Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
1. Mengetahui cara recording pasien anjing
2. Mempelajari prosedur pemeriksaan dan penanganan pasien
1.2 Tinjauan Pustaka
Diagnosa klinik merupakan tonggak yang paling penting bagi suatu proses
pembelajaran dalam pendidikan ilmu - ilmu Kedokteran klinik disiplin kedokteran
hewan. Dari diagnosa klinik inilah langkah - langkah mengenai hewan sakit di mulai.
Diagnosa klinik merangkai seluruh proses pembelajaran dari sinyalmen sampai
dengan pengertian tentang terapi (Widodo, 2011)
A. Sinyalemen
Sinyalemen atau jati diri atau identitas atau ciri - ciri dari seekor hewan
merupakan ciri pembeda yang membedakan dari hewan lain sebangsa dan
sewarna meski ada kemiripan satu sama lain (twin). Sinyalmen sangat penting
untuk kenali dan dicatat pada awal pemeriksaan fisik. Sinyalemen selalu dimuat
di dalam surat laksana jalan atau surat jalan bagi hewan yang akan dibawa dari
satu tempat ke tempat yang lain dan menerangkan sebenar - benarnya bahwa
hewan dengan ciri - ciri yang tertuang dalam dokumen berasal dari tempat yang
tertuang pada surat jalan hewan. Fungsi lain dari Sinyalemen hewan adalah
pencantuman statis kesehatan hewan disurat keterangan sehat atau surat status
vaksinasi yang telah dijalaninya sesuai dengan ciri - ciri hewan dimaksud dalam
surat tersebut. Fungsi ketiga adalah identitas diri dalam rekam medik
kerumahsakitan bahwa hewan dengan ciri - cri yang jelas pernah dirawat di
rumah sakit atau pernah di bawa berkonsultasi ke klinik atau rumah sakit ,
sehingga memudahkan petugas administrasi medik membuka kembali dokumen

rekam medik untuk tujuan mempelajari sejarah penyakit hewan sebelumnya


(Widodo, 2011)
Sinyalemen pada hewan anjing dan kucing terdiri atas :
1. Nama Hewan
2. Jenis Hewan
3. Bangsa atau Ras
4. Jenis Kelamin
5. Umur
6. Warna Kulit dan Rambut
7. Berat Badan
8. Ciri - Ciri Khusus
B. Anamnesa (Riwayat Penyakit)
Anamnesa atau history atau sejarah hewan adalam keterangan atau lebih
tepatnya keluhan dari pemilik hewan mengenai keadaan hewanya ketika dibawa
datang berkonsultasi untuk pertama kalinya, namun dapat pula berupa
keterangan tentang sejarah pengalaman penyakit hewanya jika pemilik telah
sering datang berkonsultasi. Cara-cara mendapatkan sejarah

tersebut dari

pemilik hewan perlu dipelajari seperti juga dengan tahapan pemeriksaan yang
lain. Caranya dengan pertanyaan-pertanyaan menyelidiki namun tidak disadari
oleh pemilik hewan, seorang dokter hewan berusaha memperoleh keterangan
selengkapnya dari pemilik hewan akan hal-hal seputar kejadian atau
ditemukannya hewan yang menunjukan tanda-tanda subjektif kesakitan misalnya
muntahan atau vomiting ( Widodo, 2011).
Catatan kejadian penyakit yang telah berlangsung sebelum penderita
dihadapi oleh dokter hewan untuk pemeriksaan merupakan hal yang sangat

penting dalam penentuan diagnosa. Pada kenyataannya catatan tersebut mungkin


malahan lebih penting dari hasil yang diperoleh dalam pemeriksaan fisik.
Meskipun demikian tidaklah berarti bahwa riwayat yang dianggap baik dapat
digunakan untuk melupakan atau melalaikan kewajiban memeriksakan secara
klinis yang sempurna. Oleh karena itu riwayat penyakit merupakan hasil
tangkapan indera dari seorang awam mungkin saja riwayat tersebut bersifat
menyesatkan (Subronto, 2008)
Pertanyaan-pertanyaaan yang sering diajukan (Widodo, 2011) :
1. Sudah berapa lama sakitnya ?
2. Bagaimana gejalanya pada mulanya?
3. Bagaimana dengan nafsu makanya?
4. Apakah hewan-hewan lain yang dekat dengannya juga menunjukan
gejala yang sama?
5. Apakah penyebab dari penyakitnya betul-betul diketahui ataukah baru
kecurigaan saja?
6. Apakah sudah pernah diobati sebelumnya, oleh siapa dan obat apa saja
yang sudah diberikan
C. Pemeriksaan Fisik
1. Umum
Setelah dilakukan sinyalemen atau registrasi dan anamnesa maka
selanjutnya dilakukan pemeriksaan umum yang meliputi; Inspeksi diantaranya
melihat, membau, dan mendengarkan tanpa alat bantu. Diusahakan agar hewan
tenang dan tidak curiga kepada pemeriksa. Inspeksi dari jauh dan dekat terhadap
pasien secara menyeluruh dari segala arah dan keadaan sekitarnya. Diperhatikan
pula ekspresi muka, kondisi tubuh, pernafasan, keadaan abdomen, posisi berdiri,
keadaan lubang alami, aksi dan suara hewan. (Fowler. 2008).

