Anda di halaman 1dari 239

Modul Teknis Cukai

A. PENDAHULUAN

1.

DESKRIPSI SINGKAT

Mata Diklat Teknis Cukai merupakan salah satu mata


diklat utama dalam kurikulum Diklat Teknis Substantif Dasar
(DTSD) Kepabeanan dan Cukai. Mata Diklat ini memberikan
pengetahuan dan ketrampilan teknis dasar di bidang cukai
bagi para pegawai yang baru bergabung di Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) atau para para pegawai yang belum memiliki bekal
pengetahuan teknis di bidang cukai. Sebagai Institusi yang salah satu tugas pokoknya
adalah pemungutan penerimaan cukai maka setiap pegawai DJBC dituntut harus
memiliki pengetahuan teknis di bidang cukai agar tugas pelayanan dan pengawasan bisa
terlaksana dengan baik.
Berdasarkan kurikulum diklat disebutkan bahwa mata pelajaran teknis cukai
merupakan salah satu mata pelajaran pokok dengan alokasi waktu sebanyak 48 jam
pelajaran. Materi yang disampaikan dalam mata diklat Teknis Cukai adalah panduanpanduan umum yang bersifat operasional mengenai pelaksanaan Undang-undang Cukai
sesuai yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan dan juga petunjuk pelaksanaan
yang dikeluarkan oleh DJBC. Kami berusaha agar materi yang disampaikan dalam Modul
ini tidak membuat anda jenuh dalam belajar. Oleh karenanya layout dan variasi
penulisan yang kami tampilkan, baik dalam bentuk tabel atau gambar mudah-mudahan
dapat membuat anda nyaman dalam mempelajari Modul ini.
Materi Modul terdiri dari 9 (sembilan) Kegiatan Belajar (KB), yang disusun secara
sequential, artinya bahwa penyampaian tiap-tiap KB disusun secara berurutan yang
disesuaikan dengan urutan kegiatan yang sesungguhnya terjadi di bidang pelayanan
cukai. Secara ringkas dapat kami sebutkan urutan waktu penyampaian materi Kegiatan
Belajar Teknis Cukai, sebagai berikut :

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 1

Modul Teknis Cukai

1)

Tata Cara Pemberian Perizinan di Bidang Cukai;

2)

Tatacara Penetapan Tarif Cukai

3)

Tata Cara Pemesanan dan Penyediaan Pita Cukai

4)

Tatacara Pelunasan dan Penagihan Barang Kena cukai (BKC) serta masa
kadaluwarsa

5)

Tatacara pencatatan, pembukuan dan pencacahan BKC

6)

Tatacara pengeluaran, pemasukan, penimbunan dan pengangkutan serta


perdagangan BKC

7)

Tatacara pemusnahan dan pengolahan kembali BKC

8)

Tatacara pemberian fasilitas Cukai dan kemudahan dibidang cukai

9)

Tatacara pengajuan keberatan, banding dan gugatan

2.

PRASYARAT KOMPETENSI
Untuk mempelajari modul ini idealnya anda telah ditunjuk sebagi Peserta DTSD

Kepabeanan dan Cukai dan telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :


1)

Pangkat minimal II/b

2)

Usia maksimal 50 tahun

3)

Berkepribadian tanggap, tegas dan cekatan

4)

Memiliki motivasi yang tinggi untuk mengikuti diklat

5)

Sehat jasmani dan rohani

3.

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR

Standar kompetensi.
Standar kompetensi yang ingin dicapai terhadap siswa yang mempelajari modul ini
adalah agar siswa mampu melaksanakan tatacara operasional di bidang Cukai

hal 2

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

Kompetensi Dasar.
Kompetensi dasar yang diharapkan setelah mempelajari modul ini adalah agar peserta
mampu melaksanakan ketentuan yang berkaitan dengan :
1)

Tata Cara Pemberian Perizinan di Bidang Cukai

2)

Tatacara Penetapan Tarif Cukai

3)

Tata Cara Pemesanan dan Penyediaan Pita Cukai

4)

Tatacara Pelunasan dan Penagihan BKC serta masa kadaluwarsa

5)

Tatacara Pencatatan, Pembukuan dan Pencacahan BKC

6)

Tatacara pengeluaran, pemasukan, penimbunan dan pengangkutan serta


perdagangan BKC

7)

Tatacara pemusnahan dan pengolahan kembali BKC

8)

Tatacara pemberian fasilitas Cukai dan kemudahan dibidang cukai

9)

Tatacara pengajuan keberatan, banding dan gugatan

4.

RELEVANSI MODUL

Relevansi modul terhadap tugas pekerjaan yang akan dijalankan peserta diklat adalah
sebagai berikut :
1)

Materi modul ini diharapkan dapat memberikan pemahaman dan wawasan yang
tepat mengenai tatacara teknis operasional di bidang cukai;

2)

Materi modul ini telah disesuaikan dengan perkembangan terbaru (update)


tatacara teknis operasional di bidang cukai .

The magic word:


Sukses terdiri dari 1% bakat dan 99%
keringat"

Thomas Alfa Edison-

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 3

Modul Teknis Cukai

B. KEGIATAN BELAJAR

TATACARA PERIZINAN
DI BIDANG CUKAI
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu:
1) Melaksanakan ketentuan umum Penerbitan NPPBKC
2) Melaksanakan Tatacara Penerbitan NPPBKC
3) Melaksanakan ketentuan khusus Penerbitan NPPBKC di Bidang Cukai Etil Alkohol
4) Melaksanakan Ketentuan khusus Penerbitan NPPBKC di Bidang Cukai MMEA
5) Melaksanakan Ketentuan Khusus Penerbitan di Bidang Cukai Hasil Tembakau

1.1. Uraian dan Contoh

a.

Ketentuan Umum Penerbitan Izin NPPBKC

Kewajiban Memiliki Izin NPPBKC


Untuk menjalankan kegiatan di bidang cukai baik
sebagai

pengusaha

pabrik,

importir,

penyalur

dan

sebagainya maka setiap orang terlebih dahulu wajib


memiliki izin dari Menteri Keuangan. Perizinan terhadap
pengusaha barang kena cukai dikeluarkan dalam bentuk

hal 4

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC). Hal ini secara tegas diatur di
dalam ketentuan pasal 14 Undang-undang Cukai1. Ketentuan perizinan dalam pasal 14
tersebut juga menegaskan posisi Menteri Keuangan sebagai pihak yang berhak
mengeluarkan izin, meskipun dalam pelaksanaan operasionalnya wewenang tersebut
didelegasikan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai c.q. Kepala Kantor Bea dan Cukai.
Sebagai pelaksanaan ketentuan perizinan di bidang cukai tersebut, pemerintah
telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2008 tentang Nomor Pokok
Pengusaha Barang Kena Cukai. Kemudian untuk pengaturan teknis tatacara penerbitan
NPPBKC, Menteri Keuangan telah menerbitkan tiga peraturan teknis yang memberikan
panduan bagi aparatur DJBC dalam melaksanakan ketentuan perizinan di bidang cukai.
Ketiga peraturan teknis tersebut adalah :
a)

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 200/PMK.04/2008 tentang Tata Cara


Pemberian, Pembekuan, dan Pencabutan NPPBKC untuk Pengusaha Pabrik dan
Importir Hasil Tembakau ;

b)

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 201/PMK.04/2008 tentang Tata Cara


Pemberian, Pembekuan, dan Pencabutan NPPBKC untuk Pengusaha Pabrik ,
Importir, Penyalur dan Pengusaha tempat Penjalan Eceran MMEA ;

c)

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 202/PMK.04/2008 tentang Tata Cara


Pemberian, Pembekuan, dan Pencabutan NPPBKC untuk Pengusaha Pabrik,
Pengusaha Tempat Penyimpanan, Importir dan Pengusaha Tempat Penjualan
Eceran Etil Alkohol.
NPPBKC yang diberikan Menteri sama sekali tidak mengurangi kewajiban untuk

memenuhi izin-izin dari instansi terkait lainnya berdasarkan lingkup tugas, fungsi dan
wewenangnya masing-masing, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Sebagai contoh, untuk izin NPPBKC sebagai Penyalur atau Pengusaha Tempat
Penjualan Eceran MMEA maka Pengusaha diwajibkan pula untuk memiliki Surat Izin
Usaha Perdagangan Minuman Beralkohol (SIUP-MB) yang dikeluarkan oleh Departemen
Perdagangan dan juga rekomendasi dari Kepolisian setempat.

Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang
Nomo 39 Tahun 2007

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 5

Modul Teknis Cukai

Istilah-Istilah yang digunakan


Berkaitan dengan ketentuan umum pemberian NPPBKC terhadap subyek yang
wajib memiliki NPPBKC, berikut ini adalah penjelasan terhadap

istilah-istilah yang

digunakan berkaitan dengan subyek yang wajib memiliki izin NPPBKC.


a)

Pabrik adalah tempat tertentu termasuk bangunan, halaman, dan lapangan yang
merupakan bagian daripadanya, yang dipergunakan untuk menghasilkan barang
kena cukai dan/atau untuk mengemas barang kena cukai dalam kemasan untuk
penjualan eceran;

b)

Pengusaha Pabrik adalah orang yang mengusahakan pabrik barang kena cukai;

c)

Tempat Penyimpanan adalah tempat, bangunan, dan/atau lapangan yang bukan


merupakan bagian dari Pabrik, yang dipergunakan untuk menyimpan barang kena
cukai berupa etil alkohol yang masih terutang cukai dengan tujuan untuk
disalurkan, dijual atau diekspor;

d)

Tempat Penyimpanan Khusus Pencampuran adalah tempat, bangunan dan/atau


lapangan yang bukan merupakan bagian dari Pabrik, yang dipergunakan untuk
menyimpan barang kena cukai berupa etil alkohol yang masih terutang cukai yang
wajib dicampur dengan bahan pencampur tertentu sehingga tidak layak untuk
diminum namun masih baik untuk digunakan sebagai bahan baku atau bahan
penolong dalam pembuatan Barang Hasil Akhir yang bukan merupakan barang kena
cukai, yang tujuannya untuk disalurkan, dijual atau diekspor;

e)

Pengusaha Tempat Penyimpanan adalah orang yang mengusahakan Tempat


Penyimpanan etil alkohol;

f)

Tempat usaha Importir adalah tempat, bangunan, halaman dan/atau lapangan


yang dipergunakan untuk kegiatan usaha dan/atau untuk menimbun barang kena
cukai asal impor yang sudah dilunasi cukainya;

g)

Importir BKC adalah orang yang memasukkan barang kena cukai ke dalam daerah
pabean;

h)

Tempat Usaha Penyalur adalah tempat, bangunan, halaman, dan/atau lapangan


yang dipergunakan untuk kegiatan usaha dan/atau untuk menimbun barang kena
cukai yang sudah dilunasi cukainya, yang akan disalurkan atau dijual semata-mata
ditujukan bukan kepada konsumen akhir.

i)

Penyalur adalah orang yang menyalurkan atau menjual barang kena cukai yang
sudah dilunasi cukainya yang semata-mata ditujukan bukan kepada konsumen

hal 6

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


akhir. Berdasarakan aturan Undang-undang cukai dan PP Nomor 72 tahun 2008,
kegiatan cukai sebagai penyalur MMEA dan etil alkohol diwajibkan untuk memiliki
NPPBKC. Dalam pelaksanaannya sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 201/PMK.04/2008 dan PMK Nomor 202/PMK.04/2008, kewajiban untuk
memiliki NPPBKC terhadap kegiatan usaha sebagai penyalur hanya diatur terhadap
BKC berupa MMEA saja. Apabila kita melihat definisi istilah Tempat Penyimpanan,
terlihat bahwa fungsi kegiatan penyalur etil alkohol sudah ada pada kegiatan
Tempat Penyimpanan.
j)

Tempat Penjualan Eceran (TPE) adalah tempat untuk menjual secara eceran barang
kena cukai berupa MMEA atau Etil Alkohol kepada konsumen akhir;

k)

Pengusaha TPE adalah orang yang mengusahakan TPE baik TPE MMEA atau TPE Etil
Alkohol.

Subyek Yang Berkewajiban Memiliki NPPBKC


Berdasarkan aturan Undang-undang Cukai, setiap orang yang akan menjalankan
kegiatan sebagai :
a. Pengusaha Pabrik;
b. Pengusaha Tempat Penyimpanan;
c. Importir Barang Kena Cukai;
d. Penyalur;
e. Pengusaha Tempat Penjualan Eceran (TPE),
wajib memiliki izin berupa NPPBKC dari Menteri Keuangan. Adanya kewajiban untuk
melakukan registrasi atau izin menjalankan kegiatan di bidang cukai dimaksudkan untuk
kepentingan pengawasan terhadap peredaran BKC dan juga pengawasan terhadap
penerimaan negara.

Kewajiban memiliki NPPBKC terhadap subyek Penyalur

dan

Pengusaha TPE hanya diwajibkan khusus terhadap BKC berupa etil alkohol dan MMEA.
Hal ini dengan pertimbangan bahwa karakteristik BKC tersebut memiliki tingkat
kerawanan yang tinggi dalam peredarnnya.

Pemegang Izin NPPBKC


Izin NPPBKC sebagai Pengusaha di bidang Cukai diberikan kepada :
1)

Orang (baik sebagai pribadi atau badan hukum) yang berkedudukan di Indonesia;

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 7

Modul Teknis Cukai


2)

Orang (baik sebagai pribadi atau badan hukum) yang secara sah mewakili badan
hukum atau orang pribadi yang berkedudukan di luar Indonesia.

Dalam hal pemegang izin NPPBKC adalah orang pribadi, apabila yang bersangkutan
meninggal dunia, maka izin NPPBKC dapat dipergunakan selama dua belas bulan sejak
tanggal meninggalnya yang bersangkutan oleh ahli waris atau yang dikuasakan dan
setelah lewat jangka waktu tersebut izin wajib diperbaharui.

Pengecualian Kewajiban Memiliki Izin NPPBKC


Terhadap orang tertentu yang memproduksi BKC ataupun melakukan kegiatan
usaha yang berkaitan dengan BKC, dikecualikan dari kewajiban memiliki NPPBKC. Hal ini
berkaitan dengan pemberian fasilitas di bidang cukai sebagaimana diatur dalam pasal 8
dan pasal 9 Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 jo. Undang-undang Nomor 39 Tahun
2007 tentang Cukai dan juga mempertimbangkan efektifitas pengawasan. Adapun
subyek yang dikecualikan dari kewajiban untuk memiliki NPPBKC adalah sebagai berikut
:
1)

Orang yang membuat tembakau iris yang dibuat dari tembakau hasil tanaman di
Indonesia yang tidak dikemas untuk penjualan eceran atau dikemas untuk
penjualan eceran dengan bahan pengemas tradisional yang lazim dipergunakan,
apabila :
- Dalam pembuatannya tidak dicampur atau ditambah dengan tembakau yang
berasal dari luar negeri atau bahan lain yang lazim dipergunakan dalam
pembuatan hasil tembakau;
- Pada pengemas atau tembakau irisnya tidak dibubuhi atau dilekati atau
dicantumkan cap, merek dagang, etiket, atau sejenis dengan itu.

2)

Orang yang membuat minuman mengandung etil alkohol yang diperoleh dari hasil
peragian atau penyulingan, apabila :
- Dibuat oleh rakyat Indonesia;
- Pembuatannya dilakukan secara sederhana;
- Produksi tidak melebihi 25 (dua puluh lima) liter setiap hari;
- Tidak dikemas dalam kemasan penjualan eceran.

3)

Orang yang mengimpor BKC yang mendapat fasilitas pembebasan cukai :


- Untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu penegetahuan

hal 8

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


- Untuk keperluan perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang
bertugas di Indonesia berdasarkan asas timbal balik;
- Untuk keperluan tenaga ahli bangsa asing yang bertugas pada Badan atau
Organisasi Internasional di Indonesia;
- Yang dibawa oleh penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas atau
kiriman dari Luar Negeri, dalam jumlah tertentu;
- Untuk tujuan sosial.
4)

Pengusaha Tempat Penjualan Eceran etil alkohol yang jumlah penjualannya dalam
sehari maksimal 30 (tiga puluh) liter

5)

Pengusaha Tempata Penjualan Eceran MMEA dengan kadar paling tinggi 5% (lima
persen)

Persyaratan Lokasi
Secara umum lokasi/bangunan/tempat usaha yang dimintakan izin NPPBKC,
harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
Untuk Pabrik:
1)

dilarang berhubungan langsung dengan bangunan, halaman, atau tempat-tempat


lain yang bukan bagian pabrik yang dimintakan izin;

2)

harus berbatasan langsung dengan jalan umum dan dapat dimasuki dari jalan
umum;

3)

memiliki luas lokasi, bangunan, atau tempat usaha dalam batas luas tertentu.

Untuk Tempat Penyimpanan:


1)

dilarang berhubungan langsung dengan bangunan, halaman, atau tempat-tempat


lain yang bukan bagian pabrik yang dimintakan izin;

2)

harus berbatasan langsung dengan jalan umum dan dapat dimasuki dari jalan
umum;

3)

memiliki luas lokasi, bangunan, atau tempat usaha dalam batas luas tertentu.

4)

memiliki tempat penimbunan permanen berupa tangki dengan kapasitas


keseluruhan paling sedikit 200.000 (dua ratus ribu) liter etil alkohol dilengkapi
dengan fasilitas penunjang berupa pompa, alat ukur volume dan suhu, dan tabel
volume yang disahkan oleh dinas metrologi;

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 9

Modul Teknis Cukai


5)

memiliki pagar dan/atau dinding keliling dari tembok, dengan ketinggian paling
rendah 2 (dua) meter yang merupakan batas pemisah yang jelas, kecuali diatur lain
oleh pemerintah daerah; dan

6)

memiliki ruang laboratorium dan peralatannya;

Untuk Tempat Usaha Importir BKC :


1)

tidak menggunakan tempat penimbunan barang kena cukai yang berhubungan


langsung dengan bangunan, halaman, atau tempat-tempat lain yang bukan bagian
Tempat Importir yang dimintakan izin;

2)

barang kena cukai berupa MMEA dilarang menggunakan tempat penimbunan BKC
yang berdekatan dengan tempat ibadah umum, sekolah, atau rumah sakit

3)

berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum.

Untuk Tempat Usaha Penyalur :


1)

dilarang menggunakan tempat penimbunan barang kena cukai yang berhubungan


langsung dengan bangunan, halaman, atau tempat-tempat lain yang bukan bagian
Tempat Usaha Penyalur yang dimintakan izin;

2)

barang kena cukai berupa MMEA dilarang menggunakan tempat penimbunan BKC
yang berdekatan dengan tempat ibadah umum, sekolah, atau rumah sakit

3)

berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum, kecuali yang berada
dalam Kawasan Perdagangan

Untuk Tempat Penjualan Eceran :


1)

dilarang menggunakan tempat penimbunan barang kena cukai yang berhubungan


langsung dengan bangunan, halaman, atau tempat-tempat lain yang bukan bagian
Tempat Usaha Penyalur yang dimintakan izin;

2)

barang kena cukai berupa MMEA dilarang menggunakan tempat penimbunan BKC
yang berdekatan dengan tempat ibadah umum, sekolah, atau rumah sakit

3)

berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum, kecuali yang berada
dalam Kawasan Perdagangan

Masa Berlakunya NPPBKC


Masa berlakunya pemberian izin NPPBKC terhadap pengusaha pabrik,
pengusaha tempat penyimpanan, atau importir BKC adalah selama yang bersangkutan
masih menjalankan kegiatan usahanya. Pengertiannya adalah bahwa Orang yang

hal 10

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


mendapat penunjukkan sebagai pemegang NPPBKC baik mewakili kepentingan
pribadinya (sebagai pengusaha perorangan) ataupun mewakili kepentingan suatu Badan
Usaha harus bertindak sebagai subyek yang wajib bertanggung jawab penuh terhadap
kegiatan di bidang cukai. Apabila yang bersangkutan tidak lagi menjalankan kegiatan
usaha di bidang cukai tersebut, maka izin NPPBKC yang dipegangnya tersebut menjadi
batal.
Berkaitan dengan posisi pemegang NPPBKC di suatu Badan Usaha yang telah
dipindahtangankan, maka pemilik baru harus segera mengajukan permohonan
perubahan NPPBKC dengan melampirkan bukti-bukti pemindahtanganan tersebut.
Bukti-bukti

yang wajib dilampirkan antara lain adalah: salinan akte notaris,

perdsetujuan akta perubahan Anggaran Dasar perusahaan dan sebagainya.


Masa berlakunya pemberian izin NPPBKC terhadap Pengusaha Penyalur dan
Tempat Penjualan Eceran adalah selama lima tahun, dan setiap kali dapat diperpanjang
untuk jangka waktu yang sama. Adapun maksud dari pembatasan jangka waktu hanya
selama lima tahun ini didasarkan atas pertimbangan bahwa karakteristik Barang Kena
Cukai etil alkohol dan MMEA tersebut mudah menimbulkan dampak negatif terhadap
kesehatan dan menimbulkan kerawanan sosial, sehingga pengawasan terhadap
peredaran dan penggunaannya perlu lebih diperketat.

Pembekuan dan Pencabutan Izin NPPBKC


Yang dimaksud dengan pembekuan izin adalah tidak diperbolehkannya
Pengusaha yang memiliki NPPBC untuk melakukan kegiatan usaha di bidang cukai
sampai dengan diterbitkannya keputusan pemberlakuan kembali atau pencabutan izin,
tanpa mengurangi kewajiban yang harus diselesaikan kepada negara. Izin NPPBKC bagi
Pengusaha BKC dapat dibekukan, dalam hal :
1) adanya bukti permulaan yang cukup bahwa pemegang izin NPPBKC melakukan
pelanggaran pidana di bidang cukai, antara lain :
-

Laporan Kejadian

Berita Acara Wawancara

Laporan Hasil Penyelidikan

Keterangan saksi ahli

Barang bukti

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 11

Modul Teknis Cukai


2) adanya bukti yang cukup sehingga persyaratan perizinan tidak lagi dipenuhi, yaitu :
-

Pemegang izin NPPBKC tidak lagi mewakili kepentingan Badan Hukum atau
orang pribadi yang berkedudukan di luar Indonesia

Persyaratan Fisik lokasi bangunan atau tempat usaha tidak lagi dipenuhi

Persyaratan administrasi pemberian izin NPPBKC tidak lagi dipenuhi

Adanya kesamaan nama perusahaan dengan nama pabrik, importir, penyalur,


atau TPE lainnya yang telah mendapatkan NPPBKC

3) pemegang izin berada dalam pengawasan kurator sehubungan dengan utangnya.


Pengertian pencabutan izin NPPBKC adalah bahwa Izin kegiatan di bidang Cukai
yang dimiliki Pengusaha BKC tidak lagi berlaku baik karena kemauan sendiri ataupun
dicabut oleh otoritas yang sah. Izin NPPBKC dapat dicabut, dalam hal :
1)

atas permohonan pemegang izin yang bersangkutan ;

2)

tidak dilakukan kegiatan selama satu tahun ;

3)

persyaratan perizinan tidak lagi dipenuhi ;

4)

pemegang izin tidak lagi secara sah mewakili badan hukum atau orang pribadi yang
berkedudukan di luar Indonesia ;

5)

pemegang izin dinyatakan pailit ;

6)

tidak dipenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ;

7)

pemegang izin dipidana berdasarkan keputusan hakim yang telah mempunyai


kekuatan hukum tetap karena melanggar ketentuan undang-undang ini ;

8)

pemegang izin melanggar ketentuan Pasal 30 ; atau

9)

Izin berupa Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai dipindahtangankan,


dikuasakan, dan/atau dikerjasamakan dengan orang/pihak lain tanpa persetujuan
Menteri.
Dalam hal izin NPPBKC dicabut maka terhadap barang kena cukai yang belum

dilunasi cukainya yang masih berada di dalam Pabrik atau Tempat Penyimpanan harus
dilunasi cukainya dan dikeluarkan dari Pabrik atau Tempat Penyimpanan dalam waktu
30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya surat keputusan pencabutan izin. Dalam hal
ketentuan tersebut tidak dipenuhi, maka barang kena cukai yang bersangkutan
dimusnahkan atau diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri Keuangan. Barang kena
cukai yang telah dilunasi cukainya dan berada di tempat usaha importir barang kena
cukai, penyalur, dan pengusaha tempat penjualan eceran, yang izinnya telah dicabut,

hal 12

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


harus dipindahkan ke tempat usaha importir barang kena cukai, penyalur, atau
pengusaha tempat penjualan eceran lainnya atau dimusnahkan.

Perubahan NPPBKC
Perubahan nama perusahaan, kepemilikan perusahaan, lokasi/bangunan/tempat
usaha yang tercantum dalam NPPBKC, hanya dapat dilakukan setelah mendapat
persetujuan dari Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau Pejabat yang ditunjuknya atas
nama Menteri Keuangan. Untuk hal tersebut, Subyek pemegang NPPBKC yang akan
melakukan perubahan nama perusahaan, kepemilikan perusahaan, lokasi/bangunan
Pabrik atau Tempat Penyimpanan, harus mengajukan permohonan perubahan NPPBKC
kepada Menteri Keuangan c.q. Kepala Kantor Pelayanan dilampiri dengan bukti
dokumen perubahan terdiri dari :
1)

Untuk perubahan nama Perusahaan :


a) akta notaris;
b) persetujuan akta perubahan anggaran dasar perusahaan dari instansi yang
tugas dan tanggung jawabnya di bidang hukum, khusus bagi pengusaha yang
berstatus badan hukum;
c) perubahan Izin Usaha Industri dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya
di bidang perindustrian dan/atau perdagangan;
d) perubahan Izin Usaha Perdagangan dari instansi yang tugas dan tanggung
jawabnya di bidang perindustrian dan/atau perdagangan; dan
e) perubahan Nomor Pokok Wajib Pajak.

2)

Untuk perubahan kepemilikan Perusahaan :


a) akta notaris;
b) persetujuan akta perubahan anggaran dasar perusahaan dari instansi yang
tugas dan tanggung jawabnya di bidang hukum, khusus bagi pengusaha yang
berstatus badan hukum;
c) perubahan Izin Usaha Industri dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya
di bidang perindustrian dan/atau perdagangan; dan
d) perubahan Izin Usaha Perdagangan dari instansi yang tugas dan tanggung
jawabnya di bidang perindustrian dan/atau perdagangan.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 13

Modul Teknis Cukai


3)

Untuk perubahan lokasi/bangunan Pabrik atau Tempat Penyimpanan :


a) Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari pemerintah daerah setempat;
b) Izin berdasarkan Undang-Undang Gangguan dari pernerintah daerah setempat;
c) perubahan Izin Usaha Industri dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya
di bidang pcrindustrian dan/atau perdagangan;
d) perubahan Izin Usaha Perdagangan dari instansi yang tugas dan tanggung
jawabnya di bidang perindustrian dan/atau perdagangan; dan
e) perubahan Nomor Pokok Wajib Pajak.

Dalam hal permohonan diterima secara lengkap dan benar, Direktur Jenderal Bea
dan Cukai atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan dalam jangka
waktu paling lama 15 (lima belas) hari sejak permohonan diterima, menetapkan
Keputusan Perubahan NPPBKC dengan menggunakan format standar.

Dalam hal

permohonan diterima secara tidak lengkap atau tidak benar, Direktur Jenderal Bea dan
Cukai atau Pejabat yang ditunjuknya memberitahukan secara tertulis kepada pemohon
untuk melengkapi kekurangan persyaratan atau memperbaiki data permohonan dalam
jangka waktu paling lama 15 (lima belas) hari.
Apabila dalam jangka waktu tersebut, Pemohon tidak melengkapi kekurangan
persyaratan atau memperbaiki data permohonan, Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau
Pejabat yang ditunjuknya mengeluarkan surat pemberitahuan penolakan yang memuat
alasan penolakan. Keputusan perubahan NPPBKC atau surat pemberitahuan penolakan
disampaikan kepada pemilik NPPBKC bersangkutan dan salinannya disampaikan kepada
Direktur Cukai dan Kepala Kantor Wilayah.

Penomoran NPPBKC
Untuk memberikan keseragaman dalam hal identifikasi data pemegang NPPBKC
maka penomoran NPPBKC ditetapkan secara standar dengan mengacu kepada ketentuan
Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : SE-03/BC/2009. Adapun sistem
penomoran yang harus digunakan dalam pemberian izin NPPBKC adalah sebagai berikut :
1)

Sistem Penomoran NPPBKC terdiri dari 10 (sepuluh) digit, dengan rincian :


- 4 (empat) digit pertama merupakan kode Kantor penerbit NPPBKC . Tabel kode
Kantor penerbit NPPBKC dapat anda lihat dalam Lampiran 1 Modul ini.

hal 14

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


- 1 (satu) digit kedua merupakan kode jenis usaha, dengan rincian bahwa kode
angka 1 untuk pabrik , angka 2 untuk importir, angka 3 untuk Tempat
Penyimpanan, angka 4 untuk Tempat Penjualan Eceran, dan angka 5 untuk
Penyalur.
- 1 (satu) digit ketiga merupakan kode jenis Barang Kena Cukai, dengan rincian
bahwa kode angka 1 untuk jenis BKC etil alkohol, angka 2 untuk jenis BKC
MMEA, dan angka 3 untuk jenis BKC hasil tembakau.
-

4 (empat) digit keempat merupakan nomor urut NPPBKC sesuai dengan nomor
urut pemberian di masing-masing Kantor Bea dan Cukai.

2)

Dalam rangka tertib administrasi dan menghindari duplikasi, pemberian nomor urut
NPPBKC baru maupun pembaharuan, untuk 4 (empat) digit keempat

dimulai

dengan angka 1001 (seribu satu) .


3)

Contoh Penomoran NPPBKC :


a) Pengusaha Pabrik MMEA PT. A (pabrik baru) berada di wilayah pengawasan
KPPBC Tipe Madya Cukai Malang mengajukan permohonan NPPBKC. Setelah
dilakukan proses penelitian administratif dan pemeriksaan lokasi sesuai
ketentuan yang berlaku, kedapatan Pabrik MMEA PT. A telah memenuhi
persyaratan dan layak diberikan NPPBKC. Maka terhadap Pabrik MMEA PT. A
diberikan NPPBKC dengan nomor 0706.1.2. 1001 , artinya bahwa :
-

Angka 0706 adalah kode Kantor Penerbit NPPBKC untuk KPPBC Tipe Madya
Cukai Malang

Angka 1 adalah kode untuk pabrik Barang Kena Cukai

Angka 2 adalah kode untuk MMEA

Angka 1001 adalah nomor urut yang diberikan untuk pabrik MMEA PT A
(urutan ke-1 atas NPPBKC yang diterbitkan oleh KPPBC Tipe Madya Cukai
Malang)

b) TPE MMEA PT. B (TPE lama)

telah mempunyai NPPBKC dengan nomor

0603.4.2. 0205 berada di wilayah pengawasan KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus.
Sesuai ketentuan, maka NPPBKC wajib diperbaharui oleh pemegang NPPBKC
dengan mengajukan permohonan dan wajib memenuhi persyaratan yang telah
ditetapkan sesuai PMK Nomor 201/PMK.04/2008. Setelah dilakukan proses
penelitian administratif dan pemeriksaan lokasi sesuai ketentuan yang berlaku

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 15

Modul Teknis Cukai


kedapatan TPE MMEA PT. B telah memenuhi persyaratan dan layak diberikan
NPPBKC. Berdasarkan catatan pada KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus, diketahui
bahwa KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus belum pernah menerbitkan NPPBKC TPE
MMEA. Maka terhadap TPE MMEA PT. B diberikan NPPBKC dengan nomor
0603.4.2. 1001 , artinya bahwa :
-

Angka 0603 adalah kode Kantor penerbit NPPBKC untuk KPPBC Tipe
Madya Cukai Kudus

Angka 4 adalah kode untuk TPE

Angka 2 adalah kode untuk MMEA

Angka 1001 adalah nomor urut yang diberikan untuk TPE MMEA PT. B

b. Tatacara Pengajuan Izin NPPBKC

Untuk mendapatkan izin NPPBKC sebagai Pengusaha Barang Kena Cukai maka
Pengusaha wajib mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Bea dan Cukai
setempat. Sesuai dengan ketentuan Undang-undang Cukai, pemberian izin NPPBKC
merupakan wewenang yang dimiliki oleh Menteri Keuangan, akan tetapi dalam
pelaksanaan operasionalnya wewenang ini telah didelegasikan hingga pada level Kepala
Kantor Bea dan Cukai. Hal ini dimaksudkan untuk lebih memberi kemudahan kepada
para pengusaha yang ingin mendapatkan izin ukegiatan di bidang cukai.
Secara umum proses pemberian izin NPPBKC kepada subyek NPPBKC dapat kami
rangkum dalam gambar 1.1 berikut. Mekanisme pengajuan NPPBKC ini kami rangkum
dari tiga Peraturan Menteri Keuangan yang berkaitan dengan NPPBKC sebagaimana
telah disebutkan pada bagian sebelumnya.

hal 16

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Gambar 1.1
Alur Proses Pemberian Izin NPPBKC

Penjelasan :
1) Proses pengajuan izin NPPBKC secara umum dilaksanakan dalam dua tahapan.
Tahapan pertama adalah permohonan pemeriksaan lokasi, yaitu permntaan
untuk dilakukannya pemeriksaan lokasi atas bangunan atau tempat usaha yang
akan dijadikan lokasi kegiatan di bidang cukai.
2) Permohonan pemeriksaan lokasi atas bangunan atau tempat usaha minimal
harus dilampiri dengan :
-

Salinan atau fotocopi izin usaha;

Gambar denah lokasi bangunan atau tempat usaha;

Salinan atau fotocopi izin mendirikan bangunan (IMB);

Salinan atau fotocopi izin berdasarkan Undang-undang Mengenai Gangguan

3) Atas permohonan yang diajukan tersebut, Kantor Pelayanan Bea dan Cukai akan
melakukan wawancara terhadap pemohon. Tujuan wawancara adalah untuk
memeriksa kebenaran data pemohon selaku penanggung jawab dan juga

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 17

Modul Teknis Cukai


kebenaran mengenai data-data yang dilampirkan. Hasil wawancara akan
dituangkan dalam suatu Berita Acara Wawancara.
4) Langkah selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan lokasi terhadap bangunan
atau tempat usaha yang dimintakan izin NPPBKC. Proses pemeriksaan lokasi ini
harus dilaksanakan paling lambat dalam jangka waktu 30 hari sejak permohonan
diterima. Hasil pemeriksaan lokasi akan dituangkan dalam suatu berita acara
pemeriksaan lokasi (BAP) yang ditandatangani oleh Pemeriksa dan Pengusaha
yang bersangkutan.
5) Berita Acara Pemeriksaan Lokasi dan Gambar Denah lokasi harus memuat
secara rinci :
- persil, bangunan, ruangan, tempat dan pekarangan yang termasuk bagian
dari bangunana atau tempat usaha yang dimohonkan izin NPPBKC ;
- batas-batas bangunan atau tempat usaha yang dimohonkan izin NPPBKC;
- luas bangunan atau Tempat Usaha yang dimohonkan izin NPPBKC.
6) Berita Acara Pemeriksaan Lokasi yang menyatakan Lokasi yang bersangkutan
Layak untuk diberikan izin NPPBKC , digunakan sebagai salah satu persyaratan
untuk memperoleh NPPBKC . Berita Acara tersebut hanya dapat digunakan
dalam jangka waktu paling lambat tiga bulan sejak tanggal BAP ditandatangani.
7) Tahapan Kedua dalam alur proses pemberian izin NPPBKC adalah pengajuan
permohonan izin NPPBKC dalam suatu format permohonan standar (PMCK.6)
dengan disertai lampiran perizinan dari instansi terkait dan data identitas diri
pemohon. Lampiran persyaratan izin dari instansi terkait untuk masing-masing
jenis kegiatan di bidang cukai tidaklah sama. Khusus untuk persyaratan izin
terhadap kegiatan dibidang cukai MMEA dan Etil Alkohol agak lebih ketat
dibandingkan dengan persyaratan izin untuk kegiatan cukai hasil tembakau.
8) Kepala Kantor atas nama Menteri Keuangan harus memutuskan disetujui atau
ditolaknya permohonan PMCK.6 dalam jangka waktu 30 hari sejak permohonan
diterima secara lengkap.
9) Dalam hal permohonan disetujui maka akan diterbitkan Keputusan Pemberian
NPPBKC, namun bila permohonan ditolak maka diterbitkan surat penolakan
yang memberikan penjelasan mengenai alasan penolakan.
10) Salah satu dasar pertimbangan penolakan oleh Kepala Kantor adalah apabila
nama pabrik, tempat penyimpanan, importir,penyalur atau TPE yang diajukan

hal 18

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


memiiliki kesamaan nama,baik tulisan maupun pengucapannya dengan nama
subyek cukai sejenis lainnya yang telah mendapatkan NPPBKC lebih dahulu.

c.

Ketentuan Khusus Pemberian izin NPPBKC Etil Alkohol

Disamping ketentuan-ketentuan umum yang berkaitan dengan mekanisme


pemberian izin NPPBKC yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya sebagaimana
diatur dalam PP Nomor 72 Tahun 2008, dalam peraturan pelaksanaannya juga diatur
hal-hal yang bersifat spesifik terhadap proses pemberian izin NPPBKC untuk masingmasing jenis BKC. Berikut ini akan kami jelaskan beberapa ketentuan khusus yang harus
dipenuhi dalam proses pemberian izin dalam kegiatan cukai etil alkohol.

Persyaratan Fisik Lokasi Bangunan atau Tempat Usaha


1)

Kewajiban bagi Pabrik Etil Alkohol :


a)

Tidak berhubungan langsung dengan bangunan,halaman, atau tempat-tempat


lain yang bukan bagian pabrik yang dimintakan izin;

b)

Tidak berhubungan langsung dengan rumah tinggal;

c)

Berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum, kecuali yang
lokasinya dalam kawasan industri;

d)

Memiliki luas bangunan minimal 5.000 (lima ribu) meter persegi

e)

Memiliki ruang laboratorium dan peralatannya;

f)

Memiliki bangunan, ruangan dan tempat yang dipakai untuk membuat etil
alkohol;

g)

Memiliki bangunan, ruangan, tempat, pekarangan dan tangki atau wadah


lainnya untuk menyimpan bahan baku atau bahan penolong;

h)

Memiliki bangunan, ruangan, tempat, pekarangan dan tangki atau wadah


lainnya untuk menyimpan hasil akhir yang bukan barang kena cukai (dalam hal
pabrik dengan proses produksi terpadu);

i)

Memiliki bangunan, ruangan, tempat, pekarangan dan tangki atau wadah


lainnya untuk menampung etil alkohol yang telah dirusak sehingga tidak baik
untuk diminum (spiritus bakar);

j)

Memiliki bangunan, ruangan, tempat, pekarangan dan tangki atau wadah


lainnya untuk menampung produk sampingan;

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 19

Modul Teknis Cukai


k)

Memiliki peralatan pemadam kebakaran yang memadai;

l)

Memiliki ruangan yang memadai bagi pejabat bea dan cukai dalam melakukan
pekerjaan atau pengawasan; dan

m) Memiliki pagar dan/atau dinding keliling dari tembok, dengan ketinggian


minimal 2 (dua) meter yang merupakan batas pemisah yang jelas, kecuali sisi
bagian depan disesuaikan dengan aturan pemerintah daerah setempat.
2)

Kewajiban bagi Tempat Penyimpanan :


a)

Tidak berhubungan langsung dengan bangunan,halaman, atau tempat-tempat


lain yang bukan bagian tempat penyimpanan yang dimintakan izin;

b)

Dilarang berhubungan langsung dengan rumah tinggal;

c)

Berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum, kecuali yang
lokasinya dalam kawasan industri;

d)

Memiliki tempat penimbunan permanen berupa tangki dengan kapasitas


keseluruhan minimal 200.000 (dua ratus ribu) liter etil alkohol, dilengkapi
dengan fasilitas penunjang berupa pompa, alat ukur volume dan suhu, dan
tabel volume yang disahkan oleh Dinas Meteorologi;

e)

Memiliki luas lokasi minimal 5.000 (lima ribu) meter persegi

f)

Memiliki pagar dan/atau dinding keliling dari tembok, dengan ketinggian


minimal 2 (dua) meter yang merupakan batas pemisah yang jelas, kecuali sisi
bagian depan disesuaikan dengan aturan pemerintah daerah setempat.

g)

Memiliki ruang laboratorium dan peralatannya;

h)

Memiliki aset milik sendiri untuk menjalankan usaha tempat penyimpanan


yang meliputi gudang dan tangki tempat penimbunan etil alkohol yang masih
terutang cukai;

i)

Memiliki bangunan, ruangan, tempat, pekarangan dan tangki atau wadah


lainnya untuk menampung etil alkohol yang telah dicampur;

j)

Memiliki peralatan pemadam kebakaran yang memadai;

k)

Memiliki ruangan yang memadai bagi pejabat bea dan cukai dalam melakukan
pekerjaan atau pengawasan.

Ketentuan persyaratan fisik pendirian Tempat Penyimpanan sebagaimana


dimaksud diatas berlaku juga bagi persyaratan pendirian Tempat Penyimpanan Khusus
Pencampuran dan Tempat Penyimpanan Khusus Tujuan Ekspor.

hal 20

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


3)

Kewajiban bagi Tempat Usaha Importir :


a)

Tidak menggunakan tempat penimbunan etil alkohol yang berhubungan


langsung dengan bangunan, halaman, atau tempat-tempat lain yang bukan
bagian tempat usaha importir yang dimintakan izin;

b)

Memiliki jarak lebih dari 100 (seratus) meter dengan tempat ibadah umum,
sekolah atau rumah sakit;

c)

Berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum, kecuali yang berada
di kawasan perdagangan;

d)

Memiliki persil, bangunan, ruangan, tempat dan pekarangan yang termasuk


bagian dari tempat usaha importir;

e)

Memiliki bangunan,ruangan dan tempat yang digunakan untuk menimbun etil


alkohol yang diimpor; dan

f)

Memiliki pagar dan/atau dinding keliling dari tembok dengan ketinggian paling
rendah 2 (dua) meter yang merupakan batas pemisah yang jelas, kecuali sisi
bagian depan disesuaikan dengan aturan pemerintah daerah setempat.

4)

Kewajiban bagi Tempat Penjualan Eceran :


a)

Dilarang berhubungan langsung dengan bangunan, halaman, atau tempattempat lain yang bukan bagian dari TPE yang dimintakan izin, kecuali yang
berada di kawasan industri atau kawasan perdagangan;

b)

Berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum, kecuali yang
berada di kawasan perdagangan;

c)

Memiliki bangunan,ruangan dan tempat yang digunakan untuk menimbun etil


alkohol.

Persyaratan Administrasi
Untuk mendapatkan NPPBKC terhadap kegiatan yang berkaitan dengan BKC etil
alkohol maka pengusaha harus memenuhi persyaratan administrasi sebagai berikut:
1) Pabrik Etil Alkohol dan Tempat Penyimpanan Etil Alkohol
a)

Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah Daerah setempat;

b)

Izin berdasarkan Undang-undang gangguan dari Pemerintah Daerah setempat;

c)

Izin Usaha Industri dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang
Perindustrian dan/atau Perdagangan;

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 21

Modul Teknis Cukai


d)

Izin Usaha Perdagangan dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang Perindustrian dan/atau Perdagangan;

e)

Khusus untuk Pengusaha Pabrik Etil Alkohol, dilengkapi dengan izin atau
rekomendasi dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang
Kesehatan;

f)

Khusus untuk Pengusaha Pabrik Etil Alkohol, dilengkapi dengan izin atau
rekomendasi dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang Tenaga
Kerja;

g)

Nomor Pokok Wajib Pajak ;

h)

Surat Keterangan Catatan Kepolisian dari Kepolisian Republik Indonesia,


apabila pemohon merupakan orang pribadi;

i)

Kartu Tanda Pengenal diri, apabila pemohon merupakan orang pribadi;

j)

Akta Pendirian Usaha, apabila pemohon merupakan Badan Hukum; dan

k)

Surat Pernyataan di atas meterei yang cukup akan menyelenggarakan


pembukuan perusahaan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan yang
berlaku dan menyimpan dokumen, buku, dan laporan selama 10 (sepuluh)
tahun pada tempat usahanya.

l)

Berita Acara Hasil Pemeriksaan Lokasi dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai
setempat.

1)

Importir etil alkohol yang mengajukan permohonan NPPBKC:


a)

Izin sebagai importir dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidanng perdagangan;

2)

b)

Nomor Pokok Wajib Pajak ;

c)

Akta Pendirian Usaha, apabila pemohon merupakan Badan Hukum; dan

d)

Nomor Identitas Kepabeanan

e)

Berita Acara Hasil Pemeriksaan Lokasi dari Kantor Bea dan Cukai setempat.

Pengusaha Tempat Penjualan Eceran etil alkohol :


a)

Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah Daerah setempat;

b)

Izin berdasarkan Undang-undang gangguan dari Pemerintah Daerah setempat;

c)

Izin usaha perdagangan dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang Perdagangan;

d)

Izin atau rekomendasi dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang tenaga kerja;

hal 22

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


e)

Nomor Pokok Wajib Pajak;

f)

Surat Keterangan Catatan kepolisian dari Kepolisian Republik Indonesia,


apabila pemohon merupakan orang pribadi;

g)

Kartu tanda pengenal diri, apabila pemohon merupakan orang pribadi;

h)

Akta pendirian usaha, apabila pemohon merupakan Badan Hukum.

i)

Berita Acara Hasil Pemeriksaan Lokasi dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai
setempat.

j)

Dalam hal status kepemilikan tempat usaha adalah bukan pemilik


bangunan,maka harus disertai dengan surat perjanjian sewa-menyewa yang
disahkan notaris untuk jangka waktu paling singkat 5 (lima) tahun.

d. Ketentuan Khusus Pemberian izin NPPBKC MMEA

Berkaitan dengan pemberian izin NPPBKC terhadap Pengusaha yang melakukan


kegiatan cukai MMEA maka disamping ketentuan-ketentuan umum yang berkaitan
dengan mekanisme pemberian izin NPPBKC yang telah dijelaskan pada bagian
sebelumnya, diatur pula hal-hal yang bersifat khusus terhadap proses pemberian izin
NPPBKC untuk jenis BKC berupa MMEA. Berikut ini akan kami jelaskan beberapa
ketentuan khusus yang harus dipenuhi dalam proses pemberian izin dalam kegiatan
cukai MMEA.

Persyaratan Fisik Lokasi Bangunan atau Tempat Usaha


1)

Kewajiban bagi Pabrik MMEA :


a)

Tidak berhubungan langsung dengan bangunan, halaman, atau tempat-tempat


lain yang bukan bagian pabrik yang dimintakan izin;

b)

Berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum;

c)

Memiliki luas bangunan minimal 300 (tiga ratus) meter persegi

d)

Memiliki persil, bangunan, ruangan, tempat dan pekarangan yang termasuk


bagian dari pabrik;

e)

Memiliki bangunan, ruangan dan tempat yang dipakai untuk membuat MMEA;

f)

Memiliki bangunan, ruangan, tempat, dan tangki atau wadah lainnya untuk
menimbun MMEA yang selesai dibuat;

g)

Memiliki bangunan, ruangan, tempat, dan tangki atau wadah lainnya untuk
menimbun MMEA yang cukainya sudah dibayar atau dilunasi;

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 23

Modul Teknis Cukai


h)

Memiliki bangunan, ruangan, tempat, dan tangki atau wadah lainnya untuk
menimbun MMEA yang selesai dibuat;

i)

Memiliki bangunan, ruangan, tempat, pekarangan dan tangki atau wadah


lainnya untuk menyimpan bahan baku atau bahan penolong;

j)

Memiliki bangunan, ruangan, tempat, pekarangan dan tangki atau wadah


lainnya yang digunakan untuk kegiatan produksi dan penimbunan bahan baku
atau bahan penolong;

k)

Memiliki ruangan yang memadai bagi pejabat bea dan cukai dalam melakukan
pekerjaan atau pengawasan; dan

l)

Memiliki pagar dan/atau dinding keliling dari tembok, dengan ketinggian


minimal 2 (dua) meter yang merupakan batas pemisah yang jelas, kecuali sisi
bagian depan disesuaikan dengan aturan pemerintah daerah setempat.

2)

Kewajiban bagi Tempat Usaha Importir MMEA, harus memiliki :


a)

Tidak menggunakan tempat penimbunan etil alkohol yang berhubungan


langsung dengan bangunan, halaman, atau tempat-tempat lain yang bukan
bagian tempat usaha importir yang dimintakan izin;

b)

Memiliki jarak lebih dari 100 (seratus) meter dengan tempat ibadah umum,
sekolah atau rumah sakit;

c)

Berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum, kecuali yang berada
di kawasan perdagangan;

d)

Memiliki persil, bangunan, ruangan, tempat dan pekarangan yang termasuk


bagian dari tempat usaha importir;

e)

Memiliki bangunan,ruangan dan tempat yang digunakan untuk menimbun


MMEA yang diimpor; dan

f)

Memiliki pagar dan/atau dinding keliling dari tembok dengan ketinggian paling
rendah 2 (dua) meter yang merupakan batas pemisah yang jelas, kecuali sisi
bagian depan disesuaikan dengan aturan pemerintah daerah setempat.

3)

Kewajiban bagi Tempat Usaha Penyalur MMEA :


a)

Dilarang menggunakan tempat penimbunan MMEA yang berhubungan


langsung dengan bangunan, halaman, atau tempat-tempat lain yang bukan
bagian tempat usaha importir yang dimintakan izin;

b)

Memiliki jarak lebih dari 100 (seratus) meter dengan tempat ibadah umum,
sekolah atau rumah sakit;

hal 24

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


c)

Berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum, kecuali yang berada
di kawasan perdagangan;

d)

Memiliki luas bangunan minimal 100 (seratus) meter persegi

e)

Memiliki persil, bangunan, ruangan, tempat dan pekarangan yang termasuk


bagian dari tempat usaha penyalur;

f)

Memiliki bangunan,ruangan dan tempat yang digunakan untuk menimbun


MMEA; dan;

g)

Memiliki peralatan pemadam kebakaran yang memadai;

h)

Memiliki pagar dan/atau dinding keliling dari tembok dengan ketinggian paling
rendah 2 (dua) meter yang merupakan batas pemisah yang jelas, kecuali sisi
bagian depan disesuaikan dengan aturan pemerintah daerah setempat.

4)

Pengusaha Tempat Penjualan Eceran etil alkohol MMEA :


a)

Dilarang berhubungan langsung dengan bangunan, halaman, atau tempattempat lain yang bukan bagian dari TPE yang dimintakan izin, kecuali yang
berada dikawasan industri atau kawasan perdagangan;

b)

Berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum, kecuali yang berada
di kawasan perdagangan;

c)

Memiliki jarak lebih dari 100 (seratus) meter dengan tempat ibadah umum,
sekolah dan rumah sakit, kecuali tempat ibadah umum yang disediakan oleh
pengusaha hotel, restoran, atau tempat hiburan ;

d)

Memiliki persil, bangunan,ruangan, tempat dan pekarangan yang termasuk


bagian dari TPE;

e)

Memiliki persil, bangunan,ruangan dan tempat yang digunakan untuk


menimbun MMEA.

Persyaratan Administrasi
Untuk mendapatkan NPPBKC terhadap kegiatan yang berkaitan dengan BKC
MMEA maka pengusaha minimal harus memenuhi persyaratan administrasi sebagai
berikut:
1) Pabrik MMEA
a)

Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah Daerah setempat;

b)

Izin berdasarkan Undang-undang gangguan dari Pemerintah Daerah setempat;

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 25

Modul Teknis Cukai


c)

Izin Usaha Industri dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang
Perindustrian dan/atau Perdagangan;

d)

Izin Usaha Perdagangan dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang Perindustrian dan/atau Perdagangan;

e)

izin atau rekomendasi dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang Kesehatan;

f)

izin atau rekomendasi dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang Tenaga Kerja;

g)

Nomor Pokok Wajib Pajak ;

h)

Surat Keterangan Catatan Kepolisian dari Kepolisian Republik Indonesia,


apabila pemohon merupakan orang pribadi;

i)

Kartu Tanda Pengenal diri, apabila pemohon merupakan orang pribadi;

j)

Akta Pendirian Usaha, apabila pemohon merupakan Badan Hukum; dan

k)

Berita Acara Hasil Pemeriksaan Lokasi dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai
setempat.

l)

Dalam hal status kepemilikan tempat usaha adalah bukan pemilik


bangunan,maka harus disertai dengan surat perjanjian sewa-menyewa yang
disahkan notaris untuk jangka waktu paling singkat 5 (lima) tahun

2)

Importir etil alkohol yang mengajukan permohonan NPPBKC:


a) Izin sebagai importir dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di bidanng
perdagangan. Dalam hal ini, penunjukan

sebagai importir MMEA bersifat

terbatas, artinya bahwa hanya importir terdaftar (IT) tertentu saja yang
mendapat izin khusus dari Menteri Perdagangan yang boleh mengimpor MMEA.
Untuk saat ini, hanya PT. Sarinah yang mendapat izin khusus untuk mengimpor
MMEA;
b) Nomor Pokok Wajib Pajak ;
c) Akta Pendirian Usaha, apabila pemohon merupakan Badan Hukum; dan
d) Nomor Identitas Kepabeanan
e) Berita Acara Hasil Pemeriksaan Lokasi dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai
setempat.

3)

Pengusaha Penyalur MMEA


a)

Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah Daerah setempat;

hal 26

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


b)

Izin berdasarkan Undang-undang gangguan dari Pemerintah Daerah setempat;

c)

Izin usaha perdagangan dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang Perdagangan. Dalam hal ini ada dua izin yang harus dimiliki, yaitu Surat
izin usaha Perdagangan (SIUP) dan Surat Izin Usaha Perdagangan Minuman
Beralkohol (SIUPMB);

d)

Izin atau rekomendasi dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang tenaga kerja;

e)

Nomor Pokok Wajib Pajak;

f)

Surat Keterangan Catatan kepolisian dari Kepolisian Republik Indonesia,


apabila pemohon merupakan orang pribadi;

g)

Kartu tanda pengenal diri, apabila pemohon merupakan orang pribadi;

h)

Akta pendirian usaha, apabila pemohon merupakan Badan Hukum.

i)

Berita Acara Hasil Pemeriksaan Lokasi dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai
setempat.

j)

Dalam hal status kepemilikan tempat usaha adalah bukan pemilik


bangunan,maka harus disertai dengan surat perjanjian sewa-menyewa yang
disahkan notaris untuk jangka waktu paling singkat 5 (lima) tahun

4)

Pengusaha Tempat Penjualan Eceran etil alkohol :


a)

Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah Daerah setempat;

b)

Izin berdasarkan Undang-undang gangguan dari Pemerintah Daerah setempat;

c)

Izin usaha perdagangan dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang Perdagangan. Dalam hal ini ada dua izin yang harus dimiliki, yaitu Surat
izin usaha Perdagangan (SIUP) dan Surat Izin Usaha Perdagangan Minuman
Beralkohol (SIUPMB);

d)

Izin atau rekomendasi dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang tenaga kerja;

e)

Nomor Pokok Wajib Pajak;

f)

Surat Keterangan Catatan kepolisian dari Kepolisian Republik Indonesia,


apabila pemohon merupakan orang pribadi;

g)

Kartu tanda pengenal diri, apabila pemohon merupakan orang pribadi;

h)

Akta pendirian usaha, apabila pemohon merupakan Badan Hukum.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 27

Modul Teknis Cukai


i)

Berita Acara Hasil Pemeriksaan Lokasi dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai
setempat.

j)

Dalam hal status kepemilikan tempat usaha adalah bukan pemilik


bangunan,maka harus disertai dengan surat perjanjian sewa-menyewa yang
disahkan notaris untuk jangka waktu paling singkat 5 (lima) tahun.

e. Ketentuan Khusus Pemberian izin NPPBKC Hasil Tembakau

Berkaitan dengan pemberian izin NPPBKC terhadap Pengusaha yang melakukan


kegiatan cukai Hasil Tembakau

maka disamping ketentuan-ketentuan umum yang

berkaitan dengan mekanisme pemberian izin NPPBKC yang telah dijelaskan pada bagian
sebelumnya, diatur pula hal-hal yang bersifat khusus terhadap proses pemberian izin
NPPBKC untuk jenis BKC berupa Hasil Tembakau. Berikut ini akan kami jelaskan
beberapa ketentuan khusus yang harus dipenuhi dalam proses pemberian izin dalam
kegiatan cukai Hasil Tembakau.

Persyaratan Fisik terhadap Lokasi Bangunan atau Tempat Usaha


1)

Kewajiban bagi Pabrik Hasil Tembakau


a)

Tidak berhubungan langsung dengan bangunan, halaman, atau tempat-tempat


lain yang bukan bagian pabrik yang dimintakan izin;

2)

b)

Tidak berhubungan langsung dengan rumah tinggal

c)

Berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum;

d)

Memiliki luas bangunan minimal 200 (dua ratus) meter persegi

Kewajiban bagi Tempat Usaha Importir Hasil Tembakau


a)

Tidak menggunakan tempat penimbunan hasil tembakau yang berhubungan


langsung dengan bangunan, halaman, atau tempat-tempat lain yang bukan
bagian tempat usaha importir yang dimintakan izin;

e)

Tidak berhubungan langsung dengan rumah tinggal

b)

Berbatasan langsung dan dapat dimasuki dari jalan umum.

hal 28

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

Persyaratan Administrasi
Untuk mendapatkan NPPBKC terhadap kegiatan yang berkaitan dengan BKC Hasil
Tembakau maka pengusaha minimal harus memenuhi persyaratan administrasi sebagai
berikut:
1) Pabrik Hasil Tembakau
a)

Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah Daerah setempat;

b)

Izin berdasarkan Undang-undang gangguan dari Pemerintah Daerah setempat;

c)

Izin Usaha Industri dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang
Perindustrian dan/atau Perdagangan;

d)

Izin Usaha Perdagangan dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang Perindustrian dan/atau Perdagangan;

e)

izin atau rekomendasi dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di
bidang Tenaga Kerja;

f)

Nomor Pokok Wajib Pajak ;

g)

Surat Keterangan Catatan Kepolisian dari Kepolisian Republik Indonesia,


apabila pemohon merupakan orang pribadi;

h)

Kartu Tanda Pengenal diri, apabila pemohon merupakan orang pribadi;

i)

Akta Pendirian Usaha, apabila pemohon merupakan Badan Hukum;

j)

Berita Acara Hasil Pemeriksaan Lokasi dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai
setempat;

k)

Dalam hal status kepemilikan tempat usaha adalah bukan pemilik


bangunan,maka harus disertai dengan surat perjanjian sewa-menyewa yang
disahkan notaris untuk jangka waktu paling singkat 5 (lima) tahun;

l)

Surat pernyataan bermeterei cukup bahwa pemohon tidak berkeberatan untuk


dibekukan atau dicabut NPPBKC yang telah diberikan dalam hal nama pabrik
yang bersangkutan memiliki kesamaan nama, baik tulisan maupun
pengucapannya dengan nama pabrik lain yang telah mendapat NPPBKC.

