Anda di halaman 1dari 29

MANAJEMEN BENCANA

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Perencanaan dan Evaluasi Program Kesehatan
Yang dibina oleh
Dr. Sapto Adi, M.Kes.
dr. Tisnalia

Oleh :
Afifah
140612601834
Arinda Eka Putri S. 140612603530
Retno Ismawati
140612601729

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2016

DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
...............................................................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah
...............................................................................................................................
2
1.3 Tujuan .............................................................................................................
2
BAB 2 ISI
2.1 Pengkajian Kebutuhan Saat Bencana
...............................................................................................................................
3
2.1.1 Perencanaan Dalam Penanggulanan Bencana
...................................................................................................................
3
2.1.2 Mekanisme Pengolahan Bantuan
...................................................................................................................
7
2.2
Air
Dan
Higiene
Sanitasi
...............................................................................................................................
9
2.3
Surveilans
Bencana
...............................................................................................................................
12
2.3.1
Surveilans
Penyakit
........................................................................................................................
13
2.3.2
Surveilans
Faktor
Resiko
........................................................................................................................
14

2.3.3
Surveilans
Gizi
........................................................................................................................
15
2.4
Proses
Kegiatan
Surveilans
...............................................................................................................................
16
2.5
Pengendalian
Vektor
Saat
Bencana
...............................................................................................................................
19
2.6
Manajemen
Korban
Masal
...............................................................................................................................
20
BAB 3 PENUTUP
3.1 Simpulan .........................................................................................................
24
3.2 Saran ...............................................................................................................
24
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bencana baik karena faktor alam, faktor non-alam, maupun factor
manusia selalu mendatangkan kerugian, kerusakan, penderitaan, dan korban jiwa.
Dengan meningkatnya kejadian bencana di berbagai daerah di Indonesia baik
frekuensi, intensitas, maupun dampaknya, hal tersebut memerlukan penanganan
secara terkoordinasi, terencana, dan terpadu (Ulum, 2013)..
Kawasan Asia berada di urutan teratas dari daftar korban akibat bencana
alam. Hampir setengah bencana di dunia terjadi di Asia membuat wilayah ini
rawan bencana. Laporan dari ESCAP juga merinci daftar negara di kawasan Asia
Pasifik mengalami bencana alam selama periode 1980-2009 (Ulum, 2013).
Di Indonesia sampai pada bulan Juni 2015 saja, rekapitulasi data BNPB
menunjukkan bahwa 141 orang meninggal, 7 hilang dan 9.556 unit rumah
mengalami kerusakan dampak dan bencana yang terjadi. Pada bulan Juni 2015
saja, bencana terjadi sebanyak 93 kali yang mengakibatkan 20 orang meninggal
serta lebih dari 300 unit rumah mengalami kerusakan dari rusak ringan, sedang
hingga berat (BNPB 2015).
Bencana yang terjadi membawa sebuah konsekuensi untuk mempengaruhi
manusia dan atau lingkungannya. Kerentanan terhadap bencana dapat disebabkan
oleh kurangnya manajemen bencana yang tepat, dampak lingkungan, atau
manusia sendiri. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kapasitas ketahanan
komunitas terhadap bencana. Semua kejadian tersebut di atas menimbulkan
krisis kesehatan antara lain lumpuhnya pelayanan kesehatan, korban mati,
korban luka, pengungsi, masalah gizi, masalah ketersediaan air bersih, masalah
sanitasi lingkungan, penyakit menular dan stres/gangguan kejiwaan (Depkes RI
2007).
Kompleksitas dari permasalahan bencana tersebut memerlukan suatu
penataan atau perencanaan yang matang dalam penanggulangannya, sehingga
dapat dilaksanakan secara terarah dan terpadu. Penanggulangan yang dilakukan
harus didasarkan pada langkah-langkah yang sistematis dan terencana, sehingga

tidak terjadi tumpang tindih dan bahkan terdapat langkah upaya yang penting
tidak tertangani. Sepert yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2007 tentang Penanggulangan Bencana mengamanatkan pada pasal 35 dan 36
agar setiap daerah dalam upaya penanggulangan bencana, mempunyai
perencanaan penanggulangan bencana. Secara lebih rinci disebutkan di dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana (BNPB 2008).
1.2 Rumusan Masalah
1 Bagaimana pengkajian kebutuhan saat bencana ?
2 Bagaimana air dan hygiene sanitasi bencana ?
3 Bagaimana surveilans bencana ?
4 Bagaimana pengendalian vector saat bencana ?
5 Bagaimana manajemen korban massal bencana ?
1.3 Tujuan
1 Mendeskripsikan pengkajian kebutuhan saat bencana.
2 Mendeskripsikan air dan hygiene sanitasi bencana.
3 Mendeskripsikan surveilans bencana.
4 Mendeskripsikan pengendalian vector saat bencana.
5 Mendeskripsikan manajemen korban massal bencana.

BAB 2
ISI
2.1 Pengkajian Kebutuhan Saat Bencana
2.1.1 Perencanaan Dalam Penanggulangan Bencana
Pemerintah

dan

pemerintah

daerah

bertanggung

jawab

dalam

penyelenggaraan penanggulangan bencana. Sebagaimana didefinisikan dalam UU


24

Tahun

2007

tentang

Penanggulangan

Bencana,

penyelenggaraan

Penanggulangan Bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan


kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan
bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.
Pada dasarnya penyelenggaraan adalah tiga tahapan yakni :
1)

2)
3)

Pra bencana yang meliputi:


situasi tidak terjadi bencana
situasi terdapat potensi bencana
Saat Tanggap Darurat yang dilakukan dalam situasi terjadi bencana
Pascabencana yang dilakukan dalam saat setelah terjadi bencana
Dalam Pedoman Penyusunan Rencana Penangulangan Bencana (BNPB:

2008) secara umum perencanaan dalam penanggulangan bencana dilakukan pada


setiap

tahapan

dalam

penyelenggaran

penanggulangan

bencana.

Dalam

penyelenggaraan penanggulangan bencana, agar setiap kegiatan dalam setiap


tahapan dapat berjalan dengan terarah, maka disusun suatu rencana yang spesifik
pada setiap tahapan penyelenggaraan penanggulangan bencana.
1) Pada tahap Prabencana dalam situasi tidak terjadi bencana, dilakukan
penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (Disaster Management Plan),
yang merupakan rencana umum dan menyeluruh yang meliputi seluruh
tahapan/ bidang kerja kebencanaan. Secara khusus untuk upaya pencegahan
dan mitigasi bencana tertentu terdapat rencana yang disebut rencana mitigasi
misalnya Rencana Mitigasi Bencana Banjir DKI Jakarta.
2) Pada tahap Prabencana dalam situasi terdapat potensi bencana, dilakukan
penyusunan Rencana Kesiapsiagaan untuk menghadapi keadaan darurat yang
didasarkan atas skenario menghadapi bencana tertentu ( single hazard ) maka
disusun satu rencana yang disebut Rencana Kontinjensi (Contingency Plan).

