Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Reformasi Eropa yang terjadi pada abad ke-16 masehi merupakan salah satu bidang
paling menarik untuk dipelajari yang dapat digarap oleh sejarawan. Reformasi itu mencakup
sejumlah bidang, baik reformasi moral maupun reformasi struktur gereja dan masyarakat,
pembaruan spiritualitas kekristenan, dan pembaruan atas dasar ajaran Kristen.
Ada dua perkembangan besar di dalam gereja Abad Pertengahan akhir yang secara
bersama-sama membuat definisi dan pelaksanaan ortodoksi. Pertama, kewibawaan dari paus
dipersoalkan melalui Skisma Besar dan akibat-akibatnya. Dengan skisma ini, berkembanglah
dua teori yang saling bersaing mengenai kewenangan di dalam gereja, yakni mereka yang
berpendapat bahwa kewenangan yang tertinggi atas ajaran terletak di dalam suatu Konsili
Umum atau Persidangan Umum (posisi konsiliaris). Kedua, bangkitnya kekuatan-kekuatan
penguasa sekuler di Eropa, yang cenderung melihat persoalan-persoalan yang berkenaan
dengan paus sebagai sesuatu yang mempunyai relevansi terbatas.
B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah:

1.

Bagaimana konsep reformasi?

2.

Bagaimana latar belakang timbulnya reformasi?

3.

Bagaimana konteks sosial dari reformasi?

4.

Apa paham yang memberikan kontribusi dalam reformasi?


C.

Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan makalah ini adalah:

1.

Untuk mengetahui konsep reformasi.

2.

Untuk mengetahui latar belakang timbulnya reformasi.

3.

Untuk mengetahui konteks sosial dari reformasi.

4.

Untuk

mengetahui

paham

yang

memberikan

kontribusi

dalam

reformasi

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Konsep Reformasi

Gerakkan Reformasi Protestan yang dipelopori oleh Martin Luther, Johanes Calvin,
Zwingli, John Knox dan lain-lain berdampak luas terhadap pemikiran sosial, keagamaan dan
politik Eropa.[1] Pada mulanya gerakan ini berupa protes-protes yang dilakukan para kaum
bangsawan dan penguasa Jerman terhadap kekuasaan imperium Katholik Roma.
Reformasi ini melahirkan paradigma baru dalam melihat ritus-ritus keagamaan dan
melihat etos kapitalisme barat. Gerakan ini meletakan dasar filosopis keagamaan
perkembangan kapitalisme dan negara bangsa di barat. Maka tidak berlebihan jika ada yang
menyebut sebagai fase modern keagamaan barat.
Menurut McGrath,[2] istilah Reformasi dipergunakan dalam banyak arti dan karena
itu perlu dilihat perbedaan-perbedaannya. Ada empat unsur yang terdapat dalam definisi
tentang Reformasi yaitu: Lutheranisme, gereja Reformed (Calvinisme), Reformasi radikal
(Anabaptisme) dan Kontra-Reformasi atau Reformasi Katolik. Artinya, istilah Reformasi
dipergunakan untuk merujuk pada keempat gerakan ini.
1.

Reformasi Luther.

Reformasi ini dikaitkan dengan wilayah-wilayah Jerman di bawah pengaruh pribadi


yang berkharisma Martin Luther yang khusus memperhatikan masalah doktrin pembenaran,
yang merupakan pokok utama dari pemikiran keagamaannya. Reformasi ini pada mulanya
berbentuk reformasi adamis yang terutama berkenaan dengan pembaruan pengajaran teologi
di Universitas Wittenberg yang kemudian berubah menjadi suatu program untuk pembaruan
gereja dan masyarakat.
Dalam 95 dalil, Martin Luther , 1957 mengedepankan pernyataan-pernyataan
dogmatis dan pastoral yang pada prinsipnya berakar antara lain dalam refleksinya yang
mendalam atas surat Santo Paulus kepada jemaat di Roma.[3]
2.

Gereja Reformed.

