadi
5. Untuk Mengetahui Pengkajian dan Penatalaksanaan Trauma Lanjutan
6. Untuk Mengetahui Komplikasi pada Trauma Multiple
1

BAB II
KONSEP DASAR
A. Basic Trauma Life Suport (BTLS)
BTLS (Basic Trauma Life Suport) adalah bagian awal dari ATLS
(Advanced Trauma Life Suport.Pada BTLS, dokter atau tenaga kesehatan
lainnya tidak diminta untuk memberikan tatalaksana sesuai diagnosis
definitifnya tapi hanya memberikan kesempatan bagi pasien untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan nantinya. Intinya pada tahap ini,
dokter atau pelayan kesehatan lainnya hanya diminta membantu pasien
untuk tetap hidup atau membuat reaksi kimia C6H12O6 + 6O2 ---> 6CO2
+ 6H2O tetap berlangsung.
Dalam menangani trauma pada dasarnya kita punya prioritas sbb :
1. Breath (trauma yang berhubungan dengan organ sistem
penafasan)
2. Blood (trauma yang berhubungan dengan organ sirkulasi darah)
3. Brain (trauma yang berhubungan dengan kepala dan otak)
4. Bowel (trauma yang berhubungan dengan organ tracktus
digestivus)
5. Bleder (trauma yang berhubungan dengan organ urogenetalis)
6. Bone (trauma yang berhubungan dengan tulang dan jaringan
penyangganya)
Sebagai contoh bila kita menemukan kasus multi trauma, misalnya
korban dengan penurunan kesadaran dan patah tulang, setelah kita
lakukan triage, initial assessment maka prioritas berikutnya adalah
masalah gangguan kesadarannya yang harus diselesaikan baru
dilanjutkan dengan patah tulang.
Hal dilakukan adalah Primary Survey. Di sini dokter diminta menilai
secermat mungkin hal apa yang mengancam nyawa pasien. Beberapa
nemonic yang sering membantu antara lain:
1. Airway with c-spine contol.

Sistem pernafasan termasuk permasalahan yang sangat vital dalam


masalah penanganan trauma, airway ataupun breathing sangat
berhubungan, dengan masalah sirkulasi oksigen ke jaringan, anoxia
otak akan menyebabkan gangguan vitalitas otak ataupun jaringan.
Trauma pada yang berhubungan dengan sistem pernafasan merupakan
pembunuh utama yang banyak membuat korban meninggal.
Mati biologis dimana terjadi gangguan sirkulasi 6-8 menit akan
menyebabkan korban irreversible untuk dilakukan resusitasi. Secara
statistic table dibawah menunjukkan besarnya jumlah korban tertolong
bila kita melakukan resusitasi secepatnya :
Tabel 1.
Menit Keterlambatan
Kemungkinan Keberhasilan
1 menit
98 dari 100 korban
4 menit
50 dari 100 korban
10 menit
1 dari 100 korban
Kematian karena trauma organ-organ pernafasan umumnya
diketahui dengan adanya rasa nyeri dan/atau kecemasan disertai
tanda awal yang sering samar yaitu Takipnea. Oleh karena itu sangat
penting menilai dengan cermat adanya gangguan pada system
pernafasan. Penderita yang mengalami gangguan kesadaran baik
disebabkan karena trauma kepala, karena alcohol ataupun obat-obatan
serta narkoba, trauma thoraks hamper selalu mengalami gangguan
pernafasan. Oleh karena itu tindakan intubasi selalu menjadi
kemungkinan untuk dilakukan. Tindakan intubasi dimaksudkan untuk :
a.
b.
c.
d.

Membuka airway
Memberikan oksigenasi
Menunjang ventilasi
Mencegah aspirasi
Hal pertama yang harus diperiksa dalam penyelamatan seorang

pasien. Pelayan kesehatan diharapkan bisa memberikan distribusi


oksigen dalam kurang waktu 8-10 menit.
Assessmentnya :
3

Kalau pasien sadar, dia mampu berbicara dengan jelas tanpa suara
tambahan. Ini berarti laringnya mampu dilewati udara yang artinya
airway is clear. Terdapat pengecualian untuk pasien luka bakar. Kalau
kita temukan jejas kehitaman pada lubang hidung pasien atau lendir
kehitaman yang keluar dari hidung pasien itu mungkin disebabkan
sudah terjadinya inflamasi pada saluran pernapasan akibat inhalasi
udara bersuhu tinggi. Pasien tidak langsung menunjukan gejala
obstruksi saluran nafas segera.
Kalau pasien tidak sadar maka segera lakukan penilaian Look Listen - Feel. Lihat gelisah atau tidak, gerakan dinding dada, dengarkan
ada atau tidak suara nafas, rasakan hembusan nafas pasien dari pipi
dalam satu waktu.
Kalau terjadi obstruksi total maka akan timbul apnea biasanya
disebabkan obstruksi akibat benda asing. Tindakan yang dapat
dilakukan antara lain memberikan penekanan pada dinding abdomen
melalui manuver Heilmicth atau Manuver Abdominal Trust. Kalau untuk
anak kecil bisa dibantu dengan membalik posisi anak secara vertikal
agar mempermudah keluarnya benda asing. Tindakan yang disebutkan
diatas dilakukan pada pasien sadar. Sementara pada pasien tidak
sadar yang bisa dilakukan antara lain : finger sweep, abdominal trust,
dan instrumental.

Kalau terjadi obstruksi parsial maka pasien akan menunjukan tanda


bunyi nafas tambahan. Beberapa bunyi nafas itu antara lain:
a. Gurgling (kumur-kumur) = obstruksi akibat adanya air dalam
saluran nafas. Penanganannya melalui suction. Terdapat dua jenis
suction yakni, yang elastic dan yang rigid. Pilih saction yang rigid
karena lebih mudah diarahkan. Jangan melakukan tindakan yang
berlebihan di daerah laring sehingga tidak timbul vagal refleks.

b. Stridor (crowing) = obstruksi karena benda padat dan terjadi pada


URT. Penanganan pertama nya dengan penggunaan endotracheal
tube (ETT)

c. Snorg (mengorok) = biasa nya obstruksi karenan lidah terlipat


dan pasien dalam keadaan tidak sadar. Penangannya yang pertama
dengan membuka mulut pasien dengan jalan; chin lift atau jaw
trust. Kemudian diikuti dengan membersihkan jalan nafas melalui
finger sweep (cara ini tidak amam karena memungkinkan trauma
mekanik pada jari dokter) atau melalui bantuan instrumen.

Tidakan berikutnya dengan pemasangan oropharingeal tube (untuk


pasien tidak sadar) atau nasopharyngeal tube untuk pasien sadar.
Sebagai tambahan info, bahwa pada oropharingeal tube terdapat
tiga jenis ukuran sehingga sebelum memasangnya dokter harus
menentukan ukuran yang sesuai. Cara mudahnya dengan
menyamakan ukuran dengan panjang dari lubang telinga ke sudut
mulit atau panjang dari sudut telinga ke lubang hidung, Begitu pula
dengan pemasangan nasopharingeal tube.

C-spine kontrol mutlak harus dilakukan terutama pada pasien yang


mengalami trauma basis crania (Suatu fraktur linear yang terjadi
pada dasar tulang tengkorak yang tebal. Fraktur ini seringkali
disertai dengan robekan pada Duramater). Cirinya adalah keluar
darah atau cairan bercampur darah dari hidung atau telinga. Cspine kontrol dilakukan dengan indikasi:
a.
b.
c.
d.

Multiple trauma
Terdapat jejas di daerah serviks ke atas
Penurunan kesadaran.
Jika semuanya gagal, maka terapi bedah menjadi pilihan terakhir.
Pada penderita trauma terutama bila mengalami cedera kepala

maka oksigenasi dan mencegah hiperkarbia merupakan hal yang


kritis dalam pengelolaan penderita trauma.
a. Trauma Maksilo Fasial
Adalah sebagai salah satu daerah yang dilewati saluran
pernafasan termasuk daerah yang sering mengalami trauma,
6

mulai dari wajah yang terdapat hidung, nasofaring dan orofaring,


trauma didaerah wajah sering menyebabkan sekresi yang
berlebihan sehingga penting untuk melindungi jalan nafas agar
tidak tersumbat oleh secret ataupun darah yang keluar dari
rongga mulut.
b. Trauma leher
Baik tajam ataupun tumpul sangat beresiko untuk terjadi
sumbatan jalan nafas baik yang partial ataupun total, tindakan
untuk menyelamatkan jalan nafas dari sumbatan secret ataupun
perubahan bentuk dari laring ataupun trachea akan
membutuhkan tindakan yang sangat urgent untuk dilakukan.
Kemungkinan tindakan intubasi endotraheal atau traheotomi
baik dengan canula ataupun yang sederhana dengan jarum
merupakan alternative untuk segera menolong saluran nafas
agar tetap terbuka dan dapat dialiri oleh oksigen.
Penting diingat bahwa adanya cedera didaerah leher perlu
diperhatikan kemungkinan terjadi cedera vertebrae cervical
ataupun saraf vervical, sehingga dalam pengelolaan leher perlu
diperhatikan bahwa :
1) Penderita dengan penurunan kesadaran
2) Trauma leher
3) Gangguan pernafasan
4) Cedera/luka didaerah kepala sampai pundak
Harus dianggap ada cedera vertebrae cervical sampai
dibuktikan tidak ada gangguan pada vertebrae cervical, dengan
demikian semua pertolongan pada keadaan diatas harus
dilakukan imobilisasi baik dengan peralatan cervical collar
ataupun hanya dngan fiksasi yang sederhana.
c. Trauma thoraks
Trauma terjadi dapat berupa trauma tumpul ataupun trauma
tajam. Gangguan yang sering terjadi akibat trauma thoraks yang
tersering adalah pnemothoraks terbuka, Tension pnemothoraks,
7

Hematopnemothorakx, Flail chest dan kontusio paru. Sedangkan


penyebab kematian terbanyak adalah Pnemothoraks,
Haematothoraks dan kontusio paru. Angka kematian adalah 10%
dan umumnya meninggal setelah sampai dirumah sakit akibat
ketidakmampuan dalam melakukan pertolongan yang benar,
10% trauma thoraks tumpul membutuhkan open thorakotomi
dan 10-15% trauma thoraks tajam membutuhkan open
thorakotomi.Langkah pertolongan yang harus dilakukan dalam
menangani trauma thoraks adalah :
1) Triage walau umumnya sebagian besar trauma thoraks
merupakan penderita dengan P1 namun tindakan inipenting
untuk dapat melakukan manajemen pertolongan yang baik
dan sistematis.
2) Primary survey adalah langkah yang penting sekali untuk
segera memberikan pertolongan pada penderita, langkah ini
perlu dilakukan dengan cepat namun harus cermat dan teliti,
resusitasi fungsi vital, hipoksia segera ditangani control
airway, membersihkan jalan nafas (A), pemasangan tube,
menjaga pernafasan dan ventilasi (B), mengembangkan paru,
dekompresi thoraks dengan jarum, fixasi dinding dada.
3) Secondary survey, dilakukan sesudah tidak ada lagi ancaman
nyawa terhadap penderita. Tindakan adalah untuk
mempertajam diagnose agar kita dapat memberikan
pengobatan definitive.
4) Stabilisasi, untuk mempertahankan kondisi penderita
5) Transport bila diperlukan tindakan lebih lanjut
6) Pengibatan definitive tergantung berat ringannya trauma.
Keadaan trauma thoraks yang langsung mengancam nyawa
maka akan ditemukan saat melakukan tindakan pemeriksaan
pada primary survey dan keadaan yang potensial mengancam
nyawa maka akan ditemukan saat melakukan pemeriksaan
secondary survey.
8

