Anda di halaman 1dari 62

BAHAN AJAR

Mata Kuliah

: Ilmu Keperawatan Dasar I

Kode Mata Kuliah : SKS

: 4 SKS

I. Pendahuluan
1.

Deskripsi Mata Kuliah


Ilmu Keperawatan Dasar I merupakan bagian dari kelompok Ilmu Keperawatan
Dasar. Mata kuliah ini berfokus pada pemahaman konsep-konsep tentang konsep
berfikir kritis dalam keperawatan, perkembangan keperawatan, pendekatan holistic
care (konsep caring, holisme, humanisme, dan transcultural nursing), prinsip-prinsip
legal etis dan isu etik (ethical issue), nursing advocacy, termasuk teknologi
komunikasi informasi dalam pembelajaran keperawatan.

2.

Kegunaan Mata Kuliah


Sebagai mata kuliah dasar untuk mata kuliah inti ilmu keperawatan. Selain itu
memberikan pandangan yang mendasar kepada mahasiswa tentang hakikat manusia
dan esensi keperawatan yang menjadi kerangka dasar dalam praktik keperawatan.
Materi ini sangat dibutuhkan oleh mahasiswa yang nantinya akan menjadi seorang
perawat yang profesional

3.

Standar Kompetensi
Setelah menyelesaikan perkuliahan selama 16 kali pertemuan, mahasiswa mampu
menjelaskan berbagai konsep dasar keperawatan dan mengintegrasikannya ke dalam
cabang ilmu keperawatan yang lain serta memodifikasi sesuai dengan perkembangan
IPTEK Keperawatan, dimana mahasiswa akan mampu:

1. Menerapkan konsep berpikir kritis dalam keperawatan


2. Menjelaskan perkembangan sejarah keperawatan nasional dan internasional
3. Menjelaskan konsep tentang teori sistem
4. Menjelaskan konsep berubah dalam keperawatan
5.Menjelaskan konsep holistic care dalam konteks keperawatan
6. Menjelaskan konsep transcultural nursing
7. Menerapkan prinsip-prinsip etika keperawatan pada pengambilan keputusan dalam
konteks keperawatan
8. Meenganalisa isu etik dalam praktik keperawatan
9. Menerapkan prinsip-prinsip legal pada pengambilan keputusan dalam konteks
keperawatan
10. Menjelaskan konsep perlindungan hukum dalam praktik keperawatan
11. Menjelaskan konsep tentang nursing advocacy
12. Menggunakan teknologi komunikasi informasi dalam pembelajaran keperawatan
4. Susunan Bahan Ajar
BAB I KONSEP BERPIKIR KRITIS DALAM KEPERAWATAN
1.1 Pengertian Konsep
1.2 Pengertian Berpikir kritis
1.3 Berpikir Kritis dalam Keperawatan

BAB II SEJARAH KEPERAWATAN NASIONAL DAN INTERNASIONAL


2.1 Sejarah keperawatan nasional
2.2 Sejarah keperawatan internasional

BAB III PRINSIP PRINSIP PENDEKATAN SECARA HOLISTIK DALAM


KONTEKS KEPERAWATAN
3.1

Teori sistem

3.2

Konsep berubah

3.3

Konsep holistic care : caring, holisme, humanisme

3.4

Transcultural nursing

BAB IV PRINSIP-PRINSIP LEGAL ETIS PADA PENGAMBILAN KEPUTUSAN


DALAM KONTEKS KEPERAWATAN
4.1 Prinsip-prinsip etika keperawatan
4.2 Isu etik dalam praktik keperawatan
4.3

Prinsip-prinsip legal dalam praktik keperawatan

4.4

Perlindungan hukum dalam praktik keperawatan

4.5

Nursing advocacy

BAB V TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PEMBELAJARAN


KEPERAWATAN
5.1

Cara pengiriman tugas melalui email

5.2

Cara mencari bahan untuk tugas pembelajaran

5.3

Cara pembuatan blog

5. Petunjuk bagi mahasiswa


PBL (Problem Based Learning)
1. Setiap mahasiswa akan dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil
2. Setiap kelompok akan diberikan pemicu (kasus)
3. Masing-masing kelompok akan berdiskusi dan menganalisa pemicu yang
diberikan
4. Setiap kelompok memprensentasikan hasil diskusinya dalam bentuk power point
5. Kelompok yang lainnya memberikan sanggahan, pertanyaan dan saran
Kegiatan Perkuliahan
1. Mahasiswa wajib hadir 15 menit sebelum perkuliahan dimulai
2. Mahasiswa wajib membawa satu buah text book saat perkuliahan
3. Mahasiswa telah membaca materi yang akan dibawakan saat perkuliahan
4. Ketidakhadiran mahasiswa maksimal 2 kali selama satu semester
5. Diakhir perkuliahan mahasiswa akan diberikan kuis
6. Pengumpulan tugas maksimal 1 minggu setelah perkuliahan dilaksanakan
Tugas Individual
1.

Mahasiswa wajib menelaah satu jenis penelitian yang berkaitan dengan keilmuan
keperawatan

2.

Dibuat dalam bentuk resume

6. Ringkasan isi
Secara keseluruhan materi perkuliahan yang diberikan pada Ilmu Keperawatan Dasar
I membahas tentang konsep berpikir kritis; sejarah keperawatan nasional dan
internasional; teori sistem, konsep berubah; konsep holistic care: caring, holisme,
humanisme dan transcultural nursing; prinsip-prinsip etika keperawatan: otonomi,
beneficience, justice, moral right, nilai dan norma masyarakat; isu etik dalam praktik
keperawatan : euthanasia, aborsi; prinsip-prinsip legal dalam praktik keperawatan :
malpraktik, neglected, pertangunggugatan, pertanggungjawaban, perlindungan hukum
dalam praktik keperawatan; nursing advocacy; aplikasi komputer (membuat blog,
menngirim tugas melalui email, mencari bahan untuk tugas pembelajaran melalui
internet.
7. Evaluasi
Dalam menetapkan nilai akhir, digunakan pembobotan sebagai berikut:

Aspek Penilaian
Kehadiran

Keaktifan

Tugas

Kuis

Ujian Tengah Semester

Bobot
10%
5%
10%
15%
30%
30%

Ujian Akhir Semester


Kriteria penilaian menggunakan format berikut:
Presentase
85% - 100%

Predikat
Sangat Baik

Nilai
A

Mutu
4

70% - 84%

Baik

55% - 69%

Cukup

50% - 54%

Kurang

Sangat Kurang

0% - 49%

8. Tim pengajar
Team Teaching : Yuniar Mansye Soeli, S.Kep, Ns
Meri Herlina, S.Kep, Ns
9. Materi Pendukung
Materi pendukung terdapat di dalam buku :

A.Aziz Alimul Hidayat (2007), Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Edisi 2,


Salemba Medika, Jakarta

Kozier. B (1995), Fundamental of Nursing, Conceps, Prosess and Practice, Fifth


Edition, Addison Publising Company. California

La Ode Jumadi Gaffar (1999), Pengantar Keperawatan Profesional, EGC, Jakarta

Potter. P (1997), Fundamental of Nursing, Conceps, Prosess and Practice, Fouth


Edition, Mosby. St. Louis.

Priharjo, R. (1995). Pengantar Etika Keperawatan. Yogyakarta: Kanisius.

Suhaemi, M.E. (2004). Etika Keperawatan: aplikasi pada praktik. Jakarta: EGC

Taylor, Carrol et all. (2004), Fundamental of Nursing. JB Lippincott Company.


Philadelphia

PRINSIP-PRINSIP LEGAL ETIS PADA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM


KONTEKS KEPERAWATAN

II. Penyajian
1. Deskripsi Sngkat
Pokok bahasan ini membahas tentang prinsip prinsip etika keperawatan; informed
consent; isu etik; prinsip prinsip legal yaitu malpraktik, kelalaian, pertanggunggugatan,
pertanggungjawaban, situasi yang dihindari perawat; nursing advocacy (kerangka, faktor
yang mempengaruhi dan langkah pembuatan keputusan etik dalam konteks keperawatan).

2. Manfaat Pokok Bahasan


Mahasiswa memahami konsep etika keperawatan, prinsip legal dalam praktik, dan
nursing advocacy serta dapat menerapkannya dalam melaksanakan praktik keperawatan
profesional.

3. Relevansi
Materi pada pokok bahasan ini sangat dibutuhkan bagi seorang calon perawat
mengingat begitu banyaknya kejadian malpraktik terjadi lapangan yang dilakukan oleh
seorang perawat dan masih kurangnya pemahaman seorang perawat dalam memutuskan
masalah etik yang terjadi pelayanan maupun di masyarakat.

4. Standar Kompetensi
Setelah mengikuti perkuliahan pokok bahasan ini, mahasiswa akan mampu :

1. Menerapkan prinsip-prinsip etika keperawatan pada pengambilan keputusan dalam


konteks keperawatan
2. Menganalisa isu etik dalam praktik keperawatan
3. Menerapkan prinsip-prinsip legal pada pengambilan keputusan dalam konteks
keperawatan
4. Menjelaskan konsep perlindungan hukum dalam praktik keperawatan
5. Menjelaskan konsep tentang nursing advocacy
5. Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan
Pokok Bahasan :
Prinsip-Prinsip Legal Etis Pada Pengambilan Keputusan Dalam Konteks Keperawatan
Sub Pokok Bahasan :
1. Prinsip-prinsip etika keperawatan
2. Isu etik dalam praktik keperawatan
3. Prinsip-prinsip legal dalam praktik keperawatan
4. Perlindungan hukum dalam praktik keperawatan
5. Nursing advocacy
6. Penjelasan Materi
1. PRINSIP PRINSIP ETIKA KEPERAWATAN PADA PENGAMBILAN
KEPUTUSAN PADA KONTEKS KEPERAWATAN
Pengertian Etika Keperawatan

Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi
perlakuan seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang dilakukan
seseorang dan merupakan suatu ke wajiban dan tanggungjawab. Keperawatan merupakan
salah satu profesi yang bergerak pada bidang kesejahteraan manusia yaitu dengan
memberikan bantuan kepada individu yang sehat maupun yang sakit untuk dapat
menjalankan fungsi hidup sehari-hari (Nila Ismani, 2001).
Etik atau ethics berasal dari kata yunani, yaitu etos yang artinya adat, kebiasaaan,
perilaku, atau karakter. Sedangkan menurut kamus webster, etik adalah suatu ilmu yang
mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara moral. Dari pengertian di atas, etika
adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana sepatutnya manusia hidup di
dalam masyarakat yang menyangkut aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang menentukan
tingkah laku yang benar, yaitu : a) baik dan buruk, b) kewajiban dan tanggung jawab
(Ismani,2001).

1.

MENGATUR
HUBUNGAN
ANTARA
PERAWAT
DAN PASIEN

2. PROFESI
KEPERAWATAN
MEMILIKI
KONTRAK
SOSIAL DENGAN
Etika keperawatan adalah norma-norma yang dianut perawat dalam bertingkah
laku dengan pasien, keluarga, kolega, atau tenaga kesehatan lainnya di suatu pelayanan
keperawatan yang bersifat profesional. Perilaku etik akan dibentuk oleh nilai-nilai dari
pasien, perawat dan interaksi sosial dalam lingkungan.

Kode Etik Keperawatan

Kode etik keperawatan merupakan suatu pernyataan komprehensif dari profesi


yang memberikan tuntutan bagi anggotanya dalam melaksanakan praktek keperawatan,
baik yang berhubungan dengan pasien, keluarga, masyarakat, teman sejawat, diri sendiri
dan tim kesehatan lain.

