Anda di halaman 1dari 23

UNIVERSITAS PEMBAGUNAN NASIONAL VETERAN

JAKARTA
PRESENTASI KASUS
OTITIS EKSTERNA DIFUS AURICULA SINISTRA

Pembimbing:
dr. M. Setiadi, Sp.THT, M.Si Med

Disusun Oleh:
Deviana Sariputri
1420221165

KEPANITERAAN KLINIK ILMU TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AMBARAWA
PERIODE 4 JANUARI 6 FEBRUARI 2016

LEMBAR PENGESAHAN
PRESENTASI KASUS

Otitis Eksterna Difus Auricula Sinistra

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan


Klinik di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan
Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

Disusun Oleh:
Deviana Sariputri
1420221165

Telah Disetujui Oleh Pembimbing

Pembimbing : dr. M. Setiadi, Sp.THT, M.Si Med


Tanggal

Januari 2016

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kehadirat Tuhan YME karena atas rahmat dan ridha-Nya
penulis dapat menyelesaikan presentasi kasus yang berjudul Otitis Eksterna
Difus Auricula Sinistra.
Makalah ini dibuat dengan maksud dan tujuan untuk memenuhi penilaian
pada kepaniteraan klinik di bagian Telinga Hidung Tenggorok Rumah Sakit
Umum Daerah Ambarawa. Terima kasih penulis sampaikan kepada dr. M. Setiadi,
Sp.THT, M.Si Med, selaku dokter pembimbing yang banyak memberikan
masukan dan saran. Serta teman-teman sejawat yang telah membantu dalam
penyelesaian presentasi kasus ini.
Penulis menyadari bahwa presentasi kasus ini masih jauh dari sempurna,
untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi perbaikan penulisan
berikutnya. Akhir kata, semoga presentasi kasus ini dapat bermanfaat dan
menambah ilmu pengetahuan bagi penulis maupun pembaca.

Ambarawa,

Januari 2016

Penulis

DAFTAR ISI
2

HALAMAN JUDUL.........................................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN.............................................................................................
KATA PENGANTAR......................................................................................................
DAFTAR ISI..................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................
BAB II STATUS PASIEN...............................................................................................
BAB III TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................
BAB IV ANALISIS KASUS........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis yang dapat
disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, dan virus.1,2 Insidens otitis eksterna akut
terjadi pada 4 dari 1000 anak dan orang dewasa per tahun. 3 Penyakit ini
merupakan penyakit telinga bagian luar yang sering dijumpai, disamping penyakit
telinga lainnya. Penyakit ini sering dijumpai pada daerah-daerah yang panas dan
lembab dan jarang pada iklim-iklim sejuk dan kering. Patogenesis dari otitis
eksterna sangat kompleks, banyak peneliti mengemukakan faktor pencetus dari
penyakit ini seperti Branca mengatakan bahwa berenang merupakan penyebab dan
menimbulkan kekambuhan. Senturia dkk (1984) menganggap bahwa keadaan
panas, lembab dan trauma terhadap epitel dari liang telinga luar merupakan faktor
penting untuk terjadinya otitis eksterna. Howke dkk (1984) mengemukakan
pemaparan terhadap air dan penggunaan lidi kapas dapat menyebabkan terjadi
otitis eksterna baik yang akut maupun kronik.1,2
Faktor penyebab timbulnya otitis eksterna antara lain, kelembaban,
penyumbatan liang telinga, trauma lokal dan alergi. Faktor ini menyebabkan
berkurangnya lapisan protektif yang menyebabkan edema dari epitel skuamosa.
Keadaan ini menimbulkan trauma lokal yang mengakibatkan bakteri masuk
melalui kulit dan menimbulkan eksudat. Bakteri patogen yang berperan pada otitis
eksterna akut adalah Pseudomonas (41%), Streptococcus (22%), Staphylococcus
aureus (15%) dan bacteroides (11%).1,2,3
Otitis eksterna ini merupakan suatu infeksi liang telinga bagian luar
yang dapat menyebar ke pina, periaurikular, atau ke tulang temporal. Biasanya
seluruh liang telinga terlibat, tetapi pada furunkel liang telinga luar dapat
dianggap pembentukan lokal otitis eksterna. Terjadinya kelembaban yang
berlebihan karena berenang atau mandi menambah maserasi kulit liang telinga
dan menciptakan kondisi yang cocok bagi pertumbuhan bakteri.4