TRAUMA THORAKS yang mengancam nyawa : (Primary Survey


I)
1) Obstruksi airway ditemukan saat memeriksa A: Airway
2) Open pneumotoraks, Tension pneumotoraks, Flail Chest +
kontusio paru dan masih haematothoraks diketemukan pada
waktu melihat B: Breathing
3) Tamponade jantung ditemukan pada waktu memeriksa
cirkulasi
a) Obstruksi jalan nafas :
Manifestasi yang sering nampak adalah sesak-stridorserak, bila didapatkan gejala tersebut diatas maka perlu
kewaspadaan yang tinggi atas kemungkinan adanya
sumbatan jalan nafas. Tindakan untuk membebaskan
jalan nafas mulai dari yang sederhana seperti Chin lift,
Jaw thrust, Orofaringeal Airway, Nasopharingeal Airway
sampai tindakan intubasi segera harus dilakukan,
demikian needle tracheotomy atau pemasanagn canula
tracheostomy adalah tindakan yang tidak boleh dilakukan
dengan ragu-ragu.
b) Open pnemotoraks, tension pnemothoraks, kontusio paru
dengan flail chest, haemotothoraks:Tindakan setelah
melakukan pembebasan jalan nafas : A dilanjutkan
dengan memberikan pernafasan : B dan circulasi : C,
maka harus segera dipikirkan untuk Pnemothoraks adalah
mengeluarkan udara dari cavum thoraks dengan cara
needle thoracotomy sampai definitive chest tube WSD,
pemberian cairan lewat transfuse set dan segera
menyediakan darah adalah tindakan untuk
haematothoraks, pemberian analgetik yang kuat serta
fiksasi dinding dada serta bantuan pada paru melalui
begging agar dapat befungsi dan menyerap oksigen atau
mengistirahatkan paru dengan mengambil alih fungsinya
9

dengan mesin ventilator, melakukan pericardiosintesis


pada lamponade jantung harus dengan cekatan dapat
dilakukan agar ancaman nyawa terhadap penderitan
segara dapat diatasi.
c) Trauma Thoraks. Hal yang penting diperhatikan pada
keadaan akibat trauma thoraks adalah pnemothoraks dari
yang sederhana sampai dengan tension pneomothoraks
dari klinis berupa inspeksi terlihat ekspansi yang tidak
simetris antara dada kiri dan kanan, auskultasi
didapatkan suara nafas yang menurun dan perkusi
hypersonor hingga munculnya gejala tension
pnemothoraks berupa trakea terdoronf vena leher
distensi dan syok.
Perlu diingat bahwa kematian penderita dapat terjadi
saat-saat pertama (early death) salah satunya
disebabkan oleh karena pnemothoraks, maka sangat
penting untuk dapat mendiagnosa dengan cepat
secara klinis untuk dapat mengidarkan hilangnya

nyawa penderita.
Secara klinis mendiagnosa pnemothoraks tidaklah
sukar asal dapat memeriksa dengan teliti, cermat dan
tidak diperlukan pemeriksaan penunjang foto

radiology
Diagnosis tension pnemothorakx ditegakkan
berdasarkan gejala klinis, dan terapi tidak boleh

terlambat oleh karena menunggu konfirmasi radiology


Tindakan yang harus dilakukan adalah mengeluarkan
udara dari cavum thoraks agar udara tidak mendorong

jantung dan mengakibatkan terpelintirnya jantung.


Tindakan yang paling sederhana untuk mengeluarkan
udara adalah dengan jarumno 14 tusukan kesisi dada
yang mengalami pnemothoraks pada sela iga II dan III
10

mid clavicula (sebaiknya menusuk diatas iga ke III


jangan dibawah iga II karena disana terdapat A, V, N
intercostalis), setelah udara keluar maka jarum
dicabut karena penanganan ini hanya sementara
(bukan definitive treatment) untuk mengeluarkan

udara dari cavum thoraks agar tidak menekan jantung.


Pada dinding dada yang terbuka akibat trauma tajam,
maka lubang yang ada dapat ditutup dengan plastic
yang diplester pada tiga sisinya sehingga udara dari
luar tak dapat masuk tapi udara dalam dapat keluar,
keadaan ini akan memperbaiki tekanan didalam

cavum thoraks (tekanan negative).


Pemasangan WSD adalah tindakan definitive yang
dapat dilakukan oleh dokter, sehingga setelah
penderita sampai dirumah sakit dapat segera
dilakukan pemasangan WSD sebagai tindakan
definitive.

Penanganan trauma yang berhubungan dengan traktus


respiratorius perlu dilakukan dengan segera agar sirkulasi oksigen
tidak terlambat sampai di otak dan jantung, namun tetap harus
dilakukan dengan teliti dan hati-hati. Penting diingat bahwa
menangani kegawat daruratan memang harus segera namun
demikian tindakan yang kita lakukan bukan harus terburu-buru,
dengan kata lain jangan sampai tindakan yang kita lakukan justru
membuat keadaan sipenderita jadi lagi buruh DO NO HARM
2. Breathing and Ventilation
Lihat keadaan torak pasien, ada atau tidak cyanosis, dan kalau
pasien sadar maka pasien mampu berbicara dalam satu kalimat
panjang. Keadaan dada pasien yang mengembung apalagi tidak
simetris mungkin disebabkan pneuomotorak atau pleurahemorage.
Untuk membedakannya dilakukan perkusi di daerah paru. Suara paru
11

yang hipersonor disebabkan oleh pneumotorak sementara pada


pleurahemorage suara paru menjadi redup. Penanganan pneumotorak
ini antara lain dengan menusukan needle 14 G di daerah yang
hipersonor atau pengguanan chest tube.

Jika terdapat henti napas :


Hal yang dapat dilakukan antara lain Resusitasi Paru, bisa dilakukan
melalui:
a. Mouthto mouth
b. Mouth to mask
c. Bagto mask (Ambu bag).
Jika menggunakan ventilator oksigen dapat diberikan melalui :
a. Kanul. Pemberian Oksigen melaui kanul hanya mampu memberikan
oksigen 24-44 %. Sementara saturasi oksigen bebas sebesar 21 %.
b. Face mask/ rebreathing mask. Saturasi oksigen melalui face mask
hanya sebesar 35-60%.
c. Non-rebreathing mask. Pemberian oksigen melalui non-rebreathing
mask inilah pilihan utama pada pasien cyanosis. Konsentrasi
oksigen yang diantarkannya sebesar 80-90%. Perbedaan antara
rebreathing mask dan non-rebreathing mask terletak pada adanya
valve yang mencegah udara ekspirasa terinhalasi kembali.
Note : pada pasien pneumotorak perhatikan adanya keadaan
pergesaran mediastinum yang tampak pada pergeseran trakea,
peningkatan tekanan vena jugularis, dan kemungkinan timbul
tamponade jantung
12

3. Circulation and haemorage control


Assessment:
Pertama kali yang harus diperhatikan adalah kemungkinan pasien
mengalami shock. Nilai sirkulasi pasien dengan melihat tanda-tanda
perfusi darah yang turun seperti keadaan pucat, akral dingin, nadi
lemah atau tidak teraba. Shock yang tersering dialami pasien trauma
adalah shock hemoragik. Jadi dalam penatalaksanaannya yang
pertama adalah tangani status cairan pasien dan cari sumber
perdarahan, kemudian atasi perdarahan. Berikan cairan intravena
kemudian tutup luka dengan kain kassa, immobilisasi. Pemberian
cairan intravena harus pada suhu yang hangat agar tidak
memperberat kondisi pasien (pemasukan cairan yang memiliki suhu
lebih rendah daripada suhu tubuh menyebabkan vasokontriksi
sehingga nantinya menurunkan perfusi). Status hidrasi pasien juga
harus diukur melalui output cairannnya sehingga sering diikuti dengan
pemasangan kateter. Namun pemasangan kateter dikontraindikasikan
pada pasien yang mengalami ruptur uteri. Cirinya terdapat lebam pada
perineal atau skrotum.
Luka pasien trauma yang sering menimbulkan keadaan shock antara
lain luka pada abdomen, pelvis, tulang panjang, serta perdarahan
torak yang massive.
Kalau terjadi henti jantung maka lakukan massasse jantung.

4. Disability
13

Pada tahap ini dokter diharapkan menilai keadaan neurologic pasien.


Status neurologic yang dinilai melalui GCS (Glasgow Coma Scale) dan
keadaan pupil serta kecepatannya.
Hal yang dinilai dari GCS antara lain (E-V-M)
Tabel 2.
JenisPemeriksaan

Nila

Respon Buka Mata (E)

Spontan
Terhadap suara
Tehadap nyeri
Tidak ada
Respon Verbal (V)
Berorientasi baik
Berbicara ngacau (bingung)
Kata-kata tidak teratur
Suara tidak jelas
Tidak ada respon
Eespon Motorik (M)
Ikut perintah
Melokalisir nyeri
Fleksi normal (tarik anggota badan yang dirangsang)
Fleksi abnormal (Dekortikasi)
Ekstensi abnormal (Deserbrasi)
Tidak ada respon (Flasid)
Kesadaran baik >13, sedang 9-12, Buruk /koma <8

i
4
3
2
1
5
4
3
2
1
6
5
4
3
2
1

Respon pupil dinilai pada kedua mata. Jika terdapat lateralisasi


maka kemungkinan terdapat cedera kepala yang ipsilateral. Jika
respon pupil lambat maka kemungkinan terdapat cedera kepala.
Tabel 3.
Ukuran Pupil
Dilatasi Unilateral

