Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENYEMPURNAAN I
PELEMASAN PADA KAIN KAPAS

Disusun oleh :
Kelompok 1
Nama anggota : 1. Gita Feriani Rachman (14020051)
2. Lusy Fawziah Hamdayani (14020080)
3. Dzikrina Islamiati (14020082)
4. Aji Setiawan (14020087)
5. Puspitha Nurjanah (14020095)
Dosen

: Wulan S., S.ST, M.T

Tgl Praktek

: 02 Juni 2016

POLITEKNIK STTT
BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Maksud dan Tujuan


a. Maksud
Studi tentang proses penyempurnaan pelemasan pada bahan yang terbuat dari
serat kapas, T/R, dan poliester.
b. Tujuan
Menganalisis pengaruh perbedaan resin pelemasan dengan konsentrasi yang
berbeda terhadap kain kapas, T/R dan poliester.

BAB II
TEORI DASAR

Zat pelemas adalah zat yang biasa dipergunakan dalam penyempurnaan untuk
memperoleh kelemasan, kehalusan, pegangan yang penuh dan lembut serta kesupelan
bahan tekstil. Sifat yang dihasilkan pada bahan tekstil dari penyempurnaan tersebut adalah
terjadinya penurunan koefisien gesekan antara serat atau filamen-filamen dalam benang.
Zat pelemas yang biasa digunakan merupakan suatu zat yang mengandung lemak atau
minyak. Zat pelemas ini dapat dipergunakan sebagai zat penyempurnaan sendiri atau
ditambahkan dengan zat penyempurnaan lain.
Zat pelemas sebagai zat aktif permukaan mempunyai sifat umum seperti sifat-sifat
koloid, kelarutan dan lain-lain. Molekul zat aktif permukaan terdiri dari dua gugus penting
yaitu gugus liofil (menarik pelarut) dan gugus liofob (menolak larutan). Gugus liofob
biasanya terdiri dari rantai alifatik atau aromatik, atau gugus alkil yang biasanya terdiri dari
paling sedikit 10 atom karbon. Dalam air sebagai media pelarut gugus liofil disebut hidrofil
dan gugus liofob disebut hidrofob. Pada waktu terjadi peristiwa penyerapan pada serat,
gugus hidrofob memberikan sifat-sifat tertentu yang baik, seperti pegangan lemas dan
lembut. Sedangkan gugus hidrofil lebih banyak menentukan sifat-sifat kimia fisika zat aktif
permukaan dari gugus hidrofob tersebut.

Prinsip

pelemasan

adalah

memberikan

lapisan lemak atau minyak yang hidrofob membentuk suatu lapisan tipis pada bahan yang
mengakibatkan pengecilan gesekan antara elemen bahan yang berdampingan. Lapisan
lemak yang terbentuk dihasilkan oleh adsorpsi zat pelemas pada permukaan bahan. Zat
pelemas adalah surfaktan yang dapat mengaktifkan permukaan, cenderung untuk
berkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Suatu molekul pada permukaan atau
antar muka mengalami ketidakseimbangan gaya, maka untuk mendapatkan keseimbangan
gaya molekul menarik molekul lain. Teradsorpsinya molekul lain pada antar muka
menyebabkan penurunan tegangan permukaan sehingga adsorpsi akan berlangsung terus
sampai energi bebas minimum.
Zat pelemas pada pokoknya adalah minyak atau lemak dengan rantai panjang yang
memiliki daya penetrasi. Penelitian para ahli zat pelemas yang paling baik adalah zat aktif
permukaan. Berdasarkan sifat pengionan zat aktif permukaan dalam air, zat pelemas
terbagi menjadi empat golongan : zat pelemas anionik, kationik, nonionik dam amfoterik.
1. Zat pelemasan kationik

Zat pelemasan kationik merupakan zat yang dapat bereaksi dengan serat,
dapat melapisi permukaan serat, memberikan efek pelemasan dan tahan
cuci yang baik pada serat alam maupun sintetik, sangat baik digunakan untuk
bahan yang telah dicelup terutama yang telah dicelup dengan zat warna direk
dan zat warna asam sebab akan memperbaiki ketahanan cucinya,
memberikan efek kekuningan pada bahan dan dapat ditambahkan pada
larutan yang agak asam, tetapi tidak boleh dicampur dengan senyawa anion
karena akan bereaksi dan tidak relatif lagi.
Contoh zat pelemas kation adalah :

Garam amina, contohnya C17H33CONH.C2H4N(C2H5)2HCl (Sapamine CH)

senyawa amina dengan jembatan amida.