a. Pulsus, temperatur dan nafas


Pulsus diperiksa pada bagian arteri femoralis yaitu sebelah medial
femur (normal: 76-148/menit). Nafas diperiksa dengan cara menghitung
frekuensi dan memperhatikan kualitasnya dengan cara melihat kembangkempisnya daerah thoraco-abdominal dan menempelkan telapak tangan di
depan cuping bagian hidung (normal: 24-42/menit). Temperatur diperiksa
pada rectum dengan menggunakan termometer (normal: 37,5-39). (Fowler.
2008).
b. Selaput lendir
Conjunctiva diperiksa dengan cara menekan dan menggeser sedikit
saja kelopak mata bawah. Penampakan conjunctiva pada kucing tampak
pucat. Membran mukosa yang tampak anemia (warna pucat) dan lembek
merupakan

indikasi

anemia.

Intensitas

warna

conjunctiva

dapat

menunjukkan kondisi peradangan akut seperti enteritis, encephalonitis dan


kongestipulmo akut. Cyanosis (warna abu- abu kebiruan) dikarenakan
kekurangan oksigen dalam darah, kasusnya berhubungan dengan pulmo atau
sistem respirasi. Jaundice (warna kuning) karena terdapatnya pigmen
bilirubin yang menandakan terdapatnya gangguan pada hepar. Hiperemi
(warna pink terang) adanya hemoragi petechial menyebabkan hemoragi
purpura(Fowler. 2008).
2. Sistemik
a. Sistem Pencernaan
Pakan atau minum diberikan untuk melihat nafsu makan dan minum.
Kemudian dilihat juga keadaan abdomen antara sebelah kanan dan kiri.
Mulut, dubur, kulit sekitar dubur dan kaki belakang juga diamati, serta cara
defekasi dan fesesnya. (Fowler. 2008).

1) Mulut, Pharynx, dan Oesophagus


Mulut kucing dibuka dengan menekan bibir kebawah gigi atau ke
dalam mulut, dan dilakukan inspeksi. Bila perlu, tekan lidah dengan
spatel agar dapat dilakukan inspeksi dengan leluasa seperti bau,
mulut, selaput lendir mulut, pharynx, lidah, gusi, dan gigi-geligih
serta kemungkinan adanaya lesi, benda asing, perubahan warna, dan
anomali lainnya. Oesophagus dipalpasi dari luar sebelah kiri dan
pharynx. (Fowler. 2008).
2) Abdomen
Inspeksi dilakukan pada abdomen bagian kiri dan kanandengan
memperhatikan isi abdomen yang teraba serta dilakukan auskultasi
dari sebelah kanan ke kiri untuk mengetahui peristaltik usus.
Lakukan pula eksplorasi dengan jari kelingking, perhatikan
kemungkinan adanya rasa nyeri pada anus atau rektum, adanya
benda asing atau feses yang keras. (Fowler. 2008).
b. Sistem Pernafasan
Adanya aksi-aksi atau pengeluaran seperti batuk, bersin hick-up,
frekuensi dan tipe nafasnya perlu diperhatikan. (Fowler. 2008).
1) Hidung
Perhatikan keadaan hidung dan leleran yang keluar, rabalah
suhu lokal dengan menempelkan jari tangan pada dinding luar
hidung. Serta lakukanlah perkusi pada daerah sinusfrontalis.
(Fowler. 2008).
2) Pharynx,Larinx, Trakea
Dilakukan palpasidari luar dengan memperhatikan reaksi dan
suhunya, perhatikan pula limfoglandula regional, suhu, konsistensi,

dan besarnya, lalu bandingkan antara limfoglandula kanan dan kiri.


(Fowler. 2008).
3) Rongga dada
Perkusi digital dilakukan dengan membaringkan kucing pada
alas yang kompak, dan diperhatikan suara perkusi yang dihasilkan.
Palpasi pada intercostae lalu perhatikan adanya rasa nyeri pada
pleuradan edeme subcutis (Fowler. 2008).
c. Sistem Sirkulasi
Diperhatikan adanya kelainan alat peredaran darah seperti anemia,
sianosis, edemaatau ascites, pulsus venosus, kelainan pada denyut nadi, dan
sikap atau langkah hewan.Periksa frekuensi, irama dan kualitas pulsus atau
nadi, kerjakan pemeriksaan secara inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi
pada daerah jantung (sebelah kiri). Perhatikan pula adanya pulsasi di daerah
vena jugularis dengan memeriksa pada 1/3 bawah leher. (Boddie. 1962).
d. Sistem Limphatica
Dilakukan

inspeksi,

untuk

mengetahui

kemungkinan

adanya

kebengkakan padalimfoglandula. Limfoglandula yang dapat dipalpasi pada


kucing yaitu; lgl. submaxillaris, lgl. parotidea, lgl. retropharyngealis, lgl.
cervicalis anterior, lgl. cervicalis medius, lgl. cervicalis caudalis, lgl.
prescapularis, lgl. axillaris (dapat teraba jika kaki diabduksikan), lgl.
inguinalis, lgl. superficialis (pada betina disebut lgl. supramammaria), lgl.
poplitea, lgl. mesenterialis. Palpasi dilakukan di daerah limfoglandula,
dengan cara memperhatikan reaksi, panas, besar dan konsistensinya serta
simetrinya kanan dan kiri (Boddie. 1962).
e. Sistem Lokomotor
Perhatikanlah posisi, cara berdiri dan berjalan hewan. Periksalah
musculi

dengan membandingkan

ekstremitaskanan

dan kiri. Serta

melakukan palpasi. Perhatikan pula suhu, kontur, adanya rasa nyeri dan
pengerasan. Pemeriksaan tulang seperti musculidiperhatikan bentuk,
panjang dan keadaan. Persendian diperiksa dengan cara inspeksi cara
berjalan dan keadaan persendian, lakukanlah palpasi apakah ada penebalan,
cairan (pada kantong synovial ataukah pada vagina tendinea) (Boddie.
1962).
f. Organ Uropoetica
Perhatikanlah sikap pada waktu kencing. Amati air seni (kemih) yang
keluar, warnanya, baunya dan adanya anomali (darah, jonjot, kekeruhan dan
lain sebagainya). (Boddie. 1962).

BAB II
METODOLOGI
2.1 Alat dan Bahan
Alat-alat dan bahan yang digunakan untuk praktikum ini antara lain :
1. Termometer
2. Pen Light
3. Glove
4. Stetoskope
5. Masker
6. Timer
2.2 Langkah kerja
Anjing

- Dicatat Sinyalemen
- Dilakukan anamnesa
- Dilakukan pemeriksaan fisik
1. Temperatur
2. Pulsus
3. Frekuensi nafas
4. Berat badan
5. Kondisi umum

6. Kulit dan rambut


7. Membran mukosa
8. Kelenjar limfa
9. Muskoskeletal
10. Sistem sirkulasi
11. Sistem respirasi
12. Sistem dugesti
13. Sistem urogenital
14. Sistem syaraf
15. Mata dan telinga
Diagnosa /
Hasil

1. Temperatur Rektal
Anjing

- dimasukan termometer ke dalam rektum kucing


- ditunggu beberapa menit sampai keluar angka suhu kucing tersebut.
Hasil

2. Frekuensi Pulsus
Anjing

- dicari arteri femoralis kucing


- setelah ditemukan dihitung pulsus dalam satu menit
Hasil

3. Frekuensi Nafas
Anjing

- di amati kembang kempisnya abdomen saat kucing bernafas


- dihitung frekuensi nafas dalam satuan menit
Hasil

4. Berat badan
Anjing

- kucing diletakan pada timbangan


- dicatatat berat badan kucing
Hasil

5. Kondisi Umum
Anjing

- dilihat dari sikap tubuh,cara berdiri (postur), dan berjalan yang


diperhatikan
- dicatatat
Hasil

6. Kulit dan Rambut


Anjing

- Mengetahui elastisitas kulit dapat dilakukan dengan mencubit


menarik melepas kembali pada bagian leher, punggung,
rusuk
- kulit dilihat untuk mengetahui adanya lesi,tumor,dehidras
- dicatatat
Hasil

7. Membran Mukosa
Anjing

- gusi hewan ditekan dengan jari kemudian melepaskannya


- dilihat berapa lama warna gusi kembali ke warna semula
Hasil

8. Kelenjar Limfa
Anjing

- Minimal 4 kelenjar yang harus diperiksa yaitu kelenjar cervical di


sekitar rahang,popliteal sekitar kaki belakang, axillaris di
ketiak ,mesenterika di abdomen.
- Dilakukan inspeksi,intuk mengetahui kemungkinan adanya
kebengkakan pada limfoglandula
Hasil

9. Muskuloskeletal

Anjing

- dipalpasi pada sendi, kepala leher, kaki


- dicatatat
Hasil

10. Sistem Sirkulasi


Anjing

- Pemeriksaan sirkulasi dengan bantuan stethoscope.