Reaksi Cahaya
Lambat atau Negatif

Interpretasi
Paresis NIII akibat kompresi

Dilatasi Bilateral

Lambat atau Negatif

sekunder hernias tentorial


Perfusi otak tidak cukup

Diltasi Unilateralatau Equal

Reaksi Menyilang (Marcus

Paresis NIII Bilateral


Cedera N Optikus

Kontriksi Bilateral

Gunn)
Sulit Dilihat

Obat (Opiat)
Encefalopati metabolic
14

Kontriksi Unilateral

Positif

Lesi pons
Cedera saraf simpatik mis:
cedera sarung carotis

5. Exposure dan Enviroment


Buka pakaian pasien untuk mengeksplorasi tubuh pasien untuk
melihat kemungkinan adanya multiple trauma. Kemudian selimuti
pasien agar mencegah hipothermi.
Setelah semua dilakukan dan keadaan pasien menjadi stabil
lakukan kembali Secondary SurveyPelayan Kesehatan diharapkan
memeriksan kembali dari awal, anamnesis riwayat pasien, lakukan
pemeriksaan neurologi yang komplit (tes refleks, CT-scan, MRI), dan
membuat diagnosis spesifik, dan lainnya.
B. Trauma
Trauma adalah penyebab kematian utama pada manusia antara usia 1
dan 44 tahun.pada kelompok usia yang lebih tua, penyebab kematian ini
hanya di lampaui oleh kanker dan kardiovaskular. Bagaimana pun
kerugian akibat trauma dalam hal kehilangan kesempatan hidup
produktif, melebihi kerugian yang ditimbulkan oleh kanker dan penyakit
kardiovaskular. Sebagai penyebab utama kematian dan kecacatan,
trauma telah menjadi masalah kesehatan dan social yang signifikan.
Kemajuan dalam bidang perawatan pasien trauma telah dicapai dalam
beberapa dekade terakhir. Pengembangan pusat-pusat pelayanan trauma
telah menurunkan mortalitas dan morbiditas diantara korban kecelakaan.
Perawatan dan sarana angkutan prarumah sakit yang semakin baik telah
menyebabkan kenaikan jumlah korban kecelakaan dengan keadaan kritis
sampai ke rumah sakit dalam keadaan hidup. Akibatnya, pasien yang tiba
di unit perawatan kritis cenderung mengalami cedera serius yang
menlibatkan banyak organ, dan mereka sering kali membutuhkan asuhan
keperawatan yang ekstensif dan kompleks.
C. Pengkajian Awal dan Penatalaksanaan Awal

15

Orang yang mengalami cedera barat harus dikaji dengan cepat dan
efisien. Kriteria dan protokol untuk memudahkan pengkajian awal,
intervensi, dan triage untuk korban trauma telah dikembangkan oleh
American college of surgeons, committee on trauma.
1. Prarumah Sakit
Penatalaksanaan awal sering kali menentukan hasil akhir. Fase ini
dimulai pada tempat kecelakaan dengan pengkajian cepat terhadap
cedera-cedera yang mengancam keselamatan jiwa. Setelah jalan nafas
dipastikan, kemudian pernafasan dan sirkulasi dievaluasi dan
didukung. Resusitasi sirkulasi awal termasuk kontrol terhadap
hemoragi eksternal, melakukan terapi cairan intravena, dan
adakalanya pemasangan pneumatic antishock garment (PASG). Potensi
terhadap fraktur juga harus diimobilisasi sebelum dipindahkan.
2. Rumah Sakit
Pengkajian dan perawatan yang dilakukan setibanya di rumah sakit
dibagi ke dalam empat fase : evaluasi primer, resusiitasi, pengkajian
skunder, dan perawatan definitive.
a. Evaluasi Primer
Seperti halnya pada pengkajian prarumah sakit, evaluasi primer
mendeteksi masalah-masalah jalan nafas, pernafasan, dan sirkulasi,
dan menentukan kemungkinan ancaman terhadap jiwa dan anggota
badan. Informasi tentang mekanisme terjadinya cedera dan
gambaran tentang keadaan kecelakaan (spt,stang roda mobil yang
bengkok)akan memberikan petunjuk tentang kemungkinan
terjadinya cedera serius. Pemeriksaan neurologic yang seksama
juga dilakukan.
b. Resusitasi
Resusitasi seringkali mulai dilaksanakan selama evaluasi primer dan
mencakup tindakan terhadap kondisi-kondisi yang mengancam
keselamatan jiwa. Pasien dapat memerlukan intubasi endotrakeal,
pemberian oksigen, terapi cairan intravena, dan kontrol terhadap
hemoragi. Kondisi-kondisi yang mengancam keselamatan jiwa,
misalnya tension, pneumotoraks terbuka, hemotoraks masif, dan
16

tamponade jantung, diatasi dengan cepat kecuali adanya


kontraindikasi, kateter urin dan selang nasogastrik dipasang.
c. Pengkajian sekunder
Apabila kondisi pasien sudah berhasil distabilkn, riwayat kesehatan
yang lengkap, termasuk informasi tentang mekanisme terjadinya
cedera, harus diperoleh dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh
harus dilakukan. Pemeriksaan dapat mencakup elektrokardiogram
(ECG), berbagai uji laboratorium, dan pemeriksaan radiologic jika
diduga adanya cedera abdomen, maka lavage peritoneal diagnostic
(DPL) juga diperlukan dilakukan.
3. Pola-pola cedera
Informasi tentang pola atau mekanisme terjadinya cedera sering
kali akan sangat membantu dalam mendiagnosa kemungkinan
gangguan yang diakibatkan. Trauma tumpul terjadi pada kecelakaan
kenderaan bermotor (KKB) dan jatuh, sedangkan trauma tusuk
(penetrasi) seringkali di akibatkan oleh luka tembak, atau luka tikam.
Umumnya, makin besar kecepatan yang tetrlibat di dalam suatu
kecelakaan, akan makin besar cedera yang terjadi (mis,KKB kecepatan
tinggi, peluru dengan kecepatan tinggi, jatuh dari tempat yang sangat
tinggi).
Trauma tumpulm pada kecelakaan kenderaan mobil, badan
kenderaan memberikan sebagian perlindungan dan menyerap energi
dari hasil benturan tabrakan. Pengendara atau penumpang yang tidak
menggunakan sabuk pengaman. Bagaimanapun akan terlempar dari
mobil dan dampaknya mendapatkan cedera tambahan. Pengendara
sepeda motor mempunyai perlindungan yang minimal dan seringkali
akan menderita cedera yang parah apabila terlempar dari motor.
Perlambatan yang cepat selama KKB atau jatuh dapat
menyebabkan kekuatan yang terputus yang dapat merobek struktur
tertentu. Organ-organ yang berdenyut seperti jantung dapat terlepas
dari pembuluh besar yang menahannya. Demikian juga, organ-organ
abdomen (limpa, ginjal, usus) akan terlepas dari mensenteri.
Tabel 4.Prosedur-prosedur Radiologi pada Trauma
17

Prosedur
Radiografi

Dugaan Cedera

Dada

Pneumotoraks
Hemothoraks
Fraktur iga
Kontusio pulmonal
Cedera trakeobronkial

Pelvis
Ekstremitas
Angiogram

Cedera pembuluh besar


Fraktur
Fraktur
Cedera pembuluh besar
Cedera ginjal
Cedera vascular pelvis

Tomografi Komputer

Cedera vascular ekstremitas


Dera abdomen
Cedera retroperitoneal
Cedera ginja

Serangkaian gastrografin

Fraktur pelvic
Hematoma atau laserasi

GI bagian atas

Duodenal

Skan hepar/limpa radio-

Cedera seplenik

Nuklida

Cedera Hepatik

Pielogram intravena

Cedera ginjal

Uretrogram Retrograd

Cedera uretra

Sistogram retrograde

Cedera kandung kemih

Tipe kedua trauma tumpul termasuk kompresi yang disebabkan


oleh kekuatan tabrakan berat. Pada kasus demikian, jantung dapat
tetrhimpit diantara sternum dan tulang belakang. Hepar, limpa, dan
pancreas juga sering tertekan terhadap tulang belakang. Cedera
karena benturan seringkali menyebabkan kerusakan internal dengan
sedikit tanda-tanda trauma eksternal.
18

Tipe kerusakan pada kendraan seringkali memberikan petunjukpetunjuk cedera spesifik yang diderita pada KKB. Stir atau kemudi
kenderaan yang bengkok atau rusakmemperbesar dugaan akan
kemungkinan cedera pada dada, iga, jantung, trakea, tulang belakang
atau abdomen. Trauma kepala dan wajah, cedera tulang belakang
servikal, dan cedera trakeal sering berkaitan dengan kerusakan pada
kaca depan mobil atau dashboard. Benturan lateral dapat
menyebabkan patah iga, luka dada penetrasi akibat pegangan pintu
atau jendela, cedera limpa atau hepar dan fraktur pelvis.
4. Lavage periotoneal Diagnostik (LPD)
Tujuan : untuk mendeteksi perdarahan intraperitoneal
Indikasi-indikasi :
a. Cedera tumpul dengan abdominal
b. Perubahan respons nyeri
Penurunan : cedera kepala atau medula spinalis ; adanya alcohol
dan obat-obatan.
Peningkatan : fraktur pelvik, tulang belakang lumbar atau iga
bawah.
c. Hipovolemia yang tidak dapat dijelaskan pada korban trauma
multiple
d. Trauma abdomen penetrasi (jika eksplorasi tidak dikasikan)
Kontraindikasi :
a. Riwayat operasi abdomen multiple
b. Kebutuhan laparotomi segera
Prosedur :
a. Pasang kateter lavege kedalam rongga peritoneal melalui insisi 1-2
cm.
b. Coba mengespirasi cairan peritoneal.
c. Infus normal salin atau Ringer laktat dengan bantuan gaya
gravitasi.
d. Ubah posisi pasien dari satu sisi kesisi yang (kecuali jika ada
kontraindikasi)
19

e. Beriakan cairan mengalir kembali kekantung dengan bantuan gaya


gravitasi.
f. Kirim spesimen ke laboratorium.
Hasil-hasil positif :
a.
b.
c.
d.

10-20 ml darah nyata pada aspirasi awal


Lebih besar dari 100.000 SDP/mm
Lebih besar dari 500 SDP/mm
adanya bilirubin, bakteri, atau bahan feses.
Trauma penetrasi, Luka tembak berkaitan dengan derajat kerusakan

yang lebih tinggi dari luka-luka tikaman. Peluru dapat menyebabkan


luka di sekitar jaringan dan dapat terpecah atau merubah arah di
dalam tubuh, mengakibatkan peningkatan cedera. Perdarahan internal,
perforasi organ, dan fraktur kesemuanya dapat disebabkan oleh
cedera penetrasi.
Dengan menggunakan keterampilan pengkajian yang baik dan
kewaspadaan pada mekanisme terjadinya cedera, perawat unit
keperawatan kritis dapat membantu dalam mengidentifikasi cedera
yang tidak didiagnosa di unit kegawatdaruratan.
5. Perawatan definitive
Meskipun perawatan definitif dapat dimulai pada unit gawat
darurat atau ruang operasi. Perawatan ini sebagian besar terdiri atas
perawatan yang diberiakan pada unit rawat itensif, dan yang konstan
adalah penting dalam memudahkan penatalaksanaan masalh-masalah
yang ada. Elemen penting lainnya dari perawatan definitif termasuk
evaluasi tanda-tanda serta gejala-gejala baru, penatalaksaan terhadap
kondisi-kondisi medis yang sudah ada terlebih dahulu, identifikasi
cedera yang terlewatkan selama tindakan terhadap masalah-masalah
yang mengancam jiwa.

