Anda di halaman 1dari 23

JURNAL

Timing of First Antenatal Care Attendance and


Associated Factors among Pregnant Women in
Arbs Minch Town and Arba Minch District, Gamo
Gofa Zone, South Ethiopia

Pembimbing

Oleh

: dr. Putu Ary Ratih Sp.OG

: Lita Muliawati
011.06.0047

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RSUD DR.R.SOEDJONO SELONG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM AL AZHAR
MATARAM
2016

Pemilihan Waktu Kehadiran Pelayanan Antenatal Pertama dan FaktorFaktor Terakit di antara Wanita hamil di Kota Arba Minch dan Distrik Arba
Minch, Zona Gamo Gofa, Ethiopia Selatan
Tujuan. Untuk menilai pemilihan waktu kehadiran pelayanan antenatal pertama
dan faktor-faktor yang terkait di antara wanita hamil di Kota Arba Minch dan
Distrik Arba Minch, Ethiopia selatan. Metode. Penelitian cross-sectional berbasis
fasilitas menggunakan kedua metode kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan dari
bulan Februari sampai Maret 2014, di Kota Arba Minch dan Distrik Arba Minch.
Data dikumpulkan dari 409 wanita hamil yang menghadiri klinik pelayanan
antenatal di sembilan fasilitas kesehatan masyarakat menggunakan pengambilan
sampel acak sistematik. Analisis dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 20.
Statistik deskriptif dan biner/berpasangan dan analisis regresi logistik multipel
dilakukan. Hasil. Rata-rata (SD ) usia responden adalah 26 5,5 years. Rata-rata
usia kehamilan pada kehadiran pelayanan antenatal pertama adalah 5 1,5 bulan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa wanita hamil dengan pendapatan bulanan yang
rendah (AOR = 4,9, CI: 1.71, 14.08), wanita yang tidak menerima nasihat
mengenai kapan memulai ANC (AOR = 3, CI: 1.48, 6.24), wanita dengan
kerawanan pangan/makanan rumah tangga (AOR = 4,66, CI: 1,007, 21.59) dan
wanita dengan kehamilan yang tidak direncanakan (AOR = 4,49, CI: 2.16, 9.35)
memiliki peluang/odds lebih tinggi dari kehadiran pelayanan antenatal
akhir/lambat dibandingkan dengan wanita hamil lainnya. Kesimpulan. Penelitian
ini menunjukkan bahwa sebagian besar wanita hamil terlambat menghadiri

pelayanan antenatal pertama. Oleh karena itu, memberikan pendidikan kesehatan


mengenai pemilihan waktu pelayanan antenatal adalah hal yang penting.
1. Pendahuluan
Mortalitas ibu adalah masalah kesehatan utama di sub-Sahara Afrika. Menurut
estimasi terbaru oleh estimasi angka mortalitas ibu antar kelompok, jumlah
kematian ibu di seluruh dunia telah menurun menjadi 289.000 pada 2013,
mewakili penurunan 45% dari tingkat pada tahun 1990. Sekitar 62% dari
kematian ini terjadi di sub-Sahara Afrika di mana angka mortalitas ibu masih
berada di 510 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Selain itu, sebagian besar
negara-negara dengan angka mortalitas ibu tertinggi adalah di sub-Sahara Afrika,
termasuk Ethiopia. Pada tahun 2011, angka mortalitas ibu di Ethiopia diperkirakan
676 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Sebagian besar kematian ini terjadi tak
terduga selama persalinan, persalinan, dan dekat periode postpartum. Meskipun
upaya-upaya telah dilakukan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium
(MDG5) pada kesehatan ibu untuk mengurangi angka mortalitas ibu (AKI)
sebanyak tiga perempat pada tahun 2015, tujuan ini belum tercapai belum. Hal ini
terutama karena rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu. Kualitas
reproduksi dan pelayanan kesehatan ibu selama kehamilan, persalinan, dan
periode postpartum secara efektif dapat menjamin hasil/outcome kesehatan yang
positif bagi perempuan dan anak-anak mereka.
Kehamilan adalah salah satu periode paling penting dalam kehidupan seorang
wanita, sebuah keluarga, dan masyarakat. Pelayanan antenatal (ANC) adalah
pelayanan khusus untuk wanita selama kehamilan melalui pelayanan kesehatan