2)

Importir Hasil Tembakau yang mengajukan permohonan NPPBKC:


a) Izin sebagai importir dari instansi yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang
perdagangan;
b) Nomor Pokok Wajib Pajak ;
c) Akta Pendirian Usaha;

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 29

Modul Teknis Cukai


d) Nomor Identitas Kepabeanan (NIK);
e) Surat penunjukan sebagai agen penjualan dari produsen hasil tembakau yang
diimpor;
f)

Berita Acara Hasil Pemeriksaan Lokasi dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai
setempat.

1.2 Latihan
Agar Anda dapat lebih memahami materi bahasan pada kegiatan belajar 1 ini, coba
kerjakan latihan-latihan berikut ini.
1.

Jelaskan siapa saja yang wajib memiliki izin NPPBKC dan juga yang dikecualikan
untuk memiliki izin NPPBKC ?

2.

Jelaskan persyaratan fisik minimal yang berkaitan dengan luas lokasi tempat
usaha yang harus dimiliki oleh pengusaha dalam melakukan kegiatan di bidang
cukai ?

3.

Jelaskan mekanisme pemberian izin NPPBKC ?

4.

Jelaskan pengertian pembekuan dan pencabutan NPPBKC ?

5.

Jelaskan mekanisme perubahan NPPBKC ?

1.3 Rangkuman
1)

Pemberian NPPBKC kepada para Pengusaha yang bergerak di bidang cukai


merupakan salah satu mekanisme pengawasan yang diterapkan oleh Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai dalam rangka untuk pengamanan penerimaan negara.

2)

Subyek yang wajib memiliki NPPBKC adalah : Pengusaha Pabrik BKC, Pengusaha
tempat Penyimpanan etil alkohol, Penyalur MMEA dan etil alkohol, Importir BKC,
Pengusaha Tempat penjualan Eceran MMEA dan Etil alkohol;

3)

Pada prinsipnya izin NPPBKC dikeluarkan oleh Menteri Keuangan, namun dalam
praktek operasionanlnya izin tersebut didelegasikan kewenangannya kepada
Kepala Kantor Bea dan Cukai setempat;

4)

Jangka waktu berlakunya izin NPPBKC adalah: khusus izin NPPBKC bagi Pengusaha
Pabrik/ Pengusaha Tempat Penyimpanan/ Importir adalah selama pengusaha

hal 30

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


yang bersangkutan menjalankan kegiatan usahanya. Untuk izin NPPBKC bagi
penyalur atau pengusaha Tempat penjualan Eceran adalah selama lima tahun;
5)

Izin NPPBKC dapat dibekukan dalam hal:


a.

adanya bukti permulaan yang cukup bahwa pemegang izin NPPBKC


melakukan pelanggaran pidana di bidang cukai;

b.

adanya bukti yang cukup sehingga persyaratan perizinan tidak lagi dipenuhi;

c.

pemegang izin berada dalam pengawasan kurator sehubungan dengan


utangnya

6)

Izin NPPBKC terhadap Pengusaha BKC dapat dicabut, dalam hal :


a)

atas permohonan pemegang izin yang bersangkutan ;

b)

tidak dilakukan kegiatan selama satu tahun ;

c)

persyaratan perizinan tidak lagi dipenuhi ;

d)

pemegang izin tidak lagi secara sah mewakili badan hukum atau orang
pribadi yang berkedudukan di luar Indonesia ;

e)

pemegang izin dinyatakan pailit ;

f)

tidak dipenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ;

g)

pemegang izin dipidana berdasarkan keputusan hakim yang telah


mempunyai kekuatan hukum tetap karena melanggar ketentuan undangundang ini ;

h)

pemegang izin melanggar ketentuan Pasal 30 ; atau

i)

Izin berupa Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai dipindahtangankan,


dikuasakan, dan/atau dikerjasamakan dengan orang/pihak lain tan

1.4 Tes Formatif


Untuk menguji hasil belajar pada kegiatan belajar 1 ini, coba Anda kerjakan tes
formatif berikut ini, dengan cara memberikan tanda silang (X) pada jawaban yang
Anda anggap benar.
1.

Berikut ini adalah subyek cukai yang wajib memiliki NPPBKC, kecuali
a. Pengusaha Pabrik Etil Alkohol
b. Pengusaha Penyalur Hasil Tembakau
c. Pengusaha Tempat Penjualan Eceran MMEA
d. Importir BKC

2.

Persyaratan minimal untuk luas lokasi pabrik hasil tembakau yang memenuhi
kelayakan untuk diterbitkan NPPBKC adalah

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 31

Modul Teknis Cukai


a. 300 M2
b. 1.200 M2
c. 200 M2
d. 100 M2
3.

Persyaratan minimal untuk luas lokasi pabrik etil alkohol yang memenuhi
kelayakan untuk diterbitkan NPPBKC adalah
a. 300 M2
b. 5000 M2
c. 200 M2
d. 7.000 M2

4.

Masa berlakunya izin NPPBKC bagi Importir Hasil Tembakau adalah


a. Selama yang bersangkutan masih menjalankan usahanya
b. 5 (lima) tahun
c. 2 (dua) tahun
d. 3 (tiga) tahun

5.

Adanya bukti yang cukup bahwa pemegang NPPBKC melakukan pelanggaran


pidana di bidang cukai, merupakan salah satu persyaratan yang dapat
membuat izin NPPBKC
a. dicabut
b. dicabut sementara
c. ditinjau ulang
d. dibekukan

6.

Sistem penomoran NPPBKC menggunakan penomoran dengan jumlah


digit sebanyak
a. Sepuluh digit
b. Sembilan digit
c. lima digit
d. Tiga belas digit

7.

Jarak minimal yang diperkenankan terhadap lokasi tempat penjualan eceran


dan penyalur MMEA

8.

a.

300 meter

b.

200 meter

c.

100 meter

d.

250 meter

Untuk melakukan kegiatan impor MMEA dari luar negeri kewajiban perizinan
yang harus dimiliki adalah
a. Izin NPPBKC, Registrasi Importir dan Penunjukan dari Dep. Perdagangan

hal 32

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


b. Izin NPPBKC dan Registrasi Importir
c. Izin NPPBKC
d. Registrasi Importir
9.

Dalam hal izin NPPBKC pabrik atau tempat penyimpanan dicabut, tindakan apa
yang harus segera dilakukan terhadap BKC yang belum dilunasi cukainya yang
masih berada di dalam pabrik/tempat penyimpanan tersebut :
a.

Harus dilunasi cukainya dan dikeluarkan pada hari yang sama dengan
keputusan NPPBKC

b.

Harus dilunasi cukainya dan dikeluarkan dalam waktu paling lama


keesokan harinya dari tanggal keputusan NPPBKC

c.

Harus dilunasi cukainya dan dikeluarkan paling lama 30 hari sejak tanggal
keputusan pencabutan NPPBKC

d.

Harus dilunasi cukainya dan dikeluarkan paling lama 30 hari sejak


diterimanya keputusan pencabutan NPPBKC

10.

Salah satu pertimbangan Pemerintah mengeluarkan Kewajiban memiliki izin


NPPBKC adalah
a. Untuk meningkatkan penerimaan negara
b. Untuk meningkatkan kinerja produksi BKC
c. Untuk mengefektifkan pengawasan terhadap BKC
d. Untuk menjaga adanya pabrik fiktif

11.

Untuk melaksanakan fungsi pengawasan secara aktif, maka terhadap pabrik


MMEA yang produksinya lebih dari 50 ribu liter setahun, dilakukan
a. Pemberian fasilitas pembayaran berkala
b. Pemitaan pita cukai
c. Penempatan petugas Bea dan Cukai di Pabrik
d. Pengawasan secara tertutup dengan menepatkan intel

12.

Dalam hal pemegang NPPBKC meninggal dunia maka tindakan yang dilakukan
ahli waris
a. Meneruskan kepemilikan NPPBKC tanpa permohonan perubahan
b. Mengajukan permohonan perubahan kepemilikan
c. Cukup memberitahukan pergantian kepemilikan
d. Mengajukan permohonan baru NPPBKC

13.

Dalam hal pemegang NPPBKC tidak lagi berada di suatu Perusahaan, karena
alasan telah terjadinya pergantian kepemilikan
a.

Meneruskan kepemilikan NPPBKC tanpa permohonan perubahan

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 33

Modul Teknis Cukai

14.

b.

Cukup memberitahukan pergantian kepemilikan

c.

Mengajukan permohonan perubahan kepemilikan NPPBKC

d.

Mengajukan permohonan baru NPPBKC

Berikut ini adalah subyek yang wajib memiliki izin NPPBKC, kecuali
a. Pengecer etil alkohol yang jumlahnya dalam sehari 50 liter
b. Pengecer MMEA dengan kadar etil alkohol 4%
c. Penyalur MMEA skala kecil
d. Importir etil alkohol

15. Pabrik MMEA PT. A diberikan NPPBKC dengan nomor 0706.1.2. 1001 , berikut
adalah pernyataan yang benar, kecuali
a. Angka 0706 adalah kode Kantor Penerbit NPPBKC
b. Angka 1 adalah kode untuk pabrik Barang Kena Cukai
c. Angka 2 adalah kode untuk jenis BKC berupa etil alkohol
d. Angka 1001 adalah nomor urut

hal 34

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

1.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah disediakan.
Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini. Perhatikan dan
cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci
sebagaimana rumus dibawah ini.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal
Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai:
91 %

s.d

100 %

Sangat Baik

81 %

s.d.

90,99 %

Baik

71 %

s.d.

80,99 %

Cukup

61 %

s.d.

70,99 %

Kurang

0%

s.d.

60,99 %

Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah
menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat
melanjutkan kegiatan belajar berikutnya. Jika belum mencapai angka 81%, kami
menyarankan agar anda mengulang kembali materi kegiatan belajar ini.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 35

Modul Teknis Cukai


KEGIATAN
BELAJAR

TATACARA PENETAPAN TARIF


DAN HARGA DASAR BKC
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu:
1) Mengaplikasikan Konsep Tarif Cukai dan Harga Dasar BKC
2) Melaksanakan Tatacara Penetapan Tarif dan Harga Dasar Hasil Tembakau
3) Melaksanakan Tatacara Penetapan Tarif dan Harga Dasar BKC MMEA dan Etil Alkohol

2.1 Uraian dan Contoh

a. Tarif Cukai dan Harga Dasar Barang Kena Cukai


Tarif Cukai
Para peserta diklat yang berbahagia, pada Kegiatan
Belajar 2 ini kita akan mendalami materi bahasan
mengenai tata cara penetapan tarif dan harga dasar
barang kena cukai. Sebelum kita masuk pada pembahasan
mengenai hal tersebut, ada baiknya kami mereview
kembali

pengetahuan

mengenai

sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang Cukai.

konsep

tarif

cukai

Pemahaman yang tepat

mengenai konsep tarif cukai, akan memudahkan anda dalam melaksanakan tugas-tugas
yang berkaitan dengan penetapan tarif cukai di tempat kerja masing-masing.

hal 36

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam pasal 5 Undang-undang Cukai diatur
mengenai tarif cukai sebagai berikut :
1)

Barang kena cukai berupa hasil tembakau, dikenakan cukai berdasarkan tarif paling
tinggi :
a. Untuk yang dibuat di Indonesia :

275% (dua ratus tujuh puluh lima persen) dari harga dasar apabila harga
dasar yang digunakan adalah harga jual pabrik(HJP) ; atau

57% (lima puluh tujuh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang
digunakan adalah harga jual eceran (HJE).

b. Untuk yang diimpor :

275% (dua ratus tujuh puluh lima persen) dari harga dasar apabila harga
dasar yang digunakan adalah nilai pabean ditambah bea masuk ; atau

57% (lima puluh tujuh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang
digunakan adalah harga jual eceran.

(2) Barang kena cukai lainnya dikenakan cukai berdasarkan tarif paling tinggi :
a. Untuk yang dibuat di Indonesia :

1.150% (seribu seratus lima puluh persen) dari harga dasar apabila harga
dasar yang digunakan adalah harga jual pabrik ; atau

80% (delapan puluh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang
digunakan adalah harga jual eceran.

b. Untuk yang diimpor :

1.150% (seribu seratus lima puluh persen) dari harga dasar apabila harga
dasar yang digunakan adalah nilai pabean ditambah bea masuk ; atau

80% (delapan puluh persen) dari harga dasar apabila harga dasar yang
digunakan adalah harga jual eceran.

Ketentuan pasal 5 Undang-undang Cukai tersebut sekaligus memberikan


pedoman mengenai sistem tarif cukai yang dapat diberlakukan terhadap barang kena
cukai. Undang-undang cukai memberikan keleluasaan bagi pemerintah untuk
menerapkan alternatif sistem tarif cukai sebagai berikut :
1)

Tarif cukai advalorum atau persentase


Dalam sistem tarif advalorum, pungutan cukai dihitung berdasarkan besaran
persentase tertentu yang dikalikan dengan harga dasar tertentu .

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 37

Modul Teknis Cukai

Cukai = Tarif % x Harga Dasar

Keuntungan dalam sistem tarif advalorum adalah mudah dalam mengikuti


perkembangan harga pasar. Hal ini karena komponen tarif cukai bersifat variabel
terhadap harga jual barang kena cukai. Sebagai contoh, apabila pengusaha
dikenakan tarif cukai advalorum sebesar 30% dari HJE (misal Rp. 10.000,-) maka
pungutan cukai akan mudah ditentukan yaitu sebesar Rp.3.000,-.
Ketika kebijakan HJE dinaikkan oleh Pemerintah menjadi sebesar Rp. 12.000,maka dengan sendirinya beban cukai dapat diestimasikan meningkat secara
variabel menjadi Rp. 3.600,-. Dari sisi pemahaman maupun cara perhitungan
cukainya, maka sistem tarif cukai advalorum juga lebih simpel dan mudah.
Kerugian atau lebih tepatnya kesulitan yang dihadapi pemerintah terhadap
penerapan sistem tarif cukai advalorum adalah dalam hal pengawasan di lapangan.
Penjelasannya adalah sebagai berikut :
-

Dengan penerapan sistem tarif cukai advalorum, kebijakan pemerintah


cenderung menggunakan instrumen Harga Jual Eceran sebagai cara untuk
meningkatkan penerimaan cukai setiap tahunnya atau untuk maksud
pembatasan-pembatasan tertentu.

Kenyataan riil yang ada di pasar menunjukkan bahwa HJE yang ditetapkan
pemerintah (official price) selalu lebih tinggi dibandingkan dengan harga
transaksi di tingkat konsumen (demand price). Hal ini terjadi karena adanya
mekanisme pasar yang terbentuk terhadap konsumsi barang kena cukai
tersebut.

Adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara HJE penetapan pemerintah
(official price) dengan harga transaksi pasar (demand price) membuat
produsen rokok membayar cukai lebih besar dari yang seharusnya. Dampaknya
adalah timbulnya upaya-upaya penghindaran cukai dalam berbagai bentuk,
antara lain: penggunaan pita cukai palsu, rokok tanpa pita cukai (rokok polos),
penggunaan pita cukai yang bukan haknya, dan lain sebagainya. Pemerintah
khususnya DJBC dengan jumlah sumber daya yang terbatas akan kesulitan

hal 38

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


leakukan pengawasan terhadap peredaran rokok-rokok ilegal di seluruh
Indonesia.
2)

Tarif Cukai Spesifik


Dalam sistem tarif cukai spesifik, pungutan cukai dihitung dengan cara
mengalikan antara Tarif cukai dalam satuan Rupiah dengan jumlah satuan spesifik
tertentu, misalnya : jumlah dalam liter, jumlah dalam batang, dan sebagainya.

Cukai = Tarif Rp x Jumlah Satuan Spesifik (liter atau batang)

Sistem tarif cukai spesifik sudah lebih dahulu diterapkan terhadap BKC
berupa etil alkohol dan MMEA sejak awal pemberlakukan Undang-undang Nomor
11 Tahun 1995 tentang Cukai, dan bahkan sejak masa penerapan Ordonansi Cukai
Bir dan Cukai Alkohol Sulingan. Sejak penerapan Peraturan Menteri Keuangan
nomor 203/PMK.04/2008 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau pada tanggal 1
Februari 2009, pemungutan cukai hasil tembakau secara resmi menggunakan
sistem tarif spesifik.
Keuntungan dan kerugian sistem tarif spesifik ini merupakan kebalikan dari
sistem tarif advalorum. Dari sisi keuntungan, sistem tarif spesifik relatif akan
memudahkan aparatur DJBC dalam pengawasan terhadap peredaran BKC di
pasaran. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa sistem tarif advalorum cenderung
membuat disparitas harga jual BKC menjadi semakin besar. Hal ini tidak terjadi
pada sistem tarif spesifik, oleh karena kebijakan kenaikan cukai cenderung
menggunakan

instrumen tarif. Komponen harga tidak lagi bersifat variabel

terhadap pungutan cukai. Diharapkan dengan pemberlakukan sistem tarif spesifik


akan mengurangi disparitas harga antara official price dengan demand price.
Kerugian yang dihadapi dalam penerapan sistem tarif spesifik lebih kepada
sifat tarif spesifik yang tidak dapat mengikuti perkembangan harga pasar.
Ekstremnya dapat dikatakan bahwa berapapun peningkatan harga yang terjadi di
pasar tidak akan mempengaruhi besarnya pungutan cukai. Hal inilah yang terjadi
pada BKC berupa etil alkohol dan MMEA. Khusus untuk Hasil Tembakau pemerintah
pada dasarnya tidak menerapkan sistem tarif spesifik murni, karena masih

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 39

Modul Teknis Cukai


menggunakan variabel lain yaitu: batasan golongan berdasarkan jumlah produksi
dan batasan HJE dalam strata tertentu. Kita akan membahas lebih lanjut hal ini
pada bagian berikutnya.
3)

Tarif Cukai Gabungan


Ketentuan Pasal 5 Undang-undang Cukai membolehkan Pemerintah untuk
mengubah tarif advalorum atau tarif spesifik menjadi tarif gabungan. Kita tidak
akan membahas kerugian atau kelebihan sistem tarif gabungan ini, karena pada
prakteknya sistem tarif gabungan bukanlah suatu pilihan tarif yang permanen.
Sistem tarif gabungan biasanya hanya digunakan pada masa transisi ketika
pemerintah hendak mengalihkan suatu sistem tarif advalorum menjadi sistem tarif
spesifik atau sebaliknya. Tujuannya adalah agar tidak menimbulkan gejolak
berlebihan dan sekaligus sebagai transisi terhadap proses pengalihan sistem tarif
baru.

Cukai = (Tarif % x Harga Dasar) + (Tarif Rp x Jumlah Satuan tertentu)

Harga Dasar
Istilah harga dasar dalam konsep pemungutan cukai muncul bersama-sama
dengan ketentuan tarif cukai dalam Pasal 5 Undang-undang Cukai. Selanjutnya di dalam
pasal 6 Undang-undang Cukai, ketentuan mengenai harga dasar dipertegas kembali
sebagaimana bunyi pasal berikut :
1)

Harga dasar yang digunakan untuk perhitungan cukai atas BKC yang dibuat di
Indonesia adalah harga jual pabrik atau harga jual eceran.

2)

Harga dasar yang digunakan untuk perhitungan cukai atas BKC yang diimpor
adalah nilai pabean ditambah bea masuk atau harga jual eceran.
Berdasarkan ketentuan pasal 5 dan pasal 6 Undang-undang Cukai dapat

disimpulkan bahwa harga dasar yang dapat digunakan dalam rangka penghitungan
sistem tarif cukai advalorum adalah :

hal 40

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


a)

Harga Jual Eceran, pengertiannya adalah harga yang ditetapkan oleh Pemerintah
sebagai dasar penghitungan besarnya tarif cukai. Oleh karena penetapan HJE Hasil
tembakau dilakukan oleh Pemerintah, maka Mark (2003) mengistilahkan harga
jual eceran tersebut sebagai official price. Akan tetapi ketika Dalam konteks
sistem pemungutan cukai MMEA istilah Harga Jual Eceran cenderung lebih
mengarah kepada Harga Pemberitahuan.

b)

Harga Jual Pabrik, pengertiannya adalah harga penyerahan pabrik kepada


penyalur atau konsumen yang didalamnya belum termasuk cukai.

Bila kita

meninjau definisi yang diberikan dalam penjelasan pasal 6 ayat (1) Undangundang Cukai dapat disebutkan bahwa istilah harga jual pabrik similar dengan
istilah harga pokok penjualan (HPP).

Dalam konsep akuntansi, harga pokok

penjualan adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang yang
dijual atau harga perolehan dari barang yang dijual. Ada dua manfaat dari harga
pokok penjualan, yaitu: (i) Sebagai patokan untuk menentukan harga jual, dan (ii)
untuk mengetahui laba yang diinginkan perusahaan. Apabila harga jual lebih besar
dari harga pokok penjualan maka akan diperoleh laba, dan sebaliknya apabila
harga jual lebih rendah dari harga pokok penjualan akan diperoleh kerugian.
Untuk lebih jelasnya, anda dapat membandingkan komponen harga jual pabrik
dan harga jual eceran dalam dokumen CK-21 A berikut ini. Dokumen CK-21A
merupakan dokumen mengenai kalkulasi harga jual eceran yang wajib
diberitahukan oleh Pengusaha Hasil Tembakau pada saat mengajukan
permohonan penetapan tarif dan harga jual eceran hasil tembakau atas merekmerek baru yang akan dipasarkan.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 41

Modul Teknis Cukai

Gambar 2.1
Kalkulasi Harga Jual Eceran Hasil Tembakau

Poin 1 sampai dengan poin ke-17 merupakan perhitungan untuk memperoleh


harga jual pabrik, sedangkan komponen untuk menghitung harga jual eceran,
masih harus ditambah dengan poin ke-18 sampai ke-22.

hal 42

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


c)

Nilai Pabean + Bea Masuk, merupakan harga dasar yang dapat digunakan
Pemerintah sebagai patokan dalam rangka penghitungan tarif cukai khususnya
tarif cukai atas BKC yang diimpor. Istilah nilai pabean dan bea masuk adalah istilah
yang diatur di dalam Undang-undang Kepabeanan. Sebagai tambahan penjelasan,
untuk penentuan harga dasar dalam penghitungan nilai cukai atas BKC yang
diimpor maka Pemerintah lebih memilih untuk menggunakan patokan harga dasar
berupa Harga Jual Eceran yang ditetapkan oleh pemerintah (official price).

b. Tatacara Penetapan Tarif Cukai Hasil tembakau

Untuk menindaklanjuti ketentuan mengenai tarif cukai sebagaimana diatur di


dalam Pasal 5 ayat (5) Undang-undang Cukai, pemerintah mengeluarkan peraturan
operasional dalam bentuk Peraturan Menteri Keuangan2. Untuk saat ini, Peraturan
Menteri Keuangan yang paling update yang mengatur mengenai tatacara penetapan
tarif

cukai

hasil

tembakau

adalah

Peraturan

menteri

Keuangan

nomor

181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. Kebijakan pemerintah yang


mengalihkan sistem tarif cukai advalorum menjadi sistem tarif cukai spesifik membuat
fokus kebijakan pemerintah lebih mengarah kepada pengaturan terhadap besaran tarif
cukai dibandingkan dengan harga jual eceran.
Dalam sistem penetapan tarif cukai spesifik pada BKC hasil tembakau, pada
dasarnya pemerintah tidak menetapkan sistem tarif spesifik murni sebagaimana halnya
pada etil alkohol maupun MMEA. Untuk sistem tarif cukai hasil tembakau setidaknya
ada empat besaran pokok yang mempengaruhi nilai cukai hasil tembakau, yaitu :
1)

Jenis hasil tembakau;

2)

Golongan Produsen yang ditentukan berdasarkan jumlah produksi hasil tembakau


selama satu tahun takwim;

3)

Batasan HJE, artinya adalah batas HJE minimum yang boleh diajukan Pengusaha
dalam rangka penetapan Tarif cukai; dan

4)

Tarif cukai spesifik dalam nilai satuan Rupiah .

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 43

Modul Teknis Cukai

Jenis Hasil Tembakau


Kebijakan pemerintah yang mengakomodasikan berbagai jenis hasil tembakau
yang ada di pasaran ke dalam struktur tarif cukai yang berbeda-beda membuat sistem
pemungutan cukai hasil tembakau di Indonesia agak sedikit komplek dan rumit.
Kebijakan penjenisan hasil tembakau ini sudah ada sejak pemberlakuan Ordonansi Cukai
Hasil Tembakau oleh Pemerintah Kolonial Belanda berdasarkan Tabsacccijns
Ordonnantie, Stbl. 1932 Nomor 517.
Kategori

hasil

tembakau

yang

diakomodasikan

dalam

PMK

nomor

181/PMK.011/2009 terdiri atas 9 jenis produk. Masing-masing jenis hasil tembakau


tersebut memiliki struktur tarif cukai yang berbeda-beda. Penjelasan untuk masingmasing jenis hasil tembakau dapat kami sampaikan sebagai berikut:
1)

Sigaret Kretek Mesin (SKM), adalah sigaret yang dalam

pembuatannya dicampur dengan cengkih, atau bagiannya, baik


asli maupun tiruan tanpa memperhatikan jumlahnya yang dalam
pembuatannya mulai dari pelintingan, pemasangan filter,
pengemasannya dalam kemasan untuk penjualan eceran, sampai
dengan pelekatan pita cukai, seluruhnya, atau sebagian menggunakan mesin.
2)

Sigaret Putih Mesin (SPM), adalah sigaret yang dalam pembuatannya tanpa
dicampuri dengan cengkih, kelembak, atau kemenyan yang
dalam pembuatannya mulai dari pelintingan, pemasangan
filter, pengemasannya dalam kemasan untuk penjualan
eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai, seluruhnya,
atau sebagian menggunakan mesin.

3)

Sigaret Kretek Tangan (SKT) adalah sigaret yang dalam pembuatannya dicampur
dengan cengkih, atau bagiannya, baik asli maupun tiruan tanpa memperhatikan
jumlahnya yang dalam proses pembuatannya mulai dari pelintingan, pengemasan
dalam kemasan untuk penjualan eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai,
tanpa menggunakan mesin.
Sigaret Putih Tangan (SPT) adalah sigaret yang dalam pembuatannya tanpa
dicampuri dengan cengkih, kelembak, atau kemenyan yang dalam proses
pembuatannya mulai dari pelintingan, pemasangan filter, pengemasan dalam

hal 44

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


kemasan untuk penjualan eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai, tanpa
menggunakan mesin.
4)

Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF) adalah sigaret yang dalam pembuatannya
dicampur dengan cengkih, atau bagiannya, baik asli maupun tiruan tanpa
memperhatikan jumlahnya yang dalam proses pembuatannya mulai dari
pelintingan, pemasangan filter, pengemasan dalam kemasan untuk penjualan
eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai, tanpa menggunakan mesin.
Sigaret Putih Tangan Filter (SPTF) adalah sigaret yang dalam pembuatannya tanpa
dicampuri dengan cengkih, kelembak atau kemenyan yang dalam proses
pembuatannya mulai dari pelintingan, pemasangan filter, pengemasan dalam
kemasan untuk penjualan eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai, tanpa
menggunakan mesin.

5)

Sigaret Kelembak Kemenyan (KLM) adalah sigaret yang dalam


pembuatannya dicampur dengan kelembak dan/atau kemenyan
asli maupun tiruan tanpa memperhatikan jumlahnya.
6)

Cerutu (CRT) adalah hasil tembakau yang dibuat dari


lembaran-lembaran daun tembakau diiris atau tidak,
dengan cara digulung demikian rupa dengan daun
tembakau untuk dipakai, tanpa mengindahkan bahan
pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam
pembuatannya.

7)

Rokok Daun atau Klobot (KLB) adalah hasil tembakau yang dibuat dengan daun
nipah, daun jagung (klobot), atau sejenisnya, dengan cara dilinting, untuk dipakai,
tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan
dalam pembuatannya.

8)

Tembakau Iris (TIS) adalah hasil tembakau yang dibuat dari daun tembakau yang
dirajang, untuk dipakai, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan
pembantu yang digunakan dalam pembuatannya.

9)

Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) adalah hasil tembakau yang dibuat
dari daun tembakau selain yang disebut dalam angka 1 sampai dengan angka 8
yang dibuat secara lain sesuai dengan perkembangan teknologi dan selera

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 45

Modul Teknis Cukai


konsumen, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang
digunakan dalam pembuatannya.

Golongan Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau


Dalam struktur tarif cukai hasil tembakau, variabel yang cukup menentukan
besarnya nilai cukai adalah golongan pengusaha pabrik. Penggolongan pabrikan hasil
tembakau dikelompokkan berdasarkan masing-masing jenis dan jumlah produksi hasil
tembakau untuk setiap satu tahun takwim. Pengertiannya adalah apabila seorang
Pengusaha memproduksi dua jenis hasil tembakau (misal: SKM dan SPM), maka
kemungkinan Pabrikan tersebut untuk menempati golongan yang berbeda, dapat saja
terjadi ( Jenis SKM sebagai Golongan I dan jenis SPM sebagai Golongan II).
Secara umum penggolongan hanya dibedakan berdasarkan dua kelompok saja
yaitu Golongan I dan Golongan II, namun khusus untuk jenis SKT/SPT penggolongan
dibedakan menjadi tiga golongan. Untuk jenis SKT, kebijakan yang diambil pemerintah
adalah tetap memberikan insentif terhadap sektor industri yang padat karya (labour
intensive), walaupun secara gradual Pemerintah mulai melaksanakan kebijakan yang
mengarah kepada pengurangan jumlah konsumsi hasil tembakau. Kebijakan tersebut
tertuang di dalam Roadmap Kebijakan Industri Hasil Tembakau. Penggolongan
pengusaha pabrik hasil tembakau dapat anda lihat pada tabel 2.1 berikut.
Tabel 2.1
Penggolongan dan Batasan Produksi Hasil Tembakau

No.
URUT

JENIS
HASIL TEMBAKAU

1.

SKM

2.

SPM

3.

SKT atau SPT

4.

SKTF atau SPTF

5.

TIS

hal 46

GOLONGAN
PENGUSAHA
PABRIK

BATASAN PRODUKSI
(per tahun takwin)

I
II
I
II
I
II

Lebih dari 2 milyar batang


Tidak Lebih dari 2 milyar batang
Lebih dari 2 milyar batang
Tidak Lebih dari 2 milyar batang
Lebih dari 2 milyar batang
Lebih dari 500 jt batang, tetapi
tidak lebih dari 2 milyar batang
Tidak lebih dari 500 jt batang
Lebih dari 2 milyar batang
Tidak Lebih dari 2 milyar batang
Tanpa Batasan Jumlah Produksi

III
I
II
Tanpa Gol.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


6.
7.
8.

KLM atau KLB


CRT
HPTL

Tanpa Gol.
Tanpa Gol.
Tanpa Gol.

Tanpa Batasan Jumlah Produksi


Tanpa Batasan Jumlah Produksi
Tanpa Batasan Jumlah Produksi

Sumber : PMK Nomor 181/PMK.011/2009

Apabila jumlah produksi suatu pabrikan hasil tembakau telah melampaui batasan
jumlah produksi untuk golongan diatasnya, maka pengusaha yang bersangkutan wajib
mengajukan penyesuian kenaikan golongan. Pengajuan ini tetap harus dilakukan oleh
yang bersangkutan meskipun belum genap satu tahun takwim atau masih dalam periode
satu tahun takwim berjalan. Penyesuaian tarif cukai atas kenaikan golongan ini akan
mulai berlaku setelah 6 (enam) bulan sejak tanggal keputusan mengenai penyesuaian
golongan Pengusaha Pabrik hasil tembakau, dan tidak melebihi tahun takwim berjalan.
Contoh (diambil dari sumber SE-27/BC/2009):
1)

Pabrik A, produksi pabrik berdasarkan dokumen pemesanan pita cukai (CK-1)


telah melampaui Batasan Jumlah Produksi Pabrik yang bersangkutan pada tanggal
25 April 2010, maka kepala Kantor:
a)

menetapkan Keputusan Penyesuaian Golongan Pengusaha Pabrik hasil


tembakau pada tanggal 25 April 2010 dan keputusan ini mulai berlaku pada
tanggal 25 April 2010; dan

b)

menetapkan Keputusan Penyesuaian Tarif Cukai Hasil Tembakau pada


tanggal 25 April 2010 dan keputusan ini mulai diberlakukan mulai tanggal 25
Oktober 2010.

2)

Pabrik B, produksi pabrik berdasarkan dokumen pemesanan pita cukai (CK-1)


melampaui Batasan Jumlah Produksi Pabrik yang bersangkutan pada tanggal 25
September 2010, maka kepala Kantor:
a)

b)

menetapkan Keputusan Penyesuaian Golongan Pengusaha Pabrik hasil


tembakau pada tanggal 25 September 2010 dan keputusan ini mulai berlaku
pada tanggal 25 September 2010; dan
menetapkan Keputusan Penyesuaian Tarif Cukai Hasil Tembakau pada
tanggal 25 September 2010 dan keputusan ini mulai diberlakukan mulai
tanggal 31 Desember 2010.

Dalam hal hasil produksi selama satu tahun takwim ternyata kurang dari batasan
jumlah produksi pabrik yang berlaku bagi golongan yang telah ditetapkan, maka
Pengusaha Pabrik hasil tembakau yang bersangkutan dapat mengajukan permohonan
untuk penurunan golongan. Permohonan penurunan golongan diajukan paling lambat

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 47

Modul Teknis Cukai


pada bulan Januari tahun takwim berikutnya sebelum dokumen pemesanan pita cukai
pertama kali diakjukan.
Atas permohonan tersebut, Kepala kantor wajib menetapkan keputusan menerima
atau menolak permohonan dalam jangka waktu maksimal 10 (sepuluh) hari terhitung
sejak permohonan diterima secara lengkap dan benar. Keputusan untuk menerima
permohonan penurunan golongan hanya diberikan untuk satu tingkat lebih rendah dari
golongan pengusaha pabrik sebelumnya.

Batasan Harga Jual Eceran


Meskipun tidak lagi menjadi fokus utama kebijakan di bidang cukai hasil
tembakau, instrumen harga jual eceran tetap menjadi salah komponen yang cukup
menentukan dalam pengambilan kebijakan mengenai tarif cukai hasil tembakau.
Batasan HJE minimal yang boleh diajukan oleh setiap pengajuan penetapan tarif cukai
hasil tembakau tetap harus memenuhi batasan HJE yang ditetapkan oleh Pemerintah
sebagaimana yang tercantum dalam lampiran II PMK Nomor 181/PMK.011/2010. (lihat
Tabel 2.2)
Untuk penetapan tarif cukai atas pengajuan merek-merek baru produk hasil
tembakau maupun untuk penetapan kembali atas merek yang sudah ada sebelumnya
(berdasarkan ketentuan tarif cukai lama sesuai PMK nomor 203/PMK.011/2008), maka
penentuan batasan HJE yang bersangkutan harus mengacu kepada :
1)

Harga jual eceran yang tercantum dalam penetapan tarif cukai yang masih berlaku
berdasarkan PMK nomor 203/PMK.011/2008;

2)

Harga jual eceran yang diberitahukan oleh Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau,
khusus untuk pengajuan merek baru

3)

Harga jual eceran yang telah mengalami kenaikan

Harga jual eceran yang menjadi dasar acuan sebagaimana tersebut diatas, harus dalam
kelipatan Rp. 25,00 .
Harga jual eceran per batang atau gram untuk setiap jenis hasil tembakau untuk
tujuan ekspor harus ditetapkan sama dengan HJE per batang atau gram untuk setiap
jenis hasil tembakau dari jenis dan merek hasil tembakau yang sama yang ditujukan
untuk pemasaran di dalam negeri. Penetapan HJE atas produk hasil tembakau yang
diekspor tetap diperlukan untuk pencatatan administrasi, meskipun untuk produk hasil

hal 48

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


tembakau yang diekspor tidak perlu dilekati dengan pita cukai dan juga mendapat
fasilitas tidak dipungut cukai .
Pengusaha pabrik atau importir hasil tembakau tidak dapat menurunkan HJE yang
masih berlaku atas merek hasil tembaklau yang dimilikinya. Ketentuan mengenai HJE
atas merek-merek baru yang boleh diajukan oleh Pengusaha Pabrik atau Importir adalah
tidak boleh lebih rendah dari HJE yang masih berlaku atas merek hasil tembakau yang
dimilikinya dalam satuan batang atau gram untuk jenis hasil tembakau yang sama.
Pengertian ini dapat kami perjelas dengan contoh-contoh kasus sebagai berikut :
1)

Pabrik PR GG merupakan pabrik yang sudah lama berdiri, termasuk Pengusaha


Pabrik jenis SKM golongan I, mengajukan penetapan tarif cukai atas merek C
dengan HJE diberitahukan adalah Rp 8.050 isi 12 batang. Untuk pengajuan
tersebut yang bersangkutan melampirkan merek-merek lama yang masih berlaku
yang dimilikinya, sebagai berikut :
-

Merek A, SKM, isi @ 16 batang HJE Rp. 10.650,- tarif Rp.310,-

Merek B, SKM, isi @ 20 batang, HJE Rp. 13.375,- tarif Rp.310,-

Pertanyaannya tentu saja adalah, apakah pengajuan terhadap merk C dapat


diterima oleh KPPBC setempat. Untuk menentukan hal ini, kita harus meneliti
terlebih dahulu HJE yang diajukan.
-

HJE sebesar Rp. 8.050,- bila dibagi 12 batang hasilnya adalah Rp. 670,83

Untuk HJE atas merek A : Rp.10.650,- dibagi 16 hasilnya adalah Rp. 665,63

Untuk HJE atas merek B : Rp. 13.375,- dibagi 20 hasilnya adalah Rp. 668,75

Oleh karena HJE atas merek C telah melebihi batas minimal HJE terendah yang
dimilikinya (merek A), maka pengajuan HJE atas merek C dapat disetujui oleh KPPBC
setempat. Selanjutnya perhitungan penetapan tarif cukai atas merek C dapat
merujuk pada ketentuan Lampiran II PMK nomor 181/PMK.011/2009, yaitu berada
dalam batasan harga jual eceran per batang atau gram golongan I layer 1 dengan
rentang harga jual eceran lebih dari Rp 660 per batang, maka penetapan tarif
cukainya adalah Rp 310 per batang.
2)

Pabrik XYZ merupakan pabrik yang sudah lama berdiri, termasuk Pengusaha
Pabrik jenis SPM golongan II, mengajukan penetapan tarif cukai atas merek C
dengan HJE diberitahukan adalah Rp 6.000 isi 20 batang. Untuk pengajuan

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 49

Modul Teknis Cukai


tersebut yang bersangkutan melampirkan merek-merek lama yang masih berlaku
yang dimilikinya, sebagai berikut :
-

Merek A, SPM, isi @ 20 batang HJE Rp. 6.025,- tarif Rp.200,-

Merek B, SPM, isi @ 20 batang, HJE Rp. 6.200,- tarif Rp.200,-

Apakah pengajuan terhadap merk C dapat diterima oleh KPPBC setempat ?


Untuk menentukan hal ini, kita harus meneliti terlebih dahulu HJE yang diajukan.
-

HJE Merek C sebesar Rp. 6.000,- bila dibagi dengan isi 20 batang hasilnya
adalah Rp. 300,00

Untuk HJE atas merek A : Rp.6.025,- dibagi 20 hasilnya adalah Rp. 301,25

Untuk HJE atas merek B : Rp. 6.200,- dibagi 20 hasilnya adalah Rp. 310,00

Oleh karena HJE atas merek C masih dibawah batas minimal HJE terendah yang
dimilikinya (merek A), maka pengajuan HJE atas merek C harus ditolak oleh KPPBC
setempat. HJE minimal yang boleh diajukan atas merek C adalah Rp. 6.025,- dengan
penetapan tarif cukai sebesar Rp. 200 per batang.

Mekanisme Penetapan Tarif Cukai


Instrumen terakhir yang paling menentukan besarnya nilai cukai adalah
instrumen tarif spesifik itu sendiri. Dengan penerapan sistem tarif spesifik, maka
kebijakan pemerintah akan lebih dikonsentrasikan pada penentuan besaran tarif cukai
hasil tembakau yang ideal. Pengertian ideal disini adalah pemerintah harus
mengharmonisasian berbagai kepentingan yang berkaitan dengan kebijakan cukai hasil
tembakau, antara lain: kepentingan penerimaan negara, kebijakan pembatasan
konsumsi atas hasil tembakau, insentif terhadap industri hasil tembakau yang
berorientasi padat karya (labor intensive), dan lain-lain. Hal inilah yang membuat
struktur tarif cukai hasil tembakau menjadi tidak sederhana dan bersifat komplek.
Struktur tarif cukai hasil tembakau hasil produksi dalam negeri dapat anda lihat
pada tabel 2.2. Untuk struktur tarif dan HJE hasil tembakau yang diimpor dapat anda
lihat pada lampiran Modiul ini. Struktur tarif cukai tersebut dikutip dari Lampiran II PMK
nomor 181/PMK.011/2009. Adapun penetapan tarif cukai hasil tembakau oleh
pengusaha, harus memperhatikan komponen sebagai berikut :
1)

Jenis hasil tembakau;

2)

Golongan pengusaha Pabrik

hal 50

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


3)

Batasan harga jual eceran per batang ata gram, yang ditetapkan oleh Menteri
Tarif cukai hasil tembakau untuk masing-masing Pengusaha Pabrik atau Importir

ditetapkan oleh kepala Kantor dengan menerbitkan keputusan mengenai tarif cukai hasil
tembakau. Tarif cukai hasil tembakau ditetapkan dengan menggunakan jumlah dalam
rupiah untuk setiap satuan batang atau gram hasil tembakau. Mekanisme pengajuan
penetapan tarif cukai dapat kami jelaskan dalam gambar 2.2 berikut.
Gambar 2.2
Alur Proses Penetapan Tarif Cukai Hasil Tembakau
atas Merek-Merek Baru

Penjelasan :
1)

Pengusaha barang kena cukai sebelum memasarkan hasil produksinya ke pasar,


baik pasar dalam negeri maupun pasar internasional (ekspor), wajib terlebih dahulu
mengajukan permohonan kepada Kepala KPPBC setempat untuk penetapan harga
jual eceran dan tarif cukai atas produk hasil tembakau tersebut;

2)

Disamping surat permohonan maka lampiran yang harus diikutsertakan dalam


proses pengajuan penetapann tarif cukai hasil tembakau tersebut antara lain
adalah: contoh etiket atau kemasan, daftar merek-merek hasil tembakau yang
dimiliki dan masih berlaku (jika ada), dan surat pernyataan diatas materei bahwa
merek atau desain kemasan yang dimohonkan tidak memiliki kesamaan pada

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 51

Modul Teknis Cukai


pokoknya atau pada keseluruhannya dengan merek atau desain yang telah dimiliki
atau dipergunakan oleh pabrik atau importir lainnya.
3)

KPPBC akan melakukan penelitian terhadap permohonan yang diajukan dalam


jangka waktu paling ;lama 30 (tiga puluh ) hari sejak tanggal permohonan diterima
secara lengkap. Fokus penelitian yang dilakukan pihak KPPBC antara lain adalah:
persyaratan administrasi,

Batasan minimal

HJE yang boleh diajukan, dan

penetapan tarif sesuai struktur tarif dalam PMK nomor 181/PMK.011/2009.

4)

Dalam hal berdasarkan penelitian oleh Kepala Kantor


a) permohonan disetujui atau dikabulkan, kepala Kantor menerbitkan keputusan
penetapan tarif cukai hasil tembakau;
b) permohonan ditolak, kepala Kantor menerbitkan surat penolakan dengan
disertai alasan penolakan.
Dalam hal batas waktu maksimal telah dilewati, namun keputusan belum juga
dikeluarkan oleh KPPBC, maka pengajuan penetapan tarif cukai hasil tembakau
tersebut dianggap disetujui

5)

Dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari terhitung sejak tanggal
penetapan, Kepala Kantor wajib mengirimkan lembar tembusan keputusan
penetapan hasil tembakau disertai berkas lampiran kepada Kepala Kantor Wilayah
dan Direktur Cukai.
Keputusan tentang Penetapan Harga Jual Eceran yang dikeluarkan oleh Kepala

Kantor Bea dan Cukai dinyatakan tidak berlaku, apabila selama lebih dari enam bulan
berturut-turut Pengusaha Pabrik atau Importir yang bersangkutan :
1)

tidak pernah merealisasikan pemesanan pita cukainya dengan menggunakan


dokumen pemesanan pita cukai; atau

2)

tidak pernah merealisasikan ekspor hasil tembakaunya dengan menggunakan


Dokumen pemberitahuan pengeluaran BKC yang belum dilunasinya dari pabrik
hasil tembakau untuk tujuan ekspor

Untuk dapat menggunakan kembali Harga Jual Eceran atas merek hasil tembakau yang
dinyatakan tidak berlaku, Pengusaha Pabrik atau Importir harus mengajukan kembali
Permohonan Penetapan Harga Jual Eceran sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang
berlaku. Dalam hal penetapan kembali, maka tarif cukai atas merek tersebut tidak boleh

hal 52

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


lebih rendah dari yang pernah berlaku dan HJE-nya minimal sama dengan HJE yang
pernah berlaku.
Dalam rangka kegiatan pengawasan terhadap peredaran BKC hasil tembakau di
pasaran, maka unit-unit Pengawasan yang ada di Kantor-kantor Bea dan Cukai wajib
melakukan kegiatan pemantauan terutama terhadap harga transaksi pasar. Apabila
dalam kegiatan pemantauan ditemukan disparitas harga yang sudah cukup besar antara
HJE penetapan pemerintah dengan harga transaksi pasar, maka harus diambil tindakantindakan sebagai berikut :
1)

Dalam hal harga transaksi pasar atas suatu merek hasil tembakau telah melampaui
batasan HJE per batang atau gram diatasnya, maka pengusaha pabrik atau importir
wajib mengajukan penyesuaian tarif cukai. Contoh :
- Merek A, SKM, Gol.I, isi @ 16 batang, HJE penetapan adalah Rp. 10.550,- dengan
tarif cukai Rp. 300 per batang. Pemantauan HJE oleh pejabat bea dan cukai
dalam suatu wilayah dan dalam periode pemantauan tertentu menunjukkan
bahwa harga transaksi pasar untuk merek A tersebut sudah mencapai Rp.
10.600,-.
- Dalam kondisi perbedaan harga ini Direktur Cukai atas nama Direktur Jenderal
akan segera memberitahukan kepada Pengusaha yang bersangkutan untuk
segera mengajukan penyesuaian tarif cukai.

Hal ini dikarenakan HJE merek A

sebesar Rp. 10.600,- per kemasan atau Rp. 662,5 per batang telah melampaui
batasan layer ke-2 Golongan I untuk produk SKM. Atas merek A tersebut wajib
disesuaikan tarif cukai dan HJE nya menjadi Rp. 10.600, - (layer 1) dengan tarif
cukai spesifik sebesar Rp. 310,- per batang.
2)

Dalam hal harga transaksi pasar atas suatu merek yang penetapan tarif cukainya
berada pada posisi batasan HJE per batang atau gram tertinggi (layer 1) untuk
masing-masing golongan pengusaha pabrik hasil tembakau, telah melampaui 5%
(lima persen) dari HJE yang berlaku atau harga yang tercantum dalam pita cukai
maka pengusaha pabrik atau importir hasil tembakau wajib mengajukan
permohonan penyesuian kenaikan HJE sebagai dasar perhitungan PPN Hasil
Tembakau. Dalam hal ini tarif cukai untuk merek hasil tembakau tersebut tidak
akan mengalami kenaikan karena sudah pada level tertinggi

di golongannya

masing-masing. Contoh :

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 53

Modul Teknis Cukai


- Merek B, SKM, Gol.I, isi @ 16 batang, HJE penetapan adalah Rp. 10.575,- dengan
tarif cukai Rp. 310 per batang. Pemantauan HJE oleh pejabat bea dan cukai
dalam periode pemantauan tertentu menunjukkan bahwa harga transaksi pasar
untuk merek A tersebut sudah mencapai Rp. 11.125,-. (sudah melebihi 5%)
- Untuk kasus yang seperti ini, maka Direktur Cukai atas nama Direktur Jenderal
akan segera memberitahukan kepada Pengusaha yang bersangkutan untuk
segera mengajukan penyesuaian Harga Jual Eceran saja.

Hal ini dikarenakan

HJE merek B sebesar Rp. 11.125,- per kemasan atau Rp. 695,31 per batang telah
melampaui 5% dari HJE penetapannya .
Tabel 2.2
Tarif Cukai dan Batasan Minimal HJE
Hasil Tembakau Buatan Dalam Negeri
No.
Urut

Gol. Pengusaha Pabrik


Hasil Tembakau
Jenis

1.

Golongan
I

SKM
II

2.

SPM

3.

II

I
SKT
atau
SPT

II

III
4.

SKTF
atau
SPTF

II

5.

TIS

hal 54

Tanpa Gol.

Batasan HJE per batang atau gram

Tarif Cukai
per batang

Lebih dari Rp.660


Lebih dari Rp.630 sampai dengan Rp.660
Paling rendah Rp.600 s.d. Rp.630
Lebih dari Rp.430
Lebih dari Rp.380 sampai dengan Rp430
Paling rendah Rp.374 s.d. Rp.380
Lebih dari Rp.600
Lebih dari Rp.400 sampai dengan Rp.600
Paling rendah Rp.375 s.d. Rp.450
Lebih dari Rp.300
Lebih dari Rp.254 sampai dengan Rp.300
Paling rendah Rp.217 s.d. Rp.254
Lebih dari Rp.590
Lebih dari Rp.550 sampai dengan Rp.590
Paling rendah Rp.520 s.d. Rp.550
Lebih dari Rp.379
Lebih dari Rp.349 sampai dengan Rp.379
Paling rendah Rp.336 s.d. Rp.349
Paling rendah Rp.234

Rp.310
Rp.300
Rp.280
Rp.230
Rp.195
Rp.155
Rp.310
Rp.275
Rp.225
Rp.200
Rp.165
Rp.105
Rp.215
Rp.165
Rp.145
Rp.105
Rp.95
Rp.90
Rp.65

Lebih dari Rp.660


Lebih dari Rp.630 sampai dengan Rp.660
Paling rendah Rp.600 s.d. Rp.630
Lebih dari Rp.430
Lebih dari Rp.380 sampai dengan Rp.430
Paling rendah Rp.374 s.d. Rp.380
Lebih dari Rp.250
Lebih dari Rp.149 sampai dengan Rp.250

Rp.310
Rp.300
Rp.280
Rp.230
Rp.195
Rp.155
Rp.21
Rp.19

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

6.

KLB

Tanpa Gol.

7.
8.

KLM
CRT

Tanpa Gol.
Tanpa Gol.

9.

HPTL

Tanpa Gol.

Paling rendah Rp.40 s.d. Rp.149


Lebih dari Rp.250
Lebih dari Rp.180 sampai dengan Rp.250
Paling rendah Rp.180
Lebih dari Rp.100.000
Lebih dari Rp.50.000 s.d. Rp.100.000
Lebih dari Rp.20.000 s.d. Rp.50.000
Lebih dari Rp.5000 s.d 20.000

Rp.5
Rp.25
Rp.18
Rp.17
Rp.100.000
Rp.20.000
Rp.10.000
Rp.1.200

Paling Rendah Rp.275 s.d. Rp.5000


Paling rendah Rp.275

Rp.250
Rp.100

Sumber : PMK No. 181/PMK.04/2009

c.

Penetapan Tarif Cukai MMEA dan Etil Alkohol, dan


Pemberitahuan HJE MMEA

Penetapan Tarif Cukai MMEA dan Etil Alkohol


Mekanisme penetapan tarif cukai MMEA dan etil alkohol jauh lebih sederhana bila
dibandingkan dengan mekanisme penetapan tarif cukai hasil tembakau. Instrumen yang
berpengaruh terhadap pungutan cukai MMEA lebih sedikit, mudah dipahami dan
bahkan untuk pungutan cukai etil alkohol berlaku tarif yang bersifat flat dalam satuan
rupiah tertentu.
Adanya perbedaan kebijakan pemerintah yang cukup ekstrim antara sistem tarif
cukai hasil tembakau dengan sistem tarif cukai lainnya (MMEA dan Etil Alkohol) menurut
hemat kami antara lain didorong oleh karena kondisi dan pemahaman sebagai berikut :
- Tingkat konsumsi hasil tembakau di Indonesia cukup tinggi membuat potensi
penerimaan cukai yang diperoleh cukup signifikan dalam rangka menambah
penerimaan sektor pajak. Oleh karenanya kebijakan cukai hasil tembakau sering kali
harus disesuaikan dengan kebutuhan APBN.
- Karakteristik BKC hasil tembakau yang secara historis telah membeda-bedakan
jenis hasil tembakau dan golongan pengusaha pabrik membuat pemerintah
berupaya untuk mengakomodasikan berbagai kepentingan yang berbeda tersebut;
- Karakteristik pemungutan cukai atas BKC selain hasil tembakau pada dasarnya lebih
mengarah kepada karakteristik dasar sebagai barang yang peredarannya perlu
diawasi dan juga karena sifat pemakaiannya yang dapat menimbulkan dampak
negatif bagi masyarakat. Stuktur tarif cukai dibuat lebih sederhana dan cenderung
cukup tinggi dengan agar tujuan pembatasan tersebut dapat dicapai.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 55

Modul Teknis Cukai


Dasar pemungutan cukai etil alkohol dan MMEA adalah sebagaimana yang
diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan3. Kebijakan yang diterapkan pemerintah
terhadap tarif cukai etil alkohol cenderung menerapkan sistem tarif spesifik murni.
Pengertiannya adalah bahwa tarif cukai bersifat flat tanpa membedakan kadar alkohol
yang terkandung di dalamnya dan juga tidak dibedakan antara etil alkohol yang dibuat di
dalam negeri atau yang berasal dari impor.
Berdasarkan catatan kami, kebijakan perubahan terhadap tarif cukai etil alkohol
relatif jarang dilakukan. Selama kurun waktu berlakunya Undang-undang Cukai, tarif
cukai etil alkohol hanya mengalami perubahan sebanyak dua kali.
1)

Tarif cukai etil alkohol berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan nomor


230/KMK.05/1996

2)

Tarif cukai etil alkohol berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan nomor


89/PMK.04/2006; dan terakhir

3)

Tarif cukai etil alkohol berdasarkan

Peraturan Menteri Keuangan nomor

62/PMK.011/2010
Tarif cukai etil alkohol yang berlaku saat ini adalah tarif flat sebesar Rp. 20.000,- per liter
tanpa membedakan jenis dan kadar etil alkohol yang terkandung didalamnya.
Apabila kita meninjau kebijakan tarif yang diterapkan terhadap cukai MMEA ,
maka kebijakan tarif cukai MMEA sejak awal pemberlakuan Undang-undang Nomor 11
tahun 1995 tentang Cukai pada tahun 1996, tercatat telah mengalami beberapa kali
perubahan, yaitu :
1)

Tarif cukai MMEA berdasarkan Kep. Menteri Keuangan Nomor 231/KMK.05/1996;

2)

Tarif cukai MMEA berdasarkan Kep. Menteri Keuangan Nomor 546/KMK.04/2000;

3)

Tarif cukai MMEA berdasarkan Kep. Menteri Keuangan Nomor 125/KMK.04/2002;

4)

Tarif

cukai

MMEA

berdasarkan

Peraturan

Menteri

Keuangan

Nomor

berdasarkan

Peraturan

Menteri

Keuangan

Nomor

90/KMK.04/2006
5)

Tarif

cukai

MMEA

62/PMK.011/2010
Dalam sistem tarif cukai spesifik atas pemungutan cukai MMEA maka pungutan
cukai ditentukan berdasarkan komponen-komponen sebagai berikut :
1)

Golongan MMEA, yang dibedakan berdasarkan kadar alkohol masing-masing MMEA

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK.011/2010 tentang Tarif Cukai Etil Alkohol, MMEA dan
Konsentrat Mengandung Etil Alkohol

hal 56

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


2)

Jumlah dalam satuan Liter

3)

Tarif cukai spesifik dalam satuan Rupiah


Struktur tarif cukai MMEA dan Konsentrat yang mengandung etil alkohol yang

berlaku saat ini adalah sesuai yang ditetapkan dalam PMK nomor 62/PMK.011/2010
yang mulai berlaku sejak tanggal 1 April 2010, sebagaimana terlihat pada Tabel dibawah
ini. Istilah konsentrat dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut mengacu pada
pengertian pekatan dalam konsentrasi yang tinggi (istilah awamnya adalah biang)
yang mengandung etil alkohol dalam kadar yang sangat tinggi.