- diperiksa suara jantung, frekuensi,irama dan kualitas pulsus atau nadi
Hasil

11. Sistem Respirasi


Anjing

- pemeriksaan respirasi yang perlu diperhatikan yaitu gerakan cuping


hidung, cara-cara bernafas, discharge nasal, rongga/sinus hidung,lgl.
Submaxillaris, batuk/tidak, larynx,trachea, perkusi, dan auskultasi
thorax, perlu diperhatikan juga mengenai kecepatan(rate), type
(karakter), ritme (irama), dan dalamnya (intensitas
Hasil

12. Sistem Digesti


Anjing

- pemeriksaan halitosis mulut gigi tonsil kelenjar ludah, muntah, diare,


palpasiabdomen (untuk memeriksa usus halus, kolon, limpa, hepar),
feses (frekuensi, warna,konsistensi), parasit
Hasil

13. Sistem Urogenital


Anjing

-Frekuensi minum (naik,turun)


-Urine (naik,turun,dsyuria)
- Palpasi (vesica urinaria,ginjal,uterus)
- Betina (vulva,vagina,gl.mammae)
Hasil

14. Sistem Syaraf


Anjing

- Pemeriksaan meliputi tingkat respon kesadaran,motorik dan sensorik.


Hasil

15. Mata dan Telinga


Anjing

- Mata : entropion, ektropion, distichhiasis, epiphora, posisis bola mata


-Kanal: wax, infeksi ektoparasit
Hasil

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
No

Tanggal

: 5 Oktober2016

Nama Hewan

: Broni

Jenis Kelamin

: Jantan

Sinyalemen

: Mix Pom dan Tecle (Dolicocephalic)

Anamnesa

: Nafsu makan baik, polyuria, aktif, kurang lebih umur 1 tahun,


sudah vaksin dan obat cacing

Pemeriksaan Fisik
Temp. Rektal 39,4
Konisi Umum

Frek. Pulsus 100

Frek. Nafas 68

Berat Bada 5,9 kg

Berat : N Kurus Gemuk

Abn Cara Berjalan


Kulit dan Rambut

Bulu : Alopecia Dehidrasi

BSC

sedikit

kurus tulang teraba


Rambut

kusam

(belum grooming)
Abn
Membran Mukosa

N
Abn

Kulit : Lesi Tumor Ektoparasit


Oral : Konjungtivita
Warna : Pink Pucat Sianosis
Ikterus Hiperemia

Kelenjar Limfa

Cervicalis Axillaris Poplitea

Adanya kutu

Abn
Muskuloskeletal

N
Abn

Mesenterika
Gait : N Abn
Posisi kepala & Leher: N Abn
Palpasi sendi kepala & leher
N Abn

Sistem Sirkulasi

N
Abn

Janyung : Arytmia Tachicardi


Bradhycardi
Suara : N Abn Murmur (I-VI)

Sistem Respirasi

N
Abn

Sistem Digesti

N
Abn

Hidung

Discharge

nasal

Basah kering Dyspnea Batuk


Mulut : Halitosis Gigi Tonsil
Muntah Diare
Palpasi Abdomen : Colon Lien
Hepar
Feses : Warna Konsistensi
Frekuensi Parasit

Sistem Urogenital

N
Abn

Minum : N Polydipsia Turun


Urine : N Polyuria Anuria
Hematuria Oligouria
Palpasi : VU Ginjal Uterus
Betina : Vulva Vagina Gl.
Mammae

Estrus

terakhir

Partus terakhir
Sistem Syaraf

Tingkat

kesadaran

Support Koma

: Alert

Abn

Motorik

muskular

Paralisa
Spasmus

Atrofi
Tetany

Tremor Ataxiia Konvulsio


Sensorik

Hiperesthesia

Analgesia
Paraesthesia

Disfungsi syaraf otonom


Mata dan Telinga

N
Abn

Mata : Entropion Ektropion


Kanal

Ektoparasit

Diagnosa

: Ektoparasit ( Kutu Tricodectes Canis)

Prognosa

: Dubius

Wax

Infeksi

3.2 Pembahasan
Hasil Pemeriksaan Fisik

Temp.Rektal : 39,4 c
Pengukuran dilakukan dengan cara memasukkan termometer kedalam anus
kucing selama beberapa saat. Nilai 39,4c adalah nilai normal karena menurut
pendapat Lane and Cooper (2003) temperatur normal anjing yaitu 37,5C 39C.
Pada semua hewan,suhu tubuh berubah-ubah sepanjang hari,pada pagi hari suhu
tubuh lebih rendah,tengah hari agak tinggi,dan mencapai pncak pada sore hari

pukul 18.00 (rentang suhu dalam sehari adalah 0,8C)


Frek.Pulsus : 100 kali/menit
Bagian yang mudah digunakan dalam menghitung pulsus adalah kaki belakang
kiri dengan dua tangan. Data yang didapat disimpulkan adalah normal karena

menurut pendapat Ifianti (2001) pulsus normal anjing adalah 76-148/menit. .


