Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

SUBKULTUR ANGGREK (Dendrobium sp.)


Disusun untuk memenuhi tugas pengganti Ujian Akhir Semester mata kuliah Kultur Jaringan

Disusun Oleh:
Syarah Nurul Silvianty
140410130068

PROGRAM STUDI BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU OENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas kasih dan
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum yang berjudul Kultur
Jaringan dari Subkultur Anggrek (Dendrobium sp.).
Laporan ini disusun dari hasil praktikum kultur jaringan yang merupakan mata kuliah
sekaligus bagian dari kurikulum pada Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran. Laporan praktikum ini diharapkan dapat
memberikan sedikit informasi mengenai kultur jaringan pada tumbuhan.
Penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan laporan praktikum ini jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis menerima kritik dan saran agar kesalahan yang ada
bisa diperbaiki dan tidak terulang kembali pada penyusunan laporan.

Jatinangor,

Penulis

Juni 2016

DAFTAR ISI

BAB I.........................................................................................................................................4
PENDAHULUAN.....................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang...............................................................................................................4
1.2 Tujuan..............................................................................................................................6
1.3 Identifikasi Masalah.......................................................................................................6
BAB II.......................................................................................................................................7
TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................................................7
2.1 Sejarah Kultur Jaringan................................................................................................7
2.2 Taksonomi Anggrek........................................................................................................7
2.3 Kultur Jaringan..............................................................................................................9
2.4 Kelebihan dan Kekurangan Kultur Jaringan............................................................11
2.5 Kultur Kalus.................................................................................................................12
BAB III....................................................................................................................................13
METODE PENELITIAN......................................................................................................13
3.1. Alat dan Bahan............................................................................................................13
3.2 Prosedur........................................................................................................................14
BAB IV....................................................................................................................................15
HASIL DANPEMBAHASAN...............................................................................................15
4.1 Hasil...............................................................................................................................15
4.2 Pembahasan..................................................................................................................15
BAB V......................................................................................................................................21
KESIMPULAN.......................................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................22

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Teknik budidaya tanaman dengan menggunakan metode konvensional dalam medium
tanah atau pasir seringkali menghadapi kendala teknis, lingkungan maupun waktu. Sebagai
contoh perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji memerlukan waktu yang relative
lama dan seringkali hasilnya tidak seperti tanaman induknya. Kendala lain yang juga sering
muncul adalah gangguan alam, baik yang disebabkan oleh jasad hidup, misalnya hama dan
penyakit, maupun cekaman lingkungan yang dapat mengganggu keberhasilan perbanyakan
tanaman di lapangan. Kebutuhan akan bibit tanaman dalam jumlah besar, berkualitas, bebas
hama dan penyakit serta harus tersedia dalam waktu singkat seringkali tidak dapat dipenuhi
dengan menggunakan metode konvensional baik secara generatif maupun vegetatif.
Pada tahun 1901 Morgan mengemukakan bahwa setiap sel mempunyai kemampuan
untuk berkembang menjadi suatu jasad hidup yang lengkap melalui proses regenerasi.
Kemampuan ini oleh morgan disebut sebagai totipotensi (totipotency). Konsep totipotensi
tersebut mempunyai makna sangat penting dalam bidang kultur jaringan. Istilah kultur
jaringan mengacu pada teknik untuk menumbuhkan jasad multiseluler dalam medium padat
maupun cair menggunakan jaringan yang diambil dari jasad tersebut. Teknik kultur jaringan
tersebut dilakukan sebagai alternative perbanyakan tanaman bukan dengan menggunakan
media tanah, melainkan dalam medium buatan di dalam tabung.teknik ini sekarang sudah
berkembang luas sehingga bagian tanaman yang digunakan sebagai awal perbanyakan tidak
hanya berupa jaringan melainkan juga dalam bentuk sel sehingga juga dikenal teknik kultur
sel. Berdasarkan dari hal tersebut diatas, maka diadakanlah penulisan makalah ini dengan
tujuan untuk mengetahui teknik kultur jaringan tumbuhan dengann menggunakan kultur kalus
atau kutur sel.
Kultur jaringan tanaman merupakan teknik budidaya (perbanyakan) sel, jaringan, dan
organ tanaman dalam suatu lingkungan yang terkendali dan dalam keadaan aseptik atau bebas
dari mikroorganisme. Secara umum perbanyakan tanaman berdasarkan perkembangan dan
siklus hidupnya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu perbanyakan secara seksual dan
perbanyakan secara aseksual.

Berdasarkan bagian tanaman yang dikulturkan secara lebih spesifik terdapat tipe-tipe
kultur yaitu, kultur kalus, kultur suspensi sel, kultur anter, kultur akar, kultur pucuk tunas,
kultur embrio, kultur ovul, dan kultur kuncup bunga. Kultur jaringan bermula dari adanya
pembuktian sifat totipotensi sel, yaitu bahwa setiap sel tanaman yang hidup dilengkapi
dengan informasi genetik dan perangkat fisiologis yang lengkap untuk tumbuh dan
berkembang menjadi tanaman utuh, jika berada dalam kondisi yang sesuai. Penemuan zat
pengatur tumbuh (ZPT) dan upaya pengembangan formulasi media sangat berperan penting
dalam menentukan keberhasilan teknik kultur jaringan. Prinsip utama dari teknik kultur
jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman dengan
menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat yang steril.
Inisiasi pembentukan kalus merupakan salah satu langkah penting yang menentukan
keberhasilan teknik kultur in vitro. Kalus merupakan massa sel yang tidak terorganisir, pada
mulanya sebagai respon terhadap pelapukan (wounding). Pembelahan selnya menjadi tidak
terkendali, sel-selnya mengalami proliferasi yaitu membelah terus menerus dengan sangat
cepat, hal ini dimungkinkan karena sel-sel tumbuhan yang secara alamiahnya bersifat autotrof
dikondisikan menjadi heterotrof oleh adanya nutrisi yang cukup komplek dan zat pengatur
tumbuh didalam medium kultur. Selain dari luka bekas irisan, kalus juga dapat berasal dari
pembelahan sel-sel kambium yang terus membelah dan berpoliferasi.
Poliferasi sel-sel akan menjadi lebih baik jika eksplan yang digunakan berasal dari
jaringan yang masih muda. Sel-sel kalus secara fisiologis dan biokimia sangat berbeda
dengan sel-sel eksplannya yang sudah terdiferensiasi. Sel-sel pada kalus bersifat meristematik
dan merupakan salah satu wujud dari dediferensiasi. Dediferensiasi merupakan reversi dari
sel-sel hidup yang telah terdiferensiasi menjadi tidak terdiferensiasi, atau dengan kata lain
menjadi meristematik kembali. Dediferensiasi merupakan langkah awal bagi perbanyakan
vegetatif dengan teknik kultur in vitro karena merupakan dasar terjadinya primerdia tunas dan
akar.
Kalus dapat diperbanyak secara tidak terbatas dengan cara memindahkan sebagian
kecil kalus kedalam medium baru (sub kultur). Kalus dengan sel-selnya yang bersifat
meristematik, dapat didispersikan didalam medium cair sehingga dapat diperoleh kultur
suspensi sel.Teknik kultur jaringan melalui kultur kalus merupakan salah satu metode untuk
budidaya tanaman untuk mendapatkan metabolit sekunder dalam waktu yang relatif singkat.

1.2 Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui cara dan tahapan subkultur
tanaman anggrek melalui teknik kultur jaringan.

1.3 Identifikasi Masalah

Bagaimana cara dan tahapan subkultur tanaman anggrek melalui teknik kultur
jaringan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Kultur Jaringan


Menurut Suryowinoto (1991), kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai
tissue culture, weefsel cultuus atau gewebe kultur. Kultur sendiri berarti budidaya dan
jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Maka, kultur
jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang
mempunyai sifat seperti induknya (Sriyanti dan Wijayani, 1994).
Metode kultur jaringan berasal dari tahun 1902, ketika Gottlieb Haberlandt
memperlihatkan bahwa adalah mungkin memelihara tipe tertentu sel tumbuhan dalam
suasana sehat dalam media kultur. Akan tetapi tanaman anggrek baru dapat dikulturkan pada
tahun 1922 oleh Knudson. Meskipun sel-sel itu tidak membelah, namun pekerjaan
Haberlandt telah meletakkan arah untuk penelitian yang muncul di masa mendatang
(Sudarmadji, 2003).
2.2 Taksonomi Anggrek
Anggrek secara taksonomi diklasifikasikan ke dalam phyllum Spermatophyta atau
tumbuhan berbiji, kelas Angiospermae atau berbiji tertutup, subkelas Monocotyledonae atau
bijinya berkeping satu, ordo Gynandrae karena alat reproduksi jantan dan betina bersatu
sebagai tugu bunga dan famili Orcidaceae atau keluarga anggrek (Kartiman, R. 2004).
Famili anggrek mempunyai 750 genus berbeda dengan 25 000 spesies dan lebih dari
30 000 kultivar hasil persilangan (Hew dan Yong, 1996). Dendrobium merupakan salah satu
genus anggrek terbesar di Asia (Warren dan Tettoni, 1996). Nama Dendrobium berasal dari
bahasa Yunani, yang terdiri dari kata dendron artinya pohon dan biein artinya untuk hidup.
Secara keseluruhan Dendrobium berarti tanaman yang hidup pada pohon. Genus Dendrobium
diperkenalkan oleh seorang botanist Swedia, Olaf Swarts pada tahun 1800. Botanist tersebut
mendiskripsikannya dalam sembilan spesies. Dendrobium tumbuh di AsiaTenggara,
Himalaya (Nepal dan Sikkim), Birma, propinsi Moulmein, India Barat Daya, Ceylon,
Malaysia, Filipina, Indonesia, New Guinea, Australia, Cina dan Jepang (Widiastoety. 1997).

Bentuk daun anggrek bermacam-macam dari sempit memanjang, pensil, bulat, bulatlonjong, bulat telur, mata lembing/lanset, jantung dan masih banyak lagi variasi lainnya.
Seperti umumnya tumbuhan monokotil, daun anggrek memiliki tulang daun yang sejajar
dengan helaian daun dan tidak memiliki pertulangan yang bercabang. Tebal daun bervariasi
dari tipis hingga tebal berdaging (sukulen). Pada setiap bukunya, daun melekat berselangseling atau berpasangan dan setiap buku terdapat dua helai daun yang berhadapan
(Widiastoety. 1997).
Menurut Dressler dan Dodson (2000), klasifikasi anggrek Dendrobium adalah sebagai
berikut:
Kingdom

Plantae

Divisi

Spermatophyta

Subdivisi

Angiospermae

Kelas

Monocotyledoneae

Ordo

Orchidales

Famili

Orchidaceae

Subfamili

Epidendroideae

Suku

Epidendreae

Subsuku

Dendrobiinae

Genus

Dendrobium

Genus Dendrobium mempunyai keragaman yang sangat besar, baik habitat, ukuran,
bentuk pseudobulb, daun maupun warna bunganya. Spektrum penyebarannya luas, mulai dari
daerah pantai sampai pegunungan. Tersebar di India, Sri Lanka,Cina Selatan, Jepang ke
selatan sampai Asia Tenggara hingga kawasan Pasifik, Australia, Selandia Baru, dan Papua
Nugini. Tumbuh baik pada ketinggian 0500 m dpl dengan kelembapan 6080%. Budi daya
anggrek yang paling mudah adalah yang berasal dari tempat asalnya (Lingga, P. dan
Marsono. 2001).
Persyaratan tumbuh setiap jenis anggrek berbeda-beda, tetapi semua jenis memerlukan
aliran udara yang selalu bergerak. Manfaat aliran udara ini untuk mencegah timbulnya
penyakit akibat lingkungan yang terlalu basah, menurunkan suhu udara pada siang hari yang
panas, dan membawa unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman seperti CO2, N2, dan air (Yusnita,
2003:8).
Anggrek Dendrobium merupakan tanaman yang berasal dari daerah tropis yang
membutuhkan sinar matahari dan temperatur yang cukup panas, tidak seperti anggrek tertentu

yang hanya cocok di daerah dingin seperti Paphiopedillum. Dendrobium membutuhkan


cahaya 50-60% dan suhu 28-30oC dengan suhu minimal 15oC (Anggrek.org., 2005).
Sedangkan lingkungan yang dikehendaki anggrek ini tidak terlalu basah tetapi membutuhkan
kelembaban yang tinggi yaitu 65%-70%. Apabila keadaan media terlalu basah dapat
menyebabkan tunas atau daun menjadi busuk (Kartiman, R. 2004). Kebutuhan lingkungan
tumbuh tersebut dapat diatasi dengan pemberian naungan dan pengabutan dengan sprayer.
Pertumbuhan anggrek Dendrobium optimal pada ketinggian kurang dari 400 mdpl
walaupun pada ketinggian yang lebih tinggi masih dapat tumbuh dan berbunga (Setiawan,
2005). Lingkungan tumbuh Dendrobium tersebut merupakan daerah yang cukup panas.
Umumnya Dendrobium hanya disiram pada saat hari cerah, saat mendung, hujan atau
berkabut tidak perlu dilakukan penyiraman. Penyiraman pada saat media anggrek telah kering
merupakan waktu yang tepat (Lingga, P. dan Marsono. 2001).

2.3 Kultur Jaringan


Menurut Suryowinoto (1991), kultur jaringan dalam bahasa asing disebut sebagai
tissue culture, weefsel cultuus atau gewebe kultur. Kultur sendiri berarti budidaya dan
jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Maka, kultur
jaringan berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang
mempunyai sifat seperti induknya (Sriyanti dan Wijayani, 1994).
Kultur jaringan atau budidaya in vitro adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian
dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atau organ yang serba steril, ditumbuhkan
pada media buatan yang steril, dalam botol kultur yang steril dan dalam kondisi yang aseptik,
sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman
yang lengkap (Yusnita, 2003:8).
Dasar teori yang digunakan dalam pelaksanaan teknik kultur jaringan adalah teori
totipotensi, yang dikemukakan oleh Schleiden dan Schwann (Suryowinoto, 1991) yang
menyatakan bahwa setiap sel mempunyai kemampuan totipotensi. Totipotensi adalah
kemampuan setiap sel, dari mana saja sel tersebut diambil, apabila diletakkan dalam media
yang sesuai dan lingkungan yang sesuai akan dapat tumbuh dan berkembang menjadi
tanaman yang sempurna, artinya dapat bereproduksi, berkembang biak secara normal melalui
biji atau spora (Sriyanti dan Wijayani, 1994).
Kultur jaringan (tissue culture) sampai saat ini digunakan sebagai suatu istilah umum
yang meliputi pertumbuhan kultur secara aseptik dalam wadah yang umumnya tembus

cahaya. Sering kali kultur aseptik disebut juga kultur in vitro yang artinya sebenarnya adalah
kultur di dalam gelas. Dalam pelaksanaannya dijumpai beberapa tipe-tipe kultur, yakni :
1. Kultur biji (seed culture), kultur yang bahan tanamnya menggunakan biji.
2. Kultur organ (organ culture), merupakan budidaya yang bahan tanamnya menggunakan
organ, seperti: ujung akar, pucuk aksilar, tangkai daun, helaian daun, bunga, buah muda,
inflorescentia, buku batang, akar dll.
3. Kultur kalus (callus culture), merupakan kultur yang menggunakan jaringan (sekumpulan
sel) biasanya berupa jaringan parenkim sebagai bahan eksplannya.
4. Kultur suspensi sel (suspension culture) adalah kultur yang menggunakan media cair
dengan pengocokan yang terus menerus menggunakan shaker dan menggunakan sel atau
agregat sel sebagai bahan eksplannya, biasanya eksplan yang digunakan berupa kalus atau
jaringan meristem.
5. Kultur protoplasma. eksplan yang digunakan adalah sel yang telah dilepas bagian dinding
selnya menggunakan bantuan enzim. Protoplas diletakkan pada media padat dibiarkan
agar membelah diri dan membentuk dinding selnya kembali. Kultur protoplas biasanya
untuk keperluan hibridisasi somatik atau fusi sel soma (fusi 2 protoplas baik intraspesifik
maupun interspesifik).
6. Kultur haploid adalah kultur yang berasal dari bagian reproduktif tanaman, yakni:
kepalasari/anther (kultur anther/mikrospora), tepungsari/pollen (kutur pollen), ovule
(kultur ovule), sehingga dapat dihasilkan tanaman haploid (Gunawan, 1987).
Kultur jaringan adalah salah satu metode dalam perbanyakan tanaman anggrek,
dengan mengambil bagian-bagian tanaman anggrek (eksplan) serta menumbuhkannya dalam
kondisi aseptik. Sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri dan
beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali. Salah satu faktor pembatas dalam keberhasilan
kutur jaringan adalah kontaminasi yang dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur.
Kontaminasi dapat berasal dari : eksplan (baik eksternal maupun internal), organisme yang
masuk kedalam media, botol kultur atau alat-alat yang kurang steril, lingkungan kerja yang
kotor, kecerobohan dalam pelaksanaan (Gunawan, 1987).
Persiapan media harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati, kebersihan alat-alat harus
selalu dijaga, diusahakan bekerja diruang terkendali dan aseptik. Ruang untuk menumbuhkan
biji dan bibit anggrek memerlukan penyinaran cukup lama, yakni antara 12-18 jam dengan
intensitas sinar 20003000 lux. Bibit anggrek dapat tinggal sementara didalam botol selama
10-12 bulan sesudah itu baru dipindahkan kedalam pot. Setelah pemindahan kedalam pot,
bibit perlu diberi naungan. Penyinaran oleh sinar matahari secara langsung kurang baik bagi

pertumbuhan bibit yang baru dikeluarkan dari botol. Sebagian media yang digunakan pada
pot biasanya menggunakan hancuran pakis, arang kayu dan serabut kelapa (Ashari, 1995).
Teknik kultur jaringan melalui biji atau embrio (seksual) dilakukan dengan alasan biji
tidak mempunyai endosperm (cadangan makanan) atau biji berukuran sangat kecil. Selain itu,
teknik kultur jaringan juga bertujuan untuk mendapatkan keseragaman bibit dalam jumlah
besar dan waktu yang relatif singkat. Dari kultur jaringan ini diharapkan pula memperoleh
tanaman baru yang bersifat unggul (Widiastoety, 2003).
Tanaman anggrek dapat diperbanyak dengan biji (generatif) atau bagian non biji
(vegetatif). Perbanyakan dengan biji umumnya dilakukan dalam bidang pemuliaan, yaitu
untuk mendapatkan jenis anggrek baru. Biji anggrek ditanam dalam botol yang berisi media
yang mengandung nutrisi untuk pertumbuhannya. Namun demikian, perbanyakan anggrek
dengan biji memerlukan waktu yang cukup lama. Perbanyakan anggrek dengan bahan non
biji telah pula dilakukan, terutama untuk jenis anggrek yang sudah jelas baik kualitasnya,
yakni dengan stek batang atau dengan cara kultur jaringan (Ashari, 1995).
Mengkultur atau membiakan sel dan jaringan tumbuhan merupakan dasar bagi
kebanyakan aspek bioteknologi tumbuhan. Luasnya penggunaan tumbuhan tergantung pada
kemampuan jaringan dan sel tumbuhan untuk tumbuh pada larutan nutrisi yang sederhana
yang komposisinya diketahui. Penggunaan ini termasuk dalam perbanyakan tumbuhan,
memelihara dan menyimpan plasma benih, yang merupakan hal yang penting untuk menjaga
tetapnya kolam gen tumbuhan yang tidak sedang aktif ditanam serta memproduksi komersial
dan rekayasa genetika tumbuhan (Sudarmadji, 2003).
2.4 Kelebihan dan Kekurangan Kultur Jaringan
Kelebihan kultur jaringan antara lain:
1. Tidak memerlukan tempat yang luas.
2. Tanaman bisa diperbanyak dalam waktu yang singkat.
3. Pelaksanaannya tidak tergantung pada musim.
4. Bibit yang dihasilkan lebih sehat.
5. Memungkinkan adanya rekayasa genetika.
Selain itu juga memiliki kelemahan-kelemahan, yaitu:

1. Diperlukan biaya awal yang relatif tinggi.


2. Hanya mampu dilakukan oleh orang-orang tertentu saja, karena memerlukan keahlian
khusus.
3. Bibit hasil kultur jaringan memerlukan proses aklimatisasi, karena terbiasa dalam
kondisi lembap dan aseptik. (Yusnita, 2003:8)

2.5 Kultur Kalus


Tanaman dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan teknik kultur in vitro
dengan teknik kultur kalus atau kultur sel. Kultur kalus merupakan pemeliharaan bagian kecil
tanaman dalam lingkungan buatan yang steril dan kondisi yang terkontrol. Kalus adalah suatu
kumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan yang berproliferasi secara terus
menerus dan tidak terorganisasi sehingga memberikan penampilan sebagai massa sel yang
bentuknya tidak teratur. Proliferasi jaringan ini dapat dilakukan secara tidak terbatas dengan
cara melakukan subkultur sepotong kecil jaringan kalus pada medium yang segar dengan
interval waktu yang teratur (Gunawan, 1987).
Penelitian pembentukan kalus pada jaringan terluka pertama kali dilakukan oleh Sinnott
pada tahun 1960. Pembentukan kalus pada jaringan luka dipacu oleh zat pengatur tumbuh
auksin dan sitokinin endogen. Secara in vivo, kalus pada umumnya terbentuk pada bekasbekas luka akibat serangan infeksi mikro organisme seperti Agrobacterium tumefaciens,
gigitan atau tusukan serangga dan nematoda. Kalus juga dapat terbentuk sebagai akibat stress.
Kalus yang diakibatkan oleh hasil dari infeksi bakteri Agrobacterium tumefaciens disebut
tumor.Kalus adalah jaringan meristematik yang merupakan wujud dari dediferensiasi. Dalam
kultur jaringan menginduksi terbentuknya kalus merupakan langkah yang penting. Setelah
terbentuknya kalus baru diberikan perlakuan/rangsangan untuk berdiferensiasi membentuk
akar atau tunas (Rahardjo, 1989).
Tujuan kultur kalus adalah untuk memperoleh kalus dari eksplan yang diisolasi dan
ditumbuhkan dalam lingkungan terkendali. Kalus diharapkan dapat memperbanyak dirinya
(massa selnya) secara terus menerus. Jika suatu eksplan ditanam pada medium yang sesuai,
dalam waktu 2-4 minggu, tergantung spesiesnya, akan terbentuk massa kalus yaitu massa
amorf yang tersusun atas sel-sel parenkim berdinding sel tipis yang berkembang dari hasil
proliferasi sel-sel jaringan induk. Kalus dapat disubkultur dengan cara mengambil sebagian

kalus dan memindahkannya pada medium baru. Dengan sistem induksi yang tepat, kalus
dapat berkembang menjadi tanaman yang utuh (plantlet) (Gunawan, 1987).

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini diantaranya yaitu, Aluminium foil
berfungsi untuk menutup botol kultur agar tidak terjadi kontaminasi. Autoclave berfungsi
untuk mensterilkan media, baik media agar atau pun media cair juga dapat digunakan untuk
sterilisasi tanah atau kompos yang akan digunakan untuk media tanaman. Botol kultur steril
berfungsi sebagai tempat untuk menkulturkan atau menanam eksplan. Bunsen berfungsi
untuk menjaga sterilisasi lingkungan di sekitar tempat penanaman subkultur. Gelas ukur
digunakan untuk menakar air suling dan bahan kimia yang akan digunakan. Hotplate
berfungsi untuk homogen dan juga untuk pemanas. Laminar Air Flow yang berfungsi untuk
menanam eksplan ke dalam botol dalam kondisi steril atau melakukan sub kultur yang
dilengkapi dengan blower dan lampu UV. Oven berfungsi untuk sterilisasi botol kultur,
gunting, pinset, pisau, dan lain sebagainya yang digunakan dalam kultur jaringan. Petridish
steril yang berfungsi sebagai tempat menyimpan potongan-potongan eksplan anggrek. Pinset
steril (pendek dan panjang) fungsinya sebagai alat untuk mengambil eksplan yang akan
ditanam. Scalpel steril fungsinya untuk memotong-motong eksplan anggrek. Stirer berfungsi
untuk menggojok dengan pemanas. Dengan menggunakan listrik, alat ini berfungsi sebagai
kompor disamping sebagai penggojok. Tabung Reaksi digunakan pada saat mengerjakan
isolasi protoplas dan isiolasi khloroplas.Timbangan Analitik berfungsi sebagai alat untuk
menimbang bahan-bahan kimia yang digunakan untuk kultur jaringan.
Sedangkan untuk bahan-bahan yang digunakan pada kultur jaringan diantaranya
yaitu, alkohol 70% berfungsi untuk sterilisasi alat-alat yang digunakan juga sterilisasi tangan
dari kuman-kuman/bakteri yang dapat menyebabkan kontaminasi. Anggrek hasil kultur
jaringan berfungsi sebagai eksplan yang dijadikan subkultur. Media padat dengan komposisi

didalamnya yaitu agar, unsur makro dan unsur mikro yang berfungsi sebagai media tanam
eksplan.

3.2 Prosedur
Langkah pertama yaitu, menyiapkan alat-alat: pinset, scalpel, petridish, botol berisi
media kultur, alkohol dan bunsen. Menyalakan lampu dan blower LAF, kemudian
memasukkan alat-alat ke dalam LAF dengan terlebih dahulu menyemprotkan alkohol 70%.
Mematikan lampu dan blower, kemudian lampu UV dinyalakan. Penyinaran lampu UV
dilakukan selama 20-30 menit, setelah itu dimatikan. Lampu dan blower LAF dinyalakan dan
memasukkan plb anggrek yang sudah disemprot alkohol 70% ke dalam LAF. Menyalakan
Bunsen, masukkan ujung scalpel dan pinset ke dalam botol yang berisi alkohol 70%.
Mengreluarkan eksplan dari botol dengan pinset dengan sebelumnya ujung pinset dilewatkan
di atas api Bunsen. Selanjutnya meletakkan eksplan di petridish steril. Menanam ekplan pada
media tanam yang sudah disterilkan. Penanaman dilakukan pada jarak yang tidak terlalu
dekat. Memberi label pada kultur yang berisi tanggal pengkulturan, nama kelompok dan
nama peneliti. Menyimpan kultur pada ruang inkubasi.

BAB IV
HASIL DANPEMBAHASAN
4.1 Hasil

No. Hasil
1

Keterangan
Hari pertama
Saat mengkultur bagian
kalus dari tanaman
anggrek

Hari ke tujuh
Melakukan pengecekan
dari pertumbuhan kalus.
Hasilnya kalus yang di
kultur dapat tumbuh dan
tidak terjadi
kontaminasi.

4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu mengenai subkultur dari tanaman anggrek (Dendrobium
sp.) Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui cara dan tahapan melakukan kultur kalus dari
tanaman anggrek. Hal pertama yang harus diperhatikan pada kultur jaringan adalah
menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Alat yang digunakan seperti: pinset,
scalpel, petridish, botol berisi media kultur, alkohol dan bunsen. Lalu semua alat yang akan
digunakan haruslah dalam keadaan steril, hal ini dikarenakan untuk meminimalisir terjadinya

kontaminasi pada subkultur anggrek yang akan dikultur nantinya. Lalu menyalakan lampu
dan blower LAF, kemudian memasukkan alat-alat ke dalam LAF dengan terlebih dahulu
menyemprotkan alkohol 70%. Mematikan lampu dan blower, kemudian lampu UV
dinyalakan. Penyinaran lampu UV dilakukan selama 20-30 menit, setelah itu dimatikan.
Fungsi penyinaran menggunakan UV yaitu agar laminar serta alat dan bahan yang ada di
dalamnya steril dan saat melakukan pengerjaan tidak terjadi kontaminasi. Lampu dan blower
LAF dinyalakan dan memasukkan plb anggrek yang sudah disemprot alkohol 70% ke dalam
LAF.
Menyalakan Bunsen, masukkan ujung scalpel dan pinset ke dalam botol yang berisi
alkohol 70%. Mengreluarkan eksplan dari botol dengan pinset dengan sebelumnya ujung
pinset dilewatkan di atas api Bunsen. Pengerjaan seperti ini dilakukan berulang menjaga agar
setiap perlakuan tetap steril, Selanjutnya meletakkan eksplan di petridish steril. Menanam
ekplan pada media tanam yang sudah disterilkan. Penanaman dilakukan pada jarak yang tidak
terlalu dekat. Memberi label pada kultur yang berisi tanggal pengkulturan, nama kelompok
dan nama peneliti. Menyimpan kultur pada ruang inkubasi. Dilakukan penyemprotan ruangan
dan sekeliling eksplan yang sudah ditanam dengan alkohol 70% dan pengecekkan setiap
hari.

Setelah dilakukan pengecekkan terlihat hasil kultur anggrek yang ditanam pada media

baru dapat berhasil tumbuh menjadi kalus dan tidak terjadi kontaminasi. Hal ini dapat dilihat
pada tabel hasil. Kalus terbentuk melalui tiga tahapan, yaitu induksi, pembelahan sel, dan
diferensiasi. Pembentukan kalus ditentukan sumber eksplan, komposisi nutrisi pada medium
dan faktor lingkungan.eksplan yang berasal dari jaringan meristem berkembang lebih cepat
dibanding jaringan dari sel-sel berdinding tipis dan mengandung lignin. Untuk memelihara
kalus, maka perlu dilakukan subkultur secara berkala.
Menurut Yusnita (2004), tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan
teknik kultur jaringan adalah:
1)

Pembuatan media

2)

Inisiasi

3)

Sterilisasi

4)

Multiplikasi

5)

Pengakaran

6) Aklimatisasi

1)

Pembuatan media
Media kultur jaringan merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan

perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Komponen media kultur yang lengkap sebagai
berikut; air destilata (aquades) air bebas ion sebagai pelarut atau solven, hara-hara makro dan
mikro, gula umumnya sukrosa sebagai sumber energi, vitamin, asam amino, dan bahan
organik lain, zat pengatur tumbuh, suplemen berupa bahan-bahan alami jika diperlukan, agaragar atau gelrite sebagai pemadat media (Yusnita, 2004).
2)

Inisiasi
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan.

Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.
3)

Sterilisasi
Sterilisasi merupakan pembersihan alat, tempat maupun eksplan yang akan

digunakan agar terhindar dari berbagai mikrob yang dapat mengganggu kelancaran selama
proses pengkulturan. Cara untuk membebaskan ruangan, alat, maupun media eksplan dari
berbagai mikroorganisme, masing-masing menggunakan cara-cara yang sangat berbeda.
Secara fisis, sterilisasi dilakukan dengan menggunakan udara keringdan panas, menggunakan
uap air bertekanan, menggunakan sinar UV atau sinar gamma, menggunakan filtrasi, serta
bisa pula menggunakan pemijaran atau pengganggangan. Secara kimiawi, sterilisasi
dilakukan dengan menggunakan senyawa-senyawa kimia. Sebagai antiseptik, senyawa kimia
yang digunakan antara lain: etilen oksida, alkohol, spiritus, dan hipoklorit. Sedangkan
sebagai antibiotik, senyawa kimia yang digunakan adalah kanamisin dan kimisitin. Untuk
sterilisasi alat, dilakukan dengan menggunakan pemanasann oven, uap air panas, autoklaf,
dan sinar UV. Sedangkan untuk alat-alat yang berasal dari logam, digunakan sterilisasi
dengan pengapian atau pemijaran.
4)

Multiplikasi
Multiplikasi merupakan kegiatan dalam memperbanyak calon tanaman dengan

menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari
adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang
telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan
suhu kamar.
5)

Pengakaran
Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan

akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan

baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar
serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang
terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur)
atau busuk (disebabkan bakteri).
6) Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke
bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan
sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama
penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan
udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara
bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama
dengan pemeliharaan bibit generatif.
Eksplan terbaik untuk induksi kalus adalah jaringan bagian-bagian semai (seedling)
yang dikecambahkan secara in vitro. Ukuran eksplan juga penting untuk diperhatikan,
idealnya ukuran eksplan yang dikehendaki adalah yang kecil tetapi mempunyai kemampuan
yang tinggi untuk membelah, hal ini dimaksudkan agar diperoleh sel-sel yang relatif
homogen. Sel yang berasal dari tanaman anggrek dapat dibiakkan atau dikulturkan secara
aseptic pada atau dalam medium hara. Kultur biasanya dimulai dengan menanamkan satu iris
jaringan steril pada medium hara yang dipadatkan dengan agar. Dalam waktu 2-3 minggu
akan berbentuk kalus. Kalus semacam ini dapat disubkulturkan dengan memindahkan
potongan kecil pada medium agar segar. Proses terbentuknya kalus sampai terjadi diferensiasi
berbeda-beda tergantung macam dan bagian tanaman yang dipakai untuk eksplan, bahan
kimia atau hormon yang terkandung pada media kultur (Gunawan, 1987).
Dalam perbanyakan mikro, produksi kalus biasanya dihindari karena dapat
menimbulkan variasi dan terutama pada zona perakaran, mengakibatkan diskontinyuitas
dengan sitem berkas pengangkut utama. Kadang-kadang eksplan menghasilkan kalus, bukan
tunas baru, khususnya jika diberikan hormon dengan konsentrasi tinggi pada media. Dalam
hal lain, kalus sengaja diinduksi karena potensinya untuk produksi massal plantlet baru.
Faktor pembatasnya adalah sulitnya menginduksi inisiasi tunas baru, terutama pada tanaman
berkayu dan tingginya kejadian mutasi somatik (Rahardjo, 1989).
Sel-sel penyusun kalus berupa sel parenkim yang mempunyai ikatan yang renggang
dengan sel-sel lain. Dalam kultur jaringan, kalus dapat dihasilkan dari potongan organ yang
telah steril, di dalam media yang mengandung auksin dan kadang-kadang juga sitokinin.
Organ tersebut dapat berupa kambium vaskular, parenkim cadangan makanan, perisikle,

kotiledon, mesofil daun dan jaringan provaskular. Kalus mempunyai pertumbuhan yang
abnormal dan berpotensi untuk berkembang menjadi akar, tunas dan embrioid yang nantinya
akan dapat membentuk plantlet (Rahardjo, 1989).
Menururt Rahardjo (1989), pada umumnya kemampuan pembentukkan kalus dari jaringan
tergantung juga dari:
1)

Umur fisiologi dari jaringan waktu diisolasi.

2)

Musim pada waktu bahan tanaman diisolasi.

3)

Bagian tanaman yang dipakai.

4)

Jenis tanaman.
Inisiasi pembentukan kalus dimulai dari hasil pembelahan sel yang terus menerus pada
jaringan induk yang tidak perlu harus berhubungan langsung dengan medium kultur.
Pertumbuhan yang tercepat terjadi didaerah perifer. Hal ini disebabkan karena pada daerah
tersebut ketersediaan hara dan oksigennya lebih baik. Pertumbuhan kalus merupakan hasil
interaksi yang sangat komplek antara eksplan, komposisi medium dan kondisi lingkungan
selama periode inkubasi. Sel-sel memperlihatkan peningkatan aktivitas sitoplasmik yang
ditandai dengan meningkatnya respirasi dan jaringan kembali kekeadaan meristematik
(dediferensiasi). Selama pertumbuhannya kalus dapat mengalami lignifikasi yang cukup kuat
hingga menyebabkan kalus bertekstur keras dan kompak, ada juga yang friabel dan lunak
sehingga mudah terpecah-pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Kalus dapat berwarna
kekuningan, putih, hijau (Siti, 2008).
Pada perbanyakan tanaman hortikultura, dianjurkan melalui tunas aksilair, karena dapat
menghasilkan bibit yang true-to-type (sesuai dengan sifat induknya). Tunas adventif,
terutama yang melalui fase kalus, tidak dianjurkan dalam perbanyakan tanaman hortikultura,
kecuali untuk tujuan seleksi dan variasi. Tunas adventif langsung, juga menunjukkan
kemungkinan variasi, hanya dalam taraf lebih rendah daripada regenerasi melalui fase kalus.
Suatu sifat yang diamati dalam jaringan yang membentuk kalus adalah bahwa pembelahan sel
tidak terjadi pada semua sel dalam jaringan asal, tetapi hanya sel di lapisan perisfer yang
membelah terus menerus sedangkan sel-sel di tengah tetap quiscent (Siti, 2008).
Menurut Siti (2009), faktor-faktor yang menyebabkan inisiasi pembelahan sel hanya
terbatas di lapisan luar dari jaringan kalus, adalah:

1)

Ketersediaan oksigen yang lebih tinggi.

2)

Keluarnya gas CO2.

3)

Ketersediaan hara yang lebih banyak.

4)

Penghambat yang bersifat folatik lebih cepat menguap.

5)

Cahaya.
Menururt Sudarmadji (2003), agar kalus dapat dijaga pertumbuhannya dan dapat
diperbanyak secara berkesinambungan, maka perlu dipindahkan secara teratur pada media
baru dalam jangka waktu terentu (subkultur). Apabila kalus disubkultur pada media agar yang
dilakukan secara regular, maka akan menunjukkan fase pertumbuhan kurva S (sigmoid). fase
pertumbuhan kalus terbagi menjadi lima fase, yaitu:

1)

Fase lag, dimana sel-sel mulai membelah.

2)

Fase eksponensial, dimana laju pembelahan sel berada pada puncaknya.

3)

Fase linear, dimana pembelahan sel mengalami perlambatan tetapi laju ekspansi sel
meningkat.

4)

Fase deselerasi, dimana laju pembelahan dan pemanjangan sel menurun.

5)

Fase stationer, dimana jumlah dan ukuran sel tetap.

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum kali ini cara dan tahapan yang dilakukan adalah
pembuatan media, inisiasi, sterilisasi, multiplikasi, pengakaran, aklimatisasi

DAFTAR PUSTAKA

Anggrek.org. 2005. Budidaya Tanaman Anggrek. http://www.anggrek.org/ budidaya


tanaman-anggrek.html. 8 November 2008.Setiawan, 2005.
Ashari, S., 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI-Press, Jakarta.
Gunawan, L.W., 1987, Teknik Kultur Jaringan, Laboratorium Kultur Jaringan PAU
Biotekbologi IPB, Bogor.
Hendaryono, Daisy P. Sriyanti dan Wijayani, Ari. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Yogyakarta:
Kanisus.
Kartiman, R. 2004. Pengaruh kombinasi zat pengatur tumbuh dan potongan protocorm like
bodies untuk perbanyakan anggrek bulan raksasa (Phalaenopsis gigantea) dengan
metode kultur jaringan. Skripsi. Fakultas Pertanian. Institut pertanian Bogor.
Lingga, P. dan Marsono. 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Edisi revisi. Penebar Swadaya.
Jakarta. 146 hal.
Mattjik, N. A. 2005. Peran Kultur Jaringan Dalam Perbaikan Tanaman. Bogor: Fakultas
Pertanian IPB.
Rahardjo P.C., 1989, Kultur Jaringan. Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern, Penebar
Swadaya, Jakarta.
Siti D.H. Hoesen, Witjaksono dan L.A Sukamto, 2008, Induksi Kalus dan Organogenesis
Kultur In Vitro Dendrobium lineale Rolfe, Berita Biologi, Vol. 9, No. 3, Hal. 333341.
Sudarmadji, 2003, Penggunaan Benzil Amino Purine Pada Pertumbuhan Kalus Kapas Secara
In Vitro, Buletin Teknik Pertanian, Vol. 8, No. 1, Hal. 8-10.
Suryowinoto M. 1991. Pemuliaan Tanaman secara In Vitro. Yogyakarta: Kanisius.
Widiastoety. 1997. Peningkatan produktivitas dan mutu bunga anggrek. Balai Penelitian
Tanaman Hias. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Badan Litbang
Pertanian. Jakarta.
Yusnita, 2003. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Agromedia
Pustaka, Jakarta.
Yusnita, 2004. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien Jakarta: PT
Agro Media Pustaka.