Tabel 2.3
Tarif Cukai Etil Alkohol, MMEA dan Konsentrat Yang Mengandung Etil Alkohol
GOLONGAN
PENGUSAHA

KADAR
(%)

TARIF CUKAI
DALAM NEGERI
Rp/ltr

A
B
C
Etil Alkohol
Konsentrat Mengandung
Etil Alkohol *)

.s/d 5
> 5 s/d 20
> 20
Dari semua jenis dan
kadar Etil Alkohol
Dari semua jenis,
kadar, golongan
sebagai bahan baku
atau penolong

IMPOR
Rp/ltr

11.000,30.000,75.000,20.000,-

11.000,40.000,130.000,20.000,-

100.000,-

100.000,-

Penetapan Harga Jual Eceran MMEA


Dalam rangka melaksanakan kegiatan pengawasan terhadap peredaran MMEA
sebagaimana tujuan dasar yang ingin dicapai terhadap pemungutan cukai MMEA, maka
Pemerintah memandang perlu untuk mencatat setiap jenis MMEA yang beredar di
masyarakat. Untuk melaksanakan hal tersebut telah diterbitkan peraturan pelaksanaan
dari PMK nomor 62/PMK.011/2010 kedalam suatu petunjuk pelaksanaan berdasarkan
Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor P-22/BC/2010 tentang Tatacara
Pemungutan Cukai Etil alkohol, MMEA dan Konsentrat Mengandung Etil Alkohol.
Berdasarkan ketentuan Perdirjend tersebut setiap produk MMEA yang akan
diproduksi harus mendapatkan penetapan tarif cukai dari Kepala KPPBC setempat.
Semula terhadap MMEA hanya dibrikan kewajiban pemberitahuan saja, namun sejak

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 57

Modul Teknis Cukai


pemberlakuan PMK nomor 62/PMK.011/2010 kewajiban pemberitahuan (dahulu : CK18) ditingkatkan menjadi penetapan tarif cukai MMEA dan salah satu persyaratan
pengajuannya harus melampirkan kalkulasi harga jual eceran. Manfaat yang dapat
diperoleh dari proses penetapan tarif cukai MMEA adalah :
1)

Kantor Bea dan Cukai akan mengetahui produk-produk MMEA mana saja yang
beredar di pasar secara legal. Produk legal mengandung pengertian bahwa produk
yang telah ditetapkan HJE nya oleh KPBC setempat. Apabila di pasaran diketahui
adanya produk MMEA yang tidak tercatat dalam penetapanpemberitahuan HJEnya,
maka sudah dapat dipastikan produk MMEA tersebut adalah produk ilegal.

2)

Kantor Bea dan Cukai dapat memiliki data pembanding mengenai jenis, merek dan
kadar MMEA untuk setiap produk MMEA yang diajukan pemberitahuan HJEnya,
sehingga pada saat pencacahan atau pemantauan di lapangan ditemukan adanya
MMEA yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang diajukan maka hal ini dapat
ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku
Pengusaha Pabrik atau Importir MMEA wajib memberitahukan Harga Jual

Eceran dari MMEA yang diproduksi atau diimpor untuk setiap jenis dan merek minuman
mengandung etil alkohol kepada Kepala Kantor Bea dan Cukai yang mengawasi, dengan
tembusan kepada Direktur Cukai dan Kepala Kantor Wilayah. Pemberitahuan Harga Jual
Eceran tersebut diajukan sesuai format CK-18 dengan dilampiri :
a.

kalkulasi Harga Jual Eceran untuk masing-masing jenis dan merek sesuai dengan
format sebagaimana dimaksud dalam Lampiran III dan IV P-17/BC/2006

b.

label untuk masing-masing jenis dan merek MMEA

c.

contoh fisik barang, kecuali untuk produk yang pernah diajukan.


Pengertian kalkulasi harga jual eceran dalam pemberitahuan HJE MMEA adalah

semua komponen yang meliputi :


a.

untuk MMEA produksi dalam negeri: seluruh biaya yang diminta atau seharusnya
diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Cukai (Harga Pokok,
keuntungan pengusaha, Cukai, PPN, PPnBM, keuntungan penyalur dan pengecer).

b.

untuk MMEA impor: Nilai Pabean, Bea Masuk, Cukai, PPN Impor, PPnBM, biaya
lain-lain, keuntungan importir, keuntungan penyalur dan pengecer.

hal 58

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Gambar 2.3

2.2 Latihan

Agar Anda dapat lebih memahami materi kegiatan belajar 2 ini, coba kerjakan latihanlatihan berikut ini.
1)

Jelaskan bagaimana implementasi sistem tarif cukai sebagaimana diatur dalam


pasal 5 ayat (3) Undang-undang Cukai terhadap ketiga BKC yang menjadi obyek
pungutan cukai !

2)

Jelaskan instrumen apa saja yang berpengaruh terhadap pungutan cukai hasil
tembakau !

3)

Jelaskan mekanisme pengajuan penetapan tarif cukai hasil tembakau atas merekmerek baru yang dimiliki pengusaha pabrik !

4)

Dalam kondisi yang seperti apa timbulnya kewajiban Pengusaha atau importir
hasil tembakau untuk mengajukan penyesuaian tarif dan/atau HJE yang
dimilikinya ? Jelaskan.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 59

Modul Teknis Cukai


5)

Melihat komposisi tarif cukai dan harga dasar cukai hasil tembakau dibanding
barang kena cukai lainnya (Etil Alkohol dan MMEA), terlihat adanya perbedaan
kebijakan yang cukup mencolok. Apa sebabnya demikian ? Jelaskan.

2.3 Rangkuman

1)

Sistem tarif cukai yang berlaku di Indonesia, terdiri atas :


a. Tarif cukai advalorum atau persentase
Dalam sistem tarif advalorum, pungutan cukai dihitung berdasarkan besaran
persentase tertentu yang dikalikan dengan harga dasar tertentu . Keuntungan
dalam sistem tarif advalorum adalah mudah dalam mengikuti perkembangan
harga pasar. Hal ini karena komponen tarif cukai bersifat variabel terhadap
harga jual barang kena cukai.
b. Tarif cukai spesifik
Dalam sistem tarif cukai spesifik, pungutan cukai dihitung dengan cara
mengalikan antara Tarif cukai dalam satuan Rupiah dengan jumlah satuan
spesifik tertentu, misalnya : jumlah dalam liter, jumlah dalam batang, dan
sebagainya.
c. Tarif cukai gabungan
Ketentuan Pasal 5 Undang-undang Cukai membolehkan Pemerintah untuk
mengubah tarif advalorum atau tarif spesifik menjadi tarif gabungan. Sistem tarif
gabungan bukanlah suatu pilihan tarif yang permanen, biasanya hanya
digunakan pada masa transisi ketika pemerintah hendak mengalihkan suatu
sistem tarif advalorum menjadi sistem tarif spesifik atau sebaliknya.

2)

Ketentuan mengenai harga dasar :


a. Harga dasar yang digunakan untuk perhitungan cukai atas BKC yang dibuat di
Indonesia adalah harga jual pabrik atau harga jual eceran. Harga Jual Eceran,
pengertiannya adalah harga yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai dasar
penghitungan besarnya tarif cukai. Harga Jual Pabrik, pengertiannya adalah
harga penyerahan pabrik kepada penyalur atau konsumen yang didalamnya
belum termasuk cukai ;

hal 60

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


b. Harga dasar yang digunakan untuk perhitungan cukai atas BKC yang diimpor
adalah nilai pabean ditambah bea masuk atau harga jual eceran. Nilai Pabean +
Bea Masuk, merupakan harga dasar yang dapat digunakan Pemerintah sebagai
patokan dalam rangka penghitungan tarif cukai khususnya tarif cukai atas BKC
yang diimpor.
3)

Dalam sistem tarif cukai hasil tembakau setidaknya ada empat besaran pokok yang
mempengaruhi nilai cukai hasil tembakau, yaitu :
a.

jenis hasil tembakau

b.

Golongan Produsen yang ditentukan berdasarkan jumlah produksi hasil


tembakau selama satu tahun takwim;

c.

Batasan HJE, artinya adalah batas HJE minimum yang boleh diajukan
Pengusaha dalam rangka penetapan Tarif cukai; dan

d.
4)

Tarif cukai spesifik dalam nilai satuan Rupiah

Penggolongan pabrikan hasil tembakau sesuai PMK npomor 181/PMK.011/2009


difokuskan pada kelompok hasil tembakau yang banyak dikonsumsi oleh
masyarakat saja, yaitu hasil tembakau jenis SKM, SPM, SKT/SPT dan SKTF/SPTF.
Secara umum penggolongan hanya dibedakan berdasarkan dua kelompok saja
yaitu Golongan I dan Golongan II, namun khusus untuk jenis SKT/SPT
penggolongan dibedakan menjadi tiga golongan.

5)

Penggolongan pabrikan hasil tembakau sesuai PMK npomor 181/PMK.011/2009


difokuskan pada kelompok hasil tembakau yang banyak dikonsumsi oleh
masyarakat saja, yaitu hasil tembakau jenis SKM, SPM, SKT/SPT dan SKTF/SPTF.
Secara umum penggolongan hanya dibedakan berdasarkan dua kelompok saja yaitu
Golongan I dan Golongan II, namun khusus untuk jenis SKT/SPT penggolongan
dibedakan menjadi tiga golongan.

6)

Pengusaha Pabrik atau Importir MMEA wajib memberitahukan Harga Jual Eceran
dari minuman mengandung etil alkohol yang diproduksi atau diimpor untuk setiap
jenis dan merek minuman mengandung etil alkohol kepada Kepala Kantor Bea dan
Cukai yang mengawasi.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 61

Modul Teknis Cukai

2.4 Tes Formatif


Untuk menguji hasil belajar pada kegiatan belajar 2 ini, coba Anda kerjakan tes
formatif berikut ini, dengan cara memberikan tanda silang (X) pada jawaban yang
Anda anggap benar.
1.

Tarif cukai advalorum maksimal

yang dapat dikenakan terhadap hasil

tembakau yang diimpor adalah


a. 275% (dua ratus tujuh puluh lima persen) dari Harga jual pabrik
b. 57% (lima puluh tujuh persen) dari nilai pabean ditambah bea masuk
c. 57% (lima puluh tujuh persen) dari Harga Jual Eceran
d. 275% (dua ratus tujuh puluh lima persen) dari Harga Jual Eceran
2.

Salah satu ciri dan sekaligus keuntungan dari penerapan sistem tarif cukai
advalorum
a. Sulit mengikuti perkembangan harga pasar
b. Mudah mengikuti perkembangan harga pasar
c. Sangat mudah pengawasan di lapangan
d. Menguntungkan pengusaha

3.

Salah satu ciri khas dan sekaligus kerugian dari penerapan sistem tarif cukai
spesifik

4.

a.

Mudah mengikuti perkembangan harga pasar

b.

Membuat disparitas harga semakin lebar

c.

Sulit mengikuti perkembangan harga pasar

d.

Merugikan pengusaha

Penetapan harga jual eceran oleh pemerintah disebut


a. Official price
b. Demand price
c. Retail price
d. Supply price

5.

Harga penyerahan pabrik kepada penyalur yang didalamnya belum termasuk


pungutan cukai dan keuntungan penyalur disebut
a. Harga jual eceran
b. Demand price
c. Harga jual pabrik

hal 62

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


d. Official price
6.

Pabrik SKT dengan jumlah produksi dalam satu tahun takwim sebanyak 500
juta batang tergolong pabrikan
a. Golongan III
b. Golongan I
c. Golongan II
d. Golongan IIIB

7.

Pabrik B adalah produsen SPM golongan II yang produktif. Pada tanggal 26


April 2010 diketahui yang bersangkutan produksinya sudah lebih dari 2 milyar
batang. Atas hal tersebut yang bersangkutan telah ditetapkan statusnya
menjadi produsen golongan I pada tanggal yang sama. Kapan produsen B
tersebut sudah harus dikenakan tarif sesuai struktur tarif golongan yang baru

a. Tanggal 26 April 2010


b. Tanggal 01 Mei 2010
c. Tanggal 26 April tahun depan
d. Tanggal 26 oktober 2010

8.

Pabrik HT PT. Gunung Garam memproduksi dua jenis HT yaitu jenis SKT dan
jenis SKM dengan total produksi dalam 1 (satu) tahun 2009 adalah sebagai
berikut:
a.

Jenis SKT sebanyak 500 juta batang

b.

Jenis SKM sebanyak 1,9 milyar batang

Berdasarkan data tersebut, penggolongan PT Gunung Garam untuk tahun


2010...
a. Golongan I untuk semua jenis HT
b. Golongan II untuk SKT dan Golongan I untuk SKM
c. Golongan III untuk jenis SKT dan Golongan II untuk jenis SKM
d. Golongan II untuk semua jenis HT
9.

Pabrik PR. Gedung Ragam merupakan pabrik yang sudah lama berdiri,
termasuk Pengusaha Pabrik jenis SKM golongan I, mengajukan penetapan tarif
cukai atas merek baru C. Berikut adalah pernyataan yang berkaitan dengan
pengajuan merek baru hasil tembakau adalah sebagai berikut, .
a. Tidak boleh lebih rendah dari HJE rata-rata yang masih berlaku yang
dimilikinya
b. Boleh lebih rendah dari HJE yang masih berlaku yang dimilikinya
c. Tidak boleh lebih rendah dari HJE yang masih berlaku yang dimilikinya

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 63

Modul Teknis Cukai


d. Boleh lebih rendah dari HJE rata-rata yang masih berlaku yang dimilikinya
10.

Variabel-variabel berikut sangat menentukan struktur tarif hasil tembakau,


kecuali
a. Jenis hasil tembakau
b. Batasan harga jual eceran per kemasan
c. Golongan pengusaha pabrik
d. Batasan harga jual eceran per batang atau gram

11.

Keputusan tentang Penetapan Harga Jual Eceran yang dikeluarkan oleh


Kepala Kantor Bea dan Cukai dinyatakan tidak berlaku, apabila:
a. Selama satu tahun tidak pernah mengajukan CK-1 atau PMBKC ekspor atas
merek tersebut
b. Selama satu tahun tidak pernah mengajukan CK-1 atas merek tersebut
c. Selama tiga bulan tidak pernah mengajukan CK-1 atau PMBKC ekspor atas
merek tersebut
d. Selama enam bulan tidak pernah mengajukan CK-1 atau PMBKC ekspor
atas merek tersebut

12.

Apabila dalam kegiatan pemantauan ditemukan disparitas harga yang sudah


cukup besar antara HJE penetapan pemerintah dengan harga transaksi pasar,
tindakan yang harus diambil antara lain
a. Dalam hal harga transaksi pasar atas suatu merek hasil tembakau telah
melampaui batasan HJE per batang atau gram diatasnya, maka pengusaha
pabrik atau importir wajib mengajukan penyesuaian HJE
b. Dalam hal harga transaksi pasar atas suatu merek hasil tembakau telah
melampaui batasan HJE per batang atau gram diatasnya, maka pengusaha
pabrik atau importir wajib mengajukan penyesuaian tarif cukai
c. Dalam hal harga transaksi pasar atas suatu merek hasil tembakau telah
melampaui batasan HJE per batang atau gram diatasnya, maka Kepala
kantor melakukan penyesuaian tarif cukai atas merek tersebut
d. Dalam hal harga transaksi pasar atas suatu merek hasil tembakau telah
melampaui batasan HJE per batang atau gram diatasnya, maka Direktur
Cukai melakukan penyesuaian tarif cukai atas merek tersebut

13. Tarif cukai etil alkohol yang diberlakukan sesuai PMK Nomor 89/PMK.04/2007
adalah ...
a.

Rp. 10.000,- per liter untuk Kadar lebih dari 1%

b.

Rp. 2.500,- per liter tanpa memperhatikan kadarnya

hal 64

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


c.

Rp. 10.000,- per liter tanpa memperhatikan kadarnya

d.

Rp. 2.500,- per liter untuk Kadar lebih dari 1%

14. Produsen X memproduksi MMEA dengan kadar etil alcohol sebesar 15,5% , isi
per botol adalah 620 ml. Maka pungutan cukai yang terhutang atas produksi
yang bersangkutan dalam satu kemasan adalah...
a. Rp. 3.100,- per kemasan
b. Rp. 2.170,- per kemasan
c. Rp. 3.100,- per kemasan
d. Rp. 6.200,- per kemasan
15.

Dalam sistem tarif cukai spesifik atas pemungutan cukai MMEA maka
pungutan cukai ditentukan berdasarkan komponen-komponen sebagai
berikut, kecuali
a.

Golongan MMEA, yang dibedakan berdasarkan kadar alkohol masingmasing MMEA

b.

Jumlah dalam satuan Liter

c.

Tarif cukai spesifik dalam satuan Rupiah

d.

Jenis MMEA

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 65

Modul Teknis Cukai

2.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah disediakan.
Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini. Perhatikan dan
cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci
sebagaimana rumus dibawah ini.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal
Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai:
91 %

s.d

100 %

Sangat Baik

81 %

s.d.

90,99 %

Baik

71 %

s.d.

80,99 %

Cukup

61 %

s.d.

70,99 %

Kurang

0%

s.d.

60,99 %

Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah
menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat
melanjutkan kegiatan belajar berikutnya. Jika belum mencapai angka 81%, kami
menyarankan agar anda mengulang kembali materi kegiatan belajar ini.

hal 66

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


KEGIATAN
BELAJAR

TATACARA PENYEDIAAN DAN


PEMESANAN PITA CUKAI
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu:
1) Melaksanakan ketentuan Tatacara Penyediaan Pita Cukai Hasil Tembakau;
2) Melaksanakan ketentuan Tatacara Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau;
3) Melaksanakan ketentuan Tatacara Penyediaan dan Pemesanan Pita Cukai MMEA.

3.1 Uraian dan Contoh

a.

Tatacara Penyediaan Pita Cukai Hasil Tembakau

Gambaran Umum
Sebelum

kita

membahas

materi

pelajaran

mengenai penyediaan pita cukai hasil tembakau pada


sub pokok bahasan di KB-3 ini, ada baiknya kita
meninjau terlebih dahulu gambaran umum mekanisme
pemungutan cukai hasil tembakau, mulai dari
penetapan tarif cukai hingga diterimanya pita cukai oleh pengusaha untuk dilekati pada
hasil tembakau. Pemahaman yang komprehensif mengenai sistem pemungutan cukai
hasil tembakau akan membantu anda memahami materi pelajaran ini dengan efektif.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 67

Modul Teknis Cukai


Dalam sistem pemungutan cukai hasil tembakau, sebagai tanda pelunasan cukai
maka BKC hasil tembakau wajib dilekati dengan pita cukai. Oleh karena itu, setiap
pengusaha yang akan memproduksi hasil tembakau untuk penjualan eceran harus
memperoleh pita cukai terlebih dahulu dari DJBC. Untuk mendapatkan pita-pita cukai
tersebut setidaknya ada tiga tahapan yang harus dilalui oleh pengusaha pabrik atau
importir sebelum pita cukai hasil tembakau diterimanya. Ketiga tahapan tersebut adalah
:
1)

Pengajuan penetapan Tarif dan HJE hasil tembakau;

2)

Permohonan Penyedian Pita Cukai (P3C); dan

3)

Permohonan pemesanan pita cukai dengan dokumen CK-1 .

Alur proses penyediaan dan pemesanan pita cukai hasil tembakau, kami tampilkan
dalam suatu flowchart sederhana sesuai Gambar 3.1 berikut ini.

Gambar 3.1
Alur Proses Penyediaan Pita Cukai Hasil Tembakau

hal 68

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Penjelasan :
1)

Pengusaha yang akan memproduksi atau menjual hasil tembakau untuk penjualan
eceran, wajib mengajukan merek-merek yang akan diproduksi kepada KPPBC
setempat untuk mendapatkan penetapan tarif cukai hasil tembakau;

2)

Apabila permohonan telah memenuhi kelayakan, Kepala KPPBC akan menerbitkan


keputusan penetapan tarif cukai atas merek-merek hasil tembakau;

3)

Sebelum memproduksi merek hasil tembakau yang telah ditetapkan tarif


cukainya, pengusaha wajib mengajukan permohonan penyediaan pita cukai
melalui KPPBC setempat. Proses ini diperlukan, oleh karena pita cukai untuk
masing-masing pengusaha akan berbeda-beda tergantung penetapan tarif dan
HJE-nya. Bahkan untuk pengusaha golongan II jenis produk SKM, SPM dan SKTF
serta pengusaha golongan III jenis produk SKT pita cukai dicetak dengan kode
personalisasi untuk masing-masing pabrik.

4)

Atas permohonan penyediaan pita cukai (P3C) akan dilakukan penelitian sesuai
mekanisme yang berlaku, dan akan diteruskan kepada Direktorat Cukai KPDJBC
baik menggunakan Sistem Aplikasi Cukai maupun secara manual menggunakan
saluran komunikasi yang tersedia.

5)

Data pemesanan pita cukai oleh masing-masing pengusaha akan dicatat dan akan
dibuatkan Order Bea dan Cukai (OBC) kepada perusahaan percetakan yang
ditunjuk (PERURI).

6)

Pita cukai yang selesai dicetak akan didistribusikan melalui gudang pita cukai
KPDJBC. Dalam hal ini stock persediaan pita cukai dapat disimpan di Gudang Pita
Cukai KPDJBC atau di masing-masing KPPBC, hal ini diatur dalam mekanisme
standar.

7)

Apabila pita cukai untuk seorang pengusaha pabrik disediakan di KPPBC, maka
stock pita cukai akan dikirim kepada Bendaharawan KPPBC.

8)

Pengusaha yang pita cukainya telah tersedia baik di KPPBC atau di Kantor Pusat
wajib mengajukan pemesanan pita cukai dengan menggunakan dokumen
pemesanan CK-1

9)

Apabila proses administrasi CK-1 telah diselesaikan, pita cukai diserahkan kepada
pengusaha untuk dilekatkan pada BKC yang akan diproduksi untuk penjualan
eceran.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 69

Modul Teknis Cukai

Pengenalan Pita Cukai Hasil Tembakau


Pita cukai yang diperuntukan sebagai tanda pelunasan cukai hasil tembakau
berbentuk lembaran dalam tiga seri, yaitu seri I, seri II dan seri III. Perbedaan utama dari
masing-masing seri pita cukai adalah terletak jumlah keping pita cukai tiap lembar dan
ukuran masing-masing pita cukai, yaitu :
1)

Seri I berjumlah 120 keping per lembar dengan ukuran setiap keping 0,8 x 11,4 cm;

2)

Seri II berjumlah 56 keping per lembar dengan ukuran setiap keping 1,3 cm x 17,5
cm;

3)

Seri III berjumlah 150 keping per lembar dengan ukuran setiap keping 1,9 cm x 4,5
cm .

Adanya perbedaan ukuran ini dimaksudkan agar pita cukai yang digunakan dapat sesuai
atau seimbang dengan ukuran kemasan hasil tembakau yang digunakan oleh setiap
produk hasil tembakau. Sebagai contoh, untuk kemasan SPM isi @ 20 batang (ukuran
standar), maka produsen lebih cocok menggunakan pita cukai seri I atau seri III. Pilihan
terhadap seri pita cukai mana yang akan digunakan oleh Pengusaha diserahkan
sepenuhnya kepada pengusaha yang bersangkutan.
Secara umum desain pita cukai hasil tembakau antara laian adalah sebagai
berikut:
1)

Pada setiap keping pita cukai terdapat foil hologram dengan ukuran tertentu;

2)

Desain pita cukai memuat lambang negara Republik Indonesia;

3)

Memuat lambang Direktorat Jenderal Bea dan Cukai;

4)

Memuat tarif cukai

5)

Memuat angka tahun anggaran;

6)

Memuat harga jual eceran;

7)

Adanya teks REPUBLIK atau INDONESIA

8)

Jumlah isi kemasan;

9)

Jenis Hasil tembakau;

10) Kode personalisasi, khusus

pita cukai yang diperuntukan bagi pabrik hasil

tembakau tertentu (Golongan II : jenis produk SKM, SPM, SFTF dan SPTF, Golongan
II dan III : jenis produk SKT dan SPT)

hal 70

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Setiap tahunnya desain dan warna pita cukai selalu dilakukan peninjauan dan
pergantian, terutama terhadap warna dasar pita cukai. Tujuannya adalah untuk menjaga
agar pita cukai tidak dipalsukan. Untuk pita cukai tahun edar 2010 telah ditetapkan
cetakan dasar masing-maasing warna sebagai berikut :
1)

Warna abu-abu dominan dikombinasi warna jingga, digunakan untuk hasil


tembakau dari jenis SKM, SPM, SKT, SKTF, dan SPTF yang diproduksi oleh
Pengusaha Pabrik Golongan I;

2)

Warna merah dominan dikombinasi warna kuning, digunakan untuk hasil


tembakau dari jenis SKM, SPM, SKT, SKTF, SPT, dan SPTF yang diproduksi oleh
Pengusaha Pabrik Golongan II;

3)

Warna biru dominan dikombinasi warna kuning, digunakan untuk hasil tembakau
dari jenis SKT dan SPT yang diproduksi oleh Pengusaha Pabrik Golongan III;

4)

Warna hijau dominan dikombinasi warna merah digunakan untuk hasil tembakau
dari jenis Tembakau Iris (TIS), Rokok Daun atau Klobot (KLB), Sigaret Kelembak
Menyan (KLM), Cerutu (CRT), dan Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL); dan

5)

Warna kuning dominan dikombinasi warna jingga, digunakan untuk hasil


tembakau yang diimpor untuk dipakai di dalam daerah pabean.
Gambar 3.2
Contoh Pita Cukai Hasil Tembakau Seri I Tahun 2010

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 71

Modul Teknis Cukai


Gambar 3.3
Contoh Pita Cukai Hasil Tembakau Seri II Tahun 2010

Gambar 3.4
Contoh Pita Cukai Hasil Tembakau Seri III Tahun 2010

hal 72

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

Lokasi Penyediaan Pita Cukai


Lokasi penyediaan pita cukai hasil tembakau untuk pengusaha pabrik hasil
tembakau ditentukan di dua tempat, yaitu :
a) Pabrik dengan total produksi semua jeni hasil tembakau dalam 1 tahun takwim
sebelumnya sampai dengan 100.000.000 ( seratus juta ) batang dan/atau gram, pita
cukainya disediakan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai.
b) Pabrik dengan total produksi semua jenis hasil tembakau dalam 1 tahun takwim
sebelumnya lebih dari 100.000.000 ( seratus juta ) batang dan/atau gram, pita
cukainya disediakan di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
c) Khusus pita cukai hasil tembakau untuk Importir disediakan di Kantor Pusat DJBC.
Dalam hal-hal tertentu pita cukai hasil tembakau pada butir a diatas, atas permohonan
pengusaha yang bersangkutan dapat disediakan di Kantor Pusat DJBC.

Mekanisme Penyediaan Pita Cukai Hasil Tembakau


Petunjuk pelaksanaan penyediaan dan pemesanan pita cukai hasil tembakau
diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor P-16/BC/2008 jo. P29/BC/2009 yang merupakan tindak lanjut dari Peraturan Menteri Keuangan nomor
108/PMK.04/2008 jo. PMK nomor 09/PMK.04/2009 tentang Pelunasan Cukai. Beberapa
poin penting dalam Juklak penyediaan dan pemesanan pita cukai tersebut akan kami
resumekan dalam penjabaran pada sub pokok bahasan ini.
Untuk penyediaan pita cuka hasil tembakau, pengusaha wajib mengajukan
permohonan penyediaan pita cukai P3C kepada Kepala Kantor Bea dan Cukai.
Permohonan penyediaan pita cukai dapat dilaksanakan mulai tanggal 1 sampai dengan
tanggal 10 untuk kebutuhan 1 bulan berikutnya dengan menggunakan P3C pengajuan
awal . Dikecualikan dari batas waktu P3C pengajuan awal, dapat diberikan dalam hal :
a)

Pengusaha baru mendapatkan NPPBKC ;

b)

Pengusaha mengalami kenaikkan golongan ;

c)

Pengusaha yang NPPBKCnya diaktifkan kembali setelah pembekuannya dicabut ;

d)

Untuk kebutuhan pita cukai bulan Januari ; atau

e)

Terdapat kebijakan di bidang tarif cukai atau HJE.

P3C pengajuan awal hanya dapat diakukan 1 kali dalam 1 periode persediaan untuk
setiap jenis pita cukai.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 73

Modul Teknis Cukai


Jumlah pita cukai yang dapat diajukan oleh pengusaha pada P3C pengajuan awal
untuk setiap jenis pita cukai :
a)

Paling banyak 100 % dari rata-rata perbulan jumlah pita cukai yang dipesan dengan
CK-1 dalam kurun waktu tiga bulan terakhir sebelum P3C pengajuan awal, dengan
memperhatikan batasan produksi golongan pengusaha pabrik ; atau
Contoh : Data CK-1 atas PT XX pada bulan Maret = 500 lbr, April = 1.000 lbr, dan
Mei=600 lbr, Juni = belum ada (bulan Juni baru sampai tanggal 10). Maka pengajuan
P3C PT XX untuk kebutuhan bulan Juli 2010 adalah :
P3C = 100% X 1/3 (Realisasi CK-1 Maret+April+Mei)
= 100% X 1/3 (500+1000+600) = 700 lembar

b)

Dalam hal data rata-rata perbulan jumlah yang dipesan dengan CK-1 dalam kurun
waktu tiga bulan terakhir sebelum P3C pengajuan awal untuk jenis pita cukai yang
diajukan tidak tersedia, jumlah pita cukai yang dapat diajukan sesuai kebutuhan
perbulan dengan memperhatikan batasan produksi golongan pengusaha pabrik.
Contoh . PT. AA adalah Produsen SPM Golongan II, belum pernah mengajukan CK1 atas merek yang telah mendapat penetapan tarif cukainya. Maka untuk
pengajuan awal yang bersangkutan dapat mengajukan P3C sesuai kebutuhan
awalnya dan tidak boleh melewati batasan maksimal di Golongan II, yaitu untuk
kebutuhan 2 milyar batang dibagi 12 bulan atau sekitar 166,67 juta batang.
Dalam hal pita cukai yang disediakan berdasarkan P3C pengajuan awal tidak

mencukupi, maka pengusaha dapat mengajukan P3C pengajuan tambahan, paling


lambat pada tanggal 20 pada bulan pengajuan CK-1 kepada Kepala Kantor. Jenis pita
cukai yang diajukan pada P3C tambahan harus sama dengan jenis pita cukai yang sudah
diajukan pada P3C pengajuan awal untuk periode yang sama dan P3C pengajuan
tambahan hanya dapat dilakukan 1 kali dalam periode persediaan untuk setiap jenis pita
cukai.
Jumlah pita cukai yang diajukan oleh pengusaha dalam P3C pengajuan tambahan
paling banyak 50 % ntuk setiap jenis pita cukai dari P3C pengajuan awal yang telah
diajukan dalam periode yang sama dengan memperhatikan batasan produksi golongan
pengusaha pabrik.
Contoh :

Pengajuan P3C untuk kebutuhan bulan Juli 2009


P3C

= 50 % X 1/3 (Realisasi CK-1 Maret+April+Mei)


= 50 % X 1/3 (500+1000+600)

hal 74

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


= 50 % X 700 = 350 lembar
Pembulatan jumlah pita cukai yang diajukan dengan P3C dilakukan dengan cara
membulatkan jumlah ke bawah dan harus dalam kelipatan 10 (sepuluh) lembar. Dalam
hal jumlah pita cukai yang dapat diajukan dengan P3C kurang dari 10 lembar, maka
jumlah pengajuan pita cukai dalam P3C adalah 10 lembar.
Pengusaha dapat mengajukan P3C pengajuan tambahan izin Direktur Jenderal
melalui Kantor Bea dan Cukai diserta surat yang menyebutkan alasan, dalam hal jumlah
pita cukai berdasarkan P3C pengajuan awal dan P3C pengajuan tambahan tidak
mencukupi. P3C pengajuan tambahan izin Direktur Jenderal dapat diajukan setelah P3C
pengajuan tambahan, paling lambat sampai dengan tanggal 25 pada bulan pengajuan
CK-1. Jenis pita cukai yang diajukan pada P3C tambahan izin DJBC, sama dengan jenis
pita cukai yang sudah diajukan pada P3C pengajuan awal dan P3C pengajuan tambahan
untuk periode yang sama. P3C pengajuan tambahan izin DJBC hanya dapat dilakukan 1
kali dalam periode persediaan untuk setiap jenis pita cukai.
Kepala Kantor melakukan penelitian atas P3C pengajuan tambahan izin Direktur
Jenderal beserta surat yang menyebutkan alasan pengajuan dengan memeriksa
sekurang-kurangnya :
a.

Eksistensi perusahaan terkait persyaratan perizinan yang meliputi: denah pabrik


hasil tembakau dann alamat lokasi;

b.

Kapasitas produksi, jumlah alat produksi dan jumlah karyawan; dan

c.

Pembukuan/pencatatan serta pelaporan produksi hasil tembakau sesuai ketentuan.

Pengecualian dari kegiatan penelitian diberikan kepada pengusaha yang beresiko rendah
berdasarkan profil pengusaha. Atas kegiatan pemeriksaan tersebut Kepala Kantor
membuat Laporan Hasil Pemeriksaan.
Apabila hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa P3C pengajuan tambahan izin
Direktur Jenderal layak untuk diteruskan, Kepala Kantor segera meneruskan berkas
tersebut ke Kantor Pusat DJBC dengan disertai Surat Rekomendasi, yang sekurangkurangnya berisi :
a) Hasil penelitian atau pemeriksaan terhadap berkas dokumen P3CT izin Direktur
Jenderal;
b) Sisa persediaan pita cukai yang belum direalisasikan dengan CK-1, dalam hal
penyediaan pita cukainya di KPPBC;
c) Data rata-rata perbulan CK-1 dalam 6 bulan terakhir untuk setiap jenis pita cukai; dan

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 75

Modul Teknis Cukai


d) Pendapat Kepala Kantor.
Atas P3C pengajuan tambahan izin DJBC dan Surat Rekomendasi Kepala Kantor, Direktur
Jenderal

dapat mengabulkan seluruhnya atau sebagaian dan juga dapat menolak

permohonan.
Pengajuan P3C dari Kantor Bea dan Cukai kepada Kantor Pusat DJBC bagi Kantorkantor yang telah menerapkan Sistem Aplikasi Cukai (SAC), dilakukan secara elektronik
melalui Sistem Aplikasi Cukai Sentralisasi. Untuk Kantor yang tidak menerapkan Sistem
Aplikasi Cukai Sentralisasi, Kepala Kantor menyampaikan P3C pengajuan dan P3C
pengajuan tambahan ke Kantor Pusat DJBC paling lambat pada hari kerja berikutnya
dengan cara dikirim melalui faksimili atau media komunikasi lainnya. Contoh format P3C
dapat anda lihat pada halaman lampiran Modul ini.

b.

Tata Cara Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau

Mekanisme Pemesanan (CK-1)


Pengusaha yang telah mengajukan P3C dan telah mendapatkan konfirmasi bahwa
pita cukainya telah selesai dicetak, dapat mengajukan CK-1 kepada Kepala Kantor untuk
mendapatkan pita cukai. Jumlah pita cukai yang dapat dipesan dengan CK-1 harus
disesuaikan dengan jumlah persediaan pita cukai yang ada di Kantor Bea dan Cukai atau
Kantor Pusat DJBC.
Pemesanaan pita cukai dengan CK-1 dapat diajukan oleh pengusaha dalam hal :
1) NPPBKC yang bersangkutan tidak dalam keadaan dibekukan ;
2) Tidak memiliki utang cukai yang tidak dibayar pada waktunya, kekurangan cukai,
dan/atau sanksi admnistrasi berupa denda yang belum dibayar sampai dengan
tanggal jatuh tempo ;
3) Telah melunasi biaya pengganti penyediaan pita cukai dalam waktu yang ditetapkan .
Secara umum alur proses pemesanan CK-1 digambarkan dalam skema sederhana
sesuai Gambar 3.5 berikut. Alur proses yang digambarkan disini adalah mekanisme
penyampaian CK-1 secara elektronik melalui Sistem Aplikasi Cukai tersentralisasi sesuai
panduan yang diberikan dalam Peraturan Direktur Jenderal nomor P-29/BC/2009.
Khusus Kantor-kantor pelayanan yang belum menggunakan SAC, maka apabila pita cukai
penyediaannya di Kantor Pusat DJBC, setelah proses administrasi selesai di KPPBC,

hal 76

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


lembar ketiga CK-1 diserahkan kepada pengusaha untuk mengurus pengambilan pita
cukainya di Kantor Pusat DJBC.

Gambar 3.5
Alur Proses Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau

Penjelasan :
1)

Pengusaha, melakukan kegiatan antara lain :


a) mengisi CK-1 dengan lengkap dan menyerahkan kepada Pejabat Penerima
Dokumen;
b) mengajukan CK-1 ke Kantor paling sedikit rangkap 4
c) menerima respons berupa penolakan CK-1 s dalam hal CK-1 tidak lengkap;
d) mengajukan kembali CK-1 setelah dilengkapi/diperbaiki;
e) menerima respons berupa tanda terima CK-1 dalam hal data CK-1 telah
lengkap;
f) memeriksa dan mencocokkan data CK-1 dengan data yang tertera pada tanda
terima;
g) menandatangani tanda terima CK-1 dalam hal data CK-1 dan data yang tertera
pada tanda terima telah sesuai;

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 77

Modul Teknis Cukai


h) menyerahkan tanda terima CK-1 untuk mendapatkan nomor CK-1 kepada
Pejabat Penerima Dokumen;
i) menyimpan tanda terima CK-1 yang telah diberi nomor dan ditandatangani
oleh Pejabat Penerima Dokumen;
j) menerima CK-1 lembar ketiga dari Kepala Seksi yang membawahi kegiatan
Pelayanan Kepabeanan dan Cukai ;
k) dalam hal CK-1 tunai, melakukan pembayaran cukai dan pungutan negara
lainnya ke Bank Persepsi/Pos Persepsi;
l) dalam hal CK-1 dengan kredit, menyerahkan jaminan kepada Kepala Seksi yang
membawahi kegiatan perbendaharaan;
m) menerima bukti penerimaan jaminan (BPJ) dari Kepala Seksi yang membawahi
kegiatan perbendaharaan;
n) menyerahkan CK-1 lembar ketiga dan SSPCP kepada Kepala Seksi yang
membawahi kegiatan perbendaharaan;
o) mengajukan surat permohonan pembatalan CK-1 kepada Kepala Kantor u.p.
Kepala Seksi yang membawahi kegiatan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai ;
p) menerima nota pembatalan CK-1
q) menerima pita cukai dari Kantor atau Kantor Pusat;
r) mencocokkan jenis dan jumlah pita cukai yang diterima dengan data yang
tertera dalam CK-1; dan
s) menandatangani CK-1 halaman kedua pada carik II sebagai bukti telah
menerima pita cukai dengan lengkap.
2)

Pejabat Penerima Dokumen di Kantor Pelayanan bea dan Cukai:


a) menerima CK-1 dari pengusaha;
b) memeriksa kelengkapan pengisian CK-1;
c) mengembalikan hard copy CK-1 kepada pengusaha dengan nota penolakan
dalam hal data CK-1 tidak lengkap;
d) merekam data CK-1 pada aplikasi cukai; dan
e) meneruskan hard copy CK-1 kepada Kepala Seksi yang membawahi kegiatan
pelayanan Kepabeanan dan Cukai, dalam hal data CK-1 telah lengkap.

3)

Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai/Kepala Seksi Kepabeanan dan


Cukai/Kepala Subseksi Perbendaharaan dan Pelayanan
a) menerima hard copy CK-1 dari Pejabat Penerima Dokumen;
b) membandingkan data pada hard copy CK-1 dengan data CK-1 yang telah
direkam pada aplikasi cukai;
c) mencetak tanda terima dan memberikan tanda terima kepada pengusaha
untuk ditandatangani dalam hal data CK-1 telah lengkap;
d) menerima kembali tanda terima dan menandatangani tanda terima CK-1;
e) mencatat nomor CK-1 pada hard copy CK-1;
f) menandatangani dan meneruskan hard copy CK-1 ke Kepala Seksi yang
membawahi kegiatan perbendaharaan

hal 78

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


g)

h)

dalam hal CK-1 tunai, menyerahkan CK-1 lembar ketiga kepada pengusaha
untuk dilakukan pembayaran cukai dan pungutan negara lainnya melalui
Bank Persepsi/Pos Persepsi;
dalam hal CK-1 kredit, menyerahkan CK-1 lembar ketiga kepada pengusaha
untuk pembuatan jaminan; dan memberikan nota pembatalan CK-1 kepada
pengusaha dalam hal:
tanggal SSPCP melebihi tanggal CK-1;
SSPCP tidak diserahkan paling lambat pada hari kerja berikutnya; atau
jaminan tidak diserahkan dalam waktu 5 hari kerja.

4)

Sistem Aplikasi Cukai Sentralisasi di Kantor Pelayanan :


a) meneliti data CK-1 yang direkam oleh Pejabat Penerima Dokumen;
b) mengirim respons berupa penolakan data CK-1 dalam hal:
- NPPBKC pengusaha tersebut dalam keadaan dibekukan;
- utang cukai, kekurangan cukai, sanksi administrasi, dan/atau SPPBP belum
dilunasi sampai batas waktu yang ditetapkan;
- merk yang diajukan pada CK-1 sudah tidak berlaku lagi;
- dalam hal CK-1 kredit, saldo penundaan cukainya tidak cukup untuk
memenuhi CK-1;
- saldo persediaan pita cukai tidak cukup untuk memenuhi CK-1;
- data CK-1 tidak diisi dengan lengkap; atau
- terdapat kesalahan dalam pengisian CK-1 meliputi antara lain nama
pengusaha, nama dan alamat perusahaan, NPPBKC, merk, jenis hasil
tembakau, seri, warna, tarif, peruntukan, HJE, isi per kemasan,
perhitungan cukai, PPN dan PNBP;
c) mengirimkan respons tanda terima dan memberikan nomor CK-1 dalam hal
CK-1 telah diisi dengan lengkap;
d) mengirimkan respons berupa pembatalan CK-1 dalam hal:
- tanggal SSPCP melebihi tanggal CK-1;
- SSPCP tidak diserahkan paling lambat pada hari kerja berikutnya; atau
- Jaminan tidak diserahkan dalam waktu 5 hari kerja.
e) membuat Laporan Buku Daftar Dokumen Pemesanan Pita Cukai (BDCK-3);
f) dalam hal CK-1 kredit:
- mengirimkan respons berupa Bukti Penerimaan Jaminan (BPJ) dalam hal
jaminan yang direkam telah sesuai;
- menentukan tanggal jatuh tempo penundaan; dan
- melakukan pengurangan saldo penundaan cukai pada Buku Rekening
Kredit (BRCK-3).
g) mengurangi saldo persediaan pita cukai di Kantor.

5)

Kepala Seksi Penerimaan dan Pengembalian/Kepala Seksi


Perbendaharaan/Kepala Subseksi Perbendaharaan dan Pelayanan:
a) menerima hard copy CK-1 dari Kepala Seksi yang membawahi kegiatan
pelayanan kepabeanan dan cukai;
b) dalam hal CK-1 tunai:

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 79

Modul Teknis Cukai


- menerima kembali CK-1 lembar ketiga dan SSPCP dari pengusaha;
- meneliti SSPCP dari pengusaha;
- mengembalikan CK-1 lembar ketiga dan SSPCP kepada pengusaha dalam hal
pembayaran cukai dan pungutan negara lainnya sesuai CK-1 belum lunas;
- menerima kembali SSPCP setelah pembayaran cukai dan pungutan negara
lainnya sesuai CK-1 telah dilunasi oleh pengusaha;
- merekam data SSPCP pada aplikasi cukai; dan
- mencatat nomor dan tanggal SSPCP serta menandatangani CK-1 pada carik
I;
c) dalam hal CK-1 kredit
- menerima dan merekam jaminan pada aplikasi cukai;
- memberi nomor BPJ;
- menandatangani dan menyerahkan BPJ kepada pengusaha;
- mencatat tanggal jatuh tempo penundaan pada hard copy CK-1; dan
- menandatangani CK-1 halaman kedua pada carik I;
d) dalam hal penyediaan pita cukai di Kantor:
- menyerahkan CK-1 lembar ketiga kepada pengusaha;
- menyerahkan CK-1 lembar pertama, lembar kedua, dan lembar keempat
kepada Kepala Seksi Dukungan Teknis dan Distribusi Dokumen/Kepala
Urusan Rumah Tangga dan Dukungan Teknis untuk didistribusikan;
- menyetujui pengeluaran pita cukai dari gudang pita cukai untuk diserahkan
kepada pengusaha dengan membuat tanda terima pita cukai; dan
- menyerahkan pita cukai dengan jenis dan jumlah pita cukai sesuai CK-1
kepada pengusaha;
e) dalam hal penyediaan pita cukai di Kantor Pusat:
- menyerahkan CK-1 lembar ketiga kepada pengusaha; dan
- menyerahkan CK-1 lembar pertama, lembar kedua, dan lembar keempat
kepada Kepala Seksi Dukungan Teknis dan Distribusi Dokumen/Kepala
Urusan Rumah Tangga dan Dukungan Teknis untuk didistribusikan.
6)

Kepala Seksi Penyimpanan dan Pendistribusian Pita Cukai dan Tanda Pelunasan
Cukai Lainnya:
a) mencetak hard copy CK-1 rangkap 1 (satu) untuk Subdirektorat Pita Cukai dan
Tanda Pelunasan Cukai Lainnya;
b) menyetujui pengeluaran pita cukai untuk diserahkan kepada pengusaha
dengan membuat tanda terima pita cukai;
c) menyerahkan pita cukai dengan jenis dan jumlah pita cukai sesuai CK-1 kepada
pengusaha;
d) menandatangani CK-1 halaman kedua pada carik II; dan mengarsipkan hard
copy CK-1 beserta tanda terima pita cukainya.

7)

Sistem Aplikasi Cukai Sentralisasi di Kantor Pusat:


a) meneliti data CK-1 yang direkam;
b) menolak data CK-1 dalam hal:
- NPPBKC pengusaha tersebut dalam keadaan dibekukan;

hal 80

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


-

c)
d)

merk yang diajukan pada CK-1 sudah tidak berlaku lagi;


saldo persediaan pita cukai tidak cukup untuk memenuhi CK-1;
data CK-1 tidak diisi dengan lengkap; atau
terdapat kesalahan dalam pengisian CK-1 meliputi nama pengusaha, nama
dan alamat perusahaan, NPPBKC, merk, jenis hasil tembakau, seri, warna,
tarif, peruntukan, HJE, isi per kemasan, perhitungan cukai, PPN dan PNBP;
mencetak struk pengeluaran pita cukai; dan
mengurangi saldo persediaan pita cukai di Kantor Pusat.

Dalam hal serah terima pita cukai telah dilakukan antara pengusaha dan Kepala
Seksi yang membawahi kegiatan perbendaharaan atau Kepala Seksi Penyimpanan dan
Pendistribusian Pita Cukai dan Tanda Pelunasan Cukai Lainnya yang dibuktikan dengan
ditandatanganinya Tanda Terima Pita Cukai, pengusaha tidak dapat mengajukan
keberatan atas kekurangan maupun kelebihan jumlah pita cukai yang telah
diserahterimakan tersebut.

Pita Cukai Yang Tidak Direalisasikan Dengan CK-1


Setelah berakhirnya tahun anggaran dan/atau berlakunya kebijakan baru di
bidang cukai yang berpengaruh terhadap pita cukai, atas pita cukai yang telah
disediakan berdasarkan P3C yang tidak direalisasikan dengan CK-1 dan masih berada di
Kantor dan Kantor Pusat dilakukan pencacahan. Tujuannya untuk mendapatkan data
administrasi sebagai dasar pengembalian cukai yang telah dibayarkan pada saat
pemesanan CK-1.
Pencacahan atas pita cukai yang tidak direalisasikan dengan CK-1 tersebut
dilakukan paling lama 60 hari setelah berakhirnya tahun anggaran atau setelah
berlakunya kebijakan baru di bidang cukai, oleh :
a)

Kepala Kantor, untuk sisa persediaan pita cukai di KPPBC ; dan

b)

Kasubdit Pita Cukai atas nama Direktur, untuk sisa persediaan pita cukai di KPDJBC.

Biaya Pengganti Penyediaan Pita Cukai


Pengusaha yang telah mengajukan P3C namun tidak merealisasikan seluruhnya
dengan CK-1, dikenai biaya pengganti penyediaan pita cukai. Biaya pengganti ini adalah
suatu bentuk kompensasi atas order penyediaan pita cukai yang tidak jadi direalisasikan
oleh karena kesalahan perencanaan yang dilakukannya pihak pengusaha. Besarnya biaya
pengganti penyediaan pita cukai untuk setiap keping pita cukai adalah :

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 81

Modul Teknis Cukai


1)

pita cukai Seri I : Rp. 25,00 ;

2)

pita cukai Seri II : Rp. 40,00 ;

3)

pita cukai Seri III : Rp. 25,00.


Atas sisa pita cukai yang tidak direalisasikan dengan CK-1

Direktur

memberitahukan kepada Kepala Kantor untuk menerbitkan Surat Pemberitahuan


Pengenaan Biaya Pengganti (SPPBP).

Biaya pengganti penyediaan pita cukai wajib

dilunasi paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterimanya SPPBP. Dalam hal
biaya pengganti penyediaan pita cukai tidak dilunasi sesuai tanggal jatuh tempo yang
diperkenankan, maka terhadap pengajuan P3C dan CK-1 berikutnya dari pengusaha yang
bersangkutan tidak dilayani.
Dikecualikan dari ketentuan pengenaan biaya pengganti, dalam hal terjadi
perubahan atau kesalahan yang bukan disebabkan oleh pengusaha, antara lain adalah:
1)

adanya kenaikan HJE karena Harga Transaksi Pasar melebihi HJE ;

2)

karena kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan administratif yang


dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai .

c.

Tatacara Penyediaan dan Pemesanan Pita Cukai MMEA

Mekanisme Penyediaan dan Pemesanan Pita Cukai MMEA


Dalam sistem pemungutan cuka MMEA, cara pelunasan cukai dengan
menggunakan pita cukai dilakukan terhadap MMEA yang berasal dari impor dan MMEA
yang diproduksi di dalam negeri dengan kadar alkohol lebih dari 5% (lima persen). Oleh
karena itu, setiap pengusaha yang akan memproduksi atau mengimpor MMEA untuk
penjualan eceran harus memperoleh pita cukai terlebih dahulu dari DJBC. Tahapan yang
harus dilalui oleh pengusaha dalam memperoleh pita cukai MMEA adalah :
1) Tahap permohonan penetapan tarif MMEA; pemberitahuan diajukan dengan
format dokumen yang telah disediakan sesuai ketentuan P-22/BC/2010;
2) Tahap penyediaan pita cukai; Sebelum pita cukai disediakan oleh DJBC, pengusaha
terlebih dahulu harus mengajukan permohonan penyediaan pita cukai (P3C)
3) Tahap Pemesanan pita cukai; Tahapan ini dilakukan apabila pita cukai yang telah
selesai dicetak dan disediakan di lokasi pengambilan yang ditentukan.

hal 82

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Gambar 3.6
Alur Proses Penyediaan dan Pemesanan Pita Cukai MMEA

Penjelasan :
Tahap 1 : Pemberitahuan HJE MMEA
Pengusaha yang akan memproduksi atau mengimpor MMEA untuk penjualan
eceran, wajib mengajukan permohonan penetapan tarif MMEA sebelum memproduksi
produk-produk MMEA mereka. Untuk mendapatkan penetapan tersebut, yang
bersangkutan harus melampirkan dokumen berupa:
1) Contoh label/etiket produk yang akan diproduksi
2) Contoh fisik barang, kecuali untuk produk yang pernah diajukan sebelumnya
3) Fotocopi hasil uji kadar alkohol yang telah dilakukan oleh instansi berwenang
4) Fotocopi sertifikat telah terdaftar sebagai produk yang layak dikonsumsi dari
instansi/lembaga yang mengawasi peredaran makanan/minuman
5) Perhitungan harga jual eceran
Mekanisme penetapan tarif MMEA telah kita bahas bersama pada materi kegiatan
belajar yang lalu (KB-2).

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 83

Modul Teknis Cukai

Tahap 2 : Permohonan Penyediaan Pita Cukai (P3C) MMEA


Setelah merek-merek MMEA yang akan diproduksi telah ditetapkan tarif cukainya
oleh KPPBC setempat, maka untuk penyediaan pita cuka MMEA, pengusaha wajib
mengajukan permohonan penyediaan pita cukai (P3C) kepada Kepala Kantor Bea dan
Cukai. Permohonan penyediaan pita cukai dapat dilaksanakan mulai tanggal 1 sampai
dengan tanggal 10 untuk kebutuhan satu bulan berikutnya dengan menggunakan P3C
pengajuan awal .
Dikecualikan dari batas waktu P3C pengajuan awal, dapat diberikan dalam hal :
a)

pengusaha pabrik atau importir baru mendapatkan NPPBKC;

b)

pengusaha yang NPPBKC-nya diaktifkan kembali setelah pembekuannya dicabut;

c)

untuk kebutuhan pita cukai bulan Januari; atau

d)

terdapat kebijakan baru di bidang tarif cukai.

Dalam hal P3C MMEA pengajuan awal tidak mencukupi kebutuhan pabrik atau importir,
pengusaha pabrik atau importir dapat mengajukan 1 (satu) kali P3C MMEA tambahan
sampai dengan tanggal 20 bulan P3C MMEA pengajuan awal
P3C pengajuan awal hanya dapat diakukan 1 kali dalam 1 periode persediaan
untuk setiap jenis pita cukai. Jumlah pita cukai yang diajukan dalam P3C MMEA paling
sedikit 10 (sepuluh) lembar untuk setiap jenis pita cukai. Pembulatan jumlah pita cukai
yang diajukan dengan P3C dilakukan dengan cara membulatkan jumlah ke bawah dan
harus dalam kelipatan 10 (sepuluh) lembar. Dalam hal jumlah pita cukai yang dapat
diajukan dengan P3C kurang dari 10 lembar, maka jumlah pengajuan pita cukai dalam
P3C adalah 10 lembar.
Tahap 3 : Permohonan Pemesanan Pita Cukai MMEA
Pengusaha yang telah mengajukan P3C dan telah mendapatkan konfirmasi bahwa
pita cukainya telah selesai dicetak, dapat mengajukan CK-1A kepada Kepala Kantor
untuk mendapatkan pita cukai perntukannya. Jumlah pita cukai yang dapat dipesan
dengan CK-1A harus disesuaikan dengan jumlah persediaan pita cukai yang ada di Kantor
Bea dan Cukai atau Kantor Pusat DJBC. Pemesanaan pita cukai dengan CK-1A tidak
dapat diajukan oleh pengusaha dalam hal-hal sebagai berikut:
1)

NPPBKC yang bersangkutan dalam keadaan dibekukan ;

hal 84

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


2)

Memiliki utang cukai yang tidak dibayar pada waktunya, kekurangan cukai,
dan/atau sanksi admnistrasi berupa denda yang belum dibayar sampai dengan
jatuh tempo ;

3)

SPPBP tidak dibayar sluruhnya dalam waktu yang ditetapkan;

4)

Diduga mealkukan pelanggaran di bidang cukai berdasarkan bukti awal yang cukup.
Secara umum alur proses pemesanan CK-1A digambarkan dalam skema

sederhana sesuai Gambar 3.5 berikut. Alur proses yang digambarkan disini adalah
mekanisme penyampaian CK-1 secara elektronik melalui Sistem Aplikasi Cukai
tersentralisasi sesuai panduan yang diberikan dalam Peraturan Direktur Jenderal nomor
P-29/BC/2009. Khusus Kantor-kantor pelayanan yang belum menggunakan SAC, maka
apabila pita cukai penyediaannya di Kantor Pusat DJBC, setelah proses administrasi
selesai di KPPBC, lembar ketiga CK-1 diserahkan kepada pengusaha untuk mengurus
pengambilan pita cukainya di Kantor Pusat DJBC.

Lokasi Penyediaan Pita Cukai MMEA


Lokasi penyediaan pita cukai untuk pengusaha pabrik MMEA dan importir MMEA
ditentukan sebagai berikut :
a)

Pabrik yang memproduksi lebih dari 100.000 (seratus ribu) liter MMEA dengan
kadar lebih dari 5% (lima persen) dalam 1 (satu) tahun takwim sebelumnya,
disediakan di Kantor Pusat DJBC;

b)

Pabrik yang memproduksi sampai dengan 100.000 (seratus ribu) liter MMEA
dengan kadar lebih dari 5% (lima persen) dalam 1 (satu) tahun takwim sebelumnya,
disediakan di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai;

c)

Khusus pita cukai MMEA untuk Importir disediakan di Kantor Pusat DJBC.