20

D. Pengkajian dan Penatalaksanaan Trauma yang Terjadi


1. Trauma Torak
Kurang lebih 25% dari kematian karena trauma adalah karena cedera
torakik. Banyak cedera torakik yang secara potensial mengancam jiwa,
misalnya tension atau pneumotoraks terbuka, hemotoraks massif, iga
melayang (flail chest), dan mudah, seringkali tanpa operasi besar. Jika
tidak ditangani, maka akan mengancam jiwa.
2. Cedera pada Paru dan Iga
a. Pneumotoraks dan Hemotoraks
Trauma tumpul dan penetrasi dapat menyebabkan pneumotoraks
atau hemotoraks Seringkali, satu-satunya tindakan yang diperlukan
adalah pemasangan selang dada. Hemotoraks massif (>1.500 ml
pada awalnya atau >100-200 ml/jam) akan memerlukan torakotomi,
sedangkan selang dada untuk mengembangkan kembali paru-paru
sering kali sudah memadai tamponade dengan sumber pendarahan
yang lebih kecil. Intervensi pembedahan juga mungkin diperlukan
dalam kasus pneumotoraks terbuka (luka menyedot dada) atau
kebocoran udara yang tidak terkontrol.
Selain memberikan perawatan rutin posoporasi (spirometri,
batuk, latihan nafas dalam), perawat unit perawatan kritis harus
mengkaji fungsi pernafasan dan hemodinamik dengan cermat.
Pasien dengan cedera paru mempunyai resiko lebih besar untuk
mengalami komplikasi pulmonal seperti etelekstatis, peneumonia,
dan empiema. Selang dada harus dikaji patensi dan fungsinya serta
dokter harus diberitahu jika drainase menjadi berlebihan. Untuk
kehilang darah dalam jumlah besar dari selang dada, mungkin
harus dilakukan ototranfusi.
b. Iga melayang
Iga melayang terjadi bila trauma tumpul menyebabkan fraktur
multiple iga, menyebabkan ketidak stabilan dinding dada. Iga
melayang berkaitan dengan pneumotoraks, hemotoraks, kontusio
pumonal, kontusio miokardial. Tujuan utama daari perawatan
terhadap iga mengambang adalah untuk meningkatkan fentilasi
21

yang ade kuat. Jika status pernafasan terganggu atau diperlukan


operasi untuk cidera terjadi, maka ada indikasi pemasang intibasi
dan fentilasi mekanis. Mungking juga digunakan tekanan akhir
ekspirasi positif (PEEP). Pada kejadian yang langka, mungkin
dilakukan stabilisasi operatif dengan kawat dan staples. Fraktur iga
tidak pernah dibalut karena hal ini nantinya hanya akan mengutangi
pul monal.
Fraktur iga sering berkaitan dengan nyeri yang hebat. Control
nyeri yang ade kuat dapat meningkatkan ekspansi paru tanpa
memerlukan ventilasi mekanis jangka panjang. Sering diberikan
analgesi parenteral, intramuscular, atau analgesia yang dikontrol
pasien. Analgetik sistemik, bagaimanapun tidak cukup kuat untuk
menghilangkan nyeri iga melayang, sehingga membutuhkan
metode lain untuk menghilangkan nyeri seperti blok interkosta atau
analgesia epidural.
Asuhan keperawatan pada pasiaen denga iga melayang
ditujukan pada pengkajian dan pengontrolan nyeri, disertai dengan
peningkatan oksigenasi dan pertukaran gas yang ade kuat.
Hipoventilasi. Akibat nyeri meningkatkan resiko terhadap komplikasi
pernafasan, termasuk atelektasis dan peneumonia. Berbagai
intervensi untuk memperbaiki fungsi pernafasan dapat dilaksanakan
termasuk batuk dan panas dalam, spirometrik, drainase dan
chapping, mukolitik, bronkodilator, pernafasan tekanan positif
intermiten (PTPI). Suksionendotrakeal dan nasotrakeal, bronkoskopi
terapeutik.
Serangkain pengkajian pulmonal, termasuk sinar-x dada, gas-gas
aterial darah, pemeriksaan fisik, dan kadang-kadang pemantauan
dengan oksimetrik adalh penting.

Tabel 5. Prosedur-prosedur antara Kontusio Pulmonal dan ARDS


Kontusio Pulmonal

ARDS
22

Awitan gagal pernapasan

Awitan gagal pernapasan

bertahap
Perubahan-perubahan gambaran

mendadak
Perubahan-perubahan gambaran

radiografi dapat segera terlihat

radiografi sering kali tertunda 2-3

Infiltrate setempat

hari setelah timbul gejala-gejala


Infiltrate menyebar

Dapat mengarah pada

Dapat mengaah pada fibrosis

terbentuknya rongga dan abses

pulomanal kronis

c. Kontusio Pulmonal
Kontusio Pulmonal adalah memar pada parenkim paru, seringkali
akibat trauma tumpul. Gangguan ini dapat tidak terdiagnosa pada
foto dada awal: bagaimanapun adanya fraktur iga atau iga
melayang harus mengarah pada dugaan kemungkinanadanya
kontusio pulmonal.
Kontusio pulmonal terjadi bila perlambatan cepat memecahkan
dinding sel kapiler, menyebabkan hemoragi dan ekstravasasi
plasma dan protein ke dalam alveolar dan spasium interstisial.
Tanda-tanda dan gejala-gejalanya termasuk dispnea, rales,
hemoptitis, dan takipnea.
Pasien dengan kontusio ringan memerlukan pengamanan ketat.
Perlu sering dilakukan pengukuran gas darah arterial (GDA) atau
oksimetri nadi. Intervensi keperawatan tambahan termasuk
pengkajian pernapasan yang kerap, perawatan pulmonal, dan
kontrol nyeri.
d. Cedera Trakeobronkial
Cedera pada trakea atau bronki dapat disebabkan oleh trauma
tumpul atau penetrasi dan seringkali disertai dengan kerusakan
pada esophagus dan vascular. Cedera trakeobronkial yang parah
mempunyai angka kematian yang tinggi, bagaimanapun dengan
bertambah baiknya perawatan dan transportasi prarumah sakit
akhir-akhir ini, maka makin banyak pasien ini yang bertahan hidup.

23

Cedera jalan udara seringkali tidak tersamar. Tanda-tandanya


termasuk dispnea (ada kalanya satu-satunya tanda), hemoptisis,
batuk, dan emfisema subkutan. Perbaikan operasi dengan ventilasi
mekanis pascaoperasi melalui selang endotrakeal atau trakeostomi
akan diperlukan.
Asuhan keperawatan melibatkan pengkajian terhadap
oksigenisasidan pertukaran gas, disertai dengan perawatan
pulmonalyang tepat. Pneumonia adalah komplikasi jangka pendek,
sedangkan stenosis trakeal dapat terjadi kemudian.
3. Cedera Pada Jantung
a. Kontusio Miokardial
Memar pada miokardium kebanyakan disebabkan oleh benturan
dada pada batang stir atau dashboard selama KKB. Gejala-gejala
kontusio jantung bervariasi dari tidak ada gejala (umum) sampai
pada gagal jantung kongestif yang berat dan syok kardiogenik.
Setelah trauma, keluhan-keluhan tentang nyeri dada harus
dievaluasi dengan cermat.
Secara histology, kontusio jantung mirip dengan infark
miokardial. Diagnosa bias sulit ditegakkan. Untuk menegakkannya
dilakukan serangkaian pemeriksaan EKG dan serangkaian
pengukuran keratin kinaseinsoenzim miokardial. Yang lebih umum
dari kontusio miokardial yang sudah dipastikan adalah cedera tipe
konkusio (gegar) yang dapat pulih. Tanda-tanda dan gejala-gejala
yang bersifat temporer (mis; takikardia, kontraks premature) akan
terlihat tanpa adanya perubahan dalam insoenzim. Manakala
kontusi sudah dipastikan, maka tindakan yang dilakukan serupa
dengan untuk infark miokardial akut.
b. Cedera penetrasi
Cedera penetrasi pada jantung mengakibatkan kematian korban
prarumah sakit sekitar 60% sampai 90% dari kasus. Pada 10%
sisanya, hemoragi dan syok adalah yang umum terlihat. Luka tikam
kecil yang mengenai ventrikel ada kalanya menutup sendiri karena
tebalnya muskulatur ventrikuler.
24

Setelah operasi perbaikan, kateter arteri pulmonal (Swan-Ganz)


dan selang arterial dipasang unutk memudahkan pemantauan
hemodinamik dengan cermat. Pada peristiwa transfusi multipel,
risiko terhadap ARDS dan koagulasi intravascular diseminata makin
tinggi (Tabel 44-4). Hipotensi berkepanjangan meningkatkan
kemungkinan terjadinya gagal renal.
Tabel 6.
Komplikasi yang Berhubungan dengan Transfusi
Darah Multipel
ARDS
Koagulopati
KID
Hipokalemia atau Hiperkalemia
Hipokalsemia
Metabolik asidosis
Hipotermia
Kelebihan volume
Reaksi Transfusi
Penularan infeksi
Cedera pada Pembuluh Darah Besar

c. Tamponade
Tamponade jantung dapat terjadi akibat trauma penetrasi
maupun trauma tumpul. Tanda-tanda awal dapat mencakup
penurunan tekanan darah, peningkatan tekanan vena sentral
sebagaimana yang ditunjukan oleh distensi vena leher, dan bunyi
muffle pada jantung. Asuhan keperawatan pasca pembedahan mirip
dengan tindakan cedera penetrasi jantung
Sebagian besar pasien dengan transeksi atau robekan pada
aorta mengalami pengeluaran darah sebelum sampai dirumah sakit.
Tempat yang paling umum terjadinya cedera adalah dekat
25

ligamentum arteriosum. Kematian mendadak dapat dihindari jika


hemoragi benda didalam adventisia aortic. Aneurisma palsu ini
dapat pecah setiap saat, sehingga memerlukan diagnosa dan
tindakan yang cepat
Kecurigaan akan cedera pada aorta atau pembuluh darah lainnya
meningkat dengan adanya fraktur iga pertama dan kedua atau
hemotoraks masif sebelah kiri. Tanda-tanda diagnostik tambahan,
meskipun tidak selalu ada, termasuk hipertensif ekstremitas atas
dengan penurunan nadi ekstremitas bawah. Cedera pada subklavia
atau arteri innominata dapat menyebabkan penurunan nadi pada
ekstremitas atas.
Komplikasi-komplikasi serius termasuk gagal ginjal karena
iskemia, disertai dengan ARDS dan KID karena transfuse multipel.
Pada kasus yang langka, perbaikan atau pengkleman silang aorta
totatik asending dapat menyebabkan iskemia medula spinalis,
mengakibatkan paralysis pemanen dari ekstremitas bawah.
4. Trauma Abdomen
Rongga abdomen memuat baik organ-organ yang padat maupun
yang berongga. Trauma tumpul kemungkinan besar menyebabkan
kerusakan yang serius organ-organ padat, dan trauma penetrasi
sebagian besar melukai organ-organ berongga. Secara umum,
organ-organ padat berespon terhadap trauma dengan perdarahan.
Organ-organ berongga pecah dan mengeluarkan isinya dan ke
dalam rongga peritoneal, menyebabkan peradangan dan infeksi.
Diagnosis dini adalah penting pada trauma abdomen. Pasien
yang memperlihatkan adanya cedera abdomen penetrasi fasia
dalam peritoneal, ketidakstabilan hemodinamik, atau tanda-tanda
dan gejala-gejala abdomen akut dilakukan eksplorasi dngan
pembedahan.
Pasien dikaji untuk mendapatkan tanda-tanda abdomen akut;
distensi, rigiditas, guarding dan nyeri lepas. Eksplorasi pembedahan
menjadi perlu dengan adanya awitan setiap tanda-tanda dan gejalagejala yang mengindikasikan cedera. Penggunaan CT abdomen
26

