Anda di halaman 1dari 12

ESENSI DAN STRATEGI POLITIK KESEHATAN

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
POLITIK KESEHATAN
Yang dibina oleh Bapak Drs Mardianto, M.Kes

Oleh
Reny Maziatul Ilmi

140612603184

Retno Ismawati

140612601729

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
OKTOBER 2016

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL........................................................................................i
KATA PENGANTAR..........................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................2
1.3 Tujuan........................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Esensi Politik Kesehatan...........................................................................1
2.1.1 Pengertian Esensi............................................................................1
2.1.2 Esensi dari Politik Kesehatan .........................................................1
2.2 Strategi Politik Kesehatan ........................................................................2
2.2.1 Pengertian Strategi..........................................................................2
2.2.2 Strategi Politik Kesehatan ..............................................................3
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan ..................................................................................................7
3.2 Saran .........................................................................................................7
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................8

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan adalah bagian dari politik oleh karena pelayanan kesehatan
merupakan pelayanan publik yang seyogianya tidak hanya dijadikan sebagai
kendaraan politik para calon atau kandidat kepala daerah. Konsep kesehatan yang
dianut pemerintah kita saat ini, berbuah pembangunan kesehatan yang berbentuk
pelayanan kesehatan individu, ketimbang layanan kesehatan komunitas yang lebih
luas, program-program karitas yang bersifat reaktif seperti Jaminan Kesehatan
Masyarakat (Jamkesmas) atau pengobatan gratis dan Jampersal.
Dalam UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 bagian Pembukaan butir b
(menimbang); disebutkan bahwa setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara
dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya
dilaksanakan berdasarkan prinsip nondiskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan
dalam rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia, serta peningkatan
ketahanan dan daya saing bangsa bagi pembangunan. Hal ini menunjukkan
pentingnya pembangunan kesehatan dalam bentuk peningkatan derajat kesehatan
masyarakat untuk mempersiapkan manusia Indonesia yang berkualitas dan
berdaya saing.
Indikator peningkatan derajat kesehatan antara lain adalah meningkatnya
usia harapan hidup, menurunnya angka kematian ibu, angka kematian bayi dan
balita, serta angka kesakitan (morbiditas). Boleh jadi indikator ini terus
menampakkan grafik membaik. Transparansi tidak hanya menyangkut masalah
keuangan, namun transparansi dalam informasi atas pelayanan publik. Sebagai
contoh, data mengenai jumlah penderita gizi buruk, jumlah penduduk miskin,
rasio jumlah penduduk dengan jumlah sarana kesehatan dan prosedur pelayanan
dasar maupun rujukan hendaknya diberikan pada publik secara transparan.
Untuk mewujudkan hal tersebut, tidak bisa tidak, negara harus berperan
aktif. Mengutip Release Media Indonesia tentang Politik dan kesejahteraan rakyat.
Politik kesehatan adalah kebijakan negara di bidang kesehatan. Yakni kebijakan
publik yang didasari oleh hak yang paling fundamental, yaitu sehat merupakan

hak warga negara. Untuk mewujudkan hak rakyat itu, jelas diperlukan keputusan
politik yang juga sehat, yang diambil oleh pemerintahan yang juga sehat secara
politik. Dengan kata lain, politik kesehatan ditentukan oleh sehat tidaknya politik
negara. Hanya pemerintahan dan DPR yang sakit-sakitan yang senang dan
membiarkan rakyatnya juga sakit-sakitan. Karena sehat merupakan hak rakyat,
dan negara pun tak ingin rakyatnya sakit-sakitan, diambillah keputusan politik
yang juga sehat. Yaitu, anggaran untuk kesehatan rakyat mendapatkan porsi yang
besar, sangat besar, karena negara tidak ingin rakyatnya sakit-sakitan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana esensi dari politik kesehatan?
2. Bagaimana strategi dari politik kesehatan?
1.3 Tujuan
1. Mendeskripsikan esensi dari politik kesehatan.
2. Mendeskripsikan strategi dari politik kesehatan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Esensi Politik Kesehatan

