Anda di halaman 1dari 241
Promosi Kesehatan Cae PENERBIT BUKU KED EGC 1825 PROMOS! KESEHATAN Oleh: Heri D. J. Maulana, S.Sos, M.Kes Editor: Egi Komara Yudha, S.Kp, MM Copy editor: Nuraini S. Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Buku Kedokteran EGC © 2007 Penerbit Buku Kedokteran EGC P.O. Box 4276/Jakarta 10042 Telepon: 6530 6283 : AnggotaIKAPI Desain kulit muka: Yohanes Duta Kurnia Utama Hak cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit. Cetakan |: 2009 Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Heri D. J. Maulana Promosi keschatan / penulis, Heri D. J. Maulana ; editor, Egi Komara Yudha. — Jakarta: EGC, 2009. vii, 271 him. ; 14x21 cm. ISBN 978-979-448-959-8 1. Kesehatan I. Judul. II. Egi Komara Yudha. 613 isi di luar tanggung jawab percelakan Bagian 1 Pemikiran Dasar Promosi Kesehatan Dengan memperbaiki institusi-institusi keschatan, dan dengan mengadakan program- program baru, kita memang bisa membuat pelayanan kesehatan lebih merata dan lebih sfisien, tetapi potensi terbesar untuk memperbaiki derajat keschatan masyarakat terletak pada apa yang diperbuat oleh masyarakat itu sendiri sehubungan dengan kesehatan" (Vietor Fuchs, dalam Bagusmantra, 1986). Bagian 1 menguraikan tentang konsep dasar promosi keschatan yang terdiri atas empat bab. Bab 1, memberikan gambaran kompleksitas dan subjektivitas kese- hatan. Kesehatan merupakan kata yang paling sulit didefinisikan, tetapi hal paling penting dalam kaitannya dengan promosi keschatan adalah kita mengetahui apa yang kita promosikan. Di akhir bab, disampaikan beberapa konsep dalam aplikasi promosi keschatan. Hal ini dimak- sudkan untuk menggali wawasan lebih jauh tentang promosi kesehatan dan hubungannya dengan beberapa konsep terscbut (KIE, pendidikan kesehatan, penyuluhan kesehatan, pemasaran sosial, dan mobilisasi _ sosial) Bab 2, mencoba mengidentifikasi ruang lingkup promosi kesehatan, berbagai jenis kegiatan yang dapat dilakukan, sasaran promosi kese- hatan dan kaitan promosi keschatan dengan berbagai program kese- hatan. Sclain itu, dibahas beberapa kemampuan (kompctensi) yang harus dimiliki seorang promotor kesehatan, dan pertimbangan etik dalam pelaksanaan promosi serta hambatan-hambatan dalam penye- lenggaraan promosi kesehatan. 2 Promosi Kesehatan Bab 3, mengidentifikasi pendekatan dan model dalam pelaksanaan promosi keschatan, yang memungkinkan sebuah program promosi ke- schatan dircalisasikan dengan mempertimbangkan kebutuhan masya- rakat. Promosi kesehatan yang berorientasi kepada kebutuhan dan permintaan masyarakat, dalam pelaksanaannya selalu dihadapkan pada keterbatasan waktu, sumber dan energi. Oleh karena itu, cara efektif dalam melaksanakan promosi keschatan adalah menctapkan skala prioritas. Bab 4, menguraikan tentang strategi promosi yang telah diterima secara global, yang mencakup tiga strategi pokok: Advokasi, Bina Suasana, dan Gerakan Masyarakat yang dikenal sebagai strategi ABG, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan pada masing-masing strategi tersebut. BAB 1 Kesehatan dan Promosi Kesehatan Kesehatan dan Kesakitan Pengertian Kesehatan merupakan konsep yang sering digunakan, tetapi arti- nya sulit dijelaskan. Meskipun demikian, kebanyakan sumber ilmiah sepakat bahwa definisi kesehatan apa pun harus mengan- dung paling tidak komponen biomedis, personal, dan sosiokul- tural (Smet, 1994). Bagi masyarakat umum, kesehatan dapat hanya berarti “tidak sakit”, lalu “Apa sebenarnya sakit?” Kesakitan (ness) sangat berkaitan dengan penyakit (Disease), tetapi kedua istilah tersebut menunjukkan suatu perbedaan men- dasar dan konsepsional tentang periode sakit. Salan (1988) meng- gambarkan kesakitan sebagai reaksi personal, interpersonal serta kultural terhadap penyakit atau perasaan kurang nyaman, sedang- kan penyakit adalah gangguan fungsi atau adaptasi dari proses- proses biologis dan psikofisiologis pada seseorang (Smet, 1994). Hal tersebut menunjukkan bahwa kesakitan adalah sesuatu yang dimiliki seseorang, sedangkan penyakit adalah sesuatu yang di- miliki suatu organ. Helman (1990) seperti yang dikutip oleh Smet (1994), mencoba untuk mengilustrasikan kesakitan dan penyakit. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Kesehatan dan Promosi Kesehatan 7 Dimensi spiritual Percaya adanya beberapa kekuatan (seperti alam, ilmu pengeta- huan, agama, dan bentuk kekuatan lain) yang diperlukan manusia dalam mengisi kehidupannya, Setiap individu memiliki nilai, moral, dan etika yang dianutnya. Setiap komponen dalam dimensi di atas dapat mengalami tum- pang tindih karena faktor dalam komponen satu secara langsung memengaruhi faktor lain, Seseorang yang belajar mengontrol tingkat stres dari fisiknya diharapkan juga dapat menjaga stamina emosinya yang digunakan dalam menanggulangi krisis. Kesehatan prima mencakup semua aspek kerja dalam model. Identifikasi kesehatan dari berbagai dimensi merupakan hal penting dalam meningkatkan kesadaran kompleksitas konsep sehat. Determinan Kesehatan Seperti yang telah dibahas sebelumnya, kesehatan merupakan kata yang sulit didefinisikan, dan sehat dapat berarti berbagai hal Keres — Gambar 1.1 Dimensi kesehatan prima. (Sumber: Kozier dkk., 1997). aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Kesehatan dan Promosi Kesehatan 11 babkan kelebihan berat badan dan merokok dilupakan. Hal ini dikenal dengan “menyalahkan korban” (blaming the victim). Di tahun 1980-an, dirasakan dampaknya pada tahun 1990-an, muncul pendekatan yang lebih luas tidak hanya mencakup pendi- dikan kesehatan, tetapi juga membahas kebutuhan terhadap aksi politik dan sosial. Hal yang lebih penting adalah keterlibatan langsung masyarakat dalam menetapkan tujuan kesehatan mereka sendiri, Pendekatan ini disebut promosi kesehatan (lebih lanjut tentang promosi kesehatan dibahas pada bab selanjutnya), Hal ini, menunjukkan, antara promosi kesehatan (dengan perilaku dan pendidikan kesehatan di dalamnya) dan status kesehatan masyarakat berada dalam suatu pola hubungan yang saling me- mengaruhi, WHO, seperti yang dikutip Ewles dan Simnett (1994), telah mengambil peran utama dalam aksi untuk promosi kesehatan. WHO pada World Health Assembly ke-30 tahun 1977, menyatakan bahwa target sosial pokok dari pemerintah dan WHO pada dasa- warsa mendatang harus berupa pencapaian status kesehatan yang memungkinkan seluruh warga dunia di tahun 2000 mempunyai kehidupan yang produktif, baik secara ekonomi maupun sosial. Hal ini membawa pada pengembangan strategi regional WHO Eropa tahun 1980. Strategi regional ini menghimbau perubahan- perubahan mendasar dalam kebijakan keschatan dari negara- negara anggotanya, melalui pemberian prioritas yang lebih besar pada promosi keschatan dan pencegahan penyakit. Beberapa Konsep dalam Aplikasi Promosi Kesehatan Pembahasan mengenai promosi kesehatan berkaitan erat dengan konsep-konsep atau istilah-istilah lain yang saling terhubung dan cenderung disama-artikan. Hal tersebut, tidak terlepas dari seja- rah praktik pendidikan kesehatan di dalam kesehatan masyarakat aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Kesehatan dan Promosi Kesehatan 15 Pemasaran Sosial Promosi kesehatan juga menampung aspirasi pemasaran sosial karena promosi juga berarti mengenalkan produk (yaitu perilaku hidup sehat) secara luas kepada masyarakat sehingga mereka dapat menerima dan memanfaatkannya (mempraktikkannya) dalam kehidupan sehari-hari. Mobilisasi Sosial Promosi kesehatan juga mengandung pengertian mobilisasi so- sial karena dalam promosi kesehatan diperlukan adanya advokasi kebijakan schingga kebijakan yang sudah ada dapat memberikan dukungan bagi pengembangan perilaku dan lingkungan sehat. Hal ini merupakan “law enforcement” yang dapat “memaksa” atau memobilisasi masyarakat untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Selain itu, pembentukan opini publik yang merupakan salah satu upaya promosi kesehatan juga dapat diartikan sebagai upaya memobilisasi masyarakat (untuk memilih perilaku hidup sehat). Berdasarkan beberapa perbedaan istilah di atas dan hubungan- nya dengan promosi kesehatan, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pendidikan kesehatan, KIE, penyuluhan keséhatan, dan pema- saran sosial dan mobilisasi sosial merupakan komponen promosi kesehatan, Dalam pengertian yang lebih luas, idealnya setiap ke- giatan atau program yang bertujuan memandirikan masyarakat harus memasukkan pertimbangan-pertimbangan kesehatan di dalamnya, dan promosi kesehatan sebagai “payung” yang merang- kum kegiatan atau program tersebut. Hal ini, sesuai dengan kon- sep pembangunan berwawasan kesehatan atau paradigma sehat. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Konsep Promosi Kesehatan 19 hasil Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa Canada adalah sebagai berikut. “Health promotion is the process of enabling people to control over and improve their health. To Reach a state of complete physical, mental, and social well-being, an individual or group must be able to identify and realize aspiration, to satisfy needs, and to change or cope with the environment.” Berdasarkan definisi di atas, WHO menekankan bahwa pro- mosi kesehatan merupakan suatu proses yang bertujuan memung- kinkan individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan meningkatkan kesehatannya berbasis filosofi yang jelas mengenai pemberdayaan diri sendiri (self empowerment). Proses pemberda- yaan tersebut dilakukan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat serta sesuai dengan sosial budaya setempat. Promosi kesehatan tidak hanya meningkatkan “kesadaran” dan “kemauan” seperti yang dikonotasikan dalam pendidikan kesehatan. Demi mencapai derajat keschatan yang sempurna, baik dari fisik, mental maupun sosial, masyarakat harus mampu mengenal dan mewujudkan aspirasi dan kebutuhannya, dan mampu mengubah atau meng- atasi lingkungannya. Lingkungan di sini mencakup lingkungan fisik, sosial budaya dan ekonomi, termasuk kebijakan, dan per- aturan perundang-undangan (Lihat Gambar 2.2). Beberapa definisi memusatkan pada kegiatan-kegiatan, sedang- kan yang lain memusatkan pada tujuan (seperti definisi WHO di atas). Salah satu definisi yang memusatkan pada kegiatan promosi muncul dari Green & Ottoson (1998) berikut. "Promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan perundang-undangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kese- hatan.” aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Konsep Promosi Kesehatan 23 Tatanan Sasaran Sasaran Sasaran Program PHBS Primer Sekunder Tersier Prioritas Rumah Anggota rumah + KK + Ketua RT/ + KIA tangga fangga yang me + Orangtua/ RW + Gizi miliki masclah ke mertua + Kepaladesa + Kesehatan sehatan, terutama + Kader lingkungan ibu, bayi, dan bo- + Toma/toga + Gaya hidup lite + LSM + JPKM + Petugas kesehatan Institusi Siswa dan maha + Guru » Kepala + Kesehatan Pendidikan siswa s+ Karyawan sekolah lingkungan + BP + Pemilik + Gaya hidup : + Organisosi + Gizi siswo/ + JPKM. mahasiswa Tempat kerja. + Karyawon + Karyawan + Direktur + Kesling + Manager + Manager/ + Pemilik/ + Gaya hidup * Serikat kerja pengelola pemimpin Perusahaan Tempat-tem- + Pengunjung » Petugas + Kepela + Kesling pot umum > Pengguna josa _kesehatan daerah + Gaya hidup + Masyarakat + Direksi Sarana/ + Pasien + Pimpinan/ = ‘Kesling institusi kese- * Pengantor . direktur * Gaya hidup hatan + Kelucrge + Ka, Daerah si pasien + Boppeda + DPRD (Sumber: Depkes RI, 2000). kungan, kemudahan, dan semacamnya pada upaya pembangunan kesehatan. Bina suasana (social support). Upaya membuat suasana yang kondusff atau menunjang pembangunan keschatan schingga mas- yarakat terdorong untuk melakukan perilaku hidup bersih dan sehat. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Konsep Promosi Kesehatan 27 KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN Gambar 2.3 Kegiatan promosi kesehatan. (Sumber: Ewles & Simnett, 1994:40). dapat juga termasuk penyediaan informasi, mengeksplorasi nilai dan sikap, membuat keputusan kesehatan dan mempelajari ke- terampilan yang memungkinkan terjadi perubahan tingkah laku. Hal ini melibatkan upaya meningkatkan harga diri dan pember- dayaan diri agar memiliki kemampuan melakukan tindakan un- tuk kesehatan (lihat Bab 9 untuk bahasan mengenai Pendidikan Kesehatan), Pelayanan Kesehatan Preventif Winslow, Profesor Kesehatan Masyarakat dari Yale University pada tahun 1920 (dalam Leavel and Clark, 1958) mengungkap- kan bahwa untuk mengatasi masalah kesehatan termasuk pe- nyakit, ada tiga tahap pencegahan yang dikenal sebagai teori five levels of prevention. Hal ini meliputi pencegahan primer, pence- gahan sekunder, dan pencegahan tersier. Pencegahan primer dilakukan saat individu belum men- derita sakit, meliputi hal-hal berikut. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Konsep Promosi Kesehatan 31 jak sehingga mereka sepakat untuk memberi dukungan terhadap pembangunan kesehatan. Pembinaan suasana. Pembinaan suasana adalah kegiatan untuk membuat suasana atau iklim yang mendukung terwujud- nya perilaku sehat dengan mengembangkan opini publik yang positif melalui media massa, tokoh masyarakat, dan figur publik. Pengembangan SDM (sumber daya manusia). Upaya ini meliputi kegiatan pendidikan, pelatihan, dan pertemuan. untuk meningkatkan wawasan, kemauan, dan keterampilan, baik petugas kesehatan maupun kelompok-kelompok potensial masyarakat. Pengembangan iptek (ilmu pengetahuan dan teknolo- gi). Kegiatan yang bertujuan untuk selalu mengembangkan iptek dalam bidang promosi, informasi, komunikasi, pemasaran, dan advokasi.yang selalu tumbuh dan berkembang. Pengembangan media dan satana. Kegiatan yang bertu- juan mempersenjatai diri dengan penyediaan media dan sarana yang diperlukan untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan. Pengembangan infrastruktur. Merupakan kegiatan penun- jang promosi kesehatan, seperti sekretariat, tim promosi, dan berbagai perangkat promosi kesehatan. Rumusan strategi, jenis kegiatan, dan pesan utama dalam pro- mosi kesehatan dapat dilihat pada Gambar 2.4. Kompetensi Promosi Kesehatan Promosi kesehatan dalam setiap kegiatan-kegiatannya memerlu- kan suatu penerapan metode yang tepat dan keterampilan yang sesuai. Keterampilan dan metode yang digunakan berperan besar terhadap ketercapaian atau keberhasilan kegiatan-kegiatan pro- mosi kesehatan yang dilaksanakan. Dengan kata lain, petugas promosi kesehatan harus memiliki kompetensi yang sesuai. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Konsep Promosi Kesehatan 35 Pertimbangan Etika dalam Promosi Kesehatan Dilema Etik dalam Promosi Kesehatan Bottom up atau Top down Dalam kegiatan promosi kesehatan, terdapat persoalan kontrol dan kekuasaan. “Siapa yang memutuskan apa yang hendak di- laksanakan? Siapa yang menetapkan agenda? Apakah bottom up atau top down?” Dengan kata lain, pilihannya tampak terkutub, tetapi dalam praktiknya, tidak sesederhana itu. Hal ini dapat dipertimbangkan pada tingkat yang berbeda-beda, yakni pada tingkat individu, kelompok, masyarakat, dan pada tingkat na- sional. Menurut Ewles dan Simnet (1994), terdapat kelemahan atau bahaya bila masyarakat umum dilibatkan dalam promosi kese- hatan pada tingkat lokal, karena penduduk setempat dapat dima- nipulasi mengubah agenda mereka agar sesuai dengan keinginan promotor kesehatan. Pengembangan masyarakat sebaiknya difo- kuskan pada pemberdayaan masyarakat dengan merumuskan agenda-agenda kesehatan mereka sendiri, dan agenda ini dapat berbeda dengan agenda pihak profesional. Akan tetapi, hal yang lebih penting, promotor kesehatan bertanggung jawab mening- katkan kesadaran terhadap keschatan, memberi informasi ten- tang kesehatan, dan mewujudkan harapan akan perubahan. Hanya memperbesar ketidakmerataan? Terdapat perbedaan yang besar dalam status kesehatan di antara kelompok penduduk yang berbeda secara sosio-ckonomi. Dalam situasi seperti ini, kita dituntut untuk bersikap peka dan memas- tikan bahwa promosi kesehatan relevan dengan orang-orang yang paling membutuhkan tanpa membedakan status sosio-ekonomi. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Pendekatan, Model, dan Kebutuhan Promosi Kesehatan 45 pengetahuan dan pemahaman tentang perilaku kesehatan, dan membuat keputusan yang ditetapkan atas dasar informasi yang ada. Pendekatan ini menyajikan informasi mengenai keschatan, dan membantu individu menggali nilai dan sikap dan membuat keputusan mereka sendiri. Bantuan dalam melaksanakan kepu- tusan itu dan mengadopsi praktik kesehatan baru dapat pula ditawarkan, Program pendidikan kesehatan sekolah, misalnya menekankan upaya membantu murid mempelajari keterampilan hidup sehat, tidak hanya memperoleh pengetahuan saja. Orang- orang yang mendukung pendekatan ini akan memberi arti tinggi proses pendidikan, menghargai hak individu untuk memilih pe- rilaku mereka sendiri, dan melihatnya sebagai tanggung jawab mereka mengangkat bersama persoalan-persoalan kesehatan yang mereka anggap menjadi hal paling baik bagi klien mereka. Pendekatan Berpusat pada Klien Tujuan pendekatan ini adalah bekerja dengan klien agar dapat membantu mereka mengidentifikasi apa yang ingin mereka ke- tahui dan lakukan, dan membuat keputusan dan pilihan mereka sendiri sesuai kepentingan dan nilai mereka. Promotor berperan sebagai fasilitator, membantu individu mengidentifikasi kepedu- lian-kepedulian mereka dan memperoleh pengetahuan dan kete- rampilan yang mereka butuhkan supaya memungkinkan terjadi perubahan. Pemberdayaan diri sendiri klien menjadi sentra tu- juan ini. Klien dihargai sebagai individu yang mempunyai penge- tahuan, keterampilan, kemampuan berkontribusi, dan memiliki hak absolut untuk mengontrol tujuan kesehatan mereka sendiri. Perubahan Sosial Ruang lingkup perubahan sosial menurut