Frek.Nafas : 68 kali/menit
Di dapat dengan cara menghitung pergerakan thorax kucing. Hasil pemeriksaan =
68 kali / menit. Nilai tersebut di simpulkan tidak normal karena menurut pendapat
Lane and Cooper (2003) frekuensi nafas normal anjing = 24-42 kali / menit. Nilai
tersebut jauh lebih tinggi dibanding nilai normalnya. Menurut Lane and Cooper
(2003) kemungkinan ajing tersebut mengalami stress atau kelelahan setelah

bergerak atau berlarian.


Berat Badan : 5,9 kg
Penimbangan berat badan di lakukan untuk mengetahui kurus tidaknya anjing.
Menurut Ifianti (2001) berat badan anjing sangat bervariasi berdasarkan umur,
jenis anjing, dll. Jadi dapat disimpulkan bahwa berat badan anjing kelompok
kami dinyatakan memiliki BSC 2 karena memiliki timbunan lemak yang sedikit
dan tulang mudah teraba..

1. Kondisi Umum
Kondisi umum termasuk normal dilihat dari sikap tubuh,cara berdiri (postur),
dan berjalan yang diperhatikan. Kerena abnormal postur kadang merupakan indikasi
penyakit, misalnya saja penyakit pada tulang, persendian, tendon, muskulus, saraf,
laminitis, osteo distrofibrosa, peningkatan tonus muskulus pada tetanus (Dini,2014).

Dan dari praktikum yang kami lakukan untuk mengetahui kondisi umum anjing di
dapatkan hasil normal tanpa adanya keadaan abnormalitas.
2. Kulit dan Rambut
Dari hasil pemeriksaan kulit dan bulu yang diperhatikan yaitu warna bulu,
keadaan bulu, elastisitas kulit untuk mengetahui tingkat dehidrasi. Mengetahui
elastisitas kulit dapat dilakukan dengan mencubit menarik melepas kembali
pada bagian leher, punggung, rusuk.Kemudian kulit dilihat untuk mengetahui
adanya lesi,tumor,dehidrasi (Dini, 2014). Hasil pemeriksaan yang didapatkan normal,
tidak terdapat lesi dan tumor tetapi ditemukan ektoparasit yaitu kutu jenis
Tricodectes canis. Menurut Soeharsono (2011) Trichodectes canis, juga dikenal
sebagai kutu pengunyah pada anjing. Tricodectes canis adalah vektor terkenal untuk
cacing pita anjing, Dipylidium caninum.
Trichodectes canis

INCLUDEPICTURE
"https://upload.wikimedia
.org/wikipedia/commons/th
umb/8/8c/Trichodectes_can
is.jpg/220pxTrichodectes_canis.jpg"
Scientific classification
Kingdom:

Animalia

Phylum:

Arthropoda

Class:

Insecta

Order:

Phthiraptera

Family:

Trichodectida
e

Genus:

Trichodectes

Species:

T. canis

Binomial name
Trichodectes canis

Trichodectes canis adalah kutu dari subordo Mallophaga, atau kutu pengunyah.
T. canis bertubuh kecil dan datar. Jantan biasanya lebih kecil dari betina, dengan
tubuh panjang mulai 1,60-1,68 mm pada jantan dan 1,75-1,82 mm pada betina.
Betina juga berbeda dari jantan dalam kenyataan bahwa mereka memiliki organ
khusus yang terletak dari bawah ujung perut. Organ ini, jika dilihat dari atas,
menyerupai dua anggota badan membungkuk di kedua sisi wilayah genital. Organ ini
memiliki fungsi dalam membantu untuk menempelkan telur pada bulu hostpes.
Sebagai anggota dari genus Trichodectes, T. canis biasanya memiliki antena dengan
tiga segmen dan cakar tunggal pada setiap tarsus. Mulut dari T. canis termasuk
sepasang rahang palps rahang atas. Selain itu, T. canis memiliki sepasang mata
merosot dan rambut seperti pelengkap dari antena mereka yang berfungsi untuk
persepsi. Fitur fisik lainnya termasuk menjadi ectothermic, memiliki simetri bilateral,
dan polymorphic.
Trichondectes canis, dikenal karena kemampuan mereka untuk mentolerir suhu
ekstrem, ditemukan di berbagai daerah yang berbeda di seluruh dunia. T. canis
awalnya ditemukan pada anjing peliharaan di Republik Ceko pada 1950-an. Namun,
kutu ini telah ditemukan pada anjing liar juga - pada serigala abu-abu di Kanada
(1934), dan coyote di Texas dan Kansas (1959). Selain anjing domestik, T. canis
diketahui

menghuni

C.