2.1.1 Pengertian Esensi


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, esensi adalah hakikat, inti, atau
hal yang pokok.
2.1.2 Esensi Politik Kesehatan
Esensi (hakikat) politik adalah power atau kekuasaan. Tetapi, tidak semua
kekuasaan adalah kekuasaan politik, kekuasaan politik pada hakikatnya ada pada
proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik. Keputusan politik selalu
menyangkut kepentingan publik. Jadi, esensi atau hakikat dari ilmu politik adalah
ilmu yang mempelajari mengenai proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan
politik (Cholisin, 2006).
Kekuasaan pada umumnya dipahami sebagai kemampuan untuk mencapai
hasil yang diharapkanuntuk melakukan sesuatu. Dalam penyusunan kebijakan,
konsep kekuasaan secara khusus dipertimbangkan dalam suatu pemikiran
hubungan memiliki kekuasaan atas orang lain. Kekuasaan memiliki tiga
dimensi yaitu kekuasaan dalam pengambilan keputusan, kekuasaan untuk tidak
membuat keputusan, dan kekuasaan sebagai pengendali pikiran (Buse, 2004).
(1) Kekuasaan sebagai pengambilan keputusan
Menekankan pada tindakan individu atau kelompok yang mempengaruhi
pemutusan kebijakan.
(2) Kekuasaan sebagai bukan pengambilan keputusan
Mencakup nilai-nilai masyarakat yang dominan.
(3) Kekuasaan sebagai pengendali pikiran
Kekuasaan berfungsi sebagai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain
dengan membentuk keinginan mereka (Buse, 2004).
Gonjang-ganjing di panggung politik akhir-akhir ini, baik Pilgub ataupun
Pilbup tak henti-hentinya menghiasi media massa baik cetak maupun elektronik.
Seolah menjadi sumber berita yang memberikan energi lebih kepada media
untuk menjadikannya headline setiap hari. Namun di sisi lain, berbagai strategi

yang telah dilakukan tersebut tetap tidak menghentikan lajunya perkembangan


penyakit

yang

terus

memeras

keringat

para

ahli

kesehatan

untuk

mengendalikannya. Masih terus terdengar banyaknya masyarakat miskin yang tak


mampu mengakses layanan kesehatan karena tak ada biaya. Masih banyaknya
balita yang mengalami gizi buruk. Buruknya mutu pelayanan kesehatan yang
diterima masyarakat di Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah, serta sejumlah
permasalahan pada sektor kesehatan yang menunggu implementasi visi, misi, dan
program para calon pemimpin yang tampak menjanjikan, namun sungguh sulit
untuk direalisasi (Asma, 2012).
Anggaran itu sudah pasti merupakan produk politik, karena ditetapkan
pemerintah bersama DPR. Membebani impor alat-alat kedokteran dengan pajak
yang sama untuk impor mobil mewah, juga keputusan politik. Membiarkan dokter
menumpuk dan berebut cuma di kota besar, atau mengatur penyebarannya
berdasarkan kepentingan daerah. Contoh lain buah keputusan politik, singkatnya,
politik kesehatan atau kebijakan kesehatan akhirnya ditentukan oleh keputusan
politik. Jika kehidupan politik di suatu daerah tidak sehat, maka kesehatan
masyarakat di daerah itu tidak akan diurus dengan sehat. Politik yang sakit akan
membiarkan rakyatnya sakit (Asma, 2012).
Contoh paling nyata yang terjadi dalam penetapan anggaran untuk
kesehatan adalah Menteri Kesehatan RI mengajukan rancangan kepada presiden
yang kemudian akan dibahas bersama DPR. Hal ini dikarenakan dalam penetapan
Anggaran Belanja Negara, DPR mempunyai wewenang dalam menyetujui
maupun menolak rancangan yang diajukan oleh Menteri Kesehatan RI (Asma,
2012). Jadi, dapat disimpulkan bahwa esensi dari politik kesehatan adalah
peraturan atau kebijakan kesehatan.
2.2 Strategi Politik Kesehatan
2.2.1 Pengertian Strategi
Strategi berasal dari bahasa Yunani strategos yang berarti the art of
general atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan.
Dalam arti umum, strategi dapat diartikan sebagai kiat atau cara untuk
memperoleh kemenangan atau tercapainya suatu tujuan termasuk politik.

