Anda di halaman 1dari 19

TUGAS INDIVIDU

MAKALAH TOKSIKOLOGI

PENINGKATAN PREVALENSI DIABETES


OLEH BAHAN PENCEMAR Polychlorinated Biphenyls (PCBs)

Dosen Mata Kuliah :


Dr. Etty Riani, MS

Disusun Oleh:
Ihsan Arham P052150411

SEKOLAH PASCASARJANA
PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Manusia dengan segala aktivitasnya sangat sangat sulit terhindar dari polusi
udara, air maupun tanah. Bahan polutan tersebut dapat berada di lingkungan kerja
maupun rumah tangga. Polutan tersebut mengandung bahan berbahaya dan beracun
(B3) yang karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dapat mencemari atau merusak lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan
hidup manusia serta mahluk hidup lain.
Sudarmaji (2006) menjelaskan bahwa berdasrkan data dari Environmental
Protection Agency (EPA) tahun 1997, salah satu bahan beracun berbahaya adalah
Polychlorinated Biphenyls (PCBs). Polychlorinated Biphenyls merupakan suatu
senyawa organoklorine selain mempunyai sifat racun yang sama dengan pestisida, juga
mempunyai sifat yang persisten di alam. Konsentrasi PCB yang tinggi akan berbahaya
bagi kesehatan manusia bila ditemukan di dalam lingkungan, baik di dalam air, tanah
maupun udara.
Beberapa penelitian mengungkapkan adanya hubungan antara PCBs tersebut
dengan resistensi insulin dan diabetes tipe 2. Charissa (2013) menyebutkan bahwa PCB
merupakan bahan kimia yang tergolong polutan serta termasuk zat kimia Agen Oranye.
Pada beberapa temuan hasil penelitian menunjukkan keberadaan bahan aktif dioxin dan
turut meningkatkan resistensi insulin.
PCBs mempunyai titik didih yang tinggi dan tidak mudah menguap sehingga
sesuai untuk alat listrik. Senyawa ini termasuk bahan cemaran organik yang persisiten
(POPs) yaitu yang sukar diurai oleh mikroorganime di alam. Kebanyakan dari
senyawa POPs dari hasil pengamatan menunjukkan dapat mengganggu siklus
reproduksi baik bagi manusia maupun kehidupan organisme hidup lainnya (Colon and
Smolen, 1996).
Munawir (2010) Menerangkan bahwa pada masa sebelum tahun 1970, PCB
banyak digunakan sebagai tambahan dalam berbagai industri, sebagai campuran bahan
isolator, konduktor, kondensor, pompa hampa udara, sistem hidraulik, sebagai zat
pewarna dalam tinta, sebagai bahan dasar kertas fotocopy, plastiser, perekat, turbin
transmisi gas, sistem pemindah panas, pelumas dan banyak lainnya.
Menurut Sumarno (2011), PCB dengan sengaja diproduksi secara komersil
dalam jumlah besar sampai produksi tersebut dilarang ditahun 1977. Di Amerika
Serikat, tingkat dioksin sudah menurun terus sejak awal tahun 1970-an sebagai akibat
dari aksi aksi pembersihan serta peraturan dari negara bagian dan pusat. Meskipun
begitu, tingkat dioksin yang ada sekarang masih harus tetap menjadi perhatian.
Sebagai salah satu bahan beracun berbahaya yang banyak digunakan dalam
industri, maka sangat relevan dilakukan pengkajian antara pemanfaatan PCBs dalam
industri dengan pengaruhnya terhadap kesehatan manausia. Penting juga dikaji secara
mendalam penanganan limbah PCB secara makro hingga mikro agar tidak terjadi
pencemaran yang melebihi ambang batas daya dukung lingkungan. Dari latar belakang
tersebut, sangatlah penting dilakukan pengkajian mengenai mekanisme peningkatan
prevalensi diabetes yang disebabkan oleh PCB.

Karakteristik Polychlorinated Biphenyls (PCBs)


PCB ditemukan pertama kali pada tahun 1865 sebagai bahan sampingan tar
batubara. Connel (2006) menerangkan bahwa PCB telah dipatenkan oleh Schmidt dan
Schultz pada tahun 1881 untuk produksi zat-zat kimia dalam skala laboratorium. Di
tahun 1930 di Amerika Serikat oleh Mosanto Company dari Swan Chemical Company,
PCB mulai diproduksi secara masal. Negara-negara lain yang memproduksi PCBs
seperti Austria, Cina, Czecholsovakia, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Rusia, Spanyol,
Inggris dan Amerika Serikat. Puncak produksi terjadi pada tahun 1970 di Amerika
Serikat yaitu oleh Mosanto sebagai produsen tunggal PCB. Sebesar 1,7 juta ton PCB
dunia diproduksi antara tahun 1929 sd 1989. Namun di tahun 1968 ditemukan kasus
medis yaitu YUSHO syndrom di Jepang dan penelitian yang merujuk pada
kemungkinan hubungan antara PCB dan efek kesehatan yang merugikan. Dan
selanjutnya karena temuan efek kesehatan yang muncul, Monsanto kemudian
menyusun pembatasan secara sukarela mengenai penjualan PCB untuk alasan
lingkungan di tahun 1970. Kadar paparan yang diperbolehkan 1 mg/m3 udara setiap
hari selama 8 jam. Menurut UNEP, secara global sekitar 3,2 juta ton peralatan dan
cairan telah terkontaminasi PCBs.
Polychlorinated Biphenyls (PCBs) adalah suatu senyawa organoklorine selain
mempunyai sifat racun yang sama dengan pestisida, juga mempunyai sifat yang
persisten di alam. Sebelum tahun 1970, PCB banyak digunakan sebagai tambahan
dalam berbagai industri, sebagai campuran bahan isolator, konduktor, kondensor,
pompa hampa udara, sistem hidraulik, sebagai zat pewarna dalam tinta, sebagai bahan
dasar kertas fotocopy, plastiser, perekat, turbin transmisi gas, sistem pemindah panas,
pelumas dan banyak lainnya (Hutzinger et al., 1974).
Hal ini disebabkan sifat senyawa ini yaitu mempunyai titik didih yang tinggi
dan tidak mudah menguap sehingga sesuai untuk alat listrik. Senyawa ini termasuk
bahan cemaran organik yang persisiten (POPs) yaitu yang sukar diurai oleh
mikroorganime di alam. Kebanyakan dari senyawa POPs dari hasil pengamatan
menunjukkan dapat mengganggu siklus reproduksi baik bagi manusia maupun
kehidupan organisme hidup lainnya (Colon and Smolen, 1996).
Polychlorinated Biphenyl atau lebih dikenal sebagai PCBs, mengandung arti
senyawa aromatik yang terbentuk sedemikian rupa sehingga atom hidrogen pada
molekul Biphenyl (dua cincin benzena disatukan oleh satu ikatan carbon) dapat
digantikan sampai dengan 10 atom Chlorine atau dikenal sebagai Chlorinated
hydrocarbons. Rumus kimia dari PCB adalah C12H(10-n)Cln. Bahan PCB ini juga dapat
dihasilkan dari produksi yang secara tidak disengaja terbentuk dan terlepas dari proses
termal yang melibatkan bahan organik dan klorin sebagai akibat pembakaran atau
reaksi kimia yang tidak sempurna. Struktur molekul PCB dapat dilihat dalam gambar
1 dan gambar 2 berikut.

Gambar 1 Struktur Molekul PCB


Sumber : UNEP,1999

Gambar 2 Contoh PCB Homologues


Sumber : NAS,2001
Sifat-sifat PCB meliputi daya uap yang rendah, kelarutan dalam air yang rendah,
tahan api, konduktivitas elektrik yang rendah, tahan panas, tingkat kestabilan secara
kimia yang tinggi, tahan terhadap berbagai oksidan dan bahan kimia lainnya. PCBs
dapat larut dalam air dan secara mudah larut dalam lemak, hydrocarbons, dan bahan
organik lainnya. Zat-zat ini hanya dapat dihancurkan pada suhu lebih dari 800oC
selama 10 detik (Connell 2006).

Kestabilan terhadap panas dan kimia tersebutlah yang menjadikan PCBs sangat
banyak dipakai dalam skala industri. Sebagai contoh, PCB telah ditambahkan ke dalam
plastik untuk menambahkan ketahanan terhadap api dan menambah waktu hidup. PCBs
dalam keadaan murni seringkali ditemui sebagai kristal tidak berwarna, tetapi PCBs
komersial yang merupakan campuran PCB murni dengan senyawa lain diberi pewarna
kuning terang atau warna gelap (Oliver et al 1989).
Sifat-sifat PCBs dapat dikatakan mirip dengan insektisida organoklor dan dengan
demikian teknik isolasi yang mirip digunakan dalam pembuatan sampel untuk analisis.
Sebelum pertengahan tahun 1960-an, pendeteksi PCB dilakukan dengan analisa
kromatografi gas dari sampel diisolasi. Analisa ini menyebabkan deteksi puncakpuncak kromatogram yang palsu.
Pada saat tersebut menurut Connel (2006) menjelaskan bahwa tampaknya terdapat
kebingungan antara puncak kromatografi gas PCB dan puncak yang disebabkan oleh
insektisida organoklor dalam pustaka ilmiah sebelum masa itu. Di tahun 1966 telah
dipastikan bahwa puncak palsu tersebut ternyata karena PCB. Hal inilah yang
memicu penelitian di seluruh dunia mengenai keberadaan PCB di lingkungan hingga
saat ini.
Mekanisme Terjadinya Diabetes
Diabetes atau biasa dikenal sebagai Diabetes Melitus adalah penyakit kelainan
metabolik yang dikarakteristikkan dengan hiperglikemia kronis serta kelainan
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein diakibatkan oleh kelainan sekresi insulin,
kerja insulin maupun keduanya (Kardika et.al. 2009). Diabetes Mellitus (DM)
merupakan salah satu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia
karena gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Keadaan hiperglikemia
kronis dari diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, gangguan fungsi
dan kegagalan berbagai organ, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh
darah (ADA, 2012).
Diabetes Mellitus adalah sindrom klinis yang ditandai dengan hiperglikemia
karena defisiensi insulin yang absolut maupun relatif. Kurangnya hormon insulin
dalam tubuh yang dikeluarkan dari sel B pankreas mempengaruhi metabolisme
karbohidrat, protein, dan lemak menyebabkan gangguan signifikan. Kadar glukosa
darah erat diatur oleh insulin sebagai regulator utama perantara metabolisme. Hati
sebagai organ utama dalam transport glukosa yang menyimpan glukosa sebagai
glikogen dan kemudian dirilis ke jaringan perifer ketika dibutuhkan (Biswas, 2006).
World Health Organization (WHO) sebelumnya telah merumuskan bahwa DM
merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan
singkat tetapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomi
dan kimiawi akibat dari sejumlah faktor dimana didapat defisiensi insulin absolut atau
relatif dan gangguan fungsi insulin (Purnamasari, 2009).
Diabetes melitus secara umum terjadi karena adanya proses patogenesis. Ini
bersamaan dengan rusaknya autoimun pada sel beta di pankreas yang menyebabkan
berkurangnya produksi insulin hingga menjadi abnormal yang menghasilkan resistensi
terhadap kerja insulin. Dasar dari ketidaknormalan metabolisme karbohidrat, lemak
dan protein pada penderita diabetes merupakan akibat dari berkurangnya kerja insulin

pada jaringan. Berkurangnya hasil kerja insulin adalah dari tidak cukupnya sekresi
insulin dan / atau kurangnya respon jaringan terhadap insulin dalam jalur kompleks
kerja hormon. Penurunan sekresi insulin dan resistensi kerja insulin sering terjadi pada
pasien yang sama, dan itu menjadi tidak jelas apa kelainannya, jika hanya salah satu
saja, penybabnya adalah hiperglikemia.
Gejala hiperglikemia meliputi poluiria, polidipsia, penurunan berat badan,
kadang dengan polipagia, dan penglihatan kabur. Melambatnya pertumbuhan dan
kerentanan terhadap infeksi tertentu juga dapat menyertai penderita hiperglikemia
kronik. Bahayanya, ancaman hidup dari akibat diabetes adalah hiperglikemia dengan
ketoasidosis atau sindrom hiperosmolar nonketotik.
Komplikasi jangka panjang dari diabetes meliputi retinopati dengan potensi
hilangnya penglihatan; nefropati yang menyebabkan gagal ginjal; neuropati perifer
dengan risiko ulkus kaki, amputasi, dan sendi Charcot, dan neuropati otonom yang
menyebabkan gejala gastrointestinal, Genitourinari, kardiovaskuler dan disfungsi
seksual. Glikasi protein jaringan dan makromolekul lainnya serta kelebihan produksi
senyawa poliol dari glukosa adalah salah satu mekanisme berpikir untuk menghasilkan
kerusakan jaringan dari hiperglikemia kronis. Pasien dengan diabetes memiliki
peningkatan komplikasi atherosklerosis, pembuluh darah perifer, dan penyakit
serebrovaskular. Hipertensi, kelainan metabolisme lipoprotein, dan penyakit
periodontal sering ditemukan pada penderita diabetes. Dampak emosional dan sosial
diabetes dan tuntutan terapi dapat menyebabkan disfungsi psikososial yang signifikan
pada pasien dan keluarganya.
Diabetes terbagi menjadi tiga tipe. Kardika (2006) menjelaskan bahwa DM
adalah kelainan endokrin yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah. Secara
etiologi DM dapat dibagi menjadi DM tipe 1, DM tipe 2, DM dalam kehamilan, dan
diabetes tipe lain:
a. Diabetes Mellitus Tipe 1
DM tipe 1 atau yang dulu dikenal dengan nama Insulin Dependent Diabetes
Mellitus (IDDM), terjadi karena kerusakan sel pankreas (reaksi autoimun).
Sel pankreas merupakan satu-satunya sel tubuh yang menghasilkan insulin
yang berfungsi untuk mengatur kadar glukosa dalam tubuh. Bila kerusakan sel
pankreas telah mencapai 80-90% maka gejala DM mulai muncul. Perusakan
sel ini lebih cepat terjadi pada anak-anak daripada dewasa. Sebagian besar
penderita DM tipe 1 sebagian besar oleh karena proses autoimun dan sebagian
kecil non autoimun. DM tipe 1 yang tidak diketahui penyebabnya juga disebut
sebagai type 1 idiopathic, pada mereka ini ditemukan insulinopenia tanpa
adanya petanda imun dan mudah sekali mengalami ketoasidosis. DM tipe 1
sebagian besar (75% kasus) terjadi sebelum usia 30 tahun dan DM Tipe ini
diperkirakan terjadi sekitar 5-10 % dari seluruh kasus DM yang ada.
b. Diabetes Mellitus Tipe 2
DM tipe 2 merupakan 90% dari kasus DM yang dulu dikenal sebagai non
insulin dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Bentuk DM ini bervariasi mulai
yang dominan resistensi insulin, defisiensi insulin relatif sampai defek sekresi
insulin. Pada diabetes ini terjadi penurunan kemampuan insulin bekerja di
jaringan perifer (insulin resistance) dan disfungsi sel . Akibatnya, pankreas

tidak mampu memproduksi insulin yang cukup untuk mengkompensasi insulin


resistance. Kedua hal ini menyebabkan terjadinya defisiensi insulin
relatif.Kegemukan sering berhubungan dengan kondisi ini. DM tipe 2
umumnya terjadi pada usia > 40 tahun. Pada DM tipe 2 terjadi gangguan
pengikatan glukosa oleh reseptornya tetapi produksi insulin masih dalam batas
normal sehingga penderita tidak tergantung pada pemberian insulin. Walaupun
demikian pada kelompok diabetes melitus tipe-2 sering ditemukan komplikasi
mikrovaskuler dan makrovaskuler.
c. Diabetes Mellitus Gestasional
DM dalam kehamilan (Gestational Diabetes Mellitus - GDM) adalah kehamilan
yang disertai dengan peningkatan insulin resistance (ibu hamil gagal
mempertahankan euglycemia). Pada umumnya mulai ditemukan pada
kehamilan trimester kedua atau ketiga. Faktor risiko GDM yakni riwayat
keluarga DM, kegemukan dan glikosuria. GDM meningkatkan morbiditas
neonatus, misalnya hipoglikemia, ikterus, polisitemia dan makrosomia. Hal ini
terjadi karena bayi dari ibu GDM mensekresi insulin lebih besar sehingga
merangsang pertumbuhan bayi dan makrosomia.Kasus GDM kira-kira 3-5%
dari ibu hamil dan para ibu tersebut meningkat risikonya untuk menjadi DM di
kehamilan berikutnya.
d. Diabetes Mellitus Tipe Lain
Subkelas DM lainnya yakni individu mengalami hiperglikemia akibat kelainan
spesifik (kelainan genetik fungsi sel beta), endokrinopati (penyakit Cushings,
akromegali), penggunaan obat yang mengganggu fungsi sel beta (dilantin),
penggunaan obat yang mengganggu kerja insulin (b-adrenergik) dan infeksi
atau sindroma genetik (Downs, Klinefelters).
Mekanisme Gangguan PCBs Sebagai Penyebab Diabetes
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa diabetes melitus secara umum terjadi
karena adanya proses patogenesis. Ini bersamaan dengan rusaknya autoimun pada sel
beta di pankreas yang menyebabkan berkurangnya produksi insulin hingga menjadi
abnormal yang menghasilkan resistensi terhadap kerja insulin.
PCBs sebagai bahan radikal bebas terserap oleh tubuh manusia melalui udara,
makanan, minuman dan kontak fisik. Sehingga pada saat terserap dalam tubuh maka
PCBs merupakan xenobiotika atau partikel asing dalam tubuh(Connel 2006).
Menurut Gonzalez dan Tukey (2006), sistem metabolisme xenobiotika
umumnya dibagi menjadi dua fase. Pada fase 1, reaksi utama yang terjadi berupa
hidroksilasi. Reaksi ini melibatkan enzim monooksigenase atau lebih sering disebut
sitokrom P450. Enzim sitokrom P450 banyak terdapat pada permukaan sitosolik
membran retikulum endoplasmik hepatosit. Pada fase 2, senyawa-senyawa
terhidroksilasi atau yang telah mengalami metabolisme fase 1 diubah oleh enzim
spesifik menjadi metabolit yang lebih polar melalui konjugasi dengan asam glukoronat,
sulfat, asetat, glutathione, atau beberapa asam amino tertentu, atau dengan metilasi.
Sifat PCBs tidak mudah larut di dalam air tetapi larut di dalam minyak/lemak.
Artinya jika senyawa ini masuk kedalam tubuh, maka tidak akan mudah dikeluarkan
dari dalam tubuh tetapi akan tertahan dan terakumulasi dalam jaringan tubuh manusia.

Keberadaan tersebut mengganggu kinerja sel yang berujung pada penurunan fungsi sel.
Kegagalan tersebutlah yang mengakibatkan terganggunya sistem produksi insulin
dalam pankreas tubuh manusia dan peningkatan glukosa yang menahun.
Peningkatan glukosa yang menahun ( glukotoksisitas ) pada penderita yang
mempunyai predisposisi genetik merupakan faktor utama sehingga menimbulkan
komplikasi diabetes melalui 4 jalur yaitu :
1. Jalur pembentukan AGEs (advanced glycation end products)
Jalur pembentukan AGEs (advanced glycation end products) jalur non
enzimatik, adalah proses perlekatan glukosa secara kimiawi ke gugus amino bebas
pada protein tanpa bantuan enzim. Derajat glikosilasi non enzimatik tersebut berikatan
dengan kadar gula darah, karena dalam pemeriksaan ini menghasilkan indeks rerata
kadar gula darah selama usia eritrosit 120 hari. Pembentukan AGEs (advanced
glycosylation end products) pada protein seperti kolagen, membentuk ikatan silang di
antara berbagai polipeptida yang dapat menyebabkan terperangkapnya protein
interstisium dan plasma yang tidak terglikosilasi. AGEs juga dapat mempengaruhi
struktur dan fungsi kapiler, termasuk glomerulus ginjal yang mengalami penebalan
membran basal dan menjadi bocor. AGEs berikatan dengan reseptor pada berbagai
tipe sel seperti sel endotel, monosit, limfosit, makrofag dan sel mesangial. Pengikatan
tersebut menyebabkan berbagai aktivitas biologi termasuk migrasi sel neutrofil,
pengeluaran sitokin, peningkatan permeabilitas endotel, peningkatan proliferasi
fibroblas serta sintesis matrik ekstraseluler (Schteingart 2005).
2. Jalur poliol
Jalur poliol, merupakan hiperglikemi intrasel dimana glukosa dimetabolisme
oleh aldose reduktase menjadi sorbitol. Peningkatan sorbitol akan mengakibatkan
berkurangnya kadar inositol yang menyebabkan gangguan osmolaritas membrane
basal (Schteingart 2005). Jalur poliol yang merupakan sitosolik monomerik
oksidoreduktase yang mengkatalisa NADPH- dependent reduction dari senyawa
karbon, termasuk glikosa. Aldose reduktase mereduksi aldehid yang dihasilkan oleh
ROS (reactive oxigen species ) menjadi inaktif alkohol serta mengubah glukosa
menjadi sorbitol dengan menggunakan NADPH sebagai kofaktor. Pada sel, aktivitas
aldose reduktase cukup untuk mengurangi glutathione ( GSH ) yang merupakan
tambahan stres oksidatif. Sorbitol dehydrogenase berfungsi untuk mengoksidasi
sorbitol menjadi fruktosa menggunakan NAD sebagai kofaktor (Saputro dan Setiawan
2007).
3. Jalur Protein kinase C
Protein Kinase C, Hiperglikemi dalam sel akan meningkatkan sintesis molekul
diasil gliserol yang merupakan kofaktor penting pada aktifasi PKC, yang akan
menimbulkan berbagai efek ekspresi gen (Jones 2006).
Aktifasi protein kinase C (PKC), yang berefek terhadap:
a. Produksi molekul proangiogenik VEGF yang berimplikasi terhadap
neovaskularisasi, karakteristik komplikasi diabetik.
b. Peningkatan aktivitas vasokonstriktor endotelin-1 dan penurunan aktivitas
vasodilator endothelial nitrit oksida sinthase (eNOS).
c. Produksi molekul profibrinogenik serupa TGF-yang akan memicu deposisi matrik
ekstraseluler dan material membran basal.

d. Produksi molekul prokoagulan plasminogen activator inhibitor-1 (PAI-1), memicu


penurunan fibrinolisis dan kemungkinan terjadinya oklusi vaskuler.
e. Produksi sitokin pro-inflamasi oleh sel endotel vaskuler.
4. Pembentukan reactive oxygen species (ROS) atau stress oksidatif
Stres oksidatif timbul bila pembentukan reactive oxygen species (ROS)
melebihi kemampuan sel dalam mengatasi radikal bebas, yang melibatkan sejumlah
enzim dan vitamin yang bersifat antioksidan. Stres oksidatif pada diabetes mellitus
disebabkan karena ketidak seimbangan reaksi redoks akibat perubahan metabolism
karbohidrat dan lipid, sehingga terjadi penurunan kapasitas antioksidan (Kumar et al.
2004).
Stres oksidatif dapat meningkat jika terjadi glikasi yang labil, autooksidasi
glukosa, aktivitas intrasel jalur poliol. Metabolisme karbohidrat pada hiperglikemi
akan menghasilkan energi yang ekuivalen untuk mendorong sintesa ATP di
mitokondria yang akan menghasilkan radikal bebas dan superokside karena pengaruh
kadar glukosa yang tinggi. Autooksidasi glukosa juga akan menaikkan radikal bebas
menjadi stress oksidatif yang akan menurunkan kadar NO, merusak protein sel,
meningkatkan adhesi sel leukosit pada endotel sedang fungsinya sebagai pertahanan
terhambat (Kumar et al. 2004).
Peningkatan Prevalensi Diabetes
Prevalensi adalah bagian dari studi epidemiologi yang membawa pengertian
jumlah orang dalam populasi yang mengalami penyakit, gangguan atau kondisi tertentu
pada suatu tempoh waktu dihubungkan dengan besar populasi dari mana kasus itu
berasal. Prevalensi sepadan dengan insidensi dan tanpa insidensi penyakit maka tidak
akan ada prevalensi penyakit. Insidensi merupakan jumlah kasus baru suatu penyakit
yang muncul dalam satu periode waktu dibandingkan dengan unit populasi tertentu
dalam periode tertentu. Insidensi memberitahukan tentang kejadian kasus baru.
Prevalensi memberitahukan tentang derajat penyakit yang berlangsung dalam populasi
pada satu titik waktu (Timmereck, 2001).
Pada Tahun 2000, lima Negara dengan jumlah penderita Diabetes mellitus
terbanyak pada kelompok 20-79 tahun adalah India (31,7 juta), Cina (20,8 juta),
Amerika (17,7 juta), Indonesia (8,4 juta), dan Jepang (6,8 juta). Berdasarkan survei
lokal, prevalensi DM di Pulau Bali pada tahun 2004, mencapai angka 7,2 %. Pada tahun
2005, di DKI Jakarta telah dilakukan survei, dan diperoleh prevalensi DM sebesar 12,8
%. (Suyono, 2005).
Prevalensi Diabetes Mellitus di Indonesia, jika diasumsikan sebesar 2 persen
maka akan didapatkan 3,56 Juta pasien Diabetes Mellitus. Jumlah tersebut merupakan
jumlah yang cukup besar untuk ditangani oleh para ahli Diabetes Mellitus. Angka
tersebut akan cenderung meningkat terus seiring dengan tingkat pertumbuhan
ekonomi. Untuk itu biaya pengelolaan Diabetes Mellitus sangat mahal, diagnosis
secara dini adalah satu-satunya cara untuk mengendalikan penyakit kronis ini
(Krisnatuti dan Hastuti,1995).
Sedangkan menurut laporan PERKENI tahun 2005 dari berbagai penelitian
epidemiologi di Indonesia, menunjukkan bahwa angka prevalensi DM terbanyak
terdapat di kota-kota besar, antara lain : Jakarta 12,8 %, Surabaya 1,8 %, Makassar 12,5

%,dan Manado 6,7 %. Sedangkan prevalensi DM terendah terdapat di daerah pedesaan


antara lain Tasikmalaya sebesar 1,8 % dan Tanah Toraja sebesar 0,9 %. Adanya
perbedaan prevalensi DM di perkotaan dengan di pedesaan menunjukkan bahwa gaya
hidup mempengaruhi kejadian DM (Waspadji, 2005).
Berbagai studi menunjukkan adanya pengaruh pajanan PCBs terhadap
peningkatan prevalensi Diabetes. Salah satunya adalah yang dilakukan di Kota
Anniston, Amerika Serikat pada tahun 2011. Peneliti, Silverstone et.al (2012)
menemukan bahwa ini di antara responden sebanyak 47% Afrika Amerika, 70%
perempuan, dengan usia rata-rata 54,8 tahun. Prevalensi diabetes adalah 27% dalam
populasi penelitian, sesuai dengan estimasi prevalensi 16% untuk Anniston
keseluruhan; beban PCB tubuh 35 congener utama berkisar,11-170,42 ppb, berat
basah. Disesuaikan atau dibandingkan dengan prevalensi diabetes di kelima
dibandingkan kuintil pertama serum PCB adalah 2,78 (95% CI: 1.00, 7.73), dengan
asosiasi sejenis yang diperkirakan untuk kedua melalui kuintil keempat. Dalam peserta
<55 tahun, yang disesuaikan Rasio Perkembangan (OR) diabetes untuk tertinggi
dibandingkan kuintil terendah 4,78 (95% CI: 1.11, 20,6), sedangkan pada mereka 55
tahun, tidak ada hubungan yang signifikan dengan PCB. Prevalensi diabetes
Peningkatan diamati dengan kenaikan 1 SD di tingkat PCB log pada wanita (OR =
1,52; 95% CI: 1,01, 2,28); prevalensi penurunan diamati pada pria (OR = 0,68; 95%
CI: 0,33, 1,41).
Penelitian tersebut adalah salah satu bukti adanya hubungan antara pajanan
PCBs dengan meningkatnya prevalensi dabetes mellitus di Anniston. Silverstone et al
(2012) menyebutkan bahwa peningkatan prevalansi diabetes dapat diakibatkan oleh
adanya interaksi antara pajanan PCBs dengan empat hal yaitu; a) Tingkat pendidikan,
d) Hubungan pernikahan; c) Merokok dan d) Lama tinggal di Anniston.
Pajanan PCBs dapat terjadi di lingkungan tempat manusia banyak beraktivitas.
Menurut ATSDR (2014) manusia dapat mengabsorbsi PCB melalui inhalasi, oral, dan
dermal. Dua sumber utama pajanan PCB berasal dari lingkungan dan tempat kerja.
Karena mereka tahan terhadap degradasi, senyawa PCB sangat chlorinated dapat
bertahan di lingkungan selama beberapa dekade. Namun, selama dua dekade terakhir,
konsentrasi PCB di sebagian besar media lingkungan secara umum mengalami
penurunan.
Makanan adalah sumber utama pajanan PCB untuk masyarakat umum (CDC
2009). Paparan terjadi terutama dengan menelan makanan tinggi lemak seperti produk
susu, telur, lemak, ikan dan satwa liar (ATSDR 2000). CDC menerbitkan Laporan
Nasional Paparan Manusia Kimia Lingkungan. Laporan ini merupakan penilaian
berkelanjutan dari paparan bahan kimia lingkungan pada populasi umum di AS.
Laporan Keempat (CDC 2009) berisi data selama bertahun-tahun 1999-2000, 20012002, dan 2003-2004 dari peserta National Health dan Nutrition Examination Survey
(NHANES).
Dalam lingkungan perairan, lipofilisitas yang tinggi pada PCB menyebabkan
senyawa ini untuk keluar dari air dan terserap menjadi sedimen. Meskipun adsorpsi
sedimen membantu mencegah kontaminasi pasokan air minum, bagian PCB pada
sedimen berperan dalam kecenderungan senyawa ini menjadi terkonsentrasi pada
organisme akuatik. Ikan yang makan dari perairan di bagian bawah (bottom-feeding

fish) secara tidak langsung mengumpulkan PCB dari sedimen. Hambatan dari senyawa
ini, penyebab biodegradasi PCB menjadi lebih terkonsentrasi ketika mereka bergerak
ke atas melalui rantai makanan dari organisme bottom-feeding. Sebagai hasil dari
biokonsentrasi dan biomagnifikasi, tingkat PCB dalam organisme air dapat sebanyak
satu juta kali lebih tinggi dari tingkat dalam lingkungan air (ATSDR 2000). Dalam
studi Nasional Kimia Residu di Fish dilakukan antara tahun 1986 dan 1989 (EPA
1992), konsentrasi rata-rata PCB pada ikan bottom-feeding sebesar 1,9 ppm. Namun,
tingkat PCB setinggi 20 ppm telah terdeteksi pada ikan yang diambil dari perairan
dekat lokasi limbah berbahaya (ATSDR 2000).
Total Studi Diet yang dilakukan oleh Food and Drug Administration (FDA)
telah mengungkapkan bahwa jumlah tingkat PCB telah menunjukkan tren penurunan
konsentrasi dari tahun 1970-an sampai 1980-an dan asupan yang relatif stabil dari tahun
1982 sampai 1997. Sebagai contoh, jumlah diet studi yang dilakukan 1982-1984 untuk
orang dewasa antara usia 25 dan 30 menunjukkan bahwa asupan harian rata-rata PCB
adalah <0,001 mikrogram / kilogram (mg / kg) berat badan / hari sedangkan pada studi
tahun 1997, rata-ratanya adalah 0.002 mg / kg berat badan / hari (ATSDR 2000).
Faktor Risiko dan Penanganan PCBs
Faktor Risiko Penggunaan PCBs dapat diukur dengan tingkat toksisitas pada
PCBs yang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor.diantaranya:
1. Congener PCB. Toksisitas PCB tergantung pada congener PCB yang spesifik
(ATSDR, 2000).
2. Kebakaran dan sumber suhu tinggi. Seperti insinerator limbah berbahaya dan
kebakaran trafo listrik, juga dapat meningkatkan toksisitas campuran PCB dengan
pembentukan CDFS (ATSDR, 2000). Misalnya, dalam kebakaran trafo di
Binghamton (New York), cairan dielektrik terdiri dari 65% Aroclor 1254 dan 35%
benzena polychlorinated adalah pyrolyzed. Pirolisis ini menyebabkan pembentukan
jelaga berminyak, yang didistribusikan ke seluruh bangunan melalui lubang
ventilasi. Selain PCB, jelaga juga mengandung CDF tingkat tinggi, CDDs, termasuk
2,3,7,8-etrachlorodibenzodioxin (TCDD), biphenylenes diklorinasi, dan bahan
kimia lainnya. Informasi yang terbatas tersedia tentang efek kesehatan pada orang
yang terkena jelaga di kulit, jika terhirup, atau konsumsi dari makan dengan tangan
kotor.
3. Pengikatan metabolit PCB dengan makromolekul seluler nukleofilik dapat
berkontribusi pada efek racun dari PCB. PCB dimetabolisme oleh sistem
mikrosomal monooxygenase yang dikatalisis oleh sitokrom P-450 untuk fenol
(melalui intermediet aren oksida), yang dapat terkonjugasi atau dihidroksilasi lebih
lanjut untuk membentuk suatu katekol. Arene oksida intermediet bersifat elektrofilik
di alam, kovalen dan dapat mengikat makromolekul nukleofilik selular (misalnya,
protein, DNA, RNA) dan menginduksi untaian DNA dan perbaikan DNA, yang
dapat berkontribusi terhadap respon toksik dari PCB. Selain itu, arena oksida
intermediet dapat terkonjugasi dengan glutathione dan selanjutnya dimetabolisme

untuk membentuk metabolit metilsulfonil, yang telah diidentifikasi dalam serum dan
jaringan sampel manusia dan pada hewan laboratorium. Pengikatan metabolit
metilsulfonil dengan beberapa protein dapat berkontribusi untuk beberapa efek
racun dari PCB. Hal ini juga telah dihipotesiskan bahwa metabolit PCB
hydroxylated dapat berkontribusi terhadap toksisitas PCB (ATSDR 2013).
Sebagai penangan atau pengurangan dampak PCBs terhadap manusia maka
perlu dilakukan pengaturan Nilai Ambang Batas penggunaan PCBs. Occupational
Safety and Health Administration (OSHA) menyarankan batas pemaparan yang
diizinkan (Pemissible Exposure Limit atau PEL) sebesar 1,0 miligram per meter kubik
(mg / m3) pada area kerja udara selama 8 jam kerja per hari atau 40 jam per minggu
(TWA) untuk PCB yang mengandung 42% klorin (rata-rata rumus molekul C12H7Cl3).
Adapun PEL untuk PCB dengan 54% klorin dan rumus molekul rata-rata C12H5Cl5
adalah 0,5 mg / m3 (OSHA 1998). Kedua standar mencakup semua bentuk fisik
senyawa seperti Aerosol, uap, kabut, spray (semprotan), dan partikel debu yang sarat
akan PCB.
The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH)
merekomendasikan 10 jam TWA dari 1,0 mikrogram per meter kubik (ug / m3)
berdasarkan konsentrasi minimum yang terdeteksi dan potensi karsinogenisitas dari
PCB. NIOSH juga merekomendasikan bahwa semua paparan di tempat kerja dikurangi
ke tingkat terendah yang layak (NIOSH, 2005).
EPA menganggap PCB sebagai zat yang mungkin karsinogen pada manusia
dan melarang limbah industri di bawah Pedoman Water Act Effluent. Tujuan EPA
untuk tingkat kontaminasi maksimum (Maximum Contaminant Level atau MCL) dari
air minum adalah nol, dan MCL untuk PCB dalam sistem air publik sebesar 0.0005
ppm (EPA 2001). EPA mensyaratkan bahwa tumpahan PCB atau secara tidak sengaja
rilis ke lingkungan dari 1 pound atau lebih dilaporkan ke EPA (ATSDR 2000).
FDA mewajibkan toleransi PCB dari 0,2-3,0 ppm untuk semua makanan,
dengan tingkat toleransi pada ikan yaitu 2 ppm. FDA juga membatasi PCB di kertas
bahan makanan kemasan untuk 10 ppm (FDA 1996). The Food and Agriculture
Organization (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membolehkan asupan
PCB harian 6 mg / kg per hari.

Di Indonesia, baku mutu PCB diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun
1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

Upaya Pencegahan Diabetes


Beban penyakit diabetes sangatlah besar apalagi bila terjadi komplikasi. Upaya
pengendalian diabetes menjadi tujuan yang sangat penting dalam mengendalikan
dampak komplikasi yang menyebabkan beban yang sangat berat baik individu maupun
keluarga juga pemerintah (WHO, 2006).
Upaya pencegahan penyakit diabetes mellitus dapat dilakukan dengan cara
yang diungkap oleh Nurrahmani (2012) sebagai berikut:
a. Pencegahan Primer
Cara ini adalah cara yang paling sulit karena sasarannya adalah orang sehat.
Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah agar DM tidak terjadi pada orang
atau populasi yang rentan (risiko tinggi), yang dilakukan sebelum timbul tandatanda klinis dengan cara :

Makan seimbang artinya adalah apa yang dimakan dan apa yang dikeluarkan
seimbang disesuiakan dengan aktifitas fisik dan kondisi tubuh, dengan
menghindari makanan yang mengandung lemak tinggi karena bisa menyebabkan
penyusutan konsumsi energi. Mengkonsusmsi makanan dengan kandungan
karbohidrat yang berserat tinggi dan bukan olahan.
Meningkatkan kegiatan olah raga yang berpengaruh pada sensitifitas insulin dan
menjaga berat badan agar tetap ideal.
Kerjasama dan tanggung jawab antara instansi kesehatan, masyarakat, swasta dan
pemerintah, untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat
b. Pencegahan Sekunder
Ditujukan pada pendeteksian dini DM serta penanganan segera dan efektif,
sehingga komplikasi dapat dicegah.
Hal ini dapat dilakukan dengan skrining, untuk menemukan penderita sedini
mungkin terutama individu/populasi.
Kalaupun ada komplikasi masih reversible / kembali seperti semula.
Penyuluhan kesehatan secara profesional dengan memberikan materi penyuluhan
seperti : apakah itu DM, bagaimana penatalaksanaan DM, obat-obatan untuk
mengontrol glukosa darah, perencanaan makan, dan olah raga.
c. Pencegahan Tersier
Upaya dilakukan untuk semua penderita DM untuk mencegah komplikasi.
Mencegah progresi dari komplikasi supaya tidak terjadi kegagalan organ.
Mencegah kecacatan akibat komplikasi yang ditimbulkan.
Strategi yang bisa dilakukan untuk pencegahan DM adalah :
a. Population/Community Approach (Pendekatan Komunitas).
Strategi ini dilakukan dengan mendidik masyarakat untuk menjalankan gaya
hidup sehat dengan cara:
Mengendalikan berat badan, glukosa darah, lipid, tekanan darah, asam urat.
Menghindari gaya hidup berisiko.
Kerjasama dengan semua lapisan masyarakat.
b. Individual High Risk Approach (Pendekatan Individu) :
Umur > 40th
Obesitas
Hipertensi
Riwayat keluarga / keturunan
Dislipidemia / timbunan lemak dalam darah yang berlebihan
Riwayat melahirkan > 4 kg
Riwayat DM pada saat kehamilan

Berdasarkan informasi Kemenkes RI (2014), pengendalian diabetes mellitus


antara lain dapat digambarkan dalam diagram berikut:

Program pengendalian diabetes mellitus dilaksanakan secara terintegrasi dalam


program pengendalian penyakit tidak menular terintegrasi yaitu antara lain :
1. Pendekatan faktor risiko penyakit tidak menular terintegrasi di fasilitas layanan
primer (Pandu PTM)
Untuk peningkatan tatalaksana faktor risiko utama (konseling berhenti
merokok, hipertensi, dislipidemia, obesitas dan lainnya) di fasilitas
pelayanan dasar (puskesmas, dokter keluarga, praktik swasta)
Tatalaksana terintegrasi hipertensi dan diabetes mellitus melalui
pendekatan faktor risiko
Prediksi penyakit jantung dan stroke dengan charta WHO

2. Posbindu PTM ( Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular)

Pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan dini


dalam memonitoring faktor risiko menjadi salah satu tujuan dalam program
pengendalian penyakit tidak menular termasuk diabetes mellitus. Posbindu
PTM merupakan program pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular
berbasis masyarakat yang bertujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat
terhadap faktor risiko baik terhadap dirinya, keluarga dan masyarakat
lingkungan sekitarnya.
3. CERDIK dan PATUH di Posbindu PTM dan Balai Gaya Hidup Sehat
Program PATUH, yaitu :
P : Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter
A : Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur
T : Tetap diet sehat dengan gizi seimbang
U : Upayakan beraktivitas fisik dengan aman
H : Hindari rokok, alcohol dan zat karsinogenik lainnya
Program CERDIK, pesan peningkatan gaya hidup sehat yang disampaikan di
lingkungan sekolah, yaitu :
C : Cek kondisi kesehatan secara berkala
E : Enyahkan asap rokok
R : Rajin aktivitas fisik
D : Diet sehat dengan kalori seimbang
I : Istirahat yang cukup
K :Kendalikan Stress
Penutup
Dari penjelasan di atas, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Peningkatan prevalensi diabetes oleh PCBs sangat dipengaruhi oleh interaksi
pajanan PCBs dengan gaya hidup masyarakat seperti tingkat pendidikan, hubungan
pernikahan; merokok dan lama tinggal di daerah pajanan PCBs.
2. Faktor risiko PCBs berasal dari congener PCBs, kebakaran dan sumber suhu tinggi
serta pengikatan metabolit PCB dengan makromolekul seluler nukleofilik.
3. Upaya penanganan dan pengendalian penyakit diabetes di Masyarakat dapat
dilakukan dengan Population/Community Approach (Pendekatan Komunitas) serta
Individual High Risk Approach (Pendekatan Individu)

DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association [ADA]. 2012, Diagnosis and Classification of
Diabetes Mellitus. Diabetes Care volume 35 Supplement 1 : 64-71.
[ATSDR]. 2000, Toxicological Profile For Polychlorinated Biphenyls (PCBs)
[online]. Available from: http://www.atsdr.cdc.gov/toxprofiles/tp17.pdf [24
Mei 2016]

[ATSDR]. 2014, ATSDR Case Studies in Environmental Medicine Polychlorinated


Biphenyls
(PCBs)
Toxicity
[online].
Available
from:
http://www.atsdr.cdc.gov/csem/pcb/docs/pcb.pdf [27 Mei 2016]
Biswas, Animesh. 2006. Prevention of Type 2 Diabetes Life style modification with
diet and physical activity Vs activity alone, Karolinka Institute.
Colon T, Smolen M. 1996. Epidemiological Analysis of Persistent Organochlorines
Contamination in Ctraceans. Reviews of Environmental Contamination and
Toxicology Journal 146: 91-172.
Connel (2006) Connell DW, Miller G J. 2006. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran.
UI Press: Indonesia.
Hutzinger O, Safe S, Zitko V. 1974. The Chemistry of PCBs. CRC Press., Boca
Raton, Florida:269 pp.
Jones RE, Hutcher SE. 2006. Alterations of hormonal regulations. In:
Pathophysiology: The Basic for Disease in Adults and Children. Ed 5th .
Philadelphia. Elsevier. 2006 : p.716-8
Kardika, Ida Bagus Wayan, dkk. 2009. Preanalitik dan Interpretasi Glukosa Darah
untuk Diagnosis Diabetes Melitus. Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana, Bali.
Krisnatuti, D.K., dan Hastuti, DM. 2002. Perencanaan Menu Untuk Penderita
Diabetes Melitus. PT. Penebar Swadaya. Jakarta
Kumar V. Abbas AK. Fausto N. 2004. Pathologic Basis of Disease, 7th edition,
Philadelphia (US); W.B. Saunders Co.
Munawir, K. 2010. Kadar poliklorobifenil (PCB) dalam air laut di perairan Kalimantan
Timur. Jurnal Lingkungan Tropis, 4(1).
National Academy of Sciences [NAS]. 2001. A Risk-Management Strategy for PCBContaminanted Sediments. National Academy Press: United States of America.
Nurrahmani, Ulfah. 20012. Stop! Diabetes Mellitus. Familia, Yogyakarta.
Oliver BG, Baxter RM, Lee HB. 1989. Polychlorinated Biphenyls. Di dalam: Afghan
BK, Chau ASY, editor. Analysis of Trace Organic in the Aquatic Environment.
Boca Raton, Florida: CRC Press. hlm 3168
PERKENI. 2011. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan DM tipe 2 di Indonesia.
Purnamasari, D. 2009. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Mellitus. In: Sudoyo, Aru
W., Bambang Setyohadi, Idrus Alwi, Marcellus Simadibrata, Siti Setiati. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Ed 5. Jakarta: Interna Publishing.
Saputro SH, Setiawan H. 2007. Epidemiologi dan factor-faktor risiko terjadinya
diabetes mellitus tipa 2.Dalam: Darmono, Suhartono T, Pemayun TGD,
Padmomartono FS, eds. Naskah lengkap diabetes mellitus ditinjau dari berbagai
aspek penyakit dalam. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro:
p.133-54
Schteingart DE. 2005. Pankreas: matabolisme glukosa dan diabetes mellitus. Dalam:
Price SA, Wilson LM. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi
6. Jakarta: EGC, 2005 ; 2 : 1259-74
Silverstone, Allen. Et Al. 2012. Polychlorinated Biphenyl (PCB) Exposure and
Diabetes: Results from the Anniston Community Health Survey. Environmental
Health Perspectives. Volume 120, Number 5

Soemarno, MS, 2011, Sampah Jangan Dibakar Banyak Mudhoratnya, PDKLP


PPSUB.
Sudarmaji, dkk. 2006. Toksikologi Logam Berat B3 dan Dampaknya terhadap
Kesehatan. www.journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php
Suyono S. 2005. Diabetes Melitus di Indonesia. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi
IV. Jakarta: Pusat penerbitan Ilmu Penyakit dalam FK UI.
Timmreck, Thomas. 2001. Epidemiologi Suatu Pengantar. Edisi Ke-2. Kedokteran
EGC. Jakarta
United Nations Enviroment Proramme [UNEP].1999.Guidelines for the Identification
of PCBs and Material Containing PCBs.UNEP Chemical:Switzerland.
Waspadji. S. 2005. Telaah Mengenai Faktor Metabolik dan Respon Imun pada Pasien
DM Tipe 2. Program Pascasarjana UI. Jakarta
World Health Organisation [WHO]. 2006. Diabetes mellitus : Report of a WHO Study
Group. World Health Organisation. Geneva-Switzerland. 2006. S5-36