Anda di halaman 1dari 19

GENDER DAN KESEHATAN

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Sosiologi Kesehatan
Yang dibina oleh Dr. Sapto Adi. M. Kes.

Disusun oleh:

Adenia Siti Fatimah

140612606552

Annisa Eka Rahmawati 140612602616


Mamlukatul Mu'arifah

140612604143

Retno Ismawati

14061260172

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
Oktober 2015

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Gender Dan Kesehatan ................................................................................... 3
2.1.1 Prespekti Gender ................................................................................... 4
2.1.2 Konsep Kesehatan ................................................................................ 7
2.2 Analisis Gender Dalam Layanan Kesehatan .................................................. 8
2.3 Isu Gender Dalam Bidang Kesehatan ............................................................11

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ...................................................................................................... 15
3.2 Saran ................................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Konsep gender berkembang sejak tahun 1970-an karena dalam kalangan
yang berkaitan dengan masalah kaum perempuan, terdapat ketidakpuasan dengan
konsep perempuan dalam pembangunan, yang pada dasarnya melihat kaum
perempuan terpisah dari kaum laki-laki. Konsep ini, kemudian berkembang di
masyarakat menjadi salah satu perspektif yang digunakan untuk menganalisis
masalah sosial, termasuk masalah kesehatan. Namun demikian, di lingkungan
masyarakat pada umumnya, masih terdapat sejumlah kesalahpahaman mengenai
konsep ini, sehingga seolah-olah konsep ini dimaknai sama dengan konsep seks
(jenis kelamin). Padahal, kedua konsep tersebut merupakan 2 konsep yang
berbeda.
Kesalahpahaman terhadap konsep ini, menyebabkan kekeliruan yang
berkepanjangan dalam proses sosialisasi dan optimalisasi pendidikan gender bagi
masyarakat Indonesia. Paling tidak, kesalahpahaman ini dapat menyebabkan (a)
kesalahan sikap anggota masyarakat terhadap program perjuangan dan
penegakkan hak-hak perempuan di masyarakat misalnya menganggap bahwa
pendidikan gender adalah sebagai upaya untuk melepaskan kaum perempuan dari
tanggung jawab sebagai perempuan, (b) kesalahan tempat mengenai duduk
persoalan kewanitaan dalam konteks masalah-masalah sosial kemasyrakatan
misalnya

memaksa

perempuan

untuk

melakukan

hal-hal

yang

tidak

diinginkannya, dan (c) pencampuran analisis dan kritikan terhadap berbagai


konsep gender, yaitu antara peran gender dengan jenis kelamin dan seolah-olah
kedua hal tersebut dianggap sebagai suatu hal yang sama.
Hal yang demikian dapat menyebabkan prasangka yang kurang
menguntungkan bagi pengembangan dan pemberdayaan perempuan di Indonesia.
Dalam makalah ini akan diupayakan untuk mengemukakan konsep dan perspektif
analisis gender dalam layanan kesehatan.

1.2 Rumusan masalah


1. Bagaimana konsep gender dan kesehatan dalam layanan kesehatan ?
2. Bagaimana perspektif gender dalam layanan kesehatan ?
3. Bagaimana analisis gender dalam layanan kesehatan ?

1.3 Tujuan
1. Mendeskripsikan konsep gender dan kesehatan dalam layanan kesehatan.
2. Mendeskripsikan perspektif gender dalam layanan kesehatan.
3. Mendeskripsikan analisis gender dalam layanan kesehatan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Gender Dan Kesehatan


Pada awal perkembangannya, kata gender berdasarkan kamus bahasa

Indonesia tidak dibedakan dengan konsep seks atau jenis kelamin, sehingga terjadi
kerancuan pemahaman dan penggunaan konsep gender dan jenis kelamin di
masyarakat.
Dalam memahami pengertian gender kita harus membedakan antara
gender dan jenis kelamin. Jenis kelamin mengacu kepada identifikasi perbedaan
laki-laki dan perempuan dari segi anatomi dan aspek biologi seseorang, misalnya
perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi,
dan karakteristik biologi lainnya. Lebih jelasnya, jenis kelamin merupakan
pembagian dua jenis kelamin yang ditentukan secara biologis, yaitu bahwa lakilaki memiliki penis (zakar) serta memproduksi sperma sedangkan perempuan
memiliki rahim, payudara, vagina serta memproduksi sel telur. Alat-alat
reproduksi tersebut melekat pada laki-laki dan perempuan, ketentuan biologis ini
sering dikatakan sebagai kodrat. Artinya bahwa jenis kelamin secara permanen
merupakan ketentuan biologis atau ketentuan kodrati. (Sudarma, 2012).
Selama ini sering terjadi kesalahpahaman mengenai konsep jenis kelamin
dan gender. Padahal, kedua konsep tersebut merupakan konsep yang berbeda.
Gender

bukanlah sebagai kodrat biologis, tetapi gender digunakan untuk

pembagian kerja yang tepat bagi laki-laki dan perempuan. Gender adalah
perbedaan-perbedaan sifat laki-laki dan perempuan yang tidak hanya mengacu
pada perbedaan biologis, tetapi juga mencakup nilai-nilai sosial budaya sehingga
menimbulkan nilai-nilai lain yang berlanjut menjadi nilai utama terhadap jenis
kelamin (Parwati dan Ratna dalam Sudarma, 2012). Oleh karena itu, tepat jika
dikatakan bahwa gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan
yang dikontruksi secara sosial maupun kultural (Fakih dalam Sudarma 2012).
2.1.1 Perspektif Gender
Konsep gender merupakan suatu hal yang dinamis, dimana dapat
berubah-ubah menyesuaikan dinamika peradaban suatu masyarakat. Oleh karena

itu konsep gender memiliki sejumlah perspektif yang berbeda-beda. Terdapat


beberapa teori mengenai perspektif gender, diantaranya adalah :
1. Teori Fungsionalisme Struktural
Teori Fungsionalisme Struktural atau dikenal sebagai teori fungsional, tidak
secara langsung menyinggung masalah perempuan dalam teorinya. Teori ini
berpendapat bahwa perempuan harus tinggal di dalam lingkungan rumah
tangga karena itu merupakan pengaturan yang paling baik dan berguna bagi
keuntungan masyarakat secara keseluruhuan. Pembagian peran secara seksual
adalah wajar (Umar dalam Sudarama, 2012). Suami (ayah) mengambil peran
instrumental

seperti membantu memelihara sendi-sendi

masyarakat

dan

keutuhan fisik keluarga dengan jalan menyediakan bahan makanan, tempat


perlindungan,
Sementara

dan
istri

menjadi
(ibu)

penghubung

mengambil

keluarga

dengan

dunia

peran ekspresif seperti

luar.

membantu

mengentalkan hubungan, memberikan dukungan emosional dan pembinaan


kualitas yang menopang keutuhan keluarga, dan menjamin kelancaran urusan
rumah tangga. Oleh karena itu, jika ada penyimpangan peran sosial yang
dilakukan oleh salah satu anggota keluarga tersebut, dapat menyebabkan adanya
ketidakseimbangan dalam keluarga. Teori fungsionalisme berupaya untuk
membangun

keseimbangan

di

dalam

sebuah

sistem

tersebut

karena

keseimbangan dapat terjadi, jika setiap elemen keluarga (sistem) dapat


berfungsi sebagaimana perannya semula.
2. Teori Konflik
Teori ini berangkat dari asumsi bahwa dalam susunan di dalam suatu
masyarakat terdapat beberapa kelas yang saling memperebutkan pengaruh dan
kekuasaan. Siapa yang memiliki dan menguasai sumber-sumber produksi
dan distribusi merekalah yang memiliki peluang untuk memainkan peran utama
di dalamnya. Laki-laki dalam sejarah masyarakat patriarki adalah orang yang
diserahi tugas untuk mengurus alat-alat produksi, maka laki-laki mempunyai
kesempatan

untuk mengumpulkan

kekayaan

secara

berlebihan.

