Anda di halaman 1dari 4

Oleh Apridar

ISLAM adalah agama yang diturunkan Allah untuk menebar rahmat (cinta kasih) bagi alam
semesta. Spirit cinta kasih (rahmat) dalam Islam tersebar dalam banyak teks-teks seperti yang
terkandung dalam Alquran dan Hadis.
Dalam kontek sosial kehidupan hari ini, secara empiris ditemukan bahwa orang-orang
mayoritas mengancam orang minoritas dalam beragama. Begitu juga dalam umat beragama
antar Islam. Antar penganut mazhab saling menebar kebencian, bukan menebarkan rahmat
atau cintah kasih seperti esensi dari Islam.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menyaksikan secara empiris bahwa orang-orang
yang beragama menjadi orang-orang kuat dan dengan bebas menebar kebencian bagi mazhab
lainnya. Lebih ekstrem banyak juga pemuka agama yang terjebak saling mengkafirkan,
menyesatkan dan saling intimidasi. Hal in sudah bisa dipastikan bahwa menjadi persoalan
bagi tatakelola kehidupan sosial masyarakat secara keseluruhan.
Hidup ini harus berdampingan dengan semua elemen. Supaya bermakna bagi diri kita, kaum
kita dan umat kita. Teloransi sesama muslim menjadi hal penting untuk saling ingatmengingatkan. Toleransi antar muslim perlu diperkuat dan dipupuk. Supaya tidak menjadi
alasan bagi orang non muslim untuk mengatakan bahwa Islam itu tidak teloransi antar
sesama, apalagi antar umat beragama. Makanya teloransi itu harus kita pupuk dan kita
perkuat. Baru kemudian, tolerasi antaragama kita kampanye dan disosialisasi esensi dari
hidup multi entik dan agama di dunia ini.
Perbedaan Mazhab
Sesungguhnya hidup dalam kontek hari ini, termasuk toleransi hidup antarmuslim masih
relevan dan penting dilestarikan dan dikampanyekan. Intimidasi dan inkonsistensi dalam
beragama sesama Islam itu harus dipahami sebagai sebuah ijtihad personal. Sentimentil
sesama umat Islam karena perbedaan mazhab, harus direspons sebagai sebuah pilihan yang
rahmatan lilalamin. Dan harus direspons pula sebagai kajian yang komprehensif supaya
terhindar dari stigma Islam yang terkotak-kotak, Islam kiri, Islam kanan, Islam ekstrem,
Islam radikal dan stigma-stigma lainnya.
Umat Islam dasar pijakannya berpedoman pada Alquran dan Hadis. Maknanya umat Islam
bebas untuk beribadah sesuai dengan mazhab yang dianutnya, asal mazhab itu bersandarkan
pada Alquran dan hadis.
Namun yang terjadi dalam penataan ibadah muslim hari ini, seolah-olah masyarakat didorong
untuk menganut suatu mazhab. Lalu meninggalkan dan menyalahkan mazhab yang lain.
Karena perbedaaan mazhab itulah, menjadi kunci dasar bagi terpecah belah umat Islam
kontemporer di dunia maupun di Aceh.
Dalam kontek kajian ilmiah, semua mazhab harus dipelajari. Menyangkut dengan mazhab
yang dianut seseorang itu kembali kepada orang-orang yang menyakini untuk memilihnya.
Tanpa harus memarginalkan sesama umat Islam, karena perbedaaan mazhab yang semuanya
bersandar pada Al Quran dan Hadis. Artinya seseorang tidak boleh mengkultuskan sebuah
mazhab dalam menyelesaikan suatu perkaran sunnah.

