Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

INOKULASI DAN ISOLASI MIKROORGANISME

Disusun oleh Kelompok 2 :


Fortunia Widyasmara

P1337431215004

Rizky Adi P

P1337431215038

Andhika Vrista N

P1337431215044

Mata Kuliah

: Mikrobiologi

Dosen

:Wiwiek Wijayaningsing,STP,M.Si

Kelas

: D IV Gizi Reguler A

Semester

:3

Tahun Ajaran

: 2015/2016

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG


Jl. Wolter Monginsidi No. 115 Pedurungan Tengah, Pedurungan, Semarang
Telp/Fax : 024-6710378
Website : ww.poltekkes-smg.ac.id E-mail : gizi@poltekkes-smg.ac.id

I.
1.1

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Untuk dapat meneliti mikroorganisme di laboratorium kita harus dapat menumbuhkan


mikroorganisme tersebut . Mikroorganisme dapat berkembang secara alami ataupun buatan.
Substrat yang digunakan manusia dalam dalam mengembangkan dan menumbuhkan
mikroorganisme disebut media . Untuk itu harus dipahami jenis jenis nutrien yang
diisyaratkan oleh bakteri dan lingkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum bagi
pertumbuhannya. Alat alat yang digunakan dalam perkembangbiakan ini harus disterilkan
terlebih dulu , supaya mikroorganisme yang tidak diinginkan tidak tumbuh , sehingga
menghambat pertumbuhan mikroorganisme .
Dalam teknik biakan murni tidak saja diperlukan bagaimana memperoleh suatu biakan yang
murni, tetapi juga bagaimana memelihara serta mencegah pencemaran dari luar. Inokulasi
dimaksudkan untuk menumbuhkan, meremajakan mikroba dan mendapatkan populasi
mikroba yang murni . Inokulasi adalah pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang
lama dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi . Agar biakan bakteri dapat dibuat , maka
alat alat harus disterilisasi sebelum inokulasi . Sterilisasi merupakan suatu proses untuk
mematikan semua organisme yang terdapat pada suatu benda . Proses sterilisasi dapat
dibedakan menjadi tiga macam yaitu , penggunaan panas ( pemijaran dan udara panas ) ,
penyaringan , penggunaan bahan kimia ( etilena oksida , asam perasetat , formal dehida dan
glutaraldehida alkalin ) .
Pencemaran biasanya berasal dari udara yang mengandung banyak mikroorganisme .
Pemindahan biakan mikroba yang dibiakkan harus sangat hati-hati dan mematuhi prosedur
laboratorium agar tidak terjadi kontaminasi . Pada praktikum ini akan dilakukan teknik
inokulasi biakan mikroorganisme pada medium steril untuk mempelajari mikrobiologi
dengan satu kultur murni saja . Identifikasi biakan mikroorganisme seringkali memerlukan
pemindahan ke biakan segar tanpa terjadi pencemaran . Pemindahan mikroorganisme ini
dilakukan dengan teknik aseptik untuk mempertahankan kemurnian biakan selama
pemindahan berulangkali. Identifikasi biakan mikroorganisme seringkali memerlukan
pemindahan ke biakan segar tanpa terjadi pencemaran. Pemindahan mikroorganisme ini
dilakukan dengan teknik aseptik untuk mempertahankan kemurnian biakan selama
pemindahan berulangkali.

1.2

Tujuan

1.

Mengetahui macam inokulasi

2.

Mengetahui jenis inokulasi

3.

Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi inokulasi

4.

Mengetahui metode inokulasi

5.

Mengetahui macam media untuk inokulasi

1.3

Rumusan Masalah

1.

Apa Pengaruh dari inokulasi ?

2.

Bagaimana cara kerja inokulasi ?

3.

Apa faktor-faktor yang mempengaruhi inokulasi ?

4.

Metode seperti apa yang digunakan untuk inokulasi ?

5.

Media apa saja yang digunakan dalam inokulasi ?

II.

LANDASAN TEORI
Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah pekerjaan memindahkan
bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang
sangat tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi) terlebih dahulu
diusakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya dengan medium agar tetap
steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi (Dwijoseputro, 1998)
Teknik yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme pada media agar
memungkinkannya tumbuh dengan agak berjauhan dari sesamanya, juga
memungkinkan setiap selnya berhimpun membentuk koloni, yaitu sekelompok massa
sel yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Bahan yang diinokulasikan pada
medium disebut inokulum, dengan menginokulasi medium agar nutrien (nutrien agar)
dengan metode agar tuang atau media agar sebar, sel-sel mikroorganisme akan
terpisah sendiri-sendiri. Setelah inkubasi, sel-sel mikroba individu memperbanyak diri
secara cepat sehingga dalam waktu 18 sampai 24 jam terbentuklah massa sel yang
dapat dilihat dan dinamakan koloni. Koloni dapat terlihat oleh mata telanjang. Setiap
koloni merupakan biakan murni satu macam mikroorganisme (Pelczar dan Chan,
2007).
Suatu jenis koloni mikroba yang terpisah dari koloni campurannya akan lebih mudah
untuk diamati. Selain itu teknik untuk memisahkan dan mendapatkan koloni tunggal
serta pemeliharannya terdapat beberapa jenis. Teknik-teknik tersebut memiliki
kelebihan dan kelemahan. Beberapa cara dapat dilakukan untuk menentukan jumlah
bakteri yang terdapat pada bahan pemeriksaan. Cara yang paling sering digunakan
adalah cara penghitungan koloni pada lempeng pembiakan (plate count) atau juga
dapat dilakukan penghitungan langsung secara mikroskopis (Burrows, 2004).
Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan suatu
hal yang penting untuk diketahui. Pengetahuan tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan mikroba sangat penting di dalam mengendalikan
mikroba. Berikut ini faktor-faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba,
suplai energi, suhu/temperatur, keasaman atau kebasaan (ph), ketersediaan oksigen
(Suriawiria, 2005).
Teknik Inokulasi
Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi biakan murni
mikroorganisme yaitu :
1.Metode gores
Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu, tetapi
memerlukan ketrampilan-ketrampilan yang diperoleh dengan latihan. Penggoresan
yangsempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Inokulum digoreskan di
permukaanmedia agar nutrien dalam cawaan petri dengan jarum pindah (lup
inokulasi). Di antaragaris-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah

sehingga dapat tumbuhmenjadi koloni (Winarni, 1997).Cara penggarisan dilakukan


pada medium pembiakan padat bentuk lempeng. Biladilakukan dengan baik teknik
inilah yang paling praktis. Dalam pengerjaannya terkadangberbeda pada masingmasing laboratorium tapi tujuannya sama yaiitu untuk membuatgoresan sebanyak
mungkin pada lempeng medium pembiakan (Kus Irianto, 2006)
2.Metode tebar/ sebar
Setetes inokolum diletakan dalam sebuah medium agar nutrien dalam cawan petri dan
dengan menggunakan batang kaca yang bengkok dan steril. Inokulasi itu disebarkan
dalam medium batang yang sama dapat digunakan dapat menginokulasikan pinggan
kedua untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang merata dengan baik. Pada
beberapa pinggan akan muncul koloni koloni yang terpisah-pisah. Metode tuang
Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran. Metode tuang ini
dilakukan dengan cara nutrient agar terlebih dahulu di tuang lalu diberi mikroba
(Prescott,2009)
3.Teknik Aseptik
Sebelum benar-benar dilakukan proses kultur mikroorganisme, pertama kali kitaharus
mempertimbangkan bagaimana agar tidak terjadi kontaminasi. Mikroorganisme ada
dimana-mana. Karena ukurannya yang sangat kecil, mereka mudah lepas dalam udara
danpermukaan. Maka dari itu, kita harus mensterilisasikan medium kultur secepatnya
setelah preparasi untuk pemindahan mikroorganisme siap dikontaminasikan, ini
biasanya terbunuh.Bagaimanapun, itu sama pentingnya untuk tindakan pencegahan
sampai penangananberikutnya mediun kultur harus tetap steril. Demikian materi yang
lain yang akan kontak juga harus tetap terjaga kesterilannya (Cappuccino,
1983).Teknik yang digunakan dalam pencegahan kontaminasi hingga kultur
manipulasidan media kultur steril disebut teknik aseptik. Keunggulan itu dibutuhkan
keberhasilandalam laboratorium mikrobiologi, dan salah satu cara belajar dengan
pendampingmikrobilogi. Kontaminasi udara paling sering menjadi masalah karena
udara selalu kontak dengan partikel debu dan umumnya banyak komunitas
mikroorganisme didalamnya.Ketika wadah dibuka maka segera ditangani agar tidak
terkontaminasi dengan udara sekitar.Transfer aseptik pada kultur dari salah satu
medium ke medium yang lain harus lihaidengan loop inokulasi atau jarum harus
disterilkan oleh pembakaran pada nyala api. Dalampertumbuhan kultur dibutuhkan
tempat yang mudah dipindahkan ke permukaan agar datar,dimana pertumbuhan suatu
koloni berasal dari pertumbuhan dan pembelahan sel tunggal(Cappuccino, 1983).
Bakteri yang digunakan dalam proses inokulasi Escherichia coli Menurut
Kenneath tahun (2008),termasuk dalam familiEnterobacteraceae yang termasuk gram
negatif dan berbentuk batang yang fermentatif. E.coli hidup dalam jumlah besar di
dalam usus manusia, yaitu membantu sistem pencernaanmanusia dan melindunginya
dari bakteri patogen. Akan tetapi pada strain baru dari E.colimerupakan patogen
berbahaya yang menyebabkan penyakit diare dan sindrom diarelanjutan serta
hemolitik uremic (hus). Peranan yang mengguntungkan adalah dapatdijadikan

percobaan limbah di air, indikator pada level pencemaran air serta mendeteksipatogen
pada feses manusia yang disebabkan oleh Salmonella typhi (Mikrolibrary, 2008)

I.

ALAT DAN BAHAN


Alat :
o Permukaan agar
o Tabung reaksi
o Beker gelas
o Inokulum loop
o Jarum ose
o Spirtus
o Pipet tetes
o Kapas steril
o Inkubator
o Kertas buram
Bahan :
o E.colli
o Aureus
o Clapsiella

II.

PROSEDUR KERJA
Teknik Spread plate :
1. Mengambil suspense Aures sebanyak 0,1 ml dengan pipet tetes, kemudian
teteskan pada permukaan agar yang telah memadat
2. Batang L diambil dan disterilisasikan dengan dibakar di bunse
3. Kemudian batang L di disebarkan dengan menggosokkannya pada permukaan
agar yang telah diberi suspense
Teknik Pour Plate
1. Menyiapkan cawan steril, kemudian teteskan suspense ke dalam cawan yang
steril tadi sebanyak 2 tetes
2. Menuangkan media agar ke dalam cawan yang telah diberi suspense tadi
Teknik Goresan Sinambung
1. Menggambar/ memola cawan yang steril pada sebaliknya dengan gambar
sinambung, tunggu agak dingin
2. Kemudian goreskan jarum ose yang telah disterilkan dengan membakar di
bunsen
3. Memasukkan jarum ose yang telah steril tadi ke dalam suspense (Clapsiella)
4. Goreskan pada permukaan agar
5. Inkubasi selama 1x24 jam pada incubator sambil dibungkus dengan kertas
buram

Teknik Goresan T
1. Menggambar/ memola cawan bagian alas dengan goresan T
2. Kemudian goreskan jarum ose yang telah disterilkan dengan membakar di
bunsen
3. Memasukkan jarum ose yang telah steril tadi ke dalam suspense (Clapsiella)
4. Goreskan pada permukaan agar
5. Inkubasi selama 1x24 jam pada incubator sambil dibungkus dengan kertas
buram
Teknik Kuadran
1. Menggambar/ memola cawan bagian alas dengan goresan T
2. Kemudian goreskan jarum ose yang telah disterilkan dengan membakar di
bunsen, tunggu agak dingin
3. Memasukkan jarum ose yang telah steril tadi ke dalam suspense (E.colli)
4. Goreskan pada permukaan agar
5. Inkubasi selama 1x24 jam pada incubator sambil dibungkus dengan kertas
buram
Metode Tusuk
1. Menyiapkan tabung reaksi yang sudah terdapat agar
2. Kemudian mensterilkan jarum ose pada bunsen dengan cara dibakar, tunggu
dingin
3. Memasukkan jarum ose ke dalam suspense (Clapsiella) tadi ke dalam agar
4. Kemudian masukkan ke dalam kulkas selama 1 x 24 jam dengan dibungkus
kertas buram
Metode Agar Miring
1. Menyiapkan tabung reaksi yang sudah terdapat agar
2. Kemudian mensterilkan jarum ose pada bunsen dengan cara dibakar, tunggu
dingin
3. Memasukkan jarum ose ke dalam suspense (Aureus) tadi ke dalam agar
4. Kemudian masukkan ke dalam kulkas selama 1 x 24 jam dengan dibungkus
kertas buram

III.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Teknik Kuadran

Teknik Sinambung

Pour Plate

Teknik Goresan T

Spread Plate

Metode Tusuk

Metode Agar miring


Dari praktikum kali ini ditunjukkan timbuhnya koloni tunggal pada
permukaan agar / cawan petri yang telah di inkubasi selama 1 x 24 jam dalam
inkubator
IV.

ANALISA DATA
Pada praktikum kali ini mengamati tentang inokulasi bakteri. Saat praktikum
melakukan teknik goresan, teknik tabur, metode tusuk dan metode agar miring.
Pada teknik tabur meliputi Spread Plate dan Pour Plate sedangkan pada teknik
goresan meliputi goresan T, goresan sinambung dan goresan kuadran. Pada teknik
Spread Plate dan metode agar miring menggunakan bakteri Aureus, bakteri
Clapsiella digunaka pada Pour Plate, goresan T, goresan sinambung dan metode
tusuk sedangkan pada goresan kuadran menggunakan bakteri E.colli. Setelah
penanaman bakteri selesai maka di incubator selama 1 x 24 jam, setelah itu
diamati pertumbuhan bakteri. Pada praktikum kelompok 2 yang tumbuh bakteri
yaitu Spread Plate dan teknik goresan T sedangkan pada perlakuan lain tidak
tumbuh bakteri melainkan tumbuh jamur. Hal ini dikarenakan mungkin pada
praktikum tidak aseptic pada perlakuannya sehingga terkontaminasi selain itu
media nya rusak karena pada saat penggoresan terlalu menekan sehingga bakteri
tidak terlihat.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN


Dari praktikum diatas dapat disimpulkan bahwa apabila bakteri sampel yang
digunakan sudah terlalu tua / lama, pada saat menginokulasi di inkubator tidak
terbentuknya koloni
Kami menyarankan bahwa :
1. Pada saat praktium alat-alat yang digunakan harus disterilkan terlebih dahulu
2. Harus hati-hati pada saat menggoreskan pada cawan petri
3. Pada saat dimasukkan kedalam inkubator, posisi tutup harus dibawah. Setelah
itu dibungkus kertas buram