Strategi merupakan perencanaan dalam mensukseskan tujuan dalam segala


aktifitas baik dalam mensukseskan peperangan, kompetisi maupun yang lainnya
(Hafidz, 2010).
2.2.2 Strategi Politik Kesehatan
Pengertian dari strategi politik adalah sebuah rencana yang sistematis dan
mengimplementasikannya dalam mencapai tujuan memenangkan dalam bidang
politik (Hafidz, 2010). Sedangkan menurut Husna (2015), strategi politik adalah
ilmu tentang teknik, taktik, cara, kiat yang dikelola oleh politisi untuk
mendapatkan dan mempertahankan sumber-sumber kekuasaan, merumuskan dan
melaksanakan keputusan politik sesuai dengan yang diinginkan. Strategi politik
adalah strategi yang digunakan untuk merealisasikan cita-cita politik. Tanpa
strategi politik perubahan jangka panjang atau proyek-proyek besar sama sekali
tidak dapat diwujudkan (Husna, 2015).
Kegiatan politik di Indonesia dibangun dengan susunan yang sistematis
sehingga menjamin tercapai dan terpeliharanya stabilitas politik. Pengaturan
sistem kepartaian, kemampuannya untuk menarik dukungan dari lembaga
legislatif, untuk mengendalikan pemerintahan di daerah, menjaga keterpaduan
elite pemerintah, serta upayanya menyatukan bangsa melalui simbol-simbol
Pancasila dan pembangunan di segala sektor, semuanya merupakan kegiatan
berpolitik.
Terdapat 4 bentuk strategi politik antara lain (Perdana, 2016):
1. Strategi posisi: tawar menawar untuk mengubah posisi para pemain dan
timbal balik/balas jasa politik
2. Strategi kekuasaan: pembagian sumber kekuasaan untuk memperkuat
teman dan melemahkan lawan.
3. Strategi para pemain: mengubah jumlah pemain dengan menciptakan
teman-teman baru dan mengecilkan hati lawan.
4. Strategi persepsi: merubah persepsi masalah dan solusi.
Kegiatan politik merupakan keseluruhan kegiatan yang dilakukan
berkaitan dengan penyelenggaraan negara. Kebijakan kesehatan merupakan
tindakan atau intervensi yang secara sengaja dilakukan seorang aktor dalam hal ini
pemerintah, berkenaan dengan adanya masalah-masalah kesehatan tertentu yang
sedang dihadapi. Visi dari kebijakan kesehatan yang telah dibuat pemerintah di

