Anda di halaman 1dari 4

FISIOLOGI SPERMATOGENESIS DAN OOGENESIS

Spermatogenesis
Spermatogenesis
dimulai
saat
pubertas dan terus berlangsung seumur
hidup. Proses ini berlangsung selama 65 75
hari di tubulus seminiferus dari testis.
Basement
membrane
dari
tubulus
seminiferus ini dilapisi oleh spermatogonia
(diploid
germ
cell,
46-kromosom).
Sprematogonia kemudian melakukan mitosis
berubah menjadi sel yang matang dan
menjauh
dari
basement
membrane,
spermatogonia
yang
matang
disebut
spermatosit primer. Dalam tahap ini sel
akan melakukan meiosis I menghasilkan 2
spermatosit sekunder (haploid cell, 23kromosom).

Gambar
spermato

Kedua
spermatosit
sekunder
melanjutkan meiosis II yang menghasilkan 4
spermatids. Pada saat spermatids terbentuk,
sel ini masih berbentuk sel epiteloid. Stage
terakhir dari spermatogenesis adalah spermiogenesis. Proses ini merupakan
pematangan spermatids menjadi sel sperma (spermatozoa) tanpa adanya pembelahan
sel.
Akhir dari spermiogenesis ini akan membentuk sel sperma yang terdiri dari
kepala dan ekor. Kepalanya terdiri dari nukleus yang dilapisi sitoplasma tipis dan
membran sel. Pada sepertiga kepala spermatozoa dilapisi akrosom yang terdapat enzim
hyaluronidase dan proteolitik yang berperan saat masuknya sperma ke ovum untuk
proses pembuahan. Ekornya terdiri dari 3 komponen utama yaitu: (1) mikrotubul yang
membentuk axonem, (2) membran sel tipis yang menyelimuti axonem, dan (3)
kumpulan mitokondria yang mengelilingi axonem pada proksimal ekor yang
membentuk body of tail.

Gambar
spermato

Oogenesis
Oogenesis dimulai sejak masa awal-awal
perkembangan fetus yang berawal dari primordial
germ cells yang bermigrasi dari yolk sac ke
ovarium. Primordial germ cells berdiferensisasi
menjadi oogonia (sel diploid, 46-kromosom).
Oogonia melakukan mitosis terus-menerus yang
menghasilkan jutaan germ cells, walaupun banyak
oogonia yang mengalami atresia sebelum bayi
lahir. Oogonia yang tidak mati berkembang
menjadi oosit primer yang berhenti di meiosis I
pada fase profase. Salah satu oosit primer akan
melanjutkan siklus meiosis I ketika pubertas sesaat
sebelum ovulasi menghasilkan oosit sekunder. Oosit sekunder dilepaskan dari ovarium
melanjutkan meiosis II dan berhenti pada fase metafase menunggu dibuahi oleh
spermatozoa. Proses keluarnya oosit sekunder dari ovarium disebut ovulasi. Sebagian
hasil dari meiosis I oosit primer mengalami atresia. Sebanyak kurang lebih 40.000 oosit
priemr akan ada pada saat pubertas dan sekitar 400 akan matur dan ovulasi selama masa
subur wanita.

Gambar
oogenesis

Daftar Pustaka
Tortora GJ, Derrickson B. Principles of anatomy & physiology. 2014.
Hall JE, Guyton AC. Guyton and Hall textbook of medical physiology. 12th ed.
Philadelphia, Pa: Saunders/Elsevier; 2011.