Dalam hal-hal tertentu pita cukai MMEA pada butir b diatas, dapat disediakan di Kantor
Pusat DJBC atas pemberitahuan tertulis dari pengusaha yang bersangkutan kepada
Kepala Kantor

Pengenalan Pita Cukai MMEA


Pita cukai yang diperuntukan sebagai tanda pelunasan cukai MMEA baik yang
diperuntukkan bagi MMEA impor maupun MMEA dalam negeri berbentuk lembaran
dalam satu seri. Setiap lembar pita cukai masing-masing terdiri dari 60 keping pita cukai

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 85

Modul Teknis Cukai


dengan ukuran per kepingnya adalah : 1,5 cm x 7 cm. Setiap keping pita cukai MMEA
terdapat foil hologram berukuran 0,6 cm X 1,9 cm yang sekurang-kurangnya memuat
teks BC dan teks RI.
Secara umum spesifikasi desain pita cukai MMEA antara lain harus memuat halhal sebagai berikut:
a)

teks REPUBLIK INDONESIA;

b)

teks CUKAI MMEA IMPOR atau CUKAI MMEA DALAM NEGERI

c)

golongan dan kadar alkohol;

d)

tarif cukai per liter;

e)

volume/isi kemasan;

f)

angka tahun anggaran;

g)

teks mikro BEA CUKAI BEA CUKAI; dan

h)

teks BCBC.
Setiap tahunnya desain dan warna pita cukai selalu dilakukan peninjauan dan

pergantian, terutama terhadap warna dasar pita cukai. Tujuannya adalah untuk menjaga
agar pita cukai tidak dipalsukan. Untuk pita cukai MMEA tahun edar 2010 telah
ditetapkan cetakan dasar masing-masing warna sebagai berikut :
1) Pita cukai MMEA yang dibuat di Indonesia memiliki cetakan dasar yang terdiri dari:
a)

warna hijau dominan dikombinasi warna kuning, digunakan untuk MMEA


Golongan B dengan kadar alkohol lebih dari 5% sampai dengan 20%;

b)

warna merah dominan dikombinasi warna kuning, digunakan untuk MMEA asal
impor Golongan C dengan kadar alkohol lebih dari 20%;

2) Pita cukai MMEA yang diimpor untuk dipakai di dalam daerah pabean memiliki
cetakan dasar yang terdiri dari:
a)

warna biru dominan dikombinasi warna jingga, digunakan untuk MMEA


Golongan A dengan kadar alkohol kurang dari atau sama dengan 5%;

b)

warna merah dominan dikombinasi warna hijau, digunakan untuk MMEA


Golongan B dengan kadar alkohol lebih dari 5% sampai dengan 20%;

c)

warna coklat dominan dikombinasi warna biru, digunakan untuk MMEA


Golongan C dengan kadar alkohol lebih dari 20%

hal 86

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Gambar 3.7
Contoh Pita Cukai MMEA Impor tahun 2010

Gambar 3.8
Contoh Pita Cukai MMEA Dalam Negeri Tahun 2010

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 87

Modul Teknis Cukai

Pita Cukai MMEA Yang Tidak Direalisasikan Dengan CK-1A


Setelah berakhirnya tahun anggaran dan/atau berlakunya kebijakan baru di
bidang cukai yang berpengaruh terhadap pita cukai, atas pita cukai yang telah
disediakan berdasarkan P3C yang tidak direalisasikan dengan CK-1 dan masih berada di
Kantor dan Kantor Pusat dilakukan pencacahan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan
data administrasi sebagai dasar pengembalian cukai yang telah dibayarkan terlebih
dahulu pada saat pemesanan CK-1.
Pencacahan atas pita cukai yang tidak direalisasikan dengan CK-1 tersebut dilak
kan paling lama 60 hari setelah berakhirnya tahun anggaran dan/atau berlakunya
kebijakan baru di bidang cukai oleh :
a)

Kepala Kantor, untuk sisa persediaan pita cukaidi KPPBC ; dan

b)

Kasubdit Pita Cukai atas nama Direktur, untuk sisa persediaan pita cukai di KPDJBC.
Hasil pencacahan pita cukai yang tidak direalisasikan dengan CK-1A tersebut

dibuatkan Berita Acara Pencacahan yang memuat sekurang-kurangnya data:


a)

Jenis pita cukai;

b)

Jumlah pita cukai;

c)

Pejabat yang melaksanakan pencacahan.

Sisa pita cukai bersama-sama dengan Berita Acara Pencacahan dikirim ke Kantor Pusat
DJBC paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah dilakukan pencacahan. Terhadap sisa pita
cukai yang tidak terrealisasikan CK-1Anya tersebut akan dilakukan pemusnahan oleh
Kantor Pusat DJBC sesuai ketentuan yang berlaku.

Biaya Pengganti Penyediaan Pita Cukai


Pengusaha yang telah mengajukan P3C namun tidak merealisasikan seluruhnya
dengan CK-1, dikenai biaya pengganti penyediaan pita cukai. Biaya pengganti ini adalah
suatu bentuk kompensasi atas order penyediaan pita cukai yang tidak jadi direalisasikan
oleh karena kesalahan perencanaan yang dilakukannya pihak pengusaha. Besarnya biaya
pengganti penyediaan pita cukai untuk setiap keping pita cukai MMEA adala Rp. 300,00
(tiga ratus rupiah). Dikecualikan dari ketentuan pengenaan biaya pengganti, dalam hal
terjadi perubahan atau kesalahan yang bukan disebabkan oleh pengusaha, antara lain
adalah karena kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan administratif yang
dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai .

hal 88

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Atas sisa pita cukai yang tidak direalisasikan dengan CK-1A tersebut, Direktur
memberitahukan kepada Kepala Kantor untuk menerbitkan Surat Pemberitahuan
Pengenaan Biaya Pengganti (SPPBP).

Biaya pengganti penyediaan pita cukai wajib

dilunasi paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterimanya SPPBP. Dalam hal
biaya pengganti penyediaan pita cukai tidak dilunasi sesuai tanggal jatuh tempo yang
diperkenankan, maka terhadap pengajuan P3C dan CK-1A berikutnya dari pengusaha
yang bersangkutan tidak dilayani.

3.2

Latihan

Agar Anda dapat lebih memahami materi pada kegiatan belajar 3 ini, coba kerjakan
latihan-latihan berikut ini.
1)

Sebelum hasil tembakau diproduksi dan dijual secara eceran, pengusaha pabrik
harus memiliki persediaan pita cukai terlebih dahulu. Jelaskan secara singkat dan
gunakan flowchart sederhana bagaimana prosesnya pita cukai dapat sampai ke
tempat pengusaha pabrik !

2)

Mengapa pita cukai untuk hasil tembakau disediakan dalam tuga seri yang
berbeda ! Jelaskan alasannya menurut anda.

3)

Jelaskan upaya-upaya pemerintah terhadap pencegahan atau manipulasi


pungutan cukai atas BKC yang seharusnya dipungut !

4)

Jelaskan mekanisme penyediaan pita cukai hasil tembakau !

5)

Apa konsekuensi yang harus ditanggung pengusaha, apabila pita cukai yang telah
dimohonkan penyediaannya ternya ta tidak seluruhnya diajukan CK-1 atau CK-1A !
Jelaskan.

3.3.
1)

Rangkuman
Dalam sistem pemungutan cuka hasil tembakau yang pelunasannya dilakukan
dengan pelekatan pita cukai, ada tahapan yang harus dilalui pengusaha atau
importir BKC sebelum memperoleh pita cukai yaitu :
a.

Pengajuan penetapan Tarif dan HJE hasil tembakau;

b.

Permohonan Penyedian Pita Cukai (P3C); dan

c.

Permohonan pemesanan pita cukai dengan dokumen CK-1 .

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 89

Modul Teknis Cukai


2)

Pita cukai yang diperuntukan sebagai tanda pelunasan cukai hasil tembakau
berbentuk lembaran dalam tiga seri, yaitu seri I, seri II dan seri III. Ukuran masingmasing pita cukai, yaitu :
a. Seri I berjumlah 120 keping per lembar dengan ukuran 0,8 x 11,4 cm;
b. Seri II berjumlah 56 keping per lembar dengan ukuran 1,3 cm x 17,5 cm;
c. Seri III berjumlah 150 keping per lembar dengan ukuran 1,9 cm x 4,5 cm .

3)

Lokasi penyediaan pita cukai hasil tembakau untuk pengusaha pabrik dan importir
ditentukan di dua tempat, yaitu :
a. Pabrik dengan total produksi semua jeni hasil tembakau dalam 1 tahun takwim
sebelumnya sampai dengan 100.000.000 ( seratus juta ) batang dan/atau gram,
pita cukainya disediakan di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai.
b. Pabrik dengan total produksi semua jenis hasil tembakau dalam 1 tahun takwim
sebelumnya lebih dari 100.000.000 ( seratus juta ) batang dan/atau gram, pita
cukainya disediakan di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
c. Khusus pita cukai hasil tembakau untuk Importir disediakan di Kantor Pusat
DJBC.

4)

Ketentuan mengenai biaya pengganti yang harus dikenakan terhadap pita cukai
yang tidak direalisasikan dengan CK-1 atau CK-1A adalah :
a. Untuk pita cukai hasil tembakau seri I adalah Rp. 25,- per keping;
b. Untuk pita cukai hasil tembakau seri II adalah Rp. 40,- per keping;
c. Untuk pita cukai hasil tembakau seri I adalah Rp. 25,- per keping;
d. Untuk pita cukai MMEA adalah Rp. 300,- perkeping;

5)

Dalam sistem pemungutan cuka MMEA yang pelunasannya dilakukan dengan


pelekatan pita cukai, ada tahapan yang harus dilalui pengusaha atau importir BKC
sebelum memperoleh pita cukai yaitu :
a. Penetapan Tarif MMEA berdasarkan golongan kadar alkohol ;
b. Permohonan Penyedian Pita Cukai (P3C); dan
c. Permohonan pemesanan pita cukai dengan dokumen CK-1A .

6)

Pita cukai untuk MMEA disediakan dalam satu seri, dengan ukuran tiap keping
adalah 1,5 cm x 7 cm

7)

Lokasi penyediaan pita cukai MMEA untuk pengusaha pabrik dan importir
ditentukan di dua tempat, yaitu :

hal 90

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


a. Pabrik yang memproduksi lebih dari 100.000 (seratus ribu) liter MMEA dengan
kadar lebih dari 5% (lima persen) dalam 1 (satu) tahun takwim sebelumnya,
disediakan di Kantor Pusat DJBC;
b. Pabrik yang memproduksi sampai dengan 100.000 (seratus ribu) liter MMEA
dengan kadar lebih dari 5% (lima persen) dalam 1 (satu) tahun takwim
sebelumnya, disediakan di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai;
c. Khusus pita cukai hasil tembakau untuk Importir disediakan di Kantor Pusat
DJBC.

3.3 Tes Formatif


Untuk menguji hasil belajar pada kegiatan belajar 3 ini, coba Anda kerjakan tes formatif
berikut ini, dengan cara memberikan tanda silang (X) pada jawaban yang Anda anggap
benar.
1.

Berikut ini adalah tahapan yang harus ditempuh untuk mendapatkan pita cukai
oleh seorang pengusaha BKC hasil tembakau yang sistem pelunasannya
menggunakan pita cukai, kecuali
a. Pengajuan penetapan tarif cukai hasil tembakau
b. Permohonan penyediaan pita cukai (P3C)
c. Permohonan pencetakan pita cukai
d. Permohonan pemesanan pita cukai (CK-1)

2.

Dalam mekanisme penyediaan pita cukai hasil tembakau, P3C pengajuan awal
diajukan paling lambat
a. Tanggal 5 setiap awal bulan untuk kebutuhan satu bulan berikutnya
b. Tanggal 10 setiap awal bulan untuk kebutuhan satu bulan berikutnya
c. Tanggal 5 setiap awal bulan untuk kebutuhan bulan yang berjalan
d. Tanggal 10 setiap awal bulan untuk kebutuhan bulan yang berjalan

3.

Jumlah pita cukai yang dapat diajukan oleh pengusaha pada P3C pengajuan awal
untuk setiap jenis pita cukai ...
a. Paling banyak 50 % dari rata-rata perbulan jumlah pita cukai yang dipesan
dengan CK-1 dalam kurun waktu tiga bulan terakhir sebelum P3C pengajuan
awal Membuat disparitas harga semakin lebar
b. Paling banyak 100 % dari rata-rata perbulan jumlah pita cukai yang dipesan
dengan CK-1 dalam kurun waktu tiga bulan terakhir sebelum P3C pengajuan
awal
c. Paling banyak 100 % dari rata-rata perbulan jumlah pita cukai yang dipesan
dengan CK-1 dalam satu tahun terakhir

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 91

Modul Teknis Cukai


d.

Semua jawaban salah

4.

Data CK-1 atas PT XX pada bulan Februari = 750 lbr, Maret = 500 lbr, April = 1.000
lbr, dan Mei=600 lbr, Juni = belum ada (bulan Juni baru sampai tanggal 10). Maka
pengajuan P3C PT XX untuk kebutuhan bulan Juli adalah :
a. 700 lembar
b. 1.400 lembar
c. 530 lembar
d. 500 lembar

5.

Penyediaan pita cukai HT untuk pengusaha pabrik disediakan di Kantor Pelayanan


terhadap :
a. Pabrik dengan total produksi masing-masing jenis HT dalam 1 (satu) tahun
takwim sebelumnya sampai dengan 100 juta batang dan/atau gram
b. Pabrik dengan total produksi semua jenis HT dalam 1 (satu) tahun takwim
sebelumnya sampai dengan 100 juta batang dan/atau gram
c. Pabrik dengan total produksi masing-masing jenis HT dalam 1 (satu) tahun
takwim sebelumnya sampai dengan 500 juta batang dan/atau gram
d. Pabrik dengan total produksi semua jenis HT dalam 1 (satu) tahun takwim
sebelumnya sampai dengan 500 juta batang dan/atau gram

6.

Terhadap pita cukai yang telah disediakan berdasarkan P3C akan dikenakan biaya
pengganti pita cukai apabila:
a. Pita cukai tersebut tidak direalisasikan seluruhnya dengan CK-1 oleh karena
adanya kebijakan kenaikan HJE oleh pemerintah
b. Pita cukai tersebut tidak direalisasikan seluruhnya dengan CK-1 oleh karena
adanya kesalahan administratif (salah hitung atau salah tulis) oleh pejabat
bea dan cukai
c. Pita cukai tersebut tidak direalisasikan seluruhnya dengan CK-1 oleh karena
adanya kesalahan perhitungan administratif oleh pengusaha yang
bersangkutan
d. Jawaban a dan b, benar

7.

Pada akhir masa pelekatan pita cukai edisi tahun 2010, diketahui bahwa PT. DEF
sebagai pabrikan HT jenis SKM Golongan II, masih memiliki stock persediaan pita
cukai seri II sebanyak 500 lembar. Apabila PT DEF ingin mengajukan pengembalian
cukai, berapa biaya pengganti yang harus dikenakan terhadap sisa pita cukai
tersebut...
a. Rp. 1.000.000,c. Rp. 1.120.000,b. Rp. 1.500.000,d. Rp. 1.150.000,-

8.

Pabrik SKT dengan jumlah produksi dalam satu tahun takwim sebanyak 500 juta
batang tergolong pabrikan
a. Golongan III
c. Golongan I
b. Golongan II
d. Golongan IIIB

hal 92

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


9.

Pengajuan pemesanan pita cukai MMEA impor menggunakan dokumen cukai...


a. CK-1
c. CK-1B
b. CK-2
d. CK-1A

10.

Jumlah pita cukai yang diajukan oleh pengusaha dalam P3C pengajuan tambahan:
a. 100% dari jumlah pengfajuan P3C pengajuan awal
b. 100% dari jumlah rata-rata CK-1 dalam tiga bulan terakhir
c. 50% dari jumlah pengajuan P3C pengajuan awal
d. 50% dari jumlah rata-rata CK-1 dalam tiga bulan terakhir

11.

Berikut ini adalah persyaratan yang harus dipenuhi apabila pengusaha ingin
mengajukan CK-1A, kecuali...
a. NPPBKC yang bersangkutan tidak dalam keadaan dibekukan ;
b. Tidak memiliki utang cukai yang tidak dibayar pada waktunya,
c. Telah melunasi biaya pengganti penyediaan pita cukai
d. Importir belum mengajukan P3C pada bulan sebelumnya

12.

Pencacahan atas pita cukai yang tidak direalisasikan dengan CK-1 dilakuan paling
lama...
a. 60 hari setelah berakhirnya tahun anggaran dan/atau berlakunya kebijakan
baru di bidang cukai
b. 30 hari setelah berakhirnya tahun anggaran dan/aatau berlakunya kebijakan
baru di bidang cukai
c. 90 hari setelah berakhirnya tahun anggaran dan/aatau berlakunya kebijakan
baru di bidang cukai
d. Jawaban b dan c benar

13.

Tanggung jawab untuk melakukan pencacahan atas sisa pita cukai yang berada di
Bendaharawan KPPBC dilksanakan oleh...
a. Direktur Cukai
c. Kepala Kanwil DJBC
b. Kepala Kantor
d. Kepala seksi cukai

14.

Variabel-variabel berikut sangat menentukan struktur tarif hasil tembakau, kecuali


a. Jenis hasil tembakau
b. Batasan harga jual eceran per kemasan
c. Golongan pengusaha pabrik
d. Batasan harga jual eceran per batang atau gram

15.

Warna dasar pita cukai hasil tembakau tahun 2010 untuk pengusaha golongan I
jenis produk SKM:
a. Warna merah dominan dikombinasi kunig=
b. Warna biru dominan kombinasi kuning
c. Warna hijau dominan kombinasi merah
d. Warna abu-abu dominan kombinasi warna jingga

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 93

Modul Teknis Cukai

3.4 Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah disediakan.
Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini. Perhatikan dan
cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci
sebagaimana rumus dibawah ini.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal
Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai:
91 %

s.d

100 %

Sangat Baik

81 %

s.d.

90,99 %

Baik

71 %

s.d.

80,99 %

Cukup

61 %

s.d.

70,99 %

Kurang

0%

s.d.

60,99 %

Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah
menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat
melanjutkan kegiatan belajar berikutnya. Jika belum mencapai angka 81%, kami
menyarankan agar anda mengulang kembali materi kegiatan belajar ini.

hal 94

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


KEGIATAN
BELAJAR

TATA CARA PELUNASAN DAN


PENAGIHAN CUKAI
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu:
1) Melaksanakan Tata Cara Pelunasan Cukai
2) Melaksanakan Penghitungan Pungutan Cukai
3) Melaksanakan Tatacara Penagihan dan Pengangsuran Cukai

4.1. Uraian dan Contoh

a.

Tata Cara Pelunasan Cukai


Konsep Pelunasan Cukai
Para peserta diklat yang berbahagia, pada Kegiatan
Belajar 4 ini kita akan mendalami materi bahasan
mengenai tata cara pelunasan cukai, penghitungan
pungutan cukai dan penagihan pungutan cukai. Untuk
mereview kembali ingatan anda, kami akan mengulas
sedikit beberapa konsep dasar berkaitan dengan

pelunasan cukai tentunya dengan sudut pandang yang lebih operasional. Artinya bahwa,
pelajaran mengenai konsep-konsep dasar tentang pelunasan cukai yang anda peroleh

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 95

Modul Teknis Cukai


dalam materi belajar Undang-undang Cukai akan kita tinjau dari sudut pelaksanaan
operasionalnya.
1)

Saat Terutang Cukai


Konsep yang paling mendasar yang harus diketahui berkaitan dengan pelunasan

cukai adalah pemahaman mengenai saat terutang cukai. Dalam pasal 3 ayat (1) Undangundang Cukai dinyatakan bahwa :
a)

BKC yang dibuat di Indonesia terutang cukai pada saat selesai dibuat menjadi BKC ;

b)

BKC yang berasal dari impor terutang cukai pada saat pemasukannya ke dalam
Daerah Pebean Indonesia.
Pengertian yang dapat kita pahami untuk point (1) dari bunyi pasal tersebut

adalah konsep waktu mengenai saat timbulnya hutang cukai atas BKC yang dibuat di
Indonesia. Untuk BKC yang dibuat di Indonesia, terutang cukai pada saat selesai dibuat.
Istilah selesai dibuatdalam penjelasan pasal ditafsirkan sebagai saat proses
pembuatan BKC itu selesai dengan tujuan untuk dipakai.
Bila pengertian tersebut kita kaitkan dengan masing-masimg BKC maka kita dapat
memahami istilah selesai dibuat tersebut sebagai berikut :
a)

Pengertian selesai dibuat untuk BKC etil alkohol adalah saat proses produksi telah
menghasilkan etil alkohol (C2H5OH) atau dalam konsep sederhananya adalah saat
etil alkohol tersebut menetes dari tangki-tangki produksi untuk ditempatkan
kedalam wadah penampungan atau tangki penyimpanan barang jadi.

b)

Pengertian selesai dibuat untuk produk BKC MMEA adalah pada saat MMEA
tersebut keluar dari keran-keran produksi untuk ditempatkan ke dalam wadah
penampungan atau langsung ke dalam kemasan penjualan eceran.

c)

Pengertian selesai dibuat untuk produk hasil tembakau adalah pada saat proses
produksi hasil tembakau telah menghasilkan produk hasil tembakau yang siap
untuk dikonsumsi. Sebagai contoh: untuk sigaret, saat selesai dibuat adalah saat
proses pelintingan dan pemotongan telah selesai sehingga sigaret tersebut sudah
berbentuk batang demi batang.
Dalam hal BKC yang telah selesai dibuat yang masih berada di dalam pabrik

ternyata telah dikonsumsi sebelum dikeluarkan dari pabrik, maka terhadap BKC tersebut
dianggap telah dikeluarkan. Oleh karenanya, Pengusaha Pabrik wajib melunasi hutang
cukai yang timbul atas BKC yang selesai dibuat tersebut. Dalam hal ini, petugas Bea dan

hal 96

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


cukai berwenang untuk melakukan pengawasan terhadap BKC yang sudah berstatus
terutang cukai. Bentuk pengawasan yang paling sederhana adalah dengan mewajibkan
pengusaha pabrik untuk melaporkan jumlah produksi BKC yang dihasilkan setiap harinya
dengan menggunakan dokumen CK-4.
Untuk pengertian pada poin (2) dari pasal 3 ayat (1) diatas mengenai istilah saat
terutang cukai terhadap BKC impor, pengertiannya sama dengan hal-hal yang dijelaskan
dalam Undang-undang Kepabeanan. Saya yakin anda semua sudah mempelajari konsep
dasar ini pada mata pelajaran Undang-undang Kepabeanan.
2)

Saat Pelunasan Cukai


Pasal 7 ayat (1) dan (2) Undang Undang

Nomor 39 Tahun 2007 tentang

Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai mengatur


ketentuan mengenai saat pelunasan cukai, yaitu :
a)

Untuk BKC yang dibuat di Indonesia, pelunasan cukainya dilakukan pada saat
pengeluaran BKC dari Pabrik atau Tempat Penyimpanan.

b)

Untuk BKC yang di impor, pelunasan cukainya dilakukan pada saat BKC tersebut
dikeluarkan dari Kawasan Pabean atas impor untuk dipakai.
Pasal 7 ayat (1) dan (2) ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi masih diikuti dengan

ayat (3) yang mengatur mengenai cara pelunasan cukai. Pelunasan cukai atas kedua BKC
diatas dilaksanakan dengan cara :
a)

pembayaran ;

b)

pelekatan pita cukai ; atau

c)

pembubuhan tanda pelunasan cukai lainnya.


Pada dasarnya titik perikatan pembayaran cukai antara subyek cukai dengan

pemerintah sesuai dengan bunyai pasal 7 ayat (1) dan (2) tersebut adalah pada saat
dikeluarkan dari pabrik atau kawasan pabeanterjadi ketika BKC akan dikeluarkan dari
pabrik tempat diproduksi . Hal ini mengandung pengertian bahwa, pengusaha harus
memastikan bahwa seluruh BKC yang akan dikeluarkan dari pabrik untuk dipakai harus
telah dilunasi cukainya. Ketika pejabat Bea dan Cukai menemukan adanya pengeluaran
BKC tanpa dokumen yang jelas yang ternyata belum dilunasi cukainya, maka tindakan
tersebut dianggap suatu pelanggaran (baik pelanggaran sesuai pasal 52 atau pasal 25
ayat 4).

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 97

Modul Teknis Cukai


Berkaitan dengan konsep cara pelunasan, hal ini mengandung pengertian bahwa
sebelum BKC dikeluarkan dari pabrik atau kawasan pabean, maka terhadap BKC tersebut
wajib dipenuhi kewajiban pembayaran cukainya baik dengan cara pembayaran ,
pelekatan pita cukai atau dengan cara pembubuhan tanda pelunasan cukai lainnya (hal
ini tergantung mekanisme yang diatur pemerintah). Sebagai contoh, untuk produk hasil
tembakau yang pelunasannya dilakukan dengan cara pelekatan pita cukai. Dalam hal ini,
cukai dianggap telah dilunasi pada saat pita cukai dilekati pada kemasan penjualan
eceran yang bersangkutan.

Pelunasan Cukai Dengan Cara Pembayaran


Mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan nomor 108/PML.04/2008 tentang
Pelunasan

Cukai

sebagaimana

telah

diubah terkhir dengan PMK

nomor

159/PMK.04/2009, pelunasan cukai dengan cara pembayaran dilakukan atas BKC berupa
:
a.

MMEA yang dibuat di Indonesia dengan kadar etil alkohol sampai dengan 5% (lima
persen); dan

b.

Etil alkohol.
Pelunasan cukai dengan cara pembayaran, dilakukan dengan membayar cukai

sebelum BKC bersangkutan dikeluarkan dari Pabrik atau Tempat Penyimpanan.


Pembayaran cukai MMEA dalam negeri yang kadar etil alkoholnya tidak lebih dari 5%
atau etil alkohol yang dibuat di Indonesia dilakukan secara tunai dan dilaksanakan
melalui Bank Persepsi atau Kantor Pos Persepsi . Dikecualikan dari kewajiban
pembayaran tunai adalah Pengusaha Pabrik yang mendapat kemudahan pembayaran
secara berkala. Khusus untuk pembayaran cukai etil alkohol yang berasal dari impor
harus dilakukan melalui Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pos Persepsi.

Pelunasan Cukai dengan Cara Pelekatan Pita Cukai


1)

BKC yang Pelunasannya dengan Cara Pelekatan Pita Cukai


Pelunasan cukai dengan cara pelekatan pita cukai dilakukan atas BKC berupa :

a)

Hasil Tembakau (baik yang dibuat di Indonesia atau yang diimpor);

b)

MMEA yang diimpor untuk dipakai di dalam Daerah Pabean Indonesia.

hal 98

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


c)

MMEA yang dibuat di Indonesia dengan kadar etil alkohol lebih dari 5% (lima
persen).
Pelekatan pita cukai oleh Pengusaha Pabrik dilakukan dengan cara melekatkan

pita cukai yang seharusnya dan dilekatkan sesuai ketentuan yang berlaku di bidang
cukai, sebelum hasil tembakau atau MMEA dikeluarkan dari pabrik. Pelekatan pita cukai
oleh importirdilakukan dengan melekatkan pita cukai yang seharusnya dilekatkan sesuai
ketentuan yang berlaku di bidang cukai, sebelum diterbitkannya Surat Perintah
Pengeluaran Barang.
2)

Lokasi Pelekatan Pita Cukai


Proses pelekatan pita cukai baik dalam rangka pelunasan BKC dalam negeri atau

BKC eks. Impor, harus dilakukan di dalam suatu tempat yang mendapat pengawasan Bea
dan Cukai. Lokasi pelekatan pita cukai dapat dilaksanakan di tempat-tempat sebagai
berikut :
a) Untuk pelekatan pita cukai hasil tembakau dan MMEA yang dibuat di dalam negeri
harus dilakukan di dalam pabrik yang bersangkutan;
b) Untuk hasil tembakau dan MMEA asal impor, dapat dilakukan di negara asal barang,
di tempat penimbunan sementara, dan/atau di tempat penimbunan berikat;
3)

Ketentuan Pelekatan Pita Cukai


Pita cukai yang dilekatkan pada kemasan penjualan eceran MMEA yang berasal

dari impor dan yang dibuat di Indonesia dengan kadar alkohol lebih dari 5%, harus
memenuhi ketentuan :
a)

sesuai dengan Tarif Cukai dan Kadar etil alkohol pada isi kemasan ;

b)

merupakan hak Importir barang kena cukai atau Pengusaha Pabrik yang
bersangkutan dan sesuai dengan peruntukannya ;

c)

utuh, tidak rusak, dan/atau bukan bekas pakai ;

d)

tidak lebih dari satu keping ; dan

e)

dilekatkan pada kemasan yang tertutup dan menutup tempat pembuka kemasan
yang tersedia sehigga pita cukai akan rusak apabila tutup kemasan dibuka ;

f)

harus menggunakan bahan perekat yang kuat sehingga tidak mudah dilepaskan dari
kemasan, dalam keadaan utuh;

g)

dilekatkan tidak melebihi batas waktu pelekatan pita cukai yang ditetapkan.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 99

Modul Teknis Cukai


Pita cukai yang dilekatkan pada kemasan penjualan eceran hasil tembakau baik
yang berasal dari impor atau yang dibuat di Indonesia, harus memenuhi ketentuan :
b)

sesuai dengan Tarif Cukai dan Kadar etil alkohol pada isi kemasan ;

c)

merupakan hak pengusaha pabrik atau Importir barang kena cukai yang
bersangkutan dan sesuai dengan peruntukannya ;

d)

utuh, tidak rusak, dan/atau bukan bekas pakai ;

e)

tidak lebih dari satu keping ; dan

f)

dilekatkan pada kemasan yang tertutup dan menutup tempat pembuka kemasan
yang tersedia;

g)

harus menggunakan bahan perekat yang kuat sehingga tidak mudah dilepaskan dari
kemasan, dalam keadaan utuh;

h)

dilekatkan tidak melebihi batas waktu pelekatan pita cukai yang ditetapkan.
Dalam hal pita cukai yang dilekatkan tidak sesuai dengan ketentuan

sebagaimana dimaksud diatas, cukainya dianggap tidak dilunasi. Disamping hal tersebut,
pelekatan pita cukai oleh Pengusaha Pabrik atau importir juga harus memenuhi
ketentuan waktu pelekatan, sebagai berikut:
a.

dalam hal pergantian tahun anggaran dan/atau desain : pelekatan pita cukai
harus dilakukan paling lambat tanggal 1 (satu) bulan berikutnya setelah pergantian
tahun anggaran dan/atau desain yang baru;

b.

dalam hal terdapat perubahan kebijakan di bidang tarif dan/atau Harga Jual
Eceran (HJE), atas pita cukai yang dipesan sebelum berlakunya perubahan,
pelekatan pita cukai harus harus dilakukan paling lambat tanggal 1 (satu) bulan
berikutnya setelah diberlakukan perubahan.

c.

Dalam hal pelekatan pita cukai dilakukan di luar negeri, importasi paling lambat
dilakukan pada tanggal 1 (satu) bulan berikutnya setelah pergantian tahun
anggaran dan/atau desain yang baru, yang dibuktikan dengan tanggal manifest
kedatangan sarana pengangkut (inward manifest BC 1.1).

Pembubuhan Tanda Pelunasan Cukai Lainnya


Cara pelunasan yang ketiga yang diatur di dalam ketentuan Pasal 7 Undang
Undang Nomor 11 Tahun 1995 Jo. Undang Undang Nomor 39 Tahun 2007, adalah
mekanisme pelunasan cukai dengan cara pembubuhan tanda pelunasan cukai lainnya.
Mekanisme pekunasan dengan pembubuhan tanda pelunasan cukai, pada dasarnya

hal 100

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


adalah mekanisme pelunasan alternatif yang disediakan Undang-undang dalam rangka
mengantisipasi perkembangan teknologi pelunasan ke depannya. Untuk sekarang ini,
teknologi sekuriti telah lazim menggunakan barcode dan hologram sebagai media
pengaman untuk suatu produk agar tidak mudah dipalsukan. Ke depan, dapat saja
pemerintah mengamb il kebijakan untuk menggunakan sistem pelunasan cukai
menggunakan barcode atau hologram .
Pelunasan cukai dengan cara pembubuhan tanda pelunasan cukai lainnya,
dilakukan sebelum BKC tersebut dikeluarkan dari Pabrik, Tempat Penimbunan
Sementara (TPS), Tempat Penimbunan Berikat (TPB), atau di Tempat pembuatan BKC di
luar negeri. Hal-hal yang menyangkut lokasi pembuhan tanda pelunasan cukai maupun
ketentuan yang harus dipenuhi dalam hal pembubuhan tanda pelunasan cukai lainnya,
pada dasarnya hampir sama dengan mekanisme pelunasan dengan cara pelekatan pita
cukai.

b.

Penghitungan Pungutan Cukai

Sebagai calon pelaksana pemeriksa di unit-unit Kepabeanan dan Cukai sudah


selayaknya anda memiliki pengetahuan yang cukup mengenai cara penghitungan cukai.
Konsep penghitungan cukai sebenarnya tidaklah terlalu sulit, tapi pengalaman
membuktikan bahwa apabila anda tidak pernah mempraktekkan proses penelitian cukai
ini, anda akan mengalami kesulitan apabila ditempatkan di unit-unit pelayanan cukai.
Untuk itu, mari kita bahas materi ini dengan sungguh-sungguh dan silahkan mencoba
mengerjakan soal-soal latihan yang disediakan pada akhir kegiatan belajar 4 ini.

Penghitungan Cukai Etil Alkohol


Sebagaimana telah kita pelajari pada KB-3 bahwa sistem pemungutan cukai etil
alkohol menggunakan sistem tarif cukai spesifik murni. Pengertiannya bahwa cukai
dipungut berdasarkan jumlah satuan spesifik tertentu tanpa membedakan kadar etil
alkohol yang terkandung di dalamnya dan juga tanpa membedakan apakah etil alkohol
tersebut diperoleh dari impor atau diproduksi di dalam negeri. Dengan kata lain tarif
cukai etil alkohol bersifat flat. Cara pelunasan etil alkohol dilaksanakan dengan
pembayaran tunai atau berkala sebelum BKC yang bersangkutan dikeluarkan dari pabrik.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 101

Modul Teknis Cukai


Dalam menghitung pungutan cukai etil alkohol, variabel yang terlibat di dalamnya
sangat sederhana, yaitu :
1)

Jumlah dalam satuan liter

2)

Tarif cukai sepesifik, yaitu Rp. 20.000,- per liter

Rumus penghitungan cukai etil alkohol :

Contoh Penghitungan:
1)

Pabrik etil alkohol PS di Medan mengajukan permohonan pengeluaran BKC


dengan pelunasan cukai (dokumen CK-14) kepada KPPBC medan, dengan rincian:
- 20 drum isi @ 200 liter, etil alkohol kadar 96%.
Pertanyaan, Berapa nilai cukai yang harus dibayar Pengusaha sebelum BKC
dikeluarkan dari Pabrik ?
Jawab :
Pungutan Cukai yang harus dilunasi = 20 x 200 ltr x Rp. 20.000,= Rp. 80.000.000,-

2)

Importir ACW mengimpor barang kena cukai berupa etil alkohol dari luar negeri
dengan rincian data sebagai berikut :
- Jumlah etil alkohol yang diimpor sebanyak 14.000 liter
- Harga barang tersebut sesuai invoice adalah C& F USD 0.5 per liter
- Biaya insurance yang dikeluarkan importir adalah USD 1,000.00
- NDPBM diasumsikan Rp. 10.000 per 1 USD
- Pos Tarif dan pembebanan sesuai HS adalah :
Pos Tarif : 2207.10.00.00 (BM 30%, PPN 10%, PPh. Psl. 22 2,5%)
Pertanyaan : Hitung pungutan yang harus dilunasi Importir sebelum barangnya
dapat dikeluarkan dari Kawasan Pabean.
Jawab :
- Pungutan Cukai = 14.000 liter x Rp. 20.000,- = Rp. 280.000.000,-

hal 102

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


- Nilai Pabean = CIF x NDPBM
USD (14.000 x 0,5) + 1,000 = USD 8,000.00 x Rp. 10.000,- = Rp. 80.000.000,- Bea Masuk = 30 % x Rp. 80.000.000,-

= Rp. 24.000.000,-

- Nilai Impor = Nilai Pabean + BM + Cukai


Rp. 80.000.000,- + 24.000.000,- + Rp. 280.000.000,-

= Rp. 384.000.000,-

- PPN impor = 10% x Rp. 384.000.000,-

= Rp. 38.400.000,-

- PPh. Psl 22 = 2,5% x Rp. 384.000.000,-

= Rp. 9.600.000,-

- Total Pungutan : BM + Cukai + PPN + PPh. Psl 22 :


Rp. 24.000.000,- + Rp. 280.000.000,- + 38.400.000,- + Rp. 9.600.000,= Rp. 352.000.000,-

Penghitungan Cukai MMEA


Berdasarkan PMK nomor 159/PMK.04/2009 mekanisme pelunasan cukai untuk
BKC MMEA mengalami perubahan yang cukup mendasar.

Terhadap MMEA yang

diimpor dan MMEA produksi dalam negeri dengan kadar lebih dari 5%, cara pelunasan
cukainya dilakukan dengan pelekatan pita cukai. Untuk MMEA produksi dalam negeri
yang kadarnya kurang dari 5%, cara pelunasannya tetap dengan cara pembayaran.
Berbeda dengan cara penghitungan cukai etil alkohol, dalam menghitung
pungutan cukai MMEA, variabel yang menentukan besaran nilai cukai yang harus
dipungut lebih banyak, yaitu :
b.

Jumlah barang dalam satuan liter

c.

Tarif cukai sepesifik sesuai golongan

d.

Golongan barang kena cukai yang dibedakan berdasarkan kadar etil alkohol yang
terkandung di dalamnya.

Rumus penghitungan cukai MMEA :

Catatan : tarif cukai Spesifik MMEA sesuai PMK Nomor 62/PMK.011/2010

Contoh Penghitungan pungutan cukai MMEA :

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 103

Modul Teknis Cukai


1)

Pabrik MB sebagai produsen bir merek BB isi per botol 330 ml dengan kadar
alkohol 3%, mengajukan permohonan pengeluaran BKC dengan pelunasan cukai
(CK-5) sebanyak 1.000 krat isi @ 12 botol. HJE per kemasan @ Rp 8.900,Pertanyaan, berapa cukai yang harus dilunasi sebelum pengeluaran dari Pabrik ?
Jawab :
Tarif cukai untuk MMEA kadar 3% (Golongan A) ; Rp. 11.000,- / liter
Cukai = 1.000 x 12 x 0,33 = 3.960 liter
= Rp. 11.000,- x 3.960 = Rp. 43.560.000,-

2)

Produsen MMEA PT IS telah mengajukan dokumen penyediaan pita cukai


MMEA (P3C) untuk kebutuhan bulan Februari 2010 sebanyak 1.000 lembar pita
cukai Gol B. Pada tanggal 8 Februari 2010, Pengusaha tersebut mengajukan CK-1A
dengan total rincian pengajuan, sebagai berikut :

No.

Merk

Kemasan

Isi

Gol. Tarif

Lembar

1.

CLB Vodka

Botol Kaca

250 ml

300

2.

CLB Whisky

Botol Kaca

620 ml

100

Pertanyaan :
Berapa nilai cukai yang harus dibayar untuk pemesanan CK1A tersebut ?

Jawab :
Pertama kali yang harus kita ingat bahwa pita cukai MMEA diterbitkan dalam satu seri
saja, dengan jumlah keping pita cukai per lembarnya sebanyak 60 keping.
Perhitungan cukai untuk merk CLB Vodka :
Jumlah Liter

= jumlah lembar PC x 60 x 0,25 liter


= 300 x 60 x 0,250 = 4.500 liter

Cukai

= Jumlah liter x tarif cukai spesifik Gol B


= 4.500 x Rp. 30.000,- = Rp. 135.000.000,-

Perhitungan cukai untuk merk CLB Whisky :


Jumlah liter

= 100 x 60 x 0,620

= 3.720 liter

Cukai

= 3.720 x Rp. 30.000

= Rp. 111.600.000,-

hal 104

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

Penghitungan Cukai Hasil Tembakau


Sejak diberlakukannya PMK nomor 203/PMK.04/2008 sistem pemungutan
cukai hasil tembakau telah beralih dari sistem tarif cukai advalarom dan/atau gabungan
menjadi sistem tarif cukai spesifik. Fokus kebijakan berkaitan dengan cukai hasil
tembakau cukai saat ini tidak lagi mengarah kepada kebijakan atas HJE hasil tembakau,
namun lebih mengarah kepada kebijakan yang berkaitan dengan besaran tarif cukai
spesifik. Meskipun demikian variabel HJE hasil tembakau tetap berpengaruh kepada
besarnya nilai cukai yang harus dilunasi oleh pengusaha, oleh karena penentuan strata
penetapan tarif cukai spesifik dibedakan pula berdasar batasan HJE atas hasil tembakau.
Berkaitan dengan cara pelunasan cukai hasil tembakau yang dilakukan dengan
cara pelekatan pita cukai, maka komponen-komponen data yang disebutkan dalam
permohonan CK-1 menjadi referensi dalam penghitungan pungutan cukai. Komponenkomponen data yang disebutkan dalam CK-1 (anda dapat melihat contoh fisik dokumen
pada bagian lampiran Modul) antara lain:
a)

Seri pita cukai; untuk pita cukai hasil tembakau dibedakan menjadi tiga seri: seri I
= 120 keping per lembar, seri II =56 keping per lembar dan seri III = 150 keping per
lembar.

b)

Isi per bungkus; penghitungan cukai hasil tembakau menggunakan satuan per
batang, sehingga jumlah batang dalam satu bungkus

c)

Harga Jual Eceran; komponen ini menentukan tingkat tarif spesifik yang harus
dikenakan (apakah berada di layer 1, layer 2 atau layer 3) dan juga komponen
yang harus diperhatikan dalam penghitungan PPN hasil tembakau;

d)

Jumlah lembar; pengertiannya adalah jumlah lembar pita cukai yang dipesan
Hal lain yang harus diperhatikan dalam perhitungan cukai hasil tembakau adalah

kewajiban pemungutan pajak pertambahan nilai (PPN) hasil tembakau. Ketentuan


mengenai PPN hasil tembakau secara khusus diatur di dalam PMK nomor
406/KMK.04/2000, antara lain mengatur hal-hal sebagai berikut:
a.

PPN atas hasil tembakau dipungut oleh pabrikan hasil tembakau buatan dalam
negeri dan disetor pada Bank Persepsi bersamaan dengan saat pembelian pita cukai
dengan pembayaran tunai atau saat pelunasan hutang cukai tembakau atas pita
cukai yang telah dipesan.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 105

Modul Teknis Cukai


b. PPN yang dikenakan atas penyerahan hasil tembakau buatan dalam negeri atau
atas impor hasil tembakau buatan luar negeri dihitung dengan menerapkan tarif
efektif dikalikan dengan Harga Jual Eceran. Besarnya tarif efektif sebagaimana
dimaksud ditetapkan sebesar 8,4%.

c.

Terhadap hasil tembakau impor maka PPN yang dipungut adalah PPN Dalam Negeri
dan PPN impor. Dalam hal ini, penghitungan jumlah PPN Dalam Negeri yang harus
disetor yaitu sebesar tarif efektif x Harga Jual Eceran dikurangi Pajak Pertambahan
Nilai Impor.

d. Harga Jual Eceran hasil tembakau yang diberikan secara cumacuma kepada
karyawan Pabrik adalah 50% dari Harga Jual Eceran hasil tembakau untuk jenis dan
merek yang sama, yang dijual untuk umum;

e.

Harga Jual Eceran hasil tembakau yang diberikan secara cumacuma kepada pihak
ketiga adalah sebesar 75% dari Harga Jual Eceran hasil tembakau untuk jenis dan
merek yang sama, yang dijual untuk umum;

Rumus penghitungan Cukai Hasil Tembakau

Tarif Cukai Spesifik


Jumlah Batang
kemasan

: Sesuai PMK No. 181/PMK.011/2009


: Jumlah Lembar x Jumlah Keping Seri x Isi per

Rumus penghitungan PPN Hasil Tembakau Dalam Negeri

HJE total

hal 106

: HJE per kemasan x Jumlah lembar PC x Jumlah Keping Seri

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Contoh Perhitungan:
1)

Produsen SKM PT LM telah mengajukan dokumen penyediaan pita cukai (P3C)


Hasil Tembakau untuk kebutuhan bulan Februari 2010. Pada tanggal 4 Februari
2010, Pengusaha tersebut mengajukan CK-1 dengan total rincian pengajuan,
sebagai berikut :

No

Gol

Seri Pita Cukai

Merek

Isi/Bks

HJE/ Bungkus

SERI III

Jumlah
(Lbr)
1.000

1.

II

12 Btg

Rp. 4.550,-

2.

II

SERI I

500

20 Btg

Rp.7.625,-

Sebagai tambahan informasi, bahwa Tarif cukai berdasarkan PMK


No.181/PMK.011/2009 yang telah ditetapkan terhadap produk Hasil tembakau
milik yang bersangkutan, yaitu:
a. Merk A, Tarif cukai spesifik adalah Rp. 155/btg
b. Merk B, Tarif cukai spesifik adalah Rp. 195/btg
c. Tarif PPN HT adalah 8,4%
Berdasarkan data-data tersebut, Hitung :
a. Total Nilai cukai yang terhutang !
b. Total PPN Hasil Tembakau yang terhutang !
Jawab :
Perhitungan Cukai dan PPN untuk merk A
Jumlah batang = 1.000 lbr x 12 x 150 keping = 1.800.000 batang
Cukai terhutang

= Rp. 155 x 1.800.000

= Rp. 279.000.000,-

PPN terhutang

= 8,4% x Rp. 4.550 x 1.000 lbr x 150

= Rp. 57.330.000,-

Perhitungan Cukai dan PPN untuk merk B


Jumlah batang = 500 lbr x 20 x 120 keping = 1.200.000 batang
Cukai terhutang

= Rp. 195 x 1.200.000

= Rp. 234.000.000,-

PPN terhutang

= 8,4% x Rp. 7.625 x 500 lbr x 120

= Rp. 38.430.000,-

Total Cukai terhutang : Rp. 279.000.000 + Rp. 234.000.000 = Rp. 513.000.000,Total PPN terhutang : Rp. 57.330.000 + 38.430.000

= Rp. 95.760.000,-

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 107

Modul Teknis Cukai


2)

Importir PT Yong Chun mengimpor hasil tembakau merk ZZZ jenis SPM dari
Korea sebanyak 100 karton isi @ 300 bungkus (isi per bungkus @ 20 batang). Datadata lain yang diketahui adalah sebagai berikut :
-

Harga barang sesuai invoice adalah Nilai pabean atas barang tersebut adalah
C& F USD 12,500.00. Polis asuransi tidak terlampir.

NDPBM sebesar Rp. 10.000,- per 1 USD

HJE penetapan untuk merk ZZZ adalah Rp. 12.025,- dengan tarif cukai Rp.
310 per batang.

Pita cukai seri III sebanyak 200 lembar telah dipesan dengan dokumen CK-1.

Pos tarif : 2402.20.90.90 , BM: 15%, PPN:10%, PPh:2,5%

Berdasarkan data-data tersebut, hitung pungutan impor dan cukai yang harus
dikenakan terhadap produk impor tersebut ?
Jawab :
Nilai Pabean : CIF , dalam hal ini Insurance = 0,5% x C&F
(CIF)

C&F + (0,5% x C&F) = USD 12,562.50


= USD 12,562.50 x Rp. 10.000,=

Rp. 125.625.000,-

BM

= 15% x Rp. 125.625.000,-

Cukai

= Rp. 310 x jumlah batang : (200 lbr x 150 kping x 20 batang)


= Rp. 310 x 600.000 btg

= Rp. 18.843.750,-

= Rp. 186.000.000,-

Nilai Impor = Nilai Pabean + BM + Cukai


= Rp. 125.625.000,- + Rp. 18.843.750,- + Rp. 186.000.000,= Rp. 330.468.750,PPN impor = 10% x Rp. 330.468.750,- = Rp. 33.046.875,PPh Psl 22

= 2,5% x Rp. 330.468.750,- = Rp. 8.261.719,-

PPN DN

= 8,4% x (HJE Total) - PPN Impor


(dilunasi pada saat pengajuan/pelunasan CK-1)
= 8,4% x (Rp. 12.025 x 200 x 150) Rp. 33.046.875,= Rp. 30.303.000,- - Rp. 33.046.875,= - Rp. 2.743.875,(akan dikompensasikan sebagai kredit pajak)

hal 108

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

c.

Tatacara Penagihan dan Pengangsuran Cukai

Penagihan
Berdasarkan ketentuan pasal 10 Undang-undang Cukai diatur kewajiban DJBC
untuk melakukan penagihan terhadap utang-utang cukai, yaitu :
a)

Utang cukai yang tidak dibayar pada waktunya;

b)

Kekurangan cukai ; dan/atau

c)

Sanksi Administrasi berupa Denda.


Pengertian utang cukai yang tidak dibayar pada waktunya mengacu kepada

kemudahan pembayaran yang diberikan oleh pemerintah kepada pengusaha di bidang


cukai, baik dalam bentuk pembayaran berkala maupun penundaan pembayaran .
Timbulnya utang cukai merupakan suatu konsekuensi logis terhadap kemudahan
pembayaran yang diberikan, baik karena unsur kelalaian administrasi, kesulitan
keuangan, dan lain sebagainya. Sebagai penjelasan awal mengenai istilah kemudahan
pembayaran dapat kami sebutkan sebagai berikut : (anda akan mempelajari lebih lanjut
pada Kegiatan Belajar 9)
a)

Pembayaran berkala; merupakan bentuk kemudahan pembayaran yang diberikan


kepada subyek cukai yang cara pelunasannya dengan pembayaran. Bentuknya
adalah penangguhan pembayaran tanpa dikenakan bunga atas kewajiban
pembayaran cukai, dan wajib diselesaikan paling lambat tanggl 5 bulan berikutnya.

b)

Penundaan pembayaran;

merupakan bentuk kemudahan pembayaran yang

diberikan kepada subyek cukai yang cara pelunasannya dengan pelekatan pita
cukai. Bentuknya adalah penangguhan pembayaran tanpa dikenakan bunga atas
kewajiban pembayaran cukai, dan wajib diselesaikan paling lambat antara 1(satu)
sampai 3(tiga) bulan, tergantung kategori subyek cukaiUtang cukai akibat
kemudahan yang diberikan dalam bentuk kemudahan penundaan pembayaran
cukai.
Yang dimaksud dengan kekurangan cukai, adalah kewajiban cukai yang timbul
sebagai akibat adanya temuan dalam penelitian dokumen, dan hasil pengecekan lainnya,
antara lain:
a)

Kekurangan cukai akibat kesalahan perhitungan dalam dokumen pemberitahuan


atau pemesanan pita cukai ; dan

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 109

Modul Teknis Cukai


b)

Kekurangan cukai akibat hasil pencacahan fisik terhadap BKC berupa etil alkohol
dan MMEA

Berkaitan dengan kekurangan cukai sebagai akibat pengenaan sanksi administrasi


berupa denda maksudnya adalah sanksi yang dikenakan kepada Pengusaha BKC sebagai
akibat tindakan pelanggaran, baik pelanggaran administrasi dan/atau pelanggaran
pidana yang dilakukan Pengusaha tersebut.
Kewajiban membayar utang cukai, kekurangan cukai dan sanksi administrasi
denda wajib diseledsaikan pembayarannya paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal
diterimanya surat tagihan. Apabila pembayaran atas tagihan tersebut melebihi jangka
waktu 30 hari, maka si pengusaha akan dikenai bunga sebesar 2% (dua persen) setiap
bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dari nilai utang cukai atau
kekurangan cukai, atau sanksi administrasi denda yang tidak terbayar. Mekanisme
penagihan selanjutnya terhadap kewajiban-kewajiban cukai yang tidak diselesaikan
dalam jangka waktu 30 hari akan dilakukan oleh Seksi Perbendaharaan dengan
berpedoman kepada Undang-undang nomor 19 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah
dengan Undang Undang Nomor 19 Tahun 2000, tentang Penagihan Pajak dengan Surat
Paksa.

Pengangsuran
Berkaitan dengan penagihan utang cukai yang tidak dilunasi pada waktunya,
kekurangan cukai; dan/atau sanksi administrasi berupa denda, lebih lanjut Menteri
Keuangan mengatur secara teknis penyelesaian dengan cara pengangsuran. Beberapa
poin pokok dalam aturan PMK Nomor 116/PMK.04/2008 dapat kami jelaskan sebagai
berikut4. :
1)

Yang dimaksud dengan Pengangsuran adalah pemberian kemudahan kepada


pengusaha pabrik dalam melakukan pembayaran tagihan utang cukai yang tidak
dibayar pada waktunya, kekurangan cukai, dan/atau sanksi administrasi berupa
denda dengan cara beberapa kali pembayaran secara teratur sampai batas waktu
yang ditetapkan.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 116/PMK.04/2008 tentang Tatacara Pengangsuran Pembayaran


Tagihan Utang Cukai Yang Tidak Dibayar Pada Waktunya, Kekurangan Cukai, dan/atau Sanksi
Administrasi Berupa Denda di Bidang Cukai

hal 110

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


2)

Pengangsuran

diberikan kepada pengusaha pabrik yang mengalami kesulitan

keuangan atau dalam keadaan kahar (force majeur), yang mempunyai itikad baik
untuk menyelesaikan kewajiban terhadap utang cukai yang tidak dibayar pada
waktunya, kekurangan cukai, dan/atau sanksi administrasi berupa denda di bidang
cukai ;
3)

Pengangsuran bagi pengusaha pabrik yang mengalami kesulitan keuangan


sebagaimana dimaksud diatas, diberikan apabila pengusaha pabrik tersebut tidak
mempunyai kewajiban pengangsuran sebelumnya yang tidak dibayar sesuai jumlah
dan waktu yang telah ditetapkan.

4)

Pengangsuran bagi pengusaha pabrik yang mengalami keadaan kahar (force


majeur) sebagaimana dimaksud pada butir 2, diberikan apabila :
a)

telah terbukti terjadi kahar (force majeur) berdasarkan surat keterangan dari
instansi terkait; dan

b)

telah dibuatkan berita acara pemeriksaan lapangan oleh Pegawai Bea dan
Cukai.

5)

Pengangsuran diberikan untuk jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan
terhitung sejak tanggal jatuh tempo pembayaran sebagaimana tercantum dalam
surat tagihan. Atas pengangsuran tersebut, pengusaha dikenai bunga sebesar 2 %
(dua persen) setiap bulan, bagian dari bulan dihitung satu bulan penuh, terhitung
sejak tanggal jatuh tempo pembayaran sebagaimana tercantum dalam surat
tagihan.

6)

Untuk mendapatkan pengangsuran, pengusaha pabrik harus mengajukan


permohonan secara tertulis kepada Direktur Jenderal melalui kepala kantor yang
menerbitkan surat tagihan, dalam jangka waktu paling lama 15 (lima belas) hari
sejak tanggal diterima surat tagihan. Permohonan sebagaimana dimaksud pada
butir 6 harus dilampiri dengan :
a)

laporan keuangan tahun terakhir atau surat keterangan dari instansi terkait
tentang terjadinya kahar (force majeur); dan

b)

menyerahkan jaminan sebesar 25 % (dua puluh lima persen) dari tagihan utang
cukai yang tidak dibayar pada waktunya, kekurangan cukai, dan/atau sanksi
administrasi berupa denda ditambah dengan bunga.

c)

Jaminan sebagaimana dimaksud pada butir 7 huruf b berupa jaminan bank


atau jaminan dari perusahaan asuransi.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 111

Modul Teknis Cukai


7)

Atas permohonan sebagaimana dimaksud diatas, Direktur Jenderal menetapkan


keputusan menerima atau menolak permohonan yang bersangkutan dalam jangka
waktu paling lama 10 (sepuluh) hari terhitung sejak permohonan diterima secara
lengkap. Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada butir 8, Direktur
Jenderal tidak memberikan keputusan, permohonan dianggap dikabulkan.

8)

Keputusan pemberian pengangsuran dinyatakan tidak berlaku apabila:


a)

Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC) dicabut;

b)

pengusaha pabrik yang bersangkutan tidak membayar angsuran sesuai jumlah


dan waktu yang telah ditetapkan; atau

c)

seluruh tagihan telah dibayar.

Dalam hal keputusan pemberian pengangsuran dinyatakan tidak berlaku


sebagaimana dimaksud pada poin a dan

b, jaminan dicairkan dan dilakukan

penagihan aktif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam


hal keputusan pemberian pengangsuran dinyatakan tidak berlaku sebagaimana
dimaksud pada poin c, jaminan dikembalikan kepada pengusaha pabrik.

Masa Daluwarsa Tagihan Cukai


Berdasarkan ketentuan pasal 13 Undang-undang Cukai diatur bahwa: hak
menagih utang berdasarkan undang-undang Cukai menjadi kedaluwarsa setelah sepuluh
tahun sejak timbulnya hutang pajak. Artinya bahwa apabila DJBC tidak dapat
menemukan adanya bukti-bukti mengenai kekurangan pembayaran cukai selama kurun
waktu sepuluh tahun, maka hak penagihan terhadap utang cukai yang timbul setelah
jangka waktu 10 tahun tersebut menjadi kadaluwarsa. Jangka waktu sepuluh tahun tidak
dapat diperhitungkan sebagai kadaluwarsa dalam hal adanya pengakuan hutang dari
pihak wajib cukai.

4.2

Latihan

Agar Anda dapat lebih memahami materi pada kegiatan belajar 4 ini, coba kerjakan
latihan-latihan berikut ini.
1)

Jelaskan tiga metode pelunasan yang diatur dalam Undang-undang cukai !

2)

Jelaskan konsep terutang cukai dan saat pelunasan cukai !

hal 112

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


3)

Jelaskan penerapan sistem pelunasan cukai dengan cara pembayaran !

4)

Menurut pandangan anda mana yang lebih efektif, sistem pelunasan cukai
dengan pembayaran atau pelekatan pita cukai ! Jelaskan.

5)

Pabrik etil alkohol PS di Medan mengajukan permohonan pengeluaran BKC


dengan pelunasan cukai kepada KPPBC medan, dengan rincian:

- 450 drum isi @ 200 liter, etil alkohol kadar 95%. Pertanyaan, Berapa nilai cukai
yang harus dibayar Pengusaha sebelum BKC dikeluarkan dari Pabrik ?

4.3
a.

Rangkuman
Sistem pelunasan cukai yang diatur dalam ketentuan Undang-undang cukai terdiri
atas tiga cara yaitu:

b.

c.

a.

Sistem pembayaran

b.

Sistem pelekatan pita cukai

c.

Sistem pembubuhan tanda pelunasan cukai lainnya

Barang kena cukai yang cara pelunasannya dengan cara pembayaran adalah :
a.

etil alkohol produksi dalam negeri;

b.

etil alkohol yang diimpor; dan

c.

