Anda di halaman 1dari 3

A.

DEFINISI
Hidradenisitis suppurativa atau acne inversa (HS) adalah suatu penyakit
inflamasi jaringan adneksa kulit yang cukup umum, multifaktorial dan
kronik. The first International Hidradenitis Suppurativa Research
Symposium (2006, Dessau, Germany) merumuskan definisi berikut ini:
Hidradenitis suppurativa adalah suatu penyakit kerusakan jaringan kulit
(folikel rambut) yang kronik, inflamatif, dan berulang yang umumnya
terjadi setelah masa pubertas dengan rasa nyeri, dalam, lesi inflamasi pada
kelenjar apokrin tubuh, biasanya mengenai daerah aksila, inguinal dan
anogenital.
B. ETIOLOGI
Hidradenitis suppurativa adalah suatu penyakit pada ujung folikel rambut
yang

berhubungan

dengan

inflamasi

lymphohistiositik,

reaksi

granulomatosa, traktus sinus, dan meninggalkan bekas luka. Secara


konsisten, studi histologi menunjukkan bahwa hidradenitis suppurativa
adalah penyumbatan folikel akibat hiperkeratosis. Hal ini menyebabkan
tersumbatnya kelenjar apokrin yang diikuti dengan ruptur folikular,
inflamasi perifolikular dan memungkinkan terjadinya infeksi sekunder.
1) Struktur adneksa.
Secara klasik, hidradenitis suppurativa dianggap sebagai penyakit
utama pada kelenjar apokrin dan juga disebut sebagai apokrinitis.
Lokasi anatomi penyakit ini pada kelenjar apokrin telah mendukung
konsep ini. Shelley dan Cahn telah memberikan bukti pendukung
tambahan untuk konsep ini dengan hipotesis bahwa sumbatan polar
saluran apokrin menyebabkan lesi klinis dan patologis menggunakan
model eksperimen mereka.
2) Faktor genetik
Adanya riwayat keluarga yang menderita penyakit hidradenitis
suppurativa diperoleh pada 26% pasien. Beberapa penelitian tidak
menunjukkan adanya hubungan dengan HLA (Human Leucocyte
Antigen). Namun beberapa penelitian lainnya menunjukkan adanya
penurunan autosomal dominan dengan single gene transmission.
Namun, lokus genetik yang terkait tidak ditemukan.

3) Penyakit terkait
Adanya hidradenitis supurativa dan penyakit crohn secara bersamaan,
memberikan gambaran klinis khusus yang melibatkan regio perianal.
4) Hormon dan androgen
Kecenderungan terjadinya hidradenitis suppurativa ketika pubertas
atau setelah pubertas menunjukkan adanya pengaruh androgen. Selain
itu, adanya peningkatan kejadian yang dilaporkan pada pasien
postpartum yang berhubungan dengan penggunaan pil kontrasepsi oral
dan pada periode premenstrual (sekitar 50% pasien). Pada beberapa
penelitian terapi antiandrogen memperlihatkan keuntungan terapetik
5) Obesitas
Obesitas bukan merupakan faktor penyebab terjadinya hidradenitis
suppurativa namun sering dianggap sebagai faktor yang memperberat
melalui peningkatan gaya gesek, oklusi, hidrasi keratinosit, dan
maserasi.

Obesitas

juga

memperberat

penyakit

ini

dengan

meningkatkan androgen. Penurunan berat badan dianjurkan bagi


pasien dengan berat badan berlebih dan dapat membantu mengontrol
penyakit
6) Infeksi bakteri
Peranan infeksi bakteri pada hidradenitis suppurativa masih belum
jelas. Diduga patogenesisnya sama dengan peranan bakteri pada
timbulnya jerawat. Obat antibakteri biasa digunakan sebagai terapi.
Keterlibatan bakteri terjadi secara sekunder. Kultur biasanya
menunjukkan hasil yang negatif, namun sejumah bakteri dapat
ditemukan dari lesi. Staphylococcus aureus dan coagulase-negativestaphylococcus adalah yang paling sering diisolasi. Namun, bakteri
lain termasuk Streptococcus, basil gram negatif, dan anaerob, juga
dapat ditemukan.
7) Merokok
Perokok paling sering ditemukan pada penderita hidradenitis
suppurativa dibandingkan dengan kontrol yang sehat. Satu penelitian
kohort menunjukkan bahwa 70% dari 43 pasien dengan hidradenitis
suppurativa perineal adalah perokok. Diperkirakan bahwa merokok

dapat mempengaruhi kemotaksis sel polimorfonuklear. Penghentian


merokok dapat memperbaiki manifestasi klinis penyakit ini.
C. EPIDEMIOLOGI
Beberapa laporan yang ada menunjukkan epidemiologi hidradenitis
suppurativa yang bervariasi. Studi saat ini menunjukkan prevalensi
hidradenitis suppurativa sebesar 1% dari sampel yang diambil dari
populasi prancis (n=10.000). Penyakit ini lebih cenderung terjadi pada
perempuan daripada laki-laki, dengan perbandingan 2:1 sampai 5:1.
Alasan kecenderungan hal ini belum diketahui. Hidradenitis suppurativa
jarang muncul sebelum pubertas atau setelah menopause. Rata-rata onset
terjadinya pada usia 23 tahun. Meskipun penyakit ini dapat berkembang
dari kelenjar apokrin kulit, lesi genitofemoral lebih sering terjadi pada
perempuan,

sedangkan

berdasarkan jenis kelamin.

lesi

aksila

tidak

menunjukkan

predileksi