Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT 2016 (ROSOT KARBON)- KELOMPOK 6B

Analisa Rosot Karbon di Area PPLH Seloliman,


Trawas, Kab. Mojokerto
A.F. Saifulloh, H.B. Kurniawan, I. Prasetyowati, M. Rahmawati, S. Anggraini
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: suci14@mhs.bio.its.ac.id
AbstrakTumbuhan menyerap gas CO2 dari udara melalui
proses fotosintesis, yang selanjutnya diubah menjadi
karbohidrat, kemudian disebarkan keseluruh tubuh tanaman
dan akhirnya ditimbun dalam tubuh tanaman. Proses
penimbunan karbon (C) dalam tubuh tanaman hidup dinamakan
proses sekuetrasi karbon. Metode yang digunakan adalah
dilakukan pengukuran diameter batang (DBH) pohon dan tihang
di kawasan PPLH Seloliman Mojokerto, serta penghitungan
biomassa tanaman tanpa melakukan perusakan (metode nondestructive) dengan persamaan allometrik. Tujuan dari
praktikum ini adalah untuk mengetahui, memahami dan mampu
menerapkan prinsip pengukuran rosot karbon suatu vegetasi
atau komunitas flora. Hasil analisis rosot karbon pada area
tersebut adalah Aegle marmelos merupakan spesies dengan
biomassa tertinggi dan Persea americana merupakan spesies
dengan biomassa terendah dalam transek 6. Rosot karbon paling
tinggi terdapat pada transek 5 dan rosot karbon terendah
terdapat pada transek 1.
Kata KunciAllometrik, metode non-destructive, rosot karbon,
sekuetrasi karbon.

I.

PENDAHULUAN

utan merupakan tempat penyimpanan dan pengemisi


karbon. Di permukaan bumi ini,kurang lebih terdapat
90 % biomassa yang terdapat dalam hutan berbentuk
pokok kayu, dahan, daun, akar dan sampah hutan (serasah),
hewan, dan jasad renik [1]. Biomassa ini merupakan tempat
penyimpanan karbon dan disebut rosot karbon [2]. Biomassa
didefinisikan sebagai total jumlah materi hidup di atas
permukaan pada suatu pohon dan dinyatakan dengan satuan
ton berat kering per satuan luas [3].
Tumbuhan baik di dalam maupun di luar kawasan hutan
menyerap gas asam arang (CO2) dari udara melalui proses
fotosintesis, yang selanjutnya diubah menjadi karbohidrat,
kemudian disebarkan ke seluruh tubuh tanaman dan akhirnya
ditimbun dalam tubuh tanaman. Proses penimbunan karbon
(C) dalam tubuh tanaman hidup dinamakan (C-Squestration).
Dengan demikian mengukur jumlah yang disimpan dalam
tubuh tanaman hidup (biomasa) pada suatu lahan dapat
menggambarkan banyaknya CO2 di atmosfer yang diserap
oleh tanaman. Sedangkan pengukuran cadangan yang masih
tersimpan dalam bagian tumbuhan yang telah mati
(nekromasa) secara tidak langsung menggambarkan CO yang
tidak dilepaskan ke udara lewat pembakaran[4].
Pada ekosistem daratan, cadangan karbon disimpan dalam 3
komponen pokok, yaitu:
1. Bagian hidup (biomasa): masa dari bagian vegetasi yang

