Anda di halaman 1dari 23

3

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Psikologi Komunikasi

2.1.1 Pengertian
Psikologi berasal dari kata Yunani psyche yang artinya jiwa. Logos berarti
ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi psikologi berarti: ilmu yang mempelajari
tentang jiwa, baik mengenai gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.
Psikologi meneliti proses mengungkapkan pikiran menjadi lambang, bentuk
bentuk lambang, dan pengaruh lambang terhadap perilaku manusia. Penelitian ini
melahirkan blasteran antara psikologi dan linguistik, psikolinguistik (Rakhmat,
2005).
Komunikasi berasal dari kata latin communicatio yang bersumber dari kata
communis yang memiliki arti sama atau membuat/ membangun kebersamaan
antara dua orang atau lebih. Sama disini berarti memiliki kesamaan makna (tuned
together). Komunikasi bukan saja penyampaian informasi, melainkan juga
membentuk pendapat umum atau public opinion dan sikap publik attitide yang
dalam kehidupan sosial dan kehidupan politik memainkan peranan yang amat
penting (Effendy, 2005).
Ada kalanya seseorang menyampaikan buah pikirannya kepada orang lain
tanpa menampakkan perasaan tertentu. Pada saat lain seseorang menyampaikan
perasaanya pada orang lain tanpa pemikiran. Tidak jarang pula seseorang
menyampaikan disertai perasaan tertentu, disadari atau tidak disadari. Komunikasi
akan berhasil apabila pikiran disampaikan dengan menggunakan perasaan yang
disadari sebaliknya komunikasi akan gagal jika sewaktu menyampaikan pikiran
perasaan tidak terkontrol.Oleh karena itu psikologi dan komunikasi mempunyai
hubungan yang begitu erat karena keduanya diperlukan dalam interaksi antar
individu. Walau demikian, komunikasi bukan subdisiplin dari psikologi. Sebagai
ilmu, komunkasi menembus banyak disiplin ilmu. Sebagai gejala perilaku,
komunikasi di pelajari bermacam macam disiplin ilmu, antara lain sosiologi dan
pskilogi (Rakhmat, 2005).
2.1.2. Penggunaan Psikologi Komunikasi

Psikologi Komunikasi mempunyai beberapa penggunaan diantaranya:


2.1.2.1 Komunikasi Efektif
Komunikasi efektif ditafsirkan sebuah pesan yang disampaikan
orang lain dan bagaimana ia menyampaikan pesannya pada orang lain
untuk menentukan kepribadiannya. Kepribadian terbentuk sepanjang
hidup kita. Selama itu pula komunikasi menjadi penting untuk
pertumbuhan pribadi kita. Melalui komunikasi kita menemukan diri kita,
mengembangkan konsep diri, dan menetapkan hubungan kita dengan
dunia di sekitar kita (Rakhmat, 2005).
2.1.2.2 Hubungan Sosial yang Baik
Komunikasi juga ditunjukkan untuk menumbuhkan hubungan
sosial yang baik karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak tahan
hidup sendiri. Kita ingin berhubungan dengan orang lain secara positif.
Abraham Maslow menyebutnya kebutuhan akan cinta atau belonging
ness (Rakhmat, 2005).
2.1.2.3 Mempengaruhi Sikap
Mempengaruhi sikap diartikan mempengaruhi pendapat dan
tindakan orang dengan menggunakan manipulasi psikologis sehingga
orang tersebut bertindak seperti atas keyakinannya sendiri. Para psikolog
memang sering bergabung dengan komunikolog justru pada bidang
persuasi (Rakhmat, 2005).
2.2 Lingkup Psikologi Komunikasi
Proses komunikasi memiliki dua ciri khas, yaitu bersifat dinamis serta tak
dapat diulang dan diubah. Sedang fungsi komunikasi adalah untuk memahami diri
sendiri dan orang lain, memapankan hubungan yang bermakna, dan mengubah
sikap dan perilaku (Hamid. 2006).
Untuk lebih menjelaskan proses komunikasi, yaitu:

1. Anda tidak dapat tidak berkomunikasi


2. Setiap interaksi memiliki dimensi isi dan hubungan
3. Setiap interaksi diartikan dengan cara bagaimana pelaku interaksi
menjelaskan kejadian
4. Pesan bersifat digital dan analog
5. Pertukaran komunikasi bersifat simetrik dan komplementer
(Hamid. 2006).
2.3 Komunikasi Interpersonal
2.3.1 Pengertian
Gail E. Myers dan Michelle Tolela Myers dalam buku the dynamic of
human communication labroratory approach (1992) mengatakan bahwa dalam
diri manusia seperti apa yang mereka pikirkan, rasakan, nilai-nilai yang
dianut, mimpi, dan lainlain merupakan dimensi dari interpersonal. Kajian
dari psikologi dan studi kognitif mencoba menjelaskan bagaimana tanggapan
manusia terhadap simbol dan bagaimana mereka membuat keputusan,
menyimpan dan mengolah data dalam pikiran.
Komunikasi interpersonal adalah proses dimana individu menciptakan
pengertian. Dari berbagai definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa
koomunikasi interpersonal adalah komunikasi yang berlangsung dalam diri
seseorang. Orang itu berperan baik sebagai komunikator maupun sebagai
komunikan, dia berbicara pada dirinya sendiri, dia berdialog pada dirinya
sendiri dan dijawab oleh dirinya sendiri. Komunikasi interpersonal tidaklah
terjadi begitu saja, melainkan melalui proses tertentu yang pada akhirnya
menimbulkan kesimpulan dalam diri seseorang. Proses berlangsungnya
komunikasi dalam diri seseorang diterjemahkan dalam satu sistem komunikasi
yang dikenal dengan sistem komunikasi interpersonal (Susanto, 2007).
a. Tiga faktor dalam komunikasi interpersonal yang menumbuhkan
hubungan interpersonal yang baik.
1. Percaya
Keuntungan dari kepercayaan ini adalah meningkatkan komunikasi
interpersonal

karena

membuka

saluran

komunikasi,

memperjelas

pengiriman dan penerimaan informasi serta memperluas peluang komunikan


untuk mencapai maksudnya atau kemampuannya (Rakhmat, 2005).
Ada empat faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau
mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya
yaitu: pengalaman, menerima empati dan kejujuran (Rakhmat, 2005).
2. Sikap Suportif
Sikap suportif yaitu sikap mengurangi sikap defensif dalam
komunikasi, yang merupakan sikap tidak jujur,tidak menerima dan tidak
empatis.Komunikasi defensif dapat terjadi karena ketakuta,kecemasan,harga
diri yang rendah,pengalaman defensif atau faktor-faktor situasional dari
percakapan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, situasi percakapan
kesehatan antara dokter dan klien akan berbeda dengan situasi percakapan
antara polisi dengan pelanggar lalu lintas (Rakhmat, 2005).
3. Sikap Terbuka
Sikap terbuka antara lain:
a. Menilai pesan secara objektif,dengan menggunakan data dan
b.
c.
d.
e.

keajegan logika.
Membedakan dengan mudah dan melihat nuansa.
Berorientasi pada isi (merujuk)
Mencari informasi dari berbagai sumber.
Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian
kepercayaan (Rakhmat, 2005).

A. Faktor yang berkaitan dengan interaksi


Tujuan dan harapan terhadap komunikasi, sikap terhadap interaksi,
pembawaan diri seseorang terhadap orang lain (seperti kehangatan,
perhatian, dukungan) serta sejarah hubungan antara konselor dan asien akan
mempengaruhi kesuksesan proses konseling (Fitriasari, 2011).
Faktor Situasional
Percakapan

dipengaruhi

oleh

kondisi

lingkungan,

situasi

percakapan kesehatan antara dokter dan klien akan berbeda dengan situasi
percakapan antara polisi dengan pelanggar lalu lintas (Fitriasari, 2011).

B. Kompetensi dalam melakukan percakapan


Agar efektif, suatu interaksi harus menunjukkan perilaku kompeten
dari kedua pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya
komunikasi adalah:
Kegagalan menyampaikan informasi penting.
Perpindahan topik bicara yang tidak lancar.
Salah pengertian (Fitriasari, 2011).
C. Sikap yang Harus Diperhatikan Konselor
Menurut Jones cit Fitriasari (2011), ada 7 sifat yang harus dimiliki
oleh seorang konselor, adalah sebagai berikut :
1. Tingkah laku yang etis. Sikap dasar seorang konselor harus
mengandung ciri etis, karena konselor harus membantu manusia
sebagai pribadi dan memberikan informasi pribadi yang bersifat
sangat rahasia. Konselor harus dapat merahasiakan kehidupan
pribadi konseli dan memiliki tanggung jawab moral untuk
membantu memecahkan kesukaran konseling
2. Kemampuan intelektual. Konselor yang baik harus memiliki
kemampuan intelektual untuk memahami seluruh tingkah laku
manusia dan masalahnya serta dapat memadukan kejadian-kejadian
sekarang

dengan

pengalaman-pengalamannya

dan

latihan-

latihannya sebagai konselor pada masa lampau. Ia harus dapat


berpikir secara logis, kritis, dan mengarah ke tujuan sehingga ia
dapat

membantu

konseli

melihat

tujuan,

kejadian-kejadian

sekarang dalam proporsi yang sebenarnya, memberikan alternatifalternatif

yang

harus

dipertimbangkan

oleh

konseli

dan

memberikan saran-saran jalan keluar yang bijaksana. Semua


kecakapan yang harus dimiliki seorang konselor di atas
membutuhkan tingkat perkembangan intelektual yang cukup baik.
3. Keluwesan (fleksibelity). Hubungan dalam konseling yang bersifat
pribadi mempunyai ciri yang supel dan terbuka. Konselor
diharapkan tidak bersifat kaku dengan langkah-langkah tertentu
dan sistem tertentu. Konselor yang baik dapat dengan mudah

menyesuaikan diri terhadap perubahan situasi konseling dan


perubahan tingkah laku konseli.
4. Sikap penerimaan (acceptance). Seorang konseli diterima oleh
konselor sebagai pribadi dengan segala harapan, ketakutan,
keputus-asaan, dan kebimbangannya. Konseli datang pada konselor
untuk meminta pertolongan dan minta agar masalah serta
kesukaran pribadinya dimengerti. Konselor harus dapat menerima
dan melihat kepribadian konseli secara keseluruhan dan dapat
menerimanya menurut apa adanya. Konselor harus dapat mengakui
kepribadian konseli dan menerima konseli sebagai pribadi yang
mempunyai hak untuk mengambil keputusan sendiri. Konselor
harus
percaya bahwa konseli mempunyai kemampuan untuk membuat
keputusan

yang

bijaksana

dan bertanggung

jawab.

