Anda di halaman 1dari 31

Pengembangan UKBM menuju Desa Siaga

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas tersusunnya Buku saku pengembangan
UKBM menuju Desa Siaga di Provinsi Gorontalo sebagai tindak lanjut SK Menkes No.
564/MENKES/SK/VIII/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Desa Siaga dan Peraturan
Daerah Nomor 4 tahun 2006 tentang Rencana Strategis Pemerintah Provinsi Gorontalo.
Buku Saku pengembangan UKBM menunju Desa Siaga di Provinsi Gorontalo berisi tentang
Strategi utama yang menjadi platform Depkes, Latar belakang, mengapa perlu UKBM,
Kapan bisa dibentuk UKBM, Dimana UKBM bisa dibentuk, Bagaimana Wujud UKBM,
UKBM apa saja yang selayaknya ada di desa siaga , kemudian disertai dengan pengertian
Desa Siaga itu sendiri, tujuan dan sasaran Desa Siaga serta pendekatan dan tahap
pengembangan Desa Siaga. Dalam buku ini dijelaskan 8 indikator serta strata Desa Siaga.
Dijelaskan pula Definisi Operasional Desa Siaga sebagai acuan pembentukkan Desa Siaga di
provinsi Gorontalo.
Buku ini merupakan penyempurnaan dari buku Kab/ kota yang telah ada sebelumnya, proses
penyempurnaan yang dilaksanakan meliputi penyesuaian dengan kebijakan baru, masukan
narasumber dan lintas program / lintas sektor baik Provinsi maupun kabupaten/kota.
Buku ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi kami sebagai fasilitator Desa Siaga yang
sudah dilatih oleh Dinas Kesehatan Provinsi, dan Insyah Allah dapat kami teruskan
informasinya melalui pelatihan Desa Siaga sampai di kecamatan, Desa/Kelurahan yang akan
melaksanakan kegiatan pengembangan dan pelayanan kesehatan dasar sehingga terwujudnya
masyarakat sehat yang siaga terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya.
Akhir kata, kami menyadari bahwa buku ini masih belum sempurna, untuk itu saran dan
masukan untuk penyempurnaan buku ini sangat diharapkan.
Gorontalo, 01 januari 2010
Gayatri Djaafar Soga,SKM, MPH

PENGEMBANGAN UKBM DI DESA SIAGA


STRATEGI UTAMA (4 Platform Depkes)
Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat.
Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas
Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan
Meningkatkan pembiayaan kesehatan
LATAR BELAKANG
Salah satu upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah melalui peningkatan

pemberdayaan masyarakat
Pemberdayaan masyarkat merupakan upaya fasilitasi, agar masyarakat tahu, mau dan
mampu untuk hidup sehat, berdasar potensi yang dimilikinya
Salah satu wujud pemberdayaan masyarakat adalah tumbuh dan berkembangnya Upaya
Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)
Mengapa perlu UKBM ?
Beberapa alasan antara lain:
Kesehatan merupakan hak dan kewajiban setiap insan, sekaligus investasi
Masyarakat sendirilah yang paling memahami masalah kesehatan yang dihadapi
Masyarakat memiliki potensi untuk mengatasinya
Perlu diperjuangkan oleh masyarakat bersama pemerintah
Perlu fasilitasi providers
Tujuan
Umum:
Meningkatnya jumlah dan mutu UKBM
Khusus:
Meningkatnya kemampuan pemimpin/Toma dalam merintis dan mengembangkan UKBM
Meningkatnya kemampuan masyarakat dan organisasi masyarakat dalam penyelenggaraan
UKBM
Meningkatnya kemampuan masyarakat dan organisasi masyarakat dalam menggali,
menghimpun dan mengelola pendanaan masyarakat utk menumbuhkembangkan UKBM
Sasaran
Individu/Toma berpengaruh
Keluarga dan perpuluhan keluarga
Kelompok masyarakat : generasi muda, kelompok wanita, angkatan kerja, dll
Organisasi masyarakat: organisasi profesi, LSM, dll
Masyarakat umum: desa, kota, dan pemukiman khusus

Kapan bisa dibentuk UKBM?


Bila masyarakat menghadapi masalah kesehatan yang dirasakan dan perlu pemecahannya
Potensi masyarakat tersedia
Ada tokoh masyarakat dan kader yang bersedia menjadi penggerak
Ada fasilitator yang berkesinambungan membina dan mengembangkan UKBM
Dimana UKBM bisa dibentuk?
Dimana saja, baik secara skala geografis seperti RT, RW, pedukuhan, desa, kecamatan dsb.
Di tempat kerja : Pos UKK, PHBS, dana sehat, dll
Di pasar : Dana Sehat, Posyandu, dll

Daerah sulit terakses pelayanan kesehatan : Poskesdes, POD/WOD, dll


Di lingkungan Pondok Pesantren: Poskestren, SBH, dll
Sumberdaya manusia
Pemimpin (formal dan non-formal), Tokoh masyarakat dll.
Kader Posyandu
Kader Poskesdes
Kader Posyandu lansia
Kader kesehatan lingkungan
Saka Bakti Husada
Santri husada
Dokter kecil
dll.
Pendanaan Masyarakat
Dana sehat
Tabungan ibu bersalin (Tabulin)
Tabungan masyarakat (Tabumas)
Jimpitan
Zakat, infak dan sodakoh (ZIS)
Kolekte
dll
Wujud UKBM
Pos pelayanan terpadu (Posyandu)
Pondok bersalin desa (Polindes)
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)
Kelompok Pemakai Air (Pokmair)
Pos Obat Desa (POD)/Warung Obat Desa (WOD)
Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK)
Pos kesehatan pesantren (Poskestren)
SBH (Saka BhaktiHusada)
Posyandu Usila
Bina Keluarga Balita (BKB)
Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak (KP-KIA)
Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD)
Dll
Pengembangan UKBM di Desa Siaga
Setiap desa: memiliki potensi untuk mengembangkan UKBM di Desa Siaga
Setiap desa, umumnya memiliki UKBM
UKBM yang mandiri, entry point pengembangan Desa Siaga
UKBM Mandiri (contoh: Posyandu):
- Jumlah kader = minimal 5 orang
- Frekwensi buka Posyandu = > 8 kali
- Cakupan program = > 50%
- D/S = >50%

- Memiliki program tambahan


- Memiliki dana sehat
UKBM apa saja yang selayaknya ada di desa siaga?
1. UKBM dalam pemeliharaan kesehatan:
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)
Pos UKK
Pos Kesehatan Pesantren
Dana Desat
Tabulin, jambulin, Dasolin
Ambulan Desa, suami siaga
Kelompok donor darah
Kader
Dokter Kecil
2. UKBM di bidang kesehatan ibu & anak:
Polindes
BKB (Bina Kesehatan Balita)
KP-KIA (Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak
PAUD (Pembinaan AnakUsia Dini)
GSI
3. UKBM di Bidang pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan:
Pokmair (Kelompok Pemakai Air)
DPKL (Desa Percontohan Kesehatan Lingkungan)
Jumantik
Kader Kesling
Kelompok siaga bencana
Kelompok pengelola sampah dan limbah
Kelompok pengamat (surveilan) dan pelaporan dll
4. UKBM di Bidang Gizi dan farmasi:
Posyandu
Posyandu Usila
Warung sekolah
POD/WOD
Taman Obat Keluarga (TOGA)
Kader: Posyandu, Usila, POD
Pengertian Desa Siaga
Desa siaga adalah desa /kelurahan yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan
kemampuan serta kemauan untuk mencegah & mengatasi masalah -masalah kesehatan,
bencana dan kegawat-daruratan kesehatan secara mandiri. (Kepmenkes RI
564/MENKES/SK/VII/2006)
Tujuan Desa Siaga
Umum:
Terwujudnya Desa Sehat dgn masyarakat yang sehat, peduli & tanggap thd permasalahan
kesehatan di desanya
Khusus

1. Meningkatnya pengetahuan & kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan.


2. Meningkatnya kegiatan masyarakat desa dalam mengantisifasi dan melaksanakan tindakan
penyelamatan ibu hamil, melahirkan, nifas, bayi dan anak menunju penurunan angka
kematian bayi dan angka kematian ibu.
3. Meningkatnya kegiatan masyarakat desa dalam pengamatan (surveilance) penyakit/factorfaktor resiko dan kesiap-siagaan serta penanggulangan bencana,kejadian luar biasa, wabah,
kegawat-daruratan. dsb.
4. Meningkatnya keluarga yang sadar gizi (Kadarzi) serta melaksanakan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS).
5. Meningkatnya kesehatan lingkungan di desa.
6. Meningkatnya kemauan dan kemampuan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri
dibidang kesehatan dengan melaksanakan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan bagi
masyarakat sejak usia bayi sampai lanjut usia,akses terhadap pelayanan
kesehatan,mengembangkan berbagai upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM)
dan sistem pembiayaan berbasis masyarakat.
Strategi Pengembangan Desa Siaga
1. Gerakan Pemberdayaan Masyarakat adalah proses membantu sasaran agar berubah
menjadi tahu / sadar, mau dan mampu melaksanakan PHBS. Dilakukan dengan pemberian
informasi maupun pengembangan / perorganisasian masyarakat (community Organization)
2. Bina suasana adalah upaya menciptakan opini atau lingkungan sosial yang mendorong
individu anggota masyarakat melakukan PHBS. Bisa dilakukan melalui pendekatan individu,
kelompok maupun massa.
3. Advokasi adalah upaya mendapatkan komitmen dan dukungan dari pada pemangku
kepentingan. Dukungan dapat berupa kebijakan, dana, sarana,dsb.
Sasaran Desa Siaga
1. Semua individu , keluarag di desa supaya mampu melaksanakan PHBS, serta peduli dan
tanggap terhadap masalah kesehatan di desa .
2. Para pejabat dan tenaga kesehatan fungsional maupun administratif.
3. Tokoh masyarakat (keagamaan,kebudayaan,LSM,perempuan,pemuda), kader kesehatan
yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga di desa.
4. Sektor terkait (para pejabat eksekutif dan legislatif di pemda kab/kota,camat, kepala
desa,dll)
Pendekatan dan Tahap pengembangan desa siaga
Pengembangan Desa Siaga adalah proses membangkitkan peran serta masyarakat melalui
penggerakan dan pemberdayaan masyarakat. Proses yang dilaksanakan pada dasarnya adalah
memfasilitasi masyarakat menjalani proses pembelajaran melalui siklus / spiral pemecahan
masalah yang terorganisasi(perorganisasian masyarakat), dengan tahapan sbb :
1. Identifikasai masalah, penyebab masalah, sumber daya untuk mengatasi masalah.
2. Diagnosis masalah, merumuskan alternative pemecahan masalah.
3. Menetapkan alternative pemecahan masalah yang layak,merencanakan kegiatan dan
melaksanaknnya.
4. Memantau dan mengevaluasi kegiatan, analisa hambatan dan mengatasi hambatan serta
membina kelestarian upaya-upaya positif yang telah dilakukan.
Langkah-Langkah Pokok di Tingkat Kecamatan dan Desa :
1. Pengembangan tim petugas kesehatan / puskesmas, bertujuan mempersiapkan para petugas
agar memahami tugas dan fungsinya dalam pengembangan desa siaga serta siap bekerjasama

dalam satu tim untuk melakukan pendekatan kepada pemangku kepentingan masyarakat.
2. Pertemuan Tingkat kecamatan, dihadiri petugas lintas sektor di kecamatan, tokoh
masyarakat dan para kepala desa sekecamatan. Bertujuan mengenalkan konsep desa siaga,
penyadaran pentingnya komitmen dan upaya bersama dalam penggerakan dan pemberdayaan
masyarakat dengan memfasilitasi masyarakat menjalani proses pembelajaran melalui siklus /
spiral pemecahan.
3. Pertemuan Tingkat Desa, bertujuan mengenalkan konsep desa siaga, penyadaran
pentingnya wadah koordinasi Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) serta
dukungan para pemuka masyarakat/para kader dalam menggerakkan dan pemberdayaan
masyarakat dengan memfasilitasi masyarakat menjalani proses pembelajaran melalui siklus /
spiral pemecahan masalah yang terorganisasi.Diharapkan para pemuka masyarakat siap
menjadi Tim Pengembangan Masyarakat.
4. Survei Mawas Diri/ Identifikasi Masalah dan Potensi, bertujuan agar para pemuka
masyarakat /kader mampu melakukan telaah mawas diri sehingga dapat diidentifikasi
masalah-masalah kesehatan serta daftar potensi desa yang dapat digunakan dalam mengatasi
masalah-masalah tsb.
5. Musyawarah Masyarakat Desa, adalah pertemuan warga masyarakat untuk membahas hasil
survei mawas diri, merumuskan masalah, menetapkan prioritas masalah ,merumuskan
alternatif pemecahan masalah yang layak, dukungan dan kontribusi masing-masing pihak
serta merencanakan kegiatan dan jadwal pelaksanaannya.
6. Pelaksanaan Kegiatan:
Pemilihan pengurus dan kader desa siaga
Orientasi / pelatihan kader desa siaga
Pengembangan Poskesdes dan UKBM lain
Penyelenggaraan kegiatan desa siaga sesuai perencanaan yang dibuat,diharapkan secara
bertahap memenuhi 8 indikator desa siaga.
7. Pembinaan dan peningkatan melalui mekanisme review dalam Forum Kesehatan
Masyarakat Desa minimal 2 bulanan.
Indikator Desa Siaga :
1. Adanya Forum Masyarakat Desa
2. Adanya sarana / fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan system rujukannya.
3. Adanya UKBM (Posyandu,UKBM siaga Maternal dan UKBM lain yang dikembangkan
sesuai kebutuhan )
4. Adanya sistem pengamatan penyakit dan faktor risiko berbasis masyarakat (survei berbasis
masyarakat)
5. Adanya sistem kesiap-siagaan penanggulangan kegawat daruratan dan bencana berbasis
masyarakat.
6. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya lingkungan sehat.
7. Adanya upaya menciptakan dan tewujudunya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
8. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya keluarga sadar gizi (kadargizi)
Keterangan :
Strata Pratama : Bila memenuhi 4 indikator minimal (Indikator 1 sampai dengan 4 )
Strata Madya : Bila memenuhi 4 Indikator minimal 2 Indikator tambahan (*)
Strata Utama : Bila memenuhi 8 Indikator (1 sampai 8)
Definisi Operasianal Indikator desa siaga
1. Adanya Forum Masyarakat Desa di setiap desa siaga

Forum Masyarakat Desa adalah wadah berkumpulnya masyarakat desa untuk


mengkomunikasikan permasalahan yang ada di desa dan mengupayakan pemecahannya
sesuai dengan potensi yang ada di desa tersebut. Keberadaan forum kesahatan masyarakat
desa sangat diperlukan, karena yang dapat memecahkan masalah yang ada di desa adalah
masyarakat desa itu sendiri.
Suatu desa dikatakan mempunyai Forum Masyarakat Desa, bila minimal :
a. Ada fasilitator masyarakat desa
Fasilitator masyarakat desa adalah tokoh masyarakat atau tokoh agama yang telah dilatih
tentang perggerakkan dan pemberdayaan masyarakat di desa siaga.
b. Ada susunan kepengurusan Desa Siaga dan jejaring promosi kesehatan desa yang berfungsi
sebagai pendorong bergulirnya siklus/spiral pemecahan masalah-masalah kesehatan di desa
dan menyebarluaskan informasi kesehatan. Susunan kepengurusan Desa Siaga dihasilkan dari
pertemuan tingkat desa. Kepengurusan inilah yang menjadi motor penggerak kegiatankegiatan forum masyarakat desa dan kegiatan-kegiatan desa siaga lainnya. Anggota jejaring
promosi kesehatan desa adalah tokoh-tokoh masyarakat yang diharapkan menjadi agen
pembaharuan dan merupakan perpanjangan tangan forum masyarakat desa dalam
menyebarluaskan informasi kesehatan kepada masyarakat dan lingkungannya. Forum
kesehatan masyarakat desa, dapat merupakan bagian dari kegiatan LKMD.
c. Ada kegiatan penyebarluasan informasi kesehatan dalam berbagai cara dan bentuk.
d. Ada kegiatan/gerakan masyarakat sebagai pelaksanaan siklus/spiral pemecahan masalahmasalah kesehatan di desa secara berkesinambungan.
2. Adanya sarana/fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan sistem rujukannya
Suatu desa dikatakan mempunyai sarana/fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan sistem
rujukannya, bila minimal :
a. Ada sarana/fasilitas pelayanan kesehatan dasar milik pemerintah ataupun swasta, upaya
kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM), wahana pelayanan kesehatan dasar minimal
1 buah dengan minimal 1 orang tenaga kesehatan (Bidan/Perawat) yang berkompoten
dibidannya, misalnya puskesmas, pustu, wahana kesehatan dasar seperti polindes, poskesdes,
poskestren, balai pengobatan swasta, Rumah bersalin swasta, klinik bidan praktek, dokter
praktek, dokter keluarga dll.
b. Kompetensi minimal yang harus dimiliki petugas adalah yang sesuai dengan
kewenangannya dalam Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), Pertolongan Pertama
Gawat Darurat Obstetri Neonatal (PPGD-ON) dan penanganan bencana.
c. kesehatan dasar.
3. Adanya UKBM (posyandu, UKBM Maternal dan UKBM lain)
Suatu desa dikatakan mempunyai UKBM, bila minimal :
a. Ada UKBM posyandu, yaitu Posyandu madya, minimal 1 posyandu per RW atau per 100
balita.
b. Ada UKBM Siaga Maternal, yaitu : Tabulin/Dasolin,Donor Darah Desa, Angkutan Ibu
Bersalin (Ambulans Desa), notifikasi dan pemetaan Ibu Hamil/ Bersalin.
Selanjutnya dalam tahap berikutnya dapat dikembangkan :
a. UKBM lain sesuai dengan kebutuhan, misalnya Warung Obat Desa, Upaya Kesehatan Gigi
Masyarakat Desa (UKGMD), Saka Bakti Husada (SBH), Taman Obat Keluarga (Toga), dll.
b. Poskesdes apabila dibutuhkan yaitu bila ada sarana pelayanan kesehatan dasar di desa,
sekaligus dapat sebagai UKBM yang berfungsi sebagai wadah/pusat
pengembangan/revitalisasi UKBM-UKBM yang ada di desa.
c. Dana persalinan seperti tabulin/dasolin, dll dapat dikembangkan menjadi Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan (JPK)
4. Adanya sistem pengamatan penyakit dan faktor resiko berbasis masyarakat (Suveilans
Berbasis Masyarakat), bila minimal :

a. Ada kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan di tingkat masyarakat, dilaporkan secara
lengkap, tepat waktu (dengan periode 24 jam atau rutin/bulanan). Kegiatan ini dilakukan oleh
Dasa Wisma/Kader Posyandu/Toma/Toga/LSM/Karang Taruna/RT/RW terlatih, dengan
kurir/teknologi komunikasi yang dil;aporkan secara tertulis dalam bentuk format survailans.
b. Adanya data pemantauan wilayah setempat dan kantong-kantong resiko, yang disajikan
dalam bentuk pemetaan. Kegiatan ini dilakukan oleh kader terlatih yang merupakan bagian
dari sistem waspada.
c. Alur Pelaporan : Kasus/kejadian dilaporkan oleh tenaga survailans berbasis masyarakat
terlatih kepada aparat desa dan pemberi pelayanan kesehatan dasar yang ada di desa,
misalnya polindes, poskesdes, pustu, poskestren, dll.
Hal-hal di atas dikemas dalam Sistem Waspada yang mencakup :
a. Tanda-tanda bahaya kesehatan, faktor resiko lingkungan & perilaku yang berbahaya bagi
kesehatan atau berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan bencana serta kegawatdaruratan, dilakukan dengan cara kampanye dan promosi, melalui :
Forum Masyarakat Desa (FMD)
Jejaring Promosi Kesehatan di desa
Penggunaan Kentongan, sirene, dll
b. Sistem notifikasi Ibu Hamil dan keluarga rentan/resiko serta lingkungan dan perilaku
beresiko dilaksanakan formulir waspada.
c. Paparkan dan pampangkan cara pelaporannya, dibuat Stiker Waspada untuk setiap kepala
keluarga dan pampangkan di peta Waspada.
d. Dasa Wisma menjadi motor penggerak dan pelaksannya
Formulir Waspada :
Dasa Wisma RT/RW :
Sasaran Beresiko Lingkingan beresiko Perilaku Beresiko Ket
No. Nama Klien Nama KK Jenis Kasus Jenis Resiko Jenis Resiko

Stiker Waspada
Peta Waspada
5. Adanya sistem kesiap-siagaan penanggulangan kegawat-daruratan dan bencana berbasis
masyarakat
Suatu desa dikatakan mempunyai sistem kesiap-siagaan penanggulangan kegawat-daruratan
dan bencana berbasis masyarakat, bila minimal :
Adanya gladi atau simulasi bencana :
- Minimal 1 kali setahun di daerah tidak rawan
- Minimal 2 kali setahun di daerah rawan bencana

6. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya lingkungan sehat.


Suatu desa dikatakan mempunyai upaya menciptakan dan mewujudkan lingkungan sehat, bila
minimal ada gerakan masyarakat untuk memelihara/meningkatkan kualitas lingkungan yang
dilaksanakan secara rutin, minimal 1 kali seminggu di setiap RT.
Contoh :
- K3 (Kebersihan, Keindahan dan Ketertiban)
- Jumsih (Jumat Bersih dan PSN)
- Kegiatan Kelompok Raksa Desa misalnya kegiatan Kelompok Pemakai Air (Pokmair),dsb.
7. Adanya Upaya menciptakan dan terwujudnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Suatu desa dikatakan mempunyai upaya menciptakan dan mewujudkan PHBS, bila minimal :
a. Ada pendataan dan visualisasi data PHBS Rumah Tangga yang diperbaharui minimal 1 kali
setahun.
b. Ada kegiatan promosi PHBS minimal 1 kali sebulan
c. Ada kegiatan tindak lanjut/intervensi dari hasil pendataan dan promosi PHBS.
d. Ada kegiatan pemantauan pasca-intervensi.
8. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
Suatu desa dikatakan mempunyai upaya menciptakan dan mewujudkan kadarzi, bila
minimal :
a. Ada pendataan dan visualisasi data Kadarzi setiap rumah tangga yang diperbaharui
minimal 1 kali setahun.
b. Ada kegiatan promosi Kadarzi minimal 1 kali sebulan
c. Ada kegiatan tindak lanjut/intervensi dari hasil pendataan dan promosi Kadarzi.
d. Ada kegiatan pemantauan pasca- intervensi
TIPS PHBS :
1. Pemeriksaan kehamilan dan persalinan ke tenaga kesehatan
- Pemeriksaan kehamilan ke tenaga kesehatan minimal 4 x selama kehamilan (1 x tri bulan i,
1x tribulan ii, dan 2x pada tribulan iii)
- Melahirkan ke tenaga kesehatan (bidan/dokter)
2. Memberikan asi ekslusif
- Bayi usia 0-6 bulan hanya diberi asi saja tanpa tambahan makanan dan minuman lain
3. Menimbang bayi dan balita serta imunisasi lengkap
- Menimbang bayi dan balita (0 -5 tahun) setiap bulan di posyandu
- Memberikan imunisasi lengkap (BCG,Hepatitis,DPT, Polio, Campak)
4. Menggunakan air bersih dan cuci tangan dengan sabun
Syarat air bersih : tidak berasa, tidak berwarna, tidak berbau , jernih, bebas kuman, bebas
bahan kimia yg berbahaya
Cuci tangan dengan sabun :
- setiap tangan kotor
- sebelum dan sesudah makan
- sesudah bab
- sebelum menyusui bayi
5. Menggunakan jamban sehat

6. PSN dengan 3 M (menguras, menutup, mengubur) rutin setiap minggu


Melaksanakan PJB, yaitu pemeriksaan jentik berkala
Menguras, Menutup dan Mengubur (3 M)
Plus : menggunakan kelambu, obat nyamuk, pakaian tidak bergelantungan, pencahayaan
rumah cukup,memelihara ikan, abatisasi pada daerah sulit air dan sulit dikuras.
7. Makan sayur dan buah setiap hari
Contoh fungsi vitamin dalam sayur dan buah :
- vit a : kesehatan mata
- vit d : kesehatan tulang
- vit e : kesuburan dan awet muda
- vit k : pembekuan darah
- vit c : daya tahan tubuh
- vit b : mencegah beri-beri
- vit b12 : meningkatkan nafsu makan , dll
8. Melakukan aktivitas fisik setiap hari minimal 30 menit tiap hari dengan manfaat :
- Terhindar penyakit jantung, stroke, darah tinggi, kencing manis,
- Bentuk tubuh bagus
- Otot dan tulang kuat
- Lebih bertenaga dan bugar
- Kesehatan menjadi lebih baik
9. Tidak merokok dalam rumah / ruangan.
Bahaya perokok aktif dan pasif
- kerontokan rambut
- gangguan mata
- gangguan pendengaran
- penyakit paru-paru, stroke, jantung
- kanker
- tulang mudah patah
- kerusakan gigi dan bau mulut tidak sedap
- kemandulan dan impotensi
10. Menjadi kader dalam membudayakan Pola Hidup Bersih dan Sehat
Individu dapat berperan sebagai kader di :
- Keluarga
- Dasa Wisma
- Masyarakat
POTRET KEGIATAN MENUNJU DESA SIAGA
KABUPATEN BONE BOLANGO
PERTEMUAN DENGAN MASYARAKAT
( DISKUSI KELOMPOK TERARAH)

Pemeriksaan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas tersusunnya Buku saku pengembangan
UKBM menuju Desa Siaga di Provinsi Gorontalo sebagai tindak lanjut SK Menkes No.
564/MENKES/SK/VIII/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Desa Siaga dan Peraturan
Daerah Nomor 4 tahun 2006 tentang Rencana Strategis Pemerintah Provinsi Gorontalo.
Buku Saku pengembangan UKBM menunju Desa Siaga di Provinsi Gorontalo berisi tentang
Strategi utama yang menjadi platform Depkes, Latar belakang, mengapa perlu UKBM,
Kapan bisa dibentuk UKBM, Dimana UKBM bisa dibentuk, Bagaimana Wujud UKBM,
UKBM apa saja yang selayaknya ada di desa siaga , kemudian disertai dengan pengertian
Desa Siaga itu sendiri, tujuan dan sasaran Desa Siaga serta pendekatan dan tahap
pengembangan Desa Siaga. Dalam buku ini dijelaskan 8 indikator serta strata Desa Siaga.
Dijelaskan pula Definisi Operasional Desa Siaga sebagai acuan pembentukkan Desa Siaga di
provinsi Gorontalo.
Buku ini merupakan penyempurnaan dari buku Kab/ kota yang telah ada sebelumnya, proses
penyempurnaan yang dilaksanakan meliputi penyesuaian dengan kebijakan baru, masukan
narasumber dan lintas program / lintas sektor baik Provinsi maupun kabupaten/kota.
Buku ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi kami sebagai fasilitator Desa Siaga yang
sudah dilatih oleh Dinas Kesehatan Provinsi, dan Insyah Allah dapat kami teruskan
informasinya melalui pelatihan Desa Siaga sampai di kecamatan, Desa/Kelurahan yang akan
melaksanakan kegiatan pengembangan dan pelayanan kesehatan dasar sehingga terwujudnya
masyarakat sehat yang siaga terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya.
Akhir kata, kami menyadari bahwa buku ini masih belum sempurna, untuk itu saran dan
masukan untuk penyempurnaan buku ini sangat diharapkan.
Gorontalo, 01 januari 2010
Gayatri Djaafar Soga,SKM, MPH

PENGEMBANGAN UKBM DI DESA SIAGA


STRATEGI UTAMA (4 Platform Depkes)
Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat.
Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas
Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan
Meningkatkan pembiayaan kesehatan
LATAR BELAKANG
Salah satu upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah melalui peningkatan
pemberdayaan masyarakat
Pemberdayaan masyarkat merupakan upaya fasilitasi, agar masyarakat tahu, mau dan
mampu untuk hidup sehat, berdasar potensi yang dimilikinya
Salah satu wujud pemberdayaan masyarakat adalah tumbuh dan berkembangnya Upaya
Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)
Mengapa perlu UKBM ?
Beberapa alasan antara lain:
Kesehatan merupakan hak dan kewajiban setiap insan, sekaligus investasi
Masyarakat sendirilah yang paling memahami masalah kesehatan yang dihadapi
Masyarakat memiliki potensi untuk mengatasinya
Perlu diperjuangkan oleh masyarakat bersama pemerintah
Perlu fasilitasi providers
Tujuan
Umum:
Meningkatnya jumlah dan mutu UKBM
Khusus:
Meningkatnya kemampuan pemimpin/Toma dalam merintis dan mengembangkan UKBM
Meningkatnya kemampuan masyarakat dan organisasi masyarakat dalam penyelenggaraan
UKBM
Meningkatnya kemampuan masyarakat dan organisasi masyarakat dalam menggali,
menghimpun dan mengelola pendanaan masyarakat utk menumbuhkembangkan UKBM
Sasaran
Individu/Toma berpengaruh
Keluarga dan perpuluhan keluarga
Kelompok masyarakat : generasi muda, kelompok wanita, angkatan kerja, dll
Organisasi masyarakat: organisasi profesi, LSM, dll
Masyarakat umum: desa, kota, dan pemukiman khusus

Kapan bisa dibentuk UKBM?


Bila masyarakat menghadapi masalah kesehatan yang dirasakan dan perlu pemecahannya
Potensi masyarakat tersedia
Ada tokoh masyarakat dan kader yang bersedia menjadi penggerak
Ada fasilitator yang berkesinambungan membina dan mengembangkan UKBM
Dimana UKBM bisa dibentuk?
Dimana saja, baik secara skala geografis seperti RT, RW, pedukuhan, desa, kecamatan dsb.
Di tempat kerja : Pos UKK, PHBS, dana sehat, dll
Di pasar : Dana Sehat, Posyandu, dll
Daerah sulit terakses pelayanan kesehatan : Poskesdes, POD/WOD, dll
Di lingkungan Pondok Pesantren: Poskestren, SBH, dll
Sumberdaya manusia
Pemimpin (formal dan non-formal), Tokoh masyarakat dll.
Kader Posyandu
Kader Poskesdes
Kader Posyandu lansia
Kader kesehatan lingkungan
Saka Bakti Husada
Santri husada
Dokter kecil
dll.
Pendanaan Masyarakat
Dana sehat
Tabungan ibu bersalin (Tabulin)
Tabungan masyarakat (Tabumas)
Jimpitan
Zakat, infak dan sodakoh (ZIS)
Kolekte
dll
Wujud UKBM
Pos pelayanan terpadu (Posyandu)
Pondok bersalin desa (Polindes)
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)
Kelompok Pemakai Air (Pokmair)
Pos Obat Desa (POD)/Warung Obat Desa (WOD)
Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK)
Pos kesehatan pesantren (Poskestren)
SBH (Saka BhaktiHusada)

Posyandu Usila
Bina Keluarga Balita (BKB)
Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak (KP-KIA)
Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD)
Dll
Pengembangan UKBM di Desa Siaga
Setiap desa: memiliki potensi untuk mengembangkan UKBM di Desa Siaga
Setiap desa, umumnya memiliki UKBM
UKBM yang mandiri, entry point pengembangan Desa Siaga
UKBM Mandiri (contoh: Posyandu):
- Jumlah kader = minimal 5 orang
- Frekwensi buka Posyandu = > 8 kali
- Cakupan program = > 50%
- D/S = >50%
- Memiliki program tambahan
- Memiliki dana sehat
UKBM apa saja yang selayaknya ada di desa siaga?
1. UKBM dalam pemeliharaan kesehatan:
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)
Pos UKK
Pos Kesehatan Pesantren
Dana Desat
Tabulin, jambulin, Dasolin
Ambulan Desa, suami siaga
Kelompok donor darah
Kader
Dokter Kecil
2. UKBM di bidang kesehatan ibu & anak:
Polindes
BKB (Bina Kesehatan Balita)
KP-KIA (Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak
PAUD (Pembinaan AnakUsia Dini)
GSI
3. UKBM di Bidang pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan:
Pokmair (Kelompok Pemakai Air)
DPKL (Desa Percontohan Kesehatan Lingkungan)
Jumantik
Kader Kesling
Kelompok siaga bencana
Kelompok pengelola sampah dan limbah
Kelompok pengamat (surveilan) dan pelaporan dll
4. UKBM di Bidang Gizi dan farmasi:
Posyandu
Posyandu Usila

Warung sekolah
POD/WOD
Taman Obat Keluarga (TOGA)
Kader: Posyandu, Usila, POD
Pengertian Desa Siaga
Desa siaga adalah desa /kelurahan yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan
kemampuan serta kemauan untuk mencegah & mengatasi masalah -masalah kesehatan,
bencana dan kegawat-daruratan kesehatan secara mandiri. (Kepmenkes RI
564/MENKES/SK/VII/2006)
Tujuan Desa Siaga
Umum:
Terwujudnya Desa Sehat dgn masyarakat yang sehat, peduli & tanggap thd permasalahan
kesehatan di desanya
Khusus
1. Meningkatnya pengetahuan & kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan.
2. Meningkatnya kegiatan masyarakat desa dalam mengantisifasi dan melaksanakan tindakan
penyelamatan ibu hamil, melahirkan, nifas, bayi dan anak menunju penurunan angka
kematian bayi dan angka kematian ibu.
3. Meningkatnya kegiatan masyarakat desa dalam pengamatan (surveilance) penyakit/factorfaktor resiko dan kesiap-siagaan serta penanggulangan bencana,kejadian luar biasa, wabah,
kegawat-daruratan. dsb.
4. Meningkatnya keluarga yang sadar gizi (Kadarzi) serta melaksanakan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS).
5. Meningkatnya kesehatan lingkungan di desa.
6. Meningkatnya kemauan dan kemampuan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri
dibidang kesehatan dengan melaksanakan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan bagi
masyarakat sejak usia bayi sampai lanjut usia,akses terhadap pelayanan
kesehatan,mengembangkan berbagai upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM)
dan sistem pembiayaan berbasis masyarakat.
Strategi Pengembangan Desa Siaga
1. Gerakan Pemberdayaan Masyarakat adalah proses membantu sasaran agar berubah
menjadi tahu / sadar, mau dan mampu melaksanakan PHBS. Dilakukan dengan pemberian
informasi maupun pengembangan / perorganisasian masyarakat (community Organization)
2. Bina suasana adalah upaya menciptakan opini atau lingkungan sosial yang mendorong
individu anggota masyarakat melakukan PHBS. Bisa dilakukan melalui pendekatan individu,
kelompok maupun massa.
3. Advokasi adalah upaya mendapatkan komitmen dan dukungan dari pada pemangku
kepentingan. Dukungan dapat berupa kebijakan, dana, sarana,dsb.
Sasaran Desa Siaga
1. Semua individu , keluarag di desa supaya mampu melaksanakan PHBS, serta peduli dan
tanggap terhadap masalah kesehatan di desa .
2. Para pejabat dan tenaga kesehatan fungsional maupun administratif.
3. Tokoh masyarakat (keagamaan,kebudayaan,LSM,perempuan,pemuda), kader kesehatan
yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga di desa.
4. Sektor terkait (para pejabat eksekutif dan legislatif di pemda kab/kota,camat, kepala

desa,dll)
Pendekatan dan Tahap pengembangan desa siaga
Pengembangan Desa Siaga adalah proses membangkitkan peran serta masyarakat melalui
penggerakan dan pemberdayaan masyarakat. Proses yang dilaksanakan pada dasarnya adalah
memfasilitasi masyarakat menjalani proses pembelajaran melalui siklus / spiral pemecahan
masalah yang terorganisasi(perorganisasian masyarakat), dengan tahapan sbb :
1. Identifikasai masalah, penyebab masalah, sumber daya untuk mengatasi masalah.
2. Diagnosis masalah, merumuskan alternative pemecahan masalah.
3. Menetapkan alternative pemecahan masalah yang layak,merencanakan kegiatan dan
melaksanaknnya.
4. Memantau dan mengevaluasi kegiatan, analisa hambatan dan mengatasi hambatan serta
membina kelestarian upaya-upaya positif yang telah dilakukan.
Langkah-Langkah Pokok di Tingkat Kecamatan dan Desa :
1. Pengembangan tim petugas kesehatan / puskesmas, bertujuan mempersiapkan para petugas
agar memahami tugas dan fungsinya dalam pengembangan desa siaga serta siap bekerjasama
dalam satu tim untuk melakukan pendekatan kepada pemangku kepentingan masyarakat.
2. Pertemuan Tingkat kecamatan, dihadiri petugas lintas sektor di kecamatan, tokoh
masyarakat dan para kepala desa sekecamatan. Bertujuan mengenalkan konsep desa siaga,
penyadaran pentingnya komitmen dan upaya bersama dalam penggerakan dan pemberdayaan
masyarakat dengan memfasilitasi masyarakat menjalani proses pembelajaran melalui siklus /
spiral pemecahan.
3. Pertemuan Tingkat Desa, bertujuan mengenalkan konsep desa siaga, penyadaran
pentingnya wadah koordinasi Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) serta
dukungan para pemuka masyarakat/para kader dalam menggerakkan dan pemberdayaan
masyarakat dengan memfasilitasi masyarakat menjalani proses pembelajaran melalui siklus /
spiral pemecahan masalah yang terorganisasi.Diharapkan para pemuka masyarakat siap
menjadi Tim Pengembangan Masyarakat.
4. Survei Mawas Diri/ Identifikasi Masalah dan Potensi, bertujuan agar para pemuka
masyarakat /kader mampu melakukan telaah mawas diri sehingga dapat diidentifikasi
masalah-masalah kesehatan serta daftar potensi desa yang dapat digunakan dalam mengatasi
masalah-masalah tsb.
5. Musyawarah Masyarakat Desa, adalah pertemuan warga masyarakat untuk membahas hasil
survei mawas diri, merumuskan masalah, menetapkan prioritas masalah ,merumuskan
alternatif pemecahan masalah yang layak, dukungan dan kontribusi masing-masing pihak
serta merencanakan kegiatan dan jadwal pelaksanaannya.
6. Pelaksanaan Kegiatan:
Pemilihan pengurus dan kader desa siaga
Orientasi / pelatihan kader desa siaga
Pengembangan Poskesdes dan UKBM lain
Penyelenggaraan kegiatan desa siaga sesuai perencanaan yang dibuat,diharapkan secara
bertahap memenuhi 8 indikator desa siaga.
7. Pembinaan dan peningkatan melalui mekanisme review dalam Forum Kesehatan
Masyarakat Desa minimal 2 bulanan.
Indikator Desa Siaga :
1. Adanya Forum Masyarakat Desa
2. Adanya sarana / fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan system rujukannya.
3. Adanya UKBM (Posyandu,UKBM siaga Maternal dan UKBM lain yang dikembangkan
sesuai kebutuhan )

4. Adanya sistem pengamatan penyakit dan faktor risiko berbasis masyarakat (survei berbasis
masyarakat)
5. Adanya sistem kesiap-siagaan penanggulangan kegawat daruratan dan bencana berbasis
masyarakat.
6. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya lingkungan sehat.
7. Adanya upaya menciptakan dan tewujudunya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
8. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya keluarga sadar gizi (kadargizi)
Keterangan :
Strata Pratama : Bila memenuhi 4 indikator minimal (Indikator 1 sampai dengan 4 )
Strata Madya : Bila memenuhi 4 Indikator minimal 2 Indikator tambahan (*)
Strata Utama : Bila memenuhi 8 Indikator (1 sampai 8)
Definisi Operasianal Indikator desa siaga
1. Adanya Forum Masyarakat Desa di setiap desa siaga
Forum Masyarakat Desa adalah wadah berkumpulnya masyarakat desa untuk
mengkomunikasikan permasalahan yang ada di desa dan mengupayakan pemecahannya
sesuai dengan potensi yang ada di desa tersebut. Keberadaan forum kesahatan masyarakat
desa sangat diperlukan, karena yang dapat memecahkan masalah yang ada di desa adalah
masyarakat desa itu sendiri.
Suatu desa dikatakan mempunyai Forum Masyarakat Desa, bila minimal :
a. Ada fasilitator masyarakat desa
Fasilitator masyarakat desa adalah tokoh masyarakat atau tokoh agama yang telah dilatih
tentang perggerakkan dan pemberdayaan masyarakat di desa siaga.
b. Ada susunan kepengurusan Desa Siaga dan jejaring promosi kesehatan desa yang berfungsi
sebagai pendorong bergulirnya siklus/spiral pemecahan masalah-masalah kesehatan di desa
dan menyebarluaskan informasi kesehatan. Susunan kepengurusan Desa Siaga dihasilkan dari
pertemuan tingkat desa. Kepengurusan inilah yang menjadi motor penggerak kegiatankegiatan forum masyarakat desa dan kegiatan-kegiatan desa siaga lainnya. Anggota jejaring
promosi kesehatan desa adalah tokoh-tokoh masyarakat yang diharapkan menjadi agen
pembaharuan dan merupakan perpanjangan tangan forum masyarakat desa dalam
menyebarluaskan informasi kesehatan kepada masyarakat dan lingkungannya. Forum
kesehatan masyarakat desa, dapat merupakan bagian dari kegiatan LKMD.
c. Ada kegiatan penyebarluasan informasi kesehatan dalam berbagai cara dan bentuk.
d. Ada kegiatan/gerakan masyarakat sebagai pelaksanaan siklus/spiral pemecahan masalahmasalah kesehatan di desa secara berkesinambungan.
2. Adanya sarana/fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan sistem rujukannya
Suatu desa dikatakan mempunyai sarana/fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan sistem
rujukannya, bila minimal :
a. Ada sarana/fasilitas pelayanan kesehatan dasar milik pemerintah ataupun swasta, upaya
kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM), wahana pelayanan kesehatan dasar minimal
1 buah dengan minimal 1 orang tenaga kesehatan (Bidan/Perawat) yang berkompoten
dibidannya, misalnya puskesmas, pustu, wahana kesehatan dasar seperti polindes, poskesdes,
poskestren, balai pengobatan swasta, Rumah bersalin swasta, klinik bidan praktek, dokter
praktek, dokter keluarga dll.
b. Kompetensi minimal yang harus dimiliki petugas adalah yang sesuai dengan
kewenangannya dalam Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), Pertolongan Pertama
Gawat Darurat Obstetri Neonatal (PPGD-ON) dan penanganan bencana.
c. kesehatan dasar.

3. Adanya UKBM (posyandu, UKBM Maternal dan UKBM lain)


Suatu desa dikatakan mempunyai UKBM, bila minimal :
a. Ada UKBM posyandu, yaitu Posyandu madya, minimal 1 posyandu per RW atau per 100
balita.
b. Ada UKBM Siaga Maternal, yaitu : Tabulin/Dasolin,Donor Darah Desa, Angkutan Ibu
Bersalin (Ambulans Desa), notifikasi dan pemetaan Ibu Hamil/ Bersalin.
Selanjutnya dalam tahap berikutnya dapat dikembangkan :
a. UKBM lain sesuai dengan kebutuhan, misalnya Warung Obat Desa, Upaya Kesehatan Gigi
Masyarakat Desa (UKGMD), Saka Bakti Husada (SBH), Taman Obat Keluarga (Toga), dll.
b. Poskesdes apabila dibutuhkan yaitu bila ada sarana pelayanan kesehatan dasar di desa,
sekaligus dapat sebagai UKBM yang berfungsi sebagai wadah/pusat
pengembangan/revitalisasi UKBM-UKBM yang ada di desa.
c. Dana persalinan seperti tabulin/dasolin, dll dapat dikembangkan menjadi Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan (JPK)
4. Adanya sistem pengamatan penyakit dan faktor resiko berbasis masyarakat (Suveilans
Berbasis Masyarakat), bila minimal :
a. Ada kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan di tingkat masyarakat, dilaporkan secara
lengkap, tepat waktu (dengan periode 24 jam atau rutin/bulanan). Kegiatan ini dilakukan oleh
Dasa Wisma/Kader Posyandu/Toma/Toga/LSM/Karang Taruna/RT/RW terlatih, dengan
kurir/teknologi komunikasi yang dil;aporkan secara tertulis dalam bentuk format survailans.
b. Adanya data pemantauan wilayah setempat dan kantong-kantong resiko, yang disajikan
dalam bentuk pemetaan. Kegiatan ini dilakukan oleh kader terlatih yang merupakan bagian
dari sistem waspada.
c. Alur Pelaporan : Kasus/kejadian dilaporkan oleh tenaga survailans berbasis masyarakat
terlatih kepada aparat desa dan pemberi pelayanan kesehatan dasar yang ada di desa,
misalnya polindes, poskesdes, pustu, poskestren, dll.
Hal-hal di atas dikemas dalam Sistem Waspada yang mencakup :
a. Tanda-tanda bahaya kesehatan, faktor resiko lingkungan & perilaku yang berbahaya bagi
kesehatan atau berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan bencana serta kegawatdaruratan, dilakukan dengan cara kampanye dan promosi, melalui :
Forum Masyarakat Desa (FMD)
Jejaring Promosi Kesehatan di desa
Penggunaan Kentongan, sirene, dll
b. Sistem notifikasi Ibu Hamil dan keluarga rentan/resiko serta lingkungan dan perilaku
beresiko dilaksanakan formulir waspada.
c. Paparkan dan pampangkan cara pelaporannya, dibuat Stiker Waspada untuk setiap kepala
keluarga dan pampangkan di peta Waspada.
d. Dasa Wisma menjadi motor penggerak dan pelaksannya
Formulir Waspada :
Dasa Wisma RT/RW :
Sasaran Beresiko Lingkingan beresiko Perilaku Beresiko Ket
No. Nama Klien Nama KK Jenis Kasus Jenis Resiko Jenis Resiko

Stiker Waspada
Peta Waspada
5. Adanya sistem kesiap-siagaan penanggulangan kegawat-daruratan dan bencana berbasis
masyarakat
Suatu desa dikatakan mempunyai sistem kesiap-siagaan penanggulangan kegawat-daruratan
dan bencana berbasis masyarakat, bila minimal :
Adanya gladi atau simulasi bencana :
- Minimal 1 kali setahun di daerah tidak rawan
- Minimal 2 kali setahun di daerah rawan bencana
6. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya lingkungan sehat.
Suatu desa dikatakan mempunyai upaya menciptakan dan mewujudkan lingkungan sehat, bila
minimal ada gerakan masyarakat untuk memelihara/meningkatkan kualitas lingkungan yang
dilaksanakan secara rutin, minimal 1 kali seminggu di setiap RT.
Contoh :
- K3 (Kebersihan, Keindahan dan Ketertiban)
- Jumsih (Jumat Bersih dan PSN)
- Kegiatan Kelompok Raksa Desa misalnya kegiatan Kelompok Pemakai Air (Pokmair),dsb.
7. Adanya Upaya menciptakan dan terwujudnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Suatu desa dikatakan mempunyai upaya menciptakan dan mewujudkan PHBS, bila minimal :
a. Ada pendataan dan visualisasi data PHBS Rumah Tangga yang diperbaharui minimal 1 kali
setahun.
b. Ada kegiatan promosi PHBS minimal 1 kali sebulan
c. Ada kegiatan tindak lanjut/intervensi dari hasil pendataan dan promosi PHBS.
d. Ada kegiatan pemantauan pasca-intervensi.
8. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
Suatu desa dikatakan mempunyai upaya menciptakan dan mewujudkan kadarzi, bila
minimal :
a. Ada pendataan dan visualisasi data Kadarzi setiap rumah tangga yang diperbaharui
minimal 1 kali setahun.
b. Ada kegiatan promosi Kadarzi minimal 1 kali sebulan
c. Ada kegiatan tindak lanjut/intervensi dari hasil pendataan dan promosi Kadarzi.
d. Ada kegiatan pemantauan pasca- intervensi
TIPS PHBS :
1. Pemeriksaan kehamilan dan persalinan ke tenaga kesehatan
- Pemeriksaan kehamilan ke tenaga kesehatan minimal 4 x selama kehamilan (1 x tri bulan i,

1x tribulan ii, dan 2x pada tribulan iii)


- Melahirkan ke tenaga kesehatan (bidan/dokter)
2. Memberikan asi ekslusif
- Bayi usia 0-6 bulan hanya diberi asi saja tanpa tambahan makanan dan minuman lain
3. Menimbang bayi dan balita serta imunisasi lengkap
- Menimbang bayi dan balita (0 -5 tahun) setiap bulan di posyandu
- Memberikan imunisasi lengkap (BCG,Hepatitis,DPT, Polio, Campak)
4. Menggunakan air bersih dan cuci tangan dengan sabun
Syarat air bersih : tidak berasa, tidak berwarna, tidak berbau , jernih, bebas kuman, bebas
bahan kimia yg berbahaya
Cuci tangan dengan sabun :
- setiap tangan kotor
- sebelum dan sesudah makan
- sesudah bab
- sebelum menyusui bayi
5. Menggunakan jamban sehat
6. PSN dengan 3 M (menguras, menutup, mengubur) rutin setiap minggu
Melaksanakan PJB, yaitu pemeriksaan jentik berkala
Menguras, Menutup dan Mengubur (3 M)
Plus : menggunakan kelambu, obat nyamuk, pakaian tidak bergelantungan, pencahayaan
rumah cukup,memelihara ikan, abatisasi pada daerah sulit air dan sulit dikuras.
7. Makan sayur dan buah setiap hari
Contoh fungsi vitamin dalam sayur dan buah :
- vit a : kesehatan mata
- vit d : kesehatan tulang
- vit e : kesuburan dan awet muda
- vit k : pembekuan darah
- vit c : daya tahan tubuh
- vit b : mencegah beri-beri
- vit b12 : meningkatkan nafsu makan , dll
8. Melakukan aktivitas fisik setiap hari minimal 30 menit tiap hari dengan manfaat :
- Terhindar penyakit jantung, stroke, darah tinggi, kencing manis,
- Bentuk tubuh bagus
- Otot dan tulang kuat
- Lebih bertenaga dan bugar
- Kesehatan menjadi lebih baik
9. Tidak merokok dalam rumah / ruangan.
Bahaya perokok aktif dan pasif
- kerontokan rambut
- gangguan mata
- gangguan pendengaran
- penyakit paru-paru, stroke, jantung
- kanker
- tulang mudah patah
- kerusakan gigi dan bau mulut tidak sedap
- kemandulan dan impotensi
10. Menjadi kader dalam membudayakan Pola Hidup Bersih dan Sehat
Individu dapat berperan sebagai kader di :
- Keluarga

- Dasa Wisma
- Masyarakat
POTRET KEGIATAN MENUNJU DESA SIAGA
KABUPATEN BONE BOLANGO
PERTEMUAN DENGAN MASYARAKAT
( DISKUSI KELOMPOK TERARAH)

Pemeriksaan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas tersusunnya Buku saku pengembangan
UKBM menuju Desa Siaga di Provinsi Gorontalo sebagai tindak lanjut SK Menkes No.
564/MENKES/SK/VIII/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Desa Siaga dan Peraturan
Daerah Nomor 4 tahun 2006 tentang Rencana Strategis Pemerintah Provinsi Gorontalo.
Buku Saku pengembangan UKBM menunju Desa Siaga di Provinsi Gorontalo berisi tentang
Strategi utama yang menjadi platform Depkes, Latar belakang, mengapa perlu UKBM,
Kapan bisa dibentuk UKBM, Dimana UKBM bisa dibentuk, Bagaimana Wujud UKBM,
UKBM apa saja yang selayaknya ada di desa siaga , kemudian disertai dengan pengertian
Desa Siaga itu sendiri, tujuan dan sasaran Desa Siaga serta pendekatan dan tahap
pengembangan Desa Siaga. Dalam buku ini dijelaskan 8 indikator serta strata Desa Siaga.
Dijelaskan pula Definisi Operasional Desa Siaga sebagai acuan pembentukkan Desa Siaga di
provinsi Gorontalo.
Buku ini merupakan penyempurnaan dari buku Kab/ kota yang telah ada sebelumnya, proses
penyempurnaan yang dilaksanakan meliputi penyesuaian dengan kebijakan baru, masukan
narasumber dan lintas program / lintas sektor baik Provinsi maupun kabupaten/kota.
Buku ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi kami sebagai fasilitator Desa Siaga yang
sudah dilatih oleh Dinas Kesehatan Provinsi, dan Insyah Allah dapat kami teruskan
informasinya melalui pelatihan Desa Siaga sampai di kecamatan, Desa/Kelurahan yang akan
melaksanakan kegiatan pengembangan dan pelayanan kesehatan dasar sehingga terwujudnya
masyarakat sehat yang siaga terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya.
Akhir kata, kami menyadari bahwa buku ini masih belum sempurna, untuk itu saran dan
masukan untuk penyempurnaan buku ini sangat diharapkan.

Gorontalo, 01 januari 2010


Gayatri Djaafar Soga,SKM, MPH

PENGEMBANGAN UKBM DI DESA SIAGA


STRATEGI UTAMA (4 Platform Depkes)
Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat.
Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas
Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan
Meningkatkan pembiayaan kesehatan
LATAR BELAKANG
Salah satu upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah melalui peningkatan
pemberdayaan masyarakat
Pemberdayaan masyarkat merupakan upaya fasilitasi, agar masyarakat tahu, mau dan
mampu untuk hidup sehat, berdasar potensi yang dimilikinya
Salah satu wujud pemberdayaan masyarakat adalah tumbuh dan berkembangnya Upaya
Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)
Mengapa perlu UKBM ?
Beberapa alasan antara lain:
Kesehatan merupakan hak dan kewajiban setiap insan, sekaligus investasi
Masyarakat sendirilah yang paling memahami masalah kesehatan yang dihadapi
Masyarakat memiliki potensi untuk mengatasinya
Perlu diperjuangkan oleh masyarakat bersama pemerintah
Perlu fasilitasi providers
Tujuan
Umum:
Meningkatnya jumlah dan mutu UKBM
Khusus:
Meningkatnya kemampuan pemimpin/Toma dalam merintis dan mengembangkan UKBM
Meningkatnya kemampuan masyarakat dan organisasi masyarakat dalam penyelenggaraan
UKBM
Meningkatnya kemampuan masyarakat dan organisasi masyarakat dalam menggali,
menghimpun dan mengelola pendanaan masyarakat utk menumbuhkembangkan UKBM
Sasaran
Individu/Toma berpengaruh
Keluarga dan perpuluhan keluarga

Kelompok masyarakat : generasi muda, kelompok wanita, angkatan kerja, dll


Organisasi masyarakat: organisasi profesi, LSM, dll
Masyarakat umum: desa, kota, dan pemukiman khusus

Kapan bisa dibentuk UKBM?


Bila masyarakat menghadapi masalah kesehatan yang dirasakan dan perlu pemecahannya
Potensi masyarakat tersedia
Ada tokoh masyarakat dan kader yang bersedia menjadi penggerak
Ada fasilitator yang berkesinambungan membina dan mengembangkan UKBM
Dimana UKBM bisa dibentuk?
Dimana saja, baik secara skala geografis seperti RT, RW, pedukuhan, desa, kecamatan dsb.
Di tempat kerja : Pos UKK, PHBS, dana sehat, dll
Di pasar : Dana Sehat, Posyandu, dll
Daerah sulit terakses pelayanan kesehatan : Poskesdes, POD/WOD, dll
Di lingkungan Pondok Pesantren: Poskestren, SBH, dll
Sumberdaya manusia
Pemimpin (formal dan non-formal), Tokoh masyarakat dll.
Kader Posyandu
Kader Poskesdes
Kader Posyandu lansia
Kader kesehatan lingkungan
Saka Bakti Husada
Santri husada
Dokter kecil
dll.
Pendanaan Masyarakat
Dana sehat
Tabungan ibu bersalin (Tabulin)
Tabungan masyarakat (Tabumas)
Jimpitan
Zakat, infak dan sodakoh (ZIS)
Kolekte
dll
Wujud UKBM
Pos pelayanan terpadu (Posyandu)
Pondok bersalin desa (Polindes)
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)
Kelompok Pemakai Air (Pokmair)

Pos Obat Desa (POD)/Warung Obat Desa (WOD)


Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK)
Pos kesehatan pesantren (Poskestren)
SBH (Saka BhaktiHusada)
Posyandu Usila
Bina Keluarga Balita (BKB)
Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak (KP-KIA)
Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD)
Dll
Pengembangan UKBM di Desa Siaga
Setiap desa: memiliki potensi untuk mengembangkan UKBM di Desa Siaga
Setiap desa, umumnya memiliki UKBM
UKBM yang mandiri, entry point pengembangan Desa Siaga
UKBM Mandiri (contoh: Posyandu):
- Jumlah kader = minimal 5 orang
- Frekwensi buka Posyandu = > 8 kali
- Cakupan program = > 50%
- D/S = >50%
- Memiliki program tambahan
- Memiliki dana sehat
UKBM apa saja yang selayaknya ada di desa siaga?
1. UKBM dalam pemeliharaan kesehatan:
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)
Pos UKK
Pos Kesehatan Pesantren
Dana Desat
Tabulin, jambulin, Dasolin
Ambulan Desa, suami siaga
Kelompok donor darah
Kader
Dokter Kecil
2. UKBM di bidang kesehatan ibu & anak:
Polindes
BKB (Bina Kesehatan Balita)
KP-KIA (Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak
PAUD (Pembinaan AnakUsia Dini)
GSI
3. UKBM di Bidang pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan:
Pokmair (Kelompok Pemakai Air)
DPKL (Desa Percontohan Kesehatan Lingkungan)
Jumantik
Kader Kesling
Kelompok siaga bencana
Kelompok pengelola sampah dan limbah

Kelompok pengamat (surveilan) dan pelaporan dll


4. UKBM di Bidang Gizi dan farmasi:
Posyandu
Posyandu Usila
Warung sekolah
POD/WOD
Taman Obat Keluarga (TOGA)
Kader: Posyandu, Usila, POD
Pengertian Desa Siaga
Desa siaga adalah desa /kelurahan yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan
kemampuan serta kemauan untuk mencegah & mengatasi masalah -masalah kesehatan,
bencana dan kegawat-daruratan kesehatan secara mandiri. (Kepmenkes RI
564/MENKES/SK/VII/2006)
Tujuan Desa Siaga
Umum:
Terwujudnya Desa Sehat dgn masyarakat yang sehat, peduli & tanggap thd permasalahan
kesehatan di desanya
Khusus
1. Meningkatnya pengetahuan & kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan.
2. Meningkatnya kegiatan masyarakat desa dalam mengantisifasi dan melaksanakan tindakan
penyelamatan ibu hamil, melahirkan, nifas, bayi dan anak menunju penurunan angka
kematian bayi dan angka kematian ibu.
3. Meningkatnya kegiatan masyarakat desa dalam pengamatan (surveilance) penyakit/factorfaktor resiko dan kesiap-siagaan serta penanggulangan bencana,kejadian luar biasa, wabah,
kegawat-daruratan. dsb.
4. Meningkatnya keluarga yang sadar gizi (Kadarzi) serta melaksanakan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS).
5. Meningkatnya kesehatan lingkungan di desa.
6. Meningkatnya kemauan dan kemampuan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri
dibidang kesehatan dengan melaksanakan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan bagi
masyarakat sejak usia bayi sampai lanjut usia,akses terhadap pelayanan
kesehatan,mengembangkan berbagai upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM)
dan sistem pembiayaan berbasis masyarakat.
Strategi Pengembangan Desa Siaga
1. Gerakan Pemberdayaan Masyarakat adalah proses membantu sasaran agar berubah
menjadi tahu / sadar, mau dan mampu melaksanakan PHBS. Dilakukan dengan pemberian
informasi maupun pengembangan / perorganisasian masyarakat (community Organization)
2. Bina suasana adalah upaya menciptakan opini atau lingkungan sosial yang mendorong
individu anggota masyarakat melakukan PHBS. Bisa dilakukan melalui pendekatan individu,
kelompok maupun massa.
3. Advokasi adalah upaya mendapatkan komitmen dan dukungan dari pada pemangku
kepentingan. Dukungan dapat berupa kebijakan, dana, sarana,dsb.
Sasaran Desa Siaga

1. Semua individu , keluarag di desa supaya mampu melaksanakan PHBS, serta peduli dan
tanggap terhadap masalah kesehatan di desa .
2. Para pejabat dan tenaga kesehatan fungsional maupun administratif.
3. Tokoh masyarakat (keagamaan,kebudayaan,LSM,perempuan,pemuda), kader kesehatan
yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga di desa.
4. Sektor terkait (para pejabat eksekutif dan legislatif di pemda kab/kota,camat, kepala
desa,dll)
Pendekatan dan Tahap pengembangan desa siaga
Pengembangan Desa Siaga adalah proses membangkitkan peran serta masyarakat melalui
penggerakan dan pemberdayaan masyarakat. Proses yang dilaksanakan pada dasarnya adalah
memfasilitasi masyarakat menjalani proses pembelajaran melalui siklus / spiral pemecahan
masalah yang terorganisasi(perorganisasian masyarakat), dengan tahapan sbb :
1. Identifikasai masalah, penyebab masalah, sumber daya untuk mengatasi masalah.
2. Diagnosis masalah, merumuskan alternative pemecahan masalah.
3. Menetapkan alternative pemecahan masalah yang layak,merencanakan kegiatan dan
melaksanaknnya.
4. Memantau dan mengevaluasi kegiatan, analisa hambatan dan mengatasi hambatan serta
membina kelestarian upaya-upaya positif yang telah dilakukan.
Langkah-Langkah Pokok di Tingkat Kecamatan dan Desa :
1. Pengembangan tim petugas kesehatan / puskesmas, bertujuan mempersiapkan para petugas
agar memahami tugas dan fungsinya dalam pengembangan desa siaga serta siap bekerjasama
dalam satu tim untuk melakukan pendekatan kepada pemangku kepentingan masyarakat.
2. Pertemuan Tingkat kecamatan, dihadiri petugas lintas sektor di kecamatan, tokoh
masyarakat dan para kepala desa sekecamatan. Bertujuan mengenalkan konsep desa siaga,
penyadaran pentingnya komitmen dan upaya bersama dalam penggerakan dan pemberdayaan
masyarakat dengan memfasilitasi masyarakat menjalani proses pembelajaran melalui siklus /
spiral pemecahan.
3. Pertemuan Tingkat Desa, bertujuan mengenalkan konsep desa siaga, penyadaran
pentingnya wadah koordinasi Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) serta
dukungan para pemuka masyarakat/para kader dalam menggerakkan dan pemberdayaan
masyarakat dengan memfasilitasi masyarakat menjalani proses pembelajaran melalui siklus /
spiral pemecahan masalah yang terorganisasi.Diharapkan para pemuka masyarakat siap
menjadi Tim Pengembangan Masyarakat.
4. Survei Mawas Diri/ Identifikasi Masalah dan Potensi, bertujuan agar para pemuka
masyarakat /kader mampu melakukan telaah mawas diri sehingga dapat diidentifikasi
masalah-masalah kesehatan serta daftar potensi desa yang dapat digunakan dalam mengatasi
masalah-masalah tsb.
5. Musyawarah Masyarakat Desa, adalah pertemuan warga masyarakat untuk membahas hasil
survei mawas diri, merumuskan masalah, menetapkan prioritas masalah ,merumuskan
alternatif pemecahan masalah yang layak, dukungan dan kontribusi masing-masing pihak
serta merencanakan kegiatan dan jadwal pelaksanaannya.
6. Pelaksanaan Kegiatan:
Pemilihan pengurus dan kader desa siaga
Orientasi / pelatihan kader desa siaga
Pengembangan Poskesdes dan UKBM lain
Penyelenggaraan kegiatan desa siaga sesuai perencanaan yang dibuat,diharapkan secara
bertahap memenuhi 8 indikator desa siaga.
7. Pembinaan dan peningkatan melalui mekanisme review dalam Forum Kesehatan

Masyarakat Desa minimal 2 bulanan.


Indikator Desa Siaga :
1. Adanya Forum Masyarakat Desa
2. Adanya sarana / fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan system rujukannya.
3. Adanya UKBM (Posyandu,UKBM siaga Maternal dan UKBM lain yang dikembangkan
sesuai kebutuhan )
4. Adanya sistem pengamatan penyakit dan faktor risiko berbasis masyarakat (survei berbasis
masyarakat)
5. Adanya sistem kesiap-siagaan penanggulangan kegawat daruratan dan bencana berbasis
masyarakat.
6. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya lingkungan sehat.
7. Adanya upaya menciptakan dan tewujudunya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
8. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya keluarga sadar gizi (kadargizi)
Keterangan :
Strata Pratama : Bila memenuhi 4 indikator minimal (Indikator 1 sampai dengan 4 )
Strata Madya : Bila memenuhi 4 Indikator minimal 2 Indikator tambahan (*)
Strata Utama : Bila memenuhi 8 Indikator (1 sampai 8)
Definisi Operasianal Indikator desa siaga
1. Adanya Forum Masyarakat Desa di setiap desa siaga
Forum Masyarakat Desa adalah wadah berkumpulnya masyarakat desa untuk
mengkomunikasikan permasalahan yang ada di desa dan mengupayakan pemecahannya
sesuai dengan potensi yang ada di desa tersebut. Keberadaan forum kesahatan masyarakat
desa sangat diperlukan, karena yang dapat memecahkan masalah yang ada di desa adalah
masyarakat desa itu sendiri.
Suatu desa dikatakan mempunyai Forum Masyarakat Desa, bila minimal :
a. Ada fasilitator masyarakat desa
Fasilitator masyarakat desa adalah tokoh masyarakat atau tokoh agama yang telah dilatih
tentang perggerakkan dan pemberdayaan masyarakat di desa siaga.
b. Ada susunan kepengurusan Desa Siaga dan jejaring promosi kesehatan desa yang berfungsi
sebagai pendorong bergulirnya siklus/spiral pemecahan masalah-masalah kesehatan di desa
dan menyebarluaskan informasi kesehatan. Susunan kepengurusan Desa Siaga dihasilkan dari
pertemuan tingkat desa. Kepengurusan inilah yang menjadi motor penggerak kegiatankegiatan forum masyarakat desa dan kegiatan-kegiatan desa siaga lainnya. Anggota jejaring
promosi kesehatan desa adalah tokoh-tokoh masyarakat yang diharapkan menjadi agen
pembaharuan dan merupakan perpanjangan tangan forum masyarakat desa dalam
menyebarluaskan informasi kesehatan kepada masyarakat dan lingkungannya. Forum
kesehatan masyarakat desa, dapat merupakan bagian dari kegiatan LKMD.
c. Ada kegiatan penyebarluasan informasi kesehatan dalam berbagai cara dan bentuk.
d. Ada kegiatan/gerakan masyarakat sebagai pelaksanaan siklus/spiral pemecahan masalahmasalah kesehatan di desa secara berkesinambungan.
2. Adanya sarana/fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan sistem rujukannya
Suatu desa dikatakan mempunyai sarana/fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan sistem
rujukannya, bila minimal :
a. Ada sarana/fasilitas pelayanan kesehatan dasar milik pemerintah ataupun swasta, upaya
kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM), wahana pelayanan kesehatan dasar minimal
1 buah dengan minimal 1 orang tenaga kesehatan (Bidan/Perawat) yang berkompoten
dibidannya, misalnya puskesmas, pustu, wahana kesehatan dasar seperti polindes, poskesdes,
poskestren, balai pengobatan swasta, Rumah bersalin swasta, klinik bidan praktek, dokter
praktek, dokter keluarga dll.

b. Kompetensi minimal yang harus dimiliki petugas adalah yang sesuai dengan
kewenangannya dalam Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), Pertolongan Pertama
Gawat Darurat Obstetri Neonatal (PPGD-ON) dan penanganan bencana.
c. kesehatan dasar.
3. Adanya UKBM (posyandu, UKBM Maternal dan UKBM lain)
Suatu desa dikatakan mempunyai UKBM, bila minimal :
a. Ada UKBM posyandu, yaitu Posyandu madya, minimal 1 posyandu per RW atau per 100
balita.
b. Ada UKBM Siaga Maternal, yaitu : Tabulin/Dasolin,Donor Darah Desa, Angkutan Ibu
Bersalin (Ambulans Desa), notifikasi dan pemetaan Ibu Hamil/ Bersalin.
Selanjutnya dalam tahap berikutnya dapat dikembangkan :
a. UKBM lain sesuai dengan kebutuhan, misalnya Warung Obat Desa, Upaya Kesehatan Gigi
Masyarakat Desa (UKGMD), Saka Bakti Husada (SBH), Taman Obat Keluarga (Toga), dll.
b. Poskesdes apabila dibutuhkan yaitu bila ada sarana pelayanan kesehatan dasar di desa,
sekaligus dapat sebagai UKBM yang berfungsi sebagai wadah/pusat
pengembangan/revitalisasi UKBM-UKBM yang ada di desa.
c. Dana persalinan seperti tabulin/dasolin, dll dapat dikembangkan menjadi Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan (JPK)
4. Adanya sistem pengamatan penyakit dan faktor resiko berbasis masyarakat (Suveilans
Berbasis Masyarakat), bila minimal :
a. Ada kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan di tingkat masyarakat, dilaporkan secara
lengkap, tepat waktu (dengan periode 24 jam atau rutin/bulanan). Kegiatan ini dilakukan oleh
Dasa Wisma/Kader Posyandu/Toma/Toga/LSM/Karang Taruna/RT/RW terlatih, dengan
kurir/teknologi komunikasi yang dil;aporkan secara tertulis dalam bentuk format survailans.
b. Adanya data pemantauan wilayah setempat dan kantong-kantong resiko, yang disajikan
dalam bentuk pemetaan. Kegiatan ini dilakukan oleh kader terlatih yang merupakan bagian
dari sistem waspada.
c. Alur Pelaporan : Kasus/kejadian dilaporkan oleh tenaga survailans berbasis masyarakat
terlatih kepada aparat desa dan pemberi pelayanan kesehatan dasar yang ada di desa,
misalnya polindes, poskesdes, pustu, poskestren, dll.
Hal-hal di atas dikemas dalam Sistem Waspada yang mencakup :
a. Tanda-tanda bahaya kesehatan, faktor resiko lingkungan & perilaku yang berbahaya bagi
kesehatan atau berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan bencana serta kegawatdaruratan, dilakukan dengan cara kampanye dan promosi, melalui :
Forum Masyarakat Desa (FMD)
Jejaring Promosi Kesehatan di desa
Penggunaan Kentongan, sirene, dll
b. Sistem notifikasi Ibu Hamil dan keluarga rentan/resiko serta lingkungan dan perilaku
beresiko dilaksanakan formulir waspada.
c. Paparkan dan pampangkan cara pelaporannya, dibuat Stiker Waspada untuk setiap kepala
keluarga dan pampangkan di peta Waspada.
d. Dasa Wisma menjadi motor penggerak dan pelaksannya
Formulir Waspada :
Dasa Wisma RT/RW :
Sasaran Beresiko Lingkingan beresiko Perilaku Beresiko Ket
No. Nama Klien Nama KK Jenis Kasus Jenis Resiko Jenis Resiko

Stiker Waspada
Peta Waspada
5. Adanya sistem kesiap-siagaan penanggulangan kegawat-daruratan dan bencana berbasis
masyarakat
Suatu desa dikatakan mempunyai sistem kesiap-siagaan penanggulangan kegawat-daruratan
dan bencana berbasis masyarakat, bila minimal :
Adanya gladi atau simulasi bencana :
- Minimal 1 kali setahun di daerah tidak rawan
- Minimal 2 kali setahun di daerah rawan bencana
6. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya lingkungan sehat.
Suatu desa dikatakan mempunyai upaya menciptakan dan mewujudkan lingkungan sehat, bila
minimal ada gerakan masyarakat untuk memelihara/meningkatkan kualitas lingkungan yang
dilaksanakan secara rutin, minimal 1 kali seminggu di setiap RT.
Contoh :
- K3 (Kebersihan, Keindahan dan Ketertiban)
- Jumsih (Jumat Bersih dan PSN)
- Kegiatan Kelompok Raksa Desa misalnya kegiatan Kelompok Pemakai Air (Pokmair),dsb.
7. Adanya Upaya menciptakan dan terwujudnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Suatu desa dikatakan mempunyai upaya menciptakan dan mewujudkan PHBS, bila minimal :
a. Ada pendataan dan visualisasi data PHBS Rumah Tangga yang diperbaharui minimal 1 kali
setahun.
b. Ada kegiatan promosi PHBS minimal 1 kali sebulan
c. Ada kegiatan tindak lanjut/intervensi dari hasil pendataan dan promosi PHBS.
d. Ada kegiatan pemantauan pasca-intervensi.
8. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
Suatu desa dikatakan mempunyai upaya menciptakan dan mewujudkan kadarzi, bila
minimal :
a. Ada pendataan dan visualisasi data Kadarzi setiap rumah tangga yang diperbaharui
minimal 1 kali setahun.
b. Ada kegiatan promosi Kadarzi minimal 1 kali sebulan
c. Ada kegiatan tindak lanjut/intervensi dari hasil pendataan dan promosi Kadarzi.
d. Ada kegiatan pemantauan pasca- intervensi
TIPS PHBS :

1. Pemeriksaan kehamilan dan persalinan ke tenaga kesehatan


- Pemeriksaan kehamilan ke tenaga kesehatan minimal 4 x selama kehamilan (1 x tri bulan i,
1x tribulan ii, dan 2x pada tribulan iii)
- Melahirkan ke tenaga kesehatan (bidan/dokter)
2. Memberikan asi ekslusif
- Bayi usia 0-6 bulan hanya diberi asi saja tanpa tambahan makanan dan minuman lain
3. Menimbang bayi dan balita serta imunisasi lengkap
- Menimbang bayi dan balita (0 -5 tahun) setiap bulan di posyandu
- Memberikan imunisasi lengkap (BCG,Hepatitis,DPT, Polio, Campak)
4. Menggunakan air bersih dan cuci tangan dengan sabun
Syarat air bersih : tidak berasa, tidak berwarna, tidak berbau , jernih, bebas kuman, bebas
bahan kimia yg berbahaya
Cuci tangan dengan sabun :setiap tangan kotor
- sebelum dan sesudah makan
- sesudah bab
- sebelum menyusui bayi
5. Menggunakan jamban sehat
6. PSN dengan 3 M (menguras, menutup, mengubur) rutin setiap minggu
Melaksanakan PJB, yaitu pemeriksaan jentik berkala
Menguras, Menutup dan Mengubur (3 M)
Plus : menggunakan kelambu, obat nyamuk, pakaian tidak bergelantungan, pencahayaan
rumah cukup,memelihara ikan, abatisasi pada daerah sulit air dan sulit dikuras.
7. Makan sayur dan buah setiap hari
Contoh fungsi vitamin dalam sayur dan buah :
- vit a : kesehatan mata
- vit d : kesehatan tulang
- vit e : kesuburan dan awet muda
- vit k : pembekuan darah
- vit c : daya tahan tubuh
- vit b : mencegah beri-beri
- vit b12 : meningkatkan nafsu makan , dll
8. Melakukan aktivitas fisik setiap hari minimal 30 menit tiap hari dengan manfaat :
- Terhindar penyakit jantung, stroke, darah tinggi, kencing manis,
- Bentuk tubuh bagus
- Otot dan tulang kuat
- Lebih bertenaga dan bugar
- Kesehatan menjadi lebih baik
9. Tidak merokok dalam rumah / ruangan.
Bahaya perokok aktif dan pasif
- kerontokan rambut
- gangguan mata
- gangguan pendengaran
- penyakit paru-paru, stroke, jantung
- kanker
- tulang mudah patah
- kerusakan gigi dan bau mulut tidak sedap
- kemandulan dan impotensi
10. Menjadi kader dalam membudayakan Pola Hidup Bersih dan Sehat
Individu dapat berperan sebagai kader di :
- Keluarga

- Dasa Wisma
- Masyarakat