MMEA produksi dalam negeri dengan kadar tidak lebih dari 5%

Barang kea cukai yang cara pelunasannya dilakukan dengan pelekatan pita cukai
adalah:

d.

a.

Hasil tembakau produksi dalam negeri

b.

Hasil tembakau yang diimpor; dan

c.

MMEA produksi dalam negeri dengan kadar lebih dari 5%

d.

MMEA yang diimpor

Rumus penghitungan cukai etil alkohol :

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 113

Modul Teknis Cukai


e.

Rumus Penghitungan cukai MMEA :

f.

Rumus penghitungan cukai hasil tembakau dan PPN hasil tembakau:

Tarif Cukai Spesifik


Jumlah Batang

: Sesuai PMK No. 181/PMK.011/2009

: Jumlah Lembar x Jumlah Keping Seri x Isi per kemasan

HJE total : HJE per kemasan x Jumlah lembar PC x Jumlah Keping Seri

4.4

Tes Formatif

Untuk menguji hasil belajar pada kegiatan belajar 4 ini, coba Anda kerjakan tes formatif
berikut ini, dengan cara memberikan tanda silang (X) pada jawaban yang benar.
1.

Sistem pelunasan cukai sebagaimana diatur dalam Undang-undang Cukai,


kecuali
a. Pembayaran cukai
b. Pelekatan pita cukai
c. Pelekatan label tanda pengawasan cukai (PLTC)
d. Pembubuhan tanda pelunasan cukai lainnya

2.

Saat pelunasan cukai untuk BKC yang dibuat di Indonesia


a. Saat pita cukai dilekati
b. Saat pengeluaran dari pabrik atau tempat penyimpanan
c. Saat cukai dibayar di Bank Persepsi atau Pos Persepsi
d. Saat pita cukai dipesan dengan menggunakan CK-1 atau CK-1A

hal 114

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


3.

Pelunasan Cukai denga cara pembayaran dilakukan atas barang kena cukai, antara
lain ...
a. MMEA dengan kadar lebih dari 50%
b. MMEA eks impor
c. Hasil tembakau
d. MMEA dalam negeri dengan kadar etil alkohol tidak lebih dari 5%

4.

Pelunasan cukai dengan cara pelekatan pita cukai dilakukan atas BKC
a.
b.
c.
d.

MMEA dalam negeri dengan kadar etil alkohol lebih dari 5%


Etil alkohol eks Impor
Hasil tembakau yang diekspor
MMEA dalam negeri dengan kadar etil alkohol tidak lebih dari 5%

5.

Lokasi pelekatan pita cukai MMEA yang berasal dari impor dapat dilakukan di
lokasi sebagai berikut, kecuali...
a. Negara asal barang
b. Tempat penimbunan sementara
c. Tempat penimbunan berikat
d. Pabrik MMEA dalam negeri

6.

Ketentuan pita cukai yang dilekatkan pada kemasan penjualan eceran MMEA
adalah sebagai berikut, kecuali...
a. Harus sesuai dengan tarif cukai dan kadar etil alkohol
b. Merupakan hak importir dan sesuai peruntukkannya
c. Dilekatkan pada pada bagian leher kemasan dengan perekat yang kuat
d. Utuh, tidak rusak dan/atau bukan bekas pakai

7.

Besarnya biaya pengganti yang dikenakan terhadap importir MMEA yang tidak
menyelesaikan persediaan pita cukai yang dipesannya pada kahir tahun
anggaran...
a. Rp. 40,- per keping
c. Rp. 300,- per keping
b. Rp. 200,- per keping
d. Rp. 25,- per keping

8.

Berapa nilai Cukai yg harus Dibayar Untuk MMEA lokal berupa : 1.000 krat @ 12
Botol Bir, Kadar 3%, isi per botol @ 1,5 liter (Tarif A: Rp.11.000,-)
a. Rp. 145 juta
c. Rp. 198 juta
b. Rp. 90 juta
d. Rp. 150 juta

9.

Pengajuan pemesanan pita cukai MMEA impor menggunakan dokumen cukai...


a. CK-1
c. CK-1B
b. CK-2
d. CK-1A

10.

Pembayaran cukai atas pemesanan pita cukai (CK-1/CK-1A) dilakukan melalui ...
a. Bank Devisa persepsi
c. Bendaharawan
b. Bank Persepsi
d. Semua salah

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 115

Modul Teknis Cukai


11.

Besarnya pungutan cukai yang harus dilunasi atas pengajuan PMBKC etil alkohol
sebanyak 40 drum @ 200 liter adalah...
a. 80 juta
c. 140 juta
b. 75 juta
d. 160 juta

12.

Variabel-variabel berikut sangat menentukan struktur tarif hasil tembakau, kecuali

a. Jenis hasil tembakau


b. Batasan harga jual eceran per kemasan
c. Golongan pengusaha pabrik
d. Batasan harga jual eceran per batang atau gram

13.

Warna dasar pita cukai hasil tembakau tahun 2010 untuk pengusaha golongan II
jenis produk SKM/SPM/SPTF/SKTF:
a. Warna merah dominan dikombinasi kuning
b. Warna biru dominan kombinasi kuning
c. Warna hijau dominan kombinasi merah
d. Warna abu-abu dominan kombinasi warna jingga

14.

Terhadap BKC berupa Hasil tembakau yang diimpor akan dikenakan pungutan :
a. BM, Cukai, PPN impor, PPh. Psl 22, PPN HT DN
b. BM, Cukai, PPN impor, PPh. Psl 22,
c. BM, PPN impor, PPh. Psl 22
d. BM, Cukai, PPN HT DN, PPh. Psl 22

15.

Berapa nilai cukai yang terutang atas pemesanan pita cukai dalam CK-1, seri- III,
Pengusaha Golongan II, jumlah permintaan 100 lembar, SPM (isi@ 20), HJE Rp.
6.200,-, tarif cukai Rp.200,-) ...
a. Rp. 30 juta
c. Rp. 60 juta
b. Rp. 90 juta
d. Rp. 49,5 juta

hal 116

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

4.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah disediakan.
Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini. Perhatikan dan
cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci
sebagaimana rumus dibawah ini.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal
Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai:
91 %

s.d

100 %

Sangat Baik

81 %

s.d.

90,99 %

Baik

71 %

s.d.

80,99 %

Cukup

61 %

s.d.

70,99 %

Kurang

0%

s.d.

60,99 %

Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah
menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat
melanjutkan kegiatan belajar berikutnya. Jika belum mencapai angka 81%, kami
menyarankan agar anda mengulang kembali materi kegiatan belajar ini.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 117

Modul Teknis Cukai


KEGIATAN
BELAJAR

TATA CARA PEMBUKUAN,


PENCATATAN, DAN PENCACAHAN
BKC

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu:


1) Mengaplikasikan konsep Pembukuan dan Pencatatan di bidang Cukai
2) Melaksanakan ketentuan tatacara Pembukuan dan Pencatatan di bidang Cukai
3) Melaksanakan ketentuan tatacara Pencacahan di bidang Cukai

5.1 Uraian dan Contoh

a.

Konsep Pembukuan dan Pencatatan

Pengertian Umum
Dalam rangka meningkatkan pengawasan atas
produksi, peredaran dan pemakaian atas barang kena
cukai, maka terhadap para pengusaha barang kena
cukai dan Pejabat Bea dan Cukai diwajibkan untuk
memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam
Pasal 16, Pasal 17 dan Pasal 19

Undang-Undang

Cukai, mengenai penyelenggaraan bukubuku, catatan-

hal 118

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


catatan dan dokumen-dokumen di bidang cukai.

Kewajiban penyelenggaraan

pembukuan yang dimaksudkan dalam ketentuan Undang-undang Cukai pada dasarnya


membedakan istilah pembukuan dengan istilah pencatatan. Kita akan membahasnya
lebih detail dalam sub pokok bahasan ini.
Konsep Pembukuan di bidang cukai

adalah suatu proses pencatatan yang

dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi yang meliputi dan
mempengaruhi keadaan harta, utang, modal, pendapatan, dan biaya yang secara khusus
menggambarkan jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang
kemudian diikhtisarkan dalam laporan keuangan. 5 Pembukuan yang diselenggarakan
oleh pengusaha harus berdasarkan sistem yang lazim digunakan di Indonesia yaitu
pembukuan berdasarkan Standar Akuntansi Indonesia, kecuali Peraturan Perundangundangan Cukai menentukan lain. Pelaksanaan pembukuan dapat diselenggarakan
secara tertulis maupun dalam bentuk data elektronik.
Pengertian pencatatan di bidang cukai adalah suatu proses pengumpulan dan
penulisan data secara teratur tentang pemasukan, produksi, dan pengeluaran barang
kena cukai, dan penerimaan, pemakaian, dan pengembalian pita cukai atau tanda
pelunasan cukai lainnya. 6

Sistem pencatatan merupakan bentuk yang lebih sederhana

dibandingkan dengan sistem pembukuan. Khusus untuk pencatatan, Pengusaha yang


diwajibkan menyelenggarakan pencatatan harus menggunakan pedoman pencatatan
sebagaimana diatur di dalam PMK nomor 110/PMK.04/2008.
Berkaitan dengan format pencatatan persediaan BKC yang ditentukan oleh DJBC
dalam PMK nomor 110/PMK.04/2008, pengusaha yang wajib menyelenggarakan
pembukuan tidak berkewajiban untuk menerapkannya. Pengusaha tersebut dapat
menyusun standar sendiri dalam penyelenggaraan buku besar (ledger), jurnal-jurnal
pencatatan, dokumen dan surat-surat, sepanjang memenuhi prinsip-prinsip sesuai
standar akuntansi Indonesia.

Subyek Cukai yang wajib Pembukuan dan Pencatatan


Subyek cukai yang wajib menyelenggarakan pembukuan adalah :
5
6

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 109/PMK.04/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pembukuan di


bidang Cukai
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.04/2008 tentang Kewajiban Pencatatan Bagi Pengusaha
Pabrik Skala Kecil, Penyalur Skala Kecil Yang Wajib Memiliki Izin, Dan Pengusaha Tempat Penjualan
Eceran Yang Wajib Memiliki Izin.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 119

Modul Teknis Cukai


1) Pengusaha Pabrik BKC;
2) Pengusaha Tempat Penyimpanan;
3) Importir BKC;
4) Pengusaha Penyalur.
Subyek cukai yang tidak diwajibkan menyelenggarakan pembukuan namun wajib
menyelenggarakan pencatatan adalah :
1)

Pengusaha Pabrik BKC skala kecil;

2)

Penyalur etil alkohol atau MMEA berskala kecil, yang wajib memiliki NPPBKC;

3)

Pengusaha Tempat Penjualan Eceran etil alkohol atau MMEA, yang wajib memiliki
NPPBKC.

Kategori Pengusaha berskala kecil mengacu kepada ketentuan perpajakan, yaitu orang
pribadi yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.

Sanksi Administrasi terkait Pembukuan


Terhadap pengusaha yang kategorinya wajib pembukuan namun tidak
menyelenggarakan pembukuan dimaksud, dikenai sanksi administrasi berupa denda
sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Terhadap pengusaha yang kategorinya
wajib pencatatan namun tidak menyelenggarakan pencatatan dimaksud, dikenai sanksi
administrasi berupa denda sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah).

b.

Tatacara Pembukuan dan Pencatatan

Pedoman Penyelenggaraan Pembukuan


Sebagai tindak lanjut ketentuan pasal 16 ayat (1) Undang-undang Cukai mengenai
pembukuan, pemerintah telah menerbitkan PMK nomor 109/PMK.04/2008 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Pembukuan. Beberapa hal pokok yang diatur secara khusus
dalam peraturan tersebut antara lain :
1)

Pembukuan atas kegiatan usaha di bidang cukai wajib diselenggarakan dengan baik
yang mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya dan sekurangkurangnya terdiri dari catatan mengenai harta, kewajiban, modal, pendapatan,
biaya, dan arus keluar masuknya barang kena cukai.

hal 120

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


2)

Pembukuan wajib diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf latin,


angka arab, mata uang rupiah, serta bahasa Indonesia, atau dengan mata uang
asing dan bahasa lain yang diizinkan oleh Menteri Keuangan.

3)

Terhadap sediaan barang harus dilakukan penatausahaan dengan baik, paling


sedikit memuat jenis, spesifikasi, jumlah pemasukan dan pengeluaran barang;

4)

Terhadap subyek cukai yang memperoleh dan/atau menggunakan fasilitas cukai,


diwajibkan mealkukan penarausahaan sediaan barang sehingga dapat diketahui
jenis, spesifikasi, jumlah pemasukan dan pengeluaran sediaan barang yang
berkaitan dengan fasilitas cukai yang diperoleh dan/atau digunakan;

5)

Subyek cukai yang menyelenggarakan pembukuan, wajib melakukan penyusunan


dan penyajian laporan keuangan dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Penyusunan laporan keuangan wajib
disajikan paling sedikit setahun sekali.

6)

Buku, catatan, dokumen dan surat dalam bentuk data elektronik yang disusun
dalam rangka penyelenggaraan pembukuan wajib dijaga atau dijamin keandalan
sistem pengolahan datanya supaya dapat dibuka, dibaca, atau diambil kembali
setiap waktu.

7)

Asli dari laporan keuangan, buku, catatan, dokumen, dan surat sebagaimana
dimaksud dalam butir 6, dapat dialihkan ke dalam bentuk data elektronik. Namun
demikian, bukti asli dari laporan keuangan, buku, catatan, dokumen, dan surat
tersebut yang mempunyai kekuatan pembuktian otentik dan masih mengandung
kepentingan hukum tertentu, wajib tetap disimpan.

8)

Setiap pengalihan laporan keuangan, buku, catatan, dokumen, dan surat wajib
dilegalisasi oleh pimpinan atau orang yang ditunjuk di lingkungan badan hukum
yang bersangkutan, dengan dibuatkan berita acara. Berita acara sebagaimana
dimaksud paling sedikit memuat :
a) keterangan tempat, hari, tanggal, bulan, dan tahun dilakukannya legalisasi;
b) keterangan bahwa pengalihan laporan keuangan, buku, catatan, dokumen, dan
surat yang dibuat di atas kertas ke dalam disket, compact disk, tape backup,
hard disk atau media lainnya telah dilakukan sesuai dengan aslinya; dan
c) tanda tangan dan nama jelas orang bersangkutan.

9)

Laporan keuangan, buku, catatan, dan dokumen yang menjadi bukti dasar
pembukuan, dan dokumen lain yang berkaitan dengan kegiatan usaha, serta surat

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 121

Modul Teknis Cukai


yang berkaitan dengan kegiatan di bidang cukai, baik tertulis di atas kertas atau
sarana lain yang terekam dalam bentuk apapun yang dapat dilihat dan dibaca,
wajib disimpan selama 10 (sepuluh) tahun pada tempat usahanya di Indonesia,
termasuk tempat-tempat lain yang khusus diperuntukkan sebagai tempat
penyimpanan laporan keuangan, buku, catatan, dokumen, dan surat.
10) Pembukuan dapat diselenggarakan secara manual dan/atau secara elektronik.

Pedoman Penyelenggaraan Pencatatan


Beberapa pedoman penyelenggaraan pencatatan sebagaimana diatur dalam PMK
nomor 110/PMK.04/2008, antara lain :
1)

Pencatatan yang diselenggaran pengusaha skala kecil wajib dibuat secara lengkap
yang mencerminkan:
a)

pemasukan, produksi, dan pengeluaran barang kena cukai yang sebenarnya,


untuk Pengusaha Pabrik skala kecil; atau

b)

pemasukan dan pengeluaran barang kena cukai yang sebenarnya, untuk


penyalur dan pengusaha tempat penjualan eceran etil alkohol atau MMEA
skala kecil yang wajib memiliki NPPBKC.

2)

Khusus terhadap pengusaha pabrik BKC skala kecil yang pelunasannya dengan
pelekatan pita cukai, berlaku ketentuan kewajiban pembuatan pencatatan secara
lengkap yang mencerminkan penerimaan, pemakaian dan pengembalian pita cukai
yang sebenarnya.

3)

Pencatatan yang diselenggarakan oleh pengusaha skala kecil

sesuai dengan

kegiatan cukai yang diselenggarakan antara lain mencakup :


a) Catatan sediaan hasil tembakau (CSCK-1);
b) Catatan sediaan hasil tembakau

yang dikembalikan dari peredaran bebas

dan/atau yang rusak di pabrik setelah dilekati pita cukai (CSCK-2);;


c) Catatan sediaan pita cukai (CSCK-3);
d) Catatan sediaan etil alkohol (CSCK-4);
e) Catatan sediaan minuman mengandung etil alkohol (CSCK-5);
f)

Catatan sediaan minuman mengandung etil alkohol yang dikembalikan dari


peredaran (CSCK-6);

hal 122

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


4)

Pengadaan Buku catatan sediaan dilakukan sendiri oleh Pengusaha yang


bersangkutan, namun sebelum digunakan buku tersebut harus mendapat
pengesahan dan ditandatangani terlebih dahulu oleh Kepala Kantor Bea dan Cukai
setempat atau pejabat yang ditunjuknya.

5)

Contoh tampilan Buku Catatan sediaan BKC sebagaimana dimaksud di atas dapat
anda lihat pada lembar lampiran PMK nomor 110/PMK.04/2008.

6)

Berkaitan

dengan

penyelenggaraan

pencatatan,

pengusaha

yang

menyelenggarakan pencatatan tersebut wajib menyimpan buku catatan sediaan


yang dimilikinya selama 10 (sepuluh) tahun pada tempat usahanya di Indonesia.

Pemberitahuan BKC yang selesai dibuat


Disamping kewajiban pembukuan atau pencatatan, pengusaha pabrik diwajibkan
untuk memberitahukan secara berkala kepada Kepala Kantor bea dan Cukai setempat
mengenai barang kena cukai yang selesai dibuat. Pengusaha pabrik yang dimaksud
adalah :
a)

pengusaha pabrik etil alkohol;

b)

pengusaha pabrik minuman yang mengandung etil alkohol; atau

c)

pengusaha pabrik hasil tembakau.

Pemberitahuan barang kena cukai yang selesai dibuat, disusun sesuai format yang
disediakan untuk masing-masing pabrik BKC.

Pemberitahuan barang kena cukai yang selesai dibuat untuk Pengusaha


Pabrik Etil Alkohol, dibuat setiap hari dengan menggunakan dokumen
Pemberitahuan Etil Alkohol Yang Selesai Dibuat (CK-4A). CK-4A tersebut wajib
diserahkan oleh pengusaha pabrik etil alkohol kepada kepala kantor yang mengawasi
pada hari kerja berikutnya dan dapat disampaikan dalam bentuk data elektronik.
Dokumen CK-4A tersusun dalam 2 halaman, halaman 1 berisi pemberitahuan produksi
dan halaman 2 berisi rincian jumlah produksi. Susunan komponen rincian jumlah
produksi, sebagaimana terlihat pada gambar dibawah ini.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 123

Modul Teknis Cukai


Gambar 5.1
Contoh Halaman Pertama CK-4A

hal 124

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Halaman kedua CK-4A

Pemberitahuan barang kena cukai yang selesai dibuat untuk Pengusaha


Pabrik MMEA, dibuat setiap hari dengan menggunakan dokumen Pemberitahuan
Etil Alkohol Yang Selesai Dibuat (CK-4B). Dokumen CK-4B tersusun dalam 2 halaman,
halaman pertama berisi pemberitahuan produksi dan halaman kedua berisi rincian
jumlah produksi. Sama halnya dengan CK-4A, maka format CK-4B ini dapat dibuat dalam
format dokumen elektronik. Berikut contoh halaman kedua dokumen CK-4B.

Gambar 5.2

Pemberitahuan barang kena cukai yang selesai dibuat untuk Pengusaha Pabrik
Hasil Tembakau dibuat setiap 14 harian, dengan menggunakan dokumen Pemberitahuan
Hasil Tembakau Yang Selesai Dibuat (CK-4C). Pemberitahuan barang kena cukai yang
selesai dibuat sebagaimana dimaksud, wajib diserahkan oleh pengusaha pabrik hasil
tembakau kepada kepala kantor yang mengawasi pada :

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 125

Modul Teknis Cukai


a)

setiap tanggal 1 untuk periode pembuatan barang kena cukai hasil tembakau dari
tanggal 15 sampai dengan akhir bulan sebelumnya; dan

b)

setiap tanggal 15 untuk periode pembuatan barang kena cukai hasil tembakau dari
tanggal 1 sampai dengan tanggal 14 pada bulan yang sama.

c)

Dalam hal tanggal 1 dan tanggal 15 merupakan hari libur, kewajiban penyerahan
sebagaimana dimaksud, dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.

Dokumen CK-4C tersusun dalam 2 halaman, halaman pertama berisi pemberitahuan


produksi dan halaman kedua berisi rincian jumlah produksi. Susunan komponen rincian
jumlah produksi, sebagaimana terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 5.3

Pencatatan oleh Pejabat Bea dan Cukai


Selain kewajiban pembukuan atau pencatatan oleh subyek cukai, kepada Pejabat
Bea dan Cukai yang mengawasi subyek cukai juga diwajibkan menyelenggarakan buku
catatan. Penyelenggaraan pencatatan oleh pejabat bea dan cukai mencakup dua jenis

hal 126

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


buku yaitu buku rekening barang kena cukai dan buku rekening kredit. Pedoman
penyelenggaraan buku rekening barang kena cukai dan buku rekening kredit diatur
dalam peraturan Menteri keuangan. 7
Penyelenggaraan buku rekening barang kena cukai (BRCK) oleh Pejabat Bea dan
Cukai dilakukan dengan ketentuan :
1)

buku rekening barang kena cukai untuk etil alkohol yang masih terutang cukai dan
masih berada di pabrik diselenggarakan untuk setiap pengusaha pabrik etil alkohol
sesuai format BRCK-1;

2)

buku rekening barang kena cukai untuk etil alkohol yang masih terutang cukai dan
masih berada di tempat penyimpanan diselenggarakan untuk setiap pengusaha
tempat penyimpanan sesuai format BRCK-1; atau

3)

buku rekening barang kena cukai untuk MMEA yang masih terutang cukai dan
masih berada di pabrik diselenggarakan untuk setiap pengusaha pabrik MMEA
sesuai format BRCK-2.
Berkaitan dengan pencatatan dalam Buku Rekening Kredit Pejabat bea dan

cukai wajib menyelenggarakan buku tersebut terhadap:

1) buku rekening kredit untuk setiap pengusaha pabrik yang mendapatkan


kemudahan pembayaran berkala dan penundaan pembayaran cukai sesuai format
BRCK-3; atau

2) buku rekening kredit untuk setiap importir barang kena cukai yang mendapatkan
penundaan pembayaran cukai sesuai format BRCK-3.

Pedoman Penyelenggaraan Buku Rekening BKC dan Buku Rekening


Kredit
Dalam penyelenggaraan buku rekening barang kena cukai dan buku rekening
kredit beberapa pedoman yang harus anda laksanakan, antara lain sebagai berikut :

1)

Buku rekening kredit (BRCK-3) digunakan untuk mencatat jumlah cukai yang
diberikan penundaan pembayaran atau mendapat kemudahan pembayaran secara
berkala serta penyelesaiannya.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112/PMK.04/2008 tentang Penyelenggaraan Buku Rekening Barang
Kena Cukai dan Buku Rekening Kredit

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 127

Modul Teknis Cukai


2)

Buku Rekening Barang Kena Cukai (BRCK-1 dan BRCK-2) digunakan untuk mencatat
jumlah barang kena cukai berupa etil alkohol atau minuman yang mengandung etil
alkohol yang dibuat, dimasukkan, dikeluarkan, potongan, kekurangan, dan
kelebihan hasil pencacahan, yang masih terutang cukai dan berada di Pabrik atau
Tempat Penyimpanan.

3)

Buku Rekening kredit dan Buku Rekening BKC harus diselenggarakan secara
terpisah untuk masing-masing subyek cukai yang diawasi oleh Pejabat Bea dan
Cukai
Contoh :
a.

KPPBC Medan membawahi tiga Pabrikan Rokok yang mendapat penundaan


pembayaran (PT X, Y dan Z) dan tiga pabrikan etil alkohol (PT PS, PT
MA, PT PH).

b.

Maka Penyelenggaraan Buku Rekening Kredit akan terdiri dari : BRCK-3 untuk
PT X, PT Y, dan PT Z, sedangkan penyelenggaraan Buku rekening BKC
akan terdiri dari: BRCK-1 untuk PT PS, PT MA, dan PT PH.

4)

Buku rekening barang kena cukai ditutup dalam kondisi-kondisi sebagai berikut :
a)

setiap akhir tahun kalender ; hal ini berkaitan dengan akhir tahun buku atau
akhir tahun anggaran dari pihak pemerintah.

b)

setelah dilakukan pencacahan ; Pencacahan diselenggarakan secara reguler


pada setiap awal bulan dan/atau pada waktu-waktu tertentu secara insidentil.

c)
5)

atas permintaan Pengusaha Pabrik atau Pengusaha Tempat Penyimpanan.

Penutupan buku rekening barang kena cukai, dilakukan dengan cara membuat garis
horisontal dengan tinta merah dan ditandatangani oleh Pejabat Bea dan Cukai.
Penutupan buku rekening barang kena cukai tersebut harus diberitahukan kepada
Pengusaha Pabrik atau Pengusaha Tempat Penyimpanan yang bersangkutan
dengan Surat Pemberitahuan Penutupan Buku Rekening Barang Kena Cukai.

6)

Penyelenggaraan buku rekening barang kena cukai dan buku rekening kredit dapat
dilakukan dengan media elektronik.

hal 128

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Gambar 5.4
Contoh BRCK-1 dan BRCK-3

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 129

Modul Teknis Cukai

c.

Pencacahan Barang Kena Cukai

DJBC sebagai institusi pemerintah yang berkepentingan dalam hal pengawasan


terhadap

kegiatan di bidang cukai senantiasa harus melakukan upaya-upaya

pengawasan baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat refresif. Kegiatan
pengawasan yang bersifat preventif secara aktif di bidang cukai dilaksanakan baik secara
reguler maupun insidentil oleh Kantor Bea dan Cukai. Salah satu bentuk pengawasan
secara aktif tersebut adalah kegiatan pencacahan yang dilaksanakan terhadap pabrik
dan tempat penyimpanan etil alkohol dan pabrik MMEA. Kegiatan pencacahan tersebut
secara khusus diatur dalam pasal 20 sampai dengan pasal 23 Undang-Undang Cukai.
Pelaksanaan lebih anjut mengenai kegiatan pencacahan diatur dalam Peraturan Menteri
Keuangan. 8

Konsep Pencacahan
Berdasarkan pengertian yang dijelaskan dalam Undang-undang Cukai, pengertian
Pencacahan adalah kegiatan untuk mengetahui jumlah, jenis, mutu, dan keadaan barang
kena cukai. Pencacahan dilakukan terhadap :
d.

Etil Alkohol yang masih terutang cukai yang berada di dalam Pabrik atau Tempat
Penyimpanan; dan/atau

e.

Minuman Mengandung Etil Alkohol yang masih terutang cukai yang berada di
dalam pabrik.
Kegiatan pencacahan dilaksanakan dalam rangka pengawasan secara aktif untuk

menghindari kemungkinan terjadinya manipulasi atau pelarian cukai. Dalam kegiatan


pencacahan Pejabat bea dan cukai yang melakukan pencacahan harus berdasarkan surat
tugas dari kepala kantor yang mengawasi pabrik atau tempat penyimpanan dengan
disaksikan oleh pengusaha pabrik atau pengusaha tempat penyimpanan.
Atas kegiatan pencacahan yang dilakukan oleh pejabat bea dan cukai, pengusaha
pabrik atau tempat penyimpanan wajib menunjukkan semua etil alkohol atau MMEA
yang berada di dalam pabrik atau tempat penyimpanan serta menyediakan tenaga dan

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 115/PMK.04/2008 tentang Pencacahan dan Potongan Atas Etil
Alkohol dan Minuman Yang Mengandung Etil Alkohol

hal 130

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


peralatan untuk keperluan pencacahan. Hasil pencacahan yang dilakukan oleh pejabat
bea dan cukai dibuatkan berita acara hasil pencacahan (BACK-5) dan ditandatangani
oleh pejabat bea dan cukai serta pengusaha yang bersangkutan. Dalam hal pengusaha
yang bersangkutan menolak dan berkeberatan atas hasil pencacahan, maka Berita Acara
tersebut cukup ditandatangani sepihak. Pengusaha selanjutnya dapat menempuh
mekanisme keberatan sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Waktu Pelaksanaan Pencacahan


Kegiatan Pencacahan terhadap etil alkohol dan MMEA yang masih terutang cukai
dilakukan pada :
1)

setiap awal bulan untuk periode satu bulan sebelumnya;

2)

setiap saat atas permintaan pengusaha pabrik atau pengusaha tempat


penyimpanan;

3)

setiap saat apabila ada dugaan kuat terjadinya pelanggaran atas ketentuan yang
diatur dalam Undang-Undang Cukai; atau

4)

sebelum dan sesudah pemuatan ke kapal untuk tujuan ekspor.

Penyelesaian Hasil Temuan Pencacahan


Terhadap kegiatan pencacahan yang dilakukan oleh pejabat Bea dan Cukai
setidaknya akan menghasilkan salah satu temuan sebagai berikut :
1)

Jumlah fisik hasil pencacahan menunjukkan adanya kelebihan dibanding jumlah


yang tercantum dalam buku rekening barang kena cukai.

2)

Jumlah fisik hasil pencacahan menunjukkan adanya kekurangan dibanding jumlah


yang tercantum dalam buku Rekening barang kena cukai.

3)

Jumlah fisik hasil pencacahan, kedapatan sama dibandingkan dengan jumlah yang
tercantum dalam buku rekening barang kena cukai.

1) Dalam hal Terjadi Selisih Kurang


Dalam hal jumlah hasil pencacahan sebagaimana dimaksud diatas kedapatan
lebih kecil daripada jumlah yang tercantum dalam buku rekening barang kena cukai,
maka terhadap :

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 131

Modul Teknis Cukai


a)

Pengusaha pabrik MMEA , akan dikenakan tagihan cukai atas jumlah kekurangan
cukai yang terjadi. Untuk hal tersebut Kepala Kantor akan menerbitkan penetapan
dalam bentuk surat tagihan cukai (STCK).

b)

Pengusaha Pabrik atau Tempat Penyimpanan etil alkohol, akan dikenakan tagihan
cukai atas kekurangan yang terjadi. Perhitungan atas kekurangan jumlah etil alkohol
yang ada terlebih dahulu harus diperhitungkan dengan potongan yang dapat
diberikan.
Pengertian potongan adalah keringanan yang diberikan kepada pengusaha pabrik

atau pengusaha tempat penyimpanan atas kekurangan barang kena cukai yang didapat
pada waktu pencacahan. Potongan hanya diberikan khusus untuk selisih kurang yang
terjadi pada BKC berupa etil alkohol. Dasar pemikiran pemberian potongan adalah
pertimbangan bahwa kekurangan yang terjadi pada etil alkohol dapat terjadi karena
sebab-sebab alamiah seperti penguapan atau penyusutan.
Dalam PMK nomor 115/PMK.04/2008 diatur bahwa besarnya potongan yang
dapat diberikan adalah sebagai berikut :
b)

untuk pengusaha pabrik etil alkohol, diberikan potongan sebesar :


-

0,5 % (setengah persen) setiap bulan dari jumlah etil alkohol yang ada pada
waktu pencacahan terakhir; dan

0,5 % (setengah persen) dari jumlah etil alkohol yang dibuat dan dimasukkan
sejak pencacahan terakhir;

b)

untuk pengusaha tempat penyimpanan diberikan potongan sebesar :


-

0,5 % (setengah persen) setiap bulan dari jumlah etil alkohol yang ada pada
waktu pencacahan terakhir;

0,5 % (setengah persen) dari jumlah etil alkohol yang dimasukkan sejak
pencacahan terakhir; dan

1 % (satu persen) dari jumlah selisih antara jumlah etil alkohol hasil
pencacahan sebelum pemuatan ke kapal dan sesudah pemuatan ke kapal.

Dalam menghitung besarnya potongan sebagaimana dimaksud di atas, jumlah hari


dalam 1 (satu) bulan dihitung sebagai 30 (tiga puluh) hari.
Apabila kekurangan yang terjadi melebihi batas kelonggaran sebagaimana yang
diatur dalam Pasal 23 ayat (1) Undang-undang Cukai, maka terhadap kekurangan yang
terjadi akan dikenakan sanksi administrasi berupa denda, paling banyak sepuluh kali nilai
cukai dan paling sedikit dua kali nilai cukai yang kedapatan kurang atau lebih. Adapun

hal 132

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


batas kelonggaran yang diberikan terhadap kasus selisih kurang dalam pencacahan
adalah sebesar tiga kali potongan yang diberikan.
Contoh Kasus :
Pada tanggal 01 Februari 2010 Pejabat Bea dan Cukai dari KPPBC Medan melakukan
pencacahan terhadap pabrikan etil alkohol PT PS yang berlokasi di Tanjung Morawa.
Dari hasil pencacahan tersebut dan juga data yang tercantum dalam BRCK-1 yang
bersangkutan didapati hal-hal sebagai berikut :
-

Pencacahan terakhir terhadap PT PS dilakukan pada tanggal 02 Januari 2010,


dengan jumlah saldo sebanyak

...............................

150.000

liter
-

Produksi Pabrik sampai dengan saat pencacahan

Pengeluaran ......

...

80.000

liter

100.000

liter

Pemasukan (retur) dari Tempat Penyimpanan ....

10.000

liter

Saldo menurut Buku BRCK-1 ...............................

140.000

liter

Hasil pencacahan pejabat Bea dan Cukai .............

130.000

liter

Selisih kurang sebelum potongan ........................

10.000

liter

Potongan : 0,5% x (150.000 + 80.000 + 10.000)

1.200

liter

Kekurangan (akan ditagih cukai dengan STCK)......

8.800`

liter

Apakah dalam kasus kekurangan ini akan dikenakan sanksi administrasi denda ? Kita
lihat perhitungan batas kelonggarannya sebagai berikut :
Batas kelonggaran : 3 x potongan = 3 x 1.200 liter = 3.600 liter
Oleh karena jumlah kekurangan setelah potongan (8.800 liter) lebih besar daripada
batas kelonggaran (3.600) liter, maka terhadap PT. PS akan dikenakan sanksi
administrasi denda.

2) Dalam hal Terjadi Selisih Lebih


Dalam hal jumlah hasil pencacahan sebagaimana dimaksud diatas kedapatan
lebih besar daripada jumlah yang tercantum dalam buku rekening barang kena cukai,
maka terhadap Pabrik atau Tempat penyimpanan etil alkoholtidak diberikan potongan.
Selisih lebih tersebut akan dimasukkan pada kolom debet Buku Rekening BKC yang
bersangkutan dan diperhitngkan dalam saldo hasil pencacahan. Atas jumlah selisih lebih
tersebut tidak akan ditagihkan cukainya, oleh karena BKC yang kedapatan lebih masih
berada di dalam Pabrik yang bersangkutan.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 133

Modul Teknis Cukai


Apabila jumlah selisih lebih tersebut melebihi batas kelonggaran sebagaimana
dimaksud dalam pasal 23 ayat (2) Undang-undang Cukai, maka terhadap Pengusaha
yang bersangkutan akan dikenakan sanksi administrasi berupa denda, paling banyak
sepuluh kali nilai cukai dan paling sedikit dua kali nilai cukai yang kedapatan kurang atau
lebih. Adapun batas kelonggaran yang diberikan terhadap kasus selisih lebih dalam
pencacahan adalah maksimal satu persen dari jumlah barang yang seharusnya ada
menurut Buku rekening BKC.
Contoh Kasus :
Pada tanggal 01 Maret 2010 Pejabat Bea dan Cukai dari KPPBC Medan melakukan
pencacahan terhadap pabrikan etil alkohol PT MA yang berlokasi di Deli Serdang. Dari
hasil pencacahan tersebut dan juga data yang tercantum dalam BRCK-1 yang
bersangkutan didapati hal-hal sebagai berikut :
-

Pencacahan terakhir terhadap PT PS dilakukan pada tanggal 02 Februarii 2010,


dengan jumlah saldo sebanyak

...............................

40.000

liter
-

Produksi Pabrik sampai dengan saat pencacahan

50.000

liter

Pengeluaran ......

45.000

liter

Saldo menurut Buku BRCK-1 ...............................

45.000

liter

Hasil pencacahan pejabat Bea dan Cukai .............

47.000

liter

Selisih lebih ........................................................

2.000

liter

Potongan : tidak diberikan

Kelebihan sebesar 2.000 liter akan ditambahakan pada saldo buku sehingga saldo
buku untuk penutupan BRCK-1 menjadi :

liter

47.000

liter
Dalam kasus kelebihan BKC ini kita analisa terlebih dahulu, apakah melebihi batas
kelonggarannya atau tidak :
-

Batas kelonggaran : 1 % x Saldo yang seharusnya ada = 1% x 45.000 liter = 450


liter

Oleh karena jumlah kelebihan BKC (2.000 liter) lebih besar daripada batas
kelonggaran (450 liter), maka terhadap PT. MA akan dikenakan sanksi administrasi
denda.

hal 134

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


3) Dalam hal Hasil Pencacahan Sesuai dengan Saldo BRCK
Dalam hal jumlah hasil pencacahan sebagaimana dimaksud diatas kedapatan
sesuai dengan jumlah yang tercantum dalam buku rekening barang kena cukai, maka
terhadap Pabrik atau Tempat penyimpanan etil alkohol tidak diberikan potongan. Hasil
pencacahan yang sesuai tersebut akan menjadi dasar bagi penutupan Buku Rekening
BKC yang dikelola Kepala Seksi Perbendaharaan. Hasil Selisih lebih tersebut akan
dimasukkan pada kolom debet Buku Rekening BKC yang bersangkutan dan
diperhitngkan dalam saldo hasil pencacahan. Atas jumlah selisih lebih tersebut tidak
akan ditagihkan cukainya, oleh karena BKC yang kedapatan lebih masih berada di dalam
Pabrik yang bersangkutan.

5.2

Latihan
Untuk menguji pemahaman anda terhadap materi kegiatan belajar 5, silahkan

kerjakan soal-soal latihan berikut.


1)

Jelaskan perbedaan konsep pembukuan dan pencatatan !

2)

Terhadap pengusaha skala kecil hanya diwajibkan pencatatan, jelaskan pengertian


dan kategori pengusaha apa saja yang termasuk skala kecil !

3)

Jelaskan pencatatan yang wajib diselenggarakan oleh pejabat bea dan cukai
berkaitan dengan BKC yang diawasi !

4)

Dalam rangka pengawasan secara aktif,

Pejabat Bea dan Cukai

melakukan

kegiatan pencacahan. Jelaskan konsep dan prosedur pencacahan !


5)

Jelaskan tindakan apa saja yang mungkin dilakukan sehubungan dengan hasil
temuan pencacahan !

5.3

Rangkuman

Sebagai rangkuman atas kegiatan belajar 5 dapat kami rangkumkan sebagai


berikut :
1)

Konsep Pembukuan di bidang cukai adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan
secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi yang meliputi dan
mempengaruhi keadaan harta, utang, modal, pendapatan, dan biaya yang secara

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 135

Modul Teknis Cukai


khusus menggambarkan jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa,
yang kemudian diikhtisarkan dalam laporan keuangan.
2)

Pembukuan wajib diselenggarakan oleh Pengusaha Pabrik, Tempat penyimpanan,


importir BKC atau penyalur yang memiliki izin NPPBKC

3)

Konsep pencatatan di bidang cukai adalah suatu proses pengumpulan dan


penulisan data secara teratur tentang pemasukan, produksi, dan pengeluaran BKC,
dan penerimaan, pemakaian, dan pengembalian pita cukai atau tanda pelunasan
cukai lainnya.

4)

Subyek cukai yang tidak diwajibkan menyelenggarakan pembukuan namun wajib


menyelenggarakan pencatatan adalah :
a. Pengusaha Pabrik BKC skala kecil;
b. Penyalur etil alkohol atau MMEA berskala kecil, yang wajib memiliki NPPBKC;
c. Pengusaha Tempat Penjualan Eceran etil alkohol atau MMEA, yang wajib
memiliki NPPBKC.

5)

Disamping kewajiban pembukuan atau pencatatan, pengusaha pabrik diwajibkan


untuk memberitahukan secara berkala kepada Kepala Kantor bea dan Cukai
setempat.

6)

Untuk melakukan pengawasan secara aktif, pejabata Bea dan Cukai wajib
melaksanakan kegitan pencacahan baiak secara reguler maupun insidentil.
Pengertian Pencacahan adalah kegiatan untuk mengetahui jumlah, jenis, mutu, dan
keadaan barang kena cukai. Pencacahan dilakukan terhadap :
a. Etil Alkohol yang masih terutang cukai yang berada di dalam Pabrik atau Tempat
Penyimpanan; dan/atau
b. Minuman Mengandung Etil Alkohol yang masih terutang cukai yang berada di
dalam pabrik.

hal 136

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

5.4

Tes Formatif

Untuk menguji hasil belajar pada kegiatan belajar 5 ini, coba Anda kerjakan tes
formatif berikut ini, dengan cara memberikan tanda silang (X) pada jawaban yang Anda
anggap benar.
1.

Berikut ini adalah pengusaha yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan


pembukuan namun wajib menyelenggarakan pencatatan, kecuali...
a. Pengusaha pabrik skala kecil
b. Pengusaha tempat penjualan eceran
c. Pengusaha tempat penyimpanan skala kecil
d. Penyalur skala kecil

2.

Potongan yang diberikan kepada pengusaha pabrik MMEA sebanyak-banyaknya :


a. (setengah) % dari jumlah pemasukan dan produksi selama bulan pencacahan
b. (setengah) % dari jumlah saldo yang ada pada pencacahan terakhir
c. (setengan) % dari jumlah selisih antara jumlah hasil pencacahan sebelum
pemuatan ke kapal, dengan jumlah hasil pencacahan sesudah pemuatan ke
kapal.
d. Semua jawaban salah

3.

Pencacahan etil alkohol adalah kegiatan yang dilakukan oleh pejabat Bea dan cukai
untuk mengetahui:
a. jumlah dan jenis BKC
b. jumlah, jenis dan keadaan BKC
c. jumlah, mutu dan kedaan BKC
d. jumlah, jenis, mutu dan keadaan BKC

4.

Pencacahan dilaksanakan pada saat-saat berikut, kecuali...

a.

Setiap awal bulan untuk periode satu bulan sebelumnya

b. Setiap saat atas permintaan pengusaha


c.

Setiap akhir tahun anggaran

d. Setiap saat apabila dugaan kuat terjadinya pelanggaran


5.

Buku Rekening Barang Kena Cukai yang diselenggarakan Pejabat Bea dan Cukai
untuk mengawasi MMEA yang masih terhutang yang berada di dalam pabrik...
a. BRCK-1

c. BRCK-2

b. BRCK-3

d. BRCK-4

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 137

Modul Teknis Cukai


6.

Buku catatan sediaan yang dikelola oleh pengusaha skala kecils ebelum digunakan
wajib mendapat pengesahan dari...
a. Direktur Cukai
b. Kepala Seksi Pabean & Cukai
c. Petugas Bea dan Cukai yang menjaga pabrik
d. Kepala Kantor atau pejabat yang ditunjuknya

7.

Pengusaha skala kecil wajib mencatat segala transaksi yang berkaitan dengan BKC
hasil tembakau yang diproduksinya pada...

8.

9.

a. CSCK-1

c.CSCK-2

b. CSCK-3

d. BRCK-1

Pencatatan sediaan MMEA yang wajib diselenggarakan oleh pengusaha skala kecil...
a. CSCK-1

c.CSCK-2

b. CSCK-3

d. CSCK-5

Kegiatan pencacahan dilaksanakan dengan target BKC yang dicacah adalah...


a. Etil alkohol yang mendapat fasilitas pembebasan
b. MMEA asal impor
c. MMEA yang masih terutang cukai
d. Etil alkohol yang berasal dari impor

10. Keringanan yang diberikan kepada pengusaha pabrik atau pengusaha tempat
penyimpanan atas kekurangan barang kena cukai yang didapat pada waktu
pencacahan disebut...
a.

Kelonggaran

c. Potongan

b.

Discount

d. keringanan

11. Dalam hal jumlah hasil pencacahan kedapatan lebih besar daripada jumlah yang
tercantum dalam buku rekening barang kena cukai, maka tindakan terhadap BKC
tersebut...
a.

Dikenakan pungutan cukai

b.

Dikenakan sanksi apabila melebihi kelonggaran

c.

Tidak dikenakan apa-apa

d.

Dilakukan wawancara

12. Buku Rekening Barang Kena Cukai yang diselenggarakan Pejabat Bea dan Cukai
untuk mengawasi etil alkohol yang masih terhutang yang berada di dalam pabrik...
a. BRCK-1

c. BRCK-2

b. BRCK-3

d. BRCK-4

hal 138

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


13. Buku catatan sediaan untuk memonitor pita cukai hasil tembakau yang dikelola
oleh pengusaha pabrik...
a.

CSCK-1

c. CSCK-3

b.

CSCK-4

d. CSCK-6

14. Batas kelonggaran yang diberikan terhadap kasus kelebihan dalam pencacahan
setinggi-tingginya...
a. 0,5% dari jumlah yang seharusnya ada

c. Dua kali nilai

potongan
b. 1% dari jumlah yang seharusnya ada

d. Tiga kali nilai

potongan
15. Pemberitahuan barang kena cukai yang selesai dibuat untuk Pengusaha Pabrik
MMEA...
a.

CK-5

c. CK-4A

b.

CK-4B

d. CK-4C

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 139

Modul Teknis Cukai

5.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah disediakan.
Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini. Perhatikan dan
cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci
sebagaimana rumus dibawah ini.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal
Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai:
91 %

s.d

100 %

Sangat Baik

81 %

s.d.

90,99 %

Baik

71 %

s.d.

80,99 %

Cukup

61 %

s.d.

70,99 %

Kurang

0%

s.d.

60,99 %

Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah
menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat
melanjutkan kegiatan belajar berikutnya. Jika belum mencapai angka 81%, kami
menyarankan agar anda mengulang kembali materi kegiatan belajar ini.

hal 140

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


KEGIATAN
BELAJAR

TATA CARA MUTASI BKC


Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu:
1) Mengaplikasikan konsep Mutasi Barang Kena Cukai
2) Melaksanakan ketentuan Dokumen Pelindung Pemasukan/Pengeluaran dan
Dokumen Pengangkutan
3) Melaksanakan ketentuan Dokumen pencatatan dan Pelaporan

6.1

Uraian dan Contoh

a.

Jenis Kegiatan Mutasi Barang Kena Cukai

Konsep Mutasi Barang Kena Cukai


Ketentuan Undang-undang Cukai sesuai karakteristik
dasar pengenaannya antara lain ditujukan untuk tujuan
pembatasan yaitu pengendalian konsumsi, pengawasan
peredaran, dan juga untuk maksud mengurangi dampak
negatif

terhadap masyarakat atau lingkungan hidup.

Adanya sifat dan karakteristik yang khusus tersebut mendorong pemerintah untuk
melakukan pengawasan atas kegiatan penimbunan, pemasukan, pengeluaran dan
pengangkutan BKC terutama terhadap BKC berupa etil alkohol dan MMEA. Kedua jenis
BKC tersebut secara spesifik memiliki tingkat kerawanan yang jauh lebih tinggi dibanding
BKC hasil tembakau.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 141

Modul Teknis Cukai


Pengertian mutasi barang kena cukai adalah setiap kegiatan penimbunan,
pemasukan, pengeluaran dan pengangkutan barang kena cukai baik yang digunakan
sebagai bahan baku untuk produk lain maupun sebagai barang jadi yang siap untuk
dikonsumsi yang masih terutang cukai dan juga pengangkutan BKC tertentu yang telah
dilunasi cukainya di peredaran bebas. Terhadap setiap pergerakan barang kena cukai
yang masih terhutang cukai dan juga barang kena cukai tertentu (etil alkohol dan
MMEA) wajib dilindungi dokumen. Hal tersebut diatur di dalam ketentuan Undangundang Cukai khususnya di Pasal 25 ayat (1), dan Pasal 27 ayat (1) dan (2).
Sesuai dengan ketentuan Pasal 25 ayat (1) Undang-undang Cukai, atas kegiatan
pemasukan atau pengeluaran BKC ke atau dari pabrik atau tempat penyimpanan wajib
diberitahukan kepada Kepala kantor dan dilindungi dengan dokumen cukai. Demikian
pula ketentuan pasal 27 ayat (1) dan (2) Undang-undang Cukai yang mengharuskan
adanya dokumen pelindung terhadap pengangkutan BKC yang belum dilunasi cukainya,
termasuk BKC tertentu yang sudah dilunasi cukainya. Pengaturan lebih lanjut mengenai
mutasi barang kena cukai diatur lebih lanjut dalam peraturan Menteri Keuangan terkait9.

Penimbunan Barang Kena Cukai


Pengertian kegiatan penimbunan dalam konteks mutasi barang kena cukai adalah
kegiatan menimbun barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya, baik yang berasal
dari impor maupun yang dibuat di dalam negeri di Tempat Penimbunan Sementara (TPS)
atau Tempat Penimbunan Berikat (TPB). Atas kegiatan penimbunan BKC yang berasal
dari proses impor, maka mekanisme yang harus dipenuhi adalah sesuai dengan yang
diatur dalam peraturan Perundang-undangan di bidang Kepabeanan. Terhadap kegiatan
penimbunan BKC yang berasal dari dalam negeri, wajib dilindungi dokumen cukai.
Disamping pengertian penimbunan di TPS atau TPB, istilah penimbunan BKC juga
dapat diartikan sebagai penimbunan BKC yang belum dilunasi cukainya di dalam pabrik
BKC lainnya dan digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong. Atas BKC yang
ditimbun di dalam pabrik yang dimiliki oleh Pengusaha Pabrik skala kecil, memiliki
kewajiban :
1)

menyelenggarakan pencatatan atas pemasukan, penimbunan, dan pemakaian


barang kena cukai pada catatan sediaan;

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 235/PMK.04/2009 tentang Penimbunan, Pemasukan, Pengeluaran,


dan Pengangkutan Barang Kena Cukai

hal 142

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


2)

menempatkan sedemikian rupa barang kena cukai dan hasil produksinya di dalam
tempat atau ruangan sehingga dapat diketahui jenis dan jumlah barang kena cukai
yang belum dilunasi cukainya yang dipergunakan sebagai bahan baku atau bahan
penolong;

3)

membuat laporan penggunaan/persediaan barang kena cukai setiap bulan dengan


menggunakan formulir laporan penggunaan/persediaan barang kena cukai; dan

4)

menyerahkan laporan sebagaimana dimaksud pada poin (3) kepada Direktur


Jenderal melalui kepala Kantor yang mengawasi Pabrik dalam jangka waktu paling
lama pada hari kesepuluh bulan berikutnya.
Terhadap barang kena cukai yang ditimbun di dalam Pabrik BKC milik Pengusaha

Pabrik yang telah ditetapkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (non skala kecil),
mempunyai kewajiban:
1)

menyelenggarakan pencatatan atas pemasukan, penimbunan, dan pemakaian


barang kena cukai tersebut sesuai dengan ketentuan pembukuan di bidang cukai;

2)

menempatkan sedemikian rupa barang kena cukai tersebut dan hasil produksinya
di dalam tempat atau ruangan sehingga dapat diketahui jenis dan jumlah barang
kena cukai yang belum dilunasi cukainya yang dipergunakan sebagai bahan baku
atau bahan penolong;

3)

membuat laporan penggunaan/persediaan barang kena cukai setiap bulan


dengan menggunakan formulir laporan penggunaan/persediaan barang kena
cukai; dan

4)

menyerahkan laporan sebagaimana dimaksud pada poin (3) kepada Direktur


Jenderal melalui kepala Kantor yang mengawasi Pabrik dalam jangka waktu paling
lama pada hari kesepuluh bulan berikutnya.

Pemasukan dan Pengeluaran BKC


Secara umum pengertian kegiatan pemasukan dan pengeluaran BKC adalah
pemasukan atau pengeluaran ke dan dari Pabrik/Tempat Penyimpan atas BKC yang
cukainya belum dilunasi. Atas kegiatan tersebut Pejabat bea dan cukai dapat melakukan
pengawasan langsung terhadap pemasukan dan pengeluaran barang kena cukai, dalam
hal:

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 143

Modul Teknis Cukai


1)

pemasukan dan pengeluaran barang kena cukai berupa etil alkohol ke atau dari
Pabrik atau Tempat Penyimpanan;

2)

pemasukan dan pengeluaran barang kena cukai berupa MMEA dengan kadar
berapapun ke atau dari Pabrik yang produksi minuman mengandung etil alkoholnya
dalam satu tahun melebihi 50.000 (lima puluh ribu) liter; dan/atau

3)

terdapat dugaan bahwa Pengusaha Pabrik atau Pengusaha Tempat Penyimpanan


akan atau telah melakukan penyimpangan terhadap peraturan perundangundangan di bidang cukai.
Istilah pengawasan langsung dalam kegiatan pemasukan dan pengeluaran adalah

penempatan petugas bea dan cukai di lokasi pabrik atau tempat penyimpanan yang
menjadi obyek pengawasan. Pengawasan terhadap pemasukan dan pengeluaran barang
kena cukai dilakukan berdasarkan perintah kepala Kantor yang mengawasi Pabrik atau
Tempat Penyimpanan. Dalam hal pemasukan atau pengeluaran barang kena cukai
dilakukan di bawah pengawasan pejabat bea dan cukai, yang menjadi dasar untuk
membukukan dalam Buku Rekening Barang Kena Cukai adalah yang didapati oleh
pejabat bea dan cukai yang bersangkutan.
Secara khusus pemasukan dan pengeluaran BKC mencakup kegiatan sebagai
berikut :
1)

Pemasukan atau Pengeluaran BKC dengan fasilitas tidak dipungut cukai :


a) pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan tujuan untuk dimasukkan ke Pabrik atau Tempat
Penyimpanan lainnya dengan fasilitas tidak dipungut cukai;
b) pemasukan barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya ke Pabrik atau
Tempat Penyimpanan yang berasal dari Kawasan Pabean, Tempat Penimbunan
Sementara, atau Tempat Penimbunan Berikat dengan fasilitas tidak dipungut
cukai;
c) pemasukan dan pengeluaran barang kena cukai berupa hasil tembakau yang
belum dilunasi cukainya dari tempat pembuatan di luar Pabrik ke dalam Pabrik
dan sebaliknya;
d) pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan tujuan untuk diekspor dengan fasilitas tidak
dipungut cukai;

2)

Pemasukan atau Pengeluaran BKC dengan fasilitas pembebasan cukai :

hal 144

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


a) pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan ke Tempat Penimbunan Berikat dengan fasilitas
pembebasan cukai;
b) pengeluaran etil alkohol yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau Tempat
Penyimpanan dengan fasilitas pembebasan cukai untuk digunakan sebagai
bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan barang hasil akhir yang
bukan merupakan barang kena cukai;
c) pengeluaran etil alkohol yang belum dilunasi cukainya dari Tempat Penimbunan
Sementara atau Tempat Penimbunan Berikat dengan fasilitas pembebasan cukai
untuk digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan
barang hasil akhir yang bukan merupakan barang kena cukai;
d) pengeluaran etil alkohol yang telah dirusak sehingga tidak baik untuk diminum
dari Pabrik atau Tempat Penyimpanan;
e) pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan fasilitas pembebasan cukai untuk

keperluan

penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;


f)

pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan fasilitas pembebasan cukai untuk keperluan
perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di Indonesia
berdasarkan asas timbal balik;

g) pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan fasilitas pembebasan cukai untuk tujuan sosial;
h) pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan fasilitas pembebasan cukai untuk dikonsumsi oleh
penumpang dan awak sarana pengangkut yang berangkat langsung ke luar
Daerah Pabean;
i)

pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Kawasan
Pabean, Tempat Penimbunan Sementara, atau Tempat Penimbunan Berikat
dengan fasilitas pembebasan cukai untuk keperluan perwakilan negara asing
beserta para pejabatnya yang bertugas di Indonesia berdasarkan asas timbal
balik;

j)

pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Kawasan
Pabean, Tempat Penimbunan Sementara, atau Tempat Penimbunan Berikat

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 145

Modul Teknis Cukai


dengan fasilitas pembebasan cukai untuk dikonsumsi oleh penumpang dan awak
sarana pengangkut yang berangkat langsung ke luar Daerah Pabean.
3)

Pemasukan atau Pengeluaran BKC yang sudah dilunasi cukainya :


a) pemasukan barang kena cukai yang sudah dilunasi cukainya ke Pabrik dengan
tujuan untuk dimusnahkan atau diolah kembali;
b) pemasukan barang kena cukai yang sudah dilunasi cukainya ke tempat lain di
luar

Pabrik

dengan

tujuan

untuk

dimusnahkan

untuk

mendapatkan

pengembalian cukai;
c) pengeluaran barang kena cukai berupa etil alkohol atau minuman mengandung
etil alkohol, yang sudah dilunasi cukainya baik dengan cara pembayaran maupun
dengan cara pelekatan pita cukai, dari Pabrik atau Tempat Penyimpanan;
d) pengeluaran barang kena cukai berupa etil alkohol atau minuman mengandung
etil alkohol, yang sudah dilunasi cukainya baik dengan cara pembayaran maupun
dengan cara pelekatan pita cukai, dari Tempat Penimbunan Sementara atau
Tempat Penimbunan Berikat;

Pengangkutan Barang Kena Cukai


Pengertian pengangkutan adalah perpindahan dengan menggunakan sarana
pengangkut atas barang kena cukai yang masih terutang cukai atau yang cukainya telah
dilunasi dari suatu tempat ke tempat lainnya yang melewati peredaran bebas. Pada
prinsipnya pengangkutan BKC harus sudah selesai dilaksanakan dalam jangka waktu
yang ditetapkan dalam dokumen pelindung pengangkutan.