Fungsi Kode Etik Keperawatan


1. Memberikan dasar dalam mengatur hubungan antara perawat, pasien, tenaga
kesehatan lain, masyarakat dan profesi keperawatan
2. Memberikan dasar dalam menilai tindakan keperawatan
3. Membantu masyarakat untuk mengetahui pedoman dalam melaksanakan praktek
keperawatan.
4. Menjadi dasar dalam membuat kurikulum pendidikan keperawatan ( Kozier & Erb,
1989 )
Menurut Thompson (1985 ) dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit
dimana tidak ada alternatif yang memuaskan atau situasi dimana alternatif yang
memuaskan atau tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada yang benar
atau yang salah. Untuk membuat keputusan yang etis, seorang perawat tergantung pada
pemikiran yang rasional dan bukan emosional.
Kerangka pemecahan dilema etik (kozier & erb, 1989 )
a. Mengembangkan data dasar.
Untuk melakukan ini perawat memerlukan pengumpulan informasi
sebanyak mungkin meliputi :
Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana
keterlibatannya
Apa tindakan yang diusulkan

10

Apa maksud dari tindakan yang diusulkan


Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang
diusulkan.
b. Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut
c. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan
mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut
d. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil
keputusan yang tepat
e. Mengidentifikasi kewajiban perawat
f. Membuat keputusan
PRINSIP-PRINSIP DALAM ETIKA KEPERAWATAN
1. Autonomi
Autonomi berarti kemampuan untuk menentukan sendiri atau mengatur diri sendiri,
berarti menghargai manusia sehingga harapannya perawat memperlakukan mereka
sebagai seseorang yang mempunyai harga diri dan martabat serta mampu menentukan
sesuatu bagi dirinya.
2. Benefisience
Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan pasien atau tidak
menimbulkan bahaya bagi pasien
3. Justice
Merupakan prinsip untuk bertindak adil bagi semua individu, setiap individu
mendapat perlakuan dan tindakan yang sama. Tindakan yang sama tidak selalu identik
tetapi dalam hal ini persamaan berarti mempunyai kontribusi yang relatif sama untuk
kebaikan hidup seseorang

11

4. Veracity
Merupakan prinsip moral dimana kita mempunyai suatu kewajiban untuk mengatakan
yang sebenarnya atau tidak membohongi orang lain / pasien. Kewajiban untuk
mengatakan yang sebenarnya didasarkan atau penghargaan terhadap otonomi
seseorang dan mereka berhak untuk diberi tahu tentang hal yang sebenarnya

5. Menepati janji (Fidelity)


Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya
terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta
menyimpan rahasia klien. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhan perawat terhadap
kode etik yang menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk
meningkatkan

kesehatan,

mencegah

penyakit,

memulihkan

kesehatan

dan

meminimalkan penderitaan.
6. Kerahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah menjaga privasi (informasi) klien. Segala
sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh
dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorang pun dapat memperoleh
informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. Diskusi
tentang klien diluar area pelayanan, menyampaikan pada teman atau keluarga
tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus dihindari
7. Tidak merugikan (Nonmaleficience)
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien
INFORMED CONSENT
Informed consent adalah pernyataan persetujuan terhadap rencana
tindakan medis yang akan dilakukan.

12

Hak Pasien :

1. Pasien berhak mendapat informasi yang cukup mengenai rencana tindakan


medis yang akan dialaminya. Pemberian informasi ini selayaknya bersifat
obyektif, tidak memihak, dan tanpa tekanan. Informasinya meliputi:

Bentuk tindakan medis

Prosedur pelaksanaannya

Tujuan dan keuntungan dari pelaksanaannya

Resiko dan efek samping dari pelaksanaannya

Resiko / kerugian apabila rencana tindakan medis itu tidak dilakukan

Alternatif lain sebagai pengganti rencana tindakan medis itu, termasuk


keuntungan dan kerugian dari masing-masing alternatif tersebut.

2. Pasien berhak meminta pendapat atau penjelasan dari dokter lain untuk
membandingkan informasi
3. Pasien berhak menolak
4. Pasien diberi waktu untuk berfikir dan mempertimbangkan keputusannya
Kriteria pasien yang berhak :
1.

Pasien sudah dewasa


Mulai usia 21 tahun. Pasien yang masih dibawah batas umur ini tapi sudah menikah
termasuk kriteria pasien sudah dewasa

2.

Pasien dalam keadaan sadar


Hal ini mengandung pengertian bahwa pasien tidak sedang pingsan, koma, atau
terganggu kesadarannya karena pengaruh obat, tekanan kejiwaan, atau hal lain,
pasien harus bisa diajak berkomunikasi secara wajar dan lancar.

3.Pasien dalam keadaan sehat akal


Keadaan Gawat Darurat :

13

1. Proses pemberian informasi dan permintaan persetujuan rencana tindakan medis ini
bisa saja tidak dilaksanakan
2. Prosedur penyelamatan pasien tetap harus dilakukan sesuai dengan standar
pelayanan / prosedur medis yang berlaku disertai profesionalisme yang dijunjung
tinggi.
3. Setelah masa kritis terlewati dan pasien sudah bisa berkomunikasi, maka pasien
berhak untuk mendapat informasi lengkap tentang tindakan medis yang sudah
dialaminya tersebut
Kode etik keperawatan Indonesia :
A. Perawat dan Klien
1) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan
martabat manusia, keunikan klien dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan
kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik dan agama
yang dianut serta kedudukan sosial.
2) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara suasana
lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan
hidup beragama klien.
3) Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan asuhan
keperawatan.
4) Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang dikehendaki sehubungan dengan
tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh yang berwenang
sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
B. Perawat dan praktek
1) Perawat memelihara dan meningkatkan kompetensi dibidang keperawatan melalui
belajar terus-menerus

14

2) Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai


kejujuran profesional yang menerapkan pengetahuan serta ketrampilan keperawatan
sesuai dengan kebutuhan klien.
3) Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang akurat dan
mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan
konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang lain
4) Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan
selalu menunjukkan perilaku profesional
C. Perawat dan masyarakat
Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai dan
mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan dan kesehatan masyarakat.
D. Perawat dan teman sejawat
1) Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun dengan
tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja
maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
2) Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan
kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan ilegal.
E. Perawat dan Profesi
1) Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan pelayanan
keperawatan serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan
keperawatan
2) Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi keperawatan

2. ISU ETIK DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN


Beberapa isu keperawatan yang ada diantaranya:

15

1. Isu-isu Etika Biomedis


Isu etika biomedis menyangkut persepsi dan perilaku profesional dan instutisional
terhadap hidup dan kesehatan manusia dari sejak sebelum kelahiran, pada saat-saat
sejak lahir, selama pertumbuhan, jika terjadi penyakit atau cidera, menjadi tua, sampai
saat-saat menjelang akhir hidup, kematian dan malah beberapa waktu setelah itu.
Sebenarnya pengertian etika biomedis dalam hal ini masih perlu dipilah lagi dalam isuisu etika biomedis atau bioetika yang lahir sebagai dampak revolusi biomedis sejak
tahun 1960-an, yang antara lain berakibat masalah dan dilema baru sama sekali bagi
para dokter dalam menjalankan propesinya.
Etika biomedis dalam arti ini didefinisikan oleh International association of
bioethics sebagai berikut; Bioetika adalah studi tentang isu-isu etis,sosial,hukum,dan
isu-isu lainyang timbul dalam pelayanan kesehatan dan ilmu-ilmu biolagi (terjemahan
oleh penulis).
Pengertian etika biomedis juga masih perlu dipilah lagi dalam isu-isu etika
medistradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun, dan lebih banyak
menyangkuthubungan individual dalam interaksi terapeutik antara dokter dan pasien.
Kemungkinan adanya masalah etika medis demikianlah yang dalam pelayanan di rumah
sakit sekarang cepat oleh masyarakat (dan media masa) ditunding sebagai malpraktek.
2. Isu-isu Bioetika
Beberapa contoh yang dapat dikemukakan tentang isu etika biomedis dalam arti
pertama

(bioetika)

adalah

antara

lain

terkait

dengan:

kegiatan

rekayasa

genetik,teknologi reproduksi,eksperimen medis, donasi dan transpalasi organ,


penggantian kelamin, eutanasia, isu-isu pada akhir hidup, kloning terapeutik dan

16

kloning repraduktif. Sesuai dengan definisi di atas tentang bioetika oleh International
Association of Bioethics ,kegiatan-kegiatan di atas dalam pelayanan kesehatan dan
ilmu-ilmu biologi tidak hanya menimbulkan isu-isu etika,tapi juga isu-isu sosial,
hukum, agama, politik, pemerintahan, ekonomi,kependudukan,lingkungan hidup,dan
mungikin juga isu-isu di bidang lain.
Dengan demikian,identifikasi dan pemecaha masalah etika biomedis dalam arti
tidak hanya terbatas pada kepedulian internal saja-misalnya penanganan masalah etika
medis tradisional- melainkan kepedulian dan bidang kajian banyak ahlimulti- dan
inter-displiner tentang masalah-masalah yang timbul karena perkembangan bidang
biomedis pada skala mikro dan makro,dan tentang dampaknya atas masyarakat luas dan
sistemnilainya,kini dan dimasa mendatang (F.Abel,terjemahan K.Bertens).
Studi formal inter-disipliner dilakukan pada pusat-pusat kajian bioetika yang
sekarang

sudah

banyak

jumlahnya

terbesar

di

seluruh

dunia.Dengan

demikian,identifikasi dan pemecahan masalah etika biomedis dalam arti pertama tidak
dibicarakan lebih lanjut pada presentasi ini. yang perlu diketahui dan diikuti
perkembangannya oleh pimpinan rumah sakit adalah tentang fatwa pusat-pusat kajian
nasional dan internasional,deklarasi badan-badan internasional seperti PBB, WHO,
Amnesty

International,

ataufatwa

Akademi

Ilmu

Pengetahuan

Nasional

(diIndonesia;AIPI) tentang isu-isu bioetika tertentu, agar rumah sakit sebagai institusi
tidak melanggar kaidah-kaidah yang sudah dikonsesuskan oleh lembaga-lembaga
nasional atau supranasional yang terhormat itu. Dan jika terjadi masalah bioetika
dirumah sakit yang belum diketahui solusinya,pendapat lembaga-lembaga demikian
tentu dapat diminta.
3. Isu-isu Etika Medis

17

Seperti sudah disinggung diatas, masalah etika medis tradisional dalam pelayanan
medis dirumah sakit kita lebih banyak dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya
malpraktek. Padahal, etika disini terutama diartikan kewajiban dan tanggung jawab
institusional rumah sakit. Kewajiban dan tanggung jawab itu dapat berdasar pada
ketentuan hukum (Perdata, Pidana, atau Tata Usaha Negara) atau pada norma-norma
etika.
4. Isu Keperawatan Pelaksanaan Kolaborasi Perawat dengan Dokter
Kolaborasi

merupakan

istilah

umum

yang

sering

digunakan

untuk

menggambarkan suatu hubungan kerja sama yang dilakukan pihak tertentu. Sekian
banyak pengertian dikemukakan dengan sudut pandang beragam namun didasari prinsip
yang sama yaitu mengenai kebersamaan, kerja sama, berbagi tugas, kesetaraan,
tanggung jawab dan tanggung gugat. Namun demikian kolaborasi sulit didefinisikan
untuk menggambarkan apa yang sebenarnya yang menjadi esensi dari kegiatan ini.
Seperti yang dikemukakan National Joint Practice Commision (1977) yang dikutip
Siegler dan Whitney (2000) bahwa tidak ada definisi yang mampu menjelaskan sekian
ragam variasi dan kompleknya kolaborasi dalam kontek perawatan kesehatan. Apapun
bentuk dan tempatnya, kolaborasi meliputi suatu pertukaran pandangan atau ide yang
memberikan perspektif kepada seluruh kolaborator. Efektifitas hubungan kolaborasi
profesional membutuhkan mutual respek baik setuju atau ketidaksetujuan yang dicapai
dalam interaksi tersebut. Partnership kolaborasi merupakan usaha yang baik sebab
mereka menghasilkan outcome yang lebih baik bagi pasien dalam mecapai upaya
penyembuhan dan memperbaiki kualitas hidup.
Pemahaman mengenai prinsip kolaborasi dapat menjadi kurang berdasar jika
hanya dipandang dari hasilnya saja. Pembahasan bagaimana proses kolaborasi itu