Indonesia adalah Departemen Kesehatan sebagai penggerak pembangunan


kesehatan menuju terwujudnya Indonesia Sehat.
Untuk menjamin dan mendukung pelaksanaan berbagai upaya kesehatan
yang efektif dan efisien maka yang dianggap prioritas dan mempunyai daya
ungkit besar di dalam pencapaian hasil pembangunan kesehatan, dilakukan upaya
secara terintegrasi dalam fokus dan lokus dan fokus kegiatan, kesehatan,
pembangunan kesehatan. Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 yang tersusun sebagai Rencana
Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 menyatakan bahwa arah
kebijakan Kementerian Kesehatan mengacu pada tiga hal penting yakni:
1) Penguatan Pelayanan Kesehatan Primer (Primary Health Care)
Puskesmas mempunyai fungsi sebagai pembina kesehatan wilayah
melalui 4 jenis upaya yaitu:
a. Meningkatkan dan memberdayakan masyarakat.
b. Melaksanakan Upaya Kesehatan Masyarakat.
c. Melaksanakan Upaya Kesehatan Perorangan.
d. Memantau dan mendorong pembangunan berwawasan kesehatan.
Untuk penguatan keempat fungsi tersebut, perlu dilakukan Revitalisasi
Puskesmas, dengan fokus pada 5 hal, yaitu: 1) peningkatan SDM; 2)
peningkatan kemampuan teknis dan manajemen Puskesmas; 3) peningkatan
pembiayaan; 4) peningkatan Sistem Informasi Puskesmas (SIP); dan 5)
pelaksanaan akreditasi Puskesmas.
Peningkatan sumber daya manusia di Puskesmas diutamakan untuk
ketersediaan 5 jenis tenaga kesehatan yaitu: tenaga kesehatan masyarakat,
kesehatan lingkungan, tenaga gizi, tenaga kefarmasian dan analis kesehatan.
Upaya untuk mendorong tercapainya target pembangunan kesehatan nasional,
terutama melalui penguatan layanan kesehatan primer, Kementerian Kesehatan
mengembangkan program Nusantara Sehat. Program ini menempatkan tenaga
kesehatan di tingkat layanan kesehatan primer dengan metode team-based.
Kemampuan manajemen Puskesmas diarahkan untuk meningkatkan
mutu sistem informasi kesehatan, mutu perencanaan di tingkat Puskesmas dan

kemampuan teknis untuk pelaksanaan deteksi dini masalah kesehatan,


pemberdayaan masyarakat, dan pemantauan kualitas kesehatan lingkungan.
Pembiayaan Puskesmas diarahkan untuk memperkuat pelaksanaan
promotif dan preventif secara efektif dan efisien dengan memaksimalkan
sumber pembiayaan Puskesmas.
Pengembangan sistem informasi kesehatan di Puskesmas diarahkan
untuk mendapatkan data dan informasi masalah kesehatan dan capaian
pembangunan kesehatan yang dilakukan secara tepat waktu dan akurat.
Pelaksanaan akreditasi Puskesmas dimaksudkan untuk meningkatkan
mutu pelayanan kesehatan dan difokuskan pada daerah yang menjadi prioritas
pembangunan kesehatan.
2) Penerapan Pendekatan Keberlanjutan Pelayanan (Continuum of Care).
Pendekatan ini dilaksanakan melalui peningkatan cakupan, mutu, dan
keberlangsungan upaya pencegahan penyakit dan pelayanan kesehatan ibu,
bayi, balita, remaja, usia kerja dan usia lanjut.
3) Intervensi Berbasis Risiko Kesehatan.
Program-program khusus untuk menangani permasalahan kesehatan pada
bayi, balita dan lansia, ibu hamil, pengungsi, dan keluarga miskin, kelompokkelompok berisiko, serta masyarakat di daerah terpencil, perbatasan,
kepulauan, dan daerah bermasalah kesehatan.
Strategi Kemenkes disusun sebagai jalinan strategi dan tahapan-tahapan
pencapaian tujuan Kementerian Kesehatan baik yang tertuang dalam tujuan 1 (T1)
maupun tujuan 2 (T2). Tujuan Kemenkes diarahkan dalam rangka pencapaian visi
misi Presiden. Untuk mewujudkan kedua tujuan tersebut Kementerian Kesehatan
perlu memastikan bahwa terdapat dua belas sasaran strategis yang harus
diwujudkan sebagai arah dan prioritas strategis dalam lima tahun mendatang.
Kedua belas sasaran strategis tersebut membentuk suatu hipotesis jalinan sebabakibat untuk mewujudkan tercapainya tujuan (Kemenkes, 2015).
Kementerian Kesehatan menetapkan dua belas sasaran strategis yang
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kelompok sasaran strategis pada aspek input
(organisasi, sumber daya manusia, dan manajemen); kelompok sasaran strategis
pada aspek penguatan kelembagaan; dan kelompok sasaran strategic pada aspek
upaya strategic (Kemenkes, 2015).

