Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PNDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tumor padat malignan harus dipikirkan pada setiap anak apabila pada
pemeriksaan fisik ditemukannya masa intra abdomen. Usia anak dapat memberikan
petunjuk diagnosis yang penting. Pada masa neonatal umumnya tumor berasal dari
ginjal yaitu tumor Wilms atau neuroblastoma sementara pada anak yang lebih besar
masa abdomen pada umumnya berhubungan dengan leukemia dan limfoma yang
disertai dengan perbesaran hati dan limpa.
Neuroblastoma, merupakan neoplasma yang berasal dari sel embrional neural dan
salah satu tumor padat tersering yang dijumpai pada anak. Rata-rata terdapat 8 kasus
baru per tahun pada anak di bawah usia 16 tahun dengan rata-rata usia tersering sekitar
2 tahun. Neuroblastoma paling sering berasal dari kelenjar supra renal, tetapi dapat juga
dijumpai disepanjang jalur saraf simpatis.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan tumor Wilms?
2. Apa saja penyebab dari tumor Wilms?
3. Bagaimana tanda dan gejala dari tumor Wilms?
4. Apa saja komplikasi dari tumor Wilms?
5. Bagaimana penatalaksanaan pada tumor Wilms?
6. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan tumor Wilms?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan tumor Wilms?
2. Untuk mengetahui apa saja penyebab dari tumor Wilms?
3. Untuk mengetahui bagaimana tanda dan gejala dari tumor Wilms?
4. Untuk mengetahui apa saja komplikasi dari tumor Wilms?
5. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan pada tumor Wilms?
6. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan tumor
Wilms?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
1 | Tu m o r W i l m s

Tumor Wilms atau dikenal pula dengan istilah nefroblastoma merupakan tumor
ginjal primer tersering yang terjadi pada masa kanak-kanak, dan termasuk tumor ganas
retroperitoneal. Tumor Wilms merupakan neoplasma embrional yang tersusun atas tiga
elemen: blastema, epitel, dan stroma. Ginjal yang terkena biasanya unilateral tapi bisa
bilateral (5%). Nama Wilms diambil dari penemunya yaitu Dr. Max Wilms pada tahun
1899.
Tumor Wilms (Nefroblastoma) adalah tumor ginjal yang tumbuh dari sel
embrional primitive di ginjal. Tumor Wilms biasanya ditemukan pada anak-anak yang
berumur kurang dari 5 tahun, tetapi kadang juga ditemukan pada anak yang lebih besar
atau orang dewasa.
2.2 Stadium pada Tumor Wilms
The National Wilms Tumor Study (NWTS) membagi lima stadium tumor Wilms, yaitu :
- Stadium I
: tumor terbatas di dalam jaringan ginjal tanpa menembus kapsul.
-

Tumor ini dapat direseksi dengan lengkap.


Stadium II
: tumor menembus kapsul dan meluas masuk ke dalam jaringan ginjal
dan sekitar ginjal yaitu jaringan perirenal, hilus renalis, vena renalis, dan kelenjar

limfe para aorta. Tumor masih dapat direseksi dengan lengkap.


Stadium III : tumor menyebar ke rongga abdomen, misalnya hepar, peritoneum dll.
Stadium IV : tumor menybar secara hematogen ke rongga abdomen, paru-paru,
otak, tulang.
Cara penyebaran tumor wilms yaitu setelah keluar dari kapsul ginjal, tumor akan
mengadakan invasi ke organ disekitarnya dan menyebar secara limfogen melalui
kelenjar limfe para aorta. Penyebaran secara hematogen melalui vena renalis ke vena
kava kemudian mengadakan metastasis ke paru (85%), hati (10%), dan bahkan pada
stadium lanjut menyebar ke ginjal kontralateral.

2.2 Etiologi
Ada 3 hipotesis yang diajukan sebagai etiologi tumor Wilms, yaitu :
a. Tumor Wilms terjadi sporadic, tidak diketahui penyebabnya sebagai kelainan
kongenital yang dihubungkan dengan kelainan metanefrik blastema.
b. Berhubungan dengan sindrom malformasi genetik lainnya seperti BeckwithWiedemann syndrome (gigantisme, hernia umbilikal, hemihipertopi, dan kista
ginjal), WAGR syndrome (anridia, malformasi genitourinaria, dan retardasi mental),
Denys-Drash syndrome (glomerulopati, gagal ginjal, pseudohermaphroditism, dan
disgenesis gonad), mutasi trisomi18, dan Perlmans syndrome.
c. Familial
2 | Tu m o r W i l m s

Tumor Wilms bersifat kongenital. Satu persen dari tumor Wilms ditemukan familial
dan diturunkan secara dominan autosomal.