Dalam hal terdapat

hambatan yang menyebabkan pengangkutan BKC tidak selesai dilaksanakan dalam


jangka waktu sebagaimana ditetapkan dalam Dokumen Cukai, pengusaha yang
bersangkutan dapat meminta perpanjangan jangka waktu kepada kepala Kantor yang
mengawasi wilayah tempat barang kena cukai tersebut berada, sebelum berakhirnya
jangka waktu yang telah ditetapkan.
Pengangkutan barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya, baik dalam
keadaan telah dikemas dalam kemasan untuk penjualan eceran maupun dalam keadaan
curah atau dikemas dalam kemasan bukan untuk penjualan eceran, wajib dilindungi
dengan Dokumen Cukai. Dikecualikan dari kewajiban dilindungi dengan Dokumen Cukai,
yaitu terhadap pengangkutan barang kena cukai berupa:

hal 146

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


1)

tembakau iris yang dibuat dari tembakau hasil tanaman di Indonesia yang tidak
dikemas untuk penjualan eceran atau dikemas untuk penjualan eceran dengan
bahan

pengemas

tradisional

yang

lazim

dipergunakan,

apabila

dalam

pembuatannya tidak dicampur atau ditambah dengan tembakau yang berasal dari
luar negeri atau bahan lain yang lazim dipergunakan dalam pembuatan hasil
tembakau dan/atau pada kemasannya ataupun tembakau irisnya tidak dibubuhi
merek dagang, etiket, atau yang sejenis itu; dan
2)

minuman yang mengandung etil alkohol hasil peragian atau penyulingan yang
dibuat oleh rakyat di Indonesia secara sederhana, semata-mata untuk mata
pencaharian dan tidak dikemas untuk penjualan eceran.
Pengangkutan barang kena cukai yang sudah dilunasi cukainya, dari suatu

tempat ke tempat lainnya dalam peredaran bebas, yang terdiri dari:


1)

etil alkohol dalam jumlah lebih dari 6 (enam) liter; atau

2)

minuman mengandung etil alkohol dengan kadar lebih dari 5% (lima persen) dalam
jumlah lebih dari 6 (enam) liter, wajib dilindungi dengan Dokumen Cukai.

Pengangkutan barang kena cukai tersebut wajib dilaporkan kepada kepala Kantor yang
mengawasi penyalur atau tempat penjualan eceran, setiap bulan dalam jangka waktu
paling lama pada hari kesepuluh bulan berikutnya dengan menggunakan formulir
laporan pengangkutan etil alkohol/MMEA yang sudah dilunasi cukainya di peredaran
bebas.

b.

Dokumen Pelindung Pemasukan/Pengeluaran dan Dokumen


Pengangkutan

Dokumen Pelindung Pemasukan atau Pengeluaran


Ketentuan pasal 25 ayat (1) Undang-undang Cukai mengatur mengenai kewajiban
penggunaan dokumen cukai sebagai berikut: Pemasukan atau Pengeluaran barang
kena cukai ke atau dari pabrik atau tempat penyimpanan wajib diberitahukan kepada
Kepala kantor dan dilindungi dokumen cukai. Sebagai tindak lanjut atas kewajiban
penggunaan dokumen cukai tersebut, sejak pemberlakuan Undang-undang Cukai pada
tahun 1996, DJBC telah menyusun berbagai bentuk dan format dokumen cukai sebagai

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 147

Modul Teknis Cukai


dokumen pelindung pemasukan atau pengeluaran.

Beberapa diantaranya, yang

mungkin pernah anda kenal dan pernah mempraktekkannya antara lain:


1)

Dokumen CK-5 : Pemberitahuan pengeluaran dan pemasukan BKC yang belum


dilunasi cukainya dari pabrik atau tempat penyimpanan ke pabrik atau tempat
penyimpanan lainnya;

2)

Dokumen CK-7 : Pemberitahuan Pemasukan Hasil Tembakau yang belum dilunasi


cukainya dari tempat pembuatan di luar pabrik ke dalam pabrik dan sebaliknya;

3)

Dokumen CK-8 : Pemberitahuan pengeluaran BKC yang belum dilunasi cukainya


dari pabrik atau tempat penyimpanan untuk tujuan ekspor

4)

Dokumen CK-10 : Pemberitahuan pengeluaran etil alkohol yang belum dilunasi


cukainya dari pabrik atau tempat penyimpanan untuk bahan baku atau bahan
penolong.
Penggunaan dokumen cukai yang sangat bervariasi membuat kesan bahwa sistem

administrasi di bidang cukai sangat kompleks dan tidak sederhana.

Berdasarkan

Keputusan Menteri Keuangan nomor 247/KMK.05/1996, setidaknya terdapat 20 jenis


dokumen cukai yang digunakan sebagai dokumen pesanan pita cukai, dokumen
pemasukan dan pengeluaran, dokumen penimbunan dan dokumen pengangkutan. Hal
ini masih ditambah lagi dengan penggunaan dokumen pelaporan yang jumlahnya sekitar
9 jenis (LACK-1 sampai dengan LACK-9). Sejalan dengan perkembangan pelaksanaan di
lapangan, tuntutan untuk menyederhanakan sistem administrasi di bidang cukai
semakin menguat.
Pemberlakuan Undang-undang nomor 39 tahun 2007 sebagai perubahan atas
undang-undang nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai telah mendorong pemerintah
untuk menciptakan sistem administrasi cukai yang lebih sederhana. Berkaitan dengan
kebijakan penyederhanaan sistem administrasi di bidang cukai, pemerintah telah
menerbitkan

Peraturan

Menteri

Keuangan

nomor

235/PMK.04/2009

tentang

Penimbunan, Pemasukan, Pengeluaran dan Pengangkutan BKC. Peraturan ini tidak


menghapus seluruhnya ketentuan lama yaitu PMK nomor 247/KMK.05/1996, akan
tetapi menyederhanakan dokumen penimbunan, pemasukan, pengeluaran dan
pengangkutan serta dokumen pelaporan.
Bentuk dan format baru dokumen pelindung pemasukan dan pengeluaran sesuai
dengan PMK nomor 235/PMK.04/2009 mengakomodasi hampir seluruh kegiatan
pemasukan dan pengeluaran di bidang cukai. Format baru dokumen pemasukan dan

hal 148

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


pengeluaran sesuai dengan peraturan Menteri Keuangan tersebut menggunakan format
Pemberitahuan Mutasi Barang Kena Cukai (PMBKC) atau CK-5.

Bentuk format baru

PMBKC dapat anda lihat dalam gambar 6.1 berikut ini.


Gambar 6.1
Format baru Dokumen Cukai PMBKC
(Halaman Utama)

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 149

Modul Teknis Cukai


Gambar 6.2
Format baru Dokumen Cukai PMBKC
(Halaman Lampiran)

hal 150

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Format PMBKC (CK-5) digunakan untuk hampir seluruh kegiatan pemasukan atau
pengeluaran BKC baik yang cukainya telah dilunasi maupun yang masih terutang cukai.
Dapat dikatakan bahwa PMBKC merupakan single document bagi kegiatan cukai yang
cukup kompleks tersebut.

Kategori kegiatan yang termasuk dalam pengertian

pemasukan atau pengeluaran BKC dimaksud adalah :


a)

pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan tujuan untuk dimasukkan ke Pabrik atau Tempat
Penyimpanan lainnya dengan fasilitas tidak dipungut cukai;

b)

pemasukan barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya ke Pabrik atau Tempat
Penyimpanan yang berasal dari Kawasan Pabean, Tempat Penimbunan Sementara,
atau Tempat Penimbunan Berikat dengan fasilitas tidak dipungut cukai;

c)

pemasukan dan pengeluaran barang kena cukai berupa hasil tembakau yang belum
dilunasi cukainya dari tempat pembuatan di luar Pabrik ke dalam Pabrik dan
sebaliknya;

d)

pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan tujuan untuk diekspor dengan fasilitas tidak dipungut
cukai;

e)

pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan ke Tempat Penimbunan Berikat dengan fasilitas pembebasan
cukai;

f)

pengeluaran etil alkohol yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau Tempat
Penyimpanan dengan fasilitas pembebasan cukai untuk digunakan sebagai bahan
baku atau bahan penolong dalam pembuatan barang hasil akhir yang bukan
merupakan barang kena cukai;

g)

pengeluaran etil alkohol yang belum dilunasi cukainya dari Tempat Penimbunan
Sementara atau Tempat Penimbunan Berikat dengan fasilitas pembebasan cukai
untuk digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan
barang hasil akhir yang bukan merupakan barang kena cukai;

h)

pengeluaran etil alkohol yang telah dirusak sehingga tidak baik untuk diminum dari
Pabrik atau Tempat Penyimpanan;

i)

pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan fasilitas pembebasan cukai untuk

keperluan

penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 151

Modul Teknis Cukai


j)

pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan fasilitas pembebasan cukai untuk keperluan
perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di Indonesia
berdasarkan asas timbal balik;

k)

pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan fasilitas pembebasan cukai untuk tujuan sosial;

l)

pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan fasilitas pembebasan cukai untuk dikonsumsi oleh
penumpang dan awak sarana pengangkut yang berangkat langsung ke luar Daerah
Pabean;

m) pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Kawasan Pabean,
Tempat Penimbunan Sementara, atau Tempat Penimbunan Berikat dengan fasilitas
pembebasan cukai untuk keperluan perwakilan negara asing beserta para
pejabatnya yang bertugas di Indonesia berdasarkan asas timbal balik;
n)

pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Kawasan Pabean,
Tempat Penimbunan Sementara, atau Tempat Penimbunan Berikat dengan fasilitas
pembebasan cukai untuk dikonsumsi oleh penumpang dan awak sarana
pengangkut yang berangkat langsung ke luar Daerah Pabean.

o)

pemasukan barang kena cukai yang sudah dilunasi cukainya ke Pabrik dengan
tujuan untuk dimusnahkan atau diolah kembali;

p)

pemasukan barang kena cukai yang sudah dilunasi cukainya ke tempat lain di luar
Pabrik dengan tujuan untuk dimusnahkan untuk mendapatkan pengembalian cukai;

q)

pengeluaran barang kena cukai berupa etil alkohol atau minuman mengandung etil
alkohol, yang sudah dilunasi cukainya baik dengan cara pembayaran maupun
dengan cara pelekatan pita cukai, dari Pabrik atau Tempat Penyimpanan;

r)

pengeluaran barang kena cukai berupa etil alkohol atau minuman mengandung etil
alkohol, yang sudah dilunasi cukainya baik dengan cara pembayaran maupun
dengan cara pelekatan pita cukai, dari Tempat Penimbunan Sementara atau
Tempat Penimbunan Berikat;

Dokumen Pengangkutan
Ketentuan pasal 27 ayat (1) Undang-undang Cukai mengatur mengenai
kewajiban penggunaan dokumen pengangkutan BKC sebagai berikut: Pengangkutan

hal 152

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya harus dilindungi dengan dokumen
cukai . Kemudian pasal 27 ayat (2) juga mengatur dokumen pengangkutan sebagai
berikut: Pengangkutan BKC tertentu, walaupun sudah dilunasi cukainya, harus
dilindungi dengan dokumen cukai.
Sesuai dengan pengertian pengangkutan yang telah dijelaskan sebelumnya, pergerakan
BKC yang belum dilunasi cukainya di peredaran bebas harus dilindungin dengan
dokumen cukai untuk menjamin hak-hak negara yang berkaitan dengan pungutan
cukainya. Istilah barang kena cukai tertentu dalam konteks pasal 27 ayat (2) di atas
mengacu kepada BKC berupa etil alkohol dan MMEA dalam jumlah dan kadar yang
ditetapkan.
Dokumen pelindung pengangkutan yang digunakan terhadap pengangkutan BKC
yang belum dilunasi cukainya baik telah dikemas dalam kemasan untuk penjualan
eceran maupun dalam keadaan curah atau dikemas tidak untuk penjualan eceran tetap
menggunakan dokumen pemasukan dan pengeluaran sesuai format PMBKC (CK-5).
Contoh :
-

PT. GM sebagai pabrik hasil tembakau jenis SKT membeli bahan baku pembuatan
hasil tembakau berupa tembakau iris yang dikemas dalam bentuk bundel/bal dari
suatu tempat di luar pabrik, maka atas pengangkutan dan pemasukan BKC tersebut
ke dalam pabrik wajib dilindungi dokumen cukai PMBKC.

Pabrik etil alkohol PT XY memasok etil alkohol untuk kebutuhan pabrik MMEA PT
ZZ, maka atas pengeluaran, pengangkutan dan pemasukan BKC berupa etil alkohol
tersebut ke dalam pabrik ZZ wajib dilindungi dengan dokumen PMBKC.

Pabrik farmasi PT KF mendapat fasilitas pembebasan atas etil alkohol yang


digunakannya. BKC etil alkohol tersebut diperoleh dari proses impor melalui
importir pemmegang NPPBKC PT. GX. Atas pengeluaran dan pengangkutan BKC etil
alkohol dari Tempat penimbunan Sementara wajib dilindungi dokumen PMBKC.
Dokumen pelindung pengangkutan yang digunakan terhadap pengangkutan BKC

tertentu yang sudah dilunasi di peredaran bebas dilindungi dokumen CK-6. Kategori BKC
tertentu yang wajib dilindungi dokumen CK-6 adalah sebagai berikut :
b)

etil alkohol dalam jumlah lebih dari 6 (enam) liter; atau

c)

minuman mengandung etil alkohol dengan kadar lebih dari 5% (lima persen) dalam
jumlah lebih dari 6 (enam) liter, wajib dilindungi dengan Dokumen Cukai.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 153

Modul Teknis Cukai


Format dokumen CK-6 sebagai pelindung BKC tertentu di peredaran bebas dapat anda
lihat dalam Gambar 6.3 berikut ini.

Gambar 6.3
Contoh Format Baru CK-6

hal 154

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

c.

Dokumen Pencatatan dan Dokumen Pelaporan

Catatan Sediaan BKC (CSCK-7)


Untuk memonitor pergerakan barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya
yang ditimbun di dalam Pabrik BKC untuk dipergunakan sebagai bahan baku atau bahan
penolong untuk pembuatan BKC lainnya, pengusaha skala kecil wajib menyelenggarakan
suatu pencatatan. Bentuk dan format Buku catatan tersebut adalah sesuai dengan
Catatan Sediaan BKC (CSCK) 7 sebagaimana format dalam

Gambar 6.4 berikut.

Pengertian pabrik skala kecil mengacu kepada Pengusaha Pabrik yang merupakan orang
pribadi yang tidak memiliki Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak.
Pengusaha pabrik skala kecil wajib menempatkan sedemikian rupa BKC dan hasil
produksinya di dalam tempat atau ruangan terpisah. Tujuan pemisahan tersebut adalah
agar

dapat diketahui jenis dan jumlah BKC yang belum dilunasi cukainya yang

dipergunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong. Atas pengelolaan Buku catatan
sediaan CSCK-7, pengusaha wajib membuat laporan bulanan penggunaan atau
persediaan dengan format LACK-1.
Gambar 6.4
Catatan Sediaan BKC CSCK-7

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 155

Modul Teknis Cukai

Pemberitahuan Rencana Produksi PBCK-1


Dokumen PBCK-1 merupakan pemberitahuan rencana produksi barang kena
cukai yang menggunakan BKC lainnya sebagai bahan baku atau bahan penolong dengan
fasilitas tidak dipungut cukai. Pengusaha pabrik yang akan menghasilkan barang hasil
akhir berupa BKC dengan menggunakan bahan baku berpa BKC lainnya maka harus
melaporkan rencana produksinya dengan menggunakan dokumen PBCK-1. Dokumen
PBCK-1 wajib disampaikan kepada Direktur Jenderal bea dan Cukai melalui Kepala
Kantor pelayanan

dan Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai sebelum dimulainya

kegiatan produksi tiap awal tahun. Rencana produksi dibuat untuk periode kegiatan
selama satu tahun ke depan.

Laporan Penggunaan dan Persediaan LACK-1


Dokumen LACK-1 merupakan Laporan Penggunaan dan Persediaan BKC sebagai
Bahan Baku atau Bahan Penolong dengan fasilitas tidak dipungut cukai. Pengusaha
pabrik BKC yang menggunakan bahan baku atau bahan penolong berupa BKC lainnya
diwajibkan untuk mengelola dan menempatkan sedemikian rupa sehingga dapat
diketahui jenis dan jumlah BKC yang belum dilunasi cukainya. Pengelolaan BKC yang
digunakan sebagai bahan baku dilakukan dengan menyelenggarakan pencatatan atas
pemasukan, penimbunan, dan pemakaian BKC tersebut baik dengan format CSCK-7
(bagi pengusaha kecil) maupun format internal masing-masing pabrik. Contoh Pabrikan
tersebut: Pabrik MMEA yang menggunakan bahan baku etil alkohol, Pabrik SKM/SPM
yang menggunakan bahan baku tembakau iris.
Bentuk dan format dokumen pelaporan atas penggunaan atau persediaan BKC
yang digunakan sebagai bahan baku/bahan penolong adalah sesuai dengan dokumen
LACK-1. Pengusaha pabrik wajib menyerahkan laporan LACK-1 kepada Direktur Jenderal
Bea dan Cukai melalui Kepala Kantor yang mengawasi pabrik. LACK-1 disampaikan dalam
jangka waktu paling lama pada hari kesepuluh bulan berikutnya.

hal 156

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Gambar 6.5
Laporan Penggunaan BKC sebagai Bahan Baku/Bahan Penolong

Laporan Penjualan/Penyerahan LACK-2


Dokumen LACK-2 merupakan Laporan Penjualan atau Penyerahan BKC sebagai
Bahan Baku atau Bahan Penolong dengan Fasilitas Tidai Dipungut Cukai. Pengusaha
yang diwajibkan untuk melaporkan kegiatan dengan dokumen LACK-2 ini adalah
Pengusaha pabrik BKC yang melakukan penjualan atau penyerahan BKC untuk digunakan
oleh Pabrik BKC lainnya. Contoh: Pabrik etil alkohol PT X memasok bahan baku untuk
membuat MMEA kepada Pabrik BKC MMEA. Dalam hal ini, Pengusaha pabrik PT X
wajib melaporkan kegiatan tersebut kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai melalui
Kepala Kantor paling lambat tanggal 10 setiap bulannya.

Laporan Penggunaan dan Persediaan LACK-3


Dokumen LACK-3 merupakan Laporan Penggunaan etil alkohol dengan fasilitas
pembebasan cukai melalui proses produksi terpadu. Laporan ini dibuat oleh Pengusaha
Pabrik non BKC yang menggunakan etil alkohol sebagai bahan baku atau bahan
penolong untuk proses produksi non BKC yang dilakukan secara terpadu. Pengertian
terpadu adalah proses produksi yang dilakukan secara terintegrasi dalam suatu lokasi
yang sama atau berdampingan. Contoh: Pabrik etil alkohol yang didirikan khusus untuk
dipakai dalam pabrik farmasi.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 157

Modul Teknis Cukai

Laporan Penggunaan dan Persediaan LACK-4


Dokumen LACK-4 merupakan Laporan Penggunaan etil alkohol dengan fasilitas
pembebasan cukai yang tidak melalui proses produksi terpadu. Laporan ini dibuat oleh
Pengusaha Pabrik non BKC yang menggunakan etil alkohol sebagai bahan baku atau
bahan penolong untuk proses produksi non BKC yang dilakukan secara terpisah. Artinya
bahwa kedudukan pabrik etil alkohol terpisah dengan lokasi pabrik non BKC yang
menggunakan etil alkohol sebagai bahan baku atau bahan penolong tersebut.

Laporan Penggunaan dan Persediaan LACK-5


Dokumen LACK-5 merupakan Laporan Penggunaan etil alkohol dengan fasilitas
pembebasan cukai yang digunakan untuk keperliuan penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan. Laporan ini dibuat oleh Kepala Lembaga atau institusi tertentu yang
menggunakan etil alkohol sebagai bahan untuk penelitian atau pengembangan ilmu
pengetahuan.

Laporan Penggunaan dan Persediaan LACK-6


Dokumen LACK-6 merupakan Laporan Penggunaan etil alkohol dengan fasilitas
pembebasan cukai yang digunakan untuk rumah sakit yang bertujuan sosial. Laporan ini
harus dibuat oleh Kepala Rumah sakit tertentu yang menggunakan etil alkohol untuk
keperluan sosial di Rumah sakit.

Laporan Penggunaan dan Persediaan LACK-7


Dokumen LACK-7 merupakan Laporan Penggunaan etil alkohol dengan fasilitas
pembebasan cukai yang digunakan untuk pembuatan spiritus bakar. Laporan ini harus
dibuat oleh pengusaha pabrik atau pengusaha tempat penyimpanan khusus
pencampuran yang melakukan proses denaturasi etil alkohol menjadi spiritus bakar.

Laporan Penggunaan dan Persediaan LACK-8


Dokumen LACK-8 merupakan Laporan realisasi penerimaan dan pengeluaran
Barang Kena Cukai yang ditujukan untuk konsumsi penumpang atau awak sarana
pengangkut. Laporan ini dibuat oleh pengusaha jasa boga atau pengusaha pengangkutan
yang mendapatkan fasilitas pembebasan cukai atas BKC yang ditujukan untuk konsumsi

hal 158

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


penumpang atau awak sarana pengangkut yang berangkat langsung ke luar daerah
pabean.

Laporan Penjualan/Penyerahan LACK-9


Dokumen LACK-9 merupakan Laporan Penjualan atau Penyerahan BKC dengan
Fasilitas Tidak Dipungut Cukai. Pengusaha yang diwajibkan untuk melaporkan kegiatan
dengan dokumen LACK-9 ini adalah Pengusaha pabrik BKC yang melakukan penjualan
atau penyerahan BKC untuk digunakan oleh subyek penerima fasilitas pembebasan
cukai.. Dalam hal ini, Pengusaha pabrik BKC wajib melaporkan kegiatan tersebut kepada
Direktur Jenderal Bea dan Cukai melalui Kepala Kantor paling lambat tanggal 10 setiap
bulannya.

Laporan Pengangkutan BKC Tertentu


Atas pengangkutan BKC tertentu sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya wajib
dilindungi dokumen CK-6.

Subyek cukai yang wajib memberitahukan kegiatan

pengangkutan atas bKC tertentu tersebut adalah Pengusaha Penyalur dan Pengusaha
TPE .

Penggunaan dokumen CK-6 oleh pengusaha tersebut wajib dilaporkan kepada

Kepala Kantor Bea dan Cukai setempat setiap bulan dalam jangka waktu paling lama hari
kesepuluh bulan berikutnya. Pelaporan atas kegiatan pengangkutan BKC tertentu
menggunakan format formulir laporan pengangkutan etil alkohol/MMEA yang sudah
dilunasi cukainya di peredaran bebas.
Gambar 6.6
Laporan Pengangkutan BKC Tertentu

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 159

Modul Teknis Cukai


6.2

Latihan
Untuk menguji pemahaman anda dalam materi kegiatan belajar 6, silahkan anda
kerjakan soal-soalihan berikut :
1)

Jelaskan pengertian mutasi barang kena cukai dan untuk apa DJBC mengawasi
pergerakan BKC !

2)

Jelaskan apa yang melatarbelakangi penggunaan dokumen PMBKC (CK-5) oleh


DJBC !

3)

Jelaskan kegunaan dokumen PMBKC !

4)

Jelaskan

konsep

dokumen

pemasukan/pengeluaran

dan

dokumen

pengangkutan !
5)

Mengapa dalam pergerakan BKC etil alkohol dan MMEA tertentu wajib
dilindungi dengan dokumen CK-6 ? Jelaskan.

6.3

Rangkuman
Sebagai rangkuman materi kegiatan belajar 6 dapat disampaikan sebagai berikut:
1)

Pengertian mutasi barang kena cukai adalah setiap kegiatan penimbunan,


pemasukan, pengeluaran dan pengangkutan barang kena cukai baik yang
digunakan sebagai bahan baku untuk produk lain maupun sebagai barang jadi
yang siap untuk dikonsumsi yang masih terutang cukai dan juga pengangkutan
BKC tertentu yang telah dilunasi cukainya di peredaran bebas.

2)

Pengertian kegiatan penimbunan dalam konteks mutasi barang kena cukai


adalah kegiatan menimbun barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya,
baik yang berasal dari impor maupun yang dibuat di dalam negeri di Tempat
Penimbunan Sementara (TPS) atau Tempat Penimbunan Berikat (TPB).

6)

Pengertian kegiatan pemasukan dan pengeluaran BKC adalah pemasukan


atau pengeluaran ke dan dari Pabrik/Tempat Penyimpan atas BKC yang
cukainya belum dilunasi.

7)

Pengertian pengangkutan adalah perpindahan dengan menggunakan sarana


pengangkut atas barang kena cukai yang masih terutang cukai atau yang

hal 160

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


cukainya telah dilunasi dari suatu tempat ke tempat lainnya yang melewati
peredaran bebas.
8)

Format baru dokumen pelindungb pemasukan dan pengeluaran sesuai


dengan PMK nomor 235/PMK.04/2009 adalah format PMBKC atau CK-5.
Bentuk dan format baru dokumen pelindung pemasukan dan pengeluaran
telah mengakomodasi hampir seluruh kegiatan pemasukan dan pengeluaran
di bidang cukai.

9)

Dokumen pelindung pengangkutan yang digunakan terhadap pengangkutan


BKC yang belum dilunasi cukainya baik telah dikemas dalam kemasan untuk
penjualan eceran maupun dalam keadaan curah atau dikemas tidak untuk
penjualan eceran

tetap menggunakan dokumen pemasukan dan

pengeluaran sesuai format PMBKC (CK-5).


10) Dokumen pelindung pengangkutan yang digunakan terhadap pengangkutan
BKC tertentu yang sudah dilunasi di peredaran bebas dilindungi dokumen CK6.

6.4

Tes Formatif

Untuk menguji hasil belajar pada kegiatan belajar 6 ini, coba Anda kerjakan tes
formatif berikut ini, dengan cara memberikan tanda silang (X) pada jawaban yang Anda
anggap benar.
1.

Berikut ini adalah kegiatan di bidang cukai yang termasuk kategori mutasi barang
kena cukai, kecuali...

2.

a. Penimbunan BKC

c. Pengeluaran BKC

b. Pemasukan BKC

d. Penjualan BKC

Berikut ini adalah fungsi dokumen PMBKC atau CK-5...


a. Sebagai dokumen pengangkutan
b. Sebagai dokumen pengeluaran
c. Sebagai dokumen pemasukan
d. Semua jawaban benar

3.

Yang dimaksud dengan kegiatan pengawasan secara langsung terhadap pemasukan


dan pengeluaran BKC dari dan ke pabrik/tempat penyimpanan adalah...
a. Melakukan pencacahan setiap kali ada pemasukan/pengeluaran

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 161

Modul Teknis Cukai


b. Menugaskan petugas intelejen di sekitar pabrik
c. Menempatkan petugas bea dan cukai di pabrik untuk pengawasan
d. Semua jawaban salah
4.

Pada dasarnya pengangkutan BKC

yang telah dilunasi cukainya tidak perlu

dilindungi dengan dokumen cukai, namun pengangkutan BKC tertentu wajib


dilindungi dengan dokumen cukai dalam hal ...
a. MMEA yang melebihi 6 liter dengan kadar 5% atau lebih
b. MMEA yang melebihi 6 liter dengan kadar lebih dari 5%,
c. Etil alkohol dalam jumlah dan kadar berapapun
d. Etil alkohol yang melebihi 5 liter dalam kadar berapapun
5.

Kegiatan penimbunan BKC adalah :


a.

kegiatan menimbun barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya, baik yang
berasal dari impor maupun yang dibuat di dalam negeri di TPS atau TPB

b.

kegiatan menimbun barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya yang
berasal dari impor di TPS atau TPB

c.

kegiatan menimbun barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya, yang
dibuat di dalam negeri di TPS atau TPB

d.

kegiatan menimbun barang kena cukai yang sudah dilunasi cukainya, yang
dibuat di dalam negeri di TPS atau TPB

6.

Atas pergerakan BKC tertentu yang sudah dilunasi cukainya di peredaran bebas,
dilindungi dengan dokumen cukai...

7.

a. CK-16

c. CK-1

b. CK-6

d. CK-5

Dokumen pelaporan yang wajib dibuat oleh pengusaha pabrik yang menggunakan
BKC sebagai bahan baku atau bahan penolong untuk menghasilkan BKC lainnya
adalah...

8.

a. LACK-1

c. LACK-3

b. LACK-2

d. LACK-4

Dokumen pelaporan untuk pengangkutan BKC tertentu yang berada di peredaran


bebas yang sudah dilunasi cukainya adalah...

9.

a. CK-6

c. LACK-6

b. Laporan Pengangkutan

d. PMBKC

Pengusaha pabrik yang akan menggunakan BKC sebagai bahan baku produksi atau
bahan penolong, sebelum masuknya tahun takwim baru wajib mengajukan
dokumen...
a. LACK-1

hal 162

c. PMCK-1

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


b. LACK-2

d. PBCK-1

10. Jenis dokumen yang digunakan sebagai pelindung pemasukan dan pengeluaran BKC
baik yang telah dilunasi maupun belum dilunasi cukainya...
a. LACK-1

c. PMBKC

b. LACK-2

d. PBCK-1

11. Yang berkewajiban untuk menandasahkan dokumen CK-6 yang akan digunakan
pengusaha untuk pengangkutan BKC tertentu...
a. Pengusaha

c. Importir

b. Direktur cukai

d. Kepala kantor atau yang ditunjuknya

12. Batas kelonggaran yang diberikan terhadap jumlah kekurangan yang ditemukan
pada saat pencacahan etil alkohol adalah :
a. Maksimal 3 kali jumlah potongan
b. Maksimal 10% dari jumlah kekurangan
c. Maksimal 2 kali jumlah potongan
d. Maksimal 1% dari jumlah yang seharusnya ada
13. Dalam Buku Rekening Kredit (BRCK-3) dibukukan :
a. BKC yang mendapatkan penundaan pembayaran cukai.
b. BKC yang mendapatkan fasilitas tidak dipungut cukai.
c. BKC yang telah dirusak sehingga tidak baik untuk diminuk
d.

BKC yang mendapatkan pembebasan cukai

14. Berikut ini yang tidak termasuk fungsi dari dokumen PMBKC adalah...
a.

Pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan tujuan untuk dimasukkan ke Pabrik atau Tempat
Penyimpanan lainnya dengan fasilitas tidak dipungut cukai;

b. Pengeluaran barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan dengan tujuan untuk diekspor dengan fasilitas tidak
dipungut cukai
c. Pemasukan barang kena cukai yang sudah dilunasi cukainya ke Pabrik dengan
tujuan untuk dimusnahkan atau diolah kembali;
d. Pengeluaran barang kena cukai berupa hasil tembakau atau minuman
mengandung etil alkohol, yang sudah dilunasi cukainya baik dengan cara
pembayaran maupun dengan cara pelekatan pita cukai, dari Pabrik atau Tempat
Penyimpanan;
15. Dokumen yang digunakan untuk melindungi pengeluaran hasil tembakau yang
sudah dilunasi cukainya dan pungutan impor lainnya dari tempat penimbunan
sementara ke peredaran bebas...
a. PMBKC

c. CK-5

b. SPPB

d. CK-11

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 163

Modul Teknis Cukai

6.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah disediakan.
Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini. Perhatikan dan
cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci
sebagaimana rumus dibawah ini.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal
Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai:
91 %

s.d

100 %

Sangat Baik

81 %

s.d.

90,99 %

Baik

71 %

s.d.

80,99 %

Cukup

61 %

s.d.

70,99 %

Kurang

0%

s.d.

60,99 %

Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah
menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat
melanjutkan kegiatan belajar berikutnya. Jika belum mencapai angka 81%, kami
menyarankan agar anda mengulang kembali materi kegiatan belajar ini.

hal 164

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


KEGIATAN
BELAJAR

TATA CARA PEMUSNAHAN DAN


PENGOLAHAN KEMBALI BKC
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu:
1) Melaksanakan ketentuan pengembalian cukai atas BKC yang diolah kembali atau
dimusnahkan terhadap BKC yang pelunasannya dengan cara Pembayaran
2) Melaksanakan ketentuan pengembalian cukai atas BKC yang diolah kembali atau
dimusnahkan terhadap BKC yang pelunasannya dengan cara Pelekatan Pita Cukai
3) Melaksanakan ketentuan pengembalian cukai atas pita cukai yang rusak atau tidak
dipakai

7.1. Uraian dan Contoh

a.

Pengolahan Kembali atau Pemusnahan BKC yang Pelunasannya


dengan Pembayaran

Gambaran Umum
Pengertian pengolahan kembali BKC adalah kegiatan
menarik kembali BKC yang sudah dilunasi cukainya dari
peredaran bebas ke dalam pabrik untuk dilakukan
pengolahan kembali. Umumnya produk BKC yang dapat
diolah

kembali

adalah

produk-produk

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

yang

belum

hal 165

Modul Teknis Cukai


mengalami kadaluwarsa, namun karena adanya cacat produksi mengharuskan BKC
tersebut ditarik dari peredaran bebas. Pengertian pemusnahan BKC adalah kegiatan
penarikan BKC yang sudah dilunasi cukainya dari peredararan bebas untuk dilakukan
pemusnahan di dalam pabrik atau di tempat-tempat lainnya dibawah pengawasan DJBC.
Pengolahan kembali atau pemusnahan barang kena cukai yang dilakukan oleh
pengusaha Pabrik bertujuan untuk pengembalian cukai, sebagaimana diatur dalam
pasal 12 ayat 1 huruf (c) Undang-undang Cukai. Selanjutnya Pasal tersebut ditindak
lanjuti

oleh

Menteri

Keuangan

dengan

Peraturan

Menteri

Keuangan

No.

113/PMK.04/2008. Berkaitan dengan petunjuk pelaksanaan pengembalian cukai atas


BKC yang diolah kembali atau dimusnahkan diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal10.

Subyek Yang berhak Mendapat Pengembalian Cukai


Pengembalian cukai atas kegiatan pengolahan kembali atau pemusnahan BKC
yang dibuat di Indonesia yang pelunasannya dengan cara pembayaran hanya diberikan
kepada Pengusaha Pabrik. Pembatasan subyek yang berhak untuk mendapatkan
pengembalian cukai terbatas hanya kepada pengusaha pabrik adalah untuk mencegah
penyalahgunaan pengembalian cukai oleh pihak yang tidak berhak. Disamping hal
tersebut kedudukan pengusaha pabrik adalah sebagai subyek yang bertanggung jawab
terhadap hutang cukai. Dengan demikian ketentuan pengembalian cukai tidak dapat
diberikan kepada Pengusaha Penyalur atau Tempat penjualan Eceran apabila BKC yang
dijualnya disita oleh instansi terkait dan dimusnahkan di luar ketentuan Undang-undang
Cukai.

Ketentuan dan Persyaratan


Sebelum melakukan kegiatan pengolahan kembali atau pemusnahan pengusaha
pabrik harus mendapatkan persetujuan dari Pejabat Bea dan Cukai setempat. Pejabat
yang berwenang memberikan persetujuan pengolahan kembali atau pemusnahan
adalah :
1) Kepala KPPBC Tipe A1 ke bawah yang mengawasi pabrik, dalam hal nilai cukai yang
dimintakan pengembalian tidak melebihi Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah);

10

Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor P-19/BC/2008 tanggal 26 September 2008 tentang
Pengembalian atas BKC yang diolah kembali atau dimusnahkan

hal 166

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


2) Kepala KPPPBC Tipe Madya, dalam hal nilai cukai yang dimintakan pengembalian
tidak melebihi Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
3) Kepala Kantor wilayah atau Kepala KPU Bea dan Cukai dalam hal nilai cukai melebihi
batasan poin 1 dan 2 diatas.
Pemusnahan atau pengolahan kembali atas Barang Kena Cukai yang telah dilunasi
cukainya hanya dapat dilakukan oleh Pengusaha Pabrik dan pelaksanaannya dibawah
pengawasan Pejabat Bea dan Cukai setempat. Untuk melaksanakan tugas pengawasan
tersebut,

Kepala Kantor Bea dan Cukai yang mengawasi pabrik membentuk Tim

Pengawas yang beranggotakan Pejabat Bea dan Cukai dari Kantor setempat. Khusus
permohonan pengolahan kembali atau pemusnahan yang nilainya melebihi Rp.
500.000.000,- Tim Pengawas beranggotakan pejabat dari Kantor Wilayah dan Kantor
Pelayanan Bea dan Cukai setempat.
Pemusnahan atau pengolahan kembali Barang Kena Cukai yang dimasukkan ke
dalam pabrik yang berasal dari peredaran bebas dapat dilakukan paling banyak 2 (dua)
kali dalam satu tahun anggaran. Apabila pengusaha pabrik bermaksud melakukan
kegiatan pemusnahan atau pengolahan lebih dari dua kali, maka yang bersangkutan
harus mendapatkan persetujuan dari Kepala Kantor Wilayah.
Atas pengajuan pengolahan kembali di pabrik atau pemusnahan BKC dengan
mendapatkan pengembalian cukai terhadap BKC yang cara pelunasannya dengan
pembayaran akan dikenakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sesuai ketentuan
yang berlaku. Pengembalian cukai atas pengolahan kembali atau pemusnahan BKC
terlebih dahulu diperhitungkan dengan utang cukai. Dalam hal pengusaha pabrik tidak
memiliki utang cukai, pengembalian cukai atas permintaannya dikembalikan kepada
pengusaha pabrik sesuai ketentuan yang berlaku.

Mekanisme Pengolahan Kembali atau Pemusnahan


Pengusaha Pabrik harus memberitahukan secara tertulis kepada Kepala Kantor
sebelum pemasukan barang kena cukai yang telah dilunasi cukainya dari peredaran
bebas ke dalam pabrik untuk diolah kembali atau dimusnahkan dengan menggunakan
PMBKC11 (dahulu P2BKC). Pemasukan kembali barang kena cukai tersebut dari
11

Lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 235/PMK.04/2009 tentang Penimbunan, Pemasukan,


Pengeluaran, dan Pengangkutan Barang Kena Cukai

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 167

Modul Teknis Cukai


peredaran bebas ke dalam pabrik untuk diolah kembali atau dimusnahkan dilaksanakan
dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal PMBKC. Apabila jangka
waktu 30 hari tersebut tersebut tidak dipenuhi, atas pengolahan kembali BKC atau
pemusnahan tidak diberikan pengembalian cukai. Apabila tanggal pemasukan jatuh
pada hari libur atau yang diliburkan, maka pemasukan dilakukan pada hari kerja terakhir
sebelum hari libur atau yang diliburkan.
Apabila kegiatan pemusnahan BKC akan dilakukan di luar pabrik, maka
Pengusaha Pabrik

dapat mengajukan permohonan tertulis kepada Kepala Kantor

setempat Pemusnahan BKC yang dilakukan di luar pabrik hanya diberikan untuk BKC
dengan nilai cukai sampai dengan Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). Atas
permohonan tertulis pengusaha pabrik,

Kepala Kantor memberikan putusannya.

Kegiatan pemusnahan BKC di luar pabrik hanya dapat dilakukan paling banyak 2 (dua)
kali dalam satu tahun anggaran. Dalam hal pemusnahan BKC dilakukan di beberapa
tempat pemusnahan secara bersamaan, maka kegiatan tersebut dihitung sama dengan
satu kali pemberian persetujuan pemusnahan di luar pabrik.
Kegiatan pengolahan kembali BKC dari peredaran bebas ke dalam pabrik
dilakukan dengan cara : BKC dipindahkan ke dalam kemasan penjualan eceran yang baru
atau diproduksi ulang untuk menjadi barang kena cukai baru.

Untuk kegiatan

pemusnahan BKC, maka pemusnahan dilakukan dengan cara:


1) Membakar habis barang kena cukai;
2) Menghancurkan BKC dengan menggunakan mesin atau alat penghancur;
3) Memasukkan BKC ke dalam lubang galian yang telah diberi air kemudian ditimbun
dengan tanah.

b.

Pengolahan Kembali atau Pemusnahan BKC yang Pelunasannya


dengan Pelekatan Pita Cukai

Subyek yang Berhak Mendapat Pengembalian Cukai


Pengembalian cukai atas kegiatan pengolahan kembali atau pemusnahan BKC
yang dibuat di Indonesia yang pelunasannya dengan cara pelekatan pita cukai hanya
diberikan kepada Pengusaha Pabrik. BKC yang dapat ditarik dari peredaran bebas untuk
diolah kembali atau dimusnahkan dengan mendapat pengembalian pita cukai hanya

hal 168

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


diizinkan apabila pemesanan pita cukainya dilakukan pada tahun anggaran berjalan atau
pada satu tahun anggaransebelumnya.

Ketentuan dan Persyaratan


Sebelum melakukan kegiatan pengolahan kembali atau pemusnahan, pengusaha
pabrik harus mendapatkan persetujuan dari Pejabat Bea dan Cukai setempat. Pejabat
yang berwenang memberikan persetujuan pengolahan kembali atau pemusnahan
adalah sebagai berikut:
1)

Kepala KPPBC Tipe A1 ke bawah yang mengawasi pabrik, dalam hal nilai cukai
yang dimintakan pengembalian tidak melebihi Rp. 100.000.000,- (seratus juta
rupiah);

2)

Kepala KPPPBC Tipe Madya, dalam hal nilai cukai yang dimintakan pengembalian
tidak melebihi Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah)

3)

Kepala Kantor wilayah atau Kepala KPU Bea dan Cukai dalam hal nilai cukai
melebihi batasan poin a dan b diatas.
Pemusnahan atau pengolahan kembali atas Barang Kena Cukai yang telah dilunasi

cukainya hanya dapat dilakukan oleh Pengusaha Pabrik dan pelaksanaannya dibawah
pengawasan Pejabat Bea dan Cukai setempat. Untuk melaksanakan tugas pengawasan
tersebut,

Kepala Kantor Bea dan Cukai yang mengawasi pabrik membentuk Tim

Pengawas yang beranggotakan Pejabat Bea dan Cukai dari Kantor setempat. Khusus
permohonan pengolahan kembali atau pemusnahan yang nilainya melebihi Rp.
500.000.000,- Tim Pengawas beranggotakan pejabat dari Kantor Wilayah dan Kantor
Pelayanan Bea dan Cukai setempat.
Pemusnahan atau pengolahan kembali Barang Kena Cukai yang telah dilekati pita
cukainya yang masih berada di dalam pabrik hanya dapat dilakukan paling banyak 2
(dua) kali dalam satu bulan. Apabila pengusaha pabrik bermaksud melakukan kegiatan
pemusnahan atau pengolahan lebih dari dua kali dalam satu bulan, maka yang
bersangkutan harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Kepala Kantor Wilayah.
Pemusnahan atau pengolahan kembali Barang Kena Cukai yang telah dilekati pita
cukainya yang berasal dari peredaran bebas hanya dapat dilakukan paling banyak 4
(empat)

kali dalam satu tahun anggaran.

Apabila pengusaha pabrik bermaksud

melakukan kegiatan pemusnahan atau pengolahan lebih dari empat kali dalam satu

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 169

Modul Teknis Cukai


tahun anggaran, maka yang bersangkutan harus mendapatkan persetujuan tertulis dari
Kepala Kantor Wilayah.
Atas pengolahan kembali di pabrik atau pemusnahan BKC denganmendapat
pengembalian cukai , maka terhadap pita cukai yang dirusak akan dikenakan:
1)

Biaya pengganti penyediaan pita cukai sesuai dengan ketentuan yang berlaku,
yaitu:
Rp. 25,- per keping untuk pita cukai hasil tembakau seri I
Rp. 40,- per keping untuk pita cukai hasil tembakau Seri II
Rp. 25,- per keping untuk pita cukai hasil tembakau Seri III
Rp. 300,- per keping untuk pita cukai MMEA

2)

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sesuai ketentuan yang berlaku.


Pengembalian cukai atas pengolahan kembali atau pemusnahan BKC terlebih

dahulu diperhitungkan dengan utang cukai. Dalam hal pengusaha pabrik tidak memiliki
utang cukai, pengembalian cukai atas permintaannya, dapat:
1)

diperhitungkan untuk pemesanan pita cukai berikutnya, untuk BKC yang


pelunasannya cukainya dengan cara pelekatan pita cukai.

2)

dikembalikan kepada pengusaha pabrik sesuai ketentuan yang berlaku.

Mekanisme Pengolahan Kembali atau Pemusnahan


Pengusaha Pabrik harus memberitahukan secara tertulis kepada Kepala Kantor
sebelum pemasukan barang kena cukai yang telah dilunasi cukainya dari peredaran
bebas ke dalam pabrik untuk diolah kembali atau dimusnahkan dengan menggunakan
P2BKC. Pengajuan P2BKC paling lambat tanggal 1 bulan keempat sejak batas waktu
pelekatan sesuai ketentuan yang berlaku. Pemasukan kembali BKC dari peredaran bebas
ke dalam pabrik untuk diolah kembali atau dimusnahkan dilaksanakan dalam jangka
waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal P2BKC. Apabila jangka waktu 30 hari
tersebut tersebut tidak dipenuhi, atas pengolahan kembali BKC atau pemusnahan tidak
diberikan pengembalian cukai. Apabila tanggal pemasukan jatuh pada hari libur atau
yang diliburkan, maka pemasukan dilakukan pada hari kerja terakhir sebelum hari libur
atau yang diliburkan.
Apabila kegiatan pemusnahan BKC akan dilakukan di luar pabrik, maka
Pengusaha Pabrik

hal 170

dapat mengajukan permohonan tertulis kepada Kepala Kantor

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


setempat. Pemusnahan BKC yang dilakukan di luar pabrik hanya diberikan untuk BKC
dengan nilai cukai sampai dengan Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). Atas
permohonan tertulis pengusaha pabrik,

Kepala Kantor memberikan putusannya.

Kegiatan pemusnahan BKC di luar pabrik hanya dapat dilakukan paling banyak 2 (dua)
kali dalam satu tahun anggaran. Dalam hal pemusnahan BKC dilakukan di beberapa
tempat pemusnahan secara bersamaan, maka kegiatan tersebut dihitung sama dengan
satu kali pemberian persetujuan pemusnahan di luar pabrik.

c. Pengembalian Cukai atas Pita Cukai yang Rusak atau Tidak


Terpakai

Gambaran Umum
Pengertian pita cukai yang rusak adalah pita cukai yang kurang sempurna
cetakannya dan belum dilekatkan pada barang kena cukai. Hal ini terjadi oleh karena
adanya kesalahan dalam proses pembuatan pita cukai oleh pihak percetakan. Untuk
mendapat hak pengembalian cukai, maka kondisi pita cukai yang rusak hendaknya masih
dalam bentuk lembaran disertai dengan label pengawasan pencetak pita cukai. Apabila
pita cukai yang kondisinya rusak bukan karena proses pencetakan atau dalam kondisi
yang tidak lagi dalam bentuk lembaran, maka pita cukai yang rusak tersebut tidak
memenuhi persyaratan untuk mendapatkan pengembalian. Proses pengajuan
pengembalian pita cukai tersebut menggunakan format dokumen PBCK-4.
Pengertian pita cukai yang tidak dipakai adalah pita cukai yang kondisinya masih
baik, belum dilekatkan pada kemasan BKC dan dalam bentuk lembaran sesuai yang
dikirim dari pihak percetakan pita cukai. Pita cukai yang kondisinya masih utuh, menjadi
tidak terpakai lagi oleh karena kondisi-kondisi sebagai berikut:
1) adanya perubahan harga jual eceran, tarif cukai, dan/atau desain pita cukai baik
akibat kebijakan pemerintah maupun atas inisiatif/permintaan pengusaha pabrik
atau importir;
2) batas waktu pelekatannya sudah berakhir sesuai ketentuan yang berlaku;
3) pengusaha pabrik tidak lagi memproduksi barang kena cukai untuk pemasaran
dalam negeri;

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 171

Modul Teknis Cukai


4) pengusaha pabrik tidak lagi memproduksi barang kena cukai sesuai pesanan pita
cukainya;
5) importir tidak lagi mengimpor barang kena cukai sesuai pesanan pita cukainya;
6) tidak sesuai dengan pesanan pengusaha pabrik atau Importir; dan
7) NPPBKC pengusaha pabrik atau importir dicabut.

Mekanisme Pengembalian Pita Cukai Yang Rusak atau Tidak Terpakai


Alur sederhana proses pengembalian pita cukai yang rusak atau tidak terpakai
mulai dari pengajuan PBCK-4 hingga diterbitkannya CK-3 dapat kami gambarkan dalam
flowchart sesuai gambar 7.2 berikut ini.

Gambar 7.1
Alur Proses Pengembalian Pita Cukai

Penjelasan :
1) Pengusaha Pabrik atau Importir yang ingin mendapatkan pengembalian cukai
atas pita cukai yang rusak atau tidak terpakai mengajukan dokumen PBCK-4,
dengan disertai:

hal 172

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


- Matriks asal CK-1 atau CK-1A untuk memudahkan deteksi terhadap
- Pita-pita cukai yang akan dikembalikan
Untuk pengajuan PBCK-4, maka harus dibedakan PBCK-4 untuk permohonan
pengembalian pita cukai rusak atau PBCK-4 untuk pengembalian pita cukai tidak
terpakai.
2) Kepala Kantor

melakukan penelitian atas PBCK-4 yag diajukan dengan

menganalisis matriks asal CK-4 dengan data-data yang dimohonkan


3) Kepala Kantor memerintahkan pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan
pemeriksaan terhadap pita-pita cukai yang akan dikembalikan. Atas kegiatan
pemeriksaan, akan diterbitkan BACK-1
4) Importir menerima kembali PBCK-4 lembar tembusan dan copi BACK-1 sebagai
pemberitahuan bahwa dokumen permohonan yang b ersangkutan telah dikirim
ke Direktur Cukai.
5) Kepala Kantor meneruskan berkas permohonan PBCK-4 disertai dengan
pendapat mengenai layak atau tidaknya pengembalian cukai diberikan;
6) Sebagai pemberitahuan atas pengiriman PBCK-4 kepada Direktur Cukai, Kepala
KPPBC mengirimkan copi berkas PBCK-4 lembar tembusan kepada Kepala Kantor
Wilayah.
7) Direktur Cukai melakukan penelitian kembali terhadap berkas dokumen yang
dikirim oleh Kepala KPPBC dan atas pemeriksaan tersebut juga dibuatkan BACK-1
kembali.
Apabila permohonan diterima maka akan diterbitkan dokumen CK-3, namun
apabila ditolak akan dibuatkan surat ppenolakan. Dalam hal ini tidak tertutup
kemungkinan Direktur Cukai mengembalikan berkas dokumen kembali ke KPPBC
asal untuk dilengkapi persyaratan yang diperlukan.
8) Dokumen CK-3 dikirim ke KPPBC asal sebagai dasar untuk mendapatkan
pengembalian cukai. CK-3 tersebut terlebih dahulu digunakan untuk melunasi
utang cukai. Apabila Pengusaha tidak memiliki utang cukai, maka terhadap CK-3
tersebut atas permintaan pengusaha, dapat:
a)

Diperhitungkan untuk pemesanan pita cukai berikutnya;

b)

Dikembalikan kepada pengusaha pabrik atau importir dengan menerbitkan


Surat Perintah Membayar Kembali (SPMKC).

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 173

Modul Teknis Cukai


Gambar 7.2
Contoh Dokumen CK-3

hal 174

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

7.2

Latihan

Untuk menguji pemahaman anda dalam materi kegiatan belajar 7, silahkan anda
kerjakan soal-soal latihan berikut :
1.

Jelaskan konsep pengolahan kembali dan pemusnahan, dan jelaskan mengapa atas
kegiatanntersebut diberikan pengembalian cukai !

2.

Seorang distributor MMEA mengumpulkan produk-produk yang sudah kadaluwarsa


di pasar untuk dikembalikan ke pabrik pembuatnya. Jelaskan apakah kegiatan
tersebut dapat diberikan pengembalian cukai !

3.

Jelaskan mekanisme pengolahan kembali BKC hasil tembakau yang dapat diberikan
pengembalian cukai !

4.

Jelaskan mekanisme pengembalian pita cukai yang rusak atau tidak terpakai !

5.

Jelaskan mengenai batasan dan kewenangan pejabat yang dapat memberikan


persetujuan pengolahan kembali atau pemusnahan !

7.3

Rangkuman

Sebagai rangkuman materi kegiatan belajar 7 dapat disampaikan sebagai berikut:


1)

Pengertian pengolahan kembali BKC adalah kegiatan menarik kembali BKC yang
sudah dilunasi cukainya dari peredaran bebas ke dalam pabrik untuk dilakukan
pengolahan kembali . Pengertian pemusnahan BKC adalah kegiatan penarikan BKC
yang sudah dilunasi cukainya dari peredararan bebas untuk dilakukan pemusnahan
di dalam pabrik atau di tempat-tempat lainnya dibawah pengawasan DJBC.
Pengolahan kembali atau pemusnahan barang kena cukai yang dilakukan oleh
pengusaha Pabrik bertujuan untuk pengembalian cukai.

2)

Pengembalian cukai atas kegiatan pengolahan kembali atau pemusnahan BKC yang
dibuat di Indonesia yang pelunasannya dengan cara pembayaran hanya diberikan
kepada Pengusaha Pabrik.

3)

Pengertian kegiatan pemasukan dan pengeluaran BKC adalah pemasukan atau


pengeluaran ke dan dari Pabrik/Tempat Penyimpan atas BKC yang cukainya belum
dilunasi.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 175

Modul Teknis Cukai


4)

Pejabat yang berwenang memberikan persetujuan pengolahan kembali atau


pemusnahan adalah sebagai berikut:
a.

Kepala KPPBC Tipe A1 ke bawah yang mengawasi pabrik, dalam hal nilai cukai
yang dimintakan pengembalian tidak melebihi Rp. 100.000.000,- (seratus juta
rupiah);

b.

Kepala KPPPBC Tipe Madya, dalam hal nilai cukai yang dimintakan
pengembalian tidak melebihi Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).

c.

Kepala Kantor wilayah atau Kepala KPU Bea dan Cukai dalam hal nilai cukai
melebihi batasan poin a dan b diatas.

5)

Pemusnahan atau pengolahan kembali Barang Kena Cukai yang cara pelunasannya
dengan pembayaran, yang dimasukkan ke dalam pabrik dan berasal dari peredaran
bebas dapat dilakukan paling banyak 2 (dua) kali dalam satu tahun anggaran.

6)

Pemusnahan atau pengolahan kembali Barang Kena Cukai yang telah dilekati pita
cukainya yang masih berada di dalam pabrik hanya dapat dilakukan paling banyak 2
(dua) kali dalam satu bulan.

7)

Pemusnahan atau pengolahan kembali Barang Kena Cukai yang telah dilekati pita
cukainya yang berasal dari peredaran bebas hanya dapat dilakukan paling banyak 4
(empat) kali dalam satu tahun anggaran.

7.4

Tes Formatif
Sebagai tolak ukur keberhasilan belajar anda dalam kegiatan belajar-7 ini, silahkan

anda kerjakan soal-soal pilihan berganda berikut ini dengan cara meberikan tanda silang
( X ) pada jawaban yang benar.
1.

Pengertian pengolahan kembali BKC adalah...


a. kegiatan menarik kembali BKC yang sudah dilunasi cukainya dari peredaran
bebas ke dalam pabrik untuk dilakukan pengolahan kembali, dengan
mendapatkan pengembalian cukai
b. kegiatan menarik kembali BKC yang belum dilunasi cukainya dari peredaran
bebas ke dalam pabrik untuk dilakukan pengolahan kembali.
c. kegiatan menarik kembali BKC yang sudah dilunasi cukainya dari peredaran
bebas

ke

dalam

pabrik

untuk

dimusnahkan,

dengan

mendapatkan

pengembalian cukai

hal 176

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


d. semua jawaban benar
2.

Pengertian pemusnahan BKC adalah...


a. kegiatan penarikan BKC yang sudah dilunasi cukainya dari peredararan bebas
untuk dilakukan pengolahan kembali di dalam pabrik atau di tempat-tempat
lainnya dibawah pengawasan DJBC
b. kegiatan penarikan BKC yang sudah dilunasi cukainya dari peredararan bebas
untuk dilakukan pemusnahan di dalam pabrik atau di tempat-tempat lainnya
dibawah pengawasan DJBC
c. kegiatan penarikan BKC yang sudah belum dilunasi cukainya dari peredararan
bebas untuk dilakukan pemusnahan di dalam pabrik atau di tempat-tempat
lainnya dibawah pengawasan DJBC
d. Semua jawaban salah

3.

Pengembalian cukai atas kegiatan pengolahan kembali atau pemusnahan BKC yang
dibuat di Indonesia hanya diberikan kepada...

4.

a. Pengusaha pabrik atau importir

c. Importir

b. Pengusaha pabrik atau tempat penyimpanan

d. Pengusaha Pabrik

Berikut ini adalah batasan kewenangan pemberian izin pemusnahan atau


pengolahan kembali oleh pejabat...
a. Kepala KPPBC Tipe A1 ke bawah yang mengawasi pabrik, dalam hal nilai cukai
yang dimintakan pengembalian tidak melebihi Rp. 100.000.000,- (seratus juta
rupiah);
b. Kepala KPPPBC Tipe Madya, dalam hal nilai cukai yang dimintakan pengembalian
tidak melebihi Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
c. Kepala Kantor wilayah atau Kepala KPU Bea dan Cukai dalam hal nilai cukai
melebihi batasan poin a dan b diatas.
d. Semua jawaban benar

5.

Terhadap BKC berupa etil alkohol dan MMEA sejenis bir, maka frekuensi kegiatan
pemusnahan atau pengolahan kembali Barang Kena Cukai yang dimasukkan ke
dalam pabrik yang berasal dari peredaran bebas dalam satu tahun anggaran dapat
dilakukan paling banyak...