Senyawa kuarterner, contohnya R-N(CH3)3 + Cl-

2. Zat pelemasan anionik


Zat pelemasan anionik merupakan minyak sulfat, seperti minyak jarak,
minyak zaitun dan minyak kacang kedelai selain itu zat pelemasan dapat
dipakai

bersama-sama

dengan

zat

penyempurnaan

lain

walaupun

substantifitasnya kecil, membentuk lapisan film tipis pada permukaan serat


sehingga daya tahan cucinya kurang baik. Dan zat pelemas anionik ini tidak
memberikan efek kekuning-kuningan, pada pemakaiannya dapat disatukan
dengan zat pemutih optik dalam pemutihan serat.
3. Zat pelemasan nonionik
Tidak punya muatan ion
Tidak reaktif
Tahan cuci kurang baik
Banyak digunakan dalam campuran dengan zat pelemas anion atau

kation
Tidak dipengaruhi pH, stabil terhadap elektrolit, tidak terpengaruh oleh air

sadah
Tidak memberikan efek kekuningan
Dibuat dari lemak dan malam sintetik, bukan dari lemak dan malam alam
Seringkali terdapat sejumlah etilena oksida untuk memberikan sifat

hidrofil dan mempengaruhi kelarutan zat yang dihasilkan


Contoh zat pelemasan nonionik adalah :
Polietilena dan emulsi malam
Senyawa etoksigliserida, ester dari alkohol sulfonat dan asam
Berbagai senyawa silikon

4. Zat pelemasan amfoter


Zat pelemasan amfoter merupakan suatu molekul yang terdiri dari satu
atau lebih rantai panjang alkil yang diikat pada inti polar yang kedua ujungnya
mengandung kation dan anion. Jumlah kation dan anion memberikan sifat
kutub

yang berlawanan tergantung pH larutan, dimana pH yang rendah

molekulnya berubah menjadi kation, sedang pada pH tinggi molekulnya


berubah jadi anion. Mempunyai substantivitas tetapi tidak permanen seperti
zat pelemasan kation.
Suatu molekul pada

permukaan

atau

antar

muka

mengalami

ketidakseimbangan gaya, maka untuk mendapatkan keseimbangan gaya


molekul menarik molekul lain. Teradsopsinya molekul lain pada antar muka
menyebabkan penurunan tegangan permukaan sehingga adsorpsi akan
terus berlangsung sampai energi bebas minimum.
Faktor faktor yang mempengaruhi mekanisme adsopsi zat pelemas :
1. Struktur molekul zat pelemas dan penyusunnya
2. Sifat alamiah dan struktur gugus pada permukaan padatan
3. Lingkungan fasa air
Efek pelemasan makin baik bila kedudukan

molekul pelemas makin

rapat. Pada beberapa jenis pelemas kerapatan molekul pelemas akan


tercapai antara lain dengan bantuan proses curing (pemanasawetan), karena
suhu curing yang disertai tekanan seperti pada kondisi proses curing dapat
mendesak molekul pelemas ke pori benang.
Zat pelemasan merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai struktur
amfifilik yang mempunyai dua jenis gugus polar (hidrofil) dan gugus polar
(hidrofobik). Dalam air pelemasan ini akan larut karena gugus polar akan
membentuk ikatan hidrogen dengan air. Larutan ini larutan nyata, karena
gugus hidrokarbon yang tidak polar tidak tertarik oleh air, melaikan
membentuk suatu

film

dimana

gugus

hidrokarbon

menghadap

film

sedangkan gugus polar menghadap air.


Mekanisme pembentukan lapisan film :

Zat pelemas nonionik dengan gugus hidrofob cenderung mendekati serat

dan menempel dipermukaan serat tersebut.


Gugus hidrofilnya menghadap keluar
Zat pelemas akan bersifat menurunkan tegangan permukaan dimana
posisi molekul tegak lurus sampai titik tertentu.

Zat pelemas ini akan membentuk lapisan ganda sehingga tekanan

permukaan naik.
Pada serat poliester yang terjadi adalah interaksi hidrofobik dimana
gugus hidrofob mendekati serat sedangkan gugus hidrofil menghadap ke
larutan.

Gaya gaya yang ditimbulkan oleh sifat dan struktur zat pelemas keluar dari lingkungan
pelarut air dan kemudian teradsorpsi pada permukaan serat, sehingga didapat suatu keadaan
dimana gugus hidrofil zat pelemas akan tertarik masuk oleh gugus hidrofil serat, sedangkan
gugus hidrofobnya tertinggal pada permukaan serat. Gugus hidrofob pada permukaan ini akan
memenuhi prinsip agregrasi rantai membentuk kelompok dengan gugus hidrofob lainnya ke
arah panjang horizontal berupa lapisan film menutupi permukaan. Molekul yang teradsorpsi
dapat mengadakan ikatan fisik dengan serat atau ikatan kimia, tergantung jenis zat pelemas
yang digunakan.