18

terjadi justru menjadi point penting yang harus disikapi. Bagaimana masing-masing
profesi memandang arti kolaborasi harus dipahami oleh kedua belah pihak sehingga
dapat diperoleh persepsi yang sama.
Kolaborasi merupakan proses komplek yang membutuhkan sharing pengetahuan
yang direncanakan dan menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat pasien.
Bekerja bersama dalam kesetaraan adalah esensi dasar dari kolaborasi yang kita
gunakan untuk menggambarkan hubungan perawat dan dokter. Tentunya ada
konsekweksi di balik issue kesetaraan yang dimaksud. Kesetaraan kemungkinan dapat
terwujud jika individu yang terlibat merasa dihargai serta terlibat secara fisik dan
intelektual saat memberikan bantuan kepada pasien. Apapun bentuk dan tempatnya,
kolaborasi meliputi suatu pertukaran pandangan atau ide yang memberikan perspektif
kepada seluruh kolaborator. Efektifitas hubungan kolaborasi profesional membutuhkan
mutual respek baik setuju atau ketidaksetujuan yang dicapai dalam interaksi tersebut.
Partnership kolaborasi merupakan usaha yang baik sebab mereka menghasilkan
outcome yang lebih baik bagi pasien dalam mecapai upaya penyembuhan dan
memperbaiki kualitas hidup.
Sejak awal perawat dididik mengenal perannya dan berinteraksi dengan pasien.
Praktek keperawatan menggabungkan teori dan penelitian perawatan dalam praktek
rumah sakat dan praktek pelayanan kesehatan masyarakat. Para pelajar bekerja diunit
perawatan pasien bersama staf perawatan untuk belajar merawat, menjalankan prosedur
dan

menginternalisasi

peran.

Kolaborasi

merupakan

proses

komplek

yang

membutuhkan sharing pengetahuan yang direncanakan yang disengaja, dan menjadi


tanggung jawab bersama untuk merawat pasien.
a. Anggota Tim interdisiplin

19

Tim pelayanan kesehatan interdisiplin merupakan sekolompok profesional yang


mempunyai aturan yang jelas, tujuan umum dan berbeda keahlian. Tim akan berfungsi
baik jika terjadi adanya konstribusi dari anggota tim dalam memberikan pelayanan
kesehatan terbaik. Anggota tim kesehatan meliputi : pasien, perawat, dokter,
fisioterapi, pekerja sosial, ahli gizi, manager, dan apoteker. Oleh karena itu tim
kolaborasi hendaknya memiliki komunikasi yang efektif, bertanggung jawab dan
saling menghargai antar sesama anggota tim.
Pasien secara integral adalah anggota tim yang penting. Partisipasi pasien dalam
pengambilan keputusan akan menambah kemungkinan suatu rencana menjadi efektif.
Tercapainya tujuan kesehatan pasien yang optimal hanya dapat dicapai jika pasien
sebagai pusat anggota tim.
Perawat sebagai anggota membawa persfektif yang unik dalam interdisiplin tim.
Perawat memfasilitasi dan membantu pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
dari praktek profesi kesehatan lain. Perawat berperan sebagai penghubung penting
antara pasien dan pemberi pelayanan kesehatan.
Dokter memiliki peran utama dalam mendiagnosis, mengobati dan mencegah
penyakit. Pada situasi ini dokter menggunakan modalitas pengobatan seperti
pemberian obat dan pembedahan. Mereka sering berkonsultasi dengan anggota tim
lainnya sebagaimana membuat referal pemberian pengobatan.
Kolaborasi menyatakan bahwa anggota tim kesehatan harus bekerja dengan
kompak dalam mencapai tujuan. Elemen penting untuk mencapai kolaborasi yang
efektif meliputi kerjasama, asertifitas, tanggung jawab, komunikasi, otonomi dan
kordinasi seperti skema di bawah ini.

20

Kerjasama adalah menghargai pendapat orang lain dan bersedia untuk memeriksa
beberapa alternatif pendapat dan perubahan kepercayaan. Asertifitas penting ketika
individu dalam tim mendukung pendapat mereka dengan keyakinan. Tindakan asertif
menjamin bahwa pendapatnya benar-benar didengar dan konsensus untuk dicapai.
Tanggung jawab, mendukung suatu keputusan yang diperoleh dari hasil konsensus
dan harus terlibat dalam pelaksanaannya. Komunikasi artinya bahwa setiap anggota
bertanggung jawab untuk membagi informasi penting mengenai perawatan pasien dan
issu yang relevan untuk membuat keputusan klinis. Otonomi mencakup kemandirian
anggota tim dalam batas kompetensinya. Kordinasi adalah efisiensi organisasi yang
dibutuhkan dalam perawatan pasien, mengurangi duplikasi dan menjamin orang yang
berkualifikasi dalam menyelesaikan permasalahan.
Kolaborasi didasarkan pada konsep tujuan umum, konstribusi praktisi profesional,
kolegalitas, komunikasi dan praktek yang difokuskan kepada pasien. Kolegalitas
menekankan pada saling menghargai, dan pendekatan profesional untuk masalahmasalah dalam team dari pada menyalahkan seseorang atau atau menghindari tangung
jawab. Hensen menyarankan konsep dengan arti yang sama : mutualitas dimana dia
mengartikan sebagai suatu hubungan yang memfasilitasi suatu proses dinamis antara
orang-orang ditandai oleh keinginan maju untuk mencapai tujuan dan kepuasan setiap
anggota. Kepercayaan adalah konsep umum untuk semua elemen kolaborasi. Tanpa
rasa pecaya, kerjasama tidak akan ada, asertif menjadi ancaman, menghindar dari
tanggung jawab, terganggunya komunikasi . Otonomi akan ditekan dan koordinasi
tidak akan terjadi.
Elemen kunci kolaborasi dalam kerja sama team multidisipliner dapat digunakan
untuk mencapai tujuan kolaborasi team :

21

- Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan menggabungkan


keahlian unik profesional.
- Produktivitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya
- Peningkatnya profesionalisme dan kepuasan kerja, dan loyalitas
- Meningkatnya kohesifitas antar profesional
- Kejelasan peran dalam berinteraksi antar profesional,
- Menumbuhkan komunikasi, kolegalitas, dan menghargai dan memahami orang lain.
Berkaitan dengan issue kolaborasi dan soal menjalin kerja sama kemitraan dengan
dokter, perawat perlu mengantisipasi konsekuensi perubahan dari vokasional menjadi
profesional. Status yuridis seiring perubahan perawat dari perpanjangan tangan dokter
menjadi mitra dokter sangat kompleks. Tanggung jawab hukum juga akan terpisah
untuk masing-masing kesalahan atau kelalaian. Yaitu, malpraktik medis, dan
malpraktik keperawatan. Perlu ada kejelasan dari pemerintah maupun para pihak
terkait mengenai tanggung jawab hukum dari perawat, dokter maupun rumah sakit.
Organisasi profesi perawat juga harus berbenah dan memperluas struktur
organisasi agar dapat mengantisipasi perubahan.Pertemuan profesional dokterperawat dalam situasi nyata lebih banyak terjadi dalam lingkungan rumah sakit. Pihak
manajemen rumah sakit dapat menjadi fasilitator demi terjalinnyanya hubungan
kolaborasi seperti dengan menerapkan sistem atau kebijakan yang mengatur interaksi
diantara berbagai profesi kesehatan. Pencatatan terpadu data kesehatan pasien, ronde
bersama, dan pengembangan tingkat pendidikan perawat dapat juga dijadikan strategi
untuk mencapai tujuan tersebut.

22

Ronde bersama yang dimaksud adalah kegiatan visite bersama antara dokterperawat dan mahasiswa perawat maupun mahasiswa kedokteran, dengan tujuan
mengevaluasi pelayanan kesehatan yang telah dilakukan kepada pasien. Dokter dan
perawat saling bertukar informasi untuk mengatasi permasalahan pasien secara
efektif. Kegiatan ini juga merupakan sebagai satu upaya untuk menanamkan sejak
dini pentingnya kolaborasi bagi kemajuan proses penyembuhan pasien. Kegiatan
ronde bersama dapat ditindaklanjuti dengan pertemuan berkala untuk membahas
kasus-kasus tertentu sehingga terjadi trasnfer pengetahuan diantara anggota tim.
Komunikasi dibutuhkan untuk mewujudkan kolaborasi yang efektif, hal tersebut
perlu ditunjang oleh sarana komunikasi yang dapat menyatukan data kesehatan pasien
secara komfrenhensif sehingga menjadi sumber informasi bagi semua anggota team
dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu perlu dikembangkan catatan status
kesehatan pasien yang memungkinkan komunikasi dokter dan perawat terjadi secara
efektif.
Pendidikan perawat perlu terus ditingkatkan untuk meminimalkan kesenjangan
profesional

dengan

dokter

melalui

pendidikan

berkelanjutan.

Peningkatan

pengetahuan dan keterampilan dapat dilakukan melalui pendidikan formal sampai


kejenjang

spesialis

atau

minimal

melalui

pelatihan-pelatihan

yang

dapat

meningkatkan keahlian perawat.


5. Penanganan masalah isu-isu dalam keperawatan
Pemecahan masalah dan proses pengambilan keputusan membutuhkan pemikiran
kritis dan analisis yang dapat ditingkatkan dalam praktek.
Pemecahan masalah termasuk dalam langkah proses pengambilan keputusan, yang
difokuskan untuk mencoba memecahkan masalah secepatnya. Masalah dapat

23

digambarkan sebagai kesenjangan diantara apa yang ada dan apa yang seharusnya
ada.
Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang efektif diprediksi bahwa
individu harus memiliki kemampuan berfikir kritis dan mengembangkan dirinya
dengan adanya bimbingan dan role model di lingkungan kerjanya.
Untuk mencapai pelayanan yang efektif maka perawat, dokter dan tim kesehatan
harus berkolaborasi satu dengan yang lainnya. Tidak ada kelompok yang dapat
menyatakan lebih berkuasa diatas yang lainnya. Masing-masing profesi memiliki
kompetensi profesional yang berbeda sehingga ketika digabungkan dapat menjadi
kekuatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Banyaknya faktor yang
berpengaruh seperti kerjasama, sikap saling menerima, berbagi tanggung jawab,
komunikasi efektif sangat menentukan bagaimana suatu tim berfungsi. Kolaborasi
yang efektif antara anggota tim kesehatan memfasilitasi terselenggaranya pelayanan
pasien yang berkualitas
Memecahkan struktur masalah yang sudah teridentifikasi kedalam komponenkomponennya, menganalisis komponen-komponen itu sehingga ditemukan akar
masalah.Akar masalah adalah penyebab paling dasar dari masalah etika yang
terjadi. Ia dapat berupa kelemahan pada manusia, kepemimpinan, manajemen,
budaya organisasi, sarana, alat, sistem, prosedur, atau faktor-faktor lain.
Melakukan analisis lebih dalam tentang akar masalah yang sudah ditemukan (root
cause analysis),untuk menetapkan arah pemecahannya.
Menetapkan beberapa alternatif untuk pemecahan akar masalah.
Memilih alternatif yang situasional terbaik untuk pemecahan masalah itu.
Mengevaluasi penerapan upaya pemecahan yang sudah dilaksanakan.