Dilihat lebih jauh, perpecahan umat muslim sebagai wujud dari penyebutan bahwa
perselisihan membawa rahmat. Ini menjadi kunci bagi pihak non Muslim untuk terus
menerus mendesain umat Islam untuk hidup dalam perpecahan. Karena perpecahan
dianggap sebagai rahmat. Ini tentu akan terus membawa dampak ketidakharmonisan antar
sesama muslim, baik di Aceh maupun di belahan dunia lain.
Secara pribadi, setidaknya saya memiliki 4 (empat) alasan sederhana, kenapa umat terutama
antar mazhab dalam Islam terkotak-kotak dan saling klaim, malah ada yang saling kafir
mengkafirkan.
Alasan pertama adalah adanya desainer yang ingin terus menerus supaya umat Islam selalu
hidup dalam perang antar mazhab. Alasan kedua adalah egoisme dalam memandang sebuah
kebenaran antar mazhab. Saling benci dan saling bunuh menjadi ending dari perdebatan antar
mazhab. Alasan ketiga adalah selalu menonjolkan perbedaan dalam ibadah sunnah (padahal
ibadah wajib masih banyak yang lebih perlu untuk didalami). Dan alasan keempat adalah
tidak ada kajian komprehensif dalam sebuah institusi Islam yang berkarakter untuk
kemaslahatan umat Islam dan antar umat beragama.
Peringatan Alquran
Dampak yang sangat krusial dari perbedaan mazhab adalah berujung pada saling bunuh
membunuh. Namun apa pun dalihnya, sesungguhnya haram mencaci dan membunuh sesama
Muslim. Kecuali betul-betul ada pengadilan di bawah kepemimpinan Islam yang
membuktikan bahwa orang itu memang harus dihukum mati/dibunuh.
Allah SWT berfirman, Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki atau
perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul
kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. AlAhzab:58). Kemudian Bukhari dan Muslim dalam
hadisnya menyebutkan bahwa Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya
adalah kekufuran.
Makanya tidak ada peluang bagi penganut mazhab tertentu dalam Islam saling menebar
kebencian dan saling membunuh. Artinya Peringatan Alquran dan hadis, sudah menjadi fakta
di mana semua orang mengabaikan untuk kemudian saling tuduh sesama muslim, dan saling
bunuh. Ini bukan hanya terjadi di manca negara, di negara kita dan daerah kita juga sering
terjadi. Apalagi di Aceh, perbedaan partai politik saja berakhir pada label pengkhiatan dan
pembunuhanan. Apalagi perbedaan aliran dan mazhab. Semoga Islam benar-benar menjadi
rahmatan lilalamin bagi masyarakat Aceh semuanya!
* APRIDAR adalah Rektor Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.-Aceh Utara. E-mail:
apridarunimal@yahoo.com

Memahami Arti Rahmatan LilAlamin


Travel Umroh Sinertour
Sebagian besar dari kita sudah mengetahui bahwa Islam adalah agama yang Rahmatan lil
alamin. Namun banyak orang menyimpangkan pernyataan ini kepada pemahamanpemahaman yang salah, Sehingga menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama
bahkan dalam hal yang sangat fundamental, yaitu dalam masalah aqidah, seperti berloyal
kepada orang kafir, dan lain sebagainya.
Maka dari itu pada tulisan kali ini Insya Allah akan kami sampaikan pemahaman yang
sebenarnya dari kalimat Rahmatan lil alamin, sekaligus bantahan dari para pendukung
kesesatan dan pluralisme agama yang berdalil dengan istilah tersebut.
Pernyataan bahwa Islam adalah agamanya yang Rahmatan lil alamin sebenarnya adalah
kesimpulan dari firman Allah Taala: yang artinya Kami tidak mengutus engkau, Wahai
Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia (QS. Al Anbiya: 107)
Dalam lisanul arob dijelaskan bahwa Secara bahasa, rahmat artinya ar-rifqu wath-thaathuf;
yang artinya adalah kelembutan yang berpadu dengan rasa iba. Atau dengan kata lain rahmat
dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad Shallallahualaihi
Wasallam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.
Adapun makna secara istilah, maka berikut ini akan kami sampaikan Penafsiran dari Para
Ahli Tafsir, diantaranya Muhammad bin Jarir Ath Thabari menyebutkan bahwa: Sebagian
ahli tafsir berpendapat, rahmat yang dimaksud adalah seluruh manusia baik mumin maupun
kafir. Mereka mendasarinya dengan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahuanhu dalam
menafsirkan ayat ini: Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan
baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang
menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua di tenggelamkan atau di terpa gelombang
besar.
Pendapat ahli tafsir yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang beriman
saja. Mereka membawakan riwayat dari Ibnu Zaid dalam menafsirkan ayat ini: Dengan
diutusnya Rasulullah, ada manusia yang mendapat bencana, ada yang mendapat rahmah,
walaupun bentuk penyebutan dalam ayat ini sifatnya umum, yaitu sebagai rahmat bagi
seluruh manusia. Seluruh manusia yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang beriman
kepada Rasulullah, membenarkannya dan menaatinya.
Selain itu, Ash Shabuni dalam Shafwatut Tafasir menjelaskan bahwa Maksud ayat ini adalah
Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh
makhluk. Sebagaimana dalam sebuah hadits: Sesungguhnya aku adalah rahmat yang
dihadiahkan oleh Allah (HR. Al Bukhari)
Orang yang menerima rahmat ini dan bersyukur atas nikmat ini, ia akan mendapatkan
kebahagiaan di dunia dan akhirat.Allah Taala tidak mengatakan rahmatan lilmuminin,
namun mengatakan Rahmatan lil alamin karena Allah Taala ingin memberikan rahmat
bagi seluruh makhluknya dengan diutusnya pemimpin para Nabi, yaitu Muhammad
Shallallahualaihi Wasallam. Beliau diutus dengan membawa kebahagiaan yang besar. Beliau
juga menyelamatkan manusia dari kesengsaraan yang besar. Beliau menjadi sebab

tercapainya berbagai kebaikan di dunia dan akhirat. Beliau memberikan pencerahan kepada
manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada
menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi
seluruh manusia. Bahkan orang-orang kafir mendapat manfaat dari rahmat ini, yaitu
ditundanya adzab bagi mereka. Selain itu mereka pun tidak lagi ditimpa azab berupa diubah
menjadi binatang, atau dibenamkan ke bumi, atau ditenggelamkan dengan air.
Inilah pemahaman yang benar tentang kalimat Rahmatan lil alamin, dan ini sangat
bersebrangan dengan Pemahaman yang disalah artikan oleh sebagian orang-orang liberalis,
dimana mereka mengatakan bahwa Rahmatan lil alamin adalah Berkasih sayang dengan
orang kafir. Padahal ayat yang menyebutkan Rahmatan lil alamin ini sama sekali tidak
anjuran untuk perintah berkasih sayang kepada orang kafir. Bahkan telah dijelaskan oleh para
ahli tafsir, bahwa bentuk rahmat Allah bagi orang kafir dalam ayat ini adalah dengan tidak
ditimpa musibah besar yang menimpa umat terdahulu.
Selain itu, konsekuensi dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah membenci segala
bentuk penyembahan kepada selain Allah, membenci bentuk-bentuk penentangan terhadap
ajaran Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam, serta membenci orang-orang yang
melakukannya.
Hal ini Sebagaimana firman Allah Taala, yang artinya adalah: Kamu tidak akan mendapati
sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan
orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak,
atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka (QS. Al-Mujadalah: 22)
Namun perlu dicatat, harus membenci mereka bukan berarti harus membunuh, melukai, atau
menyakiti orang kafir yang kita temui, dimana dalam hal ini terdapat penjelasan yang sangat
rinci, yaitu bahwa ada orang kafir yang wajib diperangi, ada pula yang tidak boleh
dilukai.Kemudian, ada juga di antara kaum muslimin yang mengatakan bahwa Rahmatan lil
alamin adalah Berkasih sayang dalam kemungkaran dan penyimpangan agama
Sebagian kaum muslimin membiarkan berbagai maksiat dan penyimpangan agama serta
enggan menasehati dan mendakwahi mereka karena khawatir para pelakunya tersinggung
hatinya jika dinasehati, kemudian ia berkata : Islam kan Rahmatan lilalamin, penuh kasih
sayang. Dan sungguh ini adalah perkataan yang sangat aneh
Padahal sebagaimana yang telah kami sampaikan tadi, bahwasanya Islam sebagai rahmat
Allah bukanlah maknanya berkasih sayang kepada pelaku kemungkaran serta membiarkan
mereka terus melakukannya. Melainkan Sebagaimana dijelaskan Ath Thabari dalam tafsirnya
tadi bahwa: Rahmat bagi orang mumin yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab
diutusnya Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam. Beliau Shallallahualaihi Wasallam
memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap
ajaran Allah.Maka bentuk kasih sayang Allah terhadap orang mumin adalah dengan
memberi mereka petunjuk untuk menjalankan perinta-perintah Allah dan menjauhi apa yang
dilarang oleh Allah, sehingga mereka menggapai jannah. Dengan kata lain, jika kita juga
merasa cinta dan sayang kepada saudara kita yang melakukan maksiat, sepatutnya kita
menasehatinya dan mengingkari maksiat yang dilakukannya dan mengarahkannya untuk
melakukan amal kebaikan. dan inilah bentuk Rahmatan lil alamin yang sebenarnya.
Selain itu Dalam surat Al Ashr juga dijelaskan bahwa sesame muslim harus saling
menasihati, sebagaimana Allah subhanahu Wataala berfirman yang artinya: dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.