William F. Ogburn (1922), meliputi pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan mate- aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 49 Pendekatan, Model, dan Kebutuhan Promosi Kesehatan pBDIYD|O. Buppiq wojop 4oy402 yuqod Josuods UDp 4044 UDP! UADjowW UDP IsoIOquE;, “pisos owsou pba ea risen upy!soulciduwaw 'youD-jouo, uipjns9} ‘ndyBuplip 41Ips jONgIp yox01 uDjonlueg “winwin joduisy 1p yoyO10u. APH ynhun uoyoliqor, sunjwiBay, 404010 opoduop yoyo10u Sep Yepaut dige) BBBuyes J0IS05 ouD595 OWLENIP ee tou one cupnlny OU aoe real ted Uoyoliey uop inypjey pyesous uu Buok odo upipyaso splo.ep upyoySuluaws Buns uoBuny6uy uppjdisued uno upyningey uop isoso 014 1p uvpAopiequiog uaBo unydojauous 2fniun Ua4py xOH, (85-2S:466T ‘HAUS UeP sajmq uaquins) IDSCeuCE 3454 wo8unyBuy) yoonBuews S4niun |DIsos /4INIOd Sy uaipy uyodnpioqueyy “usipy yoo ssoxyyuapuip 8u04 voxopuy soyas yiqa} BuDk dy 408 dopoyie) uDyijiued uoyurySunwow Budd fpnos JPISo: Unp y!sy UoBunyBuN ——_uoyoqnieg yoxoseur isnspy Yoyuo> Buyued Bunk 1p1N upypysso> isowoid unjoibey upniny upp jepued aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Pendekatan, Model, dan Kebutuhan Promosi Kesehatan £3 Hal ini mengacu pada sejauh mana seseorang berpikir bahwa penyakit atau kesakitan betul-betul merupakan ancaman bagi dirinya. Oleh karena itu, jika ancaman yang dirasakan me- ningkat, perilaku pencegahan juga akan meningkat. Penilaian tentang ancaman yang dirasakan didasarkan pada hal-hal berikut. * Ketidakkebalan yang dirasakan (perceived vulnerability). In- dividu mungkin dapat menciptakan masalah kesehatannya sendiri sesuai dengan kondisi. * Keseriusan yang dirasakan (perceived severity). Individu mengevaluasi keseriusan penyakit jika penyakit tersebut muncul akibat ulah individu tersebut atau penyakit dibiar- kan tidak ditangani. 2. Keuntungan dan kerugian (benefits and costs) Pertimbangkan antara keuntungan dan kerugian perilaku un- tuk memutuskan melakukan tindakan pencegahan atau tidak. 3. Petunjuk berperilaku juga diduga tepat untuk memulai pro- ses perilaku, yang disebut sebagai keyakinan terhadap posisi yang menonjol (salient position). Hal ini berupa berbagai in- formasi dari juar atau nasihat mengenai permasalahan kese- hatan (misalnya media massa, kampanye, nasihat orang lain, penyakit dari anggota keluarga yang lain atau teman). Ancaman, keseriusan, ketidakkekebalan, pertimbangan keun- tungan, dan kerugian dipengaruhi oleh 1) variabel demografi (umur, jenis kelamin, latar belakang budaya), 2) variabel sosio- psikologis (kepribadian, kelas sosial, tekanan sosial), dan 3) variabel struktural (pengetahuan, dan pengalaman sebelumnya). Sebagai contoh, orang tua akan memandang secara berbeda risiko kanker dan penyakit jantung daripada remaja. Orang yang memiliki pengalaman dengan penyakit tertentu akan bersikap lain terha- aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Pendekatan, Model, dan Kebutuhan Promosi Kesehatan 57 HBM hanya memerhatikan keyakinan kesehatan. Kenyataannya, orang dapat membuat banyak pertimbangan tentang perilaku yang tidak berhubungan dengan kesehatan, tetapi masih meme- ngaruhi kesehatan. Sebagai contoh, seseorang dapat bergabung dengan kelompok olahraga karena kontak sosial atau keterta- rikan pada seseorang dalam kelompok tersebut. Keputusan yang diambil tidak ada kaitannya dengan kesehatan, tetapi*memenga- ruhi kondisi kesehatannya. Keempat, berkaitan dengan ukuran dari komponen-komponen HBM. Banyak studi menggunakan konsep operasional dan pengenalan yang berbeda sehingga sulit dibandingkan. Hal ini menunjukkan hasil yang tercampur dan prediksi yang tidak konsisten. Analisis model ini menunjukkan bahwa berbagai prediktor dapat berubah sewaktu-waktu. Sedangkan menurut Glanz dkk. (1997:48), komponen dan hubungannya dalam HBM tercantum pada Gambar 3.2. Penampilan diri Cinta, sayang, sosial Kebutuhan dasar faali Gambar 3.2 Health Belief Model (Sumber: Sarafino,1990 dalam Bart Smet, 1994:160). aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Pendekatan, Model, dan Kebutuhan Promosi.Kesehatan 61 diksi dan pengertian perilaku yang dapat diamati secara langsung dan berada dalam kendali seseorang, artinya perilaku sasaran harus diseleksi dan diidentifikasi secara jelas. Tuntutan ini me- merlukan pertimbangan mengenai perbedaan tindakan (action), sasaran (target), konteks, dan perbedaan waktu serta komponen model sendiri termasuk intensi, sikap, norma subjektif, dan keyakinan. Konsep penting dalam TRA adalah foktus perhatian (salience) Hal ini berarti, sebelum mengembangkan intervensi yang efektif, pertama-tama harus menentukan hasil dan kelompok referensi yang penting bagi perilaku populasi. Dengan demikian, harus diketahui nilai dan norma kelompok sosial yang diselidiki (yang penting bukan budaya itu sendiri, tetapi cara budaya memenga- ruhi sikap, intensi, dan perilaku). Contohnya, terdapat nilai dan norma di masyarakat bahwa diare bukan suatu penyakit, tetapi sebagai hal yang alami dari tumbuh kembang anak. Hal tersebut berarti masyarakat memandang diare bukan fokus perhatian yang penting. Contoh lain, fokus perhatian perilaku seksual dan pen- cegahan AIDS tidak akan sama antara kelompok homoscksual dan kelompok lain tentang penggunaan kondom. Kelompok homoseksual percaya kondom dapat mencegah mereka terkena AIDS, tetapi bagi kelompok Jain penggunaan kondom justru akan menyebarluaskan perilaku seksual. Kelemahan TRA Kelemahan TRA adalah bahwa kehendak dan perilaku hanya ber- korelasi sedang, intensi tidak selalu menuju pada perilaku itu sendiri, terdapat hambatan-hambatan yang mencampuri atau memengaruhi intensi dan perilaku (Van Oost, 1991 dalam Smet, 1994). Selain itu, TRA tidak mempertimbangkan pengalaman SE ey aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Pendekatan, Model, dan Kebutuhan Promosi Kesehatan 65 profesional. Keadaan ini dapat menimbulkan dua masalah. Per- tamta, pendapat ahli yang berbeda-beda dalam standar yang dipakai. Kedua, nilai dan standar para ahli dapat berbeda me- ngenai masalah yang sama menurut Klien. Beberapa kebutuhan normatif ditetapkan oleh hukum. Kebutuhan yang dirasakan Kebutuhan yang dirasakan adalah kebutuhan yang diidentifikasi individu sebagai sesuatu yang ia inginkan (misalnya ibu hamil merasakan adanya kebutuhan informasi tentang melahirkan anak dan menghendaki informasi tersebut), Banyak sedikitnya kebu- tuhan yang dirasakan bergantung pada kesadaran dan pengeta- huan individu tentang apa yang dapat tersedia. Kebutuhan yang dinyatakan Kebutuhan yang dinyatakan adalah apa yang dikatakan orang se- bagai suatu yang mereka butuhkan. Dengan kata lain, kebutuhan yang dinyatakan adalah kebutuhan yang dirasakan yang telah di- ubah menjadi permintaan yang diungkapkan atau demand. Perlu dipahami, tidak semua kebutuhan yang dirasakan dapat berubah menjadi kebutuhan yang dinyatakan. Tidak ada kesempatan, motivasi atau keberanian menyatakan sesuatu dapat menjadi hambatan pengungkapan kebutuhan yang dirasakan, Tidak ada permintaan belum tentu menunjukkan tidak ada kebutuhan yang dira- sakan Kebutuhan yang dinyatakan dapat bertentangan dengan kebu- tuhan normatif profesional atau petugas. Sebagai contoh, seorang pasien mengungkapkan kebutuhan banyak informasi tentang kondisi penyakitnya, melebihi apa yang dapat diberitahukan oleh perawat atau sebaliknya, perawat ingin menyampaikan lebih banyak dari apa yang pasien inginkan. Lc aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Pendekatan, Model, dan Kebutuhan Promosi Kesehatan 69 dan Simnett, 1994). Dengan demikian, output pemasaran adalah kesehatan bukan keuntungan. Pemasaran adalah suatu sikap batin. Pemasar:in adalah upaya mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan memuaskan mereka dengan cara yang paling efisien agar dapat mencapai output yang maksimal dari sudut kesehatan masyarakat. Meialui pendekatan pemasaran, kegiatan promosi kesehatan dapat mengambil man- faat dari efektivitas dan efisiensi kegiatan dan dari perbaikan kepuasan konsumen. Pemasaran melibatkan teknik pemasaran khusus, seperti riset pasar, pengembangan produk, penentuan harga (keterjangkauan) serta periklanan dan promosi. Hal ini berarti bahwa upaya menjalankan pemasaran memberi respon- sivitas Iebih terhadap kebutuhan dan keinginan konsumen di- bandingkan menuruti gagasan pemberi pelayanan mengenai kebutuhan apa yang harus dimiliki individu, Pertanyaannya, “Bagaimana kebutuhan-kebutuhan promosi dapat diidentifikasi?” Titik awal penetapan kebutuhan promosi Kesehatan adalah berbagai informasi dari berbagai sumber. Jenis-jenis informasi yang dapat digunakan, yaitu data epidemiologi, data sosial-eko- nomi, pandangan profesional, pandangan publik/masyarakat, dan media lokal. DATA EPIDEMIOLOGI. Epidemiologi adalah studi tentang distri- busi dan determinan kesehatan dalam masyarakat. Data epidemio- logi memberikan informasi yang mendasar tentang keschatan penduduk, penycbab, dan faktor risiko yang berkaitan dengan kesakitan. Informasi-informasi tersebut dapat memberikan gam- baran tentang potensi pencegahan dan promosi kesehatan. DATA SOSIAL-EKONOMI, Data mencakup informasi tentang perumahan, pekerjaan, lapisan sosial dan fasilitas-fasilitas sosial, hiburan, rekreasi atau perbelanjaan. Dengan mencocokkan pe- nyakit menurut data sosial-ekonomi, kita dapat melihat pola a aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Pendekatan, Model, dan Kebutuhan Promosi Kesehatan 73 tapan prioritas menuntut analisis praktik nyata yang saat ini di- jalani dan pemahaman mengenai serangkaian kriteria yang akan memengaruhi keputusan-keputusan tentang prioritas. Tidak ada metode pasti untuk menetapkan prioritas karena pada akhirnya bergantung pada pertimbangan nilai-nilai petugas kesehatan yang terlibat. Beberapa pertimbangan yang dapat digunakan untuk menetapkan prioritas dalam promosi kesehatan meliputi isu, pendekatan, dan kegiatan promosi kesehatan, kelompok konsumen atau sasaran, kelompok umur, kelompok risiko, efektivitas, kelayakan, bekerja dengan pihak lain, etika, dan lain-lain. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Strategi Promosi Kesehatan 77 Gambar 4.1 Tujuan advokasi. (Sumber: Depkes, 2007) 3. Adanya kemauan atau kepedulian atau kesanggupan untuk membantu dan menerima perubahan. 4. Adanya tindakan/perbuatan/kegiatan yang nyata (yang diper- lukan). 5. Adanya kelanjutan kegiatan (kesinambungan kegiatan). Hasil yang diharapkan Adanya pengertian, kepedulian, dan dukungan terhadap upaya, program, dan kegiatan di bidang keschatan. Sasaran dan Pelaku Advokasi Kesehatan Sasaran advokasi kesehatan Sasaran advokasi kesehatan adalah berbagai pihak yang diha- - rapkan dapat memberikan dukungan terhadap upaya kesehatan, aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Strategi Promesi Kesehatan 61 Gambar 4.2 Peran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam advokasi Kesehatan. sinya, serta melakukan tindak lanjut. Evaluasi diperlukan un- tuk menilai ketercapaian tujuan serta menyempurnakan dan memperbaiki strategi advokasi. Untuk menjadi advokat yang tangguh, diperlukan umpan balik berkelanjutan dan evaluasi terhadap upaya advokasi yang telah dilakukan. Peran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam Advokasi Kesehatan Menurut Depkes (2007), Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabu- paten/Kota memiliki peran dalam advokasi kesehatan, antara lain sebagai berikut. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Strategi Promosi Kesehatan 85 rakat adalah proses, sedangkan output-nya adalah kemandirian masyarakat (di bidang kesehatan). Kemandirian masyarakat di bidang kesehatan tersebut berarti bahwa masyarakat dapat me- ngenali tingkat kesehatan dan masalah kesehatan mereka, meren- canakan dan mengatasinya, memelihara, meningkatkan, dan melindunginya. Tujuan Tujuan umum Masyarakat mampu mengenali, memelihara, melindungi, dan meningkatkan kualitas kesehatannya, termasuk jika sakit, dapat memperoleh pelayanan kesehatan tanpa mengalami kesulitan dalam pembiayaannya. Tujuan khusus 1. Memahami dan menyadari pentingnya kesehatan. 2. Memiliki keterampilan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya. 3, Memiliki kemudahan untuk menjaga kesehatan diri dan ling- kungannya. 4. Berupaya bersama (bergotong-royong) menjaga dan mening- katkan kesehatan lingkungannya * Hasil yang diharapkan Kemandirian masyarakat dalam hidup sehat (artinya masyarakat mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya sendiri). Sasaran dan Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat adalah kegiatan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat. Oleh karena itu, batas antara sasaran dan aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Strategi Pramesi Kesehatan §? TE akc den Jeni 23 Sl © " kegiatan yang dilakukan Gambar 4.5 Indikator keberhasilan pemberdayaan masyarakat (Departe- men Kesehatan RI, 2007) 2, Jumlah dan sumber dana yang digunakan, 3. Barang, alat, obat, dan sarana lain yang digunakan. Indikator proses 1, Jumlah dan jenis kegiatan yang dilakukan, khususnya. 2. Jumlah pelatihan tomat/toga/kader. 3. Jumlah kegiatan penyuluhan yang dilakukan. 4. Jumlah pertemuan dalam rangka pengambilan keputusan yang diselenggarakan. Indikator output 1, Peningkatan jumlah pimpinan/tokoh organisasi/kelompok masyarakat yang berperan aktif. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. BAB 5 Aplikasi Komunikasi dalam Promosi Kesehatan Konsep Dasar Komunikasi Batasan dan Pengertian Komunikasi berasal dari bahasa latin communis, dalam bahasa Inggris common, yang berarti “sama”. Berkomunikasi (to communi- cate) berarti kita berusaha menimbulkan persamaan (commonness) sikap dengan seseorang. Menurut Azwar (1996), komunikasi diartikan sebagai bentuk pertukaran pikiran atau keterangan dalam rangka menciptakan rasa saling mengerti dan saling per- caya demi terwujudnya hubungan baik antara individu dan orang lainnya. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu hubungan seseorang dengan orang lain untuk mencapai pengertian dan persamaan sikap. Menurut Aawar (1996), tujuan utama komunikasi adalah menimbulkan saling pengertian, bukan persetujuan. Komunikasi merupakan proses kompleks (verbal dan non- verbal) yang melibatkan tingkah laku dan hubungan serta me- mungkinkan individu berasosiasi dengan orang Jain dan dengan lingkungan sekitarnya (Perry dan Potter, 2005). Komunikasi mengacu tidak hanya pada isi, tetapi juga perasaan dan emosi ketika individu menyampaikan hubungan. 93 aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Aplikasi Komunikasi dalam Promosi Kesehatan 97 Clarity. Pesan yang disampaikan harus jelas, sehingga harus diupayakan untuk memilih pesan yang ketika disampaikan, akan lebih mudah diterima. Continuity and consistency. Hal ini berarti pesan yang di- sampaikan harus sering dan terus menerus disampaikan serta bersifat konsisten/tetap. Jika pesan berubah-ubah, keberhasilan komunikasi akan sulit dicapai. Channels. Hal ini berarti harus dapat dipilih media yang se- suai dengan sasaran yang akan dicapai. Capability of the audience. Hal ini berarti bahwa dalam menyampaikan pesan, harus diperhitungkan kemampuan sasaran dalam menerima pesan. Semua faktor tersebut saling berhubungan dan berpengaruh pada semua unsur komunikasi, yakni sumber, pesan, media dan sasaran, selain berpengaruh juga terhadap umpan balik dan akibat. Komunikasi Kesehatan Komunikasi dalam bidang kesehatan merupakan pengiriman pe- san antara pengirim dan penerima disertai interaksi di antara keduanya, Hal ini bertujuan menumbuhkan kepercayaan, me- nyebabkan kenyamanan, menimbulkan kepuasan, meningkatkan pengobatan, dan menuju kesembuhan. Menurut Rasmuson dkk. (1988), komunikasi kesehatan adalah usaha sistematis untuk me- mengaruhi perilaku kesehatan penduduk yang besar jumlahnya dengan menggunakan prinsip dan metode komunikasi massa, desain instruksional, pemasaran sosial, analisis perilaku, dan antropologi kesehatan. (Lihat Bab 7 mengenai Pemasaran Sosial dan Bab 11, Bab 12, dan Bab 13 mengenai Analisis Perilaku). aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Aplikasi Komunikasi dalam Promosi Kesehatan 101 2. Tekan prasangka. 3. Ciptakan lingkungan yang terapeutik. 4. Pcka terhadap tanda “nonverbal”. 5. Menegakkan hubungan saling percaya. Proses Perencanaan Komunikasi Kesehatan Secara umum, pengembangan program perencanaan komunikasi yang lebih efektif dan efisien digambarkan dalam bentuk “dia- gram P”, atau lebih dikenal sebagai P process (The Johns Hopkins University yang dikutip dari Palestin, 2007) (Gambar 5.2). Tahap 1 (analisis khalayak dan program) Tahap ini mencakup langkah-langkah sebagai berikut. 1. Meninjau khalayak potensial. EVALUASI DAN RANCANG ULANG Gambar 5.2 Proses rancangan komunikasi kesehatan. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Aplikasi Komunikasi dalam Promosi Kesehatan 105 2. Melakukan analisis hasi! yang diperoleh, disesuaikan dengan tujuan yang spesifik saat merancang Program K3. Menelaah dan menganalisis kumpulan informasi yang didapat pada se- tiap tahap proses. 3. Melakukan analisis dampak proyek dari kacamata khalayak, organisasi penyandang dana, dan pihak lain yang terkait. 4. Mengidentifikasi perubahan yang signifikan atau berarti pada lingkup nasional. 5. Mengidentifikasi setiap peluang dan kelemahan. 6. Mengevaluasi keterampilan yang diperoleh personel. 7. Mengestimasi sumber daya yang mendulung di masa yang akan datang. 8. Mendesain ulang kegiatan-kegiatan KIE secara bersinambungan. 9. Melakukan penilaian ulang data untuk digunakan pada pro- gram baru. Karena kelima tahapan ini saling berhubungan dan merupakan proses yang bersinambungan, buat rancangan dalam bentuk pro- ses yang bersinambungan dan selalu sesuaikan dengan perubahan menurut kebutuhan khalayak. Prinsip-prinsip dasar pengembangan komunikasi dengan Pen- dekatan P-Process meliputi hal-hal berikut. . Pendekatan interdisipliner. - Koordinasi dengan pihak penyedia layanan. . Segmentasi khalayak sasaran. . Pre-test dengan khalayak sasaran. . Jalur ganda untuk memperkuat. . Keterlibatan lintas-sektor. . Pemantauan secara sistematis dan penyesuaian. . Kesinambungan. CNH RW aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Perencanaan Promosi Kesehatan 109 yang berlainan, serta model ini dianggap lebih berorientasi praktis. Gambar 6.1 meringkas gambaran model PRECEDE- PROCEED. Langkah-Langkah Perencanaan Promosi Kesehatan Menentukan Kebutuhan Promosi Kesehatan Diagnosis masalah Dilakukan dengan menggunakan kerangka PRECEDE-PROCEED sesuai Gambar 6.1 dan 6.2. PRECEDE digunakan pada fase diag- nosis masalah, penetapan prioritas masalah dan tujuan program, PRECEDE Fase 5 Fase 4 Fase 3 Fase 2 Fase 1 Diagnosis Diagnosis Diagnosis Diagnosis Diagnosis kebijakan dan pendidikan perilakudan —_epidemiologi sosial administrasi dan lingkungan organisasional. ——————— PROMOS! Faktor KESEHATAN predisposisi Pendidikan | ron kesehatan N Faktor kebiasaan penguat Kualitas