24

Melakukan tindakan koreksi jika masalah etika belum terpecahkan atau terulang
lagi terjadi. Tindakan koreksi yang dapat menimbulkan masalah etika baru adalah
jika manusia sebagai penyebab akar masalah yang berulang-ulang dikeluarkan dari
rumah sakit.
6. Kesimpulan dan saran
Untuk mencapai pelayanan yang efektif maka perawat, dokter dan tim kesehatan
harus saling bekerjasama. Tidak ada kelompok yang dapat menyatakan lebih berkuasa
diatas yang lainnya. Masing-masing profesi memiliki kompetensi profesional yang
berbeda sehingga ketika digabungkan dapat menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan
yang diharapkan. Banyaknya faktor yang berpengaruh seperti kerjasama, sikap saling
menerima, berbagi tanggung jawab, komunikasi efektif sangat menentukan
bagaimana suatu tim berfungsi. Penangananan masalah yang efektif dan cepat dalam
mengatasi masalah antara anggota tim kesehatan dapat memfasilitasi terselenggaranya
pelayanan pasien yang berkualitas.
Dalam menjalankan pelayanan kesehatan, masing-masing profesi harus
berpedoman pada etika profesinya dan harus pula memahami etika profesi disiplin
lainnya apalagi dalam wadah dimana mereka berkumpul agar tidak saling
berbenturan.
3. PRINSIP PRINSIP LEGAL DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN
Dalam praktik keperawatan terdapat 4 hal yang termasuk di dalam prinsip
prinsip legal, yaitu :
1. MALPRAKTIK
Definisi

25

Malpraktik adalah praktek kedokteran/keperawatan yang salah atau tidak sesuai


dengan standar profesi atau standar prosedur operasional.
Malpraktik

adalah

kelalaian

dari tenaga

kesehatan

dalam menerapkan

keterampilan dan pengetahuannya di dalam memberikan pelayanan pengobatan dan


perawatan terhadap seorang pasien yang lazim diterapkan dalam mengobati dan
merawat orang yang sakit atau terluka
Kategori malpraktik
1. Kriminal Malpraktik
Apabila perbuatan tersebut merupakan kesengajaan, kelalaian, kecerobohan.
Pertanggungjawaban di depan hukum adalah bersifat personal/individual
Contoh :
Kesengajaan : Melakukan euthanasia tanpa indikasi medis (pasal 344 KUHP),
melakukan aborsi tanpa indikasi medis (pasal 299 KUHP)
Kecerobohan : Melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien (informed
consent)
Kelalaian

: Kurang hati-hati mengakibatkan luka, cacat, meninggalnya


pasien dan ketinggalan klem di dalam perut saat melakukan
operasi

2. Civil Malpraktik
- Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan
- Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat
melakukannya

26

- Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak


sempurna melakukannya
- Pertanggungjawaban dapat bersifat individual atau dialihkan ke pihak lain
berdasarkan principle of vicarius liability
- Rumah sakit/sarana kesehatan dapat bertangunggung gugat atas kesalahan
yang dilakukan karyawannya (tenaga kesehatan) selama tenaga kesehatan
tersebut dalam rangka melaksanakan tugas kewajibannya
3. Administratif Malpraktik
- Tenaga kesehatan telah melanggar hokum administrasi
- Contoh : tentang persyaratan bagi tenaga keperawatan untuk menjalankan
profesinya ( SIK, SIP), batas kewenangan serta kewajiban tenaga keperawatan
Tindakan yang termasuk dalam malpraktIk :
1. Kesalahan diagnosa
2. Penyuapan
3. Penyalahgunaan alat-alat kesehatan
4. Pemberian dosis obat yang salah
5. Salah dalam pemberian obat kepada pasien
6. Alat-alat yang tidak memenuhi standart kesehatan atau tidak steril
7. Kesalahan prosedur operasi
Dampak yang terjadi akibat malpraktik :

27

1. Merugikan pasien terutama pada fisiknya dapat menimbulkan kecacatan yang


permanen
2. Bagi petugas kesehatan mengalami gangguan psikologisnya, karena merasa
bersalah
3. Dari segi hukum dapat dijerat hukum pidana
4. Dari segi sosial dapat dikucilkan oleh masyarakat
5. Dari segi agama mendapat dosa
6. Dari etika keperawatan, melanggar kode etik keperawatan
Elemen elemen pertanggung jawaban hukum (principle of vicarius liability)
Yang harus ditetapkan untuk membuktikan bahwa malpraktek atau kelalaian telah
terjadi :
1. Kewajiban (duty)
- Memberikan asuhan keperawatan yang profesional yang sesuai dengan SOP
- Meminta persetujuan setiap tindakan yang akan dilakukan oleh perawat
- Mencatat semua tindakan keperawatan secara akurat
2. Tidak melaksanakan kewajiban (breach of the duty)
Pelanggaran terjadi sehubungan dengan kewajiban, artinya menyimpang dari apa
yang seharusnya dilakukan menurut standar profesinya.
Contoh :
- Gagal dalam mencatat dan melaporkan apa yang telah dikaji dari pasien

28

- Gagal dalam memenuhi standar keperawatan yang ditetapkan sebagai


kebijakan rumah sakit
- Gagal dalam melaksanakan dan mendokumentasikan

tindakan yang telah

diberikan kepada pasien


3. Sebab-akibat (proximate cause)
Pelanggaran terhadap kewajibannya menyebabkan cedera pada klien.
Contoh :
Cedera yang terjadi secara langsung berhubungan dengan pelanggaran terhadap
kewajiban perawat terhadap pasien dalam menggunakan cara pengaman yang tepat
yang menyebabkan klien jatuh dan menyebabkan fraktur
4. Injury (Cedera)
Tenaga kesehatan yang menyebabkan pasien cedera dapat dituntut secara hukum
2. KELALAIAN

Definisi
Kelalaian dapat bersifat ketidaksengajaan, kurang teliti, kurang hati-hati, acuh tak
acuh, sembrono, dan tidak perduli terhadap kepentingan orang lain
Kelalaian bukan suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, jika kelalaian tidak
sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang tersebut
menerimanya
Kelalaian yang mengakibatkan kerugian materi, mencelakakan dan sampai
merenggut nyawa orang dinamakan kelalaian berat

3. PERTANGGUNGGUGATAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN

29

Pertanggungguugatan
Pertanggunggugatan yaitu suatu tindak gugatan apabila terjadi suatu kasus tertentu

Contoh :
Ketika dokter memberi instruksi kepada perawat untuk memberikan obat kepada
pasien tetapi ternyata obat yang diberikan itu salah, dan mengakibatkan penyakit
pasien bertambah parah dan merenggut nyawa pihak keluarga dapat menggugat
dokter atau perawat tersebut.

Pertanggungjawaban
Pertanggungjawaban yaitu suatu konsekuensi yang harus diterima seseorang atas
perbuatannya.
Contoh :
Jika ada kesalahan atau kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan tidak
bisa diterima oleh keluarga pasien maka tenaga kesehatan

bertanggung jawab

atas kelalaian dan kesalahannya.


4. SITUASI YANG HARUS DIHINDARI PERAWAT
1. Kelalaian
2. Pencurian
3. Fitnah (pernyataan palsu dan merugikan pasien baik secara verbal maupun
tertulis)
4. Penyerangan / pemukulan
5. Pelanggaran privasi (kerahasiaan pasien)
6. Penganiayaan (melanggar prinsip etik tidak melakukan sesuatu yang
membahayakan pasien)

30

4.4 PERLINDUNGAN HUKUM DALAM PRAKTK KEPERAWATAN


Ada beberapa alasan mengapa Undang-Undang Praktik Keperawatan dibutuhkan.
Pertama, alasan filosofi. Perawat telah memberikan konstribusi besar dalam peningkatan
derajat kesehatan. Perawat berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan mulai dari
pelayanan pemerintah dan swasta, dari perkotaan hingga pelosok desa terpencil dan
perbatasan. Tetapi pengabdian tersebut pada kenyataannya belum diimbangi dengan
pemberian perlindungan hukum, bahkan cenderung menjadi objek hukum. Perawat juga
memiliki kompetensi keilmuan, sikap rasional, etis dan profesional, semangat pengabdian
yang tinggi, berdisiplin, kreatif, terampil, berbudi luhur dan dapat memegang teguh etika
profesi. Disamping itu, Undang-Undang ini memiliki tujuan, lingkup profesi yang jelas,
kemutlakan profesi, kepentingan bersama berbagai pihak (masyarakat, profesi,
pemerintah dan pihak terkait lainnya), keterwakilan yang seimbang, optimalisasi profesi,
fleksibilitas, efisiensi dan keselarasan.
Berikut beberapa undang undang tentang praktek keperawatan :
1.

UU No. 6 tahun 1963 tentan Tenaga Kesehatan. UU ini merupakan penjabaran dari
UU No. 9 tahun 1960. Undang- undang ini membedakan tenaga kesehatan sarjana
dan bukan sarjana. Tenaga sarjana meliputi dokter, apoteker, dan dokter gigi. Tenaga
perawat termasuk tenaga yang bukan sarjana atau tenaga kesehatan dengan
pendidikan rendah. UU ini boleh dikatan sudah usang, karena dalam UU ini juga
tercantum berbagai jenis tenaga sarjana keperawatan seperti sekarang ini.

2.

UU Kesehatan No. 18 tahun 1964 mengatur tentang Wajib Kerja Paramedis. Pada
pasal 2, ayat (3) dijelaskan bahwa tenaga kesehatan sarjana muda, menengah, dan
rendah wajib menjalankan wajib kerja pada pemerintah selama 3 tahun. Dalam UU

31

ini, lagi- lagi posisi perawat dinyatakan sebagai tenaga kerja pembantu bagi tenaga
kesehatan akademis termasuk dokter.
3.

Dalam SK Menkes No. 262/Per/Vll/1979 tahun 1979 yan membedakan paramedis


menjadi dua golongan yaitu golongan medis keperawatan (termasuk bidan) dan
paramdis non keperawatan. Dari aspek hukum, suatu hal yang perlu dicatat di sini
bahwa tenaga bidan tidak terpisah tetapi juga termasuk katagori keperawatan.

4.

Permenkes No. 363/Menkes/Per/XX/1980 tahun 1980, pemerintah membuat suatu


peryataan yang jelas perbedaan antara tenaga keperawatan dan bidan.

5.

Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor


94/Menpan/1986, tangal 4 nopenber 1986 menjelaskan jabatan fungsional tenaga
keperawatan dan system kredit poin. Sistem ini menguntungan perawat, karena
dapat naik pangkatnya dan tidak tergantung kepada pangkat/golongan atasannya.

6.

UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 merupakan UU yang banyak memberi kesempatan


bagi perkembangan keperawatan termasuk praktik keperawatan profesional, kerena
dalam UU ini dinyatakan tentang standar praktik, hak- hak pasien, kewenagan,
maupun perlindungan hukum bagi profesi kesehatan termasuk keperawatan.
Beberapa peryataan UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 yang dapat dipakai sebagai
acuan pembuatan UU Praktik Keperawatan adalah:
a) Pasal 53 ayat 1 mengatakan ; Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan
hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
b) Pasal 53 ayat 4 menyebutkan bahwa ketentuan mengenai standar profesi dan hakhak pasien ditetepkan dengan peraturan pemerintah.
c) Pasal 50 ayat 1 menyatakan bahwa tenaga kesehatan bertugas menyelengarakan
atau melaksakan kegiatan sesuai dengan bidang keahlian dan kewenagannya.

32

d) Sedangkan pada pasal 53 ayat 3 menyatakan bahwa ; Tenaga kesehatan, untuk


kepentingan pembuktian, dapat melakukan tindakan medis terhadap seseorang
dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan.

4.5 NURSING ADVOCACY


Ketika menghadapi pasien kita memerlukan etika sebagai aturan berperilaku
maupun bertingkah laku. Di dalam etika keperawatan membahas dua jenis prinsip yaitu
etika dan moral. di dalam moral kita ditentukan tentang sifat baik atau buruk, benar atau
salah dan juga layak atau tidak layak. Ketika mengambil keputusan secara etis kita harus
menentukan kerangka membuat keputusan, langkah-langkah membuat keputusan, dan
faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan secara etis. Untuk itulah
perlunya materi ini agar calon perawat mengetahui dan memahami tentang keputusan etis
dan moral.

Konsep moral dalam keperawatan

1. Pengertian moral
Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari ungkapan bahasa latin mores
yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam
kamus umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penetuan baik buruk
terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk
menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan
benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut. (fauziah,
2012)
Moral dalam istilah dipahami juga sebagai :
a. Prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk.

33

b. Kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah.


c. Ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik.(1)
2. Memahami konsep moral dalam keperawatan
Prinsip moral merupakan masalah umum dalam melakukan sesuatu sehingga
membentuk suatu sistem etik. Prinsip moral berfungsi untuk membuat secara spesifik
apakah suatu tindakan dilarang, diperlukan atau diizinkan dalam situasi tertentu.( John
Stone, 1989 ).
Fry (1991) menjelaskan bahwa dalam praktik keperawatan, ada beberapa konsep
penting yang harus termaktub dalam standar praktik keperawatan, diantaranya yaitu:
a. Advokasi
Menurut ANA (1985) advokasi adalah melindungi klien atau masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten
dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapapun. Fry (1987) sendiri mendefinisikan
sebagai dukungan aktif terhadap setiap hal yang memiliki dampak/penyebab penting.
Sementara itu Gadow (1983) mengatakan bahwa advokasi merupakan dasar falsafah
dan ideal keperawatan yang melibatkan bantuan perawat secara aktif kepada individu
secara bebas untuk menentukan nasib sendiri.
Peran perawat sebagai advokat klien adalah memberi informasi dan bantuan
kepada klien atas keputusan yang telah dibuat klien. Hal ini berarti perawat
memberikan penjelasan/informasi sesuai kebutuhan klien. Menurut Kohnke (1982),
perawat dalam memberikan bantuan memiliki dua peran yaitu peran aksi dan
nonaksi.peran aksi berarti perawat memberikan keyakinan kepada klien bahwa
mereka memiliki hak dan tanggung jawab dalam memnentukan pilihan atau
keputusan sendiri tanpa tekanan pengaruh orang lain.

34

Sedangkan peran nonaksi mengandung arti bahwa sebagai advokat, perawat


harus menahan diri untuk tidak mempengaruhi klien. Dalam menjalankan peran
sebagai advokat, perawat harus menghargai klien sebagai individu yang memiliki
berbagai karakteristik. Perawat harus memberikan perlindungan terhadap martabat
dan nilai manusiawi klien selama dalam keadaan sakit.

b. Responsibilitas dan Akuntabilitas


1).Responsibilitas

(tanggung

jawab)

adalah

eksekusi

terhadap

tugas

yang

berhubungan dengan peran tertentu dari perawat . perawat yang selalu bertanggung
jawab dalam melaksanakan tindakannya akan mendapatkan kepercayaan dari klien
atau profesi lain. Sehingga ia akan tetap kompeten dalam pengetahuan dan
keterampilan serta selalu menunjukan keinginan untuk bekerja berdasarkan kode
etik profesi.
2).Akuntabilitas (tanggung gugat) mengandung arti dapat mempertanggungjawabkan
suatu tindakan yang dilakukan, dan menerima konsikuensi dari tindakan tersebut
(Kozier, erb, 1991). Mengandung dua komponen utama yaitu tanggung jawab dan
tanggung gugat (Fry, 1990) dan dipandang dalam suatu tingkatan hierarki, dimulai dari
tingkat individu, institusi/profesional, serta sosial (Sulliva, decker, 1998) perawat
bertanggung gugat terhadap dirinya, profesi , klien, sesama karyawan, dan masyarakat.
Agar dapat bertanggung gugat, perawata harus bertindak profesional serta sesuai
dengan kode etik profesinya. Akunsibilatas dilakukan untuk mengevaluasi efektifikasi
perawat dalam melakukan praktik keperawatan.
c. Loyalitas
Merupakan suatu konsep yang meliputi simpati, peduli dan berhubungan dengan
timbal balik terhadap pihak yang secara profesional berhubungan dengan perawat. Untuk

35

mencapai kualitas asuhan keperawatan yang tinggi dan hubungan dengan pihak yang
harmonis, loyalitas harus dipertahankan oleh setiap perawat baik kepada klien, teman
sejawat, institusi, maupun profesi. Untuk mewujudkannya, Tabbner mengajukan berbagai
argumerntasi:
1). Masalah klien tidak boleh didiskusikan dengan klien lain, karena informasi klien harus
didiskusikan secara profesional.
2). Perawat harus menhindari pembicaraab yang tidak manfaat.
3). Perawat harus menghargai dan memberikan bantuan kepada teman sejawat
4). Perawat harus menunjukan loyalitasnya kepada profesi dengan berprilaku secara tepat
pada saat bertugas.
Kerangka pembuat keputusan
Kerangka pembuat keputusan terdiri dari :
1. Nilai dan kepercayaan Pribadi
2. Kode etik perawat Indonesia
3. Konsep Moral keperawatan
4. Teori/prinsip-prinsip etika
Berbagai kerangka model pembuatan keputusan etis telah dirancang oleh banyak ahli
etika, di mana semua kerangka tersebut berupaya menjawab pertanyaan dasar tentang
etika, yang menurut Fry meliputi:
1. Hal apakah yang membuat tindakan benar adakah benar?
2. Jenis tindakan apakah yang benar?
3. Bagaimana aturan-aturan dapat diterapkan pada situasi tertentu?
4. Apakah yang harus dilakukan pada situasi tertentu?
Beberapa kerangka pembuatan keputusan etis keperawatan dikembangkan dengan
mengacu pada kerangka pembuatan keputusan etika medis. Beberapa kerangka disusun

36

berdasarkan posisi falsafah praktik keperawatan, sementara model-model lain


dikembangkan berdasarkan proses pemecahan masalah seperti yang diajarkan di
pendidikan keperawatan. Berikut ini merupakan contoh model yang dikembangkan oleh
Thompson dan Thompson dan model oleh Jameton: Metode Jameton dapat digunakan
untuk menyelesaikan permasalahan etika keperawatan yang berkaitan dengan asuhan
keperawatan pasien. Kerangka Jameton, seperti yang ditulis oleh Fry (1991), terdiri dari
enam tahap:
a. Identifikasi masalah. Ini berarti mengklasifikasi masalah dilihat dari nilai-nilai,
konflik dan hati nurani. Perawat juga harus mengkaji keterlibatannya terhadap
masalah etika yang timbul dan mengkaji parameter waktu untuk protes pembuatan
keputusan. Tahap ini akan memberikan jawaban pada perawat terhadap pernyataan:
Hal apakah yang membuat tindakan benar adalah benar? Nilai-nilai diklasifikasi dan
peran perawat dalam situasi yang terjadi diidentifikasi.
b. Perawat harus mengumpulkan data tambahan. Informasi yang dikumpul-kan dalam
tahap ini meliputi: orang-orang yang dekat dengan pasien yang terlibat dalam
membuat keputusan bagi pasien, harapan/keinginan dari pasien dan orang yang
terlibat dalam pembuatan keputusan. Perawat kemudian membuat laporan tertulis
kisah dari konflik yang terjadi. Perawat harus mengindentifikasi semua pilihan atau
alternatif secara terbuka kepada pembuat keputusan. Semua tindakan yang memungkinkan harus terjadi termasuk hasil yang mungkin diperoleh beserta dampaknya.
Tahap ini memberikan jawaban: Jenis tindakan apa yang benar?
c. Perawat harus memikirkan masalah etis secara berkesinambungan. Ini berarti perawat
mempertimbangkan nilai-nilai dasar manusia yang pen-ting bagi individu, nilai-nilai
dasar manusia yang menjadi pusat dari masalah, dan prinsip-prinsip etis yang dapat

37

dikaitkan dengan masalah. Tahap ini menjawab pertanyaan: Bagaimana aturan-aturan


tertentu diterapkan pada situasi tertentu?
d. Pembuat keputusan harus membuat keputusan. Ini berarti bahwa pem-buat keputusan
memilih tindakan yang menurut keputusan mereka paling tepat. Tahap ini menjawab
pertanyaan etika: Apa yang harus dilaku-kan pada situasi tertentu?
e. Tahap akhir adalah melakukan tindakan dan mengkaji keputusan dan hasil.
Tahap Model Keputusan Bioetis terdiri dari 10 tahapan (J.B Thompson and HO
Thompson, Ethic ini Nursing, New York: MacMilan Publishing Co. Inc., 1981,
diadaptasikan oleh Kelly, 1987. dalam Priharjo, 19):
1. Kumpulkan informasi tambahan untuk memperjelas situasi.
2. Identifikasi aspek etis dari masalah yang dihadapi.
3. Ketahui atau bedakan posisi pribadi dan posisi moral profesional.
4. Identifikasi posisi moral dan keunikan individu yang berlainan.
5. Identifikasi konflik-konflik nilai bila ada.
6. Gali siapa yang harus membuat keputusan.
7. Identifikasi rentang tindakan dan hasil yang diharapkan.
8. Tentukan tindakan dan laksanakan.
9. Evaluasi/review hasil dari keputusan/tindakan.
10. Review situasi yang dihadapi untuk mendeterminasi masalah kesehatan, keputusan
yang dibutuhkan, komponen etis individu keunikan
Sedangkan Pembuatan keputusan/pemecahan dilema etik menurut, Kozier, erb (1989),
adalah sebagai berikut:
1. Mengembangkan data dasar; untuk melakukan ini perawat memerlukan pengumpulan
informasi sebanyak mungkin, dan informasi tersebut meliputi: Orang yang terlibat,

38

Tindakan yang diusulkan, Maksud dari tindakan, dan konsekuensi dari tindakan yang
diusulkan.
2. Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut
3. Membuat tindakan alternative tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan
mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut.
4. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil keputusan
yang tepat.
5. Mendefinisikan kewajiban perawat.
6. Membuat keputusan.
Disamping beberapa bentuk kerangka pembuatan keputusan dilema etik yang terdapat
diatas, penting juga diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan keputusan
etik.

Diantaranya

adalah

factor

agama

dan

adat

istiadat,

social,

ilmu

pengetahuan/tehnologi, legislasi/keputusan yuridis, dana/keuangan, pekerjaan/posisi


pasien maupun perawat, kode etik keperawatan dan hak-hak pasien (Priharjo, 1995).
Beberapa kerangka pembuatan dan pengambilan keputusan dilema etik diatas dapat
diambil suatu garis besar langkah-langkah kunci dalam pengambilan keputusan, yaitu:
a. Klarifikasi dilema etik, baik pertanyaan fakta dan komponen nilai etik yang seharusnya
b. Dapatkan informasi yang lengkap dan terinci, kumpulkan data tambahan dari berbagai
sumber, bila perlu ada saksi ahli berhubungan dengan pertanyaan etik dan apakah ada
pelanggaran hukum/legal
c. Buatlah beberapa alternatif keputusan dan identifikasi beberapa alternative tersebut dan
diskusikan dalam suatu tim (komite etik).
d. Pilih dari beberapa alternative dan paling diterima oleh masing-masing pihak dan buat
suatu keputusan atas alternative yang dipilih

39

e. Laksanakan keputusan yang telah dipilih bila perlu kerjasama dalam tim dan tentukan
siapa yang harus melaksanakan putusan.
Observasi dan lakukan penilain atas tindakan/keputusan yang dibuat serta dampak
yang timbul dari keputusan tersebut, bila perlu tinjau kembali beberapa alternative
keputusan dan bila mungkin dapat dijalankan.

Langkah-langkah pembuatan keputusan


Ada tiga langkah yang biasa digunakan dalam pengambilan keputusan moral.
Mereka adalah utilitarianisme, intuisionisme, dan situasional. Paham utilitarianisme
adalah paham yang berpendapat bahwa yang baik itu adalah yang berguna,
menguntungkan, berfaedah, dan yang jahat atau buruk adalah yang tidak bermanfaat,
tak berfaedah, merugikan. Berasal dari kata Latin utilis tersusunlah teori tujuan
perbuatan ini. Secara umum, utilitarianisme menilai sebuah tindakan berdasarkan hasil
yang dicapainya, apakah mereka membawa kebaikan bagi manusia atau tidak. Paham
ini juga disebut dengan paham teleologis, bahwa semua sistem terarah kepada tujuan.
Ends justifies means. (pemerintah: menggusur, demi kepentingan orang banyak, sedikit
dikorbankan).
Salah satu kekuatan utilitarianisme adalah bahwa mereka menggunakan sebuah
prinsip dengan jelas dan rasional. Dengan prinsip ini, pemerintah sering membangun
pegangan mereka atas pembentukan kebijakan untuk mengatur masyarakat. Kekuatan
lain dari teori ini adalah hasil perbuatan yang dihasilkan.
Intuisionisme adalah sistem etika lainnya yang tidak mengukur baik tidaknya
sesuatu perbuatan berdasarkan hasilnya melainkan semata-mata berdasarkan maksud si
pelaku dalam melaksanakan perbuatan tersebut. Sistem ini menyoroti wajib tidaknya
perbuatan dan keputusan ini. Sistem lain tersebut adalah intuisionisme. Intuisionisme,
berasal dari bahasa Inggris: intuition, adalah pandangan bahwa manusia memiliki

40

sebuah kacakapan, yang biasa disebut hati nurani, yang memampukan mereka untuk
melihat secara langsung apa yang disebut benar atau salah, jahat atau baik secara moral.
Pengetahuan intuitif ini adalah pengetahuan langsung tentang suatu hal tanpa melalui
proses logika baik deduktif maupun induktif. Teori ini juga dikenal sebagai teori
deontologi (dari kata Yunani: deon: apa yang harus dilakukan; kewajiban). (berdasarkan
hati nurani) Intuisionisme memang memiliki kebenaran
Pendekatan yang ketiga ditawarkan oleh seorang tokoh etika, Joseph Fletcher,
adalah pendekatan situasional. Bagi Fletcher tidak ada sistem yang benar-benar dapat
digunakan bagi semua situasi. Menurut dia, semuanya tergantung kepada situasi yang
dihadapi oleh pelaku. Pandangan ini memang lebih condong kepada paham
intuisionisme, namun kadang-kadang juga bisa menjadi utilitarianisme.

Faktor yang mempengaruhi pada pengambilan keputusan


a. Faktor faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
Banyak faktor yang berpengaruh kepada individu dan kelompok dalam pengambilan
keputusan, antara lain:
1. Faktor Internal
Faktor internal dari diri manajer sangat mempengaruhi proses pengambilan
keputusan. Faktor internal tersebut meliputi: keadaan emosional dan fisik,
personal karakteristik, kultural, sosial, latar belakang filosofi, pengalaman masa
lalu, minat, pengetahuan dan sikap pengambilan keputusan yang dimiliki.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal termasuk kondisi dan lingkungan waktu. Suatu nilai yang
berpengaruh pada semua aspek dalam pengambilan keputusan adalah pernyataan
masalah, bagaimana evaluasi itu dapat dilaksanakan. Nilai ditentukan oleh salah
satu kultural, sosial, latar belakang, filosofi, sosial dan kultural.

41

b. Pengambilan keputusan kelompok


Ada dua kriteria utama untuk pengambilan keputusan yang efektif yaitu
Keputusan harus berkualitas tinggi dan dapat mencapai tujuan atau sasaran yang
sebelumnya telah didefinisikan. Keputusan harus diterima oleh orang yang
bertanggungjawab melaksanakannya. Contoh;

Rapat merupakan salah satu

alat

terpenting untuk mencapai informasi dan mengambil keputusan.


Ada keuntungan-keuntungan tertentu yang dapat dipetik melalui suatu rapat,
yaitu : masalah yang timbul menjadi jelas sifatnya karena dibicarakan dalam forum
terbuka. nteraksi kelompok akan menghasilkan pendapat dan buah pikiran serta
pengertian yang mendalam.Penerimaan dan pelaksanaan keputusan diambil oleh peserta
rapat. Rapat melatih menerima pendapat orang lain. Melalui rapat peserta dilatih belajar
tentang pemikiran orang lain dan belajar menempatkan diri pada posisi orang lain.
Langkah utama proses pengambilan keputusan adalah sama dengan proses
pemecahan masalah. Fase ini termasuk mendefinisikan tujuan, memunculkan pilihan,
mengidentifikasi keuntungan dan kerugian masing-masing pilihan, memprioritaskan
pilihan, menyeleksi pilihan yang paling baik untuk menilai sebelum mendefinisikan
tujuan, implementasi dan evaluasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan secara etis dalam pelayanan


keperawatan ( pembuatan keputusan terhadap masalah etis)
Pada saat menghadapi masalah yang menyangkut etika, perawat harus mempunyai
kemampuan yang baik untuk pasien maupun dirinya. Beberapa ahli menyatakan bahwa
dalam kehidupan sehari-hari, perawat sebenarnya telah menghadapi permasalahan etis,
bahkan Thompson dan Thompson menyatakan semua keputusan yang dibuat dengan,
atau tentang pasien mempunyai dimensi etis. Setiap perawat harus dapat
mendeterminasi dasar-dasar yang ia miliki dalam membuat keputusan misalnya agama,

42

kepercayaan atau falsafah moral tertentu yang menyatakan hubungan kebenaran atau
kebaikan

dengan

keburukan.

Beberapa

orang

membuat

keputusan

dengan

mempertimbangkan segi baik dan buruk dari keputusannya, ada pula yang membuat
keputusan berdasarkan pengalamannya. Dalam membuat keputusan etis, seseorang
harus berpikir secara rasional, bukan emosional.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan keputusan antara lain : faktor
agama, sosial, ilmu pengetahuan/teknologi, legislasi/keputusan juridis, dana/keuangan,
pekerjaan/posisi pasien maupun perawat, kode etik keperawatan dan hak-hak pasien.
a. Faktor agama dan adat istiadat
Agama
Indonesia merupakan negara kepulauan yang dihuni oleh penduduk dengan
berbagai agama/kepercayaan dan adat istiadat. Setiap penduduk yang menjadi warga
negara Indonesia harus beragama/berkepercayaan. Contohnya adalah sebelum
program KB diluncurkan sebagai program nasional sudah dilakukan suatu diskusi
dengan pemuka agama tentang metode kontrasepsi, sehingga tenaga kesehatan tidak
ragu-ragu saat mempromosikan program tersebut.
Adat Istiadat
Selain faktor agama, faktor adat istiadat juga berpengaruh dalam membuat
keputusan etis. Contohnya adalah falsafah budaya jawa makan tidak makan asalkan
kumpul. Falsafah ini masih dipegang erat oleh masyarakat jawa sehingga jika ada
anggota keluarga yang sakit biasanya seluruh anggota keluarga akan ikut menanggung
biaya RS dan sebagainya.
b. Faktor sosial
Faktor ini antara lain meliputi perilaku sosial dan budaya, ilmu pengetahuan dan
teknologi, hukum dan peraturan perundang-undangan. Contohnya adalah kaum wanita
43

yang pada awalnya hanya sebagai ibu rumah tangga yang tergantung pada suaminya
telah beralih pada pendamping suami yang mempunyai pekerjaan dan bahkan banyak
yang telah menjadi wanita karir. Dengan semakin meningkatnya orang yang menekuni
profesinya, semakin banyak pula yang menunda perkawinan dan banyak pula yang
mempertahankan kesendirian.
Perkembangan sosial dan budaya juga berpengaruh terhadap sistem kesehatan
nasional. Pelayanan kesehatan yang tadinya berorientasi pada program medis lambat
laun menjadi pelayanan komprehensif dengan pendekatan tim kesehatan. Ini
menyebabkan perubahan beberapa kebijakan pemerintah termasuk mahalnya biaya
pengobatan.
c. Faktor ilmu pengetahuan dan teknologi
Kemajuan yang telah dicapai meliputi berbagai bidang. Kemajuan di bidang
kesehatan telah mampu meningkatkan kualitas hidup serta memperpanjang usia
manusia dengan ditemukannya berbagai mesin mekanik kesehatan, cara prosedur baru
dan bahan-bahan/obat-obatan baru.
Misalnya pasien dengan gangguan ginjal dapat diperpanjang usianya berkat
adanya mesian hemodialisa, ibu-ibu yang mengalami kesulitan hamil dapat dibantu
dengan berbagai jenis inseminasi, kemajuan-kemajugaran ini menimbulkan pertanyaanpertanyaan yang berhubungan dengan etika.
d. Faktor legislasi dan keputusan juridis
Perubahan sosial dan legislasi secara konstan saling berkaitan. Setiap perubahan
sosial atau legislasi menyebabkan timbulnya suatu tindakan yang merupakan reaksi
perubahan tersebut. Legislasi merupakan jaminan tindakan menurut hukum sehingga
orang yang bertindak tidak sesuai dengan hukum dapat menimbulkan konflik. Hampir

44

disemua negara, pemerintah berupaya untuk melindungi hak-hak asasi manusia dengan
menyusun suatu undang-undang.
Misalnya masalah abortus merupakan topik pembicaraan yang hangat secara nasional.
Di Amerika Serikat beberapa negara bagian mengijinkan adanya aborsi dengan alasan
setiap ibu berhak menentukan nasibnya sendiri. Sedangkan dibeberapa negara lain
melarang aborsi dengan alasan perlindungan nyawa calon bayi. Selain masalah
pengaturan abortus aktivitas lain juga menjadi masalah hukum, diantaranya pengaturan
pengangkatan dan penjualan bayi, fertilisasi in vitro, ibu pengganti, hak pilih mati dan
hak untuk menolak perawatan.
e. Faktor dana/keuangan
Dana/keuangan untuk membiayai pengobatan dan perawatan dapat menimbulkan
konflik. Untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat, pemerintah telah banyak
berupaya dengan mengadakan berbagai program yang dibiayai pemerintah. Walaupun
pemerintah telah mengalokasikan dana yang besar untuk pembangunan kesehatan, namun
dana ini belum sepenuhnya dapat mengatasi berbagai program atau masalah kesehatan
sehingga partisipasi swasta dan masyarakat banyak digalakkan. Contohnya program
JamKesMas.
f. Faktor pekerjaan
Dalam pembuatan suatu keputusan. Perawat perlu mempertimbangkan posisi
pekerjaannya. Sebagian besar perawat bukan merupakan tenaga yang praktik sendiri
tetapi bekerja di rumah sakit, dokter praktik swasta atau institusi kesehatan yang lain.
Tidak semua keputusan pribadi perawat dapat dilaksanakan, namun harus disesuaikan
dengan keputusan/aturan tempat ia bekerja.
g. Kode etik keperawatan

45

Merupakan salah satu ciri/persyaratan profesi yang memberikan arti penting dalam
penentuan, pemertahanan, dan peningkatan standar profesi. Kode etik menunjukkan
bahwa tanggung jawab dan kepercayaan dari masyarakat telah diterima oleh profesi.
Apabila seorang anggota melanggar kode etik profesi, maka organisasi profesi dapat
memberi sanksi atau mengeluarkan anggota tersebut.

