Anda di halaman 1dari 29

Laporan Kasus

Demam Tifoid

Pembimbing :
dr. Roedi Djatmiko, Sp.A

Disusun oleh:
Prithania Nurindra 1420221107
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN
JAKARTA
RST DR. SOEDJONO MAGELANG

BAB I
LAPORAN KASUS
I.

II.

Identitas Pasien
Nama

: An. A

Umur

:13 tahun

Jenis Kelamin

: Laki- laki

Agama

: Islam

Alamat

: Tegalrejo, Magelang

Tanggal Masuk Ruangan

: 27 Januari 2016

Tanggal Keluar

: 31 Januari 2016

Anamnesa
Anamnesa dilakukan secara autoanamnesis terhadap pasien pada tanggal 27

Januari 2016, pukul 13.30 WIB di Bangsal Flamboyan

RST Dr. Soedjono

Magelang.
a. Keluhan Utama : Demam turun naik
b. Keluhan Tambahan : Mual, pusing
III. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluhkan sudah demam sejak 6 hari SMRS, demam pasien naik
turun, pada pagi hari suhu tubuh turun dan saat malam hari suhu tubuh naik,
namun tidak pernah diperiksa dengan termometer. Pasien sudah meminum
parasetamol, namun tidak demam hanya turun sebentar dan naik lagi. Pasien juga
mengeluhkan nyeri kepala (+) terus menerus, pada kepala belakang, skala nyeri 2,
tubuh lemas (+), mual (+), muntah (-), batuk pilek (-), nyeri menelan (-),
epistaksis (-), sakit perut (-), nyeri sendi (-), diare (-), BAB dan BAK normal,
nafsu makan turun.
IV.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.

V.

Riwayat Penyakit Keluarga


Di keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit sama.

VI.

Riwayat Pengobatan
Pasien mengkonsumsi obat penurun panas

VII. Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum : Tampak sakit sedang, lemas
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital
N

: 100 x/menit

RR

: 24 x/menit

: 40 C

TD

:110/70

GCS (Glaw Coma Scale)


Eyes

:4

Verbal

:5

Motorik

:6

GCS

: 15

BMI (Body Mass Index)


Berat Badan : 42 Kg
Kepala
Bentuk

: Normocephal

Rambut

: Hitam, tidak mudah dicabut

Nyeri tekan : (+) pada kepala bagian belakang, benjol (-)


Mata
Palpebra

: Edema /

Pupil

: Bulat, isokor

Konjungtiva : Anemis +/+

Refleks Cahaya : +/+

Sklera

Katarak

: Ikterik /

: /

Telinga
3

Bentuk

: Normal/Normal

Mukosa

: Hiperemis (-)

Liang

: Lapang

Serumen

: /

Hidung
Bentuk

: Normal

Deviasi Septum

Sekret

: /

Epistaksis

: _/_

Mulut
Bibir :normal

Tonsil

: T1T1

Lidah :kotor (+)

Mukosa Faring : Hiperemis (-)

Leher
KGB

: Tidak terdapat pembesaran

Kel. Thyroid : Tidak terdapat pembesaran


Thoraks
Paru
Inspeksi

: Hemithorax kanan-kiri simetris dalam keadaan statis dan

dinamis
Palpasi

: Fremitus taktil dan vokal kanan sama dengan kiri

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi : Suara nafas vesikuler, rhonki /, wheezing /


Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: Jantung dalam batas normal

Auskultasi : BJ IBJ II reguler, murmur (), gallop ()


Abdomen
Inspeksi

: Datar, simetris

Auskultasi : Bising usus (+) 4x/menit


Palpasi

: Supel, Nyeri tekan ()

Perkusi

: Timpani

Ekstremitas
Atas
Akral

: Hangat

Perfusi

: Baik

Sianosis

: ()

Edema

: ()

Akral

: Hangat

Perfusi

: Baik

Sianosis

: (-)

Edema

: ()

Bawah

V.

Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
Tabel 1. Hasil Laboratorium Pasien
JENIS PEMERIKSAAN

HASIL

SATUAN

NILAI
REFERENSI

HEMATOLOGI
WBC
RBC
HGB

7,3
5,05
13,1

x103/L
x106/L
g/dL

4.0 10.0
3.50 5.50
11.0 15.0

MCV

75,3

fl

27.0 - 33.0

MCH
HCT
PLT

25.9
35.7
174

pg
%
x103/L

31.0 35.0
35.0 48.0
150 450

Hasil Pemeriksaan Widal


THYPI O

: (+) 1/320

PARATHYPI AO

: (+) 1/80

PARATHYPI BO

: (+) 1/80

PARATHYPI CO

: (+) 1/320

THYPI H

: (+) 1/320

PARATHYPI AH

: (-)NEGATIF

PARATHYPI BH

: (+) 1/320

PARATHYPI CH

: (-)NEGATIF

VI.

Diagnosis
Hari ke 1 Obs. Febris hari ke 7
Hari ke 2Demam typhoid

VII. Terapi
1. D5 NS 1700 ml/24 jam
2. Lapixim 3 x 500 mg
3. Anitid 2 x1 mg
4. Norages 500 mg kalau perlu
5. Sanmol 500 mg 3 x 1
VIII. Planning (Rencana)
Rawat di bangsal

IX.

FOLLOW UP RUANGAN

Hari/Tanggal/

Hasil Pemeriksaan

Instruksi Dokter

Jam
27 Januari 2016

S: Demam sejak 6 hari SMRS, demam

Therapy:

13.30

naik turun, pada pagi hari suhu tubuh 1. D5


turun dan saat malam hari suhu tubuh
naik, namun tidak pernah diperiksa
dengan termometer. Sudah miinum
parasetamol, demam turun sebentar dan
naik lagi. Nyeri kepala (+) terus

NS 1700

ml/24 jam
2. Lapixim 3 x 500 mg
3. Anitid 2 x1 mg
4. Norages 500 mg
kalau panas
5. Sanmol 500 mg 3x1

menerus, pada kepala belakang, skala


nyeri 2, lemas (+), mual (+) ,muntah(-),
batuk pilek (-), nyeri menelan (-),
epistaksis (-), sakit perut (-), nyeri sendi
(-),diare (-), BAB dan BAK normal,
nafsu makan turun.
O: KU/KS : tampak sakit sedang / CM
VS : N : 100 x/menit
RR : 72 x/menit
T : 40o C
Kepala : normochepal, nyeri tekan (+)
di belakang kepala
Mata : CA -/-, SI /
Hidung: sekret (-)
Mulut: bibir kering (-), lidah kotor (+)
Tenggorokan:

tonsil

T1-T1,

faring

hiperemis (-)
Leher : KGB () membesar
Thorax : Simetris, statis & dinamis,
retraksi (-)
Pulmo : Suara nafas vesikuler +/+,
Rh -/- , Wh -/Cor : BJ III regular, murmur (),
gallop ()
Abdomen: BU (+) 4x/menit, supel,
timpani, turgor baik, nyeri tekan (-)

Planning:
1. Cek DL dan Widal
2. Rawat di bangsal

Ekstremitas : akral hangat, kering,


CRT <2
A : Obs Febris hari ke 7

Hari/Tanggal/

Hasil Pemeriksaan

Instruksi Dokter

Jam
28 Januari 2016
06.45

S: Demam menurun, nyeri kepala (-), Therapy:


1. D5
NS 1700
mual muntah (-) sakit perut (-) sakit
ml/24 jam
tenggorokan (-) batuk pilek (-) diare
2. Lapixim 3 x 500 mg
(-) epistaksis (-) nyeri sendi (-) 3. Anitid 2 x1 mg
4. Norages 500 mg
lemas(+) BAB BAK normal, nafsu
kalau panas
makan masih turun.
5. Sanmol 500 mg 3x1
O: KU/KS : tampak sakit sedang / CM
VS :

N : 88 x/menit
RR : 24 x/menit
T : 37,6o C
TD: 110/70

Kepala : normochepal, nyeri tekan (-)