2.3 Manifestasi Klinis


Gejala klinik yang dapat ditemukan antara lain:
a.Perut membuncit (tumor abdomen): 75%-90%
b. Hematuria (makroskopis) terdapat kira-kira20% kasus, mungkin akibat
infiltrasi tumor ke dalam kaliks.
c.Hipertensi diduga oleh karena penekanan tumor pada arteri renalis sehingga
terjadi iskemia jaringan ginjal atau akibat hipersekresi renin.
d. Anemia dan penurunan berat badan
e.Demam, malaise, muntah-muntah, dan anoreksia
f. Nyeri perut yang bersifat kolik akibat perdarahan sehingga terjadi penggumpalan
darah dalam saluran kencing
Tidak jarang dijumpai bersama kelainan kongenital lainnya, seperti aniridia,

g.

hemihipertrofi, anomali saluran kemih dan retardasi mental.

2.4 Patofisiologi
Tumor ini dalam pertumbuhannya mendesak jaringan ginjal yang sehat di
sekitarnya dan membentuk semacam pseudokapsul sehingga tumor ini mempunyai
batas-batas makroskopis yang jelas yang tertutup oleh jaringan ginjal. Selanjutnya
dalam perkembangannya tumor ini mendesak pseudokapsul tersebut, disusul oleh
infiltrasi ke dalam jaringan ginjal sendiri, kemudian menyebar ke dalam jaringan
perirenal dan mulailah penyebaran atau metastase :
a.Perkontinuitatum: melalui jaringan lemak perirenal lalu ke peritoneum dan organorgan abdomen (ginjal kontralateral, hepar, dll)
Hematogen: terjadi sesudah pertumbuhan tumor ke dalam vasa renalis

b.

kemudian menyebar terutama ke paru-paru (90%) lalu ke otak dan tulang-tulang.


c.Limfogen: penyebaran limfogen ini terjadi pada kelenjar regional sekitar vasa
para-aortal atau dalam mediastinum.
2.5 Penatalaksanaan
3 | Tu m o r W i l m s

Farmakologi
a. Kemoterapi
Tumor Wilms termasuk tumor yang paling peka terhadap obat kemoterapi. Prinsip
dasar kemoterapi adalah suatu cara penggunaan obat sitostatika yang berkhasiat
sitotoksik tinggi terhadap sel ganas dan mempunyai efek samping yang rendah
terhadap sel yang normal.
Ada 5 macam obat sitostatika yang terbukti efektif dalam pengobatan tumor
Wilms, yaitu Aktinomisin D, Vinkristin, Adriamisin, Cisplatin dan Siklofosfamid.
Mekanisme kerja obat tersebut adalah menghambat sintesa DNA sehingga
pembentukan protein tidak terjadi akibat tidak terbentuknya sintesa RNA di

sitoplasma kanker, sehingga pembelahan sel-sel kanker tidak terjadi.


Non Farmakologi
a. Pembedahan
Nefrektomi radikal dilakukan bila tumor belum melewati garis tengah dan belum
menginfiltrasi jaringan lain. Pengeluaran jaringan limfe retroperitoneal total tidak
perlu dilakukan tetapi biopsi kelenjar di daerah hilus dan para aorta sebaiknya
dilakukan. Pada pembedahan perlu diperhatikan ginjal kontralateral karena
kemungkinan lesi bilateral cukup tinggi. Apabila ditemukan penjalaran tumor ke
vena kava, tumor tersebut harus diangkat.
b. Radioterapi
Tumor Wilms dikenal sebagai tumor yang radiosensitive, tapi radioterapi dapat
mengganggu pertumbuhan anak dan menimbulkan penyulit jantung, hati dan paru.
Karena itu radioterapi hanya diberikan pada penderita dengan tumor yang
termasuk golongan patologi prognosis buruk atau stadium III dan IV. Jika ada sisa
tumor pasca bedah juga diberikan radioterapi. Radioterapi dapat juga digunakan

untuk metastase ke paru, otak, hepar serta tulang.