7. Rangkuman
1. Prinsip prinsip dalam etika keperawatan terdiri dari autonomi, benefisience,
veracity, justice, fidelity, confidentiality, dan non malefisience.
2. Isu etik yang ada meliputi isu etika biomedis, etika medis, pelaksanaan pelayanan
kolaborasi dan bioetika.
3. Prinsip prinsip legal dalam praktik keperawatan terdiri dari malpraktik, kelalaian,
pertanggunggugatan, pertangunggungjawaban dan situasi yang harus dihindari oleh
perawat.
4. Pengambilan keputusan dalam praktik keperawatan memperhatikan kerangka, faktor
yang mempengaruhi dan langkah dalam pembuatan keputusan etik.

46

8. Latihan Menganalisa Kasus


CONTOH KASUS
Kasus I
Tn. C berusia 40 tahun. Seeorang yang menginginkan untuk dapat mengakhiri
hidupnya (Memilih untuk mati. Tn. C mengalami kebutaan,diabetes yang parah dan
menjalani dialisis). Ketika Tn. C mengalami henti jantung, dilakukan resusitasi untuk
mempertahankan hidupnya. Hal ini dilakukan oleh pihak rumah sakit karena sesuai dengan
prosedur dan kebijakan dalam penanganan pasien di rumah sakit tersebut.
Peraturan rumah sakit menyatakan bahwa kehidupan harus disokong. Namun keluarga
menuntut atas tindakan yang dilakukan oleh rumah sakit tersebut untuk kepentingan hak
meninggal klien. Saat ini klien mengalami koma. Rumah sakit akhirnya menyerahkan kepada
pengadilan untuk kasus hak meninggal klien tersebut.
Tiga orang perawat mendiskusikan kejadian tersebut dengan memperhatikan antara
keinginan/hak meninggal Tn. C dengan moral dan tugas legal untuk mempertahankan
kehidupan setiap pasien yang diterapkan dirumah sakit.
47

Perawat A mendukung dan menghormati keputusan Tn.C yang memilih untuk mati.
Perawat B menyatakan bahwa semua anggota/staf yang berada dirumah sakit tidak
mempunyai hak menjadi seorang pembunuh. Perawat C mengatakan bahwa yang berhak
untuk memutuskan adalah dokter.
Untuk kasus yang diatas perawat manakah yang benar dan apa landasan moralnya?

PEMBAHASAN KASUS I

1. Mengidentifikasi dan mengembangkan data dasar


Mengidentifikasi dan mengembangkan data dasar yang terkait dengan kasus
eutanasia meliputi orang yang terlibat klien, keluarga klien, dokter, dan tiga orang perawat
dengan pendapat yang berbeda yaitu perawat A, B dan C. Tindakan yang diusulkan yaitu
perawat A mendukung keputusan tuan C memilih untuk mati dengan maksud mengurangi
penderitaan tuan C, perawat B tidak menyetujui untuk melakukan eutanasia karena tidak
sesui dengan kebijakan rumah sakit. Dan perawat C mengatakan yang berhak memutuskan
adalah dokter.
2. Mengidentifikasi munculnya konflik
Penderitaan tuan C dengan kebutaan akibat diabetik, menjalani dialisis dan dalam
kondisi koma menyebabkan keluarga juga menyetujui permintaan tuan C untuk dilakukan
tindakan eutanasia. Konflik yang terjadi adalah pertama, eutanasia akan melanggar
peraturan rumah sakit yang menyatakan kehidupan harus disokong, kedua apabila tidak

48

memenuhi keinginan klien maka akan melanggar hak-hak klien dalam menentukan
kehidupannya, ketiga adanya perbedaan pendapat antara perawat A, B dan C.
3. Menentukan tindakan alternatif yang direncanakan
Adapun tindakan alternatif yang direncanakan dari konsekuensi tindakan eutanasia
adalah
1. Setuju dengan perawat A untuk mendukung hak otonomi tuan C tetapi hal inipun
harus dipertimbangkan secara cermat konsekuensinya, sebab dokter dan perawat tidak
berhak menjadi pembunuh meskipun klien memintanya. Konsekuensi dari tindakan
ini: hak klien terpenuhi, mempercepat kematian klien, keinginan keluarga terpenuhi
dan berkurangnya beban keluarga. Namun pihak rumah sakit menjadi tidak konsisten
terhadap peraturan yang telah dibuat.
2. Setuju dengan perawat B karena sesuai dengan prinsip moral avoiding killing.
Konsekuensi dari tindakan ini: klien tetap menderita dan kecewa, klien dan keluarga
akan menuntut rumah sakit, serta beban keluarga terutama biaya perawatan
meningkat. Dengan demikian rumah sakit konsisten dengan peraturan yang telah
dibuat
3. Setuju dengan perawat C yang menyerahkan keputusannya pada tim medis atau
dokter. Namun konsekuensinya perawat tidak bertanggung jawab dari tugasnya.
Selain itu dokter juga merupakan staf rumah sakit yang tidak berhak memutuskan
kematian klien.
4. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat
Pada kasus tuan C, yang dapat membuat keputusan adalah manajemen rumah sakit
dan keluarga. Rumah sakit harus menjelaskan seluruh konsekuensi dari pilihan yang
diambil keluarga untuk dapat dipertimbangkan oleh keluarga. Tugas perawat adalah tetap
memberikan asuhan keperawatan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar klien.

49

5. Menjelaskan kewajiban perawat


Kewajiban perawat seperti yang dialami oleh tuan C adalah tetap menerapkan
asuhan keperawatan sebagai berikut: memenuhi kebutuhan dasar klien sesuai harkat dan
martabatnya sebagai manusia, mengupayakan suport sistem yang optimal bagi klien
seperti keluarga, teman terdekat, dan peer group.

Selain itu perawat tetap harus

menginformasikan setiap perkembangan dan tindakan yang dilakukan sesuai dengan


kewenangan perawat. Perawat tetap mengkomunikasikan kondisi klien dengan tim
kesehatan yang terlibat dalam perawatan klien Tuan C.

6. Mengambil keputusan yang tepat


Pengambilan keputusan pada kasus ini memiliki resiko dan konsekuensinya kepada
klien. Perawat dan dokter perlu mempertimbangkan pendekatan yang paling tepat dan
menguntungkan untuk klien. Namun sebelum keputusan tersebut diambil perlu diupayakan
alternatif tindakan yaitu merawat klien sesuai dengan kewenangan dan kewajiban perawat.
Jika tindakan alternatif ini tidak efektif maka melaksanakan keputusan yang telah
diputuskan oleh pihak manajemen rumah sakit bersama keluarga klien (informed consent).

50

TUGAS
(Lakukan pembahasan kasus seperti pada kasus I)
Kasus II
Seorang pria tua datang ke poliklinik dengan keluhan perdarahan gastrointestinal, dia
mengaku mengkonsumsi alkohol setiap hari , dia kotor dan kasar .dia akan memerlukan
beberapa trasnfusi darah . anda mendonorkan darah kepada palang merah amerika. Apakah
hal ini membuat dilema bagi anda ?
Anda mendengar perawat lain bahwa mereka tidak mau mendonorkan darah untuk
pasien seperti dia . apakah anda bersimpati dan merasa kasihan pada pasien ini ?
Secara profesional anda dapat bergabung untuk menangani keadaan kritis pada pasien
ini. Temukan saat yang tepat untuk melakukan pengarahan / bertanya padanya

untuk

membuatnya merasa bermakna, apakah pasien ini depresi ? banyak lansia yang depresi dan
berpaling ke alkohol . mencari cara untuk mengubah pola hidupnya. Meminta bantuan kepada
anda sebagai pekerja sosial. mengingat dalam pendidikan keperawatan ketika mereka
membahas mengingat bahasa? pasien ini dapat mengambil manfaat dari mengingat masa lalu

51

dan saat pertumbuhan pribadi layanan agamawan akan sesuai untuk seseorang yang
membutuhkan sentuhan terapeutik . apakah pasien ini mengalami defisit perawatan diri ? ini
bisa memberi kontribusi untuk persaan sedih dan marah, mungkin konsultasi terapi okulpasi
bisa membantunya menemukan cara alternatif untuk memenuhi ADL nya. Mengingat kan diri
sendiri mengapa anda menyumbangkan darah itu adalah untuk menyelamatkan nyawa
keduanya. Anda memilih untuk memperbaiki kehidupan mereka melalui intervensi
keperawatan merupakan tantangan etis.

TUGAS
(Lakukan pembahasan kasus seperti pada kasus I)
Kasus III
Pasien Tn. M, umur 60 tahun dengan diagnose dokter suspek syok kardiogenik, dirawat
di icu RSUD PB baru beberapa jam, kesadaran koma, terpasang ventilator, obat-obatan
sudah maksimal untuk mempertahankan fungsi jantung dan organ vital lainnya. Urine tidak
keluar sejak pasien masuk icu. Keluarga menginginkan dicabut semua alat bantu yang ada
pada pasien. Penjelasan sudah diberikan kepada keluarga, dokter meminta kesempatan
kepada keluarga untuk mencoba menyelamatkan nyawa pasien, tetapi keluarga tetap pada
pendiriannya. Keluarga menandatangani surat penolakan untuk diteruskannya perawatan di
icu dan surat penolakan dilakukannya tindakan. Akhirnya ventilator dimatikan oleh anak
pasien dan semua alat dicabut dari pasien dengan disaksikan oleh keluarga, dokter dan
perawat icu dan pasien meninggal dunia.

52

TUGAS
(Lakukan pembahasan kasus seperti pada kasus I)
Kasus IV
Seorang pasien (72 tahun) sudah tidak bekerja dan tidak mempunyai mata pencaharian
lagi, jatuh sakit. Hidupnya tergantung dari para saudara yang tidak bisa menolong banyak.
Suatu hari dia jatuh pingsan dan dibawa ke suatu rumah sakit dan dimasukkan ke High
Care Unit. Pasien diberikan oksigen. Pemeriksaan laboratorium menujukkan bahwa kedua
ginjalnya sudah tidak berfungsi, sehingga harus dipasang kateter. Setelah dilakukan observasi
beberapa jam, sang dokter menganjurkan memasukkan ke ICU karena perlu diberi bantuan
pernafasan melalui ventilator. Dokter jaga meminta persetujuan anggota keluarganya.
Saudaranya memutuskan untuk menolak menandatangani surat penolakan. Mengapa ? karena
atas pertimbangan manfaat dan finansial walaupun dirawat di ICU, belum tentu pasien
tersebut akan bisa disembuhkan dan bisa normal kembali seperti sedia kala. Apakah
keputusan untuk menolak ini salah ? Penolakan ini tentu sudah diperhitungkan dan dipikirkan
matang-matang.