masyarakat. Tujuan dari ANC adalah untuk mencegah masalah kesehatan pada
janin dan ibu dan untuk memastikan bahwa setiap anak yang baru lahir memiliki
awal yang baik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan bahwa
wanita hamil di negara-negara berkembang harus mencari ANC dalam tiga bulan
pertama kehamilan. Untuk area program khususnya, yaitu, tuberkulosis (TB), gizi,
imunisasi tetanus, dan pengobatan profilaksis malaria dan human immune
virus/acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS) dan infeksi menular
seksual lainnya (IMS), periode antenatal merupakan kesempatan penting, namun
saat ini tampaknya kuranng dieksploitasi.
Selain itu, perencanaan untuk persalinan yang aman merupakan bagian
integral dari ANC. Kehadiran pelayanan antenatal dini selama tiga bulan pertama
kehamilan memainkan peran utama dalam mendeteksi dan mengobati beberapa
komplikasi kehamilan dan membentuk dasar yang baik untuk tatalaksana yang
tepat saat melahirkan dan setelah melahirkan. Kegagalan untuk menghadiri
pelayanan antenatal dini menghasilkan pada potensi untuk komplikasi selama
kehamilan, persalinan, dan nifas. Namun, bukti yang ada dari negara-negara
berkembang termasuk Ethiopia menunjukkan bahwa beberapa wanita mencari
pelayanan antenatal pada tahap awal dari kehamilan mereka. Menurut Survei
Kesehatan Demografi Ethiopia 2011, 19% dari wanita dengan kelahiran hidup
dalam lima tahun sebelum survei dilakukan empat atau lebih kunjungan ANC
selama kehamilan terbaru/terakhir mereka, sementara hanya 11% yang melakukan
kunjungan ANC pertama mereka sebelum bulan keempat kehamilan. Durasi ratarata kehamilan pada kunjungan pertama adalah 5,2 bulan, dan wanita perkotaan

membuat kunjungan ANC pertama mereka lebh awal/dini (4,4 bulan)


dibandingkan wanita pedesaan (5,5 bulan).
Penelitian telah mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi
pemanfaatan pelayanan antenatal di negara-negara berkembang, meskipun ada
beberapa penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan waktu
kehadiran ANC pertama. Faktor-faktor ini meliputi, antara lain, pendidikan ibu,
pendidikan suami, ketersediaan pelayanan kesehatan, biaya, pendapatan rumah
tangga, pekerjaan wanita, paparan media, dan memiliki riwayat komplikasi
obstetri. Meskipun ada bukti yang terbatas, kunjungan yang terlambat dari
pelayanan antenatal telah dikaitkan dengan usia muda, status pranikah, kehamilan
yang tidak diinginkan, paritas tinggi, kurangnya pendidikan formal, status sosial
ekonomi rendah, dan etnis. Kehamilan yang tidak diinginkan juga memiliki
pengaruh pada penggunaan pelayanan antenatal; ini dapat menyebabkan ibu untuk
menghadiri pemeriksaan kehamilan yang terlambat atau tidak melakukan
kunjungan sama sekali. Kualitas pelayanan antenatal mungkin memiliki pengaruh
pada pemanfaatan pelayanan antenatal, yang menyebabkan kunjungan pertama
yang jarang atau terlambat untuk pelayanan antenatal.
Bahkan di daerah perkotaan Ethiopia, di mana pelayanan kesehatan dapat
diakses secara fisik dan tersedia dan juga pelayanan kesehatan ibu di fasilitas
umum yang disediakan secara gratis, kehadiran ANC dini/awal masih rendah.
Penelitian ini mengidentifikasi beberapa hambatan untuk kehadiran ANC
awal/dini. Sebuah penelitian yang dilakukan di Addis Ababa (Ethiopia)
mengungkapkan bahwa responden yang menerima nasihat mengenai waktu yang