Mata : CA -/-, SI -/Hidung: sekret (-)
Mulut: bibir kering (-), lidah kotor
(+)
Tenggorokan: tonsil T1-T1, faring
hiperemis (-)
Leher : KGB () membesar,
Thorax : Simetris, statis & dinamis,
retraksi (-)
Pulmo : Suara nafas vesikuler +/+,
Rh -/-, Wh -/Cor : BJ III regular, murmur (),
gallop ()
Abdomen: supel, BU (+) 6x , nyeri
tekan (-) kembung (-), turgor
baik
Ekstremitas : akral hangat, kering,
CRT <2
A : Obs febris hari ke 8
Demam tifoid

Planning:

Hari/Tanggal/

Hasil Pemeriksaan

Instruksi Dokter

Jam
29 Januari 2016

S: Demam naik lagi, mual muntah (-),

Therapy:

06.50

nyeri kepala (-), batuk pilek (-) nyeri

1. D5

menelan (-) mimisan (-) nyeri sendi

ml/24 jam
2. Lapixim 3 x 500 mg
3. Anitid 2 x1 mg
4. Norages 500 mg

(-) sakit perut (-) lemas (+) BAB


BAK normal, nafsu makan turun
O: KU/KS : tampak sakit sedang / CM
VS : TD : 110/70mmHg

NS 1700

kalau panas
5. Sanmol 500 mg 3x1

HR : 88 x/menit
Planning:

RR :24 x/menit
S : 39o C
Kepala : normochepal, nyeri tekan (-)
Mata : CA /, SI / ,
Hidung: sekret (-)
Mulut: bibir kering (-), lidah kotor
(-)
Tenggorokan: tonsil T1-T1, faring
hiperemis (-)
Leher : KGB () membesar
Thorax : Simetris, statis & dinamis,
retraksi (-)
Pulmo : Suara nafas vesikuler +/+,
Rh -/-, Wh -/Cor : BJ III regular, murmur (),
gallop ()
Abdomen:

supel,

BU

(+)

4x,

kembung (-), turgor baik


Ekstremitas : akral hangat , kering,
CRT <2
A:
Obs febris hari ke 9
Demam tifoid

Hari/Tanggal/

Hasil Pemeriksaan

Instruksi Dokter

Jam
30 Januari 2016

S: Demam (+), mual muntah (-), nyeri

Therapy:

07.00

kepala (-), batuk pilek (-) nyeri

1. D5 NS 1700 ml/24

menelan (-) mimisan (-) nyeri sendi

jam
2. Lapixim 3 x 500 mg
3. Anitid 2 x1 mg
4. Norages 500 mg

(-) sakit perut (-) lemas (+) BAB


BAK normal, nafsu makan turun
O: KU/KS : tampak sakit sedang / CM
VS : HR : 80 x/menit

kalau panas
5. Sanmol 500 mg 3x1

RR : 20 x/menit
T : 37.6o C

Planning:

Kepala : normochepal
Mata : CA /, SI / ,
Hidung: sekret (-)
Mulut: bibir kering (-), lidah kotor
(-)
Tenggorokan: tonsil T1-T1, faring
hiperemis (-)
Leher : KGB () membesar
Thorax : Simetris, statis & dinamis,
retraksi (-)
Pulmo : Suara nafas vesikuler +/+,
Rh -/-, Wh -/Cor : BJ III regular, murmur (),
gallop ()
Abdomen: supel, BU (+) 4x,
nyeri tekan (-), kembung
(-), turgor baik
Ekstremitas : akral hangat , kering, CRT
<2
A : Obs febris hari ke 10
Demam tifoid

Hari/Tanggal/

Hasil Pemeriksaan

Jam
31 Januari 2016 S: Demam (+), mual muntah (-), nyeri
07.05

kepala (-), batuk pilek (-) nyeri menelan

Instruksi Dokter
Therapy:
1. Cefspan 2x 1cth

(-) mimisan (-) nyeri sendi (-) sakit perut

2. Sanmol 3 x 500 mg

(-) lemas (+) BAB BAK normal, nafsu

Planning:

makan turun

DL ulang

O: KU/KS : tampak sakit sedang / CM

Boleh Pulang

VS : HR : 80 x/menit
RR :20x/menit

Terapi pulang:

S : 37.5 o C

Parasetamol 3 x 500 mg

selama 3 hari
Lbio 3 x 1 sach selama 3

TD: 110/70
Kepala : normochepal, nyeri tekan (-)

hari

Mata : CA /, SI / ,
Hidung: sekret (-)
Mulut: bibir kering (-), lidah kotor
Tenggorokan:

tonsil

T1-T1,

(-)
faring

hiperemis (-)
Leher : KGB () membesar
Thorax : Simetris, statis & dinamis,
retraksi (-)
Pulmo : Suara nafas vesikuler +/+,
Rh -/- , Wh -/Cor : BJ III regular, murmur (),
gallop ()
Abdomen: supel, BU (+) 4x,
nyeri tekan (-) turgor baik
Ekstremitas : akral hangat, kering,
CRT<2
A:
febris hari ke-11
Demam tifoid

BAB II
Tinjauan Pustaka
1. Definisi Demam Tifoid

Infeksi yang disebabkan oleh Salmonella typhii atau Salmonella paratyphii yang ditandai
dengan demam yang berjalan lama, sakit kepala yang berat, badan lemah, anoreksia,
bradikardi relatif, splenomegali.
2. Etiologi
Demam tifoid merupakan penyakit yang ditularkan melalui makanan dan minuman yang
tercemar oleh bakteri Salmonella typhii, (food and water borne disease). Penyebab tersering
demam tifoid adalah Salmonella typhii yang merupakan bakteri Gram negatif. Salmonella
typhii termasuk dalam kingdom Bakteria, Phylum Proteobakteria, Classis Gamma
proteobakteria, Ordo Enterobakteriales, Familia Enterobakteriakceae, Genus Salmonella.
Salmonella typhii bergerak dengan bulu getar, tidak berspora,

mempunyai sekurang-

kurangnya tiga macam antigen yaitu:

antigen 0 (somatik, terdiri dari zat komplek lipopolisakarida)

antigen H (flagella)

antigen V1 (hyalin, protein membrane).

Dalam serum penderita terdapat zat anti (glutanin) terhadap ketiga macam anigen tersebut.
S. typhii di luar tubuh manusia mudah mati, tidak tahan terhadap sinar matahari tetapi dapat
bertahan pada keadaan dingin (es). Titik matinya pada media basah di air dan susu pada suhu
60 0C
Penyebab lainnya yang gejalanya cenderung lebih ringan adalah Salmonella paratyphii.
Rasio kejadian tifoid karena S. typhii dibanding S.paratyphii adalah 1:10.
Manusia merupakan reservoir (sumber penularan) bagi demam tifoid, jarang ditemukan
binatang berperan sebagai reservoir demam tifoid.
Terdapat dua jenis sumber penularan demam tifoid, yaitu:
Penderita demam tifoid: Yang menjadi sumber utama infeksi adalah manusia yang
selalu mengeluarkan mikroorganisme penyebab penyakit, baik ketika ia sedang
menderita sakit maupun yang sedang dalam penyembuhan. Pada masa penyembuhan
penderita pada umumnya masih mengandung bibit penyakit di dalam kandung

empedu dan ginjalnya.


Karier demam tifoid: Penderita tifoid karier adalah seseorang yang kotorannya (feses
atau urin) mengandung Salmonella typhi setelah satu tahun pasca demam tifoid, tanpa
disertai gejala klinis. Pada penderita demam tifoid yang telah sembuh setelah 2 3

bulan masih dapat ditemukan kuman Salmonella typhi di feces atau urin. Penderita ini
disebut karier pasca penyembuhan.
3. Epidemiologi
Demam tifoid tersebar merata di seluruh dunia. Insidensi demam tifoid menurut WHO
mencapai 17 juta orang dengan jumlah kematian sebanyak 600.000 orang setahun dan 70 %
kematian terjadi di benua Asia. Angka kematian demam tifoid menurut WHO mencapai 10
20 %, sebelum ditemukan antibiotik yang tepat, tetapi setelah ditemukan antibiotik yang tepat
angka kematian berkurang sampai 1 %. Pada penderita demam tifoid yang berat, S. typhii
menyerang usus, yang selanjutnya juga akan menyerang organ lain yang menyebabkan
adanya komplikasi pada organ lain seperti hati, limpa atau kantung empedu.
Angka kejadian demam tifoid di Indonesia mencapai 350 810 kasus per 100.000 populasi.
Di Indonesia, terdapat kejadian demam tifoid sebanyak 900.000 kasus setiap tahun dengan
20.000 kematian. 91% kejadian pada pasien berusia 3-19 tahun.