Berkembang mulai dari negara Konfederasi Swiss yang berakar pada serangkaian
usaha membarui moral dan peribadahan gereja (tanpa mementingkan ajarannya) agar lebih
sesuai dengan pola yang terdapat dalam Alkitab. Tokoh gerakan ini adalah: Huldrych
Zwingli, Heinrich Bullinger, Yohanes Calvin, Theodore Beza, William Perkins atau John
Owen.

Istilah Reformed merujuk pada gereja-gereja (terutama di Swiss, Dataran Rendah


dan Jerman) dan pemikir-pemikir keagamaan (seperti Theodore Beza, William Perkins atau
John Owen) yang mendasarkan pemikirannya atas buku besar karya Calvin, Christianae
Religionis Institutio atau dokumen-dokumen gereja (seperti Katekismus Heidelberg). Gereja
Reformed ini lebih dikenal dengan Calvinisme sejak tahun 1560-an padahal seluruh
pemikiran gerakan ini bukan hanya bersumber dari Calvin sendiri.
3.

Reformasi Radikal (Anabaptisme).

Istilah Anabaptis mempunyai asal-usulnya pada Zwingli yang muncul pertama kali
di sekitar Zurich, setelah Reformasi Zwingli awal tahun 1520-an. Gerakan ini berpusat pada
individu seperti Conrad Grebel yang menuduh Zwingli tidak setia pada prinsip-prinsip
reformasinya. Orang-orang Anabaptis mempunyai alasan yang kuat untuk menuduh Zwingli
berkompromi. Misalnya, dalam tulisan Zwingli yang berjudul Apologeticus
Archeteles (1522), Zwingli mengakui ide tentang kepemilikan bersama (community of
goods) sebagai prinsip yang khas Kristen, tetapi tahun 1525, Zwingli mengubah
pandangannya dan sampai pada pendapat bahwa kepemilikan pribadi atas harta benda
bagaimanapun juga bukanlah merupakan hal yang jelek. Tokoh gerakan ini adalah Balthasar
Hubmaier, Pilgram Marbeck dan Menno Simons.
Ajaran yang sangat menonjol dalam gerakan ini adalah: suatu ketidakpercayaan yang
umum terhadap penguasa luar, penolakan akan baptisan anak dan dukungan pada baptisan
orang dewasa yang percaya, kepemilikan bersama atas harta benda dan penekanan atas
pasifisme dan gerakan tanpa kekerasan. Bagi beberapa kalangan gerakan ini disebut sebagai
sayap kiri dari Reformasi (Roland H.Bainton) atau Reformasi radikal (George Hunston
Williams).
Dokumen yang paling penting yang muncul dalam gerakan ini adalah Pengakuan
Schleitheim yang disusun oleh Michael Sattler pada 24 Februari 1527 yang berisi artikelartikel pemisahan yang membedakan Anabaptis dengan gerakan Reformasi maupun yang di
luar Reformasi. Fungsi pengakuan ini untuk membedakan orang-orang Anabaptis dari mereka
yang di sekelilingnya orang papis (Katolik) dan antipapis(Protestan/Reformasi magisterial)
dan pengakuan ini juga berfungsi sebagai pemersatu perbedaan-perbedaan yang mungkin ada
di antara mereka.
4.

Reformasi Katolik

Istilah ini dipakai untuk merujuk revitalisasi dari Katolikisme Roma dalam periode
setelah pembukaan Konsili Trente (1545). Gerakan ini sering digambarkan sebagai KontraReformasi. Gerakan ini bertujuan untuk memerangi Reformasi Protestan dengan maksud
membatasi pengaruh Protestanisme. Kemudian gerakan ini bertujuan untuk melakukan
pembaruan atas dirinya sendiri untuk menyingkirkan alasan-alasan kritikan dari kaum
Protestan.

Konsili Trente, bentuk yang paling menonjol dari Refomasi Katolik, menjelaskan
pengajaran Katolik atas sejumlah masalah yang membingungkan dan mengintroduksikan
lebih banyak lagi pembaruan yang diperlukan dalam hubungan dengan kelakuan dari kaum
rohaniwan, disiplin gerejawi, pendidikan keagamaan dan kegiatan pekabaran Injil. Gerakan
pembaruan ini terutama dirangsang oleh reformasi dari banyak keagamaan yang lebih tua dan
pendirian orde-orde yang baru seperti Yesuit.
B.