2.6 Komplikasi
a. Fungsi Ginjal
Kejadian gagal ginjal kronis adalah 1% dari seluruh kasus. Dari kasus-kasus gagal
ginjal kronis ini, 70% nya terjadi pada anak-anak dengan tumor Wilms bilateral.
Pada tumor Wilms unilateral, kejadiannya 0,25%. Nefrektomi bilateral merupakan
penyebab utama gagal ginjal kronis, diikuti oleh penyebab-penyebab yang
berhubungan dengan terapi, seperti radiasi atau komplikas-komplikasi operasi.
b. Fungsi Jantung
Penggunaaan obat-obat sitostatika dan karena adanya radiasi pada pasien dengan
tumor Wilms dapat mengakibatkan gagal jantung.
c. Fungsi Hepar

4 | Tu m o r W i l m s

Actinomysin D dan radiasi dapat merusak hepar, yang merupakan sindroma klinis
hepatotoksisitas dan mempunyai gejala berupa icterus, hepatomegaly dengan asites,
dan peningkatan berat badan.
d. Fungsi Gonad
Kemoterapi dapat mengganggu fungsi gonad pada laki-laki tetapi jarang
mengganggu fungsi ovarium. Iradiasi abdomen dapat memicu gagal ovarium jika
ovarium berada dalam daerah target penyinaran.
e. Fungsi musculoskeletal
Gangguan-gangguan skeletal, yang mencakup scoliosis atau kifosis dapat
merupakan akibat dari ketidakseimbangan pertumbuhan pada corpus vertebrae yang
pernah diradiasi secara unilateral.
f. Neoplasma Maligna Sekunder
Dapat merupakan akibat dari radioterapi dan kemoterapi. Oleh karena itu radioterapi
dan kemoterapi harus dibatasi untuk kasus-kasus stadium lanjut saja.
2.7 Pemeriksaan Diagnostik
a. IVP (Intra Vena Pielography)
Dengan pemeriksaan IVP tampak distorsi sistem pielokalises (perubahan bentuk
sistem pielokalises) dan sekaligus pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui
fungsi ginjal.
b. Foto thoraks
Merupakan pemeriksaan untuk mengevaluasi ada tidaknya metastasis ke paruparu.
c. USG (Ultrasonografi)
Merupakan pemeriksaan non invasif yang dapat membedakan tumor solid
dengan tumor yang mengandung cairan. Dengan pemeriksaan USG, tumor
Wilms nampak sebagai tumor padat di daerah ginjal. USG juga dapat digunakan
sebagai pemandu pada biopsi. Pada potongan sagittal USG bagian ginjal yang
terdapat tumor akan tampak mengalami pembesaran.
d. CT-Scan
Memberi beberapa keuntungan dalam mengevaluasi tumor Wilms. Ini mengenai
asal tumor intrarenal, penentuan perluasan tumor, termasuk keterlibatan
pembuluh darah besar dan evaluasi dari ginjal yang lain.
e. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
MRI dapat menunjukkan informasi penting untuk menentukan perluasan tumor
di dalam vena cava inferior termasuk perluasan ke daerah intrakardial.
f. Laboratorium
Pemeriksaan urinalisis dan sitology urin sebaiknya dilakukan untuk menemukan
sisa-sisa sel tumor yang ikut dalam urin. Pemeriksaan ureum kreatinin dilakukan

5 | Tu m o r W i l m s

untuk mengetahui apakah fungsi ginjal masih baik. Pemeriksaan darah lengkap
dapat dilakukan yang mungkin menunjukkan adanya anemia.

2.8 Pathway
Kelainan Genetika

Poliferasi Patologik Blastema

Tubuli dan Glomerulus Janin Tidak


Berdifusi dengan Baik selama Kehamilan

Terdapat Pertumbuhan Sel Embrional


Primitive di Ginjal

Tumor Wilms

Tumor Belum Menembus Kapsul Ginjal

Berdiferensiasi

Tumor Menembus Kapsul Ginjal


(perirenal, hilus, vena renal)