3) Pada Saat Tangap Darurat dilakukan Rencana Operasi (Operational Plan )


yang merupakan operasionalisasi/aktivasi dari Rencana Kedaruratan atau
Rencana Kontinjensi yang telah disusun sebelumnya.
4) Pada Tahap Pemulihan dilakukan Penyusunan Rencana Pemulihan (Recovery
Plan) yang meliputi rencana rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan pada
pasca bencana. Sedangkan jika bencana belum terjadi, maka

untuk

mengantisipasi kejadian bencana dimasa mendatang dilakukan penyusunan


petunjuk /pedoman mekanisme penanggulangan pasca bencana.
Dalam Pedoman Penyusunan Rencana Penangulangan Bencana (BNPB:
2008) secara garis besar proses penyusunan/penulisan rencana penanggulangan
bencana adalah sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Pengenalan dan pengkajian bencana.


Pengenalan kerentanan.
Analisi kemungkinan dampak bencana.
Pilihan tindakan penanggulangan bencana.
Mekanisme penanggulangan dampak bencana.
Alokasi tugas dan peran instansi.
Sebagaimana diuraikan di atas bahwa langkah pertama adalah pengenalan

bahaya / ancaman bencana yang mengancam wilayah tersebut. Kemudian bahaya /


ancaman tersebut di buat daftar dan di disusun langkah-langkah / kegiatan untuk
penangulangannya. Sebagai prinsip dasar dalam melakukan Penyusunan Rencana
Penanggulangan Bencana ini adalah menerapkan paradigma pengelolaan risiko
bencana secara holistik. Pada hakekatnya bencana adalah sesuatu yang tidak dapat
terpisahkan dari kehidupan. Pandangan ini memberikan arahan bahwa bencana
harus dikelola secara menyeluruh sejak sebelum, pada saat dan setelah kejadian
bencana.
Dalam Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana
(Depkes RI 2007) tugas penyelenggaraan penanggulangan bencana ditangani oleh
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di tingkat Pusat dan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat Daerah.
1) Tingkat Pusat
Badan

Nasional

Penanggulangan

Bencana

(BNPB) merupakan

Lembaga Pemerintah Nondepartemen setingkat menteri yang memiliki fungsi


perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan

pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat serta efektif dan efisien; dan
pengoordinasikan

pelaksanaan

kegiatan penanggulangan

bencana

secara

terencana, terpadu dan menyeluruh.


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mempunyai tugas
senagai berikut :
a) Memberikan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan
bencana yang mencakup pencegahan bencana, penanganan tanggap darurat,
rehabilitasi, dan rekonstruksi secara adil dan setara;
b) Menetapkan standardisasi dan kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan
bencana berdasarkan Peraturan Perundang-undangan;
c) Menyampaikan informasi kegiatan kepada masyarakat;
d) Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada Presiden
setiap sebulan sekali dalam kondisi normal dan pada setiap saat dalam
kondisi darurat bencana;
e) Menggunakan dan mempertanggungjawabkan sumbangan/bantuan nasional
dan internasional;
f) Mempertanggungjawabkan

penggunaan

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;


g) Melaksanakan kewajiban lain sesuai

anggaran
dengan

yang diterima dari


Peraturan Perundang-

undangan; dan
h) Menyusun pedoman pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
Tugas dan kewenangan Departemen Kesehatan adalah merumuskan
kebijakan,

memberikan

standar

dan

arahan serta

mengkoordinasikan

penanganan krisis dan masalah kesehatan lain baik dalam tahap sebelum,
saat maupun setelah terjadinya. Dalam pelaksanaannya dapat melibatkan instansi
terkait

baik

Pemerintah

maupun

non

Pemerintah, LSM,

Lembaga

Internasional, organisasi profesi maupun organisasi kemasyarakatan sesuai


dengan

peraturan perundangan

yang

berlaku.

Selain

itu

Departemen

Kesehatan secara aktif membantu mengoordinasikan bantuan kesehatan yang


diperlukan oleh daerah yang mengalami situasi krisis dan masalah kesehatan
lain.
2) Daerah
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) adalah perangkat
daerah yang dibentuk untuk melaksanakan tugas dan fungsi penyelenggaraan
penanggulangan bencana di daerah.

Pada tingkat provinsi BPBD dipimpin


5

oleh seorang pejabat setingkat di bawah gubernur atau setingkat eselon Ib


dan pada tingkat kabupaten/kota dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di
bawah bupati/walikota atau setingkat eselon IIa. Kepala BPBD dijabat secara
rangkap (ex-officio) oleh Sekretaris Daerah yang bertanggungjawab langsung
kepada kepala daerah.
BPBD terdiri dari Kepala, Unsur Pengarah Penanggulangan Bencana
dan Unsur Pelaksana Penanggulangan Bencana.
BPBD mempunyai fungsi :
a) Perumusan

dan

penetapan

kebijakan

penanggulangan bencana

dan

penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat, efektif dan efisien.
b) pengoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara
terencana, terpadu dan menyeluruh.
BPBD mempunyai tugas :
a) Menetapkan

pedoman

dan

pengarahan

sesuai

dengan kebijakan

pemerintah daerah dan BNPB terhadap usaha penanggulangan bencana yang


mencakup pencegahan bencana, penanganan darurat, rehabilitasi, serta
rekonstruksi secara adil dan setara.
b) Menetapkan
standardisasi
serta
c)
d)
e)
f)

kebutuhan

penyelenggaraan

penanggulangan bencana berdasarkan Peraturan Perundang-undangan.


