Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

OLEH
KELOMPOK 2:
1. YOGI HADY AFRIZAL
2. RAFIKA UKSI
3. NUR ACHRIATY ACHMAR

(0010 04 21 2016)
(0011 04 21 2016)
(0012 04 21 2016)

PASCA SARJANA UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA


PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kerangka kerja konseptual memberikan adaptasi sistematik dalam standar
akuntansi bagi lingkungan bisnis yang terus berubah. FASB menggunakan kerangka
kerja konseptual untuk membekali perkembangan standar akuntansi yang baru secara
terorganisasi dan konsisten. Disamping itu, mempelajari kerangka kerja konseptual
FASB akan memudahkan seseorang untuk mengerti dan mengantisipasi standar masa
depan. Kerangka kerja konseptual menyebutkan tujuan dari pelaporan keuangan dan
karakteristik dari informasi akuntansi yang baik, mendefinisikan dengan tepat istilahistilah yang biasa digunakan seperti asset dan pendapatan serta menyediakan petunjuk
untuk pengakuan, pengukuran, dan pelaporan keuangan yang tepat. Dengan adanya
Standard Akuntansi Keuangan (SAK) yang baru, memberikan petunjuk-petunjuk dan
aturan-aturan pelaporan keuangan yang berbeda dari sebelumnya. Sehingga
diperlukan adanya publikasi kepada seluruh pelaku akuntansi di Indonesia agar
menyesuaikan dengan peraturan baru yang berlaku.
B. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini yaitu manambah wawasan tentang Kerangka


Konseptual khususnya Tujuan pelaporan keuangan dan Karakteristik kualitatif
informasi akuntansi, dan serta menambah wawasan mengenai unsur dan pengukuran
dalam laporan keuangan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kerangka Konseptual dan Pelaporan Keuangan

Perusahaan menyusun laporan keuangan berdasarkan standar akuntansi agar


dapat menghasilkan laporan keuangan yang relevan dan andal. Standar akuntansi
menetapkan aturan pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan dalam
laporan keuangan sehingga memungkinkan pembaca untuk dapat membandingkan
laporan keuangan antar perusahaan yang berbeda. Standar tidak hanya harus
dipahami pihak yang menyusun dan mengaudit laporan keuangan, namun juga harus
dipahami oleh pembaca laporan keuangan. Pembaca perlu memahami asumsi dasar,
karakteristik laporan keuangan agar dapat memahami makna angka-angka dan
pengungkapan dalam laporan keuangan.
Kerangka dasar penyajian dan penyusunan laporan keuangan, yang sering
disebut juga sebagai kerangka konseptual, merupakan konsep-konsep yang menjadi
dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan untuk tujuan umum. Kerangka
konseptual digunakan sebagai pedoman penyusun standar dalam mengembangkan
standar di masa mendatang dan sebagai pedoman dalam menyelesaikan permasalahan
akuntansi yang belum diatur dalam standar yang telah ada.
Pada tahun 1989, IASB (International Accounting Standars Board) membuat
kerangka konseptual dalam penyajian laporan keuangan yang dikenal dengan nama
kerangka kerja untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan .
IASB mengindikasikan tujuan dari pernyataan ini adalah untuk menetapkan
konsep-konsep yang mendasari penyusunan dan penyajian laporan keuangan untuk
pengguna eksternal. IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan

oleh International Accounting Standard Board (IASB). Standar Pelaporan Keuangan


Internasional atau International Financial Reporting Standards (IFRS) merupakan
seperangkat standar yang disebarluaskan oleh Dewan Standar Akuntansi Internasional
(IASB), yang menekankan pada pengembangan standar yang didasarkan pada
prinsip-prnsip yang baik, jelas dinyatakan, dari mana interpretasi diperlukan (kadangkadang merujuk pada prinsip berbasis standar). IFRS biasanya tidak memberikan lini
yang jelas, bilamana membedakan diantara kondisi dimana ketentuan akuntansi yang
berbeda diterapkan. Hal ini mengurangi kesempatan untuk menstrukturkan transaksi,
guna mencapai dampak akuntansi tertentu.
Menurut salah satu mushab pemikir, karena standar pelaporan keuangan
internasional (IFRS) merupakan prinsip yang berbasis standar, maka pendekatan
standar pelaporan keuangan internasional (IFRS) lebih memfokuskan pada bisnis atau
bertujuan ekonomi dari suatu transaksi dan hak-hak dan liabilitas yang mendasari,
selain memberikan aturan (pedoman). Standar pelaporan keuangan internasional
(IFRS) memberikan pedoman dalam bentuk prinsip-prinsip.
International Financial Reporting Standards (IFRS) dijadikan sebagai
referensi utama pengembangan standar akuntansi keuangan di Indonesia karena IFRS
merupakan standar yang sangat kokoh. Penyusunannya didukung oleh para ahli dan
dewan konsultatif internasional dari seluruh penjuru dunia. Kerangka konseptual
pelaporan keuangan yang kita kenal selama ini sebagaimana yang diadopsi adalah
kerangka konseptual berdasarkan US GAAP ( Generally Accepted Accounting
Principles). Sejalan dengan konvergensi International Financial Reporting Standar

(IFRS) kedalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), mau tidak mau
kita harus merubah mindset kita mengikuti kerangka konseptual IFRS tersebut.
Pada dasarnya batang tubuh kerangka konseptual tersebut masih sama, yaitu
tujuan laporan keuangan, karakteristik kualitatif dan element laporan keuangan.
Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi
keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang berguna
untuk berbagai pengguna dalam membuat keputusan ekonomi. Laporan keuangan
harus dimengerti, relevan, dapat diandalkan dan sebanding. Dilaporkan aset,
kewajiban, ekuitas, pendapatan dan beban langsung berkaitan dengan posisi keuangan
organisasi.
Kerangka konseptual bukan merupakan standar akuntansi keuangan. Dalam
hal terjadi pertentangan antara ketentuan standar akuntansi keuangan dengan
ketentuan dalam kerangka konseptual, maka ketentuan dalam standar akuntansi
keuangan diunggulkan. Penyusun standar menggunakan kerangka konseptual ini
sebagai acuan sehingga diharapkan konflik antara standard dan kerangka konseptual
akan berkurang dengan berlalunya waktu. Sebagai contoh, kerangka konseptual
menggunakan konsep harga perolehan dalam mencatat nilai asset, namun dalam
PSAK 19 Aset Tak Berwujud menyatakan bahwa pengakuan nilai asset tak berwujud
dari kegiatan pengembangan internal dilakukan setelah memenuhi kriteria tertentu.

Berdasarkan konsep tersebut biaya-biaya yang telah dikeluarkan pada periode


sebelumnya

tidak

dikapitalisasi

sehingga

nilai

asset

tak

berwujud

tidak

mencerminkan substansi ekonomi nilai perolehan dari asset tak berwujud tersebut.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kerangka konseptual menurut PSAK terdiri atas :


Pengguna laporan keuangan;
Tujuan laporan keuangan;
Asumsi dasar;
Karakteristik kualitatif ;
Konsep pengakuan dan pengukuran unsur laporan keuangan;
Konsep pemeliharaan modal.
Kerangka konseptual menjadi dasar penyusunan laporan keuangan untuk

tujuan umum (General purpose financial statement), termasuk laporan keuangan


konsolidasian. Laporan keuangan disusun sekurang-kurangnya satu tahun sekali.
Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan dalam suatu
entitas. Kerangka konseptual ini berlaku untuk semua jenis entitas komersial baik
sector public maupun sector swasta kecuali instansi pemerintahan yang mengacu
pada Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik.
Isi kerangka konseptual menurut IFRS tentang informasi keuangan yang
ditujukan untuk pengambilan keputusan bagi para pemakai. Informasi keuangan
tersebut disusun berdasarkan suatu asumsi yang mendasari yaitu kelangsungan usaha
dan akrual. Informasi keuangan yang disusun harus memenuhi karakteristik kualitatif
relevan, keandalan, dan dapat dipahami. Agar memiliki kualitas relevan, laporan
keuangan harus memiliki nilai prediksi , nilai konfirmasi (representation faitfulness),

dan memperhatikan konsep materialitas. Untuk dapat memiliki kualitas keandalan,


informasi harus bebas dari bias (netralitas) dengan pertimbangan yang sehat,
memperhatikan kelengkapan, serta penyajian yang wajar dengan berpegang pada
konsep substansi mengungguli bentuk. Untuk dapat dipahami, laporan harus dapat
dibandingkan dengan menjaga prinsip konsistensi dan pengungkapan. Dalam
menyajikan laporan keuangan yang relevan dan andal, penyusun laporan harus
memperhatikan factor tepat waktu, keseimbangan antara biaya dan manfaat, serta
keseimbangan antara karakteristik kualitatif.
IFRS memiliki ciri utama yaitu principles based, lebih banyak menggunakan
nilai wajar sebagai dasar penilaian dan pengungkapan yang lebih banyak. Standar
yang bersifat principles based hanya mengatur hal-hal prinsip bukan aturan detail.
Konsekuensinya diperlukan

professional judgment dalam menerapkan standar.

Untuk dapat memiliki professional judgment seorang akuntan harus memiliki


pengetahuan, skill dan etika karena jika tidak memiliki ketiga hal tersebut maka
professional judgment

yang diambil tidak tepat. Dalam standar yang lama

sebenarnya telah menggunakan dasar nilai wajar, namun nilai wajar diterapkan pada
pencatatan awal dan penilaian sesudah pencatatan awal untuk beberapa asset yang
memiliki nilai wajar yang dapat diandalkan (aset yang memiliki kuotasi pasar aktif
seperti saham). Dalam IFRS penggunaan nilai wajar diperluas bahkan untuk kaset
biologi (contoh tanaman atau hewan ternak), aset tetap, properti investasi dan aset
tidak berwujud sebagai pilihan metode selain metode biaya. IFRS mengharuskan

pengungkapan yang lebih luas agar pemakai laporan keuangan mendapatkan


informasi yang lebih banyak sehingga dapat mempertimbangkan informasi tersebut
untuk pengambilan keputusan.
Kerangka konseptual memiliki manfaat yang sangat besar bagi pemakainya.
Manfaat dari kerangka konseptual antara lain adalah untuk membangun dan
menghubungkan badan pembuat konsep dengan tujuannya, menyediakan kerangka
kerja untuk memecahkan masalah-masalah praktis baru yang muncul (masalah yang
belum ada standarnya), meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai laporan
keuangan tentang pelaporan keuangan, dan menaikkan daya banding laporan
keuangan antar perusahaan.
Kerangka konseptual sebagaimana yang didefinisikan oleh FASB, Statement of
Financial Accounting Concepts no.1 merupakan sebuah sistem yang koheren tentang
tujuan (objective) dan konsep dasar yang saling berhubungan yang diharapkan dapat
menghasilkan standar- standar yang konsisten dan memberi pedoman tentng jenis,
fungsi dan keterbatasan akuntansi keuangan dan pelaporan keuangan (Nahar, 2004).
Dari definisi diatas dapat diketahui bahwa tujuan penyusunan kerangka
konseptual yaitu agar penyusun standar akuntansi dapat konsisten. Kerangka
konseptual dibuat dengan tujuan menyelesaikan perselisihan dan masalah yang timbul
selama proses penetapan standar. Standar akuntansi dirumuskan dan ditetapkan dari
konsep-konsep yang terdapat dari kerangka konseptual. Kemudian timbul
permasalahan dimana adanya perbedaan kultur budaya dan juga lingkungan antara

negara yang satu dengan negara lainnya. Fungsi utama dari kerangka konseptual
adalah sebagai pedoman yang logis untuk menyusun standar akuntansi.
Belkaouni 1993 dalam Nahar 2004, mengatakan bahwa kerangka konseptual
juga diuraikan secara singkat oleh FASB dengan mendefinisikan empat manfaat
khusus, antara lain:
a. Membimbing FASB dalam penetapan standar-standar akuntansi
b. Menyediakan kerangka acuaan untuk menjawab pertanyaanpertanyaan dalam hal tiadanya standar khusus yang ditetapkan
c. Menentukan baatas-batas pertimbangan dalam penyusunan ikhtisar
keuangan
d. Mempertinggi keterbandingan dengan mengurangi jumlah metode
akuntansi alternatif.
Sebelum jauh kita membahas kerangka konseptual maka perlu kiranya kita
memahami struktur teori akuntansi. Pendekatan dan metodologi apapun yang
digunakan dalam perumusan teori akuntansi (deduktif, induktif, normatif, dan
deskriptif) hasil kerangka acuannya tetap didasarkan pada seperangkat elemen dan
dan interksinya yang mengatur pengembangan teknik-teknik akuntansi interaksi
tersebut digambarkan seperti elemen-elemen sebagai berikut (Chariri 2000 dalam
Nahar, 2004)
STRUKTUR TEORI AKUNTANSI

POSTUL
ATE
AKUNTA

TUJUAN IKHTISAR

KONSEP
TEORITIS

PRINSIP
Struktur teori akuntansi dirumuskan
dari interaksi antara tujuan, kerngka konseptual,
TEHNIK

prinsip-prinsip akuntansi sebagai sebagai suatu proses deduktif dan interaktif di mana

tujuan-tujuan akuntansi beraku sebagai dasar bagi postulate-postulate dan konsepkonsep teoritis yang akan menurunkan prinsip-prinsip sampai khirnya menghasilkan
tehnik-tehnik akuntansi (Nahar, 2004).

KERANGKA KONSEPTUAL AKUNTANSI


Level Pertama (Tujuan Utama)
Level Kedua (Konsep Fundamental)
TUJUAN PELAPORAN
KEUANGAN

Level Ketiga (Konsep Pengakuan dan Pengukuran)


KARAKTERISTIK
ELEMEN STATEMENT
KUALITATIF INFORMASI
KEUANGAN
Bandi 2010, mengatakan
bahwa
kerangka
konseptual
akuntansi dibagi menjadi 3
AKUNTANSI
BATASAN

level:
a. Level pertama:
ASUMSI
PRINSIP
Mengidentifikasi tujuan dan sasaran akuntansi serta
Merupakan bangunan inti dari kerangka kerja konseptual
b. Level kedua:
Menghubungkan

antara

tujuan

dasar

dan

measurement

and

recognition concepts.
Berkenaan dengan karakteristik informsi akutansi dan elemen
statement keuangan terdiri dari:
1. Primary quality: relevance and reability
2. Secondary quality: comparability and consistency
c. Level ketiga:

konsep-konsep untuk mengimplementasikan tujuan dasar pada level


satu
penjelasan yang mana, kapan dan bagaimana elemen-elemen keuangan
dan kejadian-kejadian harus diakui, diukur dan dicatat dengan
menggunakan sistem akuntansi.
Di dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan perusahaannya,
manajemen memiliki keleluasaan untuk memilih alternatif prinsip atau metode
akuntansi yang dimaksudkan untuk mencerminkan secara akurat kondisi ekonomi
perusahaan dalam kaitannya dengan bisnis dan transaksi-transaksi operasinya. Untuk
itu, diperlukan suatu acuan dalam praktik akuntansi di dalam menyusun dan
menyajikan laporan keuangannya. Kerangka dasar akuntansi dan pelaporan keuangan
ditetapkan sebagai maksud untuk mendefinisikan secara luas tentang tujuan, istilah
dan konsep-konsep yang berkaitan dengan praktik akuntansi yang pada akhirnya
sangat diperlukan untuk menetapkan ruang lingkup dan batas-batas akuntansi dan
laporan keuangan.
B. TUJUAN DASAR KERANGKA KONSEPTUAL DAN PELAPORAN
KEUANGAN
Kerangka konseptual ditujukan untuk :
1. Penyusun standar akuntansi keuangan dalam pelaksanaan tugasnya
2. Penyusun laporan keuangan untuk menanggulangi masalah akuntansi yang
belum diatur dalam standar akuntansi keuangan
3. Auditor dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan
disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku

4. Para pemakai dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan


keuangan
Tujuan pelaporan keuangan yang yang diungkapkan dalam kerangka
konseptual adalah:
1. Kegunaan
Tujuan menyeluruh pelaporan keuangan adalah memberikan informasi yang
menyeluruh bagi pembuat keputusan
2. Kepemahaman
Tujuan kepemahaman membuat pemakai laporan keuangan mengerti tentang
akuntansi dan bisnis
3. Target audience: kreditor dan investor
Walaupun banyak pihak yang menggunakan laporan keuangan. Tetapi target
utama adalah investor dan kreditor
4. Penilaian arus kas masa yang akan datang
Para investor dan kreditor tertarik pada arus kas masa yang akan datang dengan
begitu mereka bisa mengetahui bunga dan pokok pinjaman
5. Mengevaluasi sumber daya ekonomi
Pelaporan keungan seharusnya menyajikan aktiva, kewajiban, dan modal pemilik
perusahaan untu mengetahui atau mengevaluasi kelemahan dan kekuatan laporan
keuangan
6. Fokus pada laba
Informasi tentang laba yang diukur secara akrual biasanya lebih dapat
meramalkan kelangsungan perusahaan.
Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan informasi keuangan yang disusun dan disajikan
sekurang-kurangnya setahun sekali untuk memenuhi kebutuhan sejumlah besar
pemakai. Laporan keuangan juga digunakan sebagai sumber utama informasi
keuangan dan karena itu laporan keuangan tersebut seharusnya disusun dan disajikan
dengan mempertimbangkan kebutuhan para pemakai.

Laporan keuangan merupakan salah satu proses dari pelaporan keuangan,


dimana laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi,
laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara
misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain
serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Perusahan pelapor adalah perusahaan yang laporan keuangannya digunakan oleh
pemakai yang mengandalkan laporan keuangan tersebut sebagai sumber utama
informasi keuangan perusahaan.
Pemakai dan Kebutuhan Informasi Laporan keuangan digunakan oleh
pemakai yang berbeda-beda, meliputi investor, karyawan, pemberi pinjaman,
pemasok dan kreditor usaha, pelaggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan
masyarakat. Beberapa kebutuhannya, meliputi :

a. Investor.
Informasi keuangan digunakan untuk membantu mereka menentukan apakah
harus membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Perusahaan juga tertarik
pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan
untuk membayar dividen
b. Karyawan.
Informasi keuangan digunakan untuk melihat stabilitas dan profitabilitas
perusahaan, serta untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas
jasa, manfaat pensiun, dan kesempatan kerja.

c. Pemberi Pinjaman.
Tertarik pada informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk
memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar saat jatuh tempo.
d. Pemasok dan kreditor lainnya.
Tertarik pada informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk
memutuskan apakah jumlah yang terhutang akan dibayar saat jatuh tempo. Kreditor
usaha berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek
daripada pemberi pinjaman kecuali kalau sebagai pelanggan utama meraka
tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan.
e. Pelanggan.
Berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan,
terutama apabila mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau
tergantung pada perusahaan.
f. Pemerintah.
Berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan
dengan aktivitas perusahaan dan untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan
kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan
statistik lainnya.
g. Masyarakat.
Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan
informasi

kecenderungan

(trend)

dan

perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.

perkembangan

terakhir

kemakmuran

Tujuan Laporan Keuangan


Tujuan dari laporan keuangan yakni menyediakan informasi yang
berhubungan dengan posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang dapat bermanfaat begi pengguna laporan tersebut sebagai
pengambilan keputusan di masa yang akan datang. Laporan keuangan juga
memperlihatkan bagaimana pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang
telah dipercayakan kepada mereka sehingga mereka dapat membuat keputusan
ekonomi.
Adapun tujuan lain pelaporan keuangan (objectives of financial reporting)
adalah
a.

Menyediakan informasi yang berguna bagi mereka yang memiliki pemahaman


memadai tentang aktivitas bisnis dan ekonomi untuk membuat keputusan
investasi serta kredit dan untuk membantu investor yang ada dan potensial,
kreditor yang ada dan potensial, serta pemakai lainnya dalam menilai jumlah,
waktu, dan ketidakpastian arus kas masa depan; serta tentang sumber daya

ekonomi, klaim terhadap sumber daya tersebut, dan perubahan di dalamnya.


b. Tujuan (objectives) dimulai dengan lebih banyak berfokus pada informasi
yang berguna bagi para investor dan kreditor dalam membuat keputusan.
Fokus ini lalu menyempit pada kepentingan investor dan kreditor atas prospek
penerimaan kas dari investasi mereka dalam, atau dari pinjaman yang telah
mereka berikan ke entitas bisnis. Pada akhirnya, tujuan berfokus pada laporan
keuangan yang menyediakan informasi yang berguna untuk menilai prospek

arus kas yang akan diterima entitas bisnis yaitu arus kas yang menjadi harapan
investor dan kreditor. Pendekatan ini dikenal sebagai kegunaan keputusan
(decision usefulness).
c. Dalam menyediakan informasi kepada pemakai laporan keuangan, profesi
akuntan mengandalkan laporan keuangan bertujuan-umum(general-purpose
financial statement), yaitu menyediakan informasi paling bermanfaat dengan
biaya minimal kepada berbagai kelompok pemakai.
Tujuan dari pelaporan keuangan menurut SFAC NO. 1 (Statement of Financial
Accounting Concepts) :
Pelaporan keuangan memberikan informasi yang bermanfaat bagi investor dan

kreditor, dan pemakai lainnya dalam mengambil keputusan investasi, kredit


dan yang serupa secara rasional. Informasi tersebut harus bersifat
comprehensive bagi mereka yang memiliki pemahaman yang rasional tentang
kegiatan bisnis dan ekonomi dan memiliki kemauan untuk memelajari
informasi dengan cara yang rasional.
Pelaporan keuangan memberikan informasi untuk membantu investor ,

kreditor dan pemakai lainnya tentang penerimaan kas bersih yang berkaitan
dengan perusahaan. Pelaporan keuangan memberikan informasi tentang
sumber-sumber ekonomi suatu perusahaan dan klaim terhadap sumber-sumber
tersebut. Pelaporan keuangan menyediakan informasi tentang hasil usaha
(performan keuangan) selama satu periode.
Pelaporan keuangan menyediakan informasi tentang bagaimana perusahaan
memperoleh dan membelanjakan kas, pinjaman dan pengembaliannya,

transaksi modal, dividen dan equities lainnya dan faktor yang mempengaruhi
solvenci dan likuiditas perusahan. Pelaporan keuangan menyediakan
informasi tentang bagaimana manajemen mempertanggung-jawabkan kepada
pemilik atas pemakaian sumber ekonomi yang dipercayakan kepadanya.
Pelaporan keuangan memberikan informasi yang bermanfaat bagi manajer dan
direktur sesuai kepentingan pemilik.
C. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Karakteristik kualitatif laporan keuangan menjadi ciri dari laporan keuangan
agar dapat dimengerti oleh pemakai laporan keuangan. Karakteristik Kuantitatif
laporan

keuangan

terdiri

dari

Understanding,

Relevance,

Reliability,

dan

Comparability.

Understanding (Dapat Dipahami)

Hal penting yang harus diperhatikan dalam menyusun laporan keuangan adalah
kemudahannya dipahami oleh pengguna laporan tersebut. Di mana pengguna laporan
keuangan tersebut diasumsikan menpunyai pengetahuan yang memadai mengenai
aktivitas, ekonomi, bisnis, dan akuntansi.

Relevance

Laporan keuangan yang disajikan bermanfaat ketika informasi tersebut mempunyai


relevansi dalam penngambilan keputusan dari pengguna laporan keuangan tersebut.
Informasi keuangan yang lalu biasanya sering digunakan dalam memprediksi posisi
keuangan di masa depan.

Reliability (Keandalan)

Suatu informasi keuangan yang dianggap reliable atau dikatakan andal ketika laporan
keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat
diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful
representation).

Comparability (Dapat Dibandingkan)

Informasi tentang sebuah laporan keuangan akan lebih bermanfaat ketika dapat
diperbandingkan dengan informasi yang serupa menyangkut perusahaan lain.
Sehingga pengguna dapat membandingkan laporan keuangannya dengan laporan
keuangan perusahaan lain secara konsisten.

D. Unsur dan Pengukuran Laporan Keuangan


Unsur Laporan Keuangan
- Posisi Keuangan
Aktiva, merupakan manfaat ekonomi yang diharapkan oleh perusahaan
sebagai hasil dari transaksi kejadian-kejadian masa lalu. Kewajiban, merupakan utang
perusahaan yang ditimbulkan dari peristiwa atau transaksi masa lalu. Aktiva Bersih,
merupakan nilai residu atas aktiva perusahaan setelah dikurang dengan kewajiban.
-

Kinerja (Laba Rugi)


Penghasilan, merupakan penambahan atau pemasukan aktiva atau penurunan

kewajiban yang menyebabkan kenaikan ekuitas yang berasal dari operasi utama
perusahaan dan bukan berasal dari pemilik. Beban, merupakan penurunan aktiva atau

penambahan kewajiban yang menyebabkan penurunan ekuitas yang berasal dari


operasi utama perusahaan dan bukan dari pembagian kepada penanaman modal.
Pengukuran Unsur Laporan Keuangan
a. Historical Cost (Biaya Historis)
Aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas atau setara dengan kas yang dibayar
atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aktiva
tersebut pada saat perolehan.dan kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima
sebagai penukar dari kewajiban.
b.

Current Cost (Biaya Kini)


Aktiva dinilai dalam jumlah kas atau setara dengan kas yang seharusnya

dibayar bila aktiva yang sama atau setara aktiva diperoleh sekarang. Kewajiban
dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan yang
mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban sekarang.
c.

Realisable / Settlement Value (Nilai Realisasi / Penyelesaian)


Aktiva dinyatakan dalam jumlah kas atau setara dengan kas yang dapat

diperoleh sekarang dengan menjual aktiva dalam pelepasan normal dan kewajiban
dinyatakan sebesar nilai penyelesaian; yaitu, jumlah kas atau setara dengan kas
yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi
kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
d. Present value (Nilai Sekarang)
Aktiva dinyatakan sebesar arus kas masuk bersih di masa depan yang di
diskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat memberikan hasil

dalam pelaksanaan usaha normaldan kewajiban dinyatakan sebesar arus kas keluar
bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang yang diharapkan akan
diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.

BAB III
PENUTUP
Kerangka konseptual merupakan konsep-konsep yang menjadi dasar
penyusunan dan penyajian laporan keuangan untuk tujuan umum. Kerangka
konseptual digunakan sebagai pedoman penyusun standar dalam mengembangkan
standar di masa mendatang dan sebagai pedoman dalam menyelesaikan permasalahan
akuntansi yang belum diatur dalam standar ang telah ada. Tujuan dari laporan
keuangan yakni menyediakan informasi yang berhubungan dengan posisi keuangan,
kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang dapat bermanfaat
begi pengguna laporan tersebut sebagai pengambilan keputusan.

Karakteristik kualitatif laporan keuangan menjadi ciri dari laporan keuangan


agar dapat dimengerti oleh pemakai laporan keuangan. Karakteristik Kuantitatif
laporan

keuangan

terdiri

dari

Understanding,

Relevance,

Reliability,

dan

Comparability.

DAFTAR PUSTAKA

Eldon S.Hendriksen,Michael F Van Breda,2000. TeoriAkunting, Jilid Satu.Batam:


Interaksara
Martani Dwi, dkk. 2012. Akuntansi Keuangan Menengah Berbasis PSAK. Buku 1.
Jakarta : Salemba Empat
Scott, W. R. 2006. Financial Accounting theory. Edisi Keempat. New Jersey:
Prentice-Hall, Inc.
Kieso, D. E., J.J. Weygandt, and T.D. Waterfield, Intermediate Accounting,
International Ed., John Wiley & Sons, 11th Ed.
Nahar, Aida. 2004. Perlunya Kerangka Konseptual Akuntansi Bagi Suatu Negara.
Jakarta; Jurnal Dinamika Dan Ekonomi Bisnis Vol 1 No.1 Maret 2004.
Bandi, 2010. Kerangka Konseptual. Surabaya. Bandi FE Unifersitas Negeri
Surabaya. bandi.staf.fe.ac.id

Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), 1998. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan


(PSAK No.1) . Jakarta; IAI.
Weygandt, Jerry J, Donald E. Keiso, Kimmel. Paul D. 2007. Accounting Principle
Edisi 7. Jakarta; Salemba Empat.
Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), 2013. Exposure Draft PSAK Penyajian Laporan
Keuangan. Jakarta; IAI.
Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI). 2014. Standar Akuntansi Keuangan (PSAK ).
Jakarta: Salemba Empat.