Anda di halaman 1dari 5

Arus biaya persediaan

Untuk memberikan ilustrasi asumsi arus biaya yang tersedia, misalnya catatan persediaan
suatu perusahaan sebagai berikut:
Persediaan tanggal 1 januari, 2009
Persediaan dibeli sepanjang tahun
Harga pokok barang tersedia untuk dijual

40 unit@$500 $20.000
60 unit@$600 $36.000
100 unit
$56.000

Selanjutnya, jika sepanjang tahun terjual 30 unit seharga $800 dan menghasilkan pendapatan
penjualan sebesar $24.000. GAAP memeberikan tiga pilihan bagi perusahaan untuk
menentukan biaya mana yang akan dikaitkan dengan poen jualan:
First- in, firs-out (FIFO). Metode ini mengansumsikan bahwa yang dibeli pertama
merupakan yang pertama dijual. Berikut adalah laba kotor perusahaan jika menggnakan
FIFO:
Penjualan
HPP (30@$500)
Laba kotor

$24.000
$15.000
$ 9.000

Oleh karena biaya persediaan sebesar $15.000 telah dipindahkan dari neraca,biaya persediaan
yang dilaporkan pada neraca akhir periode adalah $41.000.
Last-in, first-out (LIFO), metode ini mengansumsikan bahwa yang dibeli terakhir merupakan
yang pertama dijual. Sehingga laba kotornya adalah sebagai berikut:
Penjualan
Harga pokok penjualan (30@$600)
Laba kotor

$24.000
$18.000
$ 6.000

Oleh karena biaya persediaan sebesar $18.000 telah dipindahkan dari neraca dan tercemin
pada HPP, biaya yang tersisa pada neraca sebesar $38.000 dilaporkan sebgai persediaan.
Average cost (Biaya persediaan rata-rata). Unit dijual tanpa memperhatikan urutan
pembeliannya dan menghitung HPP serta persediaan akhir sebagai rata-rata tertimbang
sederhana sebagai berikut:
Penjualan
HPP (30@$560)
Laba kotor

$24.000
$16.800
$ 7.200

HPP dihitung dengan menggunakan rata-rata tertimbang dari biaya barang tersedia untuk
dijual total dibagi dengan jumlah unit yang tersedia untuk dijual ($56.000/100=$560).
Persediaan akhir dilaporkan pada neraca adalah $39.200.

Analisis Persediaan
Dampak Biaya Persediaan Terhadap Profitabilitas
Ringkasan hasil perhitungan dengan tiga alternative metode diatas adalah :
Metode

Persediaan awal

pembelian

FIFO
LIFO
Average Cost

$20.000
$20.000
$20.000

$36.000
$36.000
$36.000

Persediaan
akhir
$42.000
$38.000
$30.200

laporan laba rugi berdasarkan ketiga metode berikut adalah:


Harga
Metode
Penjualan
penjualan
FIFO
$24.000
$15.000
LIFO
$24.000
$18.000
Average Cost
$24.000
$16.800

pokok

Harga
pokok
penjualan
$15.000
$18.000
$16.800

Laba kotor
$9.000
$6.000
$7.200

Kesimpulan : laba kotor dapat dipengaruhi oleh pilihan metode penghitungan biaya
perusahaan.
Pada periode dimana harga meningkat, FIFO memberikan laba kotor yang lebih tinggi
dibanding LIFO karena biaya persediaan yang lebih rendah dikaitkan dengan pendapatan
penjualan dengan harga pasar terkini. Hal ini sering dinyatakan sebagai keuntungan fiktif
FIFO karena laba kotor sebenarnya merupakan penjumlahan dari laba ekonomi dan laba
kepemilikan.
Laba ekonomi sesuai dengan jumlah yang terjual dikalikan dengan selisih antar harga jual
dan biaya penggantian persediaan seperti dibawah ini:
Laba ekonomi = 30 unit X ($800-$600) = $6.000
Laba kepemilikan merupakan kenaikan biaya penggantian karena persediaan telah diperoleh
dan sama dengan jumlah unit terjual dikalikan dengan selisih biaya penggantian terkini
dengan biaya perolehan awal, seperti dibawah ini:
Laba kepemilikan = 30 unit x ($600-$500) = $3.000
Dari laba kotor sebesar $9.000, sebesar $3.000 terkait dengan keuntungan inflasi yang
diperoleh perusahaan dari pembelian persediaan masa lalu.
Laba kepemilikan merupakan fungsi dari perputaran persediaan (berapa lama persediaan
tersimpan) dan tingkat inflasi. Salah satu masalah serius adalah bahwa keuntungan ini telah
hilang selama beberapa dekade terakhir karena inflasi yang lebih rendah dan pengawasan
manajemen atas kuantitas persediaan melalui proses manufaktur yang lebih baik, serta
pengendalian persediaan yang lebih baik.Pada negara yang tingkat inflasinya lebih tinggi
dibanding Amerika Serikat, keuntungan kepemilikan FIFO masih menjadi masalah.

Dampak Biaya Persedian Terhadap Neraca


Pada periode harga meningkat, dan dengan asumsi persediaan belum melikuidasi laporan
persediaan lamanya, LIFO melaporkan persediaan akhitr pada harga yang jauh lebih rendah
dibandingkan dengan biaya penggantian. Sehingga, neraca perusahan yang menggunakan
LIFO, tidak secara akurat mencerminkan investasi lancar yang dimiliki perusahaan dalam
persediaan.
Dampak Biaya Persediaan Terhadap Arus Kas
Peningkatan laba kotor dengan metode FIFO juga menyebabkan laba sebelum pajak yang
lebih tinggi, sehingga menimbulkan utang pajak yang lebih tinggi. Pada periode ini di mana
harga meningkat, perusahaan dapat terjebak pada penguranagan arus kas karena membayar
pajak yang lebih tinggi dan perlu mengganti persediaan yang terjual pada biaya penggantian
yang lebih tinggi dibandingkan dengan biaya pembelian awal.
Salah satu alasan digunakannya LIFO adalah pengurangan kewajiban pajak pada periode
harga meningkat. Namun IRS mengharuskan bahwa perushaan yang menggunakan LIFO
untuk tujuan pajak harus menggunakan metode ini untuk laporan keuangan. Ini merupakan
aturan ketaan LIFO (LIFO conformity rule).
Perusahaan yang menggunakan biaya persediaan LIFO diharuskan untuk mengungkapkan
jumlah yang akan dilaporkan jika perusahaan menggunakan metode FIFO. Selisish anatar
kdua metode ini dinamankan cadangan LIFO. Hal ini dapat digunakan untuk menghitung
jumlah yang akan memengaruhi arus kas kumulatif maupun periode berjalan karena
penggunaan LIFO.
Masalah Penilaian Persediaan Lainnya
Likuidasi LIFO. Perusahaan diwajibkan mencatat setiap tingkat biaya sebagai kelompok
persediaan terpisah. Untuk biaya persediaan LIFO, persediaan akhir dilaporkan pada biaya
pembelian terdahulu yang dapat lebih rendah atau lebih tinggi secara signifikan dari buaya
saat ini. Pada periode harga meningkat pengurangan kuantitas masalah disebut sebagai
likuidasi LIFO menghasilkan peningkatan pada laba kotor seperti penggunaan pada biaya
persediaan FIFO begitu juga sebaliknya. Dampak likuidasi LIFO dapat dilihat pada catatan
kaki persediaan laporan tahunan. Perusahaan mengindikasikan bahwa pengurangan kuantitas
persediaan menyebabkan penjualan barang yang dicatat dengan biaya masa lalu yang berbeda
dengan biaya sekarang. Seorang analis LIFO harus hati-hati terhadap dampak likuidasi LIFO
pada profitabilitas.
Penyajian Kembali (Restatement) Analisis Dari LIFO ke FIFO. Metode LIFO merupakan
metode yang diharapkan oleh penganalisis, karena laporan laba rugi tidak membutuhkan
penyesuaian besar disebabakan harga pokok penjualan telah mendekati biaya terkini. Namun
metode ini menyebabkan persediaan neraca tidak mencerminkan harga saat ini-sering kali
dinyatakan lebih rendah. Hal ini dapat mengurangi kegunaan berbagai pengukuran seperti
rasio lancar atau rasio perputaran persediaan. Hal ini menyebabakan kemampuan perusahaan
dalam memebayar utang terlalau rendah, perputara persediaan terlalau tinggi. Untuk
mengatasinya, dapat menggunakan teknik analisis untuk menyesuaikan LIFO agar lebih
mendekati situasi performa dengan mengasumsikan FIFO.

Penyesuaian neraca dimungkinkan jika perusahaan mengungkapkan selisih lebih biaya kini
atas persediaan yang dihitung dengan LIFO, atau cadangan LIFO. Maka diperlukan tiga
penyesuain berikut :
1. Persediaan = persediaan yang dilaporkan berdasarkan LIFO + cadangan LIFO
2. Pertambahan kewajiban pajak tengguhan sebesar: (cadangan LIFO X tariff pajak)
3. Saldo laba = saldo laba yang dilaporkan + [cadangan LIFO x (1-tarif pajak)
Umunnya saat harga meningkat, laba LIFO lebih kecil pada laba FIFO. Namun, dampak
bersih dari penyajian kembali pada tahun manapun tegantung oada dampak kombinasi dari
perubahan persediaan awal dan akhir serta factor lain termasuk likuidasi lapisan LIFO.
Penyajian Kembali (Restatement) Analisis Dari FIFO ke LIFO. Penyesuaian ini
membutuhkan asumsi penting sehingga bisa menimbulkan kesalahan. Laba LIFO mencakup
laba kepemilikan atas persediaan awal. Terdapat manfaat untuk menghitung persediaan awal
(PAFIFO) x tingkat inflasi untuk lini persediaan tertentu yang dimiliki perusahaan:
HPPLIFO = HPPFIFO + (PAFIFO x r), dengan r sebagai tingkat inflasi.
Perhatikan bahwa r, bukan merupakan tingkat inflasi umum seperti IHK atau IHP. Indeks ini
merupakan inflasi yang terkait dengan lini persediaan tertentu yang dimiliki perusahaan. Jika
perusahaan memiliki beberapa lini produk,indeks produksinya harus diestimasi secara
terpisah. Jika r bukan buka tungkat inflasi pada umumnya seperti CPI atau IHP, dan dimaksud
adalah indeks inflasi sehubungan dengan lini persediaan tertentu yang dimiliki perusahaan.
Dalam hal ini perusahaan mempunyai berapa lini produk,secara teori,tiap lini tersebutharus
diestimasi secara terpisah.
Estimasi r dapat menggunakan angka yang dikeluarkan oleh departemen perdagangan untuk
industri kusus perusahaan. Selain itu jika perusahaan menjalankan usaha erdasarkan
komuditas dapat digunakan dengan asumsi bahwa komponen biaya biaya persediaan lain
berubah secara proporsional terhadap bahan bakunya. Analisis juga dapat menggunakan
tingkat inflsi perusahaan pesaing. Jika perusahaan dengan lini produk serupa menggunakan
biaya persediaan LIFO, tingkat inflasi dapat diestimasi sebesar peningkatan cadangan LIFO
dibagi dengan persediaan perusahaan pesaing erdasarkan FIFO pada akhir periode lalu
sebagai berikut :
R=

perubahan cadangan LIFO


Persediaan FIFO dari akhir periode lalu

Biaya Persediaan Perusahaan Manufaktur Dan Dampak Peningkatan Produksi


Biaya manufaktur terdiri atas tiga komponen :
1.
Bahan baku atau bahan mentah biaya dari bahan dasar yang digunakan untuk membuat
produk.
2.
Tenaga kerja biaya tenaga langsng yang dibutuhkan untuk menyelesaikan produk jadi.
3.
Overhead biaya tidak langsung pada prises manufaktur.
Overhead sering kali merupakan komponen biaya produk terbesar dan paling sulit diukur
untuk tingkat produksi. Total overhead harus dialokasikan pada seluruh hasil produksi.
Analisi biaya ini harus waspada bahwa alokasi biaya overheadbukan merupakan ilmu pasti
dan sangat tergantung pada asumsi yang digunakan. Jika peningkatan pada tingkat produksi

menyebabkan persediaan akhir meningkat, lebih banyak biaya overhead yang tinggal
dineraca dan profitabilitas meningkat. Kemudian saat kuantitas persediaan menurun, laporan
laba rugi tidak hanya terbebano niaya overhead periode berjalan tetapi juga biaya overhead
perode sebelumnya yang berasal dari persediaan tahun berjalan, karenanaya laba menjadi
turun. Oleh karena itu analisi harus waspada terhadap dampak perubahan tingkat prduksi
terhadap laba yang dilaporkan