BAB II
STATUS PASIEN

II.1

Identitas Pasien
Nama

: Nn. W

Jenis Kelamin

: Perempuan

Usia

: 19 tahun

Pekerjaan

: Pegawai

Status

: Belum menikah

Agama

: Islam

Alamat

: Kenongo

No RM

: 094xxx

II.2 Anamnesa
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 22 Januari 2016, pukul 09.00 WIB
di Poliklinik THT RSUD Ambarawa.
II.2.1 Keluhan Utama
Nyeri telinga dan rasa penuh pada telinga sebelah kiri.
II.2.2 Keluhan Tambahan
Pendengaran berkurang di telinga kiri, serta adanya sedikit darah saat
dibersihkan menggunakan cottonbud.
II.2.3 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poliklinik THT RSUD Ambarawa pada tanggal 22
Januari 2016 dengan keluhan nyeri telinga sebelah kiri sejak 1 minggu yang lalu.
Sebelumnya pasien mengorek telinga menggunakan cottonbud dan terdapat darah
saat dibersihkan. Pasien juga mengatakan mengalami penurunan pendengaran
pada telinga kiri yang sedikit mengganggu. Tidak ada keluhan batuk, pilek,

demam maupun nyeri menelan pada pasien. Riwayat darah tinggi disangkal,
diabetes disangkal, riwayat alergi obat disangkal.
II.2.4 Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.
II.2.5 Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan serupa dengan pasien.
II.2.6 Riwayat Pengobatan
Pasien belum sempat mengobati keluhannya sebelum berkunjung ke
poliklinik THT.
II. 3

Pemeriksaan Fisik

II.3.1 Status Generalis


Keadaan Umum : Baik, tampak sakit ringan.
Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital

Tekanan Darah

: 120/70 mmHg

Nadi

: 76 x/menit

Suhu

: 36,8o C

Pernapasan

: 20 x/menit

Kepala
Bentuk

: Normocephal

Mata

: Konjuntiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-)

Hidung

: Septum deviasi (-), sekret (-)

Mulut

: Bibir kering (-), dinding faring hiperemis (-)

Telinga: Normotia, tanda radang (-)


Leher

: Deviasi (-), pembesaran kelenjar getah bening (-)

Paru

: Tidak dilakukan

Jantung

: Tidak dilakukan

Abdomen

: Tidak dilakukan

Ekstremitas

: Tidak dilakukan

II.3.2 Status Lokalis


TELINGA
Auricula

Auricula

Dextra

Sinistra

+
+
+
+
-

+
-

Utuh
+

+
+
Utuh
+
+

Inspeksi
Deskuamasi
Otore
Serumen
Tumor
Edema
Hiperemis
Sekret darah
Kelainan Kongenital
Benjolan pada telinga luar
Palpasi
Nyeri tekan tragus
Nyeri tarik auricula
Pembesaran kelenjar limfe
preaurikuler dan
retroaurikuler
Otoskopi
Laserasi Meatus Eksternus
Serumen
Discharge pada CAE
CAE hiperemis
Membran timpani
Discharge
Refleks cahaya

TENGGOROK
Inspeksi

Pada labia tidak ditemukan kelainan.

Lidah kotor (-), hiperemis (-).

Tonsil T1 T1 tenang, hiperemis (-).

Uvula simetris, letak ditengah, faring hiperemis (-).

Palpasi

Kelenjar submandibula edem (-), nyeri tekan (-).