masih hidup yaitu


batang, ranting dan tajuk pohon (berikut akar atau
estimasinya), tumbuhan bawah atau gulma dan tanaman
semusim.
2. Bagian mati (nekromasa): masa dari bagian pohon yang
telah mati baik yang masih tegak di lahan (batang atau
tunggul pohon), kayu tumbang/tergeletak di permukaan
tanah, tonggak atau ranting dan daun-daun gugur (seresah)
yang belum terlapuk.
3. Tanah (bahan organik tanah): sisa makhluk hidup (tanaman,
hewan dan manusia) yang telah mengalami pelapukan baik
sebagian maupun seluruhnya dan telah menjadi bagian dari
tanah. Ukuran partikel biasany lebih kecil dari 2 mm [4]:.
Berdasarkan keberadaannya di alam, ketiga komponen karbon
tersebut dapat dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu:
a. Karbon diatas permukaan tanah, meliputi:
Biomasa pohon
Biomasa tumbuhan bawah
Nekromasa
Seresah
b. Karbon didalam tanah, meliputi:
Biomasa akar
Bahan organik tanah [4]
Pengukuran biomasa tanaman dapat dilakukan dengan cara:
1. Tanpa melakukan perusakan (metode non-destructive ), jika
jenitanaman yang diukur sudah diketahui rumus
allometriknya.
2. Melakukan perusakan (metode destructive ). Metode ini
dilakukan oleh peneliti untuk tujuan pengembangan rumus
allometrik, terutama pada jenis-jenis pohon yang
mempunyai pola percabangan spesifik yang belum
diketahui persamaan allometriknya secara umum.
Pengembangan allometrik dilakukan dengan menebang
pohon dan mengukur diameter, panjang dan berat
masanya. Metode juga dilakukan pada tumbuhan bawah,
tanaman semusim dan perdu [4].
Metode yang dipilih dalam praktikum ini adalah tanpa
melakukan perusakan atau non-destructive. Berdasarkan
paparan materi diatas, dilakukan praktikum perhitungan rosot
karbon dengan tujuan mahasiswa mampu mengetahui,
memahami, dan mampu menerapkan prinsip pengukuran rosot
karbon suatu vegetasi atau komunitas flora.
II. METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Analisa Vegetasi dilaksanakan pada tanggal 24
April 2016 di area PPLH Seloliman, Trawas, Kab. Mojokerto.

LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT 2016 (ROSOT KARBON)- KELOMPOK 6B

Pengambilan transek seperti yang ditunjukkan oleh gambar 1


dengan koordinat 7036'35.58"S 11203516.56"E.

Gambar 3. Teknik Pengukuran DBH pohon dengan bentuk tidak teratur[6]

Gambar 1. Transek Kelompok 6 Analisa Vegetasi (modifikasi Google Earth,


2016)

B. Cara Kerja
Metode pengukuran rosot karbon yang digunakan adalah
non-destructive, yakni metode yang dilakukan tanpa
perusakan objek yang diukur . Proses pengambilan data
dimulai dengan menentukan lokasi sampling dan dengan
bantuan GPS ditentukan geoposisinya kemudian transek
dibuat dengan panjang 100 m. Transek dibagi menjadi 4
kuadran dengan luas 20x20 m dan jarak antar-kuadran adalah
5 m. Tiap kuadran, dilakukan perhitungan diameter setinggi
dada pada kategori pohon dengan luas plot 20x20 m dan
tihang dengan luas plot 10x10 m. Lalu dilakukan pengukuran
kandungan karbon pada tumbuhan dengan pengambilan
sampel biomassa yang dilakukan dengan cara inventarisasi
seluruh tegakan yang masuk dalam plot contoh. Parameter
yang diamati dan dicatat datanya adalah nama spesies
tumbuhan dan diameter setinggi dada (diameter at
breastheight/ DBH) yaitu diameter pohon atau tihang yang
terletak 1,3 m di atas permukaan tanah. Pengambilan kuadran
sampel lebih jelasnya digambarkan oleh gambar 2. Sedangkan
untuk teknik pengukuran DBH di lapangan akan disesuaikan
dengan keadaan umum lokasi dan keadaan pohon yang akan
diukur seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.

C. Analisis Data
Data yang diperoleh berupa diameter dan berat jenis
ditabulasikan, lalu dianalisis dengan menggunakan perangkat
lunak Microsoft Office Excel (2007). Data yang diperoleh
dilapangan berupa DBH dan nama spesies pohon dan tihang
yang digunakan untuk menduga kandungan biomassa. Analisis
data simpanan karbon (rosot karbon) dilakukan dengan
beberapa tahapan. Tahap pertama adalah perhitungan
biomassa pohon dari data diameter yang didapatkan. Untuk
pohon bercabang, biomassa dihitung dengan persamaan
sebagai berikut:
Y= 0,11 D2,62
(1)
Atau untuk pohon yang tidak memiliki data , maka
digunakan rumus:
Y= 0,118 D2.53
(2)
dengan Y: Biomassa pohon
:massa jenis pohon (g.cm-3)
D: Diameter setinggi dada (cm)
Nilai berbeda-beda pada setiap spesies, data tersebut
mengacu pada Global wood density database. Setelah
dilakukan perhitungan biomassa, tahap terakhir perhitungan
adalah perhitungan simpanan karbon (C-sink) dengan
persamaan:
C= Y x 0,46
(3)
Dengan C : simpanan karbon
Y: biomassa total (kg)
0,46: kandungan karbon vegetasi [7].
III. PEMBAHASAN

Gambar 2. Pengambilan transek sampel analisa rosot karbon, (Keterangan:


panjang tansek 100 m dengan 4 plot 20x20 m untuk pengukuran pohon, 4 plot
10x10m untuk pengukuran tihang) [5].

Metode pengukuran rosot karbon yang digunakan adalah


non-destructive, yakni metode yang dilakukan tanpa
perusakan objek yang diukur. Praktikum ini hanya mengukur
kandungan karbon yang ada dipermukaan tanah pada tegakan
tingkat tihang dan pohon atau disebut above biomass[6] .
Pengukuran biomasa bawah permukaan (BBP) atau akar,
biasanya sangat sulit serta memakan waktu dan biaya yang

LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT 2016 (ROSOT KARBON)- KELOMPOK 6B

besar [7]. Pengukuran atas pohon-pohon kecil berdiameter


kurang dari 5 cm pada ketinggian di atas dada (DBH) sulit
dilakukan dan karbon yang terkandung dalam pohon-pohon
tersebut dianggap tidak cukup signifikan untuk mengubah
hasil pengelompokan secara drastis atau tidak sebanding
dengan waktu dan tenaga yang diperlukan untuk melakukan
survey atas pohon-pohon tersebut [8].Penggunaan plot bujur
sangkar atau persegi panjang merupakan bentuk plot yang
relative sering digunakan di dalam analisa vegetasi hutan di
Indonesia. Hal ini karena kemudahannya di dalam memastikan
pohon-pohon yang masuk dibandingkan dengan plot
lingkaran. Kelemahan bentuk plot ini adalah, semakin luas
plot yang diukur, maka semakin panjang batas plot yang harus
dibuat Penggunaan ukuran plot 10x10 m untuk kategori
tihang dan 20x20 m untuk kategori pohonuntuk menjamin
tingkat keakurasian yang lebih baik. Persamaan alometrik
yang digunakan untuk pendugaan kandungan biomasa atau
karbon merupakan hubungan antara salah satu parameter
pohon, misalnya diameter atau tinggi, dengan jumlah total
biomasa atau karbon yang terkandung dalam pohon tersebut.
Untuk menyusun persamaan alometrik lokal merupakan
kegiatan yang memakan waktu dan biaya, serta dilakukan
dengan
metode
destruktif
atau
dengan
cara
ditebang. Namun penggunaan persamaan alometrik lokal
berdasarkan tipe hutan yang sesuai dapat meningkatkan
keakurasian pendugaan biomasa[7].
Tabel 1.
Biomassa tumbuhan di transek 6 di area PPLH Seloliman, Trawas, Kab.
Mojokerto