53

Suatu hari dirawat diruang HCU dengan obat-obat saja sudah menelan biaya beberapa
juta. Bagaimana jika harus diteruskan di ICU ? pembiayannya akan tidak bisa terbayar dan
bagaimna pemecahannya kelak ? Apakah saudara itu dapat dipersalahkan karena tega tidak
mau menolong saudaranya dengan memasukkan ke ICU ? masalah yang dipertimbangkan :
apakah bisa terbayar biaya-biaya ICU dan obat-obatannya yang mahal itu yang setiap hari
harus dikeluarkan? Brapa lama pasien itu harus dirawat ? Apakah masih bisa dikembalikan
kesehatanya seperti semula, sedangkan umurnya sudah 72 tahun ? seandainya bisa tertolong
bagaimana selanjutnnya ? bukan kah fungsi ginjalnya sudah tidak bekerja ? ini berarti ia
harus dilakukan dialisis seminggu dua kali yang perkalinya kurang lebih berjumlah beberapa
ratus ribu rupiah. Bagaimana bissa membiayainya terus-menerus, sedangkan saudaranya juga
orang bekerja dan mana mungkin membiayai cuci darah disamping mengongkosi rumah
tangganya sendiri ?Apa salah jika ia menolak saudaranya dirawat di ICU ? dan jika ia harus
berbaring terus di tempat tidur, buang air harus ditolong, siapa yang bias mengurusnya dan
bagaimana membiayainya ? Rumusan dilema etik dilema keluarga yang tidak setuju dengan
pemasangan ventilator dilema pasien yang ingin dimasukkan ke ICU dilema keluarga tentang
biaya ICU dan obat-obatan yang mahal
Dilema dokter tentang pemasangan ventilator dilema keluarga tentang masa depan
pasien. Suatu hari dia jatuh pingsan dan dibawa ke suatu rumah sakit dan dimasukkan ke
High Care Unit. Pasien diberikan oksigen. kedua ginjalnya sudah tidak berfungsi, sehingga
harus dipasang kateter. Sang dokter menganjurkan memasukkan ke ICU karena perlu diberi
bantuan pernafasan melalui ventilator.
Dokter jaga meminta persetujuan anggota keluarganya. ANALISIS: Pada kasus ini
seorang dokter ingin melakukan yang terbaik buat pasiennya dan tidak ingin lebih
memperburuk keadaan pasien dimana memasukkan pasien ke HCU dan memberikan bantuan
oksigen serta memberikan informasi tentang apa yang yang sebaiknya dilakukan pasien.

54

Menurut JOHNSON SIEGLER saudaranya memutuskan untuk menolak menandatangani


surat penolakan. Apakah masih bisa dikembalikan kesehatanya seperti semula, sedangkanJ
umurnya sudah 72 tahun ? seandainya bisa tertolong bagaimana selanjutnnya ? bukan kah
fungsi ginjalnya sudah tidak bekerja ? ini berarti ia harus dilakukan dialisis seminggu dua kali
yang perkalinya kurang lebih berjumlah beberapa ratus ribu rupiah.

III. PENUTUP
1. TES FORMATIF
POKOK BAHASAN : PRINSIP-PRINSIP LEGAL ETIS PADA PENGAMBILAN
KEPUTUSAN DALAM KONTEKS KEPERAWATAN
WAKTU

: 90 MENIT

TEAM TEACHING

: 1. YUNIAR MANSYE SOELI, S.KEP, Ns


2. MERI HERLINA, S.KEP, Ns

SOAL ESSAY :
1. JELASKAN TUJUH PRINSI P DALAM ETIKA KEPERAWATAN ?
2. JELASKAN 3 KATEGORI DALAM MALPRAKTIK DISERTAI DENGAN
CONTOH ?
3. SEBUTKAN DAN JELASKAN FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN ?
4. SEBUTKAN SITUASI YANG HARUS DIHINDARI OLEH SEORANG
PERAWAT ?
5. KASUS :

55

Suatu hari ada seorang bapak-bapak dibawa oleh keluarganya ke salah satu
Rumah Sakit di kota Surakarta dengan gejala demam dan diare kurang lebih selama
6 hari. Selain itu bapak-bapak tersebut (Tn. A) menderita sariawan sudah 3 bulan
tidak sembuh-sembuh, dan berat badannya turun secara berangsur-angsur. Semula
Tn. A badannya gemuk tapi 3 bulan terakhir ini badannya kurus dan telah turun 10
Kg dari berat badan semula. Tn. A ini merupakan seorang sopir truk yang sering
pergi keluar kota karena tuntutan kerjaan bahkan jarang pulang, kadang-kadang 2
minggu sekali bahkan sebulan sekali.
Tn. A masuk UGD kemudian dari dokter untuk diopname di ruang penyakit dalam
karena kondisi Tn. A yang sudah sangat lemas. Keesokan harinya dokter yang
menangani Tn. A melakukan visit kepada Tn. A, dan memberikan advice kepada
perawatnya untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan mengambil sampel
darahnya. Tn. A yang ingin tahu sekali tentang penyakitnya meminta perawat tersebut
untuk segera memberi tahu penyakitnya setelah didapatkan hasil pemeriksaan. Sore
harinya pukul 16.00 WIB hasil pemeriksaan telah diterima oleh perawat tersebut dan
telah dibaca oleh dokternya.
Hasilnya mengatakan bahwa Tn. A positif terjangkit penyakit HIV/AIDS.
Kemudian perawat tersebut memanggil keluarga Tn. A untuk menghadap dokter yang
menangani Tn. A. Bersama dokter dan seijin dokter tersebut, perawat menjelaskan
tentang kondisi pasien dan penyakitnya. Keluarga terlihat kaget dan bingung. Keluarga
meminta kepada dokter terutama perawat untuk tidak memberitahukan penyakitnya ini
kepada Tn. A. Keluarga takut Tn. A akan frustasi, tidak mau menerima kondisinya dan
dikucilkan dari masyarakat.
Perawat tersebut mengalami dilema etik dimana satu sisi dia harus memenuhi
permintaan keluarga namun di sisi lain perawat tersebut harus memberitahukan kondisi

56

yang dialami oleh Tn. A karena itu merupakan hak pasien untuk mendapatkan
informasi.
Dari kasus diatas
Identifikasi dan kembangkan data dasar
Identifikasi munculnya konflik
Tentukan tindakan alternatif yang direncanakan
Tentukan siapa pengambil keputusan
Jelaskan kewajiban perawat berdasarkan kasus diatas
2. Umpan Balik

Setiap tugas yang diberikan oleh mahasiswa akan mendapatkan feed back (umpan
balik) dari dosen baik itu secara lisan maupun tertulis

Umpan balik akan diberikan selambat-lambatnya satu minggu setelah tugas


diserahkan ke dosen yang bersangkutan

3. Tindak Lanjut

Setiap tugas dari mahasiswa akan diberikan umpan balik

Mahasiswa yang memiki nilai dibawah standar rata-rata (D dan E) akan diberikan
bimbingan khusus

Mahasiswa yang telah mengikuti Mata Kuliah Ilmu Keperawatan Dasar I (IKD I)
akan mengikuti Mata Kuliah Ilmu Keperawatan Dasar II sebagai tindak lanjut dari
mata kuliah IKD I

4. Kunci Jawaban
1. Prinsip-prinsip dalam etika keperawattan
1.

Autonomi

57

Autonomi berarti kemampuan untuk menentukan sendiri atau mengatur diri sendiri,
berarti menghargai manusia sehingga harapannya perawat memperlakukan mereka
sebagai seseorang yang mempunyai harga diri dan martabat serta mampu menentukan
sesuatu bagi dirinya.
2. Benefisience
Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan pasien atau tidak
menimbulkan bahaya bagi pasien
3. Justice
Merupakan prinsip untuk bertindak adil bagi semua individu, setiap individu
mendapat perlakuan dan tindakan yang sama. Tindakan yang sama tidak selalu identik
tetapi dalam hal ini persamaan berarti mempunyai kontribusi yang relatif sama untuk
kebaikan hidup seseorang
4. Veracity
Merupakan prinsip moral dimana kita mempunyai suatu kewajiban untuk mengatakan
yang sebenarnya atau tidak membohongi orang lain / pasien. Kewajiban untuk
mengatakan yang sebenarnya didasarkan atau penghargaan terhadap otonomi
seseorang dan mereka berhak untuk diberi tahu tentang hal yang sebenarnya
5. Menepati janji (Fidelity)
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya
terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta
menyimpan rahasia klien. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhan perawat terhadap
kode etik yang menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk
meningkatkan

kesehatan,

mencegah

penyakit,

memulihkan

kesehatan

dan

meminimalkan penderitaan.
6. Kerahasiaan (Confidentiality)

58

Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah menjaga privasi (informasi) klien. Segala
sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh
dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorang pun dapat memperoleh
informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. Diskusi
tentang klien diluar area pelayanan, menyampaikan pada teman atau keluarga
tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus dihindari
7. Tidak merugikan (Nonmaleficience)
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien

2. Kategori malpraktik
1. Kriminal Malpraktik
Apabila perbuatan tersebut merupakan kesengajaan, kelalaian, kecerobohan.
Pertanggungjawaban di depan hukum adalah bersifat personal/individual
Contoh :
Kesengajaan : Melakukan euthanasia tanpa indikasi medis (pasal 344 KUHP),
melakukan aborsi tanpa indikasi medis (pasal 299 KUHP)
Kecerobohan : Melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien (informed
consent)
Kelalaian

: Kurang hati-hati mengakibatkan luka, cacat, meninggalnya


pasien dan ketinggalan klem di dalam perut saat melakukan
operasi

2. Civil Malpraktik
- Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan

59

- Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat


melakukannya
- Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak
sempurna melakukannya
- Pertanggungjawaban dapat bersifat individual atau dialihkan ke pihak lain
berdasarkan principle of vicarius liability
- Rumah sakit/sarana kesehatan dapat bertangunggung gugat atas kesalahan
yang dilakukan karyawannya (tenaga kesehatan) selama tenaga kesehatan
tersebut dalam rangka melaksanakan tugas kewajibannya
3. Administratif Malpraktik
- Tenaga kesehatan telah melanggar hokum administrasi
- Contoh : tentang persyaratan bagi tenaga keperawatan untuk menjalankan
profesinya ( SIK, SIP), batas kewenangan serta kewajiban tenaga keperawatan
3. Faktor faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan etis :
1. Faktor Internal
Faktor internal dari diri manajer sangat mempengaruhi proses pengambilan
keputusan. Faktor internal tersebut meliputi: keadaan emosional dan fisik,
personal karakteristik, kultural, sosial, latar belakang filosofi, pengalaman masa
lalu, minat, pengetahuan dan sikap pengambilan keputusan yang dimiliki.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal termasuk kondisi dan lingkungan waktu. Suatu nilai yang
berpengaruh pada semua aspek dalam pengambilan keputusan adalah pernyataan
masalah, bagaimana evaluasi itu dapat dilaksanakan. Nilai ditentukan oleh salah
satu kultural, sosial, latar belakang, filosofi, sosial dan kultural.
4. Situasi yang harus dihindari oleh perawat :

60

Kelalaian

Pencurian

Fitnah (pernyataan palsu dan merugikan pasien baik secara verbal maupun
tertulis)

Penyerangan / pemukulan

Pelanggaran privasi (kerahasiaan pasien)

Penganiayaan (melanggar prinsip etik tidak melakukan sesuatu yang

membahayakan pasien)

REFERENSI
A.Aziz Alimul Hidayat (2007), Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Edisi 2, Salemba
Medika, Jakarta

Kozier. B (1995), Fundamental of Nursing, Conceps, Prosess and Practice, Fifth


Edition, Addison Publising Company. California

La Ode Jumadi Gaffar (1999), Pengantar Keperawatan Profesional, EGC, Jakarta

Potter. P (1997), Fundamental of Nursing, Conceps, Prosess and Practice, Fouth Edition,
Mosby. St. Louis.

61

Priharjo, R. (1995). Pengantar Etika Keperawatan. Yogyakarta: Kanisius.

Suhaemi, M.E. (2004). Etika Keperawatan: aplikasi pada praktik. Jakarta: EGC

Taylor, Carrol et all. (2004), Fundamental of Nursing. JB Lippincott Company.


Philadelphia.

62