ketika melibatkan petugas kesehatan dalam melaksanakan penyuluhan bagi program bersangkutan, adakah tenaga di instansi lain yang dapat membantu penyuluhan, atau ada- kah tenaga di masyarakat yang dapat membantu. * Bagaimana pengalaman masyarakat terhadap program- program sebelumnya. 3. Mengenal wilayah Program dapat dilaksanakan dengan baik, jika perencana pro- gram mengetahui benar situasi lapangan. Hal-hal yang perlu diketahui berhubungan dengan wilayah adalah lokasinya (apa- kah terpencil, daerah datar atau pegunungan, dan jalur trans- portasi umum) dan’ sifatnya (yaitu periode penghujan atau kemarau, daerah kering atau cukup air, daerah banjir, dan daerah perbatasan). Menentukan prioritas Prioritas dalam penyuluhan harus sejalan dengan prioritas ma- salah yang ditentukan oleh program yang ditunjang. Penentuan aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Konsep Penyuluhan Kesehatan 145 9. Bagaimana rencana untuk memberikan umpan balik hasil evaluasi ini kepada para pimpinan program. Menyusun rencana kerja atau rencana pelaksanaan Setelah menetapkan pokok-pokok kegiatan penyuluhan terma- suk waktu, tempat, dan pelaksanaan, buat jadwal pelaksanaannya yang dicantumkan dalam suatu daftar. Bentuk jadwal pelaksanaan bermacam-macam, contohnya adalah yang terdapat pada Tabel 8.1. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 150 Promosi Kesehatan 3. Mendorong pengembangan dan penggunaan secara tepat sa- rana pelayanan kesehatan yang ada. Adakalanya, pemanfaatan sarana pelayanan yang ada dilakukan secara berlebihan atau justru sebaliknya, kondisi sakit, tetapi tidak menggunakan sa- rana kesehatan yang ada dengan semestinya Sasaran Sesuai dengan program pembangunan Indonesia, sasaran pendi- dikan kesehatan meliputi masyarakat umum dengan berorientasi pada masyarakat pedesaan, kelompok tertentu (misalnya, wanita, pemuda, remaja, termasuk lembaga pendidikan), dan individu dengan teknik pendidikan kesehatan individual. Ruang Lingkup Ruang lingkup pendidikan kesehatan, baik sebagai ilmu maupun seni sangat luas karena mencakup segi kehidupan masyarakat. Pendidikan kesehatan selain merupakan salah satu faktor dalam usaha meningkatkan kesehatan dan kondisi sosial masyarakat (berkaitan erat dengan Ilmu Sosial Budaya), juga memberikan bantuan dalam setiap program kesehatan. _ Ruang lingkup pendidikan kesehatan didasarkan pada aspek kesehatan, tatanan atau tempat pelaksanaan, dan tingkat pela- yanan (Notoatmodjo, 2003). Berdasarkan Aspek Kesehatan Aspek promotif Sasaran pendidikan adalah kelompok orang sehat (80-85% po- pulasi). Derajat kesehatan cukup dinamis meskipun dalam kon- disi sehat, tetapi perlu ditingkatkan dan dibina kesehatannya. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 154 Promosi Kesehatan Luasnya pengertian sehat yang menjadi subjek dan objek upaya kesehatan, menyebabkan pelaksanaan berbagai upaya kesehatan telah sangat membutuhkan adanya perencanaan, Dalam pelaksa- naannya, banyak pengaturan yang diperlukan, tidak hanya me- nyangkut masalah-masalah kesehatan, tetapi menyangkut masalah kemasyarakatan secara keseluruhan. Mengingat pentingnya fungsi perencanaan pendidikan kesehatan, pendidik kesehatan diharus- kan memiliki pengetahuan dan ‘keterampilan yang baik tentang perencanaan. Fungsi Perencanaan 1, Sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan, fungsi pelaksanaan kegiatan atau program baru berperan bila fungsi perencanaan telah selesai dilaksanakan. 2. Menjamin keteraturan kegiatan yang dilaksanakan secara sistematis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 3. Mengembangkan kemampuan individu dan profesi pendi- dikan kesehatan. Langkah-Langkah Perencanaan Pendidikan Kesehatan Program dan pelayanan kesehatan di dalam pelaksanaannya menuntut partisipasi masyarakat sasaran. Pendidikan kesehatan merupakan cara yang tepat membantu masyarakat mempelajari apa yang harus mereka kerjakan sendiri dan bagaimana menger- jakannya untuk mencapai derajat kesehatan yang lebih baik. Analisis sasaran atau menentukan prioritas pengajaran Sebelum melaksanakan proses belajar mengajar, hendaknya kita mengidentifikasi aspek epidemiologi dan aspek perilaku sasaran berhubungan dengan penyakitnya. Hal ini bertujuan menemu- aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. BAB 10 Metode dan Media Promosi Kesehatan Pendahuluan Perubahan perilaku sebagai tujuan akhir pendidikan kesehatan dapat dicapai melalui berbagai cara, salah satunya proses belajar. Dalam proses belajar, selalu terdapat dua elemen pokok, pihak yang belajar (learner) dan pengajar (teacher). Dari pihak yang belajar, pelajaran diusahakan dapat diterima seefektif dan seefi- sien mungkin. Dari segi pengajar, diusahakan agar dengan cara tertentu, ia dapat menyampaikan pelajaran dengan efektif dan efisien, Efektivitas dan efisiensi proses belajar dan mengajar yang dilakukan dipengaruhi ketepatan dan kesesuaian penggunaan metode dan media yang digunakan. Metode Batasan dan Pengertian Metode diartikan sebagai cara atau pendekatan tertentu. Di dalam proses belajar, pendidik harus dapat memilih dan meng- gunakan metode (cara) mengajar yang cocok atau relevan, sesuai dengan kondisi setempat. Meskipun berlaku pedoman umum bahwa tidak ada satu pun metode belajar yang paling baik dan tidak ada satu pun metode belajar yang berdiri sendiri. Oleh ka- rena itu, diperlukan pemahaman yang cukup tentang penerapan 160 aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 164 Promosi Kesehatan Wawancara (interview) Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan kon- seling, Wawancara petugas dengan klien dilakukan untuk menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, apakah tertarik atau tidak terhadap perubahan dan untuk menge- tahui apakah perilaku yang sudah atau belum diadopsi memiliki dasar pengertian dan kesadaran yang kuat. Metode pendidikan kelompok Untuk kelompok yang besar (sasaran berjumlah lebih dari 15 orang), dapat digunakan metode ceramah dan seminar. Ceramah Ceramah adalah pidato yang disampaikan oleh seorang pembicara di depan sekelompok pengunjung atau pendengar. Metode ini dipergunakan jika berada dalam kondisi berikut. 1, Waktu untuk penyampaian informasi terbatas. 2. Orang yang mendengarkan sudah termotivasi. 3. Pembicara menggunakin gambar dalam kata-kata. 4. Kelompok terlalu besar untuk memakai metode lain. 5. Ingin menambah atau menekankan apa yang sudah dipelajari. 6. Mengulangi, memperkenalkan atau mengantarkan suatu pela- jaran atau aktivitas. 7. Sasaran dapat memahami kata-kata yang digunakan. Kelebihan metode ini adalah sebagai berikut. 1. Dapat dipakai pada orang dewasa. 2. Menghabiskan waktu dengan baik. 3. Dapat dipakai pada kelompok yang besar. 4. Tidak terlalu melibatkan banyak alat bantu. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 172 Promosi Kesehatan masyarakat, kelompok koordinasi antarsektor, dan media cetak serta elektronik. Media atau Alat Peraga Pengertian Media adalah alat yang digunakan olch pendidik dalam menyam- paikan bahan pendidikan ataun pengajaran. Media pendidikan kesehatan disebut juga sebagai alat peraga karena berfungsi mem- bantu dan memeragakan sesuatu dalam proses pendidikan atau pengajaran. Prinsip pembuatan alat peraga atau media bahwa pengetahuan yang ada pada setiap orang diterima atau ditangkap melalui pancaindra. Semakin banyak pancaindra yang digunakan, semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian atau pengetahuan yang diper- oleh. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan alat peraga dimak- sudkan mengerahkan indra sebanyak mungkin pada suatu objek sehingga memudahkan pemahaman. Menurut penelitian para ahli, pancaindra yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke otak adalah mata (kurang lebih 75% sampai 87%), sedangkan 13% sampai 25% pengetahuan manusia diperoleh atau disalur- kan melalui indra lainnya. Intensitas Alat Peraga Alat peraga atau media mempunyai intensitas yang berbeda da- lam membantu permasalahan seseorang, Elgar Dale menggam-" barkan intensitas setiap alat peraga dalam suatu kerucut (Gam- bar 10.1). Berdasarkan Gambar 10.1, alat peraga yang memiliki tingkat intensitas paling tinggi adalah benda asli dan yang memiliki aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 176 Promosi Kesehatan 3. Video, Penyampaian informasi kesehatan melalui video. 4. Slide. Slide dapat juga digunakan untuk menyampaikan infor- masi kesehatan. 5. Film Strip. Media papan (billboard) Media papan yang dipasang di tempat-tempat umum dapat diisi pesan-pesan atau informasi keschatan. Media ini juga mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng dan ditempel di kendaraan umum (bus dan taksi). Media hiburan Penyampaian informasi kesehatan dapat dilakukan melalui media hiburan, baik di luar gedung (panggung terbuka) maupun dalam gedung, biasanya dalam bentuk dongeng, sosiodrama, kesenian tradisional, dan pameran. Pembagian alat peraga berdasarkan pembuatan dan penggunaannya 1. Alat peraga yang rumit (complicated), seperti film, film strip, dan slide. Dalam penggunaannya, alat peraga ini memerlukan listrik dan proyektor. 2, Alat peraga yang sederhana/mudah dibuat sendiri dengan bahan-bahan setempat yang mudah diperoleh seperti bambu, karton, kaleng bekas, dan kertas koran. Ciri-ciri alat peraga sederhana adalah mudah dibuat, bahan-bahannya dapat diper- oleh dari bahan-bahan lokal, mencerminkan kebiasaan, kehi- dupan dan kepercayaan setempat, ditulis (gambar) dengan sederhana, bahasa setempat dan mudah dimengerti’ oleh masyarakat, dan memenuhi kebutuhan petugas keschatan dan masyarakat. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Metode dan Media Promosi Kesehatan 181 Warna merah ungu (magenta) Warna ini dapat menimbulkan keseimbangan emosi, menyela- raskan keadaan tubuh, dan menolong penderita jantung. Warna nila Warna ini membantu mengatasi gangguan pernapasan, perda- rahan, mengurangi pembengkakan, menekan rasa sakit, dan berfungsi sebagai obat penenang. Warna hitam Warna hitam pekat diyakini dapat menimbulkan penyakit dan mempercepat ketuaan. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 186 Promosi Kesehatan masyarakat terbentuk melalui kegiatan yang disebut pendidikan kesehatan. Menurut Green (1980), pendidikan kesehatan mem- punyai peranan penting dalam mengubah dan menguatkan faktor perilaku (predisposisi, pendukung, dan pendorong) sehingga menimbulkan perilaku positif dari masyarakat. Hal ini menun- jukkan bahwa perilaku, pendidikan kesehatan, dan status kese- hatan masyarakat berada dalam suatu pola hubungan yang saling memengaruhi (lihat Bagan 11.1). Pelayanan an Lingkungan kesehatan lg — Perilaku Proses perubahan Predisposing factors Reinforcing factors Komunikasi Pemberdayaan masyarakat Pelatihan Penyuluhan — Pemberdayaan sosial . Pendidikan kesehatan ‘Sumber: Notoatmojo (2003: 15) Bagan 11.1 Hubungan status kesehatan, perilaku, dan pendidikan kese- hatan. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Konsep Perilaku dan Perilaku Kesehatan 19/ Perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan/atau kecelakaan, mulai dari mengobati sendiri (self-treatment) sampai mencari bantuan ahli. Contohnya, individu pergi ke pelayanan kesehatan saat sakit, membeli obat dari warung atau toko obat, dan berobat ke pelayanan tradi- sional. Perilaku pemulihan kesehatan (health rehabilitation behavior). Pada proses ini, diusahakan agar sakit atau cacat yang diderita ti- dak menjadi hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal secara fisik, mental, dan sosial. Sebagai con- toh, penderita DM melakukan diet dengan mengurangi kon- sumsi makanan manis, dan melakukan kontrol rutin seminggu sekali. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan Perilaku ini merupakan respons individu terhadap sistem pela- yanan kesehatan modern dan atau tradisional, meliputi respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan kesehatan, perilaku terhadap petugas, dan respons terhadap pemberian obat-obatan. Respons ini terwujud dalam bentuk pengetahuan, persepsi, si- kap, dan penggunaan fasilitas, sikap terhadap petugas, dan obat- obatan. Perilaku terhadap makanan Perilaku ini meliputi pengetahuan, sikap, dan praktik terhadap ma- kanan serta unsur-unsur yang terkandung di dalamnya (gizi, vita- min) dan pengolahan makanan. Dari beberapa literatur, perilaku terhadap makanan menjadi bagian dari kesehatan lingkungan. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Konsep Parilaku dan Perilaku Kesehatan 137 “An individual's social attitude is a syndrome of response consis- tency with regard to social object”. (Campbell, 1950). “A mental and neural state of readiness, organized through expe- rience, exerting a directive or dynamic influence up on the individual’s response to all objects and situations with which it is related”(Allport, 1954). “Attitude entails an existing predisposition to response to social objects which in interaction with situational and other diposition va- riable, guides and direct the overt behavior of the individual” (Cardno, 1955). Sikap tidak dapat dilihat, tetapi dapat ditafsirkan terlebih da- hulu dari perilaku yang tertutup. Sikap merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Menurut Newcomb dalam Notoatmodjo (2003), sikap merupakan kesiapan atau ke- sediaan untuk bertindak, yang menjadi predisposisi tindakan suatu pcrilaku, bukan pelaksanaan motif tertentu. Sikap meru- pakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Sikap tidak sama dengan perilaku dan perilaku tidak sclalu mencerminkan sikap seseorang, Individu sering kali memperli- hatkan tindakan bertentangan dengan sikapnya (Sarwono, 1997). Akan tetapi, sikap dapat menimbulkan pola-pola cara berpikir tertentu dalam masyarakat dan sebaliknya, pola-pola cara ber- pikir ini memengaruhi tindakan dan kelakuan masyarakat, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam hal membuat kepu- tusan yang penting dalam hidup (Koentjaraningrat, 1983). Dengan sikap secara minimal, masyarakat memiliki pola ber- pikir tertentu dan pola berpikir diharapkan dapat berubah de- ngan diperolehnya pengalaman, pendidikan, dan pengetahuan aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 202 Promosi Kesehatan Integrasi. Sikap terbentuk secara bertahap. Diawali dari pengetahuan dan pengalaman terhadap objek sikap tertentu (mi- salnya, mahasiswa keperawatan yang rajin mengikuti perkuliahan, praktik klinik, dan mengikuti seminar-seminar keperawatan, akhirnya akan bersikap positif terhadap profesi keperawatan). Trauma. Pembentukan dan perubahan sikap terjadi melalui kejadian yang tiba-tiba dan mengejutkan sehingga menimbulkan kesan mendalam. Sebagai contoh, individu yang pernah sakit perut karena membeli dan makan rujak di pinggir jalan sampai masuk rumah sakit, akan bersikap negatif terhadap makanan tersebut. Generalisasi. Sikap terbentuk dan berubah karena peng- alaman traumatik pada individu terhadap hal tertentu dapat me- nimbulkan sikap tertentu (positif atau negatif) terhadap semua hal. Sebagai contoh, pasien yang pernah mendapat perawatan yang tidak profesional dari scorang perawet akan memiliki sikap negatif terhadap semua perawat. Faktor-faktor yang memengaruhi sikap Seperti pembahasan sebelumnya, sikap tidak dibawa sejak lahir, tetapi dipelajari dan dibentuk berdasarkan pengalaman dan la- tihan sepanjang perkembangan individu. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak lepas dari pengaruh interaksi dengan orang lain (eksternal), selain makhluk individual (internal), Kedua faktor tersebut berpengaruh terhadap sikap (lihat Gambar 11.1). Praktik atau tindakan . Suatu sikap tidak secara otomatis terwujud dalan suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi perbuatan nyata, diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memung- kinkan, antara lain fasilitas dan dukungan (support). aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 206 Promosi Kesehatan tap), tidak wajar (fobia), dan obsesi. Bentuk kompulsi terma- suk cuci tangan berkali-kali, mandi berjam-jam, memungut macam-macam barang dari lantai, berulang-ulang menghi- tung uang, berulang-ulang memeriksa pintu, dan berulang- ulang membuka surat. 