BAB III
METODA PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


Alat:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mesin pad
Mesin stanter
Piala gelas 500 ml
Pipet volume
Pengaduk
Baki/wadah
Timbangan digital
Gelas ukur
Bahan:
Kain kapas/

3.2 Resep
Berdasarkan Metoda (Metoda Exhaust)
1. Resep 1
RESEP
Non Ion (Ginsoft WA)
Vlot
Suhu
Waktu

KAIN 1
4%

KAIN 2
8%
1:20
60C
30 menit

KAIN 3
12%

2. Resep 2
RESEP
Kationik (Taffulon BD)
Vlot
Suhu
Waktu

KAIN 1
5%

KAIN 2
3%
1:20
50C
20 menit

KAIN 3
7%

KAIN 1
8%

KAIN 2
8%
1:20
60C
20 menit

KAIN 3
8%

KAIN 1
4%

KAIN 2
8%
1:20
60C
30 menit

KAIN 3
12%

KAIN 1
20 g/l

KAIN 2
40 g/l
80%
100C , 2menit
160C , 2menit

KAIN 3
60 g/l

3. Resep 3
RESEP
Anionik (Finesoft)
Vlot
Suhu
Waktu
Berdasarkan Resin yang Digunakan
1. Resep 1 (Metoda Exhaust)
RESEP
Non Ion (Ginsoft WA)
Vlot
Suhu
Waktu
2. Resep 4 (Metoda Kontinyu)
RESEP
Non Ionik (Ginsoft WA)
WPU
Dry
Curing

3.3 Diagram Alir


Persiapan alat dan bahan

Perhitungan dan penimbangan resep

Pembuatan larutan pelemas

Perendaman kain dalam larutan pelemas

Padding kain (WPU 70%)

Drying 100C

Curing 160C
Evaluasi (Uji Kekakukan)

BAB IV
DATA PERCOBAAN

4.1 Data Percobaan


Berat Bahan Awal

Berat Bahan 10 cm x 10 cm

Kain Uji 1

3.9 gram

1 gram

Kain Uji 2

4 gram

1 gram

Kain Uji 3

4.1 gram

1 gram

Data Evaluasi Kekakuan


a. Kain 1
Resep
1.
2.
3.
4.

Kain 1
P1
1,5
0,7
2,25
1,4

P2
1,7
0,7
2,65
1,3

P3
1,5
0,7
2,75
1,36

P4
1,7
0,7
2,4
1,45

RataRata

Berat
Kain

1,60
0,70
2,51
1,38

1 gram
1 gram
1 gram
1 gram

b. Kain 2
Resep
1.
2.
3.
4.

Kain 2
P1
1,5
0,5
1,7
1,25

P2
1,6
0,6
1,35
1,35

P3
1,3
0,5
1,65
1,2

P4
1,5
0,5
1,8
1,35

RataRata

Berat
Kain

1,48
0,53
1,63
1,29

1 gram
1 gram
1 gram
1 gram

RataRata

Berat
Kain

1,55
0,48
1,59
1,48

1 gram
1 gram
1 gram
1 gram

c. Kain 3
Resep
1.
2.
3.
4.

Kain 3
P1
1,6
0,5
1,5
1,25

P2
1,7
0,4
1,55
1,55

P3
1,5
0,5
1,7
1,55

P4
1,4
0,5
1,6
1,55

4.2 Perhitungan
1. Kain Uji 1
x 3.9
Vlot

0.16

20 x 3.9 gram

78

0.32

20 x 4 gram

80

0.49

20 x 4.1 gram

82

2. Kain Uji 2
x4
Vlot

3. Kain Uji 3
x 4.1
Vlot

4.3 Perhitungan Evaluasi Uji Kekakuan


a. Kain 1

Resep 1 :
GL
= 0,1 x b x p3
= 0,1 x 1 x (1,6) 3
= 0,4096
Resep 2 :
GL
= 0,1 x b x p3
= 0,1 x 1 x (0,7) 3
= 0,0343
Resep 3 :
GL
= 0,1 x b x p3
= 0,1 x 1 x (2,5) 3
= 1,5625