telah memperoleh popularitas dan sering digunakan, atau sebagai


tambahan LPD. Namun skan CT tidak dapat terlalu diandalkan
dalam mendeteksi cedera pada rongga-rongga berongga.
a. Cedera pada Lambung dan Usus Halus
Cedera lambung yang signifikan jarang ditemui, namun usus
halus lebih umum mengalami cedera. Meskipun sering
mengalami kerusakan oleh trauma penetrasi. Mobilitas usus di
sekitar titik tetap (seperti ligamentum Treitz) mencetuskan
terjadinya cedera dengan adanya perlambatan. Cedera tumpul
usus halus atau lambung dapat terlihat dengan adanya darah
pada aspirasi nasogastrik atau hematemesis. Cedera penetrasi
biasanya menyebabkan LPD positif. Meskipun kontusio usus
ringan dapat diatasi secara konservatif (dekompresi lambung
dan menunda masukan per oral), pembedahan biasanya
diperlukan untuk memperbaiki luka-luka penetrasi.
Dekompresi pascaoperasi, baik dengan selang nasogastrik
atau selang lambung, dipertahankan sampai fungsi usus pulih.
Selang pemberi makan dapat dipasangkan segera pascaoperasi.
Karena lambung dan usus halus mengandung jumlah bakteri
yang signifikan, maka resiko terhadap sepsis adalah kecil, namun
pemberian anti biotik profilaktik dapat dilakukan kapan saja
terjadi perforasi usus.
Pada sisi lain, getah asam lambung mengiritasi peritoneum
dan dapat menyebabkan peritonitis. Potensial komplikasi lainnya
termasuk perdarahan pascaoperasi. Hipovolemia karena
spasium ketiga serta timbulnya fistula atau obstruksi.
Beberapa dari keadaan ini mengharuskan adanya tindakan
pembedahan tambahan. Sindrom malabsorpsi jarang terjadi
kecuali jika lebih dari 200 cm usus telah diangkat.
b. Cedera pada Duodenum dan Pankreas
Pankreas dan duodenum akan dibahas bersama-sama karena
keduanya adalah organ-organ retroperitoneal dan secara
anatomi dan fisiologi mempunyai hubungan yang dekat.
27

Diperlukan kekuatan yang besar untuk mencederai organ-organ


ini, karena organ-organ ini terlindung dengan baik, jauh di dalam
abdomen. Tanda-tanda dan gejala-gejala dapat mencakup
abdomen akut, peningkatan kadar amylase serum, nyeri
epigastrik yang menjalar ke punggung, mual, dan muntahmuntah.
Laserasi minor atau kontusio hanya akan memerlukan
pemasangan drain, sedangkan luka-luka besar memerlukan
perbaikan pembedahan. Prosedur pembedahan yang dilakukan
pada kasus-kasus ini termasuk pankreotikoduodenektomi,
anastomosis Roux-en-Y, dan pada keadaan yang langka,
dilakukan pankreatektomi total.
Pengkajian dan asuhan keperawatan pascaoperasi adalah
sama untuk berbagai prosedur. Patensi drain harus
dipertahankan dan pasien dipantau terhadap timbulnya fistula.
Perlindungan terhadap kulit adalah penting jika fistula telah
terbentuk, karena tingginya kandungan enzim dari getah
pankreatin. Awitan Diabetes Militus jarang terjadi kecuali jika
dilakukan pankreatektomi total.
Cedera pada duodenum sendiri dapat disembuhkan dengan
anastomosis primer atau Billroth II. Trauma tumpul pada
duodenum juga dapat mengarah pada obstruksi duodenal.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan diatrizoate
(Gastrografin) gastrointestinal atas. Obstruksi menyeluruh
umumnya memerlukan drainase pembedahan dari hematoma.
c. Cedera pada Kolon
Cedera pada kolon biasanya berkaitan dengan trauma
penetrasi. Sifat dari cedera paling sering menuntut segera
dilakukannya operasi eksplorasi. Perbaikan primer adalah
tindakan pilihan untuk laserasi kolon. Kolon mempunyai jumlah
bakteri yang tinggi, tumpahnya isi kolon dapat mencetuskan
terjadinya sepsis intra-abdominal, dan pembentukan abses.
28

Asuhan keperawatan pascaoperasi difokuskan pada


pencegahan infeksi. Pada kasus perbaikan kolon eksterior, dan
dilakukan anastomosis ujung-ke-ujung dan tempat perbaikan
eksterior untuk memudahkan identifikasi kebocoran. Karena
sepsis adalah komplikasi utama pada cedera kolon, mungkin
diperlukan serangkaian prosedur radiografi dan pembedahan
untuk menemukan dan mengalirkan abses.
d. Cedera pada Hepar
Setelah limpa, hepar adalah organ abdomen yang paling
umum mengalami cedera. Baik trauma tumpul maupun trauma
penetrasi dapat menyebabkan cedera. Pada banyak kasus, baik
sifat dari cedera atau LPD positif atau skan CT digabung dengan
kondisi klinis pasien akan menuntut dilakukannya pembedahan.
Cedera pada hepar juga memrlukan drainase empedu dan darah
pascaoperasi melalui drain.
Setelah pembedahan, mungkin timbul syok hipovolemik dan
koagulopati. Dengan koagulopati, perdarahn timbul dari berbagai
tempat, sedangkan dengan hemostasis inkomplit perdarahan
terutama berasal dari tempat pembedahan. Asuhan keperawatan
termasuk penggantian produk darah sambil memantau
hematokrit dan pemeriksaan koagulasi. Pengkajian tipe dan
jumlah selang drainase, disertai keseimbangan cairan, juga
adalah penting. Potensial komplikasi dari cedera hepar termasuk
abses hepatic atau perihepatik, obstruksi atau kebocoran saluran
empedu, sepsis, ARDS dan KID.
e. Cedera pada Limpa
Limpa adalah oragan abdomen yang paling umum mengalami
cedera. Lebih sering sebagai akibat trauma tumpul. Tanda-tanda
dan gejala-gejala yang ditunjukkan termasuk nyeri kuadran kiri
atas menjalar sampai ke bahu kiri, syok hipovolemik, dan
temuan-temuan nonspesifik dengan peningkatan jumlah sel

29

darah putih. LPD, skan CT abdominal, atau pemeriksaan


radionuklida biasanya penting untuk diagnose
Orang dewasa dengan cedera minor atau kebanyakan anakanak ditangani tanpa tindakan operasi, dengan observasi
(serangkaian pemeriksaan abdomen, hematokrit) dan
dekompresi nasogastrik. Tindakan pembedahan terdiri atas
splenorafi atau splenektomi. Ototransplantasi splenik, suatu
prosedur yang masih sangat baru dan controversial, terdiri atas
implantasi fragment-fragment splenik ke dalam kantung
omentum.
Komplikasi dini termasuk perdarahan berulang, abses
subfrenik, dan pankreatitis karena trauma pembedahan.
Komplikasi akhir terdiri atas trombositosis dan sepsis berat
postplenektomi (SBPS). Penyuluhan harus difokuskan pada
deteksi terhadap tanda-tanda dan gejala-gejala dari infeksi.
Autotransplantasi splenik terbukti dapat bermanfaat dalam
menurunkan insiden SBPS.
5. Cedera pada Ginjal
a. Cedera Vaskular
Cedera penetrasi dapat mengarah baik pada hemoragi bebas,
hematoma terkandung, atau berkembangnya trombus intraluminal.
Tanda-tanda dan gejala-gejala, jika ada, terdiri atas hematuria,
nyeri, dan massa panggul. Skan CT, pielogram intravena, atau
engiogram biasanya dapat membantu dalam menegakkan
diagnosa. Laserasi yang lebih kecil diperbaiki, sedangkan cedera
yang lebih besar mengharuskan dilakukan nefrektomi.
Pengkajian pascaopersi dan dukungan fungsi ginjal adalah
penting. Mungkin diberikan dopamine dosis rendah, dan
keseimbangan cairan optimal harus dipertahankan untuk menjamin
perfusi ginjal. Komplikasi utama terdiri atas trombosis arterial atau
vena dan gagal ginjal akut.
b. Cedera Parenkin

30

Trauma tumpul atau penetrasi dapat menyebabkan laserasi atau


kontusio parenkin ginjal atau pecahnya system koligentes.
Diagnosanya serupa dengan cedera vskular ginjal. Pembedahan
diperlukan untuk cedera yang lebih besar. Komplikasi lainnya
termasuk perdarahan, sepsis (terutama dengan ekstravasasi dari
urine yang terinfeksi), berkembangnya fistula uriner, dan awitan
lambat hipertensi.
6. Trauma Pelvik
a. Cedera pada Kandung Kemih
Kandung kemih dapat mengalami laserasi atau pecah, paling
sering sebagai konsekuensi trauma tumpul. Cedera pada kandung
kemih seringkali berhubungan dengan fraktur pelvic. Adanya
hematuria, nyeri abdomen bawah, atau ketidakmampuan berkemih
memerlukan pemeriksaan terhadap cedera uretra dengan
uretrogram retrogad sebelum pemasangan kateter urine.
Cedera pada kandung kemih dapat menyebabkan ekstravasasi
urine intraperitoneal atau ekstraperitoneal. Ekstravasasi
ekstraperitoneal sering dapat ditangani dengan drainase kateter.
Komplikasi jarang terjadi namun dapat saja terjadi infeksi karena
kateter urine atau sepsis akibat ekstravasasi urine.
b. Fraktur Pelvik
Fraktur pelvik yang kompleks berkaitan dengan mortalitas yang
tinggi. Hemoragi sekunder adalah penyebab yang paling sering dari
kematian dini, sedangkan sepsis menyebabkan penundaan
mortalitas. Angiogram seringkali diperlukan untuk menemukan
letak dan menyumbat sumber perdarahan
Perhatian utama dari perawat unit perawatan kritis adalah untuk
mencegah syok hemoragi. Transfusi multipel dan pemantauan
hemodinamik diperlukan dalam kasus hemoragi yang signifikan.
Komplikasi utama lain dari fraktur pelvik termasuk keterlibatan saraf
pelvik dan emboli pulmonal. Penting untuk dilakukan terapi fisik
yang berkepanjangan dan rehabilitsi yang sering.
7. Trauma pada Ekstremitas
a. Fraktur
31

