Anda di halaman 1dari 13

1

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang
perencaan dan perorganisasian perorganisaian bisnis , meskipun banyak kekurangan
didalamnya. Dan jugakami berterima kasih pada Bapak Agus Ariyanto SE,M,SI Selaku
Dosen mata kuliah komunikasi bisnis yang telah memberikan tugas ini kepada kami .
kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai perencaan dan perorganisasian perorganisaian bisnis. Kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................................1
BAB I..................................................................................................................................4
PENDAHULUAN..............................................................................................................4
1.1 Latar Belakang..............................................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah........................................................................................................4
BAB II.................................................................................................................................5
PEMBAHASAN.................................................................................................................5
2.1.

Peran Komunikasi Dalam Organisasi......................................................................5

2.2.

Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi....................................................................7

2.3.

Bentuk-Bentuk Komunikasi....................................................................................8

2.4. Hambatan Komunikasi Dalam Organisasi...................................................................9


2.5. Tahapan Dalam Komunikasi Yang Efektif.................................................................10
BAB III.............................................................................................................................12
Daftar Pustaka...................................................................................................................13

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1. Pengertian Komunikasi
Komunikasi berasal dari bahasa latin communis atau common dalam Bahasa Inggris
yang berarti sama. Berkomunikasi berarti kita berusaha untuk mencapai kesamaan makna,
commonness. Atau dengan ungkapan yang lain, melalui komunikasi kita mencoba berbagi
informasi, gagasan atau sikap kita dengan partisipan lainnya.
Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain
dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan
suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial
dengan sesama dalam kelompok dan masyarakat. Di dalam kelompok/organisasi itu selalu
terdapat bentuk kepemimpinan yang merupakan masalah penting untuk kelangsungan hidup
kelompok, yang terdiri dari pemimpin dan bawahan/karyawan.
2. Pengertian Organisasi
Interaksi dan kerja sama ini akan terus berkembang dengan teratur sehingga
membentuk wadah yang disebut dengan organisasi. Interaksi atau hubungan antar individuindividu dan kelompok/tim dalam setiap organisasi akan memunculkan harapan-harapan.
Harapan ini kemudian akan menimbulkan peranan-peranan tertentu yang harus diemban oleh
masing-masing individu untuk mewujudkan visi, misi, dan tujuan organisasi/kelompok.
Sebuah organisasi memang dibentuk sebagai wadah yang didalamnya berkumpul sejumlah
orang yang menjalankan serangkaian aktivitas tertentu secara teratur guna tercapainya tujuan
yang telah disepakati bersama. Terlebih dalam kehidupan masyarakat modern, manusia
merasa bahwa selain mengatur dirinya sendiri, ia juga perlu mengatur lingkungannya,
memelihara ketertiban, mengelola dan mengontrolnya lewat serangkaian aktifitas yang kita
kenal dengan manajemen dan organisasi. William (1956) menyebutnya dengan istilah The
Organisation Man.

1.2. Rumusan Masalah


1. Peran Komunikasi Dalam Organisasi?
2. Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi?
3. Bentuk-Bentuk Komunikasi?
4. Hambatan Komunikasi Yang Terjadi Dalam Organisasi?
5. Tahapan Dalam Komunikasi Yang Efektif?