6.

a. 3 (tiga) kali

c. 4 (empat) kali

b. 2 (dua) kali

d. 5 (lima) kali

Dalam rangka pengawasan atas kegiatan pemusnahan BKC, khusus Khusus


permohonan pengolahan kembali atau pemusnahan yang nilainya melebihi Rp.
500.000.000,- maka Tim Pengawas beranggotakan pejabat dari...
a.

Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai setempat.

b.

Kantor Wilayah setempat

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 177

Modul Teknis Cukai

7.

c.

Direktorat cukai dan Kantor Wilayah setempat

d.

Direktorat cukai

Dokumen cukai yang digunakan untuk melindungi pemasukan BKC yang akan diolah
kembali atau dimusnahkan ke dalam pabrik adalah...

8.

a.

PMBKC

c. P2BKC

b.

CK-13

d. CK-6

Jangka waktu yang diberikan terhadap pemasukan kembali barang kena cukai dari
peredaran bebas ke dalam pabrik untuk diolah kembali atau dimusnahkan...

9.

a.

14 hari sejak pengajuan PMBKC

b.

60 hari sejak pengajuan PMBKC

c.

30 hari sejak pengajuan PMBKC

d.

15 hari sejak pengajuan PMBKC

Pemusnahan atau pengolahan kembali Barang Kena Cukai yang telah dilekati pita
cukainya yang masih berada di dalam pabrik hanya dapat dilakukan paling
banyak...
a.

2 (dua) kali dalam satu bulan.

b.

2 (dua) kali dalam satu tahun anggaran

c.

4 (empat) kali dalam sebulan

d.

4 (empat) kali dalam satu tahun anggaran

10. Pemusnahan atau pengolahan kembali Barang Kena Cukai yang telah dilekati pita
cukainya yang berasal dari peredaran bebas hanya dapat dilakukan paling banyak...
a.

2 (dua) kali dalam satu bulan.

b.

2 (dua) kali dalam satu tahun anggaran

c.

4 (empat) kali dalam sebulan

d.

4 (empat) kali dalam satu tahun anggaran

11. Atas pemusnahan atau pengolahan kembali BKC yang dilekati pita cukai, maka pita
cukai yang dirusakan akan dikenaknan biaya pengganti sebesar...
a. Rp. 40,- untuk pita cukai MMEA
b. Rp. 25,- untuk pita cukai Hasil tembakau seri- II
c. Rp. 300,- untuk pita cukai MMEA
d. Rp. 25, untuk seluruh pita cukai Hasil Tembakau
12. Pada prinsipnya pengembalian cukai atas pengolahan kembali atau pemusnahan
BKC terlebih dahulu diperhitungkan dengan utang cukai. Dalam hal pengusaha
pabrik tidak memiliki utang cukai, maka...
a.

dikembalikan kepada pengusaha pabrik sesuai ketentuan yang berlaku

b.

harus digunakan untuk kompensasi CK-1/CK-1A pengajuan berikutnya

c.

harus dikembalikan kepada pengusaha pabrik sesuai ketentuan yang berlaku

hal 178

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


d.

Semua jawaban salah

13. Pemusnahan BKC yang dilakukan di luar pabrik hanya diberikan untuk BKC dengan
nilai cukai...
a.

Maksimal Rp. 500.000.000,-

b.

Maksimal Rp. 100.000.000,-

c.

Maksimal Rp. 200.000.000,-

d.

Maksimal Rp. 2 Milyar

14. Pengertian pita cukai yang rusak adalah...


a.

pita cukai yang kurang sempurna cetakannya dan belum dilekatkan pada
barang kena cukai.

b.

Pita cukai yang mengalami kerusakan pada saat proses pelekatan di kemasan
BKC

c.

Pita cukai yang dirusak dalam kegiatan pengolahan kembali

d.

Pita cukai yang dirusak dalam kegiatan pemusnahan

15. Pengertian pita cukai yang tidak dipakai adalah...


a.

pita cukai yang kondisinya sudah rusak setelah dilepas dari pengemas BKC yang
ditarik dari peredaran bebas

b.

pita cukai yang kondisinya masih baik, belum dilekatkan pada kemasan BKC
dan dalam bentuk lembaran sesuai yang dikirim dari pihak percetakan pita
cukai .

c.

Pita cukai yang telah dilekatkan pada kemasan BKC namun tidak jadi digunakan
sebelum dikeluarkan dari pabrik

d.

Semua jawaban salah

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 179

Modul Teknis Cukai

7.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah disediakan.
Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini. Perhatikan dan
cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci
sebagaimana rumus dibawah ini.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal
Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai:
91 %

s.d

100 %

Sangat Baik

81 %

s.d.

90,99 %

Baik

71 %

s.d.

80,99 %

Cukup

61 %

s.d.

70,99 %

Kurang

0%

s.d.

60,99 %

Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah
menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat
melanjutkan kegiatan belajar berikutnya. Jika belum mencapai angka 81%, kami
menyarankan agar anda mengulang kembali materi kegiatan belajar ini.

hal 180

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


KEGIATAN
BELAJAR

FASILITAS CUKAI DAN


KEMUDAHAN PEMBAYARAN
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu:
1) Melaksanakan ketentuan fasilitas tidak dipungut cukai
2) Melaksanakan ketentuan fasilitas pembebasan cukai
3) Melaksanakan ketentuan pembayaran berkala
4) Melaksanakan ketentuan penundaan pembayaran cukai

8.1

Uraian dan Contoh

a.

Fasilitas Tidak Dipungut Cukai


Gambaran Umum
Pengertian tidak dipungut cukai secara harfiah
adalah

adanya

pengecualian

dari

kewajiban

pemungutan cukai terhadap obyek dan/atau subyek


cukai tertentu. Dalam pengertian yang lebih tegas
konsep tidak pungut cukai mengandung pengertian
bahwa obyek cukai dikecualikan dari kategori barang
kena cukai atau subyek cukai bukan termasuk sebagai subyek yang harus menanggung
beban cukai dengan alasan penghindaran cukai berganda, azas domisili dalam pungutan
cukai dan juga akibat adanya kemusnahan atau kerusakan BKC.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 181

Modul Teknis Cukai


Bila kita meninjau cukai dari sudut pandang azas perpajakan, pada dasarnya cukai
adalah pajak atas barang (pajak konsumsi) yang pelaksanaannya berlaku azas domisili.
Sumitro (1977) menjelaskan pengertian azas domisili sebagai suatu azas pemungutan
pajak yang digantungkan atas domisili (tempat kediaman) wajib pajak di suatu negara.
Pemberlakuan pungutan Cukai sesuai yang diamanahkan dalam Undang-undang Cukai
hanya berlaku di wilayah hukum Indonesia. Orang yang berkedudukan sebagai wajib
cukai atas suatu pungutan cukai adalah orang yang berdomisili di Indonesia. Hal ini
diikuti dengan kewajiban untuk memiliki izin NPPBKC.
Dengan demikian, ketika suatu produk BKC yang berasal dari luar negeri kemudian
diangkut terus ke luar negeri atau produk BKC dalam negeri yang diekspor, maka sudah
selayaknya mendapatkan pengecualian dari pemungutan cukai.

Hal ini dengan

mempertimbangkan bahwa obyek dan subyek cukai tersebut tidak memenuhi azas
domisili.

Jenis-Jenis Fasilitas Tidak Dipungut Cukai


Sebagai tindak lanjut dari ketentuan pasal 8 Undang-undang Cukai, pemerintah
telah menerbitkan peraturan Menteri Keuangan yang berkaitan dengan fasilitas tidak
dipungut cukai 12. Jenis-jenis fasilitas tidak dipungut cukai yang diatur dalam ketentuan
Pasal 8 Undang-undang Cukai adalah sebagai berikut :
1)

Tembakau Iris tradisional


Kami menggunakan istilah tembakau iris tradisional dengan melihat pada

karakateristik tembakau iris sebagaimana yang dimaksudkan dalam ketentuan tidak


dipungut cukai dan juga untuk maksud memudahkan penyebutan. Lebih lengkapnya
dapat dijelaskan bahwa tembakau iris yang dibuat dari tembakau hasil tanaman di
Indonesia yang tidak dikemas untuk penjualan eceran atau dikemas untuk penjualan
ecaran dengan bahan pengemas tradisional yang lazim dipergunakan, apabila :
a)

dalam pembuatannya tidak dicampur atau ditambah dengan tembakau yang


berasal dari luar negeri atau bahan lain yang lazim dipergunakan dalam pembuatan
hasil tembakau;

12

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 237/PMK.04/2009 tentang Tidak Dipungut Cukai

hal 182

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


b)

pada kemasannya ataupun tembakau irisnya tidak dibubuhi merk dagang, etiket
atau yang sejenis itu.

2)

MMEA tradisional
Cukai tidak dipungut atas MMEA yang diperoleh dari hasil peragian atau

penyulingan, apabila :
a)

dibuat oleh rakyat Indonesia;

b)

Pembuatannya dilakukan secara secara sederhana, dengan menggunakan


peralatan sederhana yang lazim digunakan oleh rakyat Indonesia dan produksinya
tidak melebihi 25 (dua puluh lima ) liter per hari;

c)

semata-mata untuk mata pencaharian;

d)

tidak dikemas dalam kemasan untuk penjualan eceran.

Pada dasarnya pengecualian pungutan cukai terhadap tembakau iris tradisional maupun
MMEA tradisional adalah untuk memberikan keringanan kepada masyarakat di
beberapa daerah yang secara historis telah memanfaatkan kedua produk tersebut
sebagai sumber mata pencahariannya. Contoh:
- Di beberapa daerah di Jawa sudah menjadi kelaziman bagi masyarakat pribumi
untuk menjual tembakau iris secara sederhana dan dalam jumlah yang terbatas
dalam suatu kemasan tradisionil semacam: besek dari kulit bambu, daun jati, dan
sebagainya.
- Masyarakat Bali telah mengenal arak sebagai minuman tradisional yang biasa
dikonsumsi dalam upacara-upacara adat.
- Masyarakat di beberapa daerah di Jawa Timur atau di daerah Sumatera utara biasa
mengkonsumsi minuman tuak yang beralkohol cukup tinggi yang diproduksi secara
sederhana.
3)

BKC yang diangkut terus dan diangkut lanjut.


Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang berasal dari luar negeri apabila

diangkut terus atau diangkut lanjut dengan tujuan luar Daerah Pabean. Konsep barang
yang diangkut terus dalam pengertian ini sama halnya dengan konsep diangkut terus
dalam pengertian Undang-undang kepabeanan. Konsep pengenaan cukai dan bea masuk
pada dasarnya menerapkan azas domisili, sehingga hal ini mengandung konsekuensi
bahwa terhadap subyek pajak atas barang yang diangkut terus adalah bukan subyek

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 183

Modul Teknis Cukai


pajak dalam negeri dan tidak dapat dikenakan pungutan bea masuk atau cukai. Akan
tetapi, Selama obyek cukai berada di wilayah Indonesia, kewajiban membayar cukai
masih melekat sampai dapat dibuktikan bahwa BKC tersebut benar-benar telah diangkut
terus dengan menggunakan dokumen kepabeanan (BC1.2).

4)

BKC yang diekspor.


Cukai tidak dipungut atas ekspor barang kena cukai yang belum dilunasi cukainya

yang berasal dari pabrik atau tempat penyimpanan. Sebelum pelaksanaan ekspor barang
kena cukai tersebut, atas pengeluaran BKC dari pabrik/tempat penyimpanan wajib
dilindungi dokumen PMBKC (CK-5). Selanjutnya untuk mengekspor barang yang
bersangkutan, pengusaha tetap mengajukan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang
sesuai mekanisme aturan kepabeanan. Dalam hal ekspor BKC merupakan barang yang
telah dilunasi cukainya yang berasal dari peredaran bebas, maka fasilitas tidak dipungut
cukai tetap diperlakukan (dilakukan pengembalian cukai) sepanjang eksportir adalah
pengusaha pabrik yang memiliki NPPBKC.

5)

BKC yang dimasukkan kedalam Pabrik atau Tempat Penyimpanan.


Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang berasal dari Pabrik atau yang

berasal dari Impor apabila dimasukkan ke dalam Pabrik/tempat penyimpanan lainnya.


Sebelum pemasukan barang kena cukai ke dalam Pabrik/Tempat penyimpanan lainnya,
Pengusaha Pabrik, Importir Barang Kena Cukai, atau Pengusaha Tempat Penyimpanan
harus memberitahukan kepada kepala Kantor yang mengawasi dengan menggunakan
formulir PMBKC. Umumnya kegiatan pemindahan BKC antar pabrik dan/atau tempat
penyimpanan adalah untuk penambahan stock yang ada, namun dalam kasus-kasus
tertentu dapat saja berupa pemindahan BKC sebagai akibat pencabutan izin NPPBKC
terhadap pabrik/tempat penyimpanan.

6)

BKC yang digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan
barang yang hasil akhirnya merupakan Barang Kena Cukai.
Cukai tidak dipungut atas barang kena cukai yang berasal dari Pabrik atau yang

berasal dari Impor apabila dimasukkan ke dalam Pabrik lainnya untuk digunakan sebagai
bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan barang hasil akhir yang merupakan

hal 184

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


barang kena cukai. Konsep pengecualian cukai dalam kondisi ini lebih dititikberatkan
kepada kebijakan pemerintah untuk menghindari penerapan cukai berganda.
Pengusaha Pabrik yang akan menghasilkan barang hasil akhir yang merupakan
barang kena cukai dengan menggunakan bahan baku atau bahan penolong, harus
menyampaikan rencana produksinya kepada DirekturJenderal melalui kepala Kantor dan
kepala Kantor Wilayah yang mengawasinya, dengan menggunakan formulir PBCK-1.
Sebelum pengeluaran barang kena cukai dari Pabrik, Tempat Penyimpanan, atau
Kawasan Pabean dengan tujuan untuk dimasukkan ke dalam Pabrik, Pengusaha harus
memberitahukan kepada kepala Kantor yang mengawasi dengan menggunakan formulir
pemberitahuan mutasi barang kena cukai.

7)

BKC yang telah musnah atau rusak sebelum dikeluarkan dari Pabrik atau Tempat
Penyimpanan atau sebelum diberikan persetujuan impor untuk dipakai.
Untuk BKC yang telah musnah atau rusak sebelum dikeluarkan dari pabrik atau

tempat penyimpanan atau sebelum diberikan persetujuan impor untuk dipakai, diatur
sebagai berikut :
a)

harus memberitahukan kepada Kepala Kantor Bea dan Cukai yang mengawasi
dengan menyebutkan sebab-sebab kemusnahan atau kerusakan barang;

b)

dilakukan pemeriksaan fisik atas BKC tersebut yang hasilnya dituangkan dalam
Berita Acara Pemeriksaan (BACK-1) ;

c)

BACK-1 digunakan sebagai dasar pencatatan dalam Buku Rekening BKC dan Buku
Persediaan BKC ;

d)

BKC yang rusak dimusnahkan dibawah pengawasan Pejabat Bea Cukai.


Pengusaha Pabrik, Pengusaha Tempat Penyimpanan, Importir atau setiap orang

yang melanggar ketentuan tentang tidak dipungutnya cukai dikenai sanksi administrasi
berupa denda paling banyak Sepuluh kali Nilai Cukai dan paling sedikit Dua kali Nilai
Cukai yang seharusnya dibayar. Yang dimaksud dengan pelanggaran disini adalah bila
Barang Kena Cukai didapati menyimpang dari tujuan pemberian fasilitas. Contoh:
misalnya BKC yang diekspor tidak dapat dibuktikan bahwa BKC yang bersangkutan telah
benar-benar diekspor.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 185

Modul Teknis Cukai

b.

Fasilitas Pembebasan Cukai

Pengertian pembebasan cukai adalah suatu bentuk fasilitas yang diberikan kepada
Pengusaha Pabrik, Pengusaha tempat penyimpanan, Pengusaha Tempat Penyimpanan
khusus pencampuaran, atau Importir untuk tidak membayar cukai yang terutang13. Bila
kita melihat dari sisi subyek dan obyek cukai maka secara prinsip konsep pembebasan
cukai berbeda dengan konsep tidak dipungut cukai. Seperti dijelaskan sebelumnya
bahwa tidak pungut cukai mengandung pengertian bahwa obyek cukai dikecualikan dari
kategori barang kena cukai atau subyek cukai bukan termasuk sebagai subyek yang
harus menanggung beban cukai dengan alasan penghindaran cukai berganda, azas
domisili dalam pungutan cukai dan juga akibat adanya kemusnahan atau kerusakan BKC.
Dalam konsep pembebasan cukai, obyek cukai pada dasarnya adalah BKC yang
terutang cukai, hanya saja karena adanya kebijakan-kebijakan tertentu dari pemerintah
maka subyek cukai dapat dikecualikan dari kewajiban membayar cukai yang terutang.
Salah satu dasar pertimbangan pemberian fasilitas pembebasan cukai adalah adanya
Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim
Investasi, serta Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi Nasional. Bila kita melihat
karakteristik BKC khususnya BKC berupa etil alkohol, maka penggunaan BKC tersebut
tidak semata-mata untuk memproduksi MMEA. Cukup banyak industri-industri
manufacturing seperti: farmasi, kosmetik, bahan bangunan, Bio etanol dan lain
sebagainya yang menggunakan etil alkohol sebagai bahan baku atau bahan penmolong
untuk memproduksi barang-barang non BKC.

Jenis-Jenis Fasilitas Pembebasan Cukai


1)

Bahan Baku/Bahan Penolong Pembuatan Barang Hasil Akhir Bukan BKC


Pembebasan cukai dapat diberikan atas etil alkohol yang berasal dari Pabrik,

Tempat Penyimpanan, Tempat Penyimpanan Khusus Pencampuran, atau Asal Impor,


yang digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan Barang
Hasil Akhir (BHA). Termasuk dalam pengertian pembuatan Barang Hasil Akhir

13

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 47/PMK.04/2007 tentang Pembebasan Cukai atas Barang Kena
Cukai.

hal 186

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


sebagaimana dimaksud diatas, adalah pembuatan yang dilakukan melalui proses
produksi terpadu.
a) Proses Produksi Terpadu
Istilah proses produksi terpadu adalah suatu rangkaian proses produksi yang
dilakukan di pabrik etil alkohol, mulai dari pembuatan etil alkohol sebagai bahan
baku sampai dengan pembuatan barang hasil akhir yang bukan BKC. Etil alkohol
sebagai barang hasil akhir yang dibuat melalui proses produksi terpadu dapat
diberikan pembebasan cukai. Untuk dapat memperoleh pembebasan cukai atas etil
alkohol dimaksud, Pengusaha Pabrik yang melakukan Proses Produksi Terpadu
mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal melalui
Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan dengan menggunakan contoh format
PMCK1.
Contoh :
-

Pabrik Etil Alkohol yang juga memproduksi Produk farmasi

Pabrik Etil Alkohol yang juga memproduksi produk sanitari

b) Proses Produksi Non Terpadu


Untuk memperoleh pembebasan cukai etil alkohol yang digunakan sebagai
bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan barang hasil akhir non
terpadu, Pengusaha Pabrik, Pengusaha Tempat Penyimpanan, Pengusaha Tempat
Penyimpanan Khusus Pencampuran, atau Importir, mengajukan permohonan
kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal melalui Kepala Kantor Pelayanan
dengan menggunakan contoh format PMCK-2 sebagaimana ditetapkan dalam
Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan ini. Secara umum skema sederhana proses
pengajuan pembebasan atas penggunaan etil alkohol untuk pembuatan barang
hasil akhir digambarkan dalam gambar 8.1 berikut ini. Beberapa contoh, industri
yang menggunakan etil alkohol sebagai bahan baku ata bahan penolong, antara
lain:
-

Pabrik Farmasi

Pabrik Bio Etanol

Pabrik cat dan Bahan Bangunan

Pabrik Kosmetika

dll

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 187

Modul Teknis Cukai


Gambar 8.1
Skema Permohonan Pembebasan atas
Etil Alkohol untuk Pembuatan BHA

Penjelasan:
1) Pengusaha Pabrik mengajukan permohonan pembebasan etil alkohol yang akan
digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong untuk pembuatan BHA
menggunakan format PMCK-1 (untuk proses produksi terpadu) atau PMCK-2
(non

terpadu).

Permohonan

sebagaimana

dimaksud

diatas,

diajukan

berdasarkan pesanan produsen Barang Hasil Akhir, dan pemohon harus


mencantumkan rincian jumlah etil alkohol yang dimintakan pembebasan cukai
serta rincian jumlah dan jenis Barang Hasil Akhir yang akan diproduksi.Dalam hal
permohonan tersebut diajukan oleh Importir, harus dicantumkan pelabuhan
pemasukan etil alkohol, dan dalam hal permohonan diterima secara lengkap dan
benar.
2) Kepala KPPBC akan melakukan penelitian administrasi dan untuk permohonan
pertama kali wajib dilakukan [pemeriksaan fisik lokasi tempat yang akan dipakai
menimbun etil alkohol di lokasi pabrikan BHA.

hal 188

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


3) Apabila permohonan telah lengkap dan layak diterima, Kepala Kantor membuat
rekomendasi mengenai permohonan yang diajukan.
4) Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama
Menteri Keuangan dalam waktu paling lama 10 (sepuluh) hari sejak permohonan
diterima secara lengkap dan benar, menetapkan keputusan atas permohonan
yang diajukan sebagaimana dimaksud diatas dan kepada pengusaha Barang
Hasil Akhir bersangkutan diberikan NPP.
Produsen yang memperoleh pembebasan cukai etil alkohol untuk digunakan
sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan Barang Hasil Akhir
sebagaimana dimaksud diatas, wajib menyampaikan laporan bulanan kepada Direktur
Jenderal melalui Kepala Kantor Pelayanan paling lama tanggal 10 pada bulan berikutnya
berdasarkan catatan pembukuan sebagaimana dimaksud dalam huruf b, yang memuat :
a.

jumlah etil alkohol yang memperoleh pembebasan cukai yang diterima;

b.

jumlah etil alkohol yang digunakan;

c.

sisa etil alkohol yang belum digunakan yang masih ada dalam perusahaan pada
akhir bulan; dan

d.

jenis dan jumlah Barang Hasil Akhir yang menggunakan etil alkohol yang
diproduksi selama satu bulan, dengan menggunakan contoh format LACK-4 .

2)

Untuk Keperluan Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan


Pembebasan cukai atas etil alkohol yang digunakan untuk keperluan penelitian

dan pengembangan ilmu pengetahuan, dengan kadar paling rendah 85 % (delapan


puluh lima persen). Selanjutnya untuk memperoleh pembebasan cukai sebagaimana
dimaksud, Pengusaha Pabrik, Pengusaha Tempat Penyimpanan, Pengusaha Tempat
Penyimpanan Khusus Pencampuran, atau Importir mengajukan permohonan kepada
Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal melalui Kepala Kantor Pelayanan dengan
menggunakan contoh format PMCK-3.
Permohonan diajukan berdasarkan pesanan lembaga/badan resmi pemerintah
yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dengan
mencantumkan rincian jumlah etil alkohol yang dimintakan pembebasan cukai dan
tujuan pemakaiannya. Dalam hal permohonan diterima secara lengkap dan benar,
Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 189

Modul Teknis Cukai


Keuangan dalam waktu paling lama 10 (sepuluh) hari sejak permohonan diterima secara
lengkap dan benar, menetapkan keputusan atas permohonan yang diajukan, dan kepada
lembaga atau badan bersangkutan diberikan NPP.
Kepala lembaga atau badan sebagai lembaga/badan penerima pembebasan cukai,
wajib menyampaikan laporan bulanan kepada Direktur Jenderal melalui Kepala Kantor
Pelayanan yang mengawasinya, paling lama tanggal 10 pada bulan berikutnya, yang
memuat :
a.

Jumlah etil alkohol yang memperoleh pembebasan cukai yang diterima;

b.

Jumlah etil alkohol yang digunakan; dan

c.

Jumlah etil alkohol yang belum digunakan yang masih ada pada akhir bulan,
dengan menggunakan contoh format LACK-5 .

3)

Untuk Keperluan Perwakilan Asing dan Tenaga Ahli Bangsa Asing


a) Untuk Keperluan Perwakilan negara Asing
Pembebasan cukai dapat diberikan atas minuman yang mengandung etil
alkohol dan hasil tembakau untuk keperluan perwakilan negara asing beserta para
pejabatnya yang bertugas di Indonesia berdasarkan asas timbal balik. Dalam hal ini
jumlah BKC yang dapat dibebaskan pada prinsipnya tidak dibatasi secara khusus,
namun tetap berpedoman kepada asas timbal balik antar kedua negara.
Barang Kena Cukai yang diberikan pembebasan cukai dapat diperoleh dari
Toko Bebas Bea atau diimpor langsung sesuai ketentuan yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan kepabeanan yang berlaku. Untuk memperoleh
pembebasan

cukai

sebagaimana

diatas,

yang

bersangkutan

mengajukan

permohonan kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal dengan diketahui


oleh Departemen Luar Negeri.
b) Untuk keperluan Tenaga ahli Bangsa asing
Pembebasan cukai dapat diberikan atas minuman yang mengandung etil
alkohol dan hasil tembakau untuk keperluan tenaga ahli bangsa asing yang bertugas
pada badan atau organisasi internasional di Indonesia. Untuk memperoleh
pembebasan cukai sebagaimana dimaksud diatas, tenaga ahli yang bersangkutan

hal 190

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal dengan
diketahui oleh Sekretariat Negara.
Jumlah barang kena cukai yang dapat diberi pembebasan cukai, paling tinggi :
a. Minuman yang mengandung etil alkohol: 10 (sepuluh) liter setiap orang dewasa
setiap bulan
b. Hasil tembakau berupa: sigaret maksimal 300 (tiga ratus) batang ; atau Cerutu
maksimal

100 (seratus) batang; atau Tembakau iris/hasil tembakau lainnya:

maksimal 500 (lima ratus) gram; untuk setiap orang dewasa setiap bulan atau
dalam hal lebih dari satu jenis hasil tembakau, setara dengan perbandingan
jumlah setiap jenis hasil tembakau tersebut.
Barang kena cukai yang diberikan pembebasan cukai untuk keperluan pejabat
dan tenaga ahli bangsa asing yang bertugas pada badan atau organisasi internasional
di Indonesia, hanya dapat diperoleh pada Toko Bebas Bea sesuai ketentuan yang
diatur dalam peraturan perundang-undangan kepabeanan yang berlaku.

4) Barang Bawaan Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Atau Kiriman Dari Luar
Negeri
Pembebasan cukai dapat diberikan atas minuman yang mengandung etil
alkohol dan hasil tembakau yang dibawa oleh penumpang, awak sarana pengangkut,
atau kiriman dari luar negeri. Jumlah barang kena cukai yang mendapatkan
pembebasan cukai sebagaimana diatur dalam PMK nomor 89/PMK.04/2007 adalah
dalam jumlah setingi-tingginya sebagai berikut:
a) untuk penumpang yang datang dari luar negeri, paling tinggi:
- MMEA maksimal : 1 (satu) liter setiap orang dewasa.
- Hasil tembakau : Sigaret: 200 (dua ratus) batang ; atau Cerutu: 25 (dua puluh
lima) batang ; atau Tembakau iris/hasil tembakau lainnya : 100 (seratus) gram
untuk setiap orang dewasa atau dalam hal lebih dari satu jenis hasil tembakau,
setara dengan perbandingan jumlah setiap jenis hasil tembakau tersebut.
b) untuk awak sarana pengangkut, paling tinggi :
- MMEA maksimal : 350 (tiga ratus lima puluh) mililiter setiap orang dewasa.
- Hasil tembakau : Sigaret: 40 (empat puluh) batang ; atau Cerutu: 10 (sepuluh)
batang ; atau Tembakau iris/hasil tembakau lainnya : 40 (empat puluh) gram

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 191

Modul Teknis Cukai


untuk setiap orang dewasa atau dalam hal lebih dari satu jenis hasil tembakau,
setara dengan perbandingan jumlah setiap jenis hasil tembakau tersebut.
b) Untuk barang kiriman dari luar negeri paling tinggi :
- MMEA : 1 (satu) liter untuk setiap alamat penerima kiriman
- Hasil tembakau: sigaret maksimal 200 (dua ratus) batang; cerutu maksimal 50
(lima puluh) batang, atau tembakau iris/hasil tembakau lainnya maklsimal 200
(dua ratus) gram; untuk setiap alamat penerima kiriman atau dalam hal lebih
dari satu jenis hasil tembakau, setara dengan perbandingan jumlah setiap jenis
hasil tembakau tersebut.
Dalam hal jumlah barang kena cukai yang dibawa oleh penumpang, awak
sarana pengangkut, atau kiriman dari luar negeri melebihi jumlah yang ditetapkan
sebagaimana tersebut diatas, maka atas kelebihannya wajib dimusnahkan oleh
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

5)

Untuk Tujuan Sosial


Pembebasan cukai untuk tujuan sosial, dapat diberikan atas etil alkohol dengan

kadar paling rendah 85 % (delapan puluh lima persen) yang digunakan untuk tujuan
sosial. Yang dimaksud dengan tujuan sosial adalah untuk keperluan rumah sakit.
Untuk memperoleh pembebasan sebagaimana dimaksud diatas, Pengusaha Pabrik,
Pengusaha Tempat Penyimpanan, Pengusaha Tempat Penyimpanan khusus
pencampuran, atau Importir mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan
c.q. Direktur Jenderal melalui Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan, dengan
menggunakan contoh format PMCK-3. Permohonan sebagaimana dimaksud diatas,
diajukan berdasarkan pesanan rumah sakit dengan mencantumkan rincian jumlah etil
alkohol yang dimintakan pembebasan cukai dan tujuan pemakaiannya.
Jika permohonan diterima secara lengkap dan benar, Direktur Jenderal Bea
dan Cukai atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan dalam waktu
paling lama 10 (sepuluh) hari sejak permohonan diterima secara lengkap dan benar,
menetapkan keputusan atas permohonan yang diajukan, dan kepada rumah sakit
bersangkutan

diberikan

NPP.

Keputusan

pembebasan

ataupun

penolakan

disampaikan kepada pemohon dan salinannya disampaikan kepada kepala/pimpinan


rumah sakit bersangkutan, Kepala Kantor Wilayah dan Direktur Cukai.

hal 192

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Kepala/pimpinan rumah sakit wajib menyampaikan laporan bulanan
penerimaan dan penggunaan etil alkohol kepada Direktur Jenderal melalui Kepala
Kantor Pelayanan, paling lambat tanggal 10 pada bulan berikutnya, yang memuat :
a. Jumlah etil alkohol yang memperoleh pembebasan cukai yang diterima;
b. Jumlah etil alkohol yang digunakan; dan
c. Jumlah etil alkohol yang belum digunakan yang masih ada pada akhir bulan,
dengan menggunakan contoh format LACK-6.

6)

Barang Kena Cukai Yang Dimasukkan ke Tempat Penimbunan Berikat


Pembebasan cukai dapat diberikan atas barang kena cukai yang berasal dari

dalam negeri atau luar negeri yang dimasukkan ke Tempat Penimbunan Berikat.
Pengusaha Pabrik, Pengusaha Tempat Penyimpanan atau Pengusaha Tempat
Penyimpanan Khusus Pencampuran, sebelum mengeluarkan barang kena cukai dari
Pabrik, Tempat Penyimpanan atau Tempat Penyimpanan khusus pencampuran untuk
dimasukkan ke Tempat Penimbunan Berikat, wajib memberitahukan kepada Kepala
Kantor Pelayanan dengan menggunakan contoh format PMBKC. Dalam hal barang
kena cukai yang akan dimasukkan ke Tempat Penimbunan Berikat berasal dari
Kawasan Pabean, pelaksanaannya mengikuti tata laksana yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan Kepabeanan.
Selanjutnya barang kena cukai yang memperoleh pembebasan cukai
sebagaimana dimaksud diatas, digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong
pada pembuatan barang kena cukai yang dijual atau diserahkan di dalam negeri,
maka terhadap barang kena cukai dimaksud wajib dilunasi cukainya. Dalam hal
barang kena cukai yang berasal dari Tempat Penimbunan Berikat yang dimasukkan ke
Toko Bebas Bea, dijual kepada pembeli yang berhak sesuai ketentuan yang diatur
dalam peraturan perundang-undangan kepabeanan yang berlaku.

7)

Etil Alkohol Yang Didenaturasi Menjadi Spiritus Bakar

a) Ketentuan Pembebasan
Pembebasan cukai dapat diberikan atas etil alkohol yang dirusak/didenaturasi
menjadi spiritus bakar sehingga tidak baik untuk diminum. Perusakan etil alkohol
menjadi spiritus bakar hanya diizinkan kepada Pengusaha Pabrik, Pengusaha Tempat

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 193

Modul Teknis Cukai


Penyimpanan, atau Pengusaha Tempat Penyimpanan Khusus Pencampuran dan
dilakukan di tempat tertentu di Pabrik atau Tempat Penyimpanan dengan diawasi
Pejabat Bea dan Cukai.
Pengusaha Pabrik, Pengusaha Tempat Penyimpanan, atau Pengusaha Tempat
Penyimpanan Khusus Pencampuran, sebelum melakukan perusakan etil alkohol
menjadi spiritus bakar wajib mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor
Pengawasan dan Pelayanan dengan menggunakan contoh format PMCK-4 . Atas
pelaksanaan perusakan etil alkohol menjadi spiritus bakar dibuatkan Berita Acara
Perusakan Etil Alkohol dengan menggunakan contoh format BACK-6.
Etil alkohol yang telah dirusak menjadi spiritus bakar harus dikeluarkan dari
Pabrik paling lambat 8 (delapan) hari setelah pelaksanaan perusakan dan etil alkohol
yang telah dirusak menjadi spiritus bakar harus dikeluarkan dari Tempat
Penyimpanan, Tempat Penyimpanan Khusus Pencampuran paling lambat 1 (satu) hari
setelah pelaksanaan perusakan.
Pengusaha Pabrik, Pengusaha Tempat Penyimpanan, atau Pengusaha Tempat
Penyimpanan Khusus Pencampuran wajib menyampaikan laporan bulanan tentang
jumlah etil alkohol yang dirusak menjadi spiritus bakar dan jumlah spiritus bakar yang
dihasilkan kepada Direktur Jenderal melalui Kepala Kantor Pelayanan, paling lambat
pada tanggal 10 pada bulan berikutnya dengan menggunakan contoh format LACK-7.
Dalam hal etil alkohol yang telah dirusak menjadi spiritus bakar disuling ulang
(redestilasi) atau dipisahkan bahan perusaknya, baik seluruhnya maupun sebagian,
dianggap sebagai Barang Kena Cukai yang wajib dilunasi cukainya.

b) Tatacara Pencampuran dan Perusakan Etil Alkohol menjadi Spiritus Bakar

14

Tata cara perusakan Etil Alkohol menjadi spiritus bakar diatur sebagai berikut :
-

Perusakan etil alkohol menjadi spiritus bakar (brand spiritus) dilakukan di


Pabrik Etil Alkohol atau Tempat Penyimpanan Etil Alkohol khusus
pencampuran.

Atas kegiatan perusakan Etil Alkohol menjadi spiritus bakar tersebut


dilakukan pemeriksaan dan pengawasan oleh pejabat bea dan cukai.

14

Peraturan DJBC Nomor P-14/BC/2007 tentang Tata Cara Pencampuran dan Perusakan Etil Alkohol yang
Mendapat Pembebasan Cukai.

hal 194

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


-

Perusakan Etil Alkohol dilakukan dengan cara mencampur Etil Alkohol dengan
bahan perusak dengan rumus Pencampuran:

Perbandingan 80 liter Etil Alkohol dengan kadar 50 % dicampur 1,4 liter bahan
pencampur.
Bahan perusakan dimaksud butir 3 diatas, diperoleh dari pencampuran bahanbahan dengan perbandingan :
a) 400 liter metanol tidak berwarna dicampur dengan 96 gram bahan warna
biru kering ( methylen blue) atau bahan warna violet ( methylen violet) ;
b) 400 liter hasil pencampuran tersebut, dicampur dengan 160 liter kerosen
(minyak tanah) sehingga menjadi 560 liter bahan pencampur.

Contoh Kasus :
PT PS sebagai pabrik etil alkohol

mengajukan permohonan PMCK-6 untuk

pembuatan brand spiritus. Jumlah etil alkohol yang diajukan pembebasan adalah
1000 liter kadar 90%. Hitung jumlah bahan pencampur, jumlah spiritus bakar yang
duhasilkan dan bahan-bahan pencampur yang dibutuhkan.
Jawab :
- Jumlah Bahan Pencampur

- Jumlah Spiritus Bakar :


1.000 Liter + 31, 5 Liter = 1.031,5 Liter
- Komposisi bahan pencampur :
Jumlah Methanol

Jumlah Kerosin

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 195

Modul Teknis Cukai


Jumlah Bahan Pewarna :

8)

Untuk Konsumsi Penumpang Atau Awak Sarana Pengangkut


Pembebasan Cukai dapat diberikan atas minuman yang mengandung etil
alkohol dan hasil tembakau yang berasal dari Pabrik atau yang diimpor untuk
dikonsumsi oleh penumpang atau awak sarana pengangkut yang berangkat
langsung ke luar Daerah Pabean melalui darat, laut, atau udara. Untuk
memperoleh pembebasan cukai sebagaimana dimaksud diatas, Pengusaha Pabrik
atau Importir mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur
Jenderal melalui Kepala Kantor Pelayanan dengan menggunakan contoh format
PMCK-5.
Permohonan pembebasan cukai, diajukan berdasarkan pesanan pengusaha
pengangkutan atau pengusaha jasa boga (catering) yang ditunjuk oleh pengusaha
pengangkutan dengan mencantumkan rincian jumlah minuman mengandung etil
alkohol dan/atau hasil tembakau yang dimintakan pembebasan cukai. Dalam hal
permohonan sebagaimana dimaksud diajukan oleh Importir, harus dicantumkan
pelabuhan pemasukan minuman mengandung etil alkohol dan/atau hasil
tembakau.
Jika permohonan diterima secara lengkap dan benar, Direktur Jenderal Bea
dan Cukai atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan dalam
waktu paling lama 10 (sepuluh) hari, sejak permohonan diterima secara lengkap
dan benar, menetapkan keputusan atas permohonan yang diajukan tersebut, dan
kepada pengusaha pengangkutan atau pengusaha jasa boga (catering) diberikan
NPP.
Keputusan sebagaimana dimaksud diatas, disampaikan kepada pemohon dan
salinannya disampaikan kepada pengusaha pengangkutan atau pengusaha jasa
boga (catering) yang ditunjuk oleh pengusaha pengangkutan, Kepala Kantor
Wilayah dan Direktur Cukai. Pengusaha Pabrik atau Importir sebelum mengeluarkan
minuman yang mengandung etil alkohol dan hasil tembakau dari Pabrik atau
Kawasan Pabean, wajib memberitahukan kepada Kepala Kantor Pelayanan yang
membawahi dengan menggunakan contoh format PMBKC.

hal 196

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Atas penggunaan fasilitas pembebasan tersebut, pengusaha pengangkutan
atau pengusaha jasa boga, wajib menyampaikan laporan bulanan tentang realisasi
penerimaan dan penggunaan Barang Kena Cukai kepada Direktur Jenderal melalui
Kepala Kantor Pelayanan, paling lambat pada tanggal 10 pada bulan berikutnya,
yang memuat :
a. Jumlah minuman yang mengandung etil alkohol dan hasil tembakau yang
memperoleh pembebasan cukai yang diterima ;
b. Jumlah minuman yang mengandung etil alkohol dan hasil tembakau yang
digunakan;
c. Jumlah minuman yang mengandung etil alkohol dan hasil tembakau yang belum
digunakan yang masih ada pada akhir bulan, dengan menggunakan contoh
format LACK-8 .

c.

Penundaan Pembayaran Cukai

Gambaran Umum
Istilah Penundaan yang dimaksudkan dalam konteks materi belajar ini adalah
suatu bentuk kemudahan pembayaran berupa penangguhan pembayaran cukai selama
jangka waktu tertentu (antara satu hingga tiga bulan) tanpa dikenakan bunga yang
diberikan kepada Pengusaha Pabrik atau Importir BKC. Penundaan dapat diberikan
kepada pengusaha pabrik atau importir atas pemesanan pita cukai bagi yang
melaksanakan pelunasan dengan cara pelekatan pita cukai.
Filosofi dasar pemberian penundaan pembayaran adalah untuk memberikan
keringanan finansil kepada Pengusaha Pabrik atau importir atas pemesanan pita cukai
yang harus dipesan terlebih dahulu sebelum produknya siap untuk dijual. Logika
berfikirnya dapat kami jelaskan berikut ini :

Ketentuan dasar cukai mengatur bahwa saat pelunasan cukai (paling lambat) adalah
ketika produk BKC dikeluarkan dari pabrik atau tempat penimbunan sementara
(khusus BKC impor).

Atas BKC yang pelunasannya dengan cara pelekatan pita cukai maka sebelum BKC
diproduksi, Pengusaha Pabrik terlebih dahulu harus memiliki pita cukai dengan cara
mengikuti mekanisme yang berlaku (P3C dan pengajuan CK-1). Untuk menjaga agar

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 197

Modul Teknis Cukai


kelangsungan produksi tetap berlangsung, Pengusaha wajib memiliki persediaan
pita cukai dalam jumlah yang cukup. Hal iini tentu saja akan membuat cost
tersendiri bagi pengusaha pabrik apabila pemesanan pita cukai dilakukan secara
tunai.

Berdasar filosofi inilah dapat kita ambil kesimpulan bahwa penundaan pembayaran
adalah sangat wajar diberikan kepada pengusaha pabrik atau importir.

Perlu anda ingat bahwa pemesanan pita cukai dengan pengajuan dokumen CK-1
yang dibayar secara tunai bukanlah suatu bentuk pelunasan cukai. Pelunasan cukai
atas BKC hasil tembakau dan MMEA tertentu terjadi pada saat pita cukai dilekatklan
pada kemasan penjualan eceran yang bersangkutan.

Ketentuan mengenai penundaan pembayaran cukai diatur dalam pasal 7A ayat (2)
Undang-undang Cukai, dan sebagai aturan pelaksanaannya telah diterbitkan dalam
suatu Peraturan menteri Keuangan 15 .

Jangka Waktu Penundaan


Penundaan pembayaran cukai diberikan dalam jangka waktu:
1) 2 (dua) bulan terhitung sejak tanggal dokumen pemesanan pita cukai, untuk
pengusaha pabrik; atau
2) 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal dokumen pemesanan pita cukai, untuk
importir.
3) Dikecualikan dari ketentuan jangka waktu penundaan adalah bagi pengusaha pabrik
yang telah mengekspor hasil tembakau melebihi yang dijual di dalam negeri sebelum
tahun anggaran berjalan yang dihitung berdasarkan dokumen pemesanan pita cukai,
dapat diberikan penundaan dalam jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari.
Apabila kita membandingkan dengan jangka waktu tersebut di atas dengan jangka
waktu penundaan yang diatur dalam pasal 7A ayat (2) Undang-undang Cukai, maka akan
terdapat sedikit perbedaan. Jangka waktu penundaan berdasarkan Undang-undang
Cukai dinyatakan dalam satuan hari bukan dalam satuan bulan. Dalam praktek yang
terjadi di lapangan, batasan waktu dengan menggunakan satuan hari sering
menimbulkan selisih paham atau perbedaan persepsi mengenai tanggal jatuh tempo
15

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 69/PMK.04/2009 tentang Penundaan Pembayaran Cukai untuk
Pengusaha Pabrik atau Importir Barang Kena Cukai yang Melaksanakan Pelunasan Dengan Cara
Pelekatan Pita Cukai

hal 198

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


penundaan. Oleh karenanya aturan PMK nomor 69/PMK.04/2009 menggunakan satuan
bulan sebagai dasar penentuan jangka waktu penundaan pembayaran. Hal ini bertujuan
untuk memudahkan tugas pejabat Bea dan Cukai yang menangani kegiatan pemberian
kemudahan pembayaran.
Contoh : PT. XY pabrik HT dalam negeri mengajukan CK-1 pada tanggal 04 Februari 2010
dengan penundaan pembayaran, maka jatuh tempo CK-1 yang bersangkutan adalah
tanggal 04 April 2010.

Batasan Nilai Penundaan


Perhitungan besarnya nilai cukai yang dapat diberikan penundaan:
1)

untuk pengusaha pabrik, sebanyak 2 (dua) kali dari nilai cukai ratarata per bulan
yang paling tinggi, yang dihitung dari pemesanan pita cukai dalam kurun waktu 6
(enam) bulan terakhir atau dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan terakhir;

2)

untuk importir, sebanyak 1 (satu) kali dari nilai cukai ratarata per bulan yang paling
tinggi, yang dihitung dari pemesanan pita cukai dalam kurun waktu 6 (enam) bulan
terakhir atau dalam kurun waktu 3 (tiga) bulan terakhir.

3)

Nilai cukai yang dapat diberikan penundaan sebagaimana dimaksud pada poin (1)
dapat ditambah paling banyak 50% (lima puluh persen) dari hasil perhitungan
dengan mempertimbangkan kinerja keuangan perusahaan.

4)

Dalam hal terjadi perubahan ketentuan peraturan perundangundangan mengenai


harga jual eceran dan/atau tarif cukai yang mengakibatkan kenaikan nilai cukai yang
wajib dibayar, pengusaha pabrik dan importir dapat mengajukan permohonan
penyesuaian nilai cukai yang diberikan penundaan.

Kewajiban Mempertaruhkan Jaminan


Untuk pemesanan pita cukai dengan mendapatkan penundaan maka pengusaha
pabrik atau importir wajib mempertaruhkan jaminan. Ketentuan jaminan yang harus
dipertaruhkan adalah sebagai berikut:
1)

Terhadap pengusaha pabrik wajib menyerahkan jaminan berupa jaminan bank,


jaminan dari perusahaan asuransi, atau jaminan perusahaan; atau

2)

Terhadap importir wajib menyerahkan jaminan bank.


Untuk mendapatkan penundaan dengan jaminan perusahaan, pengusaha pabrik

harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 199

Modul Teknis Cukai


1)

merupakan pengusaha berisiko rendah berdasarkan profil pengusaha pabrik;

2)

merupakan Pengusaha Kena Pajak;

3)

tidak pernah melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di


bidang cukai dalam kurun waktu 1 (satu) tahun terakhir;

4)

tidak mempunyai tunggakan utang cukai yang tidak dibayar pada waktunya,
kekurangan cukai, sanksi administrasi berupa denda, dan/atau bunga di bidang
cukai, kecuali sedang diajukan keberatan;

5)

tidak sedang melakukan pengangsuran pembayaran atas surat tagihan;

6)

memiliki laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit oleh akuntan publik
dengan opini wajar tanpa pengecualian selama 2 (dua) tahun terakhir; dan

7)

memiliki kinerja keuangan yang baik.

Untuk mendapatkan penundaan dengan jaminan bank atau jaminan dari


perusahaan asuransi, pengusaha pabrik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1)

merupakan Pengusaha Kena Pajak;

2) tidak pernah melakukan pelanggaran pidana di bidang cukaidalam kurun waktu 1


(satu) tahun terakhir;

3) tidak mempunyai tunggakan utang cukai yang tidak dibayar pada waktunya,
kekurangan cukai, sanksi administrasi berupa denda, dan/atau bunga di bidang
cukai, kecuali sedang diajukan keberatan;

4) dalam hal pengusaha pabrik mendapatkan pemberian pengangsuran, jumlah


angsurannya sudah mencapai 75% (tujuh puluh lima persen) atau lebih dari total
tagihan;

5)

memiliki laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit oleh akuntan publik
dengan opini wajar tanpa pengecualian selama 1 (satu) tahun terakhir; dan

6) memiliki kinerja keuangan yang baik.


Untuk mendapatkan penundaan dengan jaminan bank, importir harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
1)

merupakan Pengusaha Kena Pajak;

2)

tidak pernah melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di


bidang kepabeanan dan cukai dalam kurun waktu 1 (satu) tahun terakhir;

3)

tidak mempunyai tunggakan utang cukai yang tidak dibayar pada waktunya,
kekurangan cukai, sanksi administrasi berupa denda, dan/atau bunga di bidang
cukai, kecuali sedang diajukan keberatan;

hal 200

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


4)

memiliki laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit oleh akuntan publik
dengan opini wajar tanpa pengecualian selama 2 (dua) tahun terakhir; dan

5)

memiliki kinerja keuangan yang baik.

Pejabat yang Berwenang Memberikan Penundaan


Penetapan terhadap permohonan penundaan yang diajukan oleh pengusaha
pabrik atau importir dilaksanakan berdasarkan ketentuan sebagai berikut:
1)

untuk

permohonan

penundaan

dengan

nilai

cukai

sampai

dengan

Rp

5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah) ditetapkan oleh Kepala Kantor Pengawasan


dan Pelayanan Bea dan Cukai atas nama Menteri Keuangan.
2)

untuk

permohonan

penundaan

dengan

nilai

cukai

sampai

dengan

Rp

50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah) ditetapkan oleh Kepala Kantor


Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Madya atas nama Menteri Keuangan.
3)

untuk permohonan penundaan melalui Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai,
ditetapkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai atas nama Menteri
Keuangan.

4)

penundaan ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan,
dengan ketentuan sebagai berikut:
a) untuk

permohonan

penundaan

dengan

nilai

cukai

lebih

dari

Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah) bagi pengusaha pabrik atau importir


yang berada pada pengawasan kantor sebagaimana dimaksud pada poin (1).
b) untuk

permohonan

penundaan

dengan

nilai

cukai

lebih

dari

Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah) bagi pengusaha pabrik atau


importir yang berada pada pengawasan kantor sebagaimana dimaksud pada
huruf b.

d.

Pembayaran Berkala

Gambaran Umum
Pengertian pembayaran berkala adalah pemberian kemudahan pembayaran
berupa penangguhan pembayaran hutang-hutang cukai yang timbul atas pengeluaran
BKC dari pabrik, dan wajib dilunasi paling lambat pada setiap tanggal 5 bulan berikutnya,

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 201

Modul Teknis Cukai


tanpa dikenai bunga. Dalam hal jatuh tempo pembayaran berkala jatuh pada hari libur,
hari diliburkan, atau bukan hari kerja dari Bank Persepsi, Bank Devisa Persepsi, atau Pos
Persepsi, yang mengakibatkan pembayaran tidak dapat dilakukan, maka pembayaran
cukai yang terutang wajib dilakukan pada hari kerja sebelum jatuh tempo.
Pembayaran berkala merupakan salah satu bentuk kemudahan pembayaran yang
diberikan oleh pemerintah kepada industri BKC yang berskala besar dan memiliki
reputasi yang baik. Referensi ketentuan mengenai tatacara pembayaran berkala diatur
dengan Peraturan Menteri16.
Pembayaran secara berkala dapat diberikan kepada pengusaha pabrik yang
melaksanakan pelunasan cukainya dengan cara pembayaran,

yang memenuhi

persyaratan sebagai berikut:


1)

tidak pernah melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di


bidang cukai dalam kurun waktu 1 (satu) tahun terakhir;

2)

memiliki volume produksi barang kena cukai dalam negeri paling sedikit 10
(sepuluh) juta liter pertahun;

3)

tidak mempunyai utang cukai yang tidak dibayar pada waktunya, kekurangan
cukai, sanksi administrasi berupa denda, dan/atau bunga di bidang cukai kecuali
sedang diajukan keberatan;

4)

dalam hal pengusaha pabrik mendapatkan pemberian pengangsuran, jumlah


angsurannya sudah mencapai 75% atau lebih dari total tagihan;

5)

memenuhi kewajiban perpajakan dalam kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir


dengan baik;

6)

memiliki laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit oleh akuntan publik
dengan opini wajar tanpa pengecualian dalam kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir;

7)

menerapkan teknologi berupa sistem komputer yang dapat memonitor setiap


saat proses produksi dan pengeluaran barang kena cukai.

Kewajiban Mempertaruhkan Jaminan


Untuk dapat mengeluarkan barang kena cukai dengan pembayaran secara
berkala, pengusaha pabrik harus menyerahkan jaminan kepada kepala kantor. Jenis
jaminan yang dapat diserahkan dalam rangka pembayaran secara berkala sebagaimana
16

Peraturan Menteri Keuangan nomor 70/PMK.04/2009, tentang Pembayaran Cukai Secara Berkala untuk
Pengusaha Pabrik yang Melaksanakan Pelunasan dengan Cara Pembayaran

hal 202

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


dimaksud, berupa: Jaminan bank atau Jaminan dari perusahaan asuransi. Atas jaminan
yang diserahkan dalam rangka pembayaran secara berkala sebagaimana dimaksud pada
kepala kantor menerbitkan Bukti Penerimaan Jaminan (BPJ).

Mekanisme Pemberian Izin Pembayaran berkala


Dalam rangka mengajukan permohonan untuk dapat melakukan pembayaran
cukai secara berkala, pengusaha pabrik harus terlebih dahulu mengajukan permohonan
secara tertulis kepada kepala kantor untuk dilakukan pemeriksaan sistem komputer
sebagai salah satu syarat diberikannya pembayaran berkala. Atas pemeriksaan tersebut,
pejabat bea dan cukai membuat Berita Acara Pemeriksaan yang berisi hasil pemeriksaan
fisik dengan menggunakan contoh format standar dengan disertai tata letak (lay out)
dan bagan alur sistem monitoring proses produksi dan pengeluaran barang kenacukai.
Setelah dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pemohon mengajukan
permohonan secara tertulis kepada kepala kantor untuk memperoleh pembayaran cukai
secara berkala. Permohonan tersebut harus dilampiri dengan :
1)

Laporan keuangan perusahaan selama 2 (dua) tahun terakhir berturut-turut yang


telah diaudit oleh akuntan publik dengan opini wajar tanpa pengecualian;

2)

Rekapitulasi produksi setiap bulan dan rekapitulasi pembayaran cukai setiap bulan,
dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir; dan

3)

Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan
SPT Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) dalam kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir.
Atas permohonan pebayaran berkala, kepala kantor atas nama Menteri Keuangan

menyetujui atau menolak permohonan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari
terhitung sejak pengajuan permohonan diterima secara lengkap. Keputusan pemberian
pembayaran secara berkala sebagaimana dimaksud berlaku paling lama 1 (satu) tahun
terhitung sejak tanggal ditetapkan keputusan pemberian pembayaran secara berkala.

Sanksi atas Wanprestasi


Dalam hal pengusaha pabrik yang mendapatkan persetujuan pembayaran secara
berkala tidak menyelesaikan pembayaran cukai sampai dengan jatuh tempo
pembayaran secara berkala, berlaku ketentuan sebagai berikut:

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 203

Modul Teknis Cukai


1) dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 10% (sepuluh persen) dari nilai
cukai yang terutang; dan
2) jaminan yang diserahkan pengusaha pabrik dicairkan.
Apabila sampai dengan jatuh tempo pembayaran, pengusaha pabrik tidak
menyelesaikan kewajibannya, bank penjamin atau surety harus melakukan pencairan
jaminan bank atau jaminan dari perusahaan asuransi paling lama 30 (tiga puluh) hari
sejak jatuh tempo pembayaran secara berkala. Pencairan jaminan bank atau jaminan
dari perusahaan asuransi dilakukan dengan menggunakan Surat Pencairan Jaminan
(SPJ) sesuai dengan format standar.
Bank penjamin atau surety harus mencairkan jaminan sebesar nilai cukai yang
terutang dan memberitahukan pencairan tersebut kepada kepala kantor. Dalam hal
bank penjamin atau surety tidak melakukan pencairan jaminan berlaku ketentuan
sebagai berikut:
1)

jaminan baru yang diterbitkan oleh bank penjamin atau surety yang bersangkutan
tidak dilayani sampai dengan kewajiban pencairan jaminan dipenuhi; dan

2)

terhadap cukai yang terutang dilakukan penagihan sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan.

Pembekuan dan Pencabutan


Keputusan pemberian pembayaran secara berkala dapat dibekukan selama 6
(enam) bulan sejak ditemukan pelanggaran apabila pengusaha pabrik melakukan
pelanggaran di bidang cukai. Keputusan pemberian pembayaran secara berkala
sebagaimana dimaksud dibekukan dalam hal pengusaha pabrik yang mendapatkan
pembayaran secara berkala sedang melakukan pengangsuran pembayaran atas surat
tagihan kurang dari 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah tagihan. Surat tagihan
tersebut berasal dari tagihan selain utang cukai yang tidak diselesaikan pembayaran
cukainya pada saat jatuh tempo pembayaran secara berkala.
Pengusaha pabrik yang keputusan pemberian pembayaran secara berkalanya
dibekukan, tidak dapat mengajukan permohonan pembayaran secara berkala baru
selama masa pembekuan . Pembekuan keputusan pemberian pembayaran secara
berkala dilakukan oleh kepala kantor dengan menerbitkan surat pemberitahuan disertai
alasan pembekuan. Pemberlakuan kembali keputusan pemberian pembayaran secara
berkala yang telah dibekukan dapat dilakukan dengan ketentuan:

hal 204

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


1) apabila telah melewati jangka waktu 6 (enam) bulan sejak dibekukan sementara;
atau
2) pengusaha pabrik telah melakukan pengangsuran pembayaran atas surat tagihan
sebesar 75% (tujuh puluh lima persen) atau lebih dari jumlah tagihan.
Pemberlakuan kembali keputusan pemberian pembayaran secara berkala dilakukan oleh
kepala kantor dengan menerbitkan surat pemberitahuan disertai alasan pemberlakuan
kembali.
Keputusan pemberian pembayaran secara berkala sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (2) dapat dicabut dalam hal:
1)

atas permohonan pengusaha pabrik yang bersangkutan;

2)

NPPBKC pengusaha pabrik yang bersangkutan dicabut;

3)

persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan Pasal 5 ayat (4) tidak lagi
dipenuhi;

4)

pengusaha pabrik tidak melakukan pembayaran cukai sampai dengan jatuh tempo
pembayaran secara berkala;

5)

pengusaha pabrik belum menyelesaikan utang cukai dan/atau sanksi administrasi


berupa denda sampai jatuh tempo; dan/atau

6)

pengusaha pabrik dijatuhi sanksi pidana di bidang cukai yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap.
Pengusaha pabrik yang dicabut keputusan pemberian pembayaran secara

berkala, dapat mengajukan permohonan untuk pemberian pembayaran secara berkala


kembali, setelah 1 (satu) tahun sejak tanggal pencabutan.