direkomendasikan lebih mungkin untuk memulai ANC tepat waktu daripada


mereka yang tidak memiliki informasi atau nasihat tentang ANC. Penelitian lain
di Bahir Dar, Ethiopia, menunjukkan bahwa kemungkinan melahirkan di rumah
adalah lebih besar di antara ibu-ibu yang mulai menghadiri ANC setelah 24
minggu kehamilan. Tidak ada penelitian tentang besarnya inisiasi ANC awal/dini
dan faktor-faktor terkait di Ethiopia bagian selatan dan di daerah penelitian pada
khususnya. Inisiasi yang terlambat dari ANC dapat menyebabkan tidak deteksi
atau terdeteksi lambat dari masalah kesehatan ibu dan komplikasi yang tidak
dikelola selanjutnya di kalangan wanita hamil dan dengan demikian memberikan
kontribusi untuk mortalitas ibu. Sehingga, tujuan dari penelitian ini adalah untuk
memeriksa faktor-faktor yang terkait dengan keterlambatan/penundaan kehadiran
ANC pertama.
2. Metode
2.1 Tempat Penelitian. Penelitian dilakukan di Kota Arba Minch dan fasilitas
kesehatan masyarakat Distrik Arba Minch, Zona Gamo Gofa, di Ethiopia
bagian selatan. Arba Minch adalah sebuah kota yang terletak 505 Km dari
Addis Ababa dan 275 km barat daya dari Hawassa, ibu kota dari negara bagian
daerah selatan. Desain penelitian cross-sectional berbasis fasilitas dilakukan
menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini dilakukan di
antara wanita hamil yang dipilih menghadiri layanan ANC di fasilitas
kesehatan publik dari Februari hingga Maret, 2014. Wanita hamil yang
menghadiri kunjungan ANC pertama di fasilitas kesehatan lain yang

mengalami sakit parah dan tidak mampu merespon dikeluarkan dari


penelitian.
2.2 Ukuran Sampel dan Teknik Sampling. Ukuran sampel untuk penelitian
dihitung menggunakan satu rumus proporsi populasi tunggal dengan asumsi
sebagai berikut. Berdasarkan temuan dari penelitian sebelumnya di Bahir Dar
(Ethiopia) proporsi perempuan yang memulai ANC setelah bulan keempat
ditemukan

menjadi

59%.

Dengan

asumsi

margin

of

error/margin

kesalahan5%, /2 = nilai untuk 95% CI (1,96), proporsi = 59%, dan tingkat


tidak respon 10%, ukuran sampel 409 wanita hamil diperoleh. Kemudian,
sampling sistematik terstratifikasi dilakukan untuk memilih peserta penelitian
dari masing-masing fasilitas kesehatan dengan total sembilan fasilitas
kesehatan masyarakat. Interval sampling ( = / = 2) digunakan pada
sembilan fasilitas kesehatan masyarakat untuk memilih subyek penelitian.
Klien pertama dipilih dengan metode undian di antara dua pengguna layanan
ANC pertama. Metode sampling purposive/sengaja digunakan untuk memilih
penyedia ANC yang memiliki lebih banyak pengalaman di unit ANC di
fasilitas kesehatan dan penyuluh kesehatan yang bekerja di distrik untuk data
kualitatif.
Variabel hasil dari penelitian ini adalah kehadiran ANC pertama yang
lambat (memulai ANC setelah 16 minggu kehamilan), sedangkan variabel
independen meliputi faktor sosiodemografi dan ekonomi seperti usia, status
pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, agama, suku, tempat tinggal,
pendapatan bulanan, dan ukuran keluarga; faktor-faktor terkait pelayanan

kesehatan seperti kepuasan klien dengan layanan ANC, ketersediaan Penyedia


Layanan Kesehatan, jarak fasilitas kesehatan, pembayaran untuk ANC, waktu
tunggu, dan keberadaan sumber daya; faktor ibu seperti penggunaan layanan
sebelumnya, budaya, keyakinan, pengetahuan terhadap ANC, sarana kesadaran
kehamilan, persepsi tentang penggunaan pencarian dini/awal ANC, nasihat dari
orang lain yang signifikan, dan waktu pengakuan kehamilan; Faktor terkait
obstetrik seperti penerimaan kehamilan oleh orang lain yang signifikan, urutan
kelahiran, jenis kehamilan, graviditas, paritas, dan riwayat obstetri yang buruk
(aborsi dan tetap lahir); dan status kerawanan pangan/makanan rumah tangga
dianggap sebagai variabel independen.
2.3. Pengumpulan data. Data kuantitatif dikumpulkan dengan menggunakan
wawancara terstruktur dengan pemberian kuesioner. Kuesioner diterjemahkan
ke bahasa lokal dan dilakukan pretest sebelum penggunaan lapangan. Sembilan
perawat wanita, dilatih selama dua hari, melakukan wawancara keluar dengan
wanita hamil. Wawancara dilakukan di lingkungan yang pribadi dan tenang
sehingga menjamin kerahasiaan. Bagi peserta yang tidak ingat usia kehamilan
mereka, catatan medis mereka dikaji pada hari yang sama untuk
mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang usia kehamilan selama
kunjungan ANC pertama mereka setelah mendapatkan persetujuan. Skala
keamanan pangan rumah tangga digunakan untuk mengukur status keamanan
pangan. Untuk data kualitatif panduan wawancara pertanyaan terbuka
digunakan untuk wawancara mendalam dengan wanita hamil, pekerja klinik
ANC, dan penyuluh kesehatan. Wawancara mendalam dengan enam wanita