6. Gagap, yaitu berbicara terhenti-henti. Ilmu Dasar Perilaku Perilaku pada dasarnya dibentuk dan dikembangkan oleh tiga cabang ilmu, yaitu psikologi, sosiologi, dan antropologi. Seperti telah dibahas sebelumnya, perilaku terbentuk dari dua faktor utama, yaitu faktor eksternal (berupa stimulus) dan faktor in- ternal (berupa respons). Faktor eksternal atau stimulus adalah faktor lingkungan, baik fisik maupun nonfisik dalam bentuk sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Faktor internal merupakan faktor dari dalam diri seseorang dalam merespons stimulus dari lingkungannya. Dari beberapa penelitian, faktor eksternal yang paling besar perannya dalam membentuk perilaku adalah faktor sosial dan budaya. Faktor sosial yang memengaruhi perilaku meliputi fak- tor sosial, pranata-pranata sosial, dan permasalahan sosial yang Jain, Ilmu yang mempelajari faktor-faktor sosial adalah sosiologi. Faktor budaya yang memengaruhi perilaku termasuk nilai-nilai, adat-istiadat, kepercayaan, kebiasaan masyarakat, dan tradisi. Faktor internal yang memengaruhi perilaku adalah perhatian, motivasi, persepsi, inteligensi, fantasi, dan sugesti yang tercakup dalam psikologi. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Sifat-Sifat Perilaku Manusia 2/1 Motif dapat dibedakan berdasarkan kebutuhan, pembentuk- annya, penyebab, dan penjenjangan. Berdasarkan kebutuhan ma- nusia, motif’ terdiri atas motif kebutuhan organis (makan, minum, dan bernapas), motif darurat (menyelamatkan diri, berusaha, membalas), dan motif objektif (eksplorasi, manipulasi). Berda- sarkan pembentukannya, motif terdiri atas motif pembawaan dan dipelajari (dorongan untuk belajar) dan berdasarkan penye- bab, terdiri atas motif ekstrinsik (ransangan dari luar) dan in- trinsik. Berdasarkan perjenjangan, menurut kebutuhan maslow, motif timbul apabila motif pada jenjang lebih rendah telah ter- penuhi. " Sifat-Sifat Khusus/Khas Individu Dalam proses belajar, individu selain memiliki ciri-ciri unum yang sama, tetapi mempunyai kepribadian yang berbeda-beda. Ahli-ahli telah banyak membuat penggolongan-penggolongan kepribadian untuk memudahkan pemahamannya meskipun peng- golongan tersebut tidak selalu tepat. Beberapa penggolongan kepribadian yang dapat menunjukkan sifat khas individu, dapat diamati berdasarkan teori tipologi, inteligensi, dan bakat. Masing- masing sifat khas individu tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Teori Tipologi Tipologi Hipocrates Galenus ‘Teor ini berdasarkan teori kosmologi empidokles, yang menyatakan bahwa sifat manusia seperti isi alam semesta, terdiri atas tanah, air, udara dan api, dan unsur cairan tubuh (Chole, Melanchole, Phlegme, dan Sanguis). Urmumnya cairan-cairan tubuh lebih dido- aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Sifat-Sifat Perilaku Manusia 2/5 Wildl kebudayaan yang dominan Tipe Sifat Ilmy pengetahuan Manusia teori : Berpikir. Ekenorit Hanis eiavotarnt Bekeria Kesenian — Manusia estetik Menikmati keindahan Keagamaan _ Manusia agama Memvja Kemasyarakatan Manusia sosial Berbckti/berkorban polifk/kenegaraan * Manusia kuasa Ingin berkuasa/memerintch menghindari diri dari ketidakenakan adalah refleks atau reaksi otomatis (batuk, bersin, dan berkedip) dan proses primer (mi- salnya haus lalu membayangkan minuman). ‘Das ich’ (the ego). Das ich’ adalah aspek psikologis kepri- badian yang timbul dari kebutuhan organisme untuk berhubungan dengan dunia luar secara realita (reality principle). Tujuannya ada- lah mendapatkan kenikmatan dan menghindari ketidaknikmatan, dalam bentuk dan cara yang sesuai dengan kondisi sebenarnya. ‘Das uber ich’ (the super ego). ‘Das uber ich’ adalah aspek sosiologis kepribadian yang merupakan: nilai-nilai_ tradisional serta cita-cita masyarakat yang diwariskan, yang diajarkan de- ngan berbagai perintah dan larangan. ‘Das uber ich’ merupakan aspek moral kepribadian. Fungsinya adalah menentukan benar- salah atau susila-asusila menurut norma umum sehingga dapat dikatakan bahwa ‘das uber ich’ adalah pedoman pribadi untuk dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat. Inteligensi Salah satu keunikan manusia dapat dilihat dari tingkat inteligensi yang dimiliki individu, yaitu tentang kecepatan dan kemampuan individu dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Ter- aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 220 Promosi Kesehatan takan bahwa bakat merupakan salah satu kemampuan manusia, yang mencakup achievement, capacity, dan aptitude (Notoatmodjo, 2003). Achievement merupakan kemampuan aktual yang dapat di- ukur dengan tes tertentu, dan capacity adalah kemampuan yang tidak diukur secara langsung, sedangkan aptitude adalah kualitas psikis yang hanya dapat diungkap melalui tes. Analisis bakat, seperti analisis psikologis lain, selalu berkaitan dengan analisis tingkah laku. Tingkah laku terdiri atas tiga aspek, yaitu aspek tindakan (performance), aspek sebab-akibat (a person causes a result), dan aspek ekspresif (seseorang melakukan sesuatu dengan cara tertentu). Bakat dan Inteligensi Bakat dan inteligensi mempunyai sifat yang hampir sama, dapat dipelajari dan dilatih. Inteligensi adalah tingkat kecerdasan atau kecakapan yang merupakan kemampuan dasar yang bersifat umum, sedangkan bakat (aptitude) merupakan kemampuan dasar yang bersifat khusus. Inteligensi merupakan kemampuan mental sebagai fungsi dasar, sedangkan bakat merupakan kemampuan mental yang dipengaruhi pengalaman. Hal ini menunjukkan, antara bakat dan inteligensi berkaitan erat dan saling mengisi. Faktor-Faktor Bakat Menurut Guilford (1959) yang kemudian dikutip oleh Notoat- modjo (2003), bakat berhubungan dengan kecakapan tertentu untuk melakukan sesuatu. Bakat mencakup dimensi perseptual, psikomotor, dan inteligensi. Dimensi perseptual. Merupakan kemampuan melakukan persepsi yang mencakup faktor kepekaan indra, perhatian, orien- tasi ruang dan waktu, dan kecepatan persepsi. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Pembentukan dan Perubahan Perilaku 225 Dasar pandangan ketiga ahli terscbut adalah bahwa untuk membentuk perilaku, perlu dilakukan conditioning atau pembiasaan, dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku sesuai harapan. Sebagai contoh, kebiasaan bangun pagi, membiasakan diri untuk tidak terlambat kuliah, atau menggosok gigi sebelum tidur. Pembentukan Perilaku dengan Pengertian (/nsight) Cara ini didasarkan pada teori kognitif, yaitu belajar dengan di- sertai oleh pengertian. Hal ini berarti selain dengan pembiasaan, pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan pengertian (in- sight). Menurut Kohler (tokoh dalam psikologi Gestalt, penganut aliran kognitif), hal penting dalam belajar adalah pengertian (insight), sedangkan menurut Thorndike, yang penting dalam belajar adalah pembiasaan. Contohnya, mahasiswa jangan sampai terlambat karena hal tersebut dapat mengganggu teman-teman yang lain, atau kalau berbicara jangan sembarangan karena dapat menyinggung perasaan orang lain. Penggunaan Model Cara ini didasarkan pada Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) atau Observational Learning Theory yang dikemukakan oleh Ban- dura (1977). Menurutnya, pada dasarnya pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan menggunakan contoh atau model. Sebagai contoh, orang tua adalah model bagi anak-anaknya, pengajar adalah model bagi peserta didik, pemimpin adalah pa- nutan bawahannya, dan tokeh masyarakat atau tokoh agama adalah panutan bagi masyarakat. Hal ini berarti bahwa perilaku yang terbentuk dalam diri anak-anak, peserta didik, dan masya- rakat selalu identik dengan perilaku yang ditampilkan oleh para tokoh atau model tersebut. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Pembentukan dan Perubahan Peiilakii 231 kepemimpinan). Perilaku dapat berubah bila stimulus yang dibe- rikan melebihi stimulus semula atau dapat meyakinkan orga- nisme, sehingga peran faktor pendorong (reinforcement) menjadi sangat penting untuk meyakinkan organisme (Gambar 13.2). | Organisme — Perhatian ~Pengertian —Penerimaan Reaksi (kesediaan untuk bertindak/perubahan sikap) Reaksi (didukung fasilitas dan dorongan lingkungan terjadi perubahan praktik) Gambar 13.2 Teori S-O-R. Cognitive dissonance theory ‘Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Festinger (1957), yang menyatakan bahwa Cognitive dissonance merupakan ketidakseim- bangan psikologis berupa ketegangan diri yang berusaha mencapai keseimbangan (consonance) kembali. Dalam diri manusia, terda- pat dua elemen kognisi yang saling bertentangan, yaitu penge- tahuan dan pendapat atau keyakinan. Kedua elemen kognisi ini merupakan penyebab terjadinya dissonance (ketidakseimbangan). Stimulus yang diterima individu dapat menimbulkan pendapat atau keyakinan yang berbeda di dalam diri individu. Kondisi ini aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 238 Promosi Kesehatan Proses Perubahan Perilaku Proses perubahan perilaku dapat terjadi dalam waktu pendck (spontan) atau dalam waktu yang lama atau lambat, bergantung pada faktor-faktor yang memengaruhinya. Hal yang penting di- kemukakan adalah bahwa tujuan akhir proses perubahan peri- laku adalah perilaku baru yang berhasil diubah dalam masyarakat dapat terwujud menjadi budaya, yaitu budaya sehat. Budaya sehat dapat dilakukan melalui pembiasaan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, dan perilaku sehat dianggap suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dan terpuaskan. Oleh karena itu, diperlukan suatu wadah atau lembaga di masyarakat, agar kebia- saan dan kebutuhan yang bersifat individual menjadi kebiasaan kelompok, dan pada akhirnya menjadi budaya masyarakat (Gam- bar 13.3). Kebiasaan perorangan Perubahan perilaku kelompok Kebiasaan kelompok Proses perubahan kelompok Perubahan sosial masyarakat Budaya masyarakat Gambar 13.3 Proses perubahan perilaku. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Teori Belajar Mengajar Berhubungan dengan Promosi Kesehatan 243 puan mengajar agar mampu mengajak orang lain untuk berpe- rilaku sehat. Proses Belajar Proses belajar (pengajaran) memiliki pengertian yang identik de- ngan pendidikan, tetapi kalau dilihat lebih lanjut, keduanya me- miliki pengertian yang berbeda. Proses belajar dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan dili- hat secara makro, sedangkan pengajaran (proses belajar) dilihat secara mikro. Belajar adalah proses yang memungkinkan terjadinya peru- bahan perilaku sebagai akibat latihan (training), praktik atau ob- servasi. Dengan demikian, proses belajar mencakup hal-hal seba- gai berikut. Latihan Latihan adalah penyempurnaan potensi tenaga yang ada dengan mengulang-ulang aktivitas tertentu, Latihan adalah suatu perbu- atan pokok dalam kegiatan belajar, sama dengan pembiasaan. Latihan dan pembiasaan terjadi dalam taraf biologis, tetapi jika berkembang ke taraf psikis, menjadi proses kesadaran yang di- sebut proses otomatisme. Proses ini menghasilkan tindakan yang tanpa disadari, cepat, dan tepat. Dalam kegiatan itu, tampak adanya gerakan berulang- ulang untuk mencapai kesempurnaan, Organisme yang ber- sangkutan menunjukkan kesediaan dan keluwesan. Menambah atau Memperoleh Tingkah Laku Baru Belajar sebenarnya adalah suatu usaha untuk memperoleh hal-hal baru dalam tingkah laku (pengetahuan, kecakapan, keterampilan, aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Teori Belajar Mengajar Berhubungan dengan Promosi Kesehatan 247 dalam belajar, harus dikenal unsur-unsurnya atau keseluruhan situasi belajar, tidak sebagian-sebagian. Menurut teori ini, sese- orang dikatakan belajar apabila memperoleh pemahaman atau pandangan (insight) dalam situasi yang problematik. Untuk men- capai pemahaman, seseorang harus dihadapkan pada masalah dan menemukan pemecahannya. Dari teori ini, terdapat beberapa prinsip belajar. 1, Belajar secara keseluruhan, yaitu menghubungkan pelajaran atau masalah dengan pelajaran atau masalah lain. 2. Belajar adalah proses perkembangan. 3. Belajar adalah reorganisasi pengalaman. 4. Belajar akan lebih berhasil jika berhubungan dengan minat, keinginan, dan bertujuan. 5. Belajar berlangsung terus-menerus. Teori J. Brauner Teori ini lebih memusatkan pada perubahan kurikulum sekolah atau lingkungan yang memungkinkan peserta didik melakukan eksplorasi penemuan-penemuan baru. Keadaan ini sering dise- but discovery learning. Hal tersebut dilakukan untuk memper- mudah dan memperbanyak belajar sehingga dapat meningkatkan proses belajar. Meskipun tidak berfokus pada perubahan peri- laku, teori ini dapat diadopsi untuk kepentingan pendidikan ke- sehatan, terutama yang berkaitan dengan perubahan metode dan penciptaan lingkungan yang mendukung. Teori Piaget Teori Piaget lebih menitikberatkan proses belajar sesuai perkem- bangan pada anak. Setiap anak memiliki jangka waktu tertentu untuk berlatih dari satu tahap ke tahap berikutnya dan hal ini aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Teori Belajar Mengajar Berhubungan dengan Promosi Kesehatan 253 tian, kekecewaan, dan ketakutan. Tujuan pendidikan dapat dicapai berdasarkan kesadaran, dan pengetahuan sebelumnya memberi petunjuk dan bimbingan ke arah alternatif peme- cahan persoalan. 5. Pengetahuan dan keterampilan yang diterima dapat diguna- kan dalam kehidupan sehari-hari. 6. Evaluasi dan perbaikan. Evaluasi dilakukan untuk menilai ke- berhasilan proses yang telah dilakukan dan melakukan per- baikan terhadap segala sesuatu yang kurang jelas. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Belajar Kegiatan belajar adalah suatu sistem yang terdiri atas input, pro- ses, dan output. Dengan demikian, dalam kegiatan belajar ter- dapat tiga persoalan yang mendasar, antara lain sebagai berikut. 1, Input, terdiri atas subjek atau sasaran belajar dari berbagai la- tar belakang. 2. Proses, berupa adanya pengaruh timbal balik di antara berbagai faktor, termasuk subjek belajar, pengajar atau fasilitator, me- tode yang digunakan, alat bantu belajar, dan materi atau bahan yang dipelajari. 3. Output, berupa kemampuan baru atau perubahan baru pada diri subjek belajar. Faktor-faktor yang memengaruhi belajar dapat dikelompokkan menjadi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga. (misalnya, sikap orang tua yang acuh, keadaan ekonomi keluarga, dan hubungan yang tidak serasi di antara anggota keluarga), lingkungan sekitar (misalnya penga- ruh teman bergaul, pengaruh media massa, dan kegiatan orga- nisasi), dan instrumental (misalnya keadaan gedung atau ruang ee aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Daftar Pustaka . Ahmadi, A.,-1999. Psikologi Sosial Jakarta. Penerbit Rineka Cipta. Azwar, A., 1983. Pengantar Pendidikan Kesehatan, Jakarta: Penetbit Sastra Hudaya. Azwar, A., 1996. Penganiar Administrasi Kesehatan. Edisi 3. Jakarta: Binarupa Aksara. Azwar, S., 1995. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Edisi 2. Jakarta: Pustaka Pelajar. Bagusmantra, I., 1986. Perencanaan Penyaluban Kesehatan Masya- rakat. Jakarta: Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Depkes RI. Departemen Kesehatan RI, 2000. Penerapan Promos Kesehatan dalam Keluarga. Jakarta: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. Direktorat Promosi Kesehatan. , 2007. Promosi Kesehatan. Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI. wwwpromokesgoid © Download 25 Mei 2007. De Leeuw, Ej, 1989. The Sane Revolution: Health promotion backgrounds, scope, prospects. ‘Assen /Maastrich: van Gorcum. Ewles, Linda dan Simnett, Ina, 1994. : Promosi Kesehatan: Petunjuk Praktik, Edisi 2. Penerjemah Ova Emilia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Gerungan, W.A., 1996. Psikologi Sosial. Bandung: Penerbit PT. Eresco. 260 aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Indeks 267 Model PRECEDE-PROCEED, pada perencanaan promosi keschatan, 108 Motif, pada sifat umum perilaku, 210 Motivasi, pada pendidikan keschatan, 14 P Pelayanan keschatan preventif, 27 Pemasaran sosial promosi kesehatan, 119 faktor penentu keberhasilan, 130 harga, 123 konsumen, 121 langkah kegiatan, 125 prinsip dan kegiatan, 120 produk, 122 promosi, 124 tempat, 124 Pemberdayaan masyarakat, 30 Pencegahan primer, 27 Pencegahan sekunder, 28 Pencegahan tersier, 28 Pendidikan kesehatan, 13 batasan dan pengertian, 147 pentingnya, 146 perencanaan program 153 perilaku dan status kesehatan, 185 ruang lingkup, 150 tahap kegiatan, 152 tujuan, 149 Penelitian Pavlov, 246 Pengamatan, pada sifat umum perilaku, 208 Pengembangan kemitraan, 30 Penyakit, 3 Penyuluhan keschatan, 12 dan promosi kesehatan, 134 perencanaan, 137 Perencanaan promosi kesehatan, 106 aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Indeks 271 Teori Kurt Lewis, 232 Teori Lawrence Green, 226 Teori Piaget, 247 Teori R. Gagne, 248 Teori Sheldon, 213 Teori stimulus organisme, 230 TTeori stimulus respons, 245 Teor tipologi, 211 Teori transformasi, 246 Theory of Reasoned Action, 58 aplikasi, $9 kelemahan, 61 keuntungan, 60 Tipologi Hipocrates Galenus, 211 Tipologi Kretschmer, 212 Tipologi Spranger, 214 Ww ‘Wawancara, pada metode promosi kesehatan, 164 Promosi Heri D. J. Maulana, C Pee Ue na dipertanyakan sarusnya. Uncul mencapai der eee tone tet ae Peer cme tn enor) Sree cnerentere re tr” Pere eee onc eene erin PROMOSI KESEHATAN pada intinya adalah: SURO BUELL ala uci Un penyuluban keschatan, dan serangkaian kegiacan I mobilisasi sosial) untuk mencapai derajat kes Namur, pertanyaanaya, apakah promosi kesch DeRose unaroete eae marten F a4 een re Woe eto tel etc ete hetero metrer O Reearet Rr ene een enn ot etry masyarakar? Buku PROMOS! KESEHATAN adalah jawabannya! BAGIAN 1 PEMIKIRAN DASAR PROMOSI KESEHATAN Kesehatan dan promosi keschatan Konsep promosi kesehatan WSC TEU Leia Ne CUM eet Seale Coco ELD Strategi promosi kesehatan BAGIAN 2 KOMPETENSI INTI PROMOSI KESEHATAN Aplikasi komunikasi dalam promosi kesehatan eens ecient I ert Tn routes eee te Konsep penyuluhan kesehatan f eee retin etd ee tet Metode dan media promosi keschatan BAGIAN 3 KONSEP PERILAKU DAN PROSES BELAJAR ewan tent Sifat-sifat perilaku manusia Renee en eet Sener a es en eg cen tesa enc ters econ tent YAS) B}