Anda di halaman 1dari 2

Endapan Turbidit Laut Dalam sebagai Suatu Misteri yang Harus Terus Dipelajari

Endapan turbidit laut dalam merupakan suatu produk sedimentasi yang cukup sulit untuk
dipelajari. Keberadaan dari endapan ini yang berada di laut dalam menyebabkan studi dari
endapan modern turbidit sangat sulit untuk diidentifikasi secara terperinci. Endapan turbidit
terbentuk karena pengaruh dari kemiringan lereng, Kemiringan lereng ini yang menyebabkan
terbentuknya suatu aliran gravitasi. Aliran tersebut menghasilkan suatu arus turbulen. Produk
dari sistem arus turbulen inilah yang dinamakan sebagai endapan turbidit.
Arus turbulen sendiri terbagi menjadi dua bagian berdasarkan berat jenis dari sistem arus
tersebut. Arus turbulen dengan berat jenis tinggi menghasilkan endapan yang kasar, lain halnya
dengan arus turbulen dengan berat jenis rendah akan membentuk endapan sikuen Bouma.
Namun pada pada tulisan ini hanya dibatasi pada endapan dari hasil ssstem arus turbulen dengan
berat jenis rendah.
Endapan turbidit tersusun atas batupasir, batupasir lanauan, atau batupasir kerikilan yang
berselingan dengan batulempung pelagik. Endapan tersebut biasanya dicirikan oleh perlapisan
bersusun dan sikuen Bouma yang lengkap maupun tidak. Perlapisan bersusun batulanau dan
batulempung baik itu bersifat laminar maupun masif serta jarang ditemukan bioturbasi juga
merupakan ciri dari endapan turbidit. Turbidit tersebar luas pada lautan modern tepatnya pada
tepian pasif dan area busur depan serta busur belakang tepian aktif.
Dikarenakan lingkungan pengendapan utama dari endapan turbidit adalah kipas lautan.
Pembagian kipas lautan tersebut menjadi sangat penting untuk dipahami. Model dari kipas lautan
pada awalnya terbagi menjadi kipas bagian atas, kipas bagian tengah, dan kipas bagian bawah.
Model awal lainnya dikemukakan oleh Walker (1978) dan Mutti (1985).
Mutti mengusulkan tiga tahapan evolusi dari kipas lautan yang dihubungkan dengan perubahan
muka laut. Dalam tahun 1980-an hingga 1990-an, penelitian pada kipas lautan modern
menggunakan Sidescan Sonar dan profil seismic. Studi ini telah memberikan gambaran tentang
morfologi permukaan dan stratigrafi internal dari kipas lautan yang belum diketahui sebelumnya.
Lain halnya dengan Walker yang membagi empat assosiasi fasies dengan skala besar pada kipas
lautan modern.
Kipas lautan modern berada di banyak lautan dunia. Kipas lautan terluas meliputi Kipas Amazon
di Atlantik Selatan, Kipas Rhone di laut Mediterania, Kipas Indus di lepas pantai Pakistan dan
India, Kipas Laurential, dan Kipas Mississipi di Teluk Meksiko. Kipas lautan modern inilah yang
dijadikan analogi sebagai endapan kipas lautan yang lampau.

Usaha untuk menghubungkan karakteristik lautan modern dengan system turbidit terbentur pada
masalah skala daripada kenampakan sistem kipas lautan lampau dan asal dari kenampakan
tersebut. Sebagai contoh adalah kehadiran suksesi penebalan dan penipisan ke atas pada turbidit
lampau biasanya berhubungan dengan progradasi kipas dan pengisian pipa (Channel) secara
bertahap.
Oleh karena itu, sulitnya melihat secara langsung terhadap pola tiga dimensi kipas lautan modern
menyebabkan model dari kipas lautan turbidit tidak ada yang bertentangan dengan kipas lautan
modern. Model tersebut membantu kita dalam menginterpretasi endapan kipas yang lampau.
Namun dengan terus berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan untuk
membuat model terbaru dari kipas lautan sehingga memberikan gambaran yang lebih sempurna
terhadap morfologi permukaan dan stratigrafi internal di dalam kipas tersebut.