Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH BIOMEDIK KEPERAWATAN

SEMESTER GASAL TAHUN AKADEMIK 2016/2017

TERMODINAMIKA DALAM KEPERAWATAN

Oleh
Kelompok 4
Jenny Amalina Ahli Rahman
Fahmadini Rozana Prahastiwi
Mohammad Fariyadid Taufiq
Fahmi Essa Syafriansyah

162310101262
162310101253
162310101293
162310101232

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2016

PRAKATA

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat
dan perlindungan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang
berjudul TERMODINAMIKA DALAM KEPERAWATAN tanpa suatu halangan
apapun. Atas dukungan moral dan ilmu yang diberikan dalam penyusunan makalah
ini, maka penulis banyak mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Jon Havan Sutawardana, S.kep, Ns., M.kep, selaku dosen pengajar mata
kuliah biomedik keperawatan
2. Semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik yang membangun
dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca.

Jember, 04 Oktober 2016

Penulis

ii

DAFTAR ISI
Prakata..................................................................................................................... ii
Daftar isi.................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................. 1
1.3 Tujuan................................................................................................................ 1
1.4 Manfaat.............................................................................................................. 1
BAB II ISI
2.1 Landasan Teori.................................................................................................. 2
2.2 Klasifikasi Sistem Termodinamika.................................................................... 2
2.3 Teori Hukum Termodinamika........................................................................... 3
2.4 Transfer Panas................................................................................................... 9
2.5 Efek Panas......................................................................................................... 10
2.6 Penggunaan Energi Panas Dalam Kesehatan ................................................... 10
2.7 Penggunaan Energi Dingin Dalam Kesehatan.................................................. 11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan........................................................................................................ 12
3.2 Saran.................................................................................................................. 12
Daftar Pustaka......................................................................................................... 13

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam era serba teknologi saat ini, kemajuan bidang pendidikan juga tidak
kalah pesatnya dengan kemajuan teknologi. Kemajuan yang dicapai oleh umat
manusia, khususnya dalam bidang pendidikan ilmu keperawatan membuktikan
bahwa kemajuan iptek sangatlah pesat dari hari ke hari. Hal ini dibuktikan dari
semua teknologi yang digunakan untuk melakukan perawatan maupun operasi
kepada pasien di rumah sakit maupun instansi kesehatan lainnya. Salah satu ilmu
yang digunakan dalam penerapan teknologi dalam ilmu keperawatan yakni
termodinamika yang akan kita ulas pada tulisan karya ilmiah ini beserta contohcontoh implementasinya. Termodinamika memainkan peran penting dalam
analisis sistem dan piranti yang ada didalamnya terjadi perpindahan formasi
energi. Implikasi termodinamika bercakupan jauh, dan penerapannya
membentang keseluruh kegiatan manusia. Bersamaan dengan sejarah teknologi
kita, perkembangan sains telah memperkaya kemampuan kita untuk
memanfaatkan energi dan menggunakan energi tersebut untuk kebutuhan
masyarakat khususnya dalam bidang keperawatan.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana hukum termodinaminaka dapat menjelaskan hubungan dengan
ilmu keperawatan?
1.3 TUJUAN
1. Mengenal dan memahami penerapan teknologi dalam dunia keperawatan
2. Memahami hukum-hukum yang digunakan pada implementasi biomedik
keperawatan khususnya tentang termodinamika
1.4 MANFAAT
1. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca
2. Lebih luas lagi pemikiran tentang teknologi yang berkembang dalam ilmu
keperawatan