BAB II
PEMBAHASAN
Komunikasi adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada
orang lain dengan menggunakan lambang-lambang yang bermakna bagi kedua pihak, dalam
situasi yang tertentu komunikasi menggunakan media tertentu untuk merubah sikap atau
tingkah laku seorang atau sejumlah orang sehingga ada efek tertentu yang diharapkan.
Sebagai orang nomor satu dalam organisasi, komunikasi selalu memainkan peran
yang paling menentukan terhadap kehidupan organisasi secara keseluruhan. Seringkali
organisasi mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan disebabkan oleh faktor komunikasi
yang tidak efektif. Perintah dari seorang pemimpin seringkali menjadi tidak jelas dan sulit
diimplementasikan karena komunikasi yang dijalankan tidak efektif.
Komunikasi yang sulit dipahami tentu bukan masalah baru. Sejak lama, orang
merumuskan bagaimana agar komunikasi sebagai sebuah hubungan timbal-balik, tidak hanya
memainkan peran sebagai pengiriman pesan kepada pihak lain, tetapi juga menjadi perekat
yang bersifat sosio-psikologis, terlebih dalam sebuah organisasi yang menghendaki
kerjasama yang sinergis.
Diantara semua masalah yang muncul, disiplin komunikasi menerjemahkan gejala
tersebut sebagai miscommunication (kekeliruan dalam komunikasi) sehingga proses
komunikasi tidak dapat berjalan sebagaimana yang diinginkan. Dengan kata lain, tidak efektif
atau terhambat.
2.1.

Peran Komunikasi Dalam Organisasi


Komunikasi dalam organisasi adalah komunikasi di suatu organisasi yang dilakukan
pimpinan, baik dengan para karyawan maupun dengan khalayak yang ada kaitannya dengan
organisasi, dalam rangka pembinaan kerja sama yang serasi untuk mencapai tujuan dan
sasaran organisasi (Effendy,1989: 214).
Manajemen sering mempunyai masalah tidak efektifnya komunikasi. Padahal
komunikasi yang efektif sangat penting bagi para manajer, paling tidak ada dua alasan,
pertama, komunikasi adalah proses melalui mana fungsi-fungsi manajemen mulai dari
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dapat dicapai; kedua,
komunikasi adalah kegiatan dimana para manejer mencurahkan sebagian besar proporsi
waktu mereka.
Proses Komunikasi memungkinkan manejer untuk melaksanakan tugas-tugas mereka.
Informasi harus dikomunikasikan kepada stafnya agar mereka mempunyai dasar
perencanaan, agar rencana-rencana itu dapat dilaksanakan. Pengorganisasian memerlukan
komunikasi dengan bawahan tentang penugasan mereka. Pengarahan mengharuskan manejer
untuk berkomunikasi dengan bawahannya agar tujuan kelompo dapat tercapai. Jadi seorang
manejer akan dapat melaksanakan fungsi-fungsi manajemen melalui interaksi dan
komunikasi dengan pihak lain. Sebahagian besar waktu seorang manejer dihabiskan untuk

kegiatan komunikasi, baik tatap muka atau melalui media seperti Telephone, Hand Phone
dengan bawahan, staf, langganan dsb. Manejer melakukakan komunikasi tertulis seperti
pembuatan memo, surat dan laporan-laporan.
Jadi, dalam hal ini yang dimaksud dengan Komunikasi organisasi adalah pengiriman
dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari
suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh
organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara
kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam
organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi.
Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya
bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.
Dalam proses komunikasi ada tiga unsur yang mutlak harus dipenuhi karena
merupakan suatu bentuk kesatuan yang utuh dan bulat. Bila salah satu unsur tidak ada, maka
komunikasi tidak akan pernah terjadi. Dengan demikian, setiap unsur dalam komunikasi itu
memiliki hubungan yang sangat erat dan saling ketergantungan satu dengan lainnya. Artinya,
keberhasilan komunikasi ditentukan oleh semua unsur tersebut Unsur - unsur komunikasi
yaitu :
1. Komunikator/pengirim/sender.
Merupakan orang yang menyampaikan isi pernyataannya kepada komunikan. Komunikator
bisa tunggal, kelompok, atau organisasi pengirim berita. Komunikator bertanggung jawab
dalam hal mengirim berita dengan jelas, memilih media yang ocok untuk menyampaikan
pesan tersebut, dan meminta kejelasan apakah pesan telah diterima dengan baik. Untuk itu,
seorang komunikator dalam menyampaikan pesan atau informasi harus memperhatikan
dengan siapa dia berkomunikasi, apa yang akan dia sampaikan, dan bagaimana cara
menyampaikannya.
2. Komunikan/penerima/receiver.
Merupakan penerima pesan atau berita yang disampaikan oleh komunikator. Dalam proses
komunikasi, penerima pesan bertanggung jawab untuk dapat mengerti isi pesan yang
disampaikan dengan baik dan benar. Penerima pesan juga memberikan umpan balik kepada
pengirim pesan untuk memastikan bahwa pesan telah diterima dan dimengerti secara
sempurna.
3. Saluran/media/channel.
Merupakan saluran atau jalan yang dilalui oleh isi pernyataan komunikator kepada
komunikan dan sebaliknya. Pesan dapat berupa kata-kata atau tulisan, tiruan, gambaran atau
perantara lain yang dapat digunakan untuk mengirim melalui berbagai channel yang berbeda
seperti telepon, televisi, fax, photo copy, email, sandi morse, semaphore, sms, dan
sebagainya. Pemilihan channel dalam proses komunikasi tergantung pada sifat berita yang
akan disampaikan (Wursanto, 1994).

