Anda di halaman 1dari 5

TES UNTUK MENGUNGKAP KEMAMPUAN DIVERGEN DAN KONVERGEN

Proses pembelajaran harus benar-benar memperhatikan keterlibatan siswa. Proses


pembelajaran lebih banyak mengembangkan belahan otak kiri yang cenderung berpikir
konvergen, dan jarang sekali menyentuh wilayah belahan otak kanan yang cenderung berpikir
divergen (Haryanto, 2015: 37).
Salah satu tujuan pembelajaran adalah melatih atau membangun kemampuan berpikir
kritis dan kreatif pada diri peserta didik. Hal itu akan terbangun manakala peserta didik
dibiasakan untuk berpikir divergen (Carin & Sund, 1989: 155-159).
1. Berpikir Divergen
Cara berpikir divergen adalah pola berpikir seseorang yang lebih didominasi oleh
berfungsinya belahan otak kanan, berpikir lateral, menyangkut pemikiran sekitar atau yang
menyimpang dari pusat persoalan (Crowl, Keminsky, and Podell, 1997:5). Berpikir divergen
adalah berpikir kreatif, berpikir untuk memberikan bermacam kemungkinan jawaban
berdasarkan informasi yang diberikan dengan penekanan pada kuantitas, keragaman, dan
oriinalitas jawaban (Utami Munandar, 1992:231).
Pola berpikir divergen lebih tertuju pada pengembangan kemampuan dalam
menghasilkan elaborasi kreativitas dari ide-ide yang dihasilkan dari stimulus. Berpikir
divergen diklaim cenderung merupakan preferensi bagi

bidang seni dan kemanusian.

Pendekatan yang cocok untuk kemampuan berpikit kreatif dari peserta didik yaitu pendekatan
open-ended, Pendekatan open-ended artinya bentuk penyelesaian yang

terbuka dengan

bermacam versi, artinya bisa dengan cara a, b, atau c tergantung tingkat kemampuan siswa.
Hal ini tentu membuat semua siswa dapat menikmati pelajaran tanpa harus memaksakan satu
macam penyelesaian saja. Pendekatan open-ended ini memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk berpikir bebas sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Untuk mengukur kemampuan kreativias peserta didik, cocok digunakan tes essay yang
menuntut jawaban kreatif. Silver (1997) juga menjelaskan bahwa komponen berpikir kreatif
mencakup kefasihan (fluency), fleksibilitas (flexibility) dan kebaruan (novelty). Hubungan
komponen tersebut dengan pengajuan dan pemecahan masalah seperti pada tabel berikut.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lina Artuty Widyasari (2013: 7), digunakan
dua macam model dalam mengukur kreativitas peserta didik yaitu concept mapping dan mind
mapping. Hasil concept mapping siswa dengan kreativitas tinggimenggunakan kata yang
sesuai untuk menandai adanya hubungan antar konsep-konsep, jumlah hirarki antar konsep
lebih berkembang, terdapat keterkaitan antar konsep, serta disertai contoh-contoh konkret.
Sedangkan pada siswa dengan kreativitas rendah, setiap konsep dihubungkan dengan katakata yang berulang-ulang (misal: terdiri atas, dibagi menjadi), hirarki terbatas, tidak terdapat
keterkaitan antar konsep, dan contoh terbatas. Selanjutnya dari hasil model mind mapping,
siswa dengan kreativitas tinggi tanpa ragu memberikan simbol dan gambar yang bervariatif,
menggunakan pewarnaan, serta memiliki banyak percabangan di bawah cabang utama.
Contoh item pengukur keterampilan proses sains pola divergen (Bambang Subali, 2009:
592).
Aspek
Pengamatan

Soal dan Kunci/rubrik


Soal:
Bila Anda diminta mengamati seekor hewan tanpa menggunakan
alat,
kemukakan lebih dari tiga macam data yang dapat Anda
laporkan?
Kunci:
1. bentuk tubuh hewan secara keseluruhan
2. bentuk tiap bagian tubuh
3. warna kulit tubuh
4. kekasaran kulit tubuh
5. gerakan tubuh/bagian tubuh
6. panjang tubuh secara kualitatif
7. berat tubuh secara kualitatif
8. suara yang dikeluarkannya
9. suhu tubuh secara kualitatif
10. jawaban lain yang benar/memiliki pola seperti jawaban di
atas

2. Berpikir Konvergen
Pemikir konvergen cenderung menyukai tugas-tugas praktis, kegiatan yang terstruktur,
bekerja dengan fakta, berpikir & bertindak secara bertahap, serta memandang setiap
persoalan secara serius.