Fraktur sering terjadi pada trauma tumpul, kurang jarang pada


trauma penetrasi. Manakala radiografi sudah memastikan adanya
fraktur, maka harus dilakukan stabilitasi atau perbaikan fraktur.
Fiksasi internal fraktur sering memungkinkan ambulasi dini pada
pasien dengan cedera multipel yang mungkin akan mengalami
komplikasi akibat tirah baring berkepanjangan (ulkus dekubitus,
emboli pulmonal, penyusutan otot).
Tanggung jawab keperawatan termasuk pengkajian status
neurovaskuler, sejalan dengan perawatan luka dan pin. Asuhan
keperawatan harus diarahkan terhadap pencegahan dan deteksi
dini tentang masalah-masalah ini. Perawat juga harus bekerja sama
dengan terapis fisik untuk meningkatkan kekuatan dan mobilisasi
dini.
b. Cedera Vaskular
Cedera vaskular sering kali mengakibatkan perdarahan atau
trombosis pembuluh. Cedera vaskular biasanya disebabkan oleh
trauma penetrasi, dan kurang sering karena fraktur. Angiogram juga
dapat digunakan untuk menentukan tempat cedera dan
mengidentifikasi fistula arteriovenosa, pseudoaneurisme, dan
penutupan intima. Dilakukan perbaikan pembedahan primer atau
tandur vaskuler.
Segera setelah periode pasceoperasi, terdapat resiko perdarahan
berlanjut atau oklusi trombotik dari pembuluh. Perawat harus
mengkaji nadi distal, warna kulit, sensasi, gerakan, dan suhu
ekstremitas yang cedera. Indeks ankle-brakial (ABI) seringkali
berguna dalam mendeteksi perkembangan oklusi setelah trauma
ekstremitas bawah. Penurunan ABI menunjukan peningkatan
gradient tekanan yang menembus pembuluh. Metode ini
memberikan data yang lebih objektif ketimbang hanya meraba
nadi. Perawat juga harus memperhatikan perkembangan sindrom
kompartemen.
E. Pengkajian dan Penatalaksanaan Trauma Lanjutan
1. Trauma Torak
32

Trauma torak sering ditemukan, sekitar 25% dan penderita multitrauma ada komponen trauma toraks. 90% pada penderita dengan
trauma toraks ini dapat diatasi dengan tindakan yang sederhana oleh
dokter rumah sakit (atau paramedic dilapangan), sehingga hanya 10%
yang memerlukan operasi.
2. Pemeriksaan Fisik Paru
a. Inspeksi
Pemeriksaan paru dilakukan dengan melihat adanya jejas pada
kedua sisi dada,serta ekspansi kedua paru simektris atau tidak
b. Palpasi
Palpasi dilakukan dengan kedua tangan memegang kedua sisi
dada.Nilai peranjakan kedua sisi dada penderita apakah teraba
simektris atau tidak oleh kedua tangan pemeriksa.
c. Perkusi
Dengan mengetukan jari tengah terhadap jari tengah yang lain
yang diletakan mendatar di atas dada.Pada daerah paru berbunyi
sonor,pada daerah jantung berbunyi redup (dull),sedangkan diatas
lambung (danusus) berbunyi timpani.Pada keadaan pnuemothorax
akan berbunyi hipersonor,berbeda dengan bagian paru yang
lain.Pada keadaan hemotorak akan berbunyi redup (dull)
d. Auskultasi
Auskultasi dilakukan pada 4 tempat yakni dibawah kedua klavikula,
(pada garis mid-klavikularis) ,dan pada kedua mid-aksila (kosta 4-5)
bunyi nafas harus sama kiri sama dengan kanan.
3. Jenis Trauma Torak
a. Manifestasi : gangguan airway (obstruksi)
Penekanan pada trakea didaerah toraks dapat terjadi karna mislnya
fraktur seternum.Pada pemeriksaan klinis penderita aka nada gejala
penekanan airway seperti stridor inspirasi dan suara serak.
b. Manifestasi : gangguan breathing (sesak)
Ada 4 gangguan breathing :
1) Pneumotoraks terbuka /open pneumo-thorax(sucking chest
wound)
Depek atau luka yang besar pada dinding dada akan
menyebabkan pneumo-thorax terbuka.Tekanan didalam rongga
pleora akan segera menjadi sama dengan tekanan atmosfer.
33

2) Tension pneumothorax
Penyebab tersering dari tension pneumothorax adalah komplikasi
penggunaan fentilasi mekanik (fentilator) dengan fentilasi
tekanan positif pada penderita yang ada kerusakan pada pleura
visceral.Tension pneumothorax juga ditandai dengan gejala nyeri
dada,sesak yang berat,distress pernafasan takikardea,hipotensia
deviasi trakea,hilang suara nafas pada satu sisi,dan ditensi
venaleher
3) Hematothorax masif
Pada keadaan ini terjadi perdrahan hebat dalam rongga
dada.Pada keadaan ini akan terjadi sesak karna darah dalam
rongga pleura dan sok karna kehilangan darah.Pada perkusi dada
akan dull karan adarah dalm rongga pleura (pada pneumothorax
adalah hipersonor)
4) Flail chest
Terjadinya flail chest dikarnakan fraktur iga multiple pada dua
atau lebih tulang dengan dua atau lebih garis fraktur.Adanya
sigmen flail chest (segmen mengambang) menyebabkan
gangguan pada pergerakan dinding dada.Pada ekspirasi segman
akan menonjol keluar,pada inspirasi justru akan masuk kedalam
ini dikenal sebagai pernafasan paradogsal. Flail chest mungkin
tidak terlihat pada awalnya, karna spilnthing pada awalnya
(terbelat) dengan dinding dada.Gerkan pernafasan menjadi
buruk dan torak bergerak secara asimetris dan tidak
terkoordinasi.Palpasi gerakan pernafasan yang abnormal dan
krepitasi iga atau fraktur tulang rawan membentuk diagnosis.
d. Manifestasi : circulation (shok)
Cirdera torak yang akan mempengaruhi sirkulasi yang
harus ditemukan pada primary survey adalah hemotorak mosip
karna terkumpulnya darah dengan cepat dirongga pleura.Juga dapat
terjadi pada tampo nade jantung,walaupun penderita tidak dalam
keadaan sesak namun dalam keadaan shok ( syok nonhemoragik )

34

terjadi paling sering karna luka tajam jantung,walaupun trauma


tumpul juga dapat menyebabkannya.
4. Trauma Abdomen
a. Trauma abdomen akan ditemukan pada 25% penderita multitrauma. Sering kali terjadi bahwa diagnostic akan adanya cedera
intra-abdomen terlambat karna:
1. Gejala dan tanda yang ditimbulkannya kadang-kadang
lambat.
2. Adanya penurunan kesadaran karna ada cedera kepala yang
bersamaan, sehingga gejala nyeri abdomen tidak ada.
3. Adanya cedara spinal, sehingga tidak adanya rasa nyeri.
4. Pemakaian obat-obatan atau minuman keras.
b. Insiden
Trauma abdomen bisa disebabkan karna trauma tajam dan trauma
tumpul. Trauma tajam di Indonesia cukup sering terjadi umumnya
disebabkan oleh luka tikam, luka bacok atau luka tembak. Penderita
umumnya pria dari kelompok usia produktif. Pada luka bacok
biasanya penderitanya mengalami luka-luka ditempat lain, misalnya
dikepala, dileher, dada, extremitas dan kadang-kadang
menimbulkan syok hypovolemik.
c. Mekanisme trauma
Luka tikam bisa dibedakan oleh pisau, golok, obeng, pisau lipat,
kaca atau benda-benda yang menancap.
Luka tembak bisa disebabkan menjadi 2 (dua) jenis:
1) Kecepatan rendah : < 1000 feet/detik, umumya pada senjata
sipil/polis
2) Kecepatan tinggi : > 3000 feet/detik, umumnya pada senjata
standar militer
d. Gejala Dan Tanda Trauma Abdomen
Pada trauma tajam abdomen seharusnya kita mampu mendeteksi
cedera yang potensial pada organ-organ intra abdomen.
Pemeriksaan color dubur sangat penting pada trauma tajam
abdomen dan bila ditemukan adanya darah pada sarung tangan
berarti ada cedera pada usus. Bila pada pemeriksaan tidak
ditemukan tanda dan gejala klinis yang positif kita harus hati-hati

35

dan tetap waspada.atau team harus melakukan resusitasi dan


stabilisasi secepat mungkin.
Ada beberapa indikasi untuk melakukan pemeriksaan secara teliti
pada kasus yang kita curigai adanya trauma tumpul abdomen
antara lain:
1) Perdarahan yang tidak diketahui
2) Riwayat syoK
3) Adanya trauma dada mayor
4) Adanya trauma pelvis
5) Penderita dengan penurunan kesadaran
6) Adanya hematuria
7) Pada pemeriksaan fisik ditemukan jejas diabdomen (luka lecet,
kontusio, dan perut distensi)
8) Mekanisme trauma yang besar
e. Inspeksi
Semua pakaian harus dilepas.abdomen bagian depan dan belakang
diteliti apakah mengalami ekskoriasi atau memar,m adakah
laserasi, tusukan dan sebagainya dengan cara log roll
f. Auskultasi
Lakukan auskultasi untuk mendengarkan bising usus terdengar atau
tidak.
g. Perkusi
Dengan perkusi bisa kita ketahui adanya nada tympani karna
dilatasi lambung akut dikwadran kiri atas ataupun adanya perkursi
redup bila ada hemoperitoneum. Perkusi mengakibatkan
pergerakan peritoneum dan mencetuskan tanda peritonitis. Shifting
dullness (adanya darah dalam abdomen) terjadi kalau pasien
dimiringkan
h. Palpasi
Tujuan palpasi adalah untuk mendapatkan adanya nyeri lepas yang
kadang-kadang dalam. Dengan palpasi juga kita dapat menentukan
besarnya uterus dan usia kehamilan.
i. Penanganan Trauma Abdomen
Pada dasarnya semua trauma abdomen tumpul dan dan tajam,
penanganan awal tindakan penyelamatan selalu didahulukan dan
mengacu prosedur ABCDE. Disini penolong atau tim harus
melakukan resusitasi dan stabilisasi secepat mungkin.
36

1) Airway dan breathing


Ini diatasi terlebih dahulu. Selalu ingat bahwa cedera bisa lebih
dari satu area tubuh, danapapun yang ditemukan, ingat untuk
memprioritaskan airway dan breathing terlebih dahulu.
2) Circulation
Kebanyakan trauma abdomen tidak dapat dilakukan tindakan
apa-apa pada fase pra-RS namun terhadap syok yang
menyertainya perlu penanganan yang agresif
3) Disability
Tidak jarang trauma abdomen disertai dengan trauma kapitis.
Selal periksa tingkat kesadaran (dengan GCS) dan adanya
lateralisasi (pupil anisokor dan motorik yang lebih lemah satu
sisi).
4) Apabila ditemukan usus yang menonjol keluar (eviserasi) cukup
denga menutupnya dengan kasa steril yang lembab supaya usus
tidak kering. Apabila ada benda menancap, jangan dicabut tetapi
dilakukan fikasi benda tersebut terhadap dinding perut.
5. Trauma Termal
Kulit manusia banyak fungsinya, antara lain menghindari terjadinya
kehilangan cairan. Apabila terjadi lka ternal maka kulit akan
mengalami denaturasi protein yang ada dalam sel, sehingga
kehilangan fungsinya,kematian sel di dalam jaringan, dan kemudian
terjadi luka. Semakin banyak kulit yang hilang maka semakin berat
kehilangan cairan. Saat ini luka ternal (luka bakar) masih merupakan
masalah yang cukup besar, dan pertolongan pertama yang baik akan
sangat membantu prognosis penderita.
a. Penanganan Luka Bakar
Pada saat penderita ditemukan, biasanya api sudah mati, apabila
penderita masih dalam keadaan terbakar,maka dapat ditempuh
dengan cara:
1) Menyiram air dengan jumlah yang banyak apabila api
disebabkan karena bensin atau minyak, kerana apabila dalam
jumlah sedikit hanya akan memperbesar api.