Sikap

penerimaan merupakan prinsip dasar yang harus dilakukan pada


setiap konseling.
5. Pemahaman (understanding). Seorang konselor harus dapat
menangkap arti dari ekspresi konseli. Pemahaman adalah mengkap
dengan jelas dan lengkap maksud yang sebenarnya yang
dinyatakan oleh konseli dan di pihak lain konseli dapat merasakan
bahwa ia dimengerti oleh konselor. Konseli dapat menangkap
bahwa konselor mengerti dan memahami dirinya, jika konselor
dapat mengungkapkan kembali apa yang diungkapkan konseli
dengan bahasa verbal maupun nonverbal dan disertai dengan
perasaannya sendiri. Komunikasi merupakan kecakapan dasar yang
harus dimiliki oleh setiap konselor. Dalam komunikasi konselor
dapat mengekspresikan kembali pernyataan-pernyataan konseli
secara

tepat.

Menjawab

atau

memantulkan

kembali pernyataan konseli dalam bentuk perasaan dan kata-kata


serta tingkah laku konselor. Konselor harus dapat memantulkan
perasaan konseli dan pemantulan ini dapat ditangkap serta
dimengerti oleh konseli sebagai pernyataan yang penuh penerimaan

dan pengertian. Dalam koseling tidak terdapat resep tertentu


mengenai komunikasi yang dapat dipakai oleh setiap konselor pada
setiap konseling.
Selain itu seorang konselor juga harus mengembangkan
beberapa hal, (Fitriasari, 2011) yaitu:
a. Rapport
Hubungan baik yang perlu diciptakan oleh konselor dalam
keseluruhan proses konseling, baik pada awal, pertengahan dan
akhir

konseling.

Dalam

menjalin

rapport

konselor

perlu

menjejaskan tujuan dan rambu- rambu konseling yang perlu


disepakati bersama dengan klien. Konselor perlu memahami
harapan klien dalam konseling dan sebaliknya klien juga perlu
memahami harapan konselornya.
b. Empati
Konselor menciptakan kebersamaan dengan klien, berjalan
bersama- sarna, mengikutinya, mengarahkan dan membimbingnya,
dalam menghadapi masalahnya. Konselor juga bersifat hangat,
terbuka, bersahabat, peduli dan jujur, serta obyektif dalam
memandang permasalahan klien, Konselor mencoba untuk berpikir
dan merasakan segala sesuatunya bersama-sama dengan klien.

2.3.2 Proses Komunikasi Interpersonal


Cunningham (1987) dalam tulisannya Interpersonal Communication
menyebut proses komunikasi interpersonal yang terjadi pada diri seseorang
akan berlangsung sebagai berikut:
a. Berbicara Pada Diri Sendiri
Terjadi komunkasi dalam diri sendiri atau terjadi percakapan
dengan diri sendiri
b. Terjadi Dialog

10

Dialog merupakan satu proses pertukaran pesan dan pemrosesan


makna dalam diri manusia antara I dan Me, I mewakili bagian diri pribadi
diri manusia itu sendiri, sedangkan me mewakili produk sosial
(pengamatan)
c. Jalannya Proses
Jalannya proses berdasarkan perundingan manusia dengan
lingkungannnya atau terjadi adaptasi dengan lingkungannya. Disini
terjadi proses menggunakan stimuli/ rangsangan dari dalam diri kita
d. Persepsi
Individu menerima, menyimpan, dan menggambarkan secara
ringkas simbol.
e. Proses Saling Mempengaruhi
Proses Saling mempengaruhi Raw data persepsi dan diberi
pengertian. Data mentah dari persepsi diproses untuk dimengerti.
f. Proses Data
Merupakan fungsi penggambaran secara baik dari point 4 dan 5 di atas.
g. Feed Back
Terjadinya umpan balik, dan ini sangat tergantung dari point 3 dan
6 di atas.
2.3.3 Ciri Pendekatan dan Penggunaan Psikologi Komunikasi
Psikologi meneliti kesadaran dan pengalaman manusia. Psikologi pertama
mengarahkan perhatiannya pada perilaku manusia dan mencoba menyimpulkan
proses kesadaran yang menyababkan terjadinya perilaku manusia itu. Bila
sosiologi melihat komunikasi pada interaksi sosial, filsafat pada hubungan
manusia dengan realitas lainnya, psikologi pada perilaku individu komunikan.
Fisher (1994) menyebut 4 ciri pendekatan psikologi pada komunikasi :
Penerimaan stimuli secara indrawi sensory reception of stimuli, proses yang
mengantar stimuli dan respon internal meditation of stimuli, prediksi respon
prediction of response,d an peneguhan respon reinforcement of responses.

11

Psikologi komunikasi juga melihat bagaimana respon yang terjadi pada masa
lalu dapat meramalkan respon yang terjadi pada masa yang akan datang.
George A.Miller membuat definisi psikologi yang mencakup semuanya :
Psychology is the science that attempts todescribe, predict, and control mental
and behavioral event. Dengan demikian, psikologi komunikasi adalah imu
yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan persistiwa
mental dan behavioral dalam komunikasi. Peristiwa mental adalah internal
meditation of stimuli, sebagai akibat berlangsungya komunikasi. Komunikasi
adalah peristiwa sosial peristiwa yang terjadi ketika manusa berinteraksi
dengan manusia yang lain. Peristiwa sosial secara psikologis membawa kita
pada psikologi sosial. Pendekatan psikologi sosial adalah juga pendekatan
psikologi komunikasi (Rakhmat, 2005).
Penggunaan Psikologi Komunikasi biasanya digunakan dalam proses
komunikasi dimana dalam komunikasi yang efektif (Rakhmat, 2005)
meneyebutkan tanda-tanda komunikasi efektif menimbulkan lima hal :
a. Pengertian
Penerimaan yang cermat dari isi stimuli seperti yang dimaksudkan
oleh komunikator
b. Kesenangan
Komunikasi

fatis

phatic

communication,

dimaksudkan

menimbulkan kesenangan. Komunikasi inilah yang menjadikan hubungan


kita hangat, akrab, dan menyenangkan
c. Mempengaruhi Sikap
Komunikasi persuasif memerlukan pemahaman tentang faktorfaktor pada diri komunikator, dan pesan menimbulkan efek pada
komunikate.

Persuasi

didefiniksikan

sebagaiproses

mempengaruhi

pendapat, sikap dan tindakan dengan menggunakan manipulasi psikologis


sehingga orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri
d. Hubungan Sosial yang Baik
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup sendiri.
Kita ingin berhubungan dengan orang lain secara positif. Abraham

12

Maslow menyebutnya dengan kebutuhan akan cinta atau belongingness.


William Schutz merinci kebuthan dalam tiga hal : kebutuhan untuk
menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengar
orang lain dalam hal interaksi dan asosiasi inclusion, pengendalian dan
kekuasaan control, cinta serta rasa kasih sayang affection
e. Tindakan
Persuasi juga ditujukan untuk melahirkan tindakan yang dihendaki.
Menimbukan tindakan nyata memang indikator efektivitas yang paling
penting. Karena untuk menimbulkan tidakan, kita harus berhasil lebih dulu
menanamkan pengertian, membentuk dan menguhan sikap, atau
menumbukan hubungan yang baik
2.3.4 Komponen Komunikasi
Gambaran kegiatan komunikasi dasar adalah dengan menjawab suatu
pertanyaan who says what in which channel to whom with what effect? atau
Siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa, dengan pengaruh
bagaimana?, maka komponen komunikasi dasar yang harus ada meliputi
(Handarini, 2010) :
1. Komunikator
Yang dimaksud dengan komunikator dalam penelitian ini adalah
petugas pengajar di lapangan sesuai pembagian tugas pembinaan wilayah kerja
yang ditentukan di tingkat Kecamatan. Untuk dapat melaksanakan tugasnya
dengan baik tutor diharuskan mempunyai etos kerja yang tinggi, demikian
halnya dengan sebagian fungsinya sebagai komunikator dalam proses
pembelajaran juga dibutuhkan etos agar kegiatan komunikasinya efektif.
Arisoteles menyebutkan etos terdiri dari pikiran yang baik, akhlak yang baik,
dan maksud yang baik (good sense, good moral character, good will). Hovland
dan Weiss menyebut etos ini credibility yang terdiri dari dua unsur : expertise
(keahlian) dan trustworthiness (dapat dipercaya).
Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas komunikator tidak cukup
hanya kredibilitas, akan tetapi terdapat dua unsur lainnya yang melengkapi

13

yaitu : atraksi komunikator (source attractiveness) dan kekuasaan (source


power). Semua faktor tersebut diatas sebagai etos.
Atraksi fisik menyebabkan komunikator menarik, dan karena menarik
ia memiliki daya persuasif. Ketertarikan kepada seseorang dapat pula
disebabkan adanya beberapa kesamaan diantara keduanya. Adanya beberapa
kesamaan

tersebut

menjadikan

komunikan

mudah

menerima

pesan

kemampuan

untuk

komunikator.
Kekuasaan

menurut

teori

Kelman

adalah

menimbulkan ketundukkan yang diperoleh dari interaksi komunikator dengan


komunikan,

sehingga

dapat

memaksakan

kehendaknya.

Raven

menyempurnakannya dengan menyebutkan jenis-jenis kekuasaan, meliputi :


Koersif dengan menunjukkan kemampuan komunikator mendatangkan
ganjaran atau memberikan hukuman
Keahlian yang berasal dari pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan
atau kemampuan komunikator
Informasional yang berasal dari penguasaan isi pesan baru oleh
komunikator
Rujukan yang melekat pada diri komunikator
Legal yang berasal dari seperangkat peraturan atau noema yang
menjadikan komunikator berwenang untuk melakukan suatu tindakan.
2. Pesan
Komunikasi pada dasarnya dilakukan untuk dapat menyampaikan
pesan-pesan komunikasi dan menghasilkan efek seperti yang diharapkan.
Menilik beberapa pengertian komunikasi yang dikemukakan dapat diketahui,
bahwa kesamaan makna, kebersamaan dalam pemahaman makna, kesamaan
interpretasi tentang pesan antara komunikator dan komunikan menunjukkan
bahwa komunikasi efektif telah terjadi.

14

Untuk menciptakan kebersamaan dalam makna Commonness in


meaning tersebut pesan komunikasi diperlakukan sedemikian rupa agar
mempunyai daya tarik kepada komunikan, dapat dipahami dengan makna yang
sama seperti dimaksudkan oleh komunikator. Brodbeck mengemukakan bahwa
makna tidak terletak pada kata-kata, tetapi pada pikiran orang dan pada
persepsinya. Makna terbentuk karena pengalaman individu (pelaziman klasik),
diperoleh karena asosiasi antara stimuli asal dengan stimuli yang terkondisikan.
Berlo mengungkapkan bahwa orang-orang memiliki makna yang sama bila
mereka mempunyai pengalaman yang sama atau dapat mengantisipasi
pengalaman yang sama. Kesamaan makna karena kesaamaan pengalaman masa
atau kesamaan struktur kognitif disebut Isomorfisme yang terjadi bila
komunikan-komunkan berasal dari budaya yang sama, ideologi yang sama
bayak kesamaan penglaman lainnya yang pada kenyataannya tidak terdapat
isomorfisme total, selalu tersisaa ada makna perseorangan.
Untuk memperkuat daya persuasi dalam pelaksanaankomunikasi
interpersonal dapat digunakan pesan-pesan non verbal yang berfungsi sebagai:
Repetisi, mengulang kembali pesan verbal
Substitusi, menggantikan lambang-lambang verbal
Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberi makna lain pesan
verbal
Komplemen, melengkapi dan memperkaya makna pesan non verbal
Aksentuasi, menegaskan atau menggarisbawahi pesan verbal.

3. Media /saluran

15

Media atau saluran merupakan sarana yang digunakan untuk


menyampaikan pesan. Media dapat berupa pengeras suara, telepon, gambar
(gerak-statis), kode-kode gerak, dan lain-lain.
4. Komunikan/komunikate
Daya persuasi berhubungan dengan sasaran penerima pesan menurut
Smith adalah terkait dengan aspek psikologis yang berhubungan dengan
personality traits, keterlibatan komunikan dengan masalah komunikasi, dan
sikap

awalnya sehubungan topik

pesan.

Faktor-faktor

tersebut

adalah

berhubungan dengan kondisi psikologis seseorng. Disamping itu kondisi lain


yang juga mempengaruhi tingkat penerimaan pesan adalah pendidikan, kondisi
sosial ekonomi, dan kedudukan, serta kondisi lingkungannya. Terkait dengan
kondisi psikologis komunikan, disebutkan bahwa audiens yang mempunyai
keyakinan rendah (self esteem atau self confidence) lebih mudah dipengaruhi
daripada sebaliknya. Cox dan Bauer dalam penelitiannya menemukan bahwa
pola esteem dan self confidence yang tinggi menghasilkan konfirmasi terhadap
rekomendasi pesan persuasif, sebaliknya yang rendah cenderung menerima
pesan persuasif. Bila seseorang komunikan terlibat dalam suatu masalah
komunikasi, dimana masalah tersebut sesuai dengan sikap dasarnya, maka
mereka cenderung lebih cepat membangkitkan dukungan kognitif, atau dengan
kata lain lebih mudah dipersuasi.
5. Efek
Untuk mengetahui efek komunikasi persuasi yang menghasilkan
penerimaan, pemahaman, persetujuan dan tindakan dalam penelitian ini dapat
dikemukakan

model

yang

dikemukakan

oleh

Cartwright

dengan

mengembangkan seperangkat prinsip untuk mencoba menjelaskan tingkatan


efek yang berbeda, meliputi: (1) efek perhatian dan penerimaan, yaitu pesan
(berupa informasi, gagasan, fakta dsbnya) dapat menarik perhatian, dan telah
mencapai organ dria dari seseorang yang dipengaruhi, (2) efek pokok dengan
perubahan atau pembentukan kognisi baru ,yakni setelah pesan mencapai
organ-organ dria mestinya diterima sebagai bagian dari struktur kognitif

16

seseorang, (3) efek persetujuan, konfirmasi dan dukungan, yakni untuk


mengajak seseorang melakukan suatu tindakan dengan menggunakan persuasi
massa, maka tindakan yang ditawarkan itu harus tampak sebagai jalan untuk
mencapai tujuan seseorang yang diajak tersebut, (4) efek munculnya tindakan
dan perubahan perilaku, yakni untuk mengajak pada suatu tindakan tertentu,
perilaku seseorang harus dikendalikan oleh sistem kognitif dan motivasional
yang tepat pada hal tertentu dan waktu tertentu pula.
2.3.5 Sistem Komunikasi Interpersonal
Secara psikologis, di dalam komunikasi terjadi proses Persepsi, sensasi,
memori, berfikir dan kemudian semua diolah dalam otak sehingga kita dapat
menghasilkan respon. Kecepatan dan ketepatan menerima respon sangat
bergantung dari kepekaan indera manusia, dan ini akan berpengarauh pada
proses selanjutnya. Memori adalah proses menyimpan informasi yang
selanjutnya digunakan sebagai kerangka rujukan (frame of reference), dan
setelah setelah melalui berfikir akan dikeluarkan melalui respon. Berfikir
merupakan suatu proses di dalam otak manusia untuk menetapkan suatu
keputusan sesuai kerangka rujukannya (Rakhmat, 2005)
2.3.5.1 Sensasi
Sensasi berasal dari kata sense yang artinya alat pengindraan,
yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Menurut Dennis
Coon, sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak
memerlukan penguraian verbal. Simbolis, atau konseptual, dan terutama
sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera (Rakhmat, 2005).
Definisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari
lingkungan sangat penting. Kita mengenal lima alat indera atau
pancaindera. Kita mengelompokannya pada tiga macam indera penerima,
sesuai dengan sumber informasi. Sumber informasi boleh berasal dari
dunia luar (eksternal) atau dari dalam diri (internal). Informasi dari luar
diindera oleh eksteroseptor (misalnya, telinga atau mata). Informasi dari
dalam diindera oleh ineroseptor (misalnya, system peredaran darah).

17

Gerakan tubuh kita sendiri diindera oleh propriseptor (misalnya, organ


vestibular) (Rakhmat, 2005).
Sensasi

ditentukan

oleh

faktor

situasional

dan

personal.

Contohnya, banyak mengetahui bahwa masakan padang sangat pedas bagi


orang Jawa, ternyata biasa-biasa saja bagi bagi orang Sumatera Barat.
Perbedaan sensasi disebabkan oleh perbedaan pengalaman atau lingkungan
budaya, di sampinga kapasitas alat indera yang berbeda (Rakhmat, 2005).
Perbedaan kapasitas alat indera menyebabkan perbedaan dalam
memilih pekerjaan atau jodoh, mendengarkan musik atau memutar radio,
yang sangat jelas adalah sensasi mempengaruhi persepsi (Rakhmat, 2005).
2.3.5.2 Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau
hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan
menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli
inderawi sensory stimuli. Sensasi adalah bagian dari persepsi Persepsi
bukan hanya sekedar rekaman suatu peristiwa atau objek, persepsi
interpersonal merupakan pandangan bagaimana kita

pengalaman atau

penilaian kita terhadap komunikasi dengan orang lain (persepsi terhadap


manusia) (Rakhmat, 2005).
Perbedaan antara persepsi objek dangan persepsi interpersonal, yaitu:
No Persepsi objek
Persepsi interpersonal
1
Stimuli ditangkap indera manusia Stimuli ditangkap indera
melalui
2

benda

fisik

manusia

(fisik, melalui lambang verbal dan nonverbal

gelombang, suara dll)


Kita hanya mengamati sifat luar Kita memahami apa yang tidak tampak
objek

tanpa

batiniah objek

mengamati

sifat oleh

indera

perilakunya,

kita,
tapi

bukan

hanya

mengapa

mereka

berperilaku seperti itu. Kita menilai


3

secara tersirat
Objek tidak bereaksi terhadap Faktor personal dan karakteristik orang
kita ketika kita mempersepsi yang diamati serta hubungan kita denga

18

mereka
4

orang itu, akan membuat persepsi

interpersonal cenderung keliru.


Objek relatif tetap dan bersifat Objek selalu berubah bersifat dinamis
statis
Tabel 1: Perbedaan Persepsi objektif dan persepsi interpersonal
A. Faktor-faktor fungsional yang Menentukan Persepsi:
Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-

hal lain yang termasuk apa yang kita sebut faktor personal. Yang menentukan
persepsi bukan bukan jenis atau bentuk stimuli, melainkan karakter orang yang
memberikan respon pada stimuli itu. Persepsi yang berbeda disebabkan bukan
perbedaan stimuli, tetapi perbedaan itu bermula pada kondisi biologis, nilai sosial,
suasana emosional, pengaruh kebudayaan dan kerangka rujukan (Rakhmat, 2005).
B. Faktor-faktor struktural yang Menentukan Persepsi:
Faktor struktural berasal semata-mata dari sifat stimuli objek dan efekefek syaraf yang ditimbulkannya pada sistem syaraf individu. Menurut teori
Gestalt bila kita mempersepsi sesuatu, kita mempersepsinya sebagai suatu
keseluruhan. Kita tidak melihat bagian-bagiannya, lalu menghimpunnya.
Menurut Kohler. Jika kita ingin memahamin suatu peristiwa, kita tidak dapat
meneliti fakta-fakta terpisah, kita harus memandangnya dalam hubungan
keseluruhan. Untuk memahami seseorang, kita harus melihatnya dalam
konteksnya, dalam lingkungannya, dalam masalah yang dihadapinya
(Rakhmat, 2005).
Anehnya betapapun sulitnya kita mempersepsi orang lain, tetapi kita selalu
berusaha berkomunikasi dengan orang tersebut. Jadi berbagai faktor sangat
berperan penting dalam menciptakan persepsi (Rakhmat, 2005).
2.3.5.3 Memori
Dalam komunikasi interpersonal, memori memegang peranan penting
dalam mempengaruhi baik persepsi maupun berfikir. Memori adalah sistem
yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme snggup merekam fakta
tentang dunia dan pengetahuan lainnya serta menggunakan pengetahuannya
untuk membimbing perilakuya (Rakhmat, 2005). Memori memiliki beberapa
jenis diantaranya:

19

a. Pengingatan
Pengingatan adalah proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta dan
informasi secara verbatim tanpa petunjuk yang jelas.
b. Pengenalan
Pengenalan adalah kesukaran untuk mengingat kembali sejumlah fakta.
c. Belajar lagi
Belajar lagi adalah menguasai pelajaran yang telah kita peroleh temasuk
pekerjaan memori.
d. Redintegrasi
Redintegrasi adalah merekonstruksi seluruh masa lalu dari satu petunjuk
memori kecil (Rakhmat, 2005).
2.3.5.4 Berfikir
Proses keempat yang mempangruhi penafsiran kita terhadap
stimuli adalah berfikir. Dalam berfikir kita melihat semua proses yang kita
sebut di atas, yaitu: sensasi persepsi dan memori (Rakhmat, 2005).
2.4 Konseling
2.4.1 Pengertian
Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu
consilium yang berarti dengan atau bersama yang di rangkai dengan
menerima atau memahami. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon, istilah
konseling berasal dari sellan yang berarti menyerah atau menyampaikan.
Konseling adalah kegiatan di mana sebuah fakta dikumpulkan dan semua
pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh
yang bersangkutan, di mana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam
pemecahan masalah itu. Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien.
Konseling harus ditunjukan pada perkembangan yang progresif dan individu
untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan (Prayitno, 2004).
2.5 Faktorfaktor penghambat konseling
1. Faktor Individual
Orientasi cultural (keterikatan budaya) merupakan factor individual
yang dibawa seseorang dalam melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan
gabungan dari :
a. Faktor Fisik

20

Kepekaan panca indera pasien yang diberi konseling akan sangat


mempengaruhi

kemampuan

dalam

menangkap

informasi

yang

disampaikan konselor seperti kemampuan untuk melihat,mendengar,usia,


gender (jenis kelamin) (Fitriasari, 2011).
b. Sudut Pandang
Nilai-nilai yang diyakini oleh pasien sebagai hasil olah pikirannya
terhadap budaya dan pendidikan akan mempengaruhi pemahamannya
tentang materi yang dikonselingkan (Fitriasari, 2011).
c. Kondisi Sosial
Kondisi sosial meliputi sejarah keluarga dan relasi, jaringan sosial,
peran dalam masyarakat, status sosial, peran sosial dan keadaan disekitar
pasien akan memberikan pengaruh dalam memahami materi (Fitriasari,
2011).
d. Bahasa
Kesamaan bahasa yang digunakan dalam proses konseling juga
akan mempengaruhi pemahaman pasien (Fitriasari, 2011).
2.4.2 Tujuan Bimbingan dan Konseling
Tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membant individu
memperkembankan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan
predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya),
berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga, pendidikan,
status sosial ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif

lingkungannya

(Prayitno, 2004).
Adapun tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran
tujuan umum tersebut yang dikatikan secara langsung dengan permasalahan yang
dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas
permasalahannya itu. Masalah-masalah individu bermacam ragam jenis, intesitas,
dan sangkut pautnya, serta masing-masing bersifat unik. Oleh karena itu tujuan
khusus bimbingan dan konseling untuk masing-masing individu bersifat unik
pula. Tujuan bimbingan dan konseling, untuk seorang individu berbeda dari (dan
tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu
lainnya (Prayitno, 2004).

21

2.4.3 Fungsi Bimbingan dan konseling


Dalam kelangsungan perkembangan dan kehidupan manusia, berbagai
pelayanan diciptakan dan diselenggarakan. Masing-masing pelayanan itu berguna
dan memberikan manfaat untuk memperlancar dan memberikan dampak positif
sebesar-besarnya terhadap kelangsungan perkembangan dan kehidupan itu,
khususnya dalam bidang tertentu yang menjadi fokus pelayanan yang dimaksud.
(Prayitno, 2004).
Menurut Prayitno, 2004) Fungsi bimbingan dan konseling ditinjau dari
kegunaan atau manfaat ataupun keutungan-keuntungan apa yang diperoleh
melalui pelayanan tersebut. Fungsi-fungsi itu banyak dan dapat dikelompokan
menjadi tiga fungsi pokok, yaitu :
2.4.3.1 Fungsi pemahaman
Berbagai pemahaman yang sangat perlu dihasilkan oleh pelayanan
bimbingan dan konseling adalah pemahaman tentang diri klien berserta
permasalahannya oleh klien sendiri dan oleh pihak-pihak yang akan
membantu klien, serta pemahaman tentang lingkungan klien oleh klien
2.4.3.2 Fungsi pencegahan
Sebagai upaya mempengaruhi dengan cara yang positif dan
bijaksana lingkungan yang dapat menimbulkan kesulitan atau kerugian
sebelum kesulitan atau kerugian itu benar-benar terjadi
2.3.4.3 Fungsi pengentasan
Terentaskannya berbagai masalah yang timbul sebagai akibat
seseorang mengalami masalah yang tidak mampu diatasinya sendiri dan
tidak lain teratasinya masalahnya itu
2.4.4 Landasan-landasan dalam Konseling
Dalam konseling terdapat landasan-landasan yaitu:
Landasan Filosofis
Landasan filosofis merupakan ilmu yang mempelajari kekuatan

2.4.4.1

yang di dasari pada proses berfikir dan bertingkah laku (Prayitno, 2004).
2.4.4.2 Landasan Religius
Landasan religius merupakan landasan yang membahas masalah
hubungan manusia dengan Tuhannya.
2.4.4.3 Landasan Psikologi
Psikologi merupakan kajian tentang tingkah laku individu.
Landasan psikologi dalam bimbingan konseling, berarti memberikan

22

pemahaman tentang tingkah laku individu yang menjadi sasaran klien.


(Prayitno, 2004).
Untuk keperluan bimbingan konseling ada sejumlah daerah kajian
yang perlu dikuasai dalam bidang psikologi. Yaitu tentang:
1. Motiv dan motivasi
2. Pembawaan dasar dan lingkungan
3. Perkembangan individu
4. Belajar balikan dan penguatan
5. Kepribadian
Landasan Sosial Budaya
Sebagai makhluk sosial tidak pernah dan tidak bisa hidup sendiri,

2.4.4.4

dimana pun dan kapanpun manusia senantiasa membentuk kelompok


hidup yang terdiri dari sejumlah anggota guna menjamin baik keselamatan
perkembangan maupun keturunan (Prayitno, 2004).
2.4.4.5
Landasan Ilmiah dan Tekhnologi
Pelayanan bimbingan konseling merupaka kegiatan profesional
yang memilik dasar-dasar keilmuan baik yang menyangku teori-teorinya,
pelaksanaan

kegiatannya

maupun

pengembangan-pengembangan

pelayanan itu secara berkelanjutan (Prayitno, 2004).


2.4.4.6
Landasan Pedagogis
Setiap masyarakat tanpa terkecuali senatiasa menyelenggarakan
pendidikan dengan berbagai cara dan serana untuk menjamin kelangsunga
hidup mereka. Dapat dikatakan bahwa penfifikan merupak salah satu
lembaga sosial yang universal dan berfungsi sebagai saran reproduksi
sosial, dengan itu, nilai-nilai udaya dan norma-norma sosial yang
melandasi

kehidupan

masyarakat

dapat

diwujudkan

dan

dibina

ketangguahannya (Prayitno, 2004).


2.4.5 Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling
Prinsip merupakan panduan hasil kajian teoretik dan telaah lapangan yang
digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan. Dalam
pelayanan

bimbingan

dan konseling prinsip-prinsip yang

digunakannya

bersumber dari kajian filosofis, hasil-hasil penelitian dan pengalaman praktis


tentang hakikat manusia, perkembangan dan kehidupan manusia dalam konteks
sosial budayaannya, pengertian, tujuan, fungsi, dan proses penyelenggaraan
bimbingan dan konseling. Van Hoose mengemukakan bahwa:

23

a.

Bimbingan didasarkan pada keyakinan bahwa dalam diri tiap anak


terkandung kebaikan-kebaikan

b.

Bimbingan didasarkan pada ide bahwa setiap anak adalah unik;


seseorang anak berbeda dari yang lain

c.

Bimbingan merupakan bantuan kepada anak-anak dan pemuda dalam


pertumbuhan dan perkembangan mereka menjadi pribadi-pribadi yang
sehat

d.

Bimbingan merupakan usaha membantu mereka yang memerlukannya


untuk mencapai apa yang menjadi idaman masyarakat dan kehidupan
umumnya

e.

Bimbingan adalah pelayanan, unik yang dilaksanakan oleh tenaga ahli


dengan latihan-latihan khusus dan untuk melaksanakan pelayanan
bimbingan diperlukan minat pribadi khusus pula.
(Prayitno, 2004).

2.4.6 Faktor-Faktor yang Harus Diperhatikan dalam Proses Konseling


Menurut Culip dan Center cit prayitno (2004), terdapat empat tahap proses
komunikasi, yaitu:
2.4.6.1 Pengumpulan Fakta
Mengumpulkan data dan fakta sebelum seseorang melakukan kegiatan
komunikasi.Untuk

bicara di depan kliennya untuk mencari data dan

menggali masalah dari kliennya tersebut.


2.4.6.2 Perencanaan
Berdasarkan fakta dan data

itu dibuatkan rencana apa yang akan

disampaikan dan bagaimana penyampaiannya kepada klien dari konselor.


2.4.6.3 Komunikasi
Setelah rencana disusun maka tahap selanjutnya adalah communication
atau berkomunikasi.
2.4.6.4 Evaluasi
Penilaian dan analisa diperlukan setiap kali melihat bagaimana hasil
komunikasi tersebut.
Wilbur Scraam mengatakan untuk mendapatkan effect yang baik
dari komunikasi maka prosedur yang ditempuh adalah apa yang disebut

24

sebagai (A-A Procedure yaitu proses dari attention (perhatian) ke action


(tindakan) (Prayitno, 2004).

Attention (Perhatian)

Interest (Kepentingan)

Desire
(Keinginan)

Decision (Keputusan)

Action
(Tindakan)
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Komunikator :
Kredibitas, atraksi dan kekuasaan. ketiga dimensi ini berhubungan
dengan jenis pengaruh siosial yang ditimbulkannya. Pengaruh komunikasi
kita pada orang lain berupa tiga hal : Internalisasi, Identifikasi dan
ketundukan (Rakhmat, 2005).
Internalisasi terjadi bila orang menerima pengaruh karena perilaku
yang dianjurkan sesuai dengan sistem nilai yang dimilikinya. Kita menerima
gagasan, pikiran, atau anjuran orang lain karena gagasan, pikiran, atau
anjuran tersebut ber guna untuk memecahkan masalah, pentingnya dalam
menunjukkan arah, atau dituntut oleh sistem nilai kita. Internalisasi juga
terjadi ketika kita menerima anjuran orang lain atas dasar rasional (Rakhmat,
2005).

2.5 Keterampilan dalam hubungan konseling


Dalam melakuakan konseling diperlukan juga kerampilan-keterampilan yang
yang harus dimiloki oleh seorang konselor dan juga seorang klien.Dibawa ini
adalah ketempilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam proses konseling,
(Prayitno, 2004) yakni:
1. Kemamapuan Membina Keakraban.
Kerakraban rapport merupakan syarat yang sangat pokok demi terbinanya
hibungan yang aman dan serasi antara konselor dan konseli. Keakraban ini
akan tumbuh dan terus menerus terjaga bila konselor benar-benar menaruh
perhatian dan menerima konseli dengan baik.Perhatian dan penerimaan
yang murni (tidak palsu) ini sebenarnya tidak bisa dilaksanakan, ataupun
direncanakan, dan dibuat-buat. Keakraban yang murni dan weajar ditandai
oleh adanya perhatian, tanggapan, dan keterlibatan perasaan secara tulus.

25

Lebih jauh dari itu, keakraban merupakan kesatuan suasana hubungan


yang ditandai oleh adanya rasa kerasaan, keharmonisan, saling percaya,
kerjasama, kesungguhan, ketulusan hati dan perhatian.
2. Kemampuan Berempati
Empati pada dasarnya dalah mengerti dan ikut merasakan perasaan orang
lain (konseli). Empati adalah saling hubungan dua orang dan kuat
lemahnya emoati bergantung pada saling pengertian dan penerimaan
terhadap suasana yang dirasakan oleh konseli. Empati mempunyai
subkomponen yaitu:
1. Positive regard (pengharagaan positif)
2. Respect (rasa hormat)
3. Warmt (kehangatan)
4. Concreteness (kekonkritan)
5. Immediacy (kesiapan, kesegaran)
6. Confrotation (konfrontasi)
7. Genuiness (keaslian)
3. Kemampuan Memperhatikan
Kemamapuan memperhatikan menuntut keterlibatan sepenuhnya
dari konselor terhadap segala sesuatu yang dikemukan oleh konseli.
Kemampuan ini memerlukan dan mengamati untuk dapat mengetahui dan
mengerti inti dan inti dan suasana perasaan sebaimana diungkapkan oleh
konseli. Melalui mendengarkan dan mengamati itu konselor tidak hanya
menangkap dan mengerti apa yang dikemukan oleh konseli tetapi juga
bagaiman dan mengapa konseli menyampaikan hal itu.