Tindakan Operasi

Krisis Situasional

6 | TPost
u m Op
or Wilms

Ansietas

Terputusnya
Kontinuitas Jaringan

Laserasi

Disfungsi
Ginjal

Nyeri

Nyeri akut

Hemihipertrofi
Resiko Infeksi

Gangguan
Glomerulus

Gangguan
Filtrasi

Gangguan
keseimbangan
asam dan basa

Asidosis
Metabolik

Terdapat massa
pada abdomen

Kekurangan Volume
Cairan
Mual dan Muntah

Nutrisi Tubuh Kurang

Nafsu Makan Turun

Gangguan Metabolisme

Intake makanan
menurun

Penurunan Energi
7 | Tu m o r W i l m s

Kelelahan

Ketidakseimbangan
Nutrisi Kurang dari
Kebutuhan Tubuh

Intoleransi Aktivitas

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas
Nama Pasien, umur, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat,
penanggung jawab biaya.
3.1.2 Riwayat Penyakit Sekarang
1. Keluhan Utama
Nyeri
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengeluh nyeri pada abdomen, kencing berwarna seperti cucian
daging, bengkak sekitar mata dan seluruh tubuh. Tidak nafsu makan, mual ,
muntah dan diare. Demam tapi hanya pada saat pertama sakit.
a. P : Nyeri meningkat apabila beraktivitas dan berkurang saat istirahat
b. Q : Nyeri seperti ditusuk-tusuk
c. R : Abdomen
d. S : 7 (1-10)
e. T : Saat melakukan aktivitas dan nyeri yang dirasakan hilang timbul
3.1.3 Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah dirawat : ya/tidak
Riwayat penyakit kronik dan menular : ya/tidak
8 | Tu m o r W i l m s

Riwayat penggunaan obat (jika menkonsumsi obat)


Riwayat alergi : ya/tidak (jenis)
Riwayat operasi : ya/tidak (kapan)
3.1.4 Riwayat Penyakit Keluarga
Iya/tidak, jika iya apakah jenis penyakitnya.
3.1.5 Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan Tanda Tanda Vital : Suhu, Nadi, Tekanan Darah, Respiratory
Rate, Berat Badan, dan Tinggi Badan.
2. Kesadaran : Compos Mentis/ Apatis/ Somnolen/ Sopor/ Koma.
3. Keadaan Umum : baik/buruk
4. Sistem Perkemihan
a. Kebersihan (kotor/bersih)
b. Keluhan kencing : Oliguria sampai Anuria, Hematuri, dan Proteinuria.
c. Produksi urin : <1500 ml/hari
d. Intake cairan : 1500 ml/hari
e. Tidak terpasang kateter
3.1.6 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan darah lengkap : mungkin menunjukkan anemia.
b. Urinalisis
: menentukan sisa-sisa tumor yang terdapat pada urin.
c. Fx ginjal (BUN, kreatinin) : mengetahui apakah ginjal masih
berfungsi dengan baik atau tidak.
2. Penilaian Status Jantung : EKG dan echocardiogram pada pasien yang
mendapat terapi adriamycin. Echocardiogram mungkin bermanfaat untuk
mendeteksi adanya tumor di atrium kanan.
3. Intravena Pielogram (IVP) : tampak distorsi system pieolokalises
(perubahan bentuk system pieolokalises).
4. Ultrasonografi (USG) Aabdomen : tampak tumor padat pada daerah ginjal
5. CT scan Abdomen : mengkonfirmasi adanya massa yang berasal dari
intrarenal dan mempertegas anatomi tumor. Pemeriksaan ini juga
memberikan informasi adanya pertumbuhan tumor ke dalam vena cava
inferior, integritas dari ginjal kontra lateral, dan kemungkinan adanya
metastase ke limfonodus atau hepar.

9 | Tu m o r W i l m s

3.2 Analisa Data


No
.
1.

Data
DS :
Klien mengatakan sakit (nyeri)
pada pinggang
Klien

Etiologi

Masalah

Tumor Wilms

Nyeri Kronis (Pre

Tumor belum menembus

Op)

kapsul ginjal

mengatakan

nyeri

meningkat apabila beraktivitas

Berdiferensiasi
Tumor menembus kapsul
ginjal

DO :
TD

meningkat

(>120/80

Nyeri Kronis

mmHg)
N : meningkat (>100x/menit)
Wajah klien menyeringai
P : Nyeri meningkat apabila
beraktivitas dan berkurang saat
istirahat
Q : Nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : Abdomen
S : 7 (1-10)
T : Saat melakukan aktivitas dan
nyeri
2.

yang

dirasakan

hilang

timbul
DS :

Tindakan Operasi

Ansietas

Klien mengatakan takut dengan


tindakan

operasi

yang

akan

Krisis Situasional

dilakukan
Ansietas

DO :
Klien gelisah
Klien banyak bertanya
Klien berkeringat dingin
TD

meningkat

(>120/80

mmHg)
10 | T u m o r W i l m s

N : meningkat (>100x/menit)
3.