4

II.6

Resume
Pasien datang ke Poliklinik THT RSUD Ambarawa pada tanggal 22 Januari

2016 dengan keluhan nyeri telinga dan rasa penuh pada telinga sebelah kiri sejak
1 minggu yang lalu. Sebelumnya pasien mengorek telinga menggunakan
cottonbud dan terdapat darah saat dibersihkan. Pasien juga mengatakan
mengalami penurunan pendengaran pada telinga kiri. Tidak ada keluhan batuk,
pilek, panas badan maupun nyeri menelan pada pasien. Riwayat darah tinggi
disangkal, diabetes disangkal, riwayat alergi obat disangkal. Pasien belum sempat
mengobati keluhannya sebelum berkunjung ke poliklinik THT. Pada pemeriksaan
auricula sinitra dengan otoscope ditemukan serumen di auricula sinistra, adanya
pembengkakan dan hiperemis serta sekret darah yang mengering di liang telinga
kiri .
II.7 Diagnosis
Otitis Eksterna Difus Auricula Sinistra
II.8

II.9

Penatalaksanaan
Medikamentosa

Lapimox tablet 500mg 2 x sehari (10 hari)

Non medikamentosa

Konsumsi obat secara teratur

Selalu jaga hygiene liang telinga

Mencegah telinga agar tidak kemasukan air

Mengurangi kebiasaan mengkorek-korek telinga

Prognosis

Ad vitam

: bonam

Ad fungsionam

: bonam

Ad sanationam

: bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

III.1

Anatomi dan Fisiologi Telinga Luar


Telinga luar terdiri dari daun telinga (aurikula) dan liang telinga (meatus

akustikus eksternus) sampai membran timpani.5 Aurikula berfungsi menghimpun

bunyi dan meatus akustikus eksternus yang mengantar gelombang bunyi ke


membran timpani. 6
a) Aurikula
Pinna (aurikula) berasal dari pinggir-pinggir celah brankial pertama serta
arkus brankialis pertama dan kedua. Aurikula dipersarafi oleh cabang
aurikulotemporalis dari saraf mandibularis serta saraf aurikularis mayor dan
oksipitalis minor yang merupakan cabang dari pleksus servikalis. 7
Aurikula mempunyai kerangka dari tulang rawan elastin yang dilapisi oleh
kulit. Di bagian anterior aurikula, kulit tersebut melekat erat pada perikondrium
sedangkan di bagian posterior kulit melekat secara longgar. Bagian aurikula yang
tidak mempunyai tulang rawan disebut lobulus, yang ada hanya jaringan lemak.
Fungsi daun telinga adalah untuk memantulkan dan mengkonsentrasikan getaran
yang datang dari luar. 6

Gambar 2.1 Bagian Auris Externa

b) Meatus Akustikus Eksterna


Liang telinga merupakan saluran berbentuk huruf S yang menuju ke arah
telinga tengah dan berakhir pada membran timpani. Liang telinga mempunyai
diameter 0,5 cm dan panjang 2,5-3 cm. Liang telinga merupakan saluran yang
tidak lurus, tetapi berbelok dari arah postero-superior di bagian luar ke arah
antero-inferior. Selain itu, terdapat penyempitan di bagian medial yang dinamakan
isthmus.5,6
Dinding meatus akustikus eksterna 1/3 bagian lateral dibentuk oleh tulang
rawan yang merupakan kelanjutan dari tulang rawan aurikula dan disebut pars