4. Patofisiologi
Salmonella thypii dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu
Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui
Feses.Selama infeksi akut, S.typhii bermultiplikasi di sel fagositik mononuclear sebelum
dilepas ke aliran darah. Setelah penelanan makanan atau air, organism tifoid melewati pylorus
dan mencapai usus kecil. Bakteri tersebut berpenetrasi ke mukosa dan mencapai lamina
propria, dimana mereka bertemu dengan makrofag yang menelan bakteri tersebutm naamun
tidak sepenuhnya membunuh mereka. Beberapa bakteri akan bertahan didalam makrofag di
jaringan limfoid usus kecil. Bakteri lainnya akan terbawa ke nodulus limfa mesenterika
dimana terjadi multiplikasi dan penelanan lebih jau oleh makrofag. Bakteri mencapai aliran
darah lewat drainase nodulus limfa mesenterika, setelah mencapai duktus torasikus dan ke
sirkulasi umum. Kemudian bakteri mencapai organ retikuloendotelial (limpa, hati, sumsum
tulang, dll) dimana bakteri akan berada disana selama periode inkubasi , biasanya 8 hingga 14
hari. Masa inkubasi pada setiap individu bergantung pada kuantitaas bakteri dan faktor
individu. Masa inkubasi yang pernah dilaporkan antara 3-60 hari. Gejala klinik disertai
keberadaan bakteri yang sedikit (1-10 bakteri/ml darah).

5. Gejala
Masa tunas demam tifoid berlangsung antara 8-14 hari. Gejala klinis demam tifoid bervariasi
dari ringan dengan demam rendah, malaise, batuk kering ringan hingga gejala klinis berat
seperti tidak nyaman pada perut, dan komplikasi lain. Banyak faktor yang mempengaruhi
keparahan dan gejala klinis infeksi, termasuk durasi penyakit sebelum terapi, pilihan obat
antimikroba, umur, riwayat pemberian vaksin, strain bakteri penyebab, kuantitas bakteri yang
tertelan, faktor host (misalnya penyakit imunosupresi) dan apakah pasien sempat meminum
obat lain seperti H2 blocker atau antasida untuk menghambat asam lambung.

Gejala akut tanpa komplikasi: Pada minggu pertama gejala klnis penyakit ini
ditemukan keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya
yaitu : demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, gangguan
fungsi usus (konstipasi atau diare), perasaan tidak enak diperut, batuk dan epistaksis.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu badan meningkat, sifat demam kontinyu,
meningkat perlahan-lahan terutama sore dan malam hari, tapi kadang-kadang bersifat
intermiten atau remiten. Pada minggu kedua gejala menjadi lebih jelas berupa demam
bradikardi relatif, lidah yang berselaput (kotor di tengah, tepi dan ujung merah seperti
tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa
somnelen, stupor, koma, delirium dan psikosis. Selama periode sakit, 25% pasien
menunjukkan eksantema di dada, perut dan punggung.

Gejala komplikasi: Perdarahan saluran cerna (occult blood, melena). Perforasi


intestinal, ketidaknyamanan abdomen meningkat, peritonitis, disertai peningkatan
nadi, hipotensi dan gambaran udara bebas di foto abdomen. Komplikasi lainnya
antara lain hepatitis, miokarditis, pneumonia, koagulasi intravascular, trombositopenia
dan sindrom uremik hemolitik.

6. Diagnosis:
Diagnosis kunci untuk demam tifoid antara lain:

Demam lebih dari 7 hari

Terlihat jelas sakit dan kondisi serius tanpa sebab jelas

Nyeri perut, kembung, mual, muntah, diare, konstipasi

Delirium

Hepatosplenomegali

Pada demam tifoid berat, dapat dijumpai penurunan kesadaran, kejang, dan ikterus.