Kelompok sasaran strategis pada aspek input:


1.
2.
3.

Meningkatkan Tata kelola Pemerintah yang Baik dan Bersih


Meningkatkan Kompetensi dan Kinerja Aparatur Kementerian Kesehatan
Meningkatkan Sistem Informasi Kesehatan Integrasi

Kelompok sasaran strategis pada aspek penguatan kelembagaan:


4.
5.
6.

Meningkatkan Sinergitas Antar Kementerian/Lembaga


Meningkatkan Daya Guna Kemitraan (Dalam dan Luar Negeri)
Meningkatkan Integrasi Perencanaan, Bimbingan Teknis dan Pemantauan

Evaluasi
7. Meningkatkan Efektivitas Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kelompok sasaran strategic pada aspek upaya strategic:
8. Meningkatkan Kesehatan Masyarakat
9. Meningkatkan Pengendalian Penyakit
10. Meningkatkan Akses dan Mutu Fasilitas Pelayanan Kesehatan
11. Meningkatkan Jumlah, Jenis, Kualitas Dan Pemerataan Tenaga Kesehatan
12. Meningkatkan Akses, Kemandirian dan Mutu Sediaan Farmasi dan Alat
Kesehatan (Kemenkes, 2015)

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan penjabaran makalah diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Esensi politik kesehatan adalah proses pembuatan dan pelaksanaan
keputusan politik dalam bidang kesehatan, yang menyangkut masalah
kesehatan dalam kehidupan masyarakat. Politik kesehatan dalam hal ini
dapat disebut dengan kebijakan kesehatan.
2. Strategi politik adalah strategi yang digunakan untuk merealisasikan citacita politik. Tanpa strategi politik perubahan jangka panjang atau proyekproyek besar sama sekali tidak dapat diwujudkan. Dalam bidang
kesehatan, strategi politik kesehatan digunakan untuk mewujudkan citacita negara yang telah diatur dalam kebijakan kesehatan. Kebijakan
kesehatan merupakan tindakan atau intervensi yang secara sengaja
dilakukan seorang aktor dalam hal ini pemerintah, berkenaan dengan
adanya masalah-masalah kesehatan tertentu yang sedang dihadapi. Dalam
hal ini, Menkes telah menentukan berbagai macam strategi untuk
menjamin dan mendukung pelaksanaan berbagai upaya kesehatan yang
efektif dan efisien. Arah kebijakan Kementerian Kesehatan mengacu pada
tiga hal penting yakni Penguatan Pelayanan Kesehatan Primer (Primary
Health

Care),

Penerapan

Pendekatan

Keberlanjutan

Pelayanan

(Continuum of Care), dan Intervensi Berbasis Risiko Kesehatan.


3.2 Saran
Diharapkan para penentu kebijakan atau pembuat keputusan dapat
menyusun peraturan yang berkaitan dengan masalah kesehatan dan strategi yang
diterapkan oleh pemerintah diharapkan dapat mengatasi masalah kesehatan dalam
kehidupan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Asma. 2012. Pengaruh Politik terhadap Kesehatan. Makalah. Makassar: Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin.
Buse, K. 2004. Making Health Policy. (Online),
(http://kebijakankesehatanindonesia.net/), diakses 6 Oktober 2016.
Cholisin, dkk. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Yogyakarta: FISE UNY.
Hafidz, Muslim. 2010. Strategi Politik. (Online), (http://www.lontar.ui.ac.id/file
%3Ffile%3Ddigital/133540-T%2B27894-Strategi%2Bpolitik-Tinjauan
%2Bliteratur.pdf+&cd=9&hl=en&ct=clnk), diakses pada 8 Oktober 2016.
Kemenkes. 2015. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 20152019.
Jakarta: Kemenkes RI.
Perdana, Budi. 2016. Analisa dan Strategi Politik Kesehatan. (Online),
(http://www.slideshare.net/BudiPerdana/analisa-dan-strategi-politikkesehatan), diakses pada 8 Oktober 2016.
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan