Anda di halaman 1dari 17

I.

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Menurut Youdastyo (2012), perikananan merupakan semua kegiatan
yang berkaitan dengan ikan, termasuk memproduksi ikan, baik melalui
penangkapan (perikanan tangkap) maupun budidaya dan atau mengolahnya
untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pangan sebagai sumber protein
dan non pangan (pariwisata, ikan hias dan lain-lain). Kegiatan perikanan dari
tahun ke tahun makin meningkat sesuai dengan kebutuhan manusia. Oleh
karena itu, kegiatan budidaya diterapkan untuk memenuhi kebutuhan
manusia dan menjadi restocking untuk alam.
Budidaya perikanan dapat digolongkan dalam berbagai jenis lokasi
sesuai dengan kondisi perairan yang memadai untuk proses pembudidayaan
ikan itu sendiri antara lain : budidaya air tawar (freshwater culture), budidaya
air payau (brackishwater culture), dan budidaya ikan air laut (mariculture).
Proses pembudidayaan ikan air tawar memiliki kriteria dan ketentuan yang
harus memadai suatu lokasi untuk tempat pembudidayaan yaitu :
tersedianya sumber air, kondisi lingkungan, kondisi iklim dan potensi pasar
dalam melakukan budidaya (Youdstyo, 2012).
Salah satu ikan yang dapat di budidayakan adalah Ikan Nila, karena
Ikan Nila memiliki keunggulan antara lain mudah dikembangbiakan dan daya
kelangsungan hidupnya tinggi, pertumbuhannya relative cepat dan ukuran

badan yang relative besar, dagingnya berwarna putih, rasanya enak dan
tidak berduri, tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan. Kelebihan ikan
nila adalah dapat hidup di air tawar, payau dan laut serta tahan terhadap
penyakit. Ikan Nila (Oreocromis niloticus) merupakan jenis ikan konsumsi air
tawar dengan bentuk tubuh memanjang dan pipih ke samping dan warna
putih kehitaman. Ikan Nila berasal dari sungai Nil dan danau-danau
sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara dilima benua
yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di wilayah yang beriklim
dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik Ikan Nila disukai oleh berbagai
bangsa karena dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan kakap merah
(Kurniaji dkk, 2012).
Berdasarkan uraian di atas maka dibuatlah makalh ini untuk
mengetahui lebih detail bagaimana membudidayakan ikan nila.
I.2 Rumusan Masalah
Rumusan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana klasifikasi ikan nila ?
2. Bagaimana sifat biologi ikan nila ?
3. Bagaimana teknik budidaya ikan nila ?
I.3 Tujuan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui klasifikasi ikan nila.
2. Untuk mengetahui sifat biologi ikan nila.
3. Untuk mengetahui teknologi budidaya ikan nila.

II.

PEMBAHASAN

II.1 Klasifikasi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Gambar 1. Ikan nila (Oreochromis niloticus) (Suyanto, 2010).


Klasifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus) lengkap yang kini dianut oleh
para ilmuwan adalah yang telah dirumuskan oleh Dr. Trewavas (1980)
adalah sebagai berikut (Suyanto, 2010) :
Filum
: Chordata
Sub-filum
: Vertebrata
Kelas
: Osteichthyes
Sub-kelas
: Acanthoptherigii
Ordo
: Percomorphi
Sub-ordo
: Percoidea
Famili
: Cichlidae
Genus
: Oreochromis
Spesies
: Oreochromis niloticus
Awalnya, ikan nila dimasukkan ke dalam Tilapia nilotica atau ikan dari
golongan tiapia yang tidak mengerami telur dan larva di dalam mulut
induknya. Dalam perkembangannya, para pakar perikanan menggolongkan
ikan nila ke dalam jenis Sarotherodon niloticus atau kelompok ikan tilapia
yang mengerami telur dan larvanya di dalam mulut induk jantan dan
betinanya (Khairuman dan Amri, 2013).
Akhirnya, diketahui bahwa yang mengerami telur dan larva di dalam mulut
ikan nila hanya induk betinanya. Para pakar perikanan kemudian
memutuskan bahwa nama ilmiah yang tepat untuk ikan nila adalah
Oreochromis niloticus atau Orechromis sp. Nama nilotica menunjukkan
tempat ikan ini berasal dari sungai Nil di Benua Afrika. Secara alami, ikan ini

melakukan migrasi dari habitat aslinya, yakni di bagian hulu Sungai Nil yang
melewati Uganda ke arah selatan melewati Danau Raft dan Tanganyika
(Khairuman dan Amri, 2013).
II.2 Sifat Biologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
II.2.1 Morfologi Ikan Nila
Bentuk morfologi ikan nila (Oreochromis niloticus) memang berbeda
dengan kelompok tilapia. Secara umum, bentuk tubuh ikan nila
memanjang dan ramping dengan sisik berukuran besar. Bentuk
matanya besar dan menonjol dengan tepi berwarna putih. Gurat sisi
(Linea literatis) terputus di bagian tengah tubuh kemudian berlanjut
lagi, tetapi letaknya lebih ke bawah dibandingkan dengan letak garis
yang memanjang di atas sirip dada. Jumlah sisik pada gurat sisi
sebanyak 34 buah. Sirip punggung, sirip perut dan sirip duburnya
memiliki jari-jari lemah, tetapi keras dan tajam seperti duri. Sirip
punggung dan sirip dada tmpak hitam. Pinggir sirip punggung
berwarna abu-abu atau hitam (Khairuman dan Amri, 2012).

Ciri-ciri morfologi yang membedakan benih ikan nila jantan dan


betina dapat dilihat pada tabel berikut (Rukmana, 2007) :
No
.
1.

Bagian tubuh
ikan yang diamati
Alat kelamin

2.

Sisik

3.

Sirip

punggung

Ciri-ciri morfologi ikan


Jantan
Betina
Berupa satu lubang di
papila yang berfungsi
sebagai muara urine
dan sperma
Lebih besar dari sisik
benih ikan nila betina
Bergaris
hitam

Berupa dua lubang di


papila yaitu lubang
muara
urine
dan
pengeluaran telur.
Lebih kecil dari sisik
benih ikan nila jantan
Bergaris-garis tidak

4.
5.

dan sirip ekor


Sisik di bawah
dagu, perut
Hidung dan rahang

terputus-putus.
Berwarna gelap
Melebar dan berwarna
biru muda

tidak terputus.
Berwarna
putih
(cerah)
Lancip dan berwarna
kuning terang

II.2.2 Syarat Hidup Ikan Nila


Ikan nila memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan
hidupnya sehingga bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau
hingga di dataran tinggi yang berair tawar. Habitat hidup ikan nila
cukup beragam, mulai dari sungai, danau, waduk, rawa, sawah, kolam,
hingga tambak. Ikan nila dapat tumbuh secara normal pada kisaran
suhu 14oC 38oC dan dapat memijah secara alami pada suhu 23 oC
37oC. Untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan, suhu optimum bagi
ikan nila adalah 25oC 30oC. Pertumbuhan ikan nila biasanya akan
terganggu jika suhu habitatnya lebih rendah dari 14 oC atau suhu tinggi
38oC. Ikan nila akan mengalami kematian pada suhu 6oC atau 42oC
(Khairuman dan Amri, 2013)
Faktor lain yang bisa memengaruhi kehidupan ikan nila adalah
salinitas atau kadar garam di suatu perairan. Ikan nila bisa tumbuhdan
berkembang biak pada kisaran salinitas 0o/oo 29o/oo (per mil). Jika
kadar garamnya 29o/oo 35o/oo ikan nila bisa tumbuh, tetapi tidak bisa
berproduksi. Ikan nila yang masih kecil atau benih biasanya akan lebih
cepat menyesuaikan diri dengan kenaikan salinitas dibandingkan
dengan ikan nila yang berukuran besar (Khairuman dan Amri, 2013).
II.2.3 Kebiasaan Makan Ikan Nila
Dalam iktiologi (kajian tentang ikan), ikan nila digolongkan ke hewan
omnivora yaitu ikan pemakan segala, baik hewan maupun tumbuhan.

Ikan nila memakan plankton, perifiton dan tumbuh-tumbuhan lunk


seperti hydrilla, ganggang sutera dan kelekap. Saat dibudidayakan,
ikan nila cukup diberi makanan seperti dedak halus, tepung bungkil
kacang dan ampas kelapa untuk pertumbuhannya. Namun, agar bisa
tumbuh lebih baik ikan nila sebaiknya diberi pakan buatan berbentuk
pelet yang mengandung protein 20 25%. Pertumbuhan optimal ikan
nila terjadi jika diberi pelet yang mengandung protein 25%. Untuk
memacu

pertumbuhan

ikan

nila

sebaiknya

beri

pakan

yang

mengandung protein 25 30% (Ghufran dan Kordi, 2013).


Kebiasaan makan ikan nila berbeda, sesuai dengan tingkatan
umurnya. Benih ikan nila lebih suka memakan zoo plankton seperti
Rototaria, Copepoda dan Clodocera. Sementara itu, ikan nila dewasa
memiliki kemampuan mengumpulkan makanan di perairan dengan
bantuan mucus (lendir) di dalam mulutnya. Makanan tersebut
membentuk gumpalan partikel sehungga tidak mudah keluar. Di alam
bebas, ikan nila kecil mencari makanan di bagian perairan yang
dangkal sedangkan ikan nila yang berukuran lebih besar mencari
makanan di perairan dalam (Ghufran dan Kordi, 2013).

II.2.4 Reproduksi Ikan Nila

Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar yang


sangat mudah sekali dipelihara dan dipijahkan. Bahkan ikan nila
mudah memijah secara alami. Untuk kolam pemijahan sebaiknya
dasar kolam didesain miring dengan tingkat kemiringan sekitar 2

atau 5%. Pada dasar kolam atau lantai kolam pemijahan dibuat
kubangan-kubangan

(kemalir)

sedalam

20

atau

30

cm.

Kubangan-kubangan tersebut nantinya akan digunakan indukan


sebagai tempat memijah. Pemijahan ikan nila bisa dilakukan
secara massal dengan perbandingan jumlah indukan jantan dan
indukan betina 1 : 3 (1 indukan jantan dan 3 indukan betina).
Padat tebar kolam pemijahan adalah 1 ekor indukan per m 2
(Azzamy, 2016).
Pemijahan ikan nila pada umumnya berlangsung pada hari ke
tujuh sejak indukan dimasukkan ke kolam pemijahan. Pemberian
pakan selama proses pemijahan sebaiknya harus mengandung
protein yang tinggi yaitu pakan yang memiliki kadar protein
diatas 35%. Pemijahan akan terjadi pada kubangan-kubanagan
(kemalir) yang telah dibuat di dasar kolam. Indukan betina akan
mengeluarkan telur pada tempat tersebut dan kemudian akan
dibuahi oleh indukan jantan. Setelah dibuahi telur akan dierami
oleh indukan betina di dalam rongga mulutnya (Azzamy, 2016).
Indukan betina akan mengerami telur di dalam mulutnya
selama sekitar 7 hari. Selama proses pengeraman tersebut
pemberian pakan sebaiknya dikurangi, karena saat mengerami
telur indukan betina tidak makan alias berpuasa. Hal ini juga
akan mengurangi biaya produksi dan pengeluaran biaya untuk
pembelian pakan bisa ditekan (Azzamy, 2016).

Setelah 7 hari biasanya telur-telur dierami di dalam mulut


indukan betina akan menetas menjadi larva. Sebaiknya saat
melakukan persiapan kolam diberikan pupuk dasar supaya
pakan alami akan tumbuh di dalam kolam. Pakan alami tersebut
berguna sebagai pakan larva ikan nila yang baru menetas. Induk
betina akan mengeluarkan larva dari mulutnya secara serempak
jika ia merasa didalam kolam banyak tersedia pakan alami untuk
anak-anaknya. Larva ikan nila yang sudah menetas dan sudah
dikeluarkan dari mulut induk betina segera dipindahkan ke kolam
pemeliharaan larva. Larva dipindahkan ke kolam pemeliharaan
larva setelah berumur 5 7 hari setelah menetas (Azzamy,
2016).

II.3 Teknologi Budidaya


II.3.1 Pembenihan Ikan Nila
Berikut cara pembenihan ikan nila dengan baik (Fredikuniawan,
2016) :
1. Pemilihan tempat pembenihan ikan nila
Hal yang harus dilakukan pertama yaitu mempersiapkan
kolam pembenihan ikan nilai. Ada terdapat empat kolam yang
dibutuhkan

untuk

melakukan

pembenihan

ikan

nilai

yaitu

diantaranya :
a. Kolam pemeliharaan indukan. Kolam ini digunakan untuk
memelihara indukan jantan dan indukan betina. Dengan cara
melakukan pemisahan kolam antara ikan jantan dan betina.

Sehingga membutuhkan dua kolam pemeliharaan indukan,


dengan ukuran sekitar 100-140 cm.
b. Kolam pemijahan. Kolam pemijahan
mengawinkan

indukan

jantan

dan

digunakan

betina.

Jenis

untuk
kolam

pemijahan ikan nilai sebaiknya menggunakan dasar tanah,


serta dilengkapi dengan kubang-kubangan atau kemalir.
c. Kolam pemeliharaan larva. Kolam ini digunakan untuk
memelihara larva ikan yang baru menetas. Kolam yang
digunakan bisa terbuat dari semen, kolam tanah atau hapa.
d. Kolam pendederan benih. Kolam ini digunakan untuk
membesarkan benih ikan sampai memiliki ukuran 10-12 cm.
atau sampai ikan nila bisa di besarkan di kolam budidaya
pembesaran.
2. Pemilihan indukan ikan nila
Indukan ikan nila harus memiliki genitis yang bersifat unggul.
Untuk mendapatkan ikan nilai yang unggul sebaiknya mencari
tempat yang terpercaya seperti BBPBAT atau balai perikanan
setempat. Namun, jika sudah menemukan balai setempat. Lakukan
pemilihan indukan ikan nilai sebagai berikut:
a. Berasal dari keturunan yang berbeda
b. Kondisi sehat dan bentuk badan normal (tidak cacat)
c. Sisik besar, susunan rapi
d. Bagian kelapa kecil di bandingkan dengan badannya
e. Badan tebal dan warna mengkilap
f.

Gerakan lincah, responsif terhadap pemberian pakan


Ikan nilai dewasa betina memasuki matang gonad setelah

berumur 5-6 bulan. Indukan betina bisa dilakukan pemijahan telah


mencapai bobot 200-250 gram dan indukan jantan 250-200 gram.
Satu indukan betina dengan bobot 200-250 gram menghasilakn

telur 500-1000 butir. Dari jumlah teresbut yang menetas menjadi


larva hanya berkisar 200-400 ekor.
Namun masa produktif pembenihan ikan nila berumur 1,5-2
tahun. Indukan yang sudah dibenihkan lebih dari 2 tahun sebaiknya
diganti dengan yang baru. Karena kualitas dan kuantitas anakan
akan menurun. Indukan ikan nila yang telah memijah siap
dipijahkan kembali setelah 3-6 minggu.
3. Pemeliharan indukan ikan nila
Kolam pemeliharan indukan jantan dan betina harus memiliki
sumber pengairan yang berbeda dengan disusun seri. Buangan air
dari kolam jantan tidak masuk ke kolam betina dan sebalaiknya.
Hal ini harus dihindari terjadinya pemijahan luar. Misalnya, sperma
jantan terbawa ke kolam betina sehingga terjadi pembuahan.
Pemberian indukan ikan nila sebaiknya memiliki kadar protein
yang tinggi, lebih 35%. Berbeda dengan ikan nila untuk
pembesaran yang hanya membutuhkan kadar protein 2%.
Kandungan protein yang diperlukan agar pertumbuhan gonad
maksimal. Jumlah pakan yang diperlukan indukan sebanyak 3%
dari bobot ikan per hari.
4. Pemijahan ikan nila
Pemijahan ikan nilai
memproduksi

benih

dalam

dilakukan
jumlah

dengan

intensif

untuk

besar.

Karena

untuk

membangun infarstruktur membutuhkan modal besar. Kali ini kami


akan mengulas pemijahan ikan nilai secara alami. Kolam
pemijahan ikan nilai sebaiknya dibuat miring sekitar 2-5 %.
Kemudian membuat kubangan di dasar kolam sedalam 20-30 cm
sebagai lokasi ikan memijah.
Sebelum ikan dimasukan ke kolam pemijahan, lakukan
pengelolahan dasar kolan terlebih dahulu. Pemijahan ikan nila

dilakukan secara bersama antara indukan jantan dan betina. Padat


tebar kolam pemijahan sebanyak 1 ekor/m2, dengan perbandingan
jantan dan betina 1:3. Selama proses pemijahan, berikan pakan
seperti di kolam pemeliharaan indukan. Pemijahan ikan nila
biasanya akan berlangsung pada hari ke-7 sejak indukan di
tebarkan. Pemijahan ini dilakukan didasar kolam, biasanya didalam
kubangan atau cekungan. Apabila ada kecocokan indukan betina
akan dibuahi oleh indukan jantan. Kemudian telur tersebut dierami
dalam mulut indukan betina.
Selama masa pengeraman telur, indukan ikan betina
biasanya berpuasa. Maka , sebaiknya pemberian pakan harus di
kurangi hingga tinggal setengah. Hal ini sangat penting untuk
menekan biaya produksi dan penumpukan sisa pakan di dasar
kolam. Proses pengeraman ini berlangsung selama 1 minggu.
Namun jika telur akan menetas menjadi larva ikan. Indukan betina
akan mengeluarkan larva dari mulutnya secara bersamaan. Larva
yang sudah menetas akan berenang ke pinggir kolam. Sebaiknya
lakukan penyaringan halus untuk memindahkan larva.
5. Pemeliharaan larva ikan nila
Sebelum melakukan pemeliharaan sebaiknya larva tunggu
beberapa hari sekitar 5-7 hari, pemindahan baru dilakukan. Kolam
pemeliharan larva berupa kolam tenbok, akuarium, kontainer
plastik atau hapa. Padat tebar larva 50-200 ekor/m 2, tergantung
jenis kolam yang dipakai. Berikan pakan berprotein tinggi yang
halus berukuran 0,2-0,5 mm. Frekuensi pemberian pakan 4-5 kali
sehari.
II.3.2 Pendederan Ikan Nila
Teknik pendederan ikan nila adalah sebagai berikut (Hakim, 2010) :

1. Pendederan ikan nila dilakukan di kolam yang luasnya antara 500


1000 m2.
2. Kolam tersebut harus disiapkan seminggu sebelum penebaran
benih. Persiapan meliputi pengeringan, perbaikan pematang,
pengolahan tanah dasar.
3. Setelah itu kolam dikapur dengan kapur tohor sebanyak 100 200
gr/m2 dan dipupuk dengan pupuk organik dengan dosis 500 gr/m2.
4. Bila kolam sudah siap, larva ditebar pada pagi hari dengan
kepadatan 100 200 ekor/m2.
5. Setiap hari diberi pakan tambahan berupa pellet halus atau dedak
sebanyak 750 gr/10.000 ekor larva dan diberikan 3 kali per hari.
6. Pemeliharaan di kolam pendederan berlangsung selama 3 4
minggu.
II.3.3 Pembesaran Ikan Nila
Tiga hal yang paling penting dalam pemeliharaan budidaya ikan
nila adalah pengelolaan air, pemberian pakan dan pengendalian hama
penyakit (Alamtani, 2016).
1. Pengelolaan air
Agar pertumbuhan budidaya ikan nila maksimal, pantau
kualitas air kolam. Parameter penentu kualitas air adalah
kandungan oksigen dan pH air. Bisa juga dilakukan pemantauan
kadar CO2, NH3 dan H2S bila memungkinkan.
Bila kandungan oksigen dalam kolam menurun, perderas
sirkulasi air dengan memperbesar aliran debit air. Bila kolam sudah
banyak mengandung NH3 dan H2S yang ditandai dengan bau
busuk,

segera

lakukan

penggantian

air.

Caranya

dengan

mengeluarkan air kotor sebesar nya, kemudian menambahkan


air baru. Dalam keadaan normal,pada kolam seluas 100 m2 atur
debit air sebesar 1 liter/detik.
2. Pemberian pakan

Pengelolaan pakan sangat penting dalam budidaya ikan nila.


Biaya pakan merupakan komponen biaya paling besar dalam
budidaya ikan nila. Berikan pakan berupa pelet dengan kadar
protein 20-30%.
Ikan nila membutuhkan pakan sebanyak 3% dari bobot
tubuhnya setiap hari. Pemberian pakan bisa dilakukan pada pagi
dan sore hari. Setiap dua minggu sekali, ambil sampel ikan nila
secara acak kemudian timbang bobotnya. Lalu sesuaikan jumlah
pakan yang harus diberikan.
3. Pengendalian hama dan penyakit
Seperti telah disebutkan sebelumnya, ikan nila merupakan ikan
yang tahan banting. Pada situasi normal, penyakit ikan nila tidak
banyak mengkhawatirkan. Namun bila budidaya ikan nila sudah
dilakukan secara intensif dan massal, resiko serangan penyakit
harus diwaspadai. Penyebaran penyakit ikan sangat cepat,
khususnya untuk jenis penyakit infeksi yang menular. Media
penularan biasanya melewati air. Jadi bisa menjangkau satu atau
lebih kawasan kolam.
Waktu yang diperlukan untuk budidaya ikan nila mulai dari
penebaran benih hingga panen mengacu pada kebutuhan pasar.
Ukuran ikan nila untuk pasar domestik berkisar 300-500 gram/ekor.
Untuk memelihara ikan nila dari ukuran 10-20 gram hingga menjadi
300-500 gram dibutuhkan waktu sekitar 4-6 bulan (Alamtani, 2016).

III.

PENUTUP

III.1 Simpulan
Ikan nila merupakan salah satu kultivan yang hidup di air tawar
yang berasal dari Sungai Nil. Di mana secara umum, bentuk tubuh
ikan nila memanjang dan ramping dengan sisik berukuran besar.
Habitat hidup ikan nila cukup beragam, mulai dari sungai, danau,
waduk, rawa, sawah, kolam, hingga tambak. Benih ikan nila lebih
suka memakan zoo plankton seperti Rototaria, Copepoda dan
Clodocera. Sementara itu, ikan nila dewasa memiliki kemampuan

mengumpulkan makanan di perairan dengan bantuan mucus (lendir)


di dalam mulutnya.
Dalam pemeliharaan ikan nila teknologi yang digunakan yaitu
berupa pembenihan, pendederan dan pembesaran.
III.2 Saran
Sebaiknya mahasiswa mampu melakukan diskusi yang lebih aktif
dalam setiap mata kuliah yang menyajikan sistem pembelajar dengan
diskusi.

DAFTAR PUSTAKA
Alamtani.

2016. Panduan Lengkap Budidaya Ikan Nila. Online pada


(http://alamtani.com). Diakses pada Sabtu, 01 Oktober 2016 pukul
18.09 WITA di Makassar.
Azzamy. 2016. Cara Pembenihan dan Teknik Pemijahan Ikan Nila. Online pada
(http://mitalom.com). Diakses pada Sabtu, 01 Oktober 2016 pukul
18.09 WITA di Makassar.
Fredikurniawan. 2016. Cara Pembenihan Ikan Nila dengan Baik. Online pada
(http://fredikurniawan.com). Diakses pada Sabtu, 01 Oktober 2016
pukul 18.09 WITA di Makassar.
Ghufran, M., dan Kordi, K. H. 2013. Budidaya Nila Unggul. PT. AgroMedia :
Jakarta.
Hakim, R. R. 2010. Budidaya Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Fishery
Departement. UMM.
Khairuman dan K. Amri. 2012. Pembesaran Nila di Kolam Air Deras. PT
AgroMedia Pustaka : Jakarta.

Khairuman dan K. Amri. 2013. Budidaya Ikan Nila. PT AgroMedia Pustaka :


Jakarta.
Kurniaji, A., S. Hardiyanti, Wulandari, F. Abdullah, R. Nerliano, I. Setiadi, I. Djafar,
Y. Fuadi, Ariani, Dasfiati, Santika, Sasriana, Ermin dan Syukur.
Manajemen Akuakultur Tawar. Universitas Halu Oleo. Kendari.
Rukmana, R. 2007. Ikan Nila (Budidaya dan Prospek Ahribisnis). Kanisius :
Yogyakarta.
Suyanto, R. 2010. Pembenihan dan Pembesaran Nila. Penebar Swadaya :
Jakarta.
Youdastyo, A. 2012. Perikanan Budidaya. DKP. Kalitirto.

TUGAS KELOMPOK
MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR
MAKALAH
BUDIDAYA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

KELOMPOK III
ANDI SYARI RAMDHANI

L221 14 504

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERIKANAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016