Dengan

demikian, maka kekuasaan dalam keluarga, ditentukan oleh laki-laki. Gejala


ini, secara tegas diungkapkan oleh Nasaruddin Umar, bahwa hubungan suamiistri ini takubahnya seperti hubungan antara borjuis dengan proletariat, hamba

dan tuan, atau pemeras dan yang diperas. Menurut perspektif teori konflik,
perempuan merupakan kelas sosial tersendiri karena pekerjaan yang mereka
lakukan, apakah perempuan sebagai istri, anak perempuan, keponakan
perempuan, adik perempuan dari kelas sosial borjuis ataukah mereka itu adalah
perempuan sebagai istri, anak perempuan, keponakan perempuan, adik
perempuan dari kelas sosial proletariat adalah sama sebagai kelas manusia
yang bekerja pada sektor domestik yaitu sebagai ibu rumah tangga
3. Teori Psikoanalisis
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Sigmund Freud (1956-1939) yang
mengungkapkan bahwa perilaku kepribadian laki-laki dan perempuan sejak
awal ditentukan oleh perkembangan seksualitas. Dalam uraiannya yang lebih
rinci, Freud menjelaskan kepribadian atau tingkah laku seseorang ditentukan
oleh interaksi ketiga struktur, yaitu:
a) Id, sebagai pembawaan sifat-sifat

fisik biologis seseorang sejak

lahir,

termasuk nafsu seksualitas dan insting yang cenderung agresif.


b) Ego,

bekerja

dalam

lingkup

rasional

dan

berupaya

menjinakkan

keinginan agresif dari id.


c) superego, berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian berupaya
mewujudkan kesempurnaan hidup lebih dari sekedar mencari kesenangan
dan kepuasan, superego juga selalu mengingatkan ego agar menjalankan
fungsinya mengontrol id.
Menurut Freud, individu yang normal adalah ketika ketiga struktur
tersebut bekerja secara proporsional. Kalau satu di antaranya lebih dominan
maka

pribadi

yang bersangkutan

akan

mengalami

masalah.

Dalam

perkembangannya menjadi manusia dewasa, setiap individu akan melewati


berbagai tahap perkembangan psiokoseksual. Secara lebih jelas, dalam teori
psiokoanalisis, Freud menyebutkan ada lima tahap psiokoseksual, sebagai berikut:
a)

Tahap kesenangan berada di mulut (oral stage), terjadi sepanjang tahun


pertama seorang bayi. Kesenangan seorang bayi ialah mengisap susu
melalui mulut.

b) Tahap kesenangan berada di dubur (anal stage), tahun kedua seorang


bayi, memperoleh kesenangan di sekitar dubur yaitu ketika seorang bayi
mengeluarkan kotoran.
c)

Tahap

seorang

anak

memperoleh

kesenangan

pada

saat

mulai

mengidentifikasi alat kelaminnya (phallic stage), yaitu seorang anak


memperoleh kesenangan erotis dari penis bagi anak laki-laki dan klirotis bagi
anak perempuan.
d) Tahap remaja (talency stage), yaitu kelanjutan dari tingkat sebelumnya,
ketika kecenderungan erotis ditekan sampai menjelang masa pubertas.
e)

Tahap puncak kesenangan pada daerah kemaluan (genital stage), yaitu


saat kematangan seksual seseorang.
Menurut Freud, sejak tahap phallic, yaitu anak usia antara 3-6

tahun perkembangan kepribadian anak laki-laki dan anak perempuan mulai


berbeda. Perbedaan ini melahirkan pembedaan formasi sosial berdasarkan
identitas gender, yakni bersifat laki-laki dan perempuan. Dalam masa ini,
anak mengidentifikasikan diri pada peran dan status dirinya, sebagai seorang
anak laki-laki atau seorang anak perempuan.
Berdasarkan teori psikoanalisis, laki-laki yang mengalami proses
perkembangan psiokoseksual
perempuan

yang

yang

normal

akan

perkembangan psiokoseksualnya

menjadi maskulin
normal

akan

dan

menjadi

seorang yang feminim. Dalam proses pembangunan, kenyataan yang dapat


dilihat dalam setiap masyarakat ialah pentingnya saling ketergantungan serta
saling mengisi antara laki-laki dan perempuan

sebagai warga Negara. Oleh

karena itu, dalam perencanaan pembangunan diperlukan peningkatan kualitas


perempuan sebagai mitra sejajar laki-laki sesuai dengan kebutuhan aktualisasi
perempuan. Dalam hal ini penting dilakukan analisis gender.