Cukai yang terutang atas

pengeluaran barang kena cukai sebagai akibat dari pencabutan keputusan pemberian
pembayaran secara berkala, wajib dilunasi dengan cara tunai

The Magic word :


The difference between a smart man
and a wise man is that a smart man
knows what to say, a wise man knows
whether or not to say it.
-Frank M. Grafola-

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 205

Modul Teknis Cukai

8.2 Latihan
Untuk menguji pemahaman anda dalam materi kegiatan belajar 6, silahkan anda
kerjakan soal-soal latiha berikut :
1.

Apa yang dimaksud dengan Fasilitas Tidak Dipungut Cukai dan apa persyaratan
yang harus dipenuhi terhadap BKC yang tidak dipungut cukainya, Jelaskan !.

2.

Apa yang dimaksud dengan Fasilitas Pembebasan Cukai dan apa persyaratan yang
harus dipenuhi terhadap BKC yang dapat dibebaskan cukainya, Jelaskan

3.

Jelaskan perbedaan antara fasilitas pembebasan dengan fasilitas tidak dipungut


cukai!

4.

Jelaskan Mengapa terhadap Pabrik Hasil tembakau perlu diberikan kemudahan


pembayaran berupa penundaan cukai !

5.

Terhadap BKC yang dibawa Penumpang, Awak Sarana Pengangkut dan Pelintas
Batas dalam jumlah tertentu diberikan pembebasan cukai. Jelaskan apa yang
harus dilakukan petugas Bea dan Cukai, ketika penumpanag atau awak sarana
pengangkut membawa BKC dalam jumlah yang lebih dan yang bersangkutan siap
membayar pungutan pajak berapapun mahalnya !

8.3

Rangkuman

Sebagai rangkuman materi kegiatan belajar 8 dapat disampaikan sebagai berikut:


1)

Konsep tidak pungut cukai mengandung pengertian bahwa obyek cukai


dikecualikan dari kategori barang kena cukai atau subyek cukai bukan termasuk
sebagai subyek yang harus menanggung beban cukai, dengan alasan penghindaran
cukai berganda, azas domisili dalam pungutan cukai dan juga akibat adanya
kemusnahan atau kerusakan barang kena cukai.

2)

Jenis-jenis fasilitas tidak dipungut cukai yang diatur dalam Undang-undang Cukai
adalah:
a. Tembakau iris yang dibuat dari tembakau hasil tanaman di Indonesia yang tidak
dikemas untuk penjualan eceran atau dikemas untuk penjualan ecaran dengan
bahan pengemas tradisional yang lazim dipergunakan;

hal 206

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


b. MMEA tradisionil yang diperoleh dari hasil peragian atau penyulingan oleh
masyarakat pribumi, dibuat secara sederhana, semata-mata untuk mata
pencaharian dan tidak dikemas untuk penjualan eceran;
c. BKC yang diangkut terus dan diangkut lanjut;
d. BKC yang diekspor;
e. BKC yang dimasukkan kedalam Pabrik atau Tempat Penyimpanan;
f.

BKC yang dimasukkan kedalam Pabrik atau Tempat Penyimpanan;

g. BKC yang telah musnah atau rusak sebelum dikeluarkan dari Pabrik atau
Tempat Penyimpanan atau sebelum diberikan persetujuan impor untuk dipakai.
3)

Pembebasan cukai adalah suatu bentuk fasilitas yang diberikan kepada Pengusaha
Pabrik, Pengusaha tempat penyimpanan, Pengusaha Tempat Penyimpanan khusus
pencampuaran, atau Importir untuk tidak membayar cukai yang terutang.

4)

Jenis-jenis fasilitas pembebasan cukai adalah:


a. BKC yang digunakan sebagi bahan baku/bahan penolong pembuatan barang
hasil akhir bukan BKC;
b. BKC yang digunakan untuk untuk keperluan penelitian dan pengembangan Ilmu
pengetahuan;
c. BKC yang digunakan untuk keperluan perwakilan asing dan tenaga ahli bangsa
asing;
d. BKC sebagai barang bawaan penumpang, awak sarana pengangkut, atau
kiriman dari luar negeri;
e. BKC yang digunakan untuk Tujuan Sosial
f.

BKC yang dimasukkan ke Tempat Penimbunan Berikat

g. Etil Alkohol Yang Didenaturasi Menjadi Spiritus Bakar


h. BKC yang digunakan untuk konsumsi penumpang atau awak sarana pengangkut
5)

Pembayaran berkala merupakan bentuk kemudahan pembayaran yang diberikan


kepada subyek cukai yang cara pelunasannya dengan pembayaran. Bentuknya
adalah penangguhan pembayaran tanpa dikenakan bunga atas kewajiban
pembayaran cukai, dan wajib diselesaikan paling lambat tanggl 5 bulan berikutnya.

6)

Penundaan pembayaran merupakan bentuk kemudahan pembayaran yang


diberikan kepada subyek cukai yang cara pelunasannya dengan pelekatan pita
cukai. Bentuknya adalah penangguhan pembayaran tanpa dikenakan bunga atas
kewajiban pembayaran cukai, dan wajib diselesaikan paling lambat antara 1(satu)
sampai 3(tiga) bulan,

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 207

Modul Teknis Cukai

8.4

Tes Formatif

Untuk mengukur keberhasilan anda dalam mempelajari materi kegiatan belajar-8


ini silahkan anda mengerjakan soal pilihan ganda berikut.
1.

2.

Fasilitas yang dikenal menurut undang-undang cukai adalah...


a.

tidak dipungut cukai, pembebasan cukai, dan penundaan pembayaran

b.

pembebasan cukai, penundaan, pembayaran berkala

c.

penangguhan dan pembebasan cukai

d.

pembebasan dan tidak dipungut cukai

Penundaan pembayaran cukai untuk pengusaha BKC yang ekspornya lebih banyak
dari pemasaran lokalnya, dapat diberikan dalam waktu paling lama;.........
a.

90 hari sejak tanggal pemesanan pita cukai untuk BKC yang pelunasannya
dengan cara pelekatan cukai

b.

60 hari sejak tanggal pemesanan pita cukai untuk BKC yang pelunasannya
dengan cara pembayaran berkala

c.

45 hari sejak tanggal pengeluaran untuk BKC yang pelunasannya secara berkala
dan dikenai bunga 2% perbulan.

d.

45 hari sejak tanggal pengeluaran untuk BKC yang pelunasannya secara


berkala tanpa bunga

3.

Untuk merusak etil alkohol sebanyak 80 liter, kadar 50 %, bahan perusak yang
dibutuhkan adalah....

4.

a.

2 liter

c. 2,8 liter

b.

3 liter

d. 1,4 liter

Jumlah spiritus bakar yang dihasilkan dari pencampuran sebanyak 1.000 liter etil
alkohol kadar 95% adalah sebanyak ?

5.

a.

1.033,25 liter

c. 133,25 liter

b.

5.033,15 liter

d. Semua jawaban salah

Berikut ini adalah kategori fasilitas tidak dipungut cukai, kecuali


a.

BKC yang diekspor

b.

TIS dan MMEA yang dibuat secara tradisional, sepanjang memenuhi


persyaratan tertentu

c.

BKC yang digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong produk akhir
non BKC

d.

BKC yang musnah atau rusak sebelum dikeluarkan dari pabrik

hal 208

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


6.

Batasan jumlah BKC yang dibebaskan atas konsumsi oleh Pejabat Perwakilan
Negara Asing adalah.

7.

a.

50 ltr MMEA, 300 btg sigaret, 100 btg cerutu, dan 500 gram TIS

b.

10 ltr MMEA, 100 btg sigaret, 50 btg cerutu, dan 100 gram TIS

c.

Berdasarkan asas timbal balik

d.

1 liter MMEA, 25 batang cerutu, 200 btg sigaret, 100 gram TIS

Berikut ini adalah bentuk pemberian fasilitas pembebasan cukai, kecuali :


a.

BKC untuk keperluan perwakilan negara asing dan tenaga ahli bangsa asing

b.

BKC untuk memproduksi Barang Hasil Akhir non BKC

c.

BKC yang rusak atau musnah sebelum dikeluarkan dari pabrik atau tempat
penyimpanan

d.

BKC dari pabrik/tempat penyimpanan yang dimasukan ke tempat penimbunan


berikat

8.

Persyaratan bagi MMEA tradisionil yang dapat dberikan fasilitas tidak dipungut
cukai adalah sebagai berikut, kecuali...
a.

dibuat oleh rakyat Indonesia;

b.

Pembuatannya dilakukan secara secara sederhana, dengan menggunakan


peralatan sederhana yang lazim digunakan oleh rakyat Indonesia dan
produksinya tidak melebihi 50(lima puluh) liter per hari

9.

c.

semata-mata untuk mata pencaharian

d.

tidak dikemas dalam kemasan untuk penjualan eceran.

Perbedaan pokok antara fasiltas tidak dipungut cukai dan fasilitas pembebasan
cukai, ditinjau dari sudut pandang obyek BKC adalah...
a.

Tidak dipungut cukai merupakan pengecualian sebagai obyek BKC tertentu,


sedangkan pada pembebasan cukai, obyek merupakan barang kena cukai

b.

Tidak dipungut cukai obyek merupakan barang kena cukai, sedangkan pada
pembebasan cukai, obyek dikecualikan sebagai BKC

c.

Dalam hal fasilitas tidak dipungut cukai dan fasilitas cukai, obyek barang
esensinya tetap sebagai BKC yang terutang cukai.

d.

Semua jawaban salah

10. Dalam mekanisme permohonan pembebasan cukai terhadap BKC yang digunakan
untuk pembuatan obat-obatan dalam industri farmasi, maka subyek yang wajib
mengajukan permohonan...
a.

Pengusaha Pabrik farmasi

b.

Pengusaha Pabrik etil alkohol

c.

Pengusaha pabrik bersama dengan Pengusaha Pabrik farmasi

d.

Semua jawaban salah

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 209

Modul Teknis Cukai


11. Pembebasan cukai atas etil alkohol yang digunakan untuk keperluan penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan harus memenuhi persyaratan kadar...
a.

minimal kadarnya 80%

c. minimal kadarnya 85%

b.

minimal kadarnya 96%

d. minimal kadarnya 60%

12. Batasan jumlah BKC yang dibebaskan atas konsumsi oleh Tenaga Ahli Bangsa Asing
yang bekerja pada Badan Internasional adalah.
a.

10 ltr MMEA, 300 btg sigaret, 100 btg cerutu, dan 500 gram TIS setiap bulan

b.

10 ltr MMEA, 100 btg sigaret, 50 btg cerutu, dan 100 gram TIS

c.

1 liter MMEA, 25 batang cerutu, 200 btg sigaret, 100 gram TIS

d.

Berdasarkan asas timbal balik

13. Batasan jumlah BKC yang dibebaskan atas BKC yang dibawa oleh penumpang dari
luar negeri adalah...
a.

1 ltr MMEA, 300 btg sigaret, 100 btg cerutu, dan 500 gram TIS

b.

10 ltr MMEA, 100 btg sigaret, 50 btg cerutu, dan 100 gram TIS

c.

1 liter MMEA, 25 batang cerutu, 200 btg sigaret, 50 gram TIS

d.

Berdasarkan asas timbal balik

14. Lokasi yang diizinkan untuk kegiatan denaturasi etil alkohol menjadi spiritus bakar
adalah, kecuali...
a.

Tempat Penyimpanan

b.

Tempat Penyimpanan Khusus Pencampuran

c.

Pabrik etil alkohol

d.

Tempat Penimbunan Berikat

15. Rumus pencampuran dalam proses denaturasi etil alkohol menjadi spiritus bakar
adalah...
a. 80 liter Etil alkohol kadar 50% dicampur dengan 1,4 liter bahan perusak
b . 90 liter Etil Alkohol kadar 50% dicampur dengan 3,14 liter bahan perusak
c. 50 liter Etil Alkohol kadar 80% dicampur dengan 1,4 liter bahan perusak
d. 90 liter Etil Alkohol kadar 80% dicampur dengan 3,14 liter bahan perusak

hal 210

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

8.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah disediakan.
Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini. Perhatikan dan
cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci
sebagaimana rumus dibawah ini.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal
Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai:
91 %

s.d

100 %

Sangat Baik

81 %

s.d.

90,99 %

Baik

71 %

s.d.

80,99 %

Cukup

61 %

s.d.

70,99 %

Kurang

0%

s.d.

60,99 %

Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah
menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat
melanjutkan kegiatan belajar berikutnya. Jika belum mencapai angka 81%, kami
menyarankan agar anda mengulang kembali materi kegiatan belajar ini.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 211

Modul Teknis Cukai


KEGIATAN
BELAJAR

TATA CARA PENGAJUAN


KEBERATAN, BANDING DAN
GUGATAN
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu:
1) Melaksanakan ketentuan Keberatan di Bidang Cukai
2) Melaksanakan ketentuan Banding di Bidang Cukai
3) Melaksanakan ketentuan Gugatan di Bidang Cukai

9.1

Uraian dan Contoh

a.

Tatacara Keberatan di Bidang Cukai

Gambaran Umum
Salah satu prinsip yang dianut di dalam Undang-undang
Nomor 11 Tahun 1995 sebagaimana telah diubah dengan
Undang Undang Nomor 39 Tahun 1995 tentang Cukai, adalah
prinsip keadilan dalam keseimbangan yang mengandung
makna bahwa kewajiban cukai hanya dibebankan kepada
orang-orang yang memang seharusnya diwajibkan untuk itu
dan semua pihak yang terkait diperlakukan dengan cara yang sama dalam hal dan

hal 212

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


kondisi yang sama pula. Apabila wajib cukai merasa tidak diperlakukan secara adil maka
yang bersangkuta dapat menempuh cara-cara yang dapat memberikan rasa keadilan
tersebut. Dalam hal ini Undang-undang Cukai telah memberikan sarana tersebut dalam
bentuk mekanisme keberatan dan banding ke Lembaga Banding yang bersifat
independen.
Ketentuan yang mengatur mengenai Keberatan, Banding dan Gugatan adalah
Pasal 41 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 sebagaimana telah diubah
dengan Undang Undang Nomor 39 Tahun 2007. Sebagai tindak lanjut di tingkat
pelaksanaan, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan terkait17.
Beberapa hal pokok yang diatur dalam Peraturan Menteri tersebut dan juga petunjuk
teknis pelaksanaan keberatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal
Nomor P-28/BC/2009 akan kami uraikan pada sub pokok bahasan ini.
Pengertian keberatan dalam konteks Undang-undang Cukai adalah subyek cukai
tidak bisa menyetujui atau tidak bisa menerima sanksi atau keputusan yang ditetapkan
oleh pejabat bea dan cukai berkaitan dengan kepentingannya. Sebagaimana diatur di
dalam Pasal 41 ayat (2) Undang-undang Cukai disebutkan bahwa :
Orang yang berkeberatan atas penetapan pejabat bea dan cukai dalam penegakan
Undang-undang Cukai, yang mengakibatkan kekurangan cukai dan/atau sanksi
administrasi berupa denda, dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada
Direktur Jenderal dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterimanya
surat tagihan dengan menyerahkan jaminan sebesar kekurangan cukai dan/atau
sanksi administrasi berupa denda yang ditetapkan.

Mekanisme Pengajuan Keberatan


Pengajuan keberatan atas putusan di bidang cukai diajukan dalam jangka waktu
30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterimanya surat tagihan. Dalam hal selama kurun
waktu 30 hari tidak ada pengajuan keberatan, maka hak untuk mengajukan keberatan
setelah jangka waktu tersebut menjadi gugur. Dan penetapan pejabat bea dan cukai
dianggap telah disetujui.
Kepala Kantor Bea dan Cukai yang menerima berkas permohonan keberatan dari
pengusaha pabeik wajib meneliti :

17

Peraturan Menteri Keuangan nomor 114/PMK.04/2008 tanggal 15 Agustus 2008


tentang Keberatan di Bidang Cukai

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 213

Modul Teknis Cukai


a) pemenuhan persyaratan pengajuan keberatan (adanya bukti penyerahan jaminan
sebesar tagihan, fotokopi surat tagihan);
b) Pemenuhan jangka waktu pengajuan keberatan
Dalam hal persyaratan telah dipenuhi, maka berkas permohonan diteruskan kepada
Direktur Jenderal dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja sejak berkas diterima secara
lengkap .
Pada dasarnya penyelesaian keberatan dilakukan di Kantor Pusat Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Pengecualian atas aturan tersebut dalam hal pabrik,
tempat penyimpanan, importir barang kena cukai, penyalur, tempat penjualan eceran,
atau setiap orang berada di bawah pengawasan Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan
Cukai, penyelesaian keberatan dilakukan di KPU Bea dan Cukai. Untuk memutuskan
permohonan keberatan yang diajukan pengusaha, Direktur Jenderal memberi
wewenang kepada :
a)

Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC) untuk


menandatangani keputusan keberatan yang penyelesaian keberatannya dilakukan
di Kantor Pusat DJBC ;

b)

Kepala KPU Bea dan Cukai untuk menandatangani keputusan keberatan yang
penyelesaian keberatannya dilakukan di KPU Bea dan Cukai;

c)

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) di lingkungan
DJBC untuk menandatangani keputusan penolakan atas keberatan yang diajukan
melewati jangka waktu yang ditetapkan.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai harus memberikan keputusannya dalam jangka

waktu selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak tanggal berkas keberatan


diterima secara lengkap dan benar. Sebelum keputusan diterbitkan, pihak yang
mengajukan keberatan dapat menyampaikan alasan, penjelasan tambahan, atau bukti
pendukung lain secara tertulis kepada Direktur Jenderal. Sebaliknya, Direktur Jenderal
Bea dan Cukai. apabila diperlukan, dapat meminta bukti dan/atau data lain yang
diperlukan untuk memutuskan keberatan kepada pihak yang mengajukan keberatan atau
pihak yang terkait. Dalam hal data yang diperlukan tidak lengkap, DIrektur Jenderal
memberikan keputusan berdasarkan data yang telah ada.
Keputusan atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, atau
menolak . Apabila sampai batas waktu 60 (enam puluh) hari Direktur Jenderal Bea dan

hal 214

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Cukai tidak menerbitkan keputusan, keberatan dianggap diterima dan jaminan dicairkan.
Pihak yang mengajukan keberatan dapat menanyakan secara tertulis kepada Direktur
Jenderal Bea dan Cukai apabila sampai dengan 70 (tujuh puluh) dari sejak batas keberatan
diterima secara lengkap dan benar oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai,
keputusan atas keberatan belum diterima. Atas pertanyaan tersebut Direktur Jenderal
wajib menyampaikan penjelasan secara tertulis tentang penyelesaian keberatan yang
bersangkutan.
Dalam hal keberatan atas keputusan di bidang cukai dikabulkan, maka jaminan
wajib dikembalikan kepada yang bersangkutan. Apabila keputusan atas keberatan
dinyatakan ditolak, maka jaminan yang dipertaruhkan akan dicairkan untuk membayar
cukai dan/atau samksi administrasi berupa denda yang ditetapkan.

b.

Tatacara Pengajuan Banding dan Gugatan

Gambaran Umum
Berdasarkan Undang-undang nomor 14 tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak,
pengertian banding adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak atau
penanggung pajak terhadap suatu keputusan yang dapat diajukan banding, berdasarkan
peraturan perundang-undangan perpajakaan yang berlaku. Pasal 43A Undang-undang
Cukai mengatur jenis putusan yang dapat diajukan banding ke pengadilan pajak, yaitu
keputusan Direktorat jenderal bea dan Cukai atas keberatan yang berkaitan dengan
penetapan pejabat bea dan cukai yang mengakibatkan kekurangan cukai dan/atau
sanksi administrasi berupa denda.
Pengertian gugatan sebagaimana diatur dalam Undang-undang nomor 14 tahun
2002 tentang Pengadilan Pajak adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib
Pajak atau penanggung pajak terhadap suatu keputusan yang dapat diajukan gugatan,
berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakaan yang berlaku. Pasal 43B
Undang-undang Cukai mengatur jenis putusan yang dapat diajukan gugatan adalah
keputusan pencabutan izin NPPBKC bukan atas kemauan sendiri. Lebih lanjut dapat
dirincikan jenis keputusan pencabutan izin NPPBKC yang dapat dilakukan sepihak, yaitu:
1) Pencabutan izin NPPBKC akibat persyaratan perizinan tidak lagi dipenuhi ;
2) Pencabutan izin NPPBKC pemegang izin tidak lagi secara sah mewakili badan hukum

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 215

Modul Teknis Cukai


atau orang pribadi yang berkedudukan di luar Indonesia ;
3) Pencabutan izin NPPBKC pemegang izin dinyatakan pailit ;
4) Pencabutan izin NPPBKC tidak lagi dipenuhi oleh karena pemegang NPPBKC

meninggal dunia;
5) Pencabutan izin NPPBKC pemegang izin dipidana berdasarkan keputusan hakim

yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melanggar ketentuan


undang-undang Cukai ;
6) Pencabutan izin NPPBKC pemegang izin melanggar ketentuan Pasal 30 ; atau
7) Pencabutan izin NPPBKC Izin berupa Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai

dipindahtangankan, dikuasakan, dan/atau dikerjasamakan dengan orang/pihak lain


tanpa persetujuan Menteri.
Bila kita membandingkan konsep banding dan gugatan sebagaimana penjelasan
diatas dapat kita jelaskan perbedaan banding dan gugatan sebagai berikut:
- konsep banding merupakan mekanisme lanjutan dari proses keberatan di tingkat
institusi pemungut pajak. Konsep banding berkaitan dengan penetapan Bea dan
Cukai yang mengakibatkan kekurangan cukai dan/atau sanksi denda.
- Konsep gugatan bukan merupakan proses lanjutan dari proses keberatan. Gugatan
diajukan oleh subyek pajak atas penetapan pajak yang tidak berakibat pada
kekurangan cukai dan/atau sanksi denda. Atas penetapan pejabat bea dan cukai
yang dapat digugat, tidak perlu melewati mekanisme keberatan terlebih dahulu, tapi
dapat langsung diajukan kepada pengadilan pajak.

Mekanisme Pengajuan Banding


Secara umum upaya banding diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak
tanggal diterima Keputusan yang dibanding, kecuali diatur lain dalam peraturan
perundang-undangan perpajakan. Khusus terhadap upaya banding di bidang cukai,
jangka waktu pengajuannya paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak tanggal penetapan
atau keputusan. Akan tetapi, berdasar Undang-undang Nomor 14 tahun 2002 jangka
waktu sebagaimana dimaksud tidak mengikat apabila keterlambatan pengajuan
disebabkan karena keadaan di luar kekuasaan pemohon
Upaya banding diajukan dengan disertai alasan-alasan yang jelas, dan
dicantumkan tanggal diterima surat keputusan yang dibanding. Berkaitan dengan upaya

hal 216

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


banding yang berkaitan dengan besarnya jumlah Pajak yang terutang, banding hanya
dapat diajukan apabila jumlah yang terutang dimaksud telah dibayar sebesar 50% (lima
puluh persen). Ketentuan ini agak berbeda dengan ketentuan jaminan yang wajib
dipersyaratkan dalam mekanisme keberatan di bidang cukai yang mewajibkan untuk
menjamin tagihan cukai dan/atau sanksi denda sebesar 100%.
Banding dapat diajukan oleh Wajib Pajak, ahli warisnya, seorang pengurus, atau
kuasa hukumnya. Pemohon Banding dapat melengkapi Surat Bandingnya untuk
memenuhi ketentuan yang berlaku sepanjang masih dalam jangka waktu pengajuan
banding.

Selama proses banding diajukan, pemohon dapat mengajukan surat

pernyataan pencabutan kepada Pengadilan Pajak. Atas pencabutan banding maka


perkara tersebut dihapuskan dari daftar sengketa, dengan ketentuan:
1)

dikeluarkan penetapan Ketua Pengadilan dalam hal surat pernyataan pencabutan


diajukan sebelum sidang dilaksanakan;

2)

dikeluarkan putusan Majelis/Hakim Tunggal melalui pemeriksaan dalam hal surat


pernyataan pencabutan diajukan dalam sidang atas persetujuan terbanding.

3)

Banding yang telah dicabut melalui penetapan atau putusan sebagaimana


dimaksud tidak dapat diajukan kembali.

Mekanisme Pengajuan Gugatan


Gugatan diajukan secara tertulis oleh pemohon dalam Bahasa Indonesia kepada
Pengadilan Pajak. Gugatan dapat diajukan oleh penggugat, ahli warisnya, seorang
pengurus, atau kuasa

hukumnya dengan disertai alasan-alasan yang jelas,

mencantumkan tanggal diterima, pelaksanaan penagihan, atau Keputusan yang digugat


dan dilampiri salinan dokumen yang digugat.
Jangka waktu untuk mengajukan Gugatan terhadap pelaksanaan penagihan
Pajak adalah 14 (empat belas) hari sejak tanggal pelaksanaan penagihan. Jangka waktu
untuk mengajukan Gugatan terhadap Keputusan selain yang berkaitan dengan
pelaksanaan penagihan pajak adalah 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterima
Keputusan yang digugat. Jangka waktu tidak mengikat apabila jangka waktu dimaksud
tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaan penggugat. Dalam hal keadaan
diluar kekuasaan penggugat tersebut, perpanjangan jangka waktu adalah 14 (empat
belas) hari terhitung sejak berakhirnya keadaan di luar kekuasaan penggugat.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 217

Modul Teknis Cukai


Terhadap upaya Gugatan yang diajukan pemohon dapat diajukan surat
pernyataan pencabutan kepada Pengadilan Pajak. Gugatan yang dicabut sebagaimana
dimaksud dihapus dari daftar sengketa dengan :
1) penetapan Ketua pengadilan pajak, dalam hal surat pernyataan pencabutan
diajukan sebelum sidang;
2) putusan Majelis/Hakim Tunggal melalui pemeriksaan dalam hal surat pernyataan
pencabutan diajukan setelah sidang atas persetujuan tergugat.
Gugatan yang telah dicabut melalui penetapan atau putusan tidak dapat diajukan
kembali.
Upaya Gugatan tidak menunda atau menghalangi dilaksanakannya penagihan
Pajak atau kewajiban perpajakan. Penggugat dapat mengajukan permohonan agar
tindak lanjut pelaksanaan penagihan Pajak sebagaimana ditunda selama pemeriksaan
Sengketa Pajak sedang berjalan, sampai ada putusan Pengadilan Pajak. Permohonan
penundaan dapat dikabulkan hanya apabila terdapat keadaan yang sangat mendesak
yang mengakibatkan kepentingan penggugat sangat dirugikan jika pelaksanaan
penagihan Pajak yang digugat itu dilaksanakan.

9.2

Latihan

Untuk menguji pemahaman anda dalam materi kegiatan belajar 9, silahkan anda
kerjakan soal-soalihan berikut :
1. Jelaskan konsep keberatan dan mekanisme yang harus ditempuh oleh subyek cukai
yang berkeberatan !
2. Jelaskan konsep banding dan mekanisme yang harus ditempuh oleh subyek cukai
yang melakukan upaya banding !
3. Dalam mekanisme keberatan, subyek cukai diharuskan mempertaruhkan jaminan
sebesar 100% dari cukai yang terhutang, sedangkan dalam konsep banding,
jaminan yang dipertaruhkan cukup 50% saja. Bagaimana anda menyikapi hal ini,
jelaskan!
4. Apakah seorang yang mengajukan gugatan dapat langsung melakukan upaya
banding ? Jelaskan jawaban saudara !

hal 218

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


5. Dalam hal pengusaha mencabut proses hukum upaya banding sebelum dilakukan
sidang pengadilannpajak, tndakan apa yang akan dilakukan oleh Pengadilan Pajak.
Jelaskan !

9.3

Rangkuman
Sebagai rangkuman materi kegiatan belajar 9 dapat disampaikan sebagai berikut:

1)

Pengertian keberatan dalam konteks Undang-undang Cukai adalah subyek cukai


tidak bisa menyetujui atau tidak bisa menerima sanksi atau keputusan yang
ditetapkan oleh pejabat bea dan cukai berkaitan dengan kepentingannya.

2)

Pengajuan keberatan atas putusan di bidang cukai diajukan dalam jangka waktu 30
(tiga puluh) hari sejak tanggal diterimanya surat tagihan. Dalam hal selama kurun
waktu 30 hari tidak ada pengajuan keberatan, maka hak untuk mengajukan
keberatan setelah jangka waktu tersebut menjadi gugur.

3)

Untuk memutuskan permohonan keberatan yang diajukan pengusaha, Direktur


Jenderal memberi wewenang kepada :
a) Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC) untuk
menandatangani keputusan keberatan yang penyelesaian keberatannya
dilakukan di Kantor Pusat DJBC ;
b) Kepala KPU Bea dan Cukai untuk menandatangani keputusan keberatan yang
penyelesaian keberatannya dilakukan di KPU Bea dan Cukai;
c) Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) di lingkungan
DJBC untuk menandatangani keputusan penolakan atas keberatan yang
diajukan melewati jangka waktu yang ditetapkan.
4) Direktur Jenderal Bea dan Cukai harus memberikan keputusannya dalam jangka
waktu selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak tanggal berkas keberatan
diterima secara lengkap dan benar.
5) Pengertian banding adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak
atau penanggung pajak terhadap suatu keputusan yang dapat diajukan banding,
berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakaan yang berlaku. Pasal
43A Undang-undang Cukai mengatur jenis putusan yang dapat diajukan banding
ke pengadilan pajak, yaitu keputusan Direktorat jenderal bea dan Cukai atas

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 219

Modul Teknis Cukai


keberatan yang berkaitan dengan penetapan pejabat bea dan cukai yang
mengakibatkan kekurangan cukai dan/atau sanksi administrasi berupa denda.
6) Pengertian gugatan sebagaimana diatur dalam Undang-undang nomor 14 tahun
2002 tentang Pengadilan Pajak adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh
Wajib Pajak atau penanggung pajak terhadap suatu keputusan yang dapat
diajukan gugatan, berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakaan
yang berlaku.
7) Upaya banding merupakan mekanisme lanjutan dari proses keberatan di tingkat
institusi pemungut pajak. Konsep banding berkaitan dengan penetapan Bea dan
Cukai yang mengakibatkan kekurangan cukai dan/atau sanksi denda.
8) Gugatan bukan merupakan proses lanjutan dari proses keberatan. Gugatan
diajukan oleh subyek pajak atas penetapan pajak yang tidak berakibat pada
kekurangan cukai dan/atau sanksi denda. Atas penetapan pejabat bea dan cukai
yang dapat digugat, tidak perlu melewati mekanisme keberatan terlebih dahulu,
tapi dapat langsung diajukan kepada pengadilan pajak.

9.4

Tes Formatif

Sebagai tolak ukur keberhasilan dalam mempelajari materi kegiatan belajar 9, coba
Anda kerjakan soal-soal berikut dengan cara memilih salah satu jawaban yang paling
benar
1.

Pengusaha, pabrik, tempat penyimpanan dapat mengajukan keberatan secara


tertulis ke Direktur Jenderal BC, dengan menyerahkan jaminan sebesar kekurangan
cukai dan/atau denda administrasi yang ditetapkan dalam jangka waktu ...
a. 30 hari sejak tanggal diterimanya surat tagihan
b. 60 hari sejak tanggal ditetapkan surat tagihan
c. 30 hari sejak tanggal ditetapkan surat tagihan
d. 14 hari sejak tanggal diterima surat tagihan

2.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai memutuskan keberatan dalam jangka waktu...
a. 30 hari sejak diterimanya pengajuan keberatan
b. 60 hari sejak diterimanya pengajuankeberatan
c. 90 hari sejak diterimanya pengajuan keberatan
d. 15 hari sejak diterimanya pengajuan keberatan

hal 220

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


3.

Orang yang keberatan atas pencabutan izin bukan atas kemauan sendiri
sebagaimana diatur dalam pasal 14 ayat (4) huruf b s/d i Undang-undang nomor 39
tahun 2007 perubahan atas undang-undang . nomor. 11 tahun 1995 dapat
mengajukan ...
a. keberatan ke Direktur Jenderal Bea dan Cukai
b. keberatan ke Pengadilan Pajak
c. banding ke pengadilan pajak
d. gugatan ke Pengadilan Pajak

4.

Titik berat penyelesaian pelanggaran yang dikenakan sanksi administrasi adalah...


a. penyelesaian denda di muka sidang pengadilan
b. penetapan sanksi oleh seksi pemberantasan penyelundupan
c. penyelesaian berupa denda
d. denda dan sanksi pidana

5.

Orang yang berkeberatan atas putusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai dapat
mengajukan banding ke Pengadilan Pajak dalam jangka waktu....
a. 90 hari sejak keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai
b. 60 hari sejak keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai
c. 30 hari sejak keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai
d. 14 hari sejak keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai

6.

Upaya hukum kepada Pengadilan Pajak yang dilakukan subyek cukai terhadap
putusan pejabat Bea dan Cukai yang mengakibatkan kekurangan cukai dan/atau
sanksi administrasi, disebut...

a. Gugatan
b. Keberatan

c. Banding
d. Kasasi

7.

Pejabat yang diberi kewenangan oleh Direktur Jenderal untuk memutuskan


keberatan cukai di tingkat Kantor Pusat DJBC...
a. Direktur Cukai
b. Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai
c. Kepala Kantor
d. Direktur Teknis Kepabeanan

8.

Jangka waktu bagi Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk memutus pengajuan
keberatan adalah...
a. 30 (tiga puluh) hari
c. 3 (tiga) bulan
b. 60 (enam puluh) hari
d. 1 (satu) bulan

9.

Berkaitan dengan upaya banding yang berkaitan dengan besarnya jumlah Pajak
yang terutang, banding hanya dapat diajukan apabila jumlah yang terutang
dimaksud telah dibayar sebesar...
a. 50% (lima puluh persen)
c. 100% ditambah denda

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 221

Modul Teknis Cukai


b.

100% (seratus persen)


persen)

d.

75%

(tujuh

puluh

lima

10. Atas perkara banding yang dilakukan pencabutan berkas oleh subyek cukai sebelum
dilakukannya sidang maka penyelesaiannya...
a. dikeluarkan penetapan Ketua Pengadilan
b. dikeluarkan putusan Majelis/Hakim Tunggal melalui pemeriksaan
c. dikeluarkan putusan sela Majelis/Hakim Tunggal melalui pemeriksaan
d. semua jawaban salah
11. Jangka waktu untuk mengajukan Gugatan terhadap pelaksanaan penagihan Pajak
adalah...
a. 14 (empat belas) hari
c. 3 (tiga) bulan
b. 60 (enam puluh) hari
d. 1 (satu) bulan
12. Besarnya jaminan yang wajib dipertaruhkan apabila wajib pajak akan melakukan
keberatan atas putusan Pejabat Bea dan Cukai...
a. 50% (lima puluh persen)
c. 100% ditambah denda
b. 100% (seratus persen)
d. 75% (tujuh puluh lima
persen)
13. Berikut ini adalah jenis keputusan di bidang cukai yang dapat diajukan gugatan,
kecuali...

a. Pencabutan izin NPPBKC akibat persyaratan perizinan tidak lagi dipenuhi


b. Pencabutan izin NPPBKC akibat pemegang izin tidak lagi secara sah mewakili
badan hukum atau orang pribadi yang berkedudukan di luar Indonesia
c. Pencabutan izin NPPBKC akibat pemegang izin dinyatakan pailit
d. Pembekuan izin NPPBKC akibat pemegang izin berada dalam pengawasan
kurator sehubungan dengan utangnya
14. Salah satu Perbedaan antara banding dan gugatan adalah...
a. Upaya banding dilakukan setelah pengajuan keberatan, sedangkan gugatan
langsung diajukan ke pengadilan pajak
b. Upaya banding langsung diajukan ke pengadilan pajak, sedangkan gugatan harus
melalui tahap keberatan
c. Upaya banding dilakukan setelah gugatan
d. Semua jawaban salah
15. Berkaitan dengan upaya banding atau gugatan, maka terhadap penagihan cukai yang
dilakukan oleh DJBC...
a. Tagihan cukai menunggu proses [pengadilan
b. Tagihan cukai tetap dilakukan tanpa perlu menunggu proses pengadilan
c. Tagihan cukai diselesaikan berdasarkan keputusan pengadilan
d. Tagihan cukai dimohonkan kepada haim untuk ditunda eksekusinya

hal 222

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

9.5 Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah disediakan.
Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakan rumus untuk mengetahui
tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini. Perhatikan dan
cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci
dibawah rumus.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100%


Jumlah keseluruhan Soal
Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai:

91 %

s.d

100 %

Sangat Baik

81 %

s.d.

90,00 %

Baik

71 %

s.d.

80,99 %

Cukup

61 %

s.d.

70,99 %

Kurang

0%

s.d.

60 %

Sangat Kurang

Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih, maka Anda telah
menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik. Untuk selanjutnya Anda dapat
melanjutkan mengerjakan soal latihan sumatif.

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 223

Modul Teknis Cukai

PENUTUP

Bila kita merefleksikan kembali tugas pokok yang harus diemban DJBC berkaitan
dengan penerimaan bea masuk dan cukai, maka hendaknya kita menyadari bahwa
kedua penerimaan tersebut memiliki arti yang strategis terhadap penerimaan pajak
secara keseluruhan. Sebagai aparatur DJBC anda dituntut untuk memiliki pengetahuan
dan ketrampilan yang seimbang baik dari sisi kepabeanan maupun cukai. Anda tidak
dapat menganggap bahwa pengetahuan cukai tidak perlu dikuasai secara serius dan
berasumsi bahwa anda tidak akan pernah terlibat dengan kegiatan administrasi cukai.
Suatu saat anda dapat ditempatkan di unit-unit cukai dan tentunya membutuhkan
pengetahuan dan ketrampilan teknis cukai.
Tanpa usaha yang sungguh-sungguh dan tekad yang kuat, saya yakin anda akan
sulit memahami dan memiliki ketrampilan teknis cukai dengan baik. Kata kunci yang
dapat saya berikan sebagai tips untuk memahami pelajaran teknis cukai secara efektif
adalah belajar secara menyeluruh. Jangan anda belajar hanya untuk keperluan praktis
saja, tapi pelajari secara menyeluruh konsep-konsep yang ada. Dengan mempelajarai
modul teknis cukai ini diharapkan pembaca mendapatkan gambaran yang utuh
mengenai kegiatan-kegiatan yang ada di bidang cukai. Gambaran dan pemahaman yang
tepat mengenai tatalaksana teknis cukai

akan membawa anda menjadi seorang

pelaksana pemeriksa yang profesional dan berkompeten dalam ruang lingkup tugas di
bidang cukai.
Akhirnya semoga modul ini bermanfaat khususnya bagi peserta Diklat Teknis
Dasar Kepabeanan dan Cukai dan umumnya bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai di seluruh Indonesia. Ingatlah bahwa keberhasilan orang-orang hebat di bidang
apapun bukan semata-mata merupakan anugerah dari yang Maka Kuasa saja, namun
sukses dan kompetensi dibangun dari kemauan untuk belajar sepanjang masa, Longlife
Learning.

hal 224

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

TES SUMATIF

Setelah Anda mempelajari keseluruhan isi modul Teknis Cukai ini, selanjutnya untuk
menguji hasil belajar Anda secara keseluruhan, coba Anda kerjakan tes sumatif berikut
ini, dengan cara memberikan tanda silang (X) pada jawaban yang Anda anggap benar.
1.

Pabrik BKC adalah tempat untuk ...


a.
b.
c.
d.

menghasilkan dan/atau mengemas hasil tembakau


menghasilkan dan/atau mengemas BKC untuk penjualan eceran
mengemas dan melekatrkan pita cukai BKC MMEA
menghasilkan BKC berupa MMEA dan Hasil Tembakau

2.

Tempat Penyimpanan adalah tempat untuk ...


a. menyimpan BKC berupa etil alkohol yang cukainya telah lunas
b. menyimpan BKC berupa etil alkohol yang masih terutang cukai
c. menyimpan BKC berupa etil alkohol dan MMEA yang masih terutang cukai
d. menyimpan BKC berupa etil alkohol etil alkohol, MMEA dan Hasil Tembakau
yang masih terutang cukai.

3.

Berikut ini adalan subyek yang wajib untuk memiliki NPPBKC, kecuali :
a. Pengusaha Pabrik BKC
c. Penyalur Hasil Tembakau
b. Importir BKC
d. Pengusaha TPE etil alkohol

4.

Menurut Undang-undang No.11 Tahun 1195 jo Undang-undang No. 39 Tahun 2007


tentang Cukai, tarif cukai terdiri dari
a. Tarif Spesifik
c. Tarif Advalorum
b. Gabungan antara keduanya
d. Pernyataan a, b dan c benar

5.

Salah satu ciri dan keuntungan dari penerapan sistem tarif cukai advalorum

6.

a.

Sulit mengikuti perkembangan harga pasar

b.

Mudah mengikuti perkembangan harga pasar

c.

Sangat mudah pengawasan di lapangan

d.

Menguntungkan pengusaha

Pencacahan etil alkohol adalah kegiatan yang dilakukan oleh pejabat Bea dan cukai
untuk mengetahui:
a. jumlah dan jenis BKC

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 225

Modul Teknis Cukai


b.
c.
d.

jumlah, jenis dan keadaan BKC


jumlah, mutu dan kedaan BKC
jumlah, jenis, mutu dan keadaan BKC

7.

Dalam hal izin NPPBKC pabrik atau tempat penyimpanan dicabut, tindakan yang
harus segera dilakukan terhadap BKC yang belum dilunasi cukainya yang masih
berada di dalam pabrik/tempat penyimpanan tersebut :
a. Harus dilunasi cukainya dan dikeluarkan pada hari yang sama dengan
keputusan NPPBKC
b. Harus dilunasi cukainya dan dikeluarkan dalam waktu paling lama keesokan
harinya dari tanggal keputusan NPPBKC
c. Harus dilunasi cukainya dan dikeluarkan paling lama 30 hari sejak diterimanya
keputusan NPPBKC
d. Harus dilunasi cukainya dan dikeluarkan paling lama 15 hari sejak tanggal
keputusan NPPBKC

8.

Potongan yang diberikan kepada pengusaha pabrik MMEA sebanyak-banyaknya :


a. (setengah) % dari jumlah pemasukan dan produksi selama bulan pencacahan
b. (setengah) % dari jumlah saldo yang ada pada pencacahan terakhir
c. (setengan) % dari jumlah selisih antara jumlah hasil pencacahan sebelum
pemuatan ke kapal, dengan jumlah hasil pencacahan sesudah pemuatan ke
kapal.
d. Tidak diberikan potongan

9.

Dasar penetapan tarif cukai hasil tembakau buatan Dalam Negeri berdasarkan PMK
nomor 181/PMK.011/2009 adalah :
a. Golongan pengusaha pabrik
c. Harga jual pabrik
b. Batasan harga jual eceran per batang atau gram
d. Pilihan a dan b,
benar

10. Untuk merusak etil alkohol sebanyak 160 liter, kadar 96 %, bahan perusak yang
dibutuhkan sejumlah:
a. 5,38 liter
c. 2,8 liter
b. 3 liter
d. 3,3 liter
11. Untuk penggolongan dalam batasan harga jual eceran per kemasan, hasil akhir
perhitungan HJE per kemasan dilakukan pembulatan :
a. Ke atas dalam kelipatan Rp.25,00
b. Ke bawah dalam kelipatan Rp. 25,00
c. Ke atas dalam kelipatan Rp. 1,00
d. Ke bawah dalam kelipatan Rp. 1,00
12. Kewajiban Direktur Cukai untuk memberitahukan kepada pengusaha pabrik agar
segera menyesuaikan HJE dan tarif cukai yang berlaku atas suatu merek Hasil
tembakau, dilakukan atas kondisi-kondisi sebagai berikut :

hal 226

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


a.
b.

c.
d.

Dalam hal harga transaksi pasar telah melampaui batasan HJE per batang atau
gram diatasnya
Dalam hal harga transaksi pasar berada pada posisi batasan HJE atau gram
tertinggi pada masing-masing jenis HT dan telah melampaui 5% dari HJE yang
berlaku
Dalam hal harga transaksi pasar telah melampaui batasan HJE per kemasan
diatasnya
Jawaban a dan b, benar

13. Dokumen pengeluaran atas etil alkohol yang dirusak menjadi spiritus bakar adalah:
a. CK-9
c. CK-12
b. CK-10
d. CK-5
14. Penyediaan pita cukai HT untuk pengusaha pabrik disediakan di Kantor Pelayanan
terhadap :
a. Pabrik dengan total produksi masing-masing jenis HT dalam 1 (satu) tahun
takwim sebelumnya sampai dengan 100 juta batang dan/atau gram
b. Pabrik dengan total produksi semua jenis HT dalam 1 (satu) tahun takwim
sebelumnya sampai dengan 100 juta batang dan/atau gram
c. Pabrik dengan total produksi masing-masing jenis HT dalam 1 (satu) tahun
takwim sebelumnya sampai dengan 500 juta batang dan/atau gram
d. Pabrik dengan total produksi semua jenis HT dalam 1 (satu) tahun takwim
sebelumnya sampai dengan 500 juta batang dan/atau gram
15. Jumlah spiritus bakar yang dihasilkan dari pencampuran sebanyak 1000 liter etil
alkohol kadar 95% adalah sebanyak ?
a. 1.033,25 liter
c. 133,25 liter
b. 5.033,15 liter
d. Semua jawaban salah
16. Terhadap pita cukai yang telah disediakan berdasarkan P3C akan dikenakan biaya
pengganti pita cukai apabila:
a. Pita cukai tersebut tidak direalisasikan seluruhnya dengan CK-1 oleh karena
adanya kebijakan kenaikan HJE oleh pemerintah
b. Pita cukai tersebut tidak direalisasikan seluruhnya dengan CK-1 oleh karena
adanya kesalahan administratif oleh pejabat bea dan cukai
c. Pita cukai tersebut tidak direalisasikan seluruhnya dengan CK-1 oleh karena
adanya kesalahan perhitungan administratif oleh pengusaha yang
bersangkutan
d. Jawaban a dan b, benar
17. Pada akhir masa pelekatan pita cukai edisi tahun 2009, diketahui bahwa PT. DEF
sebagai pabrikan HT jenis SKM Golongan II, masih memiliki stock persediaan pita
cukai seri II sebanyak 500 lembar. Apabila PT DEF ingin mengajukan pengembalian

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 227

Modul Teknis Cukai


cukai, berapa biaya pengganti yang harus dikenakan terhadap sisa pita cukai
tersebut ?
a. Rp. 1.000.000,c. Rp. 1.120.000,b. Rp. 1.500.000,d. Rp. 1.150.000,18. Berikut ini adalah kategori fasilitas tidak dipungut cukai,kecuali
a. BKC yang diekspor
b. TIS dan MMEA yang dibuat secara tradisional, sepanjang memenuhi
persyaratan tertentu
c. BKC yang digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong produk akhir
non BKC
d. BKC yang musnah atau rusak sebelum dikeluarkan dari pabrik
19. Batasan jumlah BKC yang dibebaskan atas konsumsi oleh Pejabat Perwakilan
Negara Asing adalah...
a. 50 ltr MMEA, 300 btg sigaret, 100 btg cerutu, dan 500 gram TIS
b. Berdasarkan asas timbal balik
c. 10 ltr MMEA, 100 btg sigaret, 50 btg cerutu, dan 100 gram TIS
d. Jawaban a dan c benar
20. Pabrik HT PT. Gunung Garam memproduksi dua jenis HT yaitu jenis SKT dan jenis
SKM dengan total produksi dalam 1 (satu) tahun 2008 adalah sebagai berikut: Jenis
SKT sebanyak 500 juta batang dan Jenis SKM sebanyak 1,9 milyar batang .
Berdasarkan data tersebut, penggolongan PT Gunung Garam untuk tahun 2009
adalah...
a. Golongan I untuk semua jenis HT
b. Golongan II untuk SKT dan Golongan I untuk SKM
c. Golongan III untuk jenis SKT dan Golongan II untuk jenis SKM
d. Golongan II untuk semua jenis HT
21. Data CK-1 atas PT XX pada bulan Februari = 750 lbr, Maret = 500 lbr, April = 1.000
lbr, dan Mei=600 lbr, Juni = belum ada (bulan Juni baru sampai tanggal 10). Maka
pengajuan P3C PT XX untuk kebutuhan bulan Juli adalah :
a. 700 lembar
c. 530 lembar
b. 1.400 lembar
d. 500 lembar
22. Berapa nilai Cukai yg harus Dibayar Untuk MMEA lokal berupa : 1.000 krat @ 12
Botol Bir, Kadar 3%, isi per botol @ 1,5 liter ...
a. Rp. 145 juta
c. Rp. 198 juta
b. Rp. 90 juta
d. Rp. 150 juta

hal 228

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


23. Berikut ini adalah batasan kewenangan pemberian izin pemusnahan atau
pengolahan kembali oleh pejabat...
a. Kepala KPPBC Tipe A1 ke bawah yang mengawasi pabrik, dalam hal nilai cukai
yang dimintakan pengembalian tidak melebihi Rp. 100.000.000,- (seratus juta
rupiah);
b. Kepala KPPPBC Tipe Madya, dalam hal nilai cukai yang dimintakan pengembalian
tidak melebihi Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
c. Kepala Kantor wilayah atau Kepala KPU Bea dan Cukai dalam hal nilai cukai
melebihi batasan poin a dan b diata
d. Semua jawaban benar
24. Orang yang keberatan atas pencabutan izin bukan atas kemauan sendiri
sebagaimana diatur dalam pasal 14 ayat (4) huruf b s/d i Undang-undang nomor 39
tahun 2007 perubahan atas undang-undang . nomor. 11 tahun 1995 dapat
mengajukan ...
a. keberatan ke Direktur Jenderal Bea dan Cukai
b. keberatan ke Pengadilan Pajak
c. banding ke pengadilan pajak
d. gugatan ke Pengadilan Pajak
25. Jangka waktu bagi Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk memutus pengajuan
keberatan adalah...
a. 30 (tiga puluh) hari
c. 3 (tiga) bulan
b. 60 (enam puluh) hari
d. 1 (satu) bulan

Raihlah ketinggian, karena bintang-bintang tersembunyi


dalam jiwamu. Bermimpilah dalam-dalam, karena setiap
impian mengawali tujuan"
~ Pamela Vaull Starr ~

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 229

Modul Teknis Cukai

KUNCI JAWABAN

TES FORMATIF DAN SUMATIF

KB-1

KB-2

KB-3

KB-4

KB-5

KB-6

1.

1.

1.

1.

1.

1.

2.

2.

2.

2.

2.

2.

3.

3.

3.

3.

3.

3.

4.

4.

4.

4.

4.

4.

5.

5.

5.

5.

5.

5.

6.

6.

6.

6.

6.

6.

7.

7.

7.

7.

7.

7.

8.

8.

8.

8.

8.

8.

9.

9.

9.

9.

9.

9.

10. c

10. b

10. c

10. b

10. c

10. c

11. c

11. d

11. d

11. d

11. b

11. d

12. b

12. b

12. a

12. b

12. a

12. a

13. c

13. c

13. b

13. a

13. c

13. a

14. b

14. d

14. b

14. a

14. b

14. d

15. c

15. d

15. d

15. c

15. b

15. b

hal 230

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai

KB-7

KB-8

KB-9

TES SUMATIF

1. a

1. d

1. a

1. b

16. c

2. b

2. a

2. b

2. b

17. c

3. d

3. d

3. d

3. c

18. c

4. d

4. a

4. c

4. d

19. b

5. b

5. c

5. b

5. b

20. c

6. a

6. c

6. c

6. d

21. a

7. a

7. c

7. b

7. c

22. c

8. c

8. b

8. b

8. d

23. d

9. a

9. a

9. a

9. b

24. d

10. d

10. b

10. a

10. a

25. b

11. c

11. c

11. a

11. a

12. a

12. a

12. b

12. d

13. a

13. c

13. d

13. d

14. a

14. d

14. a

14. b

15. b

15. a

15. b

15. a

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 231

Modul Teknis Cukai

Lampiran 1
Tarif dan Harga Jual Eceran Minimum
Hasil Tembakau Yang Diimpor

No.

Jenis Hasil Tembakau

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

SKM
SPM
SKT atau SPT
SKTF atau SPTF
TIS
KLB
KLM
CRT
HPTL

Batasan HJE terendah per


batang atau gram
Rp.661
Rp.601
Rp.591
Rp.661
Rp.251
Rp.251
Rp.180
Rp.100.000
Rp.275

Tarif cukai per


batang atau gram
Rp.310
Rp.310
Rp.215
Rp.310
Rp.21
Rp.25
Rp.17
Rp.100.000
Rp.100

Sumber: PMK Nomor 181/PMK.011/2009

hal 232

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Lampiran 2
Permohonan Penyediaan Pita Cukai (P3C)

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 233

Modul Teknis Cukai


Lampiran 3
PermohonanPemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau (CK-1)

hal 234

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Lampiran 4
Permohonan Pemesanan Pita Cukai MMEA

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 235

Modul Teknis Cukai

Lampiran 5
Berita Acara Perusakan Etil Alkohol Menjadi Spiritus Bakar

hal 236

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Lampiran 6
Pemberitahuan Rencana Produksi BKC

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 237

Modul Teknis Cukai

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan artikel :


Cnossen, Sijbren. 2005. Theory and Practice of Excise Taxation: Smoking, Dringing,
Gambling, Polluting and Driving, New York: Oxford University Press-USA.
Marks, Stephen V. 2003. Cigarette Excise Taxation in Indonesia : An Economic Analysis.
Technical Report (Juli 2003).
Soemitro, Rochmat. 1990. Asas dan Dasar Perpajakan, Eresco, Bandung,

Peraturan:
Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai
dengaan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007

sebagaimana telah diubah

Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak


Peraturan Menteri Keuangan Nomor 200/PMK.04/2008 tentang Tata Cara Pemberian,
Pembekuan, dan Pencabutan NPPBKC untuk Pengusaha Pabrik dan Importir Hasil
Tembakau ;
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 201/PMK.04/2008 tentang Tata Cara Pemberian,
Pembekuan, dan Pencabutan NPPBKC untuk Pengusaha Pabrik , Importir, Penyalur
dan Pengusaha tempat Penjalan Eceran MMEA ;
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 202/PMK.04/2008 tentang Tata Cara Pemberian,
Pembekuan, dan Pencabutan NPPBKC untuk Pengusaha Pabrik, Pengusaha
Tempat Penyimpanan, Importir dan Pengusaha Tempat Penjualan Eceran Etil
Alkohol.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil
Tembakau
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 89/PMK.04/2006 tentang Tarif Cukai Etil Alkohol
atau Etanol
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 90/PMK.04/2006 tentang Penetapan Tarif Cukai
Minuman dan Konsentray yang Mengandung Etil Alkohol

hal 238

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

Modul Teknis Cukai


Peraturan Menteri Keuangan Nomor 116/PMK.04/2008 tentang Tatacara Pengangsuran
Pembayaran Tagihan Utang Cukai Yang Tidak Dibayar Pada Waktunya,
Kekurangan Cukai, dan/atau Sanksi Administrasi Berupa Denda di Bidang Cukai
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 108/PMK.04/2008 tentang Pelunasan Cukai
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 157/PMK.04/2009 tentang Perubahan Kedua atas
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 108/PMK.04/2008 tentang Pelunasan Cukai
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 109/PMK.04/2008
Penyelenggaraan Pembukuan di bidang Cukai

tentang

Pedoman

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.04/2008 tentang Kewajiban Pencatatan


Bagi Pengusaha Pabrik Skala Kecil, Penyalur Skala Kecil Yang Wajib Memiliki Izin,
Dan Pengusaha Tempat Penjualan Eceran Yang Wajib Memiliki Izin.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112/PMK.04/2008 tentang Penyelenggaraan Buku
Rekening Barang Kena Cukai dan Buku Rekening Kredit\
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 115/PMK.04/2008 tentang Pencacahan dan
Potongan Atas Etil Alkohol dan Minuman Yang Mengandung Etil Alkohol
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 235/PMK.04/2009 tentang Penimbunan,
Pemasukan, Pengeluaran, dan Pengangkutan Barang Kena Cukai
Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor P-19/BC/2008 tanggal 26 September
2008 tentang Pengembalian atas BKC yang Diolah Kembali atau Dimusnahkan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 89/PMK.04/2007 tentang Impor Barang Pribadi
Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Pelintas Batas dan Barang Kiriman
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 237/PMK.04/2009 tentang Tidak Dipungut Cukai
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 47/PMK.04/2007 tentang Pembebasan Cukai atas
Barang Kena Cukai.
Peraturan DJBC Nomor P-14/BC/2007 tentang Tata Cara Pencampuran dan Perusakan
Etil Alkohol yang Mendapat Pembebasan Cukai.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 69/PMK.04/2009 tentang Penundaan Pembayaran
Cukai untuk Pengusaha Pabrik atau Importir Barang Kena Cukai yang
Melaksanakan Pelunasan Dengan Cara Pelekatan Pita Cukai
Peraturan Menteri Keuangan nomor 70/PMK.04/2009, tentang Pembayaran Cukai
Secara Berkala untuk Pengusaha Pabrik yang Melaksanakan Pelunasan dengan
Cara Pembayaran
Peraturan Menteri Keuangan nomor 114/PMK.04/2008 tanggal 15 Agustus 2008 tentang
Keberatan di Bidang Cukai

DTSD Kepabeanan dan Cukai Pusdiklat Bea dan Cukai

hal 239

Anda mungkin juga menyukai