No

Keliling

Diameter

Y total

67

21.3

37505.
6

162

51.6

435

138.5

145

46.2

87

27.7

61

19.4

59

18.8

50.2

16

25

10

33

10.5

11

27

8.6

12

54

17.2

13

125

39.8

14

80

25.5

15

110

35

16

112

35.7

Nama Spesies
Aegle marmelos

Tectona grandis

6077.8

17

3
34

10.8

186

59.2

19

150

47.8

20

118

37.6

135

43

22

40

12.7

23

55

17.5

147

46.8

654.3

110

35

428.4

46

14.6

309.8

27

96

30.6

28

46

14.6

45

14.3

18

21

24

Ficus variegata

Acer laurinum

25

Aleurites
moluccana
Dyera costulata

26

Ceiba pentandra

29

Persea
americana

2814.4

1023

70.6

Berdasarkan pengamatan yang diperoleh beberapa spesies


diantaranya yaitu Aegle marmelos, Tectona grandis, Ficus
variegata, Acer laurinum, Aleurites moluccana, Ceiba
pentandra, Persea americana, Dyera costulata, semua jenis
species tersebut termasuk kedalam jenis pohon dan tihang
yang memiliki tegakkan atau jenis pohon bercabang [9]
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y=
0,11x0.77xD2,62 [10] (persamaan 1) pada spesies Aegle
marmelos yang berjumlah sebanyak 14 tegakan didapatkan
total biomassa sebesar
37505.6 ton/ha. Spesies ini
mempunyai biomassa paling besar di transek 6. Data
menunjukkan Aegle marmelos memiliki diameter yang cukup
besar dibandingkan yang lainnya walaupun tegakannya
sedikit. Diameter tanaman berbanding lurus dengan umur
pohon, dimana menurut literatur peningkatan biomassa
tegakan diakibatkan oleh makin tua umur tegakan tersebut.
Hal ini disebabkan karena diameter pohon mengalami
pertumbuhan melalui pembelahan sel yang berlangsung terus
menerus dan akan semakin lambat pada umur tertentu. Selain
itu Aegle marmelos memiliki massa jenis yang lebih tinggi
dibandingkan spesies lain dalam transek 6 sehingga biomassa
yang terkandung didalamnya juga tinggi [11]
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y=
0,11x0.67xD2,62[12] (persamaan 1) pada spesies Tectona
grandis yang terdiri dari 3 tegakan didapatkan total biomassa
sebesar 6077.8 ton/ha, Tectona grandis memiliki tegakan
yang paling banyak didalam transek 6 namun diameter batang
cenderung berukuran kecil atau banyak ditemui dalam
kategori tihang. Menurut literatur kandungan biomassa
tumbuhan juga dipengaruhi oleh jumlah tegakan, namun
Tectona grandis merupakan tumbuhan dengan akselerasi
pertumbuhan yang lambat, sehingga hal ini juga
mempengaruhi kandungan biomassa didalamnya [ibit 11,14]

LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT 2016 (ROSOT KARBON)- KELOMPOK 6B

Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis


melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y=
0,11x0.31xD2,62[15] (persamaan 1) pada spesies Ficus
variegata yang terdiri dari 3 tegakan didapatkan total
biomassa sebesar 2814.4ton/ha. Ficus variegata termasuk
jenis pioner yang membutuhkan cahaya (intoleran) dan
memiliki pertumbuhan cepat (fast growing), sehingga
memiliki diameter batang yang cukup besar, namun tegakan
tumbuhan tersebut cukup sedikit sehingga kandungan
biomassa tumbuhan ini tidak terlalu besar [16]
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y=
0,11x0.43xD2,62[17] (persamaan 1) pada spesies Acer laurinum
yang terdiri dari 3 tegakan didapatkan total biomassa sebesar
1023 ton/ha. Dari sampel yang diperoleh terdapat 1 pohon dan
2 tihang. Tegakan yang sedikit, diameter yang kecil dan massa
jenis yang kecil menyebabkan biomassa yang terkandung
didalamnya tidak besar [11,18]
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y=
0,11x0.25xD2,62[17](persamaan 1) pada spesies Aleurites
moluccana yang terdiri dari 1 tegakan didapatkan total
biomassa sebesar 654.3 ton/ha. Aleurites moluccana memiliki
diameter yang cukup besar namun memiliki massa jenis atau
kerapatan kayu yang kecil selain itu tegakan Aleurites
moluccana pada transek 6 sangat sedikit
sehingga
menyebabkan kandungan biomassanya juga rendah [11,18]
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y=
0,11x0.35xD2,62[19] (persamaan 1) pada spesies
Dyera
costulata yang terdiri dari 1 tegakan didapatkan total
biomassa sebesar 654.3 ton/ha. Tegakan yang sedikit membuat
Dyera costulata mengandung biomassa yang rendah [18].
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y=
0,11x0.28xD2,62 [20] (persamaan 1) pada spesies Ceiba
pentandra yang terdiri dari 3 tegakan didapatkan total
biomassa sebesar 309.8 ton/ha. Rendahnya biomassa pada
Ceiba pentandra dipengaruhi oleh tegakan yang sedikit serta
diameter batang tidak besar [18].
Berdasarkan data yang telah diperoleh dan telah dianalisis
melalui perhitungan biomassa berdasarkan persamaan Y=
0,11x0.6xD2,62 [21] (persamaan 1) pada spesies Persea
americana yang terdiri dari 1 tegakan didapatkan total
biomassa sebesar 70.6 ton/ha. Persea americana memiliki
biomassa paling rendah diantara spesies lainnya. Jumlah
Persea americana sangat sedikit, dan tumbuhan ini termasuk
dalam kategori tihang yang memiliki diameter batang yang
kecil. Selain itu massa jenis atau kerapatan kayu pada Persea
americana sangat rendah yaitu 0.6 gr/cm3 dimana massa jenis
berbanding lurus dengan biomassa yang terkandung didalam
tubuh tumbuhan, sehingga hal ini mempengaruhi jumlah
biomassa yang terkandung didalamnya [11,18].
Analisis vegetasi di area PPLH Seloliman, Trawas, Kab.
Mojokerto, terdiri dari delapan transek. Setiap transek
memiliki lokasi yang berbeda-beda. Jumlah rosot karbon
masing-masing transek terangkum dalam grafik 1.
Grafik 1.
Rosot karbon di area PPLH Seloliman (ton/ha)

Berdasarkan grafik 1 rosot karbon transek 6 termasuk


urutan kedua tertinggi dibandingkan kedelapan transek
lainnya, sedangkan rosot karbon tertinggi terdapat pada
kelompok 5 yaitu sekitar 95835.36 ton/ha. Transek 6 dijumpai
8 spesies tumbuhan dengan tegakan masing-masing spesies
memiliki diameter yang tidak terlalu menyimpang
dibandingkan tegakan lainnya terkecuali pada satu tegakan
Aegle marmelos yang miliki diameter yang cukup besar.
Sehingga menyebabkan Aegle marmelos menjadi penyumbang
rosot karbon terbesar dalam transek 6. Seperti penelitian
sebelumnya, penelitian dilakukan untuk mengatahui serapan
karbon pada RTH yang menemukan bahwa terdapatnya satu
batang pohon Paraserianthes falcataria berukuran cukup
besar yaitu dengan diameter mencapai 45 cm sehingga
sumbangan biomassanya cukup besar [22]. Dimana jumlah
biomassa berbanding lurus dengan jumlah rosot karbon yang
terkandung dalam suatu tumbuhan [23]. Dibandingkan dengan
transek 5 yang menjumpai 11 spesies pohon ataupun tihang,
penyumbang karbon terbesar dalam transek ini adalah jumlah
tegakan Cassia fistula yang cukup banyak serta Ceiba
pentandra yang mendominasi dalam hal besar diameter
batang, diameter batang berbanding lurus dengan umur
tanaman itu sendiri. Seiring bertambahnya umur, pohon akan
mengalami pertumbuhan melalui pembelahan sel yang akan
menambah diameter batang sehingga mempengaruhi nilai
volume pohon [23].
Transek 2, 3, 7, 8 memiliki rosot karbon rata-rata yang
hampir sama dan masih jauh lebih rendah dibandingkan rosot
karbon transek 6. Transek 2, 3, 7 ditemukan 5-6 spesies
tanaman dengan diameter yang tidak terlalu besar dan masih
jauh dibandingkan transek 5 dan 6. Sedangkan transek 8
ditemukan 2 spesies tanaman dan masing-masing spesies
memiliki tegakan yang cukup tinggi serta tegakan didominasi
oleh kategori tihang yang memiliki diameter kurang dari 20
cm. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya diameter
pohon serta jumlah tegakan mempengaruhi kandungan rosot
karbon suatu tumbuhan [11,23]
Transek 1 merupakan transek dengan kandungan rosot
karbon terendah, pada transek ini dijumpai 5 spesies tanaman
dengan tegakan yang hampir merata serta didominasi oleh
kategori tihang. Lain halnya pada transek 6 yang terdapat
salah satu spesies dengan penyumbang rosot kabon terbesar,
pada transek ini tidak ada penyumbang rosot karbon yang
mendominasi.

LAPORAN PRAKTIKUM ECOLOGY PROJECT 2016 (ROSOT KARBON)- KELOMPOK 6B

IV. KESIMPULAN
Rosot karbon dan biomassa suatu tanaman dipengaruhi
oleh besar diameter batang, massa jenis atau kerapatan kayu,
serta jumlah tegakan. Aegle marmelos merupakan spesies
dengan biomassa tertinggi sebab tumbuhan ini memiliki
diameter yang besar dan Persea americana merupakan spesies
dengan biomassa terendah dalam transek 6 sebab tumbuhan
ini memiliki diameter, massa jenis serta tegakan yang rendah.
Analisa rosot karbon di area PPLH Seloliman, Trawas, Kab.
Mojokerto hasil rosost tertinggi pada transek 5 dimana transek
tersebut terdabat banyak berbagai jenis spesies pohon, serta
terdapat beberapa pohon dengan diameter yang cukup besar.
V. DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
[3]
[4]

[5]
[6]

[7]
[8]

[9]

A. Arief. Hutan dan Kehutanan. Yogyakarta : Penerbit Kanisus (2005).


A. Yamani, Studi Kandungan Karbon Pada Hutan Alam Sekunder di
Hutan Pendidikan Mandiangin Fakultas Kehutanan Unlam,Jurnal
Hutan Tropis. Vol. 1 No. 1. (2013)
E. Khudzaefa, Sebaran Stok Karbon Berdasarkan Karaktristik Jenis
Tanah (Studi Kasus : Area Hutan Halmahera Timur, Kab Maluku
Utara), Jurnal Sistem Informasi. (20012). Vol.5(1)
K. Hairirah, A. Ekadinata, R. Ratna Sari, S. Rahayu. Pengukuran
Cadangan Karbon dari Tingkat lahan ke Tingkat Lahan edisi ke-2,
Bogor, World Agroforestry Centre, ICRAF SEA Regional Office,
University of Brawijaya (UB), Malang, Indonesia xx p. (2011).
D. Sutaryo. Penghitungan Biomassa Sebuah pengantar untuk studi
karbon dan perdagangan karbon, Bogor :Wetlands International
Indonesia Programme.2009.
UNFCCC. (2015). Measurements for Estimation of Carbon Stocks in
Afforestation and Reforestation Project Activities under the Clean
Development Mechanism: A Field Manual. [Online]. Available:
http://www.unfccc.int.
S. Manuri, C.A.S. Putra dan A.D. Saputra. Tehnik Pendugaan Cadangan
Karbon Hutan. Palembang: Merang REDD Pilot Project, German
International Cooperation GIZ, 2011.
Golden Agri-Resources and SMART . Juni 2012. Laporan Penelitian
Hutan Ber-Stok Karbon Tinggi Pendefinisian dan identifikasi wilayah
hutan ber-Stok Karbon Tinggi untuk kemungkinan konservasi:The
Forest Trust and Greenpeace.
Katterins, Q.M., Coe, R., van Noordwijk,M.,Ambagau,Y., and Palm,
C.a. Reducing Uncertainty in The Use of Allometric Biomass