2.2.1 Konsep Kesehatan


Status kesehatan seseorang terletak antara dua kutub yaitu sehat optimal
dan kematian yang sifatnya dinamis. Bila kesehatan seseorang bergerak kekutub
6

kematian maka seseorang berada pada area sakit (illness area) dan bila status
kesehatan bergerak kearah sehat (optimal well being) maka seseorang dalam area
sehat (wellness area) (Almarogi, 2015).
Menurut WHO, ada tiga komponen penting yang merupakan satu kesatuan
dalam definisi sehat yaitu:
1. Sehat Jasmani
Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya,
berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut
tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera
makan baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan
normal.
2. Sehat Mental
Sehat mental dan sehat jasmani selalu dihubungkan satu sama lain dalam
pepatah kuno Jiwa yang sehat terdapat di dalam tubuh yang sehat (Men Sana
In Corpore Sano)
3. Sehat Spritual
Spritual merupakan komponen tambahan pada pengertian sehat oleh WHO dan
memiliki arti penting dalam kahidupan sehari-hari masyarakat. Setiap individu
perlu mendapat pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk
berlibur, mendengar alunan lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah
agama dan lainnya agar terjadi keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak
monoton (Almarogi, 2015).
Berikut adalah beberapa pengertian kesehatan:
1. Sehat menurut WHO 1974 Kesehatan adalah keadaan sempurna baik fisik,
mental, social bukan hanya bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.
2. UU N0. 23/1992 tentang kesehatan kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera
dari badan (jasmani), jiwa (rohani) dan
Sesuai dengan pengertian sehat di atas dapat di simpulkan bahwa
kesehatan terdiri dari 3 dimensi yaitu fisik, psikis dan social yang dapat diartikan
secara lebih positif, dengan kata lain bahwa seseorang diberi kesempatan untuk

mengembangkan seluas-luasnya kemampuan yang dibawanya sejak lahir untuk


mendapatkan atau mengartikan sehat (Almarogi, 2015).
Meskipun terdapat banyak pengertian/definisi, konsep sehat adalah tidak
standart atau baku serta tidak dapat diterima secara mutlak dan umum. Apa yang
dianggap normal oleh seseorang masih mungkin dinilai abnormal oleh orang lain,
masing-masing orang/kelompok/masyarakat memiliki patokan tersendiri dalam
mengartikan sehat (Almarogi, 2015).
Banyak orang hidup sehat walau status ekonominya kekurangan, tinggal
ditempat yang kumuh dan bising, mereka tidak mengeluh adanya gangguan walau
setelah ditimbang berat badanya dibawah normal. Penjelasan ini menunjukan
bahwa konsep sehat bersifat relatif yang bervariasi sangat luas antara sesama
orang walau dalam satu ruang/wilayah (Almarogi, 2015).
Sehat tidak dapat diartikan sesuatu yang statis, menetap pada kondisi
tertentu, tetapi sehat harus dipandang sesuatu fenomena yang dinamis. Kesehatan
sebagai suatu spectrum merupakan suatu kondisi yang fleksibel antara badan dan
mental yang dibedakan dalam rentang yang selalu berfluktuasi atau berayun
mendekati dan menjauhi puncak kebahagiaan hidup dari keadaan sehat yang
sempurna (Almarogi, 2015).