Seseorang disebut memiliki preferensi berpikir konvergen jika memiliki kemampuan


dalam mengumpulkan material, informasi, dan skill untuk digunakan dalam memecahkan
masalah sedemikian rupa dan dapat dihasilkan jawaban yang benar. Kemampuan berpikir ini
sangat cocok pada pelajaran ilmu alam, matematika, dan teknologi. Alasannya karena bidang
ini membutuhkan konsistensi, dan reliabilitas. Kemampuan ini sangat cocok diukur dengan
tipe tes standar, seperti tes-tes intelegensi dan tes dalam ujian-ujian nasional.
Kegiatan praktikum yang menuntut pengamatan terhadap fenomena akan menantang
kemampuan berpikir kritis siswa (Broadbear 2003: 1-8). Pada kegiatan praktikum ini, guru
menguji peserta didik dengan melakukan pretest (kemampuan berpikir kritis siswa sebelum
praktikum) dan postest (kemampuan berpikir kritis siswa sesudah praktikum).
Indikator yang digunakan sebagi acuan kemampuan berpikir kritis siswa adalah sebagai
berikut: (1) Mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan (2) Mencari alasan (3)
Berusaha mengetahui informasi dengan baik (4) Bersikap dan berpikir terbuka (5) Mencari
penjelasan sebanyak mungkin apabila memungkinkan (dalam Hassoubah, 2004).
Berikut ini adalah contoh kisi-kisi dan soal pretest dan postest untuk materi
Keanekaragaman hayati pada indikator Mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan
(Septi Yustyan, 2015: 6-7).
Indikator

Sebelum Praktikum

Sesudah Praktikum

Mencari pernyataan
- Pertanyaan
- Pertanyaan
1.
Pada
gambar
termasuk
1.
Apakah
gambar
diatas
masih
yang jelas dari setiap
keanekaragaman tingkat apa?
mempunyai hubungan?
pertanyaan
2. Makan apa hewan diatas?
2. Termasuk pemakan apakah hewan
3. Termasuk dalam famili apa?
tersebut?
4. Apa spesies mereka sama?
3. Apakah hewan tersebut termasuk satu
spesies?
4. Dengan cara apa mereka mencari
makanan?

1.
2.
3.
4.
5.

- Pernyataan
Tingkat jenis
Daging
Famili Fellidae
Tingkat jenis
Beda

- Pernyataan
1. Masih, karena masih dalam tingkat
jenis (dalam satu spesies)
2. Pemakan daging termasuk golongan
hewan karnivora
3. Tidak, hewan tersebut satu jenis tetapi
beda spesies
4. Menggunakan cakarnya yang tajam
dengan cara mencengkram mangsanya

Dari contoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa kegiatan praktikum yang menggunakan
tes tertulis berupa pretest dan postes dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta
didik.
Orang diklasifkasikan sebagai individu dengan cara berpikir divergen atau konvergen
berdasarkan performasi yang ditunjukkan dalam mengerjakan suatu tugas atau tes tertentu,
kuat lemahnya kecenderungan itu dapat dilihat dari proses bagaimana individu menangani
situasi-situasi lainnya (Briggs and Moor, 1993: 59).
Tes angket dapat digunakan untuk mengetahui kecenderungan cara berpikir siswa.
Misalnya pada angket yang setiap butir disediakan tiga alternatif jawaban yaitu; YA, TIDAK,
dan MENGISI TITIK-TITIK. Jika sebagian besar butir di-jawab YA atau TIDAK
mengindikasikan bahwa siswa memiliki kecenderungan berpikir konvergen dan jika sebagian
besar butir diawab dengan cara mengisi TITIK-TITIK yang disediakan mengidikasikan
bahwa siswa memiliki kecenderungan berpikir divergen. Contoh: Sampah harus dibuang di
tempat sampah. Bagi yang cenderung berpikir konvergen akan menjawab YA atau TIDAK,
tetapi bagi yang cenderung berpikir divergen mungkin akan mengisi kolom TITIK-TITIK
dengan jawaban Sampah plastik dan logam tidak harus dibuang (Haryanto, 2005: 40).
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Subali. 2009. Pengembangan Tes Pengukur Keterampilan Proses Sains Pola
Divergen Mata Pelajaran Biologi SMA. Prosiding Seminar Nasional Biologi. FMIPA:
Universitas Negeri Yogyakarta
Briggs, John B. and Phillip J. Moore. (1993). The Process of Learning. Sidney Australia:
Prentice Hall
Broadbear J T. 2003. Essential elements of lessons designed to promote critical thinking. The
Journal of Scholarship of Teaching and Learning (JoSoTL)
Haryanto. 2015. Pembelajaran Konstruktivistik Meningkatkan Cara Berpikir Divergen Siswa
SD. Jurnal. Universitas Negeri Yogyakarta
Hasoubah, Izhab Zaleha. 2007. Mengasah Pikiran Kreatif dan Kritis. Bandung: NuansaCarin,
A.A. dan Sund, R.B. 1989. Teaching science through discovery. Columbus: Merrill
Publishing Company
Lina Artuty Widyasari, dkk. 2013. Pembelajaran Biologi Menggunakan Model Accelerated
Learning Melalui Concept Mapping dan Mind Mapping Ditinjau dari Kreativitas dan
Kemampuan Verbal Siswa. Jurnal Inkuiri. Universitas Sebelas Maret Surakarta

Septi Yustyan. 2015. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dengan Pembelajaran Berbasis
Scientific Approach Siswa Kelas X SMA Panjura Malang. Jurnal. FKIP Universitas
Muhammadiyah Malang
Utami Munandar. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: PT.
Gramedia