Anda di halaman 1dari 4

TITIK KRITIS DALAM PEMBUATAN SEDIAAN KRIM

A.

B.
1.

2.

3.

4.

C.

Pemilihan zat aktif untuk sediaan krim harus dalam bentuk aktifnya.
Apabila zat aktif yang diberikan pada soal masih dalam bentuk prodrug maka
perlu memilih bentuk aktif yang paling stabil.
Misalnya: pada soal yang diberikan adalah krim Prednison, namun Prednison
masih prodrug, jadi diambil bentuk Prednisolon yang sudah dalam bentuk
aktifnya.
Pemilihan basis krim harus disesuaikan dengan sifat atau kestabilan
zat aktif yang digunakan.
Bila zat aktif larut lemak, maka sebaiknya tipe emulsi
A/M dan demikian pula sebaiknya. Namun akan lebih baik jika
menggunakan tipe emulsi M/A karena tidak oklusif dan mudah
dibersihkan dengan air. Zat aktif yang sukar larut, sgt sukar larut,
praktis tdk larut dalam air perlu ditambahkan humektan agar dapat
membuat tipe emulsi M/A
Jika stabilitas zat aktif terhadap pH tidak baik maka
perlu penggunaan dapar, jika stabilitas zat aktif terhadap pH baik maka tidak
perlu penggunaan dapar.
Kompatibilitas dan inkompatibilitas zat aktif dengan
bahan tambahan maupun basis dan bahan tambahan yang satu dengan bahan
tambahan lainnya dalam sediaan harus diperhatikan.
Sifat termolabil zat aktif mempengaruhi proses
pencampuran zat aktif ke dalam basis. Ini menentukan pemilihan cara
pembuatan krim.
Indikasi farmakologi zat aktif perlu diperhatikan, sehingga dapat
disesuaikan dengan pemilihan dosis dan kekuatan sediaan, serta pemilihan
bentuk krim. Misalnya apabila diindikasikan untuk luka terbuka yang besar
atau kulit yang parah, maka krim yang dibuat harus dalam bentuk steril.

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN


A.

Pada pembuatan krim perlu ditambahkan pengawet, karena krim


mengandung banyak air yang merupakan media yang baik untuk pertumbuhan
mikroorganisme dan kemungkinan terjadi kontaminasi mikroorganisme yang
berasal dari bahan baku, alat maupun selama penggunaan sediaan. Contoh
pengawet: klorkresol, asam benzoat, asam sorbat, metilparaben atau
propilparaben, dll.
B.
Interaksi antara pengawet dan bahan pengemulsi dapat menginaktivasi
pengawet.

C.

D.

E.

F.
G.

H.

minyak, maka perlu ditambahkan antioksidan untuk mencegah


terjadinya ketengikan. Contoh antioksidan: tokoferol, alkil galat, BHA, BHT,
garam Na dan K dari asam sulfit, asam edetat dan asam-asam organik seperti
sitrat, maleat, tartrat atau fosfat untuk khelat terhadap sesepora logam.
Penggunaan emulgator harus disesuaikan dengan jenis krim yang
dikehendaki dan tersatukan dengan zat aktif. Dalam memilih emulgator perlu
diperhatikan harga HLB butuhnya. Umumnya digunakan kombinasi
emulgator. Contoh emulgator yang biasa digunakan:
1. Golongan alam : gom arab, tragakan, PGS
2. Semi Sintetik : TEA-stearat, TEA-lauril sulfat, Na-stearat, Span/Tween
20,40,60,80,85, macrogol-300, 4000, 1540, setil alkohol, GMS, emulgid
3. Zat terbagi halus: veegum, bentonit
Perbandingan jumlah emulgator yang digunakan dapat dihitung melalui
perbandingan HLB. Misalnya Emulgator yang diperlukan 7 gram, Ariacel 80
Humektan atau pembasah diperlukan karena mayoritas obat di krim
adalah hidrofob. Pemilihan humektan didasarkan pada sifatnya untuk menahan
air dan efeknya terhadap viskositas dan konsistensi produk akhir. Bahan-bahan
yang biasa digunakan sebagai humektan pada krim adalah: gliserol,
propilenglikol, sorbitol, dan makrogol dengan BM rendah.
Pada penimbangan perlu dilebihkan sebanyak 10% atau 5% untuk
mengantisipasi adanya massa yang terbuang selama pembuatan krim.
Pembuatan krim sebaiknya dilakukan secara aseptik, semua alat yang
dibutuhkan harus direbus dalam air dan kemudian didinginkan dan dikeringkan
(steril).
Pembuatan krim biasanya dilakukan dengan metode pelelehan atau
triturasi. Pada metode pelelehan, zat aktif yang akan digunakan ditimbang dan
digerus halus sesuai dengan ukuran partikel yang dikehendaki. Basis
semisolida yang tahan pemanasan dipanaskan di atas penangas air hingga di
atas suhu leleh (sampai lumer). Untuk sediaan krim pemanasan fasa air dan
minyak dilakukan terpisah masing-masing dilakukan pada suhu 70oC. Setelah
dipanaskan masukkan ke dalam mortir hangat (dengan cara membakar alkohol
di dalam mortir), aduk homogen, hindari adanya gelembung udara, sampai
dingin dan terbentuk masa semisolida. Yang penting dalam metode ini adalah
zat aktif harus stabil terhadap perubahan suhu pada saat pemanasan. Untuk zat
aktif yang tidak stabil pada suhu, dapat menggunakan metode triturasi, dimana
zat yang tidak larut didistribusikan dengan sedikit basis atau dengan salah satu
zat pembantu, lalu ditambahkan sisa basis. Dapat juga digunakan pelarut
organik untuk melarutkan terlebih dulu zat aktif kemudian dicampurkan
dengan basis yang akan digunakan.