2.2

Analisis Gender Dalam Layanan Kesehatan


Memahami teknik analisis gender (Gender Analysis Technique) dalam

layakan kesehatan ini, setidaknya difokuskan untuk mengetahui (1) situasi aktual
wanita dan pria meliputi peranan, tingkat kesejahteraan, kebutuhan dan
permasalahan yag dihadapi dalam berbagai unit sosial, budaya, dan ekonomi, (2)
pembagian beban kerja wanita dan pria yang meliputi tanggung jawab, curahan
tenaga, dan curahan waktu, (3) saling berkaitan, saling ketergantungan, dan saling
mengisi antara peranan wanita dan pria khususnya dalam keluarga, dan (4) tingkat
akses dan kekuatan kontrol wanita dan pria terhadap sumber produktif maupun
sumber daya manusia dalam keluarga (Sudarma, 2012).
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, gender adalah sebuah konstruksi
sosial atau tafsir sosial terhadap peran gender. Sayangnya, terhadap masalah ini,
masih banyak penafsiran yang berkembang secara tidak adil, sehingga

memberikan tafsiran yang kurang pada tempatnya terhadap masalah-masalah


perempuan (Sudarma, 2012).
a. Menurut estimasi PBB di tahun 2025 atau 2050, baik di Indonesia maupun di
Asia Tenggara kelompok penduduk usia tua akan lebih banyak dialami oleh
kalangan perempuan. Pertumbuhan dan peningkatan jumlah kaum perempuan
yang menjadi penduduk lanjut usia ini merupakan salah satu masalah
perempuan yang perlu diperhatikan dengan saksama, baik dengan dunia
kesehatan maupun pemerintah, sehingga kebutuhan perempuan usia lanjut ini
dapat terpenuhi secara maksimal (Sudarma, 2012).
Presentasi Penduduk Lanjut Usia (Lebih dari 60 tahun)
Di Asia Tenggara dan Indonesia
Pada Tahun 1970, 1995, 2025, 2050 (Sudarma, 2012).
Negara/kawasan

b.

1970

1995

2025

2050

Asia Tenggara

5,7

4,9

7,2

6,0

13,3

10,9

21,7

18,3

Indonesia

5,5

4,9

7,2

6,3

13,8

11,6

23,1

20,0

Dua dari tiga wanita di dunia saat ini menderita suatu penyakit yang sangat
melemahkan manusia, gejala-gejala umum penyakit yang mudah menyebar
ini mencakup anemia kronik, malnutrisi, dan kondisi yang sangat lemah. Para
penderita menunjukkan kerentanan yang tinggi terhadap infeksi saluran
pernapasan dan produktif, yang sering kali mengakibatkan kematian dini.
Tanpa intervensi langsung, penyakit ini dapat menular dari ibu ke anak,
dengan angka penularan yang sangat tinggi pada wanita dibandingkan pria.
Meskipun penelitian telah membuktikan efikasi berbagai strategi pencegahan
dan pengobatan, namun hingga kini sangat sedikit strategi yang dilaksanakan
secara matang (Sudarma, 2012).

c. Wanita juga menghadapi ancaman kesehatan reproduktif yang unik.


Tingginya angka penyakit yang dapat dicegah, kematian akibat komplikasi
pada kehamilan dan persalinan, aborsi yang tidak aman, penyakit menular

seksual dan kanker pada alat reproduksi sering dijumpai pada wanita yang
miskin dan yang tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan
reproduksi yang komprehensif (Sudarma, 2012).
d. Di lain pihak, peran reproduktif wanita hanya mendapat perhatian apabila
angka fertilitas cukup tinggi. Akibatnya, satu-satunya pelayanan kesehatan
yang sering diperoleh wanita adalah keluarga berencana, meskipun pelayanan
kesehatan ini lebih menekankan pada pada kontrol fertilitas bukan pada
peningkatan

kesehatan

wanita.

