Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang masih
memberikan nafas kehidupan, sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan
makalah ini dengan judul Otonomi Daerah.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan. Akhirnya kami sampaikan terima kasih atas
perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini
bermanfaat bagi kami sendiri dan khususnya pembaca pada umumnya. Tak ada
gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini.
Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif sangat
kami harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas
yang lain dan pada waktu mendatang.

Belitang, Agustus 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Negara Indonesia adalah negara yang menganut bentuk Negara Kesatuan
(unitary) namun hal ini akan berbeda ketika kita lihat dalam sistem pemerintahan
daerah. Negara Indonesia telah mengadopsi prinsip-prinsip federalisme seperti
otonomi daerah. Hal ini dapat dilihat utamanya sesudah reformasi. Bentuk otonomi
daerah sebenarnya lebih mirip sistem dalam negara Federal, dimana pada umumnya
dipahami bahwa dalam sistem federalisme, konsep kekuasaan asli atau kekuasaan sisa
(residual power) berada di daerah atau bagian, sedangkan dalam sistem negara
kesatuan (unitary), kekuasaan asli atau kekuasaan sisa itu berada di pusat sehingga
terdapat pengalihan kekuasaan pemerintah dari pusat ke daerah padahal dalam negara
kesatuan idealnya semua kebijakan terdapat ditangan pemerintahan.
Dari hal tersebut utamanya setelah reformasi dan awal dibentuknya UndangUndang No. 22 tahun 1999 bahkan sampai munculnya Undang-Undang No. 32 tahun
2004 memunculkan banyak asumsi oleh beberapa kalangan bahwa otonomi daerah
dirasa sangat rawan untuk diterapkan dimana celah untuk munculnya raja-raja baru
yang korup di daerah akan semakin luas bahkan kemungkinan munculnya disintegrasi
akan semakin luas. Banyak pihak-pihak yang berkepentingan untuk mendapatkan
keuntungan di daerah semakin besar sehingga sangat mungkin untuk lahirnya praktikpratik korupsi ataupun penyelewengan terhadap wewenang di daerah tanpa adanya
pengawasan dari pusat karena rumah tangga daerah telah diatur secara otonom oleh
daerah.
Namun

sebenarnya

asumsi

tersebut

sungguh

telah

gugur

untuk

dipermasalahkan karena walaupun dalam negara Indonesia, jika dilihat dari


bentuknya yang menganut negara kesatuan mengindikasikan bahwa kekuasaan asli
atau kekuasaan sisa itu berada di pusat (sentralistik), namun pada taraf berjalannya
pemerintahan diperlukan sebuah sistem yang dapat mengakomodir pemerintahan di
daerah yang mengatur hubungan antara pemerintah pusat dengan daerah dan azas
yang paling tepat dan memang telah berkembang di Indonesia sampai saat ini adalah
desentralisasi yang di artikan dalam bahasa lain yaitu otonomi daerah, dan azasazas lain yang mendukung seperti dekonsentrasi, dan tugas pembantuan. Selain itu
pada hakikatnya kecenderungan bangsa Indonesia memilih bentuk negara kesatuan
pada saat awal berdirinya negara Indonesia adalah didorong oleh kekhawatiran politik
pecah belah yang selalu dipergunakan oleh kolonial Belanda untuk memecah belah
negara Indonesia.