Latar Belakang Timbulnya Reformasi

Reformasi memiliki kaitan erat dengan Renaissans. Renaissans dan reformasi muncul
sebagai akibat perlawanan gigih terhadap dominasi lembaga kepausan dan gereja abad
pertengahan.[4]
Berikut beberapa penyebab terjadinya reformasi dikalangan umat Kristiani saat itu:
1.

Banyaknya penyimpangan keagamaan seperti:

Penyogokan oleh pemuka agama kepada petinggi gereja agar mereka memperoleh
kedudukan sosial keagamaaan yang tinggi.

Paus sebagai bapak suci berperilaku amoral yang menyangkut hubungannya


dengan wanita seperti Alexander VI yang memiliki 8 anak haram dari hasil
hubungannya dengan wanita simpanannya.

Penjualan surat-surat pengampunan dosa (indulgencies).


Adanya penyimpangan terhadap acara sakramen suci atau ritus pemujaaan terhadap
benda-benda keramat atau tokoh-tokoh suci yang nantinya akan menimbulkan
takhayul dan mitologisasi yang tidak masuk akal, seperti para pastor yang sematamata merupakan manusia yang memiliki sifat yang sama dengan yang lainnya
menganggap dirinya keramat.

2.

Korupsi atas nama Negara

3.

Pajak-pajak yang memberatkan karena ambisi kekuasaan kaum bangsawan lokal.

4.

Kebangkitan nasionalisme eropa.

5.

Perkembangan kapitalisme dan krisis-krisis ekonomi dikawasan imperium Roma.

C.

Konteks Sosial Dari Reformasi.

Dengan melihat situasi sosial yang terjadi di Eropa, menurut McGrath[5] bahwa
keberhasilan dan kegagalan Reformasi di dalam kota-kota sebagian tergantung pada faktorfaktor sosial dan politik. Krisis bahan makanan yang diakibatkan Black Death (Maut Hitam

atau penyakit sampar) pada akhir abad ke-14 dan ke-15, menyebabkan krisis agraria.
Sehingga pada awal abad ke-16 keresahan sosial berkembang di banyak kota.
Pendapat beberapa ahli yang dikutip McGrath mengatakan bahwa dalam abad ke-15
keinginan untuk urbanisasi agak tersendat disebabkan ketegangan sosial yang berkembang di
dalam kota-kota (Berndt Moeller). Moeller menaruh perhatian pada implikasi-implikasi sosial
dari ajaran Luther mengenai masalah keimanan tradisional tertentu di dalam masyarakat
urban dan merangsang timbulnya suatu perasaan kesatuan komunal.
Pendapat lainnya dikemukakan Thomas Brady, keputusan untuk menerima
Protestanisme di Strasbourg merupakan akibat dari suatu perjuangan kelas yang di dalamnya
suatu koalesi yang kuat antara kaum bangsawan dan pedagang percaya bahwa kedudukan
sosial mereka hanya dapat diperthankan melalui persekutuan dengan Reformasi. Sedangkan
Steven Ozment berpendapat, daya tarik Protestanisme adalah doktrinnya tentang pembenaran
oleh iman yang menawarkan pembebasan dari tekanan psikologis yang diakibatkan oleh
sistem Abad Pertengahan bagian akhir dan doktrin pembenaran semi-Pelagian yang saling
berkaitan.
Menurut McGrath ada beberapa ciri umum asal-usul dan perkembangan Reformasi di
sebagian besar kota Eropa Utara yaitu:
1.

Reformasi di kota-kota muncul sebagai jawaban atas suatu desakan rakyat untuk
mengadakan perubahan kecuali di Nuremberg (Reformasi di tempat ini muncul tanpa
protes dan tuntutan dari masyarakat).

2.

Keberhasilan Reformasi di dalam suatu kota bergantung pada sejumlah peristiwa


sejarah yang terjadi. Bagi kota-kota yang memilih tetap Katolik, mengadopsi
Reformasi berarti mengambil risiko dengan suatu perubahan yang sangat berbahaya.

3.

Visi romantis, yang kelewat ideal dari seorang reformator yang tiba di suatu kota
untuk menghkhotbahkan Injil lalu disambut dengan suatu keputusan langsung dari
kota yang bersangkutan untuk menerima prinsip-prinsip Reformasi, harus dijauhkan
karena benar-benar tidak realistis.

McGrath menyimpulkan, konteks sosial Reformasi pada dirinya sendiri adalah pokok
yang sangat menarik. Contohnya, banyak ide Zwingli khususnya mengenai fungsi
kemasyarakatan dari sakramen yang secara langsung dikondisikan oleh keadaan politik,
ekonomi dan sosial dari kota Zurich. Demikian juga dengan ide-ide Calvin tentang sturukturstruktur yang tepat dari suatu gereja Kristen tampak merefleksikan lembaga-lembaga yang
telah ada di Jenewa sebelum kedatangannya di kota itu.
D.

Paham Yang Memberikan Kontribusi Dalam Reformasi

Menurut McGrath[6], dari banyak anak sungai yang memberikan kontribusi terhadap
aliran Reformasi, yang paling penting adalah humanisme dan Renaisans. Meskipun

Reformasi dimulai di kota-kota Jerman dan Swiss, namun dapat dikatakan bahwa Reformasi
timbul sebagai akibat dari Renaisans di Italia. McGrath dalam bab ini mencoba meneliti ideide dan metode-metode dari humanisme Renaisans agar relevansinya untuk Reformasi dapat
dimengerti.
1.

Renaisans

Pada awalnya konsep Renaisans ini merupakan istilah Perancis yang menunjuk
pada kebangkitan kembali sastra dan seni pada abad ke-14 dan ke-15. Pada tahun 1546
Paolo Giovio merujuk abad ke-14 sebagai abad kebahagiaan yang dalamnya tulisan-tulisan
Latin dipandang telah lahir kembali (renate). Namun para sejarawan tertentu seperti Jacob
Burckhardt mengemukakan bahwa Renaisans melahirkan era modern.
Dalam era modern ini umat manusia untuk pertama kali mulai berpikir tentang diri
mereka sebagai individu-individu. Kesadaran komunal dari periode Abad Pertengahan
mengalah terhadap kesadaran individual dari Renaisans. Florence menjadi Atena baru,
ibukota intelektual dari suatu dunia baru yang berani, dengan sungai Arno yang memisahkan
dunia lama dan dunia baru.
Menurut McGrath, dalam banyak hal definisi Burckhardt tentang Renaisans sangat
diragukan, mengingat aspek nilai-nilai kolektif yang terdapat dalam humanisme Renaisans
Italia. Namun dalam satu hal Burckhardt benar: sesuatu yang baru dan menggairahkan telah
berkembang dalam Renaisans Italia, yang terbukti mampu memberi daya tarik terhadap
beberapa generasi pemikir. Bahkan menurut McGrath, tidaklah jelas sama sekali mengapa
Italia pada umumnya atau Florence pada khususnya, menjadi tempat kelahiran dari gerakan
baru yang brilian di dalam sejrah ide-ide.
McGrath memberikan alasan-alasannya yakni: (1) Italia masih memiliki sisa-sisa
kejayaan masa lampau, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. (2) Teologi
Skolastik kekuatan intelektual utama dari peridoe Abad Pertengahan tidak pernah secara
khusus mempunyai pengaruh di Italia. (3) Kestabilan politik di Florence bergantung pada
pemeliharaan akan pemerintahan republiknya. (4) Kemakmuran ekonomis dari Florence
menciptakan waktu luang dan dengan demikian menciptakan pula tuntutan akan
kesusasteraan dan kesenian. (5) Karena Byzantium mulai runtuh Konstantinopel ahirnya
jatuh pada tahun 1453 terjadi eksodus para intelektual berbahasa Yunani ke arah barat.
2.