Dalam

kesehatan

reproduksi

pun,

pertimbangan agama dan politik telah mengalahkan pertimbangan kesehatan


masyarakat, di mana wanita semakin sulit memperoleh hak untuk pelayanan
aborsi yang aman (Sudarma, 2012).
e. Dalam praktik layanan kesehatan, masih ada pandangan bahwa ada pekerjaan
perempuan dan pekerjaan laki-laki. Menjadi perawat dan bidan adalah
pekerjaan perempuan dan menjadi dokter merupakan pekerjaan laki-laki.
Melaksanakan operasi merupakan tugas laki-laki, sedangkan memberikan
perawatan merupakan tugas perempuan. Pandangan seperti ini, mungkin
benar bila disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan objek yang dikerjakannya.
Namun pembagian kerja seperti ini merupakan contoh nyata dari konstruksi
sosial dalam pembagian tugas dalam bidang kesehatan (Sudarma, 2012).
f. Kemudian dalam penanganan kasus HIV/AIDS merupakan satu misteri
kesehatan yang belum terpecahkan. Penyebab terjangkitnya HIV/AIDS ini
sudah begitu banyak diulas dan dikupas.

Namun demikian, dalam

kenyataannya, masih banyak anggota masyarakat yang menyalahkan posisi


perempuan sebagai penyebab utama berkembangnya virus AIDS ini.
Penanganan masalah AIDS ini disudutkan pada masalah maraknya prostitusi.
Kelompok orang yang paling tersudutkan dalam masalah ini adalah
perempuan. Sedangkan kaum laki-laki, kurang mendapatkan perhatian yang
seimbang dengan penilaiannya terhadap kaum perempuan (Sudarma, 2012).
g. Pola kesehatan dan penyakit pada laki-laki dan perempuan menunjukkan
adanya perbedaan. Misalnya penyakit kardiovakuler ditemukan pada usia
yang lebih tua pada perempuan dibandingkan pada laki-laki. Beberapa
penyakit misalnya anemia, gangguan makan, dan gangguan pada otot serta

10

tulang lebih banyak ditemukan pada perempuan daripada laki-laki. Berbagai


penyakit atau gangguan hanya menyerang perempuan misalnya gangguan
kesehatan yang berkaitan dengan kehamilan dan kanker serviks, sementara
laki-laki salah satunya yakni terkena kanker prostat (Sudarma, 2012).

2.3

Isu Gender Dalam Bidang Kesehatan


Gender mempunyai pengaruh besar terhadap kesehatan laki-laki dan

perempuan.Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama terkena dampak dan


gender steriotipi masing-masing. Misalnya sesuai dengan pola perilaku yang
diharapkan

sebagai

laki-laki,

maka

laki-laki

dianggap

tidak

pantas

memperlihatkan rasa sakit atau mempertunjukkan kelemahan-kelemahan serta


keluhannya. Perempuan yang diharapkan memiliki toleransi yang tinggi,
berdampak terhadap cara mereka menunda-nunda pencarian pengobatan, terutama
dalam situasi social ekonomi yang kurang dan harus memilih prioritas, maka
biasanya perempuan dianggap wajar untuk berkorban (Kristina, 2014).
Keadaan ini juga dapat berpengaruh terhadap konsekuensi kesehatan
yang dihadapi laki-laki dan perempuan. Misalnya kanker paru-paru banyak
diderita oleh laki-laki diwaspadai ada kaitannya dengan kebiasaan merokok.
Penderita depresi pada perempuan dua kali sampai tiga kali lebih banyak
dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan lebih banyak menderita penyakit
menahun yang berkepanjangan (TBC), akan tetapi ada kecenderungan dari
perhitungan, karena kebiasaan perempuan untuk mengabaikan atau menunda
mencari pengobatan, jika penyakit itu masih bisa ditanggungnya (Kristina, 2014).
Penting sekali memahami kenyatan, bahwa perempuan dan laki-laki
menghadapi penyakit dan kesakitan bisa berbeda. Informasi itu hanya didapat
jika kita memiliki data pasien, seperti data umur, status, sosial ekonomi yang
terbagi menurut jenis kelamin (Kristina, 2014).
Hal-hal yang diperlukan untuk memahami isu gender berkaitan dengan
kesehatan adalah : (1) Mengumpulkan data dan informasi yang memperlihatkan
bukti adanya ketimpangan berbasis gender dalam kesehatan perempuan dan lakilaki; (2) Menyatakan data dan informasi tersebut serta memperhitungkannya
ketika

mengembangkan

kebijakan

dan

program

kesehatan;

