Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA

PERCOBAAN I
CARA STERILISASI PERALATAN DAN BAHAN

Disusun Oleh
Kelompok/Golongan

1/B-2
Anggota
Tanggal praktikum
Nama asisten
Dosen pembimbing

: Ainul Mardziyati Agissa (G1F014042)


Gading Risang
(G1F014044)
Siskha Novi Nugrahaheni(G1F014046)
: 27 September 2016
: Larasati
: Hening Pratiwi, M.Sc., Apt

LABORATORIUM FARMASETIKA
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016
PERCOBAAN 1
CARA STERILISASI PERALATAN DAN BAHAN
I. PENDAHULUAN
A. Tujuan
Mampu menguraikan dan melakukan pencucian dan sterilisasi peralatan dan

bahan yang akan digunakan untuk mrnangani produk steril.


Mampu menguraikan cara-cara sterilisasi yang dilakukan terhadap alat dan
bahan berdasarkan karakteristik alan dan bahan tersebut.

B. Dasar Teori
Sterilisasi adalah proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat pada
atau didalam suatu benda. Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh suatu jasad

renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang
paling tahan panas yaitu spora bakteri. Adanya pertumbuhan mikroorganisme menujukkan
bahwa pertumbuhan bakteri masih berlangsung dan tidak sempurna proses sterilisasi. Jika
sterilisasi berlangsung sempurna , maka spora bakteri yang merupakan bentuk paling
resisten dari kehidupan mikrobia akan diluluhkan (Lay dan Hastowo, 1992)
Perbekalan steril adalah semua sediaan steril farmasi dan peralatan kesehatan
termasuk ruang-ruang yang digunakan untuk memperlakukan semua perbekalan steril.
1. Sediaan farmasi steril, meliputi :
Obat suntik (injeksi), terdiri dari single dose dan multi dose.
Tetes mata baik single dose maupun multi dose.
Sediaan biologis, seperti : sera/serum, vaksin.
Sediaan darah, seperti : sediaan plasma, sediaan darah utuh.
Salep mata .
Sediaan susuk (implant), biasanya berisi hormone untuk KB.
2. Alat kesehatan steril, meliputi :
Alat kesehatan steril reusable, contohnya : peralatan operasi.
Alat kesehatan steril disposable, contohnya : spit / syringe , jarum suntik, kateter,
infusion set, dan lain-lain.
3. Perlengkapan steril, seperti :
Linen, contohnya : baju operasi lengkap, dock, alas meja operasi
Sarung tangan steril
Rungan steril, sperti ruangan operasi
(Tietjen,2004)
Perbekalan steril terdiri atas sediaan farmasi dan alat kesehatan steril. Sediaan
farmasi steril adalah sediaan farmasi yang memenuhi syarat bebas dari mikrooraganisme,
selain syarat fisika dan kimia tertentu. Sedangkan pengertian alat kesehatan adalah alat
kesehatan yang memenuhi syarat bebas mikroorganisme. Pengertian alat kesehatan
menurut undang undang RI no 36 Tahun 2009 adalah ingrument, apparatus, mesin, implant
yang mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosa, mengobati,
meringankan penyakit, merawat orang cepat memulihkan kesehatan pada manusia dan atau
untuk membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh. Untuk mengetahui steril atau
tidaknya suatu bahan/ kemasan setelah disterilisasikan harus melalui tahapan uji sterilisasi.
Uji sterilisasi berfungsi untuk menetapkan apakah bahan farmakope yang harus steril
memenuhi syarat berkenaan dengan uji sterilisasi seperti yang tertera pada masing-masing
monografi.

Setelah

diketahui hasil

uji

sterilisasi

menyatakan

tidak ada

lagi

mikrooraganisme yang hidup, maka bahan/ kemasan dinyatakan steril. Terdapat beberapa
cara uji sterilisasi, antara lain :
a. Media thioglikoat cair

Ph media setelah sterilisasi 7,1 0,2. Media yang digunakan untuk inkubasi dalam
kondisi aerob.
b. Media thioglikolat alternative
Ph media setelah sterilisasi 7,1 0,2. Media yang digunakan untuk menjamin
kondisi anaerob selama masa inkubasi.
c. Soybean-Casein digest medium
Ph medium setelah sterilisasi 7,3 0,2. Media yang digunakan untuk inkubasi
dalam kondisi aerob.
(Depkes RI , 1995).
Terdapat lima cara umum yang digunakan dalam sterilisasi yaitu penggunaan panas
(fisika), kimia, penyaringan (filtrasi), gas, dan radiasi. Bila panas digunakan bersama-sama
dengan uap air maka disebut sterilisasi panas basah, bila tanpa kelembapan maka disebut
sterilisasi panas kering. Sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau
radiasi. Metode sterilisasi yang umum digunakan adalah menggunakan panas
(Hadioetomo, 1993).
Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 5 cara, yaitu:
1. Sterilisasi secara mekanik (filtrasi)
Sterilisasi ini menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0,22 mikron
atau 0,45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini
ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka terhadap panas, misalnya larutan enzim dan
antibiotik (Tietjen, 2004).
2. Sterilisasi fisik
a. Pemijaran (dengan api langsung)
Membakar alat secara langsung, contoh: pinset.
b. Panas kering
Sterilisasi dengan oven kira-kira 160-180o C. sterilisasi panas kering cocok untuk
alat yang terbuat dari kaca.
c. Uap air panas
Konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat
menggunakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.
d. Uap air panas bertekanan
Dengan menggunakan alat autoklaf (Gabriel, 1996).
3. Sterilisasi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan, antara lain yaitu
alkohol (Machmud, 2008).
4. Sterilisasi radiasi
Prinsip sterilisasi radiasi adalah radiasi menembus dinding sel dengan langsung
mengenai DNA dari sehingga mikroba mengalami mutasi (Gabriel, 1996).
a. Radiasi elektromagnetik (EM) adalah sterilisasi menggunakan sinar ultraviolet
(UV). Sinar UV ini memotong DNA mikroorganisme sehingga ekspresi DNA tidak

terjadi. keterbatasannya sterilisasi cara ini hanya bisa bekerja pada permukaan,
tidak bisa menembuh bahan padat.
b. Radiasi pengion adalah metode sterilisasi menggunakan sinar untuk merusak
DNA mikroorganisme, kelebihannya bisa menembus zat padat (Volk, 1988).
5. Sterilisasi gas
Sterilisasi gas dilakukan dengan pemaparan gas untuk membunuh mikroorganisme
dan sporanya. Dalam pensterilan digunakan bahan kimia dalam bentuk gas atau uap
seperti etilen oksida, formaldehid, propilen oksida, klorin oksida (Lucas, 2006).

II. PEMBAHASAN
A. Pemerian
Etanol 70%
Nama resmi
: Aethanolum Dilutum
Pemerian
: Cairan bening, mudah menguap dan mudah bergerak; tidak
berwarna; bau khas; rasa panas. Mudah terbakar memberikan nyala
Penyimpanan

biru yang tidak berasap.


: dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya; ditempat sejuk,

Khasiat
Berat jenis

jauh dari nyala api.


: Zat tambahan/pelarut.
: 0,8860-0,8883 (Depkes RI, 1995)

B. Sterilisasi
Dalam sterilisasi terdapat alat-alat yang digunakan untuk mensterilisasi, alat-alat
yang digunakan pada praktikum kali ini antara lain:
a. Autoklaf
Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang
digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan yang
digunakan pada umumnya 15 psi atau sekitar 2 atm dengan suhu 121oC. Kelebihan
penggunaan autoklaf adalah bias membunuh endospore pada bakteri termofilik.
Kekurangannya adalah jika terjadi kesalahan pengoperasian alat, maka menimbulkan
kepercayaan meleset dalam sterilisasi (Volk, 1988).
b. Oven
Oven atau drying oven merupakan alat yang digunakan untuk sterilisasi atau
pembersihan dengan menggunakan udara kering, alat sterilisasi ini dipakai untuk
mensterilkan alat-alat gelas seperti erlenmeyer, cawan petri, tabung reaksi dan gelas
lainnya. Bahan-bahan seperti kapas, kain dan kertas juga dapat disterilkan dalam oven
tetapi dalam temperatur tertentu, pada umumnya temperatur yang digunakan pada
sterilisasi cara kering adalah sekitar 170o C selama 15 menit. Perlu diperhatikan bahwa
lamanya sterilisasi tergantung pada jumlah alat disterilkan dan ketahanan alat terhadap
panas (Lucas, 2006).
Pada praktikum ini yang pertama dilakukan yaitu sterilisasi tutup karet botol infus.
Pertama rendam tutup karet botol infus dengan alkohol 70% selama 15 menit,
menggunakan alkohol 70% karena mampu menyingkirkan minyak, partikel debu, dan
bakteri (Volk, 1988). Setelah itu cucilah tutup karet botol infus dengn air hingga terlihat
bersih, setelah itu ditempelkan kertas indikator dan dibungkus dengan menggunakan
aluminium foil, lalu dimasukkan ke dalam autoklaf selama 15 menit dengan suhu 121oC.
Cara pengerjaan yang kedua yaitu mensterilisasi alat kesehatan (instrumen).
Pertama instrumen yang sudah bersih direndam dalam larutan alkohol 70 oC selama 30

menit. Kemudian dibilas dengan air biasa atau air panas yang mengalir, lalu dikeringkan
jika alat sudah kering alat ditempelkan kertas indikator dan dimasukkan ke dalam bak
instrumen yang terbuat dari stainless steel kemudian bak instrumen dibungkus dengan
kain. Sterilisasi dalam oven 170oC selama 15 menit
Cara pengerjaan yang ketiga yaitu sterilisasi ampul/vial/botol infus dengan
merendam ampul/vial/botol infus dengan menggunakan alkohol 70% selama 15menit,
kemudian bilas dengan air hinga bersih kemudian keringkan lalu ditempelkan kertas
indikator dan dan masukkan ke dalam oven, set temperature pada 170oC selama 15 menit
Cara untuk menggunakan autoklaf adalah pertama sebelum melakukan sterilisasi
dicek dahulu banyaknya air dalam autoklaf. Jika air kurang dari batas yang ditentukan,
maka dapat ditambah air sampai batas tersebut. Gunakan air hasil destilasi, untuk
menghindari terbentuknya kerak dan karat. Selanjutnya masukkan peralatan dan bahan.
Jika mensterilisasi botol bertutup ulir, maka tutup harus dikendorkan. Lalu tutup autoklaf
dengan rapat dan kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yang keluar dari bibir
autoklaf. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih dahulu. Nyalakan autoklaf, diatur
timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121 oC (Shalaby, 2013). Tunggu samapai
air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoklaf dan terdesak keluar dari
klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai
selesai. Pengencangan klep dilakukan dengan urutan baut saling berseberangan. Hal ini
bertujuan untuk setiap sisi alat tertutup rapat. Penghitungan waktu 15 menit dimulai sejak
tekanan mencapai 2 atm. Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam
kompartemen turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada presure
gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan keluarkan isi
autoklaf dengan hati-hati.
Cara penggunaan oven, yang pertama hubungkan drying oven dengan sumber
listrik. Hidupkan Drying Oven dengan menekan tombol ON, kemudian lampu di drying
oven akan berkedip, lalu atur suhu (160oC) yang diinginkan pada drying oven. Lalu
masukkan peralatan yang ingin disterilisasi kemudian atur dengan rapi dan tutup pintu
oven dengan rapat dan tunggu selama beberapa waktu (15 menit).

C. Evaluasi
Jenis-jenis indikator sterilisasi
Indikator mekanik, merupakan bagian dari instrumen seperti gauge, table, dan indikator
suhu maupun tekanan yang menunjukkan apakah alat sterilisasi bekerja dengan baik.
Kegunaan indikator mekanik untuk pengukuran temperatur dan tekanan, yang
merupakan fungsi penting dari sistem monitoring sterilisasi.

Indikator kimia, merupakan indikator yang menandai terjadinya paparan sterilisasi

(panas/ gas etilen oksida) pada objek yang disetrilkan dengan adanya perubahan warna.
Indikator biologi, merupakan sediaan berisi populasi mikroorganisme spesifik dalam
bentuk spora yang bersifat resisten terhadap beberapa parameter yang terkontrol dan
terukur dalam suatu proses sterilisasi tertentu. Pinsip kerjanya dengan mensterilkan
sporran hidup mikroorganisme yang non patogenik dan sangat resisten dalam jumlah
tertentu. Bila selama poses sterilisasi spora-spora tersebut terbunuh, maka dapat
diasumsikan bahwa mikroorganisme lainnya juga ikut terbunuh dan benda yang kita
sterilkan bisa disebut steril (Depkes RI dan PIPSI, 2009).
Hasil evaluasi metode sterilisasi adalah dengan mengamati kertas indikator

sterilsasi. Kertas sterilisasi ini termasuk indikator sterilisasi kimia, yaitu indikator yang
akan berubah warna karena proses sterilisasi (panas). Hasil evaluasi metode sterlisasi yang
kami lakukan menandakan bahwa proses sterilisasi berjalan baik dibuktikan dengan
perubahan warna kertas indikator sterilisasi menjadi lebih keruh (Lestari, 2012) seperti
pada gambar.

Setelah Proses Sterilisasi


(Menjadi Lebih Keruh)

Sebelum Proses Sterilisasi

III. KESIMPULAN
Pencucian dan sterilisasi tutup karet botol infus, instrumen dan ampul/vial/botol infus
menggunakan alkohol 70% karena mampu menyingkirkan minyak, partikel, debu dan

bakteri.
Bahan pengemas yang tidak tahan panas seperti tutup karet botol infus disterilisasi
dengan sterilisasi basah menggunakan autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. Pada
metode ini uap air akan menembus dinding sel mikroba dan mengakibatkan koagulasi

hingga spora bakteri akan mati dan tercapai keadaan steril.


Sterilisasi alat kesehatan reusable (instrumen) dan bahan pengemas yang tahan panas
seperti ampul/vial/botol infus disterilkan dengan sterilisasi kering menggunakan oven
pada suhu 170oC selama 15 menit.
IV. DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI dan Persatuan Instalasi Pusat Sterilisasi Indonesia (PIPSI), 2009, Pedoman
Instalasi Pusat Sterilisasi (Central Sterile Supply Department/ CSSD) di Rumah
Sakit, Depkes RI, Jakarta.
Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI, Jakarta.
Gabriel, 1996, Fisika Kedokteran, EGC, Jakarta.
Hadioetomo, R. S., 1993, Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek, Gramedia, Jakarta.
Lay dan Hastowo, 1992, Mikrobiologi, Rajawali press, Jakarta.
Lestari, N., dan Sunan, I. K., 2012, Efektivitas Penggunaan Indikator Kimia Internal
Bentuk Strip pada Sterilisasi Panas Basah, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas
Padjadjaran, Bandung.
Lucas, S., 2006, Formulasi Steril, Andi, Yogyakarta.
Machmud, M., 2008, Teknik Penyimpanan dan Pemeliharaan Mikroba, Balai Penelitian
Bioteknologi Tanaman Pangan, Bogor.
Shalaby, S. W., Nagatomi, S. D., and Powell, E. F., 2013, Sterilization Techniques for
Biotextiles for Medical Applications, Woodhead Publishing Limited, 1(6), 157-168.
Tietjen, Linda, Debora Bossemeyer, Noel Mc Intosh, 2004, Panduan Pencegahan Infeksi
untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawihardjo, Jakarta.
Volk, W. A., dan M. F. Wheeler, 1993, Mikrobiologi Dasar, Erlangga, Jakarta.