iv

BAB II
ISI
2.1 LANDASAN TEORI
Termodinamika berasal dari bahasa Yunani dimana Thermos yang artinya
panas dan Dynamic yang artinya perubahan. Termodinamika merupakan ilmu
yang menggambarkan usaha untuk mengubah kalor (perpindahan energi yang
disebabkan perubahan suhu) menjadi energi serta sifat-sifat pendukungnya antara
sistem dan lingkungan. Kalor diartikan sebagai perpindahan energi yang
disebabkan oleh perbedaan suhu, sedangkan usaha merupakan perubahan energi
melalui cara-cara mekanis yang tidak disebabkan oleh perubahan suhu. Aplikasi
dan penerapan termodinamika dapat terjadi pada tubuh manusia. Prinsip
termodinamika sebenarnya adalah hal alami yang terjadi dalam kehidupan seharihari. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, termodinamika
direkayasa sedemikian rupa sehingga menjadi bentuk mekanisme yang dapat
membantu manusia dalam kegiatannya khususnya dalam bidang ilmu
keperawatan. Pengembangan ilmu termodinamika dimulai dengan pendekatan
makroskopik yaitu perilaku umum partikel zat yang menjadi media pembawa
energi.
2.2 KLASIFIKASI SISTEM TERMODINAMIKA
Dalam termodinamika dikenal istilah sistem dan lingkungan. Sistem adalah
benda atau sekumpulan apa saja yang akan diteliti atau diamati dan menjadi pusat
perhatian. Sedangkan lingkungan adalah benda-benda yang berada diluar dari
sistem tersebut. Sistem bersama dengan lingkungannya disebut dengan semesta
atau universal. Batas adalah perantara dari sistem dan lingkungan. Ada tiga jenis
sistem berdasarkan jenis pertukaran yang terjadi antara sistem dan
lingkungannya, yaitu :
1)
Sistem terbuka
Sistem yang mengakibatkan terjadinya pertukaran energi (panas dan
kerja) dan benda (materi) dengan lingkungannya. Sistem terbuka ini meliputi
peralatan yang melibatkan adanya aliran massa kedalam atau keluar sistem.
Pada sistem terbuka ini, baik massa maupun energi dapat melintasi batas
sistem yang bersifat permeabel. Dengan demikian, pada sistem ini volume
dari sistem tidak berubah sehingga disebut juga dengan kontrol volume.
Perjanjian yang digunakan untuk menganalisis sistem adalah

Untuk panas (Q) bernilai positif bila diberikan kepada sistem dan

bernilai negatif bila keluar dari system


Untuk usaha (W) bernilai positif apabila keluar dari sistem dan bernilai
negatif bila diberikan (masuk) kedalam sistem.
2)
Sistem tertutup
Sistem yang mengakibatkan terjadinya pertukaran energi (panas dan
kerja) tetapi tidak terjadi pertukaran zat dengan lingkungan. Sistem tertutup
terdiri atas suatu jumlah massa yang tertentu dimana massa ini tidak dapat
melintasi lapis batas sistem. Tetapi, energi baik dalam bentuk panas (heat)
maupun usaha (work) dapat melintasi lapis batas sistem tersebut.

3)

Pembatas adiabatik: tidak memperbolehkan pertukaran panas.


Pembatas rigid: tidak memperbolehkan pertukaran kerja
Sistem terisolasi
Sistem yang mengakibatkan tidak terjadinya pertukaran panas, zat atau
kerja dengan lingkungannya. Suatu sistem yang tidak mengalami perubahan
keadaan disebut sistem dalam keadaan seimbang (equilibrium).

2.2 TEORI HUKUM TERMODINAMIKA


Hukum-hukum termodinamika pada dasarnya berlaku untuk sistem tertutup,
yakni sistem-sistem yang tak berhubungan dengan dunia luar. Proses perpindahan
energi pada termodinamika berdasarkan atas empat hukum yakni:

Hukum Awal (Zeroth Law) Termodinamika


Dua sistem dalam keadaan setimbang dengan sistem ketiga, maka
ketiganya saling setimbang satu dengan lainnya.
Dalam kehidupan sehari-hari hukum nol termodinamika digunakan seperti
pada pengukuran temperatur. Jika kita ingin mengetahui apakah dua benda
memiliki temperatur yang sama, maka kedua benda tersebut tidak perlu
disentuhkan dan diamati perubahan sifatnya. Yang perlu dilakukan adalah
mengamati apakah kedua benda tersebut mengalami kesetimbangan termal
dengan benda ketiga. Benda ketiga tersebut adalah termometer. Biasanya yang
digunakan dalam termometer adalah benda yang mempunyai sifat termometrik
yaitu benda apapun yang memiliki sedikitnya satu sifat yang berubah terhadap
perubahan temperatur. Ada beberapa variasi termometer, yakni :