(3)

11

Mengimplementasikan

program-program

yang

sensitif

gender

untuk

memperbaiki ketimpangan; (4) Mengembangkan mekanisme monitoring yang


responsive terhadap isu gender, untuk memastikan ketimpangan gender dipantau
secara teratur (Kristina, 2014).
Isu-isu gender dalam berbagai siklus kehidupan. Pada kesempatan ini ada
4 (empat) isu gender dalam berbagai kehidupan, menurut Kristina, 2014 yaitu :
1.

Isu Gender Di Masa Kanak-Kanak


Isu gender pada anak-anak laki-laki, misalnya: pada beberapa suku tertentu,
kelahiran bayi laki-laki sangat diharapkan dengan alasan, misalnya laki-laki
adalah penerus atau pewaris nama keluarga; laki-laki sebagai pencari nafkah
keluarga yang handal; laki-laki sebagai sumber nafkah bagi orang tuanya di
hari tua. Dan perbedaan perlakuan juga berlanjut pada masa kanak-kanak.
Pada masa kanak-kanak, sifat agresif anak laki-laki serta perilaku yang
mengandung resiko diterima sebagai suatu kewajaran, bahkan didorong
kearah itu, karena dianggap sebagai sifat anak laki-laki. Sehingga data
menunjukkan bahwa anak laki-laki lebih sering terluka dan mengalami
kecelakaan.

2.

Isu Gender Pada Anak Perempuan


Secara biologis bayi perempuan lebih tahan daripada bayi laki-laki terhadap
penyakit infeksi di tahun-tahun pertama kehidupannya. Sebab itu jika data
memperlihatkan kematian bayi perempuan lebih tinggi dan bayi laki-laki,
patut dicurigai sebagai dampak dari isu gender. Di masa balita, kematian
karena kecelakaan lebih tinggi dialami oleh balita laki-laki, karena sifatnya
yang agresif dan lebih banyak gerak. Data Survey Demografi Kesehatan
Indonesia (SDKI 1991-2002/2003) menunjukkan : trend kematian bayi lebih
tinggi pada bayi laki-laki dari pada bayi perempuan, trend kematian anak
balita lebih tinggi pada balita laki-laki dari pada balita perempuan.

3.

Isu Gender Di Masa Remaja


Isu gender yang berkaitan dengan remaja perempuan, antara lain : kawin
muda, kehamilan remaja, umumnya remaja puteri kekurangan nutrisi, seperti
zat besi, anemia. Menginjak remaja, gangguan anemia merupakan gejala
umum dikalangan remaja putri. Gerakan serta interaksi social remaja puteri

12

seringkali terbatasi dengan datangnya menarche. Perkawinan dini pada


remaja puteri dapat memberi tanggung jawab dan beban melampaui usianya.
Belum lagi jika remaja puteri mengalami kehamilan, menempatkan mereka
pada resiko tinggi terhadap kematian. Remaja puteri juga berisiko terhadap
pelecehan dan kekerasan seksual, yang bisa terjadi di dalam rumah sendiri
maupun di luar rumah. Remaja putri juga bisa terkena isu berkaitan dengan
kerentanan mereka yang lebih tinggi terhadap perilaku-perilaku steriotipi
maskulin, seperti merokok, tawuran, kecelakaan dalam olahraga, kecelakaan
lalu lintas, ekplorasi seksual sebelum nikah yang berisiko terhadap penyakitpenyakit yang berkaitan dengan :IMS, HIV/AIDS.
4.