DS :

Tindakan Operasi

Klien mengatakan sakit (nyeri)


pada daerah bekas operasi (luka
insisi)

Nyeri Akut (Post


Op)

Post Operasi
Terputusnya kontinuitas
jaringan

DO :
P : Nyeri meningkat jika klien

Nyeri

banyak bergerak
Q : Nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : Pada luka insisi
S : 6 (1-10)
T : Pada saat banyak bergerak
Wajah klien menyeringai
TD

meningkat

(>120/80

mmHg)
4.

N : meningkat (>100x/menit)
DS :
Klien mengatakan mual dan
ingin

muntah

Disfungsi ginjal

Ketidakseimbanga

Gangguan keseimbangan

saat

melihat

makanan.
Klien
mengatakan

nafsu

Asidosis metabolic

makannya menurun
DO :
Klien mual-mual saat diberi

Mual dan muntah

makanan
Berat badan klien turun
Klien kurus dan lemas
Porsi makan klien tidak habis

n Nutrisi Kurang
dari Kebutuhan

asam dan basa

Tubuh

Nafsu makan turun


Intake makanan menurun
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari

5.

DS :
Klien

kebutuhan
Intake makanan menurun
mengatakan

tubuhnya

mudah lelah dan aktivitasnya


dibantu orang lain
DO :

Nutrisi tubuh kurang

Intoleransi
Aktivitas

Gangguan metabolisme
Kelelahan
11 | T u m o r W i l m s

Klien lemah
Klien hanya terbaring di tempat
tidur
Klien

memerlukan

Intoleransi aktivitas

bantuan

orang lain untuk melakukan


aktivitasnya
6.

DS : -

Disfungsi ginjal

Kekurangan
Volume Cairan

Gangguan glomerulus
DO :

7.

Gangguan filtrasi

- Output cairan (> 1500 ml)


- Ginjal tak berfungsi dengan baik
- Turgor kulit jelek
- Mukosa kering
- Haus yang berlebihan
DS : DO :
luka insisi (post operasi)
leukosit : Pa >11000 dan Pi

Kekurangan volume
cairan
Tindakan Operasi

Resiko Infeksi

Post Operasi
Terputusnya kontinuitas
jaringan

>10.000

Laserasi
Resiko infeksi
3.3 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri kronis berhubungan dengan metastase tumor
2. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional
3. Nyeri akut berhubungan dengan tindakan operasi
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
makanan menurun
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan
6. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya gangguan filtrasi di
glomerulus
7. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive
3.4 Intervensi
No
.
1.

No. Dx
1.

NOC
Setelah

diberikan

NIC
tindakan

keperawatan selama 1x6 jam nyeri

Kaji nyeri dengan PQRST


Kaji kultur yang mempengaruhi
12 | T u m o r W i l m s

dapat berkurang sampai hilang.


Kriteria Hasil :
-

Mampu mengontrol nyeri.


Melaporkan
bahwa
nyeri
berkurang

menggunakan

manajemen nyeri.
Menyatakan rasa

setelah nyeri berkurang.


TD : normal (120/80 mmHg)
N : normal (60-100 x/menit)

nyaman

respon nyeri
Ajarkan teknik relaksasi nafas
dalam
Gunakan

teknik

komunikasi

terapeutik

untuk

mengetahui

pengalaman nyeri klien


Kontrol lingkungan yang dapat

menyebabkan nyeri
Observasi TTV
Observasi reaksi nonverbal dari

ketidaknyamanan
Kolaborasikan dengan

dokter

untuk pemeberian obat analgesic


2.

2.