Menyusun, menetapkan, dan menginformasikan peta rawan bencana.
Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana.
Melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada wilayahnya.
Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada kepala
daerah setiap sebulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam

kondisi darurat bencana.


g) Mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan barang.
h) Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
i) Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan

Peraturan Perundang-

undangan.
2.1.2 Mekanisme Pengelolaan Bantuan
1) Obat dan perbekalan kesehatan
Penyediaan obat dalam situasi bencana merupakan salah satu unsur
penunjang yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan pada saat bencana.
Oleh karena itu diperlukan adanya persediaan obat dan perbekalan Kesehatan

sebagai penyangga bila terjadi bencana mulai dari tingkat kabupaten, provinsi
sampai pusat.
Penyediaan dan pendistribusian obat dan perbekalan kesehatan dalam
penanggulangan bencana pada dasarnya tidak akan membentuk sarana dan
prasarana baru, tetapi menggunakan sarana dan prasarana yang telah tersedia,
hanya intensitas pekerjaannya ditingkatkan dengan memberdayakan sumber
daya daerah (Kab/Kota/ Provinsi).
Pengaturan dan pendistribusian obat dan perbekalan kesehatan adalah
sebagai berikut:
a) Posko Kesehatan langsung meminta obat dan perbekalan kesehatan
kepada Dinas Kesehatan setempat.
b) Obat dan Perbekalan Kesehatan yang tersedia di Pustu dan Puskesmas
dapat langsung dimanfaatkan untuk melayani korban bencana, bila terjadi
kekurangan minta tambahan ke Dinkes Kab/Kota (Instalasi Farmasi
Kab/Kota).
c) Dinkes Kab/Kota (Instalasi Farmasi Kab/Kota) menyiapkan obat dan
perbekalan kesehatan selama 24 jam untuk seluruh sarana kesehatan
yang melayani korban bencana baik di Puskesmas, pos kesehatan, RSU,
Sarana Pelayanan Kesehatan TNI dan POLRI maupun Swasta.
d) Bila persediaan obat di Dinkes Kab/Kota mengalami kekurangan dapat
segera meminta kepada Dinkes Provinsi.
Prinsip dasar dari pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan pada
situasi bencana adalah harus cepat, tepat dan sesuai kebutuhan. Oleh karena
itu, dengan banyaknya institusi kesehatan yang terlibat perlu dilakukan
koordinasi dan pembagian wewenang dan tanggung jawab.
Prinsip utama yang harus dipenuhi dalam proses pemberian bantuan obat
dan perbekalan kesehatan mengacu lepada Guidelines for Drug Donations,
yaitu:
a) Prinsip pertama: obat sumbangan harus memberikan keuntungan yang
sebesar-besarnya
didasarkan

bagi

negara penerima,

pada kebutuhan,

sehingga

sehingga

kalau

ada

bantuan
obat

yang

harus
tidak

diinginkan, maka kita dapat menolaknya.


b) Prinsip kedua: obat sumbangan harus mengacu kepada keperluan dan
sesuai

dengan

otoritas

penerima dan

harus

mendukung

kebijakan

pemerintah dibidang kesehatan dan sesuai dengan persyaratan administrasi


yang berlaku.
c) Prinsip ketiga: tidak boleh terjadi standar ganda penetapan kualitas jika
kualitas salah satu item obat tidak diterima di negara donor, sebaiknya
hal ini juga diberlakukan di negara penerima.
d) Prinsip keempat: adalah harus ada komunikasi yang efektif antara negara
donor dan negara penerima, sumbangan harus berdasarkan permohonan
dan sebaiknya tidak dikirimkan tanpa adanya pemberitahuan.
2) Sumber daya manusia
Pada saat terjadi bencana perlu adanya mobilisasi SDM kesehatan yang
tergabung dalam suatu Tim Penanggulangan Krisis yang meliputi:
1 Tim Reaksi Cepat
Tim yang diharapkan dapat segera bergerak dalam waktu 024 jam
2

setelah ada informasi kejadian bencana.


Tim Penilaian Cepat (Tim RHA)
Tim yang bisa diberangkatkan bersamaan dengan Tim Reaksi Cepat atau
menyusul dalam waktu kurang dari 24 jam.

Tim Bantuan Kesehatan


Tim yang diberangkatkan berdasarkan kebutuhan setelah Tim Reaksi
Cepat dan Tim RHA kembali dengan laporan hasil kegiatan mereka di
lapangan.

2.2 Air dan Higiene Sanitasi


Seperti diketahui air merupakan kebutuhan utama bagi kehidupan,
demikian juga dengan masyarakat pengungsi harus dapat terjangkau oleh
ketersediaan air bersih yang memadai untuk memelihara kesehatannya.
Bilamana air bersih dan sarana sanitasi telah tersedia, perlu dilakukan upaya
pengawasan dan perbaikan kualitas air bersih dan sarana sanitasi.
Pada tahap awal kejadian bencana atau pengungsian ketersediaan air
bersih bagi pengungsi perlu mendapat perhatian, karena tanpa adanya air
bersih

sangat berpengaruh terhadap kebersihan dan mening-katkan risiko

terjadinya penularan penyakit seperti diare, typhus, scabies dan penyakit lainnya.
1) Sumber air bersih dan pengolahannya
a) Bila sumber air bersih yang digunakan untuk pengungsi berasal dari
sumber air permukaan (sungai, danau, laut, dan lain-lain), sumur gali,

sumur bor, mata air dan sebagainya, perlu segera dilakukan pengamanan
terhadap sumber-sumber air tersebut dari kemungkinan terjadinya pencemaran, misalnya

dengan

melakukan

pemagaran

ataupun pemasangan

papan pengumuman dan dilakukan perbaikan kualitasnya.


b) Bila sumber air diperoleh dari PDAM atau sumber lain yang cukup jauh
dengan tempat pengung-sian, harus dilakukan pengangkutan dengan
mobil tangki air.
c) Untuk pengolahan

dapat

menggunakan

alat penyuling air (water

purifier/water treatment plant).


d) Beberapa cara pendistribusian air bersih berdasarkan sumbernya
2) Air Permukaan (sungai dan danau)
a) Diperlukan pompa untuk memompa air ke tempat pengolahan air dan
kemudian ke tangki penampungan air di tempat penampungan pengungsi
b) Area disekitar sumber harus dibebaskan dari kegiatan manusia dan hewan
3) Sumur gali
a) Lantai sumur harus dibuat kedap air dan dilengkapi dengan SPAL (saluran
pembuangan air limbah)
b) Bilamana mungkin dipasang pompa untuk menyalurkan air ke tangki
tangki penampungan air
4) Sumur Pompa Tangan (SPT)
a) Lantai sumur harus dibuat kedap air dan dilengkapi dengan SPAL (saluran
pembuangan air limbah)
b) Bila lokasinya agak jauh dari tempat penampungan pengungsi harus
disediakan alat pengangkut seperti gerobak air dan sebagainya
5) Mata Air
a) Perlu dibuat bak penampungan air untuk kemudian disalurkan dengan
pompa ke tangki air
b) Bebaskan area sekitar mata air dari kemungkinan pencemaran
c) Perbaikan dan Pengawasan Kualitas Air Bersih
Pada situasi bencana dan pengungsian umumnya sulit memperoleh air
bersih yang sudah memenuhi persya-ratan, oleh karena itu apabila air yang
tersedia tidak memenuhi syarat, baik dari segi fisik maupun bakteriologis,
perlu dilakukan:
Buang atau singkirkan bahan pencemar dan lakukan hal berikut.
a) Lakukan penjernihan air secara cepat apabila tingkat kekeruhan air yang
ada cukup tinggi.
b) Lakukan desinfeksi terhadap air yang ada dengan menggunakan bahan
bahan desinfektan untuk air

c) Periksa kadar sisa klor bilamana air dikirim dari PDAM


d) Lakukan pemeriksaan kualitas air secara berkala pada titik-titik distribusi
e) Pembuangan Kotoran
Langkah langkah yang diperlukan:
1) Pada awal terjadinya pengungsian perlu dibuat jamban umum yang dapat
menampung

kebutuhan

sejumlah pengungsi.

Contoh

jamban

yang

sederhana dan dapat disediakan dengan cepat adalah jamban kolektif (jamban
jamak).
Pada awal pengungsian: 1 (satu) jamban dipakai oleh 50 100 org Pemeliharaan
terhadap jamban harus dilakukan dan diawasi secara ketat dan lakukan
desinfeksi di area sekitar jamban dengan menggunakan kapur, lisol dan
lain-lain.
2) Pada hari hari berikutnya setelah masa emergency berakhir, pembangunan
jamban darurat harus segera dilakukan dan 1 (satu) jamban disarankan
dipakai tidak lebih dari 20 orang.
1 (satu) jamban dipakai oleh 20 orang. Jamban yang dibangun di lokasi pengungsi
-

disarankan:
Ada pemisahan peruntukannya khusus laki laki dan wanita
Lokasi maksimal 50 meter dari tenda pengungsi dan minimal 30 meter dari

sumber air.
Konstruksi jamban harus kuat dan dilengkapi dengan tutup pada lubang

jamban agar tidak menjadi tempat berkembang biak lalat


g. Sanitasi Pengelolaan Sampah
Kegiatan yang dilakukan dalam upaya sanitasi pengelolaan sampah,
antara lain:
1) Pengumpulan Sampah
- Sampah yang dihasilkan harus ditampung pada tempat sampah keluarga
-

atau sekelompok keluarga


Disarankan menggunakan tempat sampah yang dapat ditutup dan mudah
dipindahkan/diangkat untuk menghindari lalat serta bau, untuk itu dapat
digunakan potongan drum atau kantung plastik sampah ukuran 1 m x 0,6

m untuk 1 3 keluarga
Penempatan tempat sampah maksimum 15 meter dari tempat hunian
Sampah ditempat sampah tersebut maksimum 3 (tiga) hari harus sudah
diangkut

ke

tempat pembuangan

akhir

atau

tempat

pengumpulan

sementara.
2) Pengangkutan Sampah

10

Pengangkutan sampah dapat dilakukan dengan gerobak sampah atau dengan

truk pengangkut sampah untuk diangkut ke tempat pembuangan akhir.


3) Pembuangan Akhir Sampah
Pembuangan akhir sampah dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti
pembakaran, penimbunan dalam lubang galian atau parit dengan ukuran dalam
2 meter lebar 1,5 meter dan panjang 1 meter untuk keperluan 200 orang.
Perlu diperhatikan bahwa lokasi pembuangan akhir harus jauh dari tempat
hunian dan jarak minimal dari sumber air 10 meter
2.3 Surveilans Bencana
Kejadian bencana umumnya berdampak merugikan, seperti rusaknya
sarana dan prasarana fisik (perumahan penduduk, bangunan perkantoran, sekolah,
tempat ibadah, sarana jalan, jembatan dan lain-lain) hanyalah sebagian kecil dari
dampak terjadinya bencana disamping masalah kesehatan seperti korban luka,
penyakit menular tertentu, menurunnya status gizi masyarakat, stress pasca trauma
dan masalah psikososial, bahkan korban jiwa. Menurut Pedoman Manajemen
Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan Dalam Penanggulangan Bencana,
bencana dapat pula mengakibatkan arus pengungsian penduduk ke lokasi-lokasi
yang dianggap aman. Hal ini tentunya dapat menimbulkan masalah kesehatan
baru di wilayah yang menjadi tempat penampungan pengungsi, mulai dari
munculnya kasus penyakit dan masalah gizi serta masalah kesehatan reproduksi
hingga masalah penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, penyediaan air bersih,
sanitasi serta penurunan kualitas kesehatan lingkungan. Untuk mengatasi masalah
tersebut perlu adanya tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui
surveilans bencana (Simms, 2013).
Berdasarkan Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementerian
Kesehatan RI, surveilans bencana merupakan tindakan penanggulangan secara
efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran
informasi. Tindakan yang dapat dilakukan adalah seperti melakukan pencegahan
terhadap penyakit potensi KLB dan penyakit menular, pencegahan terjadinya
trauma psikologis pasca bencana (traumatic stress), mengatasi masalah pangan
dan kesehatan lingkungan terutama di tempat pengungsian. Langkah-langkah

11

penyelidikan dan pengendalian awal dalam surveilans menjadi tanggung jawab


unit kesehatan setempat yang terkait bencana (PAHO, 2000).
Di dalam Pedoman Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan
Dalam Penanggulangan Bencana dan beberapa Surveilans yang dilaksanakan di
daerah bencana bencana meliputi beberapa survei sebagai berikut
2.3.1Surveilans Penyakit
Surveilans penyakit memiliki tujuan menyediakan informasi kebutuhan
pelayanan kesehatan di lokasi bencana dan tempat pengungsian, dan secara
khusus menyediakan informasi mengenai kesakitan dan kematian dari penyakit
potensial wabah (Depkes R1, 2007).
Untuk menunjang ketersediaan informasi kebutuhan pelayanan kesehatan di
lokasi bencana dan tempat pengungsian ada beberapa hal yang diidentifikasi
adalah sebagai berikut;
a. Mengidentifikasi sedini mungkin kemungkinan terjadinya peningkatan
b.
c.
d.
e.