hamil, empat penyedia layanan antenatal, dan empat penyuluh kesehatan juga
dilakukan di daerah penelitian sampai informasi memenuhi.
2.4. Analisis data. Epidata3.1 dan SPSS versi 20 digunakan untuk masingmasing entri data dan analisis. Distribusi frekuensi dari variabel yang
berkepentingan dihitung untuk menggambarkan karakteristik responden.
Analisis regresi logistik biner digunakan untuk mengidentifikasi variabel yang
signifikan dengan variabel hasil pada nilai 0,25 dan yang variabel
dipertimbangkan untuk model akhir. Pada akhirnya, analisis logistik mulipel
dilakukan untuk mengidentifikasi prediktor-prediktor dari pemesanan ANC
yang terlambat. Metode regresi bertahap mundur digunakan untuk menguji
kecocokan model. Variabel-variabel dengan nilai 0,05 dengan rasio odds
yang disesuaikan dan 95% interval kepercayaan dianggap sebagai signifikan
secara statistik. Wawancara mendalam

adalah audio yang

direkam,

ditranskripsi, diterjemahkan, dan dikode ke dalam tema dan kategori yang lebih
besar, dianalisis secara tematis dengan kode terbuka versi 3.4 dan triangulasi
dengan data kuantitatif.
Izin etis diperoleh dari Komite Review Etik dari Universitas Jimma. Surat
izin dan persetujuan lisan diperoleh dari departemen kesehatan zonal. Semua
informan memastikan anonimitas dan kerahasiaan, dan mereka memberi
persetujuan mereka setelah penjelasan yang tepat dari tujuan dan konten
penelitian.
1

Hasil

Empat ratus sembilan wanita hamil diwawancarai dalam penelitian ini.


Dari mereka 59 (14,4%) berada di kisaran usia antara 15 dan 19 tahun, 110
(26,9%) berada di kisaran usia antara 20 dan 24 tahun, 127 (31,1%) berada di
kisaran usia antara 25 dan 29 tahun , dan 81 (18,9%) berada di kisaran usia
antara 30 dan 34 tahun. Rata-rata ( SD) usia ibu hamil adalah 26 ( 5,5)
tahun. Komposisi etnis dari peserta penelitian menunjukkan bahwa Gamo
(76%) adalah kelompok dominan diikuti oleh Welaita (10,8). Sekitar 47,2%
dan 46,9% dari peserta adalah masing-masing pengikut agama Ortodoks dan
Protestan. Mayoritas wanita hamil 384 (93,9%) menikah. Mengenai status
pendidikan, 117 (28,6%) dan 134 (32,8%) masing-masing buta huruf dan telah
mengikuti sekolah dasar. Mayoritas responden (57,2%) adalah penduduk
pedesaan. Hampir setengah dari wanita hamil (45%) memiliki pendapatan
bulanan di atas 1425 ETB (Tabel 1).
Tiga puluh tujuh persen (37,1%) dari responden adalah jumlah
kehamilan/gravida satu, sedangkan sisanya (62,9%) adalah dua dan di atas.
Seratus tujuh puluh dua (42%) dari responden nulipara dan sisanya 237 (58%)
memiliki satu atau lebih anak. Enam puluh satu (15%) dari responden memiliki
riwayat setidaknya satu kali aborsi.

Tabel 1. Sociodemographic characteristics of pregnant women in Arba


Minch Town and Arba Minch District public health facilities, SNNPR, South
Ethiopia, March 2014
Variable (n= 409)

n (%)

Age, year
15-24
25-34
35 and above
Ethnicity
Gamo
Welaita
Amhara
Other3
Religion
Orthodox
Protestant
Other3
Marital status
Single
Married
Other4
Occupation
Government employed
Self employed
Housewife
Other5
Education status
No education
Primary school(1-8)
Secondary school (9-10)
Above secondary school
Residence
Urbal
Rural
Household income
<712.5 Ethiopia birr
712.5-142.5 Ethiopian birr
>1425 Ethiopian birr
Family size
<4
>4

169 (41.3)
208 (50.9)
32 (7.8)
311 (76.0)
44 (10.8)
28 (6.8)
26 (6.4)
193 (47.2)
192 (46.9)
24 (5.9)
11 (2.7)
384 (93.9)
14 (2.4)
48 (11.7)
59 (14.4)
293 (71.6)
9 (2.3)
117 (28.6)
134 (32.8)
88 (21.5)
70 (17.1)
175 (28.9)
234 (57.2)
118 (28.9)
107 (26.1)
184 (45.0)
285 (69.7)
124 (30.3)