kartilagenus. Bagian ini bersifat elastis dan dilapisi kulit yang melekat erat pada
perikondrium. Kulit pada bagian ini mengandung jaringan subkutan, folikel
rambut, kelenjar lemak (glandula sebacea) dan kelenjar serumen (glandula
ceruminosa). Dinding meatus akustikus eksterna 2/3 bagian medial dibentuk oleh
tulang dan disebut pars osseus. Kulit yang meliputi bagian ini sangat tipis dan
melekat erat pada periosteum. Pada bagian ini tidak terdapat folikel rambut dan
hanya dijumpai sedikit kelenjar serumen.6
Liang telinga berasal dari celah brankial pertama ektoderm. Sendi temporomandibularis dan kelenjar parotis terletak di depan terhadap liang telinga,
sedangkan prosesus mastoideus terletak di belakangnya.7
c) Membrana Tympanica
Membran timpani memisahkan kavum timpani dengan meatus akustikus
eksterna. Bentuknya seperti kerucut dengan basis oval dan puncak kerucut cekung
ke arah medial. Tepi membran timpani disebut margo timpani. Membran timpani
terpasang miring dengan melekat pada suatu lekukan tulang yang disebut sulkus
timpanikus dengan perantara jaringan ikat, disebut annulus timpanikus.6
Membran timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis di bagian luar,
lapisan fibrosa di bagian tengah di mana tangkai maleus dilekatkan, dan lapisan
mukosa di bagian dalam.7 Bagian atas membran timpani yang berbentuk bulan
sabit disebut pars flaksida atau membrana Shrapnelli. Pars flaksida ini lebih lentur
dan lebih tipis, terdiri dari 2 lapisan, yaitu bagian luar yang berupa lanjutan epitel
kulit liang telinga dan bagian dalam yang dilapisi oleh sel kubus bersilia seperti
epitel mukosa saluran napas. Di bagian bawah membran timpani berbentuk oval
dengan warna putih mutiara yang disebut pars tensa (membran propria). Pars
tensa ini merupakan bagian terbesar dari membran timpani dan merupakan selaput
lebih tebal, dengan tambahan satu lapis lagi di bagian tengah, yaitu lapisan yang
terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di
bagian luar dan sirkuler pada bagian dalam.5,6
Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut
sebagai umbo. Dari umbo inilah bermula suatu refleks cahaya (cone of light) ke
arah bawah, yaitu pada pukul 7 untuk membran timpani kiri dan pukul 5 untuk
membran timpani kanan. Refleks cahaya (cone of light) ialah cahaya dari luar

yang dipantulkan oleh membran timpani. Di membran timpani terdapat 2 macam


serabut, sirkuler dan radier. Serabut inilah yang menyebabkan timbulnya refleks
cahaya yang berupa kerucut itu. 5

Gambar 2.2 Membran Timpani

III.2 Definisi Otitis Eksterna


Otitis eksterna adalah peradangan pada kulit yang melapisi meatus akustikus
eksternus, baik akut maupun kronis, yang disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur
dan virus. Otitis eksterna ditandai dengan gejala iritasi, deskuamasi, discharge,
dan

kemungkinan

relaps.

Tatalaksana

penyakit

ini

sederhana,

namun

keberhasilannya tergantung pada kepedulian pasien terhadap penyakitnya dan


kepatuhan untuk menjaga kebersihan telinga.8
III.3 Etiologi
Otitis eksterna dapat disebabkan oleh infeksi bakteri seperti Pseudomonas
aeruginosa, Proteus mirabilis, Staphylococcus, Streptococcus, dan beberapa
bakteri gram negatif. Serta dapat juga disebabkan oleh jamur sereti Jamur
golongan Aspergillus atau Candida sp. Otitis eksterna difusa dapat juga terjadi
sekunder pada otitis media supuratif kronis. 9,10
Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya otitis eksterna, yaitu : 9,10
a) Derajat keasaman (pH)
Ph pada liang telinga biasanya normal atau asam, pH asam berfungsi
sebagai protektor terhadap kuman. Bila terjadi perubahan pH menjadi basa

maka akan mempermudah terjadinya otitis eksterna yang disebabkan oleh


karena proteksi terhadap infeksi menurun.
b) Udara
Udara yang hangat dan lembab lebih memudahkan kuman dan jamur
mudah tumbuh.
c) Trauma
Trauma ringan misalnya setelah mengorek telinga merupakan factor
predisposisi terjadinya otitis eksterna.
d) Berenang
Terutama jika berenang pada air yang tercemar. Perubahan warna kulit
liang telinga dapat terjadi setelah terkena air.
III. 4 Patofisiologi
Secara alami, sel-sel kulit yang mati, termasuk serumen, akan dibersihkan
dan dikeluarkan dari gendang telinga melalui liang telinga. Cotton bud dapat
mengganggu mekanisme pembersihan tersebut sehingga sel-sel kulit mati dan
serumen akan menumpuk di sekitar gendang telinga. Masalah ini juga diperberat
oleh adanya susunan anatomis berupa lekukan pada liang telinga.
Keadaan diatas dapat menimbulkan timbunan air yang masuk ke dalam
liang telinga ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah, lembab, hangat, dan
gelap pada liang telinga merupakan tempat yang baik bagi pertumbuhan bakteri
dan jamur. Adanya faktor predisposisi otitis eksterna dapat menyebabkan
berkurangnya lapisan protektif yang menimbulkan edema epitel skuamosa.
Keadaan ini menimbulkan trauma lokal yang memudahkan bakteri masuk melalui
kulit, terjadi inflamasi dan cairan eksudat. Rasa gatal memicu terjadinya iritasi,
berikutnya infeksi lalu terjadi pembengkakan dan akhirnya menimbulkan rasa
nyeri.
Proses infeksi menyebabkan peningkatan suhu lalu menimbulkan perubahan
rasa nyaman dalam telinga. Selain itu, proses infeksi akan mengeluarkan cairan/
nanah yang bisa menumpuk dalam liang telinga (meatus akustikus eksterna)
sehingga hantaran suara akan terhalang dan terjadilah penurunan pendengaran.
Bakteri

patogen

yang

sering

menyebabkan

otitis

eksterna

yaitu

10

pseudomonas (41%), Streptococcus (22%), Staphylococus aureus (15%) dan


Bacteroides (11%). Infeksi pada liang telinga luar dapat menyebar ke pinna,
periaurikuler dan tulang temporal.
Otalgia pada otitis eksterna disebabkan :

Kulit liang telinga luar beralaskan periostium & perikondrium bukan


bantalan jaringan lemak sehingga memudahkan cedera atau trauma. Selain
itu, edema dermis akan menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa
sakit yang hebat.

Kulit dan tulang rawan pada 1/3 luar liang telinga luar bersambung dengan
kulit dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan sedikit saja pada daun
telinga akan dihantarkan ke kulit dan tulang rawan liang telinga luar
sehingga mengakibatkan rasa sakit yang hebat pada penderita otitis eksterna.

III. 5 Gejala Klinik

Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada tahap awal
dari otitis eksterna difusa dan sering mendahului terjadinya rasa sakit dan nyeri
tekan daun telinga. Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan
merupakan pendahulu rasa sakit yang berkaitan dengan otitis eksterna akut. Pada
kebanyakan penderita rasa gatal disertai rasa penuh dan rasa tidak enak
merupakan tanda permulaan peradangan suatu otitis eksterna akuta. Pada otitis
eksterna kronik merupakan keluhan utama.9
Rasa sakit di dalam telinga bisa bervariasi dari yang hanya berupa rasa tidak
nyaman, perasaan penuh didalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga rasa
sakit yang hebat, serta berdenyut. Meskipun rasa sakit sering merupakan gejala
yang dominan, keluhan ini juga sering merupakan gejala sering mengelirukan.9
Kehebatan rasa sakit bisa agaknya tidak sebanding dengan derajat
peradangan yang ada. Ini diterangkan dengan kenyataan bahwa kulit dari liang
telinga luar langsung berhubungan dengan periosteum dan perikondrium,
sehingga edema dermis menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit
yang hebat. Lagi pula, kulit dan tulang rawan 1/3 luar liang telinga bersambung
dengan kulit dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang sedikit saja