Setelah

diberikan

tindakan keperawatan selama 1x24 jam


perasaan

tidak

teknik relaksasi
Gunakan
pendekatan

menenangkan
Nyatakan dengan jelas harapan

Klien mampu mengidentifikasi -

terhadap pelaku klien


Pahami perspektif klien terhadap

nyaman

atau

kekhawatiran pada klien dapat


hilang
Kriteria Hasil :
-

dan
-

mengungkapkan

gejala

cemas
Mengidentifikasi,
mengungkapkan,
menunjukkan

dan

teknik

untuk

mengontrol cemas
Postur tubuh, ekspresi wajah,
bahasa

tubuh,

aktivitas
-

secara IV.
Identifikasi tingkat kecemasan
Instruksikan klien menggunakan

dan

situasi stress
Jelaskan semua prosedur dan apa

yang dirasakan selama prosedur


Temani klien untuk memberikan

keamanaan dan mengurangi takut


Bantu klien mengenal situasi yang

menimbulkan kecemasan
Dengarkan
dengan

tingakt

menunjukkan -

berkurangnya kecemasan
TD : normal (120/80 mmHg)
N : normal (60-100 x/menit)

yang

penuh

perhatian
Dorong keluarga untuk menemani
klien
Kolaborasi dengan dokter untuk
memberikan

obat

untuk

mengurangi kecemasan
3.

3.

Setelah

diberikan

tindakan

keperawatan selama 1x6 jam nyeri


dapat berkurang sampai hilang.

Kaji nyeri dengan PQRST


Kaji kultur yang mempengaruhi
respon nyeri
13 | T u m o r W i l m s

Kriteria Hasil :
-

Ajarkan teknik relaksasi nafas

Mampu mengontrol nyeri.


Melaporkan
bahwa
nyeri -

dalam
Gunakan

teknik

komunikasi

berkurang

terapeutik

untuk

mengetahui

menggunakan

manajemen nyeri.
Menyatakan rasa

setelah nyeri berkurang.


TD : normal (120/80 mmHg)
N : normal (60-100 x/menit)

nyaman -

pengalaman nyeri klien


Kontrol lingkungan yang dapat

menyebabkan nyeri
Observasi TTV
Observasi reaksi nonverbal dari

ketidaknyamanan
Kolaborasikan dengan

dokter

untuk pemeberian obat analgesic


secara IV.
4.

4.

Setelah

diberikan

tindakan keperawatan selama 1x24 jam rasa

Kaji adanya alergi makanan


Ajarkan klien bagaimana membuat

mual dan muntah pada klien hilang

catatan makanan harian


Berikan makanan yang terpilih

dan nafsu makan membaik.


Kriteria Hasil :
- Mampu

(sudah dikonsultasikan pada ahli

mengidentifikasi -

gizi)
Yakinkan diet yang dimakan tinggi

kebutuhan nutrisi
Tidak
ada

malnutrisi
Tidak terjadi penurunan berat -

kebutuhan nutrisi
Observasi jumlah

badan yang berarti

kandungan kalori
Kolaborasikan dengan ahli gizi

tanda-tanda -

serat untuk mencegah konstipasi


Berikan
informasi
tentang
nutrisi

dan

untuk menentukan jumlah kalori


5.

5.

Setelah diberikan tindakan 1x24 -

dan nutrisi yang dibuhkan klien


Bantu klien untuk mengidentifikasi

jam klien sudah tidak mudah lelah

dan memilih aktivitas yang mampu

dan lemas.
Kriteria Hasil :
- Berpartisipasi dalam aktivitas

dilakukan
Bauntuk mendapatkan alat bantu

fisik tanpa disertai peningkatan -

aktivitas seperti : kursi roda, krek


Bantu untuk mengidentifikasi

tekanan darah, nadi dan RR.


Mampu
melakukan
ADLs -

aktivitas yang disukai


Bantu klien untuk membuat jadwal

secara mandiri
TTV normal : TD 120/80 -

latihan diwaktu luang


Sediakan penguatan positif bagi

mmHg, N 60-100 x/mnt, RR 16-

yang aktif dalam beraktivitas


Monitor respon fisik, emosi, sosial,

14 | T u m o r W i l m s

20 x/mnt
Energy psikomotor
Level kelemahan
Mampu
berpindah

secara

6.

6.

dengan

tenaga

Rehabilitasi

0edik

dalam

merencanakan program terapi yang

mandiri dengan alat atau tanpa


-

dan spiritual
Kolaborasikan

tepat

alat
Satatus respirasi : pertukaran

gas dan ventilasi adekuat


Setelah
dilakukan
tindakan keperawatan selama 1x24 jam klien

Kaji tanda-tanda vital


Pertahankan catatan intake dan

dinyatakan

bebas

output yang akurat


Berikan penggantian nasogastrik

mengalami

dehidrasi

dari

resiko

vascular,

selular, dan intraselular


Kriteria Hasil :
- Mempertahankan output urin
sesuai dengan usia dan BB, BJ
-

urine normal, HT normal


TTV normal : TD 120/80

mmHg, N 60-100 x/mnt, RR 16- -

20 x/mnt, suhu 36-370 C.


