Anda di halaman 1dari 5

BAB I

Nama Usaha

: Hypermart Matos

Lokasi Usaha

: Jalan Veteran no. 2 Malang

Jenis Usaha : Swalayan

BAB II
Latar Belakang
Memberi kemudahan dan fasilitas yang memuaskan adalah suatu
keharusan bagi suatu bisnis untuk mampu bersaing dengan para
pesaingnya. Kemudahan dan fasilitas itu dapat dipenuhi dengan berbagai
cara. Dengan semakin banyaknya pesaing, menuntut bisnis itu untuk
berinovasi dan kreatif untuk menghadapi para pesaingnya.
Tidak terkecuali bisnis perdagangan, yang dituntut untuk lebih peka
terhadap konsumen yang semakin pemilih. Suatu cara bisnis di bidang
perdagangan yang dapat kita temui adalah adanya swalayan-swalayan
yang tersebar di berbagai daerah, bahkan sampai di kota-kota kecil.
Swalayan-swalayan tersebut menjalankan bisnis perdagangan, dengan
memudahkan para konsumennya untuk mengambil dan memilih sendiri
barang yang akan dibeli yang kemudian, pembayarannya dilakukan ketika
konsumen tersebut akan keluar. Hal tersebut memberikan suatu ruang
privacy khusus dalam diri konsumen untuk melakukan seleksi terhadap
barang yang akan dibeli oleh konsumen tersebut. Atau dengan kata lain
konsumen diberikan kebebasan untuk memilih berbagai jenis produk
dengan banyak merk, sehingga konsumen benar-benar diberi hak untuk
memilih sesuai dengan keinginannya.
Tidak terlepas dari kemudahan-kemudahan tersebut, bisnis tersebut
adalah bisnis juga yang harus memperhatikan segi etika. Etika diperlukan
dalam semua segi bisnis, termasuk dalam bisnis dagang model swalayan.
Etika-etika tersebut biasanya bersumber pada norma, nilai dan kaidahkaidah tertentu. Etika bisnis, itulah etika yang harusnya dipahami dan
dilaksanakan oleh pebisnis dan diterapkan pada bisnis-bisnis yang ada.
Etika bisnis ini adalah pengetahuan tentang cara ideal pengaturan dan
pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang
berlaku universal dan secara ekonomi maupun sosial, dan penerapan
norma dan moralitas ini menunjang maksud dan tujuan kegiatan bisnis.

BAB III
Analisis
Saat ini di kota Malang terutama banyak dijumpai swalayanswalayan. Swalayan yang mempunyai ukuran besar ataupun swalayan
yang kecil tersebar di sudut-sudut kampung, kelurahan, di tengah kota
dan lain sebagainya. Keberadaan swalayan tersebut, adalah sebagai
usaha dari masyarakat dan bisnis untuk mempermudah masyarakat agar
dapat mendapatkan kebutuhannya dengan cepat. Namun terkadang
keberadaan swalayan-swalayan tersebut dapat memicu konflik antar
manajemen swalayan dengan masyarakat sekitar, sebagai contoh konflik
yang timbul karena tidak adanya izin pendirian swalayan kepada warga
sekitar,

yang

dengan

adanya

swalayan

tersebut

dapat

membuat

lingkungan sekitar menjadi ramai dan mengganggu warga sekitar. Namun


untuk hal tersebut biasanya dapat diselesaikan dengan cepat dan damai.
Dalam hal lain adanya swalayan tersebut, yang pastinya memiliki
stok atau persediaan barang yang banyak dan dengan bermacam-macam
merk. Barang-barang dagangan tersebut terkadang melanggar etika
dalam berbisnis maupun bermasyarakat. Selain itu sebagai sebuah
pelayanan bisnis pun dapat dilihat dari sisi etika.
Dari beberapa swalayan yang saya

amati terdapat beberapa

pelanggaran nyata, yang ternyata pelanggaran etika itu terjadi di


beberapa swalayan besar di Kota Malang. Pelanggaran-pelanggaran
tersebut antara lain, penjualan minuman beralkohol yang terkesan bebas
dan tanpa peringatan batas umur yang diperbolehkan untuk membeli
minuman

beralkohol

tersebut.

Di

Hypermart

Matos,

saya

melihat

minuman beralkohol dipajang bercampur dengan minuman-minuman

tidak beralkohol lainnya. Menurut analisis saya, konsumen akan melihat


minuman tersebut bukanlah minuman beralkohol. Dan ketika para
konsumen kurang jeli. Pembelian minuman tersebut pun akan terjadi dan
tidak ada batasan umur untuk melakukan pembelian terhadap minuman
beralkohol tersebut. Anak yang masih berada dibawah umur untuk dapat
membeli minuman beralkohol tersebut asal membawa uang tanpa adanya
batasan umur.
Selain pelanggaran seperti diatas, terdapat pula pelanggaran lainnya,
seperti

produk

makanan

yang

dijual

di

swalayan

tersebut

telah

kadaluwarsa atau telah habis masa penggunaannya. Dari sini terlihat jelas
ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilihat dari terjadinya
kasus

tersebut.

kesengajaan,

hal

Kemungkinan
itu

pertama,

merupakan

memang

kelalaian

dari

tidak

pihak

terjadi

manajemen

swalayan-swalayan tersebut didalam melakukan pengecekan terhadap


produk-produk yang dijual. Kemungkinan kedua adalah hal tersebut
dilakukan untuk mengurangi kerugian atas barang-barang yang sudah
lama di gudang namun tidak laku.
Selanjutnya didalam usaha ini kaitannya dengan tanggung jawab
perusahaan

adalah

tanggung

jawab

moral

perusahaan

terhadap

masyarakat adalah dimana tanggung jawab moral tersebut bisa diarahkan


kepada banyak hal. Di dalam usaha ini tanggung jawab sosial perusahaan
terhadap karyawan telah dilakukan dengan baik, dimana perusahaan
wajib menjamin dan melindungi keselamatan karyawan didalam bekerja,
selanjutnya

adalah

masyarakat

dalam

tanggung
hal

ini

jawab

adalah

sosial

konsumen

perusahaan
dan

sekitar

terhadap
dimana

perusahaan wajib memberikan hak-hak konsumen seperti hak didalam


mendapatkan informasi terhadap produk-produk yang ada di dalam usaha
tersebut, akan tetapi masih ada pelanggaran yang terjadi, yaitu penjualan
minuman beralkohol yang terkesan bebas dan tidak adanya batasan umur
untuk melakukan pembelian terhadap produk tersebut.

Tetapi

seharusnya

pihak

manajemen

harus

tetap

melakukan

pengecekan terhadap barang-barang yang dijual olehnya, dan juga tidak


boleh melakukan usaha untuk mengurangi tingkat kerugian atas barangbarang yang sudah lama di gudang namun tidak laku dengan tetap
menjual makanan yang telah kadaluwarsa. Karena didalam melakukan
bisnis di bidang apapun, kita harus jujur dan tidak boleh melakukan
kecurangan

untuk

mendapatkan

keuntungan,

serta

kita

harus

mengutamakan kepuasan konsumen atas barang-barang yang kita


perjualbelikan. Apabila masyarakat selaku konsumen dari barang-barang
yang kita jual merasa dirugikan, kita bisa saja ditinggalkan oleh konsumen
atau bahkan dituntut secara hukum karena tindakan yang kita ambil itu
telah melanggar hukum yang berlaku.