1. Termometer maximum (air raksa)

Termometer air raksa ini memiliki pipa kapiler kecil (pembuluh) didekat
tempat/ tabung air raksanya, sehingga air raksa hanya bisa naik bila suhu udara
meningkat, tapi tidak dapat turun saat suhu udara mendingin. Untuk
mengembalikan air raksa ke tempat semula, termometer ini harus dihentakkan
berkali-kali atau diarahkan dengan menggunakan magnet.
2. Termometer minimum (alkohol)

Termometer minimum biasanya menggunakan alkohol untuk pendeteksi


suhu udara yang terjadi. Hal ini dikarenakan alkohol memiliki titik beku lebih
tinggi dibanding air raksa, sehingga cocok untuk pengukuran suhu minimum.
Prinsip kerja thermometer minimum adalah dengan menggunakan sebuah
penghalang (indeks) pada pipa alkohol. Sehingga apabila suhu menurun akan
menyebabkan indeks ikut tertarik kebawah, namun apabila suhu meningkat maka
indeks akan tetap pada posisi dibawah. Selain itu peletakan thermometer harus
miring sekitar 20-30 derajat, dengan posisi tabung alkohol berada dibawah (suhu
minimum). untuk pengembalian indeks ke posisi aktual dapat dilakukan dengan
memiringkan/ membalikkan posisi thermometer hingga indeks bergerak ke ujung
alkohol (posisi suhu aktual).

3. Termometer tahanan (thermistor thermometer)

Termometer elektronik ini menggunakan thermistor, elemen semi konduktor


ini mempunyai berbagai variasi tahanan terhadap temperatur. Termometer ini
sangat peka, mampu mengukur suhu hingga ketelitian 0,0010C. bila thermistor ini
diletakkan didalam hidung untuk memonitor suhu pernapasan, maka alat ini
disebut pneumograf.
4. Thermometer gas yang bervolume tetap

Termometer yang hampir sempurna adalah termometer gas volume konstan.


Prinsip kerja termometer ini adalah volume gas dijaga agar selalu tetap atau tidak
berubah. Ketika suhu bertambah, tekanan gas juga bertambah. Termometer ini
berisikan gas hidrogen atau helium.
5. Termometer elemen (thermocouple)

Dasar termokopel dalam pengukuran suhu adalah suatu gaya gerak listrik
yang timbul pada hubungan dua logam yang berbeda. Termokopel merupakan
sensor suhu yang banyak digunakan untuk mengubah perbedaan suhu dalam
benda menjadi perubahan tegangan listrik (voltase). Termometer ini dapat
mengukur suhu -1900 sampai 3000C.
6. Pyrometer optik

Pyrometer adalah peragkat tanpa kontak yang memotong dan mengukur


radiasi termal. Prosesnya dikenal sebagai pyrometry. Perangkatnya digunakan
untuk mengukur suhu objek. Pyrometer pada awalnya diciptakan untuk
menunjukkan perangkat yang mampu mengukur suhu benda diatas pijaran yaitu
benda terang oleh mata manusia.
Hukum I Termodinamika
Perubahan energi dalam dari suatu sistem termodinamika tertutup sama
dengan total dari jumlah energi kalor yang disuplai ke dalam sistem dan kerja
yang dilakukan terhadap sistem. Dalam hukum ini juga dinyatakan bahwa
Energi dapat diubah, tetapi tidah dapat diciptakan atau dimusnahkan.
U = Q W
Keterangan :
AU = Perubahan Energi dalam suatu sistem
Q = Kalor yang ditambahkan ke dalam sistem
W = kerja yang dilakukan terhadap sistem
Note :
Pada sistem terisolasi Q = 0 dan W = 0 tidak ada perubahan energi
dalam