3.1 Pemilihan Waktu Kehadiran ANC Pertama. Informasi mengenai


pemilihan waktu ANC pertama dikumpulkan dari pemanggilan kembali wanita
atau kartu klien jika mereka tidak ingat tanggal yang tepat. Dengan demikian,

proporsi responden yang melakukan kunjungan ANC pertama mereka dalam


waktu yang direkomendasikan (sebelum 16 minggu kehamilan) adalah 17,4%.
Pemilihan waktu kehadiran ANC pertama berkisar dari bulan ke-1 hingga
bulan ke-9 selama kehamilan. Sekitar tiga puluh persen (29,9) dari ibu hamil
menghadiri kunjungan ANC pertama pada empat bulan kehamilan. Durasi ratarata ( SD) dari kehadiran ANC pertama adalah 5 bulan ( 1,5). Tiga ratus
tujuh belas (75,5%) dari wanita hamil menerima nasihat tentang penggunaan
ANC dari seseorang sebelum kunjungan ANC pertama mereka. Sebagian besar
ibu hamil (58%) menerima nasihat dari petugas kesehatan masyarakat, diikuti
oleh suami (24%). Dua ratus delapan puluh dua (89%) wanita hamil
melaporkan bahwa mereka dibasehati ketika untuk memulai kunjungan ANC
pertama. Di antara mereka perempuan yang dinasehati, 47% dinasehati
sebelum 16 minggu kehamilan. Pada penelitian ini, 71,1% dari wanita hamil
menyadari tanda-tanda bahaya selama kehamilan. Di antara mereka wanita
yang mengatakan kepada kami tanda-tanda bahaya, 53,6% adalah menyadari
semua jenis tanda-tanda bahaya kehamilan.
3.2. Riwayat masa lalu dari Pemanfaatan Layanan ANC. Di antara 257
wanita hamil (62,8%) memiliki riwayat kehamilan sebelumnya dalam hidup
mereka, 88% telah menghadiri ANC selama kehamilan sebelumnya, sedangkan
sisanya 12% tidak menghadiri ANC. Mengenai urutan kelahiran dari wanita
yang menghadiri ANC sebelumnya, 62% adalah kehamilan pertama, sedangkan
39% adalah kehamilan kedua. Dari 227 ibu hamil yang memiliki riwayat
penggunaan ANC pada kehamilan sebelumnya, 34,4% memiliki kunjungan

ANC mereka sebelumnya sebelum usia kehamilan 16 minggu, sedangkan


sisanya 65,6% memiliki kunjungan ANC pertama mereka pada atau setelah 16
minggu kehamilan. Lima puluh dua (52%) dari wanita hamil merasa puas
dengan layanan ANC dalam hal pendekatan staf, pelayanan laboratorium,
privasi, waktu tunggu, dan layanan.
3.3. Kehamilan saat ini dan Pemanfaatan ANC. Tiga ratus lima puluh
sembilan (87,8%) wanita hamil melaporkan bahwa mereka mengakui
kehamilan mereka saat ini ketika mereka kehilangan menstruasi (haid/periode
bulanan) selama satu sampai tiga bulan. Dua ratus enam puluh sembilan (66%)
wanita hamil melaporkan bahwa kehamilan mereka direncanakan. Sebagian
besar wanita hamil (87,3%) memberitahu suami mereka mengenai kehamilan
pertama mereka sebelum kunjungan ANC. Selain itu, wanita hamil yang datang
ke ANC saat ini ditanya apa yang membuat mereka datang pada trimester
pertama, trimester kedua, dan trimester ketiga. Di antara mereka yang
melakukan kunjungan terlambat, sebagian besar dari mereka (61%) menjadi
terlambat karena mereka merasa bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk
memulai, sementara (22%), (7%), (5%), dan (4,7%) datang karena kurangnya
waktu, ketidaksadaran kehamilan, belajar dari pengalaman sebelumnya, dan
kehamilan yang tidak direncanakan.
3.4. Faktor-Faktor Terkait dengan Kehadiran Pelayanan Antenatal
Pertama yang Terlambat. Pada penelitian ini, faktor-faktor yang terkait dengan
kehadiran ANC yang terlambat adalah pendapatan bulanan yang rendah,
menerima nasihat/saran mengenai kapan untuk memulai kunjungan ANC,