I.

J.
K.
1.
2.
3.
4.
L.
M.

N.
O.
1.

2.

3.

Jika krim diwadahkan dalam tube alumunium, maka tidak boleh


digunakan pengawet senyawa raksa organik karena akan terbentuk
kompleks pengawet aluminium dan untuk mengatasinya tube harus dilapisi
dengan bahan yang inert. Untuk itu, saat memasukkan krim ke dalam tube,
krim dimasukkan beserta kertas perkamennya, untuk melindungi dari dinding
tube, dan juga bisa ditambahkan zat pengkhelat.
Untuk tube yang mudah berkarat, maka bagian tube sebelah dalam
harus dilapisi dengan larutan dammar dalam pelarut mudah menguap.
Pada etiket harus tertera Obat Luar, dan untuk antibiotika harus
tercantum daluarsanya. Pada etiket tercantum:
Bila perlu, bahwa krim tersebut steril.
Tanggal kadaluarsa, dimana krim tidak boleh digunakan lagi.
Kondisi penyimpanan.
Pada label dicantumkan nama dan konsentrasi antimikroba
sebagai pengawet yang ditambahkan.
Krim sebaiknya disimpan pada suhu tidak lebih dari 25 oC, kecuali
dinyatakan lain oleh produsen. Krim tidak boleh didinginkan.
Wadah tertutup rapat, sehingga mencegah penguapan dan kontaminasi
dari isinya. Bahan dan konstruksinya harus tahan terhadap sorpsi atau difusi
isinya.
In Process Control (IPC) yang dilakukan adalah homogenitas.
Pada evaluasi sediaan dilakukan:
Evaluasi fisik
a.
Penampilan (nondestruktif)
b.
Homogenitas (nondestruktif)
c.
Viskositas dan rheologi (destruktif)
d.
Ukuran partikel (destruktif)
e.
Stabilitas krim (destruktif)
f.
Isi minimum (nondestruktif)
g.
Penentuan tipe emulsi (destruktif)
h.
Penetapan pH (destruktif)
i.
Uji pelepasan bahan aktif dari sediaan (destruktif)
j.
Uji kebocoran tube (nondestruktif)
Evaluasi Kimia
a.
Identifikasi (destruktif)
b.
Uji penetapan kadar (destruktif)
Evaluasi Biologi
Penetapan potensi antibiotik (destruktif)

PERMASALAHAN YANG BERUPA KERUSAKAN KRIM


A. Cracking, yaitu koalesen dari globul yang terdispersi dan pemisahan fase
terdispersi membentuk lapisan yang terpisah. Penyebab cracking adalah
penambahan emulgator dengan tipe berlawanan dan dekomposisi atau
pengendapan emulgator. Penyebab lainnya adalah penambahan larutan dimana
fase terdispersi dan pendispersinya dalam bentuk terlarut pada sistem satu fasa
yang merusak emulsi, aksi mikroba (jamur dan bakteri) dan inkorporasi dari
fase terdispersi yang berlebihan Jika partikel dari fase terdispersi berbentuk
sferis dan seragam maka volumenya tidak akan melebihi 74% dari volume total
emulsi, tetapi kebanyakan bentuk partikel tidak sferis dan tidak seragam maka
volume yang terjadi lebih dari 74% dari volume total sehingga terjadi cracking.
B. Creaming, terjadi emulsi yang terkonsentrasi sehingga membentuk krim pada
permukaan emulsi. Creaming dapat diminimalkan dengan:
1.
Mengurangi ukuran partikel terdispersi dan distribusi ukuran
globul
2.
Meningkatkan
viskositas
fase
pendispersi
untuk
mempertahankan pergerakan globul
3.
Disimpan ditempat sejuk
C. Flokulasi (agregasi), merupakan agregasi yang reversibel dari droplet fase
dalam berbentuk cluster 3 dimensi. Flokulasi disebabkan oleh kurang
emulgator.

DAPUS
Nurul H. 2013. Laporan Praktik Kerja Profesi Apoteker di PT.Glaxo Wellcome
Indonesia. Jakarta Timur. Universitas Indonesia
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V.
Jakarta:Direktorat Jendal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Badan POM RI.2012.Petunjuk Operasional Penerapan Pedoman Cara Pembuatan
Obat yang baik 2012. Jilid 1. BPOM:Jakarta