Hukum ini membahas tentang jumlah (besaran) energi yang diserap atau
dibebaskan. Terjadi proses istimewa sebagai berikut.
1. proses isotermik (w=0) proses yang terjadi dalam sistem dengan suhu tetap
2. Proses isokhorik (u=0) proses dengan volume tetap
3. Proses isobarik (i=0) proses perubahan gas dengan tekanan tetap
4. Adiabatik (Q=0) proses dimana tidak ada panas yang ditambahkan/dilepaskan
Organisme hidup misalnya manusia, merupakan sistem terbuka yang saling
bertukar materi dan energi dengan lingkungan luar (energi diserap dan
dibebaskan). Meskipun energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, namun
tubuh kita tetap membutuhkan suplai energi baru terus menerus, bukan dengan
mendaur ulang energi yang dimiliki. Karena sistem-sistem yang hidup harus
melakukan kerja (menggunakan energi) agar dapat bertahan hidup. Energi kinetik
panas yang meninggalkan organisme harus digantikan oleh energi potensial dari
molekul-molekul beraturan yang yang diasupkan kedalam tubuh, misalnya
karbohidrat, protein, dan lipid. Jadi dari apa yang kita suplai itulah yang menjadi
energi.
Hukum II Termodinamika
Energi kalor tidak dapat seluruhnya diubah menjadi energi
mekanik
atau usaha, tetapi sebagian akan terbuang. Dalam hukum ini juga dinyatakan
bahwa Total entropi dari suatu sistem termodinamika terisolasi cenderung
untuk meningkat seiring dengan meningkatnya waktu, mendekati nilai
maksimumnya.
Memenuhi Persamaan :

W
X 100%
Q1

Karena W = Q1-Q2, maka :

Q1 Q2
x100%
Q1

Tidak mungkin untuk membuat sebuah mesin kalor yang bekerja dalam
suatu siklus yang semata-mata mengubah energi panas yang diperoleh dari suatu
sumber pada suhu tertentu seluruhnya menjadi energi mekanik. Misalnya
pengaturan temperatur yang berarti mengatur heat loss dan heat production. Hal
ini terjadi pada manusia, dan tidak terjadi pada benda-benda mati karena benda
mati tidak memproduksi panas. Pengaturan suhu tubuh dikendalikan oleh

susunan saraf pusat agar mencapai kesetimbangan termal. Pada kulit terdapat
pengaturan panas dan dingin yaitu korpuskel meissner, free nerve ending, dan
korpuskel ruffini. Reseptor suhu ditemukan pada dermis, otot rangka, hati, dan
hipotalamus. Hipotalamus posterior mengatur suhu dingin yang kritis. Reseptor
dingin tiga sampai empat kali lebih banyak dari reseptor panas. Sensasi suhu
terdapat disepanjang jalur yang sama yang membawa sensasi nyeri.
Tubuh melakukan beberapa upaya sebagai mekanisme aktivitas pada kondisi
dingin, seperti menggigil, lapar, peningkatan aktivitas otot bergaris, peningkatan
sekresi norepinefrin. Aktivitas ini meningkatkan produksi panas. Penyempitan
pembuluh darah kulit, kulit mengkerut. Aktivitas ini menurunkan kehilangan
panas. Tubuh juga melakukan upaya sebagai mekanisme aktivitas pada kondisi
panas, seperti pelebaran pembuluh darah, berkeringat, meningkatkan pernapasan.
Aktivitas ini meningkatkan kehilangan panas. Nafsu makan berkurang, lesu, dan
lembam. Aktivitas ini menurunkan produksi panas.
Topografi temperatur badan dan kulit

Hukum III Termodinamika


Suatu saat sistem akan berada pada suhu nol absolut, proses akan berhenti
dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum.