lupus, C.

aureus, C.

latrans,

Dusicyonculpaeus,

Cerdocyonthous, Vulpesbengalensis dan Viverracivetta juga. T. canis dipahami telah


dibawa ke Australia dengan anjing peliharaan. T. canis dikatakan menjadi ektoparasit
utama anjing peliharaan di daerah dingin seperti Skandinavia karena lingkungan
yang terlalu keras untuk mendorong pertumbuhan ektoparasit lain seperti kutu atau
kutu.Trichondectes canis hidup di iklim, darat, dan habitat tropis, baik perkotaan dan
pinggiran kota. T. canis hidup semua tahap kehidupan pada host. Oleh karena itu, T.
canis dikenal sebagai parasit permanen. T. canis diketahui hidup di anjing peliharaan,
tetapi juga beberapa host lain: C. Lupus, C. aureus , C. Latrans, Dusicyonculpaeus
Cerdocyonthous, Vulpesbengalensis, Viverracivetta. Ini juga telah mencatat bahwa T.
canis lebih mungkin untuk memilih host yang lebih tua, muda, atau sebaliknya tidak
sehat. T. canis diketahui lebih memilih untuk menghuni punggung, leher, dan kepala
dari tuan rumah. Penularan T. canis kucing peliharaan atau manusia tidak diharapkan
terjadi.
T. Canis setelah meletakkan nits (telur), betina melekatkan masing-masing untuk
sehelai rambut pada host. Setelah 5 sampai 8 hari, nits menetas dari telur sebagai
larva mendorong penutup dari nit terbuka (operculum) saat berpisah dari telur. Betina
bertelur hingga 100 nits pada suatu waktu. Ada tiga molts yang terjadi, setiap nimfa
menyerupai dewasa tetapi dengan meningkatnya ukuran. Nimfa ketiga kemudian
menjadi kutu dewasa yang matang. Siklus hidup T. canis terjadi dalam 3 sampai 5
minggu, terjadi sepenuhnya pada host. Umur panjang T. canis tidak diketahui,
namun, betinan diperkirakan hidup lebih lama daripada jantan.
Saat ini, sedikit yang diketahui mengenai sistem perkawinan untuk Trichodectes
canis. Perkawinan diyakini terjadi sepanjang tahun. Jantan yang memulai proses
kawin dengan memposisikan dirinya di bawah betina dan mengangkat alat
kelaminnya ke arah bentina. Ketika menghuni host yang tidak sehat atau tinggal di
padang gurun, T. canis mampu membangun populasi yang besar. Namun, pada anjing
peliharaan biasanya tidak membangun populasi besar. T. canis memiliki beberapa
adaptasi yang lebih sesuai untuk menjadi parasit permanen. dimodifikasi kaki betina,
rahang, dan pelengkap perut memungkinkan mereka untuk pegangan bulu lebih

mudah. T. canis cenderung bergerak lebih lambat dari kutu manusia, dan dapat
muncul hampir tak bergerak.
Trichodectes canis bertahan dengan memakan serpihan kulit dan cairan yang
diproduksi oleh kulit host anjing. T. canis memiliki mulut dimodifikasi termasuk
rahang tanpa palps, rahang yang digunakan untuk mengikis host' kulit untuk
memberi makan.
Trichodectes canis dapat menyebabkan hospes menjadi stres, mengakibatkan
peningkatan risiko tertular penyakit menular. T. canis menyebabkan stres dengan
menciptakan luka pada permukaan kulit host. Hospes juga mengalami rambut rontok
sebagai akibat dari peningkatan perasaan gatal pada area yang dimakan kutu.
Masalah-masalah ini dapat diperbesar dengan lingkungan dingin. T. canis juga
hospes perantara dikenal Dipylidium caninum, atau cacing pita anjing. Dipylidium
caninum disebarkan oleh T. canis.
3. Membran Mukosa
Pada pemeriksaan didapatkan hasil yang berwarna merah muda dan dinyatakan
normal. Menurut Dini (2014) untuk mengetahui normal tidaknya aliran darah maka
dapat

diketahui

dengan

menekan

gusi

hewan

dengan

jari

kemudian

melepaskannya.hal ini bertujuan untuk memeriksa waktu isi ulang kapiler. Ketika
sebuah daerah gusi ditekan darah dipaksa keluar dari kapiler. Ketika tekanan
dilepaskan darah harus segera mengisi ulang kapiler. Waktu normal yang diperlukan
untuk kapiler isi ulang pada anjing dan kucing adalah 1,5 detik. Sebuah waktu isi
ulang yang berkepanjangan (CRT) terjadi ketika darah tidak cukup mengalir. Hal ini
bisa terjadi jika hewan dalam keadaan shock. Hal ini juga dapat terjadi akibat
penyakit jantung tertentu.
4. Kelenjar Limfatik
Hasil pemeriksaan yang didapatkan normal,tidak terdapat adanya pembengkakan
dan dinyatakan normal karena semua pemeriksaan tidak didapatkan keadaan
abnormalitas. Menurut Widodo (2011). Minimal 4 kelenjar yang harus diperiksa

yaitu kelenjar cervical di sekitar rahang,popliteal sekitar kaki belakang,axillaris di


ketiak ,mesenterika di abdomen.Dilakukan inspeksi,intuk mengetahui kemungkinan
adanya kebengkakan pada limfoglandula.Limfoglandula yang dapat dipalpasi pada
anjing yaitu; lgl.submaxillaris, lgl.parotidea, lgl.retropharyngealis, lgl.cervicalis
anterior, lgl.cervicalis medius, lgl.cervicalis caudalis, lgl.prescapularis, lgl.axillaris
(dapat teraba jika kaki diabduksikan), lgl.inguinalis, lgl.superficialis (pada betina
disebut lgl.supramammaria), lgl.poplitea, lgl.mesenterialis. Palpasi dilakukan di
daerah

limfoglandula,

dengan

cara

memperhatikan

reaksi,panas,besar

dan

konsistensinya serta simetrinya kanan dan kiri.


5. Muskuloskeletal
Hasil pemeriksaan yang didapatkan yaitu normal tidak ditemukan keadaan yang
abnormal. Menurut Widodo (2011) Pemeriksaan muskuloskeletal dengan melakukan
palpasi pada sendi, kepala leher, kaki. Pemeriksaan muskuloskeletal biasanya
dilakukan untuk mengetahui ada tulang yang patah atau tidak. Perhatikan posisi, cara
berdiri dan berjalan hewan. Periksalah musculi dengan membandingkan ekstremitas
kanan dan kiri. Serta melakukan palpasi. Perhatikan pula suhu, kontur, adanya rasa
nyeri

dan

pengerasan.

Pemeriksaan

tulang

seperti

musculi

diperhatikan

bentuk,panjang dan keadaan. Persendian diperiksa dengan cara inspeksi cara berjalan
dan keadaan persendian, lakukanlah palpasi apakah ada penebalan, cairan (pada
kantong synovial atau pada vagina tendinea).

6. Sistem Sirkulasi
Hasil pemeriksaan yang didapatkan yaitu normal pada suara jantung tetapi detak
jantung terdengar sangat cepat (thacycardi). Dan menurut Widodo (2011)
pemeriksaan sirkulasi dengan bantuan stethoscope. Periksa suara jantung
untuk mengetahui adanya thrill, arithmia ataupun murmur. Diperhatikan adanya
kelainan alat peredaran darah seperti anemia,edema atau ascites, pulsus venosus,
kelainan pada denyut nadi,dan sikap atau langkah hewan. Periksa frekuensi,irama
dan kualitas pulsus atau nadi,kerjakan pemeriksaan secara inspeksi, palpasi,

auskultasi dan perkusi pada daerah jantung (sebelah kiri). Perhatikan pula adanya
palpasi di daerah vena jugularis dengan memeriksa 1/3 bawah leher. Bahwa keadaan
thacycardi pada anjing tersebut dikarenakan stress atau kelelahan setelah beraktifitas
seperti berlari
7. Sistem Respirasi
Hasil pemeriksaan yang didapatkan yaitu normal. Dan menurut Ifianti (2001)
Pada pemeriksaan respirasi yang perlu diperhatikan yaitu gerakan cuping hidung,
cara-cara bernafas, discharge nasal, rongga/sinus hidung, lgl. Submaxillaris,
batuk/tidak, larynx,trachea, perkusi, dan auskultasi thorax, perlu diperhatikan juga
mengenai kecepatan(rate), type (karakter), ritme (irama), dan dalamnya (intensitas).
Variasi kecepatanrespirasi disebabkan karena ukuran tubuh, umur, setelah melakukan
exercise, bunting,dan sehabis makan kenyang (dikarenakan karena rumen penuh
makanan)
8. Sistem Digesti
Hasil pemeriksaan yang didapatkan yaitu normal dan pada pemeriksaan ini tidak
ada kelainan apapun. Menurut pendapat Widodo (2011) pemeriksaan halitosis mulut
gigi tonsil kelenjar ludah, muntah, diare, palpasi abdomen (untuk memeriksa usus
halus, kolon, limpa, hepar), feses (frekuensi, warna,konsistensi), parasit.
1. Mulut,Pharynx,dan Oesophagus
Mulut kucing dibuka dengan menekan bibir kebawah gigi atau ke dalam
mulut,dan dilakukan inspeksi.Bila perlu, tekan lidah dengan spatel agar dapat
dilakukann inspeksi dengan leluasa seperti bau,mulut,selaput

