Anda di halaman 1dari 3

KLASIFIKASI ANEMIA

Berdasarkan penyebab terjadinya, anemia dapat dibagi berdasarkan morfologi,


etiologi dan patofisiologi (DiPiro, 2009).
1. Berdasarkan Morfologi
1.1 Macrocytic Anemia
Macrocytic anemia dikarakterisasi dengan adanya peningkatan MCV (110
240 fL). Indikasi spesifik dari anemia jenis ini adalah adanya
hipersegmentasi leukosit polimorfonuklear di sekitar noda darah (Ineck, et
al., 2008).
1.1.1 Megaloblastic Anemia
Megaloblastic anemia merupakan macrocytic anemia yang diterjadi
akibat

adalanya

abnormalitas

metabolism

DNA

sehingga

menyebabkan terjadinya defisiensi asam folat atau defisiensi


vitamin B12 (DiPiro, 2009).
a. Anemia Defisiensi Asam Folat
Anemia yang disebabkan oleh

defisiensi

asam

folat

kemungkinan besar disebabkan karena terjadi penyerapan dan


penggunaan

asam

folat

yang

inadequate,

penurunan

penyerapan serta penggunaan asam folat secara berlebih (Ineck,


et al., 2008).
b. Anemia Defisiensi Vitamin B12
Anemia yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12
kemungkinan besar disebabkan karena terjadi penyerapan dan
penggunaan vitamin B12 yang inadequate serta terjadi
malabsorpsi (Ineck, et al., 2008).
1.1.2 Nonmegaloblastic Anemia
1.2 Microcytic Anemia
Pada pasien dengan microcytic anemia, nilai MCV berada di bawah 80 fL
(Harmening, 2008).
1.3 Normocytic Anemia
Pasien dengan normocytic anemia memiliki nilai MCV antara 80 100 fL
(Harmening, 2008).
2. Berdasarkan Etiologi.
2.1 Defisiensi
Anemia dapat disebabkan oleh defisiensi zat besi, vitamin B12, asam folat,
atau pyridoxine (DiPiro, 2009).
2.2 Sentral

Anemia sentral disebabkan oleh adanya gangguan fungsi sumsum tulang.


2.2.1

Anemia Akibat Penyakit Kronis


Penyakit kronis yang paling sering menyebabkan anemia pada
pasien adalah penyakit infeksi kronis seperti tuberculosis, HIV, dan
infeksi saluran kemih, inflamasi kronik seperti rheumatoid artritis,
SLE, dan gout, serta kanker seperti leukemia, karsinoma, dan

2.2.2

lymphoma (Ineck, et al., 2008).


Anemia pada Kaum Lansia
Anemia lebih sering terjadi pada kaum lansia, terutama pada
pasien lansia yang di rawat di rumah sakit akibat penyakit kronis
seperti coronary artery disease. Anemia dapat digunakan sebagai
indikasi dari adanya penyakit berat seperti kanker gastrointestinal

(Ineck, et al., 2008).


2.2.3 Kelainan Sumsum Tulang Malignan
2.3 Periferal
Anemia peripheral dapat terjadi pada pasien yang mengalami pendarahan
atau hemolysis (DiPiro, 2009).
3. Berdasarkan Patofisiologi
3.1 Kehilangan Darah yang Berlebih
Pasien dapat mengalami anemia karena kehilangan darah yang berlebihan
akibat pasien baru saja mengalami pendarahan, trauma, peptic ulcer,
gastritis, atau wasir (DiPiro, 2009).
3.2 Pendarahan Kronis
Pasien mengalami pendarahan pada bagian vaginal, peptic ulcer, parasite
pada saluran cerna, dan penggunaan aspirin atau obat NSAID (DiPiro,
2009).
3.3 Destruksi Sel Darah Merah yang Berlebih
Destruksi atau perusakan sel darah merah yang berlebih dapat terjadi
akibat faktor dari dalam sel seperti penyakit keturunan dan kelainan proses
sintesis hemoglobin. Sedangkan faktor dari luar sel seperti penggunaan
obat tertentu, trauma fisik, dan antibody sel darah merah (DiPiro, 2009).
3.4 Produksi Sel Darah Merah yang inadequate
Inadequate produksi sel darah merah dapat terjadi akibat pasien
mengalami defisiensi nutrisi seperti vitamin B12, asam folat, zat besi, dan
protein, defisiensi erythroblast, kondisi dengan infiltrasi sumsum tulang,
abnormalitas sistem endokrin, penyakit kronis saluran kemih, gangguan
hati, penyakit inflamasi kronis (DiPiro, 2009).
Pustaka

Harmening, D. F. 2008. Clinical Hematology and Fundamentals of Hemostasis. 5th


Edition. Philadelphia : FA Davis.
Ineck, B., B. J. Mason, and W. Lyons. 2008. Anemias. In: Dipiro, J. T., R. L. Talbert,
G. C. Yee, G. R. Matzke, B. G. Wells, and L. M. Posey. Pharmacoteraphy A
Pathophysiologic Approach. New York: McGraw Hill Medical.
DiPiro, C. V. 2009. Hemotologic Disorders. In: Wells, B. G., J. T. DiPiro, T. L.
Schwinghammer, and C. V. DiPiro. Pharmacoteraphy Handbook. New York:
McGraw Hill Medical.

V. Panduan terapi