37

2) Menggulingkan penderita pada tanah yang datar, kalau bisa


dalam selimut basah (penolong jangan sampai turut terbakar).
b. Survei primer
1) Airway
Pada permulaan airway biasa tidak terganggu. Dalam keadaan
ekstrim bisa saja airway terganggu, misalnya karena lama berda
dalam ruangan tertutup yang terbakar sehingga terjadi
pengaruh panas yang lama terhadap jalan nafas. Menghisap gas
atau pertikel korban yang terbakar dalam jumlah juga dapat
mengganggu airway. Apabila obsruksi parsial dibiarkan, maka
akan menjadi total dengan akibat kematian penderita indikasi
klinis adanya trauma inhalasi anatara lain:
Luka bakar yang mengenai wajah dan leher
Alis mata dan bulu hidung hangus
Adanya timbunan karbon dan tanda peradangan akut
orofaring
Sputum yang mengandung karbon atau arang
Suara serak
Riwayat gangguan mengunyah dan terkurung dalam api
Luka bakar kepala dan badan akibat ledakan
2) Breathing
Gangguan breating yang timbul cepat, dapat disebabkan karena:
Inhalasi partikel panas yang menyebabkan proses
peradangan dan edema pada saluran jalan nafas yang
paling kecil. Mangatasi sesak yang terjadi adalah dengan
penangan yang agresif, lakukan airway definitive untuk

menjaga jalan nafas.


Keracuanan Co (karbondioksida). Asap dan api
mengandung Co. apabila penderita berada dalam
ruangan tertutup yang terbakar maka kemungkinan

keracunan Co cukup besar.


3) Circulation
Kulit yang terbuka akan menyebabkan penguapan air yang
berlebih dari tubuh, dengan akibat terjadi dehidrasi.
4) Disability

38

Jangan lupa memeriksa skor GCS dan tanda lateralisasi (pupil


dan motorik). Kepanikan mungkin menimbulkan benturan
sehingga perdarahan intracranial dapat saja terjadi.
5) Eksposure
Pada eksposure selaluperhatikan penderita jangan sampai
hipotermi
c. Survey Sekunder
1) Anamnesis
Penting untuk menanyakan dengan teliti hal sekitar
kejadian.Tidak jarang terjadi bahwa disamping luka bakar akan
ditemukan pula perlukaan lain yang disebabkan usaha melarikan
diri dari dari api dalam keadaan panic tersebut.
Pemeriksaan ujung rambut sampai ujung rambut sampai
ujung kaki.Pemeriksaan teliti di lakukan apabila ada
waktu.Apabila ditemukan kelainan maka diberikan

pertolongan sesuai.
Luka bakarnya sendiri Tidak perlu dilakukan apa-apa,selain
menutup dengan kain bersih.Menyemprot dengan air
hanya dilakukan bila tiba sebelum 15 menjangan memecit

setelah kejadian.Pada fase pra-RS hkan bula atau vesikula


d. Penatalaksanaan Luka
Perawatan luka dilakukan segera setelah tindakan resusitansi jalan
nafas dan mekanisme bernafas serta resusitasi cairan
dilakukan:melakukan tindakan debridement,nekrotomi,dan
pencucian luka.Tentunya tindakan ini di lakukan di Ruang Operasi
Luka Bakar
e. Luka Bakar Listrik
Luka listrik cukup sering di temukan.Yang harus di perhatikan
adalah :
Yang menyebabkan kematian adalah kuat arus (ampere)dan

bukan voltase
Apabila penderita datang masih dalam keadaan terkena arus

listrik ,yang perlu diperhatikan adalah:


Matikan listrik dari sumber listrik
39

Apabila tidak mungkin,maka coba lepaskan penderita dengan

perataran kayu kering,baju kering dsb


Luka bakarnya sendiri
Bahaya gamgguan irama jantung juga selalu ada ,betapapun
kecil arus listrik,karena selalu pasang EKG.Bila ada kelainan

berikan terapi yang sesuai.


Bila sudah meninggal,selalu berikan RJP(kecuali bila kematian

pasti)
Masalah luka karena arus listriknya : dianggap sebagai luka
bakar.Patut di tambahkan bahwa luka karena aruskan listrik

akan masuk kekulit


f. Luka Bakar Kimia
Zat yang bersifat basa kuat lebih berbahaya di bandingkan
zat bersifat asam kuat. Semakin asam atau basa, semakin

berbahaya pula.
Apabila menemukan penderita masih dalam keadaan terkena
zat kimia:
- Selalu proteksi diri
- Apabila zak kimia bersifat cair, langsung semprot dengan
-

air mengalir.
Apabila sifat kimia bersifat bubuk safu dulu sampai zat

kimia tipis baru siram.


- Luka karna zat kimia diperlakukan sebagai luka bakar
g. Indikasi rawat
Pada beberapa kasus luka bakar yang perlu dirujuk kepusat luka
bakar sebagai berikut:
1) Kasus LB derajat II > l5% persen pada dewasa dan >10%
pada anak-anak.
2) Kasus LB derajat II pada muka, tangan dan kaki. Perinium,
sendi.
3) Kasus LB derajat III >2% pada dewasa, setiap derajat III
pada anak-anak.
4) Kasusu LB disebabkan oleh listrik disertai cedera, jalan
nafan atau komplikasi lain.
h. Cedara akibat cuaca dingin: efeknya pada jaringan local
Ada 3 jenis truma dingin :

40

1) Frostnip, merupakan bentuk paling ringan trauma dingin,


ditandai dengan nyeri, pucat, dan kesemutan pada daerah yang
terkena
2) Frostbite, adalah pembekuan jaringan yang diakibatkan oleh
pembentukan Kristal es intraseluler dan bendungan
mikrofasikuler sehingga terjadi anoriksia jaringan.
i. Derajat frostbite:
1) Derajat 1 : kulit tampak memucat, edema tanpa nekrosis kulit.
2) Derajat 2 : mulai gelembung atau bulae
3) Derajat 3 / dalam: nekrosis seluruh lapisan kulit daan jaringan
sekutan.
4) Derajat 4 : nekrosis seluruh lapisan kulit dan ganggreng otot
serta tulang.
j. Penanganan
1) Proteksi diri dan lingkungan
2) Selalu mendahulukan hal yang mengancam ABC terlebih dahulu.
3) Penangan harus segara dilakukan untuk memperpendek
berlangsunya pembekuan jaringan.
4) Re-warming
5) Jangan lakukan pada frost bite dalam/lanjut
6) Selalu memakapenhangatan lembab jangan kering misalnya
mamakai hair drayer
7) Jika terdapat luka lakukan seperti penangan luka bakar
6. Cedera akibat cuaca dingin : hipotermi system
Hipotermi adalah keadaan dimana suhu tubuh inti (core body
temperature) dibawah 35 C tanpa adanya trauma lain, hipotermi dibagi
menjadi ringan sampai berat .Manula lebih rentan terhadap trauma
hipertermi ini di sebabkan terbtasnya kemampuan menghasilkan
panas dan mengurangi kehilangan panas dan mengurangi kehilangan
panas melalui vasokonstriksi.
Penanganan
Lakukan penilaian ABCDE cegah hilangnya panas dengan
memindahkan penderita dari lingkungan dingin dan lepaskan baju
yang basah dan dingin serta tutup dengan selimut hangat.Selalu
berikan oksigen sesuai kebutuhan penderita
7. Trauma Kapitis

41

Trauma kapitis merupakan kejadian yang sangat sering dijumpai. Lebih


dari 50% penderita trauma kapitis, bila multi-trauma (cedera lebih dari
satu bagian tubuh), maka 50% penderita ada masalah trauma kapitis.
a. Jenis trauma kapitis
1) Fraktur
Fraktur kalvaria (atap tengkorak) apabila tidak terbuka (tidak ada
hubungan otak dengan dunia luar) tidak memerlukan perhatian
segera. Yang lebih penting adalah keadaan intra-kranialnya.
Fraktur basis cranium dapat berbahaya terutama karena
perdarahan yang ditimbulkan sehingga menimbulkan ancaman
terhadap jalan nafas.
2) Cedera Otak
Cedera otak dapat berupa Cedera Difus dan Cedera Fokal
Cedera Difus dapat kehilangan kesadaran yang sebentar
(komosio serebri) atau lebih lama (difuse axonal injury). Cedera
otak difus yang berat biasanya diakibatkan hipoksia,iskemik dari
otak karena syok yang berkepanjangan atau priode apnu yang
terjadi segera setelah trauma.
Cedera Fokaldapat berupa kontusio atau perdarahan intrakranial. Perdarahan intra-kranial dapat berupa perdarahan
epidural, perdarahan subdural atau perdarahan intracranial.
Paling sering ditemukan adalah perdarahan perdarahan subdural, perdarahan epidural lebih jarang. Perdarahan subdural
mempunyai prognosis lebih buruk karena kerusakan otak
dibawahnya.
b. Penilaian Trauma kapitis
1) Penurunan kesadaran
Penurunan kesadaran merupakan tanda utama trauma kapitis.
Saat ini penurunan kesadaran dinilai memakai Glosgow Coma
Scale (GCS), dan merupakan keharusan untuk dikuasai oleh
setiap para medic. GCS memakai 3 komponen, yakni Eye (mata),
Verbal (kemampuan berbicara), dan Motorik (gerakan).

42

Tabel 7.
Jenis Pemeriksaan
Respon Buka Mata (E)

Respon Verbal (V)

Eespon Motorik (M)

Spontan
Terhadap suara
Tehadap nyeri
Tidak ada
Berorientasi baik
Berbicara ngacau (bingung)
Kata-kata tidak teratur
Suara tidak jelas
Tidak ada respon
Ikut perintah
Melokalisir nyeri
Fleksi normal (tarik anggota badan yang

Nilai
4
3
2
1
5
4
3
2
1
6
5
4

dirangsang)
Fleksi abnormal (Dekortikasi)
Ekstensi abnormal (Deserbrasi)
Tidak ada respon (Flasid)

3
2
1

2) Tingkatan GCS
GCS Ringan (GCS=14-15)
Penderita tersebut sadar namun dapat mengalami amnesia
berkaitan dengan cedera yang dialaminya. Dapat disertai
riwayat hilangnya kesadaran yang singkat namun sulit
untuk dibuktikan terutama bila dibawah pengaruh alcohol

atau obat-obatan
GCS Sedang (GCS=9-13)
Penderita masih mampu menuruti perintah sederhana
namun biasanya tampak bingung atau mengantuk dan
dapat desertai deficit neurologis fokal seperti hemiparesis.
Sebanyak 10-20% dari penderita cedera otak sedang

mengalami pemburukan dan jatuh dalam koma.