11

dari daun telinga akan dihantarkan kekulit dan tulang rawan dari liang telinga luar
dan mengkibatkan rasa sakit yang hebat dirasakan oleh penderita otitis eksterna.9
Kurang pendengaran mungkin terjadi pada akut dan kronik dari otitis
eksterna akut. Edema kulit liang telinga, sekret yang serous atau purulen,
penebalan kulit yang progresif pada otitis eksterna yang lama, sering menyumbat
lumen kanalis dan menyebabkan timbulnya tuli konduktif. Keratin yang
deskuamasi, rambut, serumen, debris, dan obat-obatan yang digunakan kedalam
telinga bisa menutup lumen yang mengakibatkan peredaman hantaran suara.9
III.6 Klasifikasi
Otitis eksterna diklasifikasikan atas :
1. Otitis eksterna akut
Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel/ bisul)
Otitis eksterna sirkumskripta adalah infeksi bermula dari folikel rambut di
liang telinga yang disebabkan oleh bakteri stafilokokus dan menimbulkan
furunkel di liang telinga di 1/3 luar. Sering timbul pada seseorang yang menderita
diabetes. Gejala klinis otitis eksterna sirkumskripta berupa rasa sakit (biasanya
dari ringan sampai berat, dapat sangat mengganggu, rasa nyeri makin hebat bila
mengunyah makanan). Keluhan kurang pendengaran, bila furunkel menutup liang
telinga. Rasa sakit bila daun telinga ketarik atau ditekan. Terdapat tanda infiltrat
atau abses pada 1/3 luar liang telinga.

Penatalaksanaan otitis eksterna sirkumskripta: 11

Lokal : pada stadium infiltrat diberikan tampon yang dibasahi


dengan 10% ichthamol dalam glycerine, diganti setiap hari. Pada stadium
abses dilakukan insisi pada abses dan tampon larutan rivanol 0,1%.

Sistemik : Antibiotika diberikan dengan pertimbangan infeksi


yang cukup berat. Diberikan pada orang dewasa ampisillin 250 mg qid,
eritromisin 250 qid. Anak-anak diberikan dosis 40-50 mg per kg BB.

12

Analgetik : Parasetamol 500 mg qid (dewasa). Antalgin 500 mg


qid (dewasa).
Pada kasus-kasus berulang tidak lupa untuk mencari faktor sistemik yaitu

adanya penyakit diabetes melitus.11

Otitis Eksterna Difus


Otitis eksterna difus adalah infeksi pada 2/3 dalam liang telinga akibat
infeksi bakteri. Umumnya bakteri penyebab yaitu Pseudomonas. Bakteri
penyebab lainnya yaitu Staphylococcus albus, Escherichia coli, dan sebagainya.
Kulit liang telinga terlihat hiperemis dan udem yang batasnya tidak jelas. Tidak
terdapat furunkel (bisul). Gejalanya sama dengan gejala otitis eksterna
sirkumskripta (furunkel = bisul). Kandang-kadang kita temukan sekret yang
berbau namun tidak bercampur lendir (musin). Lendir (musin) merupakan sekret
yang berasal dari kavum timpani dan kita temukan pada kasus otitis media. 3
Pengobatan otitis eksterna difus ialah dengan memasukkan tampon yang
mengandung antibiotik ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara
obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan obat antibiotika
sistemik. 8

2. Otitis eksterna kronik

Gambar 3.2 Otitis eksterna akut

13

Otitis eksterna kronik adalah otitis eksterna yang berlangsung lama dan
ditandai oleh terbentuknya jaringan parut (sikatriks). Adanya sikatriks
menyebabkan liang telinga menyempit.

Gambar 3.2 Otitis eksterna kronik

III.7 Diagnosis
Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan dengan gejala awal berupa
gatal. Rasa gatal berlanjut menjadi nyeri yang sangat dan terkadang tidak sesuai
dengan kondisi penyakitnya (misalnya pada folikulitis atau otitis eksterna
sirkumskripta). Nyeri terutama ketika daun telinga ditarik, nyeri tekan tragus, dan
ketika mengunyah makanan.
Rasa gatal dan nyeri disertai pula keluarnya sekret encer, bening sampai
kental purulen tergantung pada kuman atau jamur yang menginfeksi. Pada jamur
biasanya akan bermanifestasi sekret kental berwarna putih keabu-abuan dan
berbau.Pendengaran pasien bisa normal atau sedikit berkurang, tergantung pada
besarnya furunkel atau edema yang terjadi dan telah menyumbat pada liang
telinga.
Didapatkan riwayat faktor predisposisi misalnya kebiasaan berenang pada
pasien, ataupun kebiasaan mengorek kuping dengan cotton bud bahkan
menggunakan bulu ayam yang merupakan media penyebaran infeksi.
Pemeriksaan Fisik pada pasien bisanya menunjukkan:
Kulit MAE edema, hiperemi merata sampai ke membran timpani dengan
liang MAE penuh dengan sekret. Jika edema hebat, membran timpani
dapat tidak tampak.
Pada folikulitis akan didaptkan edema, hiperemi pada pars kartilagenous
MAE.

14

Nyeri tragus (+)


Tidak adanya partikel jamur
Adenopati reguler dan terkadang didapatkan nyeri tekan.10

III.8 Diagnosis Banding


Diagnosis banding dari keadaan yang serupa dengan otitis eksterna antara lain
meliputi :

III.9

Otitis Media akut


Otitis eksterna bullosa
Perikondritis yang berulang

Penatalaksanaan
Otitis ekseterna difusa harus diobati dalam keadaan dini sehingga dapat

menghilangkan edema yang menyumbat liang telinga. Untuk tujuan ini biasanya
perlu disisipkan tampon berukuran x 5 cm kedalam liang telinga mengandung
obat agar mencapai kulit yang terkena. Setelah dilumuri obat, tampon kasa
disisipkan perlahan-lahan dengan menggunakan forsep hartmann yang kecil.
Penderita harus meneteskan obat tetes telinga pada kapas tersebut satu hingga dua
kali sehari. Dalam 48 jam tampon akan jatuh dari liang telinga karena lumen
sudah bertambah besar.
Polimiksin B dan colistemethate merupakan antibiotic yang paling efektif
terhadap Pseudomonas dan harus menggunakan vehiculum hidroskopik seperti
glikol propilen yang telah diasamkanbahan kimia lain, seperti gentian violet 2%
dan perak nitrat 5% bersifat bakterisid dan bisa diberikan langsung ke kulit liang
telinga. Setelah reaksi peradangan berkurang, dapat ditambahkan alcohol 70%
untuk membuat liang telinga bersih dan kering.
Pasien harus diingatkan mengenai kemungkinan kekambuhan yang
mungkin terjadi pada pasien, terutama setelah berenang. Untuk menghindarinya
pasien harus menjaga agar telinganya selalu kering, menggunakan alcohol encer
secara

rutin

tiga

kali

seminggu.

Juga

harus

diingatkan

agar

tidak

menggaruk/membersihkan telinga dengan cotton bud terlalu sering 2.

15

III.10 Komplikasi

Perikondritis

Selulitis

Dermatitis aurikularis.11
III.11 Prognosis
Otitis eksterna adalah suatu kondisi yang dapat diobati biasanya sembuh
dengan cepat dengan pengobatan yang tepat. Paling sering, otitis ekserna dapat
dengan mudah diobati dengan tetes telinga antibiotik. Otitis eksterna kronis yang
mungkin memerlukan perawatan lebih intensif. Otitis eksterna biasanya tidak
memiliki komplikasi jangka panjang atau serius. 10