2.2.

Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi


Dalam suatu organisasi baik yang berorientasi komersial maupun sosial, komunikasi
dalam organisasi atau lembaga tersebut akan melibatkan empat fungsi, yaitu:
a. Fungsi informatif
Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi (informationprocessing system). Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat
memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat
memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti
informasi pada dasarnya dibutuhkan oleh semua orang yang mempunyai perbedaan
kedudukan dalam suatu organisasi. Orang-orang dalam tataran manajemen membutuhkan
informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang
terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi tentang
jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti dan sebagainya.
b. Fungsi Regulatif
Fungsi regulatif ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu
organisasi. Pada semua lembaga atau organisasi, ada dua hal yang berpengaruh terhadap
fungsi regulatif ini, yaitu:

Atasan atau orang-orang yang berada dalam tataran manajemen yaitu mereka yang
memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Disamping
itu mereka juga mempunyai kewenangan untuk memberikan instruksi atau perintah, sehingga
dalam struktur organisasi kemungkinan mereka ditempatkan pada lapis atas (position of
authority) supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya. Namun
demikian, sikap bawahan untuk menjalankan perintah banyak bergantung pada:
a) Keabsahan pimpinan dalam penyampaikan perintah.
b) Kekuatan pimpinan dalam memberi sanksi.
c) Kepercayaan bawahan terhadap atasan sebagai seorang pemimpin sekaligus sebagai
pribadi.
d) Tingkat kredibilitas pesan yang diterima bawahan.

Berkaitan dengan pesan atau message. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi
pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan-peraturan tentang pekerjaan
yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.
c. Fungsi Persuasif
Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu
membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak
pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah.
Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan

kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan
kewenangannya.
d. Fungsi Integratif
Setiap organisasi berusaha menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat
dilaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi formal seperti
penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (newsletter, buletin) dan laporan kemajuan
oraganisasi; juga saluran komunikasi informal seperti perbincangan antarpribadi selama masa
istirahat kerja, pertandingan olahraga ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas
ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan
terhadap organisasi.

2.3.

Bentuk-Bentuk Komunikasi
Bentuk-bentuk komunikasi dapat dijabarkan sebagai berikut :
1) Komunikasi vertikal

Komunikasi vertikal adalah komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas atau
komunikasi dari pimpinan ke bawahan dan dari bawahan ke pimpinan secara timbal balik.
2) Komunikasi horisontal
Komunikasi horisontal adalah komunikasi secara mendatar, misalnya komunikasi antara
karyawan dengan karyawan dan komunikasi ini sering kali berlangsung tidak formal yang
berlainan dengan komunikasi vertikal yang terjadi secara formal.
3) Komunikasi diagonal
Komunikasi diagonal yang sering juga dinamakan komunikasi silang yaitu seseorang
dengan orang lain yang satu dengan yang lainnya berbeda dalam kedudukan dan bagian
(Effendy, 2000 : 17).
Pendapat lainnya menyebutkan, komunikasi dapat mengalir secara vertikal atau lateral
(menyisi). Dimensi vertikal dapat dibagi menjadi ke bawah dan ke atas.
a) Ke bawah :
Komunikasi yang mengalir dari satu tingkat dalam suatu kelompok atau organisasi
ke suatu tingkat yang lebih bawah. Kegunaan dari pada komunikasi ini memberikan
penetapan tujuan, memberikan instruksi pekerjaan, menginformasikan kebijakan
dan prosedur pada bawahan, menunjukkan masalah yang memerlukan perhatian dan
mengemukakan umpan balik terhadap kinerja.
b) Ke atas : komunikasi yang mengalir ke suatu tingkat yang lebih tinggi dalam
kelompok atau organisasi digunakan untuk memberikan umpan balik kepada atasan,

menginformasikan mereka mengenai kemajuan ke arah tujuan dan meneruskan


masalah-masalah yang ada.
Sedangkan dimensi lateral, komunikasi yang terjadi di antara kelompok kerja yang sama,
diantara anggota kelompok-kelompok kerja pada tingkat yang sama, diantara manajermanajer pada tingkat yang sama (Robbins, 2002 : 314-315).

2.4. Hambatan Komunikasi Dalam Organisasi


Pada sebuah proses komunikasi yang terjadi terkadang kita juga akan mengalami
banyak hambatan dalam berkomunikasi. Conor Hanaway dan Gabriel Hunt yang keduanya
adalah pakar dan konsultan manajemen pada beberapa organisasi profit besar di dunia
mencatat hambatan-hambatan komunikasi yang biasa terjadi dalam organisasi sebagai
berikut:
1. Bahasa
Jika Anda menginginkan komunikasi yang sukses, pengirim pesan harus mempersiapkan
pesan dalam bahasa penerima pesan. Laporan ilmiah yang sangat teknis tidak akan
mempengaruhi kaum profesional dari bidang lain untuk melakukan tindakan.
2. Kebisingan
Istilah kebisingan (noise) mengacu pada semua hal yang mengganggu atau
memperburuk komunikasi dalam organisasi. Misalnya, pesan Anda mengalami bentrok
dengan pesan lain yang sama-sama harus diperhatikan. Jika si penerima mendapatkan banyak
sekali memo setiap harinya, Anda harus memikirkan cara lain untuk mengirimkan pesan
Anda.
3. Terlalu bertele-tele
Hindari gaya militer yang berlapis-lapis. Gunakan sesedikit mungkin tahap dalam
komunikasi Anda. Pembuka adalah penting, namun hendaknya jangan sampai membuat Anda
menjadi lupa terhadap inti pesan yang ingin Anda sampaikan sehingga penerima mengalami
kesulitan dalam mengidentifikasi pesan.
4. Kesulitan mendengar
Ada banyak sekali kesulitan mendengar di pihak penerima. Tekanan kerja, masalah
pribadi, prioritas lain atau kelebihan komunikasi merupakan penyebab munculnya kesulitan
mendengarkan.
5. Ketidakpercayaan
Ada banyak alasan mengapa pihak penerima tidak percaya dan bersikap sinis terhadap
suatu komunikasi. Sebagian rasa tidak percaya tersebut bisa jadi disebabkan oleh pihak

10

pengirimmisalnya, jika Anda menandai semua surat Anda, penting, atau jika Anda tidak
begitu terbuka dalam komunikasi sebelumnya.
6. Emosi
Emosi mempengaruhi komunikasi dalam, setidaknya, dua cara. Pertama, situasi yang
sarat emosi dapat menyebabkan terjadinya banyak ebisingan yang menyebabkan
penyimpangan komunikasi. Kedua, cara paling efektif untuk membuat seseorang melakukan
tindakan adalah melalui emosi mereka.
7. Lingkaran umpan-balik
Tidak adanya lingkaran umpan-balik membuat pihak pengirim tidak yakin bahwa pesan telah
sepenuhnya dimengerti.
2.5. Tahapan Dalam Komunikasi Yang Efektif
Conor Hanaway dan Gabriel Hunt kembali mengidentifikasi beberapa tahapan praktis
komunikasi efektif berikut ini:
a. Sampaikan pesan dengan jelas
Pastikan apa yang ingin Anda komunikasikan tercermin dengan tepat dalam komunikasi.
Apakah Anda mengatakan dengan jelas tenang apa yang ingin Anda katakan, informasi yang
ingin Anda sampaikan, dan hasil seperti apa yang Anda harapkan?
b. Siapkan komunikasi
Tentukan metode komnikasi apa yang akan Anda gunakan. Apakah Anda perlu
menggunakan lebih dari satu metode? Misalnya, komunikasi langsung adalah yang terbaik
untuk mempengaruhi orang lain, tetapi komunikasi tertulis merupakan metode terbaik
menyangkut informasi yang terperinci.
c. Menyampaikan informasi
Kapan dan di mana Anda harus bertemu dengan orang tersebut untuk berdiskusi secara
langsung? Apakah komunikasi tertulis harus menggunakan surat, faksimili, e-mail. Ada
rutinitas dalam kebanyakan organisasi untuk mentransmisikan informasi. Anda harus
memikirkan metode yang paling tepat.
d. Penerimaan
Pikirkan bagaimana pesan akan diterima. Apakah saat itu setiap orang hadir dalam rapat?
Apakah pesan Anda akan sampai tepat waktu? Apakah mereka akan membaca memo yang
Anda tulis? Jika tidak, pesan yang Anda kirim tidak akan sampai.
e. Reaksi terhadap pesanTahap ini merupakan tahap yang paling penting.
Anda menginginkan agar penerima pesan mengambil tindakan sebab jika tidak,
komunikasi tidak ada gunanya. Hal ini bergantung pada dua faktor, yakni kemampuan dan
disposisi pihak penerima.

11

Banyak komunikasi organisasi dipersiapkan secara teknismisalnya, ramalan pemasaran,


analisis finansial, atau laporan-laporan teknis lainnyayang mungkin tidak dimengerti oleh
penerima. Disposisi penerima (seperti penolakan atau ketidakpedulian) dapat membuat pihak
penerima tidak mau mengambil tindakan positif sebagai akibat dari komunikasi tersebut.
Banyak memo yang dikirim dalam organisasi menjadi terabaikan.
f. Umpan-balik
Periksalah pihak penerima untuk memastikan bahwa komunikasi telah dimengerti dan
dilaksanakan. Setiap proses komunikasi yang tidak memiliki lingkaran umpan-balik tidak
begitu berarti karena pihak pengirim tidak tahu apakah pesan tersebut telah dimengerti dan
dilaksanakan dengan benar.

12

BAB III
PENUTUP

3.1.

KESIMPULAN

Komunikasi adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada
orang lain dengan menggunakan lambang-lambang yang bermakna bagi kedua pihak, dalam
situasi yang tertentu komunikasi menggunakan media tertentu untuk merubah sikap atau
tingkah laku seorang atau sejumlah orang sehingga ada efek tertentu yang diharapkan.
Komunikasi dalam organisasi adalah komunikasi di suatu organisasi yang dilakukan
pimpinan, baik dengan para karyawan maupun dengan khalayak yang ada kaitannya dengan
organisasi, dalam rangka pembinaan kerja sama yang serasi untuk mencapai tujuan dan
sasaran organisasi (Effendy,1989: 214).

13

Daftar Pustaka
Conor Hanaway dan Gabriel Hunt, The Management Quick Reference Book, terj. Yosep
Bambang Margono, (Bandung: Kaifa, 2004)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18705/1/har-jan2008-2%20(6).pdf (22 Maret
2013) http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_organisasi (16 Maret 2013)
http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi (16 Maret 2013)
Wardy, Fatma .PERANAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI. Usu.ac.id
Komunikasi Organisasi. Wikipedia.org
Organisasi .wikipedia.org