kerawanan pangan/makanan rumah tangga, dan kehamilan yang tidak


direncanakan. Kemungkinan/peluang/odds wanita hamil dengan pendapatan
bulanan rumah tangga yang rendah untuk menunda melakukan kunjungan
ANC adalah 5 kali (AOR = 4,9, CI: 1,713, 14,076) lebih tinggi dibandingkan
dengan wanita hamil lainnya dengan pendapatan bulanan yang tinggi. Wanita
hamil

yang

menerima

nasihat/saran

yang

tidak

pada

waktu

yang

direkomendasikan adalah 3 kali (AOR = 3, CI: 1,476, 6,244) lebih mungkin


untuk melakukan kunjungan yang terlambat untuk ANC pertama mereka
dibandingkan dengan wanita hamil lainnya dengan menerima nasihat/saran
pada waktu yang direkomendasikan. Wanita hamil dengan kehamilan yang
tidak direncanakan adalah 4,5 kali (AOR = 4,49, CI: 2,162, 9,353) lebih
mungkin untuk melakukan kunjungan yang terlambat untuk ANC pertama
mereka dibandingkan dengan wanita hamil lainnya dengan kehamilan yang
direncanakan. Wanita hamil yang tinggal dalam rumah tangga yang memiliki
kerawanan pangan sekitar 5 kali (AOR = 4,66, CI: 1,007, 21,589) lebih
mungkin

mengalami

keterlambatan

untuk

kehadiran

ANC

pertama

dibandingkan dengan wanita dengan rumah tangga aman pangan (Tabel 2).
Penelitian kualitatif juga menunjukkan beberapa alasan mengapa wanita
datang terlambat untuk ANC. Salah satu penyedia kesehatan menyatakan "...
meskipun sebagian besar dari mereka tahu usia kehamilan yang tepat saat
untuk memulai tetapi mereka tidak bisa pergi ke fasilitas kesehatan pada saat
awal kehamilan tanpa adanya perasaan bayi mereka bergerak di perut mereka
dan tidak ingin menunjukkan tubuh mereka terhadap profesional kesehatan di

trimester pertama kehamilan menurut penyedia layanan kesehatan. "ini


mungkin disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan persepsi tentang
pentingnya kunjungan pelayanan antenatal awal.
1

Pembahasan

Menurut rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seorang wanita


hamil perlu memulai pelayanan antenatal pada trimester pertama kehamilan.
Namun, sebagian besar wanita dari negara-negara berkembang tidak mulai
ANC sesuai dengan rekomendasi. Penelitian ini mengungkapkan bahwa 82,6%
dari wanita hamil memulai pelayanan antenatal pada atau setelah empat bulan
kehamilan. Temuan ini lebih tinggi daripada pada penelitian yang dilakukan di
Addis Ababa (Ethiopia), Bahir Dar (Ethiopia), Gonder (Ethiopia), dan Nigeria.
Hal ini mungkin disebabkan karena perbedaan sosiodemografi, ekonomi, dan
budaya sebagaimana dibuktikan oleh fakta bahwa sebagian besar wanita hamil
tidak memiliki pendidikan dan hanya mencapai sekolah dasar; lebih dari
setengah dari perempuan yang tinggal di daerah pedesaan adalah ibu rumah
tangga dibandingkan dengan penduduk Addis Ababa dan Ethiopia utara.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa rata-rata usia kehamilan pada
kunjungan pelayanan antenatal pertama adalah 5 bulan. Hasil ini konsisten
dengan laporan Survei Demografi dan Kesehatan Ethiopia yang menunjukkan
durasi median kehamilan pada kunjungan pelayanan antenatal pertama 5,2
bulan. Pendapatan rumah tangga adalah salah satu faktor signifikan yang
terkait dengan masuk pelayanan antenatal yang terlambat dalam penelitian ini.
Wanita hamil yang memiliki pendapatan bulanan rumah tangga rendah adalah

