Anda di halaman 1dari 8

TEORI EKONOMI BIAYA TRANSAKSI

Analisis biaya transaksi ini sering digunakan untuk mengukur efisien tidaknya desain
kelembagaan. Semakin tinggi biaya transaksi yang terjadi dalam kegiatan ekonomi
(transaksi), berarti semakin tidak efisien kelembagaan yang didesain; demikian sebaliknya.
Meskipun begitu, alat analisis ini dalam operasionalisasi masih mengalami beberapa
hambatan. Hambatan tersebut dapat dipilah dalam tiga level: pertama, Secara teoritis masih
belum terungkap secara tepat definisi dari biaya transaksi itu sendiri. Kedua, Setiap kegiatan
(transaksi) ekonomi selalu bersifat spesifik sehingga variabel dari biaya transaksi juga
berlaku secara khusus. Ketiga, Meskipun definisi dan variabel sudah dapat dirumuskan
dengan baik dan jelas, masalah yang muncul adalah bagaimana mengukurnya.
Definisi dan Makna Biaya Transaksi
Defenisi oleh Wiliiiamson, biaya transaksi adalah biaya untuk menjalankan sistem
ekonomi (the cost of running the economic system) dan biaya untuk menyesuaikan terhadap
perubahan lingkungan(cost to a change in circumstances) (Dorfman,1981;Challen 2000;
seperti dikutip oleh Mburu, 2002:41).
Secara spesifik, biaya transaksi pasar dapat dikelompokkan secara rinci sebagai
berikut: 1. Biaya untuk menyiapkan kontrak (secara sempit dapat diartikan sebagai biaya
untuk pencarian dan informasi); 2. Biaya untuk mengeksekusi kontrak (biaya negosiasi dan
pengambilan keputusan); 3. Biaya pengawasan dan pemaksaan kewajiban yang tertuan dalam
kontrak.
Biaya transaksi manajerial ada 3 macam meliputi: (1) Biaya penyusunan (setting-up),
pemeliharaan, atau perubahan desain organisasi. (2) Biaya menjalankan organisasi, biaya ini
meliputi: a) Biaya Informasi, b) Biaya yang diasosiasikan dengan transfer fisik barang dan
jasa yang divisinya terpisah. (3) Biaya transaksi politik yaitu, biaya penawaran barang
publik yang dilakukan melalui tindakan kolektif dan dapat dianggap sebagai analogi dari
biaya transaksi manajerial. Biaya ini meliputi : a) Biaya penyusunan, pemeliharaan, dan
perubahan organisasi politik formal dan informal. b) Biaya untuk menjalankan politik biaya
ini adalah pengeluaran masa sekarang untuk hal-hal yang berkaitan dengan tugas
kekuasaan.
Mburu dan Birner menganggap biaya transaksi sebagai biaya yang muncul dari
penciptaan dan implementasi kesepakatan kelembagaan. Oleh karena itu, yang dimaksud
biaya transaksi adalah biaya atas lahan, tenaga kerja, kapital, dan keterampilan
kewirausahaan yang diperlukan untuk memindahkan (transaction) secara fisik input menjadi
output.