lendir

mulut,pharynx,lidah,gusi,gigi-geligih serta kemungkinan adanya lesi,benda


asing,perubahan warna,dan anomali lainnya.Oesophagus dipalpasi dari luar
sebelah kiri dan pharynx (Fowler,2008)
2. Abdomen

Inspeksi dilakukan pada abdomen bagian kiri dan kanan dengan


memperhatikan isi abdomen yang teraba serta dilakukan auskultasi dari
sebelah kanan ke kiri untuk mengetahui peristaltik usus. Lakukan pula
eksplorasi dengan jari kelingking, perhatikan kemungkinan adanya rasa
nyeri pada anus dan rektum,adanya benda asing atau feses yang keras
(Fowler,2008).

9. Sistem Urogenital
Hasil pemeriksaan yang didapatkan yaitu semua organ urogenital normal, dan
terlihat polyuria. Menurut Ettinger (2010) hal tersebut kemungkinan karena hewan
stress, terlalu banyak minum air atau suhu rungan terlalu dingin. Pemeriksaan sistem
urogenital biasanya meliputi pengamatan pada : (Ettinger,2010)
-Frekuensi minum (naik,turun)
-Urine (naik,turun,dsyuria)
- Palpasi (vesica urinaria,ginjal,uterus)
- Betina (vulva,vagina,gl.mammae)
10. Sistem Syaraf
Hasil pemeriksaan yang didapatkan yaitu normal. Pemeriksaan meliputi tingkat
respon kesadaran,motorik dan sensorik.
11. Mata dan Telinga
Hasil pemeriksaan yang didapatkan yaitu normal. Pemeriksaan meliputi :
(Djari,2000)
-Mata : entropion, ektropion, distichhiasis, epiphora, posisis bola mata
-Kanal: wax, infeksi ektoparasit

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang kami lakukan dan dibandingkan dengan literatur dapat
kami simpulkan bahwa anjing Broni berjenis kelamin jantandi diagnosa normal atau
sehat dan memiliki kutu (tricodectes canis) yang kemungkinan karena anjing belum
grooming. Karena kondisi umum maupun kondisi fisik anjing sangat normal pada
semua organ dan sistem kerja tubuh hewan tersebut tanpa adanya kondisi abnormal
apapun.

4.2 Saran
Semoga dalam praktikum selanjutnya semua sarana prasarana laboratorium
dapat diperbanyak dan diperbarui.

Daftar Pustaka
Boddie., G.F. 1962. Diagnostic Methods in Veterinary Medicine. Philadelphia: J.B.
Lippincott Company.
Djari, CS. 2000. Manajemen Penyakit Hewan. Seri Pedoman Pengendalian Penyakit
Hewan Menular. Direktorat Bina Kesehatan Hewan. Direktorat Jenderal
Peternakan.Jakarta
Ettinger, Stephen J, et al. 2010. Textbook of Veterinary Internal Medicine, Sixth
Edition.US: Saunders Elsevier.
Fowler, Murray E. 2008. Restraint and Handling of Wild and Domestic Animals 3rd Ed.
UK: Wiley-Blackwell Publishing
Ikliptikawati, Dini, K. 2014. Petunjuk Praktikum Diagnosis Klinik Veteriner. Makassar:
Program Studi Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran UNHAS.
Lane and Cooper.B. 2003. Veterinary Nursing (Formerly Jones Animal Nursing 5th).
USA : Pergamon.
Isfianti Hayanti. 2001. Dasar Diagnosa Klinik. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas
Hasanuddin. Makasar
Soeharsono. 2011. Ektoparasit Pada Anjing dan Kucing. Yogyakarta : Kanisius
Subronto. 2008. Ilmu Penyakit Terna I-a (Mamalia). Gadjah Mada University Press :
Yogyakarta
Widodo, Setyo. 2011. Diagnostik Klinik Hewan Kecil. Bogor: IPB Press.