2.4 TRANSFER PANAS


Fungsi pengaturan suhu terletak pada reaksi biokimia dari organisme itu
sendiri. Energi panas dapat hilang melalui 4 cara berikut ini :
1. Konduksi
Konduksi merupakan pemaparan panas dari suatu objek yang suhunya lebih
tinggi objek lain dengan jalan kontak langsung. Energi kinetis dihantarkan
dari satu molekul ke molekul lain secara bertabrakan sehingga timbul panas.
Kecepatan pemaparan panas secara konduksi tergantung pada besarnya
perbedaan temperatur dan konduktivitas termal dari bahan. Logam merupakan
konduktor yang baik.
Contoh : menimbang bayi pada timbangan yang dingin, bayi tidur di tempat
tidur yang dingin
2. Konveksi
Tranfer panas dari benda yang suhunya lebih tinggi ke udara sekitarnya yang
memiliki suhu lebih rendah. Hal ini terjadi karena masa jenis udara panas
sangat ringan dibandingkan dengan udara dingin. Gaya konveksi dapat terjadi
apabila angin secukupnya mengalir melewati tubuh.
Contoh : aliran udara dari kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi,
membuat tubuh yang tadinya terasa panas menjadi lebih dingin
3. Radiasi
Radiasi merupakan suatu tranfer energi panas dari suatu permukaan objek ke
objek yang lain tanpa mengalami kontak dari kedua objek tersebut. Radiasi
tidak membutuhkan medium untuk mengalirkan kalor karena panas
diradiasikan dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Benda hitam
merupakan penyerap radiasi yang baik (radiator).
Contoh : pancaran sinar matahari ke tubuh kita sehingga tubuh terasa panas.
Bayi kehilangan panas bayi karena suhu di ruangan lebih dingin dari suhu
tubuh bayi
4. Evaporasi
Evaporasi adalah peralihan panas dari bentuk cair menjadi uap. Kehilangan
panas melalui cara ini dapat terjadi apabila; perbedaan tekanan uap air antara
keringat pada kulit dengan udara ambien (udara bebas yang bisa kita hirup),
temperatur lingkungan lebih rendah sehingga dapat menghilangkan panas
tubuh, adanya gerakan angin, adanya kelembapan (jika udara lembab,
evaporasi tidak akan terjadi).
Contoh: air ketuban yang melekat pada tubuh bayi akan menguap jika tidak
segera dibersihkan/ dikeringkan sehingga bayi kehilangan panas tubuhnya.
2.5 EFEK PANAS
Energi panas bila mengenai satu bagian tubuh akan menaikkan temperatur daerah

tersebut. Efek panas meliputi fisik, kimia, dan biologi. Efek fisik terjadi bila panas
menyebabkan zat cair, padat, dan gas mengalami pemuaian segala arah. Kecepatan
reaksi kimia akan meningkat dengan peningkatan suhu. Misal, reaksi kimia yang
terjadi didalam tubuh tergantung pada temperatur tubuh hal ini sesuai dengan Hukum
Vantt Hoff. Efek biologi meliputi fenomena reaksi peradangan, atau dilatasi
pembuluh darah.
2.6 PENGGUNAAN ENERGI PANAS DALAM KESEHATAN
Energi panas mula-mula akan menetrasi kedalam jaringan kulit dalam bentuk
berkas cahaya (radiasi atau konduksi), kemudian akan menghilang di daerah jaringan
yang lebih dalam berupa panas.panas tersebut kemudian diangkut ke jaringan lain
dengan cara konveksi yaitu diangkut ke seluruh tubuh melaui cairan tubuh.
a. Metode konduksi
Metode ini didasarkan pada sifat fisik kedua benda. Apabila terdapat
perbedaan temperatur pada kedua benda, maka panas akan ditransfer secara
konduksi, yaitu dari benda yang lebih panas ke benda yang lebih
dingin.pemindahan energi panas total bergantung pada; luas daerah kontak,
perbedaan temperatur, lama melakukan kontak, dan material konduksi panas.
Metode konduksi dapat berupa:
1. Kantong/ botol air panas.
Metode ini efektif untuk mengurangi rasa nyeri abdomen
2. Handuk panas
Digunakan untuk mengalami nyeri otot (spasme otot)
3. Turkish bath (mandi uap)
Metode ini mempunyai efek relaksasi otot
4. Mud packs (lumpur panas)
Lumpur ini dapat mengkonduksi panas kejaringan serta mencegah
kehilangan panas tubuh
5. Wax/ paraffin bath
Metode ini sangat efektif untuk mentransfer panas pada tungkai bawah
terutama pada orangtua
b. Metode radiasi
Metode ini digunakan untuk pemanasan permukaan tubuh yang serupa
dengan pemanasan sinar matahari atau nyala api. Sumber radiasi dapat diperoleh
melalui elektricfire dan inframerah. Sinar inframerah digunakan untuk
mendeteksi masalah sirkulasi darah, radang sendi, kanker, menyembuhkan
penyakit cacar dan encok.
c. Metode elektromagnetis
1. Shortwave dhiathermy (diatermi gelombang pendek)
Metode ini terdiri dari teknik kondensor (bagian tubuh sebelah
diletakkan dua plat metal seperti elektrode) dan induktotermi bagian tubuh