Humanisme

Menurut McGrath, istilah humanisme adalah temuan dari abad ke-19 yang dalam
bahasa Jerman kataHumanismus pertama kali diciptakan pada tahun 1808, yang merujuk
pada suatu bentuk pendidikan yang memberikan tempat utama bagi karya-karya klasik
Yunani dan Latin. Kata ini dipakai pertama oleh Samuel Coleridge Taylor (1812) untuk
menunjukkan suatu posisi Kristologis, yaitu kepercayaan bahwa Yesus Kristus adalah murni
manusia. Kata itu pertama kali dipakai dalam konteks kebudayaan pada tahun 1832.

McGrath mengatakan bahwa ada dua aliran utama yang dominan dalam menafsirkan
gerakan humanisme ini. Pertama, humanisme dipandang sebagai suatu gerakan yang
mencurahkan perhatian pada ilmu-ilmu yang mempelajari karya-karya klasik dan
filologi. Kedua, humanisme adalah filsafat baru dari Renaisans.
McGrath mengatakan bahwa ada dua kesulitan yang menghadang penafsiran
humanisme ini. Pertama, orang-orang humanis tampil terutama berkenaan dengan
peningkatan akan kefasihan. Sementara itum tidaklah benar untuk mengatakan bahwa orangorang humanis tidak memberikan kontribusi yang penting pada dunia kesusasteraan. Kedua,
penelitian intensif atas tulisan-tulisan kaum humanis menyingkapkan fakta yang mengusik
kita, yakni humanisme benar-benar heterogen. Secara singkat, menurut McGrath, telah
menjadi semakin jelas bahwa humanisme tidak mempunyai filsafat yang mempersatukan.
Tidak ada satu ide filsafat atau politik yang mendominasi dan menjadi ciri utama gerakan itu.
Pendapat lain tentang humanisme ini adalah dari Kristeller yang menggambarkan
humanisme sebagai gerakan kebudayaan dan pendidikan. Humanisme secara esensial adalah
suatu program kebudayaan, yang mengacu pada kebudayaan kuno tetap berlaku sebagai
model untuk kefasihannya.
McGrath juga menjelaskan pengaruh humanisme di beberapa daerah lain misalnya:
Humanisme Swiss bagian Timur.
Swiss bagian Timur sangat terbuka dan bahkan menerima dengan baik ide-ide
Renaisans Italia. Konrad Celtis memastikan bahwa Wina menjadi pusat para ahli
humanis dalam tahun-tahun terakhir abad ke-15 seperti penulis besar humanis
Joachim von Watt alias Vadian, Xylotectus, Beatus Rhenanus, Glarean dan Myconius.
Mereka mengatakan bahwa kekristenan merupakan way of life (pandangan hidup),
ketimbang seperangkat ajaran-ajaran. Etos humanisme Swiss adalah benar-benar
moralistis. Kitab Suci dipandang sebagai yang menentukan tingkah laku moral yang
benar bagi orang-orang Kristen, ketimbang menceritakan janji-janji Allah.

Humanisme Legal Perancis.


Humanisme legal di Perancis ini dimulai dari adanya kecenderungan yang
semakin meningkat ke arah sentralisasi administrasi pemerintahan, melihat pembaruan
legal (bidang hukum atau perundang-udangan) sebagai sesuatu yang esensial bagi
modernisasi Perancis. Salah seorang pelopor dari antara para ahli ini adalah Guillaume
Bude, yang berpendapat agar mereka kembali langsung ke sistem perundang-undangan
Romawi sebagai suatu alat untuk menemukan sistem perundang-undangan baru yang
dibutuhkan Perancis. Humanisme Perancis ini berlawanan dengan kebiasaan orang
Italia (mos italicus) dalam hal membaca teks undang-undang, yang memandangnya dari
sudut keterangan tambahan, maka orang Perancis mengembangkan prosedur mos