Isu Gender Di Masa Dewasa


Pada tahap dewasa, baik laki-laki maupun perempuan mengalami masalahmasalah kesehatan yang berbeda, yang disebabkan karena faktor biologis
maupun karena perbedaan gender. Perempuan menghadapi masalah
kesehatan

yang

berkaitan

dengan

fungsi

alat

reproduksinya

serta

ketidaksetaraan gender. Masalah-masalah tersebut, misalnya konsekwensi


dengan kehamilan dan ketika melahirkan seperti anemia, aborsi, puerperal
sepsis

(infeksi

postpartum),

pendarahan,

ketidak

berdayaan

dalam

memutuskan bahkan ketika itu menyangkut tubuhnya sendiri (tiga


terlambat). Sebagai perempuan, dia juga rentan terpapar penyakit yang
berkaitan dengan IMS dan HIV/AIDS, meskipun mereka sering hanya
sebagai korban. Misalnya : metode KB yang hanya difokuskan pada akseptor
perempuan, perempuan juga rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga,
kekerasan ditempat kerja, dan diperjalanan.
5.

ISU Gender Di Masa Tua


Di usia tua baik laki-laki maupun perempuan keadaan biologis semakin
menurun. Mereka merasa terabaikan terutama yang berkaitan dengan
kebutuhan mereka secara psikologis dianggap semakin meningkat. Secara
umum, umur harapan hidup perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Namun umur panjang perempuan berisiko ringkih, terutama dalam situasi
soaial-ekonomi kurang. Secara kehidupan sosial biasanya mereka lebih
terlantar lagi, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan yang semakin

13

banyak dan semakin tergantung terhadap sumber daya. Osteoporosis banyak


diderita oleh perempuan di masa tua, yaitu delapan kali lebih banyak dari
pada laki-laki. Depresi mental juga lebih banyak diderita orang tua, terutama
karena merasa ditinggalkan.

14

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
1. Dalam memahami pengertian gender kita harus membedakan antara gender
dan jenis kelamin. Jenis kelamin mengacu kepada pengidentifikasian
perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi dan aspek biologi
seseorang, misalnya perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh,
anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologi lainnya. Konsep gender
merupakan suatu

hal

yang dinamis, dimana dapat

berubah-ubah

menyesuaikan dinamika peradaban suatu masyarakat. Oleh karena itu


konsep gender memiliki sejumlah perspektif yang berbeda-beda.
2. Teknik analisis gender (Gender Analysis Technique) dalam layanan
kesehatan ini, setidaknya difokuskan untuk mengetahui (1) situasi aktual
wanita dan pria meliputi peranan, tingkat kesejahteraan, kebutuhan dan
permasalahan yag dihadapi dalam berbagai unit sosial, budaya, dan
ekonomi, (2) pembagian beban kerja wanita dan pria yang meliputi
tanggung jawab, curahan tenaga, dan curahan waktu, (3) saling berkaitan,
saling ketergantungan, dan saling mengisi antara peranan wanita dan pria
khususnya dalam keluarga, dan (4) tingkat akses dan kekuatan kontrol
wanita dan pria terhadap sumber produktif maupun sumber daya manusia
dalam keluarga.

3.2 Saran
1. Pemerintah
Perlu adanya upaya pemberdayaan (empowerment) yang diadakan oleh
pemerintah untuk memperbaiki prespektif gender terhadap posisi dan
status gender masyarakat yang diharapkan mampu membuat masyarakat
dapat menampilkan peran dan tanggung jawab sesaui dengan potensi dan
bakatnya masing-masing.

15

2. Masyarakat
Masyarakat diharapkan dapat menghilangkan prasangka yang kurang
menguntungkan dalam prepektif gender bagi pengembangan dan
pemberdayaan.

16

DAFTAR PUSTAKA

Almarogi ,Sumarna. 2015. Pengertian Sehat Dan Sakit Menurut Para Ahli WHO.
(Online), (http://www.infosehat.id/pengertian-sehat-menurut-para-ahli/),
diakses pada 22 Oktober 2015
Kristina, Ni Nyoman. 2014. Isu Gender Dalam Bidang Kesehatan. (Online),
(Http://Www.Diskes.Baliprov.Go.Id/Id/Isu-Gender-Dalam-BidangKesehatan), diakses pada 22 Oktober 2015
Sudarma, Momon. 2012. Sosiologi Kesehatan. Jakarta Selatan: Salemba Medika.

17