[10]
[11]

[12]
[13]
[14]
[15]
[16]
[17]
[18]

[19]
[20]
[21]

[22]
[23]

Equations For Predicting Above-Ground Tree Biomass in Mixed


Secondary Forest. Forest Ecology and Management, (2001) 146 : 199209.
P. Sallenave. Proprits Physiques et Mcaniques des Bois. CTFT.
France Nogent sur Marne. 1955.
M. Chanan. Pendugaan Cadangan Karbon (C) Tersimpan Di Atas
Permukaan Tanah Pada Vegetasi 61 Hutan Tanaman Jati (Tectona
grandis Linn. f )(Di RPH Sengguruh BKPH Sengguruh KPH Malang
Perum Perhutani II Jawa Timur). Jurnal Gamma. (Maret,2012).Volume
7, Nomor 2: 61 73
Anonymous. Standard Nomenclature of Forest Plants, Burma, including
commercial timbers. Forest Research and Training Circle. Burma :
Forest Department. 121 pp, 1974.
Ibit 11
Efendi, Syammiah, dan M. Iqbal. Growth Acceleration of Teak Stump
(Tectona grandis L.f.) by Stem Cutting and Mycorrhiza Inoculation, J.
Floratek. (2012). 7: 141 149.
O.D. Seng.. in Soewarsono, P.H. Specific gravity of Indonesian Woods
and Its Significance for Practical Use FRPDC Forestry Department,
Bogor, Indonesia, 1990.
L. Haryjanto, Rizki Fambayun, dan Priska Rini. Growth variation of
Fifteen Families Ficus variegata Blume at seedling level, Wana Benih.
(September,2012). Vol 13 No. 2 : 89 98.
Desch, H. Timber: structure, properties, conversion and use. 7th
Edition. New York : Palgrave Macmillan, 1996.
M. Budiman, Gusti Hardiansyah dan Herlina Darwati. Estimasi
Biomassa Karbon Serasah Dan Tanahpada Basal Area Tegakan Meranti
Merah(Shorea
Macrophylla)
Di
Areal
Arboretumuniversitas
Tanjungpura Pontianak, Jurnal Hutan Lestari (2015). Vol. 3 (1) : 98
107.
Martawijaya, A. et al. Indonesian Wood Atlas Vol. I. and II AFPRDC
AFRD Department of Forestry Bogor Indonesia, 1992.
Forestry
Compendium.
CAB
International.
Available:
http://www.cabi.org/compendia/fc/.
Little, E.L., Jr., and F.H. Wadesworth. Common trees of Puerto Rico
and the Virgin Islands. Washington DC : US Department of Agriculture,
Agricultural Handbook 249, Superintendent of Documents, US
Government Printing Office, 1964.
Nursanti dan Elly Indra Swari. Potensi Keanekaragaman Hayati, Iklim
Mikro Dan Serapan Karbon Pada Ruang Terbuka Hijau Kampus
Mendalo Universitas Jambi,(April-Juni 2013) Vol 2 No. 2
O. Rusdiana, D. Mulyana, dan C. Utami Willujeng. Pendugaan Potensi
Simpanan Karbon Tegakan Campuran Akasia dan Kayu Putih di Area
Reklamasi PT. Bukit Asam (Persero) Tbk., Jurnal Silvikultur Tropika.
(Desember,2013). Vol. 04 No. 3. Hal. 183 189 ISSN: 2086-8227