Tidak ada tanda dehidrasi,
elastisitas

turgor kulit

sesuai output
Berikan cairan IV dan monitor
adanya tanda dan gejala kelebihan
volume cairan
Pelihara IV line
Observasi adanya

tanda gagal

ginjal
Observasi

masukan

makanan/cairan dan hitung intake

baik, -

mambran mukosa lembab, tidak

kalori
Kolaborisan dengan dokter untuk
kemungkinan transfusi

ada rasa haus yang berlebihan


7.

7.

Setelah

diberikan

tindakan -

keperawatan selama 1x24 jam

Ajarkan klien dan keluarga klien

tanda dan gejala infeksi


Ajarkan cara menghindari infeksi
Bersihkan lingkungan setelah

Klien bebas dari tanda dan -

dipakai klien lain


Pertahankan teknik isolasi
Instruksikan pada pengunjung

gejala infeksi
Menunjukkan

resiko klien terserang organisme


patogenik berkurang atau hilang
Kriteria Hasil :

untuk
-

untuk
kemampuan

mencegah

L)

Pi

timbulnya

5000-10000

tangan

saat

berkunjung dan setelah berkunjung

infeksi
Leukosit : normal (Pa 400011000 L,

mencuci

meninggalkan klien
Gunakan sabun anti mikroba untuk

cuci tangan
Cuci tangan setiap sebelum dan

sesudah tindakan keperawatan


Gunakan baju, sarung tangan
15 | T u m o r W i l m s

Menunjukkan perilaku

hidup

sehat

sebagai alat pelindung


Pertahankan lingkungan aseptic

selama pemasangan alat


Gunakan kateter intermitten untuk
menurunkan

infeksi

saluran

kencing
Inspeksi kondisi luka/insisi bedah
Tingkatkan intake nutrisi
Monitor tanda dan gejala infeksi

sistemik dan lokal


Monitor
kerentanan

infeksi
Instruksikan klien untuk minum

antibiotik sesuai resep


Laporkan kecurigaan infeksi
Laporkan kultur positif

terhadap

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
16 | T u m o r W i l m s

Tumor Wilms atau dikenal pula dengan istilah nefroblastoma merupakan tumor ginjal
primer tersering yang terjadi pada masa kanak-kanak, dan termasuk tumor ganas
retroperitoneal. Tumor Wilms merupakan neoplasma embrional yang tersusun atas tiga
elemen: blastema, epitel, dan stroma. Ginjal yang terkena biasanya unilateral tapi bisa
bilateral (5%). Nama Wilms diambil dari penemunya yaitu Dr. Max Wilms pada tahun
1899.
Tumor Wilms adalah tumor padat intraabdomen yang paling sering dijumpai pada anak.
Tumor ini merupakan neoplasma embrional dari ginjal, biasanya muncul sebagai massa
asimtomatik di abdomen atas atau pinggang.
Penyebab dari tumor Wilms pada dasarnya belum diketahui, akan tetapi faktor genetic
merupakan salah satu hipotesis terbesar dari penyebabnya.
4.2 Saran
Sebagai mahasiswa keperawatan maupun perawat diharapkan dapat
memahami konsep Tumor Wilms dan bagaimana asuhan keperawatan
Tumor

Wilms

yang

baik,

sehingga

dapat

meningkatkan

asuhan

keperawatan kepada pasien dengan Tumor Wilms dengan lebih baik


lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito,L.J. (2000) Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta: EGC.
Nelson, Waldo (2000) Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta : EGC.
Santosa,Budi (2005) Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Prima Medika.
17 | T u m o r W i l m s

Sylvia A.Price Marylin (2000) Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit


Edisi 6. Jakarta : EGC.
https://www.scribd.com/doc/60754718/Makalah-Tumor-Wilms diakses pada tanggal 18
Desember 2015 pukul 21.00
https://www.scribd.com/doc/59602202/Wilms-Tumor

diakses

pada

tanggal

18

Desember 2015 pukul 21.00


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/2045/1/10E00542.pdf

diakses

pada

tanggal 18 Desember 2015 pukul 21.00

18 | T u m o r W i l m s