5 kali lebih mungkin untuk melakukan kunjungan yang terlambat untuk


kunjungan ANC pertama mereka dibandingkan dengan wanita hamil dengan
pendapatan bulanan yang tinggi. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan di Metekel Zone (Ethiopia), kota Holeta (Ethiopia), dan Uganda
Selain itu, beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa pendapatan bulanan
yang

rendah

dikaitkan

dengan

peningkatan

kemungkinan

kurangnya

pemanfaatan layanan pelayanan antennal di antara ibu hamil. Hal ini bisa jadi
karena fakta bahwa pendapatan yang lebih baik dapat meningkatkan
kemampuan untuk membayar pelayanan kesehatan, transportasi, dan biaya
tidak langsung lainnya. Dibandingkan dengan proporsi wanita hamil dengan
pengalaman pelayanan antenatal terakhir sebelum kehamilan saat ini, wanitawanita hamil tanpa pengalaman pelayanan antenatal masa lalu memulai ANC
lebih lambat daripada wanita hamil dengan pengalaman masa lalu untuk
pelayanan antenatal pertama. Temuan ini didukung oleh penelitian yang
dilakukan di Addis Ababa dan Uganda.
Table 2. Multiple logistic regression models identifying factors associated
with timing of firrst ANC attendance among pregnant women in Arba Minch
Town and Arba Minch District public health facilities, SNNPR, South Ethiopia,
March 2014
Variables (n=409)

First ANC attendance

Crude OR (95% Adjusted OR


(95% CI)
Attended late Attended CI)
early

Place of residence
Rural

209

25

Urban

129

46

Noeducation

108

Haveeducation

230

62

Government

35

13

Selfemployed

46

13

1.32 (0.54, 3.18) 1.29(0.48, 3.41)

257

45

2.12 (1.04, 4.32) 1.45(0.62, 3.93)

712.5ETB

113

712.51425ETB

79

28

5.88(2.24,15.43) 4.91(1.72, 14.07)


0.64 (0.34, 1.18)
0.73 (0.42, 1.28)
1

146

38

Lessthanfive

224

61

Morethanfive

114

10

Primigravida

118

34

Multigravida

220

37

132

40

206

31

2.98 (1.75, 5.08) 1.30 (0.68, 2.48)

Educationalstatus
3.24 (1.55, 6.75) 2.1 (0.92, 4.79)

Occupationalstatus

Housewife
Monthlyincome

1425ETB
FamilysizeofHH

3.11 (1.53, 6.28) 1.53 (0.68, 3.43)

Gravida

Parity
Parityzero
Parityoneandabove

1.71 (1.99, 2.87) 0.85 (0.27, 2.67)

2.02(1.20,3.38) 1.11 (0.58, 2.07)

Numberofchildren
died

276

68

62

Yes

194

33

No

144

38

0.65 (0.38, 1.09)

1 (0.30, 3.46)

<4months

102

30

>4months

133

15

2.61 (1.33, 5.10) 3.03 (1.47, 6.24)

Lessthanfourvisits

107

12

Fourandabove

231

59

2.27 (1.17, 4.41) 1.12 (0.53, 2.43)


1
1

Planned

208

61

Unplanned

130

10

Foodsecure

296

69

Foodinsecure

42

4.9 (1.15, 20.71)

4.66 (1.01,
21.59)

Nochildrendied
Onediedandabove

5.09 (1.55, 16.73) 1.41 (0.36, 5.53)

PreviousANCuse

Advisedonwhento
start(n=280)

NumberofANCvisits

Typesofpregnancy
1

3.8 (1.88, 7.71) 4.49 (2.16, 9.35)

HHfoodstatus

Satisfaction
High

166

46

Low

172

25

1.91 (1.12, 3.24) 1.5 (0.83, 2.73)

Pengalaman sebelumnya dari pemanfaatan pelayanan antenatal dapat


meningkatkan pola pelayanan antenatal saat ini dan pemilihan waktu
kunjungan pelayanan antenatal pertama. Namun, perbedaan dalam
penelitian ini secara statistik tidak signifikan pada model akhir. Hal ini bisa
disebabkan oleh fakta bahwa ibu hamil berpikir tidak perlu untuk datang
lebih awal untuk pelayanan antenatal jika seseorang tidak memiliki masalah
dengan kehamilannya. Mayoritas responden melaporkan bahwa mereka
menerima nasihat/saran mengenai saat untuk memulai kunjungan untuk
pelayanan antenatal sebelum dimulai oleh petugas kesehatan masyarakat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa wanita hamil yang tidak menerima
nasihat/saran pada waktu yang direkomendasikan adalah 3 kali lebih
mungkin untuk melakukan kunjungan terlambat untuk kunjungan ANC
pertama mereka dibandingkan dengan ibu hamil lainnya yang menerima
nasihat/saran. Ini mirip dengan sebuah penelitian yang dilakukan di Addis
Ababa yang menyimpulkan bahwa wanita hamil yang menerima
nasihat/saran tentang keuntungan dari kunjungan awal adalah 2 kali lebih
mungkin untuk melakukan kunjungan tepat waktu dibandingkan dengan ibu
hamil yang tidak menerima nasihat/saran. Sebuah penelitian dari Uganda