penyakit potensial KLB/wabah


Mengidentifikasi kelompok risiko tinggi
Mengidentifikasi daerah risiko tinggi
Mengidentifikasi status gizi di daerah bencana
Mengidentifikasi status sanitasi lingkungan
Surveilans yang dilakukan terhadap beberapa penyakit menular dan bila

menemukan kasus penyakit menular, semua pihak termasuk LSM kemanusiaan di


pengungsian, harus melaporkan kepada Puskesmas dibawah koordinasi Dinas
Kesehatan Kabupaten sebagai penanggung jawab pemantauan dan pengendalian
Langkah-langkah surveilans penyakit di daerah bencana meliputi:
a) Pengumpulan data
1) Data kesakitan dan kematian
Data kesakitan yang dikumpulkan meliputi jenis penyakit yang diamati
berdasarkan kelompok usia. Data kematian adalah setiap kematian pengungsi,
penyakit yang kemungkinan menjadi penyebab kematian berdasarkan kelompok
usia
2) Data denominator (jumlah korban bencana) diperlukan untuk menghitung
pengukuran epidemiologi, misalnya angka insidensi, angka kematian, dsb.
3) Sumber data Data dikumpulkan melalui laporan masyarakat, petugas pos
kesehatan, petugas Rumah Sakit, koordinator penanggulangan bencana
setempat.
4) Jenis form

12

b)

Form BA-3: Register Harian Penyakit pada Korban Bencana


Form BA-4: Rekapitulasi Harian Penyakit Korban Bencana
Form BA-5: Laporan Mingguan Penyakit Korban Bencana
Form BA-6: Register Harian Kematian Korban Bencana
Form BA-7: Laporan Mingguan Kematian Korban Bencana
Pengolahan dan penyajian data
Data surveilans yang terkumpul diolah untuk menyajikan informasi

epidemiologi sesuai kebutuhan. Penyajian data meliputi deskripsi maupun grafik


data kesakitan penyakit menurut umur dan data kematian menurut penyebabnya
akibat bencana.
c) Analisis dan interpretasi
Kajian epidemiologi merupakan kegiatan analisis dan interpretasi data
epidemiologi yang dilaksanakan oleh tim epidemiologi. Langkah-langkah
pelaksanaan analisis:
Menentukan prioritas masalah yang akan dikaji
Merumuskan pemecahan masalah dengan memperhatikan efektifitas dan
efisiensi kegiatan
Menetapkan rekomendasi sebagai tindakan korektif.
d) Penyebarluasan informasi hasil analisis disampaikan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan.
2.3.2 Surveilans Faktor Risiko
Surveilans faktor risiko adalah surveilans yang dilakukan terhadap kondisi
lingkungan disekitar lokasi bencana, lokasi penampungan pengungsi yang dapat
menjadi faktor risiko penyebaran penyakit pada para pengungsi. Kegiatan ini
dilakukan dengan cara menidentifikai :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Cakupan pelayanan air bersih;


Cakupan pemanfaatan sarana pembuangan kotoran;
Pengelolaan sampah;
Pengamanan makanan;
Kepadatan vector;
Kebersihan lingkungan;
Tempat-tempat yang berpotensi menjadi tempat perindukan vektor (genangan

air, sumber pencemaran, dll)


2.3.3 Surveilans Gizi
Surveilans gizi adalah proses pengamatan keadaan gizi korban bencana
khususnya kelompok rentan secara terus menerus untuk pengambilan keputusan
dalam menentukan tindakan intervensi(Kemenkes R1, 2012).

13

Dalam pengadaan surveilans gizi menurut KemenKes RI tahun 2012 dalam


Pedoman Teknis Penanggulanan Krisis Akibat Bencana terdapat langkah langkah
sebagai berikut :
1) Registrasi pengungsi
Registrasi perlu dilakukan secepat mungkin untuk mengetahui jumlah
Kepala Keluarga, jumlah jiwa, jenis kelamin, usia dan kelompok rawan (balita,
bumil, buteki, dan usila). Di samping itu diperlukan data penunjang lainnya
misalnya: luas wilayah, jumlah camp, dan sarana air bersih. Data tersebut
digunakan untuk menghitung kebutuhan bahan makanan pada tahap penyelamatan
dan merencanakan tahapan surveilans berikutnya.
2) Pengumpulan data dasar gizi
Data yang dikumpulkan adalah data antropometri yang meliputi, berat badan,
tinggi badan dan umur untuk menentukan status gizi, dikumpulkan melalui survei
dengan metodologi surveilans atau survei cepat. Disamping itu diperlukan data
penunjang lainnya seperti, diare, ISPA, Pneumonia, campak, malaria, angka
kematian kasar dan kematian balita. Data penunjang ini diperoleh dari sumber
terkait lainnya,. Data ini digunakan untuk menentukan tingkat kedaruratan gizi
dan jenis intervensi yang diperlukan. Data latar belakang harus dikumpulkan pada
daerah geografis yang terkena dampak, risiko penyakitutama di daerah yang
terkena (misalnya, apakah kolera atau malaria adalah endemik) (PAHO, 2000).
3) Penapisan
Penapisan atai skrining adalah proses pendeteksian kasus atau kondisi
kesehatan. Penapisan ini dilakukan apabila diperlukan intervensi Pemberian
Makanan Tambahan (PMT) darurat terbatas dan PMT terapi. Untuk itu dilakukan
pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan) semua anak untuk
menentukan sasaran intervensi. Pada kelompok rentan lainnya seperti bumil,
buteki dan usila, penapisan dilakukan dengan melakukan pengukuran Lingkar
Lengan Atas/LILA.
Untuk keperluan surveilans gizi pengungsi, di dalam Pedoman Teknis
Penanggulanan Krisis Akibat Bencana sudah dicantumkan beberapa hal yang
perlu disiapkan, yakni sebagai berikut:
a) Petugas pelaksana adalah tenaga gizi (Ahli gizi atau tenaga pelaksana gizi)
yang sudah mendapat latihan khusus penanggulangan gizi dalam keadaan

14

darurat. Jumlah petugas pelaksana gizi minimal tiga orang tenaga gizi terlatih,
agar surveilans dapat dilakukan secepat mungkin. Tenaga pelaksana gizi ini
akan bekerja secara tim dengan surveilans penyakit atau tenaga kedaruratan
lainnya.
b) Alat untuk identifikasi, pengumpulan data dasar, pemantauan dan evaluasi:
Formulir untuk registrasi awal dan pengumpulan data dasar dan
screening/penapisan; dan juga formulir untuk pemantauan dan evaluasi secara
periodik.
Alat ukur antropometri untuk balita dan kelompok umur golongan rawan
lainnya. Untuk balita diperlukan timbangan berat badan (dacin/salter),alat
ukur panjang badan (portable), dan medline (meteran).
Monitoring pertumbuhan untuk balita (KMS).
Jika memungkinkan disiapkan komputer yang dilengkapi dengan sistem
aplikasi untuk pemantauan setiap individu.
c) Melakukan kajian data surveilans gizi dengan mengintegrasikan informasi
dari surveilans lainnya (penyakit dan kematian).
2.4 Proses Kegiatan Surveilans
Menurut Pedoman Teknis Penanggulanan Krisis Akibat Bencana proses
kegiatan surveilans ada 3 dengan berdasarkan wilayah adalah sebagai berikut :
a) Kegiatan di Pos KesehatannKegiatan surveilans yang dilakukan di pos
kesehatan, antara lain:
1) Pengumpulan data kesakitan penyakit yang diamati dan kematian melalui
pencatatan harian kunjungan rawat jalan.
2) Validasi data agar data menjadi sahih dan akurat, pengolahan data kesakitan
menurut jenis penyakit dan golongan umur per minggu.
3) Pembuatan dan pengiriman laporan. Dalam kegiatan pengumpulan data
kesakitan penyakit yang ditujukan pada penyakit-penyakit yang mempunyai
potensi menimbulkan terjadinya wabah, dan masalah kesehatan yang bisa
memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan/atau memiliki
fatalitas tinggi.
Jenis penyakit yang diamati , antara lain:
1)
2)
3)
4)
5)

Diare berdarah
Campak
Diare
Demam berdarah dengue
Pnemonia

15

6) Lumpuh layuh akut (AFP)


7) ISPA non-pneumonia
8) Tersangka hepatitis
9) Malaria klinis
10) Gizi buruk, dsb.
Apabila petugas kesehatan di pos kesehatan, maupun puskesmas
menemukan atau mencurigai kemungkinan adanya peningkatan kasus-kasus
tersangka penyakit yang ditularkan melalui makanan (foodborne diasease)
ataupun penyakit lain yang jumlahnya meningkat dalam kurun waktu singkat,
maka petugas yang bersangkutan harus melaporkan keadaan tersebut secepat
mungkin ke Puskesmas terdekat atau Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
b) Kegiatan di Puskesmas
Kegiatan surveilans yang dilakukan di puskesmas, antara lain:
1) Pengumpulan data kesakitan penyakit-penyakit yang diamati dan kematian
melalui pencatatan harian kunjungan rawat jalan dan rawat inap pos kesehatan
yang ada di wilayah kerja.
2) Validasi data agar data menjadi sahih dan akurat.
3) Pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit golongan usia dan tempat
tinggal per minggu.
4) Pembuatan dan pengiriman laporan.
c) Kegiatan di Rumah Sakit
Kegiatan surveilans yang dilakukan di Rumah Sakit, antara lain:
1) Pengumpulan data kesakitan penyakit yang diamati dan kematian melalui
pencatatan rujukan kasus harian kunjungan rawat jalan dan rawat inap dari para
korban bencana.
2) Validasi data agar data menjadi sahih dan akurat.
3) Pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit, golongan usia dan tempat
tinggal per minggu.
4) Pembuatan dan pengiriman laporan.
d) Kegiatan di Kabupaten/Kota
Kegiatan surveilans yang dilakukan di tingkat Kabupaten/Kota, antara
lain:
1. Pengumpulan data berupa jenis bencana, keadaan bencana, kerusakan sarana
kesehatan, angka kesakitan penyakit yang diamati dan angka kematian korban
bencana yang berasal dari puskesmas, Rumah Sakit, atau Poskes khusus.

16

2. Pengumpulan data berupa jenis bencana, keadaan bencana, kerusakan sarana


kesehatan, angka kesakitan penyakit yang diamati dan angka kematian korban
bencana yang berasal dari Puskesmas, Rumah Sakit atau Poskes khusus.
3. Surveilans aktif untuk penyakit tertentu.
4. Validasi data agar data menjadi sahih dan akurat
5. Pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit, golongan umur dan tempat
tinggal per minggu.
6. Pertemuan tim epidemiologi kabupaten/kota untuk melakukan analisis data dan
merumuskan rekomendasi rencana tindak lanjut penyebar-luasan informasi.
e) Kegiatan di Provinsi
Kegiatan surveilans yang dilakukan di tingkat Provinsi, antara lain:
1) Pengumpulan data kesakitan penyakit-penyakit yang diamati dan kematian
korban bencana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
2) Surveilans aktif untuk penyakit-penyakit tertentu.
3) Validasi data agar data menjadi sahih dan akurat.
4) Pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit golongan umur dan tempat
tinggal per minggu.
5) Pertemuan tim epidemiologi provinsi untuk melakukan analisis data dan
merumuskan rekomendasi rencana tindak lanjut, penyebarluasan informasi ,
pembuatan dan pengiriman laporan.
f) Keluaran
Adanya rekomendasi dari hasil kajian analisis data oleh tim epidemiologi
diharapkan dapat menetapkan rencana kegiatan korektif yang efektif dan efisien
sesuai dengan kebutuhan. Rencana kegiatan korektif ini tentunya dapat menekan
peningkatan penyakit khususnya penyakit menular di lokasi bencana yang
akhirnya menekan angka kematian akibat penyakit pada pasca bencana.
2.5 Pengendalian Vektor Saat bencana
Saat terjadi bencana di sebuah wilayah maka masyarakat yang ada di sana
dibawa ke tempat pengungsian agar keselamatan mereka terjaga dengan baik.
Namun selama berada di lokasi pengungsian tersebut masih ada masalah yang
harus dihadapi oleh para pengungsi yaitu mengenai adanya vektor di sekitarnya.
Kebanyakan vektor yang mengganggu para pengungsi afalah lalat, nyamuk dan
tikus.
Dengan adanya fakta bahwa kondisi para pengungsi di lokasi pengungsian
juga masih terganggu dengan adanya vektor maka harus dilakukan pengendalian

17

yang tepat sasaran. Menurut Departemen Kesehatan RI (2007) ada beberapa


upaya yang bisa dilakukan dalam pengawasan dan pengendalian vektor yaitu :
1)
2)
3)
4)

Pembuangan sampah atau sisa makanan dengan baik


Jika diperlukan maka bisa menggunakan insektisida
Tetap menjaga kebersihan individu selama berada di lokasi pengungsian
Penyediaan Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL) dan pembuangan

sampah yang baik


5) Kebiasaan penanganan makanan secara higienis
Dalam pelaksanaannya pengendalian vektor tidak hanya bisa dilakukan dengan
pengelolaan lingkungan seperti yang telah disebutkan di atas, tetapi bisa juga
melalui bahan kimia seperti berikut ini :
1) Dilakukan dengan cara melakukan penyemprotan atau pengasapan di luar
tenda pengungsi menggunakan insektida
2) Penyemprotan dengan insektisida sedapat mungkin dihindari dan hanya
dilakukan untuk menurunkan populasi vektor secara drastis apabila dengan
cara lain tidak memungkinkan
3) Frekuensi penyemprotan, pengasapan serta jenia insektisida yang digunakan
sesuai dengan rekomendasi dari Dinas Kesehatan setempat
2.6 Manajemen Korban Masal
Dalam manajemen penanggulangan korban massal yang harus diutamakan
adalah penolongnya lebih dulu baru kemudian menyelamatkan korban. Hal
tersebut perlu dilakukan untuk meminimalisasi semakin bertambahnya korban
apalagi dalam keadaan bencana. Menurut Departemen Kesehatan (2001)
penanganan korban massal dikelompokkan menjadi 3 tahap yaitu pencarian
(search), penyelamatan korban (rescue) dan pertolongan pertama (live saving).
Kemudian perlujuga dilakukan Triase atau melakukan selekai korvan berdasarkan
tingkat kegawar daruratannya sebagai dasar dalam memberikan prioritas
pertolongan.
Menurut Departemen Kesehatan (2001) pasien gawat darurat adalah pasien
yang memerlukan pertolongan segera (tepat, cepat dan cermat) untuk mencegah
kematian atau kecacatan. Hal itu menjadikan satu keharusan bahwa pendekatan
pelayanan gawat darurat harus memenuhi kebutuhan sebagai berikut :
1) Penanganan Korban

18

Dalam situasi kedaruratan kompleks sering terjadi korban luka dan bahkan
korban meninggal dunia, untuk itu diperlukan kesiapan dalam penanggulangannya
yang antara lain :
a) Transportasi dan alat kesehatan
Fasilitas Kesehatan yang berupa sarana evakuasi/transportasi meliputi :
(1) Kendaraan roda dua kesehtan lapangan
(2) Kendaraan ambulans biasa
(3) Kendaraan ambulans rusuh masal
(4) Kapal motor sungai/laut
(5) Helikopter udara
(6) Pesawat
b) Sarana pelayanan kesehatan
(1) Pos kesehatan lapangan
(2) Rumah sakit lapangan
(3) Puskesmas/poliklinik/RS Swasta/RSLSM.
(4) Rumah sakit rujukan tingkat Kabupaten RSUD/RS Polri/TNI
(5) Rumah sakit rujukan tingkat Provinsi
(6) Rumah sakit pusat rujukan Depkes/Polri/TNI
c) Obat dan alat kesehatan
(1) Obat rutin
(2) Obat Khusus
(3) Bermacam-macam pembalut cepat
(4) Kit Keslap
(5) Minor surgery
(6) Oxigyn dan perlengkapannya
d) Fasilitas pendukung non medis
(1)
Seragam berupa rompi dan topi khusus (bertuliskan identitas
kesehatan daerah dan ditengah ada simbol palang merah)
(2)
Tandu
(3)
Alat Komunikasi
(4)
Kendaraan taktis untuk pengawalan evakuasi
e) Posko satgas kesehatan
(1) Posko kesehatan di lapangan
(2) Posko kesehatan koordinator wilayah
2) Ketenagaan
(a) Di tempat kejadian/peristiwa sebagai koordinator adalah kasatgas lapangan
(dokter/para medik senior) yang berkedudukan di poskes lapangan atau di
salah satu ambulans dan mengatur seluruh kegiatan dilapangan.
(b) Pada setiap ambulans minimal terdiri dari 2 orang para medik

dan satu

pengemudi (bila memungkinkan ada 1 orang dokter).

19

(c) Pada Puskesmas

/ Poliklinik / RS Swasta / RS Polri / RS TNI tim

penanggulangan korban minimal dipimpin seorang dokter dan telah


menyiapkan ruang pelayanan khusus atau perawatan khusus.
(d) Rumah sakit rujukan dipimpin oleh dokter bedah dan telah menyiapkan ruang
pelayanan dan rawat khusus.
(e) Pada Puskesmas dan RS rujukan dapat dibentuk tim khusus untuk pembuatan
visum at repertum yang dipimpin oleh dokter dan dibantu 2 orang tenaga
administrasi.
3) Pelaksanaan dilapangan
a) Pertolongan dan evakuasi korban masyarakat umum
(1) Petugas lapangan menilai tingkat kegawatan korban untuk korban luka ringan
dan sedang diberi pertolongan pertama di tempat kejadian atau pos kesehatan
lapangan.
(2) Korban luka berat segera dievakuasi ke RS rujukan wilayah /RS Swasta/RS
Polri/RS TNI terdekat. Korban yang memerlukan perawatan lebih lanjut
dapat dievakuasi ke pusat rujukan melalui jalan darat/sungai/laut/ udara
sesuai sarana yang dimiliki.
b) Pertolongan dan evakuasi korban petugas/aparat pengamanan
(1) Korban luka ringan dan sedang diperlakukan sama seperti masyarakat umum.
(2) Korban luka berat segera dievakuasi dengan prioritas ke Rumah Sakit
(3)
4)
(a)
(b)
(1)

terdekat.
Korban yang memerlukan rawat lanjut dievakuasi ke RS Pusat rujukan.
Penanganan Korban Meninggal
Sasarannya adalah semua korban yang meninggal akibat kerusuhan masal.
Pelaksanaan Penanganan Korban meninggal adalah sebagai berikut
Korban meninggal akibat kerusuhan seluruhnya dievakuasi ke satu tempat

khusus yaitu RSUD/RS Polri/RS TNI setempat.


(2) Pada tempat tersebut jenazah yang datang dilakukan registrasi dan pencatatan
(minimal diberi nomor, tanggal dan tempat kejadian) oleh petugas.
(3) Kemudian jenazah dimasukan keruang pemeriksaan untuk dilakukan
identifikasi medik, pemeriksaan luar oleh dokter.
(4) Pemeriksaan dalam (otopsi) untuk mengetahui sebab kematian bisa dilakukan
setelah ada permintaan dari pihak kepolisian setempat dan persetujuan dari
keluarga korban serta sesuai peraturan yang berlaku.
(5) Pemeriksaan medik dilakukan sesuai dengan formulir yang ada.
(6) Barang bukti berupa pakaian, perhiasaan surat -surat dan lain-lain dimasukan
dalam kantong plastik tersendiri diberi nama, nomor sesuai dengan nama dan
nomor jenazah.

20

(7) Jenazah dan barang bukti setelah selesai pemeriksaan dokter diserahkan
kepada petugas kepolisian.

21

BAB 3 PENUTUP
3.1 Simpulan
1. Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana adalah serangkaian upaya yang
meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya
bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.
Persediaan obat dan perbekalan kesehatan diperlukan sebagai penyangga bila
terjadi bencana mulai dari tingkat kabupaten, provinsi sampai pusat.
2. Ketersediaan air bersih untuk memelihara kesehatan bagi pengungsi perlu
mendapat perhatian, karena tanpa adanya air bersih sangat berpengaruh
terhadap kebersihan dan mening-katkan risiko terjadinya penularan penyakit
seperti diare, typhus, scabies dan penyakit lainnya. Tempat penampungan
pengungsi muncul gangguan kesehatan, seperti kasus penyakit dan masalah
gizi serta masalah kesehatan yang lain salah satunya masalah penyediaan
fasilitas pelayanan kesehatan, penyediaan air bersih, sanitasi serta penurunan
kualitas kesehatan lingkungan. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu
adanya tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui surveilans
bencana.
3. Surveilans yang dilakukan adalah sebuah tindakan penanggulangan secara
efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan
penyebaran informasi
4. Pengendalian vektor dilakukan melalui pengelolaan lingkungan dan
penanganan melalui bahan kimia. Namun harus diperhatikan aturan yang
telah dikeluarkan oleh dinas kesehatan setempat.
5. Dalam melakukan manajemen penanganan korban massal maka harus
dipentingkan keselamatan penolong lebih dulu untuk meminimalisasi adanya
korban, sehingga perlu adanya manajemen yang tepat dalam menangani
korban dalam suatu bencana.
3.2 Saran
1. Bagi Pembaca
Diharapkan dengan makalah ini pembaca dapat memahami

bagaimana

tindakan yang dilakukan pasca bencana, beberapa hal mengenai masalah yang
timbul setelah bencana dan bagaimana penanggulanan serta pencegahan
terhadap masalah kesehatan yang di timbulkan
2. Bagi pemerintah

22

Dengan makalah ini diharapkan pemerintah dapat menganilisis tindakan


pasca bencana yang tidak berjalan dengan baik supaya dapat berjalan dengan
baik dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan dan menentukan indicator
keberhasilan dari tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui
proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi
3. Bagi Masyarakat
Masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi dalam penanggulanan bencana
yang terjadi agar meminimalisir masalah yang ditimbulkan setelah bencana.

23

DAFTAR PUSTAKA
BNPB. 2015. Info Bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (Online),
(http://www.bnpb.go.id), diakses 30 Januari 2016.
Manajemen Epidemiologi Bencana. 2011. Pusat Data dan Surveilans
Epidemiologi Kementerian Kesehatan RI. (Online),
(http://www.cs.unsyiah.ac.id/~frdaus/PenelusuranInformasi/FilePdf/manajemenepidbencana.pdf), diakses 26 Januari 2016.
PAHO. 2000. Natural Disaster: Protecting the Publics Health. (Online),
().diakses pada 27 Januari 2016
Pedoman Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan Dalam
Penanggulangan Bencana. 2006. Departemen Kesehatan RI. (Online),
(http://www.penanggulangankrisis.depkes.go.id/__pub/files84935Buku_Ped
oman_SDM_Kes.pdf), Diakses 29 Januari 2016.
Pedoman Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat Kedaruratan Kompleks.
2001. Departemen Kesehatan RI. (Online), (http:// www.depkes.go.id),
diakses pada 30 Januari 2016.
Pedoman Teknis Penanggulanan Krisis Akibat Bencana. 2007. Departemen
Kesehatan RI. (Online),
(http://www.depkes.go.id/resources/download/penanganankrisis/buku_pedoman_teknis_pkk_ab.pdf), diakses 26 Januari 2016.
Peraturan Kepala Badan Nasional Penaggulangan Bencana No. 4 Tahun 2008
Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana. Badan
Nasional Penanggulangan Bencana. (Online), (http://www.bnpb.go.id),
diakses 30 Januari 2016.
Simms, Erin. 2013. Disaster Surveillance Capacity In The Unitedstates: Results
From A 2012 Cste Assessment. (Online),
(http://c.ymcdn.com/sites/www.cste.org/resource/resmgr/EnvironmentalHea
lth/Disaster_Epi_Baseline731KM.pdf), diakses pada 27 Januari 2016
Ulum, Mochamad Chazienul. 2013. Governance dan Capacity Building dalam
Manajemen Bencana Banjir di Indonesia. Jurnal Penanggulangan Bencana,
(Online), 4 (2): 5-12, (bnpb.go.id/uploads/migration/pubs/595.pdf), diakses
30 Januari 2016.
Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
(Online), (http://www.bnpb.go.id), diakses 30 Januari 2016.

24

Pertanyaan
1. a. Pengenalan dan pengkajian bencana.
b. Pengenalan kerentanan.
c. Analisi kemungkinan dampak bencana.
d. Pilihan tindakan penanggulangan bencana.
e. Mekanisme penanggulangan dampak bencana.
Uraian langkah diatas adalah
a. Proses penyusunan/penulisan rencana penanggulangan bencana
b. Dasar-dasar penyelenggaraan penanggulangan bencana
c. Tugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
d. Langkah-langkah pelaksanaan analisis
Jawaban: A
2. Penyelengaraan penanggulangan bencana tingkat daerah dilaksanakan
oleh
a. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di tingkat Pusat
b. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat Daerah
c. Menteri Kesehatan RI
d. Dinas Kesehatan Kab/Kota
Jawaban: B
3.

Dalam pengadaan surveilans gizi

terdapat

langkah penapisan atau

skrining. Dalam langkah ini ada syarat agar penapisan dapat dilaksanakan
yaitu apabila
a. Diperlukan intervensi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) darurat
terbatas dan PMT terapi.
b. Perlu dibuat jamban umum yang dapat menampung kebutuhan
sejumlah pengungsi.
c. Diperlukan adanya persediaan obat dan perbekalan Kesehatan sebagai
penyangga bila terjadi bencana mulai dari tingkat kabupaten,
provinsi sampai pusat.
d. Pengendalian vektor tidak hanya bisa dilakukan dengan pengelolaan
lingkungan
Jawaban : A
4. 3 tahap penanganan korban massal adalah sbb :
a. Pencarian, pengobatan, pertolongan
b. Pencarian, penyelamatan korban, pertolongan pertama
c. Penyelamatan, pengobatan, evakuasi
d. Pencarian, membuat prioritas korban, penyelamatan
25

Jawaban : B
5. Dalam melakukan pengendalian vektor dapat dilakukan dengan beberapa
cara, kecuali :
a. Pembuangan sisa makanan dengan benar
b. Penggunaan insektisida
c. Kebiasaan penanganan makanan secara higienis
d. Pemburuan secara langsung
Jawaban : D

26