Anda di halaman 1dari 3

Transfer Aset Finansial

Untuk melunasi kewajiban, suatu entitas dapat mentransfer aset finansial (termasuk kas), barang,
atau jasa. Pada umumnya, bila kewajiban telah dilunasi dengan mentransfer secara penuh kas,
bara ng, atau jasa ke debitor; maka pada saat itu pelunasan dianggap tuntas.

Pelunasan

kewajiban dengan aset finansial juga dapat bersifat tuntas bila penyerahan aset finansial bersifat
takbersyarat dan dianggap sebagai penjualan.
Lain halnya kalau pelunasan kewajiban dilakukan dengan transfer aset finansial yang
menimbulkan keterlibatan berlanjut (continuing involvement) pentransfer (transferor) dengan
aset transferan (transferred asset) atau tertransfer (transferee). Dalam hal ini, kewajiban tidak
lenyap secara tuntas atau ada kewajiban baru yang berkaitan dengan aset transferan. Contoh
keterlibatan berlanjut adalah adanya hak regres (recourse), janji untuk membeli kembali,
penerbitan opsi, dan penjaminan dengan kolateral (pledges of collateral). Keterlibatan berlanjut
menimbulkan masalah konseptual apakah transfer diperlakukan sebagai penjualan aset (sebagian
atau seluruhnya) atau sebagai jaminan berjaminan (secured borrowings). Secara umum, transfer
aset dianggap sebagai penjualan apabila pentransfer menyerahkan penguasaan (control) atas aset
finansial tersebut dan menerima aset lain sebagai penghargaan (consideration) atas aset finansial
tersebut.
Pelunasan Sebelum Jatuh Tempo
Bila kewajiban dilunasi pada saat jatuh tempo, nilai jatuh tempo (nominal) dengan sendirinya
merefleksi nilai sekarang (saat pelunasan) kewajiban sehingga tidak ada selisih antara jumlah
rupiah yang dibayar dan nilai nominal. Nilai jatuh tempo juga akan sama dengan nilai buku atau
nilai bawaan (carrying value) kewajiban karena proses amortisasi selisih antara nominal dan
nilai pasar pada saat penerbitan utang (misalnya obligasi). Bila utang dilunasi sebelum jatuh
tempo, debitor harus menebus utang tersebut dengan harga pasarnya sehingga dapat terjadi
selisih antara nilai bawaan dan nilai penebusan. Yang menjadi masalah adalah apakah selisih
tersebut dapat diperlakukan sebagai untung/rugi atau sebagai penyesuai ekuitas pemegang saham
(adjustment to stockholders equity).

Bila masuk dalam statemen laba-rugi apakah selisih

tersebut bersifat ordiner atau ekstraordiner.

APBO No. 4 menggariskan sebagai berikut (prg. 20):


Selisih antara harga penarikan (pemerolehan) kembali dan nilai bawaan neto utang yang
dilunasi harus diakui pada periode penarikan dan dilaporkan dalam statemen laba-rugi
sebagai untung atau rugi dan dipisahkan dengan pos untung atau rugi lainnya. Untung
atau rugi tidak selayaknya diamortisasi untuk perioda-perioda mendatang.
Bergantung pada sifatnya, untung atau rugi dapat dilaporkan sebagai pos ordiner atau pos
ekstraordiner. Kriteria untuk menentukan hal ini adalah apakah pos tersebut merupakan akibat
dari transaksi atau kejadian yang mempunyai sifat sebagai berikut (APBO No. 9, prg. 21):
a. Sangat berbeda dengan kegiatan operasi rutin kesatuan usaha
b. Tidak diharapkan akan sering terjadi
c. Berpengaruh material terhadap operasi perusahaan secara keseluruhan
Ketentuan APB dan FASB di atas berlaku baik untuk penarikan kembali utang dengan atau tanpa
pendanaan (refunding atau nonrefunding extinguishment). Untuk pelunasan dengan pendanaan
sebenarnya terdapat tiga perlakuan alternatif untuk selisih yaitu:
a. Selisih diamortisasi selama sisa umur semula utang yang ditarik kembali
Alternatif ini dilandasi pemikiran bahwa selisih tersebut merupakan penyesuaian terhadap
kos peminjaman (kos bunga) lama selama sisa waktu pinjaman akibat diperolehnya
pinjaman baru. Dengan demikian, kos bunga selama sisa waktu pinjaman lama dipengaruhi
oleh selisih yang timbul akibat pelunasan lebih awal utang lama. Alternatif ini beranggapan
bahwa pada umumnya debitor melakukan pelunasan lebih awal karena pembayaran bunga di
masa mendatang dapat dikurangi sehingga lebih menguntungkan. Sehingga logis bila selisih
tersebut disebar selama sisa umur utang lama.
b. Selisih diamortisasi selama sisa umur utang yang baru diterbitkan
Alternatif ini dilandasi oleh gagasan bahwa motivasi pendanaan kembali utang adalah untuk
mendapatkan tingkat bunga yang lebih menguntungkan selama umur utang baru dibanding
tingkat bunga selama sisa umur utang lama. Keuntungan tersebut dinikmati dalam konteks
umur utang baru sehingga logis kalau selisih diamortisasi selama utang baru.
c. Selisih diakui pada saat penarikan dan dilaporkan di statemen laba-rugi tahun bersangkutan

Alternatif ini didasarkan pada pemikiran bahwa pelunasan lebih awal dengan pendanaan
kembali sifatnya sama dengan pelunasan yang lain. Jadi, pelunasan lebih awal dianggap
sebagai penarikan kembali (calling) utang dan utang baru dianggap sebagai transaksi yang
terpisah atau independen. Selisih dan sisa diskun atau premium berkaitan dengan kontrak
utang lama dan bukan merupakan manfaat yang berasal dari kontrak utang baru. Sehingga
logis kalau selisih diakui segera pada saat penarikan utang lama bukannya diamortisasi
selama sisa utang lama atau selama umur utang baru.
Mereka yang menolak alternatif ini berpendapat bahwa pengakuan selisih segera pada saat
penarikan sebagai untung atau rugi dapat mendorong manajemen membayar utang lama
yang murah (low-rate debt) dengan utang baru yang sebenarnya lebih mahal (high-rate debt)
semata-mata hanya memperhatikan untung dari selisih. Laba tahun ditariknya utang lama
meningkat sebesar untung tetapi perusahaan harus membayar utang baru (refunding) dengan
bunga efektif (yield) lebih tinggi. Sebaliknya, rugi cukup besar yang dapat terjadi pada
tahun penarikan utang lama dapat menghalangi manajemen untuk melakukan pendanaan
kembali utang meskipun hal tersebut menguntungkan (dengan membayar bunga efektif lebih
rendah selama umur utang baru).
FASB menganut alternatif (c) dengan argumen bahwa semua kewajiban mempunyai
karakteristik yang sama. Oleh karena itu, pelunasan utang sebelum jatuh tempo sama
sifatnya dengan pelunasan pada saat jatuh tempo tanpa memperhatikan cara untuk
melaksanakan hal tersebut (dengan pendanaan kembali atau tidak).