gallicus untuk mendekati secara langsung sumber-sumber perundang-undangan klasik


yang asli dalam bahasa mereka yang asli pula.
Humanisme Inggris.
Ada tiga unsur utama dalam bidang keagamaan dan intelektual yang berperan di
belakang Reformasi Inggris, yakni: Lollardy, Lutheranisme, dan humanisme. Ketiga
aliran ini dianggap sebagai unsur-unsur yang sangat penting oleh para ahli yang
mempelajari Reformasi. Menurut McGrath, pusat humanisme yang paling penting pada
awal abad ke-16 di Inggris adalah Universitas Cambridge disamping Universitas Oxford
dan London. Cambridge adalah rumah dari Reformasi Inggris mula-mula, yang berpusat
dalam apa yang disebut White Horse Cicle, yaitu tempat sekelompok orang seperti
Robert Barnes bertemu untuk membaca sampai habis dan mendiskusikan tulisan-tulisan
terakhir dari Martin Luther selama awal tahun 1520-an. Humanisme Inggris sama sekali
bukan merupakan gerakan asli Inggris, melainkan import. Robert Weiss memperlihatkan
bahwa asal-usul humanisme Inggris dapat ditelusuri ke sejarah Italia pada abad ke-15 dan
awal abad ke-16 Universitas Cambridge cenderung mengangkat orang-orang Italia
menjadi dosen antara lain Gaio Auberino, Stefano Surigone dan Lorenzo Traversagni.

BAB III
PENUTUP

A.

ANALISIS

Dari sajian informasi mengenai reformasi tersebut, maka penulis menganalisis bahwa
hakikat dari reformasi adalah perbaikkan. Yang mana perbaikkan ini merupakan upaya untuk
mengadakan pergerakan yang menentang pada penyelewengan-penyelewengan yang terjadi.
Pelajaran penting yang dapat kita ambil dari adanya reformasi tersebut adalah bahwa
tidak setiap hal yang salah harus diatasi dengan revolusi. Revolusi berarti mengubah seluruh
sistem yang telah ada. Sedangkan reformasi dilakukan dengan cara melakukan perbaikkan
pada kekurangan-kekurangan yang ada pada sistem tersebut.
B.

KESIMPULAN

1.

Konsep reformasi mengacu pada empat pergerakan yaitu: Refomasi Protestan Luther
(Lutheranisme), gereja Reformed (Calvinisme), Reformasi radikal (Anabaptisme) dan
Kontra-Reformasi atau Reformasi Katolik.

2.

Latar belakang timbulnya reformasi adalah karena adanya praktik-praktik yang


dilakukan oleh pemuka agama yang dianggap menyimpang.

3.

Konteks sosial dari reformasi tersebut memunculkan berbagai dampak pada berbagai
sendi kehidupan sosial masyarakat tersebut.

4.

Paham yang memberikan kontribusi penting bagi terjadinya reformasi tersebut adalah
paham renaisans dan Humanisme.

C.

SARAN
Sebagai insan akademis yang berkecimpung dalam dunia pendidika, maka sudah seharus
bagi para setiap mahasiswa yang khususnya berada dalam tataran wilayah filsafat
mengetahui dan dapat mengambil hikmah dari dari reformasi tersebut sebagai bagian dari
kajian filsafat sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Aritonang, Jan S. Reformasi dari dalam Sejarah Gereja Zaman Modern. Yogyakarta:
Kanisius. 2004
Suhelmi, Ahmad. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2007
McGrath, Alister. Sejarah Pemikiran Reformasi. Terjemahan Liem Sien Kie. Jakarta: Gunung
Mulia. 2006

[1] Ahmad Suhelmi. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2007, hlm.
143
[2] Alister McGrath. Sejarah Pemikiran Reformasi. Terjemahan Liem Sien Kie. Jakarta:
Gunung Mulia. 2006, hlm. 6 - 14
[3] Jan S. Aritonang. Reformasi dalam Sejarah Gereja Zaman Modern. Yogyakarta: Kanisius.
2004, hlm. 35
[4] Ahmad Suhelmi. op.cit., hlm. 144
[5] Alister McGrath. Op.cit., hlm. 19
[6] Alister McGrath. Op.cit., hlm. 50