16

BAB IV
ANALISIS KASUS

Pada kasus ini diagnosis otitis eksterna diffusa sinistra ditegakkan


berdasarkan anamnesis gejala klinis dan pemeriksaan fisik pasien. Dari anamnesis
di dapatkan bahwa pasien mengeluh nyeri telinga kiri dan terasa penuh yang
dirasakan sejak 1 minggu yang lalu, dimana sebelumnya pasien memiliki
kebiasaan mengkorek-korek telinga menggunakan cottonbud. Hal ini yang
kemungkinan dapat menyebabkan trauma ringan sehingga terjadi perubahan pada
kulit liang telinga yang memudahkan terjadinya infeksi kuman. Pasien juga
mengeluhkan terdapat penurunan pendengaran yang dirasakan sejak keluhan
utama muncul. Hal ini sesuai dengan gejala otitis ekterna difusa yaitu liang
telinga sangat sempit akibat edema masif, terdapat sekret dan terdapat gangguan
pendengaran yang terjadi karena liang telinga yang edema dan menyumbat liang
telinga.
Pada pemeriksaan fisik telinga kiri pasien didapatkan adanya gejala klinis
otitis eksterna difus berupa peradangan pada meatus akustikus telinga kiri yaitu
terdapat edema, hiperemi, sekret darah(+), dan liang telinga sangat sempit.
Pada otitis eksterna, pengobatannya amat sederhana tetapi membutuhkan
kepatuhan penderita terutama dalam menjaga kebersihan liang telinga.
Pembersihan liang telinga dengan mengorek-ngorek telinga dengan benda asing
seperti cotton bud tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan trauma atau iritasi.
Penatalaksanaannya diberikan antibiotik yaitu lapimox 500mg selama 5 hari.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Hafil AF, Sosialisman, Helmi. Kelainan Telinga Luar. Soepardi EA,
Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-6. Jakarta: Badan penerbit
FKUI; 2011. h. 60-3.
2. Boies LR. Penyakit Telinga Luar. Adams GL, Boies LR, Higler PA.
BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit buku
kedokteran EGC; 2012. h. 75-80.
3. Guss J, Ruckenstein MJ. Infections of The External Ear. In : Flint PW,
Haughey BH, Lund VJ, Niparko JK, Richardson MA, Robbins KT, et al.
Cumming Otolaryngology Head & Neck Surgery. 5rd ed. Philadelphia:
Mosby elsevier; 2010. P. 1956-61.
4. Abdullah, F. 2003. Uji Banding Klinis Pemakaian Larutan Burruwi Saring
dengan Salep Ichthyol (Ichthammol) pada Otitis Eksterna Akut. Available
from : www.usudigitallibrary.com. Accessed: 1 September 2015.
5. Ballanger, Jhon. 1996. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala
dan Leher Edisi 13. Jakarta: Binarupa Aksara.
6. Kartika,

Henny.

2008.

Otitis

Eksterna.

Availble

from

http://library.usu.ac.id/modules.php&id. Accessed: 1 September 2015


7. Carr, MM. 2000. Otitis Eksterna. Available from : http://www.
icarus.med.utoronto.ea/carr/manual/otitisexterna.

htm.

Accessed:

September 2015.
8. Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J. Gangguan Pendengaran dan
Kelainan Telinga. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J,
Restuti RD, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala dan Leher. Edisi Keenam. Cetakan Keempat. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI. 2010 : hlm 10-16.
9. Moore KL, Anne MR. Head. In : Essential Clinical Anatomy. USA :
Lippincott Williams and Wilkins. 2002 : p. 401-403.

18

10. Liston SL, Duvall AJ. Embriologi, Anatomi, dan Fisiologi Telinga.
Dalam : Adams GL, Boies LR, Higler PA. Boies Buku Ajar Penyakit THT.
Edisi 6. Cetakan Ketiga. Jakarta : EGC. 1997 : hlm 27-31.
11. Bull PD. Conditions of The External Auditory Meatus. In : Lecture Notes
on Diseases of The Ear, Nose and Throat. Ninth Edition. USA : Blackwell
Science Ltd. 2002 : p. 27-30.
12. Soepardi, Iskandar, N., Bashiruddin, J., et al. (eds)., (2007), Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher Edisi
Keenam, Jakarta : Gaya Baru.
13. Boies LR. Penyakit Telinga Luar. Dalam : Adams GL, Boies LR, Higler
PA. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Cetakan Ketiga. Jakarta :
EGC. 1997 : hlm 76-80
14. Suardana, W. dkk. 1992. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit
Telinga, Hidung dan Tenggorok RSUP Denpasar. Lab/UPF Telinga
Hidung dan Tenggorok FK Unud. Denpasar.
15. Sosialisman & Helmi. 2001. Kelainan Telinga Luar dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-6.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

19