Anda di halaman 1dari 5

A.

Cairan Kristaloid
Larutan kristaloid adalah larutan air dengan elektrolit dan atau dextrosa, yang tidak
mengandung molekul besar. Dalam waktu yang singkat, kristaloid sebagian besar akan
keluar dari intravaskular . Sehingga volume yang diberikan harus lebih banyak ( 3:1 dengan
volume darah yang hilang). Ekspansi cairan dari ruang intravaskuler ke interstitial
berlangsung selama 30-60 menit, dan akan keluar sebagai urin dalam 24-48 jam. Secara
garis besar kristaloid bertujuan untuk meningkatkan volume ekstrasel, tanpa peningkatan
volume intra sel. Meskipun banyak jenis cairan kristaloid yang tersedia, namun NaCl 0,9%
dan Ringer laktat adalah pilihan pertama yang paling masuk akal.
1. Ringer Laktat (RL)
Komposisi (mmol/100ml) :
Na = 130-140, K = 4-5, Ca = 2-3, Cl = 109-110,Basa = 28-30 mEq/l.
Kemasan : 500, 1000 ml.
Cara Kerja Obat :
Keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah komposisi elektrolit dan
konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang dikandung cairan ekstraseluler.
Natrium merupakan kation utama dari plasma darah dan menentukan tekanan
osmotik. Klorida merupakan anion utama di plasma darah. Kalium merupakan kation
terpenting di intraseluler dan berfungsi untuk konduksi saraf dan otot. Elektrolitelektrolit ini dibutuhkan untuk menggantikan kehilangan cairan pada dehidrasi dan
syok hipovolemik termasuk syok perdarahan.
Indikasi :
Mengembalikan keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok
hipovolemik. Ringer laktat menjadi kurang disukai karena menyebabkan
hiperkloremia dan asidosis metabolik, karena akan menyebabkan penumpukan asam
laktat yang tinggi akibat metabolisme anaerob.
Kontraindikasi :
Hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati, asidosis laktat.
Adverse Reaction :
Edema jaringan pada penggunaan volume yang besar, biasanya paru-paru.

2. Dekstrosa
Komposisi : glukosa = 50 gr/l (5%), 100 gr/l (10%), 200 gr/l (20%).
Kemasan : 100, 250, 500 ml.
Indikasi :
Sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena serta untuk keperluan hidrasi selama
dan sesudah operasi. Diberikan pada keadaan oliguria ringan sampai sedang (kadar
kreatinin kurang dari 25 mg/100ml).
Kontraindikasi : Hiperglikemia.
Adverse Reaction :
Injeksi glukosa hipertonik dengan pH rendah dapat menyebabkan iritasi pada
pembuluh darah dan tromboflebitis.
3. Normal Saline (NaCl 0,9%)
Komposisi (mmol/l) : Na = 154, Cl = 154.
Kemasan : 100, 250, 500, 1000 ml.
Indikasi :
a. Resusitasi
Pada kondisi kritis, sel-sel endotelium pembuluh darah bocor, diikuti oleh keluarnya molekul
protein besar ke kompartemen interstisial, diikuti air dan elektrolit yang bergerak ke
intertisial karena gradien osmosis. Plasma expander berguna untuk mengganti cairan dan
elektrolit yang hilang pada intravaskuler.
b. Diare
Kondisi diare menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah banyak, cairan NaCl digunakan
untuk mengganti cairan yang hilang tersebut.
c. Luka Bakar
Manifestasi luka bakar adalah syok hipovolemik, dimana terjadi kehilangan protein plasma
atau cairan ekstraseluler dalam jumlah besar dari permukaan tubuh yang terbakar. Untuk
mempertahankan cairan dan elektrolit dapat digunakan cairan NaCl, ringer laktat, atau
dekstrosa.
d. Gagal Ginjal Akut
Penurunan fungsi ginjal akut mengakibatkan kegagalan ginjal menjaga homeostasis tubuh.
Keadaan ini juga meningkatkan metabolit nitrogen yaitu ureum dan kreatinin serta gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit. Pemberian normal saline dan glukosa menjaga cairan
ekstra seluler dan elektrolit.

Kontraindikasi :
Hipertonik uterus, hiponatremia, retensi cairan. Digunakan dengan pengawasan ketat pada
CHF, insufisiensi renal, hipertensi, edema perifer dan edema paru.
Adverse Reaction :
Edema jaringan pada penggunaan volume besar (biasanya paru-paru), penggunaan dalam
jumlah besar menyebabkan akumulasi natrium.

B. Cairan Koloid
Penggunaan cairan koloid intravena pada penanganan trauma masih kontroversi.
Pada jaman perang dulu, koloid yang digunakan hanyalah albumin dan plasma. Namun
sekarang, dikenal Dextran , haemacel, albumin, plasma dan darah. Koloid mengandung
molekul-molekul besar berfungsi seperti albumin dalam plasma, tinggal dalam intravaskular
cukup lama (waktu paruh koloid intravaskuler 3-6 jam), sehingga volume yang diberikan
sama dengan volume darah. Kekurangan dari koloid yaitu mahal.
Koloid mempunyai kelebihan yaitu dapat menggantikan dengan cepat dan dengan
volume cairan yang lebih sedikit,ekspansi volume plasma lebih panjang, dan resiko edema
pheripheral kecil. Secara umum koloid dipergunakan untuk :

Resusitasi cairan pada penderita dengan defisit cairan berat (syok hemoragik)
sebelum transfusi tersedia

Resusitasi cairan pada hipoalbuminemia berat, misalnya pada luka bakar.

DEXTRAN
Komposisi :
Dextran tersusun dari polimer glukosa hasil sintesis dari bakteri Leuconostoc mesenteroides,
yang ditumbuhkan pada media sukrosa.
Indikasi :

Penambah volume plasma pada kondisi trauma, syok sepsis, iskemia miokard, iskemia

cerebral, dan penyakit vaskuler perifer.


Mempunyai efek anti trombus, mekanismenya adalah dengan menurunkan viskositas
darah, dan menghambat agregasi platelet. Pada suatu penelitian dikemukakan bahwa
dextran-40 mempunyai efek anti trombus paling poten jika dibandingkan dengan
gelatin dan HES.

Kontraidikasi :
Pasien dengan tanda-tanda kerusakan hemostatik (trombositopenia, hipofibrinogenemia),
tanda-tanda gagal jantung, gangguan ginjal dengan oliguria atau anuria yang parah.
Adverse Reaction :
Dextran dapat menyebabkan syok anafilaksis, dextran juga sering dilaporkan dapat
menyebabkan gagal ginjal akibat akumulasi molekul-molekul dextran pada tubulus renal.
Pada dosis tinggi, dextran menimbulkan efek pendarahan yang signifikan.
C. Cairan Khusus
ASERING
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam
berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
Komposis :
Setiap liter asering mengandung:
Na = 130 mEq, K = 4 mEq, Cl = 109 mEq, Ca= 3 mEq, Asetat (garam) + 28 mEq
Keunggulan:
Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami
gangguan hati.
Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding
RL pada neonates
Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan
isofluran
Mempunyai efek vasodilator
Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA,
dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk
edema serebral.

MANNITOL
Indikasi

Menurunkan tekanan intrakranial yang tinggi karena edema serebral, meningkatkan diuresis
pada pencegahan dan/atau pengobatan oliguria yang disebabkan gagal ginjal, menurunkan
tekanan intraokular, meningkatkan ekskresi uriner senyawa toksik, sebagai larutan irigasi
genitouriner pada operasi prostat atau operasi transuretral.
KA-EN 1B
Indikasi
Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus
emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam) < 24 jam pasca operasi.
Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya

300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak

Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100
ml/jam