Dapat timbul dengan tanda yang tidak tipikal terutama pada bayi muda sebagai
penyakit demam akut dengan disertai syok dan hipotermi.

Pemeriksaan penunjang:

Kultur: Diagnosis pasti ditegakkan dari hasil biakan darah/sumsum tulang (pada awal
penyakit), urine dan feces pada agar, seperti agar darah (koloni putih non hemolitik),
agar MacConkey (koloni lembut, tidak memfermentasi laktosa), agar SS (koloni tidak
memfermentasi laktosa dengan bagian tengah kehitaman), agar desoksiolat (koloni
seperti agar SS), agar bismuth (koloni hitam). Metode biakan darah mempunyai
spesifisitas tinggi (95%) akan tetapi sensitivitasnya rendah ( 40%) terutama pada
anak dan pada pasien yang sudah mendapatkan terapi antibiotika sebelumnya.
Pemeriksaan biakan perlu waktu lama ( 7 hari), harganya relatif mahal dan tidak
semua laboratorium bisa melakukannya. Walaupun hasil pemeriksaan dengan biakan
kultur kuman negatif, akan tetapi hal tersebut tidak menyingkirkan adanya demam
Tifoid. Hasil pemeriksaan kultur di pengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :
-

Telah mendapat terapi antibiotik, yang menyebabkan pertumbuhan bakteri


dalam media biakan terhambat.

Volume darah yang kurang (minimal 5 cc darah)

Saat pengambilan darah pada minggu pertama, dimana saat itu aglutinin
semakin meningkat.

Pemeriksaan darah perifer lengkap: leucopenia, leukositosis atau kadar leukosit


normal. Dapat pula anemia ringan dan trombositopenia. Pemeriksaan hitung jenis
leukosit dapat terjadi eosinofilia maupun limfopenia, laju endap darah meningkat.

Pemeriksaan SGOT dan SGPT: SGOT dan SGPT dapat meningkat, tapi akan kembali
normal setelah sembuh.

Uji Widal: Pemeriksaan uji Widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi
terhadap Salmonella typhii .Pada uji Widal terjadi suatu rekasi aglutinasi antara
antigen bakteri S. typhii dengan antibodi yang disebut aglutinin. Antigen yang
digunakan pada uji Widal adalah suspensi Salmonella yang sudah dimatikandan
diolah dilaboratorium.
Uji Widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum pasien yang
diduga demam tifoid. Akibat adanya infeksi S. typhi maka penderita membuat
antibodi yaitu
-

Aglutinin O, karena rangsangan antigen O yang berasal dari tubuh bakteri


(akan positif setelah 6-8 hari sakit)

Aglutinin H, karena rangsangan antigen H yang berasal dari flagella bakteri


(positif dari awal sakit)

Aglutinin Vi, karena rangsangan antigen Vi yang berasal dari simpai bakteri

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya O dan H yang digunakan untuk diagnosis
demam tifoid, semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan menderita
demam tifoid. Pembentukann aglutinin mulai terjadi pada akhir minggu pertama
demam, kemudian meningkat secara cepat dan mencapai puncak pada minggu ke
empat dan tetap tinggi selama beberapa minggu. Peningkatan antibodi menunjang
diagnosis tifoid.
Uji Widal mempunyai keterbatasan nilai diagnostik karena sulit diinterprestasikan
terutama di daerah endemis, seperti Indonesia, dan bila pemeriksaan hanya
dilakukan satu kali. Uji Widal baru mempunyai nilai diagnostik bila pada
pemeriksaan serum fase konvalesen terdapat peningkatan titer anti O dan anti H
sebanyak empat kali. Uji Widal mempunyai sensitivitas dan spesifisitas moderat (
70%), dapat negatif palsu pada 30% kasus demam tifoid dengan kultur positif.
Setelah pasien mendapat pengobatan, uji Widal tetap positif untuk waktu yang lama
(sekitar 6 bulan) sehingga uji Widal tidak dapat digunakan untuk menentukan
kesembuhan.
Penilaian uji Widal:
Biasanya angka kelipatan: 1/32. 1/64, 1/160, 1/320, 1/640

Peningkatan titer uji Widal 4x (selama 2-3 minggu): dinyatakan (+)

Titer 1/160: masih dilihat dulu 1 minggu ke depan, bila ada peningkatan titer
maka (+)

Jika 1x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640 langsung dinyatakan (+) pada
pasien dengan gejala klinis khas.

Uji Tubex TF
Penegakan diagnosis demam tifoid dengan menggunakan uji Tubex TF
memerlukan waktu sekitar 10 menit. Uji Tubex TF adalah suatu pemeriksaan
diagnostik in vitro semi kuantitatif untuk mendeteksi demam tifoid akut yang
disebabkan oleh S. typhi, melalui deteksi spesifik adanya

serum antibody IgM

terhadap antigen S. typhi O9 lipopolisakarida dengan cara mengukur kemampuan


serum antibodi IgM tersebut dalam menghambat reaksi antara antigen dan
monoklonal antibodi. Selanjutnya ikatan tersebut diseparasikan oleh suatu daya
magnet. Tingkat inhibisi yang dihasilkan adalah setara dengan konsentrasi antibodi
IgM S. typhi dalam sampel. Hasil dibaca secara visual dengan membandingkan
reaksi warna akhir dengan sekala warna Spesifisitas ditingkatkan dengan
menggunakan antigen O9 yang benar-benar spesifik yang hanya ditemukan pada
Salmonella serogroup D. Tubex TF hanya dapat mendeteksi adanya antibodi IgM.
Sensitivitas dan spesifisitas Tubex TF dapat mencapai 100 %.
7. Komplikasi
Komplikasi demam tifoid dapat dibagi atas dua bagian, yaitu :
Komplikasi Intestinal
a. Perdarahan Usus
Sekitar 25 % penderita demam tifoid mengalami perdarahan minor yang tidak
membutuhkan transfusi darah. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga penderita
mengalami syok. Secara klinis perdarahan akut darurat bedah dapat ditegakkan bila
terdapat perdarahan sebanyak 5 ml/kgbb/jam.
b. Perforasi Usus
Terjadi pada sekitar 3% dari penderita yang dirawat. Biasanya timbul pada minggu
ketiga namun dapat pula terjadi pada minggu pertama. Penderita demam tifoid dengan

perforasi mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di daerah kuadran kanan bawah
yang kemudian meyebar ke seluruh perut. Tanda perforasi lainnya adalah nadi cepat,
tekanan darah turun dan bahkan sampai syok.
Komplikasi Ekstraintestinal
a. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (syok, sepsis), miokarditis,
b.

trombosis dan tromboflebitis.


Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, koaguolasi intravaskuler

c.
d.
e.
f.
g.

diseminata, dan sindrom uremia hemolitik.


Komplikasi paru : pneumoni, empiema, dan pleuritis
Komplikasi hepar dan kandung kemih : hepatitis dan kolelitiasis
Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis
Komplikasi tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis
Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningismus, meningitis, polineuritis perifer,
psikosis, dan sindrom katatonia.

8. Penatalaksanaan
Dalam penatalaksanaan Demam Tifoid dikenal adanya trilogi penatalaksanaan yaitu :
a. Istirahat tirah baring dan perawatan professional dengan tujuan mencegah komplikasi
dan mempercepat penyembuhan. Dalam perawatan perlu dijaga kebersihan tempat
tidur, pakaian serta perlengkapan yang dipakai serta kebersihan perorangan
b. Diet dan terapi penunjang (sistimatik dan suportif) dengan tujuan mengembalikan
rasa nyaman dan kesehatan penderita secara optimal. Penderita diberi bubur saring,
kemudian ditingkatkan menjadi bubur kasar dan akhirnya nasi, yang perubahannya
disesuaikan denga kesembuhan penderita. Bubur saring ditujukan untuk menghindari
komplikasi perdarahan saluran cerna atau perforasi usus.
c. Pemberian antibiotik dengan tujuan untuk menghentikan dan mencegah penyebaran
bakteri.