Resep 4 :
GL
= 0,1 x b x p3
= 0,1 x 1 x (1,3) 3
= 0,2197

b. Kain 2

Resep 1 :
GL
= 0,1 x b x p3
= 0,1 x 1 x (1,48) 3
= 0,324 mgcm
Resep 2 :
GL
= 0,1 x b x p3
= 0,1 x 1 x (0,53) 3
= 0,014 mgcm
Resep 3 :
GL
= 0,1 x b x p3
= 0,1 x 1 x (1,63) 3
= 0,433 mgcm
Resep 4 :
GL
= 0,1 x b x p3
= 0,1 x 1 x (1,29) 3
= 0,215 mgcm

c. Kain 3

Resep 1 :
GL
= 0,1 x b x p3
= 0,1 x 1 x (1,55) 3
= 0,372 mgcm

Resep 2 :
GL
= 0,1 x b x p3
= 0,1 x 1 x (0,48) 3
= 0,011 mgcm
Resep 3 :
GL
= 0,1 x b x p3
= 0,1 x 1 x (1,59) 3
= 0,402 mgcm
Resep 4 :
GL
= 0,1 x b x p3
= 0,1 x 1 x (1,48) 3
= 0,324 mgcm

BAB V
HASIL

4.1 Diskusi
Praktikum kali ini merupakan praktikum uji pelemasan pada suatu kain contoh uji
yang dibedakan dari pemberian resin dan metoda yang digunakan. Tujuan dari praktikum
ini adalah menganalisis pengaruh perbedaan konsentrasi resin pelemasan terhadap kain
kapas.
Zat pelemas itu sendiri merupakan zat yang biasa dipergunakan dalam
penyempurnaan untuk memperoleh kelemasan, kehalusan, pegangan yang penuh dan
lembut serta kesupelan bahan tekstil. Sifat yang dihasilkan pada bahan tekstil dari
penyempurnaan tersebut adalah terjadinya penurunan koefisien gesekan antara serat
atau filamen-filamen dalam benang. Zat pelemas yang biasa digunakan merupakan suatu
zat yang mengandung lemak atau minyak. Zat pelemas ini dapat dipergunakan sebagai
zat penyempurnaan sendiri atau ditambahkan dengan zat penyempurnaan lain.
Pada praktikum yang telah dilakukan, resep yang kami gunakan bervariasi. Pada
resep pertama yakni dengan menggunakan resin non ion dengan kadar untuk setiap
contoh uji nya selisih 2% dengan waktu 30 menit pada suhu 60C. Disamping itu, metoda
yang digunakan adalah metoda exhaust. Hasil evaluasi kekakuan yang didapat dari ketiga
kain contoh uji tersebut memiliki nilai yang tidak begitu jauh, yakni berkisar pada nilai 1.3
hingga 1.7. Apabila dibanding dengan resep dua, yang menggunakan metoda yang sama
yakni exhaust, hasil uji evaluasi kekakuan yang dihasilkan berkisar pada nilai 0,4 sampai
0,7. Perbedaan antar aresep satu dan dua adalah terletak pada penggunaan resinnya.
Pada resep dua resin yang dipakai adalah resin kationik. Metoda exhaust ini juga
digunakan pada resep tiga dengan menggunakan resin aninonik. Hasil uji evaluasi
kekakuan yang didapat adalah resep ini memilki nilai yang berkisar dari 1,5 hingga 2,7.
Semua resep yang menggunakan metoda exhaust memakai suhu 60C dengan waktu
yang bervariasi, yakni 20 menit dan 30 menit.
Perbandingan lain yang kami gunakan aalah perbandingan pada resep empat
dengan memakai resin yang sama yakni resin nonion tetapi berbeda metode. Pada resep
satu memakai metode exhaust dan pada resep empat memakai metoda kontinyu. Hasil uji

kekauan yang didapat pada kedua resep ini tidak berbeda jauh, yakni berkisar pada nilai
1,30 hingga 1,50.
Dilihat dari metoda yang digunakan, yakni metoda exhaust dan metoda kontinyu,
yang paling optimum adalah resep yang menggunakan metoda exhaust karena pada
metoda exhaust terjadi proses pemanasan yang akan membuat ikatan antara serat
dengan zat pelemas semakin kuat sehingga hasil pelemasannya akan lebih baik
dibanding dengan hasil yang menggunakan metoda kontinyu.

4.2 Kesimpulan
Didapatkan bahwa hasil pelemasan kain yang paling baik adalah kain yang diuji
menggunakan resep kedua. Dimana resep kedua ini menggunakan resin kationik dan
dengan metode exhaust.

DAFTAR PUSTAKA

Susyami, N.M, S.Teks., M.Si, dkk. 2005. Bahan Ajar Praktek Teknologi Penyempurnaan Kimia.
Bandung. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.
http://www.academia.edu/9804492/PENYEMPURNAAN_PELEMASAN