juga melaporkan temuan yang sama. Oleh karena itu, penelitian ini
menunjukkan bahwa menasihati wanita hamil mengenai saat untuk memulai
kehadiran pelayanan antenatal pertama membantu para wanita untuk
menghadiri pelayanan antenatal dini/awal. Dalam penelitian ini wanita
dengan hamil yang tidak direncanakan adalah 4,5 kali lebih mungkin untuk
melakukan kunjungan yang terlambat untuk ANC pertama mereka
dibandingkan dengan wanita hamil lainnya. Temuan ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan di Ethiopia barat selatan yang menyatakan bahwa
kehamilan yang tidak diinginkan adalah 25% dan 33% lebih rendah untuk
masing-masing menggunakan layanan pelayanan antenatal dan menerima
pelayanan antenatal yang memadai. Selain itu, penelitian menunjukkan
bahwa kehamilan yang tidak diinginkan sangat terkait dengan kunjungan
pelayanan antenatal pertama yang terlambat atau kurang sering melakukan
kunjungan pelayanan antenatal, bila dibandingkan dengan kehamilan yang
dilaporkan diinginkan, peningkatan menerima pelayanan antenatal sebelum
bulan keenam kehamilan.
Penelitian kami juga meneliti hubungan antara status ketahanan pangan
rumah tangga dan tepat waktu melakukan pelayanan antenatal. Wanita dari
rumah tangga yang rawan pangan hampir 5 kali lebih mungkin untuk
memulai ANC terlambat dibandingkan dengan wanita dari rumah tangga
aman/cukup makanan. Dalam situasi rawan pangan, karena makanan
menjadi prioritas pertama, pengeluaran pada barang dan jasa lainnya juga
dapat mendahulukan untuk meluangkan uang untuk membeli makanan.

Kondisi ini mungkin tidak cocok untuk wanita hamil untuk memanfaatkan
pelayanan kesehatan ibu seperti kunjungan pelayanan antenatal awal/dini.
Sejalan dengan ini, penelitian lain menunjukkan bahwa kerawanan pangan
telah dikaitkan dengan hasil/outcome kehamilan yang buruk, jumlah
kunjungan pelayanan antenatal berkurang, penurunan status kesehatan yang
dinilai sendiri, dan perubahan perilaku. Penelitian kualitatif menunjukkan
bahwa wanita hamil dengan kerentanan pangan khawatir menganai
kecukupan makanan untuk memberi makan diri mereka sendiri, anak-anak
mereka yang belum lahir, dan keluarga mereka.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Salah satu keterbatasan
adalah kenyataan bahwa wanita hamil yang menghadiri pelayanan antenatal
di fasilitas kesehatan swasta tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Selain
itu, usia kehamilan ditentukan berdasarkan laporan perempuan dari periode
menstruasi terakhir mereka (LMNP). Scan USG untuk mengkonfirmasi usia
kehamilan tidak dilakukan; oleh karena itu, ini mungkin telah menyebabkan
ketidakakuratan dalam pengukuran usia kehamilan. Selain itu, ini adalah
penelitian cross-sectional berbasis fasilitas yang temuan-temuannya tidak
digeneralisasikan ke populasi umum. Sebagai suatu penelitian crosssectional, hubungan yang diamati antara variabel penjelas dan hasil tidak
menunjukkan hubungan sebab akibat.
3. Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat dari wanita
hamil memulai ANC di daerah penelitian. Pengetahuan wanita hamil

tentang pentingnya pelayanan antenatal untuk kesehatan ibu dan janin


ditemukan menjadi tinggi. Sebagian besar alasan yang diberikan oleh wanita
hamil yang menghadiri pelayanan antenatal terlambat adalah karena
persepsi waktu yang tepat dan kekurangan waktu. Penelitian ini
menunjukkan bahwa pendapatan bulanan yang rendah, wanita yang tidak
menerima nasihat/saran mengenai saat untuk memulai kunjungan pelayanan
antenatal, rumah tangga rawan pangan, dan kehamilan yang tidak
direncanakan adalah faktor-faktor yang terkait dengan kunjungan pelayanan
antenatal pertama yang terlambat. Berdasarkan temuan itu, penting untuk
memberikan

pendidikan

kesehatan

berkelanjutan

pada

pentingnya

kunjungan pelayanan antenatal yang awal/dini di fasilitas kesehatan.