Literatur ekonomi biaya transaksi mengidentifikasi tiga biaya yang sangat penting
dalam proses pertukaran (Dietrich, 1994:21): 1) Biaya yang muncul atas seluruh perbedaan
yang terjadi belakangan setelah hubungan kontrak diputuskan dan biaya perencanaan untuk
menyelesaikan bagaimana persoalan perbedaan tersebut harus diselesaikan. 2) Biaya
negosiasi dengan pihak lain berkenaan dengan rencana yang dibuat. 3) Biaya pembuatan
rencana yang dalam implementasinya dapat ditegakkan oleh pihak ketiga apabila terjadi
perselihan.
Dari sudut pandang yang lain, biaya transaksi dapat pula dipisahkan menjadi biaya
transaksi sebelum kontrak (ex-ante) dan setelah kontrak (ex-post). Biaya transaksi ex-ante
adalah biaya membuat draf, negosiasi, dan mengamankan kesepakatan. Biaya transaksi expost meliputi biaya-biaya sebagai berikut: 1). Biaya kegagalan adaptasi ketika transaksi
menyimpang dari kesepakatan yang telah dipersyaratkan. 2). Biaya negosiasi yang terjadi jika
upaya bilateral dilakukan untuk mengkoreksi penyimpangan setelah kontrak. 3). Biaya untuk
merancang dan menjalankan kegiatan yang berhubungan dengan struktur tata kelola
pemerintahan. 3). Biaya pengikatan agar komitmen yang telah dilakukan dapat dijamin.
Rasionalitas Terbatas dan Perilaku Oportunistis
Dua asumsi perilaku ketika analisis biaya transaksi beroperasi adalah rasionalitas
terbatas (bounded rationality) dan perilaku oportunis (opportunistic) [Williamson, 1981b:
1545], yang secara umum termanifestasikan dalam wujud menghindari kerugian,
penyimpangan moral, penipuan, melalaikan kewajiban, dan bentuk-bentuk perilaku strategis
lain; untuk menjelaskan pilihan sistem kontrak dan struktur kepemilikan perusahaan.
Bounded-rationality sendiri merujuk kepada tingkat dan batas kesanggupan individu untuk
menerima, menyimpan, mencari kembali, dan memproses informasi tanpa kesalahan
(Williamson, 1973:317). Konsep bounded-rationality ini didasarkan pada dua prinsip: (1)
Individu atau kelompok yang terdiri atas beberapa individu, memiliki batas-batas
kemampuan untuk memproses dan menggunakan informasi yang tersedia. (2) Tidak mungkin
menyatakan bahwa semua negara di dunia dan semua hubungan sebab-akibat yang relevan
dapat diidentifikasi dengan bersandarkan kepada kejadian sebelumnya. Implikasinya, setiap
pelaku ekonomi akan selalu menghadapi informasi yang tidak lengkap atau dengan kata lain
terjadi ketidakpastian informasi.
Perilaku oportunistis adalah upaya untuk mendapatkan keuntungan melalui praktik
yang tidak jujur dalam kegiatan transaksi. Menurut Williamson (dalam Kherallah dan
Kirsten, 2001:12-13), selalu akan terjadi trade-off antara biaya koordinasi dan hierarki di
dalam organisasi, antara biaya transaksi dan pembuatan kontrak di pasar. Trade-off tersebut

bergantung kepada besarnya biaya transaksi. Untuk memudahkan atau menyulitkan


pembuatan kontrak tersebut, bentuk-bentuk kontrak biasanya ditentukan oleh tingkat dan sifat
biaya transaksi yang eksistensinya dipengaruhi oleh keberadaan informasi yang tidak
sempurna. Dengan cara pandang ini, inti dari ekonomi biaya transaksi tidak lain adalah biayabiaya yang muncul berkenaan dengan informasi.
Lebih dalam lagi, North (1990b:27) menolak asumsi adanya informasi yang sempurna
dan pertukaran tanpa biaya (costless exchange) yang dibuat oleh model pasar persaingan
sempurna. Sebaliknya, ia melihat adanya biaya transaksi dalam pertukaran akibat adanya
informasi yang tidak sempurna. North menyatakan bahwa biaya mencari informasi
merupakan kunci dari biaya transaksi, yang terdiri atas biaya untuk mengerjakan pengukuran
kelengkapan-kelengkapan yang dipertukarkan dan biaya untuk melindungi hak-hak
kepemilikan da menegakkan kesepakatan. Oleh karena itu, agar pertukaran atau perdagangan
dapat terjadi dengan biaya transaksi yang murah, masing-masing pelaku ekonomi harus
mengeluarkan sumber daya dalam tiga wilayah yang tergolong kegiatan kontrak (Poulton, et
al., 1998:12): (1) Mengukur atribut yang dapat dinilai sehingga proses pertukaran/transaksi
terjadi.. (2) Melindungi hak-hak terhadap barang dan jasa yang telah dipertukarkan. (3)
Meregulasi dan menegakkan kesepakatan.
Dengan begitu faktor paling penting yang mempengaruhi besaran biaya transaksi adalah
sifat hak-hak kepemilikan di dalam masyarakat. Ahli-ahli kelembagaan baru (new
institutionalist) percaya bahwa perubahan kesepakatan kelembagaan mengenai hak-hak
kepemilikan akan memiliki dampak terhadap pencapaian ekonomi. Bagi aliran kelembagaan
baru, begitu pula teori-teori tindakan kolektif, pemapanan, dan penegakan hak-hak
kepemilikan swasta adalah sangat vital dalam pembentukan biaya transaksi dan untuk
menjamin keamanan yang dibutuhkan bagi investasi jangka panjang.
Biaya Transaksi dan Efisiensi Ekonomi
Tantangan pembangunan ekonomi adalah untuk mengurangi biaya transaksi pada saat
melakukan perdagangan yang semakin kompleks. Hal ini akan tercapai bila desain
pembangunan kelembagaan yang dibuat memang mendukung kegiatan perdagangan, yakni
melalui penyediaan informasi, melindungi hak kepemilikan, dan menyiapkan mekanisme
yang efektif untuk menegakkan kesepakatan (Poulton et al., 1998:12-13).
Besaran biaya transaksi juga dapat terjadi karena adanya penyimpangan dalam wujud: (i)
Penyimpangan atas lemahnya jaminan hak kepemilikan; (ii) Penyimpangan pengukuran atas
tugas yang kompleks dan prinsip yang beragam; (iii) Penyimpangan intertemporal, yang
dapat berbentuk kontrak yang timpang, responsivitas waktu nyata, ketersembunyian
informasi yang panjang, penyalahgunaan strategis; (iv) Penyimpangan yang muncul karena

kelemahan dalam kebijakan kelembagaan yang berhubungan dengan pembangunan dan


reformasi ekonomi; (v) Kelemahan integritas, yang dirujuk oleh James Wilson (1989) sebagai
sovereign transactions (Williamson, 1998:76).
Akar dari seluruh masalah ini adalah informasi yang kurang sempurna. Kontraktor
berusaha untuk membuat keputusan rasional, yang didasarkan atas informasi, tetapi dibatasi
oleh kesenjangan informasi yang tersedia. Oleh karena itu biaya kontrak yang telah
diidentifikasi oleh North ditambahkan oleh Williamson dengan biaya adaptasi. Biaya adaptasi
ini meliputi: (i) Biaya yang ditimbulkan ketika kontrak yang sudah terjadi mengalami
perpindahan ke situasi suboptimal di bawah kondisi yang diharapkan.; (ii) Biaya negosiasi
untuk mendapatkan skema kontrak yang lebih baik dari pihak lain; dan; (iii)Biaya arbitrasi
atau pergi ke pengadilan apabila terjadi sengketa. Relatif pentingnya perbedaan biaya yang
diasosiasikan dengan transaksi tergantung kepada sifat transaksi tersebut. Williamson
(1981b:1546) mengompilasi tiga sifat utama dari transaksi yaitu: (1) Frekuensi; (2)
Ketidakpastian; (3)Spesifitas asset.
Determinan dan Variabel Biaya Transaksi
Isu utama dalam biaya transaki adalah pengukuran. Dari studi yang dilakukan banyak
tokoh deskripsi tersebut dapat dirasakan adalah bahwa pengukuran biaya transaksi
merupakan masalah pelik sehingga diperlukan pemahaman yang sama mengenai
defenisi,determinan,dan variabel yang seragam dari biaya transaksi. Pada titik inilah
mengidentifikasi faktor-faktor yang menentukan besarnya biaya transaksi menjadi penting
untuk diketahui. Seperti yang diungkapkan oleh Zhang (2000:288)faktor-faktor yang
mempengaruhi besarnya biaya transaksi paa umumnya dapat dikelompokkan dalam tiga hal
berikut :
1. What : the identity of bundle of right (hak-hak atau komoditas)
2. Who : to identity of agents involved in the exchanges
3. How : the institutions, technical and social, governing the exchange and how to organize
the wxchanges.
Berdasarkan penjelasan tentang definisi dan faktor faktor yang mempengaruhi besaran
biaya transaksi di atas, setidaknya terdapat 4 determinan penting dari biaya transaksi sebagai
unit analisis : 1. Apa yang disebut sebagai atribut perilaku yang melekat pada setiap pelaku
ekonomi, yaoti terbatas/ terikat dan oportinisme.; 2. Sifat yang berkenaan dengan atribut dari
trasaksi, yaitu spesifitas aset, ketidakpastian, dan frekuensi; 3. Hal hal yang berkaitan
dengan struktur tata kelola kegiatan ekonomi, yaitu pasar, hybris, hiraki, dan pengadilan,
regilasi dan birokasi publik.; 4. Faktor yang berdekatan dengan asepk lingkungan
kelembagaan, yaitu hukum kepemilikan, kontrak dan budaya.

Dalam konteks variabel biaya transaksi pada level perusahaan, Strassmann (2002:7-8)
mengklasifikasikan biaya transaksi dalam variabel-variabel berikut:

Organisasi tenaga kerja dan pengguna


Mengolah informasi
Koordinasi pemasok
Memotivasi pelanggan
Mengelola distributor
Memuaskan pemegang saham dan

peminjam
Fee, komisi, cukai dan pajak
Penelitian dan pengembangan

Pemasaran
Penjual
Manajemen
Iklan
Pelatihan
Biaya-biaya teknologi informasi
Laporan neraca keuangan yang telah
diaudit

Dalam analisis ekonomi konvensional seluruh variabel tersebut dikategorikan sebagai

biaya produksi. Yang secara otomatis terpisah/tidak terkait dengan model kelembagaan yang
di desain. Hal ini justru makin mengaburkan cara penanganan perusahaan untuk mencapai
efisiensi.

RANGKUMAN TEORI EKONOMI BIAYA TRANSAKSI


Mata Kuliah Ekonomi Kelembagaan
Dosen: DR. Ir. Nanik Dara Senjawati, M.P.

Disusun Oleh:
Fajar Himawan 135150081

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN


YOGYAKARTA
2016