yang akan dipanasi dililitkan kabel kemudian dialiri listrik. Short wave
dhiathermi ini menggunakan menggunakan frekuensi 1 MHz. Metode ini
berguna untuk kram otot, nyeri invertebralis, penyakit degeneratif
persendian, dan bursitis.
2. Micro wave dhiathermy (diatermi gelombang mikro)
Metode microwave dhiatermy termasuk gelombang ossilasi pada
frekuensi sangat tinggi (900 MHz). efektif untuk digunakan patah tulang,
sprains dan strains, bursitis, radang tendon, serta arthritis.
d. Gelombang ultrasonik
Gelombang ultrasonik diperoleh dari gelombang bunyi (audible sound)
dengan frekuensi mendekati 1 MHz. Metode ini efektif digunakan pada tulang
karena tulang dapat menyerap banyak panas. Metode inidapat digunakan untuk
diagnostik kehamilan dan terapi mengobati luka jaringan lunak. Ketika
gelombang ultrasonik lulus dari transuder ke dalam kulit getaran di sekitar
jaringan, terutama yang mengandung kolagen. Getaran yang meningkat ini
menyebabkan produksi panas dalam jaringan. Peningkatan suhu ini dapat
menyebabkan peningkatan Ekstensibilitas struktur seperti ligamen, tendon,
jaringan parut dan kapsul fibrosa sendi pemanasan juga dapat membantu untuk
mengurangi rasa sakit dan kejang otot dan meningkatkan proses penyembuhan.
2.6 PENGGUNAAN ENERGI DINGIN DALAM KESEHATAN
Kriogenik merupakan pengetahuan dan teknologi yang menghasilkan dan
menggunakan suhu yang sangat rendah. temperatur rendah juga bermanfaat yakni
untuk meyimpan darah, sperma, stem sel, bone marrow, jaringan tubuh lainnya, dan
menyimpan obat-obatan. Namun melaui metode ini juga timbul efek patologi pada
jaringan yang terkena temperatur dibawah titik beku.
1. Krioadhesia (menghasilkan adhesi)
2. Krionekrosis (merusak jaringan), melalui pecahnya membran sel, dehidrasi
intraseluler, denaturasi protein, hipometabolisme seluler, iskemik lokal, dan respon
imunologik.
3. Efek homeostasis
4. Efek anastesia

10

BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Termodinamika sangat erat digunakan dalam ilmu kesehatan.
Termodinamika sendiri merupakan ilmu yang menggambarkan usaha untuk
mengubah kalor (perpindahan energi yang disebabkan perubahan suhu) menjadi
energi serta sifat-sifat pendukungnya antara sistem dan lingkungan. Proses
perpindahan energi pada termodinamika berdasarkan atas empat hukum yakni,
Hukum Awal (Zeroth Law) Termodinamika, Hukum I Termodinamika, Hukum II
Termodinamika , Hukum III Termodinamika. Energi panas dapat hilang melalui 4
cara, yaitu konduksi, konveksi, radiasi, evaporasi. Termodinamika sangat erat
digunakan dalam ilmu kesehatan

3.2 SARAN
Demikian apa yang dapat kami sampaikan, mungkin makalah ini belum
sempurna. Maka dari itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca agar lebih baik dimasa yang akan datang.

11

DAFTAR PUSTAKA
http://dokumen.tips/download/link/ap-hubungan-termodinamika-dengan-ilmukeperawatan
Fried, George H. Ph.D dan Hademeno, George J. Ph.D., 2006, Schaums Outlines
Biologi/ Ed. Kedua/ translation copyright, Jakarta: Penerbit Erlangga:
https://books.google.co.id/books
http://slide.share/termodinamika/linkedin/modul-pendidikan-jarak-jauh-pendidikantinggi- kesehatan

12