Obati dengan kloramfenikol (50-100 mg/kgbb/hari dibagi dalam 4 dosis per oral atau
intravena) selama 10-14 hari

JIka tidak dapat diberikan kloramfenikol diberikan amoksisilin 100 mg/kgbb/hari per
oral atau ampisilin intravena selama 10 hari, atau kotrimoksazol 48 mg/kgbb/hari
(dibagi 2 dosis) peroral selama 10 hari

Bila klinis tidak ada perbaikan digunakan generasi ketiga sefalosporin seperti
seftriakson (80mg/kgbb IM atau IV, sekali sehari, selama 5-7 hari) atau sefiksim oral
(20mg/kgbb/hari dibagi 2 dosis selama 10 hari).

9. Pencegahan
Pencegahan dibagi menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan perjalanan penyakit, yaitu
pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier
a. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar
tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer dapat
dilakukan dengan cara imunisasi dengan vaksin yang dibuat dari strain Salmonella
typhi yang dilemahkan. Di Indonesia telah ada 3 jenis vaksin tifoid, yaitu :

Vaksin oral Ty 21 a Vivotif Berna. Vaksin ini tersedia dalam kapsul yang diminum
selang sehari dalam 1 minggu satu jam sebelum makan. Vaksin ini kontraindikasi
pada wanita hamil, ibu menyusui, demam, sedang mengkonsumsi antibiotik . Lama

proteksi 5 tahun.
Vaksin parenteral sel utuh : Typa Bio Farma. Dikenal 2 jenis vaksin yakni, K vaccine
(Acetone in activated) dan L vaccine (Heat in activated-Phenol preserved). Dosis
untuk dewasa 0,5 ml, anak 6 12 tahun 0,25 ml dan anak 1 5 tahun 0,1 ml yang
diberikan 2 dosis dengan interval 4 minggu. Efek samping adalah demam, nyeri
kepala, lesu, bengkak dan nyeri pada tempat suntikan. Kontraindikasi demam,hamil

dan riwayat demam pada pemberian pertama.


Vaksin polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux. Vaksin diberikan secara
intramuscular dan booster setiap 3 tahun. Kontraindikasi pada hipersensitif, hamil,
menyusui, sedang demam dan anak umur 2 tahun.

Indikasi vaksinasi adalah apabila hendak mengunjungi daerah endemik, orang yang
terpapar tifoid serta petugas kesehatan. Mengkonsumsi makanan sehat agar
meningkatkan daya tahan tubuh, memberikan pendidikan kesehatan untuk menerapkan
prilaku hidup bersih dan sehat dengan cara budaya cuci tangan yang benar dengan
memakai sabun, peningkatan higiene makanan dan minuman berupa menggunakan caracara yang cermat dan bersih dalam pengolahan dan penyajian makanan, sejak awal

pengolahan, pendinginan sampai penyajian untuk dimakan, dan perbaikan sanitasi


lingkungan
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan cara mendiagnosa penyakit secara dini
dan mengadakan pengobatan yang cepat dan tepat.
c. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi keparahan akibat
komplikasi. Apabila telah dinyatakan sembuh dari penyakit demam tifoid sebaiknya
tetap menerapkan pola hidup sehat, sehingga imunitas tubuh tetap terjaga dan dapat
terhindar dari infeksi ulang demam tifoid. Pada penderita demam tifoid yang carier
perlu dilakukan pemerikasaan laboratorium pasca penyembuhan untuk mengetahui
kuman masih ada atau tidak.

Daftar Pustaka
WHO, 2003, Background Document: The Diagnosis, Treatment And Prevention Of
Typhoid Fever. World Health Organization: Department Vaccines And
Biologicals, CH-1211 Geneva 27, Switzerland
Kesehatan M. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 364 tahun 2006 tentang Pedoman
Pengendalian Demam Tifoid. In: Kesehatan, editor.: Departemen Kesehatan 2006.
WHO, 2009, Buku Saku Pelayanan Anak Di Rumah Sakit, World Health Organization
2009, Gedung Bina Mulya 1 lt. 9 Kuningan Jakarta.