Anda di halaman 1dari 4

Pengujian Rincian atas Saldo

Pengujian rincian atas saldo berfokus pada perolehan bukti secara langsung tentang saldo
akun, bukan debet dan kredit secara individual yang ada dalam neraca. Contohnya auditor
meminta kepada bank untuk mengkonfirmasi saldo kas dan pelanggan untuk mengkonfirmasi
saldo piutang usaha. Pengujian ini dikatakan efektif bergantung pada prosedur tertentu yang
dilakukan dan jenis bukti yang diperoleh.
Risiko Deteksi
Tinggi

Sedang

Pengujian Rincian atas Saldo


Menscan rekonsiliasi bank yang disiapkan klien dan memverifikasi
ketepatan matematis atas rekonsiliasi tersebut.
Review rekonsiliasi bank yang disiapkan klien dan memverifikasi pospos rekonsiliasi yang penting serta ketepatan matematis rekonsiliasi
tersebut.
Siapkan rekonsiliasi bank dengan menggunakan laporan bank yang

Rendah

diperoleh dari klien dan lakukan vverifikasi pos-pos rekonsiliasi yang


penting serta ketepatan matematisnya.
Meminta laporan bank langsung dari bank, menyiapkan rekonsiliasi

Sangat rendah

bank, dan melakukan verifikasi pada seluruh pos-pos rekonsiliasi serta

ketepatan matematisnya.
Saat risiko deteksi tinggi, auditor menggunakan dokumen yang disiapkan secara intern dan
melakukan prosedur audit secara terbatas. Dan saat risiko deteksi sangat rendah, auditor
menggunakan dokumen yang diperoleh secara langsung dari bank dan melakukan prosedur
audit yang diperluas.
Pengujian rincian atas saldo sering menggunakan dokumen eksternal dan/atau pengetahuan
personal auditor secara langsung. Pengujian ini juga sangat membutuhkan waktu yang sangat
banyak dan mahal untuk dilakukan.
Pengujian Rincian atas Ekstimasi Akuntansi
Estimasi akuntansi merupakan perkiraan elemen laporan keuangan, item, atau akun atas tidak
adanya pengukuran yang tepat. Contohnya yaitu penyusutan periodik, penyisihan piutang tak
tertagih, dan beban pinjaman. Pengujian estimasi akuntansi meliputi pengujian atas saldo
tetapi selalu memerlukan bukti yang unik. Contohnya konfirmasi piutang usaha dapat
memberikan bukti bahwa pelangan mempunyai hutang dalam jumlah tertentu kepada
perusahaan. Akan tetapi, hal ini tidak memberikan bukti bahwa piutang dapat ditagih.

AU 342.07, Auditing Accounting Estimates (SAS 57), menyebutkan bahwa tujuan auditor
dalam mengevaluasi estimasi akuntansi adalah untuk memberikan kepastian yang layak
bahwa:
1) Seluruh estimasi akuntansi yang penting dalam laporan keuangan telah dikembangkan
2) Estimasi akuntansi telah sesuai dengan lingkungan atau situasi yang ada
3) Estimasi akuntansi telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku dan
diungkapkan secara memadai
Struktur pengendalian intern perusahaan dapat mengurangi kemungkinan salah saji material
pada estimasi akuntansi dan dapat mengurangi luas pengujian substantif. AU 342.09
menguraikan bahwa auditor harus mengkonsentrasikan pada asumsi-asumsi dan faktor-faktor
penting yang digunakan manajemen seperti (1) signifikansi terhadap estimasi akuntansi, (2)
sensitif terhadap variasi, (3) penyimpangan dari pola lama, dan (4) subjektif serta dapat
berpengaruh pada salah saji dan bias.
Bukti tentang kewajaran estimasi dapat diperoleh auditor dari satu atau beberapa pendekatan
berikut:
1) Melakukan prosedur untuk me-review dan menguji proses manajemen dalam
membuat estimasi
2) Membuat ekspektasi yang independen atas estimasi
3) Me-review transaksi dan kejadian berikutnya yang terjadi sebelum menyelesaikan
audit yang berkaitan dengan estimasi tersebut
Prosedur yang dilakukan meliputi (1) pertimbangan relevansi, reliabilitas dan kecukupan data
serta faktor-faktor lain yang digunakan oleh manajemen, (2) pengevaluasian kelayakan dan
konsistensi asumsinya, dan (3) melaksanakan ulang perhitungan yang telah dilakukan
manajemen.
Ilustrasi Sifat Pengujian Substantif
Aplikasi empat jenis pengujian substantif dapat digambarkan dalam konteks akun-akun
berikut:

Ada beberapa jenis akun pengendali yang didukung oleh akun buku pembantu pelanggan
yang berisi pendebetan dan pengkreditan secara individual untuk transaksi yang
mempengaruhi setiap akun pelanggan. Dianggap bahwa saldo awal piutang usaha telah
disajikan secara wajar berdasarkan audit tahun-tahun sebelumnya. Untuk menentukan bahwa
saldo akhir piutang usaha disajikan secara wajar, auditor dapat mempertimbangkan buktibukti yang diperoleh dari beberapa pengujian substantif berikut:
a. Prosedur analitis. Kemungkinannya meliputi:
1) Membandingkan nilai absolut saldo akhir tahun tersebut dengan saldo-saldo tahun
sebelumnya, jumlah yang dianggarkan, atau nilai lain yang diperkirakan,
berdasarkan perubahan aktivitas penjualan dan kebijakan kredit.
2) Menggunakan saldo akhir untuk menentukan persentase piutang usaha terhadap
aktiva lancar untuk perbandingan dengan tahun sebelumnya, data industri, atau
nilai yang diharapkan lainnya.
3) Menggunakan saldo akhir untuk menghitung rasio perputaran piutang usaha untuk
pembandingan dengan tahun sebelumnya, data industri, atau nilai yang diharapkan
lainnya, berdasarkan perubahan aktivitas penjualan dan kebijakan kredit.
b. Pengujian rincian atas transaksi. Kemungkinan meliputi:
1) Pemeriksaan sampel pendebetan dan pengkreditan secara individual dalam akun
pelanggan untuk kelompok transaksi yang diindikasikan ke ayat jurnal yang
mengoffset dan dokumen-dokumen pendukungnya.
2) Penelusuran data transaksi dari dokumen sumber dan jurnal ke ayat jurnal terkait
dalam akun pelanggan untuk kelompok transaksi yang ditunjukkan tersebut.
c. Pengujian rincian atas saldo. Kemungkinannya meliputi:

1) Menentukan bahwa saldo akhir dalam akun pelanggan individu sama dengan
saldo akun pengendalinya.
2) Mengkonfirmasi saldo akhir pada sampel akun pelanggan secara langsung kepada
pelanggan bersangkutan.
d. Pengujian rincian atas saldo yang melibatkan estimasi akuntansi. Kemungkinannya
meliputi:
1) Menguji penetapan umur piutang dengan menvouching jumlah-jumlah dalam
kategori penetapan umur piutang untuk akun-akun sampel ke dokumen
pendukung.
2) Untuk akun-akun yang telah berlalu, menguji bukti ketertagihan seperti
korespondensi dengan pelanggan dan agen-agen penagihan luar, laporan kredit,
dan laporan keuangan pelanggan, serta membicarakan jumlah-jumlah yang ditagih
dengan personel manajemen yang sesuai.
3) Mengevaluasi proses manajemen dalam mengestimasi akun penyisihan piutang
tak tertagih dengan peninjauan kembali.
4) Mengevaluasi kecukupan penyisihan

informasi

yang

diberikan

tentang

kecenderungan industri, kecenderungan penetapan umur piutang, dan sejarah


penagihan untuk pelanggan tertentu.