Kebijakan otonomi daerah, telah diletakkan dasar-dasarnya sejak jauh


sebelum terjadinya krisis nasional yang diikuti dengan gelombang reformasi besarbesaran di tanah air. Namun, perumusan kebijakan otonomi daerah itu masih bersifat
setengah-setengah dan dilakukan tahap demi tahap yang sangat lamban. Setelah
terjadinya reformasi yang disertai pula oleh gelombang tuntutan ketidakpuasan
masyarakat di berbagai daerah mengenai pola hubungan antara pusat dan daerah yang
dirasakan tidak adil, maka tidak ada jalan lian bagi kita kecuali mempercepat
pelaksanaan kebijakan otonomi daerah itu, dan bahkan dengan skala yang sangat luas
yang diletakkan diatas landasan konstitusional dan operasional yang lebih radikal.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian otonomi daerah?
2. Bagaimana hakikat otonomi daerah?
3. Bagaimana prinsip otonomi daerah?
4. Apa dasar hukum pelaksanaan otonomi daerah?
5. Apa tujuan pelaksanaan otonomi daerah?
6. Apa dampak pelaksanaan otonomi daerah?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk menjelaskan pengertian otonomi daerah
2. Untuk mengetahui hakikat otonomi daerah
3. Untuk mengetahui prinsip otonomi daerah
4. Untuk mengetahui dasar hukum pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia
5. Untuk mengetahui tujuan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia
6. Untuk mengetahui dampak pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Otonomi Daerah
Otonomi Daerah adalah kewenangan Daerah Otonom untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan
aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan (pasal 1 huruf (h)
UU NOMOR 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah).
Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat
hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (pasal 1 huruf (i) UU
NOMOR 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah).
Dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 5, pengertian otonomi
derah adalah hak ,wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai
dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan menurut Suparmoko (2002:61)
mengartikan otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan
aspirasi masyarakat.
Otonomi daerah dengan sistem desentralisasi yaitu penyerahan wewenang
pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom dalam rangka negara kesatuan.
Desentralisasi mengandung segi positif dalam penyelenggaraan pemerintahan baik
dari sudaut politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan, karena dilihat
dari fungsi pemerintahan. Sedangkan otonomi daerah dengan sistem dekonsentrasi
adalah peimpahan wewenang dari pemerintahan kepada daerah otonom sebagai wakil
pemerintah dan perangkat pusat di daerah dalam kerangka negara kesatuan, dan
lembaga yang melimpahkan kewenangan dapat memberikan perintah kepada pejabat
yang telah dilimpahi kewenangan itu mengenai pengambilan atau pembuatan
keputusan.
2.2 Hakikat Otonomi Daerah
Pelaksanaan otonomi daerah pada hakekatnya adalah upaya untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan
pembangunan sesuai dengan kehendak dan kepentingan masyarakat. Berkaiatan
dengan hakekat otonomi daerah tersebut yang berkenaan dengan pelimpahan
wewenang pengambilan keputusan kebijakan, pengelolaan dana publik dan

pengaturan kegiatan dalam penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan masyarakat


maka peranan data keuangan daerah sangat dibututuhkan untuk mengidentifikasi
sumber-sumber pembiayaan daerah serta jenis dan besar belanja yang harus
dikeluarkan agar perencanaan keuangan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Data keuangan daerah yang memberikan gambaran statistik perkembangan anggaran
dan realisasi, baik penerimaan maupun pengeluaran dan analisa terhadapnya
merupakan informasi yang penting terutama untuk membuat kebijakan dalam
pengelolaan keuangan daerah untuk meliahat kemampuan/ kemandirian daerah
(Yuliati, 2001:22)
2.3 Prinsip Otonomi Daerah
Menurut

penjelasan

Undang-Undang

No.

32

tahun

2004,

prinsip

penyelenggaraan otonomi daerah adalah : penyelenggaraan otonomi daerah


dilaksanakan dengan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan serta potensi dan
keaneka ragaman daerah. Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas,
nyata dan bertanggung jawab. Pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh
diletakkan pada daerah dan daerah kota, sedangkan otonomi provinsi adalah otonomi
yang terbatas. Pelaksanaan otonomi harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga
tetap terjamin hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. Pelaksanaan otonomi
daerah harus lebih meningkatkan kemandirian daerah kabupaten dan derah kota tidak
lagi wilayah administrasi. Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina
oleh pemerintah. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan
fungsi badan legislatif daerah baik sebagai fungsi legislatif, fungsi pengawasan,
mempunyai fungsi anggaran atas penyelenggaraan otonomi daerah. Pelaksanaan
dekonsentrasi diletakkan pada daerah propinsi dalam kedudukan sebagai wilayah
administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintah tertentu dilimpahkan
kepada gubernur sebagai wakil pemerintah. Pelaksanaan asas tugas pembantuan
dimungkinkan tidak hanya di pemerintah daerah dan daerah kepada desa yang disertai
pembiayaan, sarana dan pra sarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban
melaporkan pelaksanaan dan mempertanggung jawabkan kepada yang menugaskan.
Meskipun UUD 1945 yang menjadi acuan konstitusi telah menetapkan konsep
dasar tentang kebijakan otonomi kepada daerah-daerah, tetapi dalam perkembangan
sejarahnya ide otonomi daerah itu mengalami berbagai perubahan bentuk kebijakan
yang disebabkan oleh kuatnya tarik-menarik kalangan elit politik pada masanya.
Apabila perkembangan otonomi daerah dianalisis sejak tahun 1945, akan terlihat
bahwa perubahan-perubahan konsepsi otonomi banyak ditentukan oleh para elit

politik yang berkuasa pada saat it. Hal itu terlihat jelas dalam aturan-aturan mengenai
pemerintahan daerah sebagaimana yang terdapat dalam UU berikut ini:
1. UU No. 1 tahun 1945Kebijakan Otonomi daerah pada masa ini lebih
menitikberatkan pada dekonsentrasi. Kepala daerah hanyalah kepanjangan
tangan pemerintahan pusat.
2. UU No. 22 tahun 1948Mulai tahun ini Kebijakan otonomi daerah lebih
menitikberatkan pada desentralisasi. Tetapi masih ada dualisme peran di kepala
daerah, di satu sisi ia punya peran besar untuk daerah, tapi juga masih menjadi
alat pemerintah pusat.
3. UU No. 1 tahun 1957Kebijakan otonomi daerah pada masa ini masih bersifat
dualisme, di mana kepala daerah bertanggung jawab penuh pada DPRD, tetapi
juga masih alat pemerintah pusat.
4. Penetapan Presiden No.6 tahun 1959Pada masa ini kebijakan otonomi daerah
lebih menekankan dekonsentrasi. Melalui penpres ini kepala daerah diangkat
oleh pemerintah pusat terutama dari kalangan pamong praja.
5. UU No. 8 tahun 1965Pada masa ini kebijakan otonomi daerah menitikberatkan
pada desentralisasi dengan memberikan otonomi yang seluas-luasnya bagi
daerah, sedangkan dekonsentrasi diterapkan hanya sebagai pelengkap saja
6. UU No. 5 tahun 1974 Setelah terjadinya G.30.S PKI pada dasarnya telah terjadi
kevakuman dalam pengaturan penyelenggaraan pemerintahan di daerah sampai
dengan dikeluarkanya UU NO. 5 tahun 1974 yaitu desentralisasi, dekonsentrasi
dan tugas perbantuan. Sejalan dengan kebijakan ekonomi pada awal Ode Baru,
maka pada masa berlakunya UU No. 5 tahun 1974 pembangunan menjadi isu
sentral dibanding dengan politik. Pada penerapanya, terasa seolah-olah telah
terjadi proses depolitisasi peran pemerintah daerah dan menggantikannya
dengan peran pembangunan yang menjadi isu nasional.
7. UU No. 22 tahun 1999 Pada masa ini terjadi lagi perubahan yang menjadikan
pemerintah daerah sebagai titik sentral dalam penyelenggaraan pemerintahan
dan pembangunan dengan mengedapankan otonomi luas, nyata dan
bertanggung jawab.
2.4 Dasar Hukum Pelaksanaan Otonomi Daerah Di Indonesia
Dasar Hukum Otonomi Daerah berpijak pada dasar Perundang-undangan
yang kuat, yakni :
1. Undang-undang Dasar. Sebagaimana telah disebut di atas Undang-undang
Dasar 1945 merupakan landasan yang kuat untuk menyelenggarakan Otonomi
Daerah. Pasal 18 UUD menyebutkan adanya pembagian pengelolaan
pemerintahan pusat dan daerah.

2. Ketetapan MPR-RI Tap MPR-RI No. XV/MPR/1998 tentang penyelenggaraan


Otonomi Daerah : Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya
Nasional yang berkeadilan, erta perimbangan kekuangan Pusat dan Daerah
dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3. Undang-Undang Undang-undang N0.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah
pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih
mengutamakan pelaksanaan asas Desentralisasi. Hal-hal yang mendasar dalam
UU No.22/1999 adalah mendorong untuk pemberdayaan masyarakat,
menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran masyarakat,
mengembangkan peran dan fungsi DPRD.
Dari ketiga dasar perundang-undangan tersebut di atas tidak diragukan lagi
bahwa pelaksanaan Otonomi Daerah memiliki dasar hukum yang kuat. Tinggal
permasalahannya adalah bagaimana dengan dasar hukum yang kuat tersebut
pelaksanaan Otonomi Daerah bisa dijalankan secara optimal.
Pokok-Pokok Pikiran Otonomi Daerah Isi dan jiwa yang terkandung dalam
pasal 18 UUD 1945 beserta penjelasannya menjadi pedoman dalam penyusunan UU
No. 22/1999 dengan pokok-pokok pikiran sebagai berikut :
1. Sistem ketatanegaraan Indonesia wajib menjalankan prinsip-prinsip pembagian
kewenangan berdasarkan asas konsentrasi dan desentralisasi dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi dan dekonsentrasi adalah
daerah

propinsi,

sedangkan

daerah

yang

dibentuk

berdasarkan

asas

desentralisasi adalah daerah Kabupaten dan daerah Kota. Daerah yang dibentuk
dengan asas desentralisasi berwenang untuk menentukan dan melaksanakan
kebijakan atas prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.
3. Pembagian daerah diluar propinsi dibagi habis ke dalam daerah otonom.
Dengan demikian, wilayah administrasi yang berada dalam daerah Kabupaten
dan daerah Kota dapat dijadikan Daerah Otonom atau dihapus.
4. Kecamatan yang menurut Undang-undang Nomor 5 th 1974 sebagai wilayah
administrasi dalam rangka dekonsentrasi, menurut UU No 22/99 kedudukanya
diubah menjadi perangkat daerah Kabupaten atau daerah Kota.
2.5 Tujuan Pelaksanaan Otonomi Daerah
Menurut Mardiasmo (Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah) adalah:
Untuk

meningkatkan

pelayanan

publik

(public

service)

dam

memajukan

perekonomian daerah. Pada dasarnya terkandung tiga misi utama pelaksanaan


otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, yaitu:

Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan

masyarakat.
Menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah.
Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat (publik) untuk
berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Selanjutnya tujuan otonomi daerah menurut penjelasan Undang-undang No 32

tahun 2004 pada dasarnya adalah sama yaitu otonomi daerah diarahkan untuk
memacu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, meningkatkan kesejahteraan
rakyat, menggalakkan prakarsa dan peran serta aktif masyarakat secara nyata,
dinamis, dan bertanggung jawab sehingga memperkuat persatuan dan kesatuan
bangsa, mengurangi beban pemerintah pusat dan campur tangan di daerah yang akan
memberikan peluang untuk koordinasi tingkat lokal.
2.6 Dampak Pelaksanaan Otonomi Daerah
Dampak positif dalam bidang politik adalah sebagian besar keputusan dan
kebijakan yang berada di daerah dapat diputuskan di daerah tanpa adanya campur
tangan dari pemerintahan di pusat. Hal ini menyebabkan pemerintah daerah lebih
aktif dalam mengelola daerahnya.
Tetapi, dampak negatif yang terlihat dari sistem ini adalah euforia yang
berlebihan di mana wewenang tersebut hanya mementingkat kepentingan golongan
dan kelompok serta digunakan untuk mengeruk keuntungan pribadi atau oknum. Hal
tersebut terjadi karena sulit untuk dikontrol oleh pemerintah di tingkat pusat.
Untuk mendukung jalannya pemerintahan di daerah, diperlukan dana yang
tidak sedikit. Akan tetapi, tidak semua daerah mampu mendanai sendiri jalannya roda
pemerintahan. Oleh karena itu, Pemerintah harus mampu membagi adil dan merata
hasil potensi masyarakat. Agar adil dan merata, diperlukan aturan yang baku.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari berbagai uraian diatas penulis dapat menyimpulkan
bahwa otonomi daerah dibentuk sebagai jalan pintas pemerintah
pusat

untuk

melaksanakan

pengontrolan

dan

pelaksanaan

pemerintahan secara langsung di daerah yang sesuai dengan


karakteristik masing masing daerah dan kemudian semua
kebijakan atau hukum yang akan dibentuk di daerah tersebut
adalah merupakan bentuk aplikasi langsung terhadap sistem
demokratisasi yang mengikutsertakan rakyat melalui lembaga atau
partai politik di daerah. Tujuan daripada pengadaan kebijakan
otonomi

daerah

masyarakat

adalah

daerah

untuk

menuju

pengembangan

kesejahteraan

daerah

dengan

cara

dan
dan

jalannya masing masing.


3.2 Saran
Makalah

ini

ditulis

dengan

keterbatasan

penulis

atas

pengalaman dan ilmu pengetahuan, sehingga makalah ini tercipta


jauh dari hasil yang sempurna, semoga makalah ini bermanfaat
bagi penulis dan pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
http://adityanovista.blogspot.com/2013/12/makalah-pancasila-hubunganpembukaan.html. Diakses pada tanggal 29 Agustus 2015.
http://bodohtapisemangat.blogspot.com/2015/03/makalah-otonomi-daerah.html.
Diakses pada tanggal 29 Agustus 2015.