GCS Berat (GCS 3-8)
Penderita dengan cedera kepala berat tidak mampu
melakukan perintah sederhana walaupun status

kardiopulmonalnya telah stabil.


c. Tanda lateralisasi
43

Tanda lateralisasi disebabkan karena adanya suatu proses pada satu


sisi otak, seperti misalnya perdarahan intra-kranial
1) Pupil
Kedua pupil mata harus diperiksa. Biasanya sama lebar (3mm)
dan reaksi sama cepat apabila salah satu lebih lebar (lebih dan
1mm), maka keadaan ini disebut sebagai anisokoria.
2) Motorik
Dilakukan perangsangan pada kedua lengan dan tungkai, apabila
salah satu lengan atau dan tungkai kurang atau sama sekali
tidak bereaksi maka disebut sebagai adanya tanda lateralisasi
d. Tanda-tanda peningkatan tekanan intra-kranial (TIK)
1) Pusing dan muntah
2) Tekanan darah sistolik meninggi
3) Nadi melambat (bradikardia)
4) Tanda tanda peninggian tekanan intra-kranial tidak mudah
untuk dikenali, namun apabila ditemukan maka harus sangat
waspada.
e. Pengelolaan cedera kepala
Pada setiap cedera kepala harus selalu diwaspadai adanya fraktur
sevikal.
1) Airway dan Breathing
Gangguan airway dan breathing sangat berbahaya pada trauma
kapitis karena akan dapat menimbulkan hipoksia atau
hiperkarbia yang kemudian akan menyebabkan kerusakan otak
skunder. Bila koma harus dipasang jalan nafas definitive, karena
reflex menelan dan reflex batuk kemungkinan sudah tidak ada
sehingga ada bahaya obstruksi jalan nafas. Oksigen selalu
diberikan dan bila pernafasan meragukan lebih baik memulai
ventilasi tambahan
2) Circulation
Gangguan Circulation (syok) akan menyebabkan gangguan
perfusi darah keotak yang akan menyebabkan kerusakan otak
sekunder. Dengan demikian syok trauma kapitis harus dilakukan
penanganan dengan agresif.
3) Disability

44

Selalu dilakukan penilaian GCS, pupil dan tanda lateralisasi yang


lain. Penurunan kesadaran dalam bentuk penurunan GCS lebih
dan 1 (2 atau lebih) menandakan perlunya konsultasi bedah
syaraf dengan cepat. Selalu ingat upayakan mencegah
kerusakan otak sekunder.
F. Komplikasi-Komplikasi Pada Trauma MultipelPenyebab Kematian
Dini (Dalam 72 Jam)
1. Hemoragi dan Cedera Kepala
Hemoragi dan cedera kepala adalah penyebab kematian dini setelah
trauma multipel.
Mekanisme yang Mengarah padaPenurunan Perfusi Jaringan
Faktor penyebab (spt, penurunan volume. pelepasan toksin)

Penurunan arus balik vena

Penurunan isi sekuncup

Penurunan curah jantung

Penurunan perfusi jaringan yang tidak sama


Untuk mencegah kehabisan darah, maka perdarahan harus
dikendalikan. Ini dapat diselesaikan dengan operasi ligasi (pengikatan)
dan pembungkusan, dan embolisasi dengan angiografi. Hemoragi
berkelanjutan memerlukan Transfusi multiple, sehingga meningkatkan
kecenderungan terjadinya ARDS dan DIC. Hemoragi berkepanjangan
mengarah pada syok hipovolemik dan akhirnya terjadi penurunan

45

perfusiorgan. Berbagai organ memberikan respons yang berbeda


terhadap penurunan perfusi yang disebabkan oleh syok hipovolemik.
2. Penyebab Lambat Kematian(Setelah 3 Hari)
a. Sepsis
Sepsis adalah komplikasi yang sering terjadi pada trauma
multipel. Pelepasan toksin menyebabkan dilatasi pembuluh, yang
mengarah pada pengumpulan venosa yang mengakibatkan
penurunan arus balik vena. Pada mulanya, curah jantung meningkat
untuk mengimbangi penurunan tahanan vaskular sistemik.
Akhirnya, mekanisme kompensasi terlampaui dan curah jantung
menurun sejalan dengan tekanan darah dan perfusi (y.i. syok
septik).
Sumber infektif harus ditemukan dan dibasmi. Diberikan
antibiotik, dilakukan pemeriksaan kultur, mulai dilakukan
pemeriksaan radiologik. operasi eksplorasi sering dilakukan. Abses
intra Abdomen merupakan penyebab sepsis paling sering. Sebagian
abses dapat keluarkan perkutan, sedangkan yang lainnya
memerlukan pembedahan. Setelah pembedahan drainase abses
abdomen, insisi dibiarkan terbuka, dengan drains terpasang, untuk
memungkinkan penyembuhan dan menghindari kekambuhan.
Sumber-Sumber infeksi lainnya yang perlu diperhatikan adalah
selang invasif, saluran kemih, dan paru-paru. Diperkirakan bahwa
pemberian nutrisi yang dini dapat menurunkan perkembangan
sepsis dan gagal organ multipel.
b. Gagal Organ Multipel
Awitan sepsis sering bertepatan dengan awitan gagal organ
multipel (GOM) yang terjadi pada 7% sampai 12% dari Pasienpasien cedera kritis. Infeksi dan riwayat Syok hipovolemik diduga
dapat meningkatkan potensi perkembangan GOM. Ditandai dengan
kegagalan dua organ atau lebih, GOM ditandai dengan tingkat
mortalitas 25% samapai 95%. Paru-paru dan Hepar Cenderung

46

untuk gagal pertama kali, diikuti oleh ginjal, sistem pencernaan,dan


jantung.
Gagal pulmonal dalam bentuk ARDS biasanya timbul 5 smpai 7
hari setelah cedera. Gagal Pulmonal ditandai dengan hipoksemia
dengan pemirauan, penurunan komplians paru, takipnea, dispnea,
dan timbulnya infiltrat pulmonal bilateral difus. Sindrom
memerlukan bantuan ventilator intensif. Faktor-faktor penyebab
termasuk trauma pulmonal mayor, tranfusi darah multipel, sepsis
dan syok.
Gagal hepar dapat diakibatkan oleh kerusakan awal.
Melemahnya vaskular, syok, dan sepsis. Ikterik adalah indikator
umum dari penyimpangan fungsi hepar, meskipun penyebab lain
seperti obstrusi saluran empedu pasca traumatik harus disingkirkan.
Uji Fungsi hepar merupakan Diagnostik. Gagal hepar dapat
mengarah pada penururnn tingkat kesadaran, pemeriksaan
pembekuan abnormali, dan hipoglikemia.
Gagal ginjal dapat dicetuskan oleh cedera ginjal, iskemia, bahan
kontras radiografi, hipovolemia (karena hemoragi, spasium ketiga)
atau sepsis. Tanda-tanda awal termasuk peningkatan nitrogen urea
darah dan kreatinin serum. Gagal ginjal dapat poliurik, oligurik.
Dialisis seringkali diperlukan.
Gagal Gastrointestinal ditunjukkan dengan perdarahan stres
yang membutuhkan tranfusi darah. Netralisasi profolaktik asam
lambung dapat meminimalkan resiko perdarahan.
Gagal Jantung biasanya merupakan kompilkasi akhir,
bagimanapun, adanya kondisi jantung sebelumnya dapat
mencetuskan korban tauma multipel pada awitan dari gagal
jantung. Dapat terlihat hipotensi, penurunan curah jantung, dan
penurunan fraksi ejeksi.
Koagulasi intravaskular diseminata dan perubahan-perubahan
sistem syaraf pusat, berkisar dari kekacauan mental sampai
obtundasio, dapat juga merupakan tanda GOM.

47

Banyak teradapat komplikasi yang berkaitan dengan trauma


multipel. Karena kebanyakan pasien-pasien trauma berada pada
unit perawatan intensif saat komplikasi ini timbul, maka perawat
unit perawatan kritis memainkan peranan penting dalam
mendeteksi dan mencegah akibat ini.
Sifat tak teduga dari trauma cenderung memperkuat rasa takut
dan ansietas. Oleh karena itu, asuhan keperawatan juga harus
memeberika dukungan psikososial terhadap pasien cedera berat
dan keluarga mereka melalui pendekatan multidisiplin yang
mengetahui permasalahan dan sering memberikan penjelasanpenjelasan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
BTLS (Basic Trauma Life Suport) adalah bagian awal dari ATLS
(Advanced Trauma Life Suport.Pada BTLS, dokter atau tenaga kesehatan
lainnya tidak diminta untuk memberikan tatalaksana sesuai diagnosis
definitifnya tapi hanya memberikan kesempatan bagi pasien untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan nantinya. Intinya pada tahap ini,
dokter atau pelayan kesehatan lainnya hanya diminta membantu pasien
untuk tetap hidup atau membuat reaksi kimia C6H12O6 + 6O2 ---> 6CO2
+ 6H2O tetap berlangsung.

48

Hal dilakukan adalah Primary Survey. Di sini dokter diminta menilai


secermat mungkin hal apa yang mengancam nyawa pasien. Beberapa
nemonic yang sering membantu antara lain:
1. A : Airway with c-spine control
2. B : Breathing and ventilation
3. C : Circulation with haemorrage control
4. D : Disability (neurologic evaluation)
5. E : Exposure and Environment
B. Saran
Setiap hasil karya tidak ada yang sempurna dan pasti mempunyai beberapa kekurangan.
Adapun saran-saran untuk kemajuan makalah yang telah dibuat oleh penulis adalah sebagai
berikut :
1. Untuk mendapatkan data dan informasi yang akurat, sebaiknya penulis menambah daftar
pustaka dari buku-buku.
2. Untuk menghindari banyak kesalahan dalam menulis, sebaiknya penulis mengurangi
informasi dari internet yang belum tentu sepenuhnya benar.

DAFTAR PUSTAKA
Abadi,Nur. 2008. Buku panduan pelatihan BC & TLS. Jakarta. Royal Palace.
American College of Surgeon Committee of Trauma,2004.Advanced Trauma
Life Support
Seventh Edition.Indonesia: Ikabi
Dorland,2002, Kamus Saku Kedokteran .Jakarta :EGC
Emanuelsen, K.L. & Rosenlicht, J.McQ. (1986). Handbook of critical care
nursing. New York:
A Wiley.

49

Hudack & Galo (1996), Perawatan Kritis; Pendekatan Holistik, EGC , Jakarta
Scheets,Lynda J.2002.Panduan Belajar Keperawatan Emergency.Jakarta: EGC
Tabrani (1998